10 tahun mengembara, mencari jejak kekasih hati

Bab II. 10 tahun mengembara, mencari jejak kekasih hati.

Pek Lan-hoa termenung sambil berpikir sejenak, kemudian kembali tanyanya:”Adik, menurut penglihatanmu, bagaimana penghidupan rumah tangga kongcu kita di kemudian hari?”
Han Gi-ang melirik Ong Sam-kongcu sekejap, kemudian katanya sambil geleng kepala: “Maaf Lak-ci, rahasia langit tak boleh bocor, maaf bila siaumoay tak berani buka rahasia ini!”
“Hai, kita adalah sama-sama saudara, kenapa sih kau mesti sok rahasia begitu?”
“Kalau begitu biar kubuka sedikit rahasia ini, sebelum akhir tahun, bintang Ang-loan (bintang kegembira-an)-mu kelihatan bersinar, jangan lupa suguh beberapa cawan arak egiranganmu untuk siaumoay! Hahaha Akhir tahun ini? Ooh, bukankah tinggal dua bulan lagi?
Tapi… apa mungkin?
Dengan hati berdebar Pek Lan-hoa segera berseru: <Adik buncit, kau jangan coba makan tahu cici, kini cici sudah jadi milik kongcu sementara kongcu ….”
“Maksudku Lak-ci akan menikah dengan kongcu!” tukas Han gi-ang sambil tertawa.
“Kau ….” Pek Lan-hoa jengah bercampur girang, tak tahan ia menundukkan kepalanya
“Lak-moay!” Si Ciu-ing ikut bicara, “ramalan adik buncit kita ini selalu tepat,dulu dia pernah memberitahu kepadaku bakal jadi seorang ibu, waktu itu aku pun sama sekali tak percaya.”
“Toaci, kau jangan bayangkan aku kelewat sakti, hanya kebetulan ramalanku cocok,” kata Han Gi-ang merendah.
Mendadak terdengar Ong Bu-ciau menjerit keras, bagai menerima “tanda bahaya” serentak kawanan perempuan itu berebut lari menuju ke asal suara itu.
Sepeninggal kawanan perempuan itu, terlihat Ong Sam-kongcu pelan-pelan membuka matanya, dua titik air mata tak terasa meleleh membasahi ujung matanya, membasahi bantal dan seprei.
Ya, siapa percaya Ong Sam-kongcu yang selalu diliputi gelak tertawa, kini justru melelehkan air mata? Ketika pil pemberian Si Ciu-ing tertelan ke dalam perutnya tadi, dengan hawa murninya yang sempurna tidak selang berapa saat kemudian ia sudah sadar dari pingsannya.
Kebetulan waktu itu ia mendengar Si Ciu-ing sedang berbicara dengan Pek Lan-hoa masalah dirinya dengan Go Hoa-ti, maka dia pun pura-pura pingsan untuk mencuri dengar pembicaraan mereka.
Kini, setelah para gadis berlalu, dia mulai tak kuasa menahan rasa sedihnya hingga air mata pun jatuh bercucuran.

Pelan-pelan ia duduk bersila di pembaringan, sepintas orang mengira dia sedang bersemedi mengatur napas, padahal pikiran dan perasaannya sedang gejolak keras, sampai lama sekali perasaan itu belum juga mau tenang.
Dalam pada itu dua belas tusuk konde emas pun tidak mengurusi Ong Samkongcu,karena sewaktu mereka balik ke situ dilihatnya pemuda itu sedang mengatur pernapasan.
0oo0
Tengah hari, setelah sadar dari semedinya, Ong Sam-kongcu memerintah bibi Ong dan Si ciu-ing untuk membawa kedua orang bayinya yang masih tertidur pulas masuk ke dalam kamarnya, lalu ditatapnya kedua orang bocah itu bergantian.
Sesaat kemudian terdengar ia berkata dengan suara dalam: “Sungguh menyenangkan! Adik Ing, bibi Ong, biarkan mereka berada di sini sejenak lagi!”
Si Ciu-ing berdua mengangguk sambil tersenyum dan segera mengundurkan diri.Mengawasi dua orang bayi di hadapannya, Ong Sam-kongcu merasa semakin dipandang semakin merasa ada yang tak beres, ia merasa walaupun kedua orang bocah itu sama bagusnya namun bentuk wajah mereka justru memiliki ciri yang sama sekali berbeda.
Ketika ia perhatikan Ong Bu-ciau, makin dipandang ia merasa semakin wajah bocah itu semakin mirip dirinya.
Sebaliknya ketika perhatikan Cng Bu-jin, makin dipandang ia merasa semakin ada yang tak beres.
Akhirnya dia siapkan tiga cawan kecil di atas meja, mula-mula dia robek sendiri jari tengah tangan kirinya dan meneteskan darah itu ke dalam cawan.
Kemudian ia robek kaki kiri kedua orang bocah itu dan masing-masing diambilnya beberapa tetes darah.
Dengan perasaan tegang ia mulai campurkan darah dari kedua orang bocah itu masing-masing dengan darah sendiri yang telah dipersiapkan.
Apa yang kemudian terlihat membuat badannya gemetar keras.
Tetesan daran yang berasal dari Ong Bu-ciau bukan saja segera menyatudengan darahnya, bahkan warna pun persis sama.
Sebaliknya darah dari Ong Bu-jin kelihatan agak mengambang di ataspermukaan, bahkan warna darahnya nampak jauh lebih tua dan gelap.
Jika Ong Sam-kongcu tidak periksa dengan seksama, sulit rasanya untukmenemukan perbedaan itu, dia tak puas dengan hasil tes pertama, dirobeknyalagi kaki kanan Ong Bu-jin dan sekali lagi melakukan percobaan kedua.
Tapi hasil yang muncul kemudian membuat pemuda tersebut mendengustertahan, dengan tubuh lemas dan bertenaga ia jatuhkan diri terduduk di sisipembaringan.
Tampaknya Ong Bu-jin yang sedang tertidur nyenyak seperti tahu kalaurahasia asal-usulnya telah terbongkar, tiba-tiba saja ia terbangun dan menangiskeras.
Tangisan itu menyebabkan Ong Bu-ciau ikut terbangun dan menangis jugadengan kerasnya.
Tergopoh-gopoh Ong Sam-kongcu menyambar cawan berisi darah dan masukke kamar mandi.
Ketika ia balik kembali ke depan pembaringan, tampak Pek Lan-hoa dan SiCiu-ing masing-masing telah membopong seorang bayi dan menenangkanmereka.

“Hantar mereka balik ke kamarnya!” perintah Ong Sam-kongcu kemudiandengan suara berat.
Semenjak hari itu Ong Sam-kongcu menolak untuk keluar dari kamartidurnya, sepanjang hari dia menyibukkan diri membaca, melukis atau membuatpantun.
Pek Lan-hoa adalah gadis yang teliti, ketika membawa balik Ong Bu-ciau kekamarnya hari itu, ia segera menemukan adanya bekas sayatan kecil di kakikanan bocah itu, ia segera mengerti apa yang telah terjadi.
Rahasia tersebut tidak diberitahukan kepada siapa pun. tapi tiap pagi secararutin dia selalu membopong Ong Bu-ciau ke dalam kamar Ong Sam-kongcu danmenjenguknya sebentar.
Anehnya, tiap kali bocah itu diajak masuk ke dalam kamar Ong Sam-kongcu,dia selalu enjejakkan kakinya dengan aktif, seakan sangat senang berada disitu, biar popoknya basah oleh air kencing atau perutnya lapar, bocah itu takpernah rewel.
Berapa hari permulaan, Ong Sam-kongcu belum bisa menguasai gejolakperasaan hatinya, dia hanya membaca terus atau kadang kala melukis.
Satu minggu kemudian, dia hanya membaca setengah jam, sisa waktunyadigunakan untuk bermain dengan Cau-ji.
Lewat seminggu kemudian ia sudah curahkan segenap perhatiannya untukbermain dengan putranya.
Tanpa terasa satu bulan kembali sudah lewat.
Selama ini Go Hoa-ti dan Ong Bu-jin tak pernah meninggalkan pesanggrahanTi-wan, sementara sebelas tusuk konde memang berniat menjodohkan Pek Lanhoadengan majikannya, maka hanya dia seorang yang diberi tugas untukmenemani Cau-ji menjumpai bapaknya.
Malam itu udara amat dingin, angin bercampur bunga salju berhembuskencang di luar, suasana pesanggrahan Hay-thian-it-si amat hening, semuapenghuninya telah terlelap tidur, hanya kamar Ong Sam-kongcu yang nampakmasih memancarkan sinar lentera.
Pada saat itulah tiba-tiba dari luar pintu kamar terdengar suara gemerisikyang mencurigakan, Ong Sam-kongcu yang masih membaca buku segeramerasakan itu, hardiknya: “Siapa di situ? Pintu tidak terkunci!”
Daun pintu dibuka orang, Go Hoa-ti muncul di hadapannya.Agaknya Ong Sam-kongcu tahu siapa yang telah muncul, tanpamendongakkan kepalanya ia berkata: “Silahkan duduki”
Diam-diam Go Hoa-ti menggigit bibir, setelah duduk di depan meja baca,ujarnya dengan lembut: “Engkoh Huan, rupanya kau tahu kalau aku bakaldatang kemari?”
“Betul!” sahut Ong Sam-kongcu sambil menutup bukunya dan memandangperempuan itu sekejap, “selama ini aku memang selalu menunggumu.”
“Jadi kau sudah tahu semuanya?””Tidak, aku hanya tahu sebagian, siapa bapak Jin-ji yang sebenarnya?”Go Hoa-ti gemetar keras, setelah ragu sesaat, sahutnya lirih: “Bwe Si-jin!”
Berkilat sepasang mata Ong Sam-kongcu.
“Oooh, rupanya dia! Hai … kenapa dia tinggalkan kalian ibu dan anak hinggatelantar di luaran?”
“Dia tak tahu kalau aku sudah hamil!” kata Go Hoa-ti agak tersipu.
“Hmm, kalau begitu biar kuutus orang untuk mencarinya!”
“Jangan, biar aku sendiri yang pergi mencarinya!”

“Bagaimana dengan Jin-ji?” tanya Ong Sam-kongcu setelah termenung berapasaat.
“Kau bersedia mewakili aku untuk merawatnya?” tanya Go Hoa-ti lirih.
“Baik! Sebelum dia kembali ke marganya, ia masih tetap menjadi putri sulungkeluarga Ong….”
“Engkoh Huan, kau sungguh baik dan berjiwa besar, aku… aku merasabersalah kepadamu!”
“Hai, jodoh, semuanya adalah jodoh, aku tak bisa salahkan siapa pun, akuhanya berharap kau bisa temukan saudara Bwe secepatnya hingga keluargakalian bisa bersatu kembali, pintu gerbang Hay-thian-it-si selalu terbuka untukkeluarga kalian!”
Go Hoa-ti merasa sangat terharu, dengan air mata bercucuran katanya:
“Engkoh Huan, aku berjanji bila dititiskan kembali besok, aku bersedia menjadibudakmu untuk membalas semua budi kebaikan ini.”
Ong Sam-kongcu menggenggam tangannya erat-erat, sambil berusahamenahan rasa sakit di atinya, ia bertanya dengan suara tenang: “Adik Ti, kaurencana akan berangkat kapan?”
“Besok pagi.”
”Baiklah, sampai waktunya aku akan menghantarmu, sekarang pergilahberistirahat.”
“Terima kasih kakak Huan!” dengan suara parau dan air mata bercucuran GoHoa-ti berlalu dari situ.
Tinggal Ong Sam-kongcu duduk termangu seorang diri, sampai lamakemudian ia baru bergumam: “Bwe Si-jin … tak aneh jika dia namakan anaknyaBu-jin!”
0oo0
Keesokan harinya, ketika dua belas tusuk konde sedang bersantap, Ong Samkongcusetelah menghantar kepergian Go Hoa-ti, muncul di ruang makan, begitumasuk dia segera menegur sambil tertawa: “Ada bagian untukku?”
“Ada, ada! Silahkan duduk kongcu!” serentak para gadis berseru sambilbangkit berdiri.
Setelah duduk Ong Sam-kongcu baru bertanya: “Mana anak Cau?”
“Sehabis mandi dan minum susu, dia tertidur lagi,” sahut Si Ciu-ing cepat.
“Hahaha … dasar bocah cilik, bisanya makan dan tidur melulu, kalian yangdibikin kerepotan ….”
“Tidak berani,” sahut para gadis serentak.
Sambil tertawa Pek Lan-hoa berkata pula: “Anak Cau memang menggemaskan, apalagi sepasang matanya yang bulat dan bening, persis sepertisepasang Mata kongcu.”
Ong Sam-kongcu tertawa tergelak saking gembiranya.
Sambil bersantap mereka pun berbincang-bincang, masalahnya hanya seputar kelincahan anak Cau.
Tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berkata dengan wajah serius: “Adik semuanya, ada satu urusan ingin kurundingkan dengan kalian semua.”
Perasaan tegang mulai mencekam para gadis, sambil berusaha menenangkan diri kata Si Ciu-ing: “Kongcu, katakan saja.”
Setelah memandang sekejap para gadis, ujar Ong Sam-kongcu dengan wajah bersungguh-sungguh: “Adik semuanya, lewat dua, tiga bulan lagi anak Cau akan genap berusia satu tahun, aku harus mengangkatnya secara resmi menjadi
putra mahkota kerajaan keluarga Ong.”

“Oleh sebab itu pada tanggal lima belas bulan ini aku ingin menyelenggarakan satu pesta perkawinan, tentu saja pengantin lelakinya adalah aku, sedang pengantin wanitanya adalah adik sekalian yang hadir di sini, apakah adik-adik
bersedia mengabulkan permintaanku ini?”
Pengorbanan memang selalu akan membuahkan hasil, setelah ditunggutunggu sekian lama, apa yang diharapkan akhirnya terwujud juga.
Dengan air mata berlinang karena kegirangan, serentak kedua belas tusuk konde itu manggut-manggut.
Ong Sam-kongcu kegirangan setengah mati.
Urusannya dengan Go Hoa-ti sudah ada penyelesaian yang pasti, mau tak mau dia pun mesti padamkan perasaan cinta bertepuk tangan sebelah ini, dia berjanji sejak hari itu semua perasaan cintanya hanya akan tercurahkan kepada
anak Cau serta dua belas tusuk konde emas.
Seminggu kemudian para ciangbunjin dari sembilan partai besar serta para jago dari golongan putih yang menerima surat undangan berbondong-bondong datang memberi selamat, suasana di gedung Hay-thian-it-si pun jadi amat ramai
dan meriah.
Surat undangan disebar oleh para piausu aari perusahaan ekspedisi Tiangshia piaukiok yang tersohor, tak heran kalau dalam satu hari saja semua undangan telah tersebar.
Nenek moyang Ong Sam-kongcu, Kim-sin-ci adalah ketua dari kawanan jago persilatan, tempo hari di bawah pimpinan beliau lah perkumpulan Jit-sin-kau yang menghebohkan daratan Tionggoan berhasil ditumpas, karena jasanya,
beliau diangkat menjadi Bu-lim bengcu.
Ong Sam-kongcu sendiri, sejak terjun ke dalam dunia persilatan sudah bertindak adil dan setia kawan, dia selalu menjunjung tinggi kebenaran, biar romantis tapi tidak bejat moralnya, tak heran kalau semua orang menaruh
kesan batin terhadapnya.
Apalagi sejak kedua orang tuanya mengikuti kakek dan neneknya, Ong Kimsin,naik ke gunung Kun-lun untuk hidup mengasingkan diri, para rekan duniapersilatan yang merasa amat berhutang budi, semakin menaruh perasaan
hormat terhadap Ong Sam-kongcu.
Kini, setelah mendapat surat undangan perkawinan yang dikirim Ong Samkongcu,tak heran kalau para jago segera melakukan perjalanan untuk datangmengucapkan selamat
Begitulah setelah upacara perkawinan dilangsungkan dan para tamumenikmati hidangan yang disajikan, lambat laun suasana di Hay-thian-it-si
menjadi tenang kembali.
Ketika semua tamu sudah berpamitan, senja itu Ong Sam-kongcu bersama
kedua belas orang istrinya duduk bersama di ruang tengah sambil bersantai.
Sambil mengangkat cawannya kata Ong Sam-kongcu: “Istriku sekalian, berapa
hari belakangan kalian pasti sudah amat lelah, biarlah kugunakan secawan arak
ini sebagai ungkapan rasa terima kasihku kepada kalian semua.”
Habis berkata, dia teguk habis isi cawannya. Selesai para gadis meneguk juga
isi cawan masing-masing, kata Si Ciu-ing: “Engkoh Huan, tak disangka ada
begitu banyak jago kenamaan yang bersedia datang untuk mengucapkan
selamat, kami semua ikut merasa berbangga hati
“Betul!” Ong Sam-kongcu membenarkan, “yang lebih tak disangka adalah
kehadiran para cianbunjin dari sembilan partai besar, menurut apa yang
kuketahui, dari dulu hingga sekarang,.baru kali ini mereka hadir secara
bersamaan.”

“Engkoh Huan, berarti kami ikut berbangga karena nama besarmu,” ujar Pek
Lan-hoa sambil tertawa.
“Hahaha … adik Hoa, kita sekarang adalah sekeluarga, rasanya kau tak usah
sungkan-sungkan lagi.”
“Baik!”
Makan bersama kali ini dilalui penuh keriangan dan suasana gembira, boleh
dibilang jauh lebih meriah ketimbang waktu “pernikahan” tempo hari.
Selesai bersantap, tiba-tiba Si Ciu-ing berkata sambil tertawa: “Engkoh Huan,
atas usul berapa orang saudara, kini aku sudah siapkan dua belas gulungan
kertas undian, harap kau mengambil sebuah, karena nama yang tercantum
dalam undian itulah yang akan menemani kongcu malam ini!”
Sembari berkata dia ambil keluar dua belas buah gulungan kertas kecil dan
diletakkan di atas telapak tangannya.
“Lebih baik urut usia saja, adik Ing, seharusnya kau yang menemani aku
malam ini,” ucap Ong Sam-kongcu sambil tertawa.
“Tidak boleh,” dengan wajah merah jengah Si Ciu-ing menggeleng, “lebih adil
kalau memakai undian!”
Sementara itu kesebelas orang nona lainnya hanya berdiri sambil tersenyum,
tampaknya masing-masing sudah punya keyakinan akan sesuatu.
Melihat itu Ong Sam-kongcu segera mengerti apa yang terjadi, ia segera
mengambil sebuah undian dan sahutnya sambil tertawa: “Baiklah, aku
menurut!”
Walau kertas undian sudah diambil, tapi dia sengaja tidak membukanya
secara langsung.
“Engkoh Huan, cepat dibuka!” seru Si Ciu-ing cepat.
“Tak perlu terburu napsu, siapa pun yang terpilih toh dia tak bisa
menghindar, sisanya yang sebelas gulungan undian itu biar aku saja yang
simpan, bisa digunakan lagi lain kali.”
Habis berkata dia ambil semua undian dan dimasukkan ke dalam saku.
“Engkoh Huan, sekarang kau boleh membuka kertas undian itu bukan?” pinta
Si Ciu-ing sambil tertawa.
Ong Sam-kongcu tertawa tergelak. “Adik Ing, buka saja sendiri!” katanya.
Begitu undian dibuka. Si Ciu-ing segera berseru tertahan, dia tak mampu
berkata-kata lagi.
Biarpun tahu apa yang terjadi, Ong Sam-kongcu berlagak pilon, sengaja
tanyanya: “Adik Ing, nama siapa yang muncul?”
“Engkoh Huan, namaku! Tapi … boleh tidak kalau diganti orang lain?”
“Tidak bisa, tidak bisa,” seru Ong Sam-kongcu berlagak serius, “masa undian
juga dianggap permainan? Bukan begitu adik-adik sekalian?”
“Setuju!” seru kesebelas nona serentak.
“Hahaha … mari kita keringkan cawan ini, kemudian masing-masina kembali
ke kamar.” kata Ong Sam-kongcu kemudian sambil tertawa tergelak.
Maka kedua orang itupun digiring menuju ke kamar pengantin.
Berdiri di dalam kamar pengantin sambil mengawasi sepasang lilin merah
yang berukirkan naga dan burung hong, Si Ciu-ing merasa jantungnya berdebar
keras.
Setelah mengunci pintu kamar, Ong Sam-kongcu pun berkata: “Adik Ing, aku
rasa kau paling pantas jadi pemimpin kawanan burung hong, karena
kepemimpinanmu bisa diterima semua pihak…”
Sambil berkata dia mulai melepaskan pakaiannya satu per satu.

Kenangan manis pun berlangsung kembali, bunyi gemericit disertai dengus
napas memburu mulai meng-hiasai seluruh ruangan.
Semenjak kehadiran Go Hoa-ti di pesanggrahan Hay-thian-it-si, mereka
berdua belum pernah berkumpul, apalagi melakukan hubungan intim, tak heran
kalau hubungan kelamin yang berlangsung saat ini berjalan lebih panas, lebih
menggila dan menghebohkan ….
Goyangan pinggul Si Ciu-ing yang menggeliat kian kemari mengimbangi
genjotan “benda” Ong Sam-kongcu yang naik turun bagai orang sedang “push
up”, ibarat geliat seekor ular berbisa.
Ong Sam-kongcu benar-benar terjerumus dalam rangsangan napsu yang
membara, dia gunakan seluruh kepandaian “ranjang’nya yang paling hebat
untuk mengimbangi goyangan perempuan itu.
Dengusan napas, rintihan yang membetot sukma bergema silih berganti….
“Aaah … ahh … koko … aaah … lebih cepat… masukkan lebih dalam … aaah
… koko… aku tak tahan”
“Adik Ing … aduh … kau hebat sekali… goyangan-mu membuat aku… aku
bagai dalam surga ….”
Akhirnya Si Ciu-ing mendengar keluhan “engkoh Huan”nya disertai hembusan
napas panjang, mereka berdua pun tak lagi menggerakkan tubuhnya, meski
tergeletak lemas namun tubuh bugil mereka berdua yang putih bagai salju
masih saling mendekap dan menempel dengan eratnya.
“Engkoh Huan, kau… kau memang hebat!”
“Adik Ing, goyangan pinggulmu nyaris membetot sukmaku!”
Selang berapa saat kemudian, mereka berdua baru bangun dengan arasarasan
dan membersihkan badan.
Ketika mereka berdua sudah balik kembali di balik selimut, Si Ciu-ing baru
berkata sambil tertawa: “Engkoh Huan, mulai besok kau mesti lebih banyak
makanan bergizi, karena sudah berapa tahun mereka menunggumu, kau mesti
tunjukkan keperkasaanmu di hadapan mereka!”
“Adik Ing!” bisik Ong Sam-kongcu setelah mengecup bibirnya: “menurut
pendapatmu, besok siapa yang mesti menemani aku tidur?”
“Tentu saja adik kedua, kan menurut urutan!”
“Aku setuju, tapi kalau mereka usul untuk mengambil undian lagi lantas
bagaimana?”
“Kalau begitu … biar kupilih dulu kertas undian yang mencantumkan nama
adik kedua, asal ada kode rahasianya dan kau mengambil yang berkode,
bukankah … hahaha
Dalam hati kecilnya, Ong Sam-kongcu tertawa geli, tapi di luar ia menyatakan
persetujuannya: “Baiklah, kalau begitu kita tentukan demikian!”
Melihat pemuda itu sudah setuju maka Si Ciu-ing pun bangkit berdiri dan
mengambil keluar kesebelas kertas undian lainnya dari dalam saku baju Ong
Sam-kongcu.
Tapi begitu dia buka kertas undian itu, kontan teriaknya keras keras: “Waaah.
Ini mah kehangatan!”
Melihat dugaan sendiri tak keliru, Ong Sam-kongcu ikut tertawa terbahakbahak.
“Engkoh Huan, ternyata kau ….”
“Tidak … tidak … ooh hujin, jangan salahkan aku, ketika kau mengambil
undian tadi dan melihat mimik muka mereka bersebelas, aku sudah tahu,
mereka pasti sedang mengerjai kamu!”

“Aku tahu, pasti adik Lan-hoa yang punya usul, besok aku mesti bikin
perhitungan dengannya.”
“Sudahlah, mereka toh berniat baik kepadamu ….”
“Tidak, Engkoh Huan, kau mesti balaskan dendam…”
“Baik, baik, sekarang juga aku akan membuat perhitungan,” sembari berkata
dia merangkak bangun.
“Besok saja engkoh Huan, mari kita tidur dulu!” Si Ciu-ing segera memeluknya
sambil memberi ciuman mesra ke atas bibirnya.
0oo0
Waktu berlalu sangat cepat, tanpa terasa sepuluh tahun sudah lewat.
Pesanggrahan Hay-thian-it-si yang biasanya hening dan tenang, kini sudah
berubah jadi ramai sekali.
Hari peh-cun telah tiba, bau harum bakcang terendus sampai dimana-mana.
Tengah hari itu, suasana di tepi kolam Ti-sim amat ramai dengan gelak
tertawa, percikan air menyebar ke empat penjuru.
Ong Sam-kongcu dan dua belas tusuk konde emas duduk mengeliling kolam
sambil menyaksikan dua puluh lima orang bocah sedang bermain perangperangan
di dalam kolam, melihat wajah riang bocah-bocah itu, mereka semua
merasa ikut gembira.
Berkat jerih payah Ong Sam-kongcu selama sepuluh tahun terakhir yang
sangat rajin “mencangkul sawah” dan “menebar benih”, belum genap dua tahun
pernikahan dengan sebelas orang tusuk konde emas, mereka telah melahirkan
sebelas orang bocah untuknya.
Yang menjadi juara pertama adalah Si Ciu-ing, setahun setelah
perkawinannya dia telah melahirkan seorang bocah yang gemuk, hingga
pesanggrahan Hay-thian-it-si secara tiba-tiba mendapat tambahan tiga belas
orang bocah lelaki dan dua belas orang bocah perempuan (termasuk Ong Bu-jin).
Kaum pria dikomandani oleh Ong Bu-ciau.
Sementara kelompok wanita dipimpin oleh Ong Bu-jin.
Jangan dilihat kedua orang itu baru berusia sebelas tahunan, bukan saja
wajah mereka tampan dan cantik, mereka pun sangat pandai memimpin saudara
saudaranya hingga orang tua tak perlu kuatir.
Sejak masih sangat kecil, kawanan bocah itu sudah dilatih dasar ilmu silat,
pihak lelaki dilatih secara, langsung oleh Ong Sam-kongcu, sementara kelompok
wanita dididik oleh kaum ibu, tak heran kalau gerak-gerik mereka amat lincah
dan cekatan.
Apalagi Ong Bu-ciau, bukan saja dia berbakat alam, kecerdasannya
mengungguli saudaranya yang lain, tak aneh jika dia berhasil menguasai tiga
belas macam ilmu kungfu, meski belum mencapai tingkat kesempurnaan,
namun kehebatannya sungguh mengejutkan hati.
Tak heran jika dia menjadi putra mahkota yang paling disegani saudara
lainnya.
Ilmu silat yang dilatih Ong Bu-jin berasal dari didikan dua belas tusuk konde
emas.
Setelah mengikuti Ong Sam-kongcu selama banyak tahun, pikiran serta cara
berpandangan dua belas tusuk konde sama sekali telah berubah, sikap mereka
terhadap Ong Bu-jin pun tidak pilih kasih riennan tekun mereka mendidiknya
secara benar.
Bakat yang dimiliki Ong Bu-jin termasuk sangat bagus, sejak berlatih ilmu
silat, bukan saja dia berhasil mempelajari dua belas macam ilmu silat dari dua

belas tusuk konde emas, dia pun secara khusus mempelajari ilmu meramal
nasib dari Han Gi-ang.
Sayangnya, kepergian Go Hoa-ti sejak sepuluh tahun berselang dan hingga
kini bukan saja tak pernah kembali, bahkan kabar berita pun sama sekali tak
ada, hal ini membuat watak Ong Bu-jin jauh lebih matang dibandingkan
usianya, dia nampak lebih pendiam dan sering murung.
Sejak tahu urusan, entah sudah berapa kali dia menanyakan masalah
tersebut kepada dua belas tusuk konde emas, tapi jawaban yang diperoleh selalu
sama.
“Sejak melahirkan dia, Go Hoa-ti yang terluka parah berangkat ke wilayah
Kanglam untuk mengobati penyakitnya.”
Biarpun dua belas tusuk konde emas memandang bocah itu seperti putri
sendiri, sementara Ong Sam-kongcu juga amat menyayanginya, namun Ong Bujin
tetap merasa ada ganjalan dalam hatinya.
Mengikuti bertambah dewasanya dia, rasa rindunya dengan ibu kandungnya
justru bertambah kuat.
Tentu saja perasaan itu tak pernah diungkap di hadapan orang banyak,
karena dia tak tega ayah dan bibinya jadi sedih karena menguatirkan dirinya.
Di tengah pertempuran air yang berlangsung antara kelompok laki dan
kelompok wanita, tiba-tiba dari luar pintu gerbang Hay-thian-it-si muncul
seseorang berbaju ungu, dia tak lain adalah Go Hoa-ti yang sudah lenyap
sepuluh tahun berselang.
Ong tua, congkoan pesanggrahan sangat kegirangan, baru saja dia akan
berteriak memanggil, perempuan itu segera memberi tanda agar dia tidak
berisik.
“Ong tua!” sapanya lembut, “kondisi badanmu kelihatan sangat prima!”
“Semua berkat doa restu nyonya sahut kakek Ong sambil tertawa, “nyonya,
selama banyak tahun kau pergi kemana saja? Semua orang rindu kepadamu:”
Go Hoa-ti tahu Ong Sam-kongcu tak pernah mengungkapkan kejadian
sesungguhnya kepada bawahan, maka katanya pelan: “Aah benar, aku pulang
dusun sekalian mengatur rumah lamaku di kota Kim-leng.”
“Ooh, rupanya begitu, nyonya, kongcu dan semua nyonya serta siauya serta
siocia sedang berada di kolam Ti-sim, silahkan anda langsung menyusul ke
sana.”
“Terima kasih Ong tua”
Go Hoa-ti tak ingin mengejutkan banyak orang maka dia langsung menuju ke
kolam Ti-sim.
Dari kejauhan dia sudah mendengar teriakan ramai dari sekawanan bocah,
tanpa terasa jantungnya berdebar keras.
Diam-diam dia melompat naik ke atas pohon siong lebih kurang lima kaki dari
kolam, dari situ dia mengamati sekeliling kolam dengan seksama.
Tentu saja sorot matanya yang pertama adalah menemukan sosok Bu-jin
pujaan hatinya.
Tak selang berapa saat ia telah menemukan putrinya yang sedang memimpin
pasukan wanita, tak kuasa lagi butiran air mata jatuh bercucuran membasahi
pipinya.
“Terima kasih engkoh Huan, ternyata kau merawat Jin-ji seperti merawat putri
kandung sendiri.”
Semakin dipandang, hatinya semakin sedih, air mata pun bercucuran
semakin deras.

Dia tidak menyangka ilmu silat yang dimiliki Jin-ji begitu sempurna, bahkan
kalau ditinjau dari keanekaragaman aliran silat yang dikuasai, jelas semua
kemampuan itu hasil didikan dari dua belas orang tusuk konde emas.
Ketika sinar matanya berhenti di wajah Cau-ji, hatinya kontan bergetar,
pujinya: “Ganteng amat bocah ini, dia tentu anak Cau!”
Tubuh yang kekar dengan wajah yang bersih, hidung yang mancung, apalagi
sepasang matanya yang bulat dan hitam, tampak sinar wibawa memancar keluar
dari balik matanya yang jernih.
Seandainya Ong Sam-kongcu memiliki mata dan wibawa yang dimiliki anak
Cau, mana mungkin Go Hoa-ti bisa terjauh ke dalam pelukan Bwe Si-jin hingga
dia mesti berkelana hampir sepuluh tahun lamanya?
Diam-diam ia coba mengamati Jin-ji sekali lagi, kemudian dengan perasaan
bangga pikirnya: “Bocah ini bakal cantik sekali setelah dewasa nanti, aah …
wajah Jin-ji serasa perpaduan wajah kakak Jin dan aku
Melihat kedua orang bocah bergaul sangat akrab, kembali dia berpikir “Aai…
selama hidup aku sudah banyak berhutang kepada engkoh Huan, semoga Jin-ji
bisa mewakiliku untuk membalas budi ini.”
Apakah dia sudah mengambil keputusan untuk menjodohkan Jin-ji dengan
anak Cau?
Membayangkan sampai di situ, tanpa terasa ia tersenyum sendiri.
Tiba-tiba terdengar seseorang berseru dari arah kolam: “Tenang, tenang,
diumumkan, hasil perlombaan hari ini dimenangkan pihak perempuan!”
Kawanan bocah perempuan di sisi kolam segera bersorak-sorai penuh
kegembiraan.
Begitulah, diiringi suara teriakan yang amat ramai, kawanan bocah itu
membubarkan diri menuju ke kamar masing-masing.
Jin-ji sambil bergandengan tangan dengan anak Cau juga ikut berlalu dari
situ.
Ong Sam-kongcu saling berpandangan sekejap dengan dua belas tusuk konde
sambil tertawa, baru saja akan balik ke ruang tamu, tiba-tiba terlihat bibi Ong
muncul sambil melongok ke sana kemari.
Melihat itu Si Ciu-ing segera menegur “Bibi Ong, kau sedang mencari siapa?”
“Kongcu, aku sedang mencari nyonya, apa kalian tidak melihat nyonya?”
sahut bibi Ong cepat.
“Bibi Ong, kau mencari nyonya yang mana? Kami semua berada di sini?”
“Nyonya kedua, sewaktu aku mengantar nasi untuk suamiku tadi, dia
mengatakan kalau nyonya besar telah datang, kenapa tidak kelihatan
orangnya?”
“Sungguh?” serentak semua orang berseru dengan perasaan kaget bercampur
girang.
“Benar, malah suamiku minta nyonya besar langsung mencari kalian di sini”
Pada saat itulah tampak sesosok bayangan manusia meluncur turun dari atas
pohon, dengan gerakan Yau-cu-huan-sin (burung belibis membalik badan) tahutahu
Go Hoa-ti sudah melayang turun persis di hadapan mereka.
“Engkoh Huan, cici sekalian, siaumoay telah kembali!” katanya seraya
menjura.
Serentak kawanan wanita itu maju mendekat, dengan air mata berlinang ujar
Si Ciu-ing: “Enci Ti, kami semua merindukan kau!”
“Cici sekalian, terima kasih banyak kalian telah merawat dan mendidik anak
Jin!” ujar Go Hoa-ti dengan air mata bercucuran.

Isak tangis pun menghiasi pertemuan yang sangat mengharukan itu, tidak
terkecuali bibi Ong yang berdiri di samping.
Melihat itu Ong Sam-kongcu segera menegur sambil tertawa: “Pertemuan ini
semestinya disambut dengan gembira, kenapa kalian malah menangis? Cepat
seka air mata kalian, jangan biarkan gerombolan tuyul kecil menertawakan
kalian.”
Buru-buru Si Ciu-ing menyeka air matanya kemudian ujarnya sambil tertawa:
“Cici Ti, kau sudah bertemu anak Jin? Dia hebat sekali!”
“Semuanya ini berkat jasa kalian semua,” bisik Go Hoa-ti dengan air mata
semakin deras.
Tiba-tiba Han Gi-ang berkata setelah menarik napas panjang: “Enci Ti,
dipandang dari wajahmu yang membawa sinar kegembiraan, tampaknya Thian
tak akan menyia-nyiakan harapanmu, apa yang kau harapkan selama ini bakal
tercapai.”
“Enci Ang, apa maksudmu?” Go Hoa-ti tercengang.
“Aah, tepat sekali! Memang cocok sekali,” tiba-tiba Ong Sam-kongcu ikut
berseru sambil tertawa, “adik Ti, sebulan berselang adik Ang pernah bilang, ada
orang lama yang bakal pulang kampung di hari Peh Cun, tak disangka kau
benar-benar telah pulang di hari Toan-yang ini!”
Tergerak hati Go Hoa-ti, dia segera menarik tangannya seraya bertanya: “Enci
Ang, kau mengetahui rahasiaku?”
Sambil tersenyum Han Gi-ang menggeleng.
“Tidak, siaumoay tidak tahu, tapi siaumoay tahu paling lambat akhir tahun
depan, apa yang kau harapkan bisa terkabul!”
“Sungguh?”
Han Gi-ang tidak menjawab, dia hanya tersenyum. “Adik Ti, tak bakal
meleset,” Ong Sam-kongcu segera menyela, “ayo, jangan biarkan anak-anak
menunggu terlalu lama.”
Ketika masuk ke dalam ruang makan, ia jumpai bocah laki dan perempuan itu
masing-masing duduk mengelilingi dua meja bulat, walaupun melihat orang
dewasa masuk ke ruangan, ternyata tak ada satu pun yang bicara ataupun
melongok ke sana kemari.
Kedisiplinan kawanan bocah itu mau tak mau membuat Go Hoa-ti merasa
amat kagum.
Oia melirik anak Jin sekejap, lalu tanpa mengucapkan sepatah kata pun
mengambil tempat duduk.
Ketika Ong Sam-kongcu menganggukkan kepala, anak Cau baru berseru
lantang: “Bersantap dimulai!”
Para bocah pun mulai menggunakan sumpit masing-masing untuk mengambil
bakcang yang tersedia.
Saat itulah Ong Sam-kongcu dengan ilmu coan-im-jit-pit berbisik kepada Go
Hoa-ti: “Adik Ti, mohon kau sudi menahan diri sejenak lagi.” Sembari berkata ia
sodorkan sebuah bak-cang kepadanya.
Dengan penuh rasa terima kasih Go Hoa-ti menerimanya dan mengangguk
berulang kali.
Tampaknya pertandingan yang diadakan hari ini telah menguras banyak
tenaga bocah-bocah itu, tak heran kalau napsu makan mereka sangat besar, tak
selang berapa saat kemudian bakcang sebaskom telah habis dianglap.
Dua belas tusuk konde emas saling berpandangan sambil tertawa, setelah
memberi tanda kepada Go Hoa-ti, masing-masing membawa dua buah bak-cang
dan diberikan kepada putra kesayangannya.

Ketika anak Jin melihat orang yang menghampirinya adalah Goa Hoa-ti yang
tak dikenalnya, sekilas perasaan kagum terlintas dalam benaknya, setelah
menerima pemberian bak-cang itu, untuk sesaat dia malah berdiri tertegun dan
tak tahu apa yang harus diperbuat.
Go Hoa-ti berusaha keras menahan kucuran air matanya serta dorongan
keinginan yang kuat untuk memeluk bocah itu, sambil tersenyum dia hanya
mengangguk dan balik kembali ke tempat duduknya.
Hingga kawanan bocah itu pada bubaran, ia baru tersadar kembali dari
lamunannya.
Pada saat itulah tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berseru: “Anak Jin,
jangan pergi dulu, coba kemari!”
Jin-ji meletakkan bak-cangnya ke meja dan berjalan ke depan Ong Samkongcu
sambil bertanya: “Ada apa ayah?”
“Anak Jin, ayah hendak menyampaikan sebuah kabar baik, ibumu sudah
kembali!”
“Sungguh ayah?” berkilat sepasang mata anak Jin.
Ong Sam-kongcu tersenyum, sambil menggandeng tangannya yang gemetar,
mereka berjalan menuju ke hadapan Go Hoa-ti.
Sementara itu air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Go Hoa-ti, sambil
memeluk bocah perempuan itu teriaknya berulang kali: “Anak Jin, anak Jin!”
“Ibu!” anak Jin menubruk ke dalam rangkulannya dan menangis tersedu.
Memandang sekejap kawanan bocah yang berdiri tercengang, Ong Samkongcu
segera menjelaskan: “Bocah-bocah, dia adalah bibi Go, yaitu ibu
kandung cici kalian.”
“Bibi… bibi…!” serentak para bocah maju meluruk sambil berteriak
kegirangan.
Dengan air mata berlinang Go Hoa-ti anggukkan kepalanya berulang kali,
“Kalian semua memang anak yang manis!”
“Anak-anak,” Si Ciu-ing ikut menjelaskan sambil tertawa, “selama banyak
tahun, bibi kalian merawat lukanya di daerah Kanglam, walaupun luka itu
belum sembuh tapi kali ini sengaja datang untuk merayakan peh-cun bersama
kita semua, untuk menyampaikan rasa terima kasihnya karena kalian selama
banyak tahun membantu anak Jin, maka masing-masing akan mendapat hadiah
sebuah kain uang yang indah.”
“Terima kasih bibi, terima kasih bibi ….” kembali tempik sorak bergema gegap
gempita.
“Mari kita kembali ke pesanggrahan T»-wan!” ajak Ong Sam-kongcu kemudian
sambil tertawa.
Ketika melangkah kembali ke dalam pesanggrahan Ti-wan, Go Hoa-ti
menyaksikan segala sesuatunya masih tetap seperti sedia kala, sementara ia
sedang menghela napas, tiba-tiba terdengar anak Jin berseru: “Ibu, setiap hari
aku dan adik Cau pasti datang kemari untuk mengatur pepohonan di sini.”
“Enci Ti, jangan dilihat bocah-bocah itu lincah, tanpa undangan atau ijin dari
anak Jin, siapapun tak ada yang berani datang kemari,” si Ciu-ing segera
menyela.
“Cici, kalian terlalu baik kepadaku!*
“Adik Ti,” sela Ong Sam-kongcu, “di antara orang sendiri kau tak usah
merendah, anak Jin memang sangat pintar, justru dialah yang memimpin adikadiknya
selama ini….”

“Ibu, memang benar begitu,” tiba-tiba anak Jin menyela, “semua saudara
takut denganku, tapi aku justru takut dengan anak Cau, asal dia mendelik, aku
sudah ketakutan setengah mati.”
Ucapan tersebut segera disambut gelak tertawa semua orang.
“Anak Jin,” Go Hoa-ti berkata, “di kemudian hari kau harus menuruti
perkataan adik Cau, harus membantunya, agar kalian bersaudara dapat selalu
akrab.”
“Pasti ibu, adik Cau juga takut padaku, setiap kali aku menangis lantaran
rindu padamu, adik Cau akan kebingungan dibuatnya.”
Dengan penuh kasih sayang Go Hoa-ti memeluk putrinya.
“Anak jin,” katanya kemudian, “selanjutnya ibu pasti akan meluangkan
banyak waktu untuk menemanimu, tapi kau tak boleh sengaja membuat
murung adik Cau.*
“Aku berjanji ibu, tapi… kau masih akan pergi lagi?”
“Ehmm, menurut tabib, ibu harus berobat satu tahun lagi sebelum sehat
seperti sedia kala, setelah itu kita tak akan berpisah lagi.”
“Sungguh?”
“Ehmm, masa orang dewasa membohongi anak kecil? Sekarang tidurlah dulu.”
Anak Jin berpaling ke arah Ong Sam-kongcu, tanyanya: “Ayah, bolehkah anak
Jin tidur dengan ibu malam ini?”
“Tentu saja boleh, selama ibu di rumah, kau boleh tidur bersamanya.”
“Terima kasih ayah, anak Jin pergi tidur siang,” setelah memberi hormat
kepada semua orang, dia pun berlalu dari situ.
Memandang hingga bayangan punggung putrinya lenyap dari pandangan, Go
Hoa-ti baru berkata sambil menghela napas: “Engkoh Huan, cici semua, terima
kasih, kalian telah memelihara dan mendidik anak Jin hingga sehebat sekarang.”
“Adik Ti, aku tidak berani berebut jasa,” sela Ong Sam-kongcu tertawa,
“semua keberhasilan itu adalah hasil karya adik Ing semuanya, bahkan aku
sudah berencana hendak mendirikan sebuah perkumpulan yang dinamakan
Hay-it-pang.”
“Perkumpulan Hay-it-pang?”
“Betul.’ Toh anggota keluarga kita sangat banyak, dari ketua sampai peronda
bisa kita tangani semuanya, apalagi bakat bocah-bocah itu sangat menjanjikan,
sudah sepantasnya kalau kita muncul sebagai sebuah kekuatan baru.”
“Betul sekali, pemikiran semacam ini memang sesuai dengan kondisi dalam
masyarakat sekarang, kenapa tidak segera dilaksanakan?”
Ong Sam-kongcu tertawa.
“Mungkin lantaran kita sudah terlalu lama hidup mengasingkan diri,
kehidupan bersantai tiap hari membuat orang jadi malas, tak punya semangat
lagi untuk cari nama dan kedudukan, apalagi kekayaan keluarga Ong kan cukup
untuk menghidupi berapa generasi.”
“Engkoh Huan, pemikiran semacam itu pas jika situasi dunia aman dan
tenteram,” kata Go Hoa-ti serius, “tapi menurut pengamatanku, dunia persilatan
saat ini sedang dilanda gejolak yang mengerikan.”
Kaget bercampur tertegun Ong Sam-kongcu dan dua belas tusuk konde emas
sesudah mendengar perkataan itu.
“Engkoh Huan, cici sekalian, semenjak empat tahun berselang, di daratan
Tionggoan telah muncul sebuah organisasi massa yang dinamakan Tay-ka-lok”,
artinya gembira untuk semua orang, bukan saja banyak teman persilatan yang
bergabung dengan organisasi itu, rakyat biasa pun banyak yang mendaftarkan
diri.”

“Tay-ka-lok?” Ong Sam-kongcu tercengang, “dari nama organisasi itu
semestinya organisasi mereka merupakan satu perkumpulan untuk bersenangsenang,
darimana bisa membahayakan masyarakat umum?”
“Aaai! Yang dimaksud Tay-ka-lok sebetulnya tak beda dengan sebutan Paykiu,
kiu-kiu dan sebangsanya, merupakan istilah di dalam perjudian, bukan saja
mereka punya daya tarik yang luar biasa, kehancuran yang timbul akibat
permainan itu beribu kali lipat lebih dahsyat ketimbang permainan judi.”
“Wow, permainan yang begitu mengasyikkan?”
“Bila kau berada di daratan Tionggoan, bukan cuma di gedung pertemuan,
bahkan di jalanan atau lorong kecil pun, asal kau mau perhatian pasti akan
mendengar banyak orang sedang meramal nomor berapa yang bakal keluar
nanti. Yang mereka maksud nomor adalah nomor pemenang pacuan kuda yang
keluar sebagai juara pada tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima.”
“Ooh, rupanya mereka gunakan pacuan kuda sebagai judi buntutan? Jadi
mirip sekali dengan taruhan orang tentang siapa yang bakal terpilih menjadi
Bulim Bengcu?”
“Benar, taruhan siapa yang jadi Bulim Bengcu hanya diselenggarakan berapa
tahun satu kali, sehingga meski kalah taruhan tak bakal mencelakai orang, beda
sekali dengan organisasi Tay-ka-lok, satu bulan diadakan taruhan sebanyak tiga
kali, setiap kali berapa juta orang yang terlibat dalam pertaruhan itu
“Apa? Ada jutaan orang yang ikut taruhan?”
“Betul, menurut data terakhir yang kudengar, sudah ada dua puluh juta orang
yang terjerumus dalam pertaruhan semacam itul”
“Haah? Begitu besar pengaruh Tay-ka-lok?” seru Ong Sam-kongcu terperanjat.
“Betul, sembilan ekor kuda saling berlomba sejauh sepuluh li, pada akhirnya
pasti ada seekor kuda yang mencapai finish duluan, asal orang yang memegang
nomor kuda juara itu maka mereka bisa mendapat uang taruhan yang besar
sekali.
“Ambil contoh kota Kim-leng. kau masih ingat dengan perusahaan ekspedisi
Kim-leng piaukiok? Sekarang mereka tidak usaha ekspedisi lagi, di luar kota
mereka membeli tanah seluas puluhan hektar dan mendirikan arena pacuan
kuda plus tempat peristirahatan.
“Setiap tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima, di arena pacuan kuda
Kim-leng akan diselenggarakan lomba pacuan kuda, tiap kali diselenggarakan
ada empat lima juta orang yang ikut bertaruh, tiap taruhan bernilai satu tahil
perak.
“Setiap kali selesai berlomba, siapapun yang menang, pihak Kim-leng piaukiok
akan mengambil satu persen dulu sebagai uang jasa, coba hitung sendiri, kalau
tiap kali bisa meraup empat lima juta tahil perak, satu persennya berarti empat
lima puluh ribu tahil perak.”
“Hmmm, hebat amat sistim itu, tidak sampai tiga bulan bukankah semua
modal mereka sudah balik?” dengus Ong Sam-kongcu.
“Benar, dari sembilan nomor yang tersedia, asal kita pilih satu di antaranya
dan menang maka kau bisa menangkan uang taruhan dari delapan nomor yang
lain, apalagi bila nomornya “kandang” alias tidak tertebak, hadiah bisa luar biasa
besarnya.”
“Bagaimana kalau kita beli semua kesembilan nomor itu?” tanya Ong Samkongcu
setelah termenung berpikir sebentar.
“Engkoh Huan, aku pernah coba caramu itu, akhirnya aku keluar uang
sembilan tahil tapi yang dimenangkan cuma dua tahil lebih, rugi besar!”

“Hmm, kalau aku si penyelenggara pacuan kuda, akan kuatur perlombaan itu
agar beberapa kali “kandang”, lalu dengan keluar uang satu tahil perak, aku
keluarkan nomor kuda yang paling sedikit pasangannya, bukankah aku bakal
meraih keuntungan yang luar biasa?”
“Aaah betul juga!” teriak Go Hoa-ti kaget, “asal kita gunakan kuda yang
berbeda tiap kali berlomba, lalu nomor kuda pemenang selalu diatur nomor kuda
yang paling sedikit pasangan taruhannya, bukankah tiap kali berlomba, si
bandar akan meraup kemenangan luar biasa?”
“Bagus, kalau begitu biar aku pulang ke kota Kim-leng dan membuka sebuah
pacuan kuda juga, dengan bocah-bocah sebagai jokinya, aku yakin tak sampai
satu tahun kekayaanku sudah membukit!”
“Engkoh Huan, jika ada orang memberi petunjuk secara diam-diam lalu
membuat kekacauan pada saat yang tepat, mungkin masalahnya bisa berubah
jadi serius,” Si Ciu-ing mengingatkan.
“Betul sekali!” Ong Sam-kongcu mengangguk serius, “adik Ti, apa selama ini
pihak kerajaan dan sembilan partai besar tidak berusaha mencegah, melarang
atau menghalangi ulah mereka?”
“Pernah sih pernah, konon sudah melibatkan banyak orang, tapi siapa sih
yang tak pingin kaya raya dalam semalaman? Bukan saja semua orang jadi gila
harta, gila bertaruh, ditambah lagi dengan beberapa alasan, bukannya padam
dan surut, permainan tersebut malah semakin merajalela.”
Semakin dipikir Ong Sam-kongcu merasa semakin ngeri, katanya kemudian
setelah menghela napas panjang: “Kalau kekuatan kelewat lama bersatu,
akhirnya pasti akan berpisah, bila lama berpisah akhirnya akan bersatu
kembali, selama puluhan tahun terakhir, dunia persilatan selalu aman dan
tenteram, kelihatannya kekacauan segera akan melanda seluruh dunia
“Engkoh Huan, cici sekalian,” sela Go Hoa-ti tiba-tiba, “demi masa depan
bocah-bocah serta kemampuan mereka untuk menghadapi perubahan dalam
dunia, apa tidak mulai dipertimbangkan perubahan sistim pendidikan serta
materi pendidikan?”
Ong Sam-kongcu berpikir sejenak, lalu katanya: “Ehmm, memang perlu
rasanya, adik semua, bagaimana pendapat kalian?”
Dua belas tusuk konde serentak manggut-manggut.
Si Ciu-ing berkata pula: “Kecerdasan anak Jin dan anak Cau melebihi
kebanyakan orang, bocah lainnya juga tunduk di bawah pengawasan mereka,
asal diberi arahan, semestinya mereka dapat menerima perubahan itu.”
Kemudian setelah berhenti sejenak, ujarnya lagi: “Engkoh Huan, cici, kalian
teruskan pembicaraan, aku ingin mengundurkan diri lebih dulu!”
Bersama sebelas orang tusuk konde lain, mereka bersama-sama
meninggalkan pesanggrahan Ti-wan.
Memandang hingga bayangan punggung orang itu lenyap dari pandangan,
Ong Sam-kongcu baru berkata lagi dengan nada kualir “Apakah belum ada
kabar berita dari saudara Bwe….”
“Aaai, kabar beritanya seakan batu yang tenggelam di tengah samudra, sama
sekali tiada kabar apa-apa.”
“Jangan putus asa, adik Ang toh pernah meramalkan nasibmu, konon akhir
tahun depan kau bisa berjumpa ladi dengan saudara Bwe, bukan begitu?”
“Haai … ramalan hanya sesuatu janji yang semu, tanpa dasar bukti yang pasti
mana aku boleh percaya? Tapi aku memang kagum dengan cici Ang, dia makin
lama semakin memikat hati.”

“Adik Ti, kau tak usah mengagumi mereka, apa kau tidak merasa bahwa
dirimu lebih matang dan semakin seksi?”
Berkilat sepasang mata Go Hoa-ti setelah mendengar perkataan itu, serunya
tak tahan: “Engkoh Huan, kau pun berpendapat begitu?”
“Benar adik Ti, aku tidak bohong.”
Berkaca sepasang mata Go Hoa-ti karena linangan air mata, gumamnya:
“Engkoh Huan, berilah satu kali kesempatan lagi, bila kali ini aku gagal
menemukan jejaknya, aku akan matikan perasaanku ini.”
“Sampai waktunya, aku akan tinggal di pesanggrahan Ti-wan dan selama
hidup melayani kau, aku akan melayani semua kemauanmu demi membalas
budi kebaikanmu terhadap aku serta anak Jin selama ini.”
“Adik Ti, aku pasti akan menunggumu!”
“Engkoh Huan…….” sambil berseru, ia segera menubruk ke dalam
pelukannya.
Sambil memeluk kekasih hatinya, Ong Sam-kongcu merasa pikiran serta
perasaan hatinya bergejolak keras.
Setelah mengetahui asal-usul anak Jin yang sebenarnya, semula dia bertekad
akan melupakan perempuan ini, tapi bayangan tubuhnya sudah kelewat dalam
membekas dalam benaknya. Apalagi mengikuti berlalunya sang waktu, perasaan
itu membekas semakin nyata.
Hari ini, ketika ia mendapat tahu kalau ia masih tak berhasil menemukan Bwe
Si-jin, bara api harapan sekali lagi timbul, apalagi ketika tubuh yang lembut dan
harum berada di dalam pelukannya sekarang, dia benar-benar tak sanggup
mengendalikan diri.
Ketika Go Hoa-ti berjumpa dengan Bwe Si-jin tempo hari di kota Lokyang, ia
jatuh hati pada pandangan pertama, tidak sampai tiga bulan berkenalan, dengan
hati ikhlas dia persembahkan keperawanannya kepada pemuda itu.
Sejak itu mereka berdua hampir selalu bersama mengunjungi tempat-tempat
yang terkenal di sekitar kota Lokyang.
Tapi suatu pagi, ketika Go Hoa-ti mendusin dari tidurnya dalam sebuah
rumah penginapan, ia menjumpai Bwe Si-jin telah hilang lenyap tak berbekas,
maka dia pun mulai melacak keberadaannya.
Tapi pada saat itulah dia menjumpai dirinya mulai hamil.
Demi masa depan jabang bayinya maka dia menggunakan pelbagai cara untuk
bisa dinikahi Ong Sam-kongcu, siapa tahu “manusia boleh berusaha, Thian lah
yang punya kuasa”, asal-usul anak Jin akhirnya terbongkar juga.
Dalam keadaan demikian, terpaksa sekali lagi dia mengembara di seluruh
pelosok dunia untuk mencari jejak Bwe Si-jin.
Selama sepuluh tahun, dia sudah menjelajahi hampir setiap sudut kota baik
di Kwan-lwe maupun Kwan-gwa, puluhan ribu orang sudah ditanyai, namun
bukan saja tak ada yang pernah bersua dengan Bwe Si-jin, kabar beritanya pun
sama sekali tak ada.
Selama ini, dia pun sudah banyak menghadapi intrik serta akal busuk banyak
orang yang berusaha ikut “mencicipi” kehangatan tubuhnya, masih untung dia
cerdas dan kungfunya hebat, hingga setiap kali berhasil lolos dari cakaran
“serigala perempuan”.
Dalam keputus-asaan akhirnya ia balik ke pesanggrahan Hay-thian-it-si,
rencana semula dia ingin menemani anak Jin untuk melewati sisa hidupnya.
Tapi ramalan dari Han Gi-ang kembali membangkitkan pengharapannya.
Meski di mulut dia bilang tak percaya, tapi api pengharapan justru semakin
berkobar.

Biarpun harapan itu sangat kecil, ia tetap ingin mencobanya.
Selama sepuluh tahun mengembara, Go Hoa-ti selalu berusaha menahan
kebutuhan biologisnya, tapi sekarang, pelukan yang begitu mesra dan hangat
membuat perempuan ini tak sanggup membendung kebutuhannya lagi, ibarat
bendungan yang jebol, napsu birahi seketika menguasai pikiran dan perasaan
hatinya.
Begitu pula dengan Ong Sam-kongcu, perpisahan selama sepuluh tahun
dengan perempuan ini membuat birani yang tertanam selama ini seketika
berkobar, pelukan perempuan itu membuat “anak angkat”nya langsung
menegang keras bagai tombak baja.
“Engkoh Huan, bopong aku ke atas ranjang!” pinta Go Hoa-ti lirih.
Seketika Ong Sam-kongcu merasakan lidahnya kering dan hawa panas
menyelimuti seluruh tubuhnya, ia tak kuasa menahan diri lagi, disambarnya
tubuh perempuan itu lalu setengah berlari masuk ke dalam kamar.
Matahari masih bersinar cerah di angkasa menimbulkan udara panas di
sekitar gedung, tapi panasnya matahari tak bisa menangkan panasnya suasana
dalam kamar pesanggrahan Ti-wan.
Ong Sam-kongcu dan Go Hoa-ti sudah dalam posisi sama-sama telanjang,
mereka saling berpeluk, saling bergumul dengan ganasnya.
Pengalaman selama sepuluh tahun menggilir dua belas tusuk konde emasnya
saban malam, membuat pengalaman dan tehnik “ranjang” Ong Sam-kongcu mengalami
kemajuan pesat, apalagi tenaga dalamnya yang semakin sempurna
membuat kemampuannya berbuat intim betul-betul luar biasa dan amat
berpengalaman.
Sebaliknya Go Hoa-ti merasa walaupun “anu”nya Ong Sam-kongcu kalah
besar dan kalah keras dibandingkan “anu” milik Bwe Si-jin, tapi “jurus
kembangan” serta variasi yang dimiliki lelaki ini jauh lebih matang dan hebat
sehingga dapat menutupi semua kekurangan tersebut, tak heran kalau
perempuan ini tak sanggup bertahan terlalu lama.
Setelah menggeliat tiada hentinya sesaat, lambat laun perempuan itu
mendekati puncak birahtnya….
Tampak badannya gemetar keras, rintihan dan jeritan bergema tiada hentinya
… tak lama kemudian perempuan itu sudah mencapai puncaknya.
Ong Sam-kongcu semakin terangsang, tiba-tiba ia merasa seluruh badannya
mengejang keras, “ujung tombak’nya terasa gatal sekali, dia tahu sebentar lagi
dirinya pun akan mencapai puncaknya.
Buru-buru dia cabut keluar “tombak’nya kemudian ditembakkan ke atas
pusar perempuan itu.
Cairan putih yang kental dan berbau anyir menyembur keluar mengotori dada
serta pusarnya, sampai lama … lama kemudian Ong Sam-kongcu baru merebahkan
diri lemas di sisi ranjang.
Go Hoa-ti tahu, lelaki itu kuatir dirinya hamil sehingga mengambil tindakan
tersebut, tak kuasa lagi bisiknya dengan perasaan sedih: “Engkoh Huan, maaf,
aku tak bisa memuaskan dirimu.”
Seraya berkata dia ambil sebuah handuk dan mulai membersihkan tubuhnya.
“Adik Ti tak usah sedih,” sahut Ong Sam-kongcu tertawa, “selama tahun
tahun terakhir, kami selalu menggunakan cara seperti ini untuk berhubungan
intim, kalau tidak … wah, berapa banyak tuyul kecil yang bakal hadir lagi di
Hay-thian-it-si …”
“Engkoh Huan, kalian benar-benar mengagumkan.”

“Adik Ti tak usah kagum, asal kau bersedia, setiap saat kami akan
menerimamu untuk bergabung.”
0oo0
Malam itu, Ong Sam-kongcu didampingi tiga belas orang wanita berkumpul di
pesanggrahan Ti-wan sambil berbincang-bincang.
Saat itulah terdengar Han Gi-ang berkata: “Engkoh Huan, cici Ti, untuk
menghadapi perubahan yang terjadi dalam dunia persilatan, kami berdua belas
telah melakukan perundingan sore tadi, kesimpulan yang kami buat adalah
membiarkan cici Ti mengajak anak Cau terjun ke dalam dunia persilatan untuk
mencari pengalaman!”
Si Ciu-ing menambahkan: “Dengan membiarkan anak Cau mencari
pengalaman dalam dunia persilatan, selain bisa menambah pengetahuannya,
sekembali dari berkelana, dia pun bisa mengajarkan kepada saudara-saudara
lainnya.”
“Asal adik Ti tidak merasa keberatan, aku pasti akan setuju,” kata Ong Samkongcu
sambil tertawa.
“Bagus sekali,” seru Go Hoa-ti, “dengan begitu aku pun tak akan kesepian
sepanjang jalan, cuma … perubahan cuaca susah diramalkan, biarpun kalian
percaya padaku, aku hanya kuatir bila sampai terjadi sesuatu kejadian di luar
dugaan.”
“Enci Ti tak perlu kuatir,” Han Gi-ang menerangkan, “anak Cau punya rejeki
yang besar dan umur yang panjang, biarpun terjadi sesuatu dan harus
mengalami pelbagai masalah, otomatis semua kesulitan akan berubah jadi
selamat.”
“Kalau memang begitu akan kuterima tanggung jawab ini.”
“Cici Ti,” seru Si Ciu-ing kemudian dengan penuh rasa terima kasih, “aku
ucapkan terima kasih terlebih dulu, hanya saja anak Cau kelewat agresif dan
lagi keras kepala, mungkin akan banyak menyulitkan dirimu!

Bersambung pertarungan-naga-sakti-versus-elang-sakti

One Response to “10 tahun mengembara, mencari jejak kekasih hati”

  1. prithania Says:

    Mana lanjutannya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: