Dendam Saudara Kembar

by

Aroma obat-obatan menyeruak di sekeliling ruangan kecil bernuansa putih itu. Seorang gadis cantik dengan wajah pucat tergolek lemah di atas tempat tidur yang berada tepat di tengah-tengah ruangan tersebut. Berbagai macam kabel menghubungkan tubuh gadis itu dengan aneka macam peralatan kedokteran yang terletak di samping kanan dan kiri tempat tidurnya.

Di sisi kanan tempat tidur seorang gadis lain dengan raut wajah bagai pinang di belah dua dengan gadis pucat itu terlihat tertidur di atas kursi, kepalanya bertumpu pada sisi kanan tempat tidur yang kosong, sedangkan tangannya menggenggam sebelah tangan gadis yang sedang tak sadarkan diri itu.

Sebuah gerakan halus membangunkan gadis itu dari tidurnya, area sekitar matanya yang menghitam tidak bisa menutupi bola mata coklat hazelnya yang bersinar penuh harapan saat melihat jemari saudara kembarnya itu bergerak halus. Gadis itu menahan nafasnya ketika melihat kelopak mata saudara kembarnya itu berkedip pelan kemudian terbuka perlahan-lahan, setelah selama satu minggu tidak sadarkan diri.

Gadis itu tersenyum tipis begitu membuka matanya dan melihat saudara kembarnya dengan setia terus mendampinginya. Ia membuka mulutnya, dan berusaha mengucapkan sepatah kata pada saudara kembarnya itu namun yang keluar dari mulutnya hanyalah berupa bisikan lemah.

“Onnie, dimana appa & eomma?” tanya gadis pucat itu.

Gadis itu tersenyum pahit saat mendengar pertanyaan saudara kembarnya itu. Dia tak tahu harus menjawab apa, tak mungkin ia mengatakan kedua orangtuanya kini tidak mengakui adik kembarnya itu sebagai putri mereka.

Cinta

Satu kata itu cukup menghancurkan kebahagiaan yang selama ini menyelimuti keluarga mereka. Seandainya saja saat itu adik kembarnya mendengarkan nasihatnya, mungkin kini keluarga mereka akan baik-baik saja. Dan kini ia tidak perlu melihat keadaan adiknya yang begitu menyedihkan ketika mengetahui kekasihnya justru mengkhianatinya dan menikah dengan gadis lain yang ternyata telah hamil tiga bulan akibat kelakuan bejat laki laki itu.

Gadis pucat itu tertegun saat melihat senyum pahit yang muncul di bibir tipis kakak kembarnya itu. Dia mengerti apa yang tersirat dari senyuman itu walaupun kakaknya itu sama sekali tak mengucapkan sepatah katapun.

“Mereka tidak mengakuiku kan?” ucapnya lirih dengan senyuman pahit yang ikut terpeta di bibir mungilnya. Sedangkan gadis satunya hanya bisa terdiam mendengar kata-kata yang keluar dari bibir adiknya, dia tidak bisa mengelak karena memang itulah kenyataannya.

“Tidak apa-apa, yang penting eonnie masih mau menganggapku adik.” Ucap gadis itu sembari tersenyum tipis.

*********

Gadis itu bekerja dengan hati gelisah, pagi tadi kondisi adik kembarnya itu memburuk sedangkan ia tidak bisa menemani adiknya itu karena harus bekerja. Berkali-kali ia menatap jam di dinding ruangan kerjanya, berharap jarum jam itu segera menunjuk angka lima, namun sayangnya jarum jam itu masih menunjuk pada angka dua.

Dering ponsel membuatnya mengalihkan tatapan matanya dari jam, ia kemudian melirik layar ponselnya.

Hospital calling…

Jantungnya berdetak kencang ketika melihat id caller penelponnya, dengan gerakan cepat ia mengangkat telepon penting itu. Dia membeku ketika mendengar perkataan orang dari seberang sana.

Ponsel itu pasti hancur setelah menghantam lantai jika saja tangan kekar milik seorang laki-laki tidak menangkapnya. Laki-laki itu menatap khawatir gadis yang duduk terpaku di sampingnya.

“Jagiya, gwenchanayo?” tanyanya sambil melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.

“O..oppa. Jikyo.. hiks” ucapnya terputus oleh tangis.

Tanpa banyak bertanya laki-laki itu langsung menarik tangan gadis itu, dia lalu membawa gadis itu ke rumah sakit tempat Jikyo di rawat. Selama perjalanan air mata tidak henti-hentinya keluar dari kedua sudut matanya, membasahi pipinya yang kemerahan.

Gadis itu bergegas turun begitu mobil tiba di rumah sakit. Dia berlari terburu-buru tanpa memperhatikan keadaan sekitarnya, bahkan ia tak memperdulikan orang-orang yang terjatuh karena tanpa sengaja tertabrak olehnya. Hal itu membuat laki-laki yang menemaninya berkali-kali harus mengucapkan kata maaf pada orang-orang yang tertabrak oleh gadis itu.

Langkah gadis itu terhenti ketika sampai di depan pintu kamar rawat Jikyo adik kembarnya. Dengan tangan gemetar ia membuka pintu itu perlahan, ia pun berjalan perlahan mendekati adiknya itu. Para dokter dan suster yang mengelilingi Jikyo menyingkir memberikan kesempatan bagi kakak beradik itu untuk bertatap muka dan berbicara.

“Onnie… uljima” lirih Jikyo ketika melihat kakaknya itu menangis

Gadis itu hanya bisa tersenyum tipis sembari menganggukkan kepalanya pelan. Ia berusaha menahan kesedihannya yang membuncah. Ia tidak ingin adiknya semakin bersedih di saat-saat terakhirnya jika melihat dirinya yang lemah.

“Onnie, kau harus berjanji padaku. Kau harus bahagia bersama Tae-woo oppa.” ucapnya “Tae-woo oppa kau harus berjanji membahagiakan onnie, jangan sakiti dia. Atau aku akan menghantuimu nanti.” lanjutnya sembari terkekeh kecil.

“Aku berjanji” ucap laki-laki bernama Tae-woo itu sembari menggenggam tangan gadis yang berdiri di sebelahnya.

“Onnie kemarilah” ucap Jikyo seraya melambaikan tangannya pelan agar kakaknya itu mendekat padanya.

Gadis itu mendekat, ia tertegun saat mendengar permintaan terakhir adik kesayangannya itu, namun sedetik kemudian ia mengangguk menyanggupi permohonan adiknya itu. Jikyo tersenyum tipis ketika melihat kakaknya itu menyanggupi permohonannya, ia lalu memejamkan matanya yang terasa berat.

Tiiiiiiit….

Suara panjang itu terdengar memekakkan telinga, air mata seketika mengalir dari sudut kedua matanya ketika mendengar suara itu. Habis sudah, adik kesayangannya itu kini telah meninggalkan dirinya untuk selamanya.

*********

Rintik-rintik hujan mulai turun perlahan membasahi tanah pemakaman itu. Satu persatu para pelayat meninggalkan areal pemakaman sembari menepuk lembut bahu seorang gadis yang terpaku menatap gundukan tanah di hadapannya.

Pikiran gadis itu melayang pada saat-saat terakhir adik kembarnya itu, pada sepatah kalimat permohonan gadis itu.

“Onnie, satu hal lagi harapanku padamu. Tolong bantu aku membalaskan dendamku. Dia dan gadis itu harus merasakan sakit yang kurasakan beberapa bulan terakhir ini. Dia harus merasakan sakitnya dikhianati.”  

Gadis itu berjanji di dalam hatinya “Beristirahatlah dengan tenang Jikyo, aku berjanji akan membalaskan dendammu.” Setelah mengucapkan janjinya gadis itu melangkah meninggalkan areal pemakaman bersama Tae-woo, kekasih dan juga tunangannya yang sedari tadi terus setia mendampinginya juga melindungi tubuhnya dari terpaan air hujan.

Tittle    : Love Trap

Genre  : Romance, litte angst, family

Lenght: Series

“Dendam yang berasal dari masa lalu menyeret kedua anak manusia berlainan jenis itu terseret dalam pusaran cinta yang begitu indah, menghanyutkan, sekaligus menyakitkan.”

Sumber ???

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: