Hingga Maut Memisahkan

by

Aku tak akan meninggalkanmu, bisikku.

Kau percaya padaku. Pada tatapanku. Pada perbuatanku. Pada janjiku. Di telingamu. Bersama anggukan samarmu malam itu, kukurung hatimu dalam sel yang tak memiliki jeruji besi.

Hingga maut memisahkan – selamanya kita akan selalu bersama, desahmu.

Aku mengangguk. Memandang lekat dalam matamu. Hingga kau luluh. Dan menyerahkan semuanya padaku. Semuanya. Cintamu. Ragamu. Mahkotamu. Padaku.

Dan kini – saat melihatmu melangkah masuk, menyusuri kelopak bunga yang tersebar di atas keramik putih itu, aku melempar senyumku. Kau juga sedang mengulas senyum. Sambil tersipu. Membiarkan pipimu merekah. Bagaikan kelopak bunga mawar yang katamu – sangat kau sukai.

Ah, aku sangat mencintaimu. Dengan cinta yang tak bisa kau ukur dengan apa pun yang ada di dunia ini. Memandang seluruh yang ada pada dirimu membuat dadaku terasa penuh. Penuh akan hasrat untuk memilikimu. Seutuhnya. Maka di sinilah aku berada sekarang. Di dekatmu. Untuk bisa menggenggam tanganmu lagi. Sampai selama-lamanya. Seperti yang kau pinta padaku malam itu.

Aku tak akan goyah lagi. Aku tak akan mundur lagi. Tekadku sudah sebulat purnama. Seteguh batu karang. Bersama denganmu adalah satu-satunya hal yang paling kuinginkan di sepanjang hidupku. Karena itu aku berdiri, memandang punggungmu yang terbalut gaun putih indah dan kini telah membelakangiku.

Kemudian kurogoh saku bajuku. Serta-merta mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Sesuatu yang akan mempersatukan kita selamanya.

‘***

Kukerutkan keningku. Mendengar dengan cukup jelas di ambang batas ketidak sadaranku, suara bising orang-orang di sekeliling kita hilang tanpa bekas. Kemudian pandanganku berangsur menggelap. Ada rasa lelah yang tiba-tiba membelitku seperti sulur-sulur raksasa, hingga aku nyaris tak sanggup menarik nafas.

Semua yang ada di ruangan putih ini bergerak seperti slow motion di antara kedua kelopak mataku yang hampir terpejam. Bergerak berbondong-bondong membentuk dua lingkaran. Mengerumuni kau dan aku.

Apa – yang terjadi?

Kuputar ulang memori otakku yang merekam kejadian barusan. Seraya menahan sakit yang berdentum-dentum menyiksaku. Kemudian pita kaset dalam otakku dengan sendirinya memainkan sekelumit peristiwa yang terjadi di ruangan tempat kita berdiri beberapa jenak yang lalu. Dalam sebuah layar raksasa yang tak kumengerti dari mana asalnya.

Layar yang memperlihatkan siluet tubuhmu dan tengah berdiri berdampingan dengan seorang laki-laki. Menautkan genggaman tangan dalam ikrar janji sehidup-semati. Kemudian mataku terbelalak. Sebab hanya dalam beberapa detik setelah terdengar dua letusan yang nyaris tanpa jeda, kulihat gaun putihmu yang putih bersih menjadi senada dengan kelopak mawar merah yang mengiringi langkahmu tadi. Kulihat pula laki-laki di sampingmu itu terhenyak. Sebelum akhirnya dia berteriak histeris. Dan memelukmu erat.

Laki-laki itu.

Kupejamkan mataku. Rapat-rapat. Merasakan masa lalu bergaung-gaung dalam ingatanku. Masa lalu di mana kita masih bersama. Memilin rajutan kasih yang begitu indah dan sempurna. Setidaknya sempurna – sampai laki-laki itu datang dan merebutmu dari sisiku.

Laki-laki yang memeluk tubuhmu kini. Yang tadinya akan melingkarkan cincin di jari manismu hari ini. Dan tak akan kubiarkan.

Oleh sebab itu, bersamaan dengan dua suara letusan yang berasal dari pelatuk yang kukeluarkan dan kutarik dari sakuku tadi, akan kudapatkan kau kembali. Seperti dulu. Sebelum laki-laki itu muncul dan menggerus habis cintamu untukku.

Seperti katamu di malam saat kita melebur jadi satu – …

Dua peluru yang bersarang dan mempersatukan kita.

…hingga maut memisahkan – …

Satu di dada kirimu.

…kita tetap bersama selamanya.

Dan satu di tempurung kepalaku.

‘***

Sumber

Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: