Bolehkah sekali lagi aku mengharapkanmu

by

Hal yang paling kejam di dunia ini adalah ketika suatu hari nanti kau memandang ke dalam mata seseorang dan membuatnya jatuh cinta kepadamu, namun tak seujung kuku pun kau berniat menangkapnya….

Kupejamkan mataku. Lapat-lapat. Merasakan alunan nada itu merambat pelan ke telingaku. Lagu yang sama. Lagu yang kuputar setiap malam sebelum tidur setelah aku mengenalmu. Apa kau tahu aku punya kebiasaan mendengarkan lagu ini setiap malam sambil mengumpulkan kepingan yang kau susun dalam ingatanku setiap harinya?

Ah, aku ingat malam-malam di mana kau bertegur sapa denganku. Di bawah kelamnya langit malam yang cuma dihiasi satu dua bintang, kulihat kau duduk di sebuah meja bundar di depan sana. Menantiku. Tersenyum. Penuh cinta.

Sudah berapa lama kau tak tersenyum seperti itu lagi padaku? Apa kau ingat? Apa masih kau ingat saat pertama kali kau mencoba menyapaku dan ikut masuk ke dalam jalanku? Mengapa kau harus berjuang ikut masuk dalam jalanku tetapi pada akhirnya membiarkanku tersesat sendirian? Tak bisa lagikah kau tuntun aku, ke arah mana aku harus pulang?

Kau muncul seperti hantu disetiapku menarik nafas. Padahal sudah kututup mataku rapat-rapat. Tapi wajahmu masih jelas kulihat. Padahal sudah kusumpal telingaku. Namun suaramu terus bergema. Aku bisa gila. Aku nyaris gila!

Benarkah kepergianku dari hidupmu adalah hal yang sangat kau inginkan?

‘***

Aku tak percaya lagi pada apa yang disebut cinta.

Sejak mantan kekasihku memutuskan begitu saja hubungan kami karena merasa aku tak pantas untuknya. Membiarkanku terkapar di ranjang hingga berbulan-bulan lamanya. Sampai aku hampir gila. Nyaris sinting.

Sia-sia jalinan kasih yang kurajut bersama dia selama hampir tiga tahun lamanya. Sia-sia semua yang kulakukan untuknya. Dia menendangku begitu saja. Sibuk kembali mencari rusuknya yang hilang, sementara aku tertinggal di sudut sana. Mengais sisa-sisa harapan yang masih tersisa dan mencoba bangkit sendirian.

Kututup diriku. Rapat-rapat. Bersama cinta pertamaku yang telah hilang, kubuang kunci hatiku ke dasar samudra. Sambil terus berharap, akan muncul seorang laki-laki yang kelak akan menemukan kunci itu dan membuka pintu hatiku – lagi. Suatu saat nanti.

Dan saat itulah aku bertemu denganmu. Tiga tahun kemudian. Pada suatu pertemuan tak terduga ketika aku usai mengikuti sebuah kelas aerobik di salah satu pusat fitness yang telah kugeluti selama sekian bulan sepulang kantor.

Kau mungkin bukan laki-laki istimewa. Kau tak terlalu tampan. Kau bukan laki-laki bergelimang harta. Tak ada getaran khusus yang singgah di hatiku ketika kau muncul di awal hari-hariku saat itu. Takhta di hatiku masih sama kosongnya seperti tiga tahun selama aku menjalani hidupku sendirian. Namun berbeda dengan laki-laki sebelumnya yang hanya berani berdiri dan mengetuk di muka pintu hatiku, kau memilih mendobrak masuk. Menjebol pertahanan yang selama ini mati-matian membentengiku.

Dengan segala upaya kau buat aku luluh. Biar pun di antara kita terbentang begitu banyak halangan. Kau meyakinkanku. Bahwa sekali pun kau bukan lelaki alim, kau juga bukan laki-laki bangsat yang berniat menyakitiku. Kata-katamu merasukiku. Semua perbuatanmu memikatku. Hingga akhirnya kau kubiarkan masuk menempati singgasana hatiku tanpa perlu menemukan kunci yang dulu pernah kubuang.

“Pemberkatan pernikahan bisa dilakukan dua kali di tempat yang berbeda, Ma…,” kataku. Dengan air mata nyaris tumpah. Ketika Mama memintaku jangan menjalin hubungan denganmu karena keyakinan di antara kita yang berbeda jauh.

“Percaya sama Mama, Von. Semua yang Mama lakuin, cuma demi kebaikan kamu….” Mama menatapku dengan kesenduan yang mencabik hatiku. “Mama nggak mau nanti kamu nyesel, Von.”

Tapi saat itu, cinta sudah membutakan mata hatiku. Bersama bisikanmu di telingaku dan genggaman tanganmu yang hangat kala itu, telah kuserahkan seluruh sudut dalam relungku untuk menjadi milikmu. Seluruhnya.

“Von…… Gue sayang banget sama lu…. Lu harus tau itu ya?” Bisikkanmu membuatku meremang. “Lu harus setia ya, karena gue juga cowok yang setia. Gue nggak akan nyakitin lu seperti yang dulu pernah mantan lu lakuin….”

Mendengarmu berkata demikian, air mataku jatuh dengan sendirinya. Rasa haru yang sekian lama raib, tiba-tiba saja meruamkan hatiku. Kubalas memelukmu. Kemudian menangis tanpa suara. Membiarkan tanganmu bergerak naik dan mengelus rambutku dengan penuh kasih sayang.

“Gue akan buktiin kalau beda keyakinan, bukan alasan buat kita nggak bisa bersama…. Kalau Papa dan Mama lu nggak percaya, gue buktiin ke mereka. Kalau gue mau mempertahankan lu. Gue sayang banget sama lu, Von….”

Kuketatkan rangkulanku dan balas berbisik,

“Gue akan bantu lu buat ngomong sama Papa dan Mama. Gue akan yakinin mereka…. Kalau perbedaan keyakinan itu cuma masalah pribadi masing-masing orang…. Makasih ya, Sen…. Buat semua – yang udah lu lakuin buat gue….”

Jadilah aku berjuang. Bersama denganmu meniti kerikil dan batu tajam setiap kita melangkah. Tapi ada rasa senang yang tak mampu kuungkapkan dengan kata-kata setiap kali aku melihat wajahmu. Ada rasa tenang dan nyaman yang kudapatkan ketika kau tersenyum hangat padaku.

Aku tak bisa. Tak bisa hidup tanpa melihatmu. Tak biasa hidup tanpamu. Sebab hampir setiap hari di sepanjang minggu, kau selalu ada untuk menemuiku. Hanya untuk melihat wajahku, katamu. Menantiku selesai mengikuti kelas aerobik, menjemputku ketika aku harus lembur, mengantarkanku pergi ke dokter, menemaniku makan malam jika aku sedang ngotot untuk diet, mencekokiku dengan bergelas-gelas es krim agar aku tak terlalu kurus, merecokiku dengan telepon, SMS, dan chatting-mu sepanjang hari. Menanyakan apakah aku sudah sarapan, apakah makanku banyak, apakah tidurku nyenyak, apakah makan siangku lezat, dan sebagai-bagainya. Membuatku merasa sesak karena dilimpahkan perasaan bahagia. Aku sangat – bahagia.

Kau selalu ada. Di setiap aku mengharapkanmu ada. Sampai akhirnya kedua orang tuaku dengan tangan terbuka menerimamu dalam keluargaku.

“Gue bukan cowok kaya, Von. Bukan juga cowok romantis. Gue cuma cowok sederhana yang bisa beliin ini buat lu.” Kau mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah dan membukanya di hadapanku. “Cincin ini kecil. Juga bukan barang yang mahal. Mudah-mudahan lu bisa suka ya…. Nanti kalau gue punya duit lebih banyak, gue beliin lu lagi ya, yang lebih bagus….”

Sudah berapa kali aku menangis terharu akibat ulahmu – sungguh aku tak tahu. Tapi yang ada di hatiku saat ini, cuma ada ketulusan untuk mencintaimu dengan sederhana. Bukan materi yang kukejar. Bukan penampilan fisik yang kupuja. Aku mencintaimu. Dengan cinta yang tak memiliki alasan apa pun.

Tapi apa kau tahu? Kapal yang kukira akan berlabuh di dermaga indah, nyatanya kandas dihantam karang raksasa. Hanya dalam kurun waktu empat bulan kita menjalin hubungan, kau menghempaskanku.

“Jujur, gue nggak ngerasa punya perasaan apa pun lagi sama lu, Von…. Kalau kayak gini terus, gimana hubungan kita bisa awet?”

“Sejak – kapan?” tanyaku. Menahan gemetar yang menderaku hingga menggigil hebat.

“Gue nggak tau sejak kapan. Tapi belakangan ini jadi makin parah. Seakan-akan gue maksain diri buat jalanin ini semua sama lu.”

“Jadi – lu mau mutusin gue…?”

“Hubungan kayak gini nggak bisa diterusin lagi. Kita baru empat bulan dan gue udah nggak ngerasa ada perasaan apa-apa lagi sama lu….”

“Tapi, gue – salah apa, Sen?” Kutahan rasa perih yang mencabikku tanpa ampun.

“Lu nggak ada salah, Von. Gue yang salah…. Perasaan gue yang salah. Gue sampe bertanya sama Tuhan, kalo akhirnya bisa kayak gini, kenapa awalnya gue bisa suka sama lu….?”

“Nggak perlu bertanya lagi,” jawabku. Semakin pedih. “Karena lo nggak pernah bener-bener suka gue, Sen….”

Jangan kau tanya padaku. Apa yang terjadi sebenarnya? Karena aku sendiri tak tahu. Karena aku sendiri tak mengerti. Aku tak pernah tahu apa alasannya. Hingga detik ini. Mengapa begitu mudah kau ubah perasaanmu padaku semudah kau membalikkan telapak tanganmu? Hilang kemana rasa cintamu yang meluap-luap beberapa waktu yang lalu itu padaku?

Tapi seringkali kenyataan memang sepahit itu, bukan?

Ternyata, tak butuh alasan yang jelas ketika kau menyukai seseorang dan berniat mempertahankannya dengan segenap upayamu. Pun tak perlu alasan yang jelas saat kau memilih menendangnya dari hidupmu, ketika kau tak lagi menginginkannya untuk ada di sampingmu.

Pada kenyataanya, cinta memang seperti itu. Bukan melulu indah seperti kisah dalam dongeng. Dan aku harus berkali-kali menampar pipiku sendiri agar aku bisa menyadarinya.

Oleh sebab itulah kutahan diriku dan tak bersujud memohon padamu untuk kembali padaku. Ini bukan sinetron. Bukan scene dari film layar lebar. Ini adalah kenyataan. Yang tak bisa kuhindari atau pura-pura kuanggap sedang tak terjadi.

“Tapi, Von. Lu nggak benci gue kan? Keluarga lu nggak benci gue kan? Kita masih bisa temenan kayak biasa kan?”

Air mataku runtuh. Mengapa kau masih bisa bertanya demikian padaku? Tak tahukah kau kalau pecutmu telah melecutku sampai berdarah?

Masih dengan menahan gemetar di sekujur tubuhku, aku menyahut,

“Papa nggak benci sama lu. Mama nggak benci sama lu. Ade gue juga nggak benci sama lu. Gue lebih lagi. Gue sayang dan percaya banget sama lu. Karena itu gue nggak akan benci sama lu….”

“Apa gue salah ya, Von…?”

“Gue nggak tau, Sen…. Cuma lu yang tau jawabannya….” Kuremas tanganku hingga kulitku nyaris terkelupas. Sakit sekali rasanya. Sakit hingga aku tak tahu bagaimana cara meredakannya. Adakah obat mujarab yang bisa menghilangkan sakit ini?

“Atau mungkin gue gila ya? Karena kadang-kadang gue bahkan ngerasa takut, tapi nggak tau apa yang harus gue takutin. Gue khawatir, tapi nggak ngerti apa yang gue khawatir-in. Gue – benci diri gue sendiri, Von….”

Aku menggigil. Makin menggila.

“Kan lu yang mutusin semuanya harus begini, Sen. Gue bisa apa…? Semua yang bisa gue lakuin buat lu, udah gue lakuin. Semua yang bisa gue perbuat, udah gue perbuat. Lu mau suruh gue yakinin orang tua gue, udah gue yakinin. Mau gue bantu nemenin lu setiap lu butuh gue, gue selalu usahain ada buat lu. Mau kita berjuang sama-sama dari nol, gue juga tetep pegang tangan lu…. Gue harus gimana lagi kalau ternyata semua yang gue lakuin ternyata nggak pernah ada artinya di mata lu…?”

Dadaku nyeri. Mengapa begini sakit rasanya ditinggalkan oleh laki-laki yang jelas-jelas kau tahu bahwa dia tak lagi mencintaimu?

“Gue – jahat ya, Von?”

“Lu baik kok….” Kugigit bibir bawahku hingga berdarah. Benar-benar berdarah. “Selalu baik di mata gue…. Mungkin – gue yang nggak pernah pantes buat dampingin lu….”

“Von….” Kau menyebut namaku. Mungkin untuk yang terakhir kalinya. “Apa kita bisa bertemu lagi…?”

Jeda beberapa jenak sebelum kuputuskan untuk memberimu jawaban.

“Bisa…. Kita – teman kan?”

“Iya,” katamu. Tapi aku tak bisa lagi melihat parasmu. Aku bahkan tak tahu, apa sekarang kau sedang menangis atau malah tersenyum lega.

Apa aku bodoh? Hhhhh – mungkin aku memang bodoh. Tapi aku tak bisa membohongi diriku sendiri. Kalau berpisah adalah keputusan untuk membuatmu menjadi lebih bahagia, kurasa mungkin memang lebih baik begini. Cukup aku yang terluka. Cukup aku yang tersiksa.

Asalkan bisa bahagia, kau tak perlu tahu, seterpuruk apa aku setelah kehilanganmu….

Perlahan tapi pasti, kusumpal telingaku dan mendengarkan lagu yang setiap malam selalu kudengarkan untuk mengenang kebersamaan denganmu. Di sampingku, telah kutelan enam butir obat pereda sakit kepala yang kuharap dapat membuatku lebih tenang.

Aku tak mencoba untuk bunuh diri. Tidak. Aku hanya ingin merasakan kedamaian itu sebentar saja. Seperti sebelum kau meninggalkanku bergelung dalam kesendirian – lagi.

Kusentuh sebuah kotak kecil yang berisi sebuah cincin yang kau berikan padaku. Kudekap erat di bawah bantal sambil membiarkan air mata yang kutahan tumpah tak terkendali.

Kuharap aku bermimpi. Kuharap saat aku bangun nanti, aku masih bisa melihatmu. Menyambutku dan merangkulku dengan hangat seperti yang biasa kau lakukan.

Kulipat kedua tanganku – dan berdoa. Berharap dengan sangat, semua ini segera berakhir.

Berdoa supaya tubuhku menjelma menjadi sebuah bintang kecil yang bersinar di atas kepalamu setiap malam. Cukup hanya dengan melihatmu dari jauh dan mendoakanmu bahagia – sekali pun bukan aku yang kau pilih menjadi pendampingmu.

Bolehkah sekali lagi – aku mengharapkanmu – tetap ada di sampingku?

Twinkle, twinkle, little star…
How I wonder what you are….

Sampai kapan pun. Di mana pun kau berada. Kenang dan ingatlah – ada aku yang akan selalu mencintaimu – tanpa alasan….

Sumber Judul Asli: With No Reason, I Love U

Tags:

2 Responses to “Bolehkah sekali lagi aku mengharapkanmu”

  1. fitri Says:

    sedihh,,😥

  2. sudi Says:

    kyak kisah ku ya????

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: