SEPUTIH GAUN

by

“Kenapa kau ada di sini…? Bukankah kau bilang ada urusan dengan klienmu yang harus kau selesaikan hingga dua hari ke depan di luar kota…?”

Kau menatapku dalam-dalam. Dengan sorot mata sendu dan – mungkin – penuh penyesalan. Tak banyak yang kau katakan saat matamu menembus kedua bola mataku dan mungkin pula sedang kau temukan kesakitan di dalamnya.

“Hari ini ulang tahunmu. Dan tadinya -,” jawabku nanar. “…aku ingin memberikan kejutan untukmu.”

“Maafin aku, Via…,” ujarmu. Dengan bibir bergetar. Tapi tahukah kau, hatiku sedang tergetar lebih dari itu?

Air mataku jatuh bergulir. Menitik membentuk dua anak sungai di kedua belah pipiku. Tangan kirimu bergerak naik, bergegas hendak menyekanya, namun kutepis dengan tak bersahabat.

“Kenapa?” Hanya sepotong kata itu yang keluar dari bibirku.

“…” Kau terdiam. Tak mampu memberiku jawaban.

“Katakan – kenapa?” ulangku pedih. Rasa sakit yang begitu dahsyat mencengkramku tatkala dengan kedua mataku sendiri, kulihat kau tengah melumat bibirnya dengan mesra di hadapanku. Di rumahku.

“…”

Kau masih bertahan dalam bisumu.

“Kenapa harus dia?” Ada kenyerian luar biasa dalam pertanyaanku.

Bagaimana bisa kau menyakitiku dengan cara seperti ini?

“Aku mencintaimu.”

Kau bergumam pelan. Tapi masih dapat kutangkap jelas dengan telingaku. Kemudian air mataku makin deras mengalir. Sementara seuntai senyum luka kubiarkan menggurat di bibirku.

“Kenapa harus dengannya?” Aku bertanya seraya menebah dadaku yang terasa sesak.

“Kenapa harus dengan wanita ini?”

Aku menggerakkan telunjukku ke kanan. Menunjuk seorang wanita yang tegak berdiri di sisimu. Seorang wanita yang kini tengah menatapku dengan kesakitan yang mungkin sama besar dengan rasa perih yang sedang menderaku.

“Aku nggak ngerti, Yaz… Kenapa harus dia yang jadi pilihanmu?” Suaraku bergetar. Luar biasa hebat. “Kau boleh memilih sepuluh wanita lain untuk menggantikanku. Untuk mengkhianatiku. Asal jangan wanita ini. Jangan wanita ini….”

Sekali lagi tanganmu bergerak hendak menyentuhku. Dan lagi-lagi kutepis dengan kasar.

“Maafkan aku, Via….” Kau mendesah. Kubaca keputus-asaan dari nada ucapanmu.

“Lebih dari tiga kali kau mengkhianatiku. Dan kumaafkan. Sekarang, kau ulangi lagi kesalahanmu. Dengan wanita ini. Wanita yang sungguh mati tak pernah kusangka akan menarik perhatianmu!”

“Via….” Wanita di sisimu itu menyebut namaku. Dengarkah kau? Dengarkah dia memanggilku?

Bagaimana bisa kalian tega menyakitiku dengan cara seperti ini?

Aku tertawa. Sungguh. Tanpa sadar aku tertawa. Tak ada lagikah hal yang lebih menjijikkan dari ini?

“Kembali padaku, Yaz,” pintaku. “Kembali padaku maka akan kulupakan semuanya….”

Sudah gilakah aku? Mengapa bisa-bisanya aku memintanya kembali padaku setelah semua yang dilakukannya padaku?

“Aku-….” Suaramu terdengar sengau di telingaku. “…tak bisa.”

Kutelan ludahku yang terasa pahit.

“Mengapa…?” tanyaku. Separuh memohon. Menggelikan. Di mana harga diriku?

“Dia tak bisa. Karena aku – telah mengandung – anaknya….” Wanita itu yang menjawab. Terpatah-patah.

Kemudian telingaku berdenging sakit. Seketika saja tubuhku terhuyung mundur. Kurasakan ada belati tak kasat mata yang merajam paru-paruku tanpa ampun. Hingga tenaga untuk menarik nafas pun, aku tak lagi punya.

Nafasku memburu. Menahan rasa ngilu akibat garam yang sengaja ditaburkan di atas lukaku yang menganga.

“Maafkan aku. Kumohon maafkan aku….” Wanita di sisimu mendesah.

“Menjijikkan….” Aku bergumam perih. “Kalian menjijikkan.”

Dengan marah aku menerjang ke hadapan kalian. Kudorong tubuh Diaz dengan penuh rasa luka. Lalu semuanya terjadi dengan begitu cepat. Terlalu cepat sampai-sampai otakku tak mampu meresapi kejadian yang sebenarnya.

Yang terakhir mampu kutangkap dengan mataku hanyalah genangan darah. Kemudian kurasakan kepalaku berdenyut sakit dan semuanya berubah gelap.

Lebih gelap dari langit malam itu.

‘***

Sekonyong-konyong aku dapat merasakan tubuhku ditenggelamkan dalam air yang dalam. Tiba-tiba saja dadaku terbebat erat. Nafasku tersengal. Tubuhku membatu. Tak bisa bergerak. Tak mampu berpijak.

Akan berakhirkah lembaran hidupku hari ini?

Dan tiba-tiba saja dia muncul di kejauhan. Melayang-layang di air dan menghilang di balik sebuah gerbang yang menyedotnya masuk.

Lalu kurasakan tubuhku bergerak pelan dengan sendirinya. Mendekatinya.

Semakin dekat. Semakin dekat dengan gerbang raksasa itu.

Sedikit lagi. Berikan aku waktu sedikit lagi. Akan kusentuh gerbang itu dan membukanya.

Dan semua rasa sakit di sekujur tubuhku akan lenyap.

Aku akan bertemu lagi. Dengannya.

“Viaaaaa!” Kudengar suara seseorang memanggil namaku. Bukan. Bukan memanggil. Mungkin lebih tepat jika aku menyebutnya dia meneriakkan namaku.

Genangan air di sekelilingku menghilang begitu saja. Seketika saja aku dapat merasakan paru-paruku menarik nafas. Dan ada kelegaan yang tiba-tiba bersemayam di sekujur tubuhku.

Dengan segenap tenagaku yang tersisa, kupaksakan kedua kelopak mataku membuka. Dan aku melihat sosokmu.

“Di-az….” Aku bergumam. Pelan.

“Mengapa kau melakukannya?” tanyamu. Raut wajahmu terlihat sendu.

“Rasanya – sudah lama sekali – aku tak bisa tidur, – Yaz….” sahutku. “Katakan padaku – bagaimana supaya aku – bisa terlelap seperti dulu lagi?”

“Semua ini salahku, Via….” Kau berbisik di dekat telingaku. “Karena itu kumohon, jangan sakiti dirimu lagi….”

Kali ini aku hanya tersenyum. Tak mampu lagi menjawab.

“Dia butuh istirahat,” kata seseorang berjubah putih di belakangmu. “Ini adalah pencobaan bunuh dirinya yang kedua. Setelah pencobaan bunuh diri yang dilakukannya pertama kali dengan menelan lima butir aspirin sekaligus, kami memang telah mengadakan pemeriksaan lebih lanjut atas keadaannya.”

Dari balik kelopak mataku yang hampir terpejam lagi, kulihat kau menolehkan kepala menatapnya.

Aku-kah yang sedang kalian bicarakan?

“Dia mengalami trauma yang hebat,” lanjut sosok berjubah putih itu lagi. “Saya mengharuskan dia untuk di rawat di sini dalam jangka waktu yang tak dapat ditentukan.”

“Bisakah dia sembuh, Dokter?” tanyamu hati-hati.

Aku sakit apa?

Aku ingin bertanya. Tapi tak bisa. Menggerakkan lidahpun rasanya aku tak sanggup.

“Mungkin ya. Mungkin pula tidak,” sahut sosok itu lagi. “Kita harus melihat perkembangan keadaannya beberapa hari ke depan.”

Jawaban macam apa itu? Aku memprotes. Dalam hati. Sementara kepalaku lagi-lagi mulai berdenyut menyiksaku.

Aku mencoba berpikir. Mencoba mengingat-ingat. Apa sebenarnya yang sedang kalian bicarakan?

Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Aku – sakit apa?

Namun seluruh sel dalam otakku sama sekali tidak dapat diajak bekerja sama. Aku merasa lumpuh. Tak mampu berpikir. Tak mampu mencerna apapun. Hanya rasa kantuk yang begitu dahsyat kembali menyeretku dalam tidur yang penuh mimpi buruk.

Mimpi yang sama setiap aku berusaha memejamkan mataku. Mimpi yang mengerikan. Yang membuatku terbangun dalam ketakutan yang serupa. Serupa dengan kejadian malam itu.

Eh-?

Kejadian malam itu?

Sekelebatan kejadian itu tiba-tiba menari di hadapanku. Serangkaian peristiwa yang sungguh mati selalu berusaha kuenyahkan dari ingatanku.

Namun tak pernah bisa.

Aku menggigit bibirku. Kali ini sampai berdarah. Lalu aku terisak. Menahan perih yang terus menggigit sudut hatiku.

‘***

Dengan marah aku menerjang ke hadapan kalian. Kudorong tubuh Diaz dengan penuh rasa luka. Lalu semuanya terjadi dengan begitu cepat. Terlalu cepat sampai-sampai otakku tak mampu meresapi kejadian yang sebenarnya.

Kuambil sebuah vas bunga di dekatku. Dan tanpa kusadari, tanganku terayun tanpa mampu kukendalikan. Ke kepala wanita itu. Wanita yang telah merenggutmu dari sisiku.

Kau berteriak. Membuat kepanikan melandaku habis-habisan. Kemudian bagaikan terhipnotis, sekali lagi kuayunkan vas bunga yang telah pecah itu ke kepalamu.

Kemudian semuanya berubah hening.

Yang terakhir mampu kutangkap dengan mataku hanyalah genangan darah. Kemudian kurasakan kepalaku berdenyut sakit dan semuanya berubah gelap.

Lebih gelap dari langit malam itu.

Dengan linglung, kusandarkan punggungku pada salah satu sisi dinding rumah yang dingin. Jari-jariku terasa kaku. Bau amis menerpa penciumanku. Bau darahmu. Dan darah wanita itu.

Perlahan kucoba membuka mata dan menatap dua tubuh yang terbujur tak jauh di depanku. Air mataku sudah mengering. Sekering hatiku yang sengaja diremuk-redamkan oleh perbuatan kau dan dia.

‘***

Kubiarkan mataku merangkum pemandangan di hadapanku. Malam itu permukaan air danau yang kelam terlihat keemasan tertimpa pantulan sinar rembulan. Suara ranting pohon berderak-derak tertiup angin. Kulipat kedua tanganku di depan dada, berusaha menghilangkan rasa dingin yang merangkulku lekat-lekat.

Maafkan aku. Kumohon maafkan aku.

Serangkaian kata-kata itu terus menggema dalam hatiku.

Bisakah aku memaafkanmu?

Dalam pikiranku.

Aku mau. Aku mau memaafkanmu.

Dalam benakku.

Tapi aku tak bisa. Aku tak akan pernah bisa memaafkanmu….

“Mengapa kau melakukannya?” Suara seseorang tiba-tiba memecah lamunanku.

Aku menelengkan kepalaku. Menatapmu yang merintih kesakitan sambil menyentuh sisi kanan kepalamu yang masih bersimbah darah.

“Kenapa membunuhnya?” ulangmu lagi.

“Karena dia telah merebutmu dariku,” sahutku. Singkat.

“Kau tak perlu sampai membunuhnya, Via….”

Aku diam saja. Menatap sesosok tubuh yang membujur kaku di dekat kakiku.

“Dia sedang mengandung….” Kau merintih makin pedih. Ada kesakitan teramat sangat terlukis di wajahmu yang pucat.

Kusunggingkan senyum tipis di bibirku. Kemudian kupandang kau dengan tatapan hampa.

Tapi kau tak sanggup lagi bicara. Hujan di matamu tumpah bagaikan air bah. Lalu kudorong sesosok tubuh di hadapanku. Tubuh itu terguling pelan di atas gundukan tanah yang dipenuhi rerumputan liar, sebelum akhirnya tenggelam dalam genangan air danau yang tenang, setelah menimbulkan percikan air yang cukup keras.

Aku mengamatinya dengan tatapan kosong. Juga tak terenyuh ketika kulihat tubuhnya yang terbalut gaun putih malam itu melayang-layang di dalam air dan tenggelam kian dalam.

Maafkan aku. Kumohon maafkan aku.

Kata-kata itu terus menggaung di relungku.

“Mengapa harus wanita itu yang kau pilih untuk mengkhianatiku?” tanyaku. Entah kepada siapa. Sementara mataku masih mengamati sosok bergaun putih yang tenggelam semakin dalam di bawah permukaan danau yang kelam itu sudah nyaris tak terlihat. “Mengapa harus – dia?”

Kemudian aku merasa tubuhku berguncang hebat. Benteng yang sedari tadi menahan gelegak air di mataku, runtuh tanpa sisa.

Maafkan aku. Kumohon maafkan aku.

Suara wanita itu lagi. Tolong hentikan. Buat suara itu berhenti bergema di gua hatiku.

Maafkan aku.

Tapi suara itu tak mau hilang sekalipun setengah mati aku berusaha melupakannya.

Tak kunjung sirna sekalipun aku benar-benar sudah kehilangan seluruh kewarasanku.

Juga tak pernah punah, sekalipun aku berusaha melelapkan diri dalam tidur yang tenang setelah menelan lima butir aspirin sekaligus, hanya supaya rasa sakit yang menusukku itu berhenti sejenak.

Kumohon maafkan aku.

Jua senantiasa masih terdengar, di setiap usahaku untuk memejamkan mata dan terbangun dalam keadaan yang serupa. Keadaan yang penuh rasa takut dalam bangsal tempatku mendekam kini.

Sebuah bangsal rumah sakit bercat putih.

Seputih gaun yang dikenakan ibuku di malam dia merenggang nyawanya. Ibu yang telah merebut kekasihku. Kekasih putri kandungnya sendiri.

Sumber

Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: