Musim Gugur di Hatimu

by

Ada bayang- bayang yang hilang saat mentari memeluk erat tubuhku. Ini terjadi setelah beberapa waktu lamanya, ketika ruas-ruas jariku tak lagi terisi penuh olehnya. Aku berjalan menyusuri jalan setapak ini, memandangi tenangnya air sungai dan semilir angin yang membuat pepohonan rindang disisi lain menari dengan indah. Duduk sejenak di sebuah kursi dekat jalan setapak, menyita waktuku sesaat untuk duduk dan berharap awan datang kembalikan birunya langit hari ini. Atau sekedar bersenda gurau dengan telunjuk manis yang kugambari dengan tanda senyuman.

Satu kisah klasik terkenang sangat manis ketika jemariku terasa sepi dan sunyi. Kala itu, banyak bisikkan angin yang bernyanyi tanda kerinduan di telingaku.
Sepucuk surat pelipur lara datang hadirkan berjuta cinta yang terpendam.

Afetto …

Senyum, sapa, indah yang kurasa saat awal jumpa, menarik dan menawan satu rasa yang belum pernah kubuka sebelumnya.

Questa bella …

Sesuatu yang kusangkal sebelumnya menjadi satu misteri yang tak terpecahkan dalam setiap senyummu. Detak jantungku berdegup kencang dan tak berhenti berdebar saat kupandangi wajah manis itu, lihatlah … bunga merah merona seperti kedua pipimu.

Silenzioso … sono stato in silenzio … ketika tatapanmu tertuju padaku dan membuat seluruh keresahan yang melanda malamku berubah menjadi saat-saat yang paling kutunggu sepanjang hari. Aku dan kamu, satu dalam rindu. Muntahkan rasa pilu, buat dunia melantunkan melody hati yang bersemi.

Afetto …

Satu yang pasti dan untuk selamanya .., dunia kita tetap sama selamanya. Jangan pernah takut pada dunia, berjalanlah disampingku, yakinkanlah hatimu, dan kan ku isi setiap kekosongan ruas-ruas jari indahmu tuk ku genggam hingga akhir masaku…

Ketika langit menebar senja, dan tubuh menjadi renta, tongkat pun menjadi teman yang pling setia. Hingga saat kedua kaki tak mampu menopang dan kusandarkan tubuh renta ini pada kursi dekat jalan setapak ini, jemari ini pun masih tetap saja kosong.. seperti rindu yang terus berguguran dalam diam.

karena ruas antara jari jemari ini akan selalu kujaga agar tetap kosong hingga tiba waktunya kubaringkan tubuhku disamping tempat peristirahatan terakhirmu …

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: