Musim semi dihatiku bersama Mama….

Dulu….saat cinta bersemi dan tumbuh di hati, disitulah sebuah ikatan indah dijalani .

cinta tumbuh karena rasa sayang yang timbul lewat tatapan mata, lalu berubah menjadi sebuah rasa yang disebut “PERHATIAN”.

Hari-hari penuh warna telah dijalani, rasa sayang pun bertambah, tapi hidup ini tak mungkin berjalan sesuai dengan keinginan hati. Saat amarah dan ego merasuk dalam jiwa, dan menghancurkan segalanya disitulah sebuah cinta dipertaruhkan. Perih terasa sesakkan dada saat cinta berubah menjadi air mata di pipi.

Sepi rasa hati karena sebuah kesakitan membuat semuanya bertambah kacau, sampai hendak berfikir tuk bunuh diri. Tapi sayang semua itu hanya sia-sia belaka, karena sesungguhnya, saat masalah itu muncul kita dituntut untuk berfikir lebih jernih dalam menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi. Air mata yang tak henti-hentinya datang terkadang membuat diri berada dalam kesendirian yang abadi.

Hari semi hari berjuta warna dalam hidup, laksana kertas putih yang terkena goresan tinta. Tawa, canda, suka, duka, semua ada dalam memori ingatan.

Ingin rasanya selalu menjadi orang yang penuh kebahagiaan dan jauh dari kesedihan. Tapi rasanya hidup tak lengkap jika hanya ada warna putih dalam hidup.

inilah kehidupan yang sebenarnya… selalu ada HITAM diatas PUTIH.

dimasa yang lain………….

Dunia oh dunia…. menjadi satu dalam angan hiasan, kapan berawal dan kapan berakhir, mengundang satu asa yang tertunda di masa kini

apa yang membuat itu terjadi ?, semua telah berlalu, semua telah pergi, jangan ada lagi, jangan buat perkara lagi

relungnya telah mati ..sudahilah…

sudahi saja perih….ini…

Karena…………

Aku mengalah, setelah hari kebahagiaanmu. Aku pergi mencari sesuatu yang tak pasti. Perjalanan ini tak pernah kutemukan ujungnya. Berhentilah menatapku, biar hanya aku dankesunyian sendu malam ini. Senyum indah masa lalu kan iringi langkahku, hari ini, esok, dan setrusnya. Tuhan punya rencana terindah bagi setiap hambanya. Jika bukan saat ini, mungkin lusa kan datang hari bahagia.

Aku berjalan menyusuri taman kota, kulihat sebuah keluarga kecil penuh kebahagiaan disana. Keluarga yang tak mungkin ku bina denganmu. Ku lanjutkan perjalananku, dan ku lihat seorang disana, dengan kursi rodanya. Sendiri menatap kesunyian kota hari ini.
Tak satupun orang yang menemaninya, bahkan tak sedikitpun senyuman kudapati dari bibirnya.
Apa mungkin langit yang kian benderang, kini tampak surut dan menghujani setiap penjuru kota?

apa yang ia rasa sama seperti yang aku rasa saat ini?
air hujan membasahi tubuhku, aku terdiam di tempat ini, ya.. aku merasakan sesuatu terjadi pada diriku. Ku lihat sekelilingku berputar, bahkan pada pandangan itu, tak ku lihat satu arah yang tepat. Hingga tubuhku terbaring di tanah dan tak ku lihat lagi satu titik terang di manapun.

Aku tak tahu berapa lama aku memejamkan mata, saat ku terbangun, ku lihat ruangan putih dan orang berseragam hijau lalu lalang di depanku.
Di samping itu, ku dengar isak tangis berseru memanggil-manggil namaku.
Aku tak mengerti, mengapa tak satupun dari mereka yang memandangku. Ya tuhan.. aku melihatnya, aku melihat tubuhku terbaring dengan alat bantu pernafasan lengkap. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?
saat aku berteriak pun tidak satupun dari mereka yang mendengar teriakanku.
Apa yang mereka lakukan padaku? mengapa alat pengukur detak jantung itu menunjukkan grafik yang lurus? aku menangis, menutup wajahku dan berharap semua baik-baik saja.
tapi apa ini? aku berada di jalan setapak dengan cahaya yang menyilaukan. A ku melangkah dengan perlahan, berharap dapat menemukan dunia yang nyata.
Tetapi suara-suara itu memintaku kembali, jalan mana yang harus aku pilih?.
Suara itu memintaku berjalan menelusuri arah sebaliknya.
Ku ikuti suara itu, perlahan dan dengan rasa yang pasti akhirnya aku tak dapat dapat melihat apapun karena sinarnya yang menyilaukan mataku.
Sekilas ku rasakan jantungku brdegup seperti biasanya, dan ku dengar seseorang memanggil namaku
“Riana… Riana…”
alat pengukur detak jantung itu menunjukkan grafik yang baik, ya.. aku baru saja melewati masa-masa sulitku selama kurang lebih 3 bulan lamanya. saat pertama kali ku membuka mata, orang yang pertama ku lihat adalah mama. semua peralatan disekelilingku sirna.. kecuali
Mama yang memeluk dan menciumku dengan hangat, sekaligus orang pertama yang menyambut kehadiranku kembali setelah perjalanan panjangku…., sendiri…di musim semi itu

Sumber

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: