Sebuah pengharapan

Ada saat dimana rasaku tumbuh dan bersemi pada sosok sepertimu..
Dan
Ada saat dimana aku harus melepaskan semua yang telah menjelma menjadi sebuah cinta di hati…

Sudah beberapa hari ini aku diam dalam tatapan hampa di hadapan rintik hujan, mencoba tuk lupakan semua kejadian yang sempat menyita fikiranku saat ini. Tubuhku terbaring lemas tak berdaya dalam sebuah ruangan yang tidak berukuran besar, melihat dan mendengar semua yang terjadi di luar sana membuatku muak dan ingin hilang ingatan. Belum lagi semua kisah yang pernah ada saat itu diantara sebuah gedung bertingkat. Kebenaran yang telah terungkap lewat sebuah pendengaran tak jua membuatku merasa jera untuk mengejarmu tuan. Andai saja waktu dapat kukembalikan satu waktu sebelum perjumpaan itu, mungkin tak akan ada yang mengira apakah ini nyata atau malah sebaliknya. Dalam diam hati sempat berfikir apakah mungkin semua kubuang begitu saja setelah apa yang telah kulewati selama berhari-hari. Tak ada yang sanggup menyampaikan apa yang sebenarnya terjadi antara aku dan juga jiwaku, hati ini..hati yang kujaga hanya untukmu setiap harinya masih saja aku simpan dalam sudut ruangan yang tak terjamah oleh siapapun.
Mataku terus mencari setiap sosok yang mampu beri sebuah senyuman khas pada bibir mungilnya, tapi tak jua datang. Hari ini hujan turun dan kau pun tak datang hingga aku benar-benar pergi bersama rinduku disini. Mampukah aku terus berjalan walau arahnya telah ditutupi oleh keputusasaan, atau mungkinkah aku bertahan di tengah dinginnya musim yang tak ingin beranjak pergi memberikan hari yang cerah untuk menyinari bumi dan seisinya. Berapa banyak waktu yang kulewati dengan kesendirian tanpa ada yang memperdulikan dan menggantikan setiap butiran air yang mengalir membasahi wajahku. Ini gila, sangatlah gila, aku bukan hanya berada dalam kesenduan tetapi juga berada dalam satu dunia yang tak tahu siapa pemiliknya. Jika saja aku boleh mengelak tanpa harus berucap, pastikan semua takkan kulewati dengan percuma.
Sebuah pengharapan yang besar bagi seorang gadis seumuranku, siapapun pasti ingin meraih setiap apa yang menjadi impiannya. Dan melewati perjalanan tanpa setitik pun kerikil yang menghalangi jalanan tempat kakiku berpijak. Aku berbalik memandangi sebuah buku yang tersusun rapi di atas tumpukan buku lainnya, aku memperhatikan buku yang diam membisu itu. Sekilas ada wajah yang melintas dalam fikiranku saat itu, sebuah wajah yang tak begitu jelas dalam coretan garis tinta kehidupanku. Aku menarik tanganku dari buku yang kini berada dalam setiap sentuhan jari-jemariku. Aku termenung dalam sebuah pandangan benda yang tak bergerak, mencoba mengingat sesuatu yang tidak seharusnya aku lakukan sejak awal perjumpaan itu.

“Hai..namaku Tian, kamu?”. Ucapnya tegas.

“Emm..aku Tiara”. Jawabku lembut.

“Kuliah disni juga? Semester berapa?”. Ucapnya penuh rasa ingin tahu.

“Ah..aku baru aja masuk ke kampus ini, kalau kamu sendiri?”. Ucapku balik bertanya.

“Aku semerter dua, oh ia..salam kenal ya Tiara”. Ucap Tian sambil tersenyum kepadaku.

“Ia..salam kenal juga Tian”. Ucapku membalas senyumnya.

Awal yang manis untuk tidak kulanjutkan seharusnya, jika saja aku tahu apa yang akan menimpaku, maka aku akan menolak awal perjumpaan itu. Tian..namanya Tian, sulit rasanya aku menghapus jejak nama itu dari memory ingatanku. Hari berikutnya saat aku berangkat menuju kampus, kulihat ia sedang berdiri di dekat tembok kelas. Dari kejauhan aku memang sudah melihatnya, kehadirannya membuatku sedikit gugup untuk berjalan. Salting rasanya jika tak bisa ku tahan rasa malu yang teramat sangat ini, apalagi harus berjalan melewatinya untuk masuk ke dalam kelas. Aku menarik nafas panjang untuk mempersiapkan mentalku secara baik, aku berjalan santai seolah semua baik-baik saja. Walaupun kurasakan kakiku melangkah secara pelan tapi rasanya jarak kami semakin dekat saja, aku berhenti sejenak mengatur nafas yang sudah taidak karuan lagi dan mulai untuk berperilaku seperti biasanya. Aku melewatinya, dia tertunduk menggenggam sesuatu di tangannya. Aku mencoba menyapanya dan wajahnya terangkat memandang ke arahku. Ia tersenyum hingga aku benar-benar menjauh darinya. Hal pertama yang mampu kulakukan saat berada di dekatnya, walaupun tak banyak waktu tapi aku cukup puas dapat melihatnya beberapa saat saja sebelum ia menghilang dari pelupuk mataku.
Perkuliahan pun usai, aku keluar kelas dengan harapan dapat bertemu dengannya tanpa disengaja lagi. Tapi sayangnya aku tidak menemukannya dimanapun, mungkin ia sudah kembali pulang terlebih dahulu. Sedikit kecewa memang, tapi aku juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi selain menunggu hari esok datang kembali. Sejak saat itu aku jarang sekali melihatnya, entah harus kucari kemana dia. Setelah beberapa hari lamanya, aku melihatnya sedang bersama beberapa temannya duduk di sebuah kursi dan terlihat sedang asik membicarakan sesuatu. Aku sengaja datang ke tempat itu, duduk dan memperhatikannya dari balik lirikan mata. Mungkin ia tak menyadarinya, tapi aku sangat tahu persis bagaimana dia saat itu.
“Bruukkk…!!!”.
Aku meliuk dengan cepat tepat kesamping kananku, Tian sudah duduk disana sambil menarik jaketnya dan membuka tasnya. Bagaimana mungkin aku tak terkejut melihatnya tiba-tiba berada disana dan tersenyum sambil tertawa kecil melihatku melamun sendirian.
“Heyy…sendirian aja?”. Tanya Tian sedikit menahan tawa.
“Ah…Emmm…I..Iaa, aku sendirian. Kenapa?”. Ucapku balik bertanya kepadanya.
“Enggak.., aku liat kamu sendirian disini. Makanya aku duduk disini, boleh kan?”. Ucapnya memohon.
“Yaa..boleh dong, why not”. Ucapku gugup.
“Belum masuk emangnya?”. Tanya Tian mengalihkan pembicaraan.
“Bentar lagi masuk kayaknya nih”. Jawabku.
“Yauda kalau gitu bareng aja ke kelasnya, ok?”. Ucapnya riang.
“Ok.. sekarang aja deh, udah jam segini soalnya”. Ucapku pada Tian.
“Ayoo..”. jawab Tian sambil membawa tas dan jaketnya.
Kami berjalan hingga berpisah menuju kelas masing-masing, tak ada kata apapun yang terucap dari bibir kami berdua yang terus melangkah mneuju kelas masing-masing. Apa yang kufikirkan? Semua mata kuliah yang sudah disampaikan tak mampu aku cerna dengan baik. Aku mencoba untuk mengelak dan membiarkannya pergi dari fikiranku, tapi tak bisa. Hasilnya selalu sama seperti biasanya, ia menggangu hati dan fikiranku. Semua berjalan seperti biasanya, kali ini aku ingin pergi ke suatu tempat karena kuliah sedang libur. Mungkin berkunjung ke rumah teman bisa sedikit mencegahnya untuk kembali datang dan mengganggu hariku. Berjam-jam aku menemani sahabatku dan kami memang akan sangat akrab jika sudah bertemu dan membicarakan suatu hal. Tapi sayang semua itu meleset, sesampainya pulang kerumah dan membiarkan tubuhku berbaring di tempat tidur, bayang-bayangnya muncul lagi dan menyita fikiranku. Ponselku berbunyi, tanda pesan masuk dari temanku. Hari ini aku pergi lebih awal sesuai dengan permintaan temanku, sesampainya di kampus dan menghampirinya di teras masjid, aku melihatnya dengan beberapa temannya datang juga dan duduk di sebelah tempat kami duduk. Aku menunduk malu berpura-pura tak melihatnya, tapi sebuah tepukan mendarat di bahu kananku dengan sapaannya. Aku membalas sapaannya dan sempat berbicara sedikit dengannya yang duduk berhadapan denganku, setelah itu dia pergi dan kembali bergabung bersama teman-temannya lagi.
Obrolan yang singkat untukku dan dia di sebuah tempat ibadah, aku tak mampu melupakan raut wajahnya. Sejak itu kami sering bertemu dan sedikitnya saling bertukar fikiran tentang suatu hal, sampai pada puncaknya kami mulai bicara tentang cinta. Belum pernah terbesit sedikitpun siapa yang sedang ia sukai atau siapa yang ingin dia miliki sekarang. Aku hanya berharap tak membuatnya curiga sedikitpun tentang perasaanku yang sudah tumbuh dan bersemi di hatiku, suatu saat ketika aku sedang berjalan dan tanpa sengaja aku mendengar sebuah pembicaraan tentangnya dari orang-orang itu, aku mendegar bahwa ia sedang menyukai seseorang dan dalam tahap pendekatan bersama wanita itu. Seketika hatiku hancur dan kecewa mendengarnya, lemas rasanya dan ingin segera pergi meninggalkan tempat itu. Aku terduduk lemas tak berdaya di depan tangga, mencoba menyadarkan hatiku bahwa aku takkan mungkin mendapatkannya dan itu hanya khayalan belaka. Tapi para mahasiswa dan mahasiswi lainnya datang menghampiriku, mereka menyita air mataku yang mendesak untuk keluar dari kedua pelupuk mataku. Aku mengikuti rombongan teman yang lainnya hingga waktunya pulang kerumah. Sejak hari itu suatu beban bertambah dan menumpuk di dalam hatiku, aku mencoba mengalihkannya dengan kegiatan lain tapi aku tak mampu.
Suatu hari saat hujan menyita kepulanganku dari kampus, dia datang dan memintaku untuk tetap tinggal dan menemaninya beberapa saat disana. Aku mengiyakan permintaannya tanpa memperdulikan raut wajahnya lagi, ia memulai sebuah obrolan kecil untuk mencairkan suasana yang hening. Canda tawa sempat menghiasi suasana yang mulai terasa begitu menyenangkan diantara kami berdua, malam itu aku menjadi seorang sahabat dan juga menjadi tempat berbagi cerita sedihnya. Kuusahakan sekuat mungkin untuk tetap mensuportnya agar tak merasakan penyesalan dengan apa yang ia putuskan, ada hal yang sangat menggebu-gebu dalam hatiku. Hari itu, ia menggantikan beberapa hari yang telah lalu, ia membuatku merasakan sebuah kehangatan yang tidak biasanya. Rasa aman dan nyaman saat berada disisinya tak bisa aku elakkan lagi. Rasa cinta dan sayang yang selama ini bersemayam dalam hati menjadi satu-satunya alasan mengapa aku tak mengizinkannya mengetahui bagaimana sesungguhnya persaaanku selama ini.
Aku tak ingi kehilangan sosok orang yang kusayangi seperti dia, setelah beberapa pertimbangan yang ku ambil dan membiarkan cinta ini tetap tumbuh walaupun tak terjamah pemiliknya sekalipun, aku rela. Aku berdo’a dalam hati, menitipkannya kepada sang khalik agar selalu melindungi setiap langkahnya kemanapun ia pergi. Terhitung hari itu aku tetap menjaga perasaan ini dan tak membiarkannya mengetahui sedikitpun walaupun dengan resiko yang sangat tinggi sekalipun. Aku tahu ini sangat menyakitkan, tapi akan jauh lebih menyakitkan jika diantara kami ada perpisahan karena seuatu hubungan dan diantara kami pun terdapat sebuah predikat yang melekat dengan kata ‘mantan’. Aku lebih memilih jalan yang seperti ini dan terus memilikinya walau dalam hati dan bukan pada sentuhan semata.
Perjalanan yang cukup berkesan untuk kusimpan selama 10tahun lamanya semenjak aku menghindar dan mencoba menyimpan semua kenangan indahmu dalam sebuah buku berdebu yang kusimpan dalam kotak kenangan. Aku selalu berdo’a dan selalu berdo’a agar kau dan siapapun dia tetap abadi sampai kalian berada di tempatku yang tenteram disini…

-End-

Sumber ???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: