When You Say ” I LOVE YOU “

by

When You Say ” I LOVE YOU “
“ Ada Cinta dibalik hati yang diam.. Ada sebuah penantian dibalik genggaman tangannya..”

Ini bukan untuk pertama kalinya seorang cowok bertubuh tinggi kekar berkulit putih dan berambut lurus itu membangunkanku setiap pukul 06.00 pagi. Suara nyaringnya yang khas selalu menjadi alaram hidup setiap hari, terkadang cerewetnya melebihi seorang wanita.

“Mau sampai kapan tidur nona…??” ucap Ken.

“Ia … ia … gue bangunnnn” jawabku lirih.

“Hari ini mesti kerja kan? lo dedline kan ? jangan bilang lo males ya? gue uda susah payah bangunin lo pagi buta gini.” Ucap Ken.

“Iiiaaa .. gantenggg, cerewet banget sih lo, gue siap-siap dulu ya” jawabku.

Aku menutup telepon dan bergegas menuju kamar mandi lalu mempersiapkan semua bahan yang akan kubawa hari ini. jam menunjukkan pukul 06.30, sambil memakan sarapan pagiku aku mempersiapkan semua berkas yang akan kubawa hari ini. Satu persatu tulisan naskah kuperiksa kembali, sekilas terlintas wajah Ken dalam ingatanku. Entah mengapa tiba-tiba wajahnya kuingat seketika. Terkadang aku senang dengan tingkahnya yang sangat menyebalkan itu, pengganggu ulung yang terbilang tampan pemilik toko bunga ‘Flowers Heart’ dekat persimpangan jalan itu. Seketika aku terbangun dari lamunanku tentangnya, sambil melihat jam aku berlari-lari kecil menuju tempat kerja.

***
“Naskah macam apa ini?? naskah ini menyimpang. tidak akurat! perbaiki kembali…!!!!”

“Tapi bu, ini sesuai fakta dan nyata”.Jawabku tegas.

“Saya tidak mau tahu!”. Ucapnya.

“Baik bu”. Jawabku pasrah.

Ini gila …!!! pemimpin redaksi yang cukup menakutkan dan sulit untuk ditaklukan. Harus seperti apa naskah yang diinginkan? rasanya hariku buruk khususnya hari ini. Selesai mengerjakan semua pekerjaan aku berjalan menuju keramaian kota untuk sejenak menikmati suasana senja. Sesekali aku melihat beberapa anak yang berlarian dan juga bermain, ada juga yang datang bersama kerabat ataupun keluarga. Tapi aku hanya datang sendirian, maka kuputuskan untuk membeli Ice cream dan segelas Orange float di cafe sana. mungkin itu jauh akan membuat suasana hatiku membaik. Aku membuka pintu, suara sapaan selamat datang menyambutku. Aku tersenyum dan duduk di meja nomer 11, pelayan datang memberikan beberapa tawaran menu terbaru untuk kucoba. Tapi aku memilih untuk memesan pilihan kesukaanku, aku duduk di dekat jendela. Sambil menikmati suasana sore hari yang cerah dan indah walau tak seindah hariku sekarang, aku membukan tas dan mengeluarkan camera kesayanganku. Mencoba memeriksa semua foto yang ada di dalamnya, beberapa merupakan tugas jurnalku, dan beberapa merupakan hobi saja. Tapi disela-sela foto ini terdapat satu foto yang sempat menyita fikiranku sesaat. Ya, sosok lelaki gagah yang sedang berdiri dengan senyum manisnya menjadi salah satu koleksiku. Aku tersenyum kecil, dan tersadar setelah pesananku telah datang.

Kenikmatan yang diberikan oleh Ice cream buatan cafe ini mampu membuat suasana hatiku jauh lebih baik. Saat aku melihat ke arah jendela, seorang lelaki dengan sangat terburu-buru berjalan menyusuri jalanan. Sepertinya itu Ken, tapi pertanyaan selanjutnya siapa perempuan yang mengejarnya itu?. Setauku Ken belum pernah punya pacar, apalagi deketin cewek. Aku ingin mengirimkan pesan singkat pada Ken, tapi aku takut mengganggu acara mereka. Jangan-jangan benar tebakanku kalau perempuan itu memang pacar Ken. Tapi ken enggak pernah cerita sedikit pun mengenai perempuan itu, ataupun sesuatu yang berhubungan dengan perempuan lainnya. Tanpa berfikir panjang aku tidak memperdulikan mereka berdua lagi kecuali sesuatu yang kurasakan dan menjadi pengganggu hatiku.

***

Kubaringkan tubuhku di tempat tidur setelah melakukan aktifitas seharian yang cukup melelahkan. Entah kenapa aku jadi memikirkan Ken, perasaan hatiku yang tak karuan karenanya membuatku semakin penasaran dengan kondisinya. Apa Ken baik-baik saja atau malah sebaliknya, handphoneku berbunyi tanda sebuah pesan masuk datang. Aku membukanya, sms dari Ken. Jarang-jarang sih Ken tanya apa aku ada waktu atau enggak. Biasanya jga dia langsung nyelonong aja, dimanapun aku pergi pasti ada Ken. Tapi akhir-akhir ini kami berdua jarang menghabiskan waktu bersama lagi.

Kufikir lebih baik aku menemuinya di rumah, sepertinya kondisinya lagi kurang baik. Di perjalanan, aku mampir ke sebuah toko kue kesukaan Ken. Brownies coklat dengan taburan almond seperti yang biasa Ken minta saat aku sedang dalam perjalanan. Tak beberapa lama aku sampai di depan rumahnya, tapi sebuah Honda Jazz berwarna merah telah lebih dulu berhenti di depan rumahnya. Aku berjalan menuju pintu, seseorang dengan gaya glamour bak artis keluar dari dalam mobil. Wajahnya mirip dengan perempuan yang tadi sore kulihat bersama Ken di dekat cafe. Tubuhnya tinggi semampai, kulitnya putih bersih dan rambutnya terurai panjang hingga bahu. Ia menghampiriku,membuka kacamatanya dan melihatku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Aku memang tidak semodis dia, tapi gayanya cukup membuatku berkata ‘WOW’.

“Kamu siapa? kok malam-malam gini ada di rumah Ken?”. Ucap perempuan itu.

“Gue temennya Ken, nama gue Tya”. Ucapku singkat.

“Oh gitu, kenalin nama gue Cindy”. Ucapnya tegas.

“Pacarnya Ken?”. Tanyaku sinis.

“Hmm belum jadi pacar sih, tapi sebentar lagi jadian kok. Nih kebetulan aku lewat sini, uda gitu mampir deh kesini sekalian bawain makanan buat Ken”. Jawabnya manja.

Aku mengangguk dan membunyikan bel hingga salah satu pembantu dirumahnya membukakan pintu. Setelah pembantunya membukakan ointu dan memberikan sapaan hangat selamat malam untukku, aku langsung bergegas masuk dan menemui Ken tanpa memperdulikan perempuan yang sedang berdiri di depan pintu. Aku mengetuk kamar ken, dan memanggil namanya pelan. Ken berteriak memerintahkanku untuk masuk ke dalam, suara derit pintu terdengar jelas. Kulihat Ken terbaring dengan wajah yang sangat menyebalkan, aku tertawa dan mencoba meledeknya. Tapi Ken malah berbalik marah. Aku duduk di samping Ken, mencoba mencairkan suasana dengan memberikan sekotak Brownies almond kesukaannya. Ken tersenyum dan memelukku erat sambil mengucapkan terima kasih yang tak henti-hentinya. Belum sempat aku memberitaunya tentang kedatangan Cindy, Cindy sudah berdiri di depan pintu dn mlihat Ken yang memelukku erat.

Ken yang kaget melepaskan pelukannya, dan raut wajahnya berubah seketika. Aku merasa tidak enak padanya, kufikir aku hanyalah pengganggu dalam hubungan mereka jadi kuputuskan untuk berpamitan pulang, tapi ken menarik tanganku dan menyuruhku untuk tetap tinggal disana. Ken mempersilahkan Cindy yang terlihat kesal masuk ke dalam. Ken sedikit sinis memang saat berhadapan dengan Cindy, tapi ia terlihat mencoba menarik perhatian Ken dengan menanyakan hubungan kami berdua. Wow, she’s get jelous I think.., aku yang serba salah berpamitan pulang. Ken mencoba menhanku tapi aku berlari hingga jalan, dan Ken tidak terlihat lagi. Entah berapa lama waktu yang mereka habiskan berdua disana, tapi sesuatu sedang menggerogoti hati dan fikiranku sekarang. Apa aku jatuh cinta ..?

***

Kuteguk beberapa gela air sebelum aku berangkat kerja. Tidak biasanya Ken tidak membangunkanku di pagi hari, pesan singkat selamat pagi pun tak ada. Lagi-lagi sebuah pertanyaan besar muncul dan beradu menjadi satu dalam fikiranku. Aku mencoba mengabaikannya tapi tidak bisa, aku bergegas pergibekerja dan meninggalkan semua tentang Ken. Jam terus berjalan hingga tengah hari, aku masih saja melirik ke arah handphoneku yang sepi tak ada satu pesan pu n yang masuk kesana. Saat aku beranjak dari tempat duduk untuk mengambil air minum, handponeku berbunyi. Segera aku mengambilnya dan membuka pesan itu, tapi pesan itu bukan datang dari Ken, melainkan sebuah pesan agar aku segera masuk ke ruang rapat.

Rapat berlangsung hingga pukul 15.30, selama rapat berlangsung aku sama sekali tidak dapat berkonsentrasi dengan hasil rapat yang ditentukan. tak ada yang kufikirkan selain Ken, ini gila dan diluar batas kesadaranku. Setelah semua beres, aku pergi menuju rumah Ken. Tapi saat sedang berjalan, sebuah Honda Jazz merah berhenti di hadapanku. Cindy keluar dari dalam mobil, berdiri di hadapanku dan mencoba mengancamku. Ia ingin agar aku menjauhi Ken dan tak lagi mengganggunya, aku tak mengerti dengan mereka berdua. Apa mungkin perubahan pada Ken juga karena Cindy. Aku terdiam setelah Cindy pergi, kulanjutkan perjalnanku menuju rumah Ken hingga kedepan pintu rumahnya. Saat hendak membunyikan bel, aku menarik kembali tanganku dan bergegegas pergi dari rumahnya. Sesorang memanggil namaku, pembantu di rumah Ken berlari-lari mengejarku. Ia memberikanku sebuah surat yang ditujukan untukku, ia menemukannya di kamar ken. Dan kini Ken sedang dalam kondisi kritis di rumah sakit. Aku membuka surat itu, membacanya hingga akhir. Dan surat itu berisi tentang semua perasaannya padaku.

Dear my lovely girl tya..

Selama tiga tahun kita bersama..suka dan duka yang telah kita lalui bersama buat aku jauh lebih mengerti tentang siapa, dan untuk apa kamu hadir dalam kehidupan aku selama ini. Tuhan mempertemukan kita dalam sebuah pesta, kamu tau?? kalau aja kamu gak nabrak aku dan buat baju putih aku kotor, mungkin kita gak akan bisa dekat seperti sekarang ini. Kamu perempuan paling tomboy dan susah diatur yang pernah aku kenal, kamu perempuan kedua yang selalu buat aku khawatir setelah almarhum mamaku gak ada.. kamu tau gak? setiap malam aku berdo’a agar diberi umur panjang supaya bisa melanjutkan hidup dengan orang yang aku cintai..

Kalaupun memang ada perempuan yang harus kunikahi.. udah pasti orang itu adalah “kamu”. Cuma kamu yang mampu buat aku ketawa lepas selama ini. Mengenai masalah kemarin aku harap kamu gak marah, aku pergi untuk beli sebuah cincin berlian untuk ngelamar kamu hari ini. Tapi.., sewaktu aku mau pergi aku gak sengaja ketemu Cindy. Dia peremuan yang temen aku jodohin, tapi aku gak cinta sama dia karena di hati aku hanya ada satu nama yang akan abadi selamanya…

yaitu..

“ Aristya Pratama ….”

***

Air mata yang tak tertahankan lagi mengalir deras membasahi wajahku, aku berlari mencari kediaman ken. Aku sampai di Rumah sakit, kulihat keluarga Ken sedang menunggu dengan resahnya. Dokter keluar dari dalam ruangan memberikan kabar yang burukk bagi keluarga Ken. Aku berjalan mendekat, entah bagaimana aku sekarang aku tidak peduli, yang kuinginkan hanyalah melihat Ken membuka matanya dan dapat tersenyum lagi. Ayah Ken mencoba membuatku berehenti menangis, tapi air mata ini mendesak untuk terus mengalir tak berhenti. Pelukan seorang ayah yang kurasakan menjadi penopang kesedihan yang mendalam. Ia berkata Ken menitipkan sesuatu yang harus diserahkan padaku, aku menggeleng dan terus menagis hingga dokter mengijinkanku untuk melihat Ken di dalam sana.

Aku membelai wajahnya, memperhatikan matanya yang tertutup rapat. Aku memanggil namanya, memintanya untuk bangun dan membuka matanya. Ayah Ken datang dan memberikan sebuah kotak berwarna merah, aku membukanya dan benar memang, sebuah cincin berlian yang sangat indah berada disana. Ayah Ken mengutarakan maksud baik Ken, aku mengangguk dan menggenggam tangan Ken erat. Kucium tangannya, kupanggil namanya, tapi ia juga bangun. Ayah Ken membawaku keluar dan menenangkanku di kursi, rasanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Aku tak mampu berkata apa-apa lagi selain menggenggam erat tangan ayah Ken yang masih bersedia mendampingiku di depan kamar itu. Dokter datang bersama dengan suster memeriksa kondisi Ken. Aku berdo’a kepada Tuhan Yang Maha ESA, meminta kuasanya untuk kesempatan kedua agar aku dapat memperjuangkan cintaku.

Jam terus berjalan, aku masih menunggunya. Ayahnya juga terlihat begitu resah menantikan kabar anaknya, akhirnya dokter datang dan memberikan sebuah kabar kepada kemi berdua. Sungguh suatu mukjizat Tuhan, aku melihat Ken tersenyum memandangku. Ia mencoba menggerakkan tangannya untuk meraihku, aku menggenggam tangannya dan meletakkannya di pipi kananku. Ken tersenyum dan menghapus air mataku yang masih mengalir.

” Tyaa..aku mau kamu jadi yang pertama dan terakhir dalam hidupku.. apa kamu bersedia menikah sama aku dan hidup sama aku?? sesuai janjiku hari ini aku bakal lamar kamu untuk jadi istri aku..”. Ucap Ken lirih.

” Ia..Ia aku mau Ken, jangan tinggalin aku lagi..”. Ucapku sambil tersenyum.

Ken memasangkan cincin berlian di jariku, aku mencium keningnya. Dan mulai saat itu aku berjanji untuk terus berada disisinya apapun kondisinya, bagaimanapun situasinya, dan untuk masa depan yang cerah aku siap mendampinginya selalu sebagai seorang istri.

Sumber: puspitapuspita.wordpress.com/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: