Bencana pembawa nikmat

Bab V. Bencana pembawa nikmat
Waktu berlalu dengan cepat tanpa terasa bulan Tiong-ciu kembali menjelang
tiba.
Menggunakan kesempatan tersebut, Bwe Si-jin melatih kembali ilmu silatnya,
bukan saja kepandaiannya bertambah maju, tenaga dalamnya juga mengalami
kesempurnaan.
Di bawah bimbingannya, ilmu tenaga dalam Kui-goan-sinkang yang dipelajari
Cau-ji kembali mengalami kemajuan satu tingkat, kini setiap kali dia bersemedi
maka cahaya merah yang semula menyelimuti badannya, kini berubah menjadi
warna kuning.
Setiap kali angin topan berpusing datang menyerang, kini Cau-ji tak usah
menancapkan tangannya lagi ke dalam dinding karang, ia cukup menekan
permukaan tanah, badannya sudah terpantek tenang hingga dia dapat
melanjutkan semedinya.
Menurut penjelasan Bwe Si-jin, asal dia bisa duduk bersila tanpa mesti
berusaha menahan diri tiap kali angin topan datang menyerang, itu berarti
tenaga dalam Kui-goan-sinkangnya telah mencapai tingkat kesempurnaan atau
dengan perkataan lain, itulah saat bagi mereka untuk meninggalkan gua.
Setiap ada waktu senggang, Bwe Si-jin juga mewariskan ilmu “Li-gong-sit-u”
(mengambil benda di tengah angkasa) kepada bocah itu, dengan mengandalkan
kepandaian inilah setiap kali Cau-ji menangkap kelelawar untuk mengganjal
perutnya yang lapar.
Pada mulanya bocah ini merasa sangat tidak terbiasa tapi lama kelamaan
terdorong rasa lapar yang berlebihan, dia pun mulai bisa menerima kebiasaan
tersebut.
Tengah hari itu, baru saja mereka berdua selesai bersemedi, tiba-tiba
terdengar seseorang berteriak keras dari luar gua: “Cau-ji, aku adalah si raja
hewan … Cau-ji …”
Mendengar teriakan itu, Cau-ji segera berseru dengan perasaan kaget
bercampur girang: “Paman, itu suara dari Oh-locianpwe”
Maka dia pun menyahut dengan keras: “Oh-locianpwe, Cau-ji berada di sini.”
sambil berkata ia segera berlari keluar gua.
Bwe Si-jin ikut menerobos keluar dari gua sempitnya dan ikut berlarian
menuju keluar gua.
Ketika keluar dari balik air terjun, mereka berdua segera merasakan matanya
silau sekali oleh pantulan sinar matahari, baru saja mereka pejamkan mata,
terdengar si raja hewan berteriak penuh emosi: “Bwe-Lote, Cau-ji, rupanya
kalian benar-benar berada di sini, cepat tangkap benda ini!”
Mereka berdua segera menyambut lemparan itu, ternyata benda itu adalah
pakaian, kini mereka baru sadar jika tubuh mereka dalam keadaan bugil, maka
buru-buru mereka kenakan baju pemberian itu.
Tiba-tiba terdengar Cau-ji berteriak: “Locianpwe, kenapa kau ajak aku
bergurau…?”

Ternyata pakaian yang dikenakan itu sangat pendek lagi ketat, bukan saja
susah dikenakan, setelah dikenakan pun ketatnya sampai susah bernapas.
Raja hewan segera tertawa tergelak.
“Cau-ji, kau jangan gusar, ibumu yang titipkan pakaian itu agar diserahkan
kepadamu, mana aku tahu kalau badanmu bertambah jangkung dan kekar?”
Gelak tertawa pun segera bergema memecahkan keheningan.
Setelah puas berhaha-hihi, kembali si raja hewan berkata: “Lote, Cau-ji, kalian
pasti sudah lama tak makan enak, mumpung hari ini adalah hari Tiong-ciu, mari
kita minum beberapa cawan arak.”
Sambil berkata dia keluarkan beberapa macam hidangan ditambah dua poci
arak wangi.
Kemudian kepada Cau-ji katanya lebih lanjut: “Anak Cau, usiamu belum
genap tiga belas tahun, kau dilarang minum arak, makanlah yang banyak dan
gunakan air saja sebagai pengganti arak.”
”Tidak apa-apa, locianpwe, bisakah kau menceritakan keadaan keluargaku?”
pinta Cau-ji sambil tersenyum.
“Hahaha … Cau-ji, semua saudaramu memanggil “yaya” kepadaku,
seharusnya kau juga memanggil kakek padaku.”
“Baik yaya, Cau-ji menghormati satu cawan air untukmu,” sambil berkata dia
buka mulutnya dan menghisap air langsung dari mata air, sekilas panah air
segera menyembur masuk ke dalam mulutnya.
Melihat kesaktian bocah itu, si raja hewan terkejut bercampur gembira,
teriaknya tak tahan: “Cau-ji, tampaknya ilmu silatmu mengalami kemajuan yang
amat pesat.” seraya berkata ia melirik sekejap ke arah rekannya.
Bwe Si-jin segera tersenyum, setelah meneguk arak satu tegukan, katanya
sambil tertawa: “Loko, aku telah mewariskan ilmu Kui-goan-sinkang kepadanya”
Tiba-tiba mencorong sinar tajam dari balik mata raja hewan, dengan wajah
berubah hebat hardiknya: “Jadi kau … kau adalah anggota perkumpulan Jitseng-
kau (tujuh rasul)?” sambil bicara ia melompat bangun dan siap-siap
menghadapi serangan.
“Benar” sahut Bwe Si-jin sambil tertawa getir “siaute memang anggota Jitseng-
kau.”
Dengan wajah hijau membesi si raja hewan segera membuat satu garis
memanjang di atas tanah, kemudian katanya lagi: “Bwe Si-jin, mulai hari ini kita
putus hubungan, masing-masing tidak saling mengenal lagi.”
Gemetar keras tubuh Bwe Si-jin mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba ia
mendongakkan kepalanya dan tertawa seram, kemudian tanpa mengucapkan
sepatah kata pun, segera berlalu meninggalkan tempat itu.
Perubahan peristiwa ini berlangsung amat cepat dan singkat, untuk sesaat
Cau-ji jadi gelagapan dan tidak tahu apa yang mesti diperbuat
Raja hewan menghela napas panjang, setelah menenteramkan perasaan
hatinya, ia berkata: “Cau-ji, perkumpulan Jit-seng-kau adalah sebuah organisasi
yang banyak melakukan kejahatan dalam dunia persilatan di masa lalu, untung
sekali Ong-yayamu memimpin perlawanan, dengan usahanya yang luar biasa
perkumpulan tersebut berhasil beliau tumpas.”
“Mimpi pun aku tak menyangka kalau Bwe Si-jin ternyata juga merupakan
anggota Jit-seng-kau, tak aneh kalau sucinya Su Kiau-kiau memiliki ilmu silat
yang luar biasa hebatnya. Aai …! Kelihatannya dunia persilatan kembali akan
dilanda kekacauan.”
“Tapi yaya … Cau-ji rasa paman Bwe tidak seperti orang jahat, bukankah dia
pun dikurung dalam gua? Dia pasti bukan orang jahat,” bisik Cau-ji.

“Anak kecil, kau belum punya pengalaman dan tidak tahu betapa keji dan
liciknya orang persilatan, siapa tahu dia memang disekap di situ lantaran
rebutan posisi ketua Jit-seng-kau dengan kakak seperguruannya Su Kiau-kiau?”
“Tapi… paman Bwe baik sekali orangnya, masa dia orang jahat?”
Raja hewan tidak ingin berdebat lebih jauh, dia segera mengalihkan
pembicaraan ke soal lain, katanya: “Cau-ji, setelah bersantap, masuklah kembali
ke gua untuk berlatih ilmu, aku mesti laporkan kejadian ini kepada ayah ibumu
agar mereka tidak sampai dicelakai Bwe Si-jin.”
Selesai berkata, ia segera pergi meninggalkan tempat itu.
“Yaya ” teriak Cau-ji, tapi ketika dilihatnya kakek itu tidak menggubris,
akhirnya dia pun menghela napas panjang.
la tidak menyangka sebuah pertemuan yang baik akhirnya mesti bubar dalam
suasana tidak menggembirakan.
Apa jadinya bila suatu hari pamannya bertemu dengan yayanya sehingga
terjadi pertarungan? Siapapun yang terluka, baginya tetap mendatangkan
kedukaan yang mendalam.
Berpikir sampai di situ, perasaan hatinya jadi tak tenang, gumamnya: “Aku
harus minta ayah untuk menjadi penengah, aah betul! Apa salahnya kalau
kubereskan dulu masalah ini, kemudian baru balik kemari melanjutkan
latihannya?”
Begitu mengambil keputusan, dia pun berlarian menuju ke bawah bukit
Ketika tiba di punggung bukit, mendadak dari sisi sebelah kanan hutan
terdengar suara orang sedang merintih sambil berteriak keras.
Sebagai seorang bocah berjiwa pendekar, Cau-ji segera menghentikan
langkahnya sambil pasang telinga.
la segera mendengar suara gemericit yang nyaring bergema dari balik hutan,
di antaranya kedengaran juga suara dengusan napas seorang lelaki dan suara
rintihan seorang wanita.
“Aduuh … koko … aduh … senjatamu … senjatamu begitu ganas seperti
seekor naga sakti… aku … aku sudah tidak tahan”
“Hehehe … naga sakti berusia ribuan tahun milik koko akan melakukan
pembunuhan besar-besaran hari ini, kecuali kau merengek minta ampun.”
“Aduuuh… aaah”
Cau-ji hingga detik itu hanya merupakan seorang bocah kemarin sore yang
masih berbau kencur, tentu saja dia tidak paham arti dari teriakan laki
perempuan itu, dengan perasaan tertegun pikirnya: “Sungguh aneh, rintihan
perempuan itu macam orang hampir sekarat, kenapa dia masih memanggil
musuhnya koko?”
Dengan penuh rasa ingin tahu dia berjalan mendekat dan mengintip dari balik
semak.
Tampak sepasang muda mudi dalam keadaan telanjang bulat sedang
bergumul di atas permukaan rumput, setiap kali lelaki itu menggoyangkan
tubuhnya naik turun, perempuan itu segera menggeliatkan badannya kian
kemari sembari menjerit dan merintih.
Makin dipandang Cau-ji merasa semakin tak tahan, akhirnya dia melompat
keluar dari balik semak belukar sambil bentaknya: “Berhenti!”
Padahal waktu itu sepasang laki perempuan itu sedang mencapai puncak
kenikmatan, bila terlambat sedetik lagi mungkin keduanya sudah mencapai
puncak kepuasan, begitu mendengar hardikan Cau-ji yang nyaring, kontan
kedua orang itu melompat bangun dengan rasa kaget.

Kedua orang itu sebenarnya hanya rakyat dusun di bawah bukit sana, mereka
memang sengaja berjanji untuk bermain cinta di hutan agar perbuatan serong
mereka tidak diketahui pasangannya sendiri.
Bentakan tersebut tentu saja mengejutkan mereka berdua, disangkanya
perbuatan serong mereka telah ketahuan, tanpa membuang waktu lagi lelaki itu
segera kabur terbirit-birit dari situ dalam keadaan bugil.
Sebaliknya perempuan itu baru saja merangkak bangun dari tanah, ketika
melihat orang yang muncul hanya seorang pemuda asing, kontan dia sambar
bajunya seraya mengumpat: “Sialan lu! Lagi enak-enaknya aku menelan
mentimun, kamu datang mengganggu … huuh, padahal aku sudah hampir
mencapai puncaknya”
Sambil mengomel tiada hentinya perempuan itu segera berlalu dari tempat
tersebut
Kini tinggal Cau-ji masih berdiri melongo, dia tidak habis mengerti kenapa
orang malah mengumpatnya, padahal niat dia hanya menolong jiwa perempuan
itu?
Sambil menggelengkan kepalanya berulang kali ia lanjutkan kembali
perjalanannya, mendadak satu ingatan melintas lewat, tiba-tiba saja ia teringat
kembali dengan ucapan lelaki tadi tentang “naga sakti berusia seribu tahunnya,
sambil berseru tertahan buru-buru dia berbelok dan mengambil jalan menuju ke
arah telaga.
Rupanya secara tiba-tiba ia teringat kembali dengan naga sakti yang berdiam
dalam telaga, ia berniat sekalian membasmi binatang tersebut agar tidak
mencelakai orang.
Berapa li sebelum mencapai tepi telaga, tiba-tiba dari kejauhan ia mendengar
ada suara orang menjerit kaget
Waktu itu jam menunjukkan pukul dua belas malam, langit yang gelap hanya
disinari rembulan yang redup, walau begitu, dengan kesempurnaan tenaga
dalam yang dimiliki Cau-ji, dia dapat menangkap suara jeritan itu dengan sangat
jelas.
Tergopoh-gopoh bocah itu mempercepat langkahnya menghampiri asal suara
jeritan itu.
Tiba di sisi telaga, ia saksikan ada dua belas orang bocah laki dan bocah
perempuan berkumpul di situ menemani seorang gadis remaja, saat itu mereka
sedang memanggang daging.
Rupanya mereka adalah dua belas orang pelayan dari perkumpulan Jit-sengkau
yang sedang berpesiar menemani tuan putrinya.
Jangan dilihat kedua belas orang bocah laki dan perempuan itu masih berusia
tujuh delapan belas tahunan, bukan saja wajah mereka rata-rata tampan dan
cantik, ilmu silatnya hebat dan hatinya sangat telengas.
Dalam perkumpulan Jit-seng-kau berlaku sebuah peraturan yang tak tertulis,
yakni bila ada salah seorang di antara mereka yang berkhianat, maka bila dia
seorang pria maka pada akhirnya lelaki itu akan mati kehabisan cairan mani
lantaran digilir habis-habisan oleh keenam orang gadis cantik itu.
Sebaliknya jika si penghianat adalah seorang perempuan, dia pasti akan mati
digilir keenam orang pria tampan itu.
Karena kekejaman dan kebuasan mereka itulah di dalam perkumpulan Jitseng-
kau dikenal sepatah kata yang sangat populer yakni “Lebih gampang
menjumpai raja neraka ketimbang bertemu setan cilik”.

Kedua belas orang laki wanita ini memang hasil didikan ketua serta kedua
wakil ketua Jit-seng-kau, bukan saja sulit dihadapi, bila kurang berhati-hati bisa
jadi nyawa akan jadi taruhan.
Su Kiau-kiau maupun keempat suci-sumoaynya tentu saja juga tahu akan
kebuasan serta ketelengasan kedua belas orang kepercayaannya, tapi mereka
sama sekali tak menggubris, mereka sengaja mengumpak mereka hingga
semakin berani melakukan hal-hal yang sadis.
Begitulah, pada malam itu mereka bertiga belas sedang bersantai di tepi telaga
sambil memanggang daging dan minum arak, tak selang satu jam kemudian
kawanan muda mudi itu sudah mulai mabuk.
Pada saat itulah tiba-tiba tampak gadis berdandan sebagai tuan putri yang
berbaju merah, berwajah cantik dan berusia tiga empat belas tahunan itu
berseru dengan nyaring: “Jangan minum lagi, kalau dilanjutkan, kita tak bisa
pulang ke istana!”
Ketua para gadis cantik So Giok-ji segera menyahut: “Baik, baik, kita tidak
minum lagi, engkoh Liong, mari kita berkumpul dan adakan permainan
bersama.”
Sambil berkata dia segera mengerling memberi tanda.
Ketua kaum lelaki Yau Ji-liong segera menanggapi, ia tertawa tergelak:
“Hahaha … baiklah, tuan putri, mari kita bermain hembusan angin puyuh!”
“Baik.”
“Agar permainan tambah asyik, maka setiap orang yang terhembus jatuh, dia
mesti melepaskan satu macam barang yang dikenakan, bagaimana? Setuju?”
Kawanan bocah laki dan perempuan itu segera bersorak sorai menyatakan
setuju.
Hanya si tuan putri Su Gi-gi yang kelihatan masih sangsi.
Melihat itu So Giok-ji segera berbisik: “Tuan putri, di sini tak ada orang luar,
apalagi kau selalu paling tenang, bukankah tiap kali bermain tiupan angin
topan, kau selalu menang?”
Su Gi-gi termenung berpikir sebentar, merasa apa yang dikatakan ada
benarnya juga maka dia pun mengangguk tanda setuju.
Kawanan muda mudi itupun mulai mengumpulkan dua belas batu besar yang
ditata menjadi satu lingkaran bulat masing-masing orang duduk di atas batu itu
dan memandang ke arah sucinya sambil tertawa cekikikan.
Tampak Su Kiau-kiau menyapu sekejap kawanan muda mudi itu, tiba-tiba
serunya dengan suara lantang: “Angin besar berhembus!”
“Meniup apa?” serentak muda mudi itu bertanya.
“Meniup bocah lelakil” sahut Su Kiau-kiau sambil bergerak secepat kilat
merebut posisi yang di tempati Yau Ji-liong.
Menurut aturan main, barang siapa ditunjuk kena tiupan maka dia mesti
bergeser ke posisi yang lain, bila gerakan tubuhnya lamban sehingga tidak
berhasil merebut posisi baru maka orang itu dianggap kalah dan dia mesti
melepaskan semacam barang yang dikenakan.
Tampak seorang bocah lelaki yang tidak berhasil merebut posisi mundur
selangkah ke belakang, kemudian sambil tertawa dia lepaskan ikat kepalanya,
setelah itu kembali teriaknya: “Angin besar berhembus!”
“Meniup apa?”
“Meniup orang yang punya rambut!”
Setelah terjadi kegaduhan akhirnya So Giok-ji yang gagal merebut posisi,
sambil tertawa cekikikan dia pun melepaskan jubah luarnya.

Begitu pakaian dilepas, tempik sorak pun segera bergema gegap gempita.
Ternyata begitu dia lepaskan jubah luarnya, terlihatlah tubuh bagian dalamnya
yang sama sekali tidak mengenakan apa-apa alias dia berada dalam keadaan
bugil.
Dengan tubuh telanjang bulat So Giok-ji berteriak nyaring: “Angin besar
berhembus!”
“Meniup apa?”
“Meniup orang yang tak punya perasaan.”
Semua orang tertawa terbahak-bahak, ternyata tak seorang pun di antara
mereka yang bergeser.
Si tuan putri segera berseru sambil tertawa: “Giok-ji, kali ini taktikmu tidak
jitu….”
Sambil tertawa getir So Giok-ji pun melepaskan sepasang sepatunya.
“Angin besar berhembus!”
“Meniup apa?”
“Meniup bocah lelaki!”
Begitulah, permainan pun bergulir tiada hentinya, tatkala rembulan sudah
berada tepat di tengah angkasa, kedua belas orang muda mudi itu boleh dibilang
sudah berada dalam keadaan bugil.
Su Gi-gi sendiri pun ikut tertiup sebagian besar bajunya hingga kini yang
tersisa hanya pakaian dalamnya yang berwarna biru muda.
Melihat lekukan badan si tuan putri yang begitu montok dan indah, keenam
orang pemuda itu bukan saja melototi terus tubuh lawan tanpa berkedip,
bahkan kentara sekali kalau tubuh bagian bawahnya sudah pada bangun berdiri
dengan kakunya.
Melihat itu si tuan putri segera berseru: “Sudah … sampai di sini saja, kalian
boleh bermain gila!”
Diiringi sorak sorai yang amat nyaring kedua belas orang muda mudi itu
segera mencari pasangan masing-masing dan mulai berbuat intim.
Pada mulanya pihak lelaki yang berada di atas dan si wanita berada di bawah,
tapi sesaat kemudian pihak wanita yang berada di atas dan si lelaki berada di
bawah, bukan saja banyak variasi yang digunakan, tampaknya semua orang
sudah berpengalaman sekali dalam melakukan hubungan kelamin.
Tiba-tiba terdengar So Giok-ji berteriak keras: “Sekarang berganti pasangan!”
Enam pasang muda mudi segera melompat bangun dan berganti pasangan,
kemudian melanjutkan kembali permainannya saling menunggangi lawan
jenisnya.
Siapakah Su Gi-gi itu? Ternyata dia adalah anak haram Su Kiau-kiau,
sepuluh tahun berselang Su Kiau-kiau telah menculik Bwe Si-jin dan
mengirimnya ke gua, sepanjang perjalanan secara beberapa hari mereka telah
melakukan hubungan intim yang tak terhitung banyaknya, bocah perempuan itu
tak lain adalah hasil dari hubungan tersebut.
Tatkala mengetahui dirinya hamil, sebenarnya Su Kiau-kiau punya rencana
untuk menggugurkannya, tapi niat itu dicegah ketiga orang sumoaynya, alasan
mereka, di kemudian hari mereka bisa gunakan si bocah sebagai sandera untuk
memaksa Bwe Si-jin berbakti lagi terhadap perguruan Jit-seng-kau.
Itulah sebabnya Su Gi-gi berhasil lolos dari kematian dan tumbuh jadi bocah
remaja.
Di bawah bimbingan dan didikan secara langsung dari Su Kiau-kiau
berempat, meskipun Su Gi-gi baru berusia tiga empat belas tahunan namun
ilmu silatnya sudah sangat hebat.

Perkumpulan Jit-seng-kau memang tersohor sebagai perkumpulan kaum
wanita bejat, boleh dibilang kesibukan mereka setiap harinya hanya berbuat
intim atau berbuat cabul sesama anggota, bagi Su Gi-gi kejadian tersebut sudah
sangat terbiasa dan tidak asing baginya.
Meskipun hingga hari itu Su Gi-gi masih bisa mempertahankan
keperawanannya, tak urung perasaan hatinya terpengaruh juga oleh adegan
mesum yang terpampang di depan matanya, diam-diam ia sendiri mulai merasa
terangsang dan sudah timbul pikiran untuk ikut “mencicipinya”.
Apalagi dalam kondisi sekarang ini, dimana dua belas orang anak buahnya
sedang melangsungkan hubungan kelamin secara massal di hadapannya,
dimana bukan saja banyak variasi yang diperagakan, bahkan berulang kali
berganti pasangan, adegan ini membuat seluruh badannya jadi panas dan susah
untuk ditahan.
Gelora hawa darah yang membara membuat dengus napasnya ikut memburu,
paras mukanya jadi merah padam sementara sepasang matanya mengawasi
terus adegan mesum yang masih berlangsung di hadapannya.
Makin dilihat hatinya makin tersiksa, semakin hatinya tersiksa dia semakin
pingin melihat, apa mau dibilang, ibu dan ketiga bibinya telah berpesan berulang
kali, sebelum nadi Jin-meh dan tok-mehnya tembus, dia tak boleh kehilangan
keperawanannya.
Dalam keadaan terangsang hebat hingga badannya seperti terbakar, hanya
satu cara yang bisa dilakukan Su Gi-gi sekarang yakni menceburkan diri ke
dalam telaga untuk berendam.
Ternyata cara ini sangat mujarab, setelah berendam sejenak dalam air dingin,
kesadarannya pulih kembali, selain napsu hilang, hatipun jadi tenang, maka dia
pun berendam lebih jauh.
Sementara itu tertawa cabul, rintihan jalang masih berlangsung dengan
serunya di tepi telaga, sekalipun kini dia sudah berendam dalam air, bukan
berarti pandangan matanya lolos dari pemandangan merangsang yang
terpampang di depan mata.
Pada saat itulah … tiba-tiba ia menyaksikan timbulkan arus air berpusing
yang sangat dahsyat muncul dari dasar telaga, kejadian ini segera membuatnya
tertegun.
Sementara dia masih termangu, pusaran air berputar makin kencang dan
makin melebar bahkan sudah mulai mendekati permukaan telaga, saat itulah Su
Gi-gi mulai panik dan terkesiap.
Sementara dia sedang menduga bakal munculnya makhluk aneh dari dasar
telaga, tahu-tahu naga sakti berusia ribuan itu sudah muncul di hadapannya
sambil mengeluarkan suara pekikan yang sangat mengerikan.
Biarpun titik kelemahan di tubuh naga sakti itu sudah terluka, namun dia tak
ingin kehilangan kesempatan “menghisap sari rembulan” yang hanya
berlangsung setahun satu kali, hari ini dia muncul kembali untuk mengulangi
kembali hal yang sama.
Tapi begitu muncul di permukaan dan melihat di tepi telaga ternyata terdapat
banyak “mangsa”, dalam girangnya makhluk itupun berpekik nyaring.
Su Gi-gi sangat terperanjat, dalam terkejut bercampur ngerinya buru-buru dia
menyelam ke dalam air.
Kemunculan makhluk raksasa itu membuat suasana di tepi telaga jadi kalut,
dalam terkejut dan paniknya masing-masing melompat bangun dari tubuh
pasangannya dan kabur terbirit-birit dari situ.

Apa mau dibilang ternyata ada seorang gadis yang masih tertinggal di situ,
tampaknya rasa takut dan ngeri yang berlebihan membuat badannya bukan saja
gemetar keras, bahkan terjadi kejang-kejang khusus di sekitar lubang surganya.
Akibat kejang yang menyerang, ototnya jadi kaku dan segera “menggigit” kuatkuat
senjata “tombak” pasangannya yang masih menindih di atas tubuhnya.
Bisa dibayangkan apa jadinya saat itu, melihat “tombaknya “tergigit” hingga
tak bisa lepas, tergopoh-gopoh bocah lelaki itu berteriak: “Adik Hoa, jangan
main-main, ayo cepat lepaskan gigitanmul”
Sembari berkata dia cabut keluar tombaknya sekuat tenaga.
Gadis itu semakin panik, tergopoh-gopoh dia rentangkan sepasang pahanya
lebar-lebar agar sang pemuda bisa mencabut keluar senjatanya, sayang makin
panik gadis itu makin kencang “gigitan” liang surganya atas milik pemuda itu.
Pada saat itulah si naga sakti telah menongolkan kepalanya menghampiri
mereka, dengan sekali hisapan, diiringi jeritan ngeri yang menyayat hati,
sepasang muda mudi yang masih menempel jadi “satu tubuh” itu terhisap
masuk ke dalam perut makhluk tersebut.
Rekan-rekan lainnya jadi amat gusar melihat peristiwa tragis itu, sambil
membentak serentak mereka lepaskan pukulan dahsyat ke tubuh naga.
Sayang kulit tubuh naga itu kuat bagaikan baja, bukan saja serangan itu
gagal melukainya, malah sebaliknya justru memancing sifat liarnya.
Sementara itu Su gi-gi sudah muncul kembali di atas permukaan air, melihat
kegarangan naga sakti itu dia segera membentak nyaring sambil melepaskan
sebuah pukulan ke lambung binatang itu.
Merasa kesakitan naga sakti itu berpekik nyaring, tiba-tiba ia membalikkan
badan sambil menyerang gadis itu.
Buru-buru Su gi-gi melepaskan pukulan sambil menyingkir ke samping.
Tentu saja gerak geriknya sewaktu dalam air tidak segesit di atas daratan,
sekalipun tubuh nona itu tidak tertumbuk telak, namun tenaga sambarannya
membuat badannya mencelat hampir beberapa kaki jauhnya.
Muda mudi yang berada di tepi telaga serentak mengambil batu dan
menyambitkan ke lambung naga itu.
Sambitan yang dilancarkan serentak nampaknya membuat naga itu kesakitan,
lagi-lagi dia berbalik menyerang ke tepi telaga.
Tenaga bocah-bocah itu mana mungkin bisa menangkan kekuatan seekor
naga raksasa? Tidak sampai seperminum teh kemudian, tinggal empat orang
bocah yang selamat dari hisapan makhluk itu.
Sambil menjerit kaget keempat bocah perempuan yang masih hidup serentak
melarikan diri dari situ.
Lagi-lagi naga sakti itu pentangkan mulutnya sambil menghisap, seorang
bocah perempuan kembali terhisap ke perut makhluk itu.
Di pihak lain, Su Gi-gi merasakan gejolak hawa darah yang amat dahsyat
dalam rongga dadanya, nyaris dia jatuh pingsan karena sapuan makhluk itu,
sadar kalau usus perutnya terluka, diam-diam ia berenang menuju ke tepian.
Di saat yang sangat kritis itulah mendadak terdengar Cau-ji membentak
gusar: “Binatang, jangan melukai orang!”
Sambil menghardik, ia sambit sebutir batu besar ke bagian kepala naga sakti
itu.
Bentakan keras membuat si naga menghentikan tubuhnya, tapi sambitan
batu yang menyusul tiba membuat makhluk itu mengerang kesakitan.
Menggunakan kesempatan itu dua orang gadis yang nyaris dimakan naga itu
terbirit-birit melarikan diri ke tempat kejauhan.

Melihat hasil tangkapannya terlepas, naga sakti itu meraung gusar, kini dia
menerjang ke arah Cau-ji.
Bocah itu membentak gusar, sambil melepaskan sebuah pukulan ke perut
naga itu dia menyingkir ke samping.
Serangan tersebut dilepaskan tanpa menimbulkan suara, tapi akibatnya
sangat luar biasa, tampak naga sakti itu bergulingan di atas air sambil meraung
kesakitan, sekuat tenaga dia pentang mulutnya sembari menghisap.
Cau-ji merasakan betapa kuatnya tenaga hisapan itu, meski bisa menghindar,
dia kuatir binatang itu akan semakin kalap, maka sambil bulatkan tekad ia
biarkan badan sendiri dihisap.
Su Gi-gi serta dua orang gadis yang berada di telaga sangat kaget melihat
kejadian itu, tak tahan mereka menjerit tertahan.
Ketika tubuh Cau-ji yang terhisap mencapai atas kepala naga itu, tiba-tiba ia
meronta sambil melejit ke samping kemudian melepaskan sebuah bacokan
langsung ke mata kanannya yang pernah dipatuk burung sakti.
Sebagaimana diketahui, sudah bertahun-tahun lamanya Cau-ji melatih diri di
dalam gua melawan daya hisap angin berpusing yang maha dahsyat itu, dengan
dasar latihan macam itu, bagaimana mungkin ia bisa takut dengan tenaga
hisapan seekor naga?
Diiringi pekikan keras, bola mata makhluk itu segera terhajar telak hingga
hancur berantakan, percikan darah segar memancar ke empat penjuru.
Tampaknya makhluk itu tidak menyangka kalau lawannya memiliki ilmu silat
begitu dahsyat, sadar bukan tandingan, buru-buru ia melarikan diri dengan
menyelam ke dasar telaga.
Cau-ji mendengus dingin, hardiknya: “Binatang, jangan harap bisa kabur!”
Kembali sebuah pukulan dahsyat dilontarkan.
Setelah mengalami kerugian besar karena serangan Cau-ji, kali ini makhluk
aneh itu bertindak lebih cerdik, buru-buru dia menghindar dari datangnya
ancaman.
Su Gi-gi begitu melihat ada peluang untuk menyerang, ditambah lagi ia
dendam karena harus kehilangan nyawa sepuluh orang anak buahnya,
menggunakan kesempatan itu sebuah pukulan kembali dilancarkan menyerang
lambung binatang itu.
Gempuran keras membuat naga sakti itu meraung gusar, lagi-lagi dia
menumbukkan kepalanya ke arah Su Gi-gi.
“Cepat menghindar!” buru-buru Cau-ji berteriak sambil bergerak menghampiri
nona itu.
Begitu tiba di sisinya, bocah itu langsung merangkul pinggangnya dan
menariknya menyelam ke dasar telaga.
Selama hidup Su Gi-gi belum pernah disentuh lelaki, dia jadi malu bercampur
gusar telah melihat pinggangnya dirangkul seorang pemuda berdandan aneh.
Seandainya waktu itu bukan lagi menyelam, mungkin dia sudah menghardik
penuh amarah.
Tiba-tiba terjadi getaran dahsyat yang muncul dari permukaan telaga, begitu
dahsyat getaran itu membuat napasnya sesak dan nyaris pingsan, gadis itu tahu
getaran tersebut pasti ditimbulkan oleh naga sakti itu.
Sekarang dia baru merasa berterima kasih, untung pemuda itu menariknya ke
dalam air, coba kalau tidak, entah apa yang bakal terjadi.
Setelah menyelam cukup dalam ke dasar telaga, Cau-ji berbelok ke samping
lalu munculkan diri lagi di atas permukaan.
Buru-buru Su Gi-gi meronta dan melepaskan diri dari rangkulan pemuda itu.

“Cepat tahan napas!” tiba-tiba Cau-ji berbisik lagi, rupanya dia tahu kalau si
naga telah menemukan tempat persembunyiannya, segera dia tarik gadis itu
menyelam lagi ke dalam air.
Benar juga, baru saja mereka tiba di dasar telaga, kembali terjadi getaran
dahsyat di atas kepala mereka.
Kini Su Gi-gi benar-benar ketakutan, saking ngerinya dia merasakan
jantungnya berdebar keras.
Setelah berputar satu lingkaran, Cau-ji muncul kembali di atas permukaan
telaga.
“Berapa lama kau bisa menahan napas?” terdengar pemuda itu berbisik lagi
sambil menatap wajah nona itu lekat-lekat.
Su Gi-gi merasa sangat tegang, terutama setelah mengamati wajah lawan yang
begitu tampan, sahutnya agak gelagapan: “Mungkin bisa bertahan seperminum
teh.”
Cau-ji sangat kegirangan, kembali ujarnya: “Kau berani menonton aku bantai
naga itu?”
“Bantai naga? Jadi makhluk aneh itu seekor naga?” berubah hebat paras
muka Su Gi-gi.
Begitu mendengar gadis itu menjerit kaget, Cau-ji tahu bakal celaka, buruburu
bentaknya: “Tahan napas!”
Sambil berkata dia menyelam lagi ke dalam telaga.
Waktu itu Su Gi-gi sedang gugup bercampur panik, dia tak sempat menutup
pernapasannya, begitu menyelam, air segera masuk ke dalam mulutnya
membuat dia meronta-ronta.
Dulu, ketika masih berada di pesanggrahan Haythian-it-si, Cau-ji sudah
sering mempunyai pengalaman menghadapi situasi seperti ini, maka sembari
melanjutkan gerakannya menyelam, dia tempelkan tubuh sendiri ke dada si
nona.
Bukan hanya begitu, dia pun tempelkan mulutnya ke bibir gadis itu sambil
pelan-pelan menyalurkan hawa murninya.
Sebenarnya Su Gi-gi sudah mengayunkan tangannya untuk melepaskan
pukulan, tapi ketika dirasakan dadanya yang semula sesak kini jauh lebih lega
dan enak, sadarlah dia kalau pemuda itu sedang membantunya mengalirkan
hawa murni, tanpa sadar tangan kanannya segera dirangkulkan ke bahu lawan.
Pada saat itulah getaran dahsyat kembali bergema dari permukaan air, saking
takutnya Su Gi-gi segera peluk tubuh Cau-ji erat-erat.
Pikiran Cau-ji saat itu hanya bagaimana selamatkan orang, meskipun dipeluk
seorang gadis cantik, dia sama sekali tak punya pikiran cabul.
Sekali lagi dia munculkan diri di belakang punggung sang naga sembari
berganti napas.
Dengan tersipu-sipu Su Gi-gi melepaskan diri dari pelukan pemuda itu, wajah
Cau-ji yang tampan membuat perasaan hatinya semakin bergolak, namun diamdiam
dia merasa kagum juga dengan kejujuran pemuda itu.
Tentu saja Su Gi-gi tidak menyangka kalau usia Cau-ji waktu itu baru dua
belas tahun lebih, bagaimana mungkin ia bisa berpikir ke soal yang satu itu?
“Kau tak apa-apa bukan?” bisik Cau-ji segera menghembuskan napas
panjang.
“Tidak apa-apa, terima kasih!”
Cau-ji segera merangkul kembali pinggangnya sambil berbisik: “Ayo
berangkat, lihat bagaimana caraku membantai naga itu!”

Dengan wajah bersemu merah karena malu Su Gigi merangkul pinggang
pemuda itu erat-erat, setelah menahan napas dia ikut mengawasi situasi di
sekeliling telaga.
Sambil memeluk gadis itu, pelan-pelan Cau-ji mendekati tubuh makhluk
raksasa tersebut, ketika diamati lebih jelas, betul juga, ia saksikan pada
lambung tengah si naga yang berwarna lingkaran putih tertancap sebilah pisau
belati.
Cau-ji segera menuding ke arah pisau belati itu, melihat hal tersebut Su Gi-gi
segera berpikir “Ooh, rupanya dia sudah melukai makhluk itu, tak nyana dengan
usia semuda itu ternyata memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya.”
Tanpa terasa dia manggut-manggut tanda telah melihatnya.
Dengan tangan kanannya Cau-ji menggenggam gagang pisau itu, kemudian
sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia tarik pisau itu ke bagian bawah
lambung sang naga dan merobeknya lebar-lebar.
Terluka parah pada bagian tubuh yang mematikan, naga sakti itu meraung
keras, begitu dahsyat pekikan itu membuat dua belah tebing di sisi telaga itu
sampai ikut bergetar keras.
Gelombang ombak segera menggunung, arus menyembur mencapai ketinggian
berapa kaki.
Situasi saat itu sangat mengerikan, sebab naga itu bukan saja meronta, dia
pun meraung dan menggeliat dengan hebatnya.
Tiba-tiba Su Gi-gi melihat munculnya sebutir bola api sebesar kepala bayi di
dalam lambung naga itu, hatinya tergerak, pikirnya: “Jangan-jangan bola api itu
adalah Lwe-wan (pil inti) seperti apa yang tercantum dalam catatan buku?”
Berpikir sampai di situ dia pun menepuk tangan Cau-ji sambil menuding ke
arah bola api itu.
Cau-ji manggut-manggut tanda mengerti, dia berenang mendekat sambil
mengayunkan pisau belati, bola api itu segera terputus dan jatuh ke tangan Su
Gi-gi.
Begitu kehilangan bola apinya, naga itu meronta semakin dahsyat, tubuhnya
menggeliat semakin menggila dan dihantamkan ke empat penjuru, guguran batu
dan pasir segera berserakan ke dalam telaga.
Cau-ji ikut merasa tegang setelah melihat kejadian itu, buru-buru dia
berenang menuju ke tempat yang lebih dalam.
Baginya selama banyak tahun sudah terbiasa terbentur pada dinding karang,
terhadap runtuhan bebatuan yang terjadi saat ini tidak terlalu merisaukan, tapi
dia justru kuatir jika nona yang berada dalam pelukannya terkena bebatuan itu.
Dalam pada itu Su Gi-gi sudah dibuat ketakutan setengah mati, sambil
memeluk kencang Lwe-wan itu di depan dadanya, dia tempel ketat di sisi tubuh
Cau-ji.
Pemuda itu tahu, bertahan dalam posisi semacam ini sangat tidak
menguntungkan, dia harus secepatnya mencari tempat yang lebih baik untuk
menyelamatkan diri.
Tiba-tiba sorot matanya terbentur dengan sebuah gua yang memancarkan
sinar redup di sisi dinding sebelah kanan, dengan perasaan girang ia segera
berenang ke arah situ dan langsung masuk ke dalam gua.
Bentuk gua itu sangat lebar, berdiri di mulut gua Cau-ji melihat dinding gua
itu dipenuh dengan butiran putih sebesar kepalan tangan yang bergelantungan,
ternyata air telaga tak bisa mengalir ke situ.

Dengan perasaan termangu pemuda itu mengawasi terus gelora air telaga di
luar telaga, dia tak habis mengerti kenapa air yang menggelora ternyata tak
mampu mencapai daratan dimana ia berdiri sekarang.
Sementara itu Su Gi-gi sudah melepaskan diri dari pelukan pemuda itu,
melihat pakaiannya basah kuyup sehingga kain bajunya menempel ketat di
badannya, ia jadi malu sekali, saat itu bukan saja semua lekukan badannya
tertera jelas bahkan secara lamat-lamat dapat terlihat puting susunya yang
mulai tumbuh serta bulu hitam di bawah perutnya.
Malu bercampur panik cepat-cepat gadis itu menutupi dada serta bagian
bawah badannya dengan tangan.
Selesai menutupi bagian tubuhnya yang terlihat, ia baru memperhatikan
lawannya, dia makin keheranan ketika melihat pemuda itu hanya mengawasi
butiran putih di dinding gua dengan termangu.
Su Gi-gi memperhatikan sekejap butiran putih itu, dia segera paham benda itu
tentulah mutiara anti air (Pit-sui-cu) seperti apa yang tertera di gua rahasia
perguruannya, maka ujarnya lembut: “Kongcu, kau tak usah keheranan, benda
itu adalah Mutiara kedap air!”
“Oooh, rupanya itulah benda yang disebut mutiara kedap air, ternyata
memang hebat sekali, hanya sebutir mutiara namun bisa menahan gelombang
air hingga tak masuk kemari… Hah?”
Mereka berdua serentak menoleh ke arah telaga, tampak batuan raksasa
mulai berguguran menyumbat mulut gua itu.
“Aduh celaka!” jerit Su Gi-gi kaget, “tampaknya terjadi tanah longsor, waah,
bagaimana cara kita keluar dari sini?”
Cau-ji berpikir sejenak, mendadak serunya: “Lari!” sambil mengempit tubuh si
nona, dia segera lari masuk ke dalam gua itu.
Bagaikan sedang mengempit adik perempuan sendiri, pemuda itu berlari cepat
menuju ke dalam gua yang gelap gulita.
Su Gi-gi merasa malu bercampur girang, hatinya berdebar keras merasakan
gesekan badan yang berlangsung selama pelarian itu.
Lorong gua itu berliku-liku, permukaan tanah pun tinggi rendah tak menentu,
akhirnya sampailah mereka berdua di depan sebuah mulut gua yang tersumbat
oleh sebuah batu raksasa.
Su Gi-gi mencoba untuk mendorong batu raksasa itu, ternyata batuan itu
sama sekali tak bergeming.
Melihat itu Cau-ji menghimpun tenaga dalamnya kemudian sekuat tenaga
mendorong batu itu.
Tampak batuan raksasa itu mulai bergerak.
Cau-ji kegirangan, sambil membentak nyaring sekali lagi dia dorong batu itu
dengan sekuat tenaga.
Siapa tahu batu itu hanya bergerak sebentar kemudian balik lagi pada posisi
semula.
Cau-ji menarik napas panjang, sekali lagi dia mengerahkan tenaganya untuk
mendorong, sayang walaupun sudah dicoba berulang kali, batu raksasa itu tetap
tak bergeming.
Su Gi-gi segera menarik lengannya sambil berbisik: “Kongcu, tak usah terburu
napsu, mari kita beristirahat sejenak.”
Cau-ji mundur selangkah sambil menghembuskan napas, gumamnya: “Aai …
sungguh tak nyana batu itu berat sekali, Hey, coba lihat, kenapa ada cairan yang
mengalir dari bola api itu?”
Su Gi-gi tahu bola api itu rusak karena cekalannya yang kelewat kuat

“Aduh sayang ….” jeritnya, dengan sangat berhati-hati dia pegang bola itu ke
dalam telapak tangannya.
Cau-ji segera mengendus bau harum yang luar biasa muncul dari bola api itu,
tiba-tiba perutnya mulai menjerit keras.
Tampaknya pertarungan sengitnya melawan naga tadi membuat pemuda itu
mulai merasa kelaparan.
Dalam pada itu Su Gi-gi sedang mengawasi bola api itu dengan perasaan
bimbang, dia tahu benda itu adalah mestika langka yang berusia seribu tahun,
dia tak tahu apakah benda itu harus dibagi setengah untuk pemuda itu ataukah
akan dimakan sendirian.
Menurut catatan dalam buku kuno, khasiat bola api itu akan lenyap setelah
satu jam terkena angin, sekarang mereka jelas terkurung dalam gua dan
mustahil bisa lolos dari situ dalam waktu singkat, itu berarti benda itu harus
dimakan secepatnya.
la tahu, di atas bahunya terletak tanggung jawab berat atas perkembangan
perguruan Jit-seng-kau, sementara pemuda itu tidak jelas asal-usulnya, apakah
dia mesti berbagi hasil dengannya?
Waktu itu meski dia tahu pihak lawan sangat kelaparan, tapi ia sudah
mengambil keputusan bulat untuk tidak menyerahkan bola api itu untuk lawan.
Dengan berlagak terpaksa, dia sodorkan bola api itu ke hadapan Cau-ji sambil
bisiknya: “Kongcu, jika kau lapar sekali, makanlah bola api ini!”
Cau-ji bukan orang bodoh, tentu saja dia pun tahu kalau nona itu keberatan
jika dia yang makan benda tersebut, maka katanya sambil tertawa: “Nona,
barang itu kecil sekali, mending tidak kumakan, aku kuatir kalau dimakan
malah semakin terasa lapar!”
“Kalau begitu siaumoay tidak sungkan-sungkan lagi” kata Su gi-gi sambil
tertawa, habis berkata ia masukkan Lwe-wan dari naga sakti itu ke dalam
mulutnya dan mulai dihisap pelan-pelan.
Cau-ji merasa semakin kelaparan, katanya kemudian sambil tertawa: “Nona,
biar aku berkeliling di sekitar sini, siapa tahu di tempat ini masih ada jalan
keluar lainnya?’
Memang ucapan macam itu yang diharapkan Su Gigi, dia segera mengangguk,
katanya berlagak kuatir “Kau mesti hati-hati….”
Cau-ji mengangguk dan segera berlalu dari situ.
Menanti hingga pemuda itu lenyap dari pandangan mata, Su Gi-gi menghisap
sekali lagi cairan dalam Lwe-wan itu kemudian duduk bersila dan mulai
mengatur pernapasan.
Tak selang berapa saat kemudian ia merasakan sekujur badannya amat segar,
ia tahu pasti berkat khasiat bola api, kembali dia hisap cairan itu satu tegukan.
Tak lama kemudian ia merasakan munculnya aliran panas dari tan-tiamnya
dan secepat kilat menyebar ke seluruh jalan darah pentingnya, ia merasa
badannya makin lama semakin enteng dan makin segar.
Tujuan yang utama bagi orang yang belajar silat adalah tembusnya urat jinmeh
serta tok-meh, Su Gi-gi tahu, kedua nadi penting itu sudah tembus, saking
girangnya air mata bercucuran membasahi pipinya.
Tanpa terasa dua jam sudah lewat, gelombang hawa panas yang semula
menggelora dalam dadanya lambat laun bertambah tenang, kini hawa panas itu
berubah jadi aliran tenaga yang sangat lembut.
Selesai bersemedi, Su Gi-gi mulai berpikir “Kenapa aku tidak sekalian
habiskan bola api ini? Daripada diberikan ke dia, kenapa tidak aku kuasai
sendiri?”

Berpikir begitu dia segera mengambil sisa setengah dari Lwe-wan itu dan
mulai dihisap cairannya, kali ini bukan hanya cairannya saja yang dihisap
bahkan kulit luarnya pun ikut dilahap.
“Perduli amat bagaimana akibatnya,” demikian ia berpikir, “toh saat ini jinmeh
dan tok-mehku sudah tembus, bila terjadi apa-apa, paling tidak aku masih
bisa mengendalikan diri.”
Siapa tahu setelah bersemedi satu putaran, ia merasa tubuhnya makin lama
semakin panas, bukan saja tan-tiamnya seperti dibakar, sekujur badannya
seakan terjerumus dalam lautan api, panasnya bukan kepalang.
Buru-buru dia pejamkan mata sambil pusatkan pikiran, dia berusaha
mengendalikan menyebarnya hawa panas itu ke seluruh badan.
Sayang usahanya tidak membuahkan hasil, bukan saja hawa panas itu sukar
terkendali, bahkan ibarat api yang membakar ladang ilalang, dalam waktu
singkat setiap bagian tubuhnya terasa panas bagai dibakar.
la kuatir mengalami Cou-hue-jip-mo (jalan api menuju neraka), sambil
menggertak gigi dia berusaha keras mengendalikan diri.
Tak selang berapa saat kemudian tampak bibirnya mulai pecah dan terluka,
cucuran darah segar mulai meleleh keluar.
Bukan hanya begitu, bahkan dia mulai membayangkan adegan bercinta yang
dilakukan anak buahnya belum lama berselang.
Semakin dibayangkan dia merasa semakin terangsang, napsu birahinya
bangkit dan berkobar, akhirnya ia tak kuasa menahan diri lagi, kutangnya mulai
dicampakkan bahkan celana tipis yang dikenakan untuk menutupi auratnya
juga mulai dirobek, mulai dicabik dan dibuang jauh-jauh.
Tak lama kemudian ia sudah tampil dalam keadaan bugil, payudaranya
kelihatan sangat montok, bulu hitam menghiasi pangkal pahanya membuat
gadis itu nampak jalang dan merangsang, bahkan napasnya mulai kedengaran
ngos-ngosan.
Hawa panas yang membakar seluruh tubuhnya membuat ia menggeliat ke
sana kemari mencari penyaluran.
Pada mulanya dengan menghajar bebatuan di sekitar gua membuat badannya
terasa agak segar, tapi sejenak kemudian ia mulai tersiksa.
Gempuran-gempurannya bukan saja tidak mampu menghilangkan hawa
panas yang merangsang napsu birahinya, bahkan semakin lama dia semakin tak
tahan.
Sementara itu Cau-ji dengan menahan rasa lapar balik kembali ke mulut gua,
dia saksikan mutiara anti air masih tetap memancarkan sinar terang di situ.
Tapi mulut gua sudah tersumbat oleh reruntuhan batuan, dia mencoba untuk
mendorong, namun ibarat mendorong bukit karang, bebatuan itu sama sekali
tak bergeming.
Dia mencoba berulang kali namun hasilnya tetap nihil, akhirnya sambil duduk
di lantai pikirnya: “Wah, tampaknya dasar telaga telah ditimbuni reruntuhan
bukit karang, ini berarti untuk bisa keluar dari sini, aku harus menyingkirkan
batu besar itu.”
Maka dia pun duduk bersemedi sambil mengatur pemapasan, dia harus
menghimpun seluruh kekuatannya untuk menyingkirkan batu besar itu, sebab
kalau tidak, dia bakal mati kelaparan.
Entah berapa saat sudah lewat, pemuda itu baru mendusin dari semedinya
ketika dari kejauhan dia mendengar suara nona itu sedang berteriak-teriak,
semula dia menduga gadis itu telah bertemu dengan musuh tangguh, maka

buru-buru ia selesaikan semedinya dan berlarian menuju ke arah sumber suara
tadi.
Dia baru berseru tertahan setelah melihat gadis itu sedang mencak-mencak
macam orang kalap dalam keadaan telanjang bulat.
Waktu itu Su Gi-gi sudah tak mampu menahan napsu birahinya, begitu
melihat munculnya Cau-ji, dia bersorak kegirangan dan langsung menerjang ke
arahnya.
Buru-buru Cau-ji mundur selangkah.
Gagal dengan terjangannya yang pertama, Su Gi-gi menerkam sekali lagi
dengan kecepatan tinggi.
Pada waktu itu tenaga dalam yang dimiliki kedua orang itu boleh dibilang
tidak selisih banyak, posisi Cau-ji justru lebih dirugikan karena gerakan
tubuhnya tidak sehebat Su Gi-gi, tidak sampai tiga gebrakan kemudian bahu
kanannya sudah kena dicengkeram.
“Nona, mau apa kau?” teriak Cau-ji setelah merasakan separuh badannya
kesemutan dan kaku.
Su Gi-gi sama sekali tidak menjawab, sambil tertawa cekikian dia mulai
melucuti pakaian yang dikenakan pemuda itu sehingga sekejap mata kemudian
Cau-ji sudah berada dalam keadaan telanjang bulat.
“Hey nona, kau sudah gila?”
Su Gi-gi sama sekali tidak menggubris, kembali ia totok jalan darah kakunya
kemudian menubruk ke dalam pangkuannya.
“Blaaamm!” tubuh Cau-ji roboh tertelentang di atas tanah, sambil mengaduh
kembali pemuda itu berteriak: “Nona, kau … kau sudah gila?”
Waktu itu dengus napas Su Gi-gi sudah memburu bagai dengus napas
kerbau, begitu menubruk badan Cau-ji dan menindihinya, dia langsung
menggesekkan tubuh bagian bawahnya ke atas “ular berbulu kecil” milik Cau-ji
yang masih mengkeret kecil.
Cau-ji dapat merasakan sekujur badan nona itu panas bagai kobaran api,
dengusan napasnya juga panas sekali, sambil berteriak bocah itu mulai berpikir
apa gerangan yang telah terjadi.
Sepandai-pandainya bocah ini, bagaimanapun dia belum dewasa, pikiran serta
reaksi badannya juga belum tumbuh jadi dewasa dan matang sehingga dia sama
sekali tak tahu apa yang sebetulnya telah terjadi.
Sudah setengah harian Su Gi-gi menggesekkan tubuh bagian bawahnya di
atas “uiar berbulu kecil” milik Cau-ji, tapi lantaran tegang bercampur takut,
tentu saja si “ular berbulu kecil” miliknya sama sekali tak mau “berdiri tegak”,
hal ini membuat gadis itu makin tersiksa.
Dalam gelisahnya tiba-tiba dia tangkap ular berbulu kecil itu, lalu sesudah
dipaskan ke lubang surga miliknya, dia tekan kuat-kuat ke bawah.
Sayang si ular berbulu kecil itu kelewat lembek, bagaimanapun dijejalkan, ia
gagal menjejalkannya ke dalam lubang surga miliknya.
Waktu itu Cau-ji sudah dibikin kesakitan setengah mati, dia mendengus
berulang kali, masih untung jejalan itu tidak membuat miliknya lecet.
Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Su Gi-gi, ia teringat pernah
melihat seorang anggota perkumpulannya sedang bermain “seruling”, waktu
melihat adegan itu untuk pertama kalinya, dia merasa jijik dan mual, tapi ketika
dibayangkan kembali sekarang, tiba-tiba gadis ini merasa miliknya semakin geli
dan gatal….

Tanpa berpikir panjang lagi dia merangkak ke atas tubuh Cau-ji, kemudian
dengan bibirnya yang kecil dia masukkan si ular berbulu kecil ke dalam
mulutnya, kemudian mulai menghisap dan menghisap terus kuat-kuat ….
Cau-ji sama sekali tak mengira kalau si nona akan melakukan tingkah laku
seaneh itu, teriaknya tak tahan: “Hey nona, jangan sembarangan ….”
Su Gi-gi sama sekali tidak menggubris, dia meneruskan hisapannya dengan
penuh bersemangat, tak lama kemudian ia jumpai si ular berbulu kecil sudah
mulai bernyawa dan mulai bisa menganggukkan kepalanya.
Terkejut bercampur girang gadis itu semakin memperkuat hisapannya,
bahkan dimasuk keluarkan di dalam mulutnya dengan lebih cepat.
Cau-ji malu bercampur gelisah, selembar wajahnya mulai berubah jadi merah
padam.
Tak lama kemudian si ular berbulu kecil sudah berdiri tegak, bahkan mulai
menggelembung besar.
Su Gi-gi coba mengeluarkan si ular itu dari mulutnya, ia saksikan si ular kecil
kini telah berubah jadi ular besar, bahkan si ular pun sudah pandai
mengeluarkan “kepala’nya dari balik bungkusan kulit, betul bentuknya tidak
sebesar apa yang pernah dilihatnya di masa lalu, paling tidak posisi tegang dan
keras dari si ular berkepala botak itu sudah cukup untuk memenuhi hasratnya.
Kembali dia menunggang di atas tubuh pemuda itu, merentangkan mulut
guanya lebar-lebar dan segera mendudukinya kuat-kuat.
“Aduuh” gadis itu menjerit kesakitan, tapi ia tetap menggertak gigi sambil
menekankan badannya lebih ke bawah, dia ingin si ular besar berkepala botak
itu bisa menghujam lebih dalam di balik gua surganya.
Cau-ji segera merasakan ular berkepala botak miliknya seolah-olah direndam
di dalam “botol air” yang hangat sekali, selain sakit juga panas, tapi rasanya
kencang dan nyaman, barang miliknya seolah-olah terbungkus sangat rapat di
bagian yang hangat itu dan serasa disedot-sedot.
Dalam keadaan begini dia pun tak bisa mengatakan saat itu terasa sakit atau
nikmat?
Su Gi-gi sendiri pun baru pertama kali ini bersetubuh, kehilangan selaput
perawan memang membuatnya kesakitan, tapi setelah beristirahat sejenak,
apalagi terdorong oleh gejolak hawa panas dalam tubuhnya, sambil menggertak
gigi dia mulai menggoyang tubuhnya, menggeliat, berputar dan naik turun tiada
hentinya….
Sekali dia bergerak, maka gerakan seterusnya tak bisa dicegah lagi, ditambah
pula semakin dia menggerakkan badan, lubang surga miliknya terasa makin geli,
gatal dan nikmat, maka dia pun menggoyangkan tubuhnya semakin menggila.
Mula-mula dia menggoyangkan badannya dalam posisi berjongkok, ketika
lama kelamaan kakinya mulai linu, dia pun berganti menggunakan lutut untuk
menggerakkan tubuhnya naik turun.
Ketika lututnya mulai sakit, dia pun menindihi badan Cau-ji dan bergoyang
terus….
“Crooot … crooot … plaaak … plaak” suara bebunyian aneh bergema mengikuti
irama tubuhnya yang naik turun, bergoyang, berputar dan menggeliat.
Cau-ji si bocah kemarin sore yang belum pernah menerima pendidikan seks,
boleh dibilang sama sekali tak mengerti apa gerangan yang dilakukan gadis itu,
melihat si nona masih saja menggerakkan tubuhnya naik turun hingga
bermandikan keringat, beberapa kali dia membujuknya agar beristirahat dulu.
Tapi gadis itu tidak menggubris, bukannya beristirahat, goyangan tubuhnya
semakin menggila.

Mula-mula Cau-ji merasa agak tersiksa dengan tingkah laku gadis itu, tapi
lama kelamaan dia pun mulai merasakan nikmatnya permainan aneh ini,
sekarang dia mulai mengimbangi gerakan nona itu.
Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba terlihat gadis itu gemetaran keras,
lalu diiringi rintihan lirih dan senyum kepuasan ia menghentikan semua gerakan
anehnya.
Cau-ji merasakan dari bagian bawah tubuhnya mengalir keluar sejenis cairan
yang pekat, tanpa terasa pikirnya: “Gadis ini aneh betul, orangnya sih cantik,
tapi kenapa sukanya mengencingi orang? Mau kencing ya jangan di atas milik
orang lain!”
Sebetulnya dia mau menegur, tapi melihat gadis itu sedang memicingkan
matanya sambil menikmati, dia pun tak tega, kembali pikirnya: “Hai, mungkin
dia lagi kesetanan, ya sudahlah, paling banter aku mandi sekali lagi, mau
dikencingi ya biar saja dia kencing….”
Maka dia pun pejamkan matanya membiarkan gadis itu kencing semaunya
sendiri.
Begitu pejamkan mata bocah itu merasa seluruh badannya segar, lega dan
nikmat sekali, tanpa terasa dia pun tertidur nyenyak.
Sejak berada dalam gua dingin tempo hari, boleh dibilang Cau-ji tak pernah
tidur nyenyak, sebab setiap setengah hari dia mesti bersiaga menghadapi
serangan angin puyuh berpusing.
Hari ini, secara tidak sengaja dia telah bermain cinta dengan Su Gi-gi,
walaupun dia tak tahu kalau cairan pekat yang meleleh keluar itu sesungguhnya
adalah cairan yang keluar dari miliknya karena mencapai puncak kepuasan,
namun dengan terjadinya hubungan badan itu, secara tidak sengaja hawa murni
yang terhisap oleh Su Gi-gi dari bola api naga itu ikut mengalir masuk ke dalam
tubuh Cau-ji, hal mana membuat seluruh hawa murni im-khi milik si nona
terhisap hingga habis.
Tampaknya gadis itu sedang tidur pulas di atas badan Cau-ji sambil tertawa
puas, padahal selembar nyawanya sudah melayang meninggalkan raganya.
Selama hidup Su Kiau-kiau sudah seringkah menghisap hawa yang-khi milik
kaum lelaki, entah berapa banyak nyawa manusia yang hilang di tangannya,
sungguh tak nyana hari ini anak gadisnya justru kehilangan juga nyawanya
karena hawa Im-khi miliknya terhisap oleh lelaki lain.
Mungkinkah ini yang disebut hukum karma?
Begitu tertidur Cau-ji terlelap sampai dua belas jam lamanya, selama satu hari
satu malam ini hawa murni Kui-goan-sinkang di dalam tubuhnya telah DergeraK
dan berputar secara otomatis.
Dengan menghisap sari hawa dingin yang dimiliki Su Gi-gi ditambah kekuatan
yang terbentuk dari Lwe-wan milik naga sakti, tenaga dalam Cau-ji saat ini boleh
dibilang sudah mencapai puncak kesempurnaan.
Ketika membuka matanya kembali, dia merasakan ada sebuah tubuh yang
membujur dingin dan kaku masih menindih di atas badannya, ia terkejut dan
hampir saja menjerit
Tapi ia segera teringat kalau nona itu adalah si gadis yang tadi kencing di
tubuhnya, tapi kenapa dia tertidur begitu nyenyak?
“Hey nona, ayo bangun!” seru Cau-ji kemudian.
Sudah berulang kali dia memanggil tapi gadis itu masih saja tidur nyenyak,
tanpa terasa dia goyangkan bahunya berulang kali sambil memanggil, siapa tahu
si nona tetap tak menggubris.

Cau-ji semakin keheranan, tiba-tiba ia merasa gadis itu bukan saja tubuhnya
sudah dingin kaku bahkan seakan-akan tak bernapas, dalam gugup dan
tegangnya cepat dia periksa pemapasan orang.
Akhirnya sambil menjerit kaget Cau-ii mendorong tubuh gadis itu kuat-kuat,
lalu keluhnya: “Kenapa gadis itu bisa mati di tanganku? Oooh Thian, kenapa aku
… aku jadi seorang pembunuh? Kalau sampai berjumpa keluarganya, bagaimana
caraku bertanggung jawab?”
Kasihan Cau-ji, walaupun dia merdapat banyak pengalaman aneh, tapi
batinnya tersiksa karena dia anggap pembunuh gadis tersebut adalah dirinya

bersambung  pendidikan-seorang-ibu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: