Keluarga, Cinta dan Masa Depan

Judul Asli : Winter Heart @ Haviati Oktora (Bandung)

Mira terpaksa pulang ke Indonesia saat saudara kembarnya, Amila, menghilang dua minggu sebelum pernikahannya. Keluarga tunangan Amila marah besar saat tahu calon menantu mereka menghilang dan mengancam akan menuntut keluarganya jika sampai hari pernikahan, Amila tidak ditemukan. Demi keluarganya, Amira mencoba mencari sang saudara kembar, meski untuk itu dia harus mempertaruhkan cinta dan masa depannya.

Pulang
Amira termangu menatap telepon yang baru saja ditutupnya. Telepon dari Ayahnya yang tak lebih dari 5 menit tadi membuat hatinya resah.

“Penting, Mi. Kami membutuhkanmu di sini,” suara ayahnya terdengar lemah. Nampak sekali beliau mencoba menahan emosi yang mungkin sedang bergejolak, meskipun Amira tidak tahu apa yang sudah terjadi.

” Mi, sedang apa bengong di situ?” suara Fey, teman sekamarnya membuat Amira sedikit terlonjak kaget.

“Telepon dari siapa, Mi? Sampai membuatmu bengong begitu?” Tanya Fey lagi.

Amira menghela nafas panjang sebelum menjawab.

“Dari rumah, Fey.”

“Ada apa? Apakah ibumu sakit lagi?” mata Fey membulat dengan tatapan khawatir. Dia ingat, dua bulan yang lalu Amira sempat menangis saat menerima kabar ibunya jatuh pingsan dan masuk UGD.

“Tidak, ibu baik-baik saja,”geleng Amira. “Aku… tadi ayahku yang menelpon. Beliau menyuruhku pulang.”

“Ada apa?”

“Entahlah,” geleng Amira. “Tapi nampaknya Ayah sedang sangat cemas.”

“Lalu apakah kau akan pulang? Bukankan dua minggu ini kau harus ikut ujian tengah semester?”

Amira terdiam. Jika dia pulang sekarang, kemungkinan dirinya tidak bisa mengikuti ujian itu. Tapi jika tidak pulang…

“Mungkin aku akan pulang dulu, Fey,” putusnya kemudian. “Aku tidak akan tenang jika terus ada di sini tanpa tahu apa yang terjadi. Jika besok aku pulang, aku punya tiga hari untuk membantu keluargaku… jika ternyata ada masalah,”gadis itu sedikit termangu sebelum dengan cepat menyambung perkataannya. “Semoga tidak terjadi apapun,” lanjutnya pelan. “Aku mungkin bisa balik lagi kesini hari Minggu, sebelum ujian dimulai.”

“Kenapa kau tidak menelpon kakakmu dulu untuk mencari tahu apa yang terjadi. Mungkin jika masalahnya tidak urgent kau bisa pulang setelah ujian, seperti rencanamu sebelumnya. Seoul-Bandung bukan jarak yang pendek,Mi.”

Amira mengamati wajah sahabatnya dengan takjub.

“Kau benar!” serunya. “Ah.. tumben kau cerdas!” cengirnya kemudian. Fey mengerucutkan bibirnya, membuat Amira tergelak kecil.

“Aku telepon Mila dulu kalau begitu.”

Dengan riang gadis itu kembali meraih telepon. Namun saat sampai jauh malam kakaknya itu tidak kunjung mengangkat teleponnya, Amira kembali dilanda kecemasa sebelum akhirnya mulai mengepak baju yang akan dibawanya pulang ke Indonesia.

****

Surat Amila

“A-apa?” mata bulat Amira melebar. “Apa maksud ayah? Kak Mila… kak Mila pergi?”

Dilihatnya sang ayah mengangguk. Wajah yang biasanya nampak tenang itu kini terlihat resah.

“Pergi kemana?” tanya Amira lagi. Kini ayahnya nampak menggeleng. “Ayah tidak tahu. Kakakmu hanya meninggalkan surat ini.”

Amira meraih selembar kertas yang disodorkan ayahnya. Surat dari Amila.

Untuk ayah dan ibu..

Maaf.. Mila pergi tanpa memberitahu ayah dan ibu. Keputusan Mila untuk pergi sudah Mila pikirkan masak-masak. Mila tahu, ini akan membuat ayah dan ibu kecewa. Dan bahkan mungkin akan Mila sesali suatu saat nanti.Tapi Mila benar-benar harus pergi agar Mila tahu, apakah yang Mila kejar sekarang benar-benar akan menjadi kebahagian Mila.

Mila tahu Mila egois. Maafkan Mila.

Sampaikan juga maaf Mila untuk Mas Tyo dan keluarganya.

Suatu saat nanti, Mila pasti pulang untuk minta maaf langsung pada kalian semua.

Sayang selalu untuk mama dan papa

Amila

Dengan lengan gemetar, Amira melipat surat dari kakak kembarnya itu.

“Jadi… kak Mila membatalkan pernikahan?” bisiknya pelan.

“Ya,” angguk sang ayah lemah.

“Apa keluarga tunangan kak Mila sudah tahu masalah ini?”

“Mereka sudah tahu dan…,” laki-laki paruh baya itu meneguk ludahnya,gugup.

“Dan apa?” Amira menatap tak sabar.

“Mereka sangat marah.”

Tentu saja, batin Amira. Gadis itu masih terdiam untuk medengarkan apa yang akan dikatakan ayahnya selanjutnya.

“Mereka tidak mau membatalkan pernikahan.”

“Apa?!” Amira berseru kaget. “Tapi Kak Mila sudah pergi. Bagaimana bisa pernikahan bisa tetap dilangsungkan?”

“Mereka keluarga terpandang, Mi. Bagi mereka, kepergian Mila bisa mencoreng nama baik keluarga. Meski undangan belum disebar, tapi berita pernikahan ini sudah diketahui banyak kerabat dan rekan bisnis mereka. Karena itu mereka memaksa kita untuk mencari Mila sampai ketemu. Jika sampai hari pernikahan Mila belum ketemu juga, mereka…,” ayah berhenti sejenak. Nampak sekali beliau mencoba untuk menenangkan diri.

” Mereka… apa?” Amira mengamati ayahnya dengan dada berdebar resah.

” Mereka… akan menuntut keluarga kita.. atas dasar pencemaran nama baik dan.. penipuan.”

Suara ayahnya pelan, namun mampu membuat Amira meloncat dari duduknya dengan wajah membeliak kaget

Ragu
Radityo Lazuardi Wardhana

Amira mengamati foto laki-laki yang menjadi tunangan sang kakak itu lekat-lekat. Tampan, nampak dewasa, dan terkesan memiliki aura kekuasaan yang kental. Pantas memang, mengingat laki-laki ini adalah pewaris sebuah perusahaan nasional yang cukup besar dan menduduki jabatan penting di perusahaan itu. Dilihat dari segi manapun, rasanya mustahil ada wanita yang bakal menolak dijadikan istri olehnya. Amira tidak habis pikir, apa yang dikejar kakaknya sampai-sampai rela melepas tunangan yang nota bene menjadi incaran banyak wanita di negeri ini.

Amira sendiri belum pernah sekalipun bertemu dengan Tyo. Sejak menyelesaikan SMA nya tiga tahun yang lalu, dia langsung pergi ke Korea karena mendapatkan beasiswa untuk kuliah di sana semetara Amila meneruskan pendidikannya di sebuah perguruan tinggi swasta di Bandung. Pertemuan Amila dengan Tyo terjadi beberapa bulan yang lalu disebuah pesta tahun baru. Tak disangka, setelah beberapa kali berkencan, mereka memutuskan untuk bertunangan. Amira hanya sempat menelpon kakak kembarnya itu di hari pertunangan mereka. Mengucapkan selamat dan berjanji akan pulang di hari pernikahan nanti. Tapi siapa sangka, pernikahan itu kini terancam gagal dengan menghilangnya sang calon pengantin wanita.

Amira menghela nafas resah. Keluarga Wardhana adalah keluarga terpandang dan berpengaruh. Bermasalah dengan mereka sama artinya dengan mencari mati. Ancaman penuntutan jika pernikahan sampai batal bukanlah ancaman kosong. Dan sungguh, hal ini jadi masalah yang sangat besar bagi keluarganya.

Tapi bukan berarti tidak ada jalan keluar sama sekali, bukan? hati Amira berbisik.

Gadis itu tertegun. Matanya beralih pada foto kembarannya yang terpampang besar di atas kepala tempat tidur.

Memang akan sangat sulit mencari Amila. Ayahnya sudah menghubungi hampir seluruh saudara, teman, dan kenalan Amila tapi tak ada satu petunjuk pun tentang keberadaan Amila yang didapat. Mencari dalam waktu kurang dari dua minggu bukanlah hal yang mudah. Jika Amila tidak ditemukan juga, maka keluarganya harus bersiap-siap berurusan dengan hukum.

“Tidak boleh!” geleng Amira menolak bayangan yang ada di kepalanya. “Jangan sampai ayah dan ibu mengalami hal itu. Aku tidak mau!”

Terbayang kondisi ibunya yang terbaring sakit saat ini.

“Pasti ada jalan keluarnya!” Amira mencoba meyakinkan dirinya sendiri.

Kembali ditatapnya foto laki-laki yang menjadi tunangan kakaknya itu.

“Saatnya aku mengunjungimu, calon kakak ipar,” senyumnya kemudian.

Dengan tekad yang mulai memenuhi dadanya, Amira keluar dari kamar kakaknya dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Tak sampai 15 menit kemudian gadis itu sudah membelah jalanan kota Bandung dengan motor yang dikendarainya.

****

Masih dengan terheran-heran Amira menekan tombol angka 20 di lift di dalam gedung Wardhana Coorporation Group. Sejak dirinya masuk loby, hampir semua orang yang berpapasan dengannya mengangguk hormat. Bahkan resepsionis yang dihampirinya pun nampak sigap menyambut dan dengan sikap hormat mintanya langsung naik ke lantai 20, lantai dimana sang big bos berada.

Saat menatap pantulan wajahnya di dinding lift, barulah Amira tersadar. Orang-orang itu pasti mengira dirinya Amila!

“Hfff… pantas saja mereka bersikap sangat sopan, ” Amira meringis sendiri. Sudah lama dia tidak merasakan hal seperti ini. Saat mereka masih bersama dulu, tak jarang orang-orang salah mengenali mereka, meski sebenarnya, sifat dan perilaku mereka jauh berbeda.

Amila cenderung lebih supel darinya. Penampilannya juga sangat feminim dan suka akan hal-hal yang bersifat seni. Menyanyi dan menari adalah keahlian Amila. Meski sebenarnya dia pintar tapi Amila tidak tertarik sama sekali dengan yang namanya pelajaran sehingga sekolah hanya dianggapnya sebagai pengisi waktu luang dan agar tidak diomeli orang tua mereka.

Sementara dirinya, meski sama-sama suka seni, dia lebih suka mengejar impiannya untuk menjadi ahli kelautan. Untuk itu dia mati-matian belajar keras untuk dapat beasiswa di luar negeri agar peluang karirnya kelak lebih terbuka.

Dilihat dari segi penampilan pun mereka bagai bumi dan langit. Amila selalu nampak fashionable. Rambut dan make up yang selalu mengikuti trend, baju yang stylist, pokoknya selalu up to date. Sementara dirinya… Amira kembali mangamati pantulannya di dinding. Sejak SMA model rambutnya tidak pernah berubah. Selalu panjang. Masalah fashion pun tidak mengalami perubahan meski sudah 3 tahun tinggal di negeri yang sekarang menjadi trend centernya anak muda. Amira tidak pernah mempermasalahkan baju apa yang dipakainya. Trend fashion atau old fashion dia tidak peduli. Yang penting nyaman di pakai.

Suara denting lift menghentikan celotehan hatinya. Dadanya mendadak berdebar kencang begitu pintu terbuka. Sebuah ruangan yang dihampari karpet berwarna merah segera menyambut. Suasananya lebih terasa elegan. Udara sejuk AC kualitas tinggi juga menyambut langkah kakinya sekeluarnya dari lift.

Rasa gugup Amira semakin menjadi. Entah kemana perginya tekad yang tadi menggebu-gebu.

Gadis itu berhenti sejenak untuk mengambil nafas.

“Tenang, Amira. Kau sudah sejauh ini. Ayo terus maju! Demi orang tuamu!” hatinya kembali menyemangati.

Teringat orang tuanya membuat tekadnya kembali. Gadis itu melangkahkan kakinya lagi, menghampiri seorang perempuan cantik yang tengah asyik menekuri komputer di ruangan di ujung lorong yang ditelusurinya kini. Pintu besar di samping meja perempuan itu pastilah ruangan direkturnya.

“Ehem..” Amira berdehem sejenak untuk meredakan kegugupannya. Perempuan di depannya nampak terlonjak kaget. Amira tersenyum.

” Selamat.. so..”

“Nona Amila!!” perempuan itu terperangah. Lalu buru-buru berdiri dan menunduk hormat.

” Ah.. pasti mau bertemu Pak Tyo. Sebentar, saya beritahu dulu.beliau kalau anda datang,” perempuan itu meraih telepon dan bersiap menekan tombol penghubung ke ruangan bosnya.

” Sebentar, Mbak!” cegah Amira cepat. “Saya memang ingin ketemu Pak Tyo, tapi… saya bukan Amila,” jelasnya kemudian.

“Eh?” perempuan di depannya terperangah heran.

“Saya Amira. Adiknya Amila.”

“Adik-nona… Amila?” perempuan itu masih nampak heran. Amira mengangguk.

“Ya. Adik kembar.”

“Oh.. ,” masih dengan terheran-heran, perempuan di depannya mulai menekan tombol untuk menghubungi atasannya.

Perjanjian

Kembali Amira menghela nafas, mencoba meredakan kegugupan yang semakin menjadi begitu sekretaris Radityo Lazuardi Wardhana mempersilahkannya untuk masuk. Amira merasakan lututnya gemetar saat mengjnjak ruangan besar berlapis karpet mewah itu. Matanya menangkap sosok tubuh tegap yang berdiri di seberang ruangan, bersender di sebuah meja kerja besar, dilatar belakangi pemandangan Bandung di sore hari yang terlihat jelas dari jendela lebar di belakangnya.

Sosok Radityo Lazuardi Wardhana ternyata jauh lebih tinggi dari bayangannya. Mata laki-laki itu sangat tajam menghujam, mengamati. Amira merasa sedikit terintimidasi dengan cara laki-laki itu memandang. Barkali-kali gadis itu menelan ludah. Sangat gugup sebenarnya. Tapi, saat menyadari Tyo hanya mengamatinya tanpa bersuara apapun, Amira mencoba mengusir kegugupannya jauh-jauh.

“Selamat sore,” sapa Amira seraya berdoa agar suaranya terdengar wajar. Kedua kaki langsingnya melangkah mendekat.

“Maaf, mengganggu anda. Saya Amira, adiknya Amila,” demi kesopanan Amira mengulurkan tangan. Tapi uluran tangannya tidak bersambut. Tyo masih mengamatinya dalam diam. Setelah beberapa saat akhirnya gadis itu menurunkan tangannya dengan hati dongkol.

“Saya datang untuk bicara tentang kakak saya. Bisakah kita…”

“Apa dia sudah kembali?” suara itu terdengar sangat dingin.

Amira menggeleng. ” Belum.”

“Kalau begitu kembalilah lima hari lagi. Itupun kalau kakakmu sudah kembali. Jika tidak, sepertinya kita akan bertemu di pengadilan,” Tyo melambaikan sebelah tangan seolah menyuruhnya pergi. Lalu dengan santai berjalan memutari meja untuk duduk di kursinya yang nampak empuk.

” Tu-tunggu!” alih-alih pergi, Amira malah melangkah tergesa menghampiri meja kerja Tyo. “S-saya datang untuk berkompromj dengan anda!”

“Kompromi? kompromi seperti apa?”

“Saya akan mencari kak Mila sampai ketemu. Tapi bisakah waktu yang anda berikan diperpanjang? Lima hari rasanya terlalu singkat. Kami bahkan belum menemukan petunjuk sedikitpun.”

“Diperpanjang?” alis tebal dan tegas itu nampak berkerut. “Tidak.. itu tidak mungkin.”

“Kenapa?”

“Hampir semua kenalan keluarga Wardhana sudah tahu, pernikahan akan berlangsung dua minggu lagi. Hotel sudah disewa, cathering dan yang lainnya juga sudah siap. Undangan pun sudah siap cetak. Tinggal menunggu kepastian nama siapa yang akan tercetak diundangan tersebut.”

“Jika kak Mila tidak ditemukan, toh tetap saja pernikahan itu tidak akan berlangsung.”

“Siapa bilang?” bibir Tyo menggaris sinis. “Akan ada banyak wanita yang rela menggantikan nama kakakmu dalam undangan pernikahan. Dan untuk keluargamu, sebuah tuntutan siap dilayangkan jika saja dalam 5 hari kakakmu itu belum kembali.”

Amira menatap laki-laki didepannya dengan sedikit keki mendengar betapa percaya dirinya dia saat mengatakan banyak wanita yang bersedia menikah dengannya.

Namun cepat ditepisnya rasa kekinya jauh jauh.

“Apa.. kaburnya pengantin perempuan dapat diadukan ke pengadilan?” tanyanya sangsi.

“Tentu saja bisa, apalgi kalau pengantin perempuan itu kabur dengan membawa uang ratusan juta milik pengantin laki-laki.”

“A-apa?” untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini, Amira terhenyak kaget. “Maksudmu… kakakku…”

Tyo pelan berdiri, lalu mencondongkan badannya dengan kedua tangan bertumpu di meja, membuat jarak antara wajahnya dan wajah Amira hanya sekitar 30 senti saja.

Ditatapnya mata bulat Amira lekat-lekat. Baru disadarinya betapa hitam kelamnya bola mata itu.

“Betul sekali, Nona. Kakakmu sudah pergi dengan membawa uangku. 700 juta.”

“Ba-bagaimana bisa?” Amira hampir kehilangan suara saking shocknya.

“Uang biaya pernikahan plus sedikit uang untuk biaya tak terduga yang aku titipkan padanya,” jelas Tyo tenang. “Tapi uang itu bukan masalah utama. Kakakmu juga sudah membawa pergi set perhiasan keluarga yang secara turun temurun diwariskan pada calon menantu perempuan yang menikah dengan pewaris keluarga. Jika dinominalkan harganya lebih dari 1 milyar. Jadi sungguh sangat pantas kalau masalah ini dibawa ke pengadilan, bukan?”

Amira membalas tatapan calon kakak iparnya itu dengan ngeri. Matanya mengerjap panik. Dia tidak tahu lagi apa yang bisa dia pakai untuk berkompromi sekarang.

“Kumohon…,” Amira kembali berbisik. “Ayah dan ibuku tidak tahu apapun. Mereka tidak bersalah. Jangan memasukkan mereka ke penjara.”

“Oya? Tidak bersalah?”kembali nada suara sinis keluar dari mulut laki-laki itu. “Kenapa ya, aku merasa sepertinya kalian bersekongkol?”

“Tidak!!” geleng Amira cepat. “Sungguh, ayah dan ibu.. juga aku tidak memegang sesikitpun uang itu. Juga tentang perhiasannya. Kami sungguh tidak tahu!”

Tyo kembali mengamati gadis di depannya. Meski sangat mirip dengan tunangannya, tapi aura yang keluar dari keduanya sungguh berbeda. Ada kesan rapuh yang terlihat dari diri Amira. Terlebih disaat panik seperti sekarang. Kegugupan Amira jelas terlihat sejak pertama kali dia masuk, meski Tyo yakin gadis itu mencoba menyembunyikannya serapi mungkin. Berbeda dengan kembarannya yang selalu nampak percaya diri di segala situasi.

“Kakakmu sudah mengambil harta berharga keluargaku.”

“Saya akan mencarinya!!” Amira berkata cepat. ” Kak Mila pasti akan saya temukan!!”

Sesaat sebuah tekad bulat terpancar dari mata Amira.

“Kalau dalam 5 hari tetap tidak ketemu?” tantang Tyo.

Kepanikan dengan cepat mengganti sorot penuh tekad tadi. Diam-diam Tyo menahan senyumnya.

” Itu… itu…”

“Kaluargamu tida bisa apa apa, kan? Jadi…”

“Akan kulakukan apapun!” potong Amira cepat. “Asal jangan memasukkan orang tuaku ke penjara.”

“Apapun? Contohnya..?”

Amira kembali mengerjap-ngerjap bingung.

“Contohnya… contohnya…,” dalam hati gadis itu mengumpat. Tidak ada satu ide pun yang terlintas di otaknya.

“Kau bahkan tidak tahu apa yang kau katakan,” cibir Tyo. “Jadi.kurasa.. mau tidak mahbirang tuamu..”

“Apapun yang Anda minta!” sambar Amira.

Tyo tertegun.

“Apa?”

“Aku akan lakukan apapun yang Anda minta.” Suara Amira terdengar sangat lirih. Gadis itu tidak bisa memikirkan apapun lagi selain cara untuk menyelamatkan keluarganya. Meski ia tahu, sangat besar resiko yang harus dia tanggung dengan apa yang dia katakan barusan.

“Kau… akan melakukan apapun yang aku minta?” Tyo bertanya untuk mempertegas pernyataan Amira tadi.

Amira mengangguk.

“Apapun?”

“Apapun..,” angguk Amira lemah. “Asal jangan penjarakan orang tuaku.”

” Kau tidak akan menipuku kan?”

“Tentu saja tidak!” sungut Amira kesal. Dia adalah orang yang pantang mengingkari janji.

” Heh.. aku sangsi dengan janjimu mengingat kakakmu sudah menipuku habis-habisan.”

“Kita bisa bikin perjanjian tertulis kalau kau ragu!” sergah Amira sedikit tersinggung. “Dan saya bukan orang yang suka mengingkari janji!”

” Perjanjian tertulis…hmmm ide bagus!” Tyo menyunggingkan senyum kemenangan. “Kita akan buat perjanjian tertulis, Nona Amira. Dan jika kau sampai mengingkarinya, aku pastikan kau dan keluargamu akan mengalami hal yang lebih mengerikan dari yang kalian alami sekarang!”

Amira menahan rasa khawatirnya akan ucapan Tyo dalam-dalam.

“Saya tidak akan ingkar janji,” desisnya kemudian.

“Semoga,” Tyo kembali menyandarkan tubuhnya ke kursi kerja berlapis kulit si belakangnya. “Akan kusuruh pengacara perusahaan untuk datang sekarang. Jadi perjanjian kita akan berlandaskan hukum, Nona. Jadi jangan macam-macam.

Amira hanya sanggup mengangguk.

Diamatinya Tyo yang kini sedang menelpon pengacaranya.

“Cepatlah kau pulang, Kak.”

Dalam diam dia berdoa. Sungguh, saat ini dirinya berharap semua ini hanya mimpi.

Jika ini mimpi, semoga aku cepat bisa terbangun.. harapnya kemudian.

Langkah Pertama
Malam sudah sangat larut namun Amira masih saja terjaga di atas tempat tidurnya. Pikirannya sungguh mumet. Berkas salinan perjanjian sejak tadi tergeletak di samping tempat tidur. Terlambat untuk mundur, yang harus dia lakukan sekarang adalah mencari Amila sampai ketemu.

“Aku bahkan tidak tahu dari mana harus memulai,” desahnya kesal. Sejak kuliah di Korea, dirinya sama sekali tidak mengetahui bagaimana pergaulan saudara kembarnya itu. Yang ia tahu, Amila bekerja sambilan sebagai penyanyi sebuah group band yang sering manggung di kafe atau diundang ke acara-acara sosialita. Semua teman bandnya sudah dihubungi, namun satupun tak ada yang tahu kemana Amila pergi.

Ayahnya bahkan sudah setengah putus asa. Teman kuliah, teman SMA, teman band, semuanya sudah dihubungi. Dan hasilnya nihil.

Kini dia dengan gagahnya mengatakan bawa dlam 5 hari, ia akan berhasil menemukan Amila?!

“Ukkh.. babo yeoja!!”** gadis itu memaki dirinya sendiri.

* gadis bodoh

Jika dalam 5 hari dia tidak berhasil menemukan Amila, maka nasibnya akan benar-benar kacau.

Aku akan melakukan apapun semua permintaanmu!!

“Apa yang sudah kau katakan Amira?” Kembali otaknya menyalahkan apa yangsudah dia lakukan hari ini. “Bagaimana kalau laki-laki itu sampai memanfaatkan keadaan? Bagaimana kalau permintaannya macam-macam? Apa yang akan kau lakukan?

Amira terus bergerak-gerak gelisah. Kecemasan kembali memuncak. Ingatannya melayang pada sosok saudara kembarnya. Untuk pertama kalinya sejak dia mengetahui tentang kaburnya Amila, kemarahan mulai dirasakannya pada kakak kembarnya itu.

Diraihnya bantal untuk menutupi wajahnya.

“Kak Milaaaaaaa…!!!” Amira menjerit sekuatnya.

Kaburnya Amila membuatnya harus terjebak dalam sebuah perjanjian konyol yang akan sangat menyusahkannya kelak.  “Awas kau kalau pulang nanti!” Ancamnya kemudian.

Diliriknya jam,  hampir jam dua belas. Lebih dari 24 jam sudah dia meninggalkan Korea. Kecemasan lain mulai muncul. Rasanya hampir mustahil kembali ke Korea dalam waktu 3 hari.

Bagaimana jika dia sampai tidak bisa mengikuti ujian…

‘Ah, Amira. Keluargamu lebih penting!” hatinya mengingatkan.”Jika masalah ini sudah selesai, kau bisa denga nmudah mengejar ketertinggalanmu. Jangan dulu meresahkan kuliahmu. Sekarang fokuslah pada Amila, cari dia segera. Jangan sampai kau terikat perjanjian konyol itu!”

Amira menegakkan tubuhnya.

“Ya!!” Angguknya cepat. “Sekarang berusahalah, Amira! Tuhan pasti tidak akanmeninggalkanmu. Amila pasti ketemu!!”

Sambil tersenyum  gadis itu kembali merebahkan diri. Ditahannya keinginan untuk menelpon ke Korea. Jika saja dia tidak harus pulang saat ini, malam ini rencananya dia akan berkencan dengan    David, laki-laki blasteran Indonesia-Korea yang sudah menjadi kekasihnya dua tahun terakhir ini.

Rasanya rindu sekali…

Membayangkan wajah David saja sudah membuat hatinya tenang. “Hmm.. besok saja aku telepon. Sekarang di sana sudah hampir subuh. David mungkin sedang terlelap tidur sekarang.”

Baru saja Amira membenahi letak selimut dan mulai memejamkan mata, dering handphone terdengar, membuatnya kembali membuka mata dengan kening berkerut.

Sebuah keluhan lolos saat melihat nama yang terpampang di layar handphonenya. Nama yang jadi mimpi buruk keluarganya kini.

“Dasar tidak punya perasaan!” erangnya kesal. “Apa ia tidak pernah diajari sopan santun menelpon?”

Awalnya Amira mengabaikan telepon itu sampai akhirnya deringannya berhenti. Sebuah senyum puas menghias bibir Amira. Namun tak lama. Tak sampai semenit kemudian, deringan itu kembali muncul.

Dengan wajah ditekuk, akhirnya Amira mengangkatnya.

“Hallo?”

“Amira?” suara Tyo terdengar.

“Siapa lagi?” jawab Amira ketus.

“Ada yang harus kau lakukan besok.”

“Hei!” Amira protes. “permintaan Anda baru berlaku kalau saya berhasil menemukan Kak Mila. Dan itu masih 5 hari lagi!”

“Siapa bilang ini permintaan?” nada suara laki-laki itu terdengar tenang. “ Aku hanya ingin membantumu untuk mencari Amila.”

“Eh?” sontak Amira mencelat bangun. “Maksud Anda?”

“Besok ada launching party album baru seorang penyanyi terkenal. Amila pernah menjadi backing vocal penyanyi itu dan aku yakin, orang-orang yang akan datang ke pesta itu adalah orang-orang yang dikenal Amila. Kebetulan aku diundang, jadi besok, kau juga harus datang.”

Amira menangkap maksud tunangan kakaknya itu. “Ah, maksud Anda, saya bisa mencari info tentang Amila di sana?”

“Betul sekali! Jadi kau harus datang.”

“Ah, baiklah,” Amira mengangguk dengan semangat. “Jam berapa pestanya? Dimana?”

“Besok akan kukirim sopir untuk menjemputmu jam 4. Kau harus ke salon dulu dan memilih baju.”

“Hei, kenapa aku harus melakukan itu?”

“Tentu saja, karena kau harus datang sebagai Amila!”

Amira terjengit dengan mata membulat.

“Harus datang sebagai Amila?” desisnya tidak percaya.

“Ya. Orang-orang tidak tahu tentang kaburnya Amila. Dan jangan sampai tahu! Jadi tentu saja, kau akan datang sebagai tunanganku. Jadi pakailah otakmu untuk menggali info dari mereka tanpa harus mengatakan bahwa kau bukan Amila.”

“Eh.. tapi..”

“Sampai jumpa besok.” Dan telepon pun ditutup. Meninggalkan Amira yang masih terbengong di tempat tidurnya.

“A-apa apaan ini? A- apa maksud orang itu?”

Akhh.. Amira mengerang. Sepertinya malam ini dia benar-benar tidak akan bisa tidur

Mulai Diuji
Diam-diam Amira mengeluh. Terangnya matahari pagi ini justru membuat kepalanya terasa berdenyut. Semalam dirinya baru bisa tertidur setelah lewat pukul setengah 4 dan tersentak bangun satu jam kemudian.

Gadis itu turun dari kamarnya dan hanya menemukan sang ayah di meja makan. Beliau nampak sudah siap dengan setelan kerjanya.

“Ibu masih tidak enak badan, Yah?”

Pertanyaannya dijawab dengan anggukan.

“Ibumu menangis terus semalam,” terang ayahnya kemudian.

Amira menahan kekhawatirannya. Ditariknya kursi di depan ayahnya dan mulai meraih piring.

“Hari ini Ami akan mulai nyari Kak Mila, Yah,” ujarnya seraya menyendok nasi goreng di piringnya.

“Kau akan mencari kemana?”tanya ayah.

“Mungkin akan ke kampusnya. Atau ke tempat band nya. Kalo tidak salah Ami lihat di agenda Kak Mila hari ini jadwal mereka latihan.”

Ayah nampak menghela nafas. Beliau meletakkan sendok garpunya dan memandang putri bungsunya itu.

“Mi.. Ayah minta jangan sampai ada yang curiga kalau kakakmu kabur.”

Amira balik menatap ayahnya heran. Diteguknya minuman untuk membantu mendorong nasi goreng yang belum dikunyahnya dengan benar.

“Kenapa?”

“Keluarga Wardhana yang meminta. Jika sampai ada yang curiga Amila kabur, tidak menutup kemungkinan hal itu akan menjadi pemberitaan di media. Itu akan jadi skandal besar bagi keluarga Wardhana.”

“Tapi kalau begitu akan sulit bagi kita untuk mencari lebih lanjut keberadaan Kak Mila!”protes Amira.

“Itulah, Mi. Saat ayah mencari kakakmu ke seluruh teman-temannya, ayah hanya bilang kalau hari itu kakakmu belum pulang dan kita khawatir. Karena itu juga ayah belum melakukan tindakan apapun lagi untuk mencari Mila. Ayah bingung. Sangat tidak mungkin untuk pasang pengumuman di media, atau untuk lapor polisi sekalipun.”

Amira merasakan kekesalannya pada keluarga Wardhana-Tyo Wardhana tepatnya-kembali muncul.

“Itu sama artinya mereka menghambat pencarian!” protesnya. “Coba kalau mereka tidak searogan itu, kita bisa pasang pengumuman dan pasti kita akan mendapatkan petunjuk yang lebih pasti! Dengan begitu kemungkinan Kak Mila ditemukan sebelum hari pernikahan akan lebih besar!”

“Mi, sudahlah. Mereka sudah sangat marah dengan kepergian kakakmu dan ayah tidak mau mereka semakin marah. Tidak langsung melaporkan ayah atau kakakmu saja sudah membuat ayah bersyukur.”

Amira mengerucutkan mulutnya kesal akan sikap ayah yqng dianggapnya terlalu nrimo. Terlalu pasrah!

“Kita akan terus mencari kakakmu!” seolah mengerti apa yang sedang dipikirnya putrinya, ayah berkata dengan lembut. “Asalkan kita terus berusaha dengan sungguh-sungguh dan terus berdoa, Tuhan pasti membantu kita.”

Amira menghela nafas lalu mengangguk. Dilihatnya sang ayah tersenyum.

“Hati-hati hari ini, Mi. Jangan terlalu memaksakan diri. Ayah tidak mau kamu jadi sakit.

Amira kembali mengangguk. “Ya, Ayah.”

Janjinya membuat sang Ayah tersenyum lega.

****

Sebuah rumah berarsitektur Belanda berdiri megah di depannya.

Amira sedikit ragu saat dirinya memakir motor. Benarkah studio tempat kakaknya berlatih ada di rumah besar ini?

Ketika masih terbengong di samping motor, Amira dikejutkan oleh sebuah tepukan.

“Hei, calon nyonya konglomerat!”

Refleks Amira memutar badan. Sebuah cengiran lebar dari seorang laki-laki berwajah oriental menyambut.

“Tumben lo dateng, Mila,” sapa laki-laki itu kemudian, masih dengan cengirannya.

“A-aku..” Amira yang belum mempersiapkan diri dengan untuk bertemu siapapun teman Amila tergagap. Bingung harus menjelaskan apa.

“Ah.. lo pasti mau bantuin kita untuk pementasan malam minggu ini, kan? Gue dengar dari Fayyadh lo ingin sekali nyanyi bareng kita sebelum resmi jadi nyonya konglomerat,” si laki-laki oriental kembali berceloteh. Sebelum Amira tahu apa yang harus dikatakannya. Kejutan lain muncul! Dengan santai, laki-laki oriental itu melingkarkan sebelah lengannya di bahu Amira dan menyeret gadis itu masuk.

“Eh.. tu-tunggu!!”

Amira merandeg, menolak ikut.

“Ada apa? Kenapa muka lo aneh gitu sih, Mil?” laki-laki itu berkerut heran.

” A-aku… “

Jangan sampai orang lain tahu tentang kaburnya Kak Mila!!

Hatinya berbisik mengingatkan. Amira menelan ludah. Dia tidak tahu siapa laki-laki yang kini sedang menatapnya heran itu… dan dia bahkan tidak bisa bersikap seperti Amila!

“Wooii!!” teguran si laki-laki oriental membuat gadis itu sedikit terlonjak kaget.

“Lo ksambet ya?Aneh banget. Mo masuk ga nih?”

Amira berdiri gelisah. Masih belum tahu apa yang harus dilakukannya.

“Lo masih segen sama Ado ya? Sudahlah, mau gimana lagi. Cinta memang ga bisa dipaksakan. Anak itu juga harusnya sudah bisa nerima kalo lo cinta ma orang lain. Dan toh, lo slama ini gak pernah ngasih harapan ke dia kan.. Jadi jangan merasa bersalah begitu. “

Eh? Amira mengerutkan kening. Siapa Ado? Sepertinya ada masalah antara kakaknya dan cowok bernama Ado ini.

“Ayo ah. Kita masuk. Anak-anak pasti sudah nunggu.”

Kali ini ada kepenasaran besar yang membuat Amira akhirnya masuk mengikuti si laki-laki oriental. Sambil melangkah gamang, dicobanya untuk membayangkan sosok Amila yang diingatnya. Terakhir mereka bertemu lebaran tahun lalu. Agak sulit membayangkan gerak gerik Amila kini.

“Jiaaaahhh!!” suara teriakan membuyarkan sosok Amila dalam bayangannya. Gadis itu kini mengamati sekeliling. Dia kini berada di sebuah ruangan luas yang dipenuhi peralatan band.

“Ada calon nyonya konglomerat, nih!!”

Teriakan tadi ternyata berasal dari seorang laki-laki manis berambut gondrong, yang tengah duduk di belakang drum set.

“Jadi lo serius nih, Mil, manggung bareng kita lagi nanti?”

Amira meredakan debaran jantungnya sebelum menjawab. Dibayangkannya wajah sang kakak.

Sebuah senyum yang diharapkannya cukup menawan- seperti yang selalu disunggingkan Amila-mulai mengembang. Ditegakkannya tubuh lalu memandang lawan bicaranya.

“Tentu!” entah kekuatan apa yang membuatnya mampu mengeluarkan kata yang terdengar begitu bening dan percaya diri. ” Kurasa aku harus memberikan kenangan manis pada penggemarku dulu, bukan? sebelum aku resmi menjadi Nyonya muda Wardhana yang pastinya.. nama itu tidak akan mengijinkanku untuk ngamen dari satu kafe ke kafe lain.” ucapannya disambut dengan tawa dan tepuk tangan 3 laki-laki yang ada di ruangan tersebut.

Sekali lagi Amira terheran heran saat mendengar tawa merdu khas Amila keluar dari mulutnya. Sampai kemudian desiran angin dingin di kuduknya membuat gadis itu perlahan menoleh ke belakang.

Sesosok pria tegap, berambut ikal, hidung mancung, dengan tatapan mata tajam, dan bibir menggaris tegas, nampak tengah berdiri bersedekap memandangnya. Amira merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang saat matanya bertemu dengan tatapan laki-laki itu. Entah mengapa, dia menjadi sangat gugup.

“Ah, ini dia sang vocalis idola!” sambut laki-laki berwajah oriental. “Do, Amila jadi manggung sama kita malam minggu ini, lo. Katanya sebagai persembahan terakhir sebelum dia merit ntar.”

Amira kembali mengamati laki-laki yang baru datang. “Inikah yang bernama Ado?”

“Oya? ” alis tebal laki-laki itu naik sebelah. “Baguslah.”

Nadanya terkesan acuh.

“Hmm.. kalo pasangan duet maut kembali muncul, penggemar kita bisa histeris nih.. Hebat!! Gak sabar gue nunggu malem minggu,” seru laki-laki di belakang drum. “Do, lagu yang lo tulis kemarin, cocok banget kalo dinyanyiin Amila,”ujarnya lagi.

“Begitu?” gumam Ado sambil kembali mengamati Amira. Namun hanya sesaat. Laki-laki itu kemudian melangkah mendekat.

“Kalau begitu ayo kita cari tahu,benarkah lagu itu cocok untuknya,” dengan gerakan santai Ado mengeluarkan sebuah kertas partitur dan menyodorkannya pada Amira.

“Coba nyanyikan ini!”

Amira kembali diserang rasa gugup. Sambil berdoa agar tak seorangpun menyadari tangannya gemetar, dia mengambil kertas tersebut.

“Lo kayak ke orang baru saja,”komentar laki-laki berkaca mata yang sejak tadi duduk terdiam di sofa.

“Yaa.. secara dia sudah lama gak latihan. Dan entah kenapa, aku jadi sedikit ragu kemampuannya masih sama. Jadi ga ada salahnya gue tes dulu kan?Kalau memang dia masih bagus, dia boleh ikut pentas. Kau setuju kan…. Amila?”

Mata tajam itu kembali mengamati. Amira mati-matian melawan kegugupannya. Nada penekanan yang dia rasakan saat Ado menyebut nama Amila membuatnya gelisah.

“Apa dia tahu kalau aku bukan Kak Mila?” bisik hatinya. Beberapa saat gadis itu hanya terdiam untuk menenangkan diri.

“Amila?”

Suara Ado kembali terdengar. Terpaksa Amira kembali menerima tatapan tajam Ado.

“kami menunggu.”

Setelah menghela nafas panjang, dan kembali membayangkan wajah sang kakak, Amira mengangguk.

“Siapa takut?”

Tak ada alasan untuk mundur. Waktunya hanya 5 hari. Jika dia tidak memulai sekarang, kemungkinan mendapatkan informasi tentang keberadaan kembarannya akan semakin kecil.

Amira mulai mempelajari deretan not balok di kertas yang dipegangnya.

Hatinya mengucapkan sepotong permohonan.

“Bantu aku, Ya Tuhan.

Putri Impian VS Itik Buruk rupa
Mumpung macet.. ngapdet dulu.

Haiii…. !!!

Maaaaff… baru bisa ngapdet lagi. Gara-gara filenya kehapus pas memory henpon kepenuhan.. Padahal waktu itu dah nulis cukup panjang. Ditambah aktivitas yang rada rada.. sok sibuk.. he..he.. akhirnya baru bisa sekarang ngapdet lagi.

Thank you atas comment-commentnya yaa.. Sebagai super pemula.. seneng banget tulisanku ternyata ada yang baca ^^ Thank you juga buat yang sudah ngasih saran n kritik. Jangan bosen looo..

*****************************

Fayyadh sang keyboardis, Kevin sang gitaris, Aldian sang bassis, dan Leonardo-Ado- sang vokalis. Akhirnya Amira kenal satu per satu laki-laki yang tergabung di band ini. Kecuali Ado, yang sejak awal sepertinya menjaga jarak, yang lainnya merupakan cowok-cowok heboh yang menyambut “kedatangan kembali Amila” dengan suka cita. Setelah lulus dengan ujian nyanyi dari Ado, akhirnya Amira bisa sedikit bernafas lega. Untunglah, baik dirinya maupun saudara kembarnya sama-sama suka menyanyi dan mereka pernah kursus vokal dan piano bersama-sama saat sekolah dulu. Bedanya, kalau dirinya hanya sebatas hoby, Amila lain lagi, kakaknya itu selalu punya harapan suatu saat kelak, dia bisa jadi penyanyi profesional.

Latihan siang itu berjalan lancar. Satu dua kejanggalan sempat disadari yang lain, seperti gerak tubuh dan ekspresi yang menurut mereka, agak aneh untuk ukuran seorang Amila.

“Habis sudah lama tidak latihaan,” Amira mencoba meyakinkan rekan-rekannya. Dia ingat, sejak Amila bertunangan dengan Tyo 5 bulan yang lalu, Amila sempat cerita bahwa dia sudah keluar dari group bandnya.

Untunglah tak ada komentar lagi dari 4 orang itu. Menjelang jam 2 latihan pun selesai.

“Tumben tunangan lo ngijinin lo pake motor? Biasanya lo diantar jemput sopir,” komentar Kevin saat mereka beriringan keluar.

“Hmmm… aku gak bilang dia kalau hari ini mau ketemu kalian. Dia tahunya hari ini aku duduk manis di rumah.”

“He..he.. bisa juga lo,” kekeh Kevin. “Kalau ga gitu gue tahu, lo pasti gak akan diijinin pergi pake motor.”

“Begitulah,” senyum Amira. Kevin mengamati saat Amira menstarter motornya. “Hati-hati,Mil. Drive save, ya.”

Amira mengangguk lalu berkonsentrasi untuk menjalankan motornya. Saat pandangannya melayang ke arah beranda, konsentrasinya akan laju motor buyar. Motornya jadi sedikit oleng.

Nampak Ado tengah memandang lurus ke arahnya, tajam.

Kembali tengkuknya terasa dingin.

Cepat-cepat diputarnya motor dan bergegas keluar dari halaman rumah. Setelah menyapa Kevin dan Fayyadh yang sedang bersiap pergi dengan mobil mereka, Amira pun memacu motornya melintasi jalanan Bandung yang cukup ramai siang itu.

Kelegaan teramat sangat membuat Amira menghembuskan nafas kuat-kuat. Betul-betul 3 jam paling menegangkan dalam hidupnya!

“Jangan senang dulu!” suara di kepalanya mengingatkan. ” Kau masih harus menghadapi sore ini, Amira! Dan itu pasti akan lebih menegangkan dari yang kau alami siang tadi!”

Amira menginjak rem dengan kuat. Karena asyik melamun, dia.hampir saja menerobos lampu merah. Kesal pada otaknya yang mengingatkannya pada Tyo dan pesta yang akan dihadiri mereka malam ini.

” Sesangi**.. Dave.. aku bener-bener berharap kau ada di sini sekarang!” jerit hatinya.

**Tuhanku..**

“Aarrghhhhhh!!!” tanpa disadari Amira berteriak kesal. Tatapan heran pengendara lain di sampingnya membuat gadis itu menyadari apa yang sudah dilakukannya.

Amira pura-pura cuek. Untunglah, helm mampu menyembunyikan wajahnya yang pasti sangat merah saat ini.

Setelah lampu berubah hijau, Amira kembali memacu motornya ke arah utara, menuju salah satu universitas swasta yang cukup bergengsi di kota ini.

Menuju kampusnya Amila.

***

Baru saja memarkir motor di parkiran kampus Amila, henponnya berbunyi.

Tyo calling

Setengah hati dislidenya tanda on.

“Ya?”

“Kau dimana?”

“Di Ciumbuleuit.”

“Ciumbuleuit? Kau di kampusnya Mila?” tanyanya lagi. Ada nada tidak suka dari suara Tyo.

“Iya. Saya pengen ketemu teman…”

” KAU SUDAH GILA,YA?!!!!”

Amira hampir saja menjatuhkan henpon saking kagetnya. Keningnya berkerut dalam.

“Kenapa dia marah?” batinnya dengan kesal.

“Jangan pernah berteriak seperti itu lagi saat menelponku!” dengan sewot Amira mendekatkan kembali henponnya ke telinga. Lupa ber-saya- anda pada tunangan kakaknya itu. “Telingaku sakit, tahu!!!”

“Jangan memerintahku, Nona.” Mau tidak mau Amira merinding mendengar betapa dinginnya suara Tyo. “Cepat kau keluar dari sana sebelum ada yang mengenalimu!” perintahnya kemudian membuat Amira bertambah kesal.

“Aku kesini buat nyari tahu soal Kak Mila!”

“Cepat keluar kataku!!!”

“Kalau aku tidak mau?” tantang gadis itu kemudian.

“Kau tahu apa yang akan kulakukan jika sampai ada yang tahu Amila pergi bukan? So, be smart, girl. Atau kau akan sangat menyesal.”

“B**ng**k!!!” Amira kembali memaki dalam hati. Sadar kalau dirinya tidak sedang berada di dalam posisi menguntungkan.

“Aku tunggu kau di kantorku dalam setengah jam,” Tyo kembali memerintah.

“Aku akan menurutimu keluar dari kampus ini segera, tapi jangan harap aku ke kantormu sekarang,” entah mengapa Amira merasa sangat tidak rela jika harus menuruti perintah Tyo. “Perjanjian kita jelas bukan? Jika kakakku tidak juga ditemukan, baru kau bisa memerintahku sesukamu. Dan untuk hari ini, aku hanya berjanji menemanimu ke pesta sebagai Amila nanti malam. Jadi sampai jumpa nanti malam, Tuan Radityo Wardhana.”

Ditutupnya telepon. Tak sampai lima detik, benda itu kembali bergetar. Dengan gemas Amira memasukkan henponnya ke tas dalam-dalam lalu memutar balik motornya.

Henpon itu masih bergetar untuk beberapa lama namun diacuhkannya.

Sementara di kantornya, Tyo melempar henponnya ke sofa dengan wajah memerah menahan marah.

“Gadis ituu…” desisnya tak suka. Seumur hidup tak pernah ada orang yang berani mengabaikan perintahnya seperti ini. Dan gadis itu akan segera tahu, Jika seorang Radityo Wardhana akan selalu mendapatkan apa yang diinginkannya.

Diraihnya telepon lalu ditekannya sederet nomor.

“Dengan cara apapun bawa gadis itu kemari dalam satu jam. Paham?”

Sebuah senyum puas menghiasi bibir tegasnya begitu ia menyimpan kembali gagang telepon ke tempatnya.

“Kau akan menyesal karena sudah menentangku hari ini, nona!”

Dengan santai laki-laki itu memutari meja untuk duduk di kursinya yang empuk. Tak sampai satu menit putra mahkota kerajaan bisnis Wardhana itu sudah kembali tenggelam dalam tumpukan dokumen yang menunggu untuk diperiksa.

***

Suasana rumah sangat sepi.

Amira masuk dengan lesu. Ayahnya pasti masih berada di kantor. Dan saat menengok ibunya di kamar, tidak ada siapapun. Amira mengerutkan kening heran.

“Mbak Eniii!” bergegas Amira pergi ke dapur, berharap menemukan pembantunya di sana.

“Ya, Neng Ami?”

” Ibu kemana, Mbak? Kok tidak ada di kamarnya?”

“Oh, tadi ibu bilang mau ke Gunung Batu- ke tempat Aki.”

“Oooh,” Amira mengangguk lega. Aki adalah kakeknya. Ayah dari ibunya.

“Neng Ami mau kolek? Saya baru buat kolek labu tadi,” Mbak Eni mengamati anak majikannya yang nampak pucat.

“Terimakasih, Mbak. Nanti saja saya ambil sendiri.”

Amira kembali ke depan. Matanya melirik jam dinding di atas nakas. Sudah jam 3.

Baru saja menghempaskan tubuh penatnya di sofa, bunyi bel dari luar membuatnya terpaksa mengangkat kembali tubuhnya.

Dua orang memakai jas resmi nampak berdiri di depan pintu.

“Ya?” Amira mengamati keduanya dengan waspada. Sudut matanya menangkap ada dua orang lagi yang nampak menunggu di luar pagar, di samping sebuah mobil sedan hitam yang nampak mentereng.

“Nona Amira?” tanya salah satu dari mereka.

“Betul.”

“Tuan Tyo Wardhana menunggu anda di kantornya sekarang juga.”

“Apa? Bukankah baru jam 4 nanti saya dijemput? Sekarang baru jam 3.”

“Tapi tuan Tyo meminta anda datang sekarang juga.” Nada suara laki-laki itu terdengar tegas. Kekesalan Amira yang memang belum pulih benar kembali naik.

“Tolong katakan pada tuan kalian, saya tidak bersedia menemuinya sekarang. Silahkan kembali saja satu jam lagi, sesuai dengan kesepakatan.”

Amira bersiap menutup pintu. Namun gerakan pintu yang menutup sigap ditahan oleh tangan kokoh laki-laki yang seorang lagi.

“Anda harus tetap ikut kami, Nona.”

“Jika aku tidak mau?”

“Anda mungkin akan jadi tontonan tetangga anda jika kami terpaksa membopong anda keluar.”

Amira mendelik tambah kesal. Dengan dua mobil mewah yang terparkir di depan rumah plus 4 orang laki-laki berdandan mirip bodyguard menyatroni rumahnya saja sudah membuat beberapa tetangganya melongokkan kepala ke luar pagar rumah masing-masing. Belum lagi orang-orang yang lewat yang menatap penasaran.

Amira tidak mau jadi pusat perhatian.

“Baiklah,” akhirnya gadis itu mengangguk setengah hati. Setelah mengambil tas dan pamit pada Mbak Eni, ia pun berjalan menuju mobil yang menunggu dengan kedua “bodyguard” di sisi kiri kanannya.

Amira memang terlihat diam sepanjang perjalanan. Tapi dalam hatinya, entah berapa puluh kali ia melontarkan makian pada laki-laki yang jadi tunangan kakaknya.

Diamnya berlanjut saat dirinya sudah ada di ruangan Tyo. Malas rasanya bermanis-manis di depan diktator yang satu ini. Bahkan untuk mengucap salam sekalipun.

“Bahkan salampun tidak kau ucapkan,” sindir Tyo. “Padahal itu aturan sopan santun paling mudah yang balita pun bisa melakukannya.”

“Saya sedang tidak ingin menyalami siapapun,” tukas Amira ketus. “Cepat katakan apa mau Anda agar saya bisa cepat pergi!”

“Bukankah sudah aku katakan.aku paling tidak suka diperintah?” Tyo menatap tajam gadis di depannya.

“Kalau begitu biasakanlah!”

“Kau benar-benar berbeda dengan kakakmu.”

Komentar Tyo hanya disambut dengan dengusan pelan.

Beberapa saat mereka berpandangan. Amira menolak untuk mengalah. Dengan berani dibalasnya tatapan dingin Tyo.

“Jika anda tak mengatakan apapun saya pergi,” ujar Amira setelah mereka hanya terdiam beberapa lama.

“Tunggu!” Tyo beranjak ke mejanya, meraih sebuah majalah dan menyodorkannya ke depan Amira.

Ada wajah Tyo dan Amila yang nampak mesra menghiasi cover majalah.

“Meski baru berstatus tunanganku, Amila sudah cukup dikenal di lingkungan sosialku, dan juga diantara klien dan rekan bisnis keluarga Wardhana. Ditambah lagi Amila cukup dikenal di kalangan entertainer. Penyanyi.”

“Saya tahu itu,” sela Amira. “Katakan saja langsung apa yang ingin Anda sampaikan!”

“Melihat foto itu kau tahu kan, betapa berbedanya dirimu dan Amila.”

Amira mengamati wajah saudara kembarnya di majalah. Cantik, modis, fashionable, dan nampak sangat bersinar.

“Tidak hanya penampilan, sikap kalian pun sangat jauh berbeda.”

“Tentu saja. Kami orang yang berbeda,” tukas Amira ketus. Sejak dahulu dia paling tidak suka dibandingkan dengan kakaknya itu. Apalagi jika dirinya yang berada dalam posisi si itik buruk rupa.

“Asal kau tahu, jarang ada yang tahu kalau dia punya kembaran.”

“Lantas?”

“Jika kau muncul diantara orang-orang yang kenal kakakmu, dengan sikap dan penampilanmu seperti sekarang, maka orang-orang akan segera tahu kalau kau bukan Amila.”

“Baguslah. Jadi nanti malam saya tidak perlu menyamar jadi Kak Mila.”

“Tidak semudah itu, bukan?” Tyo tersenyum sinis. “Kau lupa apa yang akan dialami keluargamu jika sampai ada yang tahu tentang Amila?”

Amira mengetatkan gerahamnya.

“Dasar penindas..” gumamnya menahan marah.

“Kau bilang apa?” Tyo mengerutkan kening saat melihat bibir gadis di depannya komat-kamit.

“Tidak, “Saya tidak mengatakan apapun, ” Amira menggeleng. ” Jadi apa intinya? Saya tidak boleh pergi kemana pun?”tanyanya kemudian dengan tak sabar.” Jika itu yang anda inginkan, maaf, saya tidak bisa mengikutinya. Saya harus berusaha menemukan kakak saya-tunangan anda- dalam waktu 5 hari, agar tidak perlu berurusan dengan perjanjian konyol itu.”

“Tentu saja bukan itu maksudku,”geleng Tyo kalem. “Maksudku adalah, kemanapun kau pergi,

di kota ini, kau harus pergi sebagai Amila.”

“Apa?Tak ada perjanjian seperti itu!” protes Amira cepat.

“Tentu saja ada,” senyum Tyo. “Hmmm.. pasal berapa ya di perjanjian?” laki-laki itu sedikit memiringkan kepalanya. “Ah.. tapi aku ingat bunyinya!Pihak pertama-kau-akan menjaga kerahasiaan perihal kaburnya Amila Khansa Putri, agar tidak diketahui publik. Berkeliaran sendiri dengan jeans, kaos, dan sepatu plastik murahan seperti itu bukan khas Amila. Orang-orang akan curiga, bukan? Apalagi jika tak ada seorangpun yang menyangka bahwa tunangan Radityo Lazuardi Wardana memiliki saudara kembar. Perubahan yang terlalu drastis bisa-bisa menimbulkan pendapat negatif yang bisa dihubungkan dengan keluargaku.”

Amira mengamati wajah tampan di depannya dengan ekspresi seolah sedang memandang mahluk aneh dan langka.

“Jadi semua masih tentang harga diri anda?” desis perempuan itu. “Apakah pernah sedikit saja anda memikirkan keadaan orang lain?”

“Aku hanya akan memikirkan hal-hal yang akan menguntungkan kelurga dan bisnis kami. Dan terus terang saja, martabat dan nama baik keluargaku berada di atas semuanya karena jika nama keluargaku tercemar, akan sangat berpengaruh bagi kelancaran bisnis kami.”

Amira bergidig.

“Apakah semua orang kaya seperti anda?” suara gadis itu terdengar bergetar menahan emosi.

“Mungkin,” Tyo mengangkat bahu acuh. ” Yang pasti, untuk kasus ini, aku dan keluargaku yang sangat dirugikan oleh keluargamu…”

“Amila,” ralat Amira cepat. “Hanya Amila.”

“Sama saja. Dia keluargamu juga, bukan?”

Amira merasakan dadanya hampir meledak karena menahan amarah yang semakin bergolak. Laki-laki di depannya adalah laki-laki paling angkuh dan egois yang pernah dikenalnya.

“Tidakkah ia berpikir apa yang ia lakukan sekarang sangat menyakiti keluargaku?” pikir hatinya. Sedikit banyak Amira dapat menebak salah satu alasan kakaknya memilih pergi dari laki-laki di depannya.

Diamatinya Tyo dengan ekspresi kesal bercampur kasihan

“Apa yang kau pikirkan?” Menyadari Amira mengamati dengan pandangan aneh membuat Tyo sedikit salah tingkah.

“Kurasa aku tahu kenapa kakakku memilih untuk meninggalkanmu,” Amira kembali ber-aku -kamu pada Tyo. “Hanya perempuan bodoh, atau yang gila harta, yang mau hidup dengan laki-laki egois sepertimu.”

“A-apa?” Tyo membelalak tak percaya dengan apa yang didengarnya. “K-kau…” desisnya marah. Amira bergemig.

“Dan aku…,” tanpa takut gadis itu menantang tatapan marah Tyo. “Aku tidak akan sudi lebih lama lagi melibatkan diri bersama laki-laki sepertimu. Akan kutemukan Kak Mila. Secepatnya.”

Setelah berkata seperti itu Amira berbalik pergi meninggalkan Tyo yang masih mati-matian berusaha meredam amarahnya.

“Oh..,” Amira berhenti tepat di depan pintu dan kembali berbalik untuk melihat ke arah Tyo. “Mengenai nanti malam, aku tetap akan datang seperti kemauanmu. Sebagai Amila,” sebuah senyum sinis mengembang.”Sampai jumpa nanti malam, Tuan Radityo Lazuardi.”

Tyo menggeram marah saat Amira melangkah keluar.

***

Taksi adalah kendaraan yang dipilihnya saat meninggalkan kantor Tyo. Sedikit banyak apa yang dikatakan Tyo tadi mempengaruhinya. Di Bandung ini memang sedikit yang tahu tentang keberadaannya sebagai kembaran Amila. Keluarganya baru pindah ke kota ini 3 tahun yang lalu, tepat saat dia harus berangkat ke negeri ginseng untuk kuliah. Dan sepertinya, baik orang tuanya maupun Amila tidak banyak menceritakan dirinya. Orang-orang hanya tahu Amila memiliki seorang adik, tapi jarang yang tahu bahwa mereka kembar identik.

Dan hal itu membuatnya harus berhati-hati sekarang. Dia tidak mau, karena kecerobohannya, ada orang yang mengetahui masalah kaburnya Amila dan membuatnya terpaksa menjalani perjanjian yang sudah dibuat.

Amira merasakan kepalanya sakit. Apa yang sudah dilaluinya seharian ini benar- benar sudah membuat urat-urat sarafnya berdenyut. Terlebih dengan kemarahan yang dia tahan mati-matian saat berbicara dengan Tyo tadi.

Diliriknya jam di pergelangan tangan. Hampir setengah 5. Launching party yang harus dihadirinya akan mulai dua jam lagi. Amira mendesah. Dia belum punya gaun, dan dia juga sepertinya harus mengandalkan salon untuk berdandan. Sejenak berfikir untuk memakai tabungannya agar bisa membeli gaun yang dibutuhkannya. Tabungannya memang cukup banyak berkat kerja sambilan yang dia lakukan selama berada di Korea, sebagai simpanan jika ada hal darurat yang membutuhkan biaya banyak selama hidupnya di negeri orang. Selama ini tabungan itu hanya diambil sekali, ketika dua tahun yang lalu dia terpaksa dirawat dua hari di rumah sakit karena maag akut.

Sayang jika harus memakai tabungan itu sekarang sebenarnya. Namun apa boleh buat, demi menemukan Amila, dia harus rela.

“Tak apa,” bisiknya menenangkan. “Ini juga demi masa depanmu, kan?” hibur hatinya kemudian.

Amira mulai berfikir untuk pergi ke sebuah butik. Sekali lagi gadis itu mendesah. Pengetahuannya tentang butik bagus di kota Bandung ini nol besar! Terbersit pikiran menelpon Tyo untuk meminta bantuan namun cepat ditepisnya. Kekesalannya karena perselisihan mereka tadi baru saja mulai reda dan Amira tidak mau kepalanya berdenyut lagi mendengar komentar laki-laki itu yang tidak mengenakkan hati.

Akhirnya gadis itu memutuskan bertanya pada sopir taksi. Biasanya sopir tahu tempat-tempat yang banyak dikunjungi.

“Butik?” lelaki yang duduk di belakang kemudi itu nampak mengerutkan kening. “Rasanya di sekitar sini juga ada. Kemarin saya pernah mengantar seorang penumpang ke sana. Hmmm.. Nah, itu dia!”

Amira mengamati sebuah bangunan dengan penataan artistik di depannya. Dari luar nampak beberapa maneqin berdiri memamerkan gaun gaun yang nampak modis.

“Katanya yang punya butik ini artis, neng. Tapi saya juga ga tau artis yang mana.”

Amira tersenyum. Setelah membayar ongkos taksi dan berterima kasih, gadis itu pun beranjak ke luar.

Sejuknya AC langsung menyambut begitu Amira masuk. Seorang perempuan berparas cantik bergegas mendekat.

“Selamat datang, ada yang bisa saya bantu, Mbak?”

Sungguh Amira tidak punya bayangan sedikitpun model gaun apa yang pantas dikenakannya di acara nanti. Seumur hidup jika ia terpaksa harus menghadiri beberapa pesta, ibunya dan Amila lah yang menjadi consultan fashionnya.

Akhirnya diputuskan untuk berterus terang.

“Nanti malam saya harus menghadiri lauching album terbaru seorang rekan. Tapi saya bingung memilih gaun yang sesuai. Apakah mbak bisa bantu saya?”

Yang ditanya tersenyum maklum. Lalu dengan ramah mempersilahkan Amira duduk di sebuah sofa sementara ia dengan cekatan mengambil beberapa gaun untuk diperlihatkan.

Amira benar benar bersyukur si sopir taksi membawanya ke butik ini. Rani, yang kini membantunya memilih gaun, adalah seorang consultan fashion di butik ini. Dia paham betul dengan model gaun yang cocok untuk Amira, juga memilihkan warna dan aksesoris yang sesuai.

Akhirnya Amira membeli sebuah gaun a-line yang menjuntai sampai pertengahan pahanya, off shoulder, berwarna kuning dengan hiasan ban pinggang berwarna perak yang cukup lebar di bawah dada.

Sebuah sepatu high hills stilleto berwarna perak pun sudah dikantonginya, lengkap dengan satu set aksesoris yang sesuai dengan gaun yang dipilihnya.

Amira sedikit tidak rela saat melihat harga yang harus dia bayar. Namun sekali lagi gadis itu menguatkan hati. Setelah mendapatkan informasi salon yang bisa didatangi untuk merias wajah dan rambutnya, Amira pun segera meluncur ke sana.

Gadis itu hampir saja tertidur ketika sang perias menepuk bahunya lembut.

“Sudah selesai, mbak.”

Pantulan di cermin membuatnya tercekat, namun kemudian tersenyum puas. Sudut matanya menangkap jam dinding di belakang cermin. Hampir jam 7. Dia harus bergegas.

***

Tyo memandang cermin di depannya dengan pandangan puas. Penampilannya malam ini pasti akan membuat banyak wanita tergila-gila padanya, sama seperti biasanya. Laki-laki itu masih sangat geram jika mengingat perkataan Amira tadi sore.

“Hanya cewek matre dan bodoh saja yang mau sama aku, heh?” gumamnya kesal.

Sebuah rencana menghiasi kepalanya. Rencana untuk membuat Amira akan menarik ucapannya tadi. Tyo tersenyum. “Heh… Tak ada satu perempuan pun yang tidak akan terpesona pada Radityo Wardhana.” Perempuan paling diincar se-Indonesia pun bisa dibuatnya tergila-gila padanya. Apalgi perempuan selevel Amira. Gadis itu terlalu polos dan sederhana, dia tidak mungkin dapat menolak pesonaku.”

Setelah yakin penampilannya sempurna, Tyo meraih handphone. Ditekannya nomor Amira. Semoga gadis itu cukup sadar untuk berdandan meski dirinya tidak yakin, Amira dapat menyamai penampilan kakak kembarnya.

“Dimana kau?” Tanyanya tanpa basa basi begitu teleponnya diangkat. “Oke, tunggu di sana!Aku akan menjemputmu!”

Tyo menggeram kesal mendengar penolakan Amira yang tidak ingin dijemput.

“Dengar gadis bodoh! Kalau kau dan aku datang terpisah, orang-orang akan langsung bergosip yang tidak-tidak. Jadi jangan membantahku. Tetap tunggu di sana sampai aku datang menjemputmu!”

Tak sampai setengah jam Tyo sudah sampai ke alamat salon yang disebutkan Amira. Salon yang cukup terkenal. Pernah sekali dulu dia mengantar seorang teman kencannya ke salon ini. Jadi Tyo merasa cukup familier dengan tempat itu.

Dengan penuh percaya diri Tyo masuk ke dalam ruangan tunggu yang ditata sangat artistik. Hanya ada seorang wanita yang nampak anggun duduk sambil membaca sebuah majalah di salah satu sofa yang ada di sana. Tyo melirik dengan sudut matanya. Lalu mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan.

Tak ada sosok Amira yang dicarinya.

Laki-laki itu menggeram kesal dalam hati.

“Kau mencariku?”

Sebuah suara membuatnya menoleh. Perempuan anggun yang tadi duduk di sofa, kini berdiri di belakangnya.

Tyo seketika terpana.

***

Amira meredakan kegugupannya saat kakinya memasuki tempat dimana pesta berlangsung. Saat di Korea dulu, David pernah beberapa kali mengajaknya ke beberapa pesta. Namun tak pernah sekalipun ke pesta yang begini mewah.

Tentu saja, pikir Amira. Rasanya sangat janggal jika membandingkan pesta level mahasiswa dengan pesta para selebritis seperti ini.

Diamatinya Tyo yang nampak penuh percaya diri di sampingnya. Baru beberapa menit saja mereka sampai di sana, laki-laki itu sudah dikerubungi beberapa wanita cantik yang langsung menggelayut manja di sekitarnya. Amira hanya terperangah saat menyadari, Tyo nampak menikmati semua perhatian dan perlakuan memuja dari para wanita itu. Tak membutuhkan waktu yang lama untuk membuat dirinya tersingkir dari kumpulan.

Sambil memikirkan apa yang dirasakan Amila jika hal ini memang kerap terjadi, gadis itu menjauh. Berniat mencari minuman. Matanya menyapu meja hidangan yang dipenuhi dengan aneka makanan yang nampak menggiurkan. Kekesalannya lenyap seketika. Dengan riang, Amira segera mencicip beberapa peganan.

Dengan santai, sambil menikmati penganannya, Amira berdiri di pinggir ruangan, memperhatikan sekeliling.

Tyo masih asyik dengan para pengagumnya.

“Aku senang melihatmu di sini.”

Sebuah suara bariton membuatnya sedikit terperanjat. Cepat dia menoleh.

Seketika dadanya berdebar was-was.

Ado, berdiri tak jauh darinya. Memandang dengan tatapan tajam.

Menyelidik.

One Response to “Keluarga, Cinta dan Masa Depan”

  1. Manusia langit Says:

    Ini gak ada terusannya lagi ya? Laanjuutt peliisss penassaraannn🙂
    Makasih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: