Kisah romantis yang membawa bencana.

Bab IV. Kisah romantis yang membawa bencana.
Cau-ji menjadi panik bercampur gelisah setelah menjumpai tubuhnya tak
mampu lagi menerobos masuk melalui celah gua, baru saja dia akan
mengayunkan telapak tangannya untuk melancarkan serangan, tiba-tiba dari
kejauhan ia mendengar tibanya suara gemuruh yang sangat memekikkan
telinga.
Dia tahu serangan angin berpusing segera akan tiba, tergopoh-gopoh dia lari
balik ke dalam gua.
Dia harus mencari sebuah posisi sudut tertutup untuk menghindarkan diri
dari terpaan langsung angin puyuh itu.
Sayang dinding karang itu sudah menjadi rata dan bersih karena guratan
angin berpusing yang telah berlangsung ratusan tahun lamanya, boleh dibilang
sama sekati tak ada tempat untuk bersembunyi.
Sewaktu melalui mulut gua, ia sempat melongok sekejap ke dalam, terlihat
orang itu sudah bersila dengan wajah yang jauh lebih segar, terbukti khasiat
dari tiga butir pil Pek-siu-wan sudah mulai bekerja.
Sadar kalau tiada tempat untuk berteduh, Cau-ji pun putuskan untuk
menerima tantangan ini secara nyata, dia sadar, kalau dalam posisi yang tidak
siap seperti tadi pun tak sampai mencabut nyawanya, itu berarti dalam keadaan
siap ia pasti bisa lolos dari ancaman tersebut.
“Maknya, paling banter juga lecet-lecet!” umpatnya tanpa sadar.
Tapi begitu kata “maknya” meluncur dari mulutnya, ia segera melompat kaget.
Sejak kecil ia memperoleh pendidikan yang ketat di rumah, umpatan
“maknya” boleh dibilang baru pertama kali ini meluncur dari mulutnya, untung
tidak di rumah, kalau tidak, hukuman berat pasti akan menimpa dirinya.
Buru-buru ia duduk dengan menempelkan punggungnya di atas dinding
tebing, setelah itu napas mulai diatur dan hawa murni disalurkan ke seluruh
tubuh.

Begitu tarik napas, ia segera menjumpai munculnya segulung hawa murni
yang luar biasa dahsyatnya bagai gelombang samudra muncul dari Tan-tian dan
menyebar ke seluruh badan, belum lagi pikiran bergerak, hawa murni telah
menyelimuti seluruh tubuh.
Kenyataan ini membuat Cau-ji terkejut bercampur girang, buru-buru dia atur
pemapasan dan mulai mengendalikan hawa murninya.
Setengah jam kemudian, ketika sadar kembali dari semedinya, ia merasakan
sekujur badannya enteng dan segar, tak kuasa lagi ia buka mulut ingin berpekik
nyaring.
Sebelum bersuara, tiba-tiba ia dengar suara gemuruh yang sangat mengerikan
telah bergema dari kejauhan, dengan perasaan terkejut buru-buru ia
membaringkan diri bersiap menerima siksaan.
Deruan angin semakin kencang, udara dingin yang merasuk tulang sumsum
makin lama bergerak makin dekat.
Disusul kemudian pusaran angin puting yang berputar kencang menderuderu
di seluruh ruangan, sekali lagi tubuh Cau-ji terombang-ambing kian kemari
membentur dinding karang.
Waktu itu, si manusia misterius yang berada di balik gua tampak mulai
gemetar lagi seluruh badannya, sekalipun dia telah menelan tiga butir pil Peksiu-
wan, namun goncangan yang maha dahsyat tetap menyiksa badannya.
Tak seberapa lama kemudian, seluruh gua kecil itu sudah mulai berputar
keras, tampak orang itu mulai bergulingan ke sana kemari, tapi sambil
menggertak gigi ia tetap mempertahankan diri.
Putaran angin berpusing menderu makin kencang, udara terasa semakin
dingin, ia mulai merasakan peredaran darahnya membeku, ia sadar sebentar lagi
dirinya bakal pingsan.
Untunglah di saat yang amat kritis, deruan angin berpusing bergerak semakin
melemah dan perlahan sebelum akhirnya berhenti, udara dingin yang menusuk
tulang pun semakin mereda sebelum akhirnya lenyap.
Orang misterius itu tahu, ia bisa bertahan tak lain lantaran khasiat tiga butir
pil Pek-siu-wan pemberian saudaranya, terdorong rasa terharu yang amat sangat
tak kuasa lagi air mata jatuh bercucuran.
Dia sama sekali tak mengira Oh-lokonya belum melupakan dirinya walau
sudah berpisah sepuluh tahun, bahkan berusaha mengirim orang untuk
mengantar pil Pek-siu-wan.
Terbayang sampai ke situ, ia segera teringat kembali si bocah yang
dijumpainya tadi, buru-buru dia merangkak bangun seraya berseru: “Saudara …
saudara cilik..”
“Paman, kau tidak apa-apa bukan?” terdengar dari balik gua bergema suara
nyaring.
“Aaah… syukurlah kau … kalau tidak apa-apa ….”
Tadi, walaupun Cau-ji harus berhadapan langsung dengan terpaan angin
puting, namun lantaran ia sudah membuat persiapan, maka walaupun pakaian
compang-camping namun tubuhnya tidak lagi tersiksa seperti semula.
Dia merasa hawa murni yang mengalir dalam tubuhnya seakan-akan
membuat kulit badannya lebih tebal, bukan saja tidak terasa sakit, dia pun tidak
merasa kedinginan.
Karena serangan angin puting sudah lewat, bocah itu segera menghampiri
kembali mulut gua.
Tampak orang itu menghembuskan napas lega, kemudian dengan rasa ingin
tahu tanyanya: “Saudara cilik, kenapa kau tidak takut dingin dan tidak sakit?”

Cau-ji sendiri juga tak mengerti mengapa hal ini bisa terjadi, jawabnya seraya
menggeleng: “Paman, aku sendiripun tak jelas!”
Orang itu mengira Cau-ji adalah murid si raja hewan yang sengaja
mengutusnya untuk menolong dia, maka kembali tanyanya: “Saudara cilik, kau
mengerti ilmu tiam-hiat? Kau bisa membebaskan pengaruh totokan?”
“Bisa!”
“Bagus sekali” teriak orang itu kegirangan, “kalau begitu aku tak usah
menderita lagi.”
Setelah berpikir sejenak, kembali ujarnya: “Saudara cilik, jalan darah Ki-hayhiatku
tertotok sehingga aku hanya bisa mengerahkan tiga bagian hawa
murniku untuk melawan hawa dingin, bisakah kau membantuku untuk
membebaskan diri dari pengaruh totokan?”
“Tapi paman … mampukah aku?” tanya Cau-ji agak sangsi.
“Hahaha … saudara cilik, kau tidak usah sungkan, bukan sembarangan orang
sanggup menghadapi siksaan angin puyuh berpusing, coba kemari, biar
kuperiksa seberapa dalam tenaga murni yang kau miliki.”
Seraya berkata dia membuat satu lukisan lingkaran kecil di sudut kanan
sebelah bawah gua itu.
“Saudara cilik,” kembali ujarnya sambil tertawa, “sekarang himpun seluruh
tenaga dalammu, coba kau hantam lingkaran kecil itu.”
Kini Cau-ji dapat melihat dengan jelas perawakan tubuh orang itu, meski
pakaiannya compang camping hingga separuh badan bagian atasnya telanjang,
namun kulit badannya sangat putih lagi jangkung, sebuah komposisi perawakan
yang ideal.
Ketika ditunggunya sampai beberapa saat belum juga nampak CaiHi turun
tangan, orang itu segera menegur lagi: “Ada apa saudara cilik? Ada kesulitan?”
“Ohh tidak, tidak, biar kucoba.”
Sembari berkata dia segera menghimpun hawa murninya ke dalam telapak
tangan kanan, lalu sebuah pukulan dilontarkan ke arah lingkaran kecil itu.
Tak ada hembusan angin, tak ada pekikan tajam, pukulan tersebut sama
sekali tidak menimbulkan pertanda apapun.
“Blammmm!” tahu-tahu lingkaran kecil itu sudah terhajar telak hingga
muncul sebuah liang yang besar sekali, gua sempit yang semula gelap gulita kini
bertaburkan cahaya tajam yang berkilauan.
“Aaah, ternyata memang barang mestika!” terdengar orang itu bersorak
gembira. Sembari bicara dia maju dua langkah, membungkukkan badan dan
mencabut keluar sebilah pisau belati kecil yang cuma nampak gagangnya.
Pisau belati itu kecil sekali, tapi begitu dicabut keluar dari sarungnya, Cau-ji
segera merasa matanya jadi silau, ternyata bentuk senjata itu hanya sepanjang
jari tengah, pada hakekatnya lebih mirip dengan sebuah senjata piau pendek.
Ketika orang itu menyarungkan kembali belatinya, suasana di dalam gua
kembali tercekam dalam kegelapan yang pekat.
Terdengar orang itu menghela napas panjang, lalu berkata: “Saudara cilik,
benda ini bernama pisau belati Liat-jit-pi, peninggalan zaman Cun-ciu-can-kok.”
“Konon, setiap kali benda mestika ini muncul dalam dunia persilatan maka
akan terjadi kekacauan besar di dunia ini, selama berapa tahun terakhir aku
selalu beranggapan bahwa di sini terdapat benda mestika, tak disangka benda
mestika tersebut ternyata adalah benda pembawa bencana.”
“Paman, darimana kau bisa tahu kalau di sini terdapat benda mestika?” tanya
Cau-ji keheranan.

“Setiap bulan purnama, di sini pasti kedengaran suara pekikan naga, bahkan
akan muncul hawa dingin yang menusuk tulang, oleh sebab itulah aku menduga
di sini pasti ada barang mestikanya.”
“Paman, dengan kekuatan yang kumiliki mampukah membebaskan totokan
jalan darahmu?”
“Oooh, bisa, bisa, lebih dari cukup! Malah aku justru kuatir tenagamu kelewat
besar sehingga aku tak mampu menahan diri. Mari, gunakan separuh saja dari
tenagamu dan coba sekali lagi.”
“Baik.”
“Blaaammm!” kembali muncul percikan batu cadas dari permukaan gua
sebelah kanan.
Walaupun di dalam kegelapan orang itu tak sanggup melihat sesuatu, tapi ia
bisa menilai kekuatan lawan dari suara pukulannya, terdengar ia bersorak kegirangan:
“Saudara cilik, coba kurangi satu bagian lagi!”
“Blammm!” kembali sisi kiri tanah berbatu itu muncul sebuah liang besar
“Saudara ciiik,” kata orang itu kemudian sambil tertawa, “coba gunakan
pukulan dengan kekuatan segitu untuk menepuk jalan darah ki-hay-hiatku.”
Sambil berkata ia segera bersiap sedia menerima pukulan.
Cau-ji tidak langsung turun tangan, kembali ujarnya agak sangsi: “Paman,
menurut ayahku, jalan darah ki-hay-hiat adalah jalan darah kematian yang tak
boleh sembarangan dihantam, katanya bila tempat itu dipukul maka akibatnya
yang paling enteng akan kehilangan tenaga dalam dan kalau parah bisa mati.”
“Hahaha … jalan darah ki-hay-hiatku sudah ditotok orang sehingga sebagian
besar tenaga murniku lenyap, sudah sepuluh tahun aku hidup tersiksa di sini,
marilah saudara cilik, dicoba saja!”
“Baik, kalau sampai terjadi apa-apa, kau tak boleh salahkan aku.”
“Hahaha … aku Bwe Si-jin belum pernah menyesali perbuatanku, silahkan
turun tangan.”
Sudah sepuluh tahun ia menderita siksaan, selama ini yang ditunggu justru
kesempatan macam begini, asal tenaga dalamnya dapat pulih, bukan saja ia
dapat membalas dendam, yang penting ia bisa mencari jejak kekasihnya Go Hoati.
Cau-ji masih nampak ragu, tapi desakan yang berulang kali dari orang
tersebut memaksa bocah itu harus bertindak.
Setelah konsentrasi sejenak sambil menghimpun tenaga, ia segera lancarkan
sebuah pukulan ke atas jalan darah Ki-hay-hiat di tubuh orang itu.
Diiringi dengusan tertahan, tubuh orang itu segera terpental ke belakang
hingga menumbuk dinding karang.
“Paman, bagaimana keadaanmu?” seru Cau-ji kemudian dengan perasaan
tegang.
Setelah menyeka darah hitam yang meleleh keluar dari mulutnya, orang itu
segera duduk bersila untuk mengatur napas.
Kurang lebih satu jam kemudian, orang itu baru menghembuskan napas
panjang sambil membuka matanya mengawasi Cau-ji.
Bocah itu segera merasakan datangnya dua sinar tajam bagaikan aliran listrik
yang menembusi jantungnya, dengan hati berdebar pikirnya: “Tajam amat
pandangan mata orang ini, rasanya dia tak berada di bawah kemampuan ayah.”
Sementara orang itupun merasa girang sekali setelah melihat raut wajah si
bocah yang tampan dan gagah, tak kuasa ia mendongakkan kepalanya dan
tertawa terbahak-bahak.

Cau-ji segera merasakan datangnya tenaga tekanan yang sangat kuat
memancar keluar dari balik suara tertawa itu, begitu kuatnya tenaga tersebut
membuat jantungnya berdetak keras dan badannya sakit
Buru-buru dia kerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi jantung serta
nadi sendiri, lalu secara diam-diam menutup jalan darah di sepasang telinganya.
Setelah tertawa sesaat dengan nyaring, orang itu baru menghentikan gelak
tertawanya, diam-diam ia kaget juga melihat si bocah di hadapannya sama sekali
tak terpengaruh oleh serangan tenaga dalamnya.
Sekarang ia baru yakin bahwa bocah itu memiliki tenaga dalam yang
sempurna, maka pujinya tanpa terasa: “Saudara cilik, tenaga dalammu sungguh
mengagumkan.”
“Paman, kau lebih hebat lagi, mungkin ayahku juga masih kalah
dibandingkan kau.”
“Aaah betul, saudara cilik, aku belum tahu siapa namamu?”
“Aku dari marga Ong bernama Bu-cau?”
“Hahaha … namamu sesuai dengan orangnya, hebat, hebat! Boleh tahu siapa
orang tuamu?”
“Ayahku Ong It-huan, ibuku Si Ciu-ing!”
“Ooh, rupanya keturunan dari Ong Sam-kongcu dan Cukat wanita, tak heran
kalau kemampuan saudara cilik sangat hebat Oya, sudah sepuluh tahun aku
tak pernah bersua dengan orang tuamu, mereka baik-baik semua?”
“Terima kasih atas perhatian paman, mereka baik-baik semua. Paman, aku
boleh tahu siapa namamu?”
“Aku dari marga Bwe, bernama Si-jin!”
“Bwe Si-jin? Rasanya seperti pernah mendengar nama ini?” gumam Cau-ji
berulang kali.
Diam-diam Bwe Si-jin merasa bangga juga setelah mendengar perkataan itu,
dia mengira orang masih kagum dengan nama besarnya meski sudah sepuluh
tanun ia terkurung di situ, buktinya seorang anak kecil pun pernah mendengar
nama besarnya.
Tentu saja dia tak mengira kalau Cau-ji justru keluar rumah bersama Go Hoati
yang sedang mengembara mencari jejaknya, justru karena ia sering mendengar
bibinya menyebut nama itu, tanpa terasa dia pun ikut mengetahuinya.
Sambil tertawa Bwe Si-jin berkata lagi: “Cau-ji, bagaimana ceritanya hingga
kau bisa berkenalan dengan si raja hewan Oh It-siau? Semula aku masih
menyangka kau adalah cucu muridnya.”
“Paman, aku bertemu dengan Oh-locianpwe hanya secara kebetulan saja,
waktu itu Cau-ji sedang berpesiar di telaga Tay-beng-ou bersama bibi. Aaah
betul, Cau-ji sering mendengar bibi menanyakan kabar beritamu.”
Gemetar keras sekujur badan Bwe Si-jin setelah mendengar perkataan itu,
buru-buru dia mendekati mulut gua dan sambil menggenggam tangan bocah itu
tanyanya: “Cau-ji, siapa bibimu?”
Cau-ji merasa tangannya sakit sekali lantaran dicengkeram kuat-kuat.
tergopoh dia kerahkan hawa murninya untuk melepaskan diri dari cekalan
lawan, kemudian baru sahutnya: “Dia bernama Go Hoa-ti”
Begitu mendengar nama tersebut, cucuran air mata segera jatuh berlinang
membasahi pipi Bwe Si-jin, gumamnya: “Adik Ti … oh … adik Ti, aku telah
menyiksamu ….”
“Paman, kenapa sih bibi selalu mencarimu?” mendadak Cau-ji bertanya
keheranan.

Sebenarnya Bwe Si-jin ingin berterus terang, tiba-tiba hatinya tergerak,
sahutnya kemudian: “Cau-ji, bibimu adalah piaumoayku (adik misan), tentu dia
tak tahu kalau aku berada di sini.”
“Ya benar, saban berjumpa orang, bibi seialu menanyakan jejakmu.”
Bwe Si-jin merasa hatinya amat sakit, buru-buru katanya: “Cau-ji, pergilah
beristirahat, tengah hari nanti kita harus bersiap sedia lagi untuk menghadapi
gempuran angin berpusing.”
Habis bicara ia segera membalikkan badan dan duduk bersila.
Biarpun masih banyak persoalan yang ingin ditanyakan. Tapi Cau-ji tak ingin
membantah perintah orang, dia pun ikut duduk bersila sembari membayangkan
kembali semua kejadian yang menimpa dirinya selama ini.
Di pihak lain, mana mungkin Bwe Si-jin dapat menenangkan hatinya? Ia
menjerit berulang kali di dalam hati kecilnya: “Adik Ti … oooh, Adik Ti, aku
bersalah kepadamu, tapi… tahukah kau betapa menderitanya aku tersiksa di
sini?”
Sambil berpikir, air mata jatuh bercucuran membasahi wajahnya.
Tanpa terasa kenangan pahit yang dialaminya selama ini terbayang kembali di
depan mata, dia terbayang kembali bagaimana nasibnya ketika jatuh ke tangan
suci (kakak seperguruan) Kiau-kiau….
0oo0
Rumah penginapan kekasih, kota Kim-leng.
Malam itu, di paviliun belakang yang diborong Bwe Si-jin, ia bersama Go Hoati
sedang menikmati kemesraan yang luar biasa setelah berpacaran sekian lama,
pakaian yang mereka kenakan satu per satu telah ditanggalkan ….
Dengan wajah yang merah karena jengah Go Hoa-ti berbisik: “Engkoh Jin, kau
tak boleh tergesa-gesa… bagaimanapun baru pertama kali ini aku merasakan
baunya lelaki….”
Sambil meremas sepasang payudara kekasihnya yang montok, kencang dan
berdiri tegang, Bwe Si-jin tertawa, sahutnya: “Jangan kuatir… entar kau
mencicipi dulu, kujamin lama kelamaan kau pasti akan ketagihan..”
“Aku tidak percaya …” sahut Go Hoa-ti sambil tertawa, ia bangkit berdiri
kemudian berjongkok persis di atas tubuh pemuda itu.
Dengan tangannya yang gemetar keras dia pegang “tombak” Bwe Si-jin yang
telah berdiri kaku kemudian dengan tangan sebelah merenggangkan lubang
“surga” sendiri, tangan lain yang memegang “tombak” langsung mengarahkan
senjata itu secara tepat.
Ketika posisinya sudah pas benar, pelan-pelan ia baru mendudukinya….
“Jangan tergesa-gesa adik Ti,” bisik Bwe Si-jin sambil memeluk pinggangnya,
“Ya … benar… benar … nah pelan-pelan duduk ke bawah … jangan terburuburu,
entar mestikamu akan lecet!”
Perlahan tapi pasti Go Hoa-ti melahap benda itu ke dalam liang surganya, ia
merasa benda keras tersebut seakan telah menyentuh ujung perutnya, membuat
seluruh badannya jadi lemas tak bertenaga.
Itulah sebabnya ketika ia berbuat intim dengan Ong Sam-kongcu di kediaman
Hay-thian-it-si tempo hari, perempuan itu merasa sedikit kecewa.
Tentu saja dia kecewa karena milik Bwe Si-jin yang besar, kaku dan tegang
bagai batu karang benar-benar mendatangkan perasaan yang mantap,
sementara milik Ong Sam-kongcu jauh lebih kecil dan kurang mantap rasanya.
Sambil memeluk kencang tubuh Go Hoa-ti yang menindih di atas tubuhnya,
pelan-pelan Bwe Si-jin bangun dan duduk, kemudian dengan mulutnya yang
rakus dia mulai menghisap dan menggigit puting susu perempuan itu.

“Aduh geli… engkoh Jin, jangan begitu … aku kegelian..” rintih Go Hoa-ti
penuh kejalangan.
Bwe Si-jin mengerti apa yang diinginkan seorang wanita, dia tahu bila seorang
perempuan mengatakan “jangan” itu artinya dia “mau!” dan “teruskan!” maka
hisapannya semakin keras, gigitannya makin menggila….
Tak selang berapa saat kemudian Go Hoa-ti merasa sekujur tubuhnya kaku,
geli dan linu, tak tahan lagi dia mulai menggeliat, mulai menggesek, mulai
bergoyang dan mulai menaik turunkan badannya….
Keadaannya saat ini tak ubahnya seperti orang yang merasa gatal di
punggungnya, karena tak bisa digaruk dengan tangan, terpaksa punggungnya
digesekkan di atas dinding untuk mengurangi rasa gatal tersebut.
Melihat gadis itu mulai terangsang dan mulai menggeliat, buru-buru Bwe Sijin
membaringkan kembali tubuhnya, kali ini sepasang tangannya mulai meraba,
meremas dan memelintir puting susu nona itu.
Diserang dari atas dan bawah, Go Hoa-ti semakin terangsang, gesekan,
goyangan dan geliat tubuhnya makin keras dan kencang, ia merasa semakin
keras gesekan badannya, bagian “bawah” tubuhnya terasa makin geli tapi
semakin nikmat….
Tak sampai seperempat jam kemudian, gadis itu sudah tersengal-sengal
sambil bermandi peluh.
“Berisitrahatlah dulu adik Ti!” bisik Bwe Si-jin sambil tertawa.
Go Hoa-ti tersenyum dan bangkit berdiri.
Bwe Si-jin melihat dari lubang surga perempuan itu meleleh keluar segumpal
cairan lendir yang meleleh turun melalui paha putihnya, cepat dia mengambil
handuk dan menyekanya kemudian baru berkata: “Adik Ti, jangan mengotori
tubuhmu dengan cairan tersebut, pergilah mencuci diri lebih dulu.”
Go Hoa-ti maki setengah mati, cepat-cepat dia melompat turun dan
mengambil handuk basah untuk menyekanya.
Wajah jengah si nona yang bersemu merah membuat Bwe Si-jin semakin
terangsang, dia ikut melompat bangun, katanya: “Adik Ti, kalau kau tak ingin
mengotori barang milik rumah penginapan, bagaimana kalau kita berganti gaya
saja?”
Go Hoa-ti semakin malu, jantungnya berdebar makin keras.
Sejak dia persembahkan kegadisannya untuk pemuda ini, kecuali waktu
kedatangan “Ang-sianseng”, boleh dibilang mereka berdua memanfaatkan setiap
saat untuk berbuat intim.
Setiap Bwe Si-jin mengusulkan untuk mencoba gaya baru, dapat dipastikan
Go Hoa-ti akan merasakan dirinya “mati” satu kali.
Bahkan setiap “kematian’nya tentu “mengenaskan” sekali.
Oleh sebab itu tidaklah heran kalau dia merasa terkejut bercampur girang
begitu mendengar pasangannya mengusulkan gaya baru.
Rupanya Bwe Si-jin dapat memahami perasaan hati kekasihnya waktu itu,
digenggamnya sepasang tangannya lalu bisiknya: “Adik Ti, kalau liang di depan
sudah ditembusi, kali ini aku mesti menyerang dari arah belakangi”
Sambil berkata pelan-pelan dia balik tubuh perempuan itu dan menekannya
agar membungkuk.
Go Hoa-ti segera paham arah mana miliknya yang akan diserang, setelah
berpikir sejenak, serunya terkesiap: “Jangan bagian yang itu, engkoh Jin, tempat
itu kelewat sempit!”
Sambil berkata, buru-buru dia menggapit sepasang pahanya rapat-rapat.

Bwe Si-jin tersenyum, dikecupnya bibir nona itu sekejap kemudian katanya
sambil tertawa: “Jangan kuatir adik Ti, masa aku akan bertindak kasar hingga
mencederaimu?”
“Engkoh Jin, kau tak boleh membohongi aku!”
“Hahaha… kapan sih aku bohong kepadamu?”
Dengan tangan gemetar pelan-pelan Go Hoa-ti melepaskan tangannya, setelah
itu kembali ia bertanya: “Engkoh Jin, gimana sih caranya main belakang?”
“Hahaha … adik Ti, letakkan sepasang tanganmu di pinggir ranjang untuk
menopang badanmu, lalu sedikit bungkukkan badanmu agar tubuh bagian
belakangmu menungging ke atas, nanti kau imbangi saja gerakan badanku maju
mundur….”
“Wah, hebat juga jurus seranganmu, tapi… senjatamu kelewat panjang dan
besar….”
“Hahaha… jangan kuatir, ayo kita mulai.”
Dengan satu tusukan yang cepat bagai kilat Bwe Si-jin menghujamkan
senjatanya ke bagian belakang tubuh Go Hoa-ti, lantaran sebelumnya sudah ada
pemanasan hingga bagian miliknya cukup berlendir, tanpa mengalami kesulitan
ujung tombaknya sudah menghujam dalam-dalam.
“Aaah … ternyata tidak sakit” bisik Go Hoa-ti sambil tertawa, “tapi… engkoh
Jin, sepasang telurmu kenapa ikut memukul-mukul? Aku … aku jadi geli dan
sedikit sakit … oooh… ooh… aaah… ahhh … enak… enak….”
Rintihan dan lengkingan Go Hoa-ti membuat napsu birahi Bwe Si-jin semakin
memuncak, dia peluk pinggang orang kencang-kencang sementara tusukannya
dilancarkan bertubi-tubi.
Sejak pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, hampir seratus orang
perempuan yang pernah disetubuhi, tapi di antara semua perempuan yang
pernah ditiduri, Go Hoa-ti adalah perempuan yang paling mampu membetot
sukmanya, demi bersenang-senang dengannya, dia tak segan melanggar
kebiasaan sendiri dengan berdiam diri di satu tempat lebih dari sepuluh hari.
Kecantikan wajah Go Hoa-ti ibarat bidadari yang turun dari kahyangan,
bukan saja ia nampak anggun juga amat berwibawa, tapi begitu naik ke ranjang,
bukan saja berubah jadi wanita jalang, yang bikin hati lelaki tak tahan justru
adalah jeritan, rintihan serta teriakannya yang membetot sukma….
Perempuan semacam inilah yang menjadi dambaan setiap pria, karena
rintihan seorang wanita jalang adalah irama yang paling membangkitkan napsu
birahi lelaki.
Dalam waktu singkat dia sudah menggenjotkan tubuhnya berpuluh-puluh
kali, sementara rintihan dan jeritan Go Hoa-ti semakin menjadi-jadi, pinggulnya
bergoyang dan berputar tiada hentinya.
Tak lama kemudian, seputar tempat mereka berdua berdiri sudah dibasahi
oleh lendir yang mengucur keluar dari lubang belakang perempuan itu.
Dengan gerakan yang sangat berhati-hati Bwe Si-jin maju mundurkan
badannya, rupanya dia kuatir senjata milik sendiri menjadi lecet gara-gara
kekerasan waktu menggesek.
Beberapa saat kemudian goyangan Go Hoa-ti semakin melemah dan perlahan,
Bwe Si-jin tahu kekasihnya sudah hampir mencapai puncaknya, maka ia segera
mencomot sepasang payudara perempuan itu dan meremasnya berulang kali.
Sambil meremas payudara perempuan itu, tubuhnya menggenjot makin cepat
dan keras.
“Aduh … engkoh Jin … ooo … aah … aduh … engkoh Jin… aku… aku tak
tahan lagi… aduuh… aku mau… mau keluar… aaooh… aduh… aduh nikmatnya!”

Bwe Si-jin menggenjot semakin cepat.
Tiba-tiba tubuh Go Hoa-ti gemetar keras lalu kakinya jadi lemas dan tiba-tiba
berjongkok ke bawah, untung Bwe Si-jin sudah siap, dia segera peluk tubuh
kekasihnya dan dibaringkan ke atas ranjang.
Setelah itu dia tubruk kembali ke atas tubuh perempuan itu, menindihnya
dan menggenjotkan kembali senjatanya berulang kali, hanya kali ini dia tusuk
lubang surga orang.
Lima enam puluh kali genjotan kemudian Bwe Si-jin merasa sekujur
badannya mengejang keras, tak tahan lagi dia muntahkan “ludah’nya berulang
kati, kemudian gerakannya makin melambat sebelum akhirnya berhenti sama
sekali.
“Ooh engkoh Jin, nikmat sekali aku ” bisik Go Hoa-ti sambil menghela napas
panjang.
Tak selang berapa saat kemudian ia sudah tertidur pulas.
Dengan penuh rasa sayang Bwe Si-jin mengecup bibirnya sekejap, kemudian
ia bangkit berdiri, duduk di tepi meja sembari termenung.
Apa yang sedang ia pikirkan?
Tak ada yang tahu!
Dalam lamunannya tiba-tiba ia mendengar ada seseorang berseru dengan
suara yang manja: “Aduuh … indah betul lekukan tubuh perempuan itu, sute,
tak heran kalau kau selalu bersembunyi di sini!”
Mendengar ucapan tersebut, sekujur badan Bwe Si-jin gemetar keras, buruburu
dia melongok keluar jendela.
Tiba-tiba daun jendela yang semula tertutup rapat terbuka dengan sendirinya,
menyusul kemudian muncul wajah seorang gadis yang cantik rupawan.
Gadis itu mempunyai sepasang mata yang indah, bibirnya kecil mungil dan
payudaranya sangat besar, begitu cantik wajahnya membuat setiap lelaki yang
memandang ke arahnya akan merasa napsu birahinya bergolak.
Bwe Si-jin yang sudah terbiasa menikmati wajah cantik seorang wanita, kali
ini nampak terkejut bercampur ngeri, seakan bertemu kalajengking beracun,
dengan wajah berubah hebat dia melompat bangun.
Nona berbaju merah itu melototi sekejap “barang” milik Bwe si-jin yang
tergantung lemas, tapi ukuran yang super gede segera membuat napsu
perempuan itu menggelora, buru-buru bisiknya dengan ilmu Coan-im-jit-pit:
“Sute, cepat kenakan pakaianmu, mari kita cari tempat untuk berbicara.”
Melihat jejaknya sudah ketahuan sucinya yang selama ini berusaha untuk
dihindari, Bwe Si-jin sadar bahwa dia butuh banyak waktu dan tenaga untuk
meloloskan diri dari cengkeraman orang, agar urusan itu tidak menyeret adik Tinya,
buru-buru dia kenakan pakaian dan segera mengikuti nona berbaju merah
itu keluar dari kamar losmen.
Tak jauh setelah keluar dari kota, tibalah mereka di sisi sebuah kereta yang
dihela dua ekor kuda, terdengar nona berbaju merah itu berkata. “Sute, mari
kita bicara di dalam saja.”
“Suci,” seru Bwe Si-jin dengan suara berat, “siaute toh sudah lepaskan posisi
ketua, juga telah mengumumkan kalau lepas dari ikatan perguruan, tolong
lepaskanlah dirimu….”
“Sute, kau kejam benar… sejak pergi tanpa pamit empat tahun berselang,
bukan saja cici dibikin sedih, ketiga sumoay pun menjadi kurus lantaran
memikirkan kau..”

Membayangkan kembali masa lampau yang dialaminya, paras muka Bwe Sijin
yang ganteng segera mengejang keras, serunya lagi: “Suci, harap kau sudi
mengingat hubungan baik kita di masa lalu dan melepaskan siaute…..”
“Sute,” tukas nona berbaju merah itu dengan suara dalam, “kau tak usah
banyak bicara lagi, kau sendiri toh tahu, tanpa kehadiranmu, sulit bagi kami
untuk membangun kembali kejayaan perguruan seperti masa lampau.”
“Hmm, sungguh tak disangka seorang playboy yang selama ini memandang
perempuan bagai sampah, bisa jatuh hati dengan seorang dayang ingusan.
Baiklah, demi masa depan perguruan, terpaksa suci harus bunuh dulu
perempuan ini.”
Selesai berkata dia segera mengayunkan telapak tangan kanannya siap
melancarkan sebuah pukulan.
Bwe Si-jin tahu, kakak seperguruannya sudah memegang pucuk kekuasaan
perguruan, di sekelilingnya banyak terdapat jagoan yang berilmu tangguh, bila ia
betul-betul turunkan perintah, dapat dipastikan Go Hoa-ti yang tertidur nyenyak
segera akan terbantai.
Buru-buru teriaknya keras: “Suci, tunggu sebentar!”
Sambil tertawa nona berbaju merah itu menurunkan kembali tangannya.
“Bagaimana sute, sudah paham?” serunya manja.
“Suci,” seru Bwe Si-jin sambil menahan perasaan sedih, “siaute bersedia pergi
mengikut kau, tapi kau mesti berjanji akan melepaskan dia.”
“Baik.”
“Suci, aku harap kau pegang janji.”
Selesai bicara dia segera melompat naik ke dalam ruang kereta.
Siapa tahu baru saja dia menyingkap kain tirai kereta, mendadak terlihat
selapis pasir merah telah menyambar ke hadapan wajahnya, buru-buru dia
ayunkan tangannya sembari berteriak: “Sumoay, kau….” belum habis bicara,
tubuhnya sudah roboh terkapar.
Nona berbaju merah itu tertawa terkekeh, buru-buru dia bopong tubuh
pemuda itu dan menyelinap masuk ke dalam ruang kereta.
Seorang lelaki bungkuk segera muncul dari balik hutan, melompat naik ke
atas kereta, mengayunkan pecut dan menjalankan kereta kuda itu meninggalkan
tempat tersebut
Di dalam ruang kereta, tampak seorang gadis berdandan tebal bagai siluman
sedang membelai wajah Bwe Si-jin yang ganteng sambil menghela napas.
“Sute,” katanya, “makin lama wajahnya makin tampan saja rasanya,”
“Hmm, bukan cuma tampan, kau belum tahu kalau kemampuannya yang satu
itu jauh lebih hebat* sahut nona berbaju merah itu sambil tertawa.
“Suci, bagaimana kalau kita buktikan kemampuannya itu?”
“Ehm, boleh saja, toh yang kita butuhkan adalah badannya bukan hatinya,
mari kita sekap dia dalam gua Siau-cu-thian-yu-tong dan kita nikmati
kejantanannya.”
“Kalau begitu silahkan suci mulai dulu.”
Sambil berkata dia mengeluarkan sebutir pil berwarna merah dan dijejalkan
ke mulut Bwe Si-jin, kemudian ia mulai tanggalkan seluruh pakaiannya.
Sementara itu si nona berbaju merah juga telah melucuti seluruh pakaiannya
hingga bugil, lalu membaringkan diri di atas lantai sambil tertawa terkekeh.
Nona berbaju kuning itu melirik sekejap tubuh bagian bawah nona berbaju
merah itu, kemudian tegurnya sambil tertawa: “Suci, hutan bakaumu
tampaknya makin hitam dan tebal, wouw, sungguh merangsang.”
Kembali nona berbaju merah itu tertawa.

“Sumoay, selama berapa bulan terakhir aku telah bermain cinta dengan
beberapa orang pendeta asing, bukan saja tenaga murni mereka berhasil
kuhisap, banyak sari perjaka yang telah kuperoleh, coba kau lihat bukankah
milikku bertambah montok dan berkilat?”
“Hahaha… yaa. berapa orang pendeta asing itu memang suka main
perempuan, coba kalau bukan bertemu kita berempat, mungkin orang lain tak
akan sanggup melayani mereka selama berapa menitpun.”
“Ya. konon suhu dan susiok mereka jauh lebih jantan dan kuat, sayang
mereka tak pernah menginjakkan kaki di daratan Tionggoan, kalau tidak aku
pingin sekali membuktikan kejantanan mereka.”
“Kalau mereka tidak kemari, toh kita bisa ke sana untuk mencari mereka.”
“Ya, benar, jika kita sudah kirim bocah ini ke dalam gua, akan kusuruh
berapa orang pendeta asing itu mengajak kita ke sana … waeh … coba lihat,
barang miliknya mulai ada reaksi… wouw… tambah besar… waah … ternyata
barang miliknya memang super besarnya.”
Ternyata obat perangsang yang dijejalkan ke mulut Bwe Si-jin sudah mulai
bereaksi, bukan saja “barang”-nya sudah berdiri kaku bagai tombak, bahkan dia
sudah mulai memeluk, meremas dan menggerayangi seluruh tubuh nona
berbaju merah itu.
Semakin lama menonton nona berbaju kuning itu semakin terangsang, buruburu
dia ikut melucuti pakaian sendiri, lalu ujarnya sambil tertawa jalang: “Suci,
tadi kau sudah saksikan dia bermain cinta dengan perempuan lain?”
“Betul, dia berhasil membuat budak itu mati tak bisa hidup tak mampu,
bukan cuma menggeliat saja bahkan merintih sambil berteriak, aku benar-benar
terangsang waktu itu. Aaai, seandainya dia tidak terlalu banyak mengetahui
rahasia perguruan kita, sebetulnya aku pingin berbaikan saja dengan dia,
dengan begitu banyak kesempatanku untuk menikmati barangnya yang gede….”
“Benar, dari sekian banyak lelaki yang meniduri aku. memang rasanya barang
milik dia jauh lebih gede dan keras, mungkin sewaktu meniduriku nanti, dia
paling kuat dan perkasa”
Kereta kuda bergerak cepat dari kota Kim-leng menuju ke selat Sam-shia di
sungai Tiangkang.
Untuk menghindari perhatian orang banyak, selama ini nona berbaju kuning
dan nona berbaju merah itu tak pernah turun dari kereta, sepanjang hari
mereka mengajak Bwe Si-jin bermain cinta dan mengumbar birahi.
Ketika kereta tiba di kaki bukit Wu-san, nona berbaju merah itu
memerintahkan lelaki bungkuk itu untuk menjaga kereta, sementara dia sendiri
bergerak menuju ke atas bukit.
Sementara nona berbaju kuning itu dengan mengempit tubuh Bwe Si-jin yang
sudah tertotok jalan darah Hek-tiam-hiatnya mengikuti dari belakang.
Pada saat itulah dari balik hutan muncul sesosok bayangan manusia, orang
itu tak lain adalah si raja hewan Oh It-siau, dalam sekilas pandang ia segera
mengenali orang yang dikempit nona berbaju kuning itu adalah sahabat
karibnya, Bwe Si-jin.
Tapi dia pun segera mengetahui kalau nona berbaju merah itu tak lain adalah
kakak seperguruan Bwe Si-jin yang bernama Su Kiau-kiau, kenyataan ini
membuat hatinya amat terperanjat
Raja hewan tak ingin bentrok muka secara iangsung dengan rombongan
perempuan itu, sebab dia tahu kepandaian mereka cukup tangguh.
Dia tak tahu Bwe Si-jin hendak dibawa pergi kemana, untuk mengetahui
rahasia tersebut secara diam-diam si raja hewan menguntit terus dari kejauhan.

Selang berapa saat kemudian mendadak dari empat penjuru bergema suara
pekikan aneka binatang yang riuh rendah.
Sadar kalau gelagat tidak menguntungkan nona berbaju merah itu segera
berbisik: “Sumoay, hati-hati!”
Baru berjalan lagi beberapa li, mendadak dari balik semak belukar muncul
dua ekor harimau raksasa yang datang menerkam.
“Binatang!” umpat nona berbaju merah itu gusar.
Dengan melepaskan dua pukulan dahsyat, kedua ekor binatang itu segera
terpental dan tewas dengan perut jebol.
Menyusul kemudian datang serangan yang bertubi-tubi dari aneka macam
binatang buas, dalam keadaan begini terpaksa nona berbaju kuning dan merah
itu melancarkan serangan gencar untuk membela diri.
Su Kiau-kiau tahu pastilah si raja hewan sedang bermain gila dengannya,
dalam marahnya ia segera berteriak lantang: “Hey orang she Oh, kalau punya
nyali ayo keluar, Koh-naynay sudah menunggumu di sini.”
Raja hewan sadar bahwa kepandaian silat yang dimilikinya masih bukan
tandingan lawan, agar punya peluang untuk menolong Bwe Si-jin, dia berusaha
keras menahan rasa gusarnya yang membara dan membungkam diri.
Secara beruntun Su Kiau-kiau menghardik lagi beberapa kali, melihat pihak
lawan tak berani tampil, setelah mendengus iapun melanjutkan perjalanannya.
Ketika mereka berdua tiba di sisi air terjun, dilihatnya air yang semula
mengalir turun kini sudah membeku jadi selapis salju tebal, mereka tahu angin
puting berpusing pasti baru saja berhembus di situ hingga udara jadi dingin dan
air menjadi beku.
Setelah masing-masing menelan sebutir pil berwarna merah api, Su Kiau-kiau
berjaga di pintu gua mencegah si raja hewan membuat keonaran, sementara
nona berbaju kuning itu segera menyusup masuk ke dalam gua dengan
kecepatan tinggi.
Tiba di dalam gua, ia menotok bebas jalan darah Hek-tiam-hiat di tubuh Bwe
Si-jin dan melemparkan tubuhnya ke dalam gua kecil, kemudian sambil tertawa
seram ia baru berseru: “Suheng, silahkan kau beristirahat di sini!”
“Sumoay, tempat apakah ini?” tanya Bwe si-jin agak bingung.
“Gua Siau-cut-thian-yu-tong dari perguruan kita.”
“Apa, kalian begitu kejam ….”
“Hmm, siapa suruh kau berkhianat?”
“Tapi sumoay….”
“Hey orang she Bwe … kau telah mengkhianati perguruan, kau tak berhak
memanggil sumoay lagi kepadaku.”
“Ni Cheng-bi!” Bwe Si-jin balas mengumpat, “kau perempuan berhati
kalajengking, kejam benar hatimu … jangan salahkan kalau aku bertindak
kejam kepadamu.”
Sembari berkata dia lepaskan satu pukulan.
Ni Cheng-bi mengegos ke samping, lalu dia balas melepaskan satu pukulan.
“Blammm!” Bwe Si-jin segera terbanting ke dinding karang dan jatuh tak
sadarkan diri.
Begitulah, semenjak hari itu Bwe Si-jin terkurung di dalam gua kecil itu,
saban hari dia harus mengalami dua kali siksaan karena terjangan angin
berpusing yang membawa hawa dingin, setiap kali merasa lapar, terpaksa dia
harus berusaha menangkap kelelawar untuk mengganjal perutnya.
Raja hewan beberapa kali berusaha masuk ke dalam gua itu untuk menolong
saudara angkatnya, tapi setiap kali menelusuri gua tersebut, belum sampai

berapa kaki, dia selalu mundur teratur karena tak sanggup menahan rasa dingin
yang menusuk tulang.
Dalam keadaan begini, terpaksa dia harus mengurungkan niatnya untuk
menolong Bwe Si-jin, tapi dia tidak berpangku tangan, dia selalu berusaha
mencari anak didik yang bisa dia gunakan untuk melaksanakan pertolongan itu.
Sementara Bwe Si-jin masih melamun sambil membayangkan kisah tragis
yang dialami selama ini, mendadak dari kejauhan terdengar suara gemuruh yang
sangat keras bergema tiba.
Dengan perasaan terkejut Bwe Si-jin membatin: “Aaah, waktu berlalu begitu
cepat, tak nyana sudah tiba saatnya angin puyuh itu menyerang lagi.”
Buru-buru dia tempelkan badan di lantai, menghimpun hawa murni
melindungi jantung dan bersiap menghadapi serangan.
Tak selang berapa saat kemudian, angin puyuh disertai suara gelegar yang
memekikkan telinga melanda seluruh ruang gua.
Bwe Si-jin merasa sekujur badannya meski sakit bukan kepalang, namun
jantung dan nadinya berada dalam perlindungan hawa murni sehingga otomatis
penderitaannya tidak terlalu berat, kenyataan ini sangat menggirangkan hatinya.
Dengan susah payah akhirnya terpaan angin puyuh itu berlalu, Bwe Si-jin
seperti orang yang baru menderita sakit parah, merasakan badannya sakit
bercampur linu, dia segera meronta dan berusaha untuk duduk.
Tiba-tiba ia mendengar Cau-ji bertanya dengan penuh rasa kuatir “Paman,
kau baik baik bukan?”
Bwe Si-jin tidak menyangka kalau kondisi Cau-ji tetap prima walaupun baru
saja terserang angin topan, cepat dia menggeleng.
“Tidak, aku tidak apa-apa….”
“Kalau begitu bagus sekali,” Cau-ji menghembuskan napas lega, “Paman, ada
baiknya kau beristirahat dulu.”
Sembari berkata dia keluarkan sebutir pil Pek-siu-wan dan segera ditelannya.
Terasa ada satu aliran hawa panas muncul dari lambungnya, benar juga, rasa
lapar dan dahaga segera hilang lenyap.
Tak lama kemudian Cau-ji sudah berada dalam posisi tenang.
Ketika mendusin kembali dari semedinya, bocah itu merasakan seluruh
badannya sangat enteng dan bertambah segar, tak tahan pikirnya: ‘Aneh benar,
kelihatannya setiap kali habis terbentur badanku dengan dinding karang,
kondisi tubuhku serasa jauh lebih segar dan prima.”
Dia mana tahu kalau hawa murni Im-yang-ceng-khi sedang terbentuk di
dalam tubuhnya dan kini semakin berkembang.
la bangkit berdiri, sewaktu menjumpai Bwe Si-jin masih mengatur waktu,
maka dalam menganggurnya dia coba tengok sekeliling ruang gua, tiba-tiba ia
merasa ada bau amis yang dibarengi bayangan hitam bergerak meluncur ke
arahnya, tanpa sadar dia ayunkan tangannya melepaskan sebuah pukulan.
Diiringi suara pekikan aneh di atas dinding karang segera muncul seekor
kelelawar tapi sudah menjadi bangkai dan tubuhnya dalam keadaan hancur
lebur.
Cau-ji tertegun, pikirnya: “Sialan, lagi-lagi hewan bermuka jelek … tempo hari
aku sempat dibuat kaget, sekarang rasakan pembalasanku.”
Tentu saja dia tidak tahu, tadi untuk menghindari serangan angin topan
berpusing, kawanan kelelawar itu telah mengungsi keluar gua, tetapi sekarang
setelah keadaan reda, berbondong-bondong kawanan binatang itu terbang balik
ke dalam gua.
Kembali selapis bau busuk menerpa ke wajah bocah itu.

Sekali lagi Cau-ji mengayunkan tangannya, lagi-lagi seekor kelelawar
dihantam hingga mampus.
Tak selang berapa saat, serombongan besar bau amis kembali mengerubuti
sekeliling bocah itu, Cau-ji berpekik nyaring, dengan mengeluarkan jurus
pukulan Lak-hap-ciang-hoat dia hajar kawanan kelelawar itu.
Bau anyir darah disertai hancuran bangkai seketika mengotori seluruh ruang
gua itu.
Waktu itu Bwe Si-jin sudah selesai bersemedi, dia hanya berdiri di samping
gua sambil menonton bocah itu menunjukkan kebolehannya, diam-diam ia
tertegun bercampur kagum setelah melihat kungfu bocah tersebut, dia tak
mengira dengan usianya yang masih begitu muda ternyata sudah menguasai
pelbagai macam ilmu pukulan.
Mendadak satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan girang
pikirnya: “Bocah ini sangat hebat, kelihatannya kungfu yang dia miliki sudah
lebih dari cukup untuk menghadapi suci serta ketiga sumoayku!”
Dia pun mulai memutar otak, dalam hati ia putuskan untuk membantu
memberi petunjuk kepada bocah itu agar ilmu silatnya bisa maju setingkat lebih
hebat
Di dalam anggapannya, apa yang dipelajari Cau-ji kelewat banyak, ilmu silat
gado-gado sangat tak sepadan untuk diunggulkan, sebab setiap perubahan bisa
memunculkan titik kelemahan, dalam pandangan seorang jago sakti, kelemahan
semacam itu bisa menyebabkan kematian.
Entah berapa saat sudah lewat, Cau-ji masih saja memainkan jurus
pukulannya dengan penuh semangat walau gerombolan kelelawar sudah lenyap
semenjak tadi, sedang Bwe Si-jin juga tenggelam di dalam pemikirannya.
Tatkala hawa dingin yang disertai pusaran angin berpusing mulai menyerang
tubuh mereka, kedua orang itu baru tersentak kaget dan sadar kembali.
Bwe Si-jin tak sempat lagi untuk menghindar, buru-buru dia cengkeram
pinggiran gua untuk berpegangan, dengan mengerahkan seluruh tenaga dalam
yang dimilikinya dan pejamkan mata rapat, dia sambut datangnya serangan
angin dingin itu.
Sementara Cau-ji yang masih asyik memainkan ilmu pukulan Yu-liong-patkwa-
ciang tersentak kaget ketika angin puyuh menerjang badannya, dalam kaget
dan terkesiapnya cepat-cepat dia tancapkan kaki ke atas tanah, lalu sambil
mengayunkan tangannya ia lepaskan pukulan untuk menghadang terpaan angin
topan.
Ilmu pukulan bocah itu memang tangguh, tapi mana mungkin dia bisa
melawan kekuatan alam yang begitu dahsyat? Tampak badannya gontai ke kiri
kanan diombang-ambingkan amukan angin berpusing.
Masih untung dia bisa memantekkan kakinya di tanah, sambil menggertak
gigi dia hadapi terpaan angin itu dengan sekuat tenaga.
“Blaaammm!” tiba-tiba bergema suara benturan keras, rupanya seluruh
tubuhnya terangkat oleh sapuan angin berpusing itu hingga badannya
menumbuk di atas dinding batu, begitu keras benturan yang terjadi membuat
bocah itu muntah darah dan tidak sadarkan diri.
Untung saja tenaga murni Im-yang-ceng-khi yang dimilikinya sudah mulai
tumbuh sehingga dapat melindungi badannya, kalau tidak, mungkin bocah itu
sudah tewas sejak tadi.
Dengan susah payah akhirnya Bwe Si-jin berhasil juga mempertahankan diri
dari sapuan angin puyuh, ketika serangan telah lenyap dia mulai menengok
sekeliling tempat itu, tapi tak nampak Cau-ji.

Dalam keadaan begini dia tak bisa berbuat lain kecuali buru-buru mengatur
pemapasan dan berusaha memulihkan kembali kekuatan tubuhnya.
Setengah jam kemudian tenaga dalam Bwe Si-jin sudah pulih enam bagian,
maka dia pun menggunakan tangannya untuk menggali sebuah lubang seluas
dua tiga depa agar badannya bisa menerobos keluar.
Setelah mencari beberapa saat akhirnya ia jumpai tubuh Cau-ji menempel di
sisi sebuah tebing, sepasang tangannya menancap di atas dinding sementara
kakinya terkulai lemas, noda darah masih menghiasi ujung bibirnya.
Secepat kilat Bwe Si-jin datang menghampiri, ketika diraba, ia menjumpai
tubuh bocah itu sudah dingin kaku, untung jantungnya masih berdetak, tanpa
terasa dia menghembuskan napas lega.
Buru-buru dia menghimpun tenaga dalam dan menempelkan tangan
kanannya di atas jalan darah Pek-hwe-hiat bocah tersebut, kemudian pelanpelan
membantunya mengatur kekuatan.
Beberapa saat kemudian hawa murni yang disalurkan ke dalam tubuh bocah
itu mendapat sambutan dari hawa murni si bocah, bahkan secara otomatis
kekuatan itu bergerak dan menyebar ke seluruh badan.
Sesaat kemudian terdengar Cau-ji berkeluh lirih, darah hitam menyembur
keluar dari mulutnya.
“Cau-ji, hati-hati” bisik Bwe Si-jin sambil memayang tubuhnya.
“Terima kasih paman” jawab Cau-ji tertawa, sambil berkata dia tarik kembali
tangannya dari atas dinding lalu merebahkan diri.
“Hebat benar bocah ini, ternyata ia sama sekali tidak terluka …” batin Bwe Sijin
tercengang.
Dalam pada itu Cau-ji juga dibuat kebingungan, tanyanya: “Aku masih ingat
dadaku terasa sakit waktu diterjang angin puyuh, lalu aku muntah darah dan
tak sadarkan diri, tapi aneh benar, kenapa aku sama sekali tidak terluka?”
“Kau harus bersyukur karena tidak terbawa hembusan angin puyuh, kalau
tidak, mungkin kau sudah tewas.”
“Paman, bagaimana caramu lolos dari kurungan?” kembali Cau-ji bertanya
keheranan.
“Hahaha … tenaga dalamku sudah pulih enam tujuh bagian, bukan pekerjaan
yang sulit untuk keluar dari gua ini.”
“Bagus sekali, kalau begitu kita bisa keluar dari sini untuk mencari bibi.”
“Tak usah terburu-buru, pusaran angin berpusing itu tampaknya sangat
bermanfaat untuk memulihkan tenaga dalamku, aku ingin bertahan berapa
waktu lagi, jika tenaga dalamku sudah pulih baru kita berangkat.”
“Baiklah,” Cau-ji manggut-manggut “toh Oh- locianpwe telah berjanji akan
pergi ke pesanggrahan Hay-thian-it-si untuk mengabarkan beritaku, sampai
waktunya mereka pun pasti akan tahu juga tentang kabar beritamu.”
“Benar, tugas terpenting yang harus dilakukan sekarang adalah memberi
petunjuk kepadamu untuk berlatih kungfu, Cau-ji, kau masih perjaka bukan?”
“Paman, apa artinya perjaka?”
“Artinya … Cau-ji, kau belum pernah tidur dengan wanita bukan?”
“Pernah, pernah, Cau-ji sering tidur dengan ibu.”
“Hahaha… kalau itu mah tak jadi soal, coba kemari, dengarkan baik-baik.”
Maka secara ringkas Bwe Si-jin menjelaskan ilmu Kui-goan-sinkang kepada
bocah itu kemudian mewariskan seluruh kepandaiannya kepada Cau-ji.
Dengan kecerdasan dan kehebatan tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, tak
sampai setengah jam kemudian ia telah berhasil hapal di luar kepala kokuat dari
Kui-goan-sinkang tersebut.

Sambil tersenyum Bwe Si-jin segera memuji: “Cau-ji, kau memang bocah
berbakat, mulai sekarang tancapkan sepasang tanganmu ke atas dinding karang
lalu atur napas sesuai dengan apa yang kuajarkan, tak sampai satu jam
kemudian aku jamin pasti akan terjadi satu peristiwa aneh.”
“Sungguh?”
“Hahaha … semenjak perguruanku didirikan, gua ini merupakan tempat
terlarang, tapi justru di sini pula tempat yang paling cocok untuk melatih diri.”
“Paman, apa maksudmu?”
“Hahaha … di kemudian hari kau bakal tahu dengan sendirinya, sayang
tenaga goan-yang milik paman sudah rusak, dengan meminjam kekuatan angin
topan berpusing paling banter cuma bisa pulihkan sebagian tenagaku yang
dicuri Su Kiau-kiau. Sudahlah, waktu sangat berharga, cepatlah mulai berlatih
tenaga dalam.”
Selesai berkata ia segera menerobos masuk kembali ke dalam gua.
Setelah menderita kerugian besar tadi, Cau-ji tak berani bertindak gegabah,
buru-buru ia duduk bersila menghadap ke dinding, menghimpun hawa
murninya pada telapak tangan lalu menancapkannya ke atas dinding karang.
Tak selang berapa saat kemudian ia sudah berada dalam keadaan tenang.
Satu jam kemudian ketika Bwe Si-jin selesai bersemedi, ia saksikan tubuh
Cau-ji yang berada di luar gua diselimuti selapis cahaya merah, melihat itu dia
sangat kegirangan.
“Sucouya sekalian dari pergurunan Jit-seng-kau,” gumamnya, “selama seratus
tahun terakhir belum ada seorang manusia pun berhasil menguasai Kui-goansinkang,
tapi kini, kepandaian tersebut sudah terwujud di tubuh Cau-ji.”
“Sucouya sekalian, tecu berani menjamin dengan nyawa, tecu akan berusaha
melindungi Cau-ji agar bisa menduduki posisi ketua, bersamaan juga bisa
mengubah Jit-seng-kau jadi sebuah perguruan kaum lurus.”
Berbisik sampai di situ tidak kuasa lagi cucuran air mata terharu berlinang
membasahi pipinya.
Sudah sepuluh tahun lamanya Bwe Si-jin terkurung di tempat itu, meskipun
banyak siksaan dan penderitaan telah dialami, selama ini dia tak pernah
mengucurkan air mata, sungguh tak disangka dalam satu dua hari terakhir
beberapa kali dia mesti melelehkan air mata. Entah berapa lama sudah lewat….
Mendadak dari kejauhan bergema lagi suara tiupan angin berpusing yang
memekakkan telinga, tampaknya waktu datangnya badai telah tiba.
Cau-ji yang masih bersemedi segera mengerahkan seluruh hawa murninya
untuk mempertahankan diri, dengan menahan rasa sakit yang menyayat di
sekujur badannya, dia biarkan angin topan itu berpusing di sekeliling badannya.
Beberapa kali badannya terangkat oleh pusaran angin kencang itu, tapi setiap
kali dia kerahkan tenaga dalamnya, tubuhnya menjadi tenang kembali, tapi
akibatnya terjadi pergolakan yang hebat di dalam rongga dadanya.
Tapi ia tetap mempertahankan diri, sambil menggertak gigi dia berusaha
mempertahankan tubuhnya.
Akhirnya setelah bersusah payah sekitar satu jam, pusaran angin puyuh itu
mulai mereda, gejolak hawa darah dalam rongga dadanya ikut pula jadi tenang,
ia hembuskan napas lalu melanjutkan semedinya.
Setengah jam kemudian ketika Bwe Si-jin selesai bersemedi dan merangkak
keluar dari gua, ia segera saksikan pakaian yang dikenakan Cau-ji telah hancur
berantakan, namun lingkaran cahaya merah di sekeliling badannya bertambah
tebal, kenyataan ini membuat hatinya amat gembira.

Begitulah, sejak hari itu dia tidak bosan-bosannva memberi petunjuk kepada
bocah itu untuk semakin menyempurnakan tenaga dalamnya.
0oo0
Suara mercon bergema memecahkan keheningan, aneka bunga bwe
berkembang dan menyiarkan bau harum semerbak.
Tahun baru telah tiba.
Pesanggrahan Hay-thian-it-si telah dihiasi dengan sepasang lian di muka
pintu gerbang, namun tahun baru kali ini terasa tidak semeriah tahun kemarin.
Ini disebabkan Cau-ji tidak berada di rumah, bahkan kabar berita Go Hoa-ti
pun seolah lenyap ditelan bumi.
Ong Sam-kongcu beserta dua belas tusuk konde emas berkumpul di ruang
tengah, mereka hanya duduk-duduk dengan wajah termenung.
Sementara sekawanan bocah bermain di seputar halaman, walaupun suasana
tetap ramai namun seakan kehilangan kegairahan.
Pada saat itulah Ong tua si penjaga pintu berlarian masuk dengan tergopohgopoh
sembari berteriak kegirangan: “Kongcu, kabar baik, kabar baik, Cau-ji
sudah ada beritanya!”
Teriakan tersebut segera disambut sorak sorai penuh kegembiraan dari semua
penghuni rumah.
Tampak Ong tua diiringi raja hewan Oh It-siau berjalan masuk ke dalam
ruangan dengan langkah lebar.
“Sam-pek,” teriak Ong Bu-jin dengan rasa kuatir, “benarkah apa yang kau
ucapkan barusan?”
“Tentu saja benar, kalau tidak percaya tanyakan sendiri kepada Oh-yaya.”
Sementara itu si raja hewan agak tertegun juga ketika melihat munculnya dua
puluhan bocah berwajah bersih, ia berseru pula: “Benar, aku mempunyai berita
tentang Cau-ji!”
“Oh, rupanya Oh-locianpwe telah datang berkunjung,” kata Ong Sam-kongcu
sambil maju menyambut, “silahkan masuk!”
Tak lama setelah si raja hewan mengambil tempat duduk, Pek Lan-hoa
muncul menghidangkan air teh seraya berkata: “Oh-locianpwe, silahkan minum
teh.”
“Terima kasih, terima kasih, Ong Sam-kongcu, kau benar-benar orang paling
bahagia di dunia ini, bukan saja punya bini yang rata-rata cantik, anak pun
semuanya hebat, terutama Cau-ji, dia betul-betul bocah luar biasa.”
“Terima kasih atas pujian locianpwe.”
Raja hewan tahu semua orang terburu ingin mengetahui kabar berita Cau-ji,
maka dia pun berkata lebih lanjut “Kongcu, saat ini Cau-ji berada di bukit Wusan
berlatih silat”
Secara ringkas dia pun menceritakan semua kejadian yang telah berlangsung.
“Locianpwe,” ujar Ong Sam-kongcu kemudian setelah selesai mendengar
penuturan itu, “kira-kira butuh berapa lama Cau-ji untuk belajar silat dan
keluar dari gua itu?”
“Kira-kira tiga tahun.”
Ong Sam-kongcu segera berpaling ke arah kawanan bocah itu dan ujarnya
sambil tertawa: “Anak-anak, dengarkan baik-baik, mulai hari ini kalian mesti
lebih giat berlatih silat, dua setengah tahun kemudian kita beramai-ramai
mendatangi telaga tersebut dan menonton bagaimana hebatnya si naga sakti,
setuju?”
Para bocah pun bersorak sorai menyambut tawaran itu dengan penuh
kegembiraan.

Sambil tersenyum kembali Ong Sam-kongcu berkata kepada Si Ciu-ing: “Adik
Ing, Oh-locianpwe dengan menempuh badai salju datang menyampaikan kabar
gembira, coba perintahkan dapur untuk menyiapkan hidangan, hari ini aku
ingin mengajak Oh-locianpwe minum sampai mabuk”
“Kongcu tak usah repot-repot.”

bersambung bencana-pembawa-nikmat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: