Pendekar Naga Emas 2-1

PENDEKAR NAGA MAS Jilid 2

Bab I. Tenaga sakti menggetarkan jagad.
Pesanggrahan Hay-thian-it-si (samudra dan langit satu pandangan) adalah tempat tinggal Ong Sam-kongcu, Lelaki paling ganteng di jagad saat itu. Suasana pesanggrahan yang selalu diliputi kegembiraan, suasana yang biasanya dipenuhi bocah yang bercanda sambil bermain kejar-kejaran, hari ini justru diliputi awan mendung yang gelap. Semua orang merasa sedih, semua orang merasa berduka.
Bahkan si Raja hewan Oh It-siau yang sudah terhitung kelas ‘kakek’ pun tak dapat menahan rasa pedihnya, ia berdiri di depan pintu dengan air mata bercucuran.
Semua orang merasa sedih karena seorang bocah yang baru berusia tiga belas tahun, Ong Bu-cau tak mampu mengendalikan semburan air maninya setelah melakukan hubungan badan untuk pertama kalinya. Sebagaimana diketahui, setelah jalan darah kaku di tubuh Cau-ji ditotok oleh ibunya, semburan air mani pun segera menyembur keluar dengan derasnya membasahi seluruh liang senggama Jin-ji (Baca jilid 1) Semenjak diurut oleh Cau-ji, sebetulnya Jin-ji sudah merasakan badannya sangat enteng bagaikan melayang di udara.
Maka begitu liang senggamanya disembur berulang kali oleh cairan mani yang panas, gadis itu segera menggigil keras dan diiringi jeritan nikmat dia pun mencapai orgasme. Waktu itu kebetulan Cau-ji sedang berbaring di samping tubuhnya, dalam keadaan masih bernapsu, gadis itupun segera mencium bibir Cau-ji dengan bernapsu kuat. Ciuman itu akhirnya berhasil menarik nyawa Cau-ji keluar dari pintu neraka. Sebetulnya kesadaran Cau-ji waktu itu sudah mulai menghilang, semburan mani yang bertubi-tubi membuat badannya mengejang keras, lambat-laun dia menjadi lemas dan nyaris tak bertenaga. Maka ketika bibir Jin-ji yang panas mencium bibirnya, bocah itu tersentak kaget. Dia segera merasakan lidah mungil gadis itu seolah-oleh sebiji buah yang berlapis madu, selain manis juga amat segar, tak tahan lagi dia pun menghisap ujung lidah itu dengan kuat. Perlu diketahui, air mani Cau-ji yang menyembur keluar berulang kali itu sebenarnya mengandung inti kekuatan pil naga sakti yang pernah ditelannya, oleh sebab itu hawa murni yang kuat itu langsung menerjang ke dalam Tan-tian Jin-ji. Begitu Cau-ji mulai menghisap ujung lidahnya, maka hawa murni yang semula mengalir keluar dengan derasnya ke dalam tubuh Jin-ji, seketika terhisap kembali ke atas, menembus semua hambatan di tubuh si nona dan balik kembali ke tubuh Cau-ji. Begitu hawa Im bertemu dengan hawa Yang, kehidupan pun berjalan kembali dengan normal. Dua orang itu saling berpelukan kencang, tubuh mereka tak bergerak lagi. Ketika Go Hoa-ti melihat tubuh Cau-ji sudah tidak bergetar lagi, dia tahu semburan mani bocah itu sudah berhenti, maka setelah menutup tubuh mereka berdua dengan selimut, dia pun berjalan keluar meninggalkan ruangan. Dalam waktu singkat Cau-ji dan Jin-ji sudah tertidur dengan nyenyaknya. Mendekati tengah hari, mendadak dari dalam ruangan berkumandang suara letupan yang sangat aneh. Cau-ji segera terbangun dari tidurnya, baru saja dia ingin memeriksa suara aneh apa yang berbunyi dari bagian bawah tubuh enci Jin, tiba-tiba berkumandang lagi suara letupan yang keras.
Menyusul suara letupan itu, dia lihat tubuh enci Jin gemetar sangat keras. Segera dia melompat bangun dan berguling ke bawah ranjang. Tampak tubuh Ong Bu-jin gemetar sangat keras, suara aneh itu ternyata berasal dari bagian dalam nona itu, satu kejadian yang membuatnya tertegun. Kenapa bisa muncul kejadian seperti ini? Ong Bu-jin sendiri pun ketakutan setengah mati, semula dia menyangka suara itu berasal dari kentutnya, tapi setelah diamati lagi, ternyata dugaannya keliru, suara itu bukan suara kentut, malahan badannya seperti kemasukan udara yang besar, bagai balon yang dipompa, badannya membengkak makin besar. Beberapa saat kemudian suara aneh itu baru berhenti. Tiba-tiba Cau-ji merasa enci Jin seperti tumbuh lebih tinggi, yang lebih aneh lagi adalah bagian dadanya, mendadak dia merasa sepasang payudara gadis itu seolah tumbuh makin besar dan montok, ia lihat ada dua gumpalan daging besar dengan puting susu berwarna merah terbentang di hadapannya.
Terdorong rasa ingin tahu yang luar biasa, bocah itu segera meraba dan meremasnya …. Haah, ternyata empuk, halus dan enak sekali untuk dipegang dan diraba. Makin diraba Cau-ji merasa makin nikmat, maka dengan kedua belah tangannya ia mulai meremas payudara nona itu. Lama kelamaan Ong Bu-jin merasa kegelian, makin diremas ia merasa semakin geli, akhirnya dengan wajah bersemu merah bisiknya, “Adik Cau, jangan begitu!” “Enci Jin, kenapa kau punya dua gumpal daging besar?” Tentu saja Ong Bu-jin kebingungan untuk menjawab, serunya kemudian, “Aku sendiri juga tidak tahu!” “Enci Jin, jangan-jangan karena pergumulan kita semalam, kau kena kuhantam hingga terluka dan membengkak besar, biar aku tanyakan kepada ibu!” Ong Bu-jin menjadi malu bercampur terkejut, Segera dia bangkit untuk menarik tangannya. “Aduh!” tiba-tiba gadis itu menjerit keras, ia merasa tubuh bagian bawahnya selain sakit juga amat pedih.
Cepat Cau-ji menyingkap selimutnya dan memeriksa bagian bawah gadis itu, ia lihat ceceran darah membasahi seprei. Dalam terkejut bercampur paniknya ia segera menjerit keras, “Ayah! Ibu! Kalian cepat kemari! Enci Jin dia….” Tapi dia tak bisa melanjutkan perkataannya lagi karena mulutnya keburu dibungkam oleh tangan Ong Bu-jin. “Adik Cau,” bisiknya lirih, “kau jangan sok panik begitu, ayo cepat bersembunyi di sini, masa kau ingin bertemu orang dalam keadaan bugil?” Baru saja Cau-ji akan bersembunyi di balik selimut, tiba-tiba terdengar Si Ciu- ing berseru kaget, “Ooh Thian! Cau-ji, ternyata kau belum mati! Aku … uuh … uhhh …
uuuh….” Saking kaget bercampur girangnya ia segera menangis tersedu-sedu.
Semua orang dewasa yang berdatangan pun serentak menjerit kaget setelah menyaksikan Cau-ji duduk di ranjang dalam keadaan segar bugar. “Ooh, Thian!” Dua puluh empat orang pasukan bocah yang mendadak melihat engkoh Cau tumbuh menjadi dewasa pun ikut menjerit kaget. Dengan penuh rasa gembira si Raja hewan menyeka air matanya, melihat Jin- ji masih bersembunyi di balik selimut, ia segera mengerti apa yang terjadi, segera teriaknya, “Sobat-sobat kecil, mari kita pergi bersantap!” “Aaah, nanti saja! Kami masih ingin bercakap-cakap dengan engkoh Cau!” tampik mereka. “Siau-jiang, ayo makan dulu,” seru Pek Lan-hoa cepat, “selesai berpakaian engkoh Cau pasti akan menyusul kalian untuk makan bersama, setuju?” “Setuju!” Raja hewan yang ditarik dan didorong kawanan pasukan bocah itu menjadi kegirangan setengah mati, kini ia bisa tertawa terbahak-bahak. Pek Lan-hoa balik ke kamarnya dan mengambil satu stel pakaian putih milik Ong Sam-kongcu. “Aaah, benar!” tiba-tiba Cau-ji berteriak keras, “tadi telah terjadi satu peristiwa yang sangat aneh, enci Jin, dia….” “Jangan cerewet!” teriak Ong Bu-cau tersipu-sipu.
Seakan mendapat perintah kaisar, Cau-ji segera tutup mulutnya rapat-rapat. Meski begitu tangannya tetap membuat gerakan melengkung di depan dada sendiri sembari menjulurkan lidahnya. “Adik Cau, apa yang kau lakukan?” jerit Ong Bu-jin. Kembali Cau-ji menjulurkan lidahnya, ia melompat turun dari ranjang dan segera mengenakan baju berwarna putih itu. Ketika semua orang melihat ketajaman pendengaran Ong Bu-jin yang sangat hebat, diam-diam semua tertegun dibuatnya. Sementara itu Cau-ji sudah berseru dengan gembira, “Ooh, sangat menarik, enci Jin, cepat berpakaian!” “Cau-ji, mari kita pergi makan dulu!” ajak Ong Sam-kongcu, sambil berkata dia menjura kepada Bwe Si-jin dan mempersilakan tamunya berjalan lebih dulu. Menanti ketiga orang itu keluar dari kamar, Go Hoa-ti baru mengambilkan pakaian untuk Jin-ji, ujarnya sambil tertawa, “Jin-ji, semua orang sudah pergi, cepat bangun dan berpakaian!” Terbayang kembali sepasang payudaranya yang berubah menjadi bulat besar, Ong Bu-jin merasa malu sekali, bisiknya lirih, “Ibu, tolong ambilkan pakaian, akan kukenakan di dalam selimut!” “Aaai, apa sih yang kau jadikan malu?” Siapa tahu baru saja pakaian itu dikenakan setengah jalan, Ong Bu-jin kembali berseru cemas, “Ibu, tolong pinjam pakaian milikmu!” Sambil berkata ia lepaskan kembali pakaiannya yang kelewat sempit. Semua orang yang berada di situ menjadi tertegun dan saling berpandangan dengan keheranan, hanya Go Hoa-ti seorang yang segera mengerti apa yang terjadi, sambil tersenyum ia mengambil satu stel pakaian miliknya dan diantar ke balik selimut. Tak selang berapa saat kemudian selimut sudah disingkap, Ong Bu-jin dengan wajah tersipu-sipu turun dari pembaringan. “Woouw, cantiknya!” para bocah perempuan itu menjerit tertahan. Go Hoa-ti pun sangat gembira, sambil menyisir rambutnya yang kusut ia bertanya, “Jin-ji, kenapa secara tiba-tiba kau bisa tumbuh tinggi, malah jauh lebih tinggi dari ibu!” Ong Bu-jin merasa girang bercampur malu, dengan suara lirih bagai suara nyamuk bisiknya, “Ibu, aku sendiri pun tidak tahu, aku hanya tahu selesai ‘begituan’ dengan adik Cau, mendadak tubuhku tumbuh jadi besar dan dewasa.” Waktu itu Si Ciu-ing boleh dibilang ‘mertua memandang menantu, makin dipandang semakin jitu’, sambil membantu membetulkan letak pakaian gadis itu, tanyanya pula, “Jin-ji, anak Cau tidak nakal padamu bukan?” “Tidak,” sahut Ong Bu-jin malu, “cuma badanku sekarang terasa canggung, kurang nyaman!” “Kalau bagian ‘itu’ yang sakit sih kau tak perlu kuatir, sebentar juga bakal sembuh,” bisik Si Ciu-ing sambil menarik tangannya, “ayo, kita makan bersama.” “Enci Ing, kelihatannya kau akan semakin menyayangi anak Jin,” seru Go Hoa-ti menggoda, “waah, kelihatannya aku mesti gigit jari.” Gelak tertawa pun bergema memenuhi ruangan. “Kalau tidak sayang menantu sendiri, lantas harus sayang siapa?” sahut Si Ciu-ing sambil tertawa pula. Ong Bu-jin sama sekali tidak tahu kalau dia mempunyai ayah lain, perkiraannya semula, adik Cau berbuat ‘begituan’ bersamanya tak lain karena hendak menyembuhkan luka yang sedang diderita, tak heran kalau dia menjadi tertegun setelah mendengar perkataan itu.
Memangnya satu ayah lain ibu boleh menikah? Go Hoa-ti bukan orang bodoh, ia segera dapat menangkap jalan pikiran putrinya, sambil tersenyum ujarnya, “Jin-ji, mari kita bersantap dulu, selesai bersantap tentu ada banyak cerita menarik yang akan kau dengar!” Ketika seorang gadis berbaju putih bak bidadari yang turun dari kahyangan berjalan masuk ke ruang utama, beberapa orang lelaki dewasa yang ada di situ pun serentak memuji, “Ooh, cantiknya!” Oleh karena itu secara diam-diam Cau-ji telah mengabarkan bahwa Ong Bu- jin telah tumbuh setinggi dirinya kepada para bocah lelaki, tak heran begitu melihat gadis itu melangkah masuk ke dalam ruangan, tempik-sorak segera bergema gegap gempita. Bwe Si-jin yang melihat putri kesayangannya tumbuh begitu cantik dan anggun pun ikut merasa gembira, ia tertawa tiada hentinya. Ong Bu-jin duduk satu meja dengan kawanan gadis lainnya, dia menjadi malu sampai tak bisa bicara ketika rekan-rekannya sembari meraba dadanya yang menonjol besar, bertanya ini itu tiada habisnya. Melihat itu, sambil menarik wajah Cau-ji segera menegur, “Eei, jangan berisik, biar enci Jin bersantap dulu!” Kawanan gadis itu tak berani ribut lagi, serentak mereka pun mulai bersantap. Sejak melakukan perjalanan jauh selama beberapa hari, Cau-ji belum pernah makan enak, sekarang setelah berhadapan dengan aneka hidangan lezat, ditambah lagi ia sangat riang, tak heran semua makanan yang tersedia disikatnya hingga ludes. Ketika Cau-ji melihat di hadapan seorang adiknya masih tertinggal sepotong paha ayam, dia segera menggapai tangan kanannya dan …
“Weess!”, tahu-tahu paha ayam itu sudah terhisap dan terbang kedalam genggamannya. Tentu saja kawanan bocah itu belum pernah menyaksikan kehebatan ilmu Li- khong-sip-oh (menghisap benda dari udara), kontan semua orang terperana dibuatnya. Melihat Cau-ji sengaja memamerkan ilmunya, Bwe Si-jin segera menggerakkan telapak tangan kanannya ke atas, separoh ayam panggang yang berada di hadapannya dicomotnya, kemudian hardiknya, “Terima potongan ayam ini!” Ketika pergelangan tangan kanannya diputar sambil berayun, piring berisi ayam itu kontan berputar di angkasa lalu terbang melayang ke arah Cau-ji. Separoh potong ayam panggang itu seakan tumbuh sayap, dengan satu gerakan cepat langsung meluncur ke tangan bocah itu. Sementara piring tadi dengan membawa desingan angin tajam langsung meluncur keluar ruangan.
Melihat itu para bocah segera menjerit kaget, “Aduuuh, piring itu bisa pecah!” Cau-ji sama sekali tidak menggubris, dia masih asyik menggigit ayam panggang itu.
Mendadak terdengar bocah-bocah itu berteriak lagi, “Haah, piring itu terbang kembali!” Benar saja, setelah berputar satu lingkaran kecil di luar ruangan, bukan saja piring itu terbang kembali ke dalam ruangan bahkan dengan kecepatan yang lebih tinggi meluncur ke arah Bwe Si-jin. Dengan wajah serius Bwe Si-jin menghimpun tenaga dalamnya ke tangan kanan, secepat kilat ia mencengkeram ke muka dan menerima piring itu. Tempik-sorak disertai tepuk tangan meriah kembali bergema gegap gempita.
Lamat-lamat Bwe Si-jin merasa ujung jarinya kesemutan dan sakit, tak tahan ia menghela napas panjang. Sementara itu si Raja hewan telah mengambil sebuah guci arak seberat lima kati, bentaknya, “Cau-ji, biar Yaya mentraktirmu minum arak!” Selesai berkata telapak tangan kanannya menahan dasar gunci, lalu didorongnya ke depan. Selapis panah arak segera menyembur ke udara dan menerjang ke hadapan Cau-ji. Dengan tenang Cau-ji menolak telapak tangan kanannya ke arah panah arak itu, tampiknya, “Yaya, maaf, ayah melarang Cau-ji minum arak!” Sambil bicara sekali lagi telapak tangan kanannya menekan, semburan arak itupun meluncur balik ke dalam guci. Selagi mengerahkan tenaga ternyata masih mampu bicara, melihat kemampuan tenaga dalam yang begitu hebat, sampai Ong Sam-kongcu sendiri pun terkagum-kagum dibuatnya. “Cau-ji,” serunya kemudian, “hari ini merupakan hari bersejarah bagimu, minumlah!” Sekali lagi panah arak menyembur ke depan. Kali ini Cau-ji menarik napas sambil menghisap, panah arak pun bagaikan ikan paus yang menelan air samudra langsung meluncur masuk ke dalam mulutnya. Waktu itu Bwe Si-jin masih menekan dasar guci dengan telapak tangannya, tiba-tiba panah arak lebih melebar satu kali lipat dan menyembur ke arah Cau-ji semakin kencang. Melihat datangnya semburan ini, Cau-ji segera teringat tindakan pamannya dulu, dimana dengan menyemburkan darah dari kelelawar menyerang dua bagian tubuhnya sekaligus.
Maka dengan gerakan cepat telapak tangan kirinya mengambil sebuah mangkuk kosong, lalu dengan teknik menghisap dia hirup separoh bagian semburan arak itu, sementara jari tangan kanannya ditusukkan ke tengah mangkuk dan menghisapnya ke dalam mulut. Menyaksikan demonstrasi ilmu silat tingkat tinggi semacam ini, tak kuasa lagi Ong Sam-kongcu beserta para wanita lainnya bangkit berdiri untuk menyaksikan dengan lebih teliti. Selang beberapa saat kemudian tiba-tiba panah arak itu terputus di tengah jalan. Rupanya seluruh isi guci arak itu telah terhisap habis. Tak kuasa lagi semua orang menghela napas panjang, tempik-sorak dan tepuk tangan pun kembali berkumandang gegap gempita.
Dengan keheranan Ong Bu-jiang segera bertanya, “Engkoh Cau, kemana larinya semua arak itu?” “Tentu saja masuk kemari!” sahut Cau-ji sambil menepuk perut sendiri. “Tidak mungkin, kenapa perutmu tidak membesar seperti guci arak itu?” Cau-ji tertawa tergelak. “Hahaha, adik Jiang, kau paling suka minum kuah, kenapa perutmu pun tidak membuncit seperti kuali?” Habis berkata kembali ia tertawa tergelak. “Engkoh Cau, kau bicara ngawur!” merah jengah wajah Jiang-ji. “Ooh, sejak kapan kau belajar mengucapkan ‘bicara ngawur”? Engkoh Cau tak pernah membohongi kalian, bagaimana kalau kutumpahkan keluar semua isi perutku?” “Tidak usah, tidak usah, bau!” seru para bocah sambil menutup hidung sendiri.
Rupanya suatu hari Lo-ong tumpah-tumpah setelah mabuk berat, bau muntahan yang menyengat sempat membuat para bocah itu pusing tujuh keliling. “Baik, baiklah,” kata Cau-ji kemudian, “kalau memang kalian takut bau, biar kuteteskan keluar saja, adik Jiang, cepat ambil guci arak tadi.” Baru saja A-jiang mengambil guci arak itu, segulung semburan arak telah meluncur keluar dari ujung jari tangan kiri Cau-ji. Bau harum semerbak pun memancar ke seluruh ruangan, kembali teriakan memuji bergema di angkasa. Cau-ji tersenyum, ketika lima jari tangannya dipentangkan, kembali terlihat ada lima semburan arak memancar masuk ke dalam guci itu. Bwe Si-jin tidak menyangka kalau ilmu sakti Kui-goan-sin-kang milik Cau-ji sudah terlatih hingga mencapai tingkatan Thian-jin-hap-it (langit manusia bersatu padu), dalam suasana penuh kekaguman, mereka pun mulai membicarakan rencana bagaimana harus menghadapi perkumpulan Jit-seng- kau. Sesaat kemudian Cau-ji telah menjilati kelima ujung jarinya sambil berseru, “Ehmmm, harumnya!” Raja hewan mengambil guci arak itu dan menimang-nimang sebentar, tiba- tiba serunya sambil tertawa, “He, Cau-ji, kau sudah korupsi satu kati arak!” Merah padam wajah Cau-ji, untuk sesaat dia tak mampu berkata-kata. Bwe Si-jin kontan tertawa terbahak-bahak, katanya, “Hahaha, Cau-ji, coba kau ceritakan pengalamanmu sejak perpisahan kita di dekat air terjun tempo hari!” Mendengar itu Cau-ji segera teringat kembali akan sumpah dirinya pada Su Gi-gi. Mendadak paras mukanya berubah hebat. Dengan wajah serius Bwe Si-jin segera berkata, “Cau-ji, kami tahu kau pasti telah bertemu dengan suatu peristiwa yang menyulitkan, itulah sebabnya kami ingin sekali membantumu menyelesaikan kesulitan itu, coba ceritakan pengalamanmu!” Setelah termenung dan berpikir sejenak akhirnya Cau-ji pun menceritakan kisahnya bagaimana ia bertarung melawan naga sakti, bagaimana ia berhasil mendapatkan bola merah, kabur ke dalam gua, memukul hancur beberapa orang musuh dan melarikan diri dari tempat itu. Ketika selesai mendengar penuturan itu, si Raja hewan yang pertama-tama bersorak gembira, serunya, “Terima kasih langit, terima kasih bumi, akhirnya naga sakti berusia seribu tahun itu mati juga, tampaknya danau itu sekarang telah berubah menjadi bukit karang!” Sebaliknya Bwe Si-jin berkata dengan suara dalam setelah termenung sesaat, “Cau-ji, gadis yang mayatnya kau hancurkan itu bisa jadi adalah putri kesayangan Su Kiau-kiau, Kaucu perkumpulan Jit-seng-kau, itulah sebabnya semua orang memanggilnya sebagai tuan putri!” “Cau-ji, tampaknya gadis itu tahu kalau bola merah itu merupakan mestika yang sangat langka, Lwe-wan dari naga sakti berusia seribu tahun, dia berusaha untuk menghabiskan sendiri benda itu, jelas tujuannya ingin menjadi jago nomor wahid di kolong langit, siapa tahu dia pun berencana hendak membunuhmu!” “Mana mungkin? Aku toh pernah menyelamatkan jiwanya!” “Cau-ji, pikiranmu kelewat sederhana, hati manusia siapa tahu, kelicikan dan kebusukan hati dimiliki setiap orang, apalagi Su Kiau-kiau sudah lama berencana melestarikan kembali perkumpulan Jit-seng-kau, putrinya pasti berusaha mendukung rencana ibunya bukan?” Dengan mulut membungkam Cau-ji manggut-manggut. “Aaaai, benda mestika hanya diperoleh mereka yang berjodoh, siapa suruh budak itu kelewat tamak, coba kalau dia hanya makan sedikit saja, belum tentu nasibnya akan berakhir secara tragis.” “Cau-ji, untung kau telah berhasil melatih ilmu Kui-goan-sin-kang, kalau tidak, mungkin waktu itupun kau bakal tewas secara mengenaskan, malah menurut analisa, bisa jadi kau akan mati bersama gadis itu.” Ketika membayangkan kembali kegilaan serta kekalapan yang telah dilakukan gadis itu, Cau-ji segera berseru, “Paman, ada benarnya juga perkataanmu itu, kau tahu, dia selalu bertindak gila terhadapku, bahkan tingkah lakunya sangat aneh, dia paksa aku mengencingi badannya berulang kali, hampir saja aku mati lantaran kecapaian.” Mendengar perkataan itu, para orang dewasa tahu pikiran Cau-ji sudah terbuka, mereka pun menghembuskan napas lega, sementara dalam hati kecilnya merasa kagum bercampur terima kasih pada Bwe Si-jin. Raja hewan segera maju ke depan menggenggam sepasang tangan Bwe Si-jin, ujarnya terharu, “Lote, tak nyana kau berjiwa besar dan bersedia mewariskan ilmu Kui-goan-sin-kang, kepandaian paling hebat perkumpulan Jit-seng-kau kepada Cau-ji, kalau dulu Loko salah menilaimu, harap sudi dimaafkan!” Bwe Si-jin tidak menyangka kalau kesalah pahaman ini dapat diselesaikan sedemikian mudahnya, dengan girang ia balas menggenggam tangan Raja hewan. “Engkoh tua, terima kasih atas pemahamanmu! Terima kasih banyak!” serunya terharu. Ong Sam-kongcu yang selama ini hanya membungkam segera menimpali, “Sebenarnya perkumpulan Jit-seng-kau termasuk sebuah perkumpulan kaum lurus, sayangnya Kaucu yang menduduki jabatannya sekarang sudah mengambil jalan sesat, akibatnya perkumpulan ini dianggap orang sebagai perkumpulan sesat.” “Saudara Bwe, asal kau bersedia membawa perkumpulan Jit-seng-kau kembali ke jalan yang benar, Siaute bersedia mendukungmu!” “Betul, Lote,” kata si Raja hewan pula, “tulangku belum terlampau tua untuk digerakkan, ayo, berjuanglah, kami semua akan mendukungmu!” Tak terkira rasa girang Bwe Si-jin setelah mendengar dukungan itu, katanya, “Terus terang, sebenarnya saat ini aku sudah mengantongi jawabannya, di kolong langit saat ini mungkin hanya Cau-ji seorang yang sanggup mengendalikan keempat iblis wanita itu, aku ingin mendukung Cau-ji menjadi ketua Jit-seng-kau!” Jeritan kaget seruan tertahan segera bergema di seluruh ruangan. “Saudara Bwe,” Segera Ong Sam-kongcu menyela, “Cau-ji masih kecil dan tak tahu urusan.” “Ong-heng,” tukas Bwe Si-jin, “Cau-ji toh bakal tumbuh dewasa, biar mereka kaum muda saja yang berjuang memberantas kejahatan, sementara kita yang tua sudah waktunya pensiun dan menikmati sisa hidup dengan tenang.” Bicara sampai di situ, ia melirik sekejap ke arah Go Hoa-ti.
Dengan penuh kegembiraan Go Hoa-ti balas melirik ke arah suaminya.
Raja hewan ikut berteriak pula, “Lote, kebesaran jiwamu sungguh membuat hatiku kagum.” “Hahaha, engkoh tua, bagaimanapun sawah yang subur harus diwariskan kepada orang sendiri, bukan begitu?” Dengan penuh pengertian Raja hewan balas tertawa. Cau-ji sama sekali tak menyangka kalau dirinya bakal mendapat kesempatan untuk menjadi ketua perkumpulan Jit-seng-kau, tak tahan lagi dengan semangat yang berkobar serunya, “Ayah, apakah Cau-ji boleh menjadi Kaucu perkumpulan Jit-seng-kau?” Ong Sam-kongcu tidak menyangka kalau dirinya yang mempunyai watak lemah tak bersemangat ternyata memiliki keturunan yang berhati keras seperti baja dan berilmu silat tangguh, kontan dia menyahut, “Tentu saja boleh!” Ucapan selamat pun segera mengalir datang dari semua orang yang hadir. Terlebih dua belas tusuk konde emas, mereka amat kegirangan sampai tak mampu berkata-kata. Mereka sebenarnya termasuk macan betina yang suka melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sekalipun sekarang sudah terbiasa hidup tenang, namun begitu muncul kesempatan, sifat aslinya langsung saja muncul. Ong Sam-kongcu memperhatikan para bini dan anak-anaknya sekejap, lalu serunya kepada kawanan bocah itu, “Kalian dengarkan baik-baik, bila Cau-ji benar-benar menjadi seorang Kaucu. paling tidak kalian harus bisa menjadi seorang Tongcu atau Huhoat, jangan tak punya semangat begitu!” “Kami pasti akan berusaha!” serentak para bocah berteriak. “Hahaha, bagus, bagus sekali, sekarang kalian boleh pergi beristirahat, bila ada waktu senggang pasti akan kuajarkan ilmu silat yang lebih tangguh.” “Baik!” Baru saja Cau-ji akan ikut meninggalkan ruangan, Si Ciu-ing sudah menariknya ke dalam kamar dan memberi pelajaran ‘ilmu ranjang’ yang jauh lebih halus dan lembut, dia berulang kali berpesan agar bocah itu jangan kasar bila ingin menyetubuhi Jin-ji, selain itu diajarkan pula teknik pemanasan yang hebat. Di pihak lain Pek Lan-hoa sekalian juga mengajak Ong Bu-jin kembali ke kamarnya untuk berbincang-bincang, selain menurunkan teknik melayani sang suami di atas ranjang, mereka pun sekaligus memberitahu asal-usulnya. Sedang Ong Sam-kongcu menarik tangan Raja hewan dan diajaknya minum arak. “Engkoh Jin,” bisik Go Hoa-ti kemudian, “kita sudah terlalu banyak berhutang budi pada mereka!” “Adik Ti,” sahut Bwe Si-jin setengah berbisik, “kalau begitu mari kita bikin beberapa orang anak lagi, asal bisa dikawinkan dengan mereka, bukankah hutang budi kita bisa terbayarkan?” Go Hoa-ti merasa hatinya berdebar, serunya cepat, “Aku sudah berusia setengah abad, masa subur untuk melahirkan sudah lewat, mana mungkin bisa melahirkan lagi?” “Sstt, omong kosong, tahun ini usiamu baru enam belas tahu, siapa bilang sudah lewat masa melahirkan? Untuk perkataan ngawurmu itu kau mesti didenda!” Sambil berkata ia meraba pipi kanan bininya. Go Hoa-ti segera mengegos ke samping dan cepat berlari menuju ke gedung Ti-wan. Baru saja perempuan itu masuk ke dalam kamar, Bwe Si-jin telah memeluk tubuhnya erat-erat.
Kontan saja Go Hoa-ti merasa jantungnya berdebar keras, tubuhnya yang lemas segera bersandar dalam pelukan lelaki itu, bisiknya lirih, “Engkoh Jin, masakah di siang hari bolong ….” Sambil menciumi bibir, pipi dan leher perempuan itu, sahut Bwe Si-jin, “Aaah, peduli amat mau di siang hari bolong atau di tengah malam buta, semalam permainan kita sudah terganggu di tengah jalan, kali ini aku mesti menusuk liangmu lebih keras lagi!” Sambil berkata ia mulai melepas pakaian yang dikenakan perempuan itu satu per satu. Go Hoa-ti membalik tubuhnya dan membantu Bwe Si-jin melepas celananya, katanya lagi, “Semalam kita memang terlalu gegabah, sama sekali tak kusangka Jin-ji dan Cau-ji bisa masuk ke dalam kamar di saat kita masih berasyik- masyuk.” Bwe Si-jin tertawa lirih, sambil membelai tubuh perempuan itu, meremas sepasang payudaranya dan meraba bulu-bulu hutan bakau di bagian antara paha, ia berbisik lagi, “Adik Ti, semalam apakah Jin-ji sangat menderita?” “Ehmm, jangan dilihat Cau-ji masih kecil, dia memiliki ‘barang’ yang luar biasa besarnya, apakah tidak kau perhatikan cara jalan Jin-ji hari ini? Kelihatannya dia menderita luka yang cukup parah ….” “Hahaha, sejak awal aku sudah tahu kalau ‘barang’ Cau-ji memang luar biasa besarnya, keadaan Jin-ji saat ini persis seperti keadaanmu sewaktu pertama kali aku tiduri….” “Aaah, kau…. kau memang jahat!” Sambil berkata ia segera melepaskan diri dari pelukan lelaki itu dan menyelinap masuk ke dalam kamar. Dalam waktu singkat dua buah tubuh yang sama sekali bugil berlarian dalam ruang kamar, bermain petak umpet. Mendadak Go Hoa-ti menjerit kaget, “Aduuuh!” Rupanya ‘tombak panjang’ milik Bwe Si-jin telah menusuk masuk melalui belakang pantatnya, dengan jurus Han-cing-gan-ciong (melihat tombak dengan pandangan mesra). “Creeet!”, ujung tombak langsung menghujam masuk ke dalam liang surga milik Go Hoa-ti. Sudah jelas jeritan sakit itu bukan kesakitan sungguhan, tapi jeritan merangsang yang sangat menggoda. Sebab bila dia tidak sengaja menunggingkan pantatnya ke belakang sambil mementang sepasang kakinya, bagaimana mungkin tombak panjang itu bisa menusuk masuk ke dalam liangnya? Sepasang tangan Bwe Si-jin segera memeluk pinggang perempuan itu dengan kencang, kemudian dia mulai melancarkan serangkaian tusukan dengan gencar.
“Plook Ploook!”, serangkai bunyi aneh bergema tiada hentinya. Perlahan-lahan Go Hoa-ti menggerakkan tubuhnya ke depan, dengan sepasang tangan berpegangan di pinggir ranjang, pinggulnya dipentang semakin lebar mengambil gaya kaki dipentangkan dan pantat ditonjolkan ke belakang, ia mulai menggoyang pinggulnya sebentar ke kiri dan kanan, sebentar lagi ke atas dan ke bawah, mengimbangi gerakan tusukan lawan yang semakin gencar. “Plook, ploook”, suara cairan yang saling menggencet bergema makin nyaring. Go Hoa-ti dapat merasakan ujung ‘tombak panjang’ milik engkoh Jin sudah menancap hingga mencapai ke dasar liangnya, tak tahan lagi dia mulai merintih, “Aduuuh … ooooh … adduuuh … aaaah … tusuk yang dalam … aduh … engkoh Jin … aduh sayang … terus… masukkan terus….” Bwe Si-jin menggenjot badannya makin cepat, sepasang tangannya sangat repot, sebentar meremas puting susu, sebentar meremas payudara, terkadang tangannya merantau hingga ke bawah, menekan ‘biji kacang ijo” di bagian bawah Go Hoa-ti yang dilindungi hutan bakau lebat, tak terkirakan kenikmatan yang dirasakannya. Lama kelamaan napsu birahinya makin berkobar, dia pun menggenjot badannya makin kuat dan cepat. “Oooh … oooh … aduuuh … aduh nikmatnya …lebih keras lagi … ya … lebih keras lagi … aduuh … aduh … terasa hingga ke dasarku… mati aku….” “Hahaha, adik Ti, jangan mati dulu … ayo goyang lebih keras lagi, mari kita bertarung lebih hebat… ya … lebih kencang … aduuuh …
aduuh … aku…. aku tak tahan” Bagaikan air panas yang menyembur keluar dari lubang termos, “Crocoot!”, tembakan pun dilepaskan dari ujung tombak Bwe Si-jin.
Lama kemudian baru ia mencabut keluar tombaknya dari dalam liang gua. Waktu itu dari bagian bawah Go Hoa-ti pun sudah meleleh keluar cairan kental yang mengalir melalui kakinya dan membasahi permukaan lantai. “Ooh, adik Ti, kau sungguh hebat!” puji Bwe si-jin sambil tertawa. Go Hoa-ti mengambil selembar handuk dan membantunya membersihkan ujung tombak dari cairan kental, lalu membersihkan pula tubuh bagian bawahnya, kemudian setelah mengerling sekejap, katanya, “Engkoh Jin, kelihatannya kebiasaanmu mencicipi tahu milik orang lain masih belum bisa hilang.” Bwe Si-jin tertawa lebar, ia bimbing perempuan itu naik ke atas pembaringan, kemudian menaikkan sepasang kakinya di atas bahu sendiri, kemudian ujarnya sambil tertawa, “Adik Ti, tahukah kau, aku sudah belasan tahun tak pernah mencicipi tahu!” Sambil berkata tombak panjangnya kembali digenjotkan ke muka. “Creeeep!”, ujung tombak kembali menghujam masuk ke dalam liang surga. “Aduuh mak ….” sekali lagi tubuh Go Hoa-ti gemetar keras. Tadi dia bisa menggunakan pinggulnya sebagai pelindung badan hingga mengurangi daya tusukan yang dihasilkan oleh ‘tombak panjang’ itu, tapi sekarang boleh dibilang ia berada dalam keadaan terbuka lebar, sepasang kakinya terpentang lebar membuat liang surganya sama sekali tak ada perlindungan. Kini seluruh tubuh bagian bawahnya berada dalam keadaan terbuka, dia hanya bisa pasrah dengan membiarkan Bwe Si-jin melakukan ‘pembantaian’ secara besar-besaran. Dalam keadaan begini dia hanya bisa berpegangan di sisi pembaringan sambil ‘mengertak gigi’ menahan datangnya ‘gempuran dahsyat’ yang bertubi-tubi. Dalam waktu singkat Bwe Si-jin sudah melancarkan beratus kali gempuran berantai, gempuran yang satu lebih hebat dari gempuran sebelumnya, perempuan itupun mulai merintih, mulai mengaduh, merintih kenikmatan…. Kali ini serangan yang dilancarkan Bwe Si-jin tidak tanggung-tanggung lagi, dia langsung mengeluarkan jurus Hwe-sian-ciong-hoat (ilmu tombak berputar), setiap kali ujung tombaknya menusuk ke dalam liang sorga, ujung tombaknya selalu menempel di dasar liang sambil menggesek dan berputar. Go Hoa-ti tak kuasa menahan diri lagi, rintihannya makin keras, jeritannya makin membangkitkan napsu, akhirnya dia pun mulai merinding. Bwe Si-jin si panglima perang yang sangat berpengalaman dalam medan laga, si jago tangguh dalam memetik bunga segera mengerti kalau jurus serangan yang digunakan sudah mendatangkan hasil, maka dia pun mempergencar serangannya lagi “Plook, plok”, suara gesekan cairan bergema makin keras, begitu kerasnya hingga menggantikan suara rintihan dan jeritan Go Hoa-ti yang membetot sukma. “Engkoh Jin … aku … aduh … aduh … aduh enaknya … oohh … ooh … lebih keras lagi…
aduh enaknya … oaaah … aaaah … aku hampir… aku hampir mati” “Hahaha, adik Ti, bukankah kau ingin mati? Hahaha..” Jangan dilihat Bwe Si-jin hanya tertawa tergelak, padahal dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bagaimanapun pertarungan jarak dekat semacam ini merupakan pertarungan badan yang sangat melelahkan. Empat lima puluh tusukan kemudian akhirnya Go Hoa-ti mengibarkan bendera putih tanda menyerah, tampak tubuhnya gemetar keras, mulutnya merintih sambil ternganga lebar. Bwe Si-jin masih melanjutkan genjotannya sebanyak puluhan kali lagi. Go Hoa-ti mulai gelisah, jeritnya, “Engkoh Jin … berhenti … aku … aku sudah tak tahan … aduh … aku tak tahan… mati aku….” Kelihatannya ia mulai sesak napas, udara yang masuk lebih sedikit dari udara keluar, malah sepasang matanya sudah mulai membalik. Bwe Si-jin menghembuskan napas panjang, dia mengambil selembar handuk dan dijejalkan ke bagian bawah tubuhnya, lalu sambil membaringkan perempuan itu di atas ranjang, ujarnya sambil tertawa, “Adik Ti, beristirahatlah dulu!” Go Hoa-ti membuka matanya dan menghela napas. “Benar-benar sangat nikmat, engkoh Jin, bagaimana … bagaimana kalau kuhisapkan milikmu!” Tak terkirakan rasa girang Bwe Si-jin mendengar tawaran itu, segera dia melompat naik ke atas pembaringan dan berbaring dengan kepala menghadap ke kaki dan membiarkan tombaknya persis tergantung di atas mulut perempuan itu. Benar saja, Go Hoa-ti segera membuka mulutnya dan mulai menghisap ‘tombak panjang’ itu dengan nikmat.
Bwe Si-jin merasakan benda miliknya kaku dan kesemutan, makin dihisap ia merasa makin nikmat hingga tak terasa dia ikut menggenjotkan badannya naik turun. Saking besar dan panjangnya tombak itu, hampir saja ujung tombak menembus tenggorokan Go Hoa-ti, cepat perempuan itu memegang kedua butir ‘telur burung puyuh’ yang bergelantungan di hadapannya dan mulai meremasnya.
Begitu telurnya mulai diremas, Bwe Si-jin tidak banyak tingkah lagi. Kembali dia mengambil handuk dan dengan halus mulai menyeka liang surga milik perempuan itu. Begitu menggosok beberapa kali, tak lama kemudian handuk itu sudah basah kuyup. Pada saat itulah tiba-tiba ia merasa pinggangnya linu, Bwe si-jin tahu dia segera akan mencapai puncaknya, segera dia mencabut keluar tombaknya dari mulut perempuan itu. Tapi Go Hoa-ti segera menggelengkan kepalanya, bahkan dia menghisap ujung tombak itu makin kencang dan cepat. “Adik Ti, jangan, entar mengotori mulutmu,” segera dia berteriak. Go Hoa-ti tak sanggup menjawab, dia hanya menggelengkan kepalanya berulang kali.
Dalam keadaan begini Bwe Si-jin hanya bisa tertawa getir, setelah menggenjot badannya makin kencang, akhirnya dia pun mulai memuntahkan pelurunya.
“Gluguk”, semburan itu langsung ditelan Go Hoa-ti. Dia menghisap terus tombak yang mulai melemas itu hingga Bwe Si-jin benar- benar terbaring lemas, kemudian baru melepaskan genggamannya. “Oooh … aku benar-benar kenikmatan!” keluh Bwe Si-jin lemas, sambil berkata ia mulai membalikkan badannya. Go Hoa-ti masih menempel ketat tubuhnya, ia berbisik, “Engkoh Jin, aku hampir saja putus napas, lain kali jangan kau gunakan jurus itu.” “Hahaha, bukankah kau ingin mati?” “Kau … kau sudah merasakan kenikmatan, sekarang masih jahat padaku!” Sambil berkata ia memukul dadanya dengan mesra. 0oo0 Bulan purnama bersinar terang di angkasa. Di kolam Ti-sim dalam perkampungan Hay-thian-it-si terlihat Cau-ji dengan bertelanjang dada sedang bermain kejar-kejaran dengan Ong Bu-jin yang hanya mengenakan pakaian dalam. Dalam setengah bulan terakhir, kedua orang ini tak pernah berpisah barang sebentar pun, hubungan cinta mereka pun kian hari kian berkembang mesra. Malam itu, menggunakan kesempatan di saat kebanyakan orang sedang berbincang-bincang di ruang utama, mereka berdua menyelinap ke kolam untuk bermain air. Kepandaian berenang yang dimiliki kedua orang ini tidak selisih jauh, tapi tenaga dalam yang dimiliki Cau-ji jauh melebihinya. Waktu itu, ketika melihat potongan tubuh enci Jin bertambah montok dan indah, Cau-ji merasa tak tahan lagi, dia bayangkan betapa nikmatnya jika dapat memeluk tubuh yang bahenol itu. Berpikir begitu, sepasang kakinya segera menjejak ke tanah dan tubuhnya langsung menubruk ke depan. Ong Bu-jin tidak menyangka bakal dipeluk pinggangnya, baru ia akan meronta, keadaan sudah terlambat. Hari ini dia memang mengenakan pakaian dalam berwarna putih, bahan kain yang tipis membuat sepasang payudara si nona kelihatan sangat mencolok, apalagi setelah basah oleh air. Khususnya sepasang putingnya yang sebesar kacang goreng, merah di antara warna hitam membuat benda itu kelihatan sangat mencolok. Sepasang tangan Cau-ji merangkulnya dari belakang punggung, lalu setelah meraba sepasang payudaranya yang montok, dengan penuh rasa ingin tahu dia mulai meraba puting susu yang merah mengeras itu dan memilirnya berulang kali. Ong Bu-jin merinding, rabaan itu nyaris membuatnya sesak napas, segera dia meluncur keluar ke permukaan air. Begitu muncul dan menghembuskan napas panjang, segera tegurnya kepada Cau-ji yang masih meremas payudaranya, “Adik Cau, lagi apa kau ini?” “Hahaha, enci Jin, kedua butir kacang ini enak benar kalau dibuat mainan!” Seraya berkata kembali dia memuntir sepasang puting susu itu berulang kali. Kontan saja Ong Bu-jin merasa sakit bercampur geli, segera teriaknya, “Aduuh … apanya yang enak dibuat mainan, kau sendiri toh punya, kenapa tidak kau mainkan milikmu sendiri?” “Aaah, ogah aah, punyaku kecil, punyamu jauh lebih besar, dan lagi lebih enakan memegang milikmu.” “Kau … kau memang jahat, baik … sekarang berbaliklah, aku juga mau memegang milikmu.” “Baik.” Cau-ji segera membalikkan badannya sambil memeluk Ong Bu-ji dengan erat, bahkan dia mulai mencium bibirnya yang menantang dan melumatnya. Ong Bu-jin tidak menyangka kalau Cau-ji begitu nakal, tak mampu mengendalikan rasa kejut bercampur girangnya, ia segera menjejakkan kaki di dalam air dan balas mencium pemuda itu dengan penuh napsu. Di bawah cahaya rembulan, di antara riak air kolam yang bening, kedua orang itu tenggelam dalam ciuman yang paling hangat. Tanpa terasa, entah sedari kapan, tahu-tahu pakaian dalam yang dikenakan Ong Bu-jin telah terlepas dari tubuhnya dan mengapung menjauh dari situ. Dengan tangan kirinya mendayung di air, perlahan-lahan kedua orang itu berenang menuju ke tepi kolam, lalu sekali menekan permukaan tanah, Cau-ji berdua yang telanjang telah melompat naik ke atas daratan. “Adik Cau, mau apa kau?” bisik Ong Bu-jin. “Enci Jin, aku… aku ingin….” Dia tidak tahu bagaimana harus mengemukakan hasratnya, maka dengan tergagap ia tak sanggup meneruskan kata-katanya, tidak begitu dengan tangannya, dengan sigap dia mulai melepas celana daiam yang dikenakan gadis itu. “Jangan di sini!” segera Ong Bu-jin menekan tangannya, “malu dong kalau ketahuan orang!” “Ba… bagaimana kalau di bawah pohon saja?” “Di situ? Baiklah.” Mereka berdua celingukan sekejap mengawasi sekeliling tempat itu, setelah yakin tak ada orang, dengan cepat mereka berlari menuju ke bawah pohon. Dengan satu gerakan cepat Cau-ji melepas celana dalam yang dikenakan Ong Bu-jin, lalu ketika siap melepaskan juga celana dalam miliknya, mendadak tampak Siau-jiang muncul dari ruang utama sambil berteriak, “Engkoh Cau! Enci Jin!” Pendengaran Cau-ji saat ini amat sensitip, meski rada tak senang karena pertarungannya bakal dibatalkan, namun melihat wajah Siau-jiang yang begitu tegang, segera dia menegur dengan ilmu Coan-im-ji-bit (menyampaikan suara secara rahasia), “Siau-jiang, apa yang terjadi?” Tak terlukiskan rasa kaget Siau-jiang ketika mendengar suara namun tak nampak manusianya, dengan kebingungan dia celingukan ke sana kemari. “Adik Cau,” Ong Bu-jin segera berbisik, “keluarlah dulu, coba lihat apa yang terjadi, jangan kau buat Siau-jiang ketakutan!” “Sialan, dia memang mengacau suasana saja!” gerutu Cau-ji tak senang. Tapi ia bangkit juga sambil melompat keluar dari tempat persembunyiannya. Begitu bertemu Cau-ji, Siau-jiang segera berseru, “Engkoh Cau, di luar sana datang dua orang, mereka sedang bertarung melawan Oh-yaya dan paman Bwe!” “Sungguh? Kenapa kau tidak ikut menonton?” tanya Cau-ji cemas. “Ibu bilang kedua orang itu galak sekali, mereka melarang kita keluar!” “Baik, sekarang pulanglah dulu, sebentar biar kuhajar kedua orang itu!” Selesai berkata dia melayang balik ke tempat persembunyiannya.
Siau-jiang masih berdiri celingukan di situ, dia tahu engkoh Cau dan enci Jin berada di situ, tapi kenapa hanya engkoh Cau seorang yang muncul? Kemana perginya enci Jin? Sedang apa dia di situ? Ong Bu-jin tahu, adik Jiang memang seorang setan cilik yang besar rasa ingin tahunya, sejak awal dia sudah menyembunyikan diri di belakang pohon. Begitu melihat Cau-ji muncul kembali, segera bisiknya, “Adik Cau, adik Jiang belum pergi!” Cau-ji berpaling, melihat Siau-jiang masih celingukan macam maling siap mencuri ayam, ia menjadi jengkel bercampur geli, segera serunya lagi dengan ilmu menyampaikan suara, “Adik Jiang, kenapa kau belum pergi dari situ?” Siau-jiang menjulurkan lidahnya berulang kali, segera dia balik kembali ke ruang utama. Cau-ji tahu, sekembalinya ke ruang utama, Siau-jiang pasti akan menceritakan keadaan mereka di situ, maka katanya sambil tertawa, “Enci Jin, tunggulah sebentar, biar kuambilkan pakaianmu.” “Tidak apa-apa, barusan apa yang dikatakan adik Jiang?” “Dia bilang, di luar sana kedatangan dua orang yang sangat galak, mereka sedang berkelahi melawan Oh-yaya dan ayahmu.” “Sungguh? Kalau begitu cepatlah kau menyusul ke situ, aku segera akan menyusul.” Segera Cau-ji balik ke tepi kolam, setelah mengambil pakaian dalam milik Ong Bu-jin, segera dia mengenakan kembali pakaiannya dan berlari menuju ke pintu gerbang. Belum tiba di depan pintu, ia sudah mendengar suara bentakan nyaring serta deru angin pukulan bergema dari luar pintu, perasaannya kontan bergolak keras, ia mempercepat larinya menuju keluar.
Terdengar Si Ciu-ing berbisik sambil menggapai ke arahnya, “Cau-ji, ilmu silat yang dimiliki kedua orang itu sangat lihai, cepat bantu Oh-yaya!” Cau-ji manggut-manggut, ia saksikan seorang kakek kurus kering bak kulit pembungkus tulang dengan jenggot berwarna putih, jubah warna hitam dan bersenjatakan sebuah toya berkepala ular sedang bertarung sengit melawan Raja hewan. Waktu itu Raja hewan dengan mengandalkan tongkat bambunya sedang melepaskan serangkaian serangan gencar, segulung bayangan hijau disertai deru angin kencang dan gemuruhnya guntur menekan kakek itu habis-habisan. Jurus serangan yang digunakan kakek kurus itu sangat aneh, setiap gerak serangannya selalu ganas dan telengas, jangan dilihat senjata andalannya cuma sebuah tongkat berkepala ular, tapi begitu berada di tangannya ternyata memiliki daya penghancur yang mengerikan. Angin serangan yang begitu kencang dan kuat menyelimuti daerah seputar satu meter lebih, di balik angin yang menderu disertai pula kilatan halilintar dan gemuruhnya suara guntur. Pertarungan berlangsung semakin sengit, jurus serangan yang digunakan kedua orang itu semakin aneh, angin toya pun makin lama makin bertambah kuat, jelas mereka berdua telah saling bertarung dengan mengerahkan tenaga dalam tingkat tinggi. Cau-ji mencoba berpaling ke arah lain, lebih kurang dua belas meter dari arena pertarungan pertama, Bwe Si-jin sedang bertarung melawan seorang kakek berambut putih bagai tembaga, bersanggul tinggi dan mengenakan jubah panjang yang sederhana.
Mereka berdua pun sedang terlibat pertarungan yang amat sengit, bukan saja pasir beterbangan di udara, bahkan batu kerikil pun ikut mencelat ke empat penjuru.
“Roboh kau!” mendadak terdengar bentakan nyaring bergema memecah keheningan. Tiba-tiba dari ujung toya berkepala ular milik kakek kurus kering itu menyembur keluar segumpal asap merah, asap itu langsung meluncur ke wajah Raja hewan. Di luar dugaan Raja hewan sama sekali tidak roboh, tapi tubuhnya mundur sejauh tiga meter lebih dari posisi semula. Kakek ceking itu tertawa seram, sambil mengobat-abitkan toyanya dia menyusul ke muka. Semburan asap merah itu seketika menyelimuti seluruh tubuh Raja hewan dan memaksanya harus berkelit ke sana kemari. Menyaksikan kejadian itu Ong Sam-kongcu segera memberi tanda, serentak semua orang mengundurkan diri ke dalam halaman.
“Ayah, apakah asap merah itu beracun?” bisik Cau-ji kemudian. “Cau-ji,” ujar Ong Sam-kongcu dengan serius, “kedua orang ini tak lain adalah Tian-tiong-siang-sat (sepasang malaikat bengis dari In-lam), asap merah itu mengandung racun yang sangat jahat, bila menempel di kulit maka kulit kita akan segera membusuk hingga menyebabkan kematian!” “Hmmm! Masa menggunakan benda beracun macam begitu untuk bertarung melawan orang, betul-betul tidak adil, ayah, tampaknya Oh-yaya mulai tak sanggup menahan diri, bagaimana kalau Cau-ji menggantikan posisinya?” “Baiklah, gunakan saja ilmu pukulan Pun-lui-ciang-hoat (ilmu pukulan guntur menggelegar) untuk menghadapinya, ayah ingin lihat, kau butuh berapa jurus untuk merobohkan dirinya?” Sementara itu Si Ciu-ing telah berpesan dengan rasa kuatir, “Cau-ji, kau harus berhati-hati!” Melihat kekuatiran istrinya, sambil tertawa Ong Sam-kongcu berkata, “Kau tak perlu kuatir, anak Cau pernah menelan pil mestika Tay-huan-wan, selain itu pernah pula makan empedu naga sakti, boleh dibilang dia tidak mempan menghadapi serangan racun macam apapun, dia tak perlu kuatir menghadapi asap merah itu.” “Baiklah kalau begitu.” Dalam pada itu Raja hewan sudah tercecar sangat hebat, napasnya sudah tersengal-sengal macam napas kerbau, dalam keadaan seperti ini dia hanya bisa memutar toyanya untuk melindungi badan. Melihat serangannya berhasil mencecar lawan, kakek ceking itu melancarkan serangannya makin gencar, toya di tangan kanan, serangan tangan kosong di tangan kiri, dia mencecar lawannya semakin dahsyat. “Setan tua, jangan sombong kau!” bentak Cau-ji gusar. Tubuhnya secepat kilat meluncur masuk ke dalam arena, telapak tangan kanannya diayunkan ke muka dan sebuah serangan telah dilontarkan tanpa menimbulkan suara. “Cau-ji kelewat kolot,” kata Ong Sam-kongcu sambil menggeleng kepalanya berulang kali, “menghadapi manusia macam beginipun dia masih menggunakan sopan santun, memberi peringatan lebih dulu sebelum melancarkan serangan.” “Itulah tingkah laku seorang lelaki sejati!” sambung Si Ciu-ing kegirangan. Dalam pada itu si kakek ceking itu tergetar hatinya setelah mendengar bentakan itu, gerak serangannya agak terhenti sejenak, tapi begitu tahu penyerangnya hanya seorang bocah kemarin sore, tak tahan ia pun mendengus menghina. Walaupun dia melihat Cau-ji mengayunkan tangannya, tapi karena tidak melihat datangnya angin serangan, dia sangka bocah itu hanya berlagak menyerang untuk membohonginya, maka bukan saja dia tidak peduli atas datangnya ancaman, malahan dengan toyanya dia mencecar Raja hewan makin hebat. Siapa tahu pada saat itulah ia merasa seluruh tubuhnya terbungkus oleh satu kekuatan yang maha dahsyat, diikuti sebuah tenaga yang sangat kuat menghimpit tubuhnya. Padahal waktu itu tubuhnya sudah telanjur menubruk ke depan, ingin menghindar tak sempat lagi, dalam gugupnya sambil mengertak gigi ia melancarkan sebuah bacokan maut dengan toyanya. Pertarungan antara dua jago tangguh, lengah sedikit bisa mendatangkan bencana. Tahu-tahu terdengar kakek ceking itu menjerit kesakitan, tubuh berikut toyanya sudah terhajar oleh angin pukulan yang dilancarkan Cau-ji. Baru saja lengannya terpapas kutung hingga mencelat ke angkasa, tahu-tahu “Blaaaam!”, tubuhnya sudah terhajar oleh serangan kedua Cau-ji hingga hancur berkeping-keping. Tenaga pukulannya bukan saja dahsyat bagai tindihan bukit, bahkan cepat bagaikan sambaran kilat, Ong Sam-kongcu sekalian benar-benar terbelalak matanya setelah menyaksikan kehebatan itu. Kakek yang sedang bertarung melawan Bwe Si-jin pun sempat menyaksikan kematian si kakek ceking yang mengenaskan, tak tahan ia berseru tertahan, “Aaah! Ilmu pukulan penghancur mayat!” Begitu ia tertegun, seketika itu juga posisinya tercecar hebat dan dipaksa Bwe Si-jin berada di bawah angin.
Berhasil membunuh kakek berbaju hitam, kembali Cau-ji membentak, “Kau rasakan juga kehebatanku!” Tubuh berikut pukulannya langsung menubruk ke depan menghantam pinggang kiri lawan. Setelah melihat nasib tragis yang dialami rekannya, kakek itu tak berani bertindak gegabah, begitu mendengar teriakan Cau-ji, tergopoh-gopoh dia menghindarkan diri ke samping. Begitu kakinya mencapai tanah, dengan jurus Thay-san-ciang-bong (gunung Thay-san ambruk), tanpa menimbulkan suara melepaskan sebuah gempuran dahsyat ke muka. Belum lagi berdiri tegak, serangan yang dilancarkan Cau-ji sudah membacok tiba, terpaksa sekali lagi kakek itu berkelit dengan gugup. “Hati-hati!” bentak Cau-ji.
Sepasang tangannya diayunkan bersama, dengan jurus It-goan-hu-si (tenaga murni pulih kembali), Siang-liong-si-cu (sepasang naga mempermainkan mutiara), Sam-kang-su-hay (tiga sungai empat samudra), Ngo-gak-ki-bong (lima bukit ambruk bersama) secara beruntun dia lancarkan serangkaian serangan secara bertubi-tubi. Kakek itu segera merasakan datangnya deru angin puyuh yang menyapu tiba, sekalipun tidak disertai suara yang menakutkan, namun hawa murni yang mengalir membawa kekuatan menghimpit yang sangat menggidikkan hati. Sadarlah kakek itu, bila dia menghadapi kurang hati-hati sedikit saja, bisa jadi nyawanya akan melayang.
Oleh sebab itu setiap kali tangan Cau-ji yang diayunkan ke muka menghembuskan tenaga ancaman, segera dia kerahkan segenap kekuatannya untuk mengegos ke samping. Keadaannya saat ini mirip dengan seekor kucing yang sedang mempermainkan seekor tikus, mirip juga dengan seekor monyet yang sedang mempertunjukkan tarian topeng monyet. Bwe Si-jin yang sudah mundur ke sisi arena tak mampu mengendalikan rasa gelinya, ia segera tertawa terbahak-bahak, ejeknya, *Ho tua, kemana kaburnya kegagahanmu?” Sementara itu Cau-ji yang melancarkan serangan hebat pun menyempatkan diri bertanya sambil tertawa, “Paman, dia termasuk orang baik atau orang jahat?” “Hahaha, sekalipun dia dari marga Ho, sayangnya bukan saja tidak termasuk orang baik, bahkan boleh dibilang dia adalah seorang manusia busuk yang ‘tumbuh onak di kepalanya dan melelehkan nanah di dasar kakinya’, menghadapi manusia seperti ini kau tak usah sungkan lagi.” “Baiklah, he, orang she Ho, bersiaplah untuk mampus!” Bicara sampai di situ dia segera menghimpun tenaga dalamnya dan langsung dibacokkan ke tubuh kakek itu. Setelah bertarung sekian lama, kakek itu sudah mulai kehabisan tenaga, tak sempat lagi menghindar dari ancaman yang tiba, segera dia menghimpun tenaga dalamnya untuk menyongsong datangnya ancaman itu dengan keras melawan keras. “Aduuuh…..!” Jeritan ngeri bergema memecah keheningan, segumpal hancuran daging dan darah segera berhamburan di angkasa. Tampak seluruh tubuh kakek itu, dari kepala hingga kakinya sudah terbacok hancur oleh serangan Cau-ji, di bawah cahaya rembulan tampak suatu pemandangan yang sangat menggidikkan hati. Tiga orang wanita yang ikut menyaksikan kejadian itu menjadi mual, hampir saja mereka muntah-muntah.
Bukan hanya ketiga orang wanita itu, Ong Sam-kongcu, Bwe Si-jin serta Raja Hewan yang menyaksikan pun ikut bergidik. Sembari bertepuk tangan ujar Cau-ji kemudian, “Segalanya sudah beres, Lo- ong terpaksa harus bekerja keras membersihkan lantai.” Setelah masuk kembali ke ruang utama, ia disambut sorak-sorai oleh segenap bocah. Ong Bu-jin pun menyambutnya dengan mata berbinar, coba kalau di situ tak banyak orang, dia pasti sudah menubruk ke muka, memeluk pemuda itu dan menciumnya dengan hangat. Setelah semua orang mengambil tempat duduk, Bwe Si-jin baru berkata sambil tersenyum, “Perlu kalian ketahui, kedua orang gembong iblis yang barusan datang menyatroni itu adalah dua orang Tongcu perkumpulan Jit-seng- kau, yang satu adalah Tongcu dari ruang naga hijau, sedang yang lain adalah Tongcu dari ruang harimau putih.” “Kalau dianalisa dari perkataan mereka berdua tadi, kelihatannya Su Kiau- kiau sudah memutuskan untuk muncul secara terbuka dalam dunia persilatan, itulah sebabnya mereka mengutus kedua orang itu untuk datang membujuk Ong-heng agar bersedia bergabung dengan perkumpulan mereka.” Semua orang hanya manggut-manggut tanpa berkata.
Setelah memandang Cau-ji sekejap, kembali Bwe Si-jin berkata, “Cau-ji, ditinjau dari teriakan lawan yang bisa menyebut ilmu pukulan penghancur mayatmu, apakah sebelum kejadian hari ini, kau pernah menggunakan cara yang sama untuk menghabisi nyawa para pengejar itu?” “Betul! Hanya saja waktu itu aku hanya ingin kabur secepatnya sehingga sama sekali tidak sengaja.” “Hahaha, aku bukan bermaksud menyalahkan dirimu, kenyataan memang cara inilah yang paling jitu untuk menakut-nakuti mereka, cuma sekarang urusannya jadi sedikit repot, dengan kematian kedua orang ini maka setiap saat pasti ada anggota Jit-seng-kau yang bakal mencari jejak mereka hingga ke sini.” Mendengar perkataan ini, semua orang menjadi tertegun. Tiba-tiba Cauii berkata, “Paman, bukankah kau pandai menyaru muka, selain itu juga banyak tahu tentang rahasia mereka, bagaimana jika kita berdua menyamar menjadi kedua orang kakek itu?” Sekali lagi semua orang tertegun. “Jangan!” cegah Si Ciu-ing kuatir, “terlalu berbahaya!” Sebaliknya Ong Sam-kongcu malah tertawa terbahak-bahak, serunya, “Hahaha, aku setuju sekali!” “Tapi Jit-seng-kau bukan perkumpulan kecil, jangan dianggap mainan.” “Hahaha, sekarang kungfu yang dimiliki Cau-ji sangat tangguh, tidak setiap orang dapat mengganggunya, apalagi ada saudara Bwe yang melindungi, aku sama sekali tak kuatir. Dulu, Yaya pernah memimpin para jago untuk membasmi Jit-seng-kau, bila hari ini Cau-ji pun dapat membasmi Jit-seng-kau sekali lagi, jelas prestasi ini merupakan prestasi yang luar biasa.” “Enso, kau tak perlu kuatir,” janji Bwe Si-jin pula dengan suara nyaring, “setelah berhasil menyusup ke dalam markas besar Jit-seng-kau, aku dan Cau-ji hanya akan membasmi Su Kiau-kiau beserta ketiga orang Sumoaynya, aku rasa tak ada yang perlu dikuatirkan.” Mendengar perkataan ini, meski dalam hati menyadari persoalan tak bakal begitu sederhana, namun Si Ciu-ing merasa rikuh untuk membantah, akhirnya dia hanya berpesan, “Cau-ji, kau harus menuruti perkataan paman Bwe, jangan sembrono!” “Aku tahu, ibu!” Melihat semua orang sudah tak ada usul lain, Bwe Si-jin segera berkata sambil tertawa tergelak, “Hahaha, silakan kalian lanjutkan mengobrol, aku harus mengambil kembali tongkat kepala ular itu, karena alat itu sangat penting bagi penyaruanku nanti.” Habis berkata ia tertawa terbahak-bahak dan beranjak pergi.
Raja hewan pun berpesan kepada Cau-ji, “Cau-ji, mulai besok akan kuajarkan ilmu pukulan Tui-hong-ciang-hoat dari Ho Ho-wan kepadamu, dengan menguasai ilmu pukulan andalannya, penyamaranmu akan semakin sempurna.” “Yaya, siapa sih Ho-ho-wan (gemar bermain) itu?” Ong Sam-kongcu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, Cau-ji, dialah gembong iblis yang baru saja kau hajar hingga hancur lebur badannya, orang she Ho itu punya tangan kiri merah dan tangan kanan berwarna hitam, karenanya disebut Ho Ho-wan.” “Ooh, rupanya dia, heran, kenapa mencari nama pun yang aneh-aneh, wah, sekarang dia benar-benar bisa bermain terus di neraka.” “Saudara tua Ho Ho-wan mempunyai nama yang lebih menarik lagi,” lanjut si Raja hewan, “dia bernama Ho Ho-cia (gemar makan).” “Ho Ho-cia, Ho Ho-wan! Aaah, tahu aku sekarang, waktu masih kecil dulu mereka berdua pasti kurang makan kurang permainan hingga diberi nama Ho Ho-cia dan Ho Ho-wan, bukan begitu?” Semua orang tertawa terbahak-bahak. Waktu itu kebetulan Bwe Si-jin muncul kembali sambil membawa tongkat berkepala ular, menyaksikan semua orang tertawa geli, ia menjadi heran, tegurnya, “He, apa yang sedang kalian tertawakan?” “Engkoh Jin,” ujar Go Hoa-ti, “selanjutnya kau adalah Ho Ho-cia sedang Cau-ji menjadi Ho Ho-wan, jangan lupa untuk makan enak dan bermain terus sampai puas.” Mendengar itu Bwe Si-jin pun tertawa terbahak-bahak. Tujuh hari kemudian, di saat senja menjelang tiba, di sebuah jalan raya yang terletak sepuluh li di luar kota kuno Tiang-sah, muncul dua orang kakek tua, mereka tak lain adalah Cau-ji serta Bwe si-jin yang menyamar menjadi sepasang malaikat bengis dari In-lam. Selama dua hari berdiam di perkampungan Hay-thian-it-si, bukan saja Cau-ji telah mempelajari ilmu menyaru muka serta ilmu pukulan Tui-hong-ciang-hoat, bahkan dia pun menguasai semua seluk-beluk organisasi Jit-seng-kau selama belasan tahun terakhir termasuk semua peraturannya. Khususnya tentang ilmu silat yang dimiliki Su Kiau-kiau beserta ketiga orang Sumoaynya, ciri khas mereka serta tabiatnya, boleh dibilang ia sudah hapal di luar kepala. Tiba-tiba terdengar Cau-ji berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Paman, di dalam hutan di depan sana kelihatannya ada lima orang sedang menyembunyikan diri, benar tidak?” Bwe si-jin segera pasang telinga, namun kecuali terdengar suara burung yang berkicau serta hembusan angin malam yang menggoyang ranting pohon, dia sama sekali tak mendengar suara apapun. Kontan saja pertanyaan itu membuatnya tertegun. Benar saja, baru mereka berdua melanjutkan kembali perjalanannya sejauh beberapa li, tiba-tiba dari balik hutan melompat keluar lima sosok bayangan manusia. Begitu muncul, serentak kelima orang itu membentak nyaring, “Setan tua, berhenti!” Sekarang Bwe si-jin baru benar-benar merasa kagum dengan kehebatan ilmu silat yang dimiliki Cau-ji. Dengan santai mereka berdua segera menghentikan langkahnya, kemudian ditatapnya kelima orang lelaki bertubuh kekar dan beralis tebal itu sekejap.
Terdengar lelaki yang berdiri paling tengah menghardik, “Jalan ini aku yang menggali, pepohonan di sini aku pula yang menanam, bila kalian dua orang setan tua ingin hidup selamat, cepat serahkan uang!” “Ooh, para pendekar, aku si tua ini tidak membawa uang banyak, kalian ….” Bwe si-jin segera berlagak gugup dan ketakutan. “Tutup mulut, tampaknya kau si setan tua sudah bosan hidup, kalau tahu diri, cepat serahkan semua perbekalan kalian, hmm! Jangan paksa Toaya turun tangan, jangan salahkan jika kucabut nyawa anjingmu.” Cau-ji pun berlagak terkejut bercampur gugup, teriaknya pula, “Ohh, jangan, jangan dirampas uang kami. Kalian bertubuh kekar dan punya ilmu tinggi, kenapa tidak bekerja secara baik-baik saja mencari uang halal, buat apa kalian melakukan usaha dagang tanpa modal semacam ini.” “Sialan, tutup bacotmu setan tua,” lelaki yang lain segera membentak nyaring, “kau tahu, bukan pekerjaan gampang untuk mendapatkan Ciaji (ramalan) ‘semua senang’ (semacam permainan lotre), sekarang baru saja kami berlima mendapatnya, maka untuk menutup ongkos yang tinggi ketika membeli ciaji itu, kami ingin minta sokongan dari kalian.” Selesai berkata, dengan langkah lebar ia segera berjalan mendekat. Tiba-tiba Bwe si-jin berteriak keras, “Benarkah begitu? Nomor berapa? Dapatkah aku si orang tua ikut ‘menanam bunga’?” Lelaki itu kelihatan agak tertegun, kemudian tertawa tergelak. “Hahaha, maknya! Ternyata kau si setan tua pun ikutan main ‘semua senang’, maknya! Mana ada makan gratis di siang hari bolong, ingin tidak membayar uang lewat? Jangan mimpi.” Habis berkata dia langsung menubruk ke depan. Kembali Bwe si-jin memutar tongkat kepala ularnya seakan tak bertenaga, dengan napas ngos-ngosan serunya, “Ingin uang gratis? Huuh, serahkan nyawamu.” Dengan gampang lelaki itu mengegos ke samping menghindarkan diri dari pukulan itu, kemudian sambil menghajar dada Bwe si-jin serunya dingin, “Setan tua, jangan salahkan kalau aku bertindak keji!” “Blaaaam!”, pukulan tangan kanannya segera bersarang telak di dada lawan. Baru saja lelaki itu siap tertawa tergelak, mendadak ia saksikan sesuatu yang aneh, ternyata telapak tangannya yang menempel di dada lawan sama sekali tak sanggup ditarik balik, tangan itu seolah menempel jadi satu dengan tubuh lawan. Dalam terkejutnya segera dia kerahkan segenap tenaganya untuk meronta. Siapa tahu, bagaimanapun dia meronta, usahanya selalu gagal, akhirnya dia pun berteriak keras, “He, setan tua, ilmu hitam apa yang kau gunakan?” “Hahaha, dasar homo! Masakah dengan dada kerempeng pun langsung bernapsu, benar-benar lelaki kepala babi.” Ketika keempat orang lelaki itu menyaksikan rekannya dikendalikan orang, serentak mereka membentak gusar dan menerjang maju. Bwe si-jin segera menggetarkan tenaga dalamnya keluar, lelaki yang berada paling depan seketika menjerit kesakitan, tubuhnya mundur sempoyongan dan langsung menerjang keempat orang rekannya hingga jatuh bergelimpangan di tanah. Dengan sekali sodokan, Bwe si-jin segera menotok roboh kelima orang itu, kemudian katanya sambil tertawa, “Bukankah kalian senang bermain ‘semua senang’? Baiklah, biar Lohu ajarkan kepada kalian bagaimana caranya menjadi kura-kura.” Sambil berkata tongkatnya disentakkan berulang kali, “Plak, plaak”, segera muncullah belasan kerat tulang punggung di tubuh orang-orang itu. Tongkat Bwe si-jin sama sekali tak berhenti bergerak, diiringi jeritan ngeri kelima orang itu, belasan kerat tulang iga yang menonjol keluar itu segera mengucurkan darah segar, keadaannya sangat mengerikan. Setelah membersihkan ujung tongkatnya di punggung seorang lelaki, kembali Bwe Si-jin berkata, “Kali ini aku ampuni kalian, tapi kalau sampai ketemu lagi di kemudian hari, akan kusuruh kalian rasakan keadaan yang lebih mengerikan.” Selesai berkata ia langsung berlalu sambil tertawa terbahak-bahak.
Cau-ji pun sangat puas dengan kejadian itu, sambil tertawa gembira dia ikut berlalu.
Kelima orang itu tertotok jalan darahnya hingga tak mampu bergerak, biarpun punggungnya penuh dengan cucuran darah, namun mereka hanya bisa berbaring di tanah sambil merintih. Melihat kelima orang begundal itu diberi pelajaran yang setimpal, kebanyakan penduduk yang lewat di situ merasa ikut gembira. Tak lama kemudian sampailah Cau-ji berdua di kota Tiang-sah. Kota besar yang seharusnya ramai orang berlalu-lalang ternyata kini nampak amat sepi, sekalipun semua toko dibuka lebar-lebar, namun hanya satu dua orang yang kelihatan di jalanan.
Menyaksikan hal ini Cau-ji pun berseru keheranan. Kelihatannya Bwe Si-jin sudah pernah menyaksikan keadaan seperti ini, ia segera menjelaskan, “Lote, dalam satu dua hari mendatang kelihatannya ‘semua senang’ akan segera dibuka, kini semua orang sedang sibuk membahas nomor yang bakal keluar, bahkan banyak yang pergi ke orang pintar untuk mencari Ciaji, mana mungkin mereka berminat makan minum?” “Sebetulnya ‘semua senang’ itu permainan macam apa? Apa pula yang dimaksud mencari Ciaji?” “Hahaha, ayo kita cari rumah makan dulu untuk mengisi perut, selesai bersantap akan kujelaskan kepadamu.” Mereka pun masuk ke dalam rumah makan dengan merek Ka-siang-lau. Naik ke atas loteng, tanpa menunggu pelayanan dari sang pelayan mereka langsung mencari meja dekat jendela. Seorang pelayan segera muncul dengan kemalas-malasan, membersihkan meja lalu bertanya mau pesan apa. Dengan hati mendongkol Cau-ji segera menegur, “He, pelayan, kau sedang sakit?” Pelayan itu melotot sekejap, tapi kuatir menyalahi tamunya, maka dia hanya mendengus. “Lote, tak usah gubris orang itu,” kata Bwe Si-jin cepat, “kelihatannya dia sudah kelewat banyak membahas ramalan nomor hingga kena penyakit napas.” “Kau ….”teriak pelayan itu jengkel. Bwe Si-jin tertawa ewa, tiba-tiba sambil menuding kepala ular di ujung tongkatnya dia berkata, “He, pelayan, tahukah kau, dia berada di urutan ke berapa dari capji shio?” “Huuuh, tentu saja ular menempati urutan keenam, anak kecil pun tahu!” “Hahaha, ternyata kau memang pintar, nah, bahas saja nomornya dari situ.” Pelayan itu berpikir sebentar, mendadak teriaknya, “Ya ampun, Losianseng, ternyata kau memang baik hati, kalau aku benar-benar menang pasangan, pasti akan kutraktir dirimu.” Selesai bicara dia membungkukkan badan memberi hormat. “Hahaha, pelayan,” kata Bwe Si-jin lagi sambil tertawa, “semoga kau menang banyak, nah, sekarang aku mau pesan masakan.”.
Bab II. Cau-ji memasuki Jit-seng-kau.
Pelayan yang sudah lama bekerja di rumah makan pasti tahu kalau tamu yang berkunjung ke rumah makan biasanya terbagi menjadi beberapa jenis, di antaranya ada dua jenis tamu yang paling susah dihadapi. Jenis pertama adalah tamu yang kelewat memilih.
Biasanya tamu semacam ini mempunyai satu ciri khas yang sama, mereka selalu mengeluh terhadap setiap jenis hidangan yang disajikan, kalau bukan kelewat asin tentu mengeluh kelewat tawar rasanya. Pokoknya bagi mereka tak ada hidangan yang mencocoki selera. Jenis kedua adalah jenis manusia yang gemar makan besar, biasanya mereka akan melahap setiap jenis makanan hingga ludes. Tamu jenis ini rata-rata suka menggunakan lagu lama, yaitu memanggil sang Ciangkwe dan memakinya di hadapan orang banyak, mereka selalu mengkritik hidangan ini kurang anu, hidangan itu kelebihan anu, tujuannya hanya ingin memamerkan kehebatan pengetahuan mereka tentang masakan. Biasanya Ciangkwe yang pintar hanya akan membungkukkan badan, berlagak tertawa dan mengakui kesalahan, asal kau bersikap begitu tanggung tak bakal ada urusan lagi. Ada jenis tamu lain yang lebih memusingkan kepala, yaitu tamu yang suka memilih jenis hidangan secara berlebihan, tamu semacam ini biasanya bukan untuk mengkritik masakannya tapi ingin mencari sedikit keuntungan dari keributan yang terjadi.
Tamu semacam ini biasanya gampang diketahui. Biasanya jurus pembukaan yang mereka gunakan adalah perkataan, “Kalau kelewat banyak nanti tak habis dimakan, siapkan saja porsi yang paling kecil untuk setiap jenis hidangan”. Tapi begitu hidangan sudah tersaji, mereka akan berteriak kalau porsi hidangannya kelewat sedikit. Ujung-ujungnya mereka pun minta korting sebesar-besarnya Ada pula jenis tamu lain yang meski tidak berkunjung setiap hari namun mendatangkan kesan sangat baik bagi para pelayan. Kedatangan tamu semacam ini tujuannya bukan minum arak, juga bukan untuk menikmati hidangan. Mereka hanya ingin ngobrol dengan teman sambil membuang waktu. Tamu jenis ini biasanya akan memberikan dua keuntungan besar, pertama, persen mereka pasti besar dan kedua, kalau pesan hidangan pasti satu meja penuh, terlepas hidangan itu habis dimakan atau tidak. Bwe Si-jin adalah jenis tamu semacam ini. Pelayan itu bukan saja sudah mendapat nomor Ciaji untuk ‘semua senang’ yang bakal dibuka dua hari lagi, bahkan tamunya sangat ramah, tentu saja dia amat kegirangan. “Lote, kau senang minum arak jenis apa?” tanya Bwe Si-jin kemudian.
Cau-ji tersenyum sambil menyahut, “Baru pertama kali ini aku berkunjung kemari, terserah Loko saja, asal bukan arak beras, apapun pasti aku suka.” “Ooh, kalau soal ini tak perlu Loya kuatirkan,” segera pelayan itu menimpali. “Baiklah, pelayan, arak apa yang dijagokan rumah makan ini?” “Tan-nian Pak-kan!” “Baik, siapkan enam kati arak Tan-nian Pak-kan.” Begitu mendengar tamunya pesan enam kati arak, pelayan itu segera sadar gelagat tidak beres, meski dia menyahut namun wajahnya mulai nampak tidak leluasa. Arak Tan-nian Pak-kan adalah jenis arak sangat keras, belum pernah ada orang bisa menghabiskan satu kati arak, tapi kedua orang itu langsung memesan enam kati arak, memangnya mereka siap minum sampai mabuk berat? Kalau tamunya sampai mabuk berat, siapa yang akan membayar rekeningnya? Kalau rekening pun tidak terbayar, jangan harap ia bisa mendapat tip dari tamunya. Dari perubahan mimik muka pelayan itu, Bwe Si-jin segera mengerti apa yang sedang dipikirkan, dia sengaja tertawa terbahak-bahak sambil berseru, “Hahaha, pelayan, enam kati arak, angka enam ini rasanya bagus sekali.” Tergerak hati pelayan itu, sambil menyahut segera dia berlalu. Hidangan dengan cepat tersaji. Pelayan yang cerdik pasti akan berusaha memberi servis yang bagus untuk tamunya, dia anggap kalau hidangan tersaji dalam waktu singkat maka tamunya akan sibuk makan dan lupa minum arak. Sayang dugaannya keliru, biarpun hidangan tersaji dalam waktu singkat namun kedua orang itu bersantap sangat lambat. Malah ada beberapa macam hidangan yang sama sekali belum tersentuh.
Waktu yang tersisa nyaris digunakan untuk menenggak arak sebanyak enam kati itu, akhirnya belum lagi kedua belas macam hidangan termakan setengahnya, arak yang enam kati beratnya itu sudah ludes tak berbekas. Di luar dugaan, biarpun enam kati arak sudah habis ditenggak, bukan saja kedua orang tamunya tidak mabuk, malah wajahnya nampak masih tenang sekali. Melihat kehebatan takaran minum tamu-tamunya, beberapa orang pelayan itu diam-diam menjulurkan lidahnya, baru pertama kati ini mereka saksikan ada orang sanggup minum arak sebanyak itu tanpa mabuk. Cara minum tamunya juga sangat istimewa, bukan saja mereka menenggak arak itu seperti minum air putih, bahkan biarpun sudah meneguk lima enam cawan pun mereka sama sekali tak menyentuh hidangan yang tersaji. Kata Cau-ji, “Hidangan angsio ikan ini enak sekali.” Bwe Si-jin segera mengangkat cawannya sambil menukas, “Jangan, jangan makan dulu, kita habiskan arak ini lebih dulu.” Akhirnya dalam waktu singkat mereka sudah memesan enam kati arak lagi. Tapi dengan cara yang sama kembali arak itu habis ditenggak. Jangan kan mabuk, paras muka Cau-ji sama sekali tak nampak seperti orang minum, merah pun tidak. Pada saat itulah sambil tertawa Bwe Si-jin baru berkata, “Pelayan, kemari, mari kita bicarakan soal lotere ‘semua senang’ yang akan dibuka di kota Tiang- sah.” Mendengar itu semangat si pelayan segera berkobar kembali, sahutnya, “Loya, mungkin baru pertama kali ini kau berkunjung kemari? Tahukah anda, sekarang sudah enam puluh persen penduduk kota yang kecanduan lotere ‘semua senang*!” “Waah, begitu banyak?” seru Cau-ji sambil meleletkan lidahnya. “Benar, baik laki maupun perempuan, dari pedagang sampai kaum begundal, asal orang punya uang, mereka semua kecanduan pasang nomor.” Kemudian sambil merendahkan suaranya ia menambahkan, “Konon ada juga Hwesio dan Nikoh yang ikut pasang nomor… hihihihi!” “Benarkah begitu? Lantas siapa saja yang tidak bermain ‘semua senang’?” “Orang pemerintahan setiap hari kerjanya hanya menangkap orang yang berjudi, tentu saja mereka tidak pasang, tapi ada juga di antara mereka yang memberi uang kepada sanak keluarganya dan minta mereka yang memasangkan nomor.” “Selain itu orang persilatan dari aliran lurus serta orang sekolahan ada juga yang tidak ikut main, bukan saja mereka pantang berjudi, bahkan selalu membujuk orang lain agar jangan berjudi, benar-benar pekerjaan orang pengangguran!” “Tadi kau bilang ada bocah yang ikut pasang nomor?” “Benar, kalian tahu, seorang bocah berusia delapan tahun, putra Ciangkwe kita dari gundiknya yang ketiga, dua minggu berselang dengan pasangan satu tahil perak berhasil meraih keuntungan sebesar seratus tahil perak, betul-betul bocah itu seorang bocah ajaib, seorang sin-tong!” “Ohh, benarkah begitu? Bagaimana sih cara mainnya?” “Loya, permainan ‘semua senang’ di kota Tiang-sah ini dipusatkan di rumah makan Jit-seng-lau, semua orang yang ingin pasang nomor bisa berkunjung ke situ, kau boleh memilih angka satu sampai angka sembilan, mau dipilih semua pun boleh.” “Setiap tanggal lima, lima belas dan dua puluh lima, lotere ‘semua senang’ akan dibuka, siang itu akan ada sembilan orang penunggang kuda dengan sembilan ekor kuda melakukan pertandingan lomba kuda di luar kota sana. “Setiap kuda diberi nomor berbeda, kuda mana yang mencapai finis duluan, dialah yang menjadi pemenangnya dan nomor di punggung kuda itulah yang dianggap sebagai nomor lotere yang keluar. “Minggu kemarin kuda nomor tujuh yang menang, konon total ada sepuluh ribu orang lebih yang memasang nomor tujuh, sehingga mereka pun mendapat keuntungan yang banyak. Cuma rumah makan Jit-seng-lau akan memotong uang kemenangan mereka sebesar sepuluh persen.” “Kenapa harus dipotong sepuluh persen?” “Loya, kau masakah tak tahu, kan banyak orang yang harus bekerja mengurusi uang pasangan, mengumumkan pemenang dan membayar uang kemenangan, katanya setiap kali bukaan, mereka butuh beberapa puluh laksa tahil perak sebagai ongkos.” “Haah, potongan sepuluh persen? Berapa sih perputaran uang pasangan setiap kali bukaan?” “Setiap kali mengumumkan hasil undian, mereka pun melaporkan jumlah perputaran uang dari pasangan nomor waktu itu, konon mencapai dua juta tahil lebih, malah minggu lalu sempat mencapai tiga juta tahil, berarti bila nomor enam yang kupasang benar-benar keluar angkanya, aku bisa meraih keuntungan tiga juta tahil perak, wouw….” “Tiga juta tahil, berarti sepuluh persennya tiga ratus ribu tahil,” gumam Cau- ji, “taruh kata dipotong ongkos seratus ribu tahil, berarti mereka masih mengantongi keuntungan dua ratus tahil, jika sebulan ada tiga kali penarikan berarti mereka mengantungi laba enam ratus ribu tahil perak.” Bwe Si-jin yang selama ini hanya tersenyum segera berkata, “Bayangkan sendiri, mana ada pekerjaan di dunia ini yang bisa meraih laba sebesar itu? Ayo, kita bersulang demi kesuksesan mereka!” Cau-ji meneguk habis secawan arak, lalu kepada si pelayan tanyanya, “He, pelayan, kalau memang usaha ini mendatangkan laba besar, kenapa tak ada orang menyaingi pekerjaan rumah makan Jit-seng-lau?” Mendengar pertanyaan itu segera si pelayan merendahkan suaranya dengan setengah berbisik katanya : ” Sttt Loya, perkecil suaramu, kalau sampai kedengar orang-orang Jit-seng-lau kalian bakal mendapat kesulitan”. “Memangnya mereka bisa memukuli orang ?” ”Soal ini…. aku aku sendiri kurang jelas, tapi pernah ada mengkritik pekerjaan mereka, akibatnya nyaris orang itu kehilangan nyawa, dia mesti beristirahat setengah tahun lebih sebelum dapat berjalan kembali”. Berkilat sepasang mata Cau-ji mendengar perkataan itu. Segera Bwe Si-jin berdehem, selanya ”Pelayan, bukankah di kota ini terdapat beberapa bandar besar ?” ”Soal ini… coba aku hitung dulu, ahhh benar, sebenarnya terdapat tiga puluh dua orang bandar besar, tapi dalam setengah tahun mereka telah menutup usahanya secara sukarela, tapi beginipun jauh lebih baik, daripada Ciaji nya kelewat banyak, yang pasang jadi bingung ”. ”Apa sih Ciaji itu ?” tanya Cau-Ji keheranan. ”Yang dimaksud dengan Ciaji adalah ramalan nomor pasangan yang bakal keluar ” “Coba jelaskan.” ”Pada mulanya semua pemasang lomba kuda hanya menganalisa kuda mana yang lebih kuat dan joki mana yang bisa diandalkan, tapi kemudian orang merasa dengan cara begitu saja kurang bisa dipercaya. “Maka orang pun secara diam-diam pergi ke kuil mengambil Ciamsi, angka Ciamsi itu dipakai sebagai Ciaji, adapula yang pergi ke kuburan mencari ilham supaya dapat Ciaji, ada yang bertanya pada pohon besar, batu keramat dan lain sebagainya. “Malahan ada orang yang pasang nomor berdasarkan mimpi, pokoknya semua orang berusaha dengan berbagai cara untuk mendapatkan Ciaji itu!” “Benar-benar aneh, benar-benar aneh ….” gumam Cau-ji sambil menggelengkan kepalanya berulang kali. “Lote, ayo minum arak dulu,” seru Bwe Si-jin kemudian. Pada saat itulah mendadak terdengar sang Ciangkwe bangkit berdiri dari tempat duduknya sembari menyapa dengan nada hormat, “Jit-koh, angin apa yang membawamu datang kemari? Tak disangka orang terhormat pun mau berkunjung ke kedai kami.” Mendengar itu Cau-ji berdua segera berpaling dan menengok ke bawah loteng, tampak seorang perempuan cantik berbaju merah, berusia tiga puluh tahunan, bermuka bulat telur, bermata indah dengan pinggang ramping berjalan masuk ke dalam rumah makan. Terdengar perempuan itu menegur dengan suara genit, “Yu-ciangkwe, aku dengar tempat ini kedatangan dua orang tamu agung?” Sambil berkata matanya melirik ke atas loteng. “Jit-koh, ada dua orang Loya sedang bersantap di atas, silakan ikut aku ke atas.” Dengan ilmu coan-im-jit-bit Bwe Si-jin segera berbisik, “Cau-ji, yang mencari dagangan sudah datang, perempuan itu adalah seorang Hiocu perkumpulan Jit- seng-kau, kau diam saja, biar aku yang menghadapi perempuan ini!” Sambil berkata dia mengambil sebatang sumpit dan diletakkan di atas sendok. Terendus bau harum semerbak berhembus, Jit-koh dengan langkah lemah gemulai sudah berjalan mendekat.
Dengan sorot matanya yang genit dia melirik Cau-ji berdua, wajahnya kelihatan agak tertegun, kemudian katanya cepat, “Loya berdua, apakah kalian datang ke kota Tiang-sah untuk mencari orang?” Sambil berkata dia melirik sekejap ke arah sumpit di atas sendok itu. Bwe Si-jin tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, Lohu berdua hanya ingin mencicipi arak di tempat ini yang konon sangat istimewa, padahal sebentar lagi akan berkunjung ke tempatmu, hahaha!” “Aku tak percaya,” seru Jit-koh, “kalau bukan orang lagi birahi, mana mungkin aku datang kemari, mestinya kalian langsung datang mencari aku.” Sembari berkata dia langsung duduk dalam pangkuan Bwe Si-jin. “Hahaha, jangan menuduh yang bukan-bukan,” seru Bwe Si-jin sambil mencium pipi perempuan itu, “hehehe, siapa bilang aku lagi mencari pondokan di rumah orang?” Kemudian kepada Ciangkwe itu serunya, “Hahaha, baiklah, Lohu akan pergi dulu.” Selesai berkata dia peluk tubuh Jit-koh dan bangkit berdiri. Ciangkwe itu segera mengembalikan uang yang dibayar sembari berkata dengan hormat, “Loya, kami sudah merasa terhormat karena Loya berdua sudi singgah di sini, soal uang ini, silakan disimpan kembali.” “Hahaha, Jit-koh, pernahkah kau melihat Lohu menyesal keluar duit?” Segera Jit-koh berseru kepada Ciangkwe itu, “Kalau memang Loya berniat tulus, simpan saja uang itu.” Segera Ciangkwe itu mengucapkan terima kasih. Dia membungkukkan badannya terus hingga ketiga orang tamunya pergi jauh. Tentu saja ia harus berbuat begitu, sebab ia sadar kalau kedua orang kakek itu bukan orang yang luar biasa, tak mungkin Jit-koh sebagai pemilik rumah makan Jit-seng-lau sudi membiarkan dirinya berada dalam pelukan kakek itu. 0oo0 Di bawah perhatian banyak orang, Cau-ji berdua dibimbing Jit-koh langsung menuju ke rumah makan Jit-seng-lau. Begitu memasuki ruangan rumah makan itu, mereka berdua langsung terperangah dibuatnya. Perkampungan Hay-thian-it-si sudah terhitung sebuah perkampungan mewah, tapi dibandingkan dengan Jit-seng-lau, ternyata segala sesuatunya masih kalah jauh. Bwe Si-jin memperhatikan sekejap sekeliling tempat itu, kemudian ujarnya sambil tertawa, “Sayangku, ternyata kau pandai menikmati hidup, markas besar pun tidak semewah dan semegah ini, hehehe…” “Tongcu …” dengan ketakutan Jit-koh berbisik. “Sayangku, hati-hati di balik dinding ada telinga!” Mendengar bisikan itu, segera Jit-koh melirik sekejap ke arah belasan orang pecandu ‘semua senang’ yang sedang membahas nomor serta beberapa orang pegawainya, diam-diam ia terkesiap. Kembali Bwe Si-jin berbisik dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Coba kau perhatikan dua orang yang berada di sudut kanan!” Jit-koh berpaling dan keningnya bekernyit la lihat ada dua orang lelaki bermata tajam berhidung bengkok dan mengenakan baju hijau sedang celingukan kian kemari, ternyata kedua orang ini tak lain adalah Ho-ha-siang-tau, sepasang pencoleng kenamaan dalam tiga puluh tahun terakhir. Jelas kehadiran mereka mempunyai maksud dan tujuan tertentu. Sebenarnya sepasang pencoleng itupun terkesiap ketika melihat sepasang malaikat bengis dari In-lam masuk ke dalam rumah makan, mereka semakin terkesiap lagi setelah mendengar Jit-koh menyebut Ho Ho-wan sebagai Tongcu.
Menyaksikan keadaan ini, Jit-koh segera mengambil keputusan untuk menghabisi nyawa mereka. Tapi Bwe Si-jin segera berbisik lagi, “Sementara waktu jangan ganggu mereka dulu, bagaimanapun mereka pasti akan datang mengantar diri!” Jit-koh manggut-manggut, maka dia pun mengajak kedua orang tamunya masuk ke ruang belakang. Baru saja Cau-ji berdua mengambil tempat duduk di bangku berlapis kulit yang ada di ruang tengah, mendadak bangku itu secara otomatis bergerak sendiri ke kiri kanan, atas dan bawah. Kontan Bwe Si-jin tertawa tergelak, serunya, “He, sayang, darimana kau dapatkan kursi istimewa macam ini?” Sambil menempelkan sepasang payudaranya di lengan kanan Bwe Si-jin yang sedang memegang sandaran bangku, sahut Im Jit-koh manja, “Tongcu, bangku ini dibuat secara khusus oleh seorang ahli tukang kayu, memang khusus disediakan untuk para Toaya.” “Hahaha, dapat dipastikan bangku ini sudah terlalu sering dikotori oleh cairan busuk mereka, lebih baik Lohu cepat berdiri saja.” Sambil berkata dia pun bergaya akan bangkit berdiri. “Aaah, Tongcu jahat, lagi-lagi kau sedang menggoda aku,” seru Jit-koh manja. Selesai berkata dia segera mementang kakinya lebar-lebar dan duduk di atas pangkuan Bwe Si-jin, sementara tangannya memukuli dadanya dengan perlahan, tubuh bagian bawahnya mulai bergoyang ke sana kemari menggosok- gosokkan bagian rahasianya di atas ‘barang’ milik lelaki itu. Tanpa sungkan Bwe Si-jin mulai meremas-remas sepasang payudaranya yang masih tersembunyi di balik pakaian, katanya lagi sambil tertawa terkekeh, “Sayangku, kenapa sih makin hari kau nampak semakin menggemaskan? Coba lihat sepasang tetekmu, woouw, makin lama makin montok dan besar.” “Hihihi, kau memang tega sekali, sejak memerawani aku tempo hari, sampai sekarang belum pernah menjamah diriku lagi!” “Kau jangan salahkan Lohu, belakangan aku memang kelewat sibuk.” “Hmm, aku tidak percaya, masa urusan partai mesti merepotkan kau seorang? Kau sedang repot dengan urusan dinas atau sedang sibuk memerawani gadis- gadis berbau kencur?” “Hahaha, tampaknya kau memang sangat memahami seleraku.” Seraya berkata dia mulai menelanjangi pakaian Im Jit-koh, kemudian mulai menghisap puting susunya yang kanan dan menggigitnya perlahan. “Aaaaah… aaaah … Tongcu, kenapa mesti terburu napsu … aduh …
geli… jangan begitu dong ….” Cau-ji yang menonton dari samping, pada mulanya menonton saja dengan perasaan tertarik, tapi kemudian setelah melihat kedua orang itu mulai berbugil ria kemudian langsung bertarung sengit di atas bangku, tak tahan jantungnya ikut berdebar keras. Tampak Im Jit-koh memeluk punggung Bwe Si-jin dengan kuat, tubuh bagian bawahnya menggenjot terus ke atas dan ke bawah. “Plookk, ploook … ngiik … nggiik” suara beradunya daging berkumandang tiada hentinya. Bangku itu memang dirancang secara khusus dan istimewa, sekalipun Im Jit- koh bergoyang dan menggenjotkan badannya kuat-kuat, namun bangku itu hanya bergoyang kian kemari, bukan saja sama sekali tak roboh, malah menambah kenikmatan.
Bwe Si-jin tertawa terkekeh-kekeh berulang kali, sambil tangannya meremas sepasang payudara perempuan itu, serunya, “Sayangku, kau jangan biarkan Hotongcu menonton sambil gigit jari, coba carikan beberapa gadis perawan untuk suguhannya!” “Hahaha, Ho-tongcu, maafkan kelancangan hamba, sebab kau selalu tampil serius, aku sangka kau orang tua tak suka main cewek, harap tunggu sebentar.” Sambil berkata dia segera menarik seutas tali yang ada di depan kursi beberapa kali. “Sayangku,” kembali Bwe Si-jin berkata, “dulu lantaran harus melatih sejenis ilmu sakti, maka Ho-tongcu tak suka main perempuan, tapi sekarang ilmunya telah selesai dilatih, dia justru suka sekali perempuan muda.” Berkilat sepasang mata Im Jit-koh, serunya kegirangan, “Benarkah itu? Waah, kelihatannya harus kupanggil Siau-si untuk melayaninya!” Pada saat itulah pintu kamar diketuk orang, lalu terdengar seseorang berseru dengan suara merdu, “Jit-koh, Siau-si datang menunggu perintah.” “Masuklah!” Ketika pintu dibuka, muncullah seorang gadis berbaju putih bergaun hijau yang memiliki wajah cantik, dia berusia sekitar delapan belas tahun, matanya bening, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan badannya sangat ramping. “Siau-si menjumpai Loya berdua,” kata gadis itu kemudian. Bwe Si-jin melirik gadis itu sekejap, kemudian serunya sambil tertawa, “Sayangku, tak kusangka kau masih mempunyai kartu as, aku lihat Siau-si masih perawan ting-ting?” “Hahaha, Loya, matamu memang luar biasa tajamnya, sekarang Siau-si sudah menempati ranking paling top di kota ini, selaput perawannya berharga lima ribu tahil emas murni, tapi aku memang enggan melepas dengan harga segitu, karenanya lebih baik kusuguhkan untuk Toaya berdua.” “Hmmmm, sayang, pandai amat kau merayu.” “Loya, kau jangan menuduh aku, sejak kalian meninggalkan bukit Wu-san, semua orang percaya kalau suatu saat nanti kalian pasti akan melakukan pengawasan di wilayah ini, maka kami tolak semua tawaran orang untuk membuka perawannya, karena aku memang sudah menyiapkan suguhan kepada Loya.” “Baik, baiklah, akan kucatat dalam hati kebaikanmu ini.” “Terima kasih Tongcu!” Kemudian dengan suara setengah berbisik tambahnya, “Tongcu, bagaimana kalau kau membeli sebuah villa di kota Tiang-sah? Dengan memiliki tempat sendiri, setiap saat kau bisa bersantai di sini.” Bwe Si-jin segera berlagak termenung, seakan-akan dia sedang mempertimbangkan sesuatu. “Tongcu tak usah kuatir,” kembali Im Jit-koh membujuk, “tak bakal ada yang membocorkan rahasia ini, bukan hanya itu, selama aku masih buka usaha di kota ini, kau orang tua pun akan mendapat uang saku sebesar lima puluh laksa tahil perak setiap bulannya, bagaimana? Setuju?” Tergerak pikiran Bwe Si-jin setelah mendengar ucapan itu, katanya kemudian dengan suara dalam, “Sayangku, kau harus tahu, ada banyak orang dari markas besar yang ingin mencicipi juga ladang gemuk di tempat ini!” Lekas Im Jit-koh merayu, “Loya, asal kau buka harga, aku tak akan membantah sepatah kata pun.” “Hmmm, jadi kebaikan itu berlaku untuk Lohu berdua?” “Hahaha, tentu saja, tentu saja, kalian adalah idolaku, tentu saja Ho-tongcu pun akan memperoleh pelayanan yang sama.” Ketika Siau-si yang berdiri di samping mendengar sebutan ‘Tongcu’, tubuhnya nampak gemetar keras, sepasang matanya berkilat tajam, tapi hanya sekejap kemudian ia sudah pulih kembali dengan mimik wajah semula. Dari gerak-geriknya, besar kemungkinan gadis ini memiliki ilmu silat. Waktu itu sebenarnya Cau-ji sedang memperhatikan gadis itu, bahkan sedang membuat perbandingan antara gadis itu dengan Jin-ji, oleh sebab itu perubahan wajah nona itu segera terlihat pula olehnya, hanya saja tidak sampai diungkap. Dalam pada itu Bwe Si-jin telah berseru lagi dengan lagaknya yang dibuat- buat, “Sayangku, aku lihat ‘semua senang’ sedang menggila di kota ini.” “Bagaimana kalau sepuluh laksa tahil setiap bulannya?” teriak Im Jit-koh sambil mengertak gigi. Mendengar jumlah angka yang begitu fantastis, hampir saja Cau-ji berteriak keras. Setiap bulan sepuluh laksa tahil perak, sebuah jumlah pemasukan yang luar biasa. Tiba-tiba tubuh Siau-si gemetar lagi, bahkan kali ini gemetar sangat keras. Bwe Si-jin sendiri meski terkejut bercampur girang, namun lebih jauh dia segera menghardik dengan nada berat, “Cepat laporkan situasi yang sebenarnya di tempat ini!” Im Jit-koh sangat ketakutan, dia sadar kedua orang Tongcu ini selain berhati buas dan telengas, sama sekali tak kenal arti rikuh. Cepat dia melompat turun dari tubuh Bwe Si-jin dan berlutut di tanah sambil berseru dengan gemetar, “Tongcu, ampuni jiwaku!” Siau-si pun ikut-ikutan berlutut ke tanah. Melihat perempuan itu ketakutan setengah mati, kembali Bwe Si-jin tertawa tergelak, “Hahaha, jangan takut, aku hanya ingin tahu apakah kau sanggup membayar uang sogokan itu atau tidak, ayo, cepat berdiri.” Lekas Im Jit-koh menyahut dan bangkit berdiri, kemudian ia melapor, “Tongcu berdua, dewasa ini setiap tiga periode pembukaan dalam sebulannya, pendapatan kami mencapai tujuh juta tahil perak. “Kecuali untuk membayar pengeluaran rutin kantor cabang sebesar dua juta tahil, kemudian dipotong ongkos untuk penyelenggaraan lomba kuda dan uang sogok bagi kalangan pemerintah, sisanya lebih kurang empat juta tahil perak. “Oleh sebab itu hamba berniat menyerahkan dua juta tahil perak untuk Tongcu berdua, tapi bila Tongcu anggap jumlah itu masih kurang, aku bersedia menambah lagi!” Bwe Si-jin tidak menyangka kalau perkumpulan Jit-seng-kau mempunyai tambang emas sehebat itu, segera ujarnya sambil tertawa, “Cukup, cukup! Kau hanya mendapat dua juta tahil perak, rasanya Lohu berdua tak boleh kelewat tamak.” Dengan penuh kegirangan Im Jit-koh segera menjura berulang kali, gara-gara gerakannya itu, sepasang payudaranya yang menongol keluar pun ikut bergoncang keras. Cau-ji yang menyaksikan itu menjadi degdegan, tangannya terasa gatal sekali, ingin segera maju menubruk dan meremas payudara itu. Bukan cuma payudaranya, yang lebih merangsang lagi adalah gua kecil berwarna merah yang tersembunyi di balik hutan belukar nan hitam, bagian itu benar-benar membuat Cau-ji merasa jantungnya berdebar keras, bahkan tombaknya langsung berdiri tegak.
Melihat itu Bwe Si-jin segera berseru, “Sayangku, cepat suruh Siau-si mengajak Ho-tongcu beristirahat di kamarnya.” Sambil tertawa cekikikan Im Jit-koh menghampiri Siau-si dan membisikkan sesuatu di telinganya, kemudian kepada Cau-ji katanya, “Tongcu, Siau-si masih muda dan tidak berpengalaman, harap kau banyak memberi petunjuk kepadanya.” “Tak usah kuatir,” jawab Cau-ji hambar, “besok kau pasti akan menjumpai Siau-si yang tersenyum terus.” Sambil berkata ia segera merangkul Siau-si dan melangkah keluar dari situ. Sebenarnya Bwe Si-jin kuatir kalau Cau-ji ‘demam panggung’, tapi melihat sikapnya yang cukup dewasa, ia pun lega. Kepada Im Jit-koh serunya kemudian, “Sayangku, ayo, kita lanjutkan pertarungan.” Sambil tertawa Im Jit-koh segera melompat naik ke dalam pangkuannya. “Cruuuppp!”, begitu dia melompat, ujung tombak yang tegang keras seketika menghujam ke dalam liang surganya hingga tertelan seakar-akamya.
“Aduuh!” tak tahan perempuan itu menjerit kesakitan. Dengan kaget Siau-si berpaling. Cau-ji segera berseru dengan suara dingin, “Rasakan kalau tak bisa menahan diri, kalau sudah bernapsu pun mesti bisa mengendalikan diri.” Bwe Si-jin ikut tertawa tergelak. “Sayangku, jangan terburu napsu, kalau sampai terluka bisa berabe.” “Loya, aku tidak menyangka kalau ‘anu’mu begitu panjang,” kata Im Jit-koh sambil menjulurkan lidahnya, “sudah tentu milikku jadi kesakitan karena terbentur sampai ke dasarnya, kau malah menertawakan aku.” “Hahaha, tahu rasa sekarang!” sambil berkata dia peluk pinggulnya dengan kuat, lalu menekannya ke bawah lebih keras sehingga tombaknya benar-benar terbenam hingga ke dasar. “Aaaah,” sekali lagi Jit-koh menjerit kesakitan, saking pedihnya, air mata sampai bercucuran membasahi pipinya. Kalau dilihat dari tampangnya, kelihatan kalau kali ini dia benar-benar kesakitan. Melihat perempuan itu menjerit kesakitan, Bwe Si-jin bertambah napsu, sambil tertawa tergelak dia melanjutkan tekanannya ke atas. Kontan saja Im Jit-koh menjerit kesakitan, sambil berulang kali mengaduh, peluh dingin makin deras membasahi tubuhnya. Cau-ji tahu paman Bwe sedang memberi kisikan kepadanya agar bersikap buas dan sekasar sepasang malaikat dari In-lam. Maka sambil mencolek pinggul Siau-si, dia pun ikut tertawa seram. Waktu itu Siau-si sedang berdiri tertegun, dia tak menyangka Jit-koh yang terkenal jalang dan sangat berpengalaman dalam hubungan badan pun akan menjerit kesakitan setelah ‘dinaiki’ Tongcu ini, cubitan yang mendadak kontan membuatnya menjerit keras. Sambil menahan perasaannya Cau-ji kembali berseru, “Ayo, jalan!” Dengan air mata bercucuran dan menundukkan kepala rendah-rendah Siau-si menyahut dan berjalan meninggalkan ruangan. Diam-diam Bwe Si-jin manggut-manggut, teriaknya cepat, “Aduh, sayangku, begitu baru nikmat rasanya!” “Ya, memang nikmat, nikmat sekali,” sahut Im Jit-koh sambil menahan rasa sakit, “Loya, aku lihat tombakmu makin hari makin bertambah panjang saja.” “Hehehe, selama beberapa tahun terakhir ini kau sudah terbiasa hidup makmur di sini, tentu saja kau tak bakal tahan dengan barangku, begini saja, biar aku cari perempuan lain untuk menggantikan dirimu.” “Jangan, jangan,” lekas Im Jit-koh berseru, wajahnya berubah hebat, “hamba pasti dapat memuaskan napsumu!” Bwe Si-jin meletakkan sepasang tangannya di sisi bangku, kemudian sambil memejamkan mata, ia tertawa cabul tiada hentinya. Segera Im Jit-koh menekan sebuah tombol di sisi kanan bangkunya, “Kraaaak!”, bangku itu segera berubah menjadi sebuah pembaringan, Im Jit-koh pun mulai mempraktekkan berbagai macam teknik senggama untuk memuaskan napsu lelaki itu. Bwe Si-jin merasakan juga betapa empuk dan nyamannya pembaringan itu, selain lentur juga hebat.
Maka mengikuti gerakan tubuh Im Jit-koh, tombaknya berulang kali menusuk hingga mencapai ke dasar liang perempuan itu. Kenikmatan yang berbeda-beda membuat dia harus mengagumi bahwa perempuan ini memang amat canggih dalam teknik bermain cinta. Tanpa sadar sekulum senyuman mulai menghiasi ujung bibirnya. Melihat itu, diam-diam Im Jit-koh menghembuskan napas lega, dia pun melanjutkan kembali berbagai gayanya, berusaha memuaskan lawannya. Tak selang satu jam kemudian, Bwe Si-jin merasakan tubuh bagian bawahnya sudah basah kuyup, liang surga milik perempuan itupun mulai gemetar sangat keras, ia tahu perempuan itu sudah hampir mencapai puncaknya. Dia memang berniat mengendalikan perkumpulan Jit-seng-kau, terhadap tingkah laku anak buahnya yang jalang dan porno, ia memang berniat untuk menertibkan, maka untuk itu dia ingin menaklukkan dulu perempuan itu. Tiba-tiba ia membalik badannya, setelah menaikkan sepasang kaki perempuan itu di atas bahu sendiri, dia mulai memainkan tombaknya melancarkan serangkaian tusukan berantai. “Plook, ploook”, diiringi suara gesekan nyaring, terdengar dengus napas Im Jit- koh yang mulai tersengal dan jeritan serta rintihan yang menggoda hati. Bwe Si-jin tertawa seram, ujung tombaknya mulai menggesek di dalam liang surga dengan kuat.
“Aaaah … aaaah … aduh … sakit… aku … Loya… aku … aku tak tahan … aduh..” “Hehehe…” “Aaah … aaaah … ahhh …” Di tengah jeritan keras, akhirnya perempuan itu mencapai puncaknya. Bwe Si-jin segera menggunakan teknik ‘menghisap’ dan mulai menyedot inti sari kekuatan tubuh perempuan itu. Im Jit-koh segera merasakan liang surganya kaku dan kesemutan, dia tak bisa mengendalikan diri lagi, cairan dalam liang senggamanya segera mengalir keluar dengan sangat deras. Perempuan itu segera sadar kalau sang Tongcu sedang menghisap tenaga negatip tubuhnya, dengan ketakutan dan nada gemetar segera rengeknya, “Tongcu… ampun… ampun…” Untuk sesaat Bwe Si-jin menghentikan hisapan-nya, dengan nada seram ujarnya, “Sayangku, sekarang laporkan semua perbuatan yang pernah kau lakukan selama beberapa tahun terakhir ini.” Melihat keselamatan jiwanya sudah berada dalam cengkeraman ‘tombak’ milik sang Tongcu, dia tak berani berkutik lagi, mengira semua perbuatan busuknya sudah terbongkar maka secara jujur dia mengakui semua perbuatannya. Bwe Si-jin hanya mendengarkan tanpa bicara. Tapi makin didengar, ia merasa hatinya semakin bergidik, pikirnya, “Tak kusangka pengaruh Su Kiau-kiau sudah berkembang menjadi begitu besar dan kuat, untung perbuatan busuknya keburu ketahuan, kalau tidak, sebuah bencana besar pasti akan melanda dunia persilatan.” Selesai melakukan pengakuan dosa, dengan suara gemetar kembali Im Jit-koh merengek, “Tongcu, ampunilah jiwaku!” “Hmm! Nyalimu benar-benar amat besar, siapa sih yang menjadi ‘backing’mu selama ini?” “Soal ini….” “Hmm, kau sudah bosan hidup?” “Tongcu, ampun … ampun ….” teriak Im Jit-koh, “yang mendukungku selama ini adalah Biau-hukaucu!” “Apa? Dia? Kenapa dia berbuat begitu?” tanya Bwe Si-jin keheranan. “Hamba sendiri pun tak tahu, hamba hanya tahu melaksanakan semua perintahnya, sebab tubuh hamba sudah keracunan dan setiap tahun butuh menelan sebutir pil penawar racun darinya, bila aku tidak memperoleh pil penawar itu, maka peredaran darahku akan mengalir terbalik, akibatnya mati tak bisa hidup pun susah.” “Ooh, rupanya kau sudah menelan pil Si-sim-wan (pil penghancur hati), tak kusangka dia masih menggunakan racun semacam ini untuk mencelakai orang, apakah dia ada perintah lain yang harus kau laksanakan?” “Dulu tidak ada, tapi sejak sebulan berselang, dia perintahkan aku untuk mengawasi gerak-gerik Giok-long-kun Bwe Si-jin!” “Kenapa?” teriak Bwe Si-jin tak tahan. “Tongcu, dia sama sekali tidak mengemukakan alasannya!” Kini pikiran Bwe Si-jin menjadi kalut, dia segera bangkit dari pembaringan dan duduk di depan meja sambil termenung. Ketika Im Jit-koh menyaksikan ‘tombak panjang’ miliknya masih berdiri tegak, lekas ia berjongkok dan memasukkan tombak itu ke dalam mulutnya kemudian mulai menghisapnya perlahan-lahan. Kontan Bwe Si-jin merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia tahu perempuan itu sedang berusaha mengambil hatinya, maka dia biarkan perempuan itu menghisap tombaknya dengan leluasa. “Jit-koh!” ujarnya kemudian, “hampir saja Lohu salah sangka terhadapmu, harap kau jangan marah.” Dengan rasa terharu Im Jit-koh mendongakkan kepalanya. “Tongcu,” katanya, “hamba tahu kalau selama ini telah berbuat salah, asal kau dapat memaklumi, hamba pun merasa berterima kasih sekali.” Selesai berkata, dia melanjutkan hisapannya. Sembari membelai rambutnya dan meremas puting susunya, Bwe Si-jin memejamkan mata sambil menikmati hisapan itu, sementara otaknya pun mulai berputar, merencanakan langkah berikut. 0oo0 Cau-ji telah diajak Siau-si memasuki sebuah ruang kamar, ia lihat di depan pembaringan tersedia sebuah bangku yang aneh sekali bentuknya, tanpa terasa ia berseru tertahan.
Dengan lirih Siau-si segera menjelaskan, “Loya, bangku itu dinamakan Hapkeh- huan (seluruh keluarga gembira), sebentar budak akan memanggil beberapa orang saudara untuk mempraktekkannya!” Sambil berkata dia merangkul Cau-ji untuk naik ke atas pembaringan. Dengan tangan gemetar dia siap membantu Cau-ji melepas pakaian, tiba-tiba pemuda itu berseru dengan suara dalam, “Coba panggil beberapa orang lagi!* “Baik!” Memandang bayangan tubuhnya yang indah, kembali Cau-ji berpikir, “Tak kusangka gadis cantik yang begitu anggun ternyata anggota dari Jit-seng-kau, Hmm! Tunggu saja, sebentar akan kuberi pelajaran kepadamu.” Sejak tahu paman Bwe pernah disiksa oleh Jit-seng-kau, Cau-ji amat membenci setiap anggota perkumpulan itu, dia berhasrat akan melenyapkan perkumpulan itu hingga ke akar-akarnya. Tak lama kemudian Siau-si sudah muncul kembali dengan membawa dua belas orang gadis berusia belia. Cau-ji hanya merasakan harum semerbak berhembus, matanya menjadi terang dan dua belas orang gadis cantik sudah berdiri berjajar di depan pem- baringan. Satu per satu Cau-ji memperhatikan kedua belas gadis itu, terlihat olehnya sepuluh orang pertama berdandan menor dan bertubuh ramping menggiurkan, hanya ada seorang gadis terakhir yang berdandan sederhana berdiri di samping Siau-si. Melihat itu, dengan perasaan keheranan ia pun berseru, “Ayo, telanjang semua!” Sepuluh orang gadis yang pertama segera tertawa cekikikan, dalam waktu singkat mereka telah melepas seluruh pakaian yang dikenakan. Kini tinggal Siau-si dan gadis terakhir yang masih berdiri dengan wajah sangsi. Cau-ji mengira kedua orang ini jual mahal, hawa amarahnya kontan berkobar, kembali bentaknya, “Ayo, telanjang!” Dua orang gadis itu saling bertukar pandang sekejap, akhirnya sambil menggigit bibir dan menundukkan kepala, perlahan-lahan mereka melepas pakaian yang dikenakan. Waktu itu kesepuluh orang gadis lainnya sudah selesai bertelanjang ria, mereka sedang menggoda Cau-ji agar terangsang. Kepada mereka Cau-ji segera membentak, “Cepat ke sana dan bantu mereka melepas seluruh pakaian yang dikenakan.” Di waktu biasa, kesepuluh orang gadis itu sudah merasa muak dengan tingkah laku Siau-si dan Siau-bun yang dianggap sok suci, mendapat perintah itu, serentak mereka menyerbu. Dalam gelisah Siau-si dan Siau-bun segera menjejakkan kakinya dan menyelinap ke belakang bangku. Cau-ji tidak menyangka kalau kedua orang gadis itu memiliki gerakan tubuh yang sedemikian cepat, ia segera melompat bangun dari tempat duduknya sambil menghardik, “Berhenti!” Betapa dahsyat dan nyaringnya suara bentakan itu, seketika para gadis merasa jantungnya berdebar dan tubuhnya gemetar keras, tanpa sadar serentak mereka menghentikan langkahnya. Siau-si dan Siau-bun meski tak sampai gemetar, diam-diam mereka terkesiap juga oleh kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki iblis tua itu, tanpa terasa secara diam-diam mereka menghimpun tenaga dalamnya untuk melindungi diri.
“Kalian mau telanjang tidak?” kembali Cau-ji mengancam. Baru saja Siau-bun akan bersuara, Siau-si sudah bergerak cepat dengan melepas semua pakaian yang dikenakan, dalam waktu singkat ia sudah dalam keadaan telanjang bulat.
Siau-bun menjadi gelisah, segera serunya dengan nada gemetar, “Cici, kau….” Siau-si sama sekali tidak memberikan reaksi, dia hanya berkata, “Ayo, cepat lepas pakaianmu!” Kemudian ia sendiri berjalan menuju ke dalam rombongan. Dengan menahan air mata yang nyaris bercucuran, Siau-bun melepas seluruh pakaian yang dikenakan, lalu dalam keadaan telanjang dia berdiri di samping Siau-si.
Cau-ji mendengus dingin, dia berjalan menuju ke depan gadis pertama, lalu dengan tangannya ia remas sepasang payudaranya dan merogoh tubuh bagian bawahnya, setelah dipermainkan sejenak, serunya dengan suara dalam, “Sana, berdiri di samping!” “Baik!” Setelah menyingkirkan tujuh orang gadis ke samping, dia memilih tiga orang gadis untuk duduk di atas bangku ‘seluruh keluarga senang’, sementara dia sendiri berdiri di hadapan Siau-si dan mulai menatap setiap bagian tubuhnya dengan seksama. Dimulai dari rambutnya yang lembut, matanya yang indah, hidungnya yang mancung, bibirnya yang mungil, terus turun ke bawah …. Tatkala menatap sepasang payudaranya yang tinggi mendongak, pemuda itu mengawasinya tak berkedip, seolah-olah sangat menikmati keindahan buah dada gadis itu. Siau-si diam-diam menggigit bibir menahan rasa gusar, sedih dan malunya, ia sama sekali tak bergerak dan membiarkan tubuhnya dinikmati iblis tua itu. Cau-ji memang berniat mempermalukan kedua orang itu, maka kembali dia berseru, “Sekarang rentangkan sepasang kakimu lebar-lebar!” Sambil berkata dia pun berbaring di atas tanah sambil menikmati tubuh bagian bawahnya. Sekujur badan Siau-si gemetar keras, tapi dia masih berusaha menahan diri. Berbeda dengan Siau-bun, sejak awal dia sudah tak kuasa menahan diri, khususnya setelah menyaksikan kakaknya dipermalukan orang, coba dia tidak berusaha keras menahan diri, mungkin sejak tadi ia sudah maju ke depan dan menginjak tubuh iblis tua itu. “Ehmm, barang bagus!” puji Cau-ji kemudian.
Tidak kelihatan ia menggunakan tenaga apapun, tahu-tahu tubuh lelaki itu sudah bangkit berdiri. Baik Siau-si maupun Siau-bun, mereka berdua sama-sama memiliki kungfu yang cukup hebat, mereka sadar, berdiri secara perlahan-lahan jauh lebih sulit ketimbang berdiri dengan gerakan cepat, tak urung tercekat hatinya setelah melihat demonstrasi kepandaian itu. Dengan berlagak seakan-akan tidak memperhatikan soal itu, Cau-ji sengaja berjalan menuju ke depan Siau-bun, lalu secara tiba-tiba ia peluk tubuh gadis itu dan menciumnya secara brutal. Bagi Siau-bun, ciuman itu merupakan ciuman pertamanya. Dia malu, gusar bercampur gelisah, baru saja tangan kanannya diayunkan siap menampar wajah lawan, lekas Siau-si menarik lengannya. Cau-ji menyaksikan semua gerakan itu, tapi dia berlagak seolah tidak tahu, bahkan melanjutkan ciuman brutalnya.
Dengan kemampuan ilmu silat yang dimiliki Cau-ji sekarang, apalagi dia memang sudah siap mencium lawannya, kontan saja Siau-bun dibuat kelabakan setengah mati. Pertama, karena kejadian itu datang secara tiba-tiba, kedua, karena kungfu yang dimiliki Siau-bun memang selisih jauh, tak ampun gadis ini nyaris semaput tak bisa bernapas. Melihat seluruh tubuh adiknya gemetar keras, Siau-si hanya bisa memejamkan matanya, tangan kanan yang sudah menyiapkan tenaga serangan pun segera dikendorkan kembali. Dengan suara gemetar lekas teriaknya, “Tongcu, adikku… dia…” Cau-ji melepaskan ciumannya, mendorong tubuh Siau-bun ke arah Siau-si, lalu serunya keras, “Sekarang coba kalian praktekkan bangku ‘satu keluarga senang’ itu!” Tiga orang gadis yang duduk di bangku itu segera menyahut dan menekan sebuah tombol di sisi bangku. “Kraaak, kraaaak, kraaak”, tiga buah bangku yang semula bersatu menjadi sebuah bangku kulit, kini telah berputar ke arah berlawanan, bahkan selisih tinggi bangku pun mencapai setengah meter lebih. Tampak gadis yang duduk di sebelah tengah mulai menggunakan lidahnya menjilati liang senggama milik gadis di depannya, sementara liang senggama miliknya dijilati oleh gadis yang berada di belakangnya.
Bukan hanya begitu, dari samping mereka terdapat pula dua orang gadis yang masing-masing duduk di bangku di sisinya dan mulai menghisap serta mempermainkan sepasang buah dada milik gadis itu, sementara gadis yang lain ikut menjilati liang senggama milik gadis yang terakhir. Tak lama pertunjukkan itu berlangsung, kembali ada dua orang gadis bergabung ke dalam rombongan itu dan menempelkan tubuhnya, mereka memperagakan gaya sepasang manusia yang sedang berhubungan intim. Belum pernah Cau-ji saksikan pertunjukkan maut semacam ini, untuk beberapa saat dia hanya duduk tertegun. Sementara itu Siau-bun sudah ditolong Siau-si dan mulai sadar kembali, ketika ia saksikan si iblis tua sedang asyik menonton pertunjukan ‘seluruh keluarga gembira’, segera bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara, “Cici, aku sudah tak sanggup menahan diri!” “Adikku, ilmu silat yang dimiliki iblis tua itu sangat hebat, kita harus bisa menahan diri.” “Cici, seandainya dia menodai kesucian kita berdua….” “Tentang hal ini … lebih baik kita hadapi sesuai keadaan.” “Cici, kita sudah menunggu begitu lama, tapi tak pernah memperoleh kesempatan untuk menyusup ke dalam markas besar Jit-seng-kau, bagaimana kalau kita tangkap iblis tua ini lalu memaksanya untuk membawa kita masuk?” “Hal ini kelewat berbahaya … kita bukan tandingannya, apalagi kungfu yang dimiliki kesepuluh orang budak itupun sangat tangguh, kita tak boleh bergerak secara sembarangan.” “Cici, bagaimana kalau dia menodai kesucian kita berdua?” “Demi … demi seratusan sukma gentayangan keluarga Suto, kita telah mempertaruhkan keselamatan jiwa kita berdua, kalau nyawa pun sudah digadaikan, buat apa mesti memilikirkan masalah keperawanan? Adikku, bersabarlah!” “Aku….” Tak tahan Siau-bun pun menghela napas panjang.
Suara helaan napas itu bagaikan suara guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, Cau-ji seketika tersadar kembali dari lamunannya, ketika berpaling, ia lihat sorot mata Siau-bun yang penuh pancaran sinar kegusaran. Karena itu dengan sengaja Cau-ji berseru, “Kau, kemari cepat, ayo, bantu aku lepaskan semua pakaianku!” Kembali Siau-bun gemetar keras, setelah sangsi beberapa saat akhirnya sambil menggigit bibir dia berjalan menghampiri Cau-ji dan mulai membantunya melepas pakaian, meski semua pekerjaan dilakukan dengan tangan gemetar. Cau-ji salah menduga dengan sikap itu, dia sangka gadis itu menaruh sikap permusuhan terhadapnya, oleh sebab itu dia pun mengambil keputusan hendak memberi pelajaran yang setimpal kepada mereka berdua. Sambil tertawa seram sepasang tangannya dengan sengaja meraba dan meremas sepasang buah dadanya. Tak terlukiskan rasa gusar Siau-bun, tubuhnya gemetar keras, menggunakan kesempatan di saat melepas celananya, dia bungkukkan badan dan menghindari sergapan yang datang dari atas. Siapa tahu Cau-ji telah berganti sasaran, kali ini tangannya mulai meraba ke pinggulnya dan terus meluncur ke tubuh bagian bawahnya. Segera gadis itu berjongkok untuk menghindari rabaan ini. Cau-ji segera mendengus dingin, pikirnya, “Sialan betul budak ini, dia mau mencoba menghindari raba-anku? H mm, biar kuberi pelajaran yang lebih hebat.” Dengan suara dalam segera hardiknya, “Berdiri kau!” Siau-si yang menyaksikan kejadian itu segera datang melerai, dia kuatir adiknya tak mampu mengendalikan diri hingga melancarkan serangan. “Tongcu,” ujarnya sambil tertawa, “biar budak yang melayanimu!” Cau-ji mendengus dingin, sambil duduk di tepi pembaringan dia mengawasi terus gerak-gerik Siau-bun yang sedang membantunya melepas kaos kaki. Ketika Siau-bun selesai melepas semua pakaian yang dikenakan Cau-ji dan siap bangkit berdiri, tiba-tiba pemuda itu menghardik lagi, “Hisap!” Tak tahan Siau-bun gemetar keras, bulu kuduknya berdiri. Mereka berdua sebenarnya adalah putri kesayangan keluarga Suto, seandainya bukan bertujuan untuk membalas dendam, tentu saja mereka tak akan bergabung di tempat yang penuh maksiat.
Tak heran kalau Siau-bun jadi tertegun dan merasa keberatan untuk melakukannya ketika mendengar Cau-ji memerintahnya untuk menghisap ‘tombak’ miliknya. Tentu saja mereka tahu, menghisap alat milik lelaki hanya dilakukan perempuan jalang. Kembali Cau-ji tertawa seram. Kesepuluh orang nona lainnya pun ikut tertawa senang. Mendadak Siau-si ikut berjongkok di sisi Siau-bun, tampaknya dia sudah bersiap untuk menghisap tombak milik Cau-ji yang mulai berdiri tegak itu. Tapi sebelum gadis itu melakukannya, dengan satu gerakan cepat Cau-ji telah mencengkeram bahu kirinya dan menyeret gadis itu ke samping, kemudian sambil tertawa seram sekali lagi dia membentak, “Cepat hisap!” Melihat kakaknya dicengkeram lawan, Siau-bun tak berkutik lagi, dengan air mata bercucuran akhirnya ia berjongkok di depan pembaringan dan mulai menghisap tombak itu. “Perlahan sedikit, perempuan jadah!” umpat Cau-ji tiba-fiba.
Siau-bun tak kuasa menahan rasa sedihnya, air mata bercucuran makin deras.
Sembari melelehkan air mata, dia menghisap ‘tombak’ itu perlahan-lahan. Cau-ji merasa puas sekali dengan perbuatannya, kembali ia tertawa terbahak- bahak. Kini sepasang tangannya dengan leluasa mulai menggerayangi buah dada milik Siau-si, lalu meraba pula bagian terlarang miliknya. Berapa saat kemudian, ketika rasa jengkelnya sudah agak mereda, ia baru mendorong pergi kedua orang gadis itu sambil bangkit berdiri. Dia langsung menuju ke depan kursi ‘seluruh keluarga senang’, lalu sambil memeluk tubuh seorang gadis yang kelihatan sangat montok, perintahnya, “Kalian semua mundur!” Dengan berat hati kawanan gadis itu mengawasi tombak milik Cau-ji yang masih berdiri tegak sambil mengenakan kembali pakaiannya, kemudian secara beruntun mereka berlalu dari situ. Cau-ji kembali meremas buah dada milik gadis dalam pelukannya, setelah tertawa seram tanyanya, “Siapa namamu?” “Ji-sui!” “Hmmm … hmmm … ternyata orangnya persis seperti namanya, milikmu kelewat banyak airnya….” Sambil berkata dia merogoh bagian bawah tubuh gadis itu. Ji-sui tertawa cekikikan. “Ji-sui, sekarang naikkan bangku itu sedikit lebih tinggi lagi,” kembali Cau-ji memberi perintah. Sambil berkata dia duduk di bangku bagian tengah. Ketika Ji-sui telah menaikkan kedua bangku di sampingnya, Cau-ji kembali menggapai ke arahnya sambil berseru, “Ji-sui, sekarang akan kulihat kebolehanmu!” Ji-sui segera melompat naik ke atas bangku, sepasang kakinya direntangkan lebar-lebar, kemudian setelah mengincar persis arah ujung tombak milik lawan, dia pun menekan tubuhnya ke bawah.
“Cluuup!”, ujung tombak itupun menghujam masuk ke dalam liang surganya.
“Woouw … mantap!” teriaknya tertahan, “Tongcu, tak kusangka milikmu jauh lebih galak ketimbang milik anak muda, hampir saja ujungnya menembus kulit perutku!” Sambil berkata dia mulai menggenjot badannya naik turun. Cau-ji tertawa bangga, dia melirik ke arah Siau-si dan Siau-bun sekejap, kemudian menuding ke arah dua bangku kosong yang berada di sisinya. Dua bersaudara itu saling berpandangan sekejap, akhirnya sambil menggigit bibir mereka duduk di bangku yang tersedia.
Cau-ji mulai merangkul tubuh kedua orang gadis itu dari kiri kanan, bahkan jari tangannya mulai meraba dan meremas-remas buah dada milik kedua orang nona itu secara bergantian. Sambil memaksakan diri untuk tersenyum, kedua orang gadis itu membiarkan badannya dijamah orang. “Siapa namamu?” tiba-tiba Cau-ji bertanya kepada Siau-bun. “Siau-bun!” “Hmm, memangnya tak punya orang tua? Dari marga apa?” Hawa amaran kembali berkobar dalam dada Siau-bun, tapi sebelum dia mengumbar amarahnya, Siau-si telah menimpali, “Tongcu, budak dari marga Poh!” Cau-ji tertawa seram, masih terhadap Siau-bun, tanyanya, “Kau dari marga apa?” “Poh!” jawab Siau-bun kaku. “Poh Bun? Huuuh, sepeser pun tak ada nilainya,” jengek Cau-ji sinis. Sembari berkata, dia sengaja memencet putting susu miliknya dengan keras. Siau-bun menjerit kesakitan, tanpa sadar dia mengayun tangan kanannya melancarkan sebuah bacokan. “Tahan!” segera Siau-si membentak. Tapi dengan gerakan cepat Cau-ji telah mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanannya, sambil tertawa seram kembali serunya, “Budak busuk, besar amat nyalimu, berani melawan aku? Hmmm, lihat saja bagaimana Lohu memberi pelajaran kepadamu!” Sambil berkata tangan kanannya menyodok ke muka.
Sambil mengertak gigi Siau-bun segera melepaskan pukulan dengan tangan kirinya untuk menangkis. Cau-ji tertawa dingin, telapak tangan kanannya dibalik dan segera mencengkeram pergelangan tangan kirinya. Pada saat itulah mendadak terdengar Ji-sui membentak nyaring, “Siau-si, kau berani!” Telapak kirinya telah dibabatkan ke atas pergelangan kanan Siau-si yang sedang digunakan untuk membacok punggung Cau-ji. Baru saja Cau-ji berhasil menotok jalan darah kaku di tubuh Siau-bun, ia mendengar jeritan ngeri dari Ji-sui, cepat badannya berbalik, tampak pukulan Siau-si sudah bersarang di dada perempuan itu, membuat si nona segera roboh terjungkal. Cau-ji gusar sekali, dia segera melancarkan sebuah pukulan untuk menyongsong datangnya bacokan yang dilepaskan Siau-si. Selisih jarak kedua orang itu sangat dekat, begitu serangan dilancarkan, sepasang tangan pun saling beradu. “Dukkkk!”, di tengah benturan keras, tubuh Siau-si berikut bangkunya sudah roboh terjungkal. Belum sempat gadis itu bangkit berdiri, Cau-ji sudah menyusul tiba dan melepaskan satu totokan kilat. Ketika dua orang gadis itu sudah berhasil dikuasai, Cau-ji baru berpaling memandang ke arah Ji-sui.
Waktu itu gadis itu sudah roboh terkapar dengan napas lemah dan darah bercucuran dari mulutnya, jelas ia sudah terluka parah. Lekas dia bopong tubuhnya dan membuka pintu kamar. Waktu itu ada dua orang gadis sedang berjaga di depan pintu, ketika melihat Tongcu mereka muncul sambil membopong Ji-sui yang terluka parah, segera tanyanya, “Tongcu, apa yang telah terjadi?” “Masa kalian tidak mendengar suara pertarungan di dalam kamar?” tegur Cau-ji dengan suara dalam. Gadis yang berada di sebelah kanan segera menyahut, “Lapor Tongcu, ruangan itu dilengkapi dengan lapisan kedap suara, hamba sama sekali tidak mendengar suara apapun.” Dengan pandangan penuh amarah Cau-ji berseru, “Kalian segera tolong jiwa Ji-sui, di samping itu segera siapkan dua butir obat perangsang!” Gadis itu segera membopong tubuh Ji-sui dan beranjak pergi dari situ. Sementara gadis yang lain berkata, “Lapor Tongcu, di bagian bawah ranjang terdapat sebuah botol, isi botol itu adalah obat perangsang!” Cau-ji masuk kembali ke dalam kamar, setelah mengunci pintu dia berjalan ke depan pembaringan, benar saja ia segera menjumpai ada sebuah botol berisi obat.
Dia pun menuang dua butir pil berwarna merah, kemudian berjalan menuju ke hadapan Siau-si. Tiba-tiba terdengar Siau-si berseru, “Tongcu, cepat tekan dagu Siau-bun!” Baru saja Cau-ji akan melompat ke depan, sambil tertawa keras Siau-bun telah berseru, “Cici, aku tak bakal melakukan perbuatan bodoh” Cau-ji segera dibuat tertegun oleh tingkah laku kedua orang gadis itu. “Tongcu,” ujar Siau-bun kemudian dengan suara tenang, “budak bersedia mempersembahkan tubuhku, tapi aku berharap kau bersedia pula menerima kami dua bersaudara sebagai dayangmu, agar setiap saat kami dapat melayanimu.” Cau-ji tidak menyangka kalau gadis keras kepala itu bisa menunjukkan perubahan sikap yang drastis dalam waktu singkat, setelah berpikir sejenak tegurnya. “Rencana busuk apa yang sedang kau persiapkan?” “Tongcu, budak sebenarnya tak rela kehilangan kesucianku di tanganmu, tapi sekarang budak telah melakukan tindakan yang berakibat terjadinya musibah, bila Tongcu tak bersedia menerima kami, bisa jadi nasib budak akan berakhir lebih tragis!” Sambil tertawa seram Cau-ji mengawasi gadis itu tanpa berkedip. Siau-bun hanya menundukkan kepala dengan wajah lesu, dia sama sekali tak berkata lagi. Cau-ji tahu, persoalan ini tidak mungkin begitu sederhana, di balik semua ini pasti tersembunyi suatu rencana busuk, maka sambil tertawa dingin dia berjalan menghampirinya. “Tongcu,” seru Siau-si pula dengan gemetar, “kau paling tahu soal hukuman yang berlaku dalam perkumpulan, budak lebih rela musnah di tanganmu daripada terjatuh ke tangan orang lain.” “Hehehe, bagus, bagus sekali, kalau memang begitu keinginan kalian, tentu saja aku akan menerima dengan senang hati. Cuma ada satu hal perlu Lohu kemukakan dulu, bila kalian bisa memuaskan diriku, aku baru bersedia menerima kalian, kalau tidak, hmmm! Jangan salahkan kalau Lohu tak berperasaan.” “Baik!” sahut Siau-bun sedih. Cau-ji segera menotok bebas jalan darah kedua orang gadis itu, kemudian baru naik ke atas ranjang dan membaringkan diri.
Bab III. Rombongan iblis merampok duit.
Suto bersaudara semakin terkesiap lagi setelah menyaksikan kemampuan iblis tua itu menotok bebas jalan darah mereka hanya dengan sekali kebasan tangan, mereka sadar musuh benar-benar sangat tangguh. Maka tanpa banyak bicara lagi Siau-bun segera melompat naik ke atas ranjang dan menaiki tubuh Cau-ji “Adikku, biar aku duluan!” Siau-si berseru. “Tidak, Cici, kau beristirahatlah dulu!” seru Siau-bun serius. Kemudian sambil menggigit bibir dia merentangkan bibir bagian bawah miliknya, membuka lubang surganya dan perlahan-lahan dihujamkan ke atas ujung ‘tombak’ milik lawan.
Siau-si segera menyaksikan peluh dingin bercucuran membasahi tubuh Siau- bun, bukan hanya itu, bahkan tubuhnya gemetar keras. la tahu adiknya sedang merasakan kesakitan yang luar biasa karena selaput perawannya robek untuk pertama kalinya. Cau-ji sendiri pun merasakan ujung tombaknya agak sakit ketika tertelan oleh liang surga milik Siau-bun yang kering, sempit dan masih amat kencang itu. Lekas serunya, “Jangan terburu-buru, perlahan sedikit, lebih baik berbaring saja.” Sambil berkata dia memeluk pinggangnya dan dibaringkan ke atas ranjang. Terlihat tetesan darah segar mengalir keluar dari liang surga milik Siau-bun. “Mungkinkah aku telah salah menilainya?” melihat itu Cau-ji mulai berpikir. Dengan sangat penurut Siau-bun berbaring di samping tubuhnya, dia pejamkan mata dan tak berani menengok ke arahnya. Waktu itu Siau-si sedang duduk bersila sambil mengatur pernapasan, melihat caranya yang begitu serius, kembali Cau-ji tertegun, pikirnya, “Menurut cerita ibu, kecuali orang yang berlatih ilmu putih, tak mungkin dia akan menunjukkan sikap semacam ini di saat sedang bersemedi, jangan-jangan..’ Lekas dia bangkit berdiri. Dengan keheranan Siau-bun membuka matanya, serunya gemetar, “Tongcu, kau jangan ingkar janji” “Aku…
aku….” Tiba-tiba Siau-bun menempelkan telapak tangannya di atas ubun-ubun sendiri, ancamnya, “Tongcu, bila kau mengingkari janji, terpaksa budak akan segera menghabisi nyawa sendiri.” “Tunggu sebentar, aku … aku … beritahu dulu asal-usul kalian yang sebenarnya!” Siau-bun sangat terkejut, setengah terpejam matanya ia termenung, sesaat kemudian baru ujarnya dengan suara berat, “Budak bernasib jelek, sejak kecil sudah dijual orang ke tempat ini, sudahlah, jangan singgung asal-usul kami lagi, kejadian itu sangat memalukan!” “Berdasarkan kepandaian silat yang kalian miliki, seharusnya bukan pekerjaan yang sulit untuk pergi meninggalkan tempat ini, dan lagi siapa yang mampu menghalangi kalian?” “Betul, memang tak ada yang bisa menghalangi kepergian kami, tapi siapa pula yang akan memunahkan racun yang bersarang di tubuh kami berdua?” “Soal ini….” Kembali Siau-bun tertawa sedih. Tiba-tiba Cau-ji mendengar Siau-si mendengus tertahan, lalu menyaksikan tubuhnya bergoncang keras dengan perasaan terkejut segera dia melompat ke belakang tubuhnya. Secara beruntun dia melepaskan beberapa pukulan di atas punggungnya, kemudian sambil menempelkan telapak tangan kanannya di jalan darah Pak- hwe-hiat, katanya dengan suara berat, “Konsentrasikan pikiranmu jadi satu, ikuti tenaga dalamku yang mengalir ke seluruh badan.” Perlahan-lahan dia salurkan tenaga murninya ke dalam tubuh si nona. Melihat tindakan yang dilakukan Cau-ji, Siau-bun serta-merta menghentikan tertawanya. Ketika melihat kondisi encinya, rasa sedih dan mendongkol kembali bercampur aduk, akhirnya sambil menahan rasa sakit yang timbul dari lubang surganya, dia merangkak turun dari pembaringan.
Rupanya seruan Cau-ji yang dilakukan dalam keadaan panik tadi telah menggunakan suara aslinya, tak heran kalau gadis ini jadi tertegun, dengan sepasang matanya yang jeli dia pun mengawasi tubuh lelaki itu tanpa berkedip.
Sayang ilmu menyaru muka milik Bwe Si-jin sangat hebat, ditambah lagi rambut Ho Ho-wan yang asli pun memang masih hitam, maka sulitlah baginya untuk menemukan sesuatu titik kelemahan. Sekalipun begitu, ada satu hal dia merasa yakin, yaitu orang ini dapat dipastikan bukanlah Ho Ho-wan, salah satu anggota dari sepasang malaikat bengis dari In-lam yang tersohor tak banyak bicara, sangat teliti dan berhati keji. Diam-diam dia mulai putar otak sambil mencari cara bagaimana agar bisa menemukan jawaban yang sebenarnya. Mendadak terlihat tubuh Siau-si bergetar keras, diikuti Cau-ji menghembuskan napas panjang sembari berkata, “Sekarang aturlah pernapasanmu dan lakukan tiga kali putaran!” Sambil berkata dia pun bangkit berdiri. “Terima kasih Tongcu!” seru Siau-bun sambil menubruk ke dalam pelukan Cau-ji. “Kau …” Baru saja Cau-ji buka suara, mulutnya segera disumbat oleh bibir mungil dari gadis itu. Siau-bun menempel ketat di tubuhnya bahkan dengan sangat berani menciumnya, menghisap ujung lidahnya, sementara sepasang tangannya mulai meraba seluruh badan lelaki itu, meraba tombaknya dan meremas kedua telur puyuhnya. Dasar Cau-ji masih muda dan berdarah panas, mana mungkin dia bisa bertahan menghadapi godaan dan rangsangan seperti itu. Kontan saja jantungnya berdebar keras, sepasang tangannya yang menggerayangi tubuh nona itupun semakin liar. Sambil berciuman dengan penuh kehangatan, Siau-bun perlahan-lahan menggeser badannya menuju ke depan pembaringan. Tanpa terasa akhirnya kedua orang itu menjatuhkan diri berbaring di atas ranjang. Siau-bun merentangkan sepasang pahanya lebar-lebar lalu badannya digerakkan ke bawah, dengan sangat berhati-hati dia mengantar lubang surganya persis di atas ujung tombak lawan.
Begitu posisinya sudah persis, dia pun menekan badannya ke bawah dan menelan seluruh tombak itu hingga ke dasarnya. Orang bilang, “kalau lelaki ingin wanita, susahnya seperti melampaui sebuah bukit karang, tapi kalau perempuan yang ingin lelaki, gampangnya seperti menyingkap sehelai tirai”. Kini Siau-bun sendiri yang membuka lebar pintu surganya, malahan dia pula yang membantu memasukkan sang tombak ke dalam liang, seketika semuanya berjalan sangat lancar dan sederhana. Cau-ji segera merasakan tombak miliknya sekali lagi berpetualangan di dalam gua yang sempit lagi kering, hanya saja saat ini keadaan gua sudah tidak sekering pertama kali tadi, jalan yang sedikit becek tergenang air justru mempermudah dan memperlancar jalannya sang tombak menuju ke dasar.
Tanpa terasa akhirnya tibalah ia di tempat tujuan, sekalipun masih ada sebagian kecil tombaknya yang tertinggal di luar gua, namun diam-diam ia bisa menghembuskan napas lega.
Paling tidak, sebagian besar tombak pusakanya telah menghujam ke dalam gua surga itu. Kini Siau-bun telah menggeser bibirnya dari bibir lawan, dia pejamkan matanya rapat-rapat dan tak berani lagi memandang ke arah Cau-ji. Dengan penuh kasih sayang Cau-ji mulai menciumi gadis itu, kemudian sambil setengah memeluk pinggangnya dia mulai menggerakkan badannya naik turun, genjotannya dilakukan amat perlahan dan sabar, karena dia tahu gadis itu baru robek selaput daranya.
Sesuai dengan ajaran yang pernah diterima dari ibunya, dia menggenjotkan badannya sangat perlahan dan penuh kasih sayang. Lambat-laun Siau-bun merasakan rasa sakitnya makin berkurang, sebaliknya di dasar lubang surganya ia mulai merasakan linu-linu gatal yang sangat aneh, rasa gatal itu makin lama semakin menjadi dan rasanya ingin sekali digaruk. Keadaannya waktu itu persis seperti munculnya rasa gatal di badan, rasa gatal itu memaksa harus menggaruknya berulang kali, makin digaruk rasanya makin nikmat, sampai akhirnya biar digaruk hingga terluka pun tak menjadi masalah, karena rasa nikmatnya itu yang benar-benar diharapkan. Tak kuasa lagi Siau-bun mulai menggerakkan badannya, menggoyang pantatnya kian kemari mengiringi gerakan tombak lawan, tujuannya adalah untuk menggaruk rasa gatal di dasar lubangnya itu. Kebetulan Siau-si baru saja selesai bersamadi, ketika melihat reaksi dari Siaubun yang begitu hangat dan terangsang, ia jadi tertegun dibuatnya. “Heran,” demikian ia berpikir, “bukankah adik amat membenci Tongcu? Apa yang terjadi? Jangan-jangan ia sudah dicekoki obat perangsang?” Tanpa terasa dia mengawasi dengan lebih seksama. Cau-ji yang menyaksikan Siau-bun mulai menunjukkan reaksinya, ia sadar kalau ajaran ibunya tidak keliru, maka dia pun mulai mempercepat gerakan genjotannya…. “Plook… plookkk ….”, bunyi gencetan lubang yang nyaring pun segera bergema di seluruh ruangan. Tiba-tiba Siau-bun bangun dan duduk, sambil memeluk leher Cau-ji, dia menghadiahkan sebuah ciuman yang amat mesra. Ciuman itu selain panjang, juga amat mendalam. Sepasang tangannya mulai membelai wajah Cau-ji, membelai pipinya, membelai jenggotnya yang panjang berwarna putih…. Beberapa saat kemudian akhirnya ia berhasil menjumpai perbedaan kulit di wajah pemuda itu, sebagian kulit terasa agak kasar dan sebagian lagi terasa sangat lembut. Dia tahu wajah orang ini memang hasil dari penyaruan muka, atau dengan perkataan lain, orang ini memang bukan iblis tua yang dibencinya. Penemuan ini membuatnya sangat kegirangan di samping perasaan lega, perlahan ia berbaring lagi di atas ranjang. “Tongcu,” gumamnya kemudian, “oooh koko … koko yang baik … ayo, lebih keras lagi … oooh …
masukkan lebih dalam ….” Cau-ji yang masih tercekam oleh kobaran birahi, sama sekali tak sadar kalau rahasia penyaruannya sudah ketahuan, benar saja, ia segera menggenjot badannya lebih kuat dan dalam. Siau-bun segera menyambut tantangan itu dengan menggerakkan badannya lebih jalang, kini dia bisa menikmati hubungan itu tanpa rasa sangsi dan takut lagi.
Siau-si yang menonton dari samping, makin tertegun dibuatnya, kembali ia berpikir, “Aneh! Kalau dilihat tampang adikku, jelas ia berada dalam kondisi sadar, tapi … kenapa ia berubah menjadi jalang dan penuh napsu birahi?” Siau-bun sendiri, setelah tahu kalau lawannya adalah seseorang yang telah menyaru, kemudian membayangkan pula semua tingkah laku dan sepak terjang yang dilakukan orang itu tadi, dia mulai berpikir, jangan-jangan orang inipun musuh Jit-seng-kau yang sedang berusaha menyusup masuk? Andaikata dugaannya tak keliru, bukankah sama artinya mereka akan mendapat bantuan besar? Membayangkan sampai di situ dia pun menjadi sangat gembira. Seandainya dia belum berani memastikan seratus persen, ingin sekali dia menyampaikan berita itu kepada kakaknya. Karena hatinya gembira, otomatis seluruh ketegangan ototnya pun mengendor. Karena pikirannya sudah mengendor, maka gadis inipun bisa mempraktekkan semua gerakan yang pernah disaksikannya selama ini untuk melayani pemuda itu. Sepeminuman teh kemudian, gadis itu mulai merintih keenakan, “Aaaah … aaaah … koko … kokoku sayang … aku … aku … aduh …
aduuh … lebih kuat lagi … betul … lebih kuat lagi … masukkan yang dalam …
aduh … aku … aku..’ Tubuhnya mulai gemetar keras. Cau-ji tahu gadis itu segera akan mencapai orgasme, maka dia pun memperketat genjotan badannya. “Plook …
ploook’ di tengah suara gesekan yang makin cepat dan gencar, pemuda itu membawa si nona menuju puncak kenikmatan. Menyaksikan adegan itu, Siau-si tak kuasa menahan diri lagi, cepat dia melompat naik ke atas ranjang lalu berbaring di samping mereka sambil merentangkan kakinya lebar-lebar. Mendadak terdengar Siau-bun menghela napas panjang, tubuhnya gemetar semakin keras.
Tak lama kemudian napasnya tersengal-sengal, seluruh anggota badannya terkulai lemas, tak bertenaga lagi. Namun matanya yang jeli masih menatap Cau-ji dengan termangu, senyuman yang menggoda masih menghiasi ujung bibirnya. Cau-ji semakin memperketat gerakan tombaknya, kini dia menghujamkan senjatanya hingga mencapai ke dasar liang, menikmati denyutan serta getaran yang dihasilkan dari dasar liang itu …. Selang beberapa saat kemudian dia menciumi gadis itu makin bernapsu, kemudian setelah beberapa kali genjotan yang makin cepat tiba-tiba ia mencabut keluar tombaknya…. Botol arak dibuka, buih putih pun menyembur. Darah perawan berbaur dengan cairan kental berwarna putih segera meleleh keluar dari lubang surga Siau-bun. Lekas Siau-si menyodorkan sehelai handuk dan sebuah selimut sambil katanya, “Adikku, cepat bersihkan tubuh bagian bawahmu, jangan sampai masuk angin!” Siau-bun segera menerima handuk itu dan membersihkan lubang surganya, lalu setelah menghela napas katanya, “Cici, ternyata Tongcu adalah orang baik, tadi dia telah menyelamatkan nyawamu, kau harus membayar budi kebaikannya.” Dengan wajah jengah Siau-si manggut-manggut, dia pun memejamkan matanya.
Setelah beristirahat beberapa saat lamanya, tombak Cau-ji mulai menegang keras lagi, dia pun mulai membungkukkan badannya dan menghisap puting susu milik Siau-si yang besar, kenyal dan masih kencang itu. Ternyata pelajaran seks yang diajarkan ibunya memang sangat hebat. Tadi Cau-ji sudah membuktikan kebenaran ajaran itu dengan mempraktekkannya di tubuh Siau-bun, maka sekarang rasa percaya dirinya semakin meningkat, dia ingin mencoba tehnik pemanasan yang pernah diperolehnya untuk membuktikan reaksi dari gadis itu.
Siau-si segera merasakan seluruh tubuhnya gatal, kaku dan panas sekali, hisapan pada puting susunya, gerayangan tangan yang meraba sekujur badannya membuat gadis ini mulai terangsang juga. Tak kuasa lagi dia mulai menggerakkan tubuh bugilnya kian kemari. Cau-ji menciumi dadanya, menggigit puting susunya lalu mulai mencium perutnya, pusarnya, terus turun ke bawah … mulai menciumi hutan bakaunya dan makin ke bawah … menciumi seputar lubang surganya ….
Sekujur tubuh Siau-si bergidik, rangsangan itu membuat birahinya meningkat, apalagi ketika jenggot berwarna putih itu menggesek kulit badannya, gadis itu segera merasakan satu kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata. Akhirnya ia tak bisa menahan diri lagi, gadis itu mulai merintih, merintih kenikmatan! Cau-ji segera meraba lubang surganya, terasa tempat di seputar itu mulai basah oleh cairan putih, ia tahu gadis itu sudah makin terangsang birahinya. la tahu kini saatnya sudah matang, maka bibirnya menciumi dada, leher dan tengkuknya makin menggila. Sementara mencium, tubuh bagian bawahnya mulai bergeser ke atas badan gadis itu dan menempelkan tombaknya di atas lubang surga. Siau-bun pura-pura beristirahat padahal secara sembunyi-sembunyi dia membuka sedikit matanya untuk mengintip. Dia ingin turut menyaksikan permainan seks dari kakaknya, dia pun ikut membayangkan betapa nikmatnya ketika bagian-bagian tertentu di tubuh kakaknya dicium, dibelai dan dijilat lawan. Makin mengintip hatinya semakin berdebar keras, tiba-tiba saja tubuh bagian bawahnya mulai terasa panas kembali. Sementara itu Cau-ji telah menciumi bibir Siau-si dengan penuh napsu, ia mulai menghisap ujung lidah gadis itu dan menggigitnya perlahan, sedang tombaknya yang sudah menempel di atas lubang surga, perlahan-lahan mulai ditusukkan ke bawah dan menelusuri liang surga yang sempit lagi kering itu. Mereka berdua berpelukan makin kencang. Mereka berdua berciuman makin hangat dan mesra. Tubuh bagian bawah mereka pun mulai bergerak, mulai bergoyang sangat lambat, bergerak naik turun dengan sangat hati-hati. Siau-bun merasakan napsu birahinya bangkit kembali, terbayang betapa nikmatnya ketika ditiduri tadi, ia merasa lubang surganya mulai terasa geli dan gatal sekali, seakan-akan ingin sekali ada satu benda besar yang menusuk lubangnya dan menggaruknya dengan keras…. Tiba-tiba ia merasakan kenikmatan yang luar biasa, lagi-lagi ia mencapai orgasme…. Waktu itu Cau-ji sudah menggerakkan badannya makin cepat.
Beberapa saat kemudian, Siau-si mulai merintih kenikmatan, tubuhnya mulai gemetar keras…. Tapi Siau-si tak berani berteriak, sebab pertama dia memang lebih alim, kedua di situ hadir adiknya, dia tak tega untuk mengeluarkan suara rintihan kenikmatannya, karena itu dia hanya mendengus untuk menggantikannya. Ketika Cau-ji merasakan lubang surga milik gadis itu mulai gemetar keras, diam-diam dia mengerahkan hawa murninya, sesuai dengan ajaran yang diperoleh dari Bwe Si-jin, dia bersiap-siap akan melepaskan puncak kenikmatannya. Gerakan naik turunnya segera dipercepat. Akhirnya Siau-si tak kuasa menahan diri lagi, ia mulai berteriak, “Aaaaah … ahhhh..’ Teriakannya makin lama semakin keras dan jeritannya bergema tiada hentinya. Melihat itu Siau-bun segera berbisik, “Cici, kalau ingin berteriak, cepatlah berteriak, makin berteriak, kau akan merasa semakin nikmat.” “Aku … aku … aduh … aduuuh … aaaah … ahhhh..” Akhirnya diiringi jerit kenikmatan yang keras, Siausi mencapai orgasme, tubuhnya tidak bergerak lagi.
Cau-ji pun mempercepat genjotannya, setelah naik turun belasan kali akhirnya dia pun mencapai puncaknya dan menyemburkan cairannya. Kali ini merupakan kali pertama ia mencapai puncak kenikmatan dalam keadaan sadar, Cau-ji merasakan tubuhnya begitu nyaman, segar bagai melayang di atas awan. Lama, lama kemudian, ia baru merangkak turun dari tubuh gadis itu. Siau-bun mengambil sehelai handuk dan membantunya menyeka keringat, lalu sambil menahan rasa pedih di tubuh bagian bawahnya dia berjalan menuju ke sisi pembaringan dan menyiapkan air panas di dalam bak mandi. “Tongcu, bersihkan dulu badanmu,” bisiknya halus. “Ooh, baiklah!” Ketika Cau-ji masuk ke kamar mandi, Siau-bun pun segera membisiki Siau-si tentang apa yang berhasil ditemukannya ini.
Mendengar penuturan itu, Siau-si kegirangan setengah mati. Saat itulah Cau-ji telah selesai membersihkan badan dan muncul dari kamar mandi. Lekas Siau-bun mengambilkan pakaian dan membantu mengenakannya, lalu dengan agak tersipu katanya, “Tongcu, terima kasih banyak atas kenikmatan yang kau berikan kepada budak.” “Hehehe, kau tidak menyalahkan Lohu?” “Tongcu, buat apa menyinggung masalah itu lagi? Mari, nikmati dulu kuah jinsom untuk memulihkan kondisi badanmu!” Cau-ji sama sekali tak mengira kalau ia berhasil menjinakkan macan betina itu dengan lancar dan mudah, tak tahan dia pun tertawa terbahak-bahak “Hahaha, biar Lohu lakukan sendiri.” Beberapa saat kemudian Siau-si dan Siau-bun telah selesai membersihkan badan, tapi berhubung pakaian milik Siau-si sudah robek, terpaksa untuk sementara waktu ia bersembunyi di balik selimut.
“Siau-bun, pergilah mengambil pakaian untuk Siau-si!” perintah Cau-ji. “Soal ini …
Tongcu, harap kau bersedia keluar sejenak bersama budak.” Mendengar itu Cau-ji segera tahu, rupanya dia kuatir ditegur Im Jit-koh, maka sahutnya sambil tertawa, “Baiklah, Lohu akan menerima kalian berdua sebagai orangku, ayo berangkat” Baru saja pintu kamar dibuka, ia segera saksikan Bwe Si-jin sedang duduk di bangku utama ditemani Im Jit-koh di sampingnya. Dengan agak tertegun Cau-ji segera menyapa, “Selamat pagi Loko!” Bwe Si-jin melirik Siau-bun sekejap, lalu gumamnya, “Burung berkicau dimana-mana, matahari sudah meninggi, tapi ada orang baru bangun dari tidurnya, Lote, pagi ini kau memang bangun kelewat pagi, hahaha….” Tanpa terasa Cau-ji melirik sekejap keluar kamar, melihat matahari sudah jauh di angkasa, tanpa terasa pipinya jadi panas. “Siau-bun, ikut aku!” tiba-tiba Im Jit-koh berseru dengan suara dalam.
“Tunggu dulu!” tukas Cau-ji cepat, “apakah luka yang diderita Ji-sui sudah agak baikan?” “Lapor Tongcu,” kata Im Jit-koh dengan hormat, “berkat doa anda, Ji-sui sudah lolos dari mara bahaya, asal beristirahat beberapa bulan, semestinya dia bakal sehat kembali” “Bagus sekali, kalau begitu berikan uang ini kepadanya, anggap saja sebagai imbalan untuk membeli obat.” Sambil berkata, ia serahkan setumpuk uang kertas. Lekas Im Jit-koh menampik. “Tongcu, Ji-sui tidak pantas memperoleh imbalan sebesar itu,” katanya. “Hehehe … Lohu sudah mengambil keputusan akan menerima Siau-si dan Siau-bun sebagai dayangku, anggap saja uang itu sebagai ungkapan rasa menyesal mereka berdua kepada Ji-sui.” Im Jit-koh agak tertegun, tapi kemudian sambil menerima uang kertas itu segera serunya, “Tongcu, kionghi, kionghi!” “Hehehe, kau tak usah mengucapkan selamat padaku, aku malah belum berterima kasih kepadamu.” “Tidak berani, tidak berani, Siau-bun, ikut aku sebentar!” Menanti mereka berdua sudah meninggalkan ruangan, Bwe Si-jin baru bertanya dengan ilmu menyampaikan suara, “Bagaimana Cau-ji? Apakah kau puas dengan permainanmu semalam?” Agak tersipu-sipu Cau-ji mengangguk. Bwe Si-jin segera mengajak dia masuk ke dalam kamarnya, lalu kembali bertanya, “Cau-ji, jadi kau berencana menerima mereka berdua? Mau kau jadikan dayang atau gundik?” “Paman, aku sendiri pun kurang tahu, bagaimana menurut pendapatmu?” “Cau-ji, seorang lelaki memiliki beberapa orang gundik adalah satu kejadian yang lumrah, dan lagi kejadian inipun bukan sesuatu yang luar biasa, cuma, apakah kau telah menyelidiki dengan jelas asal-usul mereka berdua?” “Paman, tahukah kau jagoan dunia persilatan mana yang saat ini mempelajari ilmu Bu-siang-sin-kang?” “Tentang hal ini … aku dengar selain partai Siau-lim, hanya keluarga Suto yang mempelajari ilmu itu, padahal setahuku partai Siau-lim tak pernah menerima murid perempuan, sementara keluarga Suto pun sudah lama punah, jangan-jangan…” Bicara sampai di situ, wajahnya segera menunjukkan perasaan terkesiap. Rupanya pada empat belas tahun berselang dia bersama Su Kiau-kiau pernah membawa ratusan orang anggotanya menyerang keluarga Suto, mula-mula mereka meracuni dulu seluruh anggota keluarganya kemudian baru melancarkan pembantaian. Selesai melakukan pembantaian, mereka sempat melakukan perhitungan atas korban yang berjatuhan, ternyata ditemukan bahwa seorang pengurus rumah tangganya serta sepasang putri Suto Put-huan tidak berada dalam daftar korban. Maka pencarian secara besar-besaran pun dilakukan, namun tak berhasil, akhirnya mereka pun membumi hanguskan seluruh perkampungan itu sebelum meninggalkan tempat itu. Terbayang kembali kejadian itu, Bwe Si-jin bertanya, “Cau-ji, jangan-jangan mereka telah mempelajari ilmu Bu-siang-sin-kang?” “Benar, ketika sedang bersemedi semalam, Siau-si nyaris mengalami Cau-hwe- jip-mo, untung aku berada di sampingnya dan segera melakukan pertolongan, ketika menyalurkan tenaga dalam untuk membantunya, kujumpai aliran tenaga dalamnya mirip sekali dengan ilmu Bu-siang-sin-kang seperti apa yang pernah ayah tuturkan kepadaku.” “Oooh, rupanya pihak Siau-lim-pay telah menghadiahkan sim-hoat tenaga dalam Bu-siang-sin-kang kepada ayahmu. Cau-ji, coba kau ceritakan kembali kejadian yang kau alami semalam.” Secara ringkas Cau-ji menceritakan kembali kisah pengalamannya.
Selesai mendengar penuturan itu, dengan kegirangan Bwe Si-jin berkata, “Cau-ji, kalau begitu mereka berdua pastilah sepasang putri kesayangan Suto Put-huan!” “Hahaha, kelihatannya mereka memang mempunyai tujuan lain, agar bisa mengikuti kami masuk ke markas besar Jit-seng-kau, mereka tak segan mengorbankan kesucian tubuhnya.” Berubah hebat paras muka Cau-ji, serunya dengan cemas, “Paman, Cau-ji tak menyangka akan melakukan perbuatan sebodoh ini, bagaimana baiknya sekarang?” “Hahaha, tenanglah!” “Paman, kau jangan menggoda Cau-ji, cepat berilah petunjukmu!” “Hahaha, sederhana saja, boyong mereka balik ke perkampungan Hay-thian- it-si.” Tak terkirakan rasa terperanjat Cau-ji setelah mendengar usul itu, serunya, “Waah, Cau-ji bisa diumpat habis-habisan, apalagi terhadap enci Jin, bagaimana aku harus mempertanggung-jawabkan?” “Hahaha, bocah muda, siapa suruh kau sembarangan menusuk dengan ‘tombak’mu!” “Paman, tolong bantulah aku, carikan akal lain, semalam kalau bukan gara- gara usulmu, Cau-ji pun tak akan tersangkut kesulitan macam begini, paman tak bisa cuci tangan begitu saja.” “Ehhm, anak muda, jadi kau sedang mengancam paman?” “Cau-ji tak berniat begitu.” “Baik, baiklah, anggap saja ancamanmu memang jitu, sebentar pasti akan kubantu bicara.” “Terima kasih paman.” “Hahaha, jangan putus asa, he, Cau-ji, paman akan menyampaikan satu berita gembira, kini Jit-seng-kau sedang terjadi kekalutan dalam negeri.” “Sungguh?” Dengan suara lirih Bwe Si-jin segera menceritakan tentang apa yang didengarnya dari Im Jit-koh, khususnya tentang ambisi wakil ketua yang ingin memegang tampuk pimpinan. Selesai berkisah, ujarnya lagi sambil tertawa, “Sebuah permulaan yang bagus, anggap saja usaha kita sudah berhasil setengah jalan.
Cau-ji, lakukanlah dengan hati lega.” “Selanjutnya apa yang harus kita lakukan?” “Hahaha, barusan aku telah perintahkan Jit-koh untuk menyampaikan berita tentang kehadiran kita di sini kepada Su Kiau-kiau, sambil menunggu, kau bisa gunakan kesempatan ini untuk menjalani bulan madumu!” “Ini….” “Hahaha, aku tak tahu leluhurmu sudah melakukan perbuatan mulia apa saja sehingga kau yang ketimpa keberuntungan terus menerus, paman kagum kepadamu.” “Semuanya ini berkat bantuan paman.” “Hahaha ….” “Aaah, benar, andai Su Kiau-kiau mengirim orang lagi ke Hay-thian-it-si, apa yang harus kita lakukan?” “Hahaha, tak usah kuatir, di situ toh ada ayahmu serta Raja hewan, belum lagi pasukan wanita yang kosen, siapa pun yang dikirim ke sana, dapat dipastikan akan tertimpa sial.” “Benar, paman memang hebat.” “Sudah, tak usah kau menjilat pantat, ayo, kita pergi minum beberapa cawan.” 0oo0 Tengah malam itu, Cau-ji dan Bwe Si-jin sedang duduk di kamar baca sambil menyaksikan Siau-bun dan Siau-si melakukan pencatatan ulang semua nomor pasangan ‘semua senang’ yang telah masuk. Ketika mereka berdua selesai menjumlah seluruh uang pasangan, sambil tertawa Bwe Si-jin berkata, “Sayangku, kita mendapat tiga puluh empat juta tahil perak dalam periode pembukaan kali ini, berarti kau bakal mengantungi tiga empat juta tahil perak lagi ke dalam kocekmu.” “Berkat rezeki dari Tongcu berdua, siang tadi beberapa orang teman dari wilayah Lu-pak datang memasang nomor sejumlah lima enam juta tahil, itulah sebabnya jumlah pendapatan kotor kita memecahkan rekor.” “Hahaha, tak nyana ada orang dari wilayah Lu-pak yang ikut meramaikan ‘semua senang’, tapi kenapa mereka mesti bersusah payah datang dari jauh hanya untuk meneken kontrak dengan kalian?” “Konon bandar yang ada di wilayah Lu-pak kebanyakan curang, maka mereka pun mengalihkan pasangannya ke tempat ini.
Biar begitu, secara diam-diam hamba sudah mengutus orang untuk mengawasi gerak-geriknya, aku kuatir mereka pun ikut menjadi bandar di sini.” “Ooh, apakah mereka orang persilatan?” “Bukan, mereka semua berdandan seperti pedagang dan pengusaha, tapi menurut laporan yang diterima dari rekan-rekan yang melakukan penguntitan, katanya di tempat tinggal mereka seringkah berkeliaran orang-orang persilatan berwajah asing.” “Oooh, tampaknya maksud kedatangan mereka memang tidak beres, hahaha … semoga mereka bersikap lebih cerdas, kalau tidak, hmmm, hmm, akan kusuruh mereka harta lenyap nyawa pun ikut hilang.” “Hahaha, apakah akan terjadi peristiwa, malam ini pasti akan ketahuan jawabannya.” Pada saat itulah tiba-tiba dari arah kamar baca berkumandang suara keleningan yang sangat ramai. Dengan wajah terkesiap Im Jit-koh segera berseru, “Baru saja kita sebut Cho Cho, ternyata Cho Cho sudah datang! Tampaknya harus merepotkan Tongcu berdua!” Habis berkata ia pun menekan sebuah tombol yang berada di bawah meja baca. Tak lama kemudian seluruh bangunan rumah makan Jit-seng-lau sudah diramaikan oleh suara keleningan. Kepada Siau-si dan Siau-bun, Cau-ji segera berseru, “Mau ikut nonton keramaian?” Kedua orang gadis itu manggut-manggut, cepat mereka kembali ke kamar untuk berganti pakaian ringkas, sekalian menggembol pedangnya. Tatkala kedua orang gadis itu mengikuti Cau-ji tiba di tengah ruangan, tampak ada ratusan orang jago telah berdiri memenuhi tempat itu. Kecuali kedua orang Tongcu dan Im Jit-koh, di situ pun hadir dua belas orang kakek berbaju hitam. Kawanan musuh sudah memencarkan diri ke empat penjuru, jumlah mereka mencapai ratusan orang, menyaksikan begitu rapatnya manusia yang muncul di seputar sana, diam-diam Siau-si berdua merasa sangat gelisah. Im Jit-koh segera mengangkat tangan kanannya, belasan batang obor yang berada di seputar halaman seketika terang benderang. Setelah selesai menyulut obor-obor itu, kesepuluh orang gadis itupun dengan cepat mundur ke belakang Siau-bun. Im Jit-koh maju selangkah ke depan, lalu dengan suara nyaring tegurnya, “Ada urusan apakah rekan-rekan semua datang kemari di tengah malam buta begini?” Gelak tawa nyaring bergema memecah keheningan, tampak empat orang manusia aneh berwajah buruk dengan mengiringi seorang kakek berambut putih berjalan mendekat. Dalam waktu singkat selisih jarak mereka tinggal beberapa meter saja. Kakek itu berwajah bersih dengan jenggot putih sepanjang dada, ia mengenakan baju berwarna hijau, alis matanya panjang, putih dan terurai ke bawah, wajahnya merah bercahaya, sama sekali tidak mencerminkan ketuaannya. Sementara keempat orang pengawalnya adalah empat manusia aneh, mereka memakai baju karung berwarna kuning, kakinya mengenakan sepatu rumput dan mukanya aneh penuh dengan codet bekas bacokan sehingga kelihatan sangat menyeramkan. Setelah tertawa terbahak kakek itu menjura pada Im Jit-koh, lalu ujarnya, “Tauke Im, aku dengar selama beberapa tahun terakhir kau berhasil mengantongi sejumlah uang, untuk itu Lohu mewakili teman-teman dari wilayah utara Lu-pak minta sedekah darimu.” “Hahaha, ucapan Lu-pangcu kelewat serius,” Im Jit-koh tertawa terkekeh, “siapa sih yang tak kenal dengan perkumpulan Kim-liong-pang yang tersohor karena banyak duit?” Kakek itu adalah ketua perkumpulan naga mas, ia bernama Lu Cong-khi, sedangkan keempat manusia aneh berwajah menyeramkan itu adalah keempat pelindung hukumnya, Lu-tiong-su-sat (empat manusia bengis dari Lu-tiong).
Mendengar perkataan itu, Lu Cong-khi langsung tertawa seram, serunya, “Perempuan sundel, kalau tahu diri, cepat berderma satu dua juta tahil perak untuk perkumpulan kami, kalau menolak… heheheh” “Orang bilang burung mati karena makanan, manusia mampus karena harta, jika kalian tidak segera mundur dari sini, hmmm, aku kuatir kalian tak ada kesempatan lagi untuk melihat matahari esok’ Selesai berkata, perempuan itu segera mundur ke samping Bwe Si-jin. Tampaknya sekarang Lu Cong-khi baru tahu akan kehadiran sepasang manusia bengis dari In-lam, tak terlukiskan rasa kagetnya. Pada saat itulah mendadak terdengar suara pekikan nyaring berkumandang dari belakang Lu Cong-khi. seorang lelaki kekar berbaju hijau dengan bersenjatakan sepasang boan-koan-pit telah menerjang ke arah Im Jit-koh. Salah seorang dari dua belas kakek berbaju hitam yang berdiri berjajar di samping segera mendengus dingin, sambil menenteng pedang dia sambut datangnya terkaman itu. “Traaang!”. Tubuh lelaki kekar berbaju hijau itu segera terpental hingga mundur beberapa langkah.
Berhasil mendesak mundur lawannya, dengan jurus Long-kian-liu-sah (ombak menggulung pasir pantai) kakek berbaju hitam itu melancarkan satu totokan ke dada lawan. Lekas lelaki itu menangkis dengan senjata andalannya. Secara beruntun kakek berbaju hitam itu mengeluarkan jurus Ki-hong-teng- ciau (burung hong terbang tinggi), Sin-liong-in-kian (naga sakti menampakkan diri) dan Sik-po-thian-keng (batu hancur langit gempar) untuk merangsek musuh habis-habisan, di tengah gulungan angin puyuh terlihat cahaya tajam menyambar ke tubuh lelaki berbaju hijau itu. “Aaaah … !”, diiringi jeritan ngeri, tubuh lelaki berbaju hijau itu terbelah jadi dua, usus dan isi perutnya segera terburai kemana-mana. Malaikat pertama dari Lu-tiong-su-sat segera menerkam ke depan, ruyungnya dengan jurus Sin-liong-pay-wi (naga sakti mengibaskan ekor) menyapu tubuh kakek berbaju hitam itu. Segera kakek itu menggetarkan pedangnya untuk menangkis. Malaikat pertama segera melepaskan satu pukulan datar dengan tangan kirinya, sementara pergelangan kanannya dikebaskan ke bawah sambil menarik kembali senjata ruyungnya, lalu dengan ekor ruyung dia babat bahu lawan. Jurus serangan ini digunakan sangat hebat dan di luar dugaan, nyaris kakek berbaju hitam itu kena dihajar. Dengan tergopoh-gopoh dia menghindar ke samping, ujung pedangnya dengan jurus Hua-liong-tiam-cing (melukis naga menutul mata) menusuk jalan darah Bing-bun-hiat di punggung musuh. Malaikat pertama terdesak hebat, cepat ia menjatuhkan diri berguling ke tanah. Malaikat kedua meraung gusar, pedang kaitan dalam genggamannya menyerang punggung kakek berbaju hitam itu, di antara kilatan cahaya dia babat bagian bawah lawan, jurus serangannya selain cepat juga sangat ganas. Kakek berbaju hitam itu tak sudi menghadapi keras lawan keras, dengan jurus It-hok-cong-thian (bangau sakti terbang ke langit) dia melambung ke angkasa, setelah lolos dari serangan lawan, menggunakan kesempatan di saat badannya melayang turun, pedangnya kembali melepaskan tusukan. Waktu itu malaikat pertama sedang melompat bangun dari tanah, dia jadi amat kaget ketika tahu-tahu sebuah tusukan telah menyambar tiba.
Tak sempat berkelit lagi, tusukan itu langsung menghujam di atas dadanya.
Diiringi jeritan ngeri, tewaslah orang itu seketika. Mendadak Lu Cong-khi membentak nyaring, tangannya diayun ke depan, sekilas cahaya emas langsung menyambar tubuh kakek berambut hitam itu. “Aaaah, ular bergaris emas!” jerit kakek itu sambil melompat ke belakang. Ternyata cahaya emas itu tak lain adalah seekor ular kecil berwarna emas, panjangnya sekitar tujuh delapan inci, begitu mencapai tanah, binatang melata itu langsung melakukan pengejaran. Segera Bwe Si-jin berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Cau-ji, cepat sentil mati ular kecil itu!” Sebenarnya Cau-ji sudah bersiap melancarkan serangan, mendengar bisikan itu dia segera menyentilkan jari tangannya. Diiringi suara teriakan aneh, ular emas itu segera hancur berantakan dan mati seketika. Lu Cong-khi bersuit nyaring, kali ini dia menerjang ke arah kakek berbaju hitam itu. “Jangan bertarung secara bergilir!” tiba-tiba terdengar bentakan bergema, menyusul kemudian segulung angin pukulan menyambar ke arah malaikat kedua. Malaikat kedua meraung gusar, pedang kaitannya menyapu datar ke muka. Dengan jurus Jiu-hui-pi-pa (tangan mengayun Pipa) kakek berbaju hitam itu mengayunkan telapak tangan kirinya menyentil pedang lawan hingga terpental. Malaikat kedua segera merendahkan pergelangan tangannya sambil berganti jurus, dengan gerakan Thiat-ki-tok-jut (penunggang baja muncul mendadak) angin pedangnya menyapu ke bawah dan langsung membacok sepasang kaki lawan. Cepat kakek berjubah hitam itu mengebaskan bajunya, tanpa membengkokkan sepasang lututnya, tanpa menggeser kakinya, tahu-tahu dia sudah merang-sek ke samping malaikat kedua, tangan kirinya bagai sebuah japitan baja, dengan gerakan Hui-jan-cing-tham (menyapu debu bicara santai) dia potong senjata musuh. Malaikat kedua segera merasa seakan pedang kaitannya dihisap oleh satu kekuatan yang amat kuat hingga mau lepas dari genggaman, ia sadar gelagat tidak menguntungkan. Baru saja pikirannya mempertimbangkan apakah harus lepas tangan atau tidak, kakek berbaju hitam itu sudah mengayunkan tangan kanannya menghajar ke atas lambungnya. Terdengar malaikat kedua menjerit ngeri, tubuhnya seketika mencelat ke belakang. “Lihat serangan!” tiba-tiba terdengar lagi suara bentakan bergema dari balik kerumunan orang banyak. Di tengah udara gelap segera terdengarlah suara dengungan yang sangat aneh. Pada saat itulah Bwe Si-jin menghardik keras, “Hati-hati dengan senjata rahasia Yan-cu-tui-hun-piau (senjata rahasia walet pengejar sukma)!” Terlihat sebatang senjata rahasia terbuat dari baja yang berbentuk seperti burung walet menyerang batok kepala kakek berbaju hitam itu.
Melihat datangnya desingan aneh, lekas kakek berbaju hitam itu mengayunkan tangan kirinya melepaskan satu gelombang pukulan dahsyat. Termakan gulungan angin puyuh itu, Yan-cu-tui-hun-piau itu segera mencelat dan bergeser ke samping kanan.
Tapi gara-gara terkena getaran itu, tombol rahasia yang ada di balik senjata rahasia itu bergetar keras, tahu-tahu jarum beracun yang tersimpan di baliknya menyembur keluar dan berhamburan di angkasa. Secepat kilat kakek berbaju hitam itu berkelebat ke muka, langsung merangsek ke hadapan orang itu, diiringi bentakan gusar telapak tangan kirinya langsung membabat orang itu. Tampaknya si penyerang tidak menyangka kalau musuhnya dapat menghindari ancaman Yan-cu-tui-hun-piaunya, melihat datangnya serangan yang begitu kuat ia tak berani menghadapi dengan kekerasan, segera ia menggunakan gerakan Kim-le-to-cuan-po (ikan lehi menembus ombak) dia kabur ke samping. Kakek berbaju hitam itu mendengus dingin, tidak menunggu orang itu sempat berdiri tegak, dengan jurus Pek-poh-sin-kun (pukulan sakti seratus langkah) dia babat tubuhnya. Jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang di angkasa, orang itu terhajar telak dan mencelat ke udara. Tiba-tiba terdengar Lu Cong-khi meraung gusar, setelah menyerahkan tongkatnya kepada keempat malaikat lainnya, dia menubruk ke depan. Dengan satu gerakan kilat, tangan kanannya mencengkeram jalan darah Cian- keng-hiat di bahu kakek berbaju hitam itu, sementara tangan kirinya menghan- tam dengan gerakan melingkar, dalam satu serangan dia telah menggunakan dua jenis tenaga yang berbeda. Cepat kakek berbaju hitam itu menggunakan jurus Ci-jiu-poh-liong (tangan kosong melawan naga), mencengkeram urat nadi pada pergelangan kanan Lu Congkhi dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya dengan jurus Kim- kong-kay-san (malaikat emas membelah bukit) membacok lengan kirinya. Dua macam tenaga dalam yang berbeda, satu keras satu lunak, berbareng mengancam kakek berbaju hitam itu. Karena kelewat takabur, hampir saja Lu Cong-khi masuk perangkap, pukulan tangan kirinya begitu dipunahkan tahu-tahu jari tangan lawan sudah menempel di atas pergelangan tangan kanannya. Kehilangan peluang yang menguntungkan, cepat Lu Cong-khi merubah taktik, kini dengan mengandalkan kesempurnaan tenaga dalamnya dia melancarkan serangan balasan. Menggunakan kesempatan di saat tangan kiri lawan belum sempat mencengkeram pergelangan tangannya, segera dia menggetarkan tangannya dan mengubah gerakan menotok jadi pukulan. Menyusul kemudian tubuhnya merangsek maju ke depan, tenaga dalamnya disalurkan ke dalam tangan dan menghantam dada musuh. Kakek berbaju hitam itu tidak menyangka kalau Lu Cong-khi mengubah serangannya secepat itu, dalam gugupnya dia melompat mundur sejauh satu setengah meter dari posisi semula. Begitu melayang turun ke tanah, mulutnya terasa manis dan darah segar telah menyembur keluar. Lu Cong-khi tertawa seram, sekali lagi dia menubruk ke muka. Cau-ji yang melihat kakek berbaju hitam itu sudah terluka segera membentak nyaring, sebuah pukulan dilontarkan ke depan. Melihat Ho Ho-wan ikut melancarkan serangan, cepat Lu Cong-khi menghindar ke samping.
Tidak menunggu dia berdiri tegak, Cau-ji dengan mengerahkan tujuh bagian tenaga dalamnya melancarkan kembali serangan dengan ilmu Tui-hong-cianghoat, bahkan makin menyerang jurus serangannya makin cepat ganas dan makin hebat. Sebelum bertarung Lu Cong-khi sudah dibuat keder oleh nama besar lawan, dengan sendirinya ia berada di posisi di bawah angin, dalam keadaan begini dia hanya bisa mengandalkan gerakan tubuh dan ilmu pukulannya untuk menghindar ke sana kemari. Tak selang beberapa saat kemudian napasnya sudah ngos-ngosan seperti kerbau, jangan lagi melancarkan serangan balasan, mau berkelit pun sudah kehabisan tenaga. “Jangan melukai majikan kami!” bentak malaikat ketiga dan malaikat keempat serentak, mereka langsung menerkam ke depan. “Kebetulan sekali,” teriak Cau-ji segera, “kedatangan kalian justru akan membuat perjalanan di alam baka nanti tak usah kesepian!” Serangannya segera diperketat dan dalam waktu singkat dia sudah mengurung kedua orang musuhnya hingga tak mampu berkutik. Tidak sampai dua puluh gebrakan kemudian, tiba-tiba terdengar Cau-ji membentak nyaring. Sementara Lu Cong-khi bertiga masih terperanjat, satu pukulan maut dari Cau-ji sudah menggulung tiba. Tiga kali jeritan ngeri yang memilukan hati berkumandang di angkasa, terlihat tiga sosok tubuh manusia mencelat ke belakang. Dari kerumunan orang banyak segera melompat keluar tiga sosok bayangan manusia untuk menyambut tubuh ketiga orang rekannya itu, mereka segera saksikan tulang dada ketiga orang itu sudah melesak sedalam beberapa inci, darah segar berhamburan dimana mana, tidak nampak tanda kehidupan lagi di tubuh mereka bertiga. Masih untung Cau-ji tak ingin membocorkan identitasnya sehingga dia hanya menggunakan tujuh bagian tenaga serangan, kalau tidak, mungkin tubuh mereka bertiga sudah hancur berkeping-keping. “Ayo, lanjutkan pertarungan!” seru Cau-ji kemudian sambil melayang balik ke samping Bwe Si-jin. Sebagian besar manusia yang bergerombol di depan halaman adalah anggota perkumpulan naga mas, begitu melihat ketuanya mati mengenaskan, mereka segera mengandalkan jumlah banyak melakukan penyerbuan. Ada tiga puluhan orang jago telah melolos senjatanya dan menyerbu ke depan. Sepasang perampok ulung Heng-ha-siang-to hanya berdiri tak berkutik di posisi semula, mata mereka berkilat, entah rencana busuk apa yang sedang dipersiapkan? Im Jit-koh membentak nyaring, dia menyerbu ke depan menyongsong datangnya serangan itu. Sebuah pertempuran sengit pun segera berkobar. Bwe Si-jin dengan senjata tongkat kepala ularnya segera mengeluarkan ilmu toya andalan Ho Ho-cia untuk merobohkan lawan-lawannya. Dimana senjata toya itu menyambar, jeritan ngeri segera bergema memecah keheningan. Cau-ji tertawa seram, ketika melihat sepasang perampok ulung itu hanya berdiri menjauh, dia segera melayang ke udara dan menerjang ke arah mereka. Melihat iblis tua itu datang mengancam, sepasang perampok itu ngacir ke kiri dan kanan.
“Yang kabur ke timur serahkan kepada budak!” mendadak terdengar Siau-si membentak nyaring.
Cau-ji pun segera memusatkan perhatian mengejar perampok yang kabur ke barat.
Sadar tak ada harapan baginya untuk kabur, mendadak perampok itu menjatuhkan diri berlutut sambil merengek, “Cianpwe, ampuni jiwaku, Cianpwe, ampuni jiwa anjingku!” Belum pernah Cau-ji menghadapi manusia pengecut semacam ini, tak urung ia tertegun juga dibuatnya. Siapa tahu pada saat itulah mendadak terdengar suara desingan lirih bergema dari punggung orang itu, rupanya secara diam-diam ia telah menyemburkan segenggam jarum beracun Hong-ong-ciam (jarum raja lebah) yang berwarna biru beracun ke tubuh Cau-ji.
Melihat dirinya dibokong secara licik, Cau-ji membentak gusar, tangan kirinya menghajar jarum-jarum itu hingga mencelat, sementara tangan kanannya melepaskan satu bacokan maut. “Blaaaam!”, tubuh orang itu seketika hancur berkeping-keping dan melesak masuk ke dalam tanah sedalam beberapa inci. Di pihak lain, perampok kedua itupun sedang kewalahan menghadapi serangan gencar yang dilakukan Siau-si. Dia semakin tercecar hebat setelah mendengar jeritan ngeri dari saudaranya, baru saja pikirannya bercabang, tahu-tahu batok kepalanya sudah melayang meninggalkan raga. Agaknya Siau-si sendiri pun tidak menyangka kalau tenaga dalamnya mengalami kemajuan pesat, ia tahu keberhasilan itu merupakan berkah dari kekasih hatinya, tanpa sadar dia berpaling sambil melemparkan sekulum senyuman manis, setelah itu dia baru melanjutkan terkamannya ke depan. Cau-ji bertindak makin ganas, setiap ada musuh yang berani mendekati dirinya, dia langsung menghadiahkan sebuah pukulan dahsyat. Tak lama kemudian belasan sosok mayat telah bergelimpangan di seputar sana. Melihat betapa dahsyat dan ganasnya lawan, kawanan jago lainnya tak ada yang berani mendekat lagi, mereka segera menyingkir jauh-jauh.
“Dasar pengecut!” umpat Cau-ji. Dia mencoba memandang sekitar arena, segera lihat ada seorang Hwesio tua bertubuh tinggi besar dan berwajah menyeramkan sedang bertarung sengit melawan Im Jit-koh. Tampak Hwesio tua itu melancarkan serangkaian bacokan dahsyat untuk mengurung tubuh Im Jit-koh. Sementara Im Jit-koh sendiri dengan jurus Ing-hong-toan-cau (menyambut angin membabat rumput) memotong lengan lawan. Hwesio tua itu segera mengayunkan tangan kirinya ke depan, segulung angin serangan langsung menekan senjata lawan, sementara tangan kanannya dengan jurus Juan-im-ti-gwe (menembus awan memetik rembulan) secepat kilat menyodok tubuh perempuan itu. Lekas Im Jit-koh memutar kencang pedangnya, secara beruntun dia melancarkan tiga jurus serangan. Menyaksikan betapa dahsyatnya angin serangan lawan, Hwesio tua itu membentak nyaring, dengan ilmu laba-laba andalannya dia mencecar lawannya habis-habisan. Tak lama kemudian Im Jit-koh sudah terdesak di bawah angin.
Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, seorang kakek berjubah hitam telah melepaskan sebuah pukulan dari samping dan membebaskan Im Jit-koh dari ancaman maut. Setelah berhasil berdiri tegak, Hwesio tua itu membentak gusar, tangan kanannya perlahan diangkat ke udara, jari tangannya bagaikan cakar burung elang tiba-tiba membesar satu kali lipat. Menyaksikan perubahan itu, kakek berbaju hitam itupun segera menghimpun segenap tenaga dalam yang dimilikinya ke tangan kanan, tampaknya dia pun sudah siap menyambut serangan itu dengan keras lawan keras. Senyuman dingin mulai menghiasi wajah si Hwesio yang hitam pekat, di bawah cahaya obor, wajahnya nampak jauh lebih menyeramkan, selangkah demi selangkah dia maju mendekat. Kakek berbaju hitam itu terkesiap, tanpa sadar dia bergerak mundur ke belakang. Cau-ji yang menyaksikan kejadian ini segera membentak nyaring, tubuhnya langsung menyelinap masuk di antara kedua orang itu. Saat itulah ia mendengar Bwe Si-jin berbisik, “Hadapi dia dengan ilmu jari!” Maka begitu tubuhnya berdiri tegak, ia segera totok telapak tangan Hwesio itu dengan sodokan jari. “Dasar manusia tak tahu diri,” pikir Hwesio tua itu segera, “memangnya kau anggap ilmu pukulan Jui-sim-ciang (pukulan penghancur hati) bisa dipecahkan oleh sodokan jari tanganmu?” Sebuah serangan maut langsung dilontarkan ke depan. Sungguh dahsyat ilmu pukulan Jui-sim-ciang ini, bukan saja disertai tenaga serangan yang dahsyat bahkan mengandung pula sari racun yang sangat mematikan. Sekalipun seseorang dapat menahan serangan maut itu dengan tenaga dalamnya, biasanya sulit untuk mencegah sari racun menyusup masuk ke dalam tubuh lawan, oleh sebab itu sudah beratus orang yang tewas di ujung tangannya. Dalam perjalanannya kali ini Lu Cong-khi memang khusus mengundangnya untuk membantu pihaknya, maka ketika menyaksikan orang yang telah membunuh ‘tauke’nya berani menangkis serangannya, dia pun menggunakan seluruh kekuatan yang dimiliki untuk membacok lawan. Sayang dia salah menduga, dia tak tahu kalau Cau-ji tak mempan racun, tahu-tahu telapak tangannya terasa sakit sekali, ketika diperiksa ternyata telapak tangan andalannya sudah muncul sebuah lubang kecil. Kenyataan ini kontan saja membuat hatinya terkesiap, ia merasa ada segulung hawa panas menyusup ke dalam tubuhnya dan langsung menyerang ke jantungnya. Bukan saja dalam waktu singkat seluruh tenaga dalamnya punah, bahkan jalan darah Pit-ji-hiat yang selama ini dipakai untuk mencegah racun menyerang ke tubuhnya ikut tergetar hingga terbuka. Tak ampun racun jahat yang terhimpun dalam tubuhnya segera mengalir balik dan langsung menyerang ke jantung sendiri, senjata makan tuan. Menyadari gelagat yang tidak menguntungkan, Hwesio itu segera berpekik nyaring, tangan kirinya langsung dihantamkan ke atas ubun-ubun sendiri. Di tengah percikan darah segar, robohlah pendeta itu dalam keadaan tak bernyawa.
Kebetulan waktu itu Bwe Si-jin sedang memukul mundur seseorang, melihat kejadian itu dia segera berteriak keras, “Jangan mendekati jenazahnya, sangat beracun!” Dengan satu pukulan dahsyat dia lempar jenazah Hwesio itu ke dalam liang. Kini tersisa tiga puluhan jago dari Kim-liong-pang, melihat jagoan yang paling diandalkan perkumpulan mereka pun tewas secara mengenaskan, mereka tak berani berkutik lagi, kontan semua orang membubarkan diri dan melarikan diri terbirit-birit. Im Jit-koh segera berseru kepada anak buahnya, “Lepaskan mereka semua, biar mereka sampaikan berita ini kepada semua orang hingga tak ada lagi yang mengantar kematian di sini.” Melihat kedua orang dayangnya selamat, Cau-ji pun melemparkan sekulum senyuman kepada mereka, kemudian bersama Bwe Si-jin kembali ke ruang utama. Baru saja Siau-si dan Siau-bun akan membantu rekan-rekannya membersihkan arena, Im Jit-koh telah menghampiri mereka sambil berbisik, “Lebih baik kalian temani Tongcu!” Mendengar itu, dengan wajah bersemu merah kedua orang gadis itu kembali ke ruang tengah. Melihat mimik muka kedua orang gadis itu, Bwe Si-jin sengaja menggeliat sambil bergumam, “Wah, setelah bertarung setengah harian, sudah waktunya bagiku untuk kembali beristirahat.” Sambil berkata ia segera balik kembali ke kamarnya. Kini dalam kamar, tinggal Cau-ji bersama kedua orang gadisnya. Sesaat kemudian pintu kamar kembali dibuka orang, tampak Siau-si dengan membawa dua stel pakaian berjalan di depan dan Siau-bun dengan membawa kotak makan mengintil di belakangnya. Cau-ji jadi keheranan melihat sikap kedua orang itu, tegurnya, “Siau-si, Siau- bun, apa yang kalian lakukan?” Sambil meletakkan pakaian di atas bangku, sahut Siau-si sambil menghela napas, “Tongcu, barusan budak keringatan, maka ingin minta sedikit air panas untuk membersihkan badan.” Sedang Siau-bun telah mengeluarkan sejumlah hidangan dan dua macam kuah dari kotak makannya, dengan lembut serunya, “Tongcu, hidangan ini kami siapkan untukmu.” “Wah, cepat amat cara kerja kalian, hanya sebentar saja sudah kalian siapkan dua macam hidangan.” Siau-bun tertawa. “Mana mungkin kami bekerja secepat itu, tadi aku telah berpesan kepada koki untuk membuatkan.” Cau-ji menyumpit sepotong hati babi, setelah dicicipinya dia berseru, “Ehm, sedap rasanya, hanya sayang tak ada arak!” Siau-si tersenyum, dari bawah ranjang dia mengeluarkan seguci arak, serunya, “Tongcu, budak dengar kau paling suka dengan arak Tan-nian-pak- kan, maka sengaja kubeli beberapa guci untukmu.” “Hahaha, kalian memang perhatian, sudah beli berapa guci?” “Enam guci.” “Bagus sekali, kalau begitu hadiahkan dua guci untuk Toako.” “Tongcu tak usah kuatir, budak telah menyiapkan pula enam guci di kolong ranjangnya.” Pada saat itulah tiba-tiba pintu diketuk orang.
Ketika Siau-bun membuka pintu, ternyata yang muncul adalah Bwe Si-jin, segera serunya, “Tongcu, silakan masuk!” “Hahaha, jangan terburu-buru mengusir Lohu, tak akan Lohu jadi perusak suasana, haha … terima kasih untuk arak kalian.” Selesai berkata dia benar-benar pergi dari situ. Setelah mengunci pintu kamar kembali, Siau-bun pun bertanya keheranan, “Aneh, darimana Tongcu bisa tahu kalau di kolong ranjang tersedia arak?” Cau-ji tahu pamannya memang selalu teliti, sebelum tidur dia sudah terbiasa melakukan pemeriksa di seluruh tempat itu sehingga tak heran kalau dia bias menemukan arak itu. Maka sambil tertawa katanya, “Jangan heran dengan orang itu, sejak lahir dia memang setan arak, biar di ratusan li ada orang minum arak, dia pasti dapat mengendusnya.” “Aaah, Tongcu pandai bergurau!” seru Siau-bun manja. “Tongcu, mari budak berdua melayanimu membersihkan badan,” bisik Siau-si pula. “Soal ini….” Alasan keraguan Cau-ji adalah pertama, karena dia tahu kedua orang gadis ini adalah putri kesayangan keluarga Suto yang tersohor sehingga dia segan menyuruh mereka melakukan perbuatan semacam itu. Kedua, dia kuatir rahasia penyamarannya ketahuan. Padahal memang alasan kedua itulah yang menjadi sasaran kedua orang gadis itu. “Jangan-jangan Tongcu menganggap budak ini bodoh sehingga enggan kami layani?” rayu Siau-si sedih. Dalam paniknya muncul satu akal dalam benak Cau-ji, segera katanya, “Bukan begitu, bukan begitu, aku kuatir tak bisa mengekang napsu setelah kalian mandikan, padahal bagian ‘anu’ kalian berdua masih terluka setelah aku rusak selaput perawannya semalam, kalau sampai aku masuki lagi, kan berabe!” Berkilat sepasang mata Siau-si berdua setelah mendengar perkataan itu, mereka merasakan satu kemesraan yang aneh muncul dalam hatinya. Dengan suara rendah Siau-si pun berbisik, “Tongcu, kami toh bukan gadis lemah, kalau memang ingin, ayolah, budak pasti akan melayani kemauan Tongcu!” Diam-diam Cau-ji mengeluh, tapi di luar, katanya sambil tertawa, “Baiklah, kalau memang kalian mencari penyakit sendiri, jangan salahkan Lohu.” Dengan tangan gemetar Siau-bun mulai membantu Cau-ji melepas pakaiannya. Waktu itu Siau-si sudah masuk ke kamar mandi duluan, ia masuk mempersiapkan semua keperluan mandi. Begitu masuk ke kamar mandi, Cau-ji saksikan di atas sebuah rak kayu sepanjang dua meter dengan lebar satu setengah meter telah dilengkapi sebuah bak mandi. Tak tahan ia berseru memuji, “Wouw, semua perlengkapan mandi ini sangat indah dan lengkap.” “Silakan Tongcu!” bisik Siau-si lagi lembut. “Wah, kelihatannya Lohu seperti seekor babi yang mau disembelih orang ….” Siau-bun tertawa cekikikan, sambil menyelinap ke samping bak mandi, serunya, “Tongcu, jangan bicara dengan kata sejelek itu, mari biar budak pijit badanmu, agar semua otot yang kaku jadi kendor kembali.” Melihat gadis itu hanya mengenakan pakaian dalam, Cau-ji kembali menggelengkan kepalanya. “Siau-bun, melihat tubuhmu yang molek saja Lohu sudah merasa tegang, mana mungkin bisa rileks?” “Aaah, lagi-lagi Tongcu menggoda aku.” Ketika Siau-bun tak kuasa menahan rasa gelinya dan tertawa cekikikan, kelihatan sepasang buah dadanya ikut bergetar keras. Kontan Cau-ji merasa mulutnya yang kering dan tombaknya secara otomatis berdiri tegak.
“Siau-bun, tolong jangan tertawa lagi ….” pintanya sambil tertawa. Kembali Siau-bun tertawa cekikikan, dia mengambil handuk basah dan mulai menggosok sekujur badan anak muda itu. Siau-si segera melepas pakaiannya dan ikut menggosok badannya dari sisi lain. Cau-ji segera merasakan kenikmatan yang luar biasa, ia pun memejamkan mata dan membiarkan mereka menggosok dan mengurut tubuhnya. Setelah badannya digosok berulang kali, akhirnya ia merasa ada sebuah badan yang hangat menduduki di atas pangkuannya, disusul kemudian ada sepasang tangan mulai mengurut tulang punggungnya. Pijatan yang begitu lembut dan nikmat membuat Cau-ji tanpa terasa segera tertidur pulas.
Rupanya secara diam-diam Siau-si telah menotok jalan darah tidurnya. Ketika melihat Cau-ji sudah tertidur, dia pun mengambil sebuah handuk basah, dicelupkan sebentar ke dalam air hangat kemudian perlahan-lahan mulai menggosok raut mukanya. Selang beberapa saat kemudian jenggot putih di wajah Cau-ji sudah berhasil dilepas, kemudian obat pemoles wajah pun hilang satu per satu sebelum akhirnya muncullah raut muka aslinya. “Ya ampun!” pekik dua orang gadis itu serentak. Menyaksikan raut muka yang begitu muda, tampan dan menawan hati, jantung kedua orang gadis itu berdebar keras, tak tahan tubuh mereka gemetar keras. Dengan air mata berlinang Siau-bun segera memeluk kencang tubuh Siau-si, serunya kegirangan, “Cici, tak disangka ternyata dia….” “Benar, adikku.” sahut Siau-si sambil mengangguk, “sungguh beruntung nasib kita …!” “Cici, bagaimana kalau dia marah setelah mengetahui kita hilangkan penyaru mukanya?” “Tak usah kuatir adikku, dia bukan orang yang tak pakai aturan, cepat bantu mandikan dirinya.” Setengah jam kemudian Cau-ji baru mendusin dari tidurnya, ia jumpai dirinya sudah berbaring di atas ranjang, cepat dia melompat bangun. Pemuda itu jadi keheranan ketika melihat Siau-si dan Siau-bun berlutut di hadapannya. “He, apa-apaan kalian berdua?” tegurnya setelah tertegun sesaat.
“Kongcu,” ujar Siau-si sambil mendongakkan kepalanya, “ketika membersihkan wajahmu tadi, karena kurang hati-hati budak telah mencuci bersih obat penyaru mukamu, maka …” Mendengar perkataan itu Cau-ji segera meraba wajah sendiri, benar saja, jenggot putihnya telah lenyap, maka setelah tertegun sejenak katanya sambil tertawa, “Kalian berdua memang setan pintar, ayo cepat bangun!” “Kongcu tidak marah kepada kami?” seru Siau-bun terkejut bercampur girang.
“Hmm, kalian bernyali besar, siapa bilang aku tidak marah,” sahut Cau-ji pura-pura marah. Siau-bun kembali tertegun. Siau-si tahu kalau pemuda itu hanya pura-pura marah, serunya cepat, “Budak bersedia menerima hukuman.” “Bagus, bagaimana dengan kau, Siau-bun?” “Budak pun siap menerima hukuman.” “Bagus, bagus sekali, aku harus mengakui kehebatan kalian, baiklah, sebagai hukumannya kalian harus segera menanggalkan semua pakaian yang kalian kenakan, bagaimana?” Bergetar perasaan hati Siau-si berdua, tentu saja mereka malu untuk menyanggupi. “Hmm, memangnya aku harus turun tangan sendiri?” kembali Cau-ji berseru. Kedua orang gadis itu tak berani membangkang, cepat mereka bangkit berdiri dan menanggalkan seluruh pakaian yang dikenakan.
“Hmm, siapa berani terlambat akan kuberi hukuman tambahan.” Kedua orang gadis itu tertawa cekikikan, hampir pada saat yang bersamaan mereka berdua telah melepaskan celana dalamnya. “Tongcu,” seru Siau-bun kemudian sambil tertawa cekikikan, “kami sama- sama cepatnya.” Cau-ji melirik sekejap, ia jumpai Siau-si telah meletakkan celana dalamnya ke lantai sementara Siau-bun masih memegangnya, sambil tertawa ia segera berseru, “Tidak bisa, Siau-bun kau mesti dihukum.” “Tidak adil….” protes Siau-bun cepat. “Siapa bilang tidak adil, coba lihat … itu!” Cau-ji menuding celana dalam yang masih dalam genggamannya. Dengan keheranan Siau-si ikut berpaling, tapi dia segera tertawa cekikikan. “Baiklah, aku siap menunggu hukuman,” kata Siau-bun kemudian. “Bagus, sekarang tuang secawan arak, lalu kau mesti melolohkan ke mulutku dengan bibirmu!” “Tapi …
arak itu keras, bagaimana kalau aku sampai mabuk? Tongcu, bagaimana kalau ditukar yang lain?” “Tidak bisa, kalau kau membangkang, hukuman akan berganda.” “Baik, baik.” Sambil berkata ia benar-benar memenuhi cawannya dengan arak. Dengan cepat Siau-bun meneguk arak itu, kemudian menempelkan bibirnya di atas bibir Cau-ji dan melolohnya sedikit demi sedikit. “Aaah, nanti dulu,” kembali Cau-ji protes, “aku tak mau kalau kau berwajah murung, kalau memang ikhlas mestinya tampil dengan wajah gembira.” Siau-bun merasakan mulutnya panas dan pedas, serasa ada hawa panas menyelimuti tubuhnya, saking gelisahnya, sisa arak segera mengalir masuk ke dalam tenggorokannya. “Aaaah, panas … pedas ….” teriaknya megap-megap, “apa enaknya arak keras seperti ini?” Cau-ji kembali berseru, “Siau-si, kau mulai hitung, kalau dalam setengah jam Siau-bun belum menyelesaikan tugasnya, dia harus diganjar hukuman lain.” “Mana ada peraturan seperti itu?” “Peraturan rumah tangga ini berlaku mulai sekarang.” Melihat wajah gadis itu semakin bekernyit, Cau-ji semakin kegirangan, kembali godanya, “Siau-bun, kalau kulihat tampangmu itu, kelihatannya kau ingin minum dua poci lebih banyak.” “Aaah, tidak, arak itu pedas, mana tahan….” “Baik, kalau memang begitu biar aku minum sendiri.” Sambil berkata Cau-ji segera menggerakkan tangan kanannya, guci arak yang berada beberapa meter di hadapannya langsung melayang ke arahnya. Selama hidup belum pernah Siau-si berdua menyaksikan kehebatan ilmu silat seperti ini, mereka berdiri melongo.
Sambil tertawa Cau-ji menghisap arak itu, kemudian selesai meneguknya ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke depan Siau-bun. Dengan ketakutan Siau-bun mundur beberapa langkah, teriaknya, “Kongcu, biar budak mencobanya..” Cepat dia meneguk secawan “Nah, ada kemajuan sekarang,” seru Cau-ji kemudian sambil tertawa, “baiklah, kuanggap kau lulus ujian, sekarang kau loloh arak itu ke mulutku.” Dengan tersipu-sipu Siau-bun menempelkan bibirnya di atas bibir Cau-ji dan meloloh arak itu ke mulutnya. Begitulah, entah sudah berapa tegukan arak yang berpindah dari bibir Siau- bun ke mulut Cau-ji. Kini paras muka Siau-bun telah berubah jadi merah padam, dia kelihatan agak mabuk.
Siau-si kuatir adiknya mabuk, diam-diam ia membantunya meneguk satu cawan arak. Kelihatannya Cau-ji sudah menduga akan hal itu, diam-diam ia sentilkan jarinya ke jalan darah Tiau-huan-hiat di kaki kanan gadis itu, kontan si nona menjerit kesakitan dan menyemburkan keluar arak dalam mulutnya. “Cici, kenapa kau?” Siau-bun segera bertanya. Lekas Siau-si membalikkan badan dan terbatuk-batuk. Akhirnya Cau-ji mengambil sisa arak yang ada di teko dan meneguknya hingga habis, kemudian katanya, “Orang bilang ada tiga Hwesio tak punya air untuk diminum, kalau kita bertiga malah minum arak sampai mabuk.” Habis berkata ia tertawa tergelak.
Bab IV. Dua bersaudara menikmati surga dunia.
“Huuh, mana ada tiga orang Hwesio di sini?” seru Siau-bun cepat. Cau-ji mengelus kepalanya, lalu mengawasi ujung tombaknya yang berdiri, setelah itu katanya lagi, “Aaah, betul, aku salah bicara, seharusnya satu Hwesio ditambah dua nikoh.” Berhadapan dengan dua gadis bugil yang bertubuh indah, lama kelamaan Cau-ji tak sanggup mengendalikan napsunya lagi, tombak besarnya mulai berdiri kaku dan mencari sasaran. Keadaan yang dialami kedua orang gadis itupun tidak jauh berbeda, napsu birahi mereka sudah mulai memuncak. Sejak mereka tahu orang yang disangkanya adalah seorang iblis tua ternyata adalah seorang pemuda yang berwajah tampan, mereka mulai terangsang perasaannya.
Apalagi sekarang dipengaruhi arak yang membuat seluruh tubuhnya hangat, napsu birahinya makin berkobar.
Ketika Cau-ji dengan tombak besarnya mulai mengejar mereka, dua orang itu segera pura-pura berlari sambil menghindar, padahal pantatnya sengaja ditunggingkan ke belakang, memberi kesempatan kepada tombak lawan untuk menusuk masuk. Cau-ji tahu taktik mereka, maka berulang kali dia tubruk mereka dari belakang, menusukkan tombaknya ke lubang surga mereka, tapi setelah beberapa kali genjotan dia melepaskan kembali korbannya dan berpindah ke lubang surga milik gadis yang lain. Akhirnya Siau-bun menyerah kalah. Dia tak sanggup lagi menahan rangsangan birahi yang memuncak, mendadak sambil membalikkan badan ia berjongkok, memeluk pinggul pemuda itu erat- erat dan mulai menghisap tombak milik Cau-ji dengan penuh napsu. Cau-ji menjerit keras, baru saja dia ingin makan tahu, bibirnya lagi-lagi disumbat oleh Siau-si. Dia merasakan sekujur badannya amat panas, tangan kanannya mulai meremas sepasang payudara Siau-si sementara tangan kirinya membelai rambut Siau-bun dan meraba belakang telinganya. Ciuman mesra Siau-si membuat gadis itu terengah-engah, sampai napasnya jadi sesak ia baru melepaskan rangkulannya, kemudian sambil mengerling genit dia menuju ke depan bangku ‘seluruh keluarga bahagia’. “Siau-bun, ayo, kita pindah ke bangku!” bisik Cau-ji kemudian. Dengan berat hati Siau-bun melepaskan hisapan-nya atas tombak panjang yang kasar, keras, berkilat lagi, kemudian setelah menciumi batang tombak itu dia berjalan menuju ke depan kursi. Cau-ji segera melompat naik dan duduk di bangku bagian tengah, sementara sepasang kakinya dipentang ke kiri dan kanan, dia awasi kedua orang gadis itu tanpa bicara, akan dilihat apa yang hendak diperbuat mereka berdua. Dipandang secara begitu, lama kelamaan mereka berdua jadi malu sendiri, tanpa terasa mereka berusaha menutupi lubang surga sendiri. Tapi bisakah mereka menyembunyikan bagian yang paling rahasia itu? Dengan mengamati secara seksama, Cau-ji segera menemukan kalau bulu yang dimiliki Siau-bun ternyata lebih tebal dan lebat ketimbang bulu Siau-si yang lebih tipis, selain itu bagian ‘surga’nya tidak semontok milik Siau-si. Hanya saja ‘lubang gua’ milik Siau-si tampak berada sedikit lebih tinggi, menurut pelajaran seks yang diterima dari paman Bwe, diketahui kalau lubang jenis ini biasanya lebih gampang dimasuki, tanpa ganjalan bantal pun bisa langsung dimasuki. Cuma ada orang bilang, “Konon orang yang berbulu bawah tebal biasanya lebih getol berbuat ‘begitu’, tak aneh jika penampilan Siau-bun lebih hot, lebih berani dan lebih terbuka”. Suasana dalam ruangan pada malam ini jauh berbeda dengan suasana, semalam, meskipun kedua orang gadis itu telah disetubuhi Cau-ji, namun perasaan mereka berdua sangat berbeda. Semalam mereka disetubuhi dengan perasaan sedih bercampur gusar. Sementara pada malam ini mereka justru merasa malu, mereka tak berani sembarangan bergerak. Lama kemudian Cau-ji baru bergumam sambil menghela napas, “Aaaai, kalau mesti membandingkan mana yang lebih indah antara salju dan bunga Bwe, sulitnya setengah mati.” Kedua orang gadis itu tertunduk malu. Sikap tersipu kedua orang gadis ini membuat Cau-ji makin terangsang, tiba-tiba serunya, “Siau-si, Siau-bun, sewaktu minum arak tadi kalian telah melanggar peraturan, mengaku tidak?” Siau-si berdua tidak bodoh, tentu saja mereka tahu kalau ucapan itu merupakan salah satu tehnik untuk membangkitkan napsu, serentak mereka mengangguk sambil tersenyum, “Mengaku, budak bersedia menerima hukuman!” “Hahaha, bagus, bagus sekali, aku dengar Siau-si yang mengusulkan untuk menghilangkan penyaruan di wajahku, benarkah begitu?” “Ehmm.” “Bagus, kalau begitu kuhukum dirimu sebagai pentolan dari kejahatan ini, ayo, kau yang naik duluan!” Siau-si segera melompat naik ke atas pangkuan Cau-ji, sepasang kakinya dikaitkan di belakang sandaran bangku dan serunya, “Kongcu, aku protes, masa aku dianggap pentolan penyamun?” “Baik. baik, biar kusebut kau sebagai mak comblang yang cakep, setuju?” Siau-si merasa makin terangsang, tiba-tiba badannya ditekan ke bawah kuat- kuat, lubang surganya langsung menelan tombak itu hingga tinggal separuh. Tak terlukiskan rasa girang Cau-ji, dia tak menyangka gadis itu sudah mulai pintar memasukkan tombaknya ke liang miliknya, katanya kemudian, “Boleh tahu berapa usia kalian berdua?” “Cici amat merahasiakan soal ini!” teriak Siau-bun cepat. Siau-si tertawa cekikikan, dia menekan badannya lebih ke bawah sehingga tombak itu nyaris membuat lubangnya terasa sesak. Tapi ketika dia melirik ke bawah dan menjumpai tombak itu masih ada beberapa senti tertinggal di luar, hatinya tercekat, dia tak menyangka Cau-ji memiliki senjata yang begitu panjang dan besar. “Siau-si,” bisik Cau-ji dengan lembut, “ayo sebutkan berapa umurmu, kalau tidak … hehehe … jika barangku sampai ngeloyor masuk sendiri hingga ke dasarnya, kau bisa tak tahan ….” Siau-bun yang mendengar ancaman itu kontan berteriak, “Cici, jangan takut dengan ancamannya.” “Kau dengar Kongcu?” Siau-si tertawa. “Bagus, kelihatannya Siau-bun anggap lebih mampu, ayo, kalau punya nyali, naik kemari.” “Naik ya naik.
siapa takut?” Sambil tertawa Siau-si pindah ke bangku samping, memberi kesempatan kepada Siau-bun untuk menaiki pemuda itu. Dengan cepat Siau-bun merentangkan pahanya dan menekan badannya ke bawah, tombak besar itu langsung menghujam masuk ke dalam lubangnya. “Aaauh!” Rupanya sejak tadi gadis ini sudah dibakar napsu birahi yang berkobar, dia merasa lubangnya gatal sekali dan ingin digesek dengan tombak pemuda itu, tak heran begitu mendapat kesempatan, ia langsung menelan tombak lawan hingga ke dasarnya. Dengan cepat dan lancar ia telah menyelesaikan tugasnya, memasukkan tombak ke dalam lubang. Tapi sekarang dasar lubangnya mulai ditekan ujung tombak lawan, tekanan yang membuatnya sakit dan kaku. Bukan hanya kaku, malah gatalnya setengah mati. “Ayo, katanya siapa takut? Kenapa hanya berdiam saja?” ejek Cau-ji sambil tertawa.
Disindir begitu, Siau-bun segera menggoyangkan pantatnya dan menggeseknya kuat-kuat. Baru beberapa kali putaran dia mulai mendengus tertahan. Cau-ji memeluk pinggulnya dengan kuat, ia bantu nona itu dan mendorong badannya naik turun. “Plook… ploook “Oooh… uuuh..” Aneh, setelah melewati lima puluhan kali genjotan, gadis itu sudah tidak berkerut kening lagi, malahan dengan wajah berseri dia mulai menggenjot sendiri badannya, sebentar naik turun, sebentar menggeseknya ke kiri kanan. Melihat Siau-bun mulai menikmati permainan itu, Cau-ji segera meremas payudaranya, lalu membelai badannya sambil berbisik, “Siau-bun, berapa umurmu?” “Aku….” “Ooh, kau sudah capai? Sana, beristirahatlah” “Aaah, jangan, tidak, tahun ini aku berusia enam belas tahun.” Cau-ji tak kuasa menahan gelinya, ia tertawa terbahak-bahak. Biarpun Siau-bun sadar dirinya sedang dikerjai, namun gesekan liangnya dengan tombak itu makin mendatangkan kenikmatan yang luar biasa, tentu saja dia tak mau banyak membantah, dia kuatir liangnya diusir keluar dari perbatasan. Mau tak mau Siau-si harus mengakui kecerdasan serta kecepatan reaksi pemuda itu, sepasang matanya kontan berkilat, sambil mengawasinya dengan wajah termangu dia mulai mengkhayalkan impian indah. Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba ia tersadar dari lamunannya setelah mendengar rintihan nikmat dari adiknya.
Tampak tubuh Siau-bun gemetar keras, sambil menggeliat bagaikan seekor ular, ia merintih tiada hentinya, “Ooh, Kongcu … aduh … Kongcu … aduh … aduh enaknya… aku … aku tak tahan … aduh …” Menggunakan kesempatan ini Cau-ji segera melancarkan serangan secara bertubi-tubi, sepasang tangannya memeluk pinggul gadis itu kuat-kuat, kemu- dian mendorong tubuhnya secara bertubi-tubi.
Akhirnya Siau-bun menjerit keras, “Aduuh nikmatnya!” Tubuhnya lemas dan lunglai. “Siau-si, antar dia beristirahat di ranjang,” ucap Cau-ji sambil tertawa.
Siau-si segera membopong tubuh Siau-bun, terlihat ada gumpalan cairan berwarna putih keabu-abuan bercampur dengan warna merah darah meleleh keluar dari bagian bawah tubuhnya. Cairan itu meleleh dari depan bangku hingga depan pembaringan, lekas Siau- si mengambil celana dalam milik Siau-bun dan menyumbatnya ke atas lubang surganya. Dia menyelimuti tubuh Siau-bun, kemudian dari almari mengeluarkan sehelai handuk dan diletakkan di atas bangku dengan wajah tersipu. Ketika semua persiapan telah selesai, kembali ia telan tombak panjang itu dengan liangnya. “Kongcu,” keluhnya dengan lirih, “kau benar-benar bintang penakluk bagi budak berdua.” Dengan lemah lembut Cau-ji membelai sepasang buah dadanya, lalu sahutnya sambil tertawa, “Kau jangan bicara begitu, tak ada bintang penakluk di sini, yang ada cuma bintang penolong, bukan begitu enci Suto?” Begitu mendengar nama ‘Suto’ disinggung, Siau-si kontan terkejut setengah mati, dengan mata melotot karena kaget, tangan kanannya segera diangkat ke udara.
Kembali Cau-ji tertawa, katanya, “Enci Si, memangnya Siaute berniat memusuhimu?” Siau-bun yang sedang beristirahat di atas ranjang sambil memejamkan mata pun ikut merasa tegang setelah mendengar sebutan Suto tadi.
tanpa sadar dia ikut melompat turun dari ranjang dan bertari ke depan bangku.
“Kongcu,” tanyanya dengan suara gemetar, “darimana kau tahu asal-usul kami?” “Enci Bun, Siaute dari marga Ong bernama Bu-cau, tahun ini berusia tiga belas tahun. Ayahku Ong It-huan, orang memanggilnya Ong Sam-kongcu dari kota Kim-leng, sedang ibuku Si Ciu-ing bergelar Li-cukat, mereka berdiam di perkampungan Hay-thian-it-si!” “Ooh, thian!” jerit Siau-si kaget, dia segera melompat ke depan bangku. Tampak kedua orang gadis itu berlutut di lantai dan berkata dengan suara gemetar, “Kongcu, kau harus membantu budak berdua membalaskan dendam sakit hati atas terbunuhnya beratus anggota keluarga Suto, biar budak jadi kerbau atau kuda pun kami rela.” Ternyata Suto Si dan Suto Bun pernah berencana pergi mencari Ong Sam- kongcu dan minta kepadanya untuk membalaskan dendam, tapi setelah mengetahui ia telah hidup mengasingkan diri di Hay-thian-it-si, terpaksa niat itu diurungkan. Tentu saja mereka jadi amat terkejut bercampur girang setelah mengetahui bahwa kekasih hatinya ternyata putra Ong Sam-kongcu, tak heran jika mereka langsung mengemukakan keinginannya. Cau-ji segera melompat turun dari ranjang, membangunkan kedua orang gadis itu dan ujarnya sambil tertawa, “Enci Si, Enci Bun, kalian tak usah kuatir, mulai sekarang kalian adalah nyonya muda keluarga Ong, tentu saja Siaute akan membantu kalian.” Mendengar pemuda itu bukan saja berjanji akan membalaskan dendam, bahkan berniat memboyong mereka pulang ke rumah, kontan saja kedua orang gadis itu menjerit gembira. “Kongcu!” Mereka langsung menubruk ke dalam pelukannya sambil melelehkan air mata. “Hei, setan cengeng, sana, minum segelas air dingin dan jangan menangis lagi,” seru Cau-ji sambil tertawa, “enci Si, ayo, kita lanjutkan pertempuran ….” Baru saja Cau-ji duduk di atas bangku, tombak panjangnya langsung sudah tertelan hingga lenyap, hanya kali ini Suto Si menggerakkan badannya dengan wajah berseri dan senyuman di kulum. Dengan penuh kasih sayang Cau-ji membelai sepasang payudara Siau-bun, sambil mempermainkan buah dadanya, secara ringkas dia pun menceritakan keadaan keluarganya. Terakhir sambil tertawa tambahnya, “Bagaimana? Kalian kuatir tidak dengan kawanan pengacau cilik itu?” “Kuatir? Apa yang mesti dikuatirkan, kami pun termasuk pengacau,” seru Siau-bun sambil tertawa. “Aaah, benar, kalau komplotan yang sama berbaur, memang tak mungkin saling gontok…
cuma….” Setelah berpikir sejenak, akhirnya dia mengambil keputusan untuk menceritakan soal perkawinannya dengan Jin-ji kepada mereka berdua, bahkan dia pun menerangkan jika mereka telah melakukan hubungan intim. Siau-si segera berkata, “Adik Cau, enci berdua tak akan mempersoalkan tentang urutan dan nama, asal kami diberi sedikit waktu, percayalah hubungan kami pasti akan sangat akrab.” Cau-ji menghembuskan napas lega. “Aaaah, lagi-lagi satu halangan berhasil dilampaui ….” gumamnya. “Adik Cau,” ujar Siau-bun kemudian dengan keheranan, “rasanya cici sudah bersikap sangat hati-hati dalam merahasiakan identitas kami, darimana kau mengetahui asal-usul kami berdua?” Cau-ji mencium Suto Si, lalu jawabnya sambil tertawa, “Semalam ketika Siaute membantu enci Si melancarkan peredaran jalan darah, kujumpai ilmu yang dipelajari cici adalah Bu-siang-sin-kang, dari situlah aku baru menduga kalian berasal dari keluarga Suto!” “Adik Cau!” puji Siau-si.kagum, “tak kusangka, selain hebat dalam ilmu silat, luas pula dalam pengetahuan, cici benar-benar merasa takluk kepadamu.” “Hahaha, cici tak perlu kelewat memuji aku, oleh karena Siau-lim-pay pernah menghadiahkan simhoat dari Bu-siang-sin-kang kepada ayahku, maka siaute pun jadi tahu satu dua. Tentang keluarga Suto yang bisa ilmu Bu-siang-sin- kang, sebetulnya rahasia ini kuketahui dari paman Bwe!” “Oooh, rupanya begitu, adik Cau, siapa sih nama besar paman Bwe….” Cau-ji tahu Bwe Si-jin pernah terlibat dalam pembantaian keluarga Suto di masa lalu, gara-gara perbuatannya itu sehingga namanya jadi tersohor, itu pula sebabnya dia tak ingin membuka rahasia orang begitu saja. Dengan wajah serius ujarnya, “Enci Si, enci Bun, sebelum kujawab pertanyaan itu, terlebih dulu aku ingin bertanya, bukankah di antara kelompok orang baik selalu terdapat orang jahat dan di antara kelompok orang jahat selalu terdapat orang baik?” Melihat keseriusan Cau-ji ketika mengajukan pertanyaan itu, dua bersaudara Suto pun segera mengangguk dengan wajah bersungguh-sungguh. Setelah menarik napas panjang, Cau-ji melanjutkan, “Paman Bwe tak lain adalah Bwe Si-jin, orang yang dulu ikut dalam pembantaian di perkampungan kalian dan sekarang sedang menyaru sebagai Ho Ho-cia.” Bicara sampai di situ dia pun menghela napas panjang. Dengan perasaan di luar dugaan kedua orang gadis itu berseru tertahan. Maka secara ringkas Cau-ji pun menceritakan bagaimana Bwe Si-jin disekap Su Kiau-kiau karena enggan berkomplot dengan mereka, lalu bagaimana secara tak sengaja bertemu dengannya …. Ketika selesai mendengar penuturan itu, kedua orang gadis itu mengucurkan air mata sedih bercampur girang, mereka pun sempat bersorak kaget bercampur gembira ketika tahu orang yang menghancurkan mayat putri mereka ternyata adalah anak muda itu. Terdengar Siau-bun berkata lirih, “Cici, kelihatannya kita memang tak bisa menyalahkan Bwe-thayhiap.” “Benar,” sahut Siau-si serius, “ternyata dia pun merupakan salah satu korban.” Habis berkata dia pun berseru, “Oooh, adik Cau!” Dia segera menggerakkan tubuhnya lagi, menggenjot dengan penuh semangat. Ketika urusan jadi terang, ketika duduknya persoalan jadi jelas, perasaan ragu di hati mereka pun segera tersapu bersih, saat ini kedua orang gadis itu hanya merasakan kegembiraan serta kelegaan hati, tak heran gadis itupun mempersembahkan tubuhnya dengan penuh keikhlasan. Siau-bun sendiri pun merasa lega, maka dia segera menciumi pemuda itu dengan penuh kehangatan dan kemesraan. Cium punya cium, pada akhirnya ujung lidah pun ikut menerobos keluar dan menyusup ke dalam bibir sang kekasih. Di situ lidahnya mulai mengembara, mencilat, menghisap, menggulung…. Cau-ji merasakan satu keanehan dengan permainan ini, dia seakan baru merasakan satu permainan baru, maka perang lidah pun berlangsung ketat. Sebentar mereka berciuman hangat, sebentar melepaskan diri untuk tarik napas, kemudian perang lidah kembali dilanjutkan. Tak lama kemudian pertarungan satu melawan dua mencapai puncaknya, mendadak tampak Siau-si bergidik sambil menjerit keras. Tampaknya si nona yang mencangkul tanah tanpa bersuara itu sudah mulai ‘panen raya’.
Dengan lembut Cau-ji mendorong tubuh Siau-bun, kemudian menciumi Siau- si, ilmu yang baru saja dipelajari langsung dipraktekkan dengan Siau-si, lidahnya mulai menyusup masuk ke dalam bibir gadis itu. Dengusan napas Siau-si bertambah cepat, tubuhnya semakin gemetar, perang lidah membuat genjotan badannya semakin cepat…. Akhirnya dia tak kuasa menahan diri lagi, gadis itu mencapai orgasme. Tubuhnya kontan lemas bagaikan kapas, seluruh badannya ambruk di atas badan Cau-ji. Waktu itu sebentarnya Cau-ji sedang mendekati puncak kenikmatan, dia jadi gelisah ketika melihat Siau-si sudah keok duluan, segera serunya, “Enci Bun, bagaimana kalau kau gantinya enci Si? Tanggung nih!” “Kalau dipaksakan sih masih bisa,” jawab Siau-bun tersipu-sipu, “Cuma, bagaimana jika berganti tempat?” “Baiklah, kalau bisa tempat yang tak perlu membutuhkan banyak waktu,” seru Cau-ji kegirangan. Siau-bun melompat turun dari bangku, membopong cicinya ke atas ranjang, membersihkan tubuh bagian bawahnya, kemudian baru membaringkannya di atas pembaringan. “Adik Cau, cici minta maaf karena tak bisa memuaskanmu,” bisik Siau-si dengan rasa menyesal.
“Lain kali kau mesti lebih bersemangat,” seru Cau-ji sambil menarik tubuh Siau-bun. Siau-bun yang dipeluk tertawa cekikikan, sambil menggeliat bisiknya, “Adik Cau, jangan begitu, cici takut geli.” “Lalu aku mesti meraba bagian yang mana? Kalau tanganku tak memegang sesuatu, rasanya aneh ….” “Kalau begitu pegang yang dua ini saja….” Cau-ji girang setengah mati, pikirnya, “Hahaha, bagus juga idenya.” Sepasang tangannya segera meremas buah dada gadis itu, sementara tombaknya diarahkan ke lubang surga milik gadis itu dan langsung ditusukkan ke dalam. “Aduuuh tiba-tiba Siau-bun menjerit kesakitan sambil melompat bangun.
“Kenapa enci Bun?” “Ya, ada apa?” seru Siau-si pula. Sambil menuding ke arah pantatnya dan berkerut kening sahut Siau-bun, “Dia salah tusuk!” “Mana mungkin bisa salah tusuk? Aku sudah mengarahkan secara tepat ke lubang kecil itu.” Siau-si segera mengerti apa yang terjadi, buru-buru serunya sambil tertawa, “Hahaha, adik Cau, seharusnya kau tusuk ‘jalan air” yang berada di depan, kalau ‘jalan kering’ di belakang yang kau tusuk, tentu saja adik Bun kesakitan, kau salah masuk lubang!” Lalu sambil berpaling ke arah adiknya, ia menambahkan, “Apa keluar darah?” “Keluar darah sih tidak, cuma sakitnya itu! Adik Cau, coba biar cici yang menuntunmu masuk ke liang yang benar!” Sambil berkata sekali lagi dia membungkukkan badan dan sambil memegangi tombak lawan, dia menggiringnya menuju ke dalam liang sendiri. Begitu ujung tombak sudah menempel di depan lubang kecilnya, dia pun menghentakkan badannya ke belakang, “Duusss …!” ujung tombak langsung tertelan separuh bagian. “Nah, sekarang kau bisa mulai menggerakkan badanmu,” kata Siau-bun kemudian sambil berpegangan di sisi pembaringan. Kali ini Cau-ji menggenjot tubuhnya dengan sangat berhati-hati, badannya naik turun secara beraturan, ketika dilihatnya tidak terjadi kesalahan teknis lagi, dengan perasaan lega dia pun memperkuat dan mempercepat genjotan badannya, tidak lupa sepasang tangannya mulai meremas-remas buah dada lawan. Melihat hubungan sudah berjalan lancar, dengan perasaan lega Siau-si pun menikmati permainan itu dengan asyik. Makin menggenjotkan badannya, Cau-ji merasakan kenikmatan yang luar biasa…. Tadi Siau-bun sudah satu kali mencapai puncak kenikmatan, sekarang setelah sepasang buah dadanya diremas dan dipermainkan Cau-ji, apalagi genjotan bagian bawahnya pun begitu pas dan enak, baru tiga puluhan genjotan dia sudah mulai merintih kenikmatan.. Cau-ji tahu gadis itu lagi-lagi sudah mendekati saat puncaknya, dia jadi sangat gelisah, tak sempat lagi mengurusi remasan pada buah dada si nona, dia menggenjotkan badannya makin cepat dan gencar. “Aduuh…
aduuhh..’ Cau-ji melihat si nona mulai gemetar keras, kakinya nyaris sudah tak mampu berdiri tegak, dengan gelisah segera teriaknya, “Enci Bun, tahan sedikit, …
aku … aku masih tanggung nih..’ “Aduuuh … aduuuh … adik Cau … aku … aku sudah tak tahan … aduh … aku tak tahan … aku … mati aku …” Bicara sampai di situ, seluruh tubuhnya sudah terkulai lemas di depan ranjang. Ketika Siau-si melihat Cau-ji masih memegangi tombaknya dengan wajah murung, dia jadi tak tega sendiri, buru-buru teriaknya setelah menarik napas panjang, “Adik Cau, cepat berganti ke tempatku lagi.” “Tapi cici Si, baru saja kau …” “Tidak apa-apa, ayo, cepat naik!” Sambil berkata dia menyingkap selimutnya sambil merentangkan kakinya lebar-lebar. Dengan wajah merah padam Cau-ji segera melompat naik ke atas ranjang, serunya, “Maafkan aku enci Si, terima kasih atas pelayananmu.” Dia langsung mengarahkan tombaknya ke dalam lubang kecil itu dan menghujamkan dalam-dalam.
Tiga puluhan genjotan kemudian, di saat Siau-si mulai merintih dan hampir saja tak tahan, Cau-ji pun mulai gemetar keras, seluruh badannya mulai menegang kencang. Akhirnya sambil menghembuskan napas panjang, tombaknya menyemburkan tembakannya secara berantai, dan ia sendiri tertelungkup lemas di atas tubuh Siau-si. Siau-si sendiri pun sekali lagi mencapai puncak kenikmatan ketika liangnya kena disembur oleh tembakan panas lawan. Dalam keadaan lemas tapi puas, ketiga orang itu malas untuk makan maupun mandi, mereka berjajar di atas ranjang dan segera terlelap tidur. 0oo0 Mereka bertiga tidur hampir delapan jam lamanya sebelum akhirnya mendusin kembali. Siau-si yang mendusin duluan, dia jadi merasa malu ketika menjumpai dirinya ternyata tidur dengan bersandar di tubuh Cau-ji. Tapi ketika menengok ke arah lain, ia jumpai keadaan adiknya lebih memalukan lagi. Rupanya gadis itu tidur sambil memeluk punggung Cau-ji, sementara tangan kanannya ternyata masih memegangi ‘barang’ milik Cau-ji yang terkulai lemas. Diam-diam Siau-si mendekati adiknya, kemudian mencubitnya perlahan. Siau-bun sudah berlatih silat sejak kecil, begitu ia merasa dicubit, dengan gerakan refleks dia pun menggenggam tangannya kuat-kuat. Padahal waktu itu dia masih memegangi ‘barang’ milik Cau-ji, begitu digencet, kontan saja Cau-ji menjerit kesakitan dan segera mendusin dari tidurnya. Siau-bun tidak menyangka kalau dirinya tertidur sambil memegangi ‘barang’ milik Cau-ji, begitu sadar akan perbuatannya itu, kontan saja dengan wajah tersipu dan dia melengos ke arah lain. Cau-ji tersenyum geli, untuk menghilangkan suasana yang serba rikuh itu segera katanya, “Aaaai, tak tahu sudah berapa lama kita tertidur, ayo, kita bersihkan badan.” Sambil berkata ia melompat turun dan ranjang dan menuju ke kamar mandi. Sambil menuang air panas, Siau-si bertanya, “Adik Cau, apakah kau perlu menyaru muka lagi? Perlu tidak kita undang Bwe-tayhiap?” “Aaah, benar, hampir saja aku melupakan hal ini, kalau begitu tolong cici mengundangnya kemari.” Siau-bun berjalan masuk dengan kepala tertunduk, sambil menggosok punggung Cau-ji dengan handuk basah, bisiknya, “Maafkan aku adik Cau, cici tidak sengaja.” Cau-ji membalikkan badan menciumnya, sahutnya sambil tertawa, “Enci Bun, aku yang salah, kalau bukan gara-gara aku sehingga kau kecapaian, tak mungkin kau berbuat begitu.” “Adik Cau, cici sangat menyesal karena tak bisa memuaskan dirimu,” kata Siau-bun jengah. “Hahaha, tidak masalah, lain kali aku pasti akan belajar mengendalikan diri.” “Adik Cau, kalau ingin bermain lagi, kita mesti mencari tambahan satu dua orang untuk membantu,” bisik Siau-si dengan wajah berseru merah, “kalau cuma kami berdua, rasanya tak sanggup memuaskanmu!” “Hahaha, tak akan seserius itu, bukankah semalam aku masih bisa mengendalikan diri? Baiklah, ayo kita cepat mandi, jangan biarkan paman Bwe menunggu terlalu lama.” Dua orang gadis itu tahu, sedikit banyak Cau-ji masih menaruh perasaan segan terhadap mertuanya, segera mereka membersihkan badan dan segera berpakaian.
Tiba-tiba Siau-bun berbisik, “Cici, sebentar tolong ambilkan celana dalam untukku!” Sambil berkata ia memperhatikan sekejap celana dalam sendiri yang sangat kotor. “Tidak mengenakan celana dalam juga tidak apa-apa,” kata Cau-ji sambil tertawa, “bukankah kau masih mengenakan baju dalam yang ditutup dengan gaun luar? Tak bakal ketahuan orang.” “Tapi… rasanya aneh.” “Benar juga perkataan adik Cau, tidak memakai celana dalam pun tak masalah, siapa tahu setelah keluar dari kamar nanti kita harus melaksanakan tugas lain, memangnya kau hendak bersembunyi terus di sini?” Ketika merasa perkataan itu masuk akal juga, lekas Siau-bun mengenakan bajunya tanpa celana dalam. Menanti kedua orang gadis itu keluar dari kamar, Cau-ji duduk seorang diri sambil menikmati sisa hidangan yang masih ada. Tak lama kemudian pintu diketuk orang, Cau-ji tahu pasti kedua orang gadis itu yang datang, benar saja Siau-si dengan senyum di kulum telah berdiri di depan pintu kamar. Begitu pintu kamar ditutup kembali, Siau-si segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Cau-ji, katanya dengan manja, “Adik Cau, untung saja seharian ini tak ada urusan lain, adik Bun sedang memerintahkan dapur untuk menyiapkan beberapa macam hidangan.” “Seharian? Jadi sekarang sudah malam hari?” “Ehmm, sekarang sudah mendekati jam 8 malam, paman Bwe, Jit-koh, Siau- cun serta Ji-giok sedang berada di dalam kamar, aku merasa kurang enak untuk mengganggu kesenangan mereka….” “Hahaha, tidak masalah, kalau begitu kita bersantap dulu. Cici, tolong pesan kepada orang, jika melihat paman Bwe keluar dari kamar, suruh dia datang mencariku.” “Baik, akan kusuruh Siau-cui memperhatikan!” Saat itu kembali pintu kamar diketuk orang. Ketika membuka pintu, ternyata Siau-bun yang datang, maka tanyanya, “Adikku, apakah pihak dapur sudah menyiapkan hidangan?” “Belum,” Siau-bun menggeleng, “adik Cau, di rumah makan ada belasan orang selesai bersantap berteriak-teriak ingin bertemu dengan Jit-koh!” Belum sempat Cau-ji bertanya, Siau-si sudah bertanya duluan, “Adik Bun, siapa mereka?” “Menurut orang yang diutus Ciangkwe untuk melakukan penguntitan, konon mereka memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, diketuai dua bersaudara Siang dari Liong-ing-hong dari kota Lokyang.” Agak berubah paras muka Siau-si setelah mendengar perkataan itu, gumamnya, “Kenapa mereka datang kemari?” Dua bersaudara Siang bukan cuma memiliki kepandaian silat yang tangguh, bahkan mereka adalah orang-orang kalangan lurus,” ujar Siau-bun dengan wajah serius, “bukan cuma hartanya banyak, pengaruh mereka pun sangat besar.” “Hari ini mereka sengaja membawa orang datang kemari, menunggu semua tamu sudah bubar, mereka baru menyampaikan pernyataan untuk bertemu dengan Jit-koh, tampaknya kedatangan mereka mempunyai niat dan tujuan tertentu.” Siau-si manggut-manggut membenarkan. Mendengar nama Liong-ing-hong, lalu mendengar pula nama dua bersaudara Siang, perasaan Cau-ji tergerak, dia lantas teringat gadis dari marga Siang yang pernah ditolongnya ketika berada di tepi sungai bawah bukit Wu-san. Melihat kedua orang gadis itu berdiri dengan wajah tegang, dia pun bertanya, “Enci Bun, apakah kau tahu siapa nama nona Siang itu?” “Dia bernama Siang Ci-ing!” “Ah, tidak salah lagi, memang dia,” Cau-ji berseru tertahan, “baiklah, ayo kita pergi menjumpainya!” “Tapi Cau-ji, kau belum menyaru muka,” cegah Siau-si cemas. Cau-ji agak tertegun, tapi setelah berpikir sebentar ia segera mendapat ide, ujarnya sambil tertawa, “Enci Si, bisa pinjam obat penyaru muka?” “Adik Cau, tanpa bantuan paman Bwe, apa kau tidak kuatir ketahuan?” “Jangan kuatir, orang bilang palsu itu benar, benar itu palsu, aku bisa beralasan sedang menyaru muka.” Kedua orang nona itu segera memahami maksudnya, buru-buru Siau-si pergi meminjam alat penyaru muka “Adik Cau, kau memang amat cerdas,” puji Siau-bun sambil menghela napas, “di kemudian hari kau pasti akan menjadi seorang Bu-lim Bengcu!” “Sayang aku tak berminat menjadi Bu-lim Bengcu, aku hanya ingin menemani kalian hidup tenang di pesanggrahan Hay-thian-it-si, apa gunanya mencari nama besar? Tapi omong-omong, aku harus tampil sebagai siapa nanti?” “Lebih baik tampil sebagai wakil Congkoan saja, selama ini Jit-koh selalu menyerahkan urusan kepada Congkoannya.” “Baik, kalau begitu aku akan tampil sebagai wakil Congkoan rumah makan Jit-seng-lau, kalian berdua boleh menemani Siaute, agar nyaliku bertambah besar?” “Baik, wakil Congkoan!” Pintu kamar kembali terbuka, Siau-si muncul dengan membawa sebuah kotak bahan untuk menyaru muka, kemudian dengan cepat nona itu memoleskan beberapa bahan itu di wajahnya. Ketika selesai mengubah wajah Cau-ji, ujarnya sambil tertawa, “Adik Cau, agar tampil lebih keren, lebih baik kita muncul sebentar lagi.” “Cici, sekarang adik Cau adalah wakil Congkoan,” Siau-bun menimpali. “Aaah, cocok sekali, tapi siapa namanya?” “Kita pakai nama Yu Si-bun saja!!” “Baiklah, sekarang sudah hampir waktunya, adik Cau, mau keluar sekarang?” “Tentu saja, harap cici berdua menemani aku,” sahut Cau-ji sambil merangkul kedua orang nona itu. Setelah membuka pintu kamar, kedua nona itupun mengikut di belakang Cau-ji menuju ke halaman depan.
Sebelum masuk ke dalam ruang rumah makan, Siau-si segera menghampiri sang Ciangkwe, seorang lelaki setengah umur yang bertubuh kurus dan membisikkan sesuatu. Tauke rumah makan itu adalah salah satu anggota Jit-seng-kau, ketika mendengar Ho-tongcu dengan merubah wajah tampil sendiri, ia jadi sangat kegirangan, lekas dia melangkah ke depan menyambut kedatangan Cau-ji.
“Menjumpai wakil Congkoan!” ia segera menyapa, sesuai dengan pesan Siau- si.
“Mana tamunya?” tanya Cau-ji dengan lagak jumawa. “Ada di atas loteng, silakan!” Tiba-tiba terdengar seseorang mendengus dingin dari atas loteng, “Hmmm, gede amat lagaknya!” Cau-ji hanya tertawa hambar, dia segera naik ke atas loteng.
Tampak ada sebelas orang pemuda berwajah bersih dan berusia dua puluh tahunan duduk berjajar di atas loteng. Seorang gadis cantik bak bidadari, Siang Ci-ing duduk bersanding dengan seorang pemuda berwajah tampan. Cau-ji menduga pemuda itu pastilah Siang Ci-liong, kakak nona Siang. Kedua belas orang muda-mudi ini bukan saja berwajah tampan, sorot matanya tajam bercahaya, jelas kepandaian silat yang mereka miliki cukup tangguh, tak heran mereka berani datang mencari gara-gara. Setelah menyapu sekejap sekeliling arena, Cau-ji segera menjura sambil menyapa, “Cayhe Yu Si-bun, kebetulan menjabat wakil Congkoan rumah makan ini, maaf bila kalian harus menunggu lama.” Ketika semua orang menyaksikan pemuda tampan ini ternyata adalah wakil Congkoan dari rumah makan Jit-seng-lau, tak kuasa lagi mereka berdiri tertegun. Khususnya setelah menyaksikan Suto bersaudara yang berdiri bak bidadari dari kahyangan, perasaan mereka makin tercengang. Siang Ci-liong segera bangkit berdiri dan menyahut seraya menjura, “Cayhe Siang Ci-liong, dengan adikku Siang Ci-ing….” Secara beruntun dia pun memperkenalkan kesepuluh orang pemuda lainnya satu per satu. Menggunakan kesempatan itu Siau-si berbisik kepada Cau-ji dengan ilmu menyampaikan suara, “Adik Cau, mereka adalah Lokyang Capji Eng (dua belas orang gagah dari Lokyang)!” Maka begitu mereka selesai memperkenalkan diri, Cau-ji segera berkata, “Ooh, rupanya Lokyang Capji Eng yang sudah tersohor di kolong langit, selamat berjumpa.” Lokyang Capji Eng tidak menyangka kalau pihak lawan mengetahui identitas mereka, sekali lagi semua orang berdiri tertegun. Cau-ji tidak menggubris keheranan orang, kembali ujarnya kepada Ciangkwe, “Kita kedatangan tamu agung, cepat siapkan hidangan dan arak.” “Baik!” “Hucongkoan tak usah sungkan,” buru buru Siang Ci-liong menukas, “kami semua selesai bersantap, lebih baik kita langsung pada pokok persoalan, hari ini kami berdua belas datang kemari karena ada yang perlu dirundingkan.” “Katakan saja saudara Siang.” Siang Ci-liong termenung sejenak, tiba-tiba tanyanya, “Hucongkoan, apakah Im-congkoan ada?” Cau-ji tahu, orang kuatir kalau dia tak bisa mengambil keputusan, maka sahutnya sambil tertawa, “Saudara Siang, Congkoan kami sedang ada tamu terhormat, jadi semua kekuasaan telah diserahkan kepada Siaute.” Lokyang Capji Eng yang sudah terbiasa tinggi hati kontan menarik muka sehabis mendengar perkataan itu, pemuda perlente yang duduk di paling ujung kontan saja mendengus dingin. “Hmmm! Besar amat lagak Jit-seng-lau!” Dari logat suaranya, Cau-ji segera mengenali sebagai orang yang menjengeknya ketika akan naik ke loteng tadi, maka dia pun menanggapi secara ketus. “Betul, aku mau datang kemari, sebetulnya aku sudah cukup memberi muka kepada kalian.” Serentak Loyang Capji Eng melompat bangun, dengan mata melotot mereka mengawasi lawan. Cau-ji sama sekali tak acuh, kembali ujarnya, “Kalau ingin gebuk-gebukan, boleh saja, aku pasti akan menemani, tapi utarakan dulu apa maksud kedatangan kalian.” Selesai berkata ia segera tertawa terbahak-bahak.
Pemuda she Li itu mendengus dingin, dia menggebrak meja, sebuah cawan arak segera mencelat setinggi satu meter lalu ketika tangan kanannya dikebaskan ke depan, cawan itu langsung meluncur ke hadapan lawan. Cau-ji sama sekali tidak melirik, ketika cawan itu berada beberapa langkah di hadapannya, mendadak ia meniup perlahan. Peristiwa aneh pun segera terjadi. Cawan arak yang sedang meluncur datang itu seakan terbentur di atas sebuah dinding tak berwujud, setelah terbang ke samping kanan, cawan itu berputar satu lingkaran dan melayang balik ke posisi semula. Sekali lagi Lokyang Capji Eng menjerit tertahan. Dengan langkah santai Cau-ji menuju ke bangku utama, setelah duduk ia pun berseru, “Silakan duduk!” Bagaikan ayam jago yang kalah bertarung, Lokyang Capji Eng duduk kembali ke posisinya dengan wajah lesu dan lemas. Tampaknya Siang Ci-liong cukup berpengalaman, katanya, “Hucongkoan, hebat benar ilmu memindah bendamu itu!” “Aah, mana, saudara Siang kelewat memuji, sekarang sampaikan tujuan kalian.” “Baik, kalau begitu aku langsung pada pokok persoalan, aku minta kalian batalkan perlombaan kuda yang bakal diadakan besok pagi.” Selesai bicara ia segera menatap tajam Cau-ji. Tampaknya Cau-ji tidak menyangka tujuan kedatangan mereka adalah lantaran persoalan ini, mau tak mau dia tertegun juga.
“Kenapa?” tanyanya setelah termenung beberapa saat. “Sejak judi ‘semua senang’ merajalela dalam masyarakat, kehidupan penduduk jadi kacau dan berantakan, banyak pertikaian dan perselisihan terjadi, banyak keluarga tercerai-berai, maksiat terjadi dimana mana.” “Menurut analisa kami berdua belas, tempat ini merupakan bandar paling besar di seluruh negeri, karena itu jika kalian bersedia menghentikan usaha ini, tindakan itu tentu akan diikuti Bandar-bandar lain.’ “Demi keamanan dunia persilatan dan kesejahteraan umat manusia, kami berharap kerja samanya.” Sebenarnya Cau-ji sangat setuju dengan usul itu, kalau bisa dia pun akan meneriakkan tanda setuju. Tapi demi melenyapkan Jit-seng-kau dari muka bumi, mau tak mau terpaksa ia harus tega. “Atas dasar apa kalian minta kami melepaskan tambang emas ini?” tanyanya kemudian. “Manusia she Yu, tampaknya kau tak tahu diri,” bentakan nyaring segera berkumandang, diikuti seorang pemuda perlente menerjang maju ke depan.
Segera Siang Ci-liong mencegahnya, ujarnya lagi kepada Cau-ji, “Hucongkoan, terus terang aku katakan, kini sembilan partai besar telah memutuskan untuk bekerja sama dengan pihak pemerintah untuk membasmi semua perjudian dari muka bumi. “Aku lihat Hucongkoan bukan termasuk orang jahat, bila kau bersedia menghentikan usaha di sini, bukan saja aku bersedia memberi pesangon yang memadai kepada seluruh pekerja di sini, bahkan bila Hucongkoan bersedia, kami pun siap menampung kau dengan gaji yang menggiurkan.” “Gaji yang menggiurkan? Berapa itu?” “Seratus tahil perak setiap bulan.” Cau-ji segera tertawa dingin, ejeknya, “Saudara Siang, sebelum masuk kemari, apakah kau sempat membaca laporan keuangan ‘semua senang’ yang kami tempelkan di depan pintu masuk?” “Ya, sudah!” “Tahukah saudara Siang, berapa banyak hadiah yang bisa diraih esok pagi?” “Soal ini….” “Hahaha, dalam periode penarikan kali ini, kami sudah menerima pasangan sebesar tiga puluh dua juta tahil perak lebih, sesuai dengan peraturan yang berlaku, pihak kami berhak atas sepuluh persen komisi, itu berarti senilai tiga juta dua ratus ribu tahil perak. “Sementara Cayhe yang menjabat sebagai wakil Congkoan, sesuai dengan perjanjian akan mendapat keuntungan sebesar sepuluh persen dari laba bersih, atau dengan perkataan lain aku mendapat tiga ratus dua puluh ribu tahil perak, bila sebulan diadakan tiga periode penarikan berarti jatahku senilai hampir satu juta tahil perak. Bayangkan sendiri saudara Siang, sanggupkah kau memberi gaji lebih dari nilai itu?” Habis berkata ia tertawa dingin. Siang Ci-ing yang selama ini hanya membungkam mendadak bangkit berdiri, hardiknya, “Orang she Yu, pernahkah kau bayangkan sembilan ratus enam puluh ribu tahil perak yang kau peroleh itu berasal dari berapa banyak penderitaan dan lelehan air mata?” “Hahaha, aku toh tidak pernah memaksa mereka untuk ikut memasang ‘semua senang’, perjudian yang kami selenggarakan pun merupakan perjudian resmi yang tidak menggunakan akal-akalan, menang kalah tergantung rezeki masing-masing, jadi kalau kalah, jangan salahkan siapa pun.” Selesai berkata kembali ia tertawa tergelak. “Kau …
kau tak tahu malu!” Mendengar umpatan itu, kontan Cau-ji menghentikan gelak tertawanya, sambil menarik muka dia menegur, “Nona, kau mengatakan aku tak tahu malu? Bandingkan dengan Yu Yong, siapa yang lebih tak tahu malu?” Mendadak paras muka Siang Ci-ing berubah hebat, jeritnya, “Kau….” Untuk sesaat nona itu hanya bisa mengawasi Cau-ji dengan mata mendelik, tak sepatah kata pun sanggup diucapkan. Cau-ji tahu, si nona pasti amat terkejut, maka tangan kanannya segera menggapai ke arah teko arak yang berada beberapa meter jauhnya di hadapan Siang ci-liong, kemudian menghisap isinya dari jarak jauh dan meneguknya sampai habis. Demonstrasi ilmu menghisap benda dari udara ini seketika membuat terperangah Lokyang Capji Eng. “Jadi kau kenal Yu Yong?” kembali Siang Ci-ing bertanya dengan suara gemetar.
“Tidak, tidak kenal,” Cau-ji segera menggeleng, “aku hanya pernah mendengar ada seorang nona telah menyebut nama seorang tua bangka yang tak tahu diri itu ketika berada di tepi sungai dekat bukit Wu-san.” Sekali lagi sekujur badan Siang Ci-ing gemetar keras, tapi sinar matanya berbinar, serunya girang, “Jadi kau … kau adalah …” “Aku dari marga Yu, bernama Si-bun!” tukas Cau-ji tenang. Tampaknya Siang Ci-ing sama sekali tidak menyangka kalau pemuda yang berada di hadapannya tak lain adalah Giok-long-kun Bwe Si-jin yang pernah menyelamatkan jiwanya, melihat pemuda itu enggan menyebut nama aslinya di hadapan umum, diam-diam ia menjadi girang. Sebab Bwe Si-jin dianggapnya telah menutupi kejadian aib yang pernah menimpa dirinya. Nona itupun berpendapat, kehadiran Bwe Si-jin sebagai wakil Congkoan di tempat itu pasti mempunyai maksud tertentu, dengan kebesaran namanya sebagai seorang pendekar yang menjunjung tinggi kebenaran dan keadilan, bisa jadi tujuan kedatangannya di situ adalah untuk membasmi Jit-seng-kau? Dia memang sudah mendengar kisah terbabatnya perkumpulan naga emas semalam, karena berita besar itu sudah tersebar sampai dimana-mana, Siang Ci- ing berpendapat, kejadian itu pasti melibatkan Bwe Si-jin.
Karena itulah nona itu merasa sangat kegirangan. Cau-ji sendiri meski tidak paham apa sebabnya secara tiba-tiba gadis itu kegirangan, tapi ia bisa meraba kalau hal mana tentu ada kaitannya dengan nama besar Bwe Si-jin, maka dia pun tidak bicara lebih jauh. Siang Ci-liong sendiri pernah mengetahui tentang kisah amoral Yu Yong terhadap adiknya, maka setelah mendengar pembicaraan itu dia pun segera mengerti kalau antara Yu Si-bun dengan Bwe Si-jin pasti punya keterkaitan yang besar, maka dia pun segera terjerumus dalam pemikiran. Ditinjau dari demonstrasi ilmu yang barusan diperlihatkan Yu Si-bun, jangan kan dirinya berada dalam wilayah lawan, sekalipun mereka berdua belas menggabungkan diri pun, belum tentu sanggup melawan ketangguhan lawan. Setelah berpikir, akhirnya dia memutuskan untuk pulang dulu ke rumah, kemudian baru merundingkan kembali persoalan ini. Sambil bangkit berdiri ujarnya lantang, “Malam sudah kelam, apa yang ingin kusampaikan pun telah kuutarakan, semoga wakil Congkoan mau mempertimbangkan kembali usul ini, maaf, kami akan mohon diri terlebih dulu.” “Dengan senang hati akan kutunggu kehadiran kalian dalam perlombaan kuda besok,” sahut Cau-ji lantang. Lokyang Capji Eng segera menjura memberi hormat, lalu berlalu dari situ. Menanti Lokyang Capji Eng sudah berlalu, terlihat bayangan manusia berkelebat, tahu-tahu Bwe Si-jin dan Im Jit-koh sudah muncul di ruang tengah sambil mengawasinya. Cau-ji sengaja menirukan suara serak Ho Ho-wan dan ujarnya sambil tertawa dingin. “Hehehe, bocah-bocah ingusan itu benar-benar tak tahu diri, baru punya sedikit kepandaian sudah ingin bergaya di sini, benar-benar tak tahu diri.” Dengan sikap hormat Im Jit-koh segera menyahut, “Untung Tongcu bersedia tampil, kalau tidak, mungkin kami bakal kerepotan.” “Apakah kau sudah mendengar semua perkataan mereka tadi?” “Sudah, bila keinginan mereka terkabul, tampaknya hari kiamat bagi kaum bandar judi sudah makin dekat.” “Berarti kita pun akan memungut rezeki di balik bencana,” sambung Bwe Si- jin sambil tertawa tergelak.
Mendengar perkataan itu Im Jit-koh termenung sambil berpikir sejenak, kemudian seolah memahami sesuatu katanya, “Hebat, hebat, Tongcu memang sangat hebat, begitu para bandar judi itu menghentikan usahanya, usaha Kita di sini pasti akan bertambah makmur.” Bwe Si-jin menggelengkan kepala berulang kali, tukasnya, “Kau keliru besar, jika semua pecandu semua senang’ meluruk datang kemari, yang pasti kota Tiang-sah akan tenggelam, hahaha” Merah padam wajah Im Jit-koh lantaran jengah, bisiknya lirih, “Harap Tongcu sudi menjelaskan.” “Hahaha, ketua perkumpulan ada niat untuk membangun kembali kejayaan partai, mereka bisa menggunakan kesempatan ini untuk menyusup ke dalam para bandar itu dan menghasut mereka agar saling gontok, asal mereka lenyap semua, bukankah rezeki kita bakal semakin lancar?” “Usul yang hebat, hamba segera akan mengirim merpati pos untuk menyampaikan ide Tongcu ini ke markas besar,” teriak Im Jit-koh cepat. “Hahaha, posisi Lohu saat ini sudah mentok dan tak mungkin bisa naik lebih tinggi lagi. Jit-koh, kenapa usul ini tidak kau sampaikan atas nama pribadimu? Hahaha, Lote, ayo kita pergi minum.” Dengan penuh rasa terima kasih Im Jit-koh mengantar Bwe Si-jin berempat kembali ke kamar Cau-ji, lalu segera dia minta diri untuk mengirim berita itu. Setelah mengunci pintu kamar, dua bersaudara Suto baru menuju ke hadapan Bwe Si-jin, berlutut di hadapannya dan berkata, “Bwe-tayhiap, Suto Si dan Suto Bun memberi hormat kepadamu.” Mula-mula Bwe Si-jin agak tertegun, kemudian sambil tertawa tergelak katanya, “Nona, cepat bangkit. Cau-ji, kau si bocah sialan benar-benar ‘bertemu cewek lupa setia-kawan’, rupanya kau telah berkhianat kepadaku.” Merah jengah wajah Cau-ji, cepat katanya, “Paman, Cau-ji rasa lebih leluasa bagi kita jika semuanya sudah berterus terang.” “Hahaha, tak heran begitu kalian masuk ke dalam kamar, seharian tak menongolkan kepala, ternyata kalian sedang berterus terang ….” Merah jengah wajah Cau-ji bertiga, mereka tak berani membantah lagi, kuatir semakin mendapat malu. Ternyata Bwe Si-jin tidak melanjutkan ejekannya, sambil tertawa katanya lagi, “Ayo duduk, paman hanya bergurau, bagaimanapun kau telah menyelesaikan kesalahan paham nona Suto terhadap Lohu. jelas hal ini merupakan satu pahala besar.” “Paman baru berusia tiga puluh tahunan, kok membahasakan diri sendiri dengan sebutan Lohu?” sindir Siau-si Bwe Si-jin tertawa tergelak, untuk sesaat dia tak sanggup menanggapi ucapan itu. “Paman,” kata Cau-ji kemudian sambil tertawa, “tahukah kau apa sebabnya tadi Siang Ci-ing nampak salah tingkah?” “Darimana aku tahu? Jangan-jangan kau punya permainan busuk lain?” Secara ringkas Cau-ji segera menceritakan pengalamannya ketika menolong Siang Ci-ing sambil meninggalkan nama Bwe Si-jin, kemudian ia tergelak. Dua bersaudara Suto pun ikut tertawa mendengar cerita itu. Senyuman yang semula menghiasi Bwe Si-jin mendadak lenyap tak berbekas, tiba-tiba sambil menarik muka bentaknya, “Cau-ji, kau bikin masalah ….” Belum pernah Cau-ji menyaksikan pamannya begitu gusar, dengan perasaan kaget ia segera menjatuhkan diri berlutut. Melihat pemuda itu berlutut, cepat Suto bersaudara ikut berlutut.
Melihat ketiga orang itu berlutut di lantai, hawa amarah Bwe Si-jin sedikit mereda, serunya, “Kalian cepat bangkit!” “Harap paman memberi pengajaran,” kata Cau-ji sambil menggeleng. “Baik, kalian bangkit berdiri lebih dulu.” Saat itulah terdengar pintu kamar diketuk orang. Cepat mereka bertiga bangkit berdiri, ketika Siau-bun membukakan pintu, tampak Siau-cun berenam dengan membawa hidangan dan dua guci arak telah berdiri menanti di muka pintu. Sambil menata hidangan di atas meja, kembali Siau-cun berkata, “Tongcu berdua, Congkoan menitahkan budak sekalian untuk menghidangkan makanan ini, harap jangan ditertawakan.” “Bagus, rupanya Jit-koh memang pintar mengambil hati orang, tahu kalau Lohu suka minum arak, dia menghadiahkan dua guci arak lagi untukku, sampaikan rasa terima kasihku kepadanya.” Enam orang gadis itu menyahut dan segera mengundurkan diri. Segera Cau-ji menuang dua cawan arak, satu dipersembahkan kepada Bwe Si- jin sambil katanya, “Paman, Cau-ji minta maaf kepadamu, harap kau bersedia mengeringkan isi cawan ini.” Bwe Si-jin meneguk habis isi cawan itu, kemudian serunya, “Cau-ji, dengan melakukan perbuatan semacam itu, kau menyuruh aku bagaimana mempertanggung jawabkan diri kepada ibu mertuamu?” “Paman, waktu itu Cau-ji hanya menganggap nona Siang baik orangnya, maka timbul ingatanku untuk mencarikan pasangan untukmu.” Bwe Si-jin tertawa getir, ujarnya, “Gara-gara ingin menemukan jejakku, adik Ti sudah belasan tahun berkelana dalam dunia persilatan, ketahuilah Cau-ji, sepuluh tahun itu jangka waktu yang amat berharga bagi seorang wanita.” Kemudian setelah menghela napas, lanjutnya, “Dia sudah banyak menderita, masa aku tega mencari istri baru lagi? Cau-ji, makanya lain kali jangan kau ulang kesalahan yang sama.” “Baik, baik….” “Cau-ji, urusan ini kau yang menimbulkan, maka kau mesti bertanggung jawab.” “Maksud paman….” “Hahaha, paman boleh saja mengganggu beruang, boleh saja mengusik harimau, tapi aku tak berani mengusik Siang bersaudara.” “Tapi… bukankah ilmu silat yang mereka miliki tak seberapa hebat?” “Hahaha, dalam pandangan jago silat tingkat tinggi, mungkin saja ilmu silat yang mereka miliki tak seberapa, tapi jangan lupa, seekor harimau susah menghadapi kerubutan beribu ekor monyet.” “Apalagi Siang Ci-ing adalah murid kesayangan Teng-in Suthay, Ciangbunjin Go-bi-pay. Bila dia melaporkan aku sambil menangis, bisa jadi jago sembilan partai besar akan datang menyatroni paman.” Cau-ji tertegun, untuk sesaat dia berdiri termangu. Belum pernah Bwe Si-jin menyaksikan mimik muka Cau-ji seperti ini, diam- diam ia kegirangan, lanjutnya, “Cau-ji, mungkin kau belum tahu kalau dua bersaudara Siang punya pengaruh besar dalam pemerintahan.” “Turun temurun mereka adalah pedagang barang antik serta benda perhiasan yang mahal harganya, bukan saja dianggap sebagai saudagar jujur, harga mereka pun sangat cengli, karena itu banyak keluarga pembesar tinggi, bahkan para selir raja dan tuan putri pun sering mengundang mereka masuk istana.
“Selain itu, Lokyang Capji Eng terkenal juga sebagai orang yang suka mencampuri urusan orang, jika Siang Ci-ing sampai mengundang mereka untuk mencari paman, kau harus tampil untuk menjelaskan persoalan ini kepada mereka.” Cau-ji jadi kaget setengah mati, dia tak menyangka gara-gara usil mulut bisa jadi dirinya akan menjadi musuh umat persilatan dan buronan kerajaan. Baginya urusan mati hidup adalah urusan kecil, tapi kalau sampai menodai nama keluarga, itu baru masalah besar. Lantas apa daya sekarang? “Paman,” tiba-tiba Siau-si berkata, “apakah Siau-si boleh mengajukan usul?” “Hahaha, istri membantu suami memang merupakan kejadian lumrah, coba katakan apa idemu?” “Asal adik Cau meminang Siang Ci-ing menjadi istrinya, bukankah dunia jadi aman kembali?” Tak tahan Cau-ji menjerit kaget. Bwe Si-jin agak tertegun, tapi ia segera tertawa terbahak-bahak. Tampaknya Siau-bun pun sangat setuju dengan usul ini, sambil tertawa dia hanya mengawasi Cau-ji tanpa bicara. Menggunakan kesempatan di saat Bwe Si-jin masih tertawa tergelak, Cau-ji buru-buru berbisik, “Enci Si, kita tak boleh menempuh jalan ini, Siang Ci-ing mencintai paman Bwe, lagi pula belum tentu paman akan setuju.” “Cau-ji, dimanapun pasti terdapat jalan, kenapa cara ini tak bisa digunakan?” dengan ilmu menyampaikan suaranya Siau-bun berbisik, “seperti contohnya semalam, bukankah kau pun sempat salah masuk, tapi begitu digiring dengan tangan, kau pun bisa pindah dari jalan kering menuju ke jalan air?” Lalu dengan wajah bersemu merah karena jengah, lanjutnya, “Adik Cau, kau urusi saja masalahmu dengan paman, sementara Siang Ci-ing serahkan kepada kami berdua untuk menyelesaikan” “Tapi soal ini… soal ini….” Sambil menghentikan tertawanya, kata Bwe Si-jin, “Cau-ji, banyaklah mendengar nasehat bini, tak bakalan salah jalan.” “Paman, Cau-ji benar-benar tak tahu apa yang mesti kulakukan sekarang?” kata Cau-ji sambil bermuram durja. “Jodoh itu di tangan Thian, siapa pun tak bisa memaksakan diri, paman tidak keberatan bila kau mempunyai seorang bini muda lagi, cuma kau mesti menghadapi persoalan ini dengan nama sendiri, lagi pula pihak lawan pun harus rela mengikutimu.” “Paman, mulai sekarang Cau-ji tak berani mencatut namamu lagi.” “Hahaha, memangnya kau anggap nama Bwe Si-jin boleh digunakan sembarangan? Ayo, ayo. kita segera bersantap sambil minum arak.” Tapi mana Cau-ji punya selera untuk bersantap? Sekalipun tak punya selera, setiap kali Bwe Si-jin mengajaknya minum arak, mau tak mau dia harus meneguk habis isi cawannya. Dengan cara minum semacam ini, Siau-si berdua mulai menguatirkan keadaannya, tidak mustahil pemuda itu segera akan mabuk berat. Akhirnya Cau-ji belum lagi mabuk, kedua orang gadis itu sudah keburu limbung duluan. Sambil tertawa terbahak-bahak Bwe Si-jin pun meninggalkan ruangan. Sepeninggal Bwe Si-jin, dengan wajah mabuk Siau-si segera menjatuhkan diri ke dalam pelukan Cau-ji sambil berbisik, “Adik … adik Cau … tak usah kuatir… biar… biar langit ambruk pun … cici… cici pasti… akan mendukungmu….” Siau-bun ikut memeluk tengkuk Cau-ji, dengan mulut penuh berbau arak katanya pula, “Adik Cau … keluarga Ong adalah keluarga terhormat… mana bisa dibandingkan dengan keluarga Siang yang berbau rongsok” Ucapan itu bagai sambaran guntur di siang hari bolong, seketika membuat Cau-ji tersadar kembali, katanya lantang. “Benar, sewaktu aku Ong Bu-cau menolongnya, aku toh tidak berniat jahat kepada gadis itu.” “Benar,” sambung Siau-bun sambil tertawa, “apalagi kau pun berbuat begitu demi keselamatannya, bila kedua belah pihak sampai terjadi pertarungan, memangnya mereka sanggup melawan kekuatan para jago di halaman belakang?” Menganggap jalan pikirannya sudah benar, tak kuasa lagi Cau-ji tertawa tergelak. “Ah, adik Cau ….” kembali terdengar Siau-si berkata, “kau … asal kau bersikeras mengaku bernama Yu Si-bun … dan … dan mengatakan kalau Bwe Si-jin sudah … sudah mati … Siang Ci-ing pasti tak dapat berbuat apa-apa….” “Hahaha, hebat, jurus hebat, cici Si, biar dalam keadaan mabuk, ternyata jalan pikiranmu justru amat cemerlang.” “Aku … aku tidak mabuk … omong kosong, mana … mana mungkin aku bisa mabuk….” “Baiklah, kau memang tidak mabuk, ayo, coba ikuti gerakanku.” Sambil berkata pemuda itu berjongkok kemudian melompat bangun. “Hahaha, itu sih gampang.” Sambil berkata nona itu ikut berjongkok lalu melompat bangun, siap tahu begitu melompat, badannya mundur sempoyongan, nyaris badannya terjerembab.
“Hahaha, enci Bun, coba kau lihat, hebat benar lompatan enci Si.” Siapa tahu begitu berpaling, pemuda itu saksikan Siau-bun sudah tertidur di atas meja.
Siau-si kembali tertawa cekikikan, serunya, “Coba lihat, ternyata adik Bun sudah mabuk.” Sembari berkata ia berjalan menghampiri dan siap membokongnya naik ke atas ranjang. Segera Cau-ji mencegah. “Enci Si, biar aku saja yang membopong!” “Omong kosong, kau … kau takut aku terjatuh … baik, akan kubopong dia ….” Sambil berkata ia benar-benar membopongnya. Jangan dilihat Siau-si sudah mabuk, ternyata dia sanggup membopong Siau-bun naik ke pembaringan. Melihat itu Cau-ji tertawa tergelak, baru saja dia menghembuskan napas lega, dilihatnya Siau-si pun ternyata sudah terlelap tidur. 0oo0.
Bab V. Menangkap perempuan cabul.
Langit masih gelap, awan hitam masih menyelimuti angkasa, namun sebagian besar penduduk kota Tiang-sah sudah berbondong-bondong mendatangi luar kota, tempat diselenggarakannya pertandingan lomba kuda. Hari ini adalah hari pembukaan lotere ‘semua senang’. Ketika sembilan ekor kuda balap mencapai garis finish, kuda pertama yang masuk garis finish duluan itulah nomor undian yang bakal keluar, karena itu sejak fajar belum menyingsing, semua orang sudah mendatangi arena lomba untuk memberi semangat kepada kuda lomba jagoannya.
Cau-ji dan Bwe Si-jin didampingi Im Jit-koh ikut hadir di arena balap kuda. “Mari kita menuju ke panggung kehormatan!” bisik Im Jit-koh kemudian.
“Kau pergilah sendiri,” sahut Bwe Si-jin sambil tertawa, “kami berdua akan mencari tempat duduk lain, sekalian berjaga-jaga bila terjadi sesuatu yang tak diinginkan.” “Tapi semua jago tangguh partai sudah tersebar di seputar sini dan melakukan penjagaan ketat….” “Pergilah seorang diri!” sambil berkata Bwe Si-jin segera berbaur dengan para penonton lainnya. Ketika Bwe Si-jin sambil menggendong tangan membaurkan diri dalam keramaian penonton, tiba-tiba terdengar Cau-ji berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Paman. Lokyang Capji Eng berada di tribun sebelah kiri!” Ketika berpaling, Bwe Si-jin segera menyaksikan Lokyang Capji Eng berada di tribun sebelah tengah, maka sahutnya sambil tertawa, “Cau-ji, ayo, kita sapa mereka!” Mula-mula Cau-ji agak tertegun, tapi ia segera mengerti maksud pamannya dan beijalan mendekati arah mereka.
Bwe Si-jin sengaja memperlambat langkahnya, membuat jarak mereka berdua selisih makin jauh. Setelah berada lima enam langkah di hadapan Siang Ci-liong, dengan ilmu menyampaikan suaranya Cau-ji segera menyapa, “Saudara Siang, awal sekali kehadiranmu!” Sambil berkata dia menggapai ke arah mereka. Seakan terkejut bercampur girang Siang Ci-liong membisikkan sesuatu ke sisi telinga adiknya, lalu dia bangkit berdiri dan celingukan kian kemari, tak lama ia menemukan Cau-ji. Dengan cepat ia menuding tempat kosong di sampingnya seraya menggapai. Cau-ji mengerti maksudnya, dia manggut-manggut dan berjalan mendekat. Dengan sikap penuh persahabatan Lokyang Capji Eng berdiri dan menyapa Cau-ji. Cau-ji tahu sudah pasti Siang Ci-ing telah menceritakan pengalamannya kepada mereka sehingga terjadi perubahan sikap dari orang-orang itu. Maka serunya sambil tertawa tergelak, “Hahaha, silakan duduk!” Habis berkata, ia duduk di sisi kiri Siang Ci-liong. Terdengar Siang Ci-liong berkata sambil tertawa, “Sungguh tak kusangka perlombaan balap kuda yang diselenggarakan di tempat ini sangat besar, megah dan ramai.” Pada saat itulah di atas sebuah panggung setinggi dua meter yang berada di tengah arena telah muncul seorang lelaki berbaju perlente, dia sedang menjura ke semua penonton yang berada di empat penjuru. Tepuk tangan gegap gempita pun segera bergema memecah keheningan. Selesai tepuk tangan, dengan lantang lelaki perlente itu berkata, “Aku Coh Tat sebagai panitia penyelenggara pesta balap kuda mengucapkan selamat datang kepada hadirin semua. “Sesuai dengan peraturan, bila ada sahabat yang ingin ikut serta dalam balap kuda hari ini silakan mengambil nomor undian, tapi aku perlu terangkan terlebih dulu, bila dalam perlombaan nanti terjadi kecelakaan atau satu peristiwa yang tak diinginkan, pihak kami tak ikut bertanggung jawab.” Di tengah sorak sorai yang nyaring, ada dua puluhan orang lelaki kekar dengan gerakan tubuh yang gesit telah berlarian menuju ke arah panggung. Di bawah dukungan Cau-ji dan Siang bersaudara, kesepuluh orang pemuda tampan itupun ikut berlarian menuju ke tengah panggung.
Lelaki berbaju perlente yang berada di atas panggung tinggi itu nampak terkesiap setelah menyaksikan gerakan tubuh kesepuluh orang ini. Para jago tangguh dari Jit-seng-kau yang membaurkan diri di antara para penonton pun segera meningkatkan kewaspadaan. Begitu kesepuluh orang itu tiba di atas panggung, lelaki berbaju perlente itu segera memuji, “Hebat sekali kepandaianmu sobat!” Setelah berhenti sejenak, dengan suara lantang orang itu berkata lebih jauh kepada ketiga puluh lima orang yang sudah berada di panggung, “Sobat sekalian, ketiga orang nona itu membawa tiga puluh lima lembar lintingan kertas berisikan angka, sobat yang berhasil mendapatkan angka satu sampai angka sembilan, berarti dialah yang akan menjadi joki pada hari ini.” Tak lama kemudian ketiga orang nona itu sudah memperlihatkan sebuah kotak kosong kepada para hadirin, lalu memasukkan ketiga puluh lima lintingan kertas itu ke dalam kotak, selesai mengocoknya mereka pun menghampiri orang- orang itu. Menanti ketiga puluh lima orang itu selesai mengambil gulungan kertas, terdengar Coh Tat berkata sambil tertawa, “Sekarang, silakan teman yang tidak mendapat angka untuk kembali ke bangkunya, terima kasih.” Dari sepuluh orang yang naik panggung, ada tujuh anggota Lokyang Capji Eng yang balik. Melihat itu Cau-ji segera berseru sambil tertawa, “Saudara Siang, kelihatannya juara pertama dalam lomba kuda hari ini akan dihasilkan oleh salah satu di antara ketiga orang Toako itu.” “Ahh, mana, mana,” sahut Siang Ci-liong sambil tertawa, “walaupun ilmu menunggang kuda yang dimiliki ketiga orang itu cukup tangguh, namun mereka tidak kenal lapangan ini, kudanya pun tidak begitu akrab, belum tentu harapan itu bisa kesampaian.” Sementara pembicaraan masih berlangsung, terdengar suara ringkikan kuda yang ramai berkumandang memecah keheningan, tampak dua puluh tujuh orang lelaki kekar dengan menunggang dua puluh tujuh ekor kuda bergerak lewat di depan panggung kehormatan. “Wouw, rupanya kuda jempolan dari Mongolia yang digunakan,” seru Siang Ci- liong terperanjat. Cau-ji sama sekali tak paham soal kuda, tapi melihat mimik kesembilan orang itu, dia tahu kuda-kuda itu pasti tak ternilai harganya. Terdengar Coh Tat berseru lagi dengan nyaring, “Di dalam kotak itu berisikan dua puluh tujuh angka, silakan anda antn mengambil nomor sesuai dengan angka undian yang anda ambil tadi dan memilih kuda sesuai dengan angka yang diperoleh dari kotak itu.” Seorang lelaki mendapat angkat delapan, maka kuda yang ditunggangi lelaki bernomor delapan segera mendekati mimbar. Tak lama kemudian sembilan ekor kuda sudah siap bertanding. “Silakan mengenakan mantel bernomor!” seru Coh Tat lagi. Tak lama kemudian semua peserta sudah mengenakan mantel bertuliskan angka. Maka sambil tertawa Coh Tat berseru kembali, “Silakan teman-teman membawa kuda masing-masing menuju ke jalur perlombaan.” Akhirnya diiringi suara gembreng yang keras, kesembilan ekor kuda lomba itupun meluncur ke depan. Teriakan penonton, sorak sorai yang gegap gempita pun berkumandang memecah keheningan.
Tiba-tiba terdengar Bwe Si-jin berbisik kepada Cau-ji dengan ilmu menyampaikan suaranya, “Cau-ji, coba tebak, mungkin tidak angka enam yang paman berikan kepada pelayan rumah makan itu keluar sebagai pemenang?” Mendengar bisikan itu tanpa terasa Cau-ji membayangkan kembali peristiwa itu, akhirnya tanpa sadar ia manggut-manggut sambil tertawa. Siang Ci-ing yang selama ini secara diam-diam mencuri pandang ke arahnya jadi keheranan setelah melihat anak muda itu mendadak tertawa, tegurnya keheranan, “Saudara Yu, kenapa tiba-tiba tertawa?” Cau-ji segera sadar akan kekilafannya, buru-buru sahutnya sambil tertawa, “Nona, membayangkan sikap kalian yang semula bermusuhan tapi sekarang malah bersahabat, aku jadi teringat dengan sandiwara panggung, oleh sebab itu aku menjadi geli maka tertawa.” Merah jengah wajah Siang Ci-ing, tanyanya mendadak, “Saudara Yu, apakah sore ini ada waktu?” “Tentu saja ada, aku memang banyak waktu menganggur, ada sesuatu nona?” Tiba-tiba dengan ilmu menyampaikan suaranya Siang Ci-ing berbisik, “Sore ini Lokyang Capji Eng akan mengadakan perjamuan penghormatan di rumah makan Ke-siong-lau, semoga saudara Yu sudi memberi muka dan bersedia menghadirinya.” Undangan ini membuat Cau-ji tertegun sesaat. Namun kemudian sambil menatap wajahnya yang cantik, dia tersenyum dan manggut-manggut. Siang Ci-ing tertawa, dia mengalihkan kembali pandangan matanya ke tengah arena perlombaan. Siang Ci-liong yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba berkata, “Ternyata saudara Yo cukup hebat, baru sepuluh putaran, ia sudah berhasil melampaui saudara Lim setengah badan kuda!” Ketika Cau-ji melongok ke arena, terlihatlah kesembilan ekor kuda itu berlarian saling mengejar dalam jarak tak jauh, khususnya ketiga saudara Lokyang Capji Eng, boleh dibilang mereka selalu berada di depan keenam penunggang kuda lainnya. Akhirnya enam perputaran kemudian kuda nomor enam dan kuda nomor tujuh hampir sejajar. Tapi pada perputaran terakhir, kuda nomor enam berhasil masuk garis finish duluan. Suara gembreng pun kembali dipukul keras-keras, kuda nomor enam dinyatakan sebagai pemenang. Cau-ji yang mengetahui hal ini ikut bersorak gembira. Para penonton mulai bubar, kecuali mereka yang pasang angka enam, boleh dibilang sebagian besar pulang dengan wajah murung dan lesu.
Kembali Coh Tat mengumumkan dengan suara nyaring, “Terima kasih atas kehadiran teman-teman semua, sobat nomor enam akan memperoleh hadiah sebesar seratus tahil emas murni, sementara delapan orang penunggang lainnya masing-masing mendapat hadiah sepuluh tahil emas, silakan naik ke panggung!” Dalam waktu singkat semua penunggang kuda itu sudah mendapatkan sebuah kotak kayu, ketika kotak dibuka, benar saja, isinya adalah uang emas murni.
Sambil menghela napas Siang Ci-liong pun berkata, “Saudara Yu, ternyata kalian memang pandai sekali berdagang, tak heran total transaksi yang berhasil kalian raih kian hari kian bertambah makmur.” “Hahaha, semua ini berkat rezeki dari kalian semua,” sahut Cau-ji sambil tertawa.
Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Saudara Siang, aku masih ada urusan lain, maaf kalau terpaksa harus mohon diri lebih dulu.” “Saudara Yu jangan lupa dengan perjamuan tengah hari nanti!” “Hahaha, aku pasti akan datang.” 0oo0 Belum lagi tiba di pintu gerbang rumah makan Jit-seng-lau, Cau-ji sudah mendengar suara petasan renteng yang berbunyi memekakkan telinga.
Seorang pemuda berteriak dengan penuh gembira, “Terima kasih, terima kasih!” Dia segera mempercepat langkahnya untuk mendekat, ternyata pemuda itu adalah sang pelayan rumah makan Ke-siang-lau yang sedang dikerumuni orang banyak.
Sementara dia masih tertawa geli menyaksikan adegan itu, terendus bau harum di samping tubuhnya, ternyata Siau-si dan Siau-bun telah muncul di hadapannya.
“Adik Cau,” terdengar Siau-bun menegur dengan ilmu menyampaikan suara, “kenapa kau tidak membangunkan kami berdua?” “Hahaha. kalian tidur sambil mendengkur, Siaute mana berani membangunkan.” “Kau….” Cau-ji tidak menggubris, tapi segera bertanya kepada orang yang berada di sampingnya, “Saudara cilik itu menang berapa?” “Dia pasang satu tahil perak dan berhasil menangkan seribu lima ratus tahil perak, coba lihat tampangnya begitu gembira, konon minggu depan dia akan menikahi kekasihnya….” Mendengar itu Cau-ji tertawa terbahak-bahak. Tampaknya pelayan itu segera mengenali suaranya, ia segera berpaling ke arah Cau-ji, tapi melihat wajahnya terasa asing, kembali ia tertegun. Saat itulah Bwe Si-jin dengan wajah tersenyum muncul di depan pintu.
Berkilat sepasang mata pelayan itu, segera teriaknya kegirangan, “Loya, terima kasih, terima kasih!” Kembali suara mercon renteng bergema memecah keheningan. “He, pelayan, memangnya kau ingin meledakkan tubuh Lohu?” seru Bwe Si-jin sambil tertawa. “Hahaha, tidak berani, tidak berani, terima kasih kepada Loya karena memberitahukan angka enam kepadaku hingga aku menang besar …
he, kemana perginya tongkatmu?” Pura-pura bermuram durja sahut Bwe Si-jin, “Sudah kugadaikan, Lohu pasang angka satu, akhirnya kalah besar.” “Aaaai, sayang, padahal kau suruh aku memasang angka enam, kenapa kau sendiri malah pasang angka satu?” “Itulah kalau kebanyakan minum sampai mabuk, padahal aku berniat pasang nomor enam, tapi tanganku jadi lemas hingga angka satu yang kutulis, sialan….” Cau-ji yang menyaksikan sandiwara itu kontan saja tertawa tergelak. Ternyata dengan wajah serius pelayan itu berkata, “Tak usah sedih Loya, biar hamba yang tebus tongkatmu, berapa banyak yang kau gadaikan?” “Soal ini….” Bwe Si-jin pura-pura termenung.
Cau-ji segera mengerti maksud pamannya, dengan ilmu menyampaikan suara segera bisiknya, “Paman, kerjai dia, bilang saja digadaikan lima ratus tahil perak.” Bwe Si-jin kembali berlagak menggeleng, katanya murung, “Tidak mungkin, kau tak mampu membayarnya.” * Dalam sangkaan pelayan itu, paling tongkat itu hanya digadaikan satu tahil perak, sambil tepuk dada serunya lantang, “Loya, kau telah membantu aku menangkan undian, kalau aku tak mau membantumu, berarti aku bukan manusia.” “Baiklah, aku telah gadaikan tongkat itu dengan lima ratus tahil perak.” Teriakan kaget bergema dari empat penjuru Pelayan itu sendiri nampak tertegun dan berdiri melongo. Diam-diam Bwe Si-jin tertawa geli, tapi di luar katanya cepat, “Sudahlah, biar Lohu usaha cara lain untuk menebus tongkat itu.” “Loya, tunggu sebentar, biar aku hitung dulu sisa uangku,” mendadak pelayan itu berteriak. Dengan ilmu menyampaikan suaranya Cau-ji segera berkata, “Paman, minggu depan pelayan itu mau kawin, mungkin dia sedang menghitung berapa beaya perkawinan yang dibutuhkan, hahaha ….” Bwe Si-jin segera tertawa, ditengoknya wajah pelayan itu sambil tersenyum. Selang beberapa saat kemudian terdengar pelayan itu berkata, “Loya, terus terang saja hamba akan menggunakan uang itu untuk membayar hutang lama serta beaya perkawinan minggu depan, kira-kira hamba butuh seribu tahil perak, bagaimana kalau hamba menghadiahkan empat ratus lima puluh tahil perak untuk menyokong Loya menebus tongkat itu, sementara kekurangannya yang lima puluh tahil terpaksa harus Loya usahakan sendiri?” Bwe Si-jin segera tertawa tergelak. “Hahaha, ternyata kau memang seorang pemuda yang tak lupa budi, Lohu hanya menggoda kau saja. Masa orang tua seusiaku juga ikut pasang lotere buntutan?” Kemudian setelah berhenti sejenak, tambahnya, “Kita bisa bertemu berarti kita memang berjodoh, saudara cilik, pada hari pernikahanmu nanti kau berencana mengundang berapa meja?” “Mungkin… mungkin tiga meja!” “Hahaha, bagus, pada hari perkawinanmu nanti Lohu akan membuka tiga puluh meja untuk merayakan hari kebahagiaanmu itu, undang saja semua sahabat dan sanak keluargamu, soal beaya biar Lohu yang bayar.” Pelayan itu terperangah, saking kagetnya dia sampai berdiri dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Dari sakunya Bwe Si-jin mengambil dua lembar uang kertas bernominal seratus tahil perak, sambil diserahkan kepada Ciangkwe rumah makan, serunya lagi, “He, Ciangkwe, ini uang mukanya, sampai waktunya tolong siapkan tiga puluh meja perjamuan dengan hidangan terbagus.” Tepuk tangan dan sorak memuji berkumandang dari kerumunan orang banyak. “Loya, mana boleh begitu?” teriak pelayan itu gelisah.
“Hahaha, saudara cilik, kau jujur dan tak lupa budi, lagi pula kita bisa bertemu berarti ada jodoh, sampai waktunya jangan lupa mengundang Lohu minum beberapa cawan arak. Sekarang aku agak lelah, mau beristirahat dulu.” Pelayan itu segera berlutut dan menyembah berulang kali. 0oo0 Tengah hari telah menjelang tiba. Cau-ji telah didandani dua bersaudara Suto, kini dia mengenakan baju berwarna biru, dengan langkah yang tenang berjalan masuk ke rumah makan Ke-siang-lau. Ciangkwe rumah makan itu segera merasakan matanya jadi silau, serunya diam-diam, “Tampan amat wajah pemuda ini!” la maju menyongsong sambil bertanya, “Tolong tanya apakah Kongcu bermarga Yu?” “Benar, aku datang memenuhi undangan,” sahut Cau-ji sambil tertawa. “Kalau begitu silakan ikut hamba!” Setelah menyeberangi kebun belakang, Cau-ji diajak masuk ke dalam sebuah paviliun kecil. Terlihat Siang Ci-liong telah menyambut di depan pintu dengan senyum di kulum. Lekas dia maju mendekat seraya menjura, “Maaf bila saudara Siang harus menunggu lama.” “Ah, mana, saudara Yu datang tepat waktu, silakan masuk.” Cau-ji mengikuti Siang Ci-liong memasuki sebuah ruangan yang cukup lebar, terlihat sebelas orang dari Lokyang Capji Eng sedang duduk menemani seorang pendeta tua berusia delapan puluh tahunan. Setelah memberi hormat kepada semua orang, terdengar Siang Ci-liong berkata dengan hormat, “Susiokco, saudara Yu adalah Yu Si-bun, Yu-tayhiap yang pemah menyelamatkan adik Ing dari cengkeraman iblis Yu Yong!” Sejak Cau-ji memasuki ruangan, pendeta tua itu mengawasi terus gerak- geriknya, maka begitu mendengar ucapan itu ia segera bertanya, “Omitohud, apakah saat ini sicu bekerja di rumah makan Jit-seng-lau?” Cau-ji dapat merasakan betapa tajamnya sorot mata pendeta tua itu, dia sadar orang ini pasti punya asal-usul yang luar biasa, hanya sayang dia tak bisa mengingat siapa gerangan dirinya. Buru-buru sahutnya, “Benar, cuma ada satu hal perlu Boanpwe jelaskan, orang yang tempo hari menyelamatkan nona Siang adalah saudara angkat Boanpwe, karena itu Boanpwe tak ingin menerima pahalanya.” Agak berubah paras muka Siang Ci-ing.
Sementara Siang Ci-liong segera bertanya, “Saudara Yu, tahukah kau saat ini Bwe-tayhiap berada di mana?” “Menurut apa yang Siaute ketahui, Bwe-toako telah menikah dengan Kim-leng Lihiap Go Hoa-ti, saat ini besar kemungkinan sudah hidup mengasingkan diri di luar perbatasan.” Tampak perasaan kecewa melintas di wajah Siang Ci-ing. “Siausicu,” terdengar pendeta tua itu berkata lagi, “Lolap lihat kau berwajah jujur dan lurus, kenapa mau bekerja di rumah makan Jit-seng-lau?” Diam-diam Cau-ji terkesiap, tapi sambil tertawa hambar sahutnya, “Cianpwe, Boanpwe hanya mendapat perintah dari ayahku untuk bekerja di sini, hingga sekarang belum kurasakan ada sesuatu yang aneh.” “Saudara Yu, boleh tahu siapakah ayahmu?” sela Siang Ci-liong. “Maaf saudara Siang, ayahku tak suka hidup dalam kancah dunia persilatan yang serba kalut, oleh sebab itu beliau telah berpesan agar tidak sembarangan menyebutkan nama dan asal-usulnya. Boleh tahu gelar Thaysu?” “Susiokco berasal dari Siau-lim, beliau bernama It-ci Thaysu!” Dari ayahnya, Ong Sam-kongcu, Cau-ji pernah mendengar kalau ada seorang pendeta saleh dari Siau-lim-pay yang ikut serta dalam operasi pemberantasan perkumpulan Jit-seng-kau di masa silam. Menurut ayahnya, It-ci Thaysu menderita luka parah dalam penyerbuan itu dan sudah puluhan tahun tak pernah muncul lagi, kemungkinan besar telah meninggal dunia, tak disangka hari ini ternyata pendeta ini muncul kembali dalam keadaan segar bugar. Segera Cau-ji menjatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali di depan pendeta itu.
Sebenarnya kedatangan It-ci Thaysu kali ini adalah lantaran dia mendengar Jit-seng-kau bangkit kembali dari liang kubur, bahkan membuka lotere ‘semua senang’ di rumah makan Jit-seng-lau, oleh sebab itu dia pun bergabung dengan Lokyang Capji Eng dan meluruk ke situ. Sejak mendengar perkataan Cau-ji tadi, sebetulnya It-ci Thaysu sudah merasa tak suka hati, dia terlebih tak menyangka kalau pemuda itu bakal memberi hormat di hadapannya. Sambil mendengus dingin ujung bajunya segera dikebaskan ke depan, niatnya mencegah Cau-ji menyembah lebih jauh. Siapa tahu kebutan yang menggunakan enam bagian tenaga Bu-siang-sin- kang itu bukan saja tak berhasil menghalangi Cau-ji melanjutkan niatnya, bahkan begitu terbentur Im-yang-khi-kang yang dihasilkan anak muda itu seketika terpental balik. Dalam kagetnya paras muka pendeta tua itu berubah hebat. Segera dia kebaskan tangannya berulang kali sebelum berhasil memunahkan tenaga pentalan itu. Semua yang hadir dalam ruangan rata-rata berilmu tinggi, tentu saja mereka pun dapat menyaksikan peristiwa itu, kontan paras muka setiap orang berubah hebat. “Hati-hati!” terdengar It-ci Thaysu membentak nyaring. Sambil tetap duduk bersila, tiba-tiba badannya melambung ke udara. Seketika itu juga Cau-ji merasakan ada segulung kekuatan tanpa wujud yang mengelilingi seluruh tubuhnya. Dalam keadaan begini lekas ia duduk bersila sambil merentangkan sepasang tangannya ke depan, dengan cepat tangan mereka saling menempel satu dengan lainnya. Kini kedua orang itu duduk saling berhadapan sambil beradu tenaga dalam. Cau-ji dapat merasakan ada dua gulung tenaga tekanan yang sangat kuat memancar keluar dari tangan pendeta itu, makin lama daya tekanan itu terasa makin berat, memaksanya mau tak mau harus mengerahkan pula tenaga dalamnya untuk melawan. Makin lama It-ci Thaysu makin gugup dan kaget. Kini dia sudah menghimpun seluruh kekuatannya, namun semua usaha itu tak menghabiskan apa-apa, bahkan setiap kali dia menambah kekuatannya, tenaga itu segera terpental balik. Dia tahu pemuda itu memang sengaja mengalah, maka dia semakin mempergencar serangannya, sebab dia tak yakin pemuda itu sanggup menghadapi tenaga Bu-siang-sin-kang yang telah dilatihnya hampir enam puluh tahun, menurut dugaannya, anak muda itu tentu mengandalkan ilmu sesat untuk membendung serangannya itu. Maka dia menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan menyerang lebih dahsyat.
Semua jago yang hadir dalam ruangan sudah tak tahan menghadapi aliran hawa murni yang menekan dada mereka, tak selang lama kemudian mereka sudah menonton jalannya pertarungan dari luar jendela. Entah berapa lama sudah lewat, mendadak terdengar pendeta itu mendengus tertahan, tubuhnya gemetar keras.
Melihat itu orang-orang yang berada di luar ruangan berbondong-bondong meluruk masuk ke dalam,. Dengan gerakan cepat Cau-ji mendorong sepasang telapak tangannya, menggunakan kesempatan di saat tubuh It-ci Thaysu agak terjengkang ke belakang, dengan cepat tangannya menghantam di atas dadanya, sementara peluh mulai membasahi jidatnya. Siang Ci-liong segera menghalangi rekan-rekannya menyerbu masuk, tegurnya dengan suara dalam, “Orang she Yu, mau apa kau?” Cau-ji membesut keringatnya sambil tertawa ewa, dia segera duduk di belakang punggung pendeta itu, menarik napas panjang dan menempelkan tangannya di atas jalan darah Beng-bun-hiat sembari menyalurkan tenaga dalam.
Dia sudah punya pengalaman ketika mengobati luka Siau-si sehingga tidak sulit untuk menyalurkan tenaga dalamnya ke tubuh It-ci Thaysu. Rupanya pertarungannya yang amat seru melawan Cau-ji membuat luka dalam It-ci Thaysu yang pernah dideritanya dulu kambuh kembali, tapi dia enggan menyerah kalah, akibatnya keselamatan jiwanya pun terancam. Untung saja Cau-ji segera menyadari akan hal itu dan cepat menarik kembali tenaga dalamnya. Dengan kesempurnaan tenaga dalam yang dimiliki Cau-ji, tidak sulit baginya untuk mengobati luka dalam pendeta itu. Setengah jam kemudian ia selesai menyalurkan tenaga dalamnya, dengan ilmu menyampaikan suara pemuda itupun berbisik, “Cianpwe, silakan atur napas beberapa putaran lagi, maafkan Boanpwe tak bisa menemani terlalu lama.” Habis berkata dia menghembuskan napas panjang dan bangkit berdiri. Baru beberapa langkah ia meninggalkan ruangan, Siang Ci-liong dengan penuh rasa kuatir telah bertanya, “Saudara Yu, bagaimana kondisi Susiokco?” “Tak masalah, hanya membuat lukanya kambuh.” “Saudara Yu, maafkan kesembronoan Siaute tadi.” “Aaah, urusan sepele, tak perlu dikuatirkan, selamat tinggal!” Dengan termangu Siang Ci-ing mengawasi pemuda itu berlalu dari situ, pikirannya terasa sangat kalut. 0oo0 Sekembalinya ke dalam kamar, baru saja Cau-ji mengambil tempat duduk, dua bersaudara Suto telah masuk ke dalam ruangan. Sambil tertawa Cau-ji berseru, “Cici, kebetulan kedatangan kalian, tolong bantu Siaute agar lebih santai.” Habis berkata ia bangkit berdiri dan mulai melepas pakaian. Segera Siau-bun membantu melepas pakaiannya. “Cau-te,” katanya merdu, “bukankah hari ini kau pergi memenuhi undangan cewek cakep? Kenapa badanmu jadi begini lusuh?” “Ya, benar,” sambung Siau-si keheranan, “bukan saja tidak terendus bau arak, bahkan mimik muka pun nampak lesu, memangnya kau sudah bertarung melawan Lokyang Capji Eng?” Dengan badan telanjang Cau-ji berjalan menuju ke kamar mandi, lalu sambil menceburkan diri ke dalam bak rendam, katanya sambil menghembuskan napas lega, “Cici, satu harian tadi Siaute telah bertarung melawan It-ci Thaysu dari Siau-lim-pay.” Secara ringkas ia menceritakan pengalamannya. Dalam pada itu Siau-si berdua telah melepaskan semua pakaian mereka, dengan tubuh telanjang bulat mereka mengurut dan memijat sekujur badan Cau-ji. Tak terlukiskan rasa nyaman yang dirasakan Cau-ji, katanya tiba-tiba sambil tertawa, “enci Si, enci Bun, kelihatannya aku akan merepotkan kalian berdua lagi.” “Adik Cau,” bisik Siau-si malu-malu, “kau toh sudah kecapaian, masa masih ingin begituan?” “Enci Si, sejak Siaute menghisap sari empedu naga sakti berusia seribu tahun, tenaga dalamku makin hari semakin bertambah, bagi Siaute tak ada istilah capai untuk berbuat begituan.” “Tapi aku sangat menguatirkan keselamatan It-ci Cianpwe sehingga seluruh badanku tegang, kini sudah santai maka aku butuh pelepasan yang nikmat.” “Adik Cau, cici kuatir tak bisa memuaskan napsu-mu yang luar biasa,” kata Siau-si sangsi. “Tidak masalah, Siaute bisa mengendalikan waktu untuk ‘setoran’!” “Kalau masih butuh pengendalian, berarti kau tak bisa mencapai tujuan akhir pelepasan yang santai, adik Cau, bagaimana kalau cici undang Siau-man, Siau- ting dan Siau-hong untuk membantu?” “Aku setuju sekali,” seru Siau-si sambil bertepuk tangan, “kami rasa, hanya berdua saja tak mungkin bisa membuatmu puas, adik Cau, bagaimana menurut pendapatmu?” “Hahaha, kalau memang diusulkan begitu, tentu saja Siaute tidak menolak.” “Adik Cau, sebenarnya rencana ini sangat sempurna,” kata Siau-bun lagi, “kau bisa menggunakan kesempatan ini untuk sekalian memboyong mereka pulang ke Hay-thian-it-si.” “Baiklah, sekarang cepat panggil mereka.” Siau-bun segera mengenakan kembali pakaiannya dan lekas berlari keluar. “He, cici Bun, ternyata kau tidak memakai celana dalam!” Siau-bun tahu Cau-ji sedang menggoda dia, maka sambil menyeringai, cepat ia kabur dari situ. “Cici,” ujar Cau-ji kemudian, “aku benar-benar lelaki paling hokki, bukan saja mendapat cewek cakep, bahkan amat pandai mengambil hati lelaki.” “Adik Cau, justru cici yang merasa paling beruntung,” kata Siau-si cepat, “kalau bukan bantuanmu, mana mungkin jalan darah Jin-meh dan Tok-meh di tubuhku bisa tembus? Bahkan mendapat kesempatan untuk masuk ke Hay- thian-it-si.” “Hahaha, cici kelewat sungkan.
Jangan kuatir, setelah tiba di rumah, Siaute akan minta tolong ibu untuk mengajarkan ilmu ranjang yang lebih hebat sehingga setiap kali mau begituan, tak perlu lagi mendatangkan pasangan dalam jumlah banyak, merepotkan!” Siau-si hanya menunduk dengan jantung berdebar keras. Saat itulah Siau-bun telah muncul kembali sambil membawa tiga orang gadis muda, begitu melangkah masuk ke dalam kamar mandi terdengar dia berteriak sambil tertawa, “Tongcu, Siau-man sedang tak enak badan, karena itu budak mengundang Siau-tho.” Sambil berkata, dengan cepat dia melepas semua pakaiannya. Ketiga orang gadis itu selesai memberi hormat segera melepas semua pakaiannya hingga telanjang bulat, kemudian beramai-ramai mendekati bak mandi. Terdengar Siau-tho yang memiliki buah dada paling montok berseru manja, “Tongcu, biar budak mandikan kau terlebih dulu, bagaimana?” “Baiklah!” sahut Cau-ji sambil meremas buah dadanya yang besar itu dan mempermainkannya. “Aaah, jangan begitu Tongcu, aku tak tahan,” seru Siau-tho sambil tertawa cekikikan. “Hahaha, Siau-tho, tetekmu sangat besar dan montok sekali, mestinya kau lebih cocok dipanggil Toa Tho si buah tho gede!” “Aaaah, Tongcu jahat,” seru Siau-tho sambil menyingkir ke samping, mula- mula dia membasahi dulu tubuh sendiri, kemudian dengan cepat menggosokkan buih sabun di seluruh tubuhnya. Siau-ting dan Siau-hong segera membantu Siau-tho, membubuhkan sabun di sepasang kakinya. Meski Cau-ji hanya mengawasi tingkah laku mereka dengan tersenyuman, namun dalam hati kecilnya ia berpikir, “Bukankah Siau-tho akan memandikan aku? Kenapa dia malah mandi duluan? Permainan apa lagi yang sedang dia persiapkan?” Dua bersaudara Suto tahu Siau-tho pernah belajar ilmu Yoga, dia selalu mengandalkan sepasang buah dadanya yang besar untuk menggosok seluruh badan tuan-tuan yang membutuhkannya, menggosok memakai buah dada memang jauh lebih merangsang ketimbang memakai tangan. Andaikata Cau-ji bukan seorang Tongcu, ia tidak tahu kalau ‘tombak’ miliknya panjang, besar dan keras, belum tentu Siau-bun mampu mengundang kehadiran Siau-tho. Terdengar Siau-tho tertawa jalang, Cau-ji segera merasakan ada segumpal tubuh yang halus, lembut dan empuk tak bertulang menempel rapat di punggungnya. Tampak sepasang lengan dan kaki Siau-tho direntangkan di sisi papan bak mandi itu, kemudian setelah menarik napas panjang, tubuh bagian depannya mulai bergetar keras. Menyusul kemudian mulai dada hingga pahanya ikut pula bergetar sangat keras. Mengikuti getaran yang terjadi, dia mulai menempelkan sepasang buah dadanya yang besar montok itu di punggung Cau-ji dan menggosoknya kuat- kuat. Seketika itu juga Cau-ji merasakan suatu kenyamanan yang tak terlukiskan dengan kata muncul di punggungnya, tak tahan ia berseru, “Siau-tho, hebat amat permainanmu ini.” Siau-tho tak bicara karena dia sedang mengeluarkan ilmu simpanannya. Siau-bun mewakilinya menjawab, katanya sambil tertawa, “Tongcu, inilah ‘body masage’ jurus simpanan Siau-tho, nikmatilah selagi sempat!” Cau-ji merasakan sekujur badannya gatal, kesemutan dan geli, napsu birahinya langsung saja membara, tombaknya yang terpijak di atas papan lamat- lamat terasa sakit, maka cepat dia memiringkan badannya, memberi kesempatan buat tombaknya untuk lebih bernapas lega. Siau-ting segera tertawa lirih, mendadak dia tekan badan Cau-ji hingga senjatanya terjepit di antara papan.
“Aduuuh!” tak tahan pemuda itu menjerit, ternyata tombak berikut sepasang pelurunya sudah terjepit di antara papan. Belum sempat dia mengucapkan sesuatu, sambil tertawa cekikikan Siau-ting dan Siau-hong sudah menerobos masuk ke bawah papan jepitan itu. Gerakan tubuh Siau-ting jauh lebih cepat dari rekannya, dia berhasil merebut tombak itu duluan, tanpa membuang waktu dia langsung menjejalkannya ke dalam mulut dan mulai menghisapnya. Siau-hong yang kebagian sepasang peluru tak hilang akal, dia jejalkan sebiji peluru itu ke dalam mulutnya dan mulai dijilat, disedot dan digigit perlahan. Selama hidup belum pernah Cau-ji menghadapi situasi semacam ini, dia merasakan satu rangsangan yang aneh muncul dalam hatinya, sekujur badan merinding, tak tahan ia menjerit tertahan. Siau-bun tidak memberi kesempatan untuk menjerit terus, dia rangkul tubuh pemuda itu dan menjejalkan bibirnya ke mulutnya, bukan cuma menciumnya dengan hangat, bahkan ujung lidahnya mulai menggeliat di dalam mulut pemuda itu. “Tongcu!” seru Siau-si sambil tertawa, “budak percaya, kaisar pun belum tentu pernah menikmati pelayanan semacam ini.” Sambil berkata dia mulai melakukan pijatan di seluruh badan anak muda itu. Cau-ji merasakan kesegaran dan kenikmatan yang luar biasa, demikian nikmat hingga tak dapat melukiskan dengan perkataan. Permainan syur yang dilakukan satu lelaki dilayani lima orang gadis muda pun segera berlangsung dengan gencarnya. Lewat beberapa saat kemudian terdengar Siau-tho berseru, “Tongcu, bagaimana kalau berganti posisi?” Mendengar usulan itu serentak para gadis meninggalkan sisi Cau-ji.
Terdengar Cau-ji menghembuskan napas panjang sambil berseru, “Ooh, Lohu nyaris habis dirampok oleh kalian!” Siau-tho segera membetulkan letak papan di bawah tubuh Cau-ji, kemudian ketika melihat tombak panjang miliknya berdiri tegak bagaikan sebuah tongkat baja, diam-diam ia menelan air liur. “Wouw, mestika yang gagah dan keren, tenaga dalam Tongcu memang luar biasa sempurnanya, tampaknya kau bisa tetap awet muda dan kuat dalam bekerja!” “Hahaha, memangnya kau sanggup menelan milikku sampai seutuhnya?” “Jangan kuatir Tongcu, dia itu kapal induk raksasa, biar satu kali lipat lebih panjang pun sanggup dia telan seutuhnya!” “Hahaha, kalau begitu telanlah!” Siau-tho mengerdipkan matanya yang sipit, sesudah menarik napas panjang, dia langsung duduk di atas pusaka itu. “Cluupppp!”, secara manis dan langsung, dia telan seluruh tombak itu hingga ke akar-akarnya. Baru pertama kali ini Cau-ji melenggang di tengah jalan bebas hambatan, tak tahan pujinya, “Waaah, barang bagus!” “Hihihi, nikmati saja Tongcu perlahan-lahan, pertunjukan lebih menarik masih ada di belakang.” Selesai berkata dia tempelkan payudaranya yang besar dan montok itu di atas dada Cau-ji. Pemuda itu segera merasakan tubuh gadis itu mulai bergoyang perlahan- lahan.
Kalau tadi menempel di belakang punggung masih tidak kentara nikmatnya, tapi sekarang, ketika tombak panjang sudah merogoh liang, ditambah gesekan sepasang buah dada yang begitu besar dan kenyal di atas dadanya, kontan saja pemuda itu merasakan kenikmatan yang luar biasa. Tak tahan lagi pemuda itu tertawa terbahak-bahak. Cau-ji tak ingin tangannya menganggur, maka dia mulai menggerayangi dada Siau-ting dan Siau-hong. Tinggal dua bersaudara Suto yang cuma menonton sambil tersenyum. Siau-tho punya satu julukan istimewa, dia disebut orang ‘setelah perang dingin’, selama ini dia selalu dapat membuat kaum lelaki mencapai puncak kenikmatannya dengan mengandalkan kehebatan ilmu yoganya, oleh sebab itu tak peduli melakukan goncangan yang menimbulkan suara nyaring. Kesan dua bersaudara Suto, selama ini Siau-tho belum pernah mengalami kegagalan, mereka berdua berharap hari inipun dia bisa memberi kenikmatan kepada Cau-ji hingga puncak kenikmatannya. Sebaliknya Siau-tho pun seorang jagoan ranjang yang sangat berpengalaman, kalau orang sudah biasa minum es di hawa dingin, maka tak sulit baginya untuk mengetahui panas dinginnya sesuatu.
Begitu pula dalam permainan ranjang kali ini, setelah memompa badannya berulang kali, dia mulai sadar bahwa dirinya tak mungkin bisa membawa lawannya mencapai puncak kenikmatan. Apalagi sambil menikmati serangan maut, pemuda itu masih menyempatkan diri meremas puting susu Siau-ting dan Siau-hong.
Diam-diam dia mulai gembira. Sudah cukup lama Siau-tho tak pernah merasakan puncak orgasme, sebab pada umumnya lawan mainnya selalu keok duluan sebelum dia merasa geli. Dan kini setelah melihat ada peluang besar baginya untuk merasakan orgasme, tak heran jika dia kegirangan setengah mati. Genjotan badannya mulai diperkencang, otot liangnya yang menyedot dan mengunyah pun semakin diperhebat. Cau-ji merasa liang milik perempuan itu seakan sedang dilanda gempa dahsyat, semua otot di dalam liang itu seakan-akan menghisap, menyedot, memilir dan mengunyah barang miliknya, membuat tombak mestikanya seakan- akan sebuah perahu yang sedang dihajar gulungan ombak dahsyat. Tak lama kemudian seluruh tubuh Siau-tho bergoncang keras, suara creeep … creep …
yang aneh pun mulai bergema di seluruh ruangan. Menyaksikan hal ini, para gadis lainnya hanya berdiri tertegun dengan mulut melongo. Sebaliknya Cau-ji tertawa keras, tertawa penuh kemenangan. Dia sudah merasakan getaran keras dari liang surga Siau-tho, ia tahu gadis itu sudah tak mampu mengendalikan diri lagi. Maka dengan suara keras teriaknya, “Kalian cepat benahi papan itu, lihat kehebatan milikku!” Sambil berkata dia membalikkan badannya secara tiba-tiba, kemudian mengambil alih peranannya dengan menusukkan tombaknya dengan gencar.
Untung saja papan kayu itu sudah dipegangi empat gadis, kalau tidak, di bawah gerakan Cau-ji yang luar biasa, entah apa jadinya. Siau-tho segera merasakan liang surganya ditekan sedemikian rupa hingga bergetar keras, cepat dia himpun tenaga dalamnya berusaha melindungi liang kecil miliknya itu.
Cau-ji tidak tahu perempuan itu memiliki ilmu melindungi lubang, melihat serangan yang dilancarkan tidak membuatnya berteriak minta ampun, dia segera mengubah taktik perangnya. Sepasang kaki Siau-tho segera direntangkan di atas bahunya, kemudian sambil membentak nyaring dia mulai menusuknya secara bertubi-tubi. Kali ini Siau-tho tak bisa menghindarkan diri lagi, baru tiga puluh kali tusukan dia sudah menjerit-jerit kenikmatan. “Hahaha, aku tidak percaya kau tidak menyerah!” seru Cau-ji sambil tergelak. Kini dia memperlambat gerakan tusukannya, cuma setiap kali menusuk dia selalu menusuk sangat dalam, hingga menyentuh dasarnya, benturan demi benturan yang keras membuat cewek itu mulai gemetar keras. Gemetar yang dia perlihatkan memang merupakan reaksi alami, bukan getaran yang dihasilkan oleh ilmu yoga seperti tadi, bisa disimpulkan betapa menikmatinya gadis itu. Sekuat tenaga dia menggoyang tubuhnya kian kemari, sambil bergoyang teriaknya keras, “Ayo … lebih keras lagi… aduuuh…
lebih keras lagi… aduh … aduuh … Tongcu… aku… aku mau mati… aaaah ….” “Hahaha, aku selalu memenuhi permintaan orang, nah, Siau-tho, bersiaplah untuk mati.” “Oooh … aaah … aduh … aduh … ya ampun … Tongcu … ooh …
Tongcuku sayang … aduh … mati … mati aku….” “Hahaha….” “Aaaaah….” “Hahaha….” Selesai tertawa Cau-ji segera berseru, “Siau-ting, sekarang giliranmu naik ranjang! Siau-hong, kau rawat Siau-tho!” Dengan perasaan terkejut bercampur gembira Siau-ting melompat naik ke atas ranjang, baru saja dia merentangkan kakinya lebar-lebar, Cau-ji sudah menindih di atas badannya dan langsung menusukkan senjatanya ke dalam liang surganya. “Woouw, besar amat milikmu Tongcu!” “Hahaha, Siau-ting, tadi kau sudah menghisap milikku cukup lama, masakah masih belum tahu kalau punyaku gede?” “Tapi Tongcu, milikmu sekarang bertambah gede!” “Hahaha, ayo mulai goyang!” “Tongcu, aku sedang merasakan betapa sesaknya liangku setelah kau tusuk, saking asyiknya sampai lupa untuk goyang….” “Hahaha, Siau-ting, tak kusangka dengan usiamu yang begitu muda, ternyata caramu bergoyang sudah amat berpengalaman.” Suto bersaudara yang sedang membantu Siau-tho membersihkan badan segera saling pandang sambil tersenyum. Baru saja mereka balik kembali ke dalam kamar setelah mengantar Siau-tho beristirahat, dilihatnya Siau-ting sudah mulai mengoceh tak karuan, jelas cewek inipun sudah mendekati puncak kenikmatan.
“Siau-hong!” Siau-bun segera berseru sambil tertawa, “sekarang tiba giliranmu, aku usulkan lebih baik kau bersikap aktif, kalau tidak, sebentar lagi bisa keok.” “Hihihi, aku memang berencana begitu.” Cau-ji yang mengikuti pembicaraan itu segera berseru sambil tertawa, “Hahaha, Siau-hong, kalau memang sudah siap, sekarang giliranmu naik ranjang!” Habis berkata dia segera melepaskan Siau-ting. “Siau-ting, kau baik-baik saja?” bisik Siau-hong. “Aaai, bukan cuma baik, aku benar-benar merasakan kenikmatan yang luar biasa.” Seraya berkata dia meluncur turun ke bawah ranjang dengan badan lemas. Kini Cau-ji mulai menusuk liang milik Siau-hong, bahkan sekarang dia membantu cewek itu untuk bergoyang ke sana kemari. Kenapa Cau-ji harus membantunya? Ternyata sejak menelan tombak panjangnya tadi, Siau-hong seolah sudah kena tenung, tubuhnya bergoyang kian kemari seperti orang kalap.
Meskipun goyangan kalap itu membuat Cau-ji merasakan kenikmatan yang luar biasa, namun dia pun kuatir mestikanya lecet gara-gara gerakan tubuhnya yang ngawur, itulah sebabnya dia membantunya bergerak. Setelah mengantar Siau-ting dan balik lagi ke kamar, Siau-si jadi keheranan setelah melihat tingkah-laku Siau-hong yang aneh, tanpa terasa tanyanya, “Adikku, tampaknya Siau-hong agak kurang beres?” “Cici, aku sendiri pun kurang jelas, tapi dalam tiga bulan belakangan konon dia hanya pernah menemani Ciangkwe tidur semalam, lebih baik kita lebih berhati-hati!” Sambil tersenyum mereka segera mendekati ranjang. Ketika Siau-si mencoba menggenggam tangannya, terasa tangan kanan Siau- hong dingin bagaikan es, dia sadar, cewek itu pasti merasa sangat tegang. “Kenapa kau Siau-hong?” tegur Siau-si kemudian dengan lembut. “Aku ….” ternyata Siau-hong tak sanggup bicara. Waktu itu Cau-ji merasa liang surga milik cewek itu menghisap kencang, pada mulanya dia mengira gadis itu sudah mencapai puncaknya, tapi lama kelamaan dia mulai merasa gelagat tidak beres, sebab sedotan itu makin lama semakin mengencang. Ketika diamati lebih seksama, tampak senyuman masih menghiasi wajahnya, namun sorot matanya penuh dengan perasaan terkejut bercampur takut. “Siau-hong” tegurnya kemudian, “apa yang sebenarnya kau takuti?” Siau-hong terkesiap, jeritnya, “Aku…” Paras mukanya berubah makin parah. Cau-ji segera merasa lubang surganya kembali mengencang, secara otomatis dia mengangkat tubuh cewek itu dan didudukkan ke ranjang. Kemudian sambil mengaduh pemuda itu memegangi ujung senjatanya, dari mimik mukanya kelihatan kalau Cau-ji sedang kesakitan. Dengan ketakutan Siau-hong segera menjatuhkan diri berlutut di lantai. “Siau-hong, apa yang terjadi?” tegur Cau-ji dengan suara lembut “Tongcu, aku….” Melihat mimik muka Siau-hong yang ketakutan, dengan ilmu menyampaikan suaranya Siau-si segera berbisik, “Adik Cau, tampaknya selama tiga bulan terakhir dia telah mengalami satu kejadian aneh, kau jangan membuatnya ketakutan.” Cau-ji manggut-manggut, katanya, “Siau-hong, coba kalian bicara bertiga, kalau ada persoalan katakan kepadaku, pasti akan kubantu penyelesaiannya.” Sambil berkata dia menuju ke kamar mandi untuk membersihkan badan. Lekas Siau-bun melayaninya mandi, lalu sambil membantunya mengenakan pakaian, katanya lagi, “Adik Cau, tolong keluarlah dulu, agar kami ada kesempatan bicara.” Cau-ji tertawa getir, dia pun segera berjalan keluar.
Tiba di luar pintu Cau-ji menuju ke kebun belakang, di situ tampak aneka bunga tumbuh dengan indahnya. Sambil tertawa geli pikirnya, “Tak nyana pertarungan dengan Siau-tho sekalian telah menyita banyak waktu, aaah, mumpung tak ada urusan, baiklah aku jalan-jalan keluar rumah.” Dengan kecepatan tinggi dia segera menyelinap keluar dari rumah dan menuju keluar kota. Ketika mendekati tempat berlangsungnya pacuan kuda pagi tadi, mendadak dari kejauhan terdengar suara ujung baju yang tersampuk angin. Dengan sigap Cau-ji berpaling, terlihat ada empat orang perempuan dengan menggotong sebuah tandu indah sedang bergerak mendekat. Sungguh cepat gerakan tubuh orang-orang itu. hanya dalam waktu singkat mereka sudah berada semakin dekat. “Aaah, sungguh hebat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang-orang itu.” pikir Cau-ji dengan terkesiap, “entah malaikat atau dewa mana yang berada dalam tandu itu?” Dengan perasaan keheranan dia segera menyingkir ke sisi jalan dan mengawasi keempat orang perempuan itu. Ternyata keempat orang perempuan itu berbaju merah, mukanya kelihatan menor dengan perawakan tubuh genit, usianya seputar tiga puluh tahunan. Dari gerakan tubuh mereka yang begitu enteng, cepat dan santai meski sedang menggotong sebuah tandu besar, dapat diduga kungfu yang mereka miliki sangat tangguh. Keempat orang wanita itu bergerak sambil memandang ke muka, mereka seakan sama sekali tak melihat kehadiran Cau-ji di situ. Tapi ketika tandu itu baru akan melalui hadapannya, mendadak terdengar seseorang membentak nyaring dari balik tandu, “Berhenti!” Keempat orang wanita cantik itu segera menghentikan langkahnya, di antara bergoyangnya tirai di depan tandu, tampak seorang wanita berusia tiga puluh lima tahunan muncul melongok dari balik tandu.
“Saudara cilik,” terdengar perempuan itu menyapa dengan suara merdu, “kenapa kau berjalan seorang diri dalam cuaca demikian indah? Apakah ada persoalan yang sedang mengganjal hatimu?” Cau-ji semakin keheranan, belum sempat dia mengucapkan sesuatu, terdengar perempuan itu kembali berkata, “Malam sudah makin larut, apakah adik cilik sedang memikirkan angka berapa yang bakal keluar dalam periode ‘semua senang’ yang akan datang?” Ketika mendengar perkataan itu, keempat orang wanita cantik yang selama ini hanya berdiri dengan wajah dingin segera tertawa dingin. Wanita cantik dalam tandu kembali tertawa terkekeh, katanya, “Saudara cilik, kalau dilihat tampangmu seperti orang terpelajar, kenapa bisa terpikat main tebakan angka macam ‘semua senang’?” Dengan santai Cau-ji menyahut, “Orang bilang burung mati lantaran makanan, manusia mati lantaran harta, orang pun bilang, seorang enghiong sulit menghindari godaan wanita, wanita cantik sulit menghindari godaan harta. Uang dalam jumlah banyak begitu memikat hati, siapa yang tak mau memikirkannya?” Kembali perempuan cantik itu tertawa terkekeh. “Saudara cilik, pepatahmu kurang tepat, contohnya cici, aku selalu menganggap harta bagai sampah, lahir tidak membawa harta, mati pun tak bisa membawa apa-apa, buat apa mesti dirisaukan?” “Hahaha, nona hidup dalam keluarga yang berlimpah, sandang pangan berkecukupan, keluar masuk naik tandu megah, tentu saja kau tak bisa merasakan penderitaan orang miskin. “Beda dengan Cayhe, sejak kecil hidup susah, sudah terbiasa hidup menyerempet bahaya dan mencari ketegangan, gara-gara pasang ‘semua senang’, entah berapa ratus kali aku mesti merogoh kocek. “Kini kecuali satu stel pakaian yang kukenakan, boleh dibilang sepeser pun aku tak punya, kini aku sedang berusaha jalan-jalan sambil mengais rezeki, siapa tahu bisa kutemukan hancuran perak yang berserakan di jalanan ini.” Mendengar perkataan itu, sekali lagi perempuan cantik itu tertawa cekikikan, saking kerasnya tertawa sampai seluruh tandunya bergoncang keras. Suara tawanya begitu memikat dan membetot sukma, membuat Cau-ji yang mendengar seketika terkesima dibuatnya, tanpa terasa dia maju beberapa langkah ke muka dan mendekati tandu mewah itu. Keempat orang wanita cantik itu hanya meliriknya sekejap dengan pandangan dingin, mereka sama sekali tak bergerak, berbicara sekecap pun tidak. Sambil tertawa perempuan cantik itu mengamati sekujur badan Cau-ji dari atas hingga ke bawah, melihat tubuhnya yang kekar dan wajahnya yang begitu tampan, kelihatannya ia pun sangat tertarik, terdengar suara tawanya makin merdu dan genit. Sewaktu masih berada di rumah makan Jit-seng-lau tadi, hasrat birahi Cau-ji tak kesampaian gara-gara ulah Siau-hong yang aneh. sekarang setelah mendengar suara tawanya yang begitu merdu, kontan saja birahinya berkobar kembali. Dengan termangu dia berdiri di sisi tandu sementara matanya mengamati sekujur badan perempuan itu tanpa berkedip. Sejak melihat kegantengan Cau-ji, sebenarnya perempuan cantik itupun merasakan tubuh bagian bawahnya gatal sekali, maka begitu melihat anak muda itu menghampiri tandunya, dengan nada genit dia segera berseru, “Saudara cilik, kau pandai amat bergurau, dengan kegantengan wajahmu, kau masih kekurangan wanita cantik?” Ucapan itu seketika membuat Cau-ji terperanjat, tanpa terasa dia melompat mundur sejauh beberapa langkah, kemudian mengawasi perempuan cantik itu tanpa berkedip. “Saudara cilik, siapa namamu?” tanya perempuan cantik itu lagi.
Kini Cau-ji sudah meningkatkan kewaspadaannya, diam-diam dia menghimpun hawa muminya untuk melindungi badan, namun di luar dia tetap berkata santai,'”Ada apa? Memangnya kau ingin mencarikan jodoh untukku?” “Hehehe, boleh dibilang begitu, saudara cilik, nona macam apa sih yang kau sukai?” “Hahaha, asal ada nona yang sepersepuluh bagian seperti dirimu, aku rasa itu sudah lebih dari cukup, atau mungkin harus mencarikan wanita yang sepuluh kali lipat lebih cantik dari keempat wanita penggotong tandumu itu.” Ternyata Cau-ji sudah merasa sangat muak menyaksikan tampang sok suci dari keempat wanita penggotong tandu itu, dia memang sedang mencari peluang untuk mengumpat mereka. Benar saja, segera terdengar seseorang mendengus dingin, dengan penuh amarah keempat orang wanita itu mengumpat, “Bajingan sialan, besar amat nyalimu!” “Ji-cun, jangan ribut dengan saudara cilik ini,” perempuan cantik dalam tandu segera menegur sambil tertawa, “aku lihat bocah ini hanya mengajak kalian bergurau, mana mungkin kecantikanku bisa mengalahkan kalian berempat?” “Hahaha, tepat sekali,” sambung Cau-ji lagi sambil tertawa tergelak, “marah adalah musuh mematikan kaum wanita, jika kau marah, kelihatannya aku mesti mencari wanita yang seribu kali lipat lebih cantik darimu, hahaha” Ji-cun, wanita yang berdiri di sisi kiri tandu kontan mengumpat, “Sialan kau, jangan bicara seenaknya, kalau sampai bikin hatiku panas, hmmm! Akan kusuruh kau mencicipi siksaan yang paling tak sedap.” “Hahaha, apanya yang tak sedap? Paling juga menggonggong macam anjing, sebab anjing yang banyak menggonggong pertanda tak galak, hahaha, atau jangan-jangan kau memang anjing goblok?” “Kau….” “Kau, kau … kenapa? Ayo maju kemari kalau berani!” Ji-cun benar-benar naik darah, sambil berpekik nyaring teriaknya, “Hu-kaucu, hamba ingin menghajar bajingan cilik ini, apakah aku boleh turun tangan?” “Terserah, cuma jangan sampai bikin malu perkumpulan kita, turunkan tandu!” Ji-cun segera menurunkan tandunya, kemudian berteriak, “Bajingan, ayo turun tangan!” Cau-ji sengaja melepas pakaiannya, kemudian berteriak, “He, kenapa kau tidak lepas celanamu?” Ji-cun merasa malu bercampur gusar, sambil membentak tubuhnya menerjang ke muka, sepasang telapak tangannya langsung mengancam jalan darah penting di depan dada lawan. Cau-ji tertawa dingin, kembali ejeknya, “Hmm, kalau enggan melepas sendiri, biar aku yang melepas celanamu.” Sambil mengegos ke samping, telapak tangan kanannya langsung membabat pinggang perempuan itu. Ternyata ilmu silat yang dimiliki Ji-cun cukup tangguh, melihat serangannya mengenai tempat kosong ia segera mengegos ke samping menghindari bacokan lawan, pada saat bersamaan kembali dia melancarkan sebuah pukulan menghantam dada kiri pemuda itu.
“Serangan bagus!” hardik Cau-ji, tangan kirinya segera didorong ke muka menyongsong datangnya ancaman itu. “Blaaam!” Bentrokan nyaring bergema memecah keheningan, tampak Ji-cun mendengus tertahan, tubuhnya seketika terpental sejauh beberapa meter, dadanya bergelombang tak teratur, mukanya dicekam perasaan terkejut bercampur ngeri. Tampaknya wanita cantik dalam tandu itupun tidak menyangka kalau seorang pemuda bloon ternyata memiliki kepandaian silat yang begitu tangguh, segera bentaknya, “Su-ki-hong (merah empat musim)!” Ketiga orang wanita cantik lainnya segera melompat masuk ke dalam arena dan masing-masing berdiri di empat penjuru mengepung Cau-ji di tengah.
“Su-ki-hong, merah empat musim. Bagus, hari ini akan kuberi pelajaran kepada kalian, agar muntah darah, merah empat musim akan kuubah menjadi darah empat penjuru!” “Serang!” bentak Ji-cun tiba-tiba. Pergelangan tangan kanannya digetarkan, seutas angkin berwarna merah bagaikan seekor ular berbisa langsung mengancam jalan darah Hian-ki-hiat di tubuh pemuda itu.
Tiga orang perempuan lainnya sama sekali tak bicara, mereka langsung melancarkan serangan mengancam jalan darah penting di seluruh tubuh pemuda itu. Cau-ji mengejek sinis, dengan ilmu gerakan tubuh Pat-kwa-yu-liong-sin-hoat (naga sakti patkwa) dia berkelebat kian kemari di antara sambaran angkin perempuan-perempuan itu. “Hmm, ternyata murid kawanan hidung kerbau Bu-tong-pay,” jengek wanita cantik dalam tandu itu sinis, “Su-ki-hong, warna merah menyelimuti kolong langit!” Begitu mendapat perintah, Ji-cun berempat segera memutar senjata angkinnya makin gencar, dalam waktu singkat mereka telah membentuk barisan angkin sakti untuk menghajar Cau-ji. Jangan dilihat hanya kain yang beterbangan di angkasa, padahal di balik kibaran kain itu justru terkandung tenaga dalam keempat wanita itu, jangan kan tubuh manusia, batu cadas dan kayu pun akan hancur berantakan bila tersambar. Cau-ji mengubah gerakan tubuhnya berulang kali, belum sampai setengah jam, ia sudah menggunakan gerakan tubuh dari aliran Bu-tong, Tiong-lam serta Thian-san, tapi sayang dia belum berhasil juga berada di atas angin. Tenaga pukulannya sudah diperkuat berlipat ganda, tubuhnya bergerak semakin cepat. Tapi keempat orang wanita itu masih mengurungnya rapat-rapat, kekuatan serangan yang dipancarkan Cau-ji hanya mampu mementalkan kain-kain angkin itu, tapi tak mampu menghancurkannya. Semakin menyerang keempat orang wanita itu bertambah kosen, beberapa kali pihak lawan berhasil menyarangkan serangannya melalui sudut yang sama sekali tak terduga. Beberapa kali Cau-ji tak berhasil menghindarkan diri hingga terhajar oleh serangan lawan, untung tubuhnya dilindungi hawa murni Im-yang-khi-kang yang dahsyat sehingga serangan lawan tak sampai melukai tubuhnya. Walau begitu, tak urung Cau-ji mundur juga dengan sempoyongan. Gagal melepaskan diri dari kepungan lawan, lama kelamaan Cau-ji jadi naik pitam, pikirnya, “Sialan, kalau tidak kulukai mereka, tampaknya aku yang bakal konyol” Begitu mengambil keputusan, dia segera menyalurkan tenaga dalamnya untuk melindungi badan, lalu dengan berpura-pura terdesak hebat dia mundur berulang kali. Padahal sembari mundur, matanya yang jeli mengawasi terus gerak-gerik lawan, dia menunggu kesempatan untuk melancarkan serangan mematikan. Benar saja, beberapa gebrakan kemudian ia saksikan Ji-cun sedang menggerakkan tangan kirinya ke atas Cepat badannya menggelinding di tanah sambil merangsek ke muka, tangan kanannya melancarkan sentilan jari sementara tangan kirinya melepaskan bacokan. Peristiwa ini terjadi sangat mendadak, baru saja Ji-tong merasakan dadanya kesemutan karena tersentil serangan lawan, tahu-tahu lambungnya sudah termakan pukulan secara telak. Diiringi jerit kesakitan, tubuhnya terpental sejauh beberapa meter ke belakang. Perempuan cantik dalam tandu itu segera berpekik nyaring, tubuhnya melesat keluar dari tandunya dan menyambar tubuh Ji-tong.
Menggunakan kesempatan baik ini Cau-ji merangsek maju lebih ke depan, sekali lagi dia melancarkan dua serangan berantai ke arah Ji-he. Waktu itu Ji-he sedang tertegun karena melihat Ji-tong terluka, serangan Cau-ji yang tahu-tahu muncul di depan mata membuatnya gugup bercampur panik. Tergopoh-gopoh dia melancarkan bacokan berantai, sementara tubuhnya mengegos ke samping.
Sekalipun dia sudah menghindar dengan cepat, tak urung lengan kanannya tersentil juga, kontan lengan itu terkulai lemas. Ji-cun dan Ji-ciu yang menyaksikan kejadian itu serentak membentak nyaring, empat lembar angkin secepat kilat meluncur ke punggung Cau-ji. Seakan tidak melihat datangnya serangan itu, sepasang tangannya langsung dibacokkan ke tubuh Ji-he yang masih sempoyongan. Terdengar jerit kesakitan bergema di angkasa, sambil muntah darah Ji-he mencelat ke belakang. Tapi punggung Cau-ji pun terhajar oleh keempat lembar angkin itu, sambil mendengus tertahan dia maju dengan langkah terhuyung. 0oo0.
Bab. VI. Membantai Hu-kaucu dengan akal.
Ketika perempuan cantik itu berhasil menyambar tubuh Ji-tong, ia segera saksikan di antara muntahan darahnya telah bercampur dengan gumpalan darah hitam, ia segera tahu kemungkinan hidup anak buahnya kecil sekali. Maka begitu melihat tubuh Ji-he mencelat ke belakang, dia jadi teramat gusar. Sambil menurunkan tubuh Ji-tong, ia berpekik nyaring, segulung angin puyuh langsung mengurung sekujur badan Cau-ji. Melihat tak ada peluang lagi baginya untuk menghindar, terpaksa sambil mengertak gigi dia melepaskan sebuah pukulan pula dengan tangan kirinya untuk menyambut datangnya serangan itu. Di antara pasir dan debu yang beterbangan, terlihat dua sosok bayangan manusia terpental mundur sejauh empat meter lebih. Belum sempat Cau-ji berdiri tegak, tahu-tahu badannya terasa mengencang, ternyata keempat anggota badannya sudah terlilit oleh senjata angkin di tangan Ji-cun dan Ji-ciu hingga badannya roboh terjengkang ke tanah. Terasa senjata angkin itu melilit badannya makin kencang, tubuh Cau-ji sudah tertarik hingga berada di hadapan kedua orang wanita itu. “Bangsat, mampuslah!” teriak Ji-cun sambil mengayunkan tangan kanannya siap melancarkan pukulan mematikan. “Tangkap hidup-hidup!” mendadak perempuan cantik dalam tandu itu menghardik. Dari serangan pukulan Ji-cun segera berubah jadi serangan totokan, dia totok jalan darah kaku di tubuh Cau-ji. Dengan langkah lambat perempuan cantik itu berjalan mendekati Cau-ji, lalu ujarnya dengan suara berat, “Kalian segera kubur mayat Ji-he dan Ji-tong, lalu gotong tandu itu ke dalam hutan, aku akan menelan hidup-hidup bocah ini!” Selesai mengikat tubuh Cau-ji, Ji-cun dan Ji-ciu pun berlalu untuk mengubur mayat rekannya. Dari dalam sakunya perempuan cantik dalam tandu itu mengeluarkan sebuah botol, dari dalam botol menuang keluar sebutir pil berwarna merah membara yang segera dijejalkan ke mulut Cau-ji, kemudian ujarnya dengan nada menyeramkan, “Bocah keparat, mati di bawah bunga Botan, biar jadi setan pun pasti romantis, kau jangan salahkan aku Cin Se-si lagi!” Habis berkata dia kempit tubuh Cau-ji dan dibawa menuju ke tengah hutan. Ketika mendengar nama “Cin Se-si”, Cau-ji merasa seakan nama itu sangat dikenalnya, setelan berpikir sejenak dia pun segera sadar kembali. Ternyata perempuan cantik ini tak lain adalah salah satu Hukaucu atau wakil ketua Jit-seng-kau, kenyataan ini membuatnya amat terkesiap. Dari cerita Bwe Si-jin dapat diketahui bahwa perempuan ini bukan saja berambisi besar dan kejam, bahkan jalangnya bukan kepalang, tak terhitung sudah manusia yang mati di atas tubuhnya. Konon kebanyakan orang yang mati di atas tubuhnya lantaran kehabisan tenaga lelakinya yang disedot habis, kematian mereka biasanya sangat mengenaskan. Cau-ji tahu obat yang dijejalkan ke dalam mulutnya tadi pasti salah satu obat perangsang, tapi dia tidak kuatir, pemuda itu percaya dengan tenaga murni naga sakti, dia tak akan mempan diracuni. Cau-ji mulai berencana bagaimana caranya memanfaatkan siasat lawan untuk menjebaknya, yaitu mengggunakan tenaga Kui-goan-sin-kang untuk ganti menyedot hawa kewanitaannya. Dalam pada itu Cin Se-si sudah menurunkan Cau-ji dan mulai menanggalkan pakaiannya satu per satu. Jangan dilihat usianya sudah mendekati empat puluh tahunan, ternyata kulit badannya masih putih halus, khususnya sepasang buah dadanya serta bagian bawah tubuhnya, semua nampak masih segar, kencang bahkan jauh melebihi milik nona muda. Sepasang buah dadanya yang bulat mendongak ke atas, pinggangnya yang ramping bagai tubuh ular, bagian bawah tubuhnya yang menonjol tinggi ke depan, bulu bawahnya yang hitam pekat bagai hutan belantara serta pahanya yang putih mulus, seketika membuat napsu Cau-ji ikut bangkit. Andaikata perempuan itu bukan seorang iblis wanita yang amat cabul, Cau-ji ingin sekali memeliharanya agar bisa menikmati tubuhnya setiap saat. Sebab meski enci Jin, enci Si dan enci Bun terhitung gadis cantik bak bidadari dari kahyangan, namun mereka selalu tampil anggun, lemah lembut dan mendatangkan rasa hormat, mereka sama sekali tidak memiliki kematangan serta kejalangan perempuan ini. Cin Se-si tertawa jalang berulang kali, sambil membungkukkan badan dia mulai melucuti seluruh pakaian yang dikenakan Cau-ji. Begitu melihat burung Cau-ji yang sudah berdiri tegak bagai sebatang tombak, tak tahan lagi perempuan itu berseru kaget, “Woouw, ternyata burungmu sangat gede, sebuah pusaka yang hebat!” Kemudian setelah mengocok burung itu beberapa kali, dia berkata lagi sambil tertawa, “Betul-betul benda keramat, tidak kalah dibandingkan milik Bwe Si-jin si setan sialan itu!” Dia segera menjejalkan burung itu ke dalam mulutnya dan mulai menghisap sambil menggigitnya perlahan. Diam-diam Cau-ji menghela napas panjang, ternyata Bwe Si-jin memang tak malu disebut kekasih berwajah kumala, biarpun sudah berpisah lama, ternyata iblis wanita ini masih sulit melupakan besarnya barang milik pamannya itu. Cau-ji dapat merasakan ilmu menghisap yang dimiliki Cin Se-si ternyata jauh lebih hebat ketimbang ilmu menghisap kawanan gadis lainnya, terutama ketika dia menghisap burungnya hingga masuk ke dalam tenggorokannya, ternyata wanita itu mampu menelan seluruh miliknya hingga dapat menggigit ujungnya.
Kenikmatan yang luar biasa membuat Cau-ji mendesis lirih, badannya ikut gemetar keras. Cin Se-si adalah seorang jagoan dalam berhubungan intim, dia tahu pemuda itu belum pernah merasakan rangsangan dan kenikmatan semacam ini, maka dia melanjutkan kembali hisapannya sambil menggigit seluruh bagian burung itu.
Cau-ji merasakan seluruh badannya terasa nyaman, andaikata tubuhnya tidak dilindungi oleh sari tenaga dari naga sakti berusia seribu tahun, kemungkinan besar dia sudah mencapai puncak orgasme berulang kali. Setelah mengeluar tombak itu dari mulutnya, kembali Cin Se-sih berkata sambil tertawa jalang, “Saudara cilik, ternyata kau memang punya kelebihan daripada lelaki lain, kehebatanmu membuat cici bertambah suka!” Habis berkata dia segera merentangkan kakinya sambil berjongkok ke bawah, “Cluuupppp!”, seluruh lubang surganya sudah dibenamkan ke bawah untuk melahap habis tombak pusaka lawan. Cau-ji dapat merasakan betapa lebar dan longgarnya lubang surga milik perempuan itu, dia tahu lawannya adalah seorang ‘panglima perang yang banyak pengalaman’, berarti jika dirinya kurang hati-hati, bisa jadi nyawanya akan terancam, diam-diam ia terkesiap. Sementara itu Cin Se-si sudah menarik napas panjang, lubang surganya yang semula longgar tiba-tiba menyusut mengecil, bukan saja telah membungkus seluruh tombak milik Cau-ji, bahkan ujung tombaknya yang menempel di dasar lubang terasa mengencang dan menekan makin keras.
“Waaah, kungfu yang hebat!” tak tahan Cau-ji memuji. “Saudara cilik,” ujar Cin Se-si sambil tertawa, “kau mesti meningkatkan kesadaranmu, cici segera akan membawa kau melayang ke nirwana!” Selesai bicara dia mulai menggerakkan tubuhnya naik turun. Cau-ji segera merasakan setiap kali ujung tombaknya menekan pada dasar lubang surganya, lubang itu seakan berputar di seputar pusaka miliknya, perasaan kaku dan kesemutan itu mendatangkan kenikmatan yang tak terlukiskan dengan kata. “Woouw, kepandaian hebat! Kemampuan hebat..” “Hahaha, yang hebat masih ada di belakang!” Kalau tadi badannya naik turun, maka sekarang dia mulai bergerak maju mundur sambil memutar badannya berulang kali. Kenikmatan yang ditimbulkan dari gerakan ini membuat Cau-ji semakin mabuk kepayang. Pertempuran sengit sudah berlangsung mendekati satu jam, Cin Se-si mulai terperanjat setelah melihat Cau-ji tetap tangguh memberikan perlawanan, bahkan sama sekali tak ada gejala pemuda itu hampir mendekati puncaknya. Dalam keadaan begini dia mulai mempercepat gerakannya, bahkan menekan semakin kuat dan penuh bertenaga. Diam-diam Cau-ji pun merasa amat kagum dengan kehebatan ilmu ranjang yang dimiliki perempuan ini, bukan saja dia memiliki potongan tubuh yang menggiurkan, ternyata pengendalian tenaga pun sangat tepat sehingga tidak menimbulkan kesan menekan badannya secara berlebihan. Apalagi sepasang buah dadanya yang bergetar dan bergoyang mengikuti gerakan badannya, seketika membuat dia syur-syuran….
“Cepat remas tetekku … cepat remas tetekku tiba-tiba perempuan itu mendesis, “oooh … aaaaah … aaaaah!” Dengan mengandalkan pengalamannya yang sangat luas di bidang hubungan badan, Cin Se-si tahu kalau pemuda itu mulai terpikat dan kesemsem oleh kehebatan ilmu bersenggamanya, maka setelah tertawa jalang ia segera menotok bebas jalan darah kakunya. Dengan cepat Cau-ji bangkit duduk, bukan saja dengan mulutnya ia mulai menghisap puting susu sebelah kanan milik perempuan itu, bahkan tangan kanannya mulai meremas buah dada sebelah kirinya. Cin Se-si tidak menyangka pemuda itu pandai diajak bekerja sama, kontan saja dia pun merasakan kenikmatan yang luar biasa. “Saudaraku,” serunya sambil tertawa jalang, “ayo kerja sama yang baik, siapa tahu cici akan mengampuni jiwamu!” Sambil berkata dia melanjutkan kembali goyangan mautnya. Setelah bermain beberapa saat kemudian, tiba-tiba Cau-ji berbisik, “Cici, bagaimana kalau kau beristirahat sejenak.” “Hahaha, bagus, akan kulihat kemampuanmu sekarang.” Dia segera berbaring di lantai sambil merentangkan sepasang kakinya. Cau-ji menarik napas panjang, tubuhnya segera ditekan ke bawah. “Plaaaaak!”, tombak pusakanya langsung ditusukkan ke dalam lubang surga milik lawan dan dihujamkan hingga mencapai dasar. Kontan saja Cin Se-si menjerit kenikmatan, “Woouw, dahsyat!” Saking nikmatnya dia mulai gemetar keras. Cau-ji segera menggenjotkan badannya berulang kali, tusukannya makin tajam dan kuat, sebentar ia menusuk sebentar mencabutnya lagi, kemudian menusuk sambil memuntir, sebentar kemudian dia menekan sambil menggesek….
Lima puluh gebrakan kemudian Cin Se-si sudah mendesis sambil merintih, mukanya merah padam karena rangsangan birahi. “Ayo lebih cepat lagi … aduh …
aaaaah … lebih kuat… aaahh … oooh … lebih dalam ….” Diam-diam Cau-ji mengumpat dalam hati, namun tusukan demi tusukan dilancarkan makin ganas.
Beberapa kali dia keluarkan jurus ampuh ‘menusuk sambil membalikkan badan’, membuat dasar liang surganya terasa tergesek. Cin Se-si kegirangan setengah mati, teriaknya makin keras, “Betul, tusuk terus … aaaah … yaa … digesek yang keras … aduhh … gesek terus … bikin dasar lubangku makin nikmat!” Sembari berkata tubuhnya bergerak terus mengiringi gerakan anak muda itu. Lubang surganya mulai megap-megap seperti orang yang kehabisan tenaga, tersengal-sengal karena tusukan yang bertubi-tubi, tapi dia melakukan perlawanan terus, menggesek, memutar, menggoyang, semua gerakan telah digunakan. Jelas kalau tak punya kepandaian simpanan, tak mungkin orang berani bergerak macam begini. Sementara itu Ji-cun dan Ji-ciu telah selesai mengerjakan tugasnya dan kembali ke sisi arena, begitu melihat pertarungan yang masih berlangsung antara kedua orang itu, diam-diam mereka merasa amat kagum. Pandang punya pandang, akhirnya mereka merasa badannya mulai panas, napsu birahinya segera bangkit menyelimuti seluruh benaknya.
Tanpa pikir panjang kedua orang perempuan itu menanggalkan pakaiannya, kemudian sambil meremas payudara sendiri mereka mulai terengah-engah.
Setengah jam kemudian Cau-ji telah menaikkan sepasang kaki Cin Se-si di atas bahunya, kemudian tombak pusakanya kembali ditusukkan ke dalam liang surganya secara gencar. “Oooh … aaaah … aduh … aaaah … nikmat..” Peluh telah membasahi seluruh tubuh Cin Se-si, tapi badannya masih bergoyang terus tiada hentinya. Cairan putih sudah meleleh keluar dari lubang surganya, membasahi pantat dan tubuh bagian bawahnya, tapi dia justru bergoyang makin menggila.
Ji-cun dan Ji-ciu tak kuasa menahan rangsangan lagi, mereka berdua mulai saling berpelukan sendiri, tubuh mereka bagaikan ular yang meliuk-liuk saling menempel satu sama lainnya, bagian bawah badannya saling ditempelkan, saling bergesek ….
“Enci Ciu, cepat jilat milikku!” tiba-tiba Ji-cun merintih lirih. Sembari mendesis dia mulai merentangkan sepasang pahanya. Ji-ciu segera berjongkok dan mulai menjilati lubang surga milik rekannya, mula-mula menjilati sekelilingnya kemudian ujung lidahnya mulai menerobos ke dalam lubang surga itu dan merpatinya berulang kali. Terakhir dia mulai menghisap tonjolan yang ada di bagian tengah, menjilat, menghisap dan menggigitnya berulang kali. Di pihak lain, Cau-ji masih menggenjot badannya berulang kali, dua ratusan genjotan kemudian Cin Se-si mulai merasakan lubang surganya berkerut kencang, lalu dia pun mencapai orgasme. Lekas dia menarik napas panjang, sambil menjepit tombak pusaka Cau-ji dengan kuat, dia mulai tertawa menyeringai. Seketika itu juga Cau-ji merasakan tombak pusaka miliknya seakan dijepit oleh gelang baja yang sangat kuat, makin menjepit semakin kencang. Dia tahu, tampaknya perempuan itu telah menggunakan ilmu mencuri hawa murninya untuk menghisap hawa kelakiannya, diam-diam ia terkesiap. Segera anak muda itu menarik napas panjang, dengan teknik menghisap dari ilmu Kui-goan-sin-kang, ia mulai beradu kepandaian dengan perempuan itu. Mereka berdua saling bertindihan tanpa bergerak. Meskipun ilmu yang dimiliki Cin Se-si sangat lihai, namun Kui-goan-sin-kang merupakan Sim-hoat tingkat paling tinggi dari Jit-seng-kau, ditambah pengalaman aneh yang berulang kali dialami Cau-ji, setelah jam kemudian perempuan itu mulai tak kuasa menahan diri. Begitu merasakan gempa bumi yang terjadi di dasar lubang surga miliknya, Cau-ji segera menggerakkan jari tangannya menotok jalan darah kaku dan bisu di tubuh Cin Se-si, kemudian ia menghimpun tenaganya siap menghadapi sergapan Ji-cun dan Ji-ciu. Untungnya kedua orang wanita jalang itu sedang asyik, hingga hawa kewanitaan Cin Se-si habis dihisap Cau-ji dan pulang ke alam baka diiringi senyuman manis, mereka berdua masih berasyik masyuk sendiri. Cau-ji mendengus dingin, diam-diam dia mengayunkan tangannya melepaskan serangan maut. Diiringi dua jeritan ngeri, hancuran tubuh dan ceceran darah segera berserakan di seluruh hutan. Tidak mau kerja tanggung, Cau-ji kembali melepaskan sebuah pukulan dahsyat menghancur lumatkan jenazah Cin Se-si.
Tiba-tiba ia merasa seluruh badannya bergolak keras, sadar hal ini disebabkan hawa kewanitaan yang dihisap dari tubuh Cin Se-si, satu ingatan melintas dalam benaknya, cepat dia berpakaian dan balik ke rumah makan Jit- seng-lau. Begitu membuka pintu segera teriaknya, “Enci Bun!” Ternyata Bwe Si-jin serta dua bersaudara Suto sedang berdiri bingung di depan pembaringannya, begitu melihat kemunculan Cau-ji, Siau-bun segera berseru, “Adik Cau, kemana saja kau seharian? Kami hampir gila gara-gara mencarimu.” “Aku….” “Yang penting selamatkan jiwa orang lebih dulu,” tukas Bwe Si-jin cepat, “Cau- ji segera lepaskan pakaianmu!” “Paman….” Sementara itu dua bersaudara Suto telah menanggalkan semua pakaiannya, terdengar Siau-bun berbisik, “Adik Cau, racun yang berada di tubuh Jit-koh mulai kambuh, menurut paman, katanya hanya darahmu yang bisa digunakan untuk menyelamatkan jiwanya.” “Aku mampu?” Melihat anak muda itu sudah bertelanjang bulat, Bwe Si-jin segera berkata, “Adik Cau, memangnya kau lupa kalau dalam darahmu mengandung inti sari kekuatan naga sakti berusia seribu tahun yang mampu memunahkan berbagai racun? Cepat naik!” “Tapi paman,” protes Siau-si, “tubuh Jit-koh sudah menyusut, mana mungkin bisa begituan dengan Cau-ji?” “Kalau begitu … gunakan darahnya!” Sambil berkata dia mengambil sebuah cawan dan melukai pergelangan kiri Cau-ji. Tak selang lama kemudian ia sudah mendapatkan secawan kecil darah segar. “Hentikan pendarahannya!” perintah Bwe Si-jin. Kemudian ia membangunkan tubuh Jit-koh dan perlahan-lahan melolohkan darah segar itu ke dalam mulutnya. Tak lama kemudian Im Jit-koh tersadar dari pingsannya, secara beruntun dia muntahkan tiga gumpalan darah hitam yang baunya sangat busuk, lalu keluhnya, “Ooh, sakitnya setengah mati!” “Jit-koh, kionghi, racun di dalam tubuhmu telah punah!” seru Siau-si sambil menunjukkan gumpalan darah hitam itu. Kemudian secara ringkas dia pun menceritakan bagaimana Cau-ji telah menyelamatkan jiwanya dengan memberikan secawan darah. Waktu itu Im Jit-koh dalam keadaan tak sadar, tentu saja dia tak tahu kalau jiwanya telah diselamatkan, begitu mendengar penjelasan itu serunya, “Terima kasih Tongcu, kau telah menyelamatkan jiwaku!” Sambil berkata dia hendak menjatuhkan diri berlutut. Lekas Bwe Si-jin memeluk tubuhnya, sambil tertawa tergelak katanya, “Jit- koh, kita adalah orang sendiri, buat apa kau mesti berlaku sungkan? Ayo kita balik ke kamar, jangan menjadi lampu sorot di sini.” Habis berkata ia tertawa tergelak dan berlalu dari situ. Kini Siau-bun dapat menghembuskan napas lega, ujarnya sambil tertawa, “Adik Cau, ada urusan apa kau terburu-buru mencariku?” “Enci Bun, cepat lepas pakaianmu!” Siau-bun melirik sekejap gumpalan darah di saputangan Siau-si, lalu dengan ilmu menyampaikan suara bisiknya, “Cici, adik Cau baru saja diambil darahnya, tapi dia ingin begituan, boleh tidak?” “Boleh saja,” jawab Siau-si dengan wajah bersemu merah, “tadi adik Cau ditinggal Siau-hong setengah jalan, napsunya belum tersalurkan, lebih baik kita jangan membuat seleranya hilang, aku rasa luka kecil itu tak akan mengganggunya.” Sambil berkata dia pun mulai melepas pakaian. Tak terlukiskan rasa girang Cau-ji melihat kedua orang gadis itu sangat penurut, cepat dia membaringkan diri di atas ranjang. Siau-bun melirik sekejap ke arah tombak yang mulai mengeras sambil berdiri tegak itu, lalu dengan malu-malu dia menaikinya dan menusukkan ke dalam liang surganya. Sembari membelai tubuh Siau-si, secara ringkas Cau-ji pun bercerita tentang pengalamannya tadi. Siau-bun yang selesai mendengar cerita itu segera menjerit tertahan, serunya, “Adik Cau, jadi kau benar-benar telah menghabisi nyawa Cin Se-si?” “Benar, siapa suruh dia tak tahu diri dan ingin menghisap hawa kelakianku, jika aku tidak duluan menghisap hawa kewanitaannya, bukankah aku yang bakal mampus? Eh, enci Bun, bagaimana kalau kuhadiahkan hawa kewanitaan miliknya itu kepadamu?” Mendengar berita gembira ini Siau-bun jadi kegirangan setengah mati, dengan air mata bercucuran serunya, “Terima kasih banyak adik Cau, cici tak tahu bagaimana harus membalas budi kebaikan ini.” “Hahaha, padahal ada dua jalan untuk balas budi, pertama, kau harus lebih giat sehingga aku merasakan kenikmatan yang luar biasa, kedua, setelah menikah nanti, kau harus melahirkan berapa orang bayi gemuk untukku, paling tidak aku mesti mencetak rekor anak di atas rekor ayahku.” Siau-bun tertunduk malu. Tapi dia benar-benar mulai bekerja keras, menggoyang badannya makin giat. Siau-si sendiri bersandar di dada Cau-ji sambil menciuminya dengan napsu. 0oo0 Ketika matahari sudah jauh di angkasa, akhirnya Siau-bun dan Cau-ji sama- sama telah mencapai puncak kenikmatan.
Mereka berdua tidur sambil berpelukan, mereka tak peduli cairan lengket masih membasahi bagian bawah tubuh mereka. Waktu itu Siau-si sudah duduk bersila di belakang punggung adiknya, telapak tangannya ditempelkan di atas jalan darah Bing-bun-hiat, katanya serius, “Adik Cau, adik Bun, ayo cepat mengatur napas.” Sambil berkata dia mulai menyalurkan tenaga muminya. Dalam waktu singkat mereka bertiga sudah berada dalam keadaan tenang. Di saat ketiga orang itu masih menikmati kesenangan di dalam ruangan, di luar gedung telah terjadi keributan yang luar biasa. Kematian wakil ketua Jit-seng-kau serta kedua orang pelindung hukumnya di tangan ‘Manusia penghancur mayat’ telah menggemparkan seluruh rumah makan Jit-seng-lau. Selesai memberi perintah anak buahnya untuk mengubur hancuran mayat serta membakar tandu mewah itu, Im Jit-koh bersama Bwe Si-jin dan kawanan kakek berbaju hitam itu melakukan rapat tertutup.
Perdagangan yang berlangsung di rumah makan itu tetap berlangsung ramai, tapi setiap orang mulai meningkatkan kewaspadaannya, orang takut ‘manusia penghancur mayat’ akan datang menyerang. Bwe Si-jin tahu semua hasil karya itu tentu merupakan perbuatan Cau-ji, maka sambil mendengarkan usul orang lain, ia mulai menyusun strategi lebih jauh. Kalau dulunya dia berencana mengajak Cau-ji meluruk ke markas besar Jit- seng-kau dan mengambil kesempatan untuk membantai Su Kiau-kiau berempat, maka sekarang dia merubah rencana, dia berniat memancing kawanan iblis wanita itu meninggalkan bukit Wu-san. Sebab markas besar di bukit Wu-san selain dilengkapi barisan yang aneh, juga dilapisi alat jebakan yang mengerikan, dia kuatir bila salah langkah, semua rencananya bakal berantakan. Oleh sebab itu dia berniat memancing musuhnya datang mencari mereka. Tentu saja dia pun sangat girang setelah tahu nama besar ‘manusia penghancur mayat’ menjadi amat populer di situ. 0oo0 Cau-ji dan dua bersaudara Suto telah membersihkan badan, kini mereka bertiga sedang bersantap sambil berbincang-bincang. Tiba-tiba Cau-ji teringat sesuatu, tanyanya, “Aaah, benar, setelah repot seharian aku hampir saja lupa menanyakan keadaan Siau-hong, sebenarnya apa yang terjadi hingga dia nampak selalu tegang dan ketakutan?” Mendapat pertanyaan itu, paras muka Siau-bun berubah jadi sedih bercampur gusar, katanya, “Dulu, Siau-hong adalah putri kesayangan Congpiauthau perusahaan ekspedisi Ban-an-piau-kiok di kota Soh-ciu, sejak barang kawalannya tiga kali dirampok orang, perusahaannya pailit, untuk membayar hutang, terpaksa putrinya dijual ke tempat ini. “Siau-hong sungguh kasihan, pada malam pertama kedatangannya di sini dia telah dinaiki oleh Ciangkwe yang punya kelainan jiwa, sejak malam itu ada tiga hari ia tak mampu turun dari ranjang. “Dalam tiga bulan terakhir, Ciangkwe sudah tiga kali mencarinya, setiap kali dia selalu menyiksanya dengan cara berubah-ubah, akibatnya timbul perasaan takut yang luar biasa pada diri gadis ini.” Siau-si segera menambahkan, “Adik Cau, barangmu yang besar dan panjang membuat dia semakin ketakutan.” “Ooh, Siau-hong yang patut dikasihani,” bisik Cau-ji sambil tertawa getir. “Adik Cau, kau harus berusaha menyelamatkan Siau-hong!” pinta Siau-bun. “Tapi… bagaimana caraku menolongnya?” “Adik Cau, bagaimanapun Siau-hong berasal dari keluarga kenamaan, bila kau bersedia menampungnya” “Eh, jangan, jangan begitu, bukankah Siau-si telah berkata, Siau-hong ketakutan setelah melihat ukuran barangku yang luar biasa, mana mungkin aku bisa menolongnya?” “Adik Cau, tahukah kau, setiap kali mau begituan, Ciangkwe selalu menggunakan tongkat yang jauh lebih besar dari milikmu untuk mengobok-obok lubang milik Siau-hong?” “Kurangajar, jahat amat orang ini” teriak Cau-ji sambil menggebrak meja, “hmmm! Akan kucari kesempatan untuk menghabisinya!” “Benar, manusia jahat seperti itu memang pantas dihabisi secepatnya,” Siau- bun menimpali, “tapi mengenai urusan Siau-hong, apakah kau akan mempertimbangkan kembali?” “Enci Bun, segala urusan biarlah berjalan sewajarnya,” kata Cau-ji sambil tertawa getir, “aku sih mau-mau saja, tapi kalau sampai keluargaku ada yang keberatan, bagaimana jadinya?” Mendengar perkataan itu kedua orang gadis itupun segera terbungkam. Pada saat itulah terdengar suara pintu kamar diketuk orang. Lekas Siau-si membuka pintu, serunya kemudian, “Ooh, rupanya Tongcu, silakan masuk!” “Hahaha, bocah kunyuk, kau sudah membuat masalah besar di luaran sana sehingga menyebabkan kami semua tegang setengah mati, tapi kau sendiri malah mendekam di kamar mencari kesenangan.” “Hahaha, jadi mereka telah menemukan mayat-mayat itu?” “Cau-ji, bagus sekali tindakanmu, Cin Se-si memang perempuan berilmu silat paling tinggi di antara empat wanita lainnya, dia pun berhati bengis, kejam dan jahat, dengan kematiannya berarti kita sudah tak perlu repot lagi.” “Paman, Cau-ji sendiri nyaris mati di tangannya.” “Ooh, apa yang terjadi?” “Paman, ilmu barisan merah empat musim dari keempat pembantunya sangat lihai, hampir saja Cau-ji tak mampu menahan diri.” Secara ringkas ia menceritakan pengalamannya. “Hahaha, setelah menderita kerugian, lain waktu kau pasti akan lebih pintar, lain kali jangan lupa menyerang dengan ilmu jari atau mencari sebilah pedang untuk menjaga diri begitu pertarungan mulai berlangsung, mengerti?” “Paman, bagaimana kalau Cau-ji membawa pisau belati yang kutemukan dalam gua itu?” “Benar, dengan tenaga dalam yang kau miliki sekarang, ditambah membawa senjata mestika, maka keadaanmu ibarat harimau tumbuh sayap. Ehmm, carilah kesempatan untuk mengambil balik senjata itu.” “Paman, ketika kita menyusup ke dalam markas besar nanti, tak ada salahnya kita ambil dulu senjata mestika itu.” “Cau-ji, inilah alasan kenapa paman datang kemari, paman bermaksud mengubah siasat yang kita gunakan, kita tak perlu menyatroni mereka lagi, biar Su Kiau-kiau sekalian yang datang mencari kita, dengan begitu kita lebih gampang memusnahkannya.” Cau-ji melirik kedua orang gadis itu sekejap, kemudian sahutnya sambil tertawa, “Bagus, bagus sekali, terus terang, Cau-ji memang kurang paham soal alat jebakan, aku kuatir terjadi sesuatu yang tak diinginkan.” “Cau-ji, untuk menciptakan situasi yang lebih seram agar Su Kiau-kiau semakin ingin datang kemari, paman berencana memintamu melakukan lagi peran sebagai manusia penghancur mayat!” “Bagus, tapi enci Bun dan enci Si….” “Hahaha, tentu saja suami kemana istri harus ikut, demi melindungi identitasmu, lebih baik mereka berdua sedikit mengubah wajah, lagi pula jangan terlalu sering berkumpul denganmu, mengerti maksud paman?” Dengan rasa girang bercampur malu, kedua orang gadis itu menundukkan kepalanya. Cau-ji manggut-manggut berulang kali.
“Baiklah Cau-ji, besok pagi berangkatlah, kalian harus membuat persiapan!” 0oo0 Tengah malam itu, secara diam-diam Cau-ji menyelinap ke depan kamar Ciangkwe, sebelum pergi meninggalkan tempat itu, dia berniat menghabisi dulu nyawa manusia berhati binatang ini agar tidak menjadi bibit bencana bagi Siauhong.
Perlahan-lahan dia mendorong pintu kamar, ternyata tidak dikunci, dengan perasaan girang pikirnya, “Maknya, benar-benar sangat kebetulan, tampaknya kalau raja akhirat akan mencabut nyawanya pada kentongan ketiga, dia tak akan hidup sampai kentongan kelima, ternyata kamar pun tidak dikunci.” Baru saja dia mendorong pintu, terdengar suara menyeramkan telah bergema dari dalam kamar, “Maknya, Siau-hong, kau sundal busuk, kenapa sampai sekarang baru tiba di sini?” Sekilas pandang Cau-ji dapat melihat ada sesosok bayangan manusia sedang bangkit berdiri dari pembaringan dan berjalan mendekat, dengan cepat ia totok jalan darah bisunya. Kemudian dengan satu gerakan cepat dia menyelinap ke hadapan Ciangkwe yang masih berdiri dengan wajah tercengang dan memandangnya sambil tertawa dingin. “Maknya,” katanya kemudian, “agar kau mampus dengan jelas, aku beritahu alasan kedatanganku, aku kemari untuk membalaskan dendam bagi Siau-hong.” Sambil berkata dia segera menghantam tubuhnya hingga anggota badan Ciangkwe itu hancur berantakan. Kemudian bagaikan bayangan sukma dia menyelinap keluar lagi dari kamar. Baru saja dia menutup pintu kamar, kebetulan seorang peronda malam sedang berjalan mendekat, cepat dia menyelinap masuk lagi ke dalam kamar Ciangkwe itu dan mengeluyur pergi dari arah lain. Dalam waktu singkat suara gembreng dibunyikan bertalu-talu, cahaya obor segera menerangi seluruh tempat, bayangan manusia pun berkelebat di sana sini bergerak mengumpul di situ. Setelah mengetahui duduknya perkara, dengan berang Im Jit-koh segera berseru, To Piau, bukankah kau yang bertugas melakukan ronda? Kenapa tidak tahu ada orang melakukan pembunuhan di sini? Hmm, lebih baik kau bunuh diri saja.” Dengan wajah memelas lelaki itu mengayunkan tangan kanannya menghajar ubun-ubun sendiri.
Bwe Si-jin yang berada di sampingnya segera mencegah perbuatan itu, ujarnya, “Congkoan, manusia penghancur mayat memiliki kepandaian silat yang hebat, gerakan tubuhnya sukar diraba, bila dia melakukan pembantaian, tentu saja To Piau tak mungkin bisa mencegahnya. “Sekarang kita sedang butuh orang, biarlah To Piau diberi kesempatan membuat pahala guna menebus kesalahannya.
Congkoan, maaf kelancangan Lohu!” “Tidak berani, tidak berani,” segera Im Jit-koh menyahut, “perkataan Tongcu ada benarnya juga, To Piau, kenapa tidak berterima kasih kepada Tongcu?” Dengan penuh rasa terharu To Piau berlutut di tanah sambil menyembah berulang kali. “Hahaha, bangunlah, lain kali mesti lebih hati-hati,” kata Bwe Si-jin sambil berlalu dari situ. 0oo0 Keesokan harinya, pagi sekali Cau-ji yang menyamar menjadi seorang lelaki kekar berwajah ungu, dengan menggembol sebilah pedang telah meninggalkan rumah makan Jit-seng-lau menuju ke utara. Baru keluar dari pintu kota, dari arah belakang muncul suara derap kuda yang kencang diikuti dua ekor kuda melintas di sampingnya. Terdengar orang yang berada di atas kuda itu membentak nyaring, “Sobat, Siauya menunggumu di gardu Ay-wan-ting!” Cau-ji agak tertegun, tapi setelah memperhatikan bayangan punggung kedua orang itu, ia segera menyadari, pikirnya, “Ternyata Lokyang Capji Eng yang bikin ulah, nampaknya selama ini mereka mengawasi terus gerak-gerik di seputar Jit- seng-lau” Setelah tertawa hambar dia melanjutkan perjalanan dengan langkah lebar. Sepanjang perjalanan, secara beruntun ada beberapa ekor kuda yang melintas. Kembali Cau-ji berpikir, “Sialan, rupanya Lokyang Capji Eng sudah tiba di sini, kalau begitu mereka memang punya niat hendak mencabut nyawaku.” “Maknya, kali ini aku bakal pusing tujuh keliling, meskipun kawanan manusia itu sedikit latah, namun tabiatnya tidak terhitung jelek. Maknya, aku tidak bias tinggal diam.” Maka dia pun bertanya jalan menuju ke gardu Ay-wan-teng, kemudian menyusul ke situ. Dua bersaudara Suto menyamar menjadi sepasang suami istri berusia pertengahan yang berwajah biasa, mereka selalu menjaga jarak sejauh tiga li dengan Cau-ji.
Menjelang tiba di gardu Ay-wan-teng, mendadak terdengar Siang Ci-liong bersenandung dengan suara nyaring. Menyusul suara senandung itu tampak anggota Lokyang Capji Eng serentak melompat keluar dari gardu dan mengawasi Cau-ji yang sedang mendekat. Secepat kilat Cau-ji bergerak mendekati kedua belas orang itu, tegurnya, “Ada urusan apa kalian mengundangku kemari?” “Apakah kau berasal dari rumah makan Jit-seng-lau?” tanya Siang Ci-liong. “Benar!” “Hahaha, aku Siang Ci-liong dari Lokyang, ingin mengajukan beberapa pertanyaan kepadamu.” “Hmm, aku kenal kau, kalian pun pernah datang ke Jit-seng-lau, bukankah Hucongkoan telah memberitahukan banyak hal kepada kalian? Pengetahuanku tidak lebih banyak darinya!” Jelas sekali nada perkataan itu, menolak untuk menjawab. Siang Ci-liong segera tertawa tergelak. “Hahaha, justru yang ingin kuketahui adalah asal-usul Hucongkoan” Cau-ji melirik Siang Ci-ing sekejap, tiba-tiba tanyanya, “Apakah kau ingin menjodohkan dia dengan Hucongkoan?” Merah jengah wajah Siang Ci-liong, setelah berdehem, ujarnya, “Kau senang sekali bergurau, tujuan kami berbeda, mana mungkin bisa bersatu?” “Kalau begitu, kenapa kalian tak langsung tanyakan kepada yang bersangkutan?” Selesai bicara dia membalikkan badan dan siap meninggalkan tempat itu. “Berhenti!” bentakan nyaring bergema. Di tengah bentakan terlihat seorang pemuda tampan menghadang jalan pergi Cau-ji.
Dengan dingin Cau-ji meliriknya sekejap, kemudian ujarnya, “Hm, rupanya kau! Kionghi, kionghi, sudah menjadi juara pertama lomba kuda, kenapa belum mentraktir aku?” Tampaknya orang itu tidak menyangka lawannya dapat mengenali, ia agak tertegun, kemudian sahutnya sambil tertawa, “Benar, aku memang ingin mentraktirmu minum beberapa cawan.” “Bagus sekali, kalau begitu ayo jalan!” seru Cau-ji sambil tertawa. Orang itu tak mengira Cau-ji segera menyanggupi undangannya, sekali lagi dia tertegun. Pada saat itulah Siang Ci-liong dengan lantang berseru, “Ternyata kau gagah dan berjiwa terbuka, bagaimana kalau kita kunjungi Hong-hok-lau dan minum arak sambil menikmati pemandangan alam?” “Hong-hok-lau? Kau maksudkan rumah makan Hong-hok-lau di Bu-chang?” “Benar!” “Hmmm, tak kusangka kau berselera tinggi, hanya ingin minum arak pun harus menempuh perjalanan jauh, kalau aku sih tidak minat, kakiku tak kuat jalan terlalu jauh.” “Hahaha, aku punya kuda yang bisa menempuh ribuan li dalam sehari, kenapa takut?” Cau-ji segera mempertimbangkan dua bersaudara Suto yang mengintil di belakang, segera ujarnya sambil tertawa, “Aku hidup miskin, kemana pun selalu berjalan kaki, jadi aku tak biasa naik kereta atau menunggang kuda.” “Maksudmu, kau tak bisa menunggang kuda?” tanya Siang Ci-liong tertegun. “Benar, waktu amat berharga, ayo jalan.” Habis berkata dia pun berteriak keras, “Ayo, pergi ke rumah makan Hong-hok- lau untuk minum arak, hahaha….” Belum habis perkataannya, ia sudah berada jauh dari posisi semula. Lokyang Capji Eng terkesiap, mereka tak menyangka orang itu memiliki kungfu hebat, cepat mereka cemplak kudanya dan menyusul dari belakang. Selang beberapa saat kemudian, dua bersaudara Suto baru muncul di depan gardu, dengan ilmu menyampaikan suara Siau-bun berbisik, “Cici, tampaknya kita harus membeli dua ekor kuda untuk melanjutkan perjalanan?” “Baik, toh tujuan mereka ke Hong-hok-lau, biar tidak terkejar pun adik Cau pasti akan meninggalkan tanda rahasia di sepanjang jalan!” 0oo0 Cau-ji belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, boleh dibilang dia tidak tahu dimanakah letak rumah makan Hong-hok-lau itu, karenanya dia hanya mengintil terus di belakang Siang Ci-liong bersaudara dan selalu menjaga jarak. Menjelang fajar menyingsing, akhirnya tibalah mereka di depan rumah makan Hong-hok-lau.
Baru saja kedua belas ekor kuda jempolan itu berhenti berlari, sementara Lokyang Capji Eng melompat turun dari kudanya sambil melemaskan otot, tiba- tiba terlihat sesosok bayangan manusia telah meluncur tiba. Sungguh cepat gerakan orang itu, hanya dalam beberapa kali lompatan saja, ia sudah berdiri di puncak rumah makan itu. Dia tak lain adalah Cau-ji. Begitu mencapai puncak bangunan, pemuda itu segera mendongakkan kepala dan tertawa nyaring. Sungguh keras suara gelak tawanya, bukan saja seluruh angkasa bergetar keras, bahkan Lokyang Capji Eng pun harus menutup telinga.
Cau-ji segera melompat turun dan melangkah masuk ke dalam ruang rumah makan diikuti Lokyang Capji Eng, belum lagi mereka berbicara, tiba-tiba terdengar lagi suara derap kuda bergema dari kejauhan. Cau-ji menengok sekejap ke depan, tampak ada dua puluhan orang lelaki kekar dengan wajah gusar dan menghunus senjata melompat turun dari kudanya sambil berlari mendekat. Melihat itu Cau-ji segera berseru, “Saudara Siang, ada orang datang!” Baru akan melangkah keluar, tiba-tiba ia saksikan lagi ada empat orang kakek berbaju hitam berlari mendekat.
Pemuda itu segera berseru tertahan, “Hah, jangan-jangan anggota Jit-seng- kau yang datang?” Berpikir begitu dia melompat masuk lagi ke dalam ruangan dan melongok lewat jendela. Sementara itu kedua puluh orang lelaki kekar itu sudah berjalan mendekat, lelaki pertama yang bertubuh kekar berwajah seram segera menghardik, “Manusia she Siang, kelihatannya jalanan di dunia ini amat sempit, lagi-lagi kita bersua.” Melihat kawanan manusia yang muncul ternyata adalah perkumpulan Hong- hok-pang, bandar judi ‘semua senang’ di kota Bu-chang, kontan Lokyang Capji Eng mendengus sinis. “Bu-pangcu,” tegur Siang Ci-liong lantang, “kelihatannya kau sudah lupa dengan pelajaran di masa lalu.” Lelaki bersenjata dayung baja yang berdiri di sisi kanan mendadak menghardik, “Siang Ci-liong, biar Toaya menjajal kehebatanmu!” Sambil berkata dia mengayunkan senjatanya menyapu ke muka. “Gou Tat, biar Yo-siauya yang melayani,” sambut seseorang sambil tertawa dingin. Tampak orang keenam dari Lokyang Capji Eng, Yo Ih-heng menerjang ke muka, ujung pedangnya langsung menusuk dada orang itu.
Dengan jurus To-pat-jui-yang (mencabut terbalik ranting lemas), dia sambut tusukan pedang itu dengan dayung bajanya. Yo Ih-heng mendengus sinis, tidak menunggu senjata lawan tiba di hadapannya, kembali ia berganti jurus, kali ini membacok kaki lawan. Gou Tat membentak nyaring, dayung bajanya menyapu dada. Sambil berpekik nyaring Yo Ih-heng maju beberapa langkah, sewaktu tubuhnya menubruk lagi ke depan, pedangnya dengan teknik menggiring senjata lawan mendayung ke arah lain. Inilah ilmu pedang awan lembut yang paling diandalkan keluarga Yo. Satu keras satu lembut, pertempuran berlangsung makin seru. Pada saat bersamaan Liu Kong-gi yang menempati urutan kelima sudah terlibat pertarungan sengit melawan seorang lelaki bersenjata roda bergigi. Dalam waktu singkat Lokyang Capji Eng sudah mencari lawan sendiri-sendiri dan terlibat dalam pertarungan di tengah tanah lapang depan rumah makan Hong-hok-lau.
Musuh Siang Ci-ing adalah seorang lelaki kekar berusia empat puluh tahunan, berwajah kuning pucat dan bermata tajam, dengan mengandalkan ilmu pedang Luan-po-hong-kiam-hoat (ilmu pedang angin puyuh) dari aliran Gobi, dia melancarkan serangkaian serangan secara bertubi-tubi. Karena begitu bertarung.
Siang Ci-ing sudah berebut melancarkan serangan duluan, maka dalam waktu singkat lelaki itu tercecar hebat, di antara berkelebatnya cahaya pedang ia hanya bisa berkelit ke sana kemari.
Sejak mengetahui kehadiran keempat orang kakek berbaju hitam itu, si nona Siang sudah tahu kehadiran mereka adalah untuk membantu kelompok itu, maka sejak awal dia sudah meningkatkan kewaspadaannya. Kini dia berniat menghabisi kawanan jago Hong-hok-pang secepatnya agar bisa lebih berkonsentrasi sewaktu menghadapi keempat orang kakek itu. Jurus pedangnya segera diperketat, di antara kilatan cahaya pedang yang kian kemari terselip tusukan maut yang mematikan. Tak sampai tiga gebrakan kemudian, terdengar lelaki itu menjerit kesakitan, lengan kanannya tahu-tahu sudah terpapas kutung. Baru saja Siang Ci-ing siap menusuk perut orang itu, tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring, “Tahan!” Segulung angin pukulan telah meluncur tiba. Merasa jiwanya terancam, mau tak mau Siang Ci-ing harus menarik kembali serangannya sambil melompat mundur. Seorang kakek berbaju hitam telah berdiri beberapa meter di hadapannya, sambil tertawa seram terdengar orang itu berseru, “Budak cilik, tak kusangka dengan wajah cantikmu ternyata memiliki hati keji!” “Tak usah banyak mulut,” tukas Siang Ci-ing cepat, “lihat pedang!” Kembali tubuhnya menerjang ke muka, dengan ilmu pedang angin puyuh dia gulung tubuh kakek itu. Meski berilmu tinggi, tampaknya kakek berjubah hitam itu tak berani memandang enteng ilmu andalan Go-bi-pay itu, cepat dia mengegos ke samping sambil melancarkan serangan balasan. Dengan cepat kedua orang itu terlibat dalam pertempuran sengit. Siang Ci-liong sendiri pun sudah terlibat dalam pertarungan sengit melawan seorang kakek berbaju hitam setelah melukai lelaki kekar tadi. Terdengar kakek itu membentak nyaring, tubuhnya merangsek maju, tangan kirinya melancarkan cengkeraman sedang tangan kanannya membabat ke arah dada. Sungguh dahsyat jurus Ci-jiu-poh-liong (tangan kosong melawan naga) itu, hawa serangan yang terpancar dari kelima jari tangannya menekan tubuh Siang Ci-liong. Buru-buru Siang Ci-liong mundur setengah langkah, tangan kirinya menggiring cakar lawan ke arah lain, sementara tangan kanannya dengan ilmu pedang langsung melancarkan bacokan. Jarang sekali ada orang melancarkan serangan tangan dengan teknik ilmu pedang, ancaman itu kontan saja memancing perhatian pihak lawan. Begitu merasa datangnya desingan angin tajam, lekas kakek itu mendorong telapak tangan kanannya sejajar dada. Siang Ci-liong tahu, musuh memiliki tenaga dalam luar biasa, cepat dia mengegos ke samping menghindari ancaman itu. Si kakek dengan kekuatan bagai membelah bukit segera mendesak maju lebih ke depan. Siang Ci-liong tak mau unjuk kelemahan, dengan teknik ilmu pedang dia menghadapi serangan lawan dengan gigih. Ilmu silat ini merupakan ilmu andalan Siau-lim yang mengutamakan keringanan dan kelincahan dipadu dengan ilmu langkah, sembari mengegos dari ancaman musuh, sambil mencari kesempatan untuk melepaskan ancaman. Tangan kirinya sebentar menggunakan teknik pedang, sebentar menggunakan ilmu pukulan penakluk harimau, sebentar lagi menggunakan ilmu menangkap Kim-na-jiu-hoat, tak terkira banyaknya perubahan yang dia lakukan.
Kakek berbaju hitam itu diam-diam terkesiap, dia tak menyangka pemuda itu sanggup melancarkan serangan dengan perubahan begitu beragam, sebentar pukulan, mencengkeram, menangkap. Kuatir tak mampu menghadapi perubahan yang beragam itu, tenaga pukulannya semakin diperkuat. Selama ini Cau-ji hanya menonton jalannya pertarungan dari balik jendela, sekilas pandang ia dapat melihat, kecuali Siang Ci-ing yang berada di bawah angin, rekan-rekan lainnya boleh dibilang sudah menguasai keadaan, hal ini membuatnya menghembuskan napas lega. Lebih kurang satu jam kemudian, tampak seluruh anggota perkumpulan Hong-hok-lau berhasil ditumpas tanpa sisa, sementara kedua orang kakek berbaju hitam itupun sudah menderita luka parah. Tapi Lokyang Capji eng sendiripun ada tiga orang yang menderita luka. Melihat situasi tidak menguntungkan, kakek berbaju hitam yang bertarung melawan Siang Ci-liong itu segera melancarkan serangkaian serangan gencar, kemudian ia merogoh sakunya dan melemparkan sebuah benda ke angkasa. “Blaaam!”, letupan keras berkumandang di angkasa. Siang Ci-liong tahu, orang itu sedang mencari bala bantuan, segera bentaknya, “Rupanya kau memang ingin mampus!” Jari tangan kiri, telapak tangan kanan segera melancarkan serangan secara bersamaan.
Terdengar kakek itu menjerit kesakitan, bahu kirinya sudah terhajar oleh serangan Siang Ci-liong hingga remuk, tubuhnya mundur ke kanan dengan sempoyongan. Yo Ih-heng yang melihat kakek itu sempoyongan ke arahnya, segera memanfaatkan kesempatan itu dengan menghadiahkan sebuah tusukan kilat. Kendati kakek itu berkelit dengan cepat, tak urung lambung kanannya terbabat juga oleh pedang itu hingga terluka. Darah segar segera menyembur kemana-mana. Waktu itu Siang Ci-liong sudah mendesak ke samping tubuhnya, sambil membentak kembali dia menghadiahkan sebuah babatan ke dadanya. Kakek itu mengertak gigi, dengan menghimpun sisa kekuatan yang dimiliki dia sambut datangnya serangan itu dengan keras melawan keras. “Blaaam!”, tubuh kakek itu mencelat ke udara.
Belum lagi tubuhnya mencapai tanah, babatan pedang Yo Ih-heng telah membelah tubuhnya. Siang Ci-liong sendiri pun tergetar mundur tiga langkah, sesaat dia berdiri termangu, diam-diam hawa murninya disalurkan untuk meredakan gejolak di dalam dadanya. Cau-ji yang menyaksikan kejadian itu diam-diam mengumpat, “Goblok, salah sendiri, kalau ingin menghajar mestinya langsung menghajar, buat apa mesti diberitahu dulu sebelum digebuk?” Kakek yang sedang bertarung melawan Siang Ciing dan dua orang pemuda perlente itupun sebenarnya sudah terdesak hebat, jeritan ngeri itu membuat perhatiannya bercabang, tak ampun lengan kanannya dibacok kutung oleh Siang Ci-ing. Baru saja gadis itu hendak menghadiahkan sebuah tusukan lagi untuk menghabisi nyawa kakek itu, tiba-tiba terdengar seseorang membentak nyaring, “Tahan!” Segumpal jarum emas telah meluncur tiba dengan kecepatan luar biasa. Lekas Siang Ci-ing mundur ke belakang dan menghindarkan diri dari serangan Am-gi itu.
“Hukaucu!” teriak kakek itu sebelum akhirnya jatuh tak sadarkan diri. Teriakan “Hukaucu” seketika membuat Cau-ji yang sedang melamun tersentak kaget, cepat ia berpaling, tampak empat orang perempuan cantik berusia tiga puluh tahunan dengan menggotong sebuah tandu merah sedang berjalan mendekat. Untuk sesaat pemuda itu tertegun. Kecuali keempat orang penggotong tandu itu, terdapat pula dua belas orang kakek berbaju hitam yang mengiringi di kedua sisi tandu, tampaknya ilmu silat yang mereka miliki rata-rata sangat tinggi. Lokyang Capji Eng sendiri pun terkesiap, mereka tak menyangka dalam posisi yang amat letih setelah bertempur sekian lama, kini mereka harus berhadapan lagi dengan sekelompok jagoan tangguh. Tanpa terasa mereka mundur ke belakang dan berkelompok menjadi satu. Tiba-tiba terdengar suara merdu berkumandang dari balik tandu, “He, engkoh ganteng, tak nyana kungfu kalian sangat tangguh, Cuma … dalam soal begituan apakah kalian pun tangguh?” “Perempuan jalang, jangan bicara sembarangan!” umpat Siang Ci-liong gusar. “Ah, engkoh cilik, buat apa berlagak sok suci? Buang senjata rongsokmu itu, ayo ikut cici bermain begituan, hihihi” “Perempuan cabul, sebut namamu,” bentak Yo Ih-heng pula sambil menuding dengan pedangnya. “Hahaha, engkoh cilik, jadi kau pun ingin minta bagian? Hahaha, ayo kita bermain ramai-ramai.” “Perempuan jalang, lihat pedang!” bentak Yo Ih-heng sambil menyerang ke arah tandu. “Kembali!” bentak kakek yang berada di ujung kiri tandu secara tiba-tiba, telapak tangannya dibacokkan ke depan. Yo Ih-heng segera merasakan datangnya gulungan angin pukulan yang maha dahsyat menindih dadanya, padahal saat itu badannya masih melambung di udara dan mustahil bisa berkelit, terpaksa ia menambah tenaga pukulannya dengan dua bagian lagi dan menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras. “Blaaaam!” Di tengah benturan dahsyat, ia menjerit kesakitan dan tubuhnya terpental balik.
Segera Liu Kong-gi menyambut badannya, tampak rekannya itu muntah darah dan jatuh tak sadarkan diri. Cepat Liu Kong-gi mengeluarkan pil dari sakunya dan dijejalkan ke dalam mulutnya, kemudian membawanya menyingkir ke samping guna menjalani perawatan. Cau-ji sendiri pun tidak menyangka tenaga dalam yang dimiliki kakek itu sangat menakutkan, sementara ia masih berpikir bagaimana cara mengatasinya, terdengar perempuan dalam tandu itu telah berkata lagi sambil tertawa, “Engkoh cilik, lebih baik tahu diri, mari ikut cici pergi dari sini.” “Perempuan jalang, sebut namamu!” kata Siang Ci-liong dengan suara berat.
“Hahaha, engkoh cilik, jangan terburu napsu, sebelum naik ranjang harus ada pemanasan dulu, begitu baru asyik!” Tiba-tiba Cau-ji tertawa terbahak-bahak, bentaknya, “Betul, pemanasan dulu baru asyik naik ranjang, jika mereka tak mengerti soal itu, biar Toaya yang mewakili mereka semua, hahaha ….” Sembah berkata, tubuhnya bagaikan seekor burung elang menerkam ke arah tandu megah itu dengan kecepatan luar biasa.
Kakek yang melancarkan serangan tadi kembali membentak, tubuhnya melompat ke depan menyongsong kedatangan anak muda itu. Cau-ji memang berniat pamer kekuatan, tangan kanannya segera diayunkan ke depan, tenaga pukulan yang disertai hawa sakti Im-yang-khi-kang langsung membabat tubuh kakek itu.
“Aaaah…..!”, jeritan ngeri yang memilukan hati segera berkumandang memecah keheningan, hancuran daging dan semburan darah pun berserakan kemana-mana.
Sebuah pukulan yang sangat dahsyat! “Aaah, manusia penghancur mayat! Cepat mundur!” teriak orang yang berada dalam tandu terkesiap. Cepat tandu mewah itu bergerak mundur ke belakang. Kesebelas orang kakek berbaju hitam itupun ikut mundur sejauh empat meter lebih. Setelah melayang turun ke atas permukaan tanah, mula-mula Cau-ji manggut-manggut dulu ke arah Siang Ci-liong sambil tertawa, kemudian sambil membalikkan tubuh katanya, “Perempuan cantik, jangan kabur dulu! Toaya masih ingin membuat pemanasan lebih dulu denganmu sebelum naik ranjang!” Sambil menahan rasa ngeri bercampur takut yang mencekam perasaannya, perempuan dalam tandu itu menegur, “Jadi kau adalah manusia penghancur mayat?” “Hahaha ….” Cau-ji tertawa tergelak, “aku she Gi bernama Tin-hong, orang menyebutku segulung angin, bukan saja jejakku bagai segulung angin, sewaktu membunuh pun cepat bagaikan angin.” “Masalah benarkah aku adalah manusia penghancur mayat atau bukan, Toaya sendiri pun tidak tahu, karena Toaya belum pernah menggunakan istilah itu, tapi tak ada salahnya jika di kemudian hari akan kupakai julukan itu, hahaha ….” “Manusia she Gi, dendam sakit hati apa yang terjalin antara perkumpulan kami dengan dirimu? Kenapa kau selalu memusuhi kami?” kembali perempuan dalam tandu itu bertanya. “Hahaha, perkumpulan apa sih yang kalian anut?” “Hmm! Tak usah berlagak pilon, kalau kau tidak tahu soal Jit-seng-kau, mana mungkin memusuhi kami?” Mendengar perkataan itu. Siang Ci-liong sekalian merasa sangat terkesiap.
Mereka tak menyangka perkumpulan Jit-seng-kau yang sudah lama musnah kini telah bangkit kembali. “Kau ini bernama Ni Cin-bi? Atau Ni Cin-swang?” hardik Cau-ji. “Kau … kau kenal aku?” suara perempuan dalam tandu itu mulai gemetar.
“Hahaha, tidak kenal! Cuma, aku ingin sekali berkenalan denganmu.” Setelah termenung dan berpikir sejenak akhirnya perempuan dalam tandu itu berseru, “Hentikan tandu!” Begitu tandu diturunkan, tampak tirai tersingkap dan berkelebat sesosok bayangan kuning. Seorang perempuan cantik berbaju kuning yang memiliki kematangan seorang wanita telah muncul di depan mata. Menyaksikan kecantikan wajah perempuan itu. Siang Ci-liong sekalian seketika merasakan hatinya berdebar keras, tanpa terasa paras muka mereka pun berubah jadi merah.
Siang Ci-ing sendiri meski tahu perempuan itu adalah seorang wanita jalang, tak urung dia merasa kagum juga.
Khususnya tubuh perempuan yang begitu matang, bahenol dan mengggiurkan, tanpa terasa memaksanya untuk memperhatikan lebih lama. Cau-ji pun seketika terangsang birahinya, tapi ia segera mengendalikan pikiran itu dan tertawa tergelak. “Hahaha, sungguh cantik! Dibandingkan Cin Se-si, kecantikanmu masih satu tingkat di atasnya. Kau seharusnya kupanggil Cau Se-si!” “Aah, nama itu kurang sedap didengar, aku bernama Ni Cin-bi!” “Ooh, Ni Cin-bi? Maaf, maaf!” Sambil berkata, dengan langkah lebar ia berjalan mendekat. Ni Cin-bi sendiri segera merentangkan sepasang tangannya seolah siap memeluknya, sementara tubuhnya melangkah mendekat. Ketika jarak kedua orang itu tinggal beberapa langkah, tiba-tiba dia mengayunkan tangan kanannya, segulung pasir berwarna merah segera ditimpukkan ke wajah Cau-ji. “Blaaaam!”, tubuh Cau-ji seketika jatuh telentang ke tanah. Siang Ci-liong sekalian menjerit kaget. Sebaliknya Ni Cin-bi tertawa cekikikan, serunya, “Orang she Gi, akan kuhisap sarimu hingga kering!” Sembari berkata dia membungkukkan badan dan siap memeluk tubuhnya. Pada saat itulah tiba-tiba tampak Cau-ji mengayunkan tangan kanannya melancarkan sebuah bacokan, sementara tangan kirinya menjotos.
Peristiwa ini sama sekali di luar dugaan Ni Cin-bi, tidak disangka lawannya sama sekali tak mempan terhadap bubuk pemabuk ‘dewa roboh’ miliknya. Tak ampun dadanya langsung terhajar pukulan itu secara telak. Terdengar perempuan itu menjerit kesakitan, baru saja akan melarikan diri, pukulan tangan kiri Cau-ji kembali bersarang di punggungnya. Seketika itu juga tubuhnya hancur berantakan dan menyebar ke arah empat perempuan cantik serta kesebelas orang kakek berbaju hitam itu. Buru-buru mereka mengayunkan tangannya menepis hancuran daging dan darah, kemudian serentak memandang ke arah Cau-ji dengan mata terbelalak. “Bagaimana?” ejek Cau-ji sembari membersihkan tubuhnya dari debu, “apakah kalian pun ingin menjadi gilingan daging cacah?” Kelima orang kakek itu membentak keras, dengan cepat mereka menyebar ke empat penjuru dan mulai berlarian mengelilingi tubuh Cau-ji. Sambil berputar kencang, kelima orang itu melancarkan serangan secara bergantian. Tiba-tiba terdengar Siang Ci-ing berteriak memperingatkan, “Gi-tayhiap, hati- hati dengan barisan Ngo-heng-tin mereka!” “Hahaha, terima kasih.” Sembari berkata dia mulai melancarkan serangan dahsyat. “Blaaammm…….” Benturan keras bergema susul menyusul, tampak kelima orang kakek itu mendengus tertahan sambil mundur dari posisi semula. Dalam waktu singkat kelima orang itu sudah melolos pedang, sekali lagi mereka menyerang Cau ji dengan hawa pedang yang mengerikan. Kini Cau-ji tak bisa memandang enteng musuhnya lagi, sembari berkelit, ia mulai menyerang dengan ilmu jari dan ilmu pukulan secara bergantian. Sementara Siang Ci-liong masih tercengang darimana pemuda itu bisa menggunakan jurus serangan dari perguruannya, keenam kakek baju hitam dan keempat perempuan cantik itu sudah menubruk tiba. terpaksa mereka sambut serangan itu dengan perlawanan sengit Pertarungan pun segera berlangsung amat ramai Keempat orang perempuan cantik serta kedua belas orang kakek berbaju hitam itu merupakan jago jago pilihan yang sengaja dibawa Ni Cin-bi turun gunung dan menjayakan kembali nama besar perkumpulan Jit-seng-kau. Meskipun pada awal pertarungan sudah ada anggotanya yang tewas di tangan Cau-ji, namun setelah terlibat pertarungan sengit melawan Siang Ci-liong sekalian, segera tampaklah kehebatan kungfu mereka. Tidak sampai tiga puluh gebrakan kemudian, seorang anggota Lokyang Capji Eng sudah ada yang muntah darah dan terkapar dalam keadaan luka parah. Yo Ih-heng serta Liu Kong-gi yang masih berada dalam ruang rumah makan jadi amat gusar, sambil membentak mereka segera terjun kembali ke arena pertarungan. Dalam pada itu Cau-ji mulai dapat menguasai inti sari dari ilmu barisan Ngo- heng-tin yang sedang mengepung dirinya. Begitu melihat ada yang terluka parah, dia segera melolos pedangnya dan mulai menyerang dengan menggunakan jurus ilmu pedang angin puyuh. Sementara tangan kanannya menyerang dengan pedang, tangan kirinya berulang kali melancarkan babatan maut ke empat penjuru. Hawa pedang bagai pelangi, tenaga pukulan bagaikan tindihan bukit. Kontan kelima orang kakek itu merasakan tenaga tekanan yang sangat berat menghimpit tubuh mereka, buru-buru mereka mundur ke belakang.
Tiba-tiba saja Cau-ji merasakan tekanan yang dihasilkan barisan itu mengendor, cepat dia menerobos maju ke hadapan seorang kakek berbaju hitam, pedang dan pukulan dilancarkan berbareng, ia berniat membereskan dulu nyawa orang ini.
Melihat datangnya sergapan maut, kakek itu ketakutan setengah mati, namun karena tak bisa berkelit lagi, terpaksa sambil mengertak gigi dia sambut datangnya ancaman itu dengan mengerahkan segenap tenaga dalam yang dimilikinya.
“Blaaam …!” Lagi-lagi hancuran daging dan percikan darah segar menyebar kemana-mana. Melihat rekannya tewas secara mengenaskan, keempat orang kakek lainnya membentak gusar, kini barisan mereka dirubah, dari Ngo-heng-tin menjadi Su- siu-tin, tenaga pukulan yang menderu-deru dengan cepat mengurung seluruh badan Cau-ji. Sementara itu kembali terdengar anggota Lokyang Capji Eng mendengus tertahan, Cau-ji tahu situasi tidak menguntungkan pihaknya, dalam keadaan cemas ia menyerang lagi dengan sekuat tenaga. Apa mau dikata, keempat orang kakek itupun memberi perlawanan yang amat gigih, tak lama kemudian lagi-lagi seorang kakek berbaju hitam berhasil merobohkan seorang pemuda anggota Lokyang Capji Eng, kemudian bergabung dalam barisan itu. Dengan bertambahnya satu orang maka ilmu barisan pun kembali berubah dari Su-siu-tin menjadi Ngo-heng-tin lagi. Sekarang Cau-ji telah mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, begitu dahsyat Im-yang-khi-kang yang dimilikinya, bukan saja memaksa tenaga pukulan dan angin serangan kelima orang kakek itu tak mampu mendekati tubuhnya, malah secara lamat-lamat memantulkannya kembali. Atau dengan perkataan lain, mereka pun tak sanggup berbuat banyak terhadap Cau-ji.
Tak lama kemudian lagi-lagi ada orang yang terluka parah.
Namun kawanan kakek berbaju hitam itu sungguh bandel dan ulet, sekalipun sudah terluka parah, mereka masih memberikan perlawanan sekuat tenaga, mereka selalu mengurung Cau-ji hingga anak muda itupun tak mampu membantu yang lain. Dalam perkiraan mereka, asal dapat bertahan setengah jam lagi maka rekan- rekannya pasti dapat membereskan sekawanan pemuda dari Lokyang Capji Eng, kemudian mereka pun bisa bergabung menghadapi Manusia penghancur mayat. Beberapa saat kembali berlalu…. Kini orang yang menonton jalannya pertarungan semakin banyak, tapi mereka hanya menonton dari kejauhan dan jumlahnya sudah mencapai ratusan orang lebih. Lagi-lagi dua orang anggota Lokyang Capji Eng roboh terkapar di tanah, kini yang masih bertahan tinggal Siang Ci-liong bersaudara serta tiga orang pemuda perlente. Namun keadaan mereka pun sangat parah, serangan bertubi-tubi dari kelima orang kakek berbaju hitam serta keempat perempuan cantik itu membuat mereka terdesak hebat. Situasi makin gawat dan kritis …. Mendadak terdengar seorang kakek berbaju hitam yang sedang menyerang Siang Ci-ing berseru sambil tertawa seram, “Sin-hoa, cewek ini sangat memenuhi seleraku, jangan kau lukai badannya, sebentar akan kunikmati dulu keperawanannya!” Perempuan cantik yang berada di sisi kanannya segera menimpali sambil tertawa genit, “Jangan kuatir Lo Ki, pasti akan kuringkus perempuan itu dan kuserahkan kepadamu, coba lihat, badannya cukup seksi….” Sambil berkata kembali ia tertawa cabul. Ternyata pengawal pribadi Ni Cin-bi ini sejak awal sudah tertarik kecantikan Siang Ci-ing, maka waktu bertarung tadi, secara diam-diam ia sudah menyebar bubuk obat perangsang ‘Cau-kun-siau’ di sekeliling arena. Bubuk obat perangsang ‘Cau-kun-siau’ merupakan obat perangsang yang paling ditakuti kaum wanita. Ketika mendirikan perkumpulan Jit-seng-kau, untuk bisa merekrut gadis cantik sebanyak-banyaknya, telah diciptakan semacam obat perangsang yang tak berwujud dan tak berbau. Dengan mengandalkan obat perangsang inilah maka orang yang terkena akan segera terangsang napsu birahinya, bahkan keinginannya untuk bersetubuh sangat besar, bukan hanya begitu, bahkan gadis yang terkena obat perangsang itu tak bakal puas hanya bersetubuh satu kali saja. Itulah sebabnya banyak gadis cantik yang akhirnya bersedia bergabung dengan Jit-seng-kau. Dan kini obat perangsang itu sudah mulai mempengaruhi Siang Ci-ing yang sedang bertarung. Periahan-lahan gadis itu mulai merasakan rangsangan napsu birahi di dalam tubuhnya ….
Bagaimana nasib Siang Ci-ing yang mulai terpengaruh obat perangsang? Apakah dia bakal diperkosa kakek berbaju hitam itu? Bagaimana pula dengan nasib Lokyang Capji Eng, apakah mereka berhasil lolos dari kepungan? Apakah Cau-ji berhasil mengatasi kepungan ilmu barisan Ngo-heng-tin? Tunggu dan baca Pendekar Naga Mas 3

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: