PENDEKAR NAGA MAS 3

PENDEKAR NAGA MAS 3.
Karya : Yen To (Gan To).
DAFTAR ISI:.
Bab I. Mendapat durian runtuh.
Bab II. Merampas Pedang Pembunuh Naga.
Bab III.Raja Bisa, Rasul Ular.
Bab IV. Badai melanda Siau-lim-si.
Bab V. Ong Sam-kongcu bergelar bangsawan. Bab VI. Kaum sesat musnah, dunia aman.

Bab I. Mendapat durian runtuh.
Siang Ci-ing merasakan hawa panas semakin menyelimuti seluruh tubuhnya, kesadarannya mulai berkurang, napsu birahinya makin berkobar, dia seperti menginginkan “sesuatu”…. Tak terlukiskan rasa kaget nona itu setelah mendengar perkataan musuhnya. Begitu konsentrasinya buyar, tubuhnya segera tertotok oleh serangan yang dilancarkan perempuan cantik itu. Tanpa ampun badannya seketika roboh ke tanah. Pada saat itulah mendadak terdengar suara derap kaki kuda berkumandang dari kejauhan, derap kaki kuda yang bergerak makin mendekat disertai bentakan seseorang yang amat nyaring, “Minggir!” Cau-ji tahu pastilah dua bersaudara Suto yang telah datang, maka bentaknya pula, “Bunuh!” 1 Bentakan itu disertai segenap tenaga dalam yang dimilikinya, selain itu didorong pula oleh perasaan cemas dan hawa napsu yang meningkat. Begitu menggema di angkasa, bagai guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, membuat semua orang terkesiap dan jantung berdebar keras. Suto bersaudara tahu bahwa Cau-ji sangat cemas dengan situasi yang dihadapinya, maka sebelum kudanya tiba, dengan gerakan rajawali sakti pentang sayap mereka menerkam ke depan. Begitu meluncur tiba, pedangnya sudah dilolos dari sarungnya. Dua orang kakek yang sedang konsentrasi menghadapi serangan maut Bu-siang-sin-kang jadi kaget setengah mati ketika merasakan datangnya hawa pedang yang dingin dari arah belakang. Buru-buru mereka berdua mengegos ke samping.
Begitu melihat barisan itu menunjukkan lubang kelemahan, Cau-ji segera memanfaatkan dengan sebaik-baiknya, cepat tubuhnya berkelebat ke arah kakek sebelah kanan yang sedang mengegos dan menghadiahkan sebuah pukulan maut. “Aduuh” diiringi jeritan ngeri, tubuh orang itu seketika terbelah jadi dua bagian. Menggunakan kesempatan saat kakek di sampingnya kaget bercampur gugup, kembali telapak tangan kirinya menghantam dadanya kuat-kuat. Meskipun dengan cekatan kakek itu berhasil menghindari serangan ke bagian tubuh mematikan itu, namun terdorong angin pukulan yang kuat, badannya mundur sempoyongan dan bergeser ke hadapan Suto Bun. Dengan jurus Liu-seng-peng-gwe (bintang kejora mengejar rembulan), pedangnya langsung menusuk ke punggungnya dan mengakhiri hidupnya. “Tempat ini kuserahkan kepada kalian berdua!” bentak Cau-ji kemudian, dengan sekali lompatan dia menghampiri Siang Ci-liong. Waktu itu Siang Ci-liong sedang terbelenggu oleh barisan Sam-jay-tin yang dilakukan tiga perempuan cantik, keadaannya sangat mengenaskan. Masih berada di tengah udara, Cau-ji dengan jurus Thay-san-ya-teng (bukit Thay-san menindih kepala) dia babat tubuh seorang perempuan cantik. Baru saja dengan susah-payah perempuan cantik itu menghindari serangan, pedang Cau-ji dengan jurus Yu-hun-jan-sin (sukma bengis menempel tubuh), Huntoan-nay-ho (sukma putus tak berdaya) serta Kui-ong-tham-jiau (raja setan pentang cakar) telah mencecar. Sekali lagi terdengar jeritan ngeri berkumandang di angkasa, perempuan cantik itu sudah termakan sebuah tusukan dan roboh terkapar di tanah. Melihat rekannya tewas, kelima kakek lainnya meraung gusar, serentak mereka berlari mendekat. Cau-ji tahu mereka akan mengurung dirinya lagi dengan Ngo-heng-tin, maka hardiknya, “Tidak usah menggunakan cara kuno!” Tubuh berikut pedangnya langsung meluncur ke tubuh salah satu di antara kakek itu. Cepat orang itu berkelit ke samping, tapi belum sempat berdiri tegak, telapak kiri Cau-ji dengan jurus Poan-koan-kou-hun (hakim sakti menggaet sukma) telah menghajar kepalanya dengan keras. Kebetulan Cau-ji melayang turun persis di samping kiri seorang perempuan cantik, tidak membuang waktu pedangnya langsung ditusukkan ke pinggang perempuan itu hingga tembus. Diikuti jeritan ngeri, tewaslah perempuan itu seketika. Rekannya buru-buru mengegos ke samping untuk melarikan diri, tapi Siang Ci-liong segera menyusul ke depan sambil membabat tubuhnya. Cau-ji tidak tinggal diam, dia mengayunkan juga tangan kanannya, “Blam!”, tubuh perempuan terakhir itu seketika hancur berantakan. Kini di arena tinggal tujuh orang kakek berbaju hitam serta perempuan cantik yang sedang membopong tubuh Siang Ci-ing, melihat betapa dahsyatnya ilmu silat yang dimiliki Manusia penghancur mayat, serentak mereka mundur. Suto bersaudara pun ketakutan sampai tak bisa bergerak lagi. “Tahan!” mendadak perempuan cantik itu membentak. Sambil berkata, telapak kanannya langsung ditempelkan di atas jalan darah Thian-leng-hiat di ubun-ubun Siang Ci-ing.
2 Agak tertegun juga Cau-ji melihat ancaman itu, tegurnya, “Mau apa kau?” “Minggir!” bentak perempuan cantik itu. “Tinggalkan dulu orang itu!” “Boleh, setelah kami pergi, tentu saja dia akan kutinggalkan!” “Lepaskan dia dulu, kemudian kalian baru pergi.” “Tidak!” Hawa amarah kontan berkobar dalam dada Cau-ji, sebuah pukulan dahsyat kontan dibacokkan ke depan. “Kau..” dengan ketakutan orang itu menjerit, tergopoh-gopoh dia berkelit ke samping. “Lepaskan dia dan kalian segera pergi!” kembali Cau-ji menghardik. Tanpa pikir panjang orang itu segera membebaskan Siang Ci-ing dari cengkeramannya, kemudian setelah memberi tanda kepada kawanan kakek berbaju hitam itu, serentak mereka kabur dari situ dalam keadaan sangat mengenaskan. Dari dalam sakunya Siang Ci-liong mengeluarkan sebuah Giok-pay (lencana kemala) serta dua lembar uang kertas, diserahkan kepada seorang pemuda berbaju perlente, katanya, “Saudara Liu, coba kau pergi memanggil kawanan opas!” Kemudian ia mulai memeriksa keadaan luka yang diderita Siang Ci-ing, setelah memeriksa denyut nadinya beberapa saat, tiba-tiba paras mukanya berubah hebat. Lama sekali dia termenung, akhirnya sambil menjura kepada Cau-ji, tanyanya, “Tolong tanya apakah kau adalah saudara Yu?” “Benar!” sahut Cau-ji sambil mengangguk, “aku adalah Yu Si-bun!” “Saudara Yu, boleh aku bicara?” “Katakan saja saudara Siang” Cau-ji mengikuti Siang Ci-liong naik ke lantai tiga rumah makan Hong-hok-lau, di situ dengan wajah serius Siang Ci-liong berkata, “Saudara Yu, tolong tanya bagaimana kesanmu terhadap adik perempuanku?” Agak bergetar hati Cau-ji menghadapi pertanyaan itu, setelah termenung sejenak, sahutnya, “Kecantikan adikmu bagai bidadari dari kahyangan, bukan cuma menguasai ilmu Bun (sastra), juga mahir Bu (silat), aku yakin pasti banyak putra raja, cucu pangeran, dan pendekar ganteng yang mengimpikan dirinya!” Sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibir Siang Ci-liong, sahutnya, “Betul sekali! Hanya sayangnya adikku selalu memandang terlalu tinggi dirinya, dia punya selera tinggi hingga sampai sekarang belum menemukan pasangan yang cocok.” “Tapi sejak menyaksikan pertarunganmu melawan Susiokco tempo hari, kelihatannya adikku sangat menaruh perhatian terhadapmu, tolong tanya apakah saudara Yu…” “Saudara Siang, lebih baik kita bahas persoalan ini lain waktu saja,” tukas Cau-ji cepat, “yang penting sekarang adalah bagaimana menyadarkan adikmu.” “Saudara Yu,” paras muka Siang Ci-liong berubah amat serius, “menurut hasil analisaku setelah memeriksa denyut nadinya, dia sudah terkena obat perangsang yang keras pengaruhnya, untuk menyelamatkan jiwanya hanya ada satu jalan, yakni melakukan hubungan badan antara lelaki dan wanita!” “Tapi…” “Saudara Yu, sejak kematian ayahku, keluarga kami tinggal Siaute serta adikku ini saja, aku sebagai kakak jelas harus bertanggung-jawab atas keselamatan jiwanya, karena itu aku akan menjadi walinya untuk memutuskan soal perkawinan adikku itu. Siaute ingin tanya, apakah kau punya niat dengan adikku itu?” “Soal ini … saudara Siang, Siaute sudah punya istri dan istri muda, sekalipun belum dinikah secara resmi, namun mereka sudah berkumpul denganku, jika kau tidak keberatan masalah ini, tentu saja Siaute sangat setuju!” Kembali Siang Ci-liong termenung sambil berpikir, kemudian ujarnya tegas, “Bila saudara Yu menyetujui, berarti kau telah menyelamatkan nyawa adikku, buat apa mesti meributkan soal status dan sebutan?” “Kau tak usah kuatir saudara Siang,” janji Cau-ji dengan wajah sungguh-sungguh, “Siaute akan selalu memandang mereka sederajat, tak ada perbedaan mana yang tua dan mana yang muda.” 3 “Terima kasih banyak saudara Yu,” teriak Siang Ci-liong kemudian kegirangan, “kalau begitu kuserahkan adikku kepadamu. Siaute buru-buru akan mengurusi luka para saudara lainnya, aku harus balik dulu ke kota Lok-yang.” “Baik, bila urusan telah selesai, Siaute pasti akan menyambangimu di rumah.” “Hahaha, kalau begitu Siaute akan menunggu kehadiranmu, sampai jumpa!” Setelah turun dari loteng, mereka berdua saksikan ada enam orang opas sedang memberi petunjuk kepada rakyat untuk membantu memberesi mayat serta noda darah yang berceceran. Siang Ci-liong sendiri menerima sesosok mayat dari rekannya, setelah berpamitan dengan Cau- ji, dia pun berlalu dari situ dengan cepat. Tujuh ekor kuda tanpa penunggang mengikut di belakangnya. 0oo0 Sepeninggal Siang Ci-liong, Cau-ji segera membopong Siang Ci-ing sambil berbisik kepada Siau- si dengan ilmu menyampaikan suara, “Enci Si, tugas berat telah datang!” Siau-si tersenyum, sahutnya, “Adik Cau, Thian telah melapangkan jalanmu, bukan cuma mendapat hartanya, juga memperoleh orangnya, kenapa dibilang tugas berat?” Cau-ji hanya tertawa getir, diam-diam mereka segera mengeluyur pergi dari situ. Sepeninggal mereka dari rumah makan Hong-hok-lau, Cau-ji bertiga segera bergerak cepat bagaikan sambaran kilat, untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, mereka sengaja memilih jalan terpencil dan jauh dari keramaian manusia. Satu jam kemudian tibalah mereka di bukit Lok-ga-san. Di balik hutan belukar yang sangat lebat mereka bertiga menemukan sebuah gua yang sangat dalam, mereka pun memasuki gua itu dan membersihkannya sebentar, lalu dari dalam buntalannya Siau-si mengeluarkan dua stel pakaian dan direntangkan di lantai sebagai alas tidur. “Adik Cau,” bisik Siau-bun kemudian, “apakah nona Siang terkena racun jahat?” “Benar,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir, “menurut hasil pantauanku setelah memeriksa denyut nadinya, obat perangsang Jit-seng-kau yang meresap ke tubuhnya sudah mulai bekerja, kelihatannya aku harus membuang banyak tenaga untuk mengobatinya.” “Bagus sekali,” seru Siau-bun kegirangan, “dengan begitu kami akan memperoleh seorang pembantu yang handal untuk melayani kebutuhanmu.” “Adik Cau,” kata Siau-si pula, “kami sempat cemas ketika melihat mereka datang mencarimu semalam, tak nyana gara-gara musibah malah mendapat rejeki.” Kembali Cau-ji tertawa getir. “Ai, pertarungan yang berlangsung tadi sungguh amat sengit, tak kusangka kekuatan yang dimiliki perkumpulan Jit-seng-kau begitu tangguh dan hebat, lain kali nampaknya kita mesti lebih berhati-hati,” “Adik Cau, kau boleh berlega hati untuk ‘menolong orang’, bila kawanan bangsat itu berani datang mengganggu, Cici tak akan membiarkan mereka keluar dalam keadaan hidup.” Selesai berkata mereka berdua siap meninggalkan gua. “Hey, tunggu dulu,” Cau-ji segera berteriak, “kalian harus tetap di sini membantu aku!” “Ah, tidak, hanya melihat buah segar sambil menahan dahaga, sengsaralah kita berdua,” omel Siau-bun cepat. “Siaute kuatir tak sanggup mengendalikan dia, kan dia terkena obat perangsang.” “Hahaha, ternyata ada saatnya juga kau merasa takut.” “Jangan menggoda aku, aku kuatir melukainya, jadi mesti hati-hati, apalagi jika obat perangsang itu mulai bekerja, kesadarannya pasti hilang, apa jadinya kalau sampai terluka?” “Hahaha, baiklah, mengingat kebaikanmu selama ini, kami akan tetap tinggal di sini, cuma kami mesti bicara dulu di muka, kami hanya membantu, bukan berarti harus memikul beban tanggung jawab terakhir bila hasratmu tak kesampaian.” “Tentu, tentu, Siaute pasti akan menyelesaikan tugas ini bersamanya.” Sambil berkata dia mulai melucuti pakaian sendiri. Dua bersaudara Suto membantu melucuti pakaian Siang Ci-ing hingga bugil. Tiba-tiba terdengar Siau-bun berseru tertahan, sambil menuding bagian bawah gadis itu, serunya, “Coba kalian lihat!” 4 Cau-ji berpaling, ia segera jumpai di bagian atas “lubang surga” milik Siang Ci-ing yang bulat menonjol ditumbuhi bulu hitam yang sangat lebat dan panjang. Sebenarnya bulu hitam yang tumbuh di bagian bawah perut bukanlah sesuatu yang aneh, tapi bulu lebat yang dimiliki gadis ini agak aneh, bukan saja dari lubang surga hingga ke bawah tumbuh bulu yang panjang dan lebat, bahkan di seputar pantat pun banyak ditumbuhi bulu lebat, sesuatu yang jarang dijumpai. Dengan tangan gemetar Cau-ji mengelus bulu lebat itu, terasa bulu itu halus dan lembut, dia mencoba mencabut sehelai rambut bawah itu dan diamati sekejap, lalu gumamnya, “Wah, ternyata bulu sungguhan!” “Ssst, jangan berteriak, tentu saja bulu sungguhan!” seru kedua gadis itu agak tersipu, “kalau bukan bulu sungguhan, buat apa dia tempelkan bulu di bagian bawahnya yang tersembunyi?” “Wah, coba lihat, di bagian sini pun ditumbuhi juga bulu lebat!” Mengikuti arah yang dituding Cau-ji, Suto bersaudara segera mengamati dengan seksama, benar saja, di seputar lubang dubur pun ditumbuhi bulu lebat berwarna hitam, kenyataan ini kontan membuat mereka makin tercengang. Cau-ji masih mengamati tubuh bagian bawah nona itu dengan perasaan keheranan dan ingin tahu. Menyaksikan tubuh Siang Ci-ing mulai gemetar keras, Siau-si buru-buru berbisik, “Adik Cau, sudah, jangan ditengok melulu, sekarang dia mulai tak tahan, kau harus segera bekerja.” “Kalau begitu pegangi tangan dan kakinya, Siaute segera akan membebaskan totokan jalan darahnya.” Buru-buru Siau-si duduk bersila di bagian kepala Siang Ci-ing dan merentangkan sepasang tangannya ke atas, kemudian memeganginya kuat-kuat. Siau-bun juga bergeser ke bawah dengan berjongkok di bagian belakang sambil menekan sepasang kakinya. “Wah, tak nyana aku harus merepotkan banyak orang!” gumam Cau-ji sambil tertawa getir. Habis berkata dia pun membebaskan totokan jalan darah tidurnya. Terdengar Siang Ci-ing berseru lirih, lalu mulai menggerakkan keempat anggota badannya, beruntung dua bersaudara Suto sudah membuat persiapan hingga genggamannya tak sampai terlepas. Sekalipun tangan dan kakinya tak dapat bergerak, namun tubuhnya menggeliat ke sana kemari. Khususnya tubuh bagian bawahnya, terlihat lubang surganya ditonjol-tonjolkan ke atas seolah mulut kering yang menunggu datangnya air. Melihat lubang surga si nona yang buka tutup seperti mulut orang yang tersengal-sengal, Cau-ji mulai terangsang napsu birahinya, darah serasa mengalir lebih cepat dalam tubuhnya. Karena birahinya timbul, tombaknya pun ikut bangkit berdiri dan tegak mengeras. Tubuh Siang Ci-ing menggeliat semakin keras, dengus napasnya pun semakin memburu. Bila ada orang menyaksikan keadaannya saat itu, mereka pasti akan mengira Siang Ci-ing sebagai seorang wanita jalang yang amat cabul. Lama kelamaan Siau-si tak tega juga, segera bisiknya, “Adik Cau, cepat masukkan milikmu ke dalam lubangnya, kasihan dia.” Cau-ji segera merentang sepasang kaki gadis itu lebar-lebar, lalu dengan tangannya dia merentangkan pintu gerbang di atas lubang itu, baru saja ujung tombaknya ditempelkan di atas lubang itu, Siang Ci-ing bagaikan harimau kelaparan telah menerkamnya ke atas dan langsung menelan tombak itu sepertiganya. Cau-ji segera merasakan tombaknya menusuk liang kecil yang masih kencang dan sempit, untuk mendorongnya lebih ke dalam, dia mesti menggunakan tenaga tambahan. Masih untung lubang milik Siang Ci-ing waktu itu sedang kelaparan hebat sehingga dia pun ikut membantu melahapnya secara rakus, tak lama kemudian seluruh tombak panjang itu sudah tertelan. Tak kuasa lagi Cau-ji berpekik kenikmatan. Ternyata ujung tombaknya sudah ditekan Siang Ci-ing hingga menyentuh dasar lubang, sentuhan itu membuat tubuhnya menggigil kenikmatan, itulah sebabnya dia pun berteriak kegirangan.
5 Siang Ci-ing seakan sama sekali tidak merasakan kesakitan, dia masih menggoyang tubuhnya dengan sepenuh tenaga. Berhubung sudut ruangan yang tidak menguntungkan, Cau-ji merasa gerakan tubuhnya sangat terhambat, segera bisiknya, “Cici, biar dia saja yang berada di atas, mungkin jauh lebih leluasa ketimbang aku yang menidurinya dari atas!” Suto bersaudara mencoba membalik tubuh gadis itu, tapi tenaga yang dimiliki Siang Ci-ing waktu itu kuat sekali hingga mereka gagal membalik tubuhnya. Tiba-tiba Cau-ji berbisik lagi, ”Pegangi saja badannya, biar aku yang membalikkan.” Kemudian sambil memeluk tubuh gadis itu kuat-kuat, dia berguling ke samping dan mengangkat tubuh Siang Ci-ing yang semula berbaring di bawah menjadi mendudukinya di bagian atas. Cau-ji tetap memegangi tangan gadis itu erat-erat, tapi membiarkan badannya bergoyang sekehendak hati.
Suara “plokk, plok” bunyi gencetan badan yang basah pun bergema tiada hentinya. Dengan kehebatan tenaga dalam yang dimiliki mereka bertiga, biar berada dalam ruang gelap pun mereka dapat menyaksikan keadaan di seputar sana dengan jelas. Mereka dapat menyaksikan juga darah perawan yang meleleh keluar dari lubang surga Siang Ci-ing berceceran ke mana-mana. Suto bersaudara pernah merasakan juga bagaimana sakitnya ketika selaput perawan mereka terobek, melihat kegilaan Siang Ci-ing saat ini, mereka mulai menguatirkan keadaan si nona setelah sadar nanti, bagaimana mungkin bisa berjalan? Waktu berlalu sangat cepat, pertempuran antara Cau-ji melawan Siang Ci-ing masih berlangsung dengan serunya. Mendadak paras muka Cau-ji agak berubah, bisiknya lirih, “Cici! Ada orang datang!” “Adik Cau, lanjutkan kerjamu, biar kami yang menengok keluar” “Cici Si, keamanan nomor satu, yang penting keselamatan sendiri, berapa banyak yang bisa kalian hadapi, hadapi saja seperlunya, nanti biar Siaute yang bereskan sisanya.” Siau-si mengangguk dan segera keluar dari gua bersama adiknya. Di luar gua mereka berdua menyembunyikan diri, tampaklah bayangan manusia berkelebat, secara beruntun muncul dua puluhan orang dari balik semak belukar. Dengan cepat mereka dapat mengenali kalau orang-orang itu adalah kawanan jago kalangan hitam yang pernah menyatroni rumah makan Jit-seng-lau beberapa hari berselang. Kenyataan ini membuat mereka berdua makin terkesiap. Diam-diam Siau-si mencoba menghitung jumlah mereka. “Kwan-tiong-ji-ok (dua manusia jahat dari Kwan-tiong), Tiang-pek-sam-him (tiga beruang dari bukit Tiang-pek), Im-san-siang-kiam (sepasang pedang dari Im-san), Yau-san-su-sat (empat malaikat dari Yau-san) … ah, masih ada lagi perempuan cantik itu beserta beberapa orang kakek berbaju hitam, nampaknya pertarungan sengit tak terelakkan lagi.” Kedua puluhan jago itu segera menyebar di sekitar gua setelah tiba di tempat itu, apalagi ketika mendengar suara bergeseknya daging dan dengusan napas memburu yang bergema dari dalam gua.
Sambil tertawa dingin perempuan cantik itu berkata, “Kebetulan sekali! Sekarang Manusia penghancur mayat sedang berbuat begituan dengan budak itu, cepat kia terobos masuk ke dalam gua dan meringkus mereka berdua!” Suto bersaudara mendengus dingin, tiba-tiba mereka muncul dari tempat persembunyian dan berdiri menghadang di depan mulut gua. Seorang kakek berbaju hitam segera merangsek maju, pedangnya langsung ditusukkan ke dada Siau-bun dengan jurus serangan yang aneh. Siau-bun mendengus dingin, tanpa menggeser barang selangkah pun dia mengayunkan tangan kanannya ke depan, sebuah pukulan langsung dihantamkan ke tubuh orang itu.
Belum lagi telapak tangannya tiba, desingan angin tajam telah menyambar duluan. Kakek berbaju hitam itu sadar akan kelihaian lawannya, buru-buru dia menebaskan pedangnya dengan jurus serangan dari ilmu pedang pengejar nyawa. Tampak tubuhnya bergerak bagaikan bayangan setan, cepatnya bukan kepalang.
6 Dari perubahan jurus serangan yang dilakukan lawan, Siau-bun sadar tenaga dalam musuh cukup tangguh, dia segera menarik tubuhnya sambil berputar ke samping, kemudian secepat sambaran petir sepasang tangannya melepaskan serangan secara bertubi-tubi. Segulung angin pukulan bagai gulungan ombak di tengah samudra meluncur tiba dengan cepat, dikurung oleh serangan yang amat dahsyat, permainan pedang kakek berbaju hitam itu jadi makin melamban dan tercecar. Lebih kurang sepeminuman teh kemudian tampak bayangan hitam berkelebat, kakek berbaju hitam itu menjerit kesakitan sambil mundur tiga langkah dengan sempoyongan, belum lagi berdiri tegak, darah segar sudah menyembur keluar dari mulutnya. Siau-si memburu ke depan, dia berniat menambahi lagi dengan sebuah pukulan untuk mencabut nyawanya, mendadak terdengar bentakan keras, si pukulan lembek Yu Bun-poh sudah maju sambil melepaskan pukulan. Siau-bun segera berkelit ke samping, lalu melayang ke samping. Yu Bun-poh sama sekali tak bersuara, kembali tubuhnya merangsek maju, tangan kanannya menghantam ke wajah Siau-bun sementara tangan kirinya membabat ke bahu kanan. Menyusul kemudian tangan kanannya berganti membabat ke samping, sementara tubuhnya berputar menyelinap ke sisi kanan nona itu. Suto Bun tertawa dingin, tidak nampak tubuhnya bergerak, secepat kilat tangan kanannya sudah membabat ke depan. Yu Bun-poh sadar, bila gadis itu menduduki posisi di atas angin maka dia akan menjadi bagian yang kena dihajar, cepat badannya bergeser, kini dia mengembangkan ilmu pukulan Pat-kwa-yu- sin-ciang yang ampuh. Tampak tubuhnya bergerak secepat petir, sebentar melayang bagaikan hembusan angin, sebentar maju sebentar mundur, jurus serangan dilancarkan susul menyusul. Untuk sesaat Suto Bun terbelenggu oleh gerakan tubuh lawan dan tak mampu berbuat banyak. Sesaat kemudian dia himpun segenap kekuatannya ke dalam tangan, lalu telapak kirinya dibabatkan ke tubuh Yu Bun-poh yang sedang menubruk datang. Tidak menunggu musuhnya melancarkan jurus tandingan, badannya merangsek maju lebih ke depan, tangan kanannya membabat ke dada lawan dengan sepenuh tenaga. Serangan berantai yang dilakukan gadis itu meski agak lemah dalam hal kekuatan, namun mendatangkan manfaat yang besar untuk menanggulangi gerakan tubuh Yu Bun-poh yang lincah. Seketika itu keampuhan Yu Bun-poh terhambat, dia tak bisa lagi bergerak selincah naga sakti. Siau-bun pun memutar badan mengikuti gerakan serangan, pukulan demi pukulan dilontarkan berurutan.
Sepeminuman teh kemudian hawa napsu membunuh telah menyelimuti wajah Suto Bun, tiba- tiba dia mengeluarkan ilmu pukulan Cing-li-im-ciang. Serangan yang dilancarkan kali ini menggunakan tenaga lunak, bukan saja lembek, bahkan langsung mengendalikan gerak serangan lawan. Sudah empat puluh tahun lebih Yu Bun-poh meyakinkan ilmu pukulan itu, selama malang- melintang di dunia persilatan belum pernah ia jumpai musuh setangguh hari ini. Diam-diam ia menggigit bibir, jurus serangannya kembali berubah, kini dia mengandalkan keras untuk melawan keras. Siau-bun mendengus dingin, sekali lagi gerak serangannya diubah. Waktu itu kebetulan Yu Bun-poh sedang mendorong sepasang tangannya dengan sepenuh tenaga, Siau-bun segera memutar badannya setengah lingkaran, lalu sambil menekuk pinggang, tangannya ditalakkan ke dada musuh. Angin pukulan yang menderu pun seketika menyapu ke tubuh lawan. “Ah!” serangan Yu Bun-poh patah di tengah jalan, dengan tubuh berlumuran darah buru-buru dia berjumpalitan menjauh. Kegemparan segera terjadi dalam kerumunan jago-jago itu. Yau-san-su-sat langsung menubruk ke arah Siau-bun tanpa menimbulkan sedikit suara pun. “Jangan membokong orang!” hardik Siau-si mendadak, sepasang tangannya langsung dihantamkan ke depan dan mengancam tubuh keempat orang itu.
7 Merasakan betapa dahsyat dan kuatnya ancaman yang tiba, Yau-san-su-sat terkesiap, cepat mereka menahan kembali gerakan tubuhnya. Si bayangan setan segera melolos golok berge-langnya, pemuda tampan pembetot sukma melolos ruyung, jago pengejar sukma mencabut senjata Boan-koan-pit, sementara iblis wanita berwajah kemala mencabut pedangnya. Serentak empat orang dengan empat macam senjata meluruk ke tubuh Siau-si. Menghadapi datangnya ancaman itu, Siau-si menggetarkan pedangnya, dengan jurus burung merak pentang sayap, terlihat bianglala putih berkelebat. ”Traang!”, bentrokan nyaring segera bergema memecah keheningan, tampak tubuh keempat orang itu bergetar keras dan masing-masing mundur dengan sempoyongan. Bagi seorang ahli, begitu bertarung segera akan ketahuan berisi atau tidak. Yau-san-su-sat adalah pentolan kalangan hitam di wilayah gunung Yau-san, kehebatan ilmu silatnya boleh dibilang sudah amat tersohor di dunia persilatan. Siapa tahu dengan kemampuan mereka berempat yang begitu hebat ternyata tak mampu melukai pihak lawan, sebaliknya malah dipukul mundur oleh musuh, kejadian itu kontan membuat para jago yang hadir di situ terkesiap. Siau-si tahu, biarpun mereka berhasil menduduki posisi di atas angin, namun demi keselamatan Cau-ji yang berada dalam gua, mereka perlu membasmi musuh secepatnya. Maka secara diam-diam ia telah menyalurkan hawa murni Bu-siang-sin-kangnya di balik jurus pedang, berbareng dia pun menggunakan ilmu pedang Ciu-thian-sin-kiam andalan keluarganya untuk menghabisi lawannya. “Sreet, sreet, sreet!”, secara beruntun dia melancarkan tiga bacokan, semuanya diarahkan ke tubuh keempat orang itu.
Yau-san-su-sat tercecar hebat, tubuh mereka mundur berulang kali. Di tengah pertarungan, kembali terdengar Siau-si membentak nyaring, dimana cahaya tajam berkelebat, sebuah babatan kilat membuat lengan kiri si bayangan setan terlepas dari tempatnya, sementara iga kanan si jago pengejar nyawa terluka parah. Sambil menjerit kesakitan kedua orang itu mengundurkan diri dengan sempoyongan. Melihat itu Kwan-tiong-ji-ok segera maju menerjang sambil mengayun senjatanya, kawanan iblis lain pun serta-merta ikut maju mengembut. Kembali terdengar dua kali jeritan kesakitan bergema di angkasa. Perlu diketahui, Yau-san-su-sat memang bukan tandingan Siau-si kendatipun mereka melawan dengan sepenuh tenaga, tak heran begitu mereka kehilangan dua orang anggotanya, kedua orang yang tersisa tak sanggup menahan diri. Secara beruntun Siau-si melancarkan serangkaian serangan mematikan, dengan jurus Seng- liong-ing-hong (menunggang naga menggiring burung hong) dia tangkis cambuk Toh-ming-long- kun, kemudian ujung pedangnya ditusukkan langsung ke dadanya. Tak sempat lagi menghindarkan diri, Toh-ming-long-kun menjerit kesakitan dan roboh terkapar. Pada saat bersamaan Sim-lojit belum sempat mencapai permukaan tanah ketika Siau-si dengan jurus Ji-yan-shia-hui (burung walet terbang ke samping) telah membabat ubun-ubun Giok-lo-sat ini hingga terbelah jadi dua. Tiba-tiba terasa desingan angin tajam datang dari arah belakang, cepat Siau-si mengegos ke kanan, saat itulah sepasang pedang Im-san-siang-kiam telah menyambar dari sisinya. Baru lolos dari tusukan sepasang pedang Im-san-siang-kiam, Kwan-tiong-ji-ok telah menyusul tiba, menyusul kemudian ada belasan orang jago ikut mengembut.
Dengan gigih dua bersaudara Suto memberikan perlawanan, sekalipun tiada tanda-tanda akan kalah, namun mereka sudah dipaksa makin menjauhi mulut gua. Menggunakan kesempatan itu, dua orang segera menyelinap masuk ke dalam gua. Waktu itu Cau-ji masih berbaring di lantai sambil dinaiki Siang Ci-ing yang cantik dan menawan, coba kalau kejadian ini berlangsung di saat lain, betapa bahagianya anak muda itu. Bukan cuma bertarung habis-habisan melawan si nona, paling tidak dia pasti akan meremas- remas dan menghisap sepasang buah dadanya yang montok itu.
8 Sayang suara pertarungan yang berlangsung di depan gua telah mengusik konsentrasinya, sekalipun dua bersaudara Suto tidak menunjukkan gejala kalah, tapi seleranya kontan hilang, kini dia hanya bisa menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia. Coba kalau bukan dia sedang mengobati racun obat perangsang yang mengendon dalam tubuh Siang Ci-ing, mungkin sejak tadi Cau-ji sudah menerjang keluar gua dan menghabisi kawanan iblis itu. Pada saat itulah tiba-tiba ia mendengar ada suara lirih bergema di dalam gua menyusul dua orang berbisik lirih, Cau-ji tahu pasti ada orang sedang menyusup masuk, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya. Dia pun berlagak seolah-olah tidak tahu akan kehadiran mereka berdua, sementara sepasang tangannya masih meraba dan meremas sepasang payudara yang putih montok, diam-diam tenaga dalamnya dihimpun ke dalam telapak tangan kanannya, ia berencana menghajar mampus kedua orang musuhnya begitu mereka muncul di depan mata. Benar saja, tak lama kemudian terlihat dua orang menyusup masuk ke dalam ruangan, mereka langsung tertawa menyeringai begitu melihat ada sepasang muda-mudi sedang bergumul dengan serunya. Tanpa banyak bicara mereka langsung mengayunkan keempat telapak tangannya dan membabat tubuh anak muda itu. Diam-diam Cau-ji mendengus dingin, sebelum keempat belah tangan lawan menyambar tiba, tenaga pukulan yang telah disiapkan sejak tadi itu langsung didorong ke muka. “Aduh! Aduh!”, dua kali jeritan pilu bergema. “Blum!”, hancuran badan bercampur percikan darah segar segera berhamburan ke mana-mana. Biarpun orang-orang yang berada di luar gua tidak menyaksikan sendiri bagaimana hancuran daging dan percikan darah berhamburan, namun jeritan ngeri yang begitu memilukan diiringi suara benturan yang menakutkan cukup memberi kesan betapa dahsyat dan menakutkannya tenaga pukulan Manusia pelumat mayat.
Kontan perempuan cantik dan beberapa orang kakek berbaju hitam itu pecah nyali dan ketakutan setengah mati, tak kuasa serentak mereka berseru, “Cepat kabur!” Tanpa membuang waktu lagi mereka kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Kawanan jago lainnya yang menyaksikan kejadian itu serentak balik badan dan ikut melarikan diri dengan tergesa-gesa. Dalam waktu singkat kawanan manusia itu sudah lenyap dari pandangan. Dua bersaudara Suto menghembuskan napas lega, setelah menyarungkan kembali pedangnya, cepat mereka berlari masuk ke dalam gua. Setelah melalui dinding gua yang kotor karena percikan darah dan hancuran daging, akhirnya mereka jumpai Cau-ji sedang duduk bersila di tengah ruang gua dengan senyum dikulum. Pertarungan sengit yang barusan berlangsung telah menguras sebagian besar tenaga dalam kedua orang itu. “Enci Si, enci Bun” sambil tertawa Cau-ji menegur, “apakah mereka sudah kabur?’ “Adik Cau, mereka sudah pecah nyali setelah menyaksikan kedahsyatan tenaga pukulanmu, bahkan saking takutnya sempah menyumpahi orang tua sendiri kenapa hanya memberi dua kaki saja, tentu saja orang-orang itu sudah kabur semua,” sahut Suto Bun sambil tertawa. “Hahaha, ternyata mereka cukup tahu diri, kalau tidak, pasti akan kuhancur lumatkan tubuh mereka semua.” Sementara itu Suto Si sedang memperhatikan Siang Ci-ing yang masih bermandikan keringat sambil menggerakkan tubuh bagian bawahnya dengan hebat. Keluhnya sambil menghela napas, “Sungguh dahsyat daya kerja obat perangsang ini!” “Adik Cau,” kembali Suto Bun bertanya, “apakah kondisi badan enci Ing masih memungkinkan untuk berlanjut?” “Siaute sendiri pun tak tahu bagaimana harus berbuat,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir. Dari dalam sakunya Suto Si mengeluarkan sebuah botol porselen dan menuang dua butir pil yang harum baunya, kemudian ia buka mulut Siang Ci-ing dan menjejalkan pil itu ke dalam mulutnya.
9 “Cici,” kata Cau-ji lagi sambil tertawa getir, “menurut kalian, sampai kapan ia baru menghentikan gerakan tubuh erotiknya?” “Cau-te, dalam masalah seperti ini rasanya hanya kau sendiri yang lebih tahu, masa kau malah bertanya kepada kami berdua? Aneh.” Cau-ji menggeleng. “Cici,” katanya, “kalau begitu kalian beristirahatlah lebih dulu!” Kedua gadis itu tahu, dengan anak muda itu sebagai pelindungnya, mereka dijamin aman tenteram tak kekurangan sesuatu apa pun, maka dengan perasaan lega kedua orang nona itupun mulai mengatur pernapasan. Melihat kedua orang nona itu sudah mulai bersemedi, Cau-ji pun memasang telinga dan mencoba memeriksa sekeliling tempat itu, setelah yakin sepuluh li di seputar sana tak ada orang, dengan perasaan lega dia mulai menggerayangi kembali sekujur badan Siang Ci-ing. Memang harus diakui, Siang Ci-ing yang berasal dari keturunan orang kaya benar-benar pandai memelihara badan. Bukan saja kulit tubuhnya putih mulus, lembut dan licin, ditambah lagi ia berlatih silat sejak kecil, badannya nampak sangat kencang dan menggiurkan. Makin meraba Cau-ji merasa hatinya tambah gatal, napsunya makin berkobar, bahkan ‘barang’ miliknya mulai berdiri tegak. Coba kalau bukan sedang melindungi Suto Bun berdua yang sedang bersemedi, niscaya dia sudah melancarkan jurus serangan bombadir yang kencang ke lubang surga milik gadis itu. Dengan susah payah akhirnya Suto Bun selesai juga dengan semedinya, ia membuka matanya yang indan dan menatap anak muda itu sambil tersenyum. Cau-ji tahu, sekarang dia sudah bebas tugas dan tak periu lagi menjadi pelindung keselamatan kedua gadis itu, tanpa banyak membuang waktu lagi dia segera membalikkan badan, menindih tubuh Siang Ci-ing dan mulai menusukkan ‘benda’nya ke dalam lubang lawan. Sudah hampir dua jam lamanya pemuda itu harus bersikap tegang dan kuatir, maka begitu mendapat kesempatan baik saat ini, seketika dia mulai melancarkan serangkaian serangan gencar. Tak selang beberapa saat kemudian dari dalam gua berkumandanglah suara gesekan yang nyaring, bertubi-tubi dan menggetarkan sukma. Suara gesekan yang menggetarkan sukma seketika membuat sekujur tubuh Suto Si terasa panas sekali, apalagi setelah menyaksikan tubuh bugil yang sedang bergumul dengan sengitnya, kontan gadis ini merasa bibirnya jadi kering. Apalagi saat itu dia sedang berdiri di belakang Cau-ji yang sedang “bergumul”, setiap kali pemuda itu mencabut atau menghujamkan kembali “tombak” panjangnya dari liang Siang Ci-ing, ia dapat mengikuti semuanya secara jelas. Terlihat dengan jelas ‘dua belah bibir pintu luar’ liang milik Siang Ci-ing yang ditusuk oleh ‘tombak panjang”, berulang kali ‘melumat’ dan ‘menyembur’, sementara titik darah bercampur cairan putih meleleh keluar tiada hentinya dari lubang bagian bawah dan membasahi sebagian bulu yang lebat. Ketika dibasahi cairan putih bercampur darah, bulu yang warnanya memang hitam terlihat makin bercahaya dan mengkilap. Tanpa sadar Suto Si mulai menggerayangi tubuh bagian bawah sendiri dan menggosoknya berulang kali. Tak lama kemudian dengus napas Siang Ci-ing mulai memburu, diiringi suara napas ngos-ngosan gadis itu mulai merintih dengan nyaring, “Oh … oh … uh … ah … ah … aduh… aduuh … lebih keras… ah…” Mengikuti teriakan-teriakan itu, sekujur badannya gemetar makin keras. Melihat anggota badannya meronta tiada hentinya, Cau-ji jadi panik, buru-buru dia kempit sepasang kakinya dengan lengan kemudian sambil menekan pinggangnya, ia mulai menggempur secara ganas. Tiba-tiba lubang surga Siang Ci-ing terasa menghisap kencang, begitu kencang isapan itu membuat ‘batang tombak’ nya seolah terbelenggu kencang, liang gua yang semula sempit pun tiba-tiba terasa jauh lebih longgar dan lebar. Sambil menggenjot terus, diam-diam ia mulai memperhatikan keadaan Siang Ci-ing, tampak seluruh wajah dan rambut nona itu sudah basah oleh keringat, paras mukanya yang semula merah 10 pun kini bertambah pucat, sadarlah pemuda ini, si nona telah menghabiskan banyak tenaga untuk goyangannya tadi. Terlihat gadis itu memejamkan mata dengan sepasang bibirnya sebentar membuka sebentar menutup, sekulum senyum kepuasan tersungging di ujung bibirnya, ini membuktikan kegetiran yang semula dicicipi kini telah menghasilkan madu yang manis. Dia merasa ‘tombak panjang’ miliknya seakan direndam dalam termos kecil yang dipenuhi air panas, mulut termos terasa kencang dan sempit, tapi bagian dalamnya lebar dan hangat. Ketika tombak panjangnya masuk keluar, ia dapat merasakan isapan yang kencang tapi nikmat, sedemikian nikmat hingga membuatnya berkeinginan untuk ‘kencing’, tak kuasa lagi dia bersorak kenikmatan. Apalagi liang dasar termos itu begitu dalam dan kering, mengikuti setiap goyangan pinggung Siang Ci-ing selalu membuat ujung tombaknya seolah terbentur keras, kenikmatan yang dirasakan waktu itu sungguh tak terlukiskan dengan kata-kata. Tak kuasa lagi dia pun ikut bergoyang dan menggenjot makin kencang. Dua bersaudara Suto yang menonton dari samping tak kuasa menahan diri lagi, api birahi mulai membakar sekujur tubuh, membuat kedua gadis ini kegerahan, haus dan… ‘kepingin’! Lama kelamaan mereka tak sanggup menahan diri lagi, satu per satu baju mereka tanggalkan, tak selang beberapa saat kemudian kedua gadis ini sudah telanjang bulat. Dalam keadaan seperti ini, Suto Bun seolah lupa dengan pernyataannya tadi, lupa kalau ia sudah berjanji tak akan memberi “bantuan”. Kedua orang itu sembari mengempit tubuh bagian bawahnya, sambil menahan rasa gatal yang tiba-tiba menyerang liang mereka, menonton jalannya pertarungan itu dengan mulut membungkam. Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat Siang Ci-ing mulai merintih berulang kali, sekujur badannya mulai lemas tak bertenaga, sambil tertawa cekikikan Suto Bun mengambil handuk kecil, lalu mulai menyeka keringat yang membasahi jidat Cau-ji. Dengan gerakan lembut Cau-ji membaringkan tubuh Siang Ci-ing ke lantai, tubuh bagian bawahnya masih menempel ketat, dia merasa ‘tombak panjang’nya masih terisap kencang di dalam ‘termos kecil’ itu, bukan cuma tergencet, bahkan terasa bagaikan diisap dengan kencangnya. Tak terlukiskan rasa nikmat yang dirasakannya waktu itu, jauh lebih nikmat ketimbang bermain di nirwana, bahkan nyaris memaksa tombaknya muntah. Coba kalau bukan pada saat yang bersamaan Cau-ji menangkap sinar kelaparan yang terpancar dari balik mata Suto bersaudara, ingin sekali pemuda itu melampiaskan semburan cairannya ke balik liang hangat gadis itu. Terlihat Siang Ci-ing menghela napas kepuasan, anggota badannya direntangkan santai, lalu sambil tersenyum terlelap tidur. Cau-ji ikut menghembuskan napas panjang, ujarnya kemudian sambil tertawa getir, “Wow, puas, sungguh puas! Lelah benar pertempuran kali ini, rasanya jauh lebih penat dibanding pertarungan di muka loteng Hong-hok-lau tempo hari!” Sambil berkata, dia cabut ‘tombak panjang’nya dari dalam termos air hangat itu. Sambil menyeka tubuh bagian bawah Siang Ci-ing dengan handuk, tiba-tiba bisik Suto Si, “Sangat mengerikan! Tak nyana luka di bibir miliknya bisa begitu lebar….” Sembari bergumam, dia mengambil bubuk obat luka luar dan dibubuhkan ke atas luka itu. Cau-ji yang berbaring di sisi Siang Ci-ing pun berbisik sambil tersenyum, “Cici Bun, kemari kau, ayoh kita main yang enak!” Sambil menahan rasa girang yang luar biasa, dengan muka bersemu merah Suto Bun berjalan menghampiri Cau-ji, lalu sambil menunggang di atas perut pemuda itu, dengan sangat pengalaman dia incar tombak milik lawan dan … dengan telak dilalapnya senjata lawan hingga lenyap. “Wah, enci Bun, sekarang kau lebih trampil dan pengalaman, cepat amat kemajuanmu! Ooh, dibandingkan gerakan ngawur tadi, benar-benar bedanya bagaikan langit dan bumi!” Sementara berbicara, tangannya mulai menggerayangi dada nona itu dan mulai meremas- remas sepasang payudaranya.
11 “Adik Cau,” jawab Suto Bun malu-malu, “kepunyaanmu rasanya makin lama makin besar, panjang dan kasar, kalau benda itu berkembang terus, lain kali siapa yang berani mengawinimu!” “Hahaha, enci Bun, kau jangan menggoda aku, padahal kepunyaanmu pun semakin hari semakin bertambah lebar. Hahaha..” “Jangan tertawa,” tukas Suto Bun sambil meninju dadanya, “kalau bukan gara-gara milikmu, mana mungkin kepunyaanku jadi makin lebar!” Cau-ji tak kuasa menahan gelinya lagi, ia tertawa berulang kali. Sesudah memindahkan tubuh Siang Ci-ing ke sisi lain, Suto Si segera ikut menggabungkan diri, sambil menciumi dada Cau-ji yang kekar, katanya sambil tertawa, “Cau-ji, kau benar-benar seorang lelaki yang banyak rezeki, semua perempuan pernah kau nikmati, aku benar-benar kagum atas kehebatanmu!” “Enci Si, benar juga ucapanmu,” sahut Cau-ji sambil membelai rambutnya, “semenjak Siaute berkumpul bersama Cici berdua, rasanya segala urusan jadi lancar, kalian memang pembantu Siaute yang paling hebat!” Sambil berkata dia rangkul tubuh nona itu, lalu menciumnya dengan penuh kemesraan. Sementara itu Suto Bun telah mencapai puncak orgasme, dengan wajah puas dia menyeka tubuh bagian bawahnya dengan handuk, lalu sambil bangkit berdiri, katanya, “Cici, sekarang giliranmu!” Tiba-tiba Cau-ji melompat bangun, dengan cepat dia rampas handuk kecil yang mengganjal tubuh bagian bawah Suto Bun, ketika melihat cairan kental masih meleleh keluar dari tubuh bagian bawahnya, kontan ia tertawa cekikikan. “Nakal kamu!” jerit Suto Bun sambil mengambil handuk lagi dari buntalannya dan ditutupkan ke tubuh bagian bawahnya, “sekarang kau tak dapat merebutnya lagi’ “Ehm, sungguh harum!” bisik Cau-ji setelah mengendus handuk kecil itu berulang kali, lalu sambil tertawa dia membaringkan diri lagi. “Kembalikan!” teriak Suto Bun malu, sambil menerkam dia berusaha merebutnya kembali. Cau-ji tertawa terkekeh, bukan saja tidak menghindar, malah dengan ujung kaki kanannya cepat ia menggaet handuk yang terjepit di tubuh bagian bawahnya dan berseru sambil tertawa tergelak tiada hentinya. Melihat usahanya ‘mencuri ayam tak berhasil malah kehilangan beras segenggam’, buru-buru Suto Bun berseru, “Dasar bandel!” Tubuhnya langsung membalik dan menindih tubuh Cau-ji kuat-kuat, lalu tangannya berusaha menyambar kembali handuknya yang kena dirampas itu. Ternyata untuk memperebutkan handuk itu, mereka berdua sama-sama telah menggunakan ilmu Kim-na-jiu-hoat. Setelah menunggu dengan susah-payah, akhirnya Suto Si baru mendapat kesempatan untuk ‘menikmati surgawi’, dia jadi amat gelisah setelah melihat gurauan kedua orang itu malah membuatnya terabaikan, dalam gelisah tanpa banyak bicara dia segera merebut handuk yang ada di ujung kaki Cau-ji. Mula-mula Cau-ji agak tertegun setelah merasa handuk itu terampas, tapi bocah ini segera mengerti apa yang diinginkan lawannya. Tanpa banyak bicara dia peluk Suto Si erat-erat, lalu teriaknya sambil tertawa, “Enci Si, kau tidak adil, kenapa malah membantu enci Bun?” Sambil berkata dia membalik tubuh gadis itu dan ditindih di bawah badannya, tanpa membuang waktu ‘tombak panjang’nya langsung dihujamkan ke lubang gua lawan dan mulai melepaskan serangkaian serangan gencar. Baginya inilah hukuman setimpal yang harus diterima gadis itu! Suto Si menerima hukuman itu dengan wajah berseri, bukan saja tidak marah, dia malah mengimbangi serangan lawan dengan goyangan pinggul ke kiri kanan. Ketika Suto Bun selesai membersihkan tubuh bagian bawahnya dan melihat kedua orang itu sedang saling bertempur dengan ganasnya, cepat ia berjalan mendekat, lalu sambil menjepit pinggul Cau-ji dengan kedua belah tangannya, ia bantu mendorong pantat pemuda itu ke bawah. “Plook!”, tekanan itu membuat tombak Cau-ji menghujam makin dalam dan makin keras.
12 Seketika itu juga Suto Si merasakan dasar liangnya sakit, linu, kaku, dan gatal, menyusul kemudian perasaan kecut, manis, getir, pedas, asin bercampur aduk di rongga dadanya. “Adik Bun, jangan bergurau!” buru-buru teriaknya. Suto Bun melongok sekejap, melihat saudaranya setengah memejamkan mata sambil tersenyum, dia tahu gadis itu ‘lain di mulut lain di hati’, diam-diam ia tertawa geli sendiri. Cau-ji sendiri pun merasa sangat tertarik dengan permainan ini, maka dia pun membiarkan gadis itu berbuat semaunya. Berapa ratus genjotan kemudian Suto Si mulai tak kuasa menahan diri, dia mulai mendesis sambil menjerit, “Aduuh … aduuuh … linu … aduh … aduh … linu…
gatal … aduuuh … aku tak tahan lagi … aku hampir mati… aduh hampir mati..” Kalau di masa lalu, seenak dan senikmat apa pun Suto Si pasti rikuh untuk mendesis apalagi berteriak, tapi hari ini benar-benar berbeda, hari ini dia merasakan kenikmatan yang luar biasa, jadi tak heran dia tak sanggup mengendalikan diri. Begitu Cau-ji merasakan dasar liang perempuan itu mulai mengisap dengan kuatnya, cepat ia berbisik lirih, “Enci Bun, istirahat saja dulu! Jangan sampai milikmu terlukai Kalau kejadiannya sama seperti yang dialami nona Siang, kita yang susah nanti!” Tergerak hati Suto Bun begitu mendengar ia menyinggung tentang nona Siang, ketika berpaling, kebetulan ia jumpai tubuh nona itu sedang gemetar, satu ingatan pun segera melintas dalam benaknya. “Baiklah!” katanya kemudian sambil bangkit dan duduk, “tapi… adik Cau, kau sudah ‘selesai’ belum?” Sambil memeluk Suto Si dan mengantarnya mencapai puncak orgasme, sambut Cau-ji, “Enci Bun, gara-gara membantu nona Siang memunahkan racunnya dan mesti mengerahkan tenaga untuk menghadapi kawanan iblis itu, Siaute sudah cukup banyak kehilangan tenaga, sekarang sekujur badanku malah terasa makin bertenaga.” Suto Bun jadi tegang setengah mati sehabis mendengar ucapan itu.
Diam-diam ia coba memperhatikan dengus napas Siang Ci-ing, dia tahu gadis itu sudah mendusin, namun karena malu maka berlagak belum sadar, menggunakan kesempatan itu buru- buru ia bantu Cau-ji memberi penjelasan. “Adik Cau,” katanya sambil tertawa, “kau memang luar biasa kuatnya, padahal untuk membantu enci Ing memunahkan racun yang mengeram di tubuhnya, kau sudah bekerja keras selama hampir dua jam. Masa sampai sekarang kau masih bertenaga? Hi, kau memang sangat menakutkan!” “Hahaha, semuanya ini berkat empedu naga sakti berusia ribuan tahun yang kumakan. Enci Bun, enci Si sudah hampir loyo, tolong kau bersiap-siap menggantikannya!” Dengan wajah merah jengah Suto Bun membaringkan diri, katanya, “Adik Cau, kau mesti pandai mengendalikan diri, kalau sampai aku pun tak mampu memuaskanmu, kau bakal kerepotan sendiri!” Pada saat itulah terdengar Suto Si berkeluh sambil menghela napas, “Oh, Thian, nikmatnya!” Setelah tubuhnya gemetar sesaat, akhirnya dia pun tergeletak lemas tak bertenaga. “Enci Si, istirahatlah dulu!” bisik Cau-ji sambil mengecup bibirnya dengan mesra. “Adik Cau, terima kasih banyak, kau telah memberi kenikmatan yang luar biasa untuk Cicimu,” sahut Suto Si terharu. Coba kalau tubuhnya tidak sedang lemas tidak bertenaga, niscaya dia akan memeluk adik Caunya kencang-kencang.
Setelah meninggalkan Suto Si, kali ini Cau-ji menubruk ke atas tubuh Suto Bun, ‘tombak panjang’nya begitu ditusukkan masuk ke dalam liang, ia mulai menggenjot dengan ganasnya. “Plak … plak”, suara gesekan disertai bunyi keras bergema tiada hentinya. Suto Bun dengan sepasang tangan memeluk punggung Cau-ji, sementara sepasang kakinya melingkar di pinggangnya, tubuh bagian bawahnya bergesek mengimbangi gerakan Cau-ji yang memompa dengan penuh tenaga. Menggunakan kesempatan ini dia praktekkan semua pelajaran ilmu ranjang yang dipelajarinya secara diam-diam ketika masih berada di rumah makan Jit-seng-lau tempo hari.
13 Sementara itu sebenarnya Siang Ci-ing sedang menikmati pesiarnya di alam surga tingkat ke tiga puluh tiga ketika secara tiba-tiba dikejutkan oleh suara jeritan Suto Si yang keras. la jadi malu sekali ketika mendusin dan melihat di sampingnya ada sepasang laki perempuan sedang melakukan ‘pertempuran habis-habisan’, buru-buru dia memejamkan mata kembali sambil berpikir, siapa gerangan mereka itu? Kenapa dirinya bisa berada di situ? Tapi setelah diperhatikan sesaat, dia pun segera mengenali suara Cau-ji yang serak-serak itu sebagai kekasih hati yang baru saja merenggut mahkota gadisnya, rasa kejut bercampur girang membuat sekujur tubuhnya kembali gemetar keras.
Apalagi sesudah mendengar pembicaran Cau-ji dengan Suto Bun, tanpa terasa ia terbayang kembali dengan pengalamannya sewaktu bertarung melawan wanita cantik dan kakek berbaju hitam, ia sadar dirinya pasti sudah diracuni orang-orang itu. Untung saja dalam keadaan kritis ia berhasil diselamatkan pujaan hatinya, coba kalau tidak, mungkin dia akan mengalami nasib yang amat tragis.
Dalam bersyukur dan girangnya, diam-diam ia memeriksa tubuh sendiri, segera dijumpai bukan saja dirinya berada dalam keadaan bugil, bahkan secara lamat-lamat tubuh bagian ‘rahasia’nya terasa agak sakit dan pedih. Kenyataan ini seketika membuatnya terkejut bercampur girang. Terkejut karena tak disangka ia telah melakukan perbuatan itu. Girang karena keinginannya terkabul sekarang, kalau bukan lantaran ingin menyelamatkan dia, tak nanti kekasihnya akan berbuat selancang ini, berarti selanjutnya dia pun sudah mempunyai tambatan hati. Berpikir sampai di situ hati pun merasa lega, karena sudah tenang maka dia pun mulai ‘mencuri dengar’ suara yang ada di sekitarnya. la mulai mendengar suara napas yang memburu! Lalu suara “plook … plookk yang nyaring. Disusul suara mendesis yang aneh …. Ketika masuk ke lubang telinganya, suara itu terasa begitu aneh, begitu menggetarkan sukma, membuat dadanya menggelora. Tak lama kemudian ia mulai merasa gejala tak beres dengan tubuh bagian bawahnya. Setelah bertahan hampir satu jam, Suto Bun mulai merasa napsunya semakin memuncak, titik orgasme sudah semakin menghampiri, ini semua membuatnya tak kuasa mengendalikan diri lagi, dia mulai merintih, mulai mengerang. “Yau-siu (dasar umur pendek),” desis Cau-ji dengan perasaan cemas, “sejarah bakal terulang lagi, padahal aku sedang nikmatnya merasakan hubungan ini, kenapa enci Bun sudah hampir keok? Wah, bagaimana ini?” Sambil berpikir dia pun mempergencar genjotannya. Suto Bun semakin tak kuat menahan diri, ia mulai menjerit sambil berteriak, “Ah … aa … adik Cau … jangan … jangan kuatir… enci Ing … enci Ing pasti akan membantumu … aduh … aduh..” Mendengar teriakan itu, sambil memperlambat genjotannya Cau-ji menengok ke samping, betul saja, ia jumpai Siang Ci-ing sedang menggerakkan tubuhnya, dengan perasaan girang dia melanjutkan tusukannya. Siang Ci-ing merasa malu setengah mati, buru-buru dia membalikkan tubuhnya ke arah lain. Melihat kejadian ini Suto Si pun tersenyum sambil menghembuskan napas lega. Dalam pada itu sekujur tubuh Suto Bun telah mengejang keras, bulu kuduknya berdiri, berulang kali dia merintih tiada hentinya. Terakhir setelah gemetar keras, dia pun mencapai orgasme. Dengan lembut Cau-ji mendekam di atas tubuh Suto Bun, sembari menikmati kenyamanan yang diberikan gadis itu ketika mencapai puncaknya, dia mulai berpikir bagaimana caranya mengajak Siang Ci-ing melakukan hubungan kembali. Suto Si segera memahami jalan pikiran pemuda itu, buru-buru ia mendekati Siang Ci-ing sembari berbisik, “Enci Ing, aku adalah dua bersaudara dari keluarga Suto, Suto Si dan Suto Bun. Kami berharap Cici mau menolong adik Cau lolos dari kesulitan yang sedang dihadapi, nanti kalau semua telah beres, kita berbincang lagi. Mau kan?” Sambil berkata ia membantu menelentangkan tubuh gadis itu.
14 Tersipu-sipu Siang Ci-ing memejamkan mata, dalam keadaan begini ia tak berani sembarang bergerak. Suto Si melirik Cau-ji sekejap, kemudian sambil tersenyum ia mulai menggeser ke samping.
Dengan terharu Cau-ji manggut-manggut, dia cabut keluar ‘tombak panjang’nya, kemudian setelah menindih di atas tubuh Siang Ci-ing, tubuh bagian bawahnya ditekan ke bawah, ‘tombak panjang’ miliknya pun kembali menusuk masuk ke dalam ‘termos kecil’. Dengan lemah lembut dipeluknya pinggang si nona yang ramping, lalu sambil perlahan-lahan menggerakkan badannya, ia berbisik lembut, “Enci Ing, Siaute dari marga Ong bernama Bu-cau!” Secara garis besar dia memperkenalkan asal-usul keluarga sendiri. Siang Ci-ing tidak mengira kekasih hatinya adalah putra sulung Ong Sam-kongcu yang termashur dalam dunia persilatan, rasa kejut bercampur girang yang dirasakan sekarang benar- benar tak terlukiskan dengan kata. Kembali Cau-ji berbisik dengan lembut, “Enci Ing, gara-gara keteledoran Siaute berakibat kau terkena bubuk perangsang milik Jit-seng-kau, untung atas kebijaksanaan kakakmu, dia telah merestui perkawinan Siaute denganmu” Siang Ci-ing yang selama ini hanya memejamkan mata rapat-rapat jadi amat girang mendengar kabar ini, tanpa terasa ia membuka matanya dan berseru sambil menatap mesra wajah pemuda itu, “Sungguh?” Cau-ji manggut-manggut. “Benar!” sahutnya, “kalau tidak, Siaute mana berani mengusik tubuh Cici?” “Adik Cau, terima kasih banyak … terima kasih banyak ” tak tahan Siang Ci-ing memeluk kencang anak muda itu. Rasa girang yang luar biasa membuat air matanya tak terbendung lagi. Sementara itu Suto Bun menghembuskan napas lega, ketika melihat Siang Ci-ing masih mampu bertahan setengah jam lamanya, dia pun mengenakan pakaian sembari memutar otak. Suto Si menunggu sampai adiknya selesai berpakaian, lalu mereka berdua meninggalkan gua itu sambil saling melempar senyuman.
Tentu senyuman itu adalah senyum kepuasan. Mereka tak mengira segala peristiwa berjalan secara lancar. Begitu melihat Suto bersaudara sudah meninggalkan ruang gua, Siang Ci-ing merasa sangat lega, rasa rikuh atau malunya ikut hilang setengah, pelan tapi pasti dia mulai mengimbangi gerakan tusukan Cau-ji dengan goyangan pinggulnya. Biarpun gerakan tubuhnya masih bebal dan bodoh, namun “termos” alam yang dimilikinya sangat membantu gadis itu dalam proses menuju kenikmatan, Cau-ji pun memperoleh rasa nikmat yang tidak terhing-ga. Sebaliknya Cau-ji tahu belum lama berselang “selaput dara”nya baru robek, agar gadis itu tak merasa sakit karena gesekan, pemuda ini memperlambat dan memperingankan gerakan tubuhnya. Begitulah, sambil melakukan gerakan yang erotis, pemuda itu menceritakan pula asal-usul Suto bersaudara. Siang Ci-ing tidak menyangka nasib dua bersaudara Suto begitu tragis, terlebih tak mengira mereka pun menjadi korban kebusukan orang-orang Jit-seng-kau, di samping ikut merasa gusar, timbul pula perasaan simpatiknya terhadap kedua gadis itu. Mereka pun mulai bercumbu rayu …. Perasaan batin muda-mudi itu kian lama kian bertambah mesra dan hangat…. Tanpa sadar … tanpa terasa … mereka berdua sama-sama mencapai orgasme. Dalam pada itu, dua bersaudara Suto yang menunggu di luar gua mulai terusik oleh suara cicitan burung yang terbang balik ke sarang, ketika mendongakkan kepala, mereka baru sadar bahwa senja telah menjelang tiba. Suto Bun mencoba untuk pasang telinga, setelah mendengarkan sejenak, bisiknya sambil tertawa, “Cici, kelihatannya mereka berdua cocok sekali!” “Ya, mereka cocok dan bercumbu rayu, sementara kita disantap nyamuk gunung, kalau tidak pergi sekarang, langit bakal gelap lebih dulu.” 15 “Benar! Setelah sibuk seharian sejak kemarin, seharusnya kita mencari tempat untuk membersihkan badan. Tapi … adik Cau dan enci Ing masih berasyik-masyuk, bagaimana cara kita memanggil mereka?” “Kalau begitu, adikku, lebih baik kita gunakan suara nyanyian saja untuk memancing perhatian mereka,” usul Suto Si sambil tertawa. Maka mereka pun mulai bersenandung, mulai bernyanyi dengan suara merdu. Entah beberapa saat sudah lewat, tiba-tiba kedua orang itu merasa pinggang mereka dipeluk seseorang dengan lembut, menyusul kemudian terdengar suara Cau-ji berbisik, “Cici, suara senandung kalian sungguh manis dan merdu didengar!” “Ah, rupanya adik Cau, maaf kalau kami telah mengganggu ketenanganmu!” sahut Suto Si lirih. “Ah, tidak apa-apa, tidak apa-apa,” sahut Cau-ji sambil tertawa pula, “tadi Siaute hanya merasa ada suara nyamuk sedang mendengung di sisi telinga, aku segera sadar, tentu malam sudah menjelang tiba.” Siang Ci-ing yang berdiri di belakangnya sambil membawa buntalan, tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa cekikikan. “Bagus,” Suto Bun kontan berteriak, “adik Cau, ternyata kau lupa budi kami, baru selesai menikmati malam pengantin, kau sudah mulai mencari akal untuk mendepak kami berdua si ‘mak comblang nyamuk’, huuh, kau tak boleh begitu.” Seraya berkata, dengan gemas dia cubit paha pemuda itu keras-keras. “Aduuh mak, sakit ….”jerit Cau-ji. Melihat tingkahnya yang kocak, kontan ketiga gadis itu tertawa cekikikan. “Mari kita pergi!” ajak Cau-ji kemudian sambil tertawa, “cari rumah penginapan, mandi yang segar dan makan sampai kenyang!” Berkata sampai di situ, ia pun beranjak pergi. Suto bersaudara segera mengikut dari belakang, sambil berjalan mereka membersihkan obat penyamar muka dari wajahnya. Diam-diam Siang Ci-ing menghela napas kagum, apalagi setelah menyaksikan wajah asli dua bersaudara Suto yang cantik dan anggun itu. Ketika tiba kembali di luar kota Bu-cong, untuk menghindari perhatian orang banyak mereka sengaja mencari sebuah rumah penginapan kecil, setelah memesan kamar, mereka berempat pun mulai mandi membersihkan badan dari keringat dan debu. Kurang lebih satu jam kemudian, keempat orang itu sudah muncul kembali dalam rumah makan nomor wahid di kota Tiang-sah. Mereka mencari tempat duduk yang strategis dan mulai bersantap dengan santainya. Beberapa saat kemudian tiba-tiba terdengar sang Ciangkwe rumah makan berseru dengan suara tergagap, “Liu-toaya, kenapa hari ini datang agak terlambat?” “Maknya,” terdengar seorang menyahut dengan suara keras bagai geledek, “belum lagi terang tanah, entah setan busuk dari mana yang membuat onar hingga membuat kesayangan Toaya sakit panas, ai … dengan susah-payah aku mesti menunggu sampai dia tertidur baru bisa datang kemari.” Ketika Cau-ji berempat berpaling, terlihat seorang lelaki gemuk tinggi besar, wajah ramah, perut buncit, dan senyum dikulum berjalan masuk ke dalam ruang rumah makan Di belakangnya mengikut seorang lelaki kekar berusia tiga puluh tahunan, dari gayanya bisa diduga orang itu adalah centengnya.
Terdengar pemilik rumah makan itu kembali berkata, “Toaya, aku dengar orang yang mengeluarkan suara tertawa aneh pagi tadi sempat membunuh beberapa orang di muka rumah makan Huang-hok-lau.” “Huh, untung yang dia hadapi cuma beberapa ekor kucing penyakitan,” sahut Liu-toaya sinis, “coba kalau bertemu Toaya, akan kuhajar dia sampai remuk badannya.” “Benar, siapa yang tak tahu kepandaian kungfumu hebat, tenaga saktimu tiada tandingan di kolong langit.” “Hahaha, cepat hidangkan makanan lezat!” “Baik, baik… cepat layani Toaya kita!” 16 Dari sisi kanan ruangan segera terdengar suara sahutan yang merdu, disusul kemudian terendus bau harum semerbak, enam orang gadis bergaun kuning muncul dari balik ruangan dan berjalan menuju ke hadapan Liu-toaya. “Salam untuk Toaya!” seru keenam gadis itu serentak. Menyusul tampak bayangan kuning berkelebat, ada empat gadis di antaranya segera bergeser ke belakang tubuh orang itu, membuat kuda-kuda setengah jongkok dan berdiri setengah lingkaran di belakang Liu-toaya. Tanpa sungkan Liu-toaya duduk di atas lutut keempat gadis yang setengah berjongkok tadi, sementara sepasang tangannya memeluk dua gadis lainnya dan mulai mencium sambil menggerayangi tubuhnya. Suara cekikikan jalang pun bergema. Biarpun diduduki Liu-toaya yang bobot tubuhnya mencapai dua ratusan kati, ternyata keempat gadis yang setengah berjongkok itu tetap tersenyum simpul, bukan saja tubuhnya bergeming, bahkan lebih mapan daripada bukit Thay-san, hal ini membuktikan kungfu mereka sangat tangguh. Tak lama kedua gadis itu muncul lagi sambil membawa sebuah piring berisi hidangan, serunya, “Toaya, silakan makan!” “Hahaha, bagus, bagus, Tite (kaki babi) masak angsio yang harum baunya.” Sambil memeluk pinggang si nona dengan mesra, Liu-toaya pun mengunyah daging yang disuapkan ke mulutnya. Bukan cuma memeluk, Liu-toaya malah memasukkan tangannya ke balik baju gadis-gadis itu sambil menggerayangi payudaranya. “Toaya, jangan begitu,” desis gadis berbaju kuning genit, “masa badanku digerayangi terus, geli….” “Hahaha, minum arak wangi harus ditemani gadis cantik”.
Bab 2. Merampas pedang pembunuh naga.
Melihat cara pelayanan yang begitu istimewa, diam-diam Cau-ji berempat merasa tercengang, mereka mulai berpikir siapa gerangan orang ini. Cau-ji sendiri pun mulai menduga-duga, dengan bentuk tubuhnya yang kedodoran dan perut buncit, kira-kira gaya apa yang akan digunakan sewaktu menyelesaikan hajatnya. Bayangkan saja, perutnya begitu buncit, yang jelas akan sangat mengganjal ketika menindih tubuh cewek, bagaimana “tombak’nya bisa dimasukkan ke dalam lubang surga? Makin dibayangkan dia semakin geli, pada akhirnya anak muda itupun tertawa terbahak-bahak.
Waktu itu Liu-toaya sedang menikmati arak dan perempuan cantik dengan santainya, mendengar suara tertawa dia pun melirik sekejap, tapi begitu melirik, sepasang matanya kontak berkilat.
Tiba-tiba ia menyingkirkan kedua gadis yang berada di sisinya, lalu sambil bangkit ia berjalan menghampiri Cau-ji. Dengan pandangan tercengang dan keheranan para tamu lain pun sama-sama memandang ke arah Cau-ji sekalian. Begitu tiba di hadapan sang pemuda, sambil tertawa lebar tegur Liu-toaya, “Saudara cilik, apa yang kau tertawakan?” Begitu tertawa geli, Cau-ji sudah menduga pihak lawan bakal menghampirinya, maka sambil tertawa lebar sahutnya, “Begitu melihat bentuk tubuhmu, Siauya langsung teringat Toaso yang ada di dusun, entah saat ini sudah melahirkan atau belum?” Berubah hebat paras muka Liu-toaya mendengar perkataan itu, dia tak mengira perut buncitnya bakal dipakai sebagai bahan olok-olok. Tergopoh-gopoh pemilik kedai berlari mendekat, serunya, “Kongcu, keliru besar perkataanmu itu, tahukah kau bahwa kepala gede, muka Lopan, perut buncit menandakan orang yang banyak rejeki?” “Aku tahu, cuma Siauya tidak percaya.” “Kongcu, banyak bicara lidah bisa keseleo, lebih baik jangan banyak omong!” 17 “Jangan banyak omong? Sayangnya Siauya tidak merasa ada yang keliru. Tadinya aku sangka kau cukup makmur, ternyata setelah dibandingkan Loheng ini, kau termasuk orang yang kurang gizi!” Siang Ci-ing bertiga tak kuasa menahan rasa gelinya lagi, kontan mereka tertawa cekikikan. Merah bercampur pucat paras pemilik rumah makan itu, untuk sesaat ia tak tahu mesti berbuat apa.
Sementara Liu-toaya berdiri terperangah, apalagi setelah melihat senyuman ketiga gadis cantik bak bidadari itu. Cau-ji semakin tak suka, apalagi melihat gaya si gemuk mengawasi gadisnya, setelah mendengus dingin, jengeknya, “Huh, siapa bilang kepala besar, muka Lopan, perut buncit itu banyak rezeki? Memangnya babi gemuk pun dianggap banyak hokki?” Bukannya gusar oleh makian itu, Liu-toaya malah tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, saudara cilik, bagus amat perkataanmu itu!” Sembari bicara dia balik kembali ke tempat duduknya, duduk di atas pangkuan empat perempuan cantik itu. Dalam pada itu kedua lelaki kekar berwajah seram itu sudah menerjang maju lagi ke hadapan Cau-ji, lelaki yang di sebelah kanan segera membentak dengan suara berat, “He, kunyuk kecil, mari kita selesaikan urusan di luar saja!” Cau-ji menggeleng sambil tertawa dingin. “Lebih baik enyah dari hadapanku! Budak macam kau tak pantas bicara dengan Siauya!” Tak terlukis rasa gusar orang itu, sambil membentak keras sebuah pukulan langsung dibacokkan ke pipi kiri lawan. “Cuuh!”, tiba-tiba Cau-ji memuntahkan segumpal riak kental dan langsung disemburkan ke atas telapak tangan orang itu. “Aduh!” teriak orang itu kesakitan, dengan wajah pucat ia tarik kembali tangannya sambil melompat mundur. Siapa pun dapat melihat telapak tangan orang itu sudah hancur berlumuran darah karena semburan riak kental itu, kehebatan kungfu semacam ini nyaris belum pernah dilihat oleh siapa pun, tak heran jeritan kaget bergema. Lelaki yang berada di sebelah kiri kembali membentak gusar, tinjunya langsung dilayangkan ke depan membacok dada Cau-ji. Biarpun menghadapi pukulan, Cau-ji sama sekali tak melirik, sambil menjengek kembali dia meludah. Orang itu menjerit aneh, cepat dia tarik tinjunya sambil melompat mundur. Kembali darah segar tampak meleleh dari telapak tangannya, jelas dia pun sudah terluka. Kini semua yang hadir benar-benar terkesima dibuatnya, mereka berdiri melongo dengan mata terbelalak lebar. Berubah paras muka Liu-toaya menyaksikan kejadian itu, cepat ia bangkit dan berseru dengan suara berat, “Sobat, tak kusangka kungfumu begitu hebat, kagum! Sungguh mengagumkan! Kalau jantan, tinggalkan namamu!” “Hahaha, tidak perlu.” “Ooh, dasar penakut!” “Hahaha, menyandang gelar ‘Manusia pelumat mayat’ pun Cayhe tak takut, kenapa mesti jeri kepada manusia macam kau/’ Begitu mendengar nama ‘Manusia pelumat mayat’, paras Ciangkwe gemuk itu seketika berubah hebat, buru-buru tanyanya, “Kongcu, apakah kau dari marga Yu?” Cau-ji tidak menyangka dia akan mengajukan pertanyaan itu, tergerak hatinya, sambil menatap tajam orang itu, tegurnya dengan suara dalam, “Betul, Cayhe adalah Yu Si-bun!” Seketika itu juga sikap Ciangkwe gemuk itu berubah seratus delapan puluh derajat, dengan sikap yang amat hormat katanya lagi, “Cayhe Tong San-kok adalah saudara jauh In Jit-koh dari rumah makan Jit-seng-ciu-lau, Jit-koh telah berpesan bila bertemu Kongcu, Cayhe harus melayani dengan sebaik-baiknya!” 18 Cau-ji tidak menyangka tempat ini merupakan salah satu markas penghubung Jit-seng-kau, dengan suara dalam segera serunya, “Jit-koh benar-benar kelewat banyak adat, sana, kau boleh sibuk dengan urusanmu sendiri.” Habis berkata, kembali ia berpaling ke arah Liu-toaya sambil ujarnya, “Bagaimana? Siauya telah menyebut nama, sekarang sudah merasa puas bukan?” Begitu melihat pihak lawan punya hubungan yang akrab dengan Tong San-kok, sikap Liu-toaya seketika berubah.
Sambil mendengus dingin ia keluarkan selembar uang kertas, diserahkan ke tangan seorang gadis di sisinya kemudian tanpa mengucapkan sepatah kata pun dengan tergopoh-gopoh meninggalkan tempat itu. Kedua lelaki kekar itu ikut terlalu dengan tergesa-gesa, tapi sebelum berlalu mereka sempat menoleh dan melotot sekejap ke arah Cau-ji dengan penuh rasa dendam. Sepeninggal orang-orang itu, Tong San-kok baru berkata lagi, “Kongcu, silakan masuk, mari kita bicara di dalam saja!” Cau-ji tertawa terbahak-bahak, bersama ketiga nona, ia ikut di belakang Tong San-kok masuk ke ruang baca di halaman belakang. Setelah mengunci pintu, Tong San-kok berlutut sambil menyembah, katanya dengan penuh rasa hormat, “Hamba Tong San-kok menjumpai Tongcu” “Bangunlah!” “Terima kasih Tongcu!” “Sudah mendapat kabar tentang si Manusia pelumat mayat?” tanya Cau-ji dengan suara dalam. “Lapor Tongcu, pagi tadi si Manusia pelumat mayat telah membunuh Chan-hukaucu serta belasan orang jago lihai dari perkumpulan kita, saat ini dia sedang bersembunyi dalam sebuah gua di atas gunung Lok-ka-san.” “Ooh, sudah dikirim orang untuk menguntit jejak mereka?” “Soal ini….” Cau-ji tahu, pasti mereka tak berani menguntit si Manusia pelumat mayat, maka setelah tertawa dingin ujarnya lagi dengan suara dalam, “Apakah kejadian ini sudah dilaporkan ke markas pusat?” “Sudah dan Kaucu memutuskan akan turun gunung sendiri, dia tak percaya tak mampu menangkap dan membunuh Manusia pelumat mayat!” Kejut dan gembira perasaan Cau-ji mendengar perkataan itu, setelah termenung beberapa saat, tanyanya, “Apakah pihak sembilan partai besar sudah mulai melakukan tindakan terhadap markas besar Tay-ke-lok” “Benar, menurut laporan, selain sembilan partai besar, pihak Kay-pang pun ikut bergabung dalam barisan ini. Hingga sekarang sudah ada ribuan rumah judi yang dipaksa untuk tutup usaha!” “Apakah pihak kita banyak jatuh korban?” “Berkat doa restu Kaucu, bukan saja tak ada korban yang berjatuhan di pihak kita, bahkan menggunakan kesempatan ini kita berhasil menarik banyak sobat kalangan Hek-to untuk bergabung dalam perkumpulan kita!” “Hehehe, bagus sekali! Bila saatnya sudah tiba, akan kusuruh kaum yang menganggap dirinya sebagai orang-orang bersih itu mendapat pembalasan yang setimpal!” “Betul! Kaucu telah menurunkan instruksi, kita bersiap menyerang pihak Siau-lim-pay lebih dulu!” Diam-diam Cau-ji sangat terkejut, tapi penampilannya tetap dijaga tenang, katanya dengan suara dalam, “Bagus sekali, sekarang kau boleh pergi, malam ini aku akan bermalam di sini!” “Baik, hamba segera akan memerintahkan orang untuk menyiapkan kamar!” Sepeninggal Tong San-kok, Siang Ci-ing segera berseru dengan cemas, “Adik Cau, pihak Siau- lim-pay punya hubungan yang sangat akrab dengan Liong-ing-hong kami. Bila Jit-seng-kau sudah memutuskan akan menyerang Siau-lim-si lebih dulu, kemungkinan besar kakak Liong akan menghadapi bahaya juga.” “Ehm! Jagoan yang dimiliki Jit-seng-kau memang banyak dan rata-rata licik penuh tipu- muslihat, dalam hal ini kita harus lebih waspada.” “Adik Cau,” sela Suto Si, “apakah perlu kita berangkat ke sana untuk membantu mereka?” 19 “Ehm, besok kalian boleh berangkat duluan! Sementara Siaute akan tetap tinggal di sini menanti gerakan berikut yang dilakukan pihak Jit-seng-kau.” Ketiga gadis itu manggut-manggut tanda setuju.
Begitulah selesai berbincang, keempat orang itu-pun kembali ke dalam kamar untuk beristirahat.
Keesokan harinya, setelah mengantar kepergian ketiga gadis itu, baru saja Cau-ji kembali ke ruang tengah, Tong San-kok sudah muncul sambil berbisik, “Tongcu, pagi tadi Liu-toaya telah mengirim orang kemari, apakah kau bersedia menemui dirinya?” “Ooh, si gendut ingin mencari kembali mukanya?” “Tidak! Tak nanti ia punya nyali sebesar itu. Selama banyak tahun ia bisa hidup tenang di sini sambil membuka usaha perjudian dan pelacuran, siapa lagi yang mendukung mereka secara diam- diam kalau bukan perkumpulan kita!” “Oh, orang itu sudah pergi?” “Belum, hamba segera akan mengundangnya masuk.” Beberapa saat kemudian Tong San-kok telah muncul kembali di hadapan Cau-ji sambil membawa seorang lelaki bertubuh kekar. Begitu bertemu Cau-ji, lelaki itu segera memberi hormat seraya berkata, “Ho Thay-hay, Congkoan keluarga Liu menjumpai Kongcu!” Cau-ji manggut-manggut, katanya dengan suara dalam, “Ada urusan apa sepagi ini sudah muncul di sini?” “Tidak berani, hamba mendapat perintah Toaya untuk mengundang Kongcu berkunjung ke gedung keluarga Liu siang ini, entah apakah Kongcu bersedia memberi muka?” Sambil berkata ia mengeluarkan selembar kartu undangan berwarna merah kekuning-kuningan dari sakunya. Tong San-kok segera menerimanya, lalu dipersembahkan ke tangan Cau-ji. Begitu dibuka, benar saja ternyata selembar kartu undangan. Maka Cau-ji pun menyahut, “Bila Liu-toaya sudah menyatakan niatnya, masa Cayhe harus menampik?” Sembari berkata ia serahkan kembali surat undangan itu ke tangan Tong San-kok. “Kongcu harap menunggu sebentar, akan hamba siapkan hadiah sekedarnya.” Sambil berkata dia pun berteriak, “Siau-sian, Siau-tiam!” Dua gadis cantik berbaju kuning segera muncul di hadapan Cau-ji sambil membawa tiga buah nampan. Mau tak mau Cau-ji harus merasa kagum juga dengan cara kerja Tong San-kok yang berpengalaman, setelah mengangguk, diiringi Ho Thay-hay dia pun memasuki tandu indah yang sudah menanti di depan pintu dan berangkat menuju gedung keluarga Liu. Lebih kurang sepeminuman teh kemudian Cau-ji telah tiba di depan sebuah pintu gerbang bangunan mentereng. Baru turun dari tandu, terdengar seseorang telah berseru sambil tertawa nyaring, “Hahaha, menyambut dengan gembira kedatangan Kongcu ke rumah kami.” Cau-ji memandang sekejap ke arah Liu-toaya yang telah berdiri menyambut di samping pintu, kemudian katanya sambil tertawa, “Mendapat undangan dari Liu-toaya, mana berani aku tidak datang!” “Hahaha, Liu Su-pin tidak berani, silakan masuk!” Setelah memasuki halaman luar yang luas, indah dan berbau harum, Cau-ji memasuki ruangan gedung utama. Begitu melangkah dia pun melihat ada enam perempuan cantik berusia antara dua-tiga puluh tahun berdiri menyambut kedatangannya dengan senyum manis menghiasi bibirnya. Cau-ji tahu keenam wanita itu sudah pasti para istri dan gundik Liu Su-pin, tak heran Tong San- kok menyediakan enam buah nampan kado.
Maka setelah kedua belah pihak saling memberi hormat, dia pun segera memberi tanda kepada Siau-sian dan Siau-tiam. Kedua gadis itu tersenyum penuh arti, cepat mereka membagikan keenam nampan itu kepada keenam wanita itu, kemudian baru berdiri kembali di belakang Cau-ji. Begitu keenam wanita itu membuka nampan yang diterima, serentak mereka menjerit kaget.
20 Agaknya Liu Su-pin pun sudah melihat benda yang berada dalam nampan itu, dengan gugup buru-buru serunya, “Kongcu, kadomu kelewat mahal dan berharga” “Hahaha, orang bilang permata hanya cocok untuk wanita cantik, apa aku salah kalau menghadiahkan intan permata yang mahal harganya untuk keenam istrimu yang cantik molek bak bidadari dari kahyangan!” Habis berkata dia melirik sekejap keenam wanita cantik itu satu per satu. Dipandang seperti itu oleh Cau-ji, tak kuasa lagi keenam wanita cantik itu merasakan jantungnya berdebar keras, berdebar saking gembiranya.
Liu Su-pin sendiri pun merasa sangat kegirangan setelah melihat keenam bininya mendapat hadiah semahal itu, dengan perasaan girang buru-buru serunya, “Kui-hoa, cepat ambilkan pedang pendek itu!” “Toaya, apakah kau akan menghadiahkan pedang To-liong-kiam itu untuk Yu-kongcu?” tanya Toa-hujin Kui-hoa kegirangan. “Hahaha, sejak dulu, pedang mestika hanya pantas untuk pendekar sejati. Bukankah Yu-kongcu telah memberi hadiah mahal untuk kalian, masa kita harus kikir terhadapnya?” Selesai bicara, kembali ia tertawa terbahak-bahak. Sambil tertawa girang Kui-hoa kembali ke kamarnya, tak lama kemudian ia muncul kembali sambil membawa sebilah pedang pendek yang bentuknya sangat antik, pedang itu segera diserahkan ke tangan Liu Su-pin. Liu Su-pin pun menyerahkan pedang pendek itu ke tangan Cau-ji. Dengan sekali gerakan Cau-ji mencabut pedang pendek itu dari sarungnya … “Criiing!”, diiringi dentingan nyaring, seluruh ruangan seketika terbungkus oleh hawa pedang yang dingin menggidikkan. “Pedang bagus!” puji Cau-ji tanpa terasa, “Liu-toaya, aku merasa kurang pantas menerima hadiah pedang mestika yang begini berharga.” “Hahaha, To-liong-kiam sudah tiga generasi tersimpan dalam keluarga Liu kami tanpa mampu melakukan prestasi maupun reputasi apa pun, kali ini terpaksa aku minta bantuan Lote mencemerlangkan nama besar senjata ini… hahaha” “Baiklah, kalau Toaya memang berkata begitu, biarlah Cayhe terima hadiah ini, terima kasih.” Sambil berkata ia masukkan kembali pedang itu ke dalam sarung. Siau-sian pun segera menggantung senjata itu di pinggang kanannya. Tak terkiranya rasa gembira Liu Su-pin melihat hadiahnya diterima sang tamu, cepat dia perintahkan orang menyiapkan perjamuan dan mengajak Cau-ji menuju ke halaman paling belakang. Sementara itu Siau-sian dan Siau-tiam pun masing-masing memperoleh sebuah kado. Setelah menghabiskan arak beberapa poci, suasana dalam ruangan mulai menjadi hangat. Selama ini Liu Su-pin memang selalu menuruti perkataan Tong San-kok, begitu melihat orang she Tong itu begitu menaruh hormat dan jeri terhadap tamunya, ia segera tahu orang ini pasti mempunyai asal-usul luar biasa, itulah sebabnya ia berusaha mencari kesempatan untuk mengambil hati pemuda ini. Begitu melihat cara Cau-ji minum arak dan berbicara, dia segera tahu pemuda ini pasti senang juga mencari “hiburan”, satu ingatan pun melintas dalam benaknya. Cepat dia mengulap tangan kanannya, kawanan dayang yang hadir dalam ruangan pun segera mengundurkan diri dari tempat itu. Agaknya Kui-hoa mengerti apa yang dipikir suaminya, sambil mengangkat cawan dia pun berseru manja, “Kongcu, mari kita bersulang satu cawan.” “Hahaha, tak nyana takaran minum Hujin luar biasa,” sahut Cau-ji sambil menggeleng, “mana boleh hanya secawan, mari, mari, kuhormati tiga cawan arak untukmu.” “Betul,” sela Liu Su-pin pula, “kurang hormat kalau bukan tiga cawan, harus memakai cawan besar.” “Hahaha, bisa mabuk kalau tiga mangkuk besar,” seru Kui-hoa sambil tertawa, meski berkata begitu sekaligus ia teguk habis tiga cawan besar arak wangi.
21 Begitu arak mengalir ke dalam perutnya, warna merah seketika melapisi kulit mukanya yang cantik, apalagi diimbangi kerlingan matanya-yang genit, sungguh membikin orang mendesah penuh napsu.
Jihujin Ciu-lian tak mau kalah, segera serunya manja, “Yu-kongcu, aku pun harus menghormatimu dengan tiga cawan arak!” Cau-ji sengaja berseru kepada Liu Su-pin, “Toaya, kau mesti membantu aku menghabiskan isi cawan ini!” “Tidak bisa begitu Kongcu ….” sela Ciu-lian semakin genit, “tadi kau layani Toaci dengan tiga cawan arak, masa kali ini kau tak mau melayani permintaanku, apakah tak pandang mata kepadaku?” Liu Su-pin ikut tertawa tergelak. “Hahaha, Lote, bukannya Loko tak mau membantu, tapi apa yang dia katakan masuk akal juga!” “Hahaha, baik, baik, rasanya kali ini harus minum sampai mabuk. Ayo bersulang!” Sekaligus dia menghabiskan lima belas mangkuk besar arak wangi. “Sekarang tentunya Hujin sekalian merasa puas bukan?” seru Cau-ji kemudian. Keenam perempuan cantik itu tidak menyangka kalau tamunya mempunyai takaran minum yang hebat, di tengah suara cekikikan ramai terdengar Kui-hoa berseru, “Kongcu, seharusnya kau pun minum beberapa cawan dengan Toaya kami!” Cau-ji memandang wajah Liu Su-pin, lalu berlagak takut, serunya, “Wah, Siaute tak berani, coba lihat takaran minum Toaya, Siaute menyerah sajalah!” Tak terkira rasa gembira Liu Su-pin, kontan ia tertawa terbahak-bahak. “Tidak bisa begitu,” Samhujin Giok-ho berseru pula manja, “Toaya, kau harus menghormati Kongcu dengan beberapa cawan arak!” “Hahaha, betul, betul, sudah seharusnya, Lote, mari kita bersulang beberapa cawan arak.” “Hahaha, Toaya, tak kusangka kau bisa adil memimpin semua bini-binimu, ayo bersulang!” Kawanan wanita itupun bertepuk tangan riuh rendah, memberi semangat kepada kedua pria itu. Dalam waktu singkat kedua orang telah menghabiskan enam mangkuk arak, selesai itu mereka saling pandang sambil tertawa terbahak-bahak. “Kui-hoa,” seru Liu Su-pin kemudian sambil tertawa, “kalian harus membuat acara yang menarik untuk menghibur tamu istimewa kita!” “Hihihi, Toaya ingin acara apa?” “Lote, kau saja yang sebut, ingin tampil acara seperti apa?” “Hahaha, Hujin sekalian bukan cuma cantik bak bidadari, suaranya pun merdu bagai kicauan burung nuri, bagaimana kalau menyanyi sambil menari?” “Hahaha, ternyata Lote memang tajam matanya, menari sambil bernyanyi memang keahlian kami, ayo dimulai!” “Baik!” Setelah keenam wanita itu berdiri, Kui-hoa bersandar di sisi Liu Su-pin sementara Ciu-lian bersandar di sisi Cau-ji. Kedua orang itu setelah saling pandang sambil tertawa, mulai bernyanyi: “Kekasih, oh kekasih, tak terlupakan nyanyian mabuk di tengah malam itu. Kekasih, oh kekasih. Bagaimana mungkin kulu-pakan ciuman mesra di tengah malam yang memabukkan. Begitu banyak kupu-kupu mati karena bunga, begitu banyak kupu-kupu hidup karena bunga. Tetapi aku mengorbankan nyawa demi kekasih hati. Kekasih, oh kekasih, tak akan kulupakan ciuman hangatmu” Keempat perempuan lainnya segera meliukkan pinggang sambil membusungkan dada, membawakan tarian erotik. Diam-diam Liu Su-pin memberi kedipan mata kepada kawanan perempuan itu, kemudian sambil merangkul Kui-hoa dia beranjak pergi dari dalam ruangan. Sambil menyanyi Ciu-lian menempelkan tubuhnya semakin rapat di tubuh Cau-ji, sedang keempat wanita lainnya mulai melucuti pakaian sendiri satu per satu sebelum akhirnya benar- benar dalam keadaan bugil.
22 Menghadapi adegan seperti ini, kontan Cau-ji merasakan darah panas yang mengalir dalam tubuhnya mendidih, seluruh badan serasa dibakar api yang membara. Dalam pada itu Ciu-lian sambil menyanyi, tangannya tak pernah berhenti, dia mulai melepas baju yang dikenakan Cau-ji satu per satu. Tatkala semua baju sudah terlepas dan ia menemukan ‘tombak panjang’ milik Cau-ji berdiri tegak dengan gagah beraninya, kontan perempuan itu menjerit keras, nyanyiannya terhenti seketika. Dengan penuh rasa ingin tahu keempat perempuan yang lain ikut datang melongok, begitu tahu apa yang terpampang di depan mata, kontan tubuh semua orang gemetar keras, gemetar saking girangnya.
Tak selang beberapa saat kemudian kelima perempuan dan seorang lelaki itu sudah pulih kembali dalam keadaan zaman kuno, bugil tanpa sehelai benang pun. Melihat mimik wajah kelima cewek yang mulai terbakar napsu birahi itu, Cau-ji pun bertanya sambil tersenyum, “Jangan-jangan Liu-toaya jarang sekali menyentuh kalian berlima? Kalau tidak, masa sikap kalian jadi begitu kelaparan?” Merah jengah wajah kelima wanita itu, untuk sesaat mereka tak mampu berkata-kata. Akhirnya Ciu-lian yang menanggapi, sahutnya lirih, “Toaya tak pernah kurang perhatian, apalagi sampai tak pernah menjamah kami. Hanya saja … “barang” miliknya kelewat pendek dan kecil, tak tahan lama lagi, jadi kami…” Bicara sampai di situ, wajahnya seperti memperlihatkan rasa sedih dan pilu yang mendalam.
Cau-ji tersenyum penuh arti. “Sejak dulu hingga sekarang, kehidupan materi dan kehidupan seks memang selalu saling bertolak belakang, tak mungkin seseorang bisa mendapat keduanya sekaligus, jalan pikiran kalian harus lebih terbuka!” Berubah hebat paras muka kelima perempuan itu mendengar ucapan itu. “Kongcu, masa kau tega” seru Ciu-lian dengan suara gemetar. Cau-ji tertawa terbahak-bahak, sambil memuntir puting susu sebelah kanannya dia berkata, “Kita bisa bersua berarti memang punya jodoh, selewat hari ini entah sampai kapan kita baru bisa berkumpul kembali. Tentu saja Siaute berharap kalian bisa memainkan peran sebagai nyonya Liu dengan baik.” Kelima wanita itu menghembuskan napas lega, mereka pun mengangguk tanda mengiakan. Sambil berdiri, kembali Cau-ji berkata, “Waktu sangat berharga, kita akan bermain dengan cara apa?” Ciu-lian melirik keempat rekannya sekejap, kemudian katanya, “Kongcu, sampai hari ini kami lima bersaudara belum pernah melihat barang sebesar itu, bagaimana kalau kau membiarkan kami mencicipi dulu kehebatan barangmu satu per satu?” “Hahaha, bagus, bagus, semua mendapat bagian yang sama. Sana, persiapkan diri lebih dulu!” Dengan kegirangan kelima perempuan itu masing-masing mencari tempat dan memasang gaya sendiri untuk bersiap menyambut kedatangan sang kenikmatan. Cau-ji berjalan menghampiri pembaringan, ia lihat Cun-tho dan Tong-bwe sudah berbaring di atas ranjang sambil mengangkat kedua kakinya lebar-lebar, mereka membiarkan lubang surganya menonjol begitu jelas di hadapan pemuda itu. Mula-mula Cau-ji mengangkat dulu sepasang kaki Cun-tho, lalu tubuhnya langsung ditekan ke bawah, sang tombak panjang pun langsung menusuk masuk ke dalam liangnya yang sempit dan kencang. “Aduuh …!” terdengar perempuan itu mengaduh. “Aneh, kenapa punyamu masih begitu rapat?” tanya Cau-ji keheranan. Agak tersipu-sipu sahut Cun-tho, “Ah, sejak selaput perawanku dimakan Toaya, selama tujuh- delapan tahun terakhir belum pernah bersentuhan lagi dengan si ular berbulu, tentu saja kepunyaanku masih rapat dan kencang!” “Hahaha, rupanya begitu.
Ah betul, masa kau belum pernah melahirkan?” “Belum pernah, kami enam bersaudara tak pernah ada yang melahirkan!” Cau-ji tahu masalahnya pasti muncul dari tubuh Liu Su-pin, bisa jadi lantaran dia kelewat banyak meniduri perempuan hingga Thian menghukumnya dengan tidak diberi keturunan.
23 Dalam waktu singkat ia sudah menghujamkan senjatanya berulang kali dalam lubang Cun-tho, kemudian ia cabut tombaknya dan berganti menusuk lubang milik Tong-bwe. Keadaan Tong-bwe tak ubahnya seperti bayi yang sedang kelaparan, tanpa peduli lubangnya terasa perih dan sakit, dengan sekuat tenaga dia memutar dan menggoyang tubuhnya, berusaha mengimbangi tusukan lawan untuk mencapai orgasme. Ketika Cau-ji mulai memutar tombaknya dengan menindih tubuh Soat-kiok yang sedang bersandar di tepi bangku, perempuan itu seakan kehilangan sukma, untuk sesaat dia hanya bisa termangu-mangu. Sampai Cau-ji sudah merondai sekujur badannya satu putaran, pemuda itu baru menyadari kalau perempuan yang sedang dinaiki berada dalam keadaan kebingungan, maka sekali lagi dia tusukkan tombak panjangnya ke dalam liang itu dan membenamkan dalam-dalam.
Saat itulah Soat-kiok baru seolah tersadar kembali, saking girangnya dia menangis. Tak tega melihat keadaan perempuan itu, dengan penuh kasih sayang Cau-ji mulai menggenjot badannya naik turun berulang kali, bahkan setiap kali tombaknya terbenam, dia selalu menggesekkan kepala tombaknya di dasar lubang perempuan itu, Soat-kiok saking nikmatnya sampai seluruh badan gemetar keras.
Bagaikan orang kalap perempuan itu mulai memutar dan menggoyang badannya ke sana kemari….
Tak selang beberapa saat kemudian akhirnya dia mencapai puncak orgasme. Puncak kenikmatan yang luar biasa, seolah bendungan air yang dijebol oleh air bah. Saking girangnya sambil melelehkan air mata, ia bergumam dan menyebut ‘Kongcu, Kongcu” tiada hentinya. Cau-ji mencabut tombaknya dan kali ini dia menghampiri Cun-tho, mula-mula sepasang kaki perempuan itu dinaikkan dulu ke atas bahunya, kemudian setelah menarik napas panjang ia hujamkan senjatanya ke dalam liang perempuan itu dan mulai melancarkan serangkaian tusukan berantai. Ratusan kali tusukan kemudian, Cun-tho mulai terangsang hebat, jeritnya berulang kali, “Ooh … ooh … Kongcu … Kongcu … aduh …
Kongcu sayangku … aduh … nikmatnya … mati aku” Tak tahan dia mulai menggoyang badannya secara jalang dan liar… Akhirnya diiringi jeritan lengking, dia pun mencapai puncak kenikmatan.
Dengan penuh kelembutan Cau-ji membaringkan badannya ke atas ranjang, kemudian dia rangkul pinggang Soat-kiok, dengan jurus Li-san-ki-hwe (membelah bukit menyulut api) senjatanya ditusukkan ke dalam liang perempuan itu dan menghujamnya berulang kali. Bunyi gesekan bergema tiada putusnya, suara cairan kental yang bergesek dengan cairan … sementara lelehan cairan putih menggenangi lantai. Di saat seluruh permukaan mulai basah kuyup oleh cairan, dia pun mulai mengerang kenikmatan … mengerang karena mencapai puncaknya …. Kini giliran Giok-ho yang memilih bersandar di atas bangku, tatkala tombak panjang Cau-ji mulai menusuk liang surganya, dengan cepat pinggulnya menjepit kuat-kuat senjata lawan kemudian sekuat tenaga menggeseknya ke atas bawah. “Plok … plok’ bunyi nyaring bergema dalam ruangan. Cau-ji sendiri nampaknya mulai bernapsu, dengan cepat tangannya mulai meremas sepasang payudara yang putih kencang, sementara tombaknya ditusukkan semakin ganas. Ratusan kali tusukan kemudian Giok-ho mulai merintih keras, mengerang karena nikmat. Ciu-lian yang menyaksikan kejadian itu kegirangan setengah mati, cepat ia tidur telentang, sepasang kakinya dipentang lebar-lebar, pintu gerbang sudah dibuka siap menanti kedatangan sang tamu agung. Ternyata memang tidak membuatnya kecewa, selang beberapa saat kemudian Cau-ji telah berhasil menombak Giok-ho di atas bangkunya, bahkan dengan satu gerakan cepat pemuda itu sudah mencabut senjatanya dan berganti menusuk liang Ciu-lian. “Aduuh mak! Nikmat… nyaman” jerit Ciu-lian penuh rangsangan. Sepasang kakinya langsung saja melingkar dan menjepit pinggang Cau-ji, kemudian dengan gerakan penuh napsu dia menggeser badannya mengimbangi gerak tusukan lawannya.
24 Di saat itulah tiba-tiba pintu kamar dibuka orang, dengan satu gerakan cepat Kui-hoa telah menyelinap masuk ke dalam ruangan. Begitu berhasil membuat keok Liu Su-pin, menggunakan kesempatan di kala lelaki itu tertidur pulas, diam-diam ia mengeluyur balik ke ruang sebelah, rencananya mau ikut mencicipi kado istimewa itu. Apalagi ketika ia selesai memeriksa Tong-bwe berempat dan menyaksikan tubuh bagian bawah mereka basah oleh cairan lendir pekat bahkan tertidur dengan senyum dikulum, hatinya semakin tegang. Mengapa ia jadi tegang? Ternyata setelah Kui-hoa menyaksikan rekan-rekannya tertidur dengan penuh kepuasan, dia mulai kuatir, takut kalau Cau-ji keburu tak mampu menahan diri dan terlepas duluan, bukankah kalau sampai begitu dia bakal kecewa berat dan hanya bisa mengisap jari sendiri? Oleh sebab itu dengan gerakan paling cepat dia lucuti semua pakaian yang dikenakan, kemudian dengan waswas mengawasi pertempuran yang sedang berlangsung antara Cau-ji melawan Ciu-lian. Tatkala sorot matanya tertumbuk pada tombak panjang Cau-ji yang begitu panjang, besar dan kasar, detak jantungnya kontan berdebar sangat kuat, begitu kuatnya nyaris mau melompat keluar, liang milik sendiri pun mulai terasa gatal dan linu, gatal yang tak tertahankan. Dalam keadaan begini, terpaksa ia gunakan jari tangan sendiri untuk menghibur liangnya yang gatal, menghibur diri sambil menunggu giliran. Dengan susah payah akhirnya tiba juga saat Ciu-lian takluk, saat itulah dengan agak tersipu ia berteriak, “Kongcu, masih ada aku yang belum dapat giliran!” Sambil berseru ia mulai membaringkan diri sambil memasang gaya. Di saat tombak Cau-ji mulai menerjang masuk ke dalam liangnya, seketika itu juga ia merasakan liangnya begitu bengkak dan sakit, tak tahan jeritnya, “Aduuh mak, besar amat!” “Hahaha, ketakutan?” “Hihihi, siapa takut? Makin besar makin mantap!” Maka pertempuran sengit pun kembali berkobar. Bagaikan lupa diri Cau-ji mulai menyerang, menusuk dan memutar dengan ganasnya …. Sampai akhirnya Kui-hoa menjerit karena nikmat, Cau-ji baru bangkit berdiri, mengambil selembar handuk dan mulai membersihkan peralatannya. Kemudian setelah mengenakan kembali pakaiannya, dengan menggembol pedang To-liong- kiam ia tinggalkan gedung milik keluarga Liu. Waktu itu jam menunjukkan sekitar shen-si (sekitar jam lima sore), ia pun bergumam, “Ai, bagaimana pun perempuan yang tak tahu ilmu silat memang ketinggalan jauh dibandingkan pesilat, masa enam perempuan tak bisa bertahan selama dua jam’ Habis berkata, dengan langkah lebar dia kembali ke rumah makan. Pada saat itulah dari belakang tubuhnya, selisih beberapa kaki darinya muncul seorang gadis berbaju putih, sewaktu mendengar gumaman pemuda itu, berkilat sepasang matanya, kemudian secara diam-diam menguntit di belakangnya. Ketika sorot matanya berhenti pada pedang To-liong-kiam yang tergembol di pinggang Cau-ji, tubuh gadis itu nampak bergetar keras, lalu pikirnya, “Eh, bukankah pedang itu To-liong-kiam? Kenapa bisa terjatuh ke tangan bajingan cabul ini?” Ketika melihat Cau-ji memasuki rumah makan, ia nampak termenung sejenak, kemudian terburu-buru meninggalkan tempat itu. 0oo0 Malam semakin kelam. Deru angin malam berhembus amat kencang, sebagian penghuni kota sudah terlelap dalam impian. Cau-ji baru saja selesai bersemedi, ia merasakan tubuhnya segar dan enteng bagaikan sedang terbang, sadarlah ia bahwa apa yang dikatakan Toasiok tak salah, pil mestika naga berusia seribu tahun telah membantu tenaga dalamnya meningkat sangat pesat.
25 Pada saat itulah tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara ujung baju tersampuk angin, tak tahan pikirnya, “Sekarang malam sudah larut, kenapa masih ada Ya-heng-jin (orang berjalan malam) yang lewat di tempat ini?” Dengan sigap dia melompat turun dari ranjang, mengenakan pakaian dan tak lupa membawa pedang. Kelihatannya gerak-gerik Ya-heng-jin itu sangat hati-hati, coba kalau bukan Cau-ji memiliki tenaga dalam yang sempurna, rasanya mustahil untuk mengetahui kehadiran pejalan malam itu. Begitu dirasakan Ya-heng-jin itu sudah hampir tiba di depan jendela kamar, cepat pemuda itu memusatkan perhatiannya, dia ingin tahu malaikat dari mana yang berani mendatanginya. Terlihat bayangan hitam berkelebat, sesosok wajah setan berambut panjang telah muncul di luar jendela, begitu seram wajahnya membuat ia terperanjat. Saat itulah tiba-tiba ia mendengar orang itu berkata dengan suara sedingin es, “Penjahat cabul, kalau berani ikuti aku?” Habis berkata, kembali terlihat bayangan hitam berkelebat, dalam waktu singkat orang itu sudah lenyap dari depan jendela. Begitu berhasil mengendalikan diri, cepat Cau-ji mendorong jendela melongok keluar, terlihat sesosok bayangan manusia sedang bergerak ke arah timur. Terdorong rasa dingin tahu, dia pun segera melompat keluar ruangan dan membuntuti. Sungguh cepat gerakan Ya-heng-jin itu, dalam waktu singkat ia sudah meninggalkan daerah perkotaan menuju ke tanah alas, bahkan bayangan tubuhnya lenyap ketika tiba di depan halaman sebuah bangunan yang amat besar dan luas. Dengan seksama Cau-ji coba memperhatikan sekeliling tempat itu, kemudian pikirnya, “Bangunan siapa ini? Kenapa membangun gedung semegah ini di tempat yang begini terpencil?” Rupanya di sisi kanan bangunan gedung itu merupakan komplek tanah pekuburan yang tak terawat, sejauh mata memandang hanya gundukan tanah berserakan, sementara di sisi kiri merupakan sebuah kolam ikan yang luas. Di bawah cahaya bintang yang berkedip, kilauan cahaya pantulan gemerlapan di atas permukaan air. Di depan bangunan megah itu tumbuh puluhan batang pohon Pek-yang setinggi empat-lima depa, mengikuti hembusan angin bergema suara gemerisik nyaring guguran dedaunan. Bangunan itu memang didirikan sangat aneh, dinding dan bangunannya dicat merah darah, tapi sama sekali tak mirip sebuah kuil atau kelenteng, hal ini memberi kesan menyeramkan bagi yang melihatnya. Bukan saja bentuk bangunan itu sangat aneh, didirikan pula di tempat terpencil seperti ini, mendatangkan kesan misteri dan aneh bagi siapa pun yang melihatnya. Membuat orang menduga siapa gerangan yang berdiam di sana? Manusiakah? Atau setan gentayangan? Biarpun Cau-ji memiliki ilmu silat yang sangat tangguh, namun setelah melihat keadaan sekeliling tempat itu, tak urung bergidik juga hatinya. Baru saja dia hendak membalikkan tubuh meninggalkan tempat itu, tiba-tiba terdengar suara tertawa cekikikan berkumandang mengikuti hembusan angin malam. Suara tertawa itu sangat merdu bagaikan suara keleningan, kalau menganalisa berdasarkan suara tertawa itu, orang pasti akan membayangkan tawa merdu itu berasal dari seorang gadis cantik bak bidadari dari kahyangan. Tapi bila suara tawa seperti itu muncul di tempat sepi yang terpencil seperti ini, apalagi di tengah malam buta, cekikikan merdu itu justru menambah suasana seram, ngeri, dan horor bagi siapa pun yang mendengarnya, cukup membuat bulu roma orang bangun berdiri. Terdengar suara tawa merdu mengalun bagaikan liiran air di sungai kecil, bergema tiada putusnya. Makin didengar, Cau-ji merasa semakin tak beres, akhirnya habis sudah kesabarannya, diambilnya sebuah batu, lalu dengan mengerahkan tenaga dalam disambitkan ke arah asal suara itu. Padahal tenaga dalam yang dimilikinya sekarang sudah luar biasa hebatnya, apalagi menyambit dengan sepenuh tenaga, seketika terdengarlah suara desingan angin tajam membelah bumi, batu itu langsung menghantam di atas batu nisan yang berada lebih kurang lima depa di hadapannya.
26 “Blaam!”, tiba-tiba suara tawa itu terputus di tengah jalan, perlahan-lahan dari belakang batu nisan muncul sesosok bayangan putih, di bawah cahaya rembulan yang redup, selangkah demi selangkah dia berjalan mendekat. Makin lama bayangan putih itu semakin dekat, sekarang sudah dapat dilihat dia adalah seorang perempuan berambut sepanjang punggung, bergaun putih, karena rambutnya menutupi wajah maka sulit untuk melihat dengan jelas raut muka aslinya. Kembali Cau-ji berpikir, “Masa di kolong langit benar-benar terdapat setan dan roh gentayangan?” Berpikir begitu, sambil menghimpun tenaga murninya ia membentak, “Siapa kau? Kalau tetap berlagak seperti setan untuk menakuti orang, jangan salahkan bila Cayhe berlaku tak sopan!” Suara bentakannya begitu nyaring bak suara genta yang dibunyikan bertalu-talu, namun perempuan berbaju putih yang berada di hadapannya itu seolah sama sekali tak mendengar, dia tetap melanjutkan langkahnya maju. Melihat hal ini, tak urung Cau-ji bergidik juga, badannya mulai gemetar. Kini gadis berbaju putih itu sudah berada lebih kurang tiga depa di hadapannya. Sambil berseru tertahan Cau-ji mengangkat tangan kanannya siap melancarkan bacokan, belum lagi pukulan dilepaskan, tiba-tiba gadis berbaju putih itu mengangkat tangan kanannya dan membelah rambut panjangnya yang menutupi wajahnya. Begitu melihat tampang gadis itu, kontan Cau ji terkesiap sampai gemetar badannya, tanpa sadar badannya mundur tiga langkah, belum lagi pukulannya di lancarkan, tangannya sudah keburu lemas hingga tak mampu diangkat. Tiba-tiba gadis berbaju putih itu tertawa terkokoh, kembali dia maju beberapa langkah, tangan kirinya di ayun ke depan dan menyambar wajah Cau-ji dengan ujung bajunya. Cau-ji membuang badannya ke belakang sambil mundur sejauh lima-enam kaki, dengan cekatan dia menghindari datangnya sambaran itu. Dia menarik napas panjang, sambil menghimpun tenaga dalam bersiap-siap, bentaknya, “Sebenarnya kau ini manusia atau setan? Kalau berani maju lagi, jangan salahkan Cayhe akan bertindak kasar.” Kembali gadis berbaju putih itu menggoyang pinggulnya sambil melangkah maju, sekali lagi dia menyingkap rambutnya dengan tangan kanan. Tadi Cau-ji sempat melihat wajah anehnya yang mendebarkan hati, tentu saja ia tak berani memandang lebih jauh, tangan kanannya diayun, sebuah pukulan dahsyat kembali dilontarkan. Dengan cekatan gadis berbaju putih itu mangegos ke samping kemudian meluncur maju. Mendadak dia membungkukkan pinggang, secepat sambaran petir kembali menerjang maju. sementara tangan kanannya menyingkap rambutnya yang panjang, ujung baju tangan kirinya sekali lagi menyambal wajah Cau-ji. Melihat datangnya ancaman, pemuda itu imun bentak nyaring, dengan jurus Eng-hong-ki-long (menyongsong angin menggempur ombak) dia lontarkan sebuah bacokan kilat. Gadis berbaju putih berseru tertahan, mengikuti datangnya bacokan kilat itu cepat dia melompat mundur. Kembali Cau-ji membentak keras, sambil menghimpun tenaga mumi sekali lagi dia lepaskan sebuah bacokan, pukulannya kali ini disertai dengan kekuatan yang luar biasa, bagaikan ombak dahsyat yang menghantam batu karang, langsung menggulung tiada putusnya. Tak terlukiskan rasa kaget gadis berbaju putih, sadar pukulan lawan tak terkirakan dahsyatnya, cepat ia berjumpalitan di udara kemudian bergeser sekitar delapan kaki ke samping kiri. Dengan tangan kiri melindungi dada sementara tangan kanan siap melancarkan serangan, kembali Cau-ji membentak nyaring, “Siapa kau sebenarnya? Apa maksudmu menyaru menjadi setan gentayangan? Cepat mengaku!” Tiba-tiba gadis berbaju putih itu menyingkap lagi rambut panjangnya, diiringi tertawa cekikikan dia menubruk maju. Begitu melihat wajah jelek si nona yang dipenuhi bekas codet, tak tahan Cau-ji kembali bergidik. Sedikit perhatiannya terpecahkan, gadis berbaju putih itu telah menerkam ke samping badannya.
27 Tergopoh-gopoh Cau-ji mundur dua langkah, baru saja akan menyerang tiba-tiba dilihatnya gadis berbaju putih itu membalikkan badan sambil menyentilkan jari tangannya ke arah pemuda itu. Cau-ji segera mengendus bau harum yang aneh menyergap hidungnya. la segera sadar kalau bubuk harum itu pasti sebangsa obat pemabuk, untuk mencari tahu tujuan sebenarnya dari nona berbaju putih itu, dia pun berlagak keracunan, setelah mundur sempoyongan badannya roboh ke tanah. Gadis berbaju putih itu tertawa terkekeh, dengan lembut ia berjalan ke samping Cau-ji, lalu sambil membungkukkan badan dia lepas pedang To-liong-kiam itu dari pinggang lawan. Begitu pedang mestika itu dicabut dari sarungnya, sekilas cahaya dingin yang menggidikkan seketika terpancar di balik kegelapan malam. Baru saja dia akan menyarungkan kembali pedangnya, mendadak dari belakang tubuh gadis itu muncul sebuah tangan yang besar dan kasar, dengan kecepatan luar biasa tangan itu mencengkeram pergelangan tangan yang sedang menggenggam pedang itu. Bersamaan itu terdengar seseorang berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Ternyata bubuk pemabuk dari kelompok terhormat kaum bujangan memang bukan nama kosong, baru hari ini mata Lohu benar-benar terbuka!” Suara itu serak, selain serak terselip pula suara yang tak enak didengar.
“Lepas!” bentak nona berbaju putih itu sambil menumbuk dengan sikut kanannya. “Hm, dasar budak binal, kerja Lohu setiap hari menangkap burung, masa kali ini kubiarkan mataku dipatuk burung? Jangan harap kau bisa memanggil Cicimu untuk datang menolong!” “Hehehe, mau tahu di mana Cicimu? Dia sudah tertotok jalan darahnya dan kusembunyikan di suatu tempat, bila kau ingin mengangkangi pedang mestika ini seorang diri, hm! Jangan salahkan kalau Lohu berhati keji!” Rupanya nona berbaju putih itu tahu kalau serangan sikutnya tak bakal bisa melukai lawan, maka di saat ia menyikut itulah dibarengi dengan suara bentakan nyaring, dia berniat mengirim tanda bahaya untuk minta bantuan Cicinya. Siapa tahu pihak lawan telah turun tangan lebih dulu dengan menotok jalan darah Cicinya. Dalam keadaan begini, terpaksa sembari mengerahkan tenaga untuk melawan tekanan jari yang makin kencang mencengkeram pergelangan tangannya, ia berkata dengan lembut, “Lepaskan dulu cengkeraman-mu pada nadi pergelangan tanganku ini” “Hehehe, percuma putar otak, Lohu sudah tahu kelompok bujangan macam kalian paling banyak tipu-muslihatnya, kalau tahu diri, cepat serahkan sarung pedang To-liong-kiam itu kepadaku!” Habis berkata, ia menambah tenaga cengkeramannya satu bagian. Kontan gadis berbaju putih itu merasakan hawa darahnya tersumbat, separoh badannya jadi kesemutan dan mati rasa. la sadar bila berani melawan lagi niscaya jiwanya bakal melayang. Terpaksa sambil menyodorkan sarung pedang itu ke belakang, teriaknya, “Terimalah!” Oleh karena tak bisa berpaling, ia sodorkan sarung pedang itu lewat atas bahu kirinya.
Padahal ibu jari dan jari tengahnya sudah saling menempel, asal orang di belakang berani menyambut sodoran sarung pedang itu, seketika dia akan menyentilkan bubuk pemabuknya.
Rupanya pihak lawan sudah mengetahui rencana ini, jengeknya sambil tertawa dingin, “Lohu sudah tua, tak berani bersentuhan dengan tangan nona yang halus, silakan buang sarung itu ke tanah, biar Lohu mengambilnya sendiri!” Baru selesai perkataan itu diucapkan, mendadak jalan darah Jian-keng-hiat di bahunya terasa kesemutan, belum lagi gadis itu sempat menjerit, tubuhnya sudah roboh terjungkal ke tanah. Pedang pendek dalam genggamannya terjatuh ke tanah, bahkan nyaris menyambar wajah Cau- ji. Diam-diam Cau-ji yang berlagak pingsan merasa amat terperanjat, cepat dia himpun tenaga dalamnya ke jari tangan, menggunakan kesempatan di saat kakek itu membungkukkan badan untuk memungut sarung pedang, tiba-tiba ia lancarkan sentilan. Diiringi dengusan tertahan, kakek itu roboh terjungkal ke tanah.
28 Cau-ji segera mengenali kakek itu sebagai anggota Jit-seng-kau yang berhasil kabur dari rumah makan Hong-hok-lau waktu itu, api amarahnya kontan berkobar, telapak tangan kanannya diayunkan ke muka menghajar batok kepalanya. “Aduuuh …!” diiringi jeritan ngeri yang memilukan hati, batok kepala kakek itu hancur berantakan. Nona berbaju putih itu semakin tercekat, begitu ngerinya sampai tak berani bersuara. Selesai menyarungkan kembali pedang pembunuh naganya, Cau-ji baru berpaling memandang si nona berbaju putih yang sedang berbaring di tanah, dari biji matanya yang berputar, dia tahu nona itu sudah tertotok jalan darahnya. Cau-ji masih jengkel karena gadis itu berani mempecundangi dirinya, setelah mendengus ia pun membalik badan siap beranjak pergi.
“Eeeh, tunggu sebentar,” nona berbaju putih itu berteriak cemas. “Ada apa?” biar menghentikan langkah, Cau-ji sama sekali tak berpaling. “Mau … maukah kau membantu aku membebaskan pengaruh totokan?” “Hm! Bukankah kelompok bujangan punya kulit setebal badak? Sudah mencelakaiku secara diam-diam, sekarang masih punya muka untuk minta bantuanku?” “Kau…
pergilah!” “Hahaha, kalau kau suruh aku pergi, aku justru tak mau pergi!” Benar saja, begitu selesai bicara dia benar-benar berdiri di hadapan gadis itu sambil mengawasi tubuh indahnya yang menawan itu dengan mata nakal. Begitu menyaksikan permainan matanya yang nakal, kontan gadis berbaju putih itu teringat dengan gumamannya sewaktu meninggalkan rumah keluarga Liu, membayangkan kemampuannya melalap habis enam perempuan hanya dalam dua jam, tak pelak hatinya ngeri bercampur ketakutan. Tak tahan jeritnya, “Serigala rakus, cepat pergi!” “Serigala rakus? Siapa itu serigala rakus?” tanya Cau-ji tertegun. “Kau! Cepat pergi!” Selama hidup belum pernah Cau-ji diumpat orang sekasar itu, dengan gusar teriaknya, “Tunjukkan buktimu, kalau tidak, jangan salahkan aku benar-benar akan mempraktekkan perbuatan serigala rakus!” Gelisah bercampur ketakutan, kembali nona berbaju putih itu menjerit, “Kau berani!” Cau-ji segera berjongkok di sisinya, lalu dengan tangan kanannya dia remas payudara sebelah kanan gadis itu, sambil meraba, meremas dan mempermainkan puting susunya, dia mengejek, “Lihat saja, aku berani tidak melakukannya!” Belum pernah nona berbaju putih itu diperlakukan demikian oleh seorang lelaki, jeritnya melengking, “Kau..” Tiba-tiba ia jatuh tak sadarkan diri. Cau-ji tertawa dingin. “Dasar budak busuk yang belum tahu urusan dunia, berani amat mengumpatku sebagai serigala rakus! Cuuh!” Baru saja dia hendak menyadarkan nona itu, tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang membentak nyaring, “Jangan kau lukai adikku!” Sambil berdiri Cau-ji berpaling ke arah orang itu. Terlihat seorang gadis berbaju hitam muncul dari kejauhan, dalam waktu singkat dia sudah muncul di arena, bahkan secara beruntun sepasang tangannya melepaskan pukulan berantai, semua pukulan tertuju ke arah dua jalan darah penting di tubuh Cau-ji. Begitu cepat serangan itu membuat siapa pun akan bergidik dibuatnya.
Melihat datangnya serangan yang begitu cepat dan sasaran jalan darah yang begitu tepat, Cau- ji merasa terkesiap, sambil menghimpun tenaganya ke bawah, cepat dia menjatuhkan diri ke sisi kiri. Di saat tubuhnya belum berbaring, tangan kirinya dengan jurus Poh-liong-jut-hay (bertarung naga di luar lautan) menerobos keluar dari belakang punggung, langsung mencengkeram urat nadi pergelangan tangan kanan gadis itu.
29 Baru saja nona berbaju hitam itu melengak karena serangannya mengenai sasaran kosong, belum sempat melihat jelas gerakan tubuh yang digunakan lawan untuk menghindari serangannya, tahu-tahu urat nadi tangannya sudah dicengkeram lawan. Buru-buru dia mengayun tangan kiri siap melancarkan bacokan lagi. Cepat Cau-ji mengerahkan tenaga dalamnya, seketika nona berbaju hitam itu merasakan peredaran darahnya tersumbat. “Aduuuh …!” sambil menjerit kesakitan tubuhnya terjatuh ke tanah dalam keadaan lemas. Cau-ji mencoba memperhatikan wajah orang itu, ternyata perempuan ini memiliki wajah yang sangat jelek dan menyeramkan, pikirnya, “Heran, kenapa semua anggota kelompok bujangan memiliki wajah begitu jelek?” Tiba-tiba terdengar nona berbaju hitam itu membentak nyaring, “Lepas tangan!” Cau-ji dapat merasakan kewibawaan yang terselip di balik bentakan itu, tanpa sadar ia kendorkan tangannya. Tanpa memandang sekejap pun ke arah Cau-ji, nona berbaju hitam itu langsung menghampiri gadis berbaju putih, setelah diperiksa sejenak, ia tepuk tubuhnya beberapa kali, seketika nona berbaju putih itupun tersadar kembali. “Cici, bukankah kau pun sudah ditangkap orang?” “Tidak ada masalah, ayo kita pergi!” “Tapi Cici, Pedang pembunuh naga itu” seru si nona berbaju putih sambil melirik Cau-ji sekejap. “Kita bicarakan lagi esok!” Pada saat itulah secara lamat-lamat Cau-ji mendengar suara dengungan aneh berkumandang dari balik halaman gedung, dengan pengalamannya yang luas, meski sudah mendengar suara aneh pun dia sama sekali tak ambil peduli. Agaknya nona berbaju hitam itupun sudah menangkap suara aneh itu, segera dia urungkan langkahnya dan pasang telinga untuk mendengarkan dengan seksama.
Terdengar suara dengungan itu makin lama semakin nyaring dan kuat, bahkan datang dari empat penjuru. Tampaknya gadis itu segera menyadari keadaan tidak beres, cepat dia pusatkan tenaga dalamnya mengawasi sekeliling tempat itu dengan seksama. Dalam waktu singkat dari balik kegelapan segera muncul beribu titik hitam yang terbang mendekat dengan kecepatan tinggi. Satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan perasaan terkesiap segera jeritnya, “Adikku, hati-hati serangan lebah beracun!” Cau-ji sendiri pun terkejut mendengar teriakan itu. Tak selang beberapa saat kemudian ratusan ekor lebah beracun yang bentuknya sangat besar dan aneh telah menerjang ke arah tubuhnya. Cau-ji membentak keras, sebuah pukulan dahsyat langsung dilontarkan ke muka, di mana deru angin pukulan dahsyatnya menyambar, puluhan ekor lebah beracun segera terhajar hancur dan berguguran ke atas tanah. Suara dengungan terdengar makin keras, puluhan lebah beracun kembali menyerang tiba. Dalam keadaan begini, biarpun ketiga orang itu memiliki kungfu yang hebat pun tak urung bergidik juga dibuatnya. Sepasang tangan mereka bertiga diayunkan berulang kali, entah sudah berapa banyak lebah beracun yang berhasil mereka tebas mati, tapi jumlah lebah beracun yang datang menyerang beribu-ribu ekor jumlahnya, mati satu tumbuh seribu, bagaikan gulungan air bah menyerang ketiga orang itu tiada putusnya. Terpaksa Cau-ji bertiga harus mengerahkan segenap kekuatan untuk melindungi diri. Cau-ji sama sekali tidak menyangka dirinya tanpa sebab sudah terjerumus dalam kepungan barisan lebah beracun, dalam gelisahnya mendadak satu ingatan cerdik melintas dalam benaknya. Cepat sepasang tangannya diayunkan berulang kali, memaksa gerombolan lebah beracun itu terpental. Menggunakan kesempatan itu cepat tangannya menyambar jubah sendiri dan “Breeet…!”, merobeknya jadi dua bagian, dengan mengebaskan robekan pakaian itu kembali dia sapu gerombolan lebah beracun itu.
30 Kali ini gerombolan lebah itu terdesak mundur. Bahkan kawanan lebah beracun yang terkena sapuan pakaiannya seketika hancur lebur dan mampus seketika. Melihat usahanya membuahkan hasil, Cau-ji kegirangan, robekan bajunya diputar semakin gencar. Akibat gempuran yang bertubi-tubi ini, kawanan lebah itu mulai berganti sasaran, kini mereka hanya menyerang kedua gadis itu saja.
Dengan sepenuh tenaga kedua gadis itu melancarkan pukulan bertubi-tubi, namun kepungan kawanan lebah beracun makin lama makin bertambah ketat, dalam keadaan begini, sedikit kesalahan atau sedikit kekuatannya surut, niscaya tubuh mereka akan disengat lebah itu. Sadar akan mara bahaya yang mengancam kedua gadis itu, Cau-ji segera mengerahkan tenaganya lebih besar lagi untuk menghalau kawanan lebah itu, bentaknya, “Cepat lepas pakaian kalian!” Kedua orang itu mendengus dingin, bukan saja tidak menggubris, mereka melanjutkan kembali serangannya untuk melindungi badan. Melihat betapa keras kepalanya mereka, sebetulnya Cau-ji ingin mengumpatnya dengan beberapa patah kata pedas, tapi segera teringat olehnya kalau mereka adalah kaum wanita, mana mungkin seorang gadis melepas pakaiannya di hadapan lelaki asing? Berpikir begitu, diam-diam ia mengumpat kebodohan sendiri. Setelah berhasil memukul mundur kepungan lebah beracun itu, bentaknya keras, “Sambut ini!” Dia melemparkan sobekan bajunya ke arah nona berbaju hitam. “Breeet…!”, lagi-lagi Cau-ji merobek pakaian dalamnya, kini dengan hanya mengenakan celana dia menggempur kawanan lebah itu. Kepada nona berbaju putih itu kembali teriaknya, “Cepat sambut robekan kain ini!” Lagi-lagi dia lemparkan pakaian dalamnya kepada si nona. Begitu memegang robekan kain, semangat kedua gadis itu kembali berkobar, mereka memutar tangannya berulang kali, memaksa kawanan lebah itu tersapu dan tak sanggup lagi maju. Cau-ji menghalau datangnya serangan dengan mengandalkan kedua belah tangan, sambil membunuh kawanan lebah itu dia mulai mengawasi sekeliling tempat itu. Ternyata kawanan lebah beracun itu yang besar ukurannya mencapai satu inci sedang yang terkecil pun mempunyai ukuran setengah inci. Kawanan lebah beracun yang datang menyerang makin lama semakin banyak, kekuatan serangan pun makin lama semakin melebar, sejauh mata memandang sekeliling tempat itu seolah dilanda kegelapan, gerombolan lebah itu begitu rapat, begitu berlapis, nyaris menyelimuti seluruh angkasa. Mungkin jumlahnya mencapai jutaan ekor. Dalam pada itu si nona berbaju hitam pun sambil mengayunkan robekan pakaian sembari putar otak, mencari akal untuk lolos dari kepungan. Pertarungan ini boleh dibilang merupakan pertarungan paling hebat yang dihadapinya sepanjang hidup, biarpun dia cerdas dan banyak akal muslihat toh untuk sesaat dibuat kelabakan juga. Tak jelas berapa juta ekor lebah beracun yang melancarkan serangan saat ini, bertarung dengan cara seperti inipun tak jelas akan bertarung hingga kapan, asal salah sedikit kurang waspada, tubuh sendiri bisa tersengat lebah beracun yang bisa menyebabkan kematian. Betul pertahanan mereka saat ini sangat rapat dan kuat, namun sangat menghabiskan tenaga dan kekuatan, cepat atau lambat pada akhirnya bakal rontok juga. Berpikir sampai di sini tanpa terasa ia melirik sekejap ke arah pemuda tampan yang berada di sisinya, dilihatnya pemuda ini meski turun tangan dengan garang namun sama sekali tak nampak kelelahan, malah sebaliknya semakin bertarung makin perkasa, hal ini kontan membuatnya tercengang dan keheranan. Sambil memutar robekan baju, diam-diam gadis ini mulai mengawasi gerak-geriknya. Tatkala sinar matanya membentur pedang pembunuh naga yang tergeletak di tanah, tergerak hati gadis berbaju hitam itu, pikirnya, “Andai kuajarkan ilmu pedang pembunuh naga kepadanya, dengan tenaga dalam yang dimiliki rasanya tak susah membantai habis kawanan lebah beracun ini, tapi..’ 31 Rupanya dia sedang mempertimbangkan, seandainya Cau-ji adalah penjahat, bukankah mengajarkan ilmu silat tangguh kepadanya sama artinya seperti harimau diberi sayap, siapa yang akan mengatasinya di kemudian hari bila dia semakin jahat? Tiba-tiba terdengar suara dentingan khim mengiringi suara suitan yang amat tak sedap didengar berkumandang datang dari dalam halaman gedung. Lebah beracun yang berada di empat penjuru jadi semakin kalap dan menyerang habis-habisan ke arah ketiga orang itu begitu suara khim dan suitan aneh itu bergema, situasi makin lama semakin gawat. Terlihat lebah-lebah beracun itu ada yang terbang rendah nyaris menempel tanah, ada pula yang menyerang dari tengah udara, mereka mengurung sekeliling tempat itu lapis demi lapis, begitu barisan depan rontok, barisan belakang segera menggantikan, suasana saat itu benar- benar amat tegang. Biarpun sapuan baju yang dilakukan kedua orang itu amat dahsyat, tapi sayang kumpulan lebah beracun itu makin lama semakin banyak, bahkan serangan yang dilakukan pun makin ganas dan dahsyat, tak urung bergidik juga perasaan nona berbaju hitam. Cau-ji mengayunkan tangan berulang kali melancarkan babatan dahsyat, lambat-laun dia berhasil mendesak mundur kawanan lebah itu, baru saja melirik ke samping, tiba-tiba hatinya jadi amat cemas, rupanya ada dua ekor lebah beracun yang menerjang dari tengah udara, langsung mengancam kepala nona berbaju putih itu. “Hati-hati nona!” segera bentaknya. Sepasang tangannya diayunkan berulang kali, dua ekor lebah beracun itu seketika terhajar mampus. Biar begitu, tak urung kedua nona itu ketakutan juga hingga bermandikan keringat dingin. Siapa tahu gara-gara Cau-ji harus turun tangan menolong orang, pertahanan sendiri seketika muncul lubang kelemahan, tiba-tiba terlihat ada tiga ekor lebah yang terbang langsung ke arah kepalanya. “Hati-hati kepalamu,” jerit si nona berbaju hitam. Terlambat, dengan cepat lebah beracun itu telah mendekati batok kepalanya. Siapa sangka baru saja ketiga ekor lebah itu berada beberapa inci di atas kulit kepala Cau-ji, tiba-tiba saja binatang kecil itu mencelat ke udara lalu rontok ke tanah, mampus! Rupanya ketiga lebah tadi telah terpencal hingga mati karena terkena pancaran tenaga dalam Im-yang-kang-khi yang memancar keluar secara otomatis. Cau-ji sendiri pun tidak tahu apa sebabnya bisa begitu, buru-buru dia mengayunkan kembali tangannya menyapu serbuan lebah beracun itu. Setelah tertegun sejenak, buru-buru nona berbaju hitam itu berbisik, “Kongcu, cepat lolos pedang To-liong-kiam, dengarkan kupasan jurus pedang dariku.” Mendengar itu, Cau-ji pun berpikir, “Ah benar juga, kenapa aku lupa kalau membawa pedang mestika?” Begitu memukul mundur serangan lebah, cepat dia bergeser ke arah pedang To-liong-kian yang tergeletak di tanah, dengan kaki kanan mengait ke depan, secepat kilat telapak tangan kirinya menyambar senjata itu. “Criiiing!”, di antara kilauan cahaya dingin, beberapa puluh ekor lebah beracun seketika terpapas hancur. Diam-diam nona berbaju hitam itu bersorak memuji, dia tak nyana pedang To-liong-kiam begitu tajam dan tak malu disebut pedang mestika. Begitu melihat Cau-ji dengan tangan kanan membawa pedang, tangan kiri melepaskan pukulan kosong, meski cahaya tajam berkilauan namun kekuatannya tak mampu membunuh kawanan lebah itu lebih banyak, maka dia pun segera mengambil keputusan. Dengan ilmu Coan-im-jit-pit, bisiknya, “Kongcu, dengarkan penjelasanku tentang rahasia jurus ilmu pedang pembunuh naga” Mula-mula Cau-ji agak tertegun, tapi begitu mendengar ia akan menjelaskan teori pedang, hatinya jadi girang setengah mati.
32 Sebagai keturunan keluarga Ong, sejak kecil dia sudah banyak belajar ilmu pedang dari Ong Sam-kongcu maupun dua belas tusuk konde emas, tak heran dia pun tahu ilmu pedang pembunuh naga merupakan ilmu pedang yang memiliki reputasi luar biasa. Maka sambil membantai kawanan lebah beracun, diam-diam ia mulai mempelajari jurus Nu- hay-to-liong (membunuh naga di amukan samudra). Jangan dilihat jurus ini hanya terdiri dari satu jurus dengan tiga gerakan, tapi setiap kata mengandung arti yang sangat dalam, sekalipun Cau-ji memiliki dasar ilmu pedang yang luar biasa, untuk sesaat sulit baginya untuk memahaminya. Untung saja dia memiliki ilmu Im-li-kang-khi yang secara otomatis melindungi seluruh badannya, sekalipun dia harus memecah perhatian pun masih tetap mampu membunuh lebah- lebah beracun itu. Sementara itu kedua gadis itu merasa tegang sekali, apalagi setelah melihat pemuda itu bertarung sambil mempelajari ilmu. Tak lama kemudian dari ujung pedang terpancar keluar sekilas cahaya tajam yang menggidikkan. Melihat itu, nona berbaju hitam itu sangat kegirangan, buru-buru dia menyingkir ke samping. Nona berbaju putih itupun segera mengintil di belakangnya, menyingkir jauh dari arena. Ketika kedua nona itu sudah mundur, tampak cahaya tajam itu perlahan-lahan mengembang dan melebar, akhirnya terbentuklah selapis cahaya pedang ber-bentuk jala. “Dia telah berhasil!” bisik nona berbaju hitam itu sambil melelehkan air mata. Betul saja, begitu Cau-ji menghentakkan tangan kanannya, sinar jala yang terpancar dari pedangnya seketika menghancur-lumatkan beratus-ratus ekor lebah beracun yang berada di sekelilingnya. Dalam waktu singkat ribuan ekor lebah beracun itu telah musnah tak berbekas. Mendadak terdengar suara irama khim dan suitan aneh itu kembali bergema. Sisa lebah beracun yang masih hidup pun segera terbang balik meninggalkan tempat itu. Ternyata Cau-ji sama sekali tak menggubris kepergian kawanan lebah itu, dia masih terbuai dalam pemahaman jurus pedangnya. Diam-diam nona berbaju hitam itu mengeluh sambil merasa sayang, padahal asal Cau-ji mau melancarkan serangannya beberapa kali lagi, niscaya seluruh lebah beracun itu bakal musnah.
Sayang dia telah melepaskan kesempatan emas itu begitu saja. Tiba-tiba suara khim dan suitan berubah meninggi, khususnya suara suitan itu, nadanya melolong seperti setan menangis serigala menjerit. Nona berbaju hitam segera sadar gelagat tidak menguntungkan, tapi untuk sesaat dia pun tak berhasil menduga, permainan busuk apa lagi yang akan dilakukan musuh. Dalam keadaan begini, terpaksa dia pusatkan segala perhatian sambil mengawasi delapan penjuru. Suara pekikan yang menusuk pendengaran seketika menyadarkan Cau-ji, tanpa sadar dia memandang ke empat penjuru, kemudian teriaknya kaget, “Eeei, kenapa kawanan lebah beracun itu lenyap?” Terdengar suara suitan aneh itu makin lama semakin nyaring, bahkan lamat-lamat terdengar suara mendesis bergema dari empat penjuru. Sebagai gadis yang banyak pengetahuan dan tajam pendengarannya, dengan wajah berubah nona berbaju hitam itu segera menjerit kaget, “Ular berbisa!” Betul saja, ketika Cau-ji menengok ke depan, ia saksikan ada segerombol binatang melata sedang bergerak mendekat dari di depan sana. Dengan perasaan terkesiap Cau-ji berseru pula dengan nada berat, “Betul, semuanya ular berbisa!” Sebagaimana diketahui, pada dasarnya kaum wanita paling takut kepada ular, begitu melihat munculnya gerombolan ular berbisa dari empat penjuru, kedua gadis itu siap melompat naik ke atas pohon, siapa tahu dari balik ranting dan dahan pohon tiba-tiba bermunculan pula ular berbisa. Dalam keadaan begini, terpaksa kedua gadis itu bergeser merapat ke arah Cau-ji. Dalam waktu singkat gerombolan ular berbisa itu telah bergerak mendekat.
33 Anehnya, gerombolan ular itu seakan takut terhadap Cau-ji, dari kejauhan mereka telah bergerak menghindar dan bergeser menuju ke arah kedua gadis itu. Melihat itu Cau-ji jadi tercengang. Tanpa banyak bicara lagi dia segera mengayunkan pedang pembunuh naganya, di mana cahaya tajam berkelebat, belasan ekor ular berbisa telah terbabat hancur. Berhasil dengan serangan pertama, dia langsung menerjang masuk ke dalam gerombolan ular berbisa itu dan mulai melakukan pembantaian besar-besaran. Rupanya kawanan ular berbisa itu takut kepada hawa mumi yang berasal dari pil sakti naga berusia seribu tahun yang ada dalam tubuh Cau-ji, begitu melihat dia menyerbu maju, serentak kawanan ular itu menyingkir ke samping. Dalam waktu singkat barisan ular berbisa itu jadi kacau-balau. Sementara itu suara suitan aneh bergema makin keras dan tajam. Sekali lagi kawanan ular berbisa itu bergerak maju, tapi baru beberapa langkah, kawanan binatang melata itu kembali dibuat jeri oleh hawa yang terpancar dari tubuh Cau-ji. Sedikit saja sangsi, lagi-lagi serangan Cau-ji berhasil membantai lima puluhan ekor ular berbisa. Makin lama napsu membunuh Cau-ji makin membara, kini dia telah menggunakan seluruh kekuatannya untuk melakukan pembantaian. Daya pengaruh pedang pembunuh naga memang luar biasa, bukan saja cahaya dinginnya menyebar luas, bahkan dalam waktu singkat telah menghancurkan sembilan puluh persen kawanan ular berbisa itu.
Suara pekikan aneh kembali berubah, kali ini kawanan ular berbisa itu berusaha bergerak mundur, tapi Cau-ji segera memanfaatkan kesempatan itu untuk melakukan pembantaian secara besar-besaran. Mendadak terdengar suara bentakan gusar bergema, dari balik halaman gedung segera bermunculan belasan orang. Betapa terperanjatnya gadis berbaju hitam itu setelah menyaksikan betapa cepat gerakan tubuh orang-orang itu, segera dia mengerahkan tenaga dalamnya sambil bersiap melakukan pertarungan. Tak lama kemudian Cau-ji sudah dikerubut belasan orang berbaju hitam, sebagai pemimpinnya adalah seorang kakek ceking berwajah menyeramkan. Baru saja kedua nona itu siap maju memberi bantuan, Cau-ji telah berseru sambil tertawa nyaring, “Ternyata di sini masih ada manusia. Kusangka hanya sarang binatang busuk … hahaha “Bocah keparat, tajam benar lidahmu,” umpat kakek ceking itu gusar, “berani amat kau musnahkan binatang kesayanganku, hm, malam ini akan kusuruh kau mati secara mengerikan.” Selesai berkata, ditatapnya wajah anak muda itu lekat-lekat. “Waduh, galak amat kau … takut ….” ejek Cau-ji sambil menyengir. “Bocah keparat, serahkan nyawamu!” Sambil membentak keras, dua butir benda berwarna hitam pekat segera dilontarkan ke arah Cau-ji. “Hati-hati serangan bokongan!” buru-buru nona berbaju hitam itu memperingatkan. Dengan satu pukulan Cau-ji menghajar kedua benda itu hingga hancur. “Blum, blum!” Diiringi dua kali suara ledakan, muncul dua gumpal kabut hitam yang segera mengurung seluruh tubuh Cau-ji. Kedua nona yang berdiri beberapa kaki dari sisi arena pun segera mengendus bau aneh yang menyengat, kontan mereka merasakan kepala pening dan mata berkunang-kunang.
Tergopoh- gopoh mereka menutup jalan napas. Dalam pada itu belasan orang berbaju hitam itu mulai tertawa menyeramkan. Tiba-tiba terdengar suara pekikan nyaring berkumandang dari balik kabut hitam. Baru saja belasan orang itu tertawa bangga, suara pekikan itu seketika membuat perasaan mereka terkesiap. Pada saat itulah sekilas cahaya tajam muncul dari balik kabut hitam dan berputar cepat di sekeliling arena.
34 “Aduuuh di tengah jeritan ngeri yang menyayat hati, belasan orang itu sudah mati tercincang pedang. Cau-ji tertawa terbahak-bahak.
Bab 3. Raja bisa, rasul ular.
Mendadak kedua orang nona itu merasakan perutnya sangat mual, buru-buru mereka merogoh ke dalam saku mengambil sebutir pil dan cepat dijejalkan ke dalam mulut. Beberapa saat kemudian keadaan baru sedikit membaik, ketika mengangkat kepala lagi, tampak Cau-ji telah menyerbu masuk ke dalam gedung itu. Biarpun suasana dalam ruang utama gelap gulita, namun Cau-ji masih dapat melihat kalau di atas meja masih terdapat sisa hidangan, kelihatannya belasan orang itu baru saja berpesta-pora di sana. Dengan tujuan akan menghabisi sisa lebah beracun yang masih hidup, secara beruntun Cau-ji menembusi dua buah halaman gedung dan tiba di tengah sebuah halaman kecil yang penuh ditumbuhi bunga. Setelah menaiki tiga undak-undakan batu, ia pun mendorong sebuah pintu ruangan. Ruangan ini tampak remang-remang, Cau-ji segera mendengar suara mendesis yang amat tajam. Dengan hati tercekat segera pikirnya, “Tak kusangka di sini masih tersisa ikan yang lolos dari jaring!” Begitu diamati lebih seksama, tampaklah seorang gadis cantik jelita sedang berbaring di atas meja dalam keadaan telanjang bulat, di sekeliling meja terdapat empat ekor ular berbisa yang saat itu sudah mengangkat kepala siap memagut Cau-ji. Sebuah pemandangan yang mengerikan. Gadis itupun sedang mengawasi Cau-ji dengan sorot mata ketakutan, seluruh tubuhnya yang bugil sama sekali tak mampu bergerak, jelas jalan darahnya telah ditotok orang. Tanpa terasa Cau-ji pun melangkah maju lebih ke depan. Begitu dia bergerak maju, keempat ekor ular berbisa itu segera melesat maju melancarkan serangan. “Dasar ular sialan’ umpat Cau-ji sambil mengayunkan tangannya. “Plaak …!”, tak ampun lagi keempat ekor ular itu mencelat ke belakang dalam keadaan binasa. Cau-ji tertawa hambar, baru saja dia akan maju mendekat untuk membebaskan gadis itu dari totokan, mendadak dilihatnya gadis bugil itu mengedipkan matanya berulang kali, dalam tertegunnya, tanpa sadar dia pun menghentikan langkah. Pemuda itu mencoba memperhatikan sekeliling tempat itu, tak ada yang mencurigakan, maka tanyanya keheranan, “Nona, apakah kau maksudkan di sekitar sini masih ada jebakan?” Gadis bugil itu mengedipkan matanya berulang kali. Sekali lagi Cau-ji pasang telinga, betul saja, dari bawah tanah terdengar suara dengungan yang terdengar secara lamat-lamat. “Bagus sekali!” serunya kemudian kegirangan, “rupanya di bawah sana masih ada lebah beracun.” Sambil melolos pedang pembunuh naganya, kembali Cau-ji melangkah maju. Melihat pemuda itu merangsek maju, nona bugil itu kelihatan makin panik, dia mengedipkan mata. Sayang usahanya itu sia-sia belaka, karena waktu itu seluruh perhatian Cau-ji sudah tertuju untuk menemukan lebah beracun, ia sama sekali tidak melihat kedipan matanya. Ketika berada beberapa jengkal dari tepi meja, Cau-ji kembali mendengar suara gemerincing. “Criiiing!”, menyusul kemudian tampak sebuah ubin bergeser ke samping dan dari balik tanah muncullah segerombolan bayangan hitam. “Bagus sekali!” seru Cau-ji sambil mengayun pedangnya. Sekilas hawa dingin menyambar, berpuluh ekor lebah beracun yang baru muncul dari balik ubin seketika terpapas hancur dan mampus.
35 Tapi kawanan lebah beracun itu sungguh bandel, mati satu tumbuh seribu, kembali bayangan hitam merangsek ke atas. Cau-ji kembali memutar tangan kiri dan pedang di tangan kanannya, mati-matian dia sumbat lubang itu. Sepeminuman teh kemudian suara dengungan itu mulai sirna. Sambil menghembuskan napas lega, bisik Cau-ji, “Wah … akhirnya kawanan lebah itu berhasil kumusnahkan!” Sambil berkata dia menghampiri gadis bugil itu. Mendadak dari luar pintu kamar terdengar nona berbaju hitam berteriak keras, “Hati-hati lebah beracun!” “Masih ada lebah beracun?” tanya Cau-ji tertegun. Cepat dia menyelinap ke samping, siapa tahu baru dia tertegun, tahu-tahu punggungnya terasa sakit sekali. “Aduuh!” diiringi jeritan mengaduh, tubuhnya seketika roboh terjungkal ke tanah. Lamat-lamat dia masih sempat mendengar nona berbaju putih bersorak kegirangan, “Adik kecil, rupanya kau berada di sini!” Menyusul kemudian ia merasakan luka bekas sengatan lebah itu sakit sekali, lalu dia pun jatuh tak sadarkan diri. 0oo0 Ketika Cau-ji mendusin dari pingsannya, ia mendengar suara derap kaki kuda yang kencang disertai tubuhnya yang bergoncang, ia tahu dirinya pasti berada dalam kereta kuda yang sedang dilarikan kencang. Pemuda itu membuka mata untuk memeriksa. Mendadak terdengar suara merdu bersorak kegirangan, ”Toaci, Jici, dia telah mendusin!” Sekilas pandang Cau-ji segera kenal nona yang berbicara itu tak lain adalah gadis bugil yang ditemukan dalam ruang rahasia itu, baru saja akan buka suara, tiba-tiba dilihatnya dua lembar wajah yang berseri telah muncul di hadapannya. Tak tahan dia pun tertegun. Terdengar nona di sebelah kiri yang masih kekanak-kanakan berseru sambil tertawa, “Kongcu, kau tak menyangka bukan!” Cau-ji segera mengenali sebagai suara nona berbaju putih, seakan baru sadar akan sesuatu, teriaknya, “Oh, rupanya kalian sedang menyaru, tapi kenapa mesti berdandan begitu jelek seperti wajah setan?” “Hahaha, bukankah kita bisa menghindari banyak kesulitan?” “Ah, betul juga, dengan tampang sejelek itu, memang banyak kesulitan bisa dihindari. Tapi tahukah kau, ada berapa banyak manusia yang terkencing-kencing gara-gara melihat tampang seram kalian?” Habis berkata, kembali ia tertawa tergelak sambil berduduk. Di hadapannya duduk tiga nona yang mengenakan pakaian warna hitam, putih dan kuning, saat ini mereka telah tampil dengan wajah aslinya, ternyata ketiga nona itu memiliki wajah yang amat cantik. Dipandang secara begitu, merah padam wajah ketiga gadis itu, tanpa terasa kepalanya ditundukkan rendah-rendah. Diam-diam Cau-ji mencoba membandingkan wajah ketiga nona itu dengan dua bersaudara Suto, enci Jin dan enci Ing. Terasa wajah nona-nona ini tak kalah dengan kecantikan gadis-gadis koleksinya. Sementara keempat orang itu masih termenung, mendadak terdengar ringkikan kuda memecah kesunyian disusul kereta itu berhenti secara mendadak. Tak ampun keempat orang itupun jatuh berguling dan bertumpukan jadi satu. Tergopoh-gopoh Cau-ji merangkak bangun dan membuka tirai sambil melongok ke depan.
Ternyata ada lima lelaki kekar bersenjata pedang telah menghadang jalan pergi mereka. Waktu itu si kusir sudah ketakutan setengah mati, bukan cuma badannya menggigil, bibirnya yang gemetar pun tak sanggup berkata-kata.
36 Terdengar salah seorang lelaki kekar itu menghardik, “Ayo, semua penumpang kereta segera menggelinding ke hadapan Toaya!” Begitu melihat tampang kelima orang itu, Cau-ji segera tahu mereka adalah kawanan pencoleng, diam-diam ia tertawa dingin. Mendadak pemuda itu tertawa tergelak, serunya keras, “Turut perintah!” Begitu tirai dibuka, tubuhnya bagaikan sebuah roda kereta dengan cepat menggelinding keluar. Selama hidup belum pernah kelima orang itu menyaksikan kungfu seaneh ini, baru saja menjerit kaget sambil berusaha menghindar, salah seorang lelaki kekar itu sudah terhantam dadanya oleh sapuan kaki Cau-ji Terdengar ia menjerit kesakitan, sambil muntah darah tubuhnya mencelat sejauh beberapa tombak. Keempat rekannya jadi ketakutan setengah mati, baru saja siap melarikan diri, terdengar Cau-ji kembali membentak keras, “Enyah!” Ternyata keempat orang itu penurut sekali, tanpa banyak bicara serentak mereka melarikan diri terbirit-birit. Tinggal lelaki yang terluka parah menjerit keras, “Aduuh … sakitnya … eeei … kalian jangan tinggalkan aku sendirian!” “Enyah!” kembali Cau-ji menghardik. Orang itu mengiakan berulang kali dengan ketakutan, akhirnya sambil menahan sakit dia kabur dari situ. Sambil tertawa terbahak-bahak Cau-ji balik ke samping kereta, belum sempat berbicara, kusir kereta itu telah berseru dengan gemetar, “Kongcu, di sini banyak begalnya, hamba takut, ingin balik saja.” Cau-ji tidak mengira kusir itu kecil nyalinya, setelah tertegun sejenak, ujarnya sambil tertawa, “Datang pasukan kita hadang, datang air bah kita bendung, selama ada Kongcu di sini, apa lagi yang ditakuti?” “Tapi hamba masih mempunyai ibu berusia delapan puluh tahun, istriku masih muda, Kongcu, kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana dengan mereka?” “Baiklah!” sahut Cau-ji kemudian setelah berpikir sebentar, “cuma kau harus menyerahkan kereta kuda ini kepadaku.” “Tapi… bagaimana dengan ganti ruginya?” “Hahaha, gampang sekali, waktu beli dua ekor kuda dan kereta, kau habis uang berapa banyak?” “Baik, coba aku hitung dulu!” Dengan susah payah akhirnya dia berhasil menemukan sejumlah angka, maka serunya, “Kongcu, jumlah seluruhnya adalah tiga puluh satu tahil empat renceng “Hahaha, bagus, bagus sekali” tukas Cau-ji sambil tergelak, “kalau begitu bagaimana kalau Kongcu bayar kereta dan kudamu seharga lima puluh tahil perak?” “Lima puluh tahil perak? Sungguh? Bagus, bagus, bagus sekali!” Baru saja Cau-ji akan merogoh sakunya untuk mengambil uang, nona berbaju putih itu telah menyodorkan selembar uang kertas kepada kusir itu. Begitu melihat nilai nominal di atas uang kertas itu, kusir itu segera menjerit kegirangan, “Wow, seratus tahil perak … wah, terima kasih, terima kasih sekali.” “Hahaha, pergilah membeli sebuah kereta baru yang lebih mewah,” kata Cau-ji sambil tertawa. “Baik, terima kasih, terima kasih.” Menanti Cau-ji siap melompat naik ke atas kereta untuk menjadi kusir, terdengar nona berbaju hitam berseru, “Kongcu, silakan masuk untuk berunding sebentar.” Setelah masuk ke ruang kereta, Cau-ji memandang sekejap semua nona itu sambil tersenyum, kemudian baru bertanya, “Nona, ada urusan apa?” “Kongcu, kami ingin menuju ke kota Lok-yang, apakah kau tahu jalan?” tanya nona berbaju hitam. “Belum pernah ke sana, tapi kita toh bisa bertanya,” sahut Cau-ji sambil tertawa getir.
37 “Kongcu, selama ini kita senasib sependeritaan, aku lihat dalam beberapa hari belakangan terjadi pergolakan besar dalam dunia persilatan, lebih baik sepanjang perjalanan kita bertindak lebih berhati-hati.” “Adik Lian lebih mengenal jalanan serta situasi di kota seputar Lok-yang, lagi pula dia kaya akan pengalaman dunia persilatan, sementara waktu biar dia saja yang membawa kereta, sementara Siaumoay merundingkan beberapa persoalan lagi dengan lainnya.” “Bagus sekali kalau begitu,” seru Cau-ji sambil tertawa. Nona berbaju putih manggut-manggut, sambil membawa buntalan dia keluar dari ruang kereta. Tak lama kemudian di tempat duduk kusir telah muncul seorang lelaki berbaju abu-abu, terdengar lelaki itu berseru, “Tuan-tuan, kereta segera berangkat!” Habis berkata dia pun tertawa cekikikan dan mulai menjalankan kereta. “Mirip benar penyaruannya,” puji Cau-ji sambil menghela napas. “Ah, hanya ilmu cetek, Kongcu tak usah memuji.” “Nona kelewat sungkan. Ah benar, maaf Cayhe tak sopan, boleh tahu apa tujuan nona pergi ke Lok-yang? Mau berpesiar, ziarah atau menengok famili?” Nona berbaju hitam tertawa. “Semuanya bukan. Keluarga kami memang tinggal di kota Lok-yang, aku she Cu bernama Bi-ih, dia adalah adik bungsuku, Bi-hoa, sedang Toamoay bernama Bi-lian. Saat ini sedang menjadi kusir. Kami merasa berterima kasih sekali atas pertolongan Kongcu.” Melihat pihak lawan begitu supel, bahkan langsung memperkenalkan diri, maka secara ringkas Cau-ji pun memperkenalkan diri. Betapa terkejut dan girangnya Cu Bi-ih dan Cu Bi-lian ketika tahu bahwa pemuda tampan berilmu tinggi ini tak lain adalah putra Ong Sam-kongcu yang amat tersohor di dunia persilatan. Tiba-tiba terdengar Cu Bi-lian yang berada di luar kereta berseru dengan nada nyaring, “Cici, dugaanku tidak salah bukan? Ningrat!” Merah jengah wajah Cu Bi-ih, bentaknya cepat, “Konsentrasi mengendalikan kereta!” “Iya, benar, ningrat!” “Eeei, nona, apa yang ditebak adikmu?” tanya Cau-ji keheranan. Saking malunya Cu Bi-ih jadi tergagap hingga tak sanggup berkata-kata. Dalam pada itu Cu Bi-hoa telah berkata pula sambil tertawa, “Ong-kongcu, Jici bilang ditinjau dari wajah dan ilmu silat yang dimiliki, sudah jelas kau mempunyai asal-usul yang luar biasa, tapi Toaci beda pandangannya, jadi kami bertaruh!” “Oh. Bertaruh apa?” Baru saja Cu Bi-hoa akan menjawab, buru-buru Cu Bi-ih menjerit, “Adik!” Cu Bi-hoa segera membuat muka setan dan tak berani melanjutkan kembali kata-katanya. Cau-ji tahu, orang lain merasa tidak leluasa untuk menjawab, lalu kenapa dia harus mendesak terus? Maka kembali tanyanya kepada Cu Bi-hoa, “Nona, bagaimana ceritanya hingga kau terjatuh ke tangan orang?” Mendengar pertanyaan itu, kemudian terbayang kembali bagaimana tubuhnya yang telanjang bulat telah dipandang anak muda itu sampai kenyang, merah padam wajah Cu Bi-hoa karena malu, untuk sesaat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Melihat itu buru-buru Cu Bi-ih menyela sambil tertawa, “Kongcu, selama ini Siaumoay selalu hati-hati, sayang sedikit kurang hati-hati hingga dia dipecundangi orang-orang Jit-seng-kau, masih untung kau datang tepat waktu dan menolongnya, kalau tidak, entah bagaimana akibatnya!” “Lagi-lagi perbuatan Jit-seng-kau!” seru Cau-ji gemas. Cu Bi-ih jadi keheranan, tanyanya, “Kongcu.kalau kau memang begitu benci pada Jit-seng-kau, kenapa bisa masuk keluar kantor penghubung mereka waktu di kota Bu-jang?” Berhubung Cau-ji belum tahu secara pasti asal-usul ketiga nona itu, maka sahutnya, “Aku sama sekali tidak tahu kalau rumah makan itu merupakan salah satu sarang Jit-seng-kau, untung nona Lian memancingku keluar, kalau tidak, pasti diriku sudah mereka bokong!” “Sebetulnya semua peristiwa ini hanya kebetulan,” kata Cu Bi-ih sambil tertawa, “andaikata adik Lian tidak melihat pedang pembunuh naga yang kau gembol, tak nanti kami mencarimu, seandainya tidak menemukan dirimu, nasib Siaumoay pun pasti sangat tragis.” Habis berkata, kedua nona itu kembali memandang Cau-ji dengan mata berkilat.
38 Cau-ji pernah menjumpai sorot mata semacam ini di wajah Suto bersaudara, tentu saja dia tak berani mencari “gara-gara” lagi, sambil mengalihkan pokok pembicaraan, tanyanya kemudian, “Nona, kenapa kau bisa menguasai ilmu pedang pembunuh naga?” Mula-mula Cu Bi-ih agak tertegun, kemudian jawabnya, “Sejak kecil aku suka membaca buku dan pernah membaca tentang ilmu pedang ini, menurut apa yang kuketahui, pada sarung pedangnya tertera jurus pedang itu secara utuh.” “Oya? Kalau begitu jika ada waktu senggang, pasti akan kuperiksa.” “Kongcu,” kembali Cu Bi-ih berkata sambil tertawa, “bolehkah aku bertanya tentang satu hal, mengapa kau kebal racun?” “Ooh, karena aku pernah makan pil naga sakti berusia seribu tahun.” “Jadi benar-benar ada naga sakti berusia ribuan tahun,” berkilat sepasang mata gadis itu. Cau-ji manggut-manggut, secara ringkas dia pun bercerita tentang pengalamannya berduel melawan naga seribu tahun. Selesai mendengar kisah itu, Cu Bi-lian segera berteriak, “Kongcu, hokkimu memang luar biasa.” “Benar juga,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “padahal kalau membayangkan kembali, hatiku masih terasa takut. Naga sakti berusia seribu tahun ini besar dan garang, setiap kali dia membalik badan, terciptalah gelombang ombak maha dahsyat di seluruh permukaan telaga itu.” “Kongcu, apakah bangkai naga sakti berusia seribu tahun itu masih ada?” Cau-ji menggeleng. “Aku sendiri pun kurang tahu karena waktu itu aku kabur melalui lorong bawah tanah. Saat itu terjadi gempa dahsyat, gunung batu berguguran, kemungkinan besar bangkai naga itu sudah tenggelam ke dasar telaga” “Wah, sayang sekali” seru Cu Bi-ih gegetun, “coba kalau bangkai naga itu diawetkan, lalu dipamerkan ke khalayak ramai.alangkah indahnya saat itu.” “Benar,” seru Cu Bi-hoa pula, “ayah Baginda….” Mendadak Cu Bi-ih berdehem sambil buru-buru menukas, “Kongcu, ternyata kau punya pengalaman sehebat itu, tak aneh kawanan ular berbisa itu tak berani mendekatimu, bahkan kawanan lebah beracun pun tak bisa berbuat banyak terhadapmu.” Dari perubahan mimik muka kedua gadis itu, Cau-ji segera tahu kalau di balik semua itu masih tersimpan latar belakang yang luar biasa, khususnya panggilan “ayah Baginda”, jelas panggilan itu penting sekali artinya, hanya saja tak sampai dikemukakan. Maka sambil tertawa getir, ujarnya, “Sungguh tak kusangka lebah beracun itu bisa berlagak mati agar bisa membokong, wah … sengatannya sakit sekali.” “Lebah terakhir kan ratu lebah,” kata Cu Bi-ih sambil tertawa, “sudah hampir setengah harian kau tak sadarkan diri, coba kalau tidak keburu mendusin, mungkin adik kecil bisa menangis sedih.” “Toaci, kenapa kau bilang begitu?” “Tapi kan kenyataan.” “Betul,” sambung Cu Bi-lian pula sambil tertawa, “aku bersedia menjadi saksi.” “Kalian jahat semua … sebentar akan kulaporkan kepada ayah ..”seru Cu Bi-hoa manja. Gelak tertawa pun bergema. Sesaat kemudian kembali Cu Bi-ih berkata, “Kongcu, cobalah kau pelajari jurus pedang yang berada di sarung pedang itu, kami tak akan mengganggumu!” Selesai berkata dia pun memejamkan matanya. Cau-ji pun mengambil sarung pedang pembunuh naga dan mulai meneliti dengan seksama, betul saja, di kedua belah sisi sarung pedang penuh terukir tulisan kecil, isinya tak beda jauh dengan apa yang pernah diajarkan Cu Bi-ih tadi. Cau-ji terpekur beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia mulai berseri, jelas pemuda ini kembali berhasil memahami rahasia jurus pedang itu. Akhirnya dia menyimpan kembali pedangnya dan mulai memejamkan mata sambil berpikir. Tanpa terasa dia pun terlelap dalam konsentrasinya. Tak lama kemudian ketiga orang yang berada dalam kereta telah terkonsentrasi dalam semedinya.
39 Setengah jam kemudian mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergerak mendekat, lalu terlihat seekor kuda melintas secepat kilat. Di saat lewat di samping kereta, tiba-tiba orang itu mengayunkan tangan kanannya, kemudian dengan cambuknya dia singkap tirai di depan jendela kereta. Tak terlukiskan rasa gusar Cu Bi-lian, baru akan turun tangan, satu ingatan segera melintas, maka dengan berlagak kaget bercampur gugup, dia menyingkir ke samping. Sewaktu kain tirai tersingkat oleh pecut tadi, kuda itu sudah melintas sejauh lima-enam depa. Terdengar orang itu tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, dua nona yang cantik sekali, sayang Toaya masih ada urusan penting!” Jelas maksudnya, dia merasa sayang karena tak bisa menjamah gadis-gadis itu. Cau-ji membuka mata sambil memandang keluar, terlihat lelaki itu berusia tiga puluh tujuh- delapan tahun, mukanya hitam keabu-abuan, sebuah codet bekas bacokan golok sepanjang beberapa senti terpampang di pipi kirinya. Memandang hingga bayangan punggung lelaki itu hilang dari pandangan, Cau-ji berbisik lirih, “Nona Lian, bagus sekali sandiwaramu, Cuma kau jadi ikut tersiksa.” “Sungguh mengecewakan, aku hampir saja turun tangan,” sahut Cu Bi-lian tertawa. Kembali cambuknya diayunkan ke depan, kereta itupun bergerak semakin cepat menuju ke depan. Sepanjang perjalanan, mereka berusaha menyembunyikan identitas, maka ketika menjelang senja, tibalah mereka di sebuah kota. Ketika kereta sudah berhenti di depan sebuah rumah penginapan besar, C u Bi-lian baru menghembuskan napas lega. Seorang pelayan segera menyambut kedatangan mereka sembari menyapa, “Toaya, apakah akan menginap? Kami mempunyai kamar yang bersih ….” Mendadak terdengar suara derap kaki kuda bergema mendekat, lalu terdengar seseorang dengan suara parau berteriak, “Ada kamar?” Belum sempat pelayan itu buka suara, Cu Bi-lian sudah menyahut duluan, “Baiklah, kami ambil kamar itu!” Baru selesai dia berkata, dua ekor kuda telah berhenti di depan rumah penginapan. Orang yang berada di depan adalah lelaki berwajah hitam keabu-abuan, dia tak lain adalah lelaki ber-codet yang dijumpai di tengah jalan tadi, sedangkan di sampingnya adalah seorang lelaki bertubuh pendek. Cu Bi-lian langsung mengernyitkan dahi begitu melihat tampang kedua orang ini. Terdengar lelaki bercodet itu tertawa tergelak, katanya, “Hahaha, sangat kebetulan. Eei, pelayan, cepat urus kuda Toaya dan siapkan juga hidangan’ Melihat tampang kedua tamunya yang garang, pelayan itu tampak ketakutan, buru-buru sahutnya, “Maaf Toaya, kamar kami tinggal satu dan kebetulan sudah diambil tamu itu!” Lelaki itu kontan mendelik dan siap mengumbar amarah. Tapi si pendek yang berada di belakangnya segera mencegah, tukasnya, “Kalau memang di sini sudah tak ada kamar lagi, kita tak boleh mamaksakan kehendak, ayo pergi saja.” Habis berkata, dia langsung naik kembali ke atas kudanya dan bedalu dari situ. Menanti kedua orang itu sudah pergi jauh, pelayan itu baru berpaling ke arah Cu Bi-lian sambil menggerutu, “Tahukah kau, caramu bicara yang acuh tak acuh nyaris membuat aku kena gebuk!” “Maaf!” senyum Cu Bi-lian sambil melompat turun dari kereta kuda. Baru saja pelayan itu akan mengomel lagi, tiba-tiba matanya jadi berkilat. Ternyata tirai kereta telah disingkap dan muncullah Cau-ji yang tampan dan gagah. Disusul kemudian dua bersaudara Cu yang cantik jelita pun turun dari dalam kereta. Buru-buru pelayan itu tutup mulut dan segera mengajak ketiga orang itu menuju ke dalam penginapan. It-teng-ho adalah rumah penginapan paling besar di kota ini, bukan saja mencakup tanah berhektar luasnya, kamarnya bagus, bersih dan hidangannya lezat. Biarpun saat ini bukan waktu bersantap, namun banyak tamu yang berada di ruang makan, puluhan pasang mata serentak dialihkan ke wajah kedua gadis itu, tampaknya mereka tertarik dengan kecantikannya.
40 Sesaat sebelum turun dari kereta, Cu Bi-ih telah memperhatikan lebih dulu wajah para tetamu yang ada dalam ruangan, setelah yakin tak satu pun yang kenal, bersama adiknya ia baru turun dari kereta. Dua bersaudara ini berlagak seolah-olah gadis lemah yang tidak biasa jalan jauh, mereka saling bergandengan dengan kepala tertunduk dan langkah lambat. Tapi justru penampilan seperti ini semakin menggoda perasaan kaum lelaki, puluhan tamu yang berada dalam ruangan serentak menatap ke arah mereka dengan mata terbelalak dan mulut melongo. Pelayan langsung mengajak Cau-ji dan kedua gadis itu melewati dua lapis halaman luas sebelum tiba di muka sebuah pintu bulat di sisi halaman. Katanya kemudian sambil tertawa, “Inilah salah satu kamar terbaik rumah penginapan kami, perabotnya indah, suasananya tenang” Sembari berkata dia mendorong pintu dan berjalan masuk terlebih dulu. Cau-ji mencoba memperhatikan suasana di seputar halaman itu, benar saja, suasana amat tenang dengan sekeliling halaman terlindung oleh dinding pagar yang tinggi.
Dalam halaman tumbuh aneka bunga seruni musim gugur, bukan saja indah, bahkan harum baunya, sementara di sisi halaman utama yang tinggi dan terang masih terdapat dua buah bilik lain. “Apakah tuan merasa cocok dengan ruangan ini?” tanya sang pelayan kemudian sambil tertawa.
Perlahan-lahan Cu Bi-ih melangkah masuk ke dalam ruangan, betul saja, perabot di sana rata- rata indah dan mewah, bukan saja cukup sinar bahkan tak nampak sedikit debu pun di atas meja. Sambil tersenyum dia pun merogoh keluar sekeping emas murni, katanya sambil menyerahkan emas itu ke tangan pelayan, “Simpanlah untuk sementara waktu uang ini di kasir, kita hitung lagi besok!” Sambil menerima emas itu si pelayan mencoba menimangnya, kemudian berpikir, “Luar biasa, paling tidak bobot emas ini mencapai sepuluh tahil lebih!” Buru-buru serunya sambil tertawa dibuat-buat, “Kongcu, nona berdua, kalian ingin pesan hidangan apa? Silakan perintahkan saja, hamba segera akan menyiapkan!” “Tidak perlu!” tukas Cu Bi-ih sambil mengulap tangan, “kalau butuh sesuatu, aku akan memanggilmu!” Setelah memberi hormat buru-buru pelayan itu mengundurkan diri, di tengah jalan ia bertemu Cu Bi-lian, maka sambil menarik kembali senyumannya, dia tunjuk ke arah kamar samping sambil berkata, “Kedua bilik kamar itu adalah kamar tidurmu’ Belum habis berkata, mendadak dari balik pintu bulat menerobos masuk seorang lelaki berpakaian ketat warna hitam, tanpa berkata-kata dia langsung menerjang masuk ke dalam kamar. Tak sempat meneruskan pembicaraan dengan Cu Bi-lian, buru-buru pelayan itu menghadang sambil teriaknya, “Toaya, seluruh halaman ini sudah disewa orang, lagi pula dalam kamar ada kaum wanita ….” Lelaki berbaju hitam itu tertawa dingin, dengusnya, “Jangankan perempuan biasa, sekalipun permaisuri ada di sini pun aku tak takut, ayo cepat menyingkir!” Begitu tangan kirinya dikebaskan, pelayan itu segera menjerit kesakitan, badannya terlempar sejauh lima-enam kaki, mulutnya langsung berdarah dan giginya patah karena bantingan itu, dia tetap menggenggam kepingan emas itu erat-erat. Cu Bi-lian langsung maju menghadang di depan pintu, hardiknya, “Siang hari bolong, berani amat saudara bertindak kurang-ajar, bukankah sudah tahu kalau dalam kamar terdapat kaum wanita, ada urusan apa kau menerobos masuk kemari?” Lelaki berbaju hitam itu memperhatikan gadis itu sekejap, tiba-tiba dia merangsek ke depan, tangan kanannya langsung menghantam ke dada lawan, selain cepat serangannya, kekuatan yang digunakan pun amat dahsyat. Cu Bi-lian segera memutar tangan kiri mencengkeram pergelangan tangan kanan lelaki berbaju hitam itu, begitu dibetot lalu mendorong, tak ampun lelaki berbaju hitam itu segera terpental tujuh-delapan langkah dan jatuh terduduk di lantai.
41 Tampaknya bantingan itu cukup keras, untuk beberapa saat lelaki berbaju hitam itu harus duduk diam sebelum akhirnya dapat merangkak bangun, setelah menengok ke arah Cu Bi-lian sekejap, sambil mendengus benci cepat dia mengundurkan diri dari halaman itu. Sambil merangkak bangun dan menunjukkan senyuman yang dibuat-buat, pelayan itu berkata kemudian, “Maaf, maaf! Tampaknya hamba memang punya mata tak mengenal gunung Thay-san, tak disangka seorang kusir pun memiliki kungfu sedemikian hebatnya.” Cu Bi-lian hanya tertawa hambar, tanpa bicara dia langsung menuju ke ruang utama. Kali ini sang pelayan tak berani lagi memerintahnya menuju ke ruang samping. Baru melangkah masuk ke dalam kamar, gadis ini menyaksikan Cau-ji dan kedua saudaranya sedang duduk bergurau di ruang tamu. Terdengar Cau-ji berseru dengan nada minta maaf, “Nona Lian, merepotkanmu saja!” Cu Bi-lian tertawa. “Ong-kongcu, kau terlalu sungkan, sudah menjadi kewajiban Siaumoay untuk melakukannya. Ah benar, sudah berapa jurus pedang yang berhasil kau pahami?” “Mungkin sudah delapan-sembilan puluh persen,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “semuanya ini berkat bantuan nona Ih!” “Kongcu kelewat sungkan,” sela Cu Bi-ih cepat, “kalau bukan Kongcu memiliki tenaga dalam dan kecerdasan yang luar biasa, buat orang awam, mungkin butuh bertahun-tahun untuk mempelajarinya.” Cau-ji tersenyum lebar, baru akan buka suara, mendadak ia tertawa dingin, jari tangan kanannya disentilkan ke depan, segulung serangan jari segera meluncur keluar jendela. Menyusul kemudian dia pun menjejakkan kakinya, tubuh berikut bangku yang didudukinya langsung melesat keluar ke balik jendela. Ketiga gadis itu tahu kungfu yang dimiliki Cau-ji sangat hebat, menyaksikan perbuatannya itu, mereka tetap duduk tak bergerak sambil menonton perubahan. Gerakan tubuh Cau-ji betul-betul cepat bagaikan sambaran petir, begitu tiba di luar jendela, dia pun mengayunkan kembali tangannya sembari bergumam, “Kau pandai bermain ular? Baguslah, akan kuajak kau untuk bermain-main ….” Habis berkata, sekali lagi dia meluncur balik ke dalam ruangan. Ketika ketiga nona itu menyaksikan kehadirannya kembali, serentak mereka terkejut bercampur geli. Tampak seorang kakek berbaju hitam berhasil dibekuk Cau-ji dan dibanting ke atas tanah, seekor ular berwarna kuning emas yang panjangnya mencapai dua kaki sedang bergerak melilit tubuh kakek itu. Sementara ketiga nona itu sedang merasa heran mengapa ular emas itu tidak juga meninggalkan tubuh kakek itu, segera terlihat ternyata ekor ular itu sudah ditembusi sebatang ranting pohon dan kini terpantek di atas bahu orang itu. Kejadian itu kontan membuat ketiga nona ini terperanjat. Dalam pada itu si kakek berbaju hitam itupun ketakutan setengah mati, tubuhnya gemetar keras, dia ingin buka suara, tapi kuatir juga kalau ular emas tadi menerobos masuk ke dalam tubuhnya, padahal jalan darahnya tertotok hingga tak mampu bergerak, untuk sesaat dia seperti tak tahu apa yang harus dilakukan. “Sobat, siapa yang menyuruh kau datang kemari?” tanya Cau-ji kemudian sambil tertawa dingin. “Aku… tolong ….” Bani saja dia buka mulut ingin bicara, sekilas cahaya tajam mendadak meluncur masuk dari luar jendela, langsung menghantam ke hulu hati sendiri. Dalam kaget dan takutnya, kakek itu tak ambil peduli lagi soal rasa malu atau tidak, kontan dia berteriak minta tolong. Sejak awal Cau-ji sudah tahu kalau di atas pohon di tengah halaman terdapat seseorang yang sedang bersembunyi, maka begitu menyaksikan datangnya serangan senjata rahasia, sambil memukul jatuh pisau belati yang datang menyergap dengan tangan kirinya, dia lepaskan pukulan keluar jendela dengan tangan kanan. Bersamaan badannya ikut pula meluncur keluar.
42 Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri bergema dari tengah halaman. Tak lama kemudian terlihat Cau-ji melangkah masuk ke dalam kamar sambil mengempit tubuh seorang lelaki berbaju hitam yang muntah darah. Begitu melihat orang itu, kakek berbaju hitam yang nyaris dibokong tadi kontan mengumpat, “Thian-lip, kau berani melancarkan serangan mematikan kepadaku?” Dengan ketakutan sahut lelaki berbaju hitam itu, “Suhu, perintah dari Tongcu tak berani Tecu lawan.” “Perintah dari Tongcu tak berani dilawan? Cuuh!” sambil berteriak kakek berbaju hitam itu segera menggigit lidah sendiri, lalu dengan darah yang bercucuran dia sembur wajah Thian-lip. Kebuasan yang diperlihatkan kakek ini seketika membuat Cau-ji serta ketiga nona itu tertegun. Tiba-tiba terdengar Thian-lip menjerit kesakitan, tubuhnya kontan berguling di atas lantai. Tak lama kemudian tubuhnya berubah jadi segumpal cairan berwarna kuning. Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Cu Bi-ih, dia terbayang akan seseorang yang seluruh tubuhnya mengandung racun dan tiap hari bersantap ular untuk menyambung hidupnya. Dengan tubuh gemetar karena ngeri, serunya, “Kau adalah Rasul ular!” Kakek berbaju hitam itu tertawa seram. “Hahaha, betul, betul sekali, Lohu adalah Rasul ular, hanya sayang gara-gara godaan sesaat, aku terjebak oleh siasat busuk Si Kiau-kiau, kalian harus lebih berhati-hati.” Sambil berkata dia gigit ular berwarna emas itu, lalu menelan kepala ular yang putus karena gigitan itu ke dalam perut. Tak lama kemudian ia menjerit ngeri dan putus nyawa.
Melihat tubuh ular yang masih menggeliat walaupun tanpa kepala itu, ketiga gadis itu jadi mual, tak ampun mereka muntah-muntah karena ngeri. Memandang mayat yang telah berubah jadi gumpalan cairan kuning, diam-diam Cau-ji menghela napas panjang, dia pun memanggil pelayan untuk membersihkan ruangan. Tiba-tiba terdengar seorang memanggil, “Kongcu, nona, air teh!” Keempat orang itu saling bertukar pandang sekejap, Cu Bi-lian yang menyamar sebagai kusir segera membuka pintu. Tak lama kemudian terlihat Cu Bi-lian diikuti seorang pelayan berjalan masuk ke dalam, pelayan itu berdandan aneh, ia mengenakan topi yang direndahkan hingga nyaris menutupi wajahnya dan membawa nampan berisi cawan teh. Begitu meletakkan cawan teh, pelayan tadi kembali mengundurkan diri dengan cepat. Cu Bi-lian memandang Cicinya sekejap, kemudian mengikut di belakang pelayan itu keluar ruangan. Sepeninggal sang pelayan, Cu Bi-ih melirik sekejap warna air teh dalam cawan, sekulum senyuman dingin segera menghiasi bibirnya. Menanti Cu Bi-lian balik kembali ke dalam kamar, ia baru bertanya lirih, “Apakah pintu halaman sudah dikunci?” “Sudah!” Perlahan Cu Bi-ih mengambil secawan air teh, lalu bertanya lirih, “Kongcu, menurutmu apakah air teh ini mencurigakan?” Cau-ji mencoba memeriksa air teh dalam cawan, tampak warna air hijau muda dengan bau yang sangat harum, sama sekali tak nampak sesuatu yang aneh atau mencurigakan, maka balik tanyanya, “Memangnya air teh ini tidak beres?” Cu Bi-ih tidak berkata apa-apa, dia seduh air teh itu, kemudian dicipratkan ke meja, seketika muncullah asap putih dari tempat yang terpercik air teh tadi. Terkesiap hati Cau-ji melihat itu. Sambil menghela napas, ujar Cu Bi-ih, “Siasat busuk orang-orang Jit-seng-kau memang menakutkan, bayangkan saja, bukan hanya tindak-tanduknya, sampai dalam air teh pun sudah dicampuri racun jahat. Ai, kita mesti lebih berhati-hati.” Cau-ji ikut menghela napas panjang. “Ternyata ketajaman mata dan pendengaran orang-orang Jit-seng-kau memang amat tajam, tak nyana jejak kita sudah ketahuan mereka. Nona, dengan cara apa kita harus menghadapi mereka?” 43 “Maaf, kami tiga bersaudara memang target yang kelewat mencolok,” ujar Cu Bi-ih dengan nada minta maaf, “coba kalau hanya Kongcu seorang, belum tentu orang-orang Jit-seng-kau akan menemukan jejakmu.” Cau-ji tahu, Im Jit-koh dan Bwe-toasiok pasti tak akan membocorkan identitasnya, ia mengerti bahwa apa yang dikatakan gadis itu memang tak salah, maka sahutnya sambil tertawa, “Aku sih tak peduli, yang di-kuatirkan justru kalau kita kurang hati-hati hingga terjebak dalam perangkap mereka, kalau sampai begitu baru susah.” “Hm! Ulah para anggota Jit-seng-kau memang keterialuan,” seru Cu Bi-ih jengkel, “tak sampai setengah tahun lagi, kujamin perkumpulan mereka pasti akan musnah.” “Kongcu, bagaimana kalau kita pura-pura terjebak oleh siasat mereka, kami berdua akan berbaring di kedua sisi meja, silakan Kongcu bersandar di bangku, sementara adik Lian berbaring di belakang pintu sembari mengawasi suasana di luar jendela!” Begitulah, mereka pun segera berlagak keracunan. Cau-ji memejamkan mata sambil berbaring di atas meja. Kurang lebih seperempat jam kemudian tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. Keempat orang itu segera berpura-pura tak sadarkan diri. Setelah mengetuk beberapa saat, akhirnya suara itupun berhenti. Kembali setanakan nasi sudah lewat tanpa terjadi sesuatu apa pun. Baru saja Cau-ji habis kesabarannya, mendadak terdengar suara irama musik yang lembut berkumandang datang dari kejauhan, diikuti kemudian suara gesekan aneh. “Ah, lagi-lagi gerombolan ular berbisa,” pikir Cau-ji, dia pun kembali memejamkan mata. Tampak dua ekor ular sawah yang cukup besar menyelinap masuk lewat jendela, tubuh ular itu sebesar mulut cawan dan berwarna belang. Diam-diam Cau-ji menghimpun tenaga dalam dan siap membunuh kedua ekor ular itu. Tampak ular itu bergeser mendekati Cu Bi-lian, salah satu di antaranya merangsek ke depan dengan gerakan cepat, langsung mematuk ke tubuh mangsanya. Secepat kilat Cu Bi-lian menyambar bagian tujuh inci dari kepala ular itu, sementara kaki kanan menendang ular kedua. Perlu diketahui, bagi seseorang yang memiliki ilmu silat tingkat tinggi, menangkap ular bukanlah termasuk pekerjaan sulit, yang sulit justru harus memiliki keberanian besar untuk menangkap binatang melata itu. Karena kedua ekor ular yang menyerang sekarang bukan saja besar bentuknya, bahkan amat berbisa, bila gagal menangkap dalam sekali gempuran, bisa jadi sang uiar akan balik mematuk, akibatnya bisa terluka oleh gigitan ular itu. Melihat cara Cu Bi-lian menangkap ular, diam-diam Cau-ji bersorak memuji, perempuan ini bukan saja cerdas dan cekatan, bahkan keberaniannya melebihi orang lain. Terdengar kedua ekor ular itu mendesis perlahan, tahu-tahu bagian tujuh incinya di belakang kepala sudah terhantam telak, setelah meronta sebentar akhirnya mampus seketika. Sedangkan ular yang merangsek maju, meski sudah ditangkap bagian mematikannya, tapi sang ular malah berbalik mencoba menggigit, sedang badannya yang besar langsung melilit di atas lengan kanannya. Tampak gadis itu menekuk lengan kanannya lalu mengebas kuat-kuat, tiba-tiba ular tadi mengendorkan lilitannya. Dengan wajah sama sekali tak berubah nona itu berdiri, dengan cepat dia letakkan bangkai kedua ekor ular itu ke balik jendela, kemudian dia balik lagi ke tempat semula dan berbaring pura- pura pingsan. Kembali setengah jam lewat tanpa terjadi sesuatu apa pun, baru saja Cau-ji mulai mengantuk, tiba-tiba ia bersin berulang kali, tanpa sadar ia tingkatkan kewaspadaannya. la tahu tubuhnya kebal terhadap racun, asal dia mulai bersin, hal ini menandakan ada hawa racun yang terisap ke dalam tubuhnya.
Saat itu dia tak tahu bagaimana keadaan ketiga nona itu, diam-diam ia pun membuat persiapan.
44 Seperempat jam kembali berlalu, mendadak dari luar jendela terdengar suara lirih, kemudian tirai kelihatan bergoyang dan sesosok bayangan manusia menyusup masuk ke dalam ruangan dengan kecepatan tinggi. Mengintip dari balik bajunya, Cau-ji melihat orang yang menyusup masuk itu adalah seorang aneh berkerudung hitam yang mempunyai perawakan kecil pendek, saat itu dia sedang berjalan memasuki ruangan. Dengan begitu santai manusia aneh itu langsung menghampiri dua bersaudara Cu, mendadak dengan sekali gebrakan dia totok jalan darah mereka berdua. Belum sempat berbuat sesuatu, tahu-tahu kedua gadis itu sudah tertotok jalan darahnya. Saat itulah manusia aneh itu melepaskan kain kerudung hitamnya hingga tampak raut muka panjangnya yang mirip muka kuda, gumamnya sambil tertawa ringan, “Wah, gadis cantik yang menawan, tak malu disebut gadis bangsawan!” Sambil berkata, diamatinya tubuh kedua gadis itu berulang kali.
Tenggelam perasaan Cau-ji menyaksikan kedua gadis itu tertotok jalan darahnya sementara Cu Bi-lian tergeletak tak berkutik di lantai, jelas ia sudah keracunan, diam-diam dia pun membuat persiapan untuk turun tangan. Dalam pada itu manusia aneh bermuka kuda itu telah mengawasi pula tubuh Cu Bi-lian, lalu katanya menyeramkan, “Lohu memang sedang hokki, ternyata dengan satu panah bisa mendapat tiga burung, hehehe” Sembari berkata, lagi-lagi dia mengayunkan tangan kanannya dan menotok jalan darahnya. “Hm, bocah busuk ini kurang pas kalau dibiarkan berada bersama tiga nona cantik ini, lebih baik biar dia mampus saja!” Tiba-tiba badannya melompat maju, kaki kanannya langsung menendang pinggang Cau-ji. Melihat datangnya serangan, Cau-ji mengayunkan tangan kanannya ke atas, lalu mencengkeram pergelangan kakinya, setelah itu didorongnya kuat-kuat. Terdengar lelaki aneh bermuka kuda itu menjerit kesakitan, tubuhnya langsung terbanting ke lantai. Sambil tertawa seram Cau-ji bangkit berdiri, ejeknya, “Hei, setan tua, kau memang hokki sekali!” Manusia aneh itu melotot buas, tiba-tiba dia mengayunkan tangan kanannya membacok lambung Cau-ji- Dengan cekatan anak muda itu melepaskan satu tendangan kilat, yang diarah adalah alat kelamin musuh. Terdengar jerit kesakitan bergema dalam ruangan, alat kelamin manusia aneh itu kontan tertendang telak, tampak darah segar bercucuran membasahi celananya. “Ayo, serahkan obat pemunahnya!” bentak Cau-ji sambil mencengkeram dadanya. “Hm, jangan harap!” sahut manusia aneh itu gusar, apalagi mengingat alat pencipta keturunannya sudah remuk terkena tendangan, sudah jelas di kemudian hari tak ada harapan lagi baginya untuk mencari kesenangan. Daripada terjatuh ke tangan lawan, dia jadi nekat, tiba-tiba sambil menggigit lidah sendiri ia bunuh diri. Cau-ji sama sekali tidak menyangka kalau musuhnya bakal nekat, dalam jengkelnya dia pun menggeledah seluruh saku manusia aneh itu. Siapa tahu kecuali beberapa lembar uang kertas dan sedikit hancuran perak, tak ditemukan benda apa pun. Diam-diam Cau-ji menghela napas, dengan perasaan kecewa ia bangkit kembali. Dibopongnya tubuh Cu Bi-lian ke atas pembaringan, melihat wajah ketiga nona itu lamat-lamat muncul warna hitam, pemuda itu jadi panik, ia tahu hawa racun sudah mulai menyerang. Sementara masih panik dan tak tahu apa yang harus diperbuat, tiba-tiba matanya menyaksikan darah yang meleleh dari mulut manusia aneh itu. Satu ingatan segera melintas, wajahnya pun kembali berseri. Setelah menyiapkan tiga cawan, ia gigit jari tangan sendiri hingga berdarah dan menampungnya ke dalam cawan-cawan itu. Selesai itu, dia membawa secawan darah mendekati pembaringan.
45 Dilihatnya Cu Bi-lian berbaring dengan mata terpejam dan gigi terkatup rapat, ia tahu keadaan begini agak susah baginya untuk melolohkan darah ke mulut gadis itu. Akhirnya diteguknya darah anyir itu lalu menempelkan bibirnya ke atas bibir gadis itu, dengan ujung lidah ia mencoba membuka katupan bibir si nona, setelah itu baru perlahan-lahan menyalurkan darah segar itu ke mulutnya. Tak lama setelah darah itu mengalir masuk ke dalam perutnya, Cu Bi-lian menghela napas panjang dan siuman kembali. Begitu tahu Cau-ji sedang menempelkan bibirnya di atas bibir sendiri, nona itu jadi jengah, serunya lirih, “Kau…!” Dia mencoba meronta sambil menghindari ciuman bibirnya. Buru-buru Cau-ji menuding ke arah dua gadis lainnya sambil meneruskan ciumannya. Berdebar keras jantung Cu Bi-lian, ia tahu pemuda itu sedang membantunya memunahkan pengaruh racun, biar begitu dia mendorong juga tubuh sang pemuda sambil berbisik, “Kongcu, biar aku minum sendiri!” Cau-ji manggut-manggut, setelah menyerahkan cawan itu dia pun berjalan menghampiri Cu Bi- ih. Sambil meneguk sendiri darah dalam cawan, diam-diam Cu Bi-lian mengawasi tingkah-laku Cau-ji yang menciumi dua nona lainnya, pipinya jadi panas dan merah begitu terbayang kembali bagaimana pemuda itu menciumnya tadi. Sambil tertawa, ujar Cau-ji kemudian, “Syukurlah kalian semua bisa lolos dari mara bahaya, selesai bersemedi dan mengusir keluar seluruh pengaruh racun, besok aku akan mentraktir kalian makan bakmi kaki babi!” Ketiga nona itu tertawa cekikikan, tanpa bicara mereka pun segera duduk bersemedi. Melihat cara ketiga nona itu bersemedi, Cau-ji tahu gadis-gadis itu selain mempelajari Sim-hoat tenaga dalam aliran lurus, dasar yang mereka miliki pun cukup kuat, diam-diam dia pun merasa lega. Selesai meronda keluar kamar, dia sendiri pun duduk bersemedi untuk memulihkan tenaga. 0oo0 Lok-yang merupakan salah satu dari enam bekas kota raja yang tersohor dalam sejarah Tionggoan. Kota Lok-yang menjadi penting artinya karena letaknya yang strategis dan persis berada di pusat kekuasaan militer. Hari ini di depan sebuah bangunan mewah di sebelah barat kota Lokyang datang sebuah kereta kuda, kalau dilihat dari debu yang mengotori seluruh badan kereta, bisa diduga kendaraan itu baru saja menempuh perjalanan jauh. Yang muncul tak lain adalah Cau-ji dan tiga bersaudara keluarga Cu. Semenjak melancarkan serangan waktu berada di rumah penginapan malam itu, pihak Jit-seng- kau tidak mengirim anak buahnya lagi untuk melakukan sergapan, karena itulah mereka dapat tiba di rumah dengan lancar. Cu Bi-lian yang menyaru sebagai kusir kereta segera menggedor pintu besi tiga kali dan pintu pun perlahan-lahan terbuka lebar. Empat lelaki setengah umur yang berdandan Bu-su segera menjura dalam-dalam seraya berseru, “Menjumpai nona!” “Tak usah banyak adat!” tukas Cu Bi-ih sambil menyingkap tirai kereta dan berjalan turun. Baru saja Cu Bi-hoa melompat turun dari kereta, seorang kakek berwajah bersih dan seorang nyonya setengah umur bertubuh gesit telah muncul di samping kereta dan memberi hormat kepada kedua gadis itu. “Gara-gara di tengah jalan ada sedikit masalah hingga kami pulang telambat, di rumah tak ada masalah bukan?” tanya Cu Bi-ih. “Tak ada urusan,” jawab nyonya setengah umur itu dengan hormat, “eeei, mana nona kedua?” Cu Bi-lian yang selama ini masih duduk di atas kereta segera tertawa terkekeh-kekeh, serunya, “Chin-congkoan, aku berada di sini!” 46 “Ah nona, ternyata ilmu menyaru mukamu makin hari makin hebat,” puji wanita setengah umur itu tercengang, “coba lihat, kau adalah putri ningrat, masa melakukan perbuatan rendah semacam itu?” “Karena di dalam kereta ada tamu agung!” jawab Cu Bi-lian sambil tertawa misterius. Dengan pandangan terkejut bercampur keheranan serentak sinar mata semua orang dialihkan ke dalam kereta itu, mereka ingin tahu tokoh manusia seperti apakah yang bisa membuat Cu Bi- lian yang selama ini angkuh dan enggan tunduk kepada siapa pun rela menjadi kusir keretanya. “Tidak berani!” sahut Cau-ji sambil melompat turun dari dalam kereta. Semua orang segera merasakan pandangan matanya jadi terang, tak tahan diam-diam soraknya, “Wow, pemuda yang amat tampan!” Sementara itu Cu Bi-ih telah berseru, “Kongcu, mari kita berbincang di dalam saja!” Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut kepada semua orang, kemudian bersama Cu Bi-ih berjalan masuk ke dalam pintu gerbang. Begitu Cu Bi-lian melompat turun dari tempat duduk kusir, seorang lelaki kekar segera melompat naik menggantikan posisinya dan membawa kereta itu menuju ke pintu samping.
Pemandangan di dalam gedung sungguh indah, selain kebunnya luas, aneka bunga tumbuh dengan harumnya. Setelah masuk ke ruang dalam dan mengambil tempat duduk, Cu Bi-lian baru berkata sambil tersenyum, “Kongcu, pernah mendengar tentang Thian-te-sian-lu (sejoli dewa langit dan bumi)?” Cau-ji melirik sekejap ke arah kakek dan wanita cantik itu, kemudian sambil bangkit berdiri, ujarnya dengan hormat, “Apakah Cianpwe berdua adalah Leng-cianpwe dan Chin-cianpwe?” Kakek dan nyonya cantik itu serentak bangkit berdiri sambil menyahut, “Aku adalah Leng Bang, sedang dia adalah istriku, Chin Tong, memberi hormat kepada Kongcu!” Habis berkata mereka segera memberi hormat. Cepat Cau-ji berkelit ke samping sambil katanya gugup, “Wanpwe adalah Ong Bu-cau dari kota Kimleng, ayahku Ong lt-huan!” Mendengar nama itu, Leng Bang nampak kegirangan, seninya cepat, “Oh, rupanya Kongcu adalah keturunan Ong Sam-kongcu, tak heran nona kedua bersedia jadi kusirmu, sungguh beruntung pada hari ini aku Leng Bang bisa berjumpa dengan Kongcu!” Cu Bi-lian menggeleng kepala, katanya, “Leng tua, kau keliru! Biarpun keluarga Ong-kongcu ternama di Seantero jagad, namun belum cukup untuk membuatku menjadi kusir bagi keretanya, pernahkah kau melihat aku menjadi kusir untuk kereta ayahku?” Dari pembicaraannya itu, bisa disimpulkan kalau asal-usul ayahnya pasti luar biasa. “Maaf hamba salah bicara, maaf hamba salah bicara!” buru-buru Leng Bang minta maaf. Kembali Cu Bi-lian tertawa. “Leng tua, aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu, karena kau tidak tahu Ong-kongcu telah menyelamatkan nyawa kami tiga bersaudara!” Secara ringkas dia pun mengisahkan pengalamannya. Mendengar itu Leng Bang berdua nampak sangat terharu, sinar mata mereka berkilat. Sesaat kemudian terdengar Leng Bang berkata lagi, “Tampaknya Si Kiau-kiau sudah makan nyali beruang, berani amat turun tangan terhadap anggota keluarga Cu. Hm, tampaknya Jit-seng- kau memang sudah tak ingin menancapkan kaki lagi di dunia persilatan.” Begitu mendengar kata “keluarga Cu”, satu ingatan segera melintas dalam benak Cau-ji, pikirnya, “Bukankah Baginda saat ini dari keluarga Cu? Kalau didengar dari caranya bicara, janganjangan mereka adalah putri kaisar?” Tanpa terasa dia pun berpaling ke arah ketiga gadis itu. Chin Tong tahu, pasti ketiga nona itu belum membocorkan identitas sebenarnya, maka sambil tersenyum, katanya, “Ong-kongcu, apakah kau pernah mendengar ibumu menyinggung tentang aku?” Mendapat pertanyaan ini, Cau-ji segera memperhatikan sekejap nyonya cantik yang penampilannya masih berusia tiga puluh tahunan, padahal usia aslinya sudah tujuh puluh tahun, kemudian jawabnya dengan hormat, “Sucou, Cau-ji pernah mendengar nama besarmu.” “Eh, biniku, kenapa Ong-kongcu memanggilmu Sucou?” tanya Leng Bang keheranan. Chin Tong segera tertawa lebar. “Kau masih ingat bocah perempuan bernama Si Ciu-ing?” 47 Seakan baru sadar, Leng Bang segera tertawa terbahak-bahak, “Hahaha, tentu saja masih ingat, bocah perempuan itu cantik, pintar, bahkan pandai memahami maksud orang lain, tak aneh dia memiliki keturunan sehebat dan setampan ini.” Chin Tong ikut mengawasi Cau-ji beberapa saat lamanya, tiba-tiba ujarnya lagi sambil tertawa, “Bukan hanya tampan, kalau penglihatanku tidak rabun, kalian turun tangan bersama pun belum tentu mampu bertahan sepuluh jurus serangannya!” Ketiga nona itu jadi terperanjat. Terlebih Leng Bang, dengan nada tak percaya tanyanya, “Mungkinkah itu?” “Kau ini memang selalu tak puas dengan orang lain,” sela Chin Tong sambil tertawa hambar. Buru-buru Cau-ji berseru, “Sucou, jangan bandingkan cahaya kunang-kunang dengan sinar rembulan. Aku tak sanggup melawan mereka.” “Cau-ji tak perlu sungkan,” ujar Chin Tong sambil tertawa, “belum pernah kudengar jagoan di dunia persilatan yang mampu membantai Rasul ular dan Raja beracun secara bersamaan.” Baru saja Cau-ji ingin mengucapkan kata-kata merendah, mendadak terlihat seorang lelaki berjalan menghampiri Cu Bi-ih sambil melapor, “Nona, nona Siang mohon bertemu!” Cu Bi-ih segera berpaling ke arah Cu Bi-hoa sambil katanya, “Adik kecil, persilakan nona Siang masuk!” “Baik!” Sepeninggal adiknya, Cu Bi-ih berkata lagi kepada Cau-ji sambil tertawa, “Kongcu, nona Siang adalah salah satu penanggung jawab toko permata terbesar dan termegah di seantero negeri, bukan saja berparas cantik bak bidadari, ilmu silat yang dimiliki pun sangat lihai!” Mendengar itu Cau-ji jadi kegirangan, belum sempat dia mengutarakan kisah hubungannya dengan Siang Ci-ing, dari luar ruangan sudah terdengar suara Siang Ci-ing yang berseru merdu, “Nona besar, kau jangan memalukan Siaumoay!” bersamaan dengan selesainya perkataan itu, tampak Siang Ci-ing dengan pakaian kuningnya telah melangkah masuk ke dalam ruangan. “Ooh, rupanya ada tamu agung! Eeei! Ternyata kau adik Cau!” Sambil berteriak, nona itu langsung menubruk ke dalam pelukan Cau-ji sambil menangis tersedu-sedu. Kejadian ini kontan membuat seluruh hadirin tertegun dan berdiri terperangah. Merah jengah wajah Cau-ji begitu melihat ulah gadis itu, buru-buru bisiknya, “Enci Ing, jangan begitu, malulah! Coba lihat, semua orang mengawasimu“ Mendengar itu, Siang Ci-ing ikut berubah wajahnya karena malu, cepat dia tinggalkan Cau-ji dan menundukkan kepala. Cau-ji manggut-manggut kepada semua orang, kemudian secara ringkas dia pun menceritakan kisah perkenalannya dengan Siang Ci-ing. Kini semua orang baru tahu kejadian yang sebenarnya, mereka pun hanya tersenyum tanpa bicara. Lebih jauh Cau-ji menceritakan pula kisahnya bertemu dengan tiga bersaudara Cu di kota Bu- jang, dimana dari permusuhan berubah jadi teman kepada Siang Ci-ing. Kontan gadis itu berseru berulang kali, “Ooh, sungguh menakutkan, sungguh mengerikan!” “Semua yang diatur Thian memang luar biasa,” akhirnya Cau-ji menutup pembicaraan sambil tertawa. “Memang luar biasa,” Siang Ci-ing manggut-manggut, “coba kalau bukan kau telah membantu It-ci Taysu serta enci Si dan Enci Bun menembus jaringan nadi Jin-meh dan Tok-meh di tubuhnya, mungkin sejak semalam biara Siau-lim-si sudah terhapus namanya dari peredaran dunia persilatan.” Tak terlukiskan rasa kaget semua orang sesudah mendengar berita ini, tanpa sadar serentak mereka berdiri. “Enci Ing,” teriak Cau-ji pula dengan terperanjat, “jadi semalam Jit-seng-kau telah melancarkan serangan ke biara Siau-lim-si?” “Benar! Su Kiau-kiau dengan memimpin dua ratusan anak buahnya telah melancarkan serangan malam ke biara Siau-lim-si, sekalipun pihak Siau-lim telah melakukan persiapan, namun korban tewas dan luka parah sangat banyak, andaikata enci Si dan enci Bun tidak mati-matian menghadang serangan Su Kiau-kiau, mungkin situasinya akan semakin parah!” 48 ”Apakah pihak Siau-lim tidak menyiapkan barisan Lo-han-tin untuk menghalau serangan musuh?” tanya Cu Bi-ih cemas. Siang Ci-ing menggeleng sedih, katanya, “Su Kiau-kiau memang banyak akal, ternyata dia berhasil menaklukan Hong-lui-tong yang berada di luar perbatasan, di bawah serangan bahan peledak yang luar biasa, mana mungkin jago-jago Siau-lim mampu menghadapinya? “Di tengah kobaran api dan ledakan, anak murid Siau-lim mati-matian melakukan perlawanan dan akibatnya bukan saja jagoan dari Hong-lui-tong berhasil dimusnahkan, namun mereka sendiri pun ikut menjadi korban. Empat puluhan jago Hong-lui-tong akhirnya berhasil ditumpas habis, sementara pihak biara kehilangan dua ratusan orang anggotanya.” Berubah hebat paras muka semua orang setelah mendengar penuturan ini. Dengan air mata berlinang, kembali Siang Ci-ing melanjutkan, “Secara berturut-turut ketua biara Siau-lim, ketua Tat-mo-wan, ketua bagian hukum, ketua bagian pelatihan, satu per satu roboh terluka parah, malah jago-jago kalangan putih yang berada di seputar Lok-yang pun banyak yang terluka atau tewas.” “Sute, kau belum pernah menyaksikan pertempuran sengit semacam ini, setiap orang bertarung seperti orang gila, bahkan It-ci Taysu pun ikut melakukan pembunuhan secara besar-besaran hingga jubahnya basah oleh darah.” “Lantas dimana enci Bun dan enci Si sekarang? Bagaimana pula dengan engkoh Liong?” tanya Cau-ji cemas. “Enci Si dan enci Bun bertarung mati-matian melawan Su Kiau-kiau serta keempat nyonya cantik pengiringnya, walaupun kehilangan banyak tenaga, untung mereka tak sampai terluka, sedang kakakku menderita luka parah, hingga sekarang belum sadar dari pingsannya!” “Enci Ing, kita segera berangkat ke sana,” seru Cau-ji lagi dengan perasaan cemas. Siang Ci-ing manggut-manggut. “Kedatanganku hari ini tak lain adalah bermaksud minta bantuan ketiga nona ini, untung Thian melindungi hingga bertemu juga denganmu, sekarang engkoh Liong pasti akan tertolong.” “Nona Siang, harap tunggu sebentar,” seru Cu Bi-ih tiba-tiba, habis berkata dia mengangguk ke arah Chin Tong. Tak selang beberapa saat kemudian tampak Chin Tong muncul dari dalam ruangan sambil membawa sebuah kotak kertas persegi panjang. Kembali Cu Bi-ih berseru, “Nona Siang, bawalah kotak obat ini.” Dengan penuh berterima kasih Siang Ci-ing menerima kotak obat itu, kemudian bersama Cau-ji pergi meninggalkan tempat itu.
Thian-te-sian-lu yang melihat ketiga nonanya mengantar sendiri kepergian kedua orang tamunya buru-buru balik ke dalam kamar dan saling berpandangan sambil tersenyum. Terdengar Leng Bang berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Adik Tong, kelihatannya ketiga tuan putri kita jatuh hati kepada Cau-ji.” “Rasanya memang begitu,” sahut Chin Tong sambil tertawa, “tapi aturan kerajaan sangat ketat, tak mungkin Baginda mengijinkan mereka bertiga menikah dengan orang persilatan.” “Hahaha, kau toh bisa menyuruh mereka bertiga minta tolong permaisuri, biarlah mereka kawin lari, dunia begini luas, tak mungkin pihak kerajaan bisa menemukan mereka secara gampang.” “Wah, wah … ternyata akalmu sangat busuk.” “Hahaha, coba jika dulu aku tak mengajakmu kawin lari, bukankah bakal menyesal sepanjang masa?” Membayangkan kembali bagaimana dahulu dia pun tidak mendapat persetujuan dari tuanya ketika hendak kawin dengan Leng Bang si Raja penggetar bukit, sehingga akhirnya mereka putuskan untuk kawin lari, timbul perasaan hangat di hatinya. Sambil menjatuhkan diri ke dalam pelukan suaminya, ia berkata lirih, “Engkoh Bang, selama puluhan tahun ini kau selalu mengajak Siaumoay mengarungi bahtera hidup yang penuh kebahagiaan, Siaumoay benar-benar bersyukur atas keberanian dan kenekatan engkoh Bang di masa lalu.” “Tapi ada satu hal yang selalu membuat Siaumoay merasa tak tenang, selama ini aku gagal memberi keturunan kepadamu, hal ini membuat kau jadi malu kepada leluhur keluarga Leng ….” 49 Leng Bang segera balas memeluk bininya dengan mesra, sahutnya lembut, “Adik Tong, buat apa kau singgung masalah itu lagi, kalau memang sudah menjadi kehendak Thian, dipaksa pun tak ada gunanya!” Berkilat sepasang mata Chin Tong. “Engkoh Bang,” bisiknya, “bagaimana kalau kita angkat dua bersaudara keluarga Suto menjadi cucu perempuan kita?” Mula-mula Leng Bang agak tertegun, kemudian sahutnya sambil manggut-manggut, “Bagus sekali, hubungan kita dengan Suto Lote suami-istri boleh dibilang sangat akrab, apa salahnya kalau kita rawat mereka bagaikan merawat cucu perempuan sendiri.” Saking girangnya Chin Tong segera memeluk Leng Bang erat-erat, bahkan tiba-tiba saja melayangkan ciuman mesranya ke bibir suaminya. Tiba-tiba terdengar suara orang berdehem, dengan wajah merah padam buru-buru kedua orang tua itu melepaskan pelukannya.
Terlihat tiga nona keluarga Cu dengan pakaian serba putih sedang berdiri di balik pintu dengan wajah memerah. Dengan hormat Leng Bang segera bertanya, “Nona, apakah kalian akan keluar?” “Benar, kami akan pergi ke Liong-ing-hong,” sahut Cu Bi-ih sambil manggut-manggut. Sementara itu Cau-ji yang mengikuti Siang Ci-ing meninggalkan gedung keluarga Cu segera melakukan perjalanan cepat dengan menunggang tandu, tak sampai sepeminuman teh kemudian mereka telah tiba di Liong-ing-hong. Dalam keadaan begini Cau-ji tak berniat menikmati pemandangan di sekelilingnya, cepat ia mengikuti Siang Ci-ing menuju ke kamar tidur Siang Ci-liong. Dijumpai pemuda itu sedang berbaring dalam keadaan tak sadar, cepat dia maju mendekat sambil memeriksa nadinya. Tampak paras mukanya pucat-pias, napasnya lemah, jelas sudah menderita luka dalam yang cukup parah.
Dalam cemasnya dia sudah siap naik ke ranjang untuk membantu mengobati luka pemuda itu.
Tiba-tiba terendus bau harum obat memenuhi seluruh ruangan, kemudian terdengar Siang Ci- ing menjerit girang, “Oh, Thian, pil Cay-seng-wan! Adik Cau, coba lihat, pil Cay-seng-wan yang langka” Sambil berkata dia segera melompat ke hadapan anak muda itu. Betul saja, di dalam sebuah kotak terlihat enam butir pil yang terbungkus lilin berwarna kuning, di atas lilin itu tertera tiga huruf berbunyi “Cay-seng-wan”. Dengan perasaan girang segera tanyanya, “Enci Ing, pil ini punya khasiat menghidupkan kembali orang yang sekarat, konon jauh lebih hebat khasiatnya daripada Toan-hun-wan dari Siau- lim.” “Betul,” sahut Siang Ci-ing sambil mengambil sebutir, “nona Cu benar-benar berjiwa besar. Adik Cau, semua ini berkat dirimu.” Sambil berkata dia segera membelah lilin pembungkus obat itu, bau harum semerbak makin menyelimuti ruangan. “Aai, betul-betul obat mujarab, dari baunya sudah ketahuan kalau obat ini tak ternilai harganya.” Kemudian sambil memotong pil itu jadi dua bagian, dia serahkan separoh bagian ke tangan Cau-ji sambil ujarnya lagi, “Adik Cau, tolong cekokkan pil ini ke mulut engkoh Liong.” Kemudian sambil mencampur sisa separoh obat yang lain dengan air panas, katanya lagi, “Adik Cau, sisanya akan kuberikan untuk enci Si dan enci Bun!” Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut, dia pun membuka mulut Siang Ci-liong dan menjejalkan obat itu ke dalam mulutnya. Begitu obat masuk ke mulut, segera mencair dan mengalir masuk ke dalam perut Siang Ci- liong. Cepat Cau-ji membangunkan badannya, lalu sambil bersila di belakang punggungnya dia salurkan hawa murninya.
50 Cay-seng-wan memang luar biasa khasiatnya, apalagi ditambah tenaga dalam Cau-ji yang mengalir tiada putusnya, tak sampai sepeminuman teh kemudian pemuda itu sudah tersadar kembali.
“Engkoh Liong, aku adalah adik Cau, lanjutkan pengobatan luka darahmu,” bisik Cau-ji cepat.
Selesai berkata, dia menarik kembali tangannya sambil melompat turun. Siang Ci-liong tahu lukanya baru sembuh, sesudah mengangguk dia pun melanjutkan semedinya. Baru melangkah keluar dari kamar Siang Ci-liong, dua gadis berpakaian ringkas telah memberi hormat sambil menyapa pelan, “Kongcu, baik-baikkah kau.” “Kalian baik-baik bukan?” sahut Cau-ji sambil mengangguk, “boleh tahu nona Suto berdua berada di mana?” “Mereka berada di loteng Beng-gwe-lau di halaman belakang!” sahut nona di sebelah kanan.
Bab 4. Badai melanda Siau-lim-si.
Setelah meninggalkan kedua gadis itu, Cau-ji menembusi sebuah kebun bunga yang indah dan memasuki ruang utama, belum melangkah masuk dia sudah mendengar suara pembicaraan dari sisi kanan.. Dia tahu ketiga gadis itu sedang berbincang-bincang, terdorong rasa ingin tahu, dia pun mendekati tempat itu sambil menahan napas. Terdengar Suto Bun berseru kaget, “Apa? Enci Ing, tadi kau mengatakan bahwa adik Cau telah menyelamatkan ketiga tuan putri dari kerajaan?” “Benar, hanya saja identitas ketiga tuan putri ini sangat rahasia hingga sampai sekarang adik Cau masih belum tahu keadaan yang sebenarnya. Lebih baik kalian pun ikut menjaga rahasia.” “Enci Ing, lebih baik kita beritahukan rahasia ini kepada adik Cau,” sela Suto Si cepat, “sebab selama ini peraturan yang berlaku dalam keluarga kerajaan sangat ketat, bila di antara mereka sampai terlibat asmara, bisa sukar untuk menyelesaikannya.” “Waduh, celaka,” Siang Ci-ing menjerit kaget, “kalau dilihat dari mimik muka ketiga tuan putri itu, tampaknya mereka sudah jatuh cinta kepada adik Cau, padahal pihak kerajaan melarang tuan putri menikah dengan rakyat biasa, apalagi kawin dengan orang persilatan!” “Enci Ing, bagaimana reaksi adik Cau sendiri?” buru-buru Suto Si bertanya. “Soal ini …
aku sendiri pun kurang jelas! Sebab dia memang selalu bergurau dengan siapa pun, aku sendiri tak bisa membedakan apakah di balik gurauan itu terselip perasaan.” “Enci Ing, coba kau bayangkan kembali,” desak Suto Bun lagi, “sewaktu memandang mereka apakah sinar mata adik Cau nampak aneh, sama seperti waktu dia memandang ke arah kita?” “Soal ini … terus terang saja adik berdua, sewaktu bertemu adik Cau tadi, Cici kegirangan setengah mati hingga sama sekali tidak memperhatikan hal lain lagi.” Kedua gadis itu saling pandang sekejap, lalu tidak bicara lagi.
Sebaliknya Cau-ji jadi amat terperanjat. Dia sama sekali tidak menyangka kalau ketiga bersaudara Cu adalah tuan putri kerajaan, tak heran gaya bicara Cu Bi-lian begitu besar dan takabur, sementara gerak-gerik mereka bertiga pun memancarkan keanggunan. Sejak melakukan perjalanan bersama Bwe-toa-siok kali ini, secara beruntun dia telah “menghabisi” dua bersaudara Suto serta Siang Ci-ing, mengenai masalah inipun dia sempat pusing kepala dan tak tahu bagaimana harus memberi penjelasan setelah pulang nanti. Apalagi jika sampai meniduri ketiga tuan putri kerajaan, bisa jadi perbuatannya ini akan mengundang hukuman pacung seluruh keluarga besarnya, bila hal semacam ini benar-benar terjadi, bukankah dirinya akan menjadi manusia yang paling berdosa? Berpikir sampai di situ, tak tahan lagi dia jadi merinding dan bersin berulang kali. Suto Si segera menangkap suara aneh dari luar pintu, dengan hati tercekat segera hardiknya, “Siapa di situ?” Cau-ji tahu, sedikit konsentrasinya buyar, dia telah membocorkan jejak sendiri, maka jawabnya nyaring, “Enci Si, Siaute!” Sambil berkata, dia segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan.
51 Ketiga gadis itu segera bersorak kegirangan, “Adik Cau!” Tanpa membuang waktu lagi mereka langsung menubruk ke depan. “Tunggu dulu!” seru Cau-ji, “satu per satu, kalau tidak, Siaute bisa jatuh terjerembab.” Sambil berkata dia langsung maju sambil memeluk erat Siang Ci-ing. Secara bergilir ketiga nona itu dipeluk oleh pemuda itu, hal ini membuat mereka pun bisa duduk kembali dengan perasaan puas. Menyaksikan paras muka gadis-gadis itu sudah segar kembali, Cau-ji tahu semua itu tentu berkat khasiat Cay-seng-wan yang mujarab, maka dengan perasaan kuatir tanyanya, “Cici, kalian sudah tidak apa-apa bukan?” “Tidak apa-apa,” sahut gadis-gadis itu sambil tersenyum.
“Baguslah kalau begitu,” seru Cau-ji sambil menghembuskan napas lega, “kurangajar betul Su Kiau-kiau si nenek busuk itu, berani betul dia melukai bini kesayanganku, kalau sampai bertemu aku kelak, pasti akan kuhajar dia hingga remuk tulang belulangnya.” Perkataan itu bagaikan madu yang tumpah dari tempatnya, membuat ketiga nona itu merasakan hatinya manis sekali. Menyaksikan wajah kesemsem ketiga orang itu, Cau-ji ikut terpesona dibuatnya, diam-diam napsu birahinya muncul. Pada saat itulah tiba-tiba dari luar pintu terdengar seseorang berseru nyaring, “Nona, ketiga nona dari keluarga Cu serta kedua orang Congkoannya datang menyambangi.” “Cepat persilakan mereka masuk!” buru-buru sahut Siang Ci-ing. “Baik.” Siang Ci-ing memandang dua bersaudara Suto sekejap, lalu tanyanya, “Adikku, adik Cau, apakah kalian ingin bertemu dengan mereka?” Belum sempat kedua nona itu menjawab, Cau-ji sudah berkata lebih dulu, “Enci Ing, kau saja yang pergi menjumpai mereka!” “Baiklah, kalian boleh kongkow di sini,” Siang Ci-ing manggut-manggut, habis berkata dia pun beranjak pergi. Sepeninggal gadis itu, kembali Cau-ji bertanya, “Cici, benarkah Su Kiau-kiau mampu menghadapi kalian berdua sekaligus?” “Tentu saja tidak!” Suto Bun menggeleng, “coba kalau dia tidak dibantu empat wanita lain, kami berdua yakin dapat mengalahkan dia dalam lima ratus gebrakan.” “Apa? Butuh lima ratus gebrakan untuk mengalahkan dia? Terlalu lama,” teriak Cau-ji. “Sute, kau tidak tahu, bukan saja Su Kiau-kiau memiliki jurus serangan yang aneh dan tangguh, bahkan tenaga dalamnya amat sempurna, sulit untuk dihadapi.” “Bila di kemudian hari bertemu lagi, kalian saksikan saja bagaimana caraku meringkusnya.” Tiba-tiba Suto Si merendahkan suaranya dan bertanya, “Adik Cau, aku dengar tempo hari kau telah menyelamatkan nyawa ketiga nona itu?” “Nah, datang juga masalahnya” batin Cau-ji dalam hati, cepat dia menyahut sambil tertawa, “Benar, sesungguhnya kungfu yang dimiliki ketiga nona itu sangat tangguh, namun dibandingkan kalian berdua, kemampuannya masih kalah setingkat!” “Apakah mereka cantik?” buru-buru Suto Bun bertanya lagi. “Cantik!” sahut Cau-ji sambil memeluknya, “bahkan bukan cantiknya hijau daun, tapi dibandingkan kalian berdua, mereka masih kalah setingkat.” “Aku tak percaya.” “Ayo jalan, kita buktikan bersama,” sambil berkata Cau-ji langsung bangkit berdiri. “Sudah, tak perlu,” buru-buru Suto Si menukas sambil tertawa, “asal di hati Cau-ji masih ada tempat buat kami berdua, peduli amat siapa lebih cantik.” Cau-ji segera memeluk pula tubuh Suto Si, katanya dengan wajah bersungguh-sungguh, “Enci Si, buat apa kau berkata begitu? Memangnya kau anggap Siaute adalah lelaki yang suka yang baru bosan dengan yang lama? “Cici, mulai hari ini selama tidak memperoleh persetujuan kalian, biar orang-tuaku yang menjodohkan pun Siaute tak akan menggundik perempuan lain.” 52 Merah padam wajah dua bersaudara Suto mendengar perkataan ini. Terdengar Suto Si segera berkata, “Adik Cau, Cici hanya bergurau, jangan dianggap serius.” Saking paniknya, air mata sampai bercucuran. “Adik Cau, selama berpisah denganmu, perasaan Cici selalu bimbang tanpa pegangan, bila ucapanku agak menyinggung perasaan, harap jangan kau masukkan ke hati.” “Cici, tahukah kau, sejak bertemu Cu bersaudara, secara diam-diam aku telah membandingkan mereka bertiga dengan dirimu. “Kalian tak usah kuatir, tak nanti demi hidup makmur dan terhormat Siaute memutuskan akan mengawini Cu bersaudara, bila kalian tetap tak percaya, ayo sekarang juga kita pergi meninggalkan tempat ini” “Jangan,” buru-buru Suto Si mencegah, “adik Cau, Cici percaya kau memang benar-benar mencintai kami, yang Cici kuatirkan justru kalau sampai kehadiran tiga bersaudara Cu bakal mendatangkan kesulitan bagi keluarga Ong.” “Benar, adik Cau,” sambung Suto Bun pula, “walaupun semalam Su Kiau-kiau telah menarik mundur pasukannya, menurut laporan, mereka masih berada di sekitar sini, mana boleh kita meninggalkan wilayah sini.” Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang agak parau tapi nyaring berkumandang dari arah kebun, “Siang Kongcu, nona Siang, kebun bunga kalian sangat cantik, pada hakikatnya bagaikan surga dunia, Lohu harus banyak belajar dari kalian.” “Ah, mana, mana, Congkoan terlalu memuji, silakan masuk!” jawab Siang Ci-liong nyaring. “Cici,” Cau-ji segera berbisik, “orang itu adalah Congkoan keluarga Cu, mungkin kedatangannya untuk mencari kita.” Dengan cepat mereka bertiga berdiri sembari membenahi pakaian yang dikenakan.
Benar saja, tak lama kemudian tampak dua bersaudara Siang dengan mengajak tiga bersaudara Cu dan kedua Congkoannya telah berjalan masuk. Sambil tersenyum Siang Ci-ing segera memperkenalkan tamu-tamunya, “Adik Cau, kedua Congkoan mendengar kalau kedua Cici merupakan keturunan sahabat karibnya, mereka ingin datang menjumpai kalian!” Tergopoh-gopoh dua bersaudara Suto memberi hormat, lalu kata Suto Si, “Maafkan Wanpwe, karena tidak mengetahui nama besar Cianpwe berdua.” “Nak, kami adalah sahabat karib kakek dan nenekmu,” ujar Chin Tong dengan ramah, “apakah kalian pernah mendengar nama Thian-te-sian-lu?” Buru-buru dua bersaudara Suto menjatuhkan diri berlutut dan berseru dengan air mata berlinang, “Menjumpai Yaya dan nenek!” Dengan keheranan Chin Tong memandang Leng Bang sekejap, lalu tanyanya tercengang, “Nak, mengapa kalian..” Sahut Suto Si sambil menyeka air mata, “Keluarga Suto kami habis dibantai orang-orang Jit- seng-kau, kami dua bersaudara pun berhasil lolos dari kepungan karena pengurus tua kami menggadaikan nyawa untuk memberi perlindungan.” “Menurut pesan terakhir pengurus tua kami, di dunia sekarang hanya Yaya dan nenek berdua yang bisa membalaskan dendam bagi kematian keluarga Suto, selama banyak tahun Si-ji telah berusah mati-matian menemukan kalian.” Habis berkata dia pun menangis tersedu-sedu. Cepat Chin Tong menarik bangun kedua gadis itu, katanya agak seseunggukan, “Nak, kedatangan kami berdua hari ini tak lain adalah berniat menerima kalian berdua menjadi cucu perempuan kami. Ternyata pucuk dicinta ulam tiba, sungguh kebetulan sekali!” Bicara sampai di sini, air matanya pun tak berbendung pula. Leng Bang sendiri sambil menahan rasa sedih, ujarnya sambil tertawa, “Sungguh bagus sekali, hari ini merupakan hari yang sangat menggembirakan, kalian tak usah mengucurkan air mata lagi!” “Betul, suatu kejadian luar biasa karena kalian semua telah berkumpul di rumahku” kata Siang Ci-liong pula sambil tertawa, “biarlah aku mengadakan perjamuan untuk merayakan hari ini.” 53 Selesai bersantap, Siang Ci-liong dengan membawa sebutir Cay-seng-wan pergi mengobati para jago dari kota Lok-yang yang ikut membantu pertempuran kemarin, sedangkan Cau-ji serta Leng Bang dengan membawa tiga butir Cay-seng-wan naik ke biara siau-lim-si. Karena ingin secepatnya menyelamatkan nyawa anggota biara Siau-lim, kedua orang itu menempuh perjalanan cepat, begitu menambatkan kudanya di kaki bukit, secepat kilat mereka naik ke atas gunung. Sepanjang perjalanan mereka saksikan noda darah berceceran di mana-mana, dari banyaknya pohon yang tumbang, bisa dibayangkan betapa sengitnya pertempuran yang berlangsung semalam. Kedua orang itu segera mempercepat langkahnya menuju ke atas bukit, tak sampai sepeminuman teh kemudian, tibalah mereka berdua di depan bangunan yang porak-poranda. Menyaksikan keadaan semacam ini, dengan suara geram Leng Bang berkata, “Perbuatan orang-orang Jit-seng-kau memang keji dan keterlaluan, bangunan kuno yang begitu megah ternyata sudah dihancurkan seperti ini!” Mendadak terdengar seseorang berseru nyaring, “Omitohud!” Dua Hwesio cilik berjubah abu-abu dan memegang pedang telah melompat keluar dari balik pintu, dengan pandangan penuh curiga mereka mengawasi Cau-ji berdua. Sambil tersenyum Cau-ji segera berkata, “Cayhe berdua ada urusan penting ingin berjumpa dengan lt-ci Siansu, harap kalian mau membuka jalan!” Bicara sampai di situ dia pun menunjukkan sebuah lencana yang bertuliskan “Liong-ing-hong”. “Harap Sicu menunggu sebentar!” Hwesio cilik di sebelah kanan segera menyahut sambil berlari masuk ke dalam biara. Setengah peminuman teh kemudian tampak It-ci Siansu dengan wajah berseri telah muncul di hadapan Cau-ji berdua.
Buru-buru Cau-ji memberi hormat seraya berkata dengan ilmu menyampaikan suara, “Cianpwe, Cayhe adalah Yu Si-bun, boleh Siansu bawa Cayhe untuk memeriksa para korban yang terluka dalam biara?” “Omitohud, Buddha memang maha pengasih,” seru It-ci Siansu dengan wajah kegirangan, “kehadiran Sicu tepat waktu, silakan masuk!” Dengan menelusuri jalan beralas batu putih, Cau-ji masuk ke dalam biara, sepanjang jalan yang tampak hanya bangunan yang hancur. Tak tahan serunya dengan gemas, “Perbuatan Su Kiau-kiau memang kelewatan, dia pantas dicincang hingga hancur berkeping.” It-ci Siansu hanya menggeleng tanpa bicara. Memasuki ruang Cay-ti-wan, terasa sekali suasana di tempat itu amat serius dan tegang, penjagaan dilakukan sangat ketat. Begitu masuk ke dalam ruangan, maka tampaklah para pendeta yang terluka ada yang duduk, ada yang berbaring, jumlahnya mencapai ratusan orang. Mereka bertiga langsung memasuki sebuah kamar kecil, di atas pembaringan duduk bersila seorang Hwesio berusia lima puluh tahunan yang mengenakan jubah berwarna kuning bergaris benang merah. Begitu melihat kehadiran It-ci Taysu, pendeta itu segera memberi hormat sambil memanggil, “Suhu!” Kemudian ia berusaha bangkit. Buru-buru It-ci Taysu mencegahnya sambil berbisik, “Ciangbunjin, kau tak perlu banyak adat, Lolap sengaja mengajak kedua orang Sicu ini untuk bertemu denganmu.” Ternyata pendeta itu tak lain adalah Goan-thong Taysu, Ciangbunjin biara Siau-lim saat ini. Baru saja ia menengok ke arah kedua orang itu, Cau-ji berdua telah melepas topeng kulit manusianya hingga muncullah seorang pemuda tampan dan seorang kakek berwajah angker. Begitu melihat wajah asli Leng Bang, It-ci Taysu tampak sedikit tertegun, kemudian tanyanya, “Bukankah Sicu bermarga Leng?” Leng Bang tertawa terbahak-bahak.
“Hahaha, hei Hwesio, ternyata daya ingatmu hebat juga, tepat sekali, Lohu memang Leng Bang!” Dengan wajah berseri It-ci Taysu berkata lagi, “Sicu, tak kusangka setelah hidup mengasingkan diri hampir tiga-empat puluh tahun, hari ini bisa muncul di biara Siau-lim.” 54 Goan-tong Taysu begitu mendengar kakek yang berada di hadapannya adalah Leng Bang, kontan turun dari pembaringan sambil berkata penuh hormat, “Goan-tong menjumpai Leng- cianpwe.” “Ciangbunjin tak usah banyak adat, kedatangan Lohu hari ini adalah menemani Ong-kongcu mengantar beberapa biji obat.” “Kongcu, kau dari marga Ong?” agak bingung It-ci Taysu berpaling ke wajah Cau-ji. Setelah memberi hormat kepada Goan-tong Taysu, dengan nada minta maaf katanya kepada It-ci Taysu, “Cianpwe, maaf kalau Wanpwe terpaksa berbohong, mari kita selamatkan orang dulu sebelum bercerita tentang asal-usulku yang sebenarnya.” Sambil berkata dia mengeluarkan tiga butir Cay-seng-wan dari dalam sakunya. Begitu melihat pil Cay-seng-wan, tubuh Goan-tong gemetar keras saking terharunya. “Ciangbunjin, ambillah untuk menolong orang!” kata Leng Bang kemudian sambil tertawa. It-ci Taysu mengiris sedikit pil itu dan diberikan kepada Goan-tong sambil ujarnya, “Ciangbunjin, kau telanlah lebih dulu!” Sambil tersenyum Goan-tong Taysu menerima obat itu, setelah ditelan dia pun duduk mengatur pernapasan. Cau-ji pun mencampur sisa obat ke dalam satu teko air, kemudian ia serahkan kepada dua orang Hwe-sio cilik agar dibagikan kepada semua korban yang terluka. Selesai semua itu, It-ci Taysu baru membawa Cau-ji berdua menuju ke dalam sebuah kamar. “Cianpwe,” kata Cau-ji kemudian setelah memberi hormat, “Wanpwe segera akan melaporkan identitasku yang sebenarnya!” Selesai mendengar penuturan itu, dengan wajah girang It-ci Taysu berkata, “Omitohud! Ternyata Kongcu adalah keturunan keluarga Ong, tak heran kau memiliki ilmu silat yang luar biasa hebatnya!” Leng Bang ikut tertawa tergelak. “Kalau dahulu Ong-loenghiong yang memimpin para jago menumpas perkumpulan Jit-seng- kau, maka kali ini kita bakal mengandalkan kepemimpinan Ong-kongcu untuk menumpas Su Kiau- kiau beserta para begundalnya!” “Cianpwe, harap kau jangan berkata begitu,” buru-buru Cau-ji menyela, “ada begitu banyak jago tangguh macam Cianpwe, apalah artinya kehadiran Wanpwe? Kehadiranku tak lebih hanya tukang teriak saja!” “Siausicu,” ujar It-ci Taysu dengan wajah bersungguh-sungguh, “berbicara dari kemampuan ilmu silat yang kau miliki, kehebatanmu sudah lebih dari cukup untuk memimpin umat persilatan!” “Betul, Kongcu,” Leng Bang menambahkan pula, “Lohu bersama ketiga nona sangat memandang tinggi kemampuanmu, jika kau bersedia tampil untuk memimpin para jago, mereka pasti akan mendukungmu dengan sepenuh tenaga.” Masih mending kalau tidak menyinggung tiga bersaudara Cu, begitu diungkit, dengan wajah serius Cau-ji segera berkata, “Cianpwe, Wanpwe tak kemaruk nama maupun pangkat, Wanpwe bersedia mengadu nyawa dengan Su Kiau-kiau tak lain karena tak tahan melihat ulahnya yang buas, tapi soal menjadi pemimpin umat persilatan … aku rasa..” “Tahukah Kongcu, ketiga nona itu adalah..” tiba-tiba Leng Bang berseru tertahan, “ah, Lohu tak berani melanjutkan, pokoknya asal didukung mereka, tak sampai satu bulan, perkumpulan Jitseng- kau pasti sudah lenyap tertumpas!” Namun Cau-ji bersikukuh dengan pendiriannya, kembali dia menggeleng. “Cianpwe, membasmi kaum sesat merupakan kewajiban setiap orang, kau tak usah kelewat memaksa mereka untuk bertindak.” Leng Bang menghela napas panjang, ia tak mampu berbicara lagi. Sementara itu It-ci Taysu telah berkata lagi setelah termenung sebentar, “Sicu, bagaimana kalau kita mengundang Ong Sam-kongcu saja untuk tampil kembali!” “Aai, kenapa Lohu tidak berpikir ke sana?” seru Leng Bang sambil tertawa, “bagus sekali, kalau begitu kuserahkan tugas ini kepada pihak biara Siau-lim saja untuk mengurusnya.” It-ci Taysu manggut-manggut. “Lolap akan melaporkan masalah ini kepada Ciangbunjin!” 55 Habis berkata dia pun segera beranjak pergi. “Kongcu,” ujar Leng Bang kemudian sambil tersenyum, “setelah mengalami serbuan yang berakibat fatal, pihak biara Siau-lim pasti sangat membenci orang-orang Jit-seng-kau, dengan dasar musuh bersama, seluruh partai besar pasti akan mendukung ayahmu menjadi pemimpin dunia persilatan.” Cau-ji ikut tertawa. “Ayahku sudah lama hidup mengasingkan diri, aku pribadi berharap dalam dua-tiga hari mendatang sudah bisa melenyapkan Su Kiau-kiau dari muka bumi, sehingga tak perlu merepotkan ayahku lagi!” “Hahaha, ternyata Kongcu sangat berbakti kepada orang tua, sungguh mengagumkan.” Pada saat itulah tiba-tiba dari arah biara berkumandang suara genta yang dibunyikan bertalu- talu, kedua orang itu sadar, pasti sudah terjadi sesuatu yang gawat, serentak mereka bangkit. Tampak It-ci Taysu berlari masuk ke dalam ruangan sambil berseru, “Sudah pasti pihak Jit- seng-kau melancarkan serangan lagi, kalian berdua..” “Hahaha, bagus sekali!” sela Cau-ji sambil mengenakan kembali topengnya, “akan kusuruh mereka bisa datang tak bisa pergi, ayo kita ke sana!” Baru saja mereka tiba di lapangan depan biara, terlihat ada lima puluhan padri Siau-lim dengan senjata terhunus dan wajah serius sedang saling berhadapan dengan ratusan lelaki berbaju hitam. “Omitohud!” seru It-ci Taysu dengan suara dalam, “ada urusan apa kalian datang ke biara kami?” Seorang kakek berusia enam puluh tahunan tertawa seram, sahutnya, “Hehehe, Lohu mendapat perintah dari Kaucu untuk membantu kalian kawanan keledai gundul secepatnya pulang ke nirwana!” Sambil berkata, dia mengayunkan tangan kanannya ke atas.
“Criiing, criiing, criiing…”pedang segera dilolos dari sarungnya, suasana tegang penuh hawa membunuh pun seketika menyelimuti arena. Para padri Siau-lim serentak memuji keagungan Buddha, mereka pun sudah siap melancarkan serangan. Mendadak terdengar Cau-ji tertawa terbahak-bahak.
Suara tawanya begitu keras dan nyaring, kontan kawanan iblis itu dibuat terkesiap. “Mana Su Kiau-kiau?” hardiknya nyaring, “apakah dia belum datang?” “Kurang-ajar,” umpat kakek itu gusar, “besar amat nyalimu, berani menyebut nama Kaucu kami seenak hati.” “Hahaha, Su Kiau-kiau lonte busuk, kalau memang ia tak berani datang kemari, biar Toaya yang menghabisi dulu kalian anak setan cucu kura-kura..” Habis berkata dia langsung melangkah maju dengan tindakan lebar. Takabur amat ucapannya, jumawa amat penampilannya, ternyata dia berani memaki ketua Jit- seng-kau dengan kata sekasar itu. Kontan suara geram dan teriakan gusar bergema dari empat penjuru, tampak empat lelaki berwajah bengis dengan senjata gada bergigi serigala langsung merangsek maju, gerak-geriknya buas dan menyeramkan, seakan setan iblis yang datang dari neraka saja.
“Kongcu, hati-hati, terutama dengan senjata gada pengait sukmanya, mereka adalah Im-san- su-kui (empat setan dari lm-san)!” seru Leng Bang memperingatkan. “Hahaha, bagus, bagus sekali! Kalau begitu biar Toaya mengubah kalian jadi setan betulan!” Selesai berkata dia segera menyelinap maju dan mengayunkan sepasang tangannya berulang kali. “Blam” “Ah…” Hancuran daging beterbangan ke angkasa, percikan darah segar menganak sungai. Betul-betul sebuah pukulan maut yang sangat mematikan. Seketika itu juga semua orang menahan napas karena terkena tekanan udara yang sangat panas. Hawa napsu membunuh benar-benar sudah berkobar dalam hati Cau-ji, dia lolos pedang pembunuh naga, “Criiing!” Begitu pedang itu terhunus, cahaya tajam pun memancar ke empat penjuru.
56 Sambil mengangkat tinggi pedangnya, kembali pemuda itu berseru, “Para Suhu Siau-lim yang tertimpa musibah, roh kalian tak akan buyar di alam baka, hari ini saksikan bagaimana cara Wanpwe membalaskan dendam sakit hati kalian. Lihat pedang!” Terlihat sekilas cahaya terang melesat ke tengah gerombolan orang-orang Jit-seng-kau, jeritan ngeri yang memilukan pun bergema. Cahaya tajam memancar sampai beberapa kaki jauhnya dan lambat-laun membentuk sebuah jaring pedang yang bergeser mengikuti gerakan tubuh Cau-ji, di mana pemuda itu bergeser, di sanalah terjadi pembantaian besar-besaran. Kawanan jago Jit-seng-kau serentak mengayun senjata masing-masing melakukan perlawanan, serangan maut hampir semuanya ditujukan ke tubuh Cau-ji. Sayang senjata yang mereka hadapi adalah pedang pembunuh naga yang amat tajam dan luar biasa, apalagi Cau-ji telah mengerahkan segenap tenaga dalamnya, bisa dibayangkan betapa dahsyat dan mematikan serangan itu. Terdengar jeritan ngeri yang memilukan bergema silih berganti. Tampak hancuran daging berserakan di mana-mana, darah segar pun menggenangi permukaan tanah, keadaan waktu itu benar-benar sangat mengerikan. Apalagi mendekati senja, suasana di seputar bukit terasa lebih menyeramkan. Pertarungan semacam ini boleh dibilang bukan pertarungan antara manusia melawan manusia, lebih cocok kalau dibilang pertarungan antara petugas pencabut nyawa dari neraka dengan manusia, karena setiap kali Cau-ji mengayunkan pedangnya, paling tidak ada lima orang musuh yang mati secara mengenaskan. Sedangkan tangan kirinya setiap kali diayunkan, pasti ada tiga orang lawan bersimbah darah. Pertarungan kali ini benar-benar sebuah pertarungan yang tidak seimbang.
Kawanan jago Jit-seng-kau yang sudah banyak melakukan kejahatan ini benar-benar mendapat pembalasan yang setimbal, lapangan di depan biara suci Siau-lim pun kini berubah jadi tempat pembantaian yang paling mengerikan. Menyaksikan semua itu, kawanan padri Siau-lim hanya bisa memejamkan mata sambil membaca doa. Bahkan Leng Bang yang sepanjang hidupnya malang melintang di dunia persilatan, bahkan entah sudah berapa banyak pertarungan yang dialami, belum pernah menyaksikan adegan mengerikan seperti saat ini. Dengan wajah serius dia mengawasi ilmu silat Cau-ji yang begitu mengerikan. Setelah melalui sebuah pembantaian yang sadis, tak sampai satu jam kemudian ratusan orang lelaki berbaju hitam itu telah hancur dan punah, tumpukan mayat pun membukit di tengah lapangan. Cau-ji memandang sekejap sekeliling tempat itu, kemudian sambil menghembuskan napas lega dia sarungkan kembali pedangnnya, kepada It-ci Taysu ujarnya perlahan, “Taysu, sekujur badan Wanpwe sudah basah oleh darah, tak baik bagiku untuk masuk lagi ke dalam biara, selamat tinggal!” Perkataan itu seketika menyadarkan kembali It-ci Taysu dari lamunannya, cepat ujarnya, “Siausicu, kau telah membantu biara kami lolos dari pembantaian, mana boleh kau pergi begitu saja?” “Lagi pula sejak semalam biara kami sudah dinodai ceceran darah, tempat ini sudah tidak pantang lagi menerima orang yang berdarah, bila Siausicu berlalu begitu saja, bagaimana cara Lolap memberikan pertanggung-jawaban terhadap Ciangbunjin?” Pada saat itulah terdengar seseorang berseru memuji keagungan sang Buddha. Dengan girang It-ci Taysu segera berseru, “Siausicu, Ciangbunjin kami telah keluar!” Benar saja, diiringi empat Hwesio cilik, Goan-tong Taysu telah muncul dari balik pintu gerbang. Setelah semua orang memberi hormat, terdengar Goan-tong Taysu berkata dengan penuh rasa terima kasih, “Omitohud, kehadiran Sicu berdua bukan saja telah mengantar obat mujarab, bahkan membantu juga biara kami terhindar dari pembantaian, budi kebaikan ini sungguh luar biasa, terimalah salam terima kasihku mewakili seluruh anggota biara.” Habis berkata, dia menjura.
57 Tergopoh-gopoh Cau-ji balas memberi hormat, serunya, “Ciangbunjin kelewat sungkan, Jitseng- kau sudah terlalu sering melakukan kajahatan, perbuatan mereka dikutuk setiap orang, sudah menjadi kewajibanku membantainya. “Ciangbunjin, yang Wanpwe kuatirkan justru bila Jit-seng-kau sengaja membagi pasukannya jadi dua rombongan, satu rombongan menyerang kemari sedang pasukan yang lain memanfaatkan kesempatan ini menyergap gedung Liong-ing-hong. Oleh sebab itu Wanpwe ingin mohon diri terlebih dulu, biar lain kali berkunjung lagi!” “Kalau memang begitu, Pinceng akan mengantar Sicu berdua!” ucap Goan-tong Taysu. “Tidak berani.” Di tengah bunyi genta yang bertalu-talu, Cau-ji berdua menuruni bukit Siong-san dan langsung menuju ke kota Lok-yang dengan kecepatan tinggi. Menjelang malam, kedua orang itu sudah tiba di kota Lok-yang, tampak rakyat di kota itu menunjukkan wajah panik bercampur cemas, seolah suatu bencana besar telah terjadi. Sekilas firasat tak baik segera melintas dalam hati kedua orang itu. “Minggir!” bentak Cau-ji dengan suara keras. Suara bentakan yang menggelegar ini kontan membuat penduduk kota ketakutan, buru-buru mereka menyingkir ke samping memberi jalan lewat untuk Cau-ji- Belum tiba di depan gedung Liong-ing-hong, Cau-ji berdua sudah melihat pintu gerbang gedung itu telah dikepung dua puluhan manusia berbaju hitam, sementara darah berceceran membasahi lantai, sudah ada belasan orang penjaga yang tergeletak tak bergerak. Betapa gusarnya Cau-ji menyaksikan jago-jago Jit-seng-kau benar-benar telah melakukan penyerangan di Liong-ing-hong, bahkan petugas negara pun dibantai tanpa ampun. Sambil membentak nyaring dia melompat turun dari punggung kudanya dan langsung menerkam ke depan. Leng Bang pun sangat menguatirkan keselamatan junjungannya, dengan gerakan cepat dia menerjang pula ke depan. Begitu mendengar ada suara derap kaki kuda yang bergerak mendekat, kawanan manusia berbaju hitam segera melakukan pengepungan dengan ketat, maka begitu Cau-ji berdua menerjang ke depan, serentak lemparan Am-gi dan pukulan dahsyat dilontarkan berbarengan. Cau-ji mengayunkan telapak tangannya berulang kali, begitu berhasil merontokkan sambitan senjata rahasia dan memunahkan angin pukulan, segera hardiknya, “Siapa berani menghalangi aku, mampus!” Sepasang tangannya melontarkan pukulan berulang kali. “Aduuuh..” di tengah jeritan ngeri, ada tiga lelaki berbaju hitam yang mencelat dengan tubuh hancur. “Manusia penghancur mayat!” entah siapa yang menjerit kaget lebih dulu, serentak kawanan manusia berbaju hitam itu mundur sejauh beberapa langkah. Sambil mencabut pedang pembunuh naganya, kembali Cau-ji membentak, “Cianpwe, kuserahkan tempat ini kepadamu!” Selesai berkata, pedangnya dibabatkan kian kemari membuka sebuah jalan tembus dan langsung menuju ke arah pintu gerbang. Dalam waktu singkat lagi-lagi ada empat lelaki berbaju hitam yang dibabat hingga hancur berkeping. Ketika tiba di halaman tengah, ia saksikan ada enam lelaki berbaju hitam bersenjatakan pentungan langsung melancarkan serangan ke tubuhnya.
“Bangsat, cari mampus!” teriak Cau-ji gusar. Dia sambut datangnya serangan itu dengan babatan pedang. Tak sampai tiga gebrakan, keenam orang itu kembali dibabat mampus. Kegaduhan segera melanda seluruh halaman. Menggunakan kesempatan itu Cau-ji memeriksa sekejap keadaan sekeliling sana. Tampak dua bersaudara Suto telah terkepung oleh delapan belas lelaki bersenjatakan pedang, walaupun tidak menunjukkan tanda bakal kalah, namun peluh telah membasahi tubuh mereka, jelas kedua gadis ini gagal untuk meloloskan diri dari kepungan.
58 Sementara Siang Ci-liong dan Siang Ci-ing dikepung juga oleh delapan belas jago berpedang, tubuh mereka pun telah basah kuyup oleh keringat, tampak sekali mereka sudah sangat kepayahan.
Sebaliknya tiga bersaudara Cu dengan mengembangkan barisan Sam-cay-tin bertarung melawan delapan belas jago berpedang lainnya, posisi mereka tampak berada di atas angin. Chin Tong dengan mengandalkan sepasang telapak tangannya melayani serbuan lawan yang bertubi-tubi, wajahnya sama sekali tak nampak jeri. Selain itu terdapat pula belasan muda-mudi bersenjatakan pedang mati-matian mempertahankan pintu masuk menuju ke ruang utama. Di samping itu terdapat pula dua puluhan kakek berbaju hitam yang berdiri di sisi arena dengan senyuman dingin dikulum, tapi sejak kemunculan Cau-ji, wajah mereka segera menunjukkan perasaan kaget bercampur panik. Tidak menunggu pihak musuh maju menyerang, Cau-ji sudah menerjang maju lebih dulu ke arah Siang Ci-Jiong bersaudara yang terkurung, belum lagi tubuhnya sampai, pedang pembunuh naganya bagaikan jaring pedang telah membacok tiba lebih dahulu. Dua puluh lelaki yang menerjang lebih duluan tak sempat menghindar, seketika tubuh mereka terbacok. Dua puluhan kakek berbaju hitam lainnya segera mengerang gusar, serentak mereka menyerbu maju. Menggunakan kesempatan yang amat singkat inilah Cau-ji kembali berhasil melampaui tiga lelaki. Kehadiran Cau-ji seketika membuat semangat Siang Ci-liong kakak-beradik makin berkobar, begitu tekanan berkurang, mereka pun mundur ke arah pintu ruangan. Cau-ji betul-betul memamerkan kehebatannya, pukulan dan ayunan pedang bergerak silih berganti, dia sambut datangnya serbuan dari dua-tiga puluhan jago Jit-seng-kau dengan gagah perkasa. Sesungguhnya dua-tiga puluhan jago itu merupakan jago-jago pilihan berilmu tinggi, tapi sayang musuh mereka adalah Cau-ji, ditambah lagi mereka sudah dibuat keder terlebih dahulu akan kehebatan ilmu silat “Manusia penghancur mayat”, jadi sebelum bertarung kekuatan mereka sudah jauh terpengaruh. Cau-ji tidak berpikir panjang lagi, setiap kali melancarkan serangan, dia selalu menggempur dengan sepenuh tenaga, hatinya tidak menjadi lunak hanya dikarenakan suara jeritan ngeri dari korbannya. Sepeminuman teh kemudian situasi di tengah arena telah terjadi perubahan besar, pihak Jit- seng-kau telah berada di posisi bawah angin. Kembali angin pukulan menggelegar, hawa pedang menyayat badan. Hancuran daging dan potongan badan berhamburan ke mana-mana, darah segar bercucuran membasahi seluruh tanah. Dari dua-tiga puluhan kakek berbaju hitam itu, kini tersisa lima orang saja yang masih hidup. Kesombongan dan kejumawaan mereka saat ini sudah lenyap tak berbekas, sebagai gantinya perasaan ngeri, takut, dan kaget mencekam hati mereka, kini orang-orang itu sudah tak memiliki kekuatan lagi untuk melakukan perlawanan. Cau-ji seakan sudah lupa diri, serangan demi serangan dilancarkan makin gencar dan menggila, terhadap sambitan Am-gi maupun pukulan yang tertuju ke arahnya dia seakan tidak merasa dan tidak melihatnya, karena dia berpendapat, bagaimanapun juga keselamatan tubuhnya sudah terlindung oleh hawa murni Im-yang-khi-kang. Kawanan berbaju hitam itu semakin ketakutan, apalagi menyaksikan anak muda itu bukan saja melancarkan serangan dengan kecepatan bagaikan sambaran petir, bahkan tubuhnya seolah kebal terhadap sambitan senjata rahasia maupun angin pukulan. Entah siapa yang berteriak duluan, “Kabur!” tak lama kemudian keempat-lima puluhan jago Jit- seng-kau yang tersisa sudah melarikan diri dari situ. Cau-ji membentak gusar, sambil menghadang di depan pintu gerbang, serangan pedang dan pukulannya dilontarkan berulang kali.
59 Waktu itu yang berada dalam benak kawanan berbaju hitam itu hanya melarikan diri dari tempat pembantaian, begitu ada kesempatan menerobos, segera mereka gunakan dengan sebaik- baiknya.
Tak selang beberapa saat kemudian, kecuali dua puluhan jago yang termasuk golongan agak lemah, sisanya sudah habis melarikan diri dari situ. Bahkan delapan-sembilan orang yang sedang bertarung melawan Leng Bang di depan pintu pun ikut kabur terbirit-birit. Seakan baru terbebas dari beban berat, Siang Ci-liong berdua segera berjalan menghampiri Cau-ji. Dua bersaudara Suto serta Siang Ci-ing seakan baru bertemu dengan kekasih yang sudah berpisah lama, serentak berlari dan menubruk ke dalam pelukan Cau-ji sambil berseru, “Adik Cau!” Pada saat itulah mendadak dari balik semak di sisi kanan tembok terdengar seseorang menjerit kaget, “Ternyata dia!” Satu ingatan segera melintas dalam benak Cau-ji, tanpa banyak pikir lagi pedang pembunuh naga yang berada dalam genggaman tangan kanannya langsung dilontarkan ke depan. Sementara ketiga gadis itu tergopoh-gopoh menghentikan langkahnya setelah menyaksikan kejadian ini. Sesosok bayangan orang segera menyelinap keluar dari balik kerumunan semak seraya berseru, “Kongcu, aku Siau-hong!” Pedang pembunuh naga yang sudah dilontarkan ke arah semak itu seakan memiliki kekuatan yang terkendali, tiba-tiba saja sebelum mengenai tubuh orang itu, gerakan pedang telah berputar arah dan meluncur balik ke tangan Cau-ji. Dengan satu gerakan, Cau-ji menangkap kembali senjatanya kemudian disarungkan. Tampak Siau-hong yang berpakaian serba hitam segera menjatuhkan diri berlutut di hadapan Cau-ji sambil teriaknya kegirangan, “Budak menjumpai Kongcu!” Cau-ji segera maju membangunkan dayang itu, tegurnya sambil tertawa, “Siau-hong, mengapa secara tiba-tiba kau datang kemari? Dari mana kau bisa mengenali aku?” Sambil melepaskan topeng yang dikenakan dan tampil dengan wajah aslinya, sahut Siau-hong kegirangan, “Kongcu, Im-congkoan yang memberitahukan nama besarmu kepada budak, ia berpesan agar budak mengikuti mereka datang kemari mencarimu!” Mendengar itu, Cau-ji jadi amat terperanjat, buru-buru tanyanya, “Siau-hong, apakah di Jit- seng-lau sudah terjadi sesuatu?” Sebagaimana diketahui, Im Jit-koh sama sekali tidak mengetahui identitas Cau-ji dan Bwe Si-jin yang sebenarnya, bila Im Jit-koh tahu akan nama Cau-ji, berarti Bwe Si-jin yang memberitahukan kepadanya, hal ini menunjukkan pula kalau ia sedang menghadapi ancaman bahaya. Ternyata dugaannya tak salah, terdengar Siau-hong menyahut, “Kongcu, Bwe-cianpwe telah ditangkap!” Berubah paras muka Cau-ji, sambil mencengkeram bahu Siau-hong, serunya tanpa sadar, “Sungguh?” “Be … benar ….” Siau-hong mengangguk sambil menahan rasa sakit di bahunya. “Adik Cau, tak usah emosi,” buru-buru Suto Si menghibur. Teguran itu segera menyadarkan Cau-ji, melihat Siau-hong sudah dibuat ketakutan hingga bermandikan peluh dingin, buru-buru dia kendorkan tangannya dan berkata dengan nada minta maaf, “Siau-hong, maaf! Mari kita berbicara di dalam.” Sambil berkata ia menyapa semua orang, lalu mengajak dua bersaudara Suto dan Siau-hong masuk ke dalam ruangan.
Ternyata semenjak Cau-ji mengajak Suto bersaudara pergi meninggalkan Jit-seng-lau, para jago Jit-seng-kau yang dibuat heboh akan kemunculan Manusia pelumat mayat pun berbondong- bondong mendatangi rumah makan itu. Untuk menampung kedatangan kawanan jago, terpaksa Im Jit-koh menyiapkan kamar di seluruh rumah penginapan yang ada di kota itu dan menyebar semua kekuatan yang ada di seluruh kota.
60 Bwe Si-jin dengan status sebagai He Hau-ti didampingi Im Jit-kou pun mengadakan pesta perjamuan untuk menyambut kedatangan para Hiocu Jit-seng-kau. Berhubung Im Jit-koh mempunyai pergaulan luas dan supel orangnya, boleh dibilang dia sangat mengenali setiap Hiocu yang hadir, karena itulah penyaruan Bwe Si-jin tidak terbongkar. Sekalipun begitu diam-diam ia merasa terkejut juga oleh kehebatan dan begitu kuatnya kawanan jago di bawah pimpinan Su Kiau-kiau. Jangan dilihat orang-orang itu hanya seorang Hiocu dalam perkumpulan Jit-seng-kau, padahal kebanyakan merupakan tokoh silat yang mempunyai asal-usul luar biasa, kalau bukan seorang jagoan di suatu daerah, paling tidak merupakan seorang jagoan yang punya nama besar di dunia persilatan. Apalagi setelah partai-partai besar melancarkan pembersihan secara besar-besaran, kebanyakan jagoan dari kalangan Hek-to kabur dan bergabung dengan perkumpulan Jit-seng-kau, hal ini membuat kekuatan perkumpulan ini jadi semakin berkembang. Sore itu, baru saja Bwe Si-jin selesai bersemedi dan sedang putar otak mencari akal bagaimana caranya menghimpun seluruh kekuatan partai besar untuk bersama-sama menumpas kekuatan Jit- seng-kau, mendadak terdengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. la tahu orang itu pasti Im Jit-koh, karenanya ia segera bangkit untuk membukakan pintu.
Siapa tahu begitu pintu kamar dibuka, tampak Im Jit-koh sedang berdiri hormat di sisi kiri seorang perempuan cantik setengah umur yang tampak begitu matang dan genit. Kenyataan ini membuatnya tertegun. Terdengar nyonya cantik setengah baya itu menyapa sambil tertawa genit, “Hek tua, kau tak menyangka aku bakal kemari bukan?” Begitu bertemu nyonya cantik setengah umur itu, Bwe Si-jin segera mengenalinya sebagai adik seperguruan sendiri, yakni wakil ketua perkumpulan Jit-seng-kau saat ini, Ni Ceng-hiang, tak urung tertegun juga dibuatnya. Begitu mendengar rayuan genitnya, dia segera sadar kalau perempuan ini memang Ni Ceng- hiang, buru-buru katanya dengan hormat, “Ooh, rupanya wakil ketua, silakan masuk!” Ni Ceng-hiang segera berpaling ke arah Im Jit-koh sambil mengangguk, tanpa banyak bicara Im Jit-koh segera mengundurkan diri dari sana.
Baru saja Bwe Si-jin menutup pintu, terdengar Ni Ceng-hiang telah berseru sambil tertawa jalang, “Hek tua, tak aneh kalau kau enggan meninggalkan tempat ini!” Habis berkata dia pun langsung menduduki bangku “Biau-biau-ki”. Bukan hanya duduk, bahkan perempuan itu segera membuka pahanya lebar-lebar sambil memperlihatkan gaya menantang. Menyaksikan itu, kontan Bwe Si-jin terangsang, pikirnya, “Benar-benar tak kusangka kalau perempuan iblis ini begini merangsang!” Satu ingatan segera melintas, pikirnya lagi dengan perasaan terperanjat, “Celaka, kelihatannya di masa lalu Hek Hau-ti sering bermain serong dengan perempuan iblis ini, berarti hari ini aku tak bisa lolos dari cengkeramannya, satu pertempuran ranjang pasti akan berlangsung amat seru.“ “Lebih celaka lagi begitu aku bugil, maka segala sesuatunya tak bisa disembunyikan lagi, andaikata barang Hek Hau-ti tidak sepanjang dan sebesar milikku, urusan bisa berabe!” Biarpun hatinya sangat gelisah, namun penampilannya tetap penuh senyum cabul, sembari menghampiri perempuan itu dia rangkul bahu kanannya sembari membelai dengan penuh rayuan. Di sinilah letak kepintarannya, sebab dia hingga kini tak tahu bagaimana kedua orang itu saling menyebut di masa lalu, karenanya dia menggantikannya dengan suara tertawa. Tampak Ni Ceng-hiang menggeliat geli dan berseru sambil tertawa jalang, “Ah … engkoh Ti, memang kau belum puas dengan permainanmu di sini? Masa baru bertemu tanganmu sudah begitu jahil?” Betapa lega Bwe Si-jin mendengar perkataan itu, katanya lagi sambil tertawa terkekeh, “Adik Hiang, siapa suruh wajahmu merangsang napsu birahi orang?” Sambil berkata tangannya langsung dimasukkan ke balik baju dan mulai meremas sepasang payudaranya. Ni Ceng-hiang tertawa geli, tubuhnya menggeliat kian kemari sambil tertawa senang.
61 Diam-diam Bwe Si-jin memperhatikan perubahan mimik wajah perempuan itu, melihat ia sama sekali tidak curiga, sadarlah dia kalau di masa lalu perempuan ini memang paling suka serangan ganas semacam ini. Maka tanpa sungkan lagi dia langsung melepas kancing bajunya dan membetot pakaian dalamnya dengan kasar. “Breeeet…!”, pakaian dalamnya yang terbuat dari bahan mahal itu langsung robek dan terlepas, sepasang payudaranya yang montok berisi pun langsung melompat keluar. Ni Ceng-hiang sama sekali tak mengira kalau dia menunjukkan perbuatan sebuas dan sekasar itu, jeritnya tertahan, “Kau..“ Belum selesai dia bicara, tiba-tiba Bwe Si-jin memeluk badannya lalu mencium bibirnya dengan buas, bukan hanya mencium, dia pun mulai menghisap ujung lidahnya dengan penuh napsu. Ni Ceng-hiang mendesis lirih dan segera balas mencium dengan penuh napsu.
Begitu melihat reaksi yang ditunjukkan perempuan itu, Bwe Si-jin semakin sadar kalau jalan yang ditempuh sudah benar, maka sambil menciuminya dengan buas, tangannya mulai bergerak cepat melucuti semua pakaian yang dikenakan, tak lama kemudian perempuan itu sudah berada dalam keadaan telanjang bulat. Tangannya tak tinggal diam, dari payudara dia mulai menggerayangi seluruh tubuh perempuan itu. Dia tahu selama ini Ni Ceng-hiang pasti selalu berperan sebagai “perempuan yang diperkosa”, karena itu tangannya bukan hanya meremas payudaranya, bahkan mulai memilir puting susunya. Selang beberapa saat kemudian dia mulai menghisap puting susu perempuan itu dan menggigitnya periahan, tak ampun perempuan itu mulai mendesah kenikmatan.
Tangan kanannya tidak tinggal diam, dengan jari telunjuk dan jari tengahnya dia mulai meraba hutan belukar dan menelusuri gua lembab yang sempit dan hangat. “Ah … ooh … engkoh Ti… sejak kapan kau … kau mempelajari jurus semacam ini … aduh … aduh nikmatnya … aduh … sayang … aduh..” Sepeminuman teh kemudian terlihat tubuhnya gemetar keras, Bwe Si-jin segera merasakan jari tangannya terkena cairan lengket yang hangat, tahulah dia kalau perempuan itu sudah mencapai puncaknya. Maka tanpa pikir panjang dia masukkan jari tengahnya ke dalam barisan pencari harta, congkelan demi congkelan seketika membuat tubuh Ni Ceng-hiang mengejang keras dan merintih minta ampun. Bwe Si-jin tahu perempuan ini sangat cabul, tapi memiliki daya tahan yang luar biasa, dalam sekali kerja ia sanggup mencapai puncak belasan kali, maka tak ampun penggalian harta karun pun dilanjutkan makin ganas. Akhirnya secara beruntun dia melepaskan tiga kali dan tergeletak dengan mata sayup dan mulut merintih. Karena kuatir rahasianya terbongkar, begitu Bwe Si-jin selesai melepaskan pakaian sendiri, cepat dia merangkak naik ke atas tubuhnya dan menghujamkan tombak raksasanya langsung ke dalam gua harta. “Aduh mak, nikmat!” keluh perempuan itu, dengan cepat tubuhnya mulai digoyangkan keras. Berulang kali Bwe Si-jin menekan tubuhnya ke bawah, kemudian dia tekan bangku ajaibnya hingga kini berubah jadi sebuah pembaringan datar yang dapat bergoyang tiada hentinya. Berkobarlah pertempuran sengit antara kedua orang itu di atas ranjang bergoyang. Bwe Si-jin tiada hentinya menghisap puting susunya, sementara tubuh bagian bawahnya menggenjot tak ada putusnya. Ni Ceng-hiang segera menjepit pinggang lelaki itu dengan sepasang kakinya sementara pinggulnya bagaikan batu gilingan berputar dan bergoyang terus tiada hentinya, sambil bergoyang dia mendesis tenis menerus. Dalam waktu singkat Bwe Si-jin telah menggenjot hampir tiga ratusan kali, yang membuat perempuan itu melepas tiga kali. Bisiknya kemudian sambil tertawa cabul, “Adik Hiang, sekarang tiba giliranmu!” Sambil berkata dia segera merangkul tubuhnya sambil tiba-tiba berbalik badan, dia biarkan perempuan itu menindihnya dari atas.
62 Setelah Ni Ceng-hiang berada di atas, dia pun kembali menekan tombol di bangku ajaibnya, maka bangku Biau-biau-ki pun balik kembali seperti posisi semula. “Hahaha … permainan yang menarik,” seru Ni Ceng-hiang kegirangan. Sambil berkata dia segera mengaitkan ujung kakinya pada bangku itu, kemudian bergoyang lagi pinggulnya kencang-kencang. Perempuan ini memang tak malu disebut perempuan siluman yang hebat, sekalipun sudah lepas enam kali, namun napsunya masih tetap berkobar. Sejak dulu Bwe Si-jin sudah puluhan kali “bertempur” melawan dia, oleh sebab itu meski harus bertarung sengit, dia sama sekali tidak menunjukkan rasa takut atau ngeri. Kini yang terdengar hanya suara mencicit yang bergema dari bangku kenikmatan. Setiap kali Bwe Si-jin menekan bangkunya, maka punggung bangku akan naik satu tingkat, hingga akhirnya panggung bangku itu membuat kepalanya persis berada sejajar dengan sepasang payudaranya. Dengan mulutnya kembali dia menghisap pusing susu sebelah kanan sementara tangannya meremas puting susu sebelah kiri, begitu asyiknya hingga kerepotan sendiri. Mendapat rangsangan semacam ini, Ni Ceng-hiang makin terangsang, tubuh bagian bawahnya pun menggeliat semakin keras. Jangan dilihat perempuan itu memutar pinggulnya begitu kuat, begitu berat, namun gerakannya sama sekali tidak kalut. Tampak perempuan itu sebentar memutar ke kiri kanan, sebentar lagi membiarkan ujung tombak menggesek dasar liangnya, bahkan terkadang menghisap tombak musuh berulang kali, ia tunjukkan keahlian dan kepiawiannya sebagai seorang jago perang yang sudah banyak pengalaman di medan laga.
Perempuan ini membutuhkan waktu hampir setengah jam lamanya untuk melepas empat kali, dengus napasnya mulai kasar dan terengah-engah, tapi dia masih berusaha mati-matian menggesek bagian bawahnya. Pemandangan saat itu persis seperti seorang pengemis yang sudah puluhan tahun tak pernah makan daging, ketika secara tiba-tiba menemukan sekerat daging, dia pun memakannya dengan lahap, memakannya dengan sepenuh tenaga. Bwe Si-jin sendiri sembari menikmati permainan itu, diam-diam ia mulai berpikir menyusun rencana untuk menghadapi keadaan selanjutnya. Tatkala dia mulai mengendus bau amis yang lamat-lamat memancar keluar dari tubuh perempuan itu, dia tahu Ni Ceng-hiang sudah memasuki tahap yang paling puncak, maka dia pun menghisap lebih kuat lagi. Keringat bercucuran seperti hujan gerimis, bau anyir pun makin lama semakin menebal. Sambil tertawa terkekeh kata Bwe Si-jin kemudian, “Adik Hiang, kau sudah siap merasakan kenikmatan yang luar biasa?” Sambil berkata dia bopong tubuh perempuan itu turun dari bangku ajaibnya kemudian melompat naik ke atas pembaringan. Mula-mula dia baringkan dulu tubuh perempuan itu di tepi pembaringan, kemudian sepasang kakinya diangkat tinggi-tinggi, diletakkan di atas bahu, setelah itu tombaknya langsung dihujamkan ke dalam liang gua yang menganga lebar….
“Plook …!”, suara tusukan bergema diiringi jeritan jalang. “Creeep… creeep suara gesekan makin nyaring, bau amis pun makin menebal. Dalam waktu singkat dia lancarkan tiga ratusan tusukan, membuat perempuan itu bermandikan keringat dan lemas sekujur tubuhnya. Baru saja tubuhnya merinding karena kenikmatan, semburan cairan panas tahu-tahu telah ditembakkan langsung menembus dasar liangnya, hal ini kontan membuat perempuan itu berlinang air mata saking nikmatnya. “Siapa kau sebenarnya …?” ia berbisik. Melihat perempuan itu tak ada maksud permusuhan, diam-diam Bwe Si-jin mengerahkan tenaga dalamnya untuk melindungi badan, sahutnya lembut, “Siau-hiang, masa kau sudah melupakan aku?” 63 Gemetar keras sekujur badan Ni Ceng-hiang sesudah mendengar bisikan itu, sambil membelalakkan matanya lebar-lebar, jeritnya kaget, “Kau … kau … apakah kau engkoh Jin?” Bwe Si-jin menghela napas panjang, sahutnya, “Siau-hiang, Thian memang maha pengasih, akhirnya Siauheng berhasil juga menemukan dirimu!” Habis berkata dia pun berniat menurunkan sepasang kakinya. “Tunggu dulu!” buru-buru Ni Ceng-hiang mencegah, “engkoh Jin, biarlah Siaumoay merasakan kehangatan lebih lama, ai! Sungguh tak disangka setelah berpisah belasan tahun, akhirnya hari ini Siaumoay berhasil menjumpai dirimu lagi!” Habis bicara dia pun menangis tersedu-sedu. Bwe Si-jin tahu, di antara empat gembong iblis, dialah yang wataknya paling baik, sikapnya terhadap dirinya pun paling bersahabat, oleh sebab itu dia berniat menggunakan siasat lelaki tampan untuk menaklukkan wanita.
Terdengar dia berkata lagi setelah menghela napas, “Siau-hiang, tahukah kau berapa besar kekuatan yang harus kugunakan untuk menyingkirkan Hek Hau-ti? Tahukah kau apa tujuanku menyamar sebagai dirinya dan menanti di sini?” Mendengar perkataan itu, Ni Ceng-hiang seketika teringat kembali bagaimana lelaki itu tersekap dalam gua, dia sangka Bwe Si-jin berniat akan membalas dendam kepadanya, tanpa terasa dia meningkatkan kewaspadaan hingga otot tubuhnya ikut mengencang. “Siau-hiang,” kembali Bwe Si-jin berkata lembut, “kalau ingin menagih hutang, haruslah mencari yang berhutang. Aku hanya akan mencari Cicimu serta Su Kiau-kiau untuk membuat perhitungan, sementara dengan dirimu sama sekali tak ada sangkut-pautnya!” Perlahan-lahan Ni Ceng-hiang menghembuskan napas lega, setelah membuyarkan tenaga dalamnya, ia berkata lagi, “Engkoh Jin, kekuatan Jit-seng-kau saat ini ibarat matahari di tengah hari, kau tak boleh telur membentur batu, mencari penyakit buat diri sendiri!” Perlahan-lahan Bwe Si-jin menurunkan kembali sepasang kakinya, kemudian sekali lagi dia bopong tubuh perempuan itu menuju ke bangku ajaibnya.
“Siau-hiang, kau pasti pernah mendengar tentang Manusia pelumat mayat bukan?” katanya lembut.
Tak terlukiskan rasa kaget Ni Ceng-hiang mendengar pertanyaan itu. “Engkoh Jin, jadi kaulah Manusia pelumat mayat?” tanyanya gemetar. Cepat Bwe Si-jin menggeleng, sahutnya sambil tersenyum, “Mana mungkin aku memiliki kekuatan semacam itu, justru berkat pertolongan dari Manusia pelumat mayat aku berhasil lolos dari dalam gua dengan selamat!” “Benarkah itu?” jerit Ni Ceng-hiang kaget. “Hahaha, Siau-hiang, kau masih ingat peristiwa Ceng Giok-peng yang dimusnahkan di luar kota? Itulah hasil karya Manusia pelumat mayat untuk membalaskan dendam sakit hatiku!” “Engkoh Jin, tahukah kau saat ini Manusia pelumat mayat berada di mana?” tanya Ni Ceng- hiang tegang. “Hahaha, tak usah kuatir Siau-hiang, aku tidak memasukkan namamu dalam daftar hitam, tentu saja dia tak akan mencarimu!” Ni Ceng-hiang menghembuskan napas lega, setelah termenung sejenak, katanya, “Engkoh Jin, biarpun harimau ganas namun tak akan sanggup melawan kerubutan monyet. Mana mungkin Manusia pelumat mayat sanggup menghadapi perkumpulan kita.” Bicara sampai di situ, mendadak ia totok jalan darah kakunya. Mimpi pun Bwe Si-jin tidak menyangka kalau dia bakal turun tangan secara tiba-tiba, dengan perasaan terperanjat jeritnya, “Siau-hiang, kau..” “Engkoh Jin, kau tak usah kuatir,” tukas Ni Ceng-hiang sambil tertawa, “Siaumoay tak akan membocorkan rahasia kehadiranmu kepada siapa pun, aku harap kau bisa berada di sini dengan tenteram.” “Ai … Siau-hiang, kau kelewat bodoh, cepat bebaskan totokan jalan darahku!” “Engkoh Jin, saat ini Jit-seng-kau sudah terwujud sebagai kekuatan luar biasa, tak seorang pun dapat menghalanginya, ketika Jit-seng-kau berhasil menguasai seluruh dunia nanti, Siaumoay pasti akan hidup bahagia denganmu.” “Siau-hiang, kau jangan pandang enteng kekuatan sembilan partai besar” 64 “Hahaha, sembilan partai besar sedang kerepotan dengan masalah rumah tangga sendiri, tak sampai tiga bulan kemudian mereka bakal musnah dengan sendirinya, engkoh Jin, tunggulah dengan sabar, tak sampai sepekan, biara Siau-lim pasti akan musnah!” Bicara sampai di situ, kembali tangannya menabok beberapa tempat di tubuhnya. “Siau-hiang, kau sumbat seluruh tenaga dalamku?” jerit Bwe Si-jin terkesiap. “Hehehe, engkoh Jin, hiduplah bersenang-senang di tempat ini, urusan lain kau tak periu memikirkan lagi!” 0oo0 Ternyata memang tak salah, malam itu ketika Bwe Si-jin sedang menemani Ni Ceng-hiang minum arak, Im Jit-koh masuk ke dalam ruangan dan berkata dengan hormat, “Lapor Hu-kaucu, orang-orang itu sudah berangkat!” Dengan bangga Ni Ceng-hiang mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. Menggunakan kesempatan itu Bwe Si-jin segera mengedipkan mata berulang kali ke arah Im Jit-koh. Tertegun juga Im Jit-koh melihat hal itu, bukankah mereka berdua berbicara dengan riang gembira, mengapa Bwe Si-jin memberi tanda kepadanya? “Jit-koh, mari duduklah kemari dan minum beberapa cawan dulu,” buru-buru Bwe Si-jin berkata lagi sambil tertawa. “Tidak usah, hamba masih ada pekerjaan penting yang harus diselesaikan,” jawab Im Jit-koh cepat. Seusai berkata dia segera memberi hormat dan cepat berlalu dari situ. “Engkoh Jin,” ujar Ni Ceng-hiang kemudian sambil berhenti tertawa, “tunggulah kabar baik bagaimana biara Siau-lim musnah dari muka bumi.” Walaupun dalam hati merasa terperanjat, namun dalam penampilan dia tetap tertawa, sahutnya sambil mengangkat cawan, “Semoga saja begitu!” Habis berkata, ia pun meneguk habis isi cawannya. Ni Ceng-hiang ikut meneguk habis isi cawannya, kemudian tertawa lagi. 0oo0 Siapa tahu, tengah hari ketiga, masuk kabar yang memberitahukan bahwa Manusia pelumat mayat telah beraksi kembali di depan rumah makan Ui-hok-lau. Mendapat laporan itu, cepat Ni Ceng-hiang meninggalkan ruangan untuk melakukan penyelidikan lebih jauh.
Selang beberapa saat kemudian tampak Im Jit-koh menyelinap masuk ke dalam kamar dan bertanya dengan lirih, “Tongcu, apa yang telah terjadi?” “Jit-koh,” sahut Bwe Si-jin cepat, “cepat utus Siau-hong untuk mencari adikku, Kaucu telah menaruh curiga kepada kita, kini ilmu silat Lohu sudah ditotok olehnya, jadi kau sendiri pun harus lebih berhati-hati!” “Benarkah itu?” tanya Im Jit-koh dengan wajah berubah. Bwe Si-jin manggut-manggut. “Tak bakal salah! Lebih baik cepatlah suruh Siau-hong mencari seorang Kongcu yang menggunakan nama Yu Si-bun atau Ong Bu-cau!” “Baik! Aku segera laksanakan!” Bercerita sampai di sini, kembali Siau-hong menambahkan, “Ni-hukaucu segera mengutus jago- jago lihai partainya datang kemari setelah mendapat kabar kalau Cicinya tewas di tangan Kongcu, dengan menyelinap di antara merekalah budak berhasil tiba di tempat ini!” Cau-ji termenung sambil berpikir sejenak, kemudian ujarnya, “Siau-hong, terima kasih banyak atas laporanmu, selama ini pasti sudah menyusahkan dirimu!” “Kongcu, ah salah, Tongcu,” ujar Siau-hong dengan hormat, “semua ini merupakan tugas budak, lagi pula kau telah membantu Siaumoay melepaskan iblis keji (Ciangkwe Jit-seng-ciu-lau) itu!” “Siau-hong, siapa yang memberitahukan hal ini kepadamu?” tanya Cau-ji keheranan.
65 ”Tongcu, budaklah yang mengetahui sendiri rahasia ini, karena waktu itu kebetulan budak sedang mencari iblis itu.” Habis berkata dia segera menjatuhkan diri berlutut. Cepat Cau-ji membangunkannya dan berkata, “Siau-hong, aku tahu nasib dan pengalamanmu sangat tragis, itulah sebabnya kubantai bajingan itu, masalah ini tak perlu kau pikirkan.” Kemudian setelah berhenti sejenak, katanya pula kepada dua bersaudara Suto, “Cici, Bwe- toasiok menjumpai masalah besar, bagaimana cara kita menolongnya?” Dengan penuh keyakinan sahut Suto Si, “Adik Cau, menurut apa yang dituturkan Siau-hong tadi, tampaknya Ni Ceng-hiang tidak berniat mencelakai jiwa Bwe-toasiok, jadi kita pun tak usah kelewat tegang dan panik!” “Saat ini kekuatan Jit-seng-kau sedang berada dalam puncaknya, bila kita harus bertarung sendiri, rasanya sulit untuk menghadapi mereka, jadi ada baiknya kita himpun dulu kekuatan dari berbagai partai besar, baru serentak kita serbu markas Jit-seng-kau dan membantainya hingga punah!” “Adik Cau,” ujar Suto Bun pula, “bila perlu, kita bisa bergabung dengan Cu bersaudara ….” “Jangan, kita tak boleh berbuat begitu,” tukas Cau-ji sambil menggeleng, “Siaute putuskan akan membekuk raja penyamun sebelum menghabisi kaum bandit, asalkan Su Kiau-kiau berhasil kita bantai, maka antek-anteknya akan lebih mudah dihabisi.” “Mengenai menjalin kontak dengan partai-partai besar, aku rasa biarlah pihak Siau-lim yang menyelesaikan urusan ini, dengan menyelinap ke dalam tubuh perkumpulan Jit-seng-kau, bukan saja setiap saat Siaute dapat mengawasi gerak-gerik mereka, bila ada kesempatan akan kubekuk Su Kiau-kiau.” “Apa? Adik cau, kau ingin menyusup ke dalam perkumpulan Jit-seng-kau?” jerit Suto bersaudara kaget. “Benar! Kalau tidak memasuki sarang harimau, dari mana bisa mendapatkan anak macan? Lagi pula Siaute menyusup ke dalam perkumpulan mereka dengan meminjam identitas keluarga Hek, ditambah lagi kepandaian yang kumiliki, rasanya tidak menjadi masalah untuk menjaga keselamatan sendiri!” Suto bersaudara tahu apa yang telah diputuskan sulit untuk diubah lagi, karena itu mereka pun membungkam dan tidak bicara lagi. Sambil tersenyum kata Cau-ji lagi, “Cici, untuk sementara waktu lebih baik kalian berdiam di sini saja sambil membantu enci Ing, waktu para jago dari berbagai partai besar telah berkumpul, saat itulah kita akan berkumpul kembali. Nah, sekarang biar Siaute menjumpai saudara Siang sekalian lebih dahulu.” Habis berkata, cepat dia tinggalkan ruangan itu. Sepeninggal anak muda itu, dua bersaudara Suto saling pandang sekejap, tiba-tiba air mata jatuh berlinang. Melihat itu, dengan keheranan Siau-hong bertanya, “Cici, mengapa kalian bersedih?” Setelah menyeka air mata, perlahan-lahan Suto Si menceritakan asal-usul Cau-ji serta kejadian mengenaskan yang pernah mereka berdua alami. Dalam pada itu Cau-ji telah memasuki ruang tengah, di sana ia jumpai para jago sedang berbincang sambil tertawa, maka sembari tersenyum, sapanya, “Engkoh Liong, apakah semua urusan telah beres?” “Benar! Adik Cau, silakan duduk,” jawab Siang Ci-liong sambil tersenyum. “Terima kasih!” Menunggu setelah Cau-ji mengambil tempat duduk, Siang Ci-liong baru berkata lagi sambil tertawa, “Ti-hu Tayjin merasa amat gusar dengan tingkah-laku dan sepak terjang Jit-seng-kau yang begitu berani, saat ini beliau telah mengutus orang untuk melaporkan kejadian ini ke kota raja. “Asalkan pihak kerajaan bersedia tampil ke depan, ditambah lagi kerja sama dari berbagai partai besar, aku yakin Jit-seng-kau tak akan bisa menancapkan kaki lagi di dunia persilatan!” Cau-ji segera menggeleng kepala, ujarnya, “Engkoh Liong, sejak zaman kuno hingga kini, umat persilatan tak pernah berhubungan dengan pihak kerajaan, aku rasa lebih baik persoalan semacam ini kita selesaikan sendiri saja!” 66 “Kongcu,” ujar Cu Bi-ih serius, “demi melenyapkan lotere Tay-ke-lok yang sudah mewabah ke seantero negeri, pihak kerajaan pernah bekerja-sama dengan umat persilatan untuk menumpasnya, kenapa kita mesti bersikukuh dengan segala peraturan?” “Nona,” sahut Cau-ji sambil tertawa, “Cayhe tak lebih hanya seorang bocah kemarin sore yang tak punya nama, biarlah persoalan besar semacam ini diputuskan pihak partai besar saja, sementara Cayhe tak lebih hanya mengemukakan pendapat pribadi!” Setelah berhenti sejenak, kembali ujarnya kepada Siang Ci-liong, “Engkoh Liong, apa rencanamu pribadi untuk masa depan?” “Jit-seng-kau sudah kelewat banyak melakukan kejahatan, cara mereka bertindak pun kelewat buas dan keji, aku sudah bertekad untuk sementara waktu menghentikan semua usaha perdaganganku, selama Jit-seng-kau belum dimusnahkan, Liong-ing-hong pun tak akan membuka usaha kembali!” Jawaban Siang Ci-liong ini disampaikan secara tegas dan bersungguh-sungguh. “Luar biasa!” puji Cau-ji dengan rasa hormat, “nah, begitulah baru pantas jadi engkoh Liong!” “Adik Cau, kau sendiri ada rencana apa?” tiba-tiba Siang Ci-liong balik bertanya. “Engkoh Liong, Siaute bertekad akan menyusup ke dalam perkumpulan Jit-seng-kau, aku ingin mencari kesempatan untuk membunuh Su Kiau-kiau!” Begitu mendengar jawaban itu, seketika itu juga Cu bersaudara serta Siang Ci-ing berubah hebat paras mukanya. Dengan perasaan cemas seru Siang Ci-liong, “Adik Cau, Jit-seng-kau mempunyai begitu banyak jago tangguh, apa tidak terialu berbahaya dengan memasuki sarang macan seorang diri? Apalagi kami masih membutuhkan bantuanmu dalam masalah menyatukan seluruh partai besar!” Cau-ji segera berdiri, sahutnya sambil tertawa nyaring, “Hahaha, kalau tidak memasuki sarang harimau, bagaimana mungkin bisa memperoleh anak macan? Siaute akan menggunakan identitas Hek Hau-wan, seorang yang mempunyai kedudukan sebagai seorang Tongcu untuk menyusup ke dalam Jit-seng-kau, lagi pula aku yakin kungfu yang kumiliki masih lebih dari cukup untuk melindungi diri.” “Mengenai urusan menyatukan partai besar, aku rasa lebih baik kau saja yang minta bantuan pihak Siau-lim untuk menyelesaikan urusan ini, lagi pula kedua orang Suto Cici juga tetap tinggal di sini sambil mengadakan kontak dengan Siaute.” Tanpa terasa semua orang dibuat kagum oleh keberanian anak muda ini. “Betul-betul bernyali!” puji Leng Bang cepat, “coba kalau semua orang mempunyai nyali sebesar dirimu, kita tak usah takut lagi menghadapi Jit-seng-kau!” “Tidak berani!” ujar Cau-ji sambil berdiri, “Wanpwe masih ada urusan yang harus dirundingkan dulu dengan dua bersaudara Suto, maaf kalau harus mohon diri terlebih dahulu, enci Ing, harap ikut Siaute!” Selesai berkata dia segera menjura kepada semua orang. Siang Ci-ing sendiri meski rada malu karena ditunjuk langsung oleh Cau-ji di depan umum, namun rasa malu itu nyaris lenyap oleh perasaan girang yang luar biasa, dengan kepala tertunduk dia segera me-ngintil di belakang anak muda itu. Sebaliknya tiga bersaudara Cu dengan wajah murung segera menundukkan kepala tanpa bicara. Leng Bang maupun Chin Tong adalah orang-orang kawakan, tentu saja mereka tahu kalau Cu bersaudara merasa sedih karena tidak diperhatikan Cau-ji, untuk sesaat mereka pun tak tahu apa yang harus dilakukan.
Beberapa saat kemudian terdengar Cu Bi-ih berkata dengan nada tenang, “Siang-kongcu, Siaumoay mohon diri lebih dulu!” Agaknya Siang Ci-liong merasa sedikit di luar dugaan, tanyanya cepat, “Nona, bukankah tadi kau sudan bersedia makan di sini? Kenapa secara tiba-tiba berubah pikiran?” “Siang-kongcu,” sahut Cu Bi-ih tersenyum, “Siaumoay kuatir gedung kami pun mendapat serangan, jadi ingin pulang untuk menengok keadaan.” “Ah … betul, kenapa aku tak berpikir ke situ? Bagaimana kalau kutemani kalian?” Cu Bi-ih menggeleng.
67 “Masih banyak urusan yang harus diselesaikan di tempat ini! Tak berani aku mengusik Kongcu, maaf Siaumoay mohon diri lebih dulu!” Seusai berkata dia langsung beranjak pergi dari sana. Terbentur paku, terpaksa Siang Ci-liong mengantar tamunya sampai di depan pintu gerbang. Sepeninggal tiga bersaudara Cu dan rombongan, ia hanya bisa mengawasi noda darah dan hancuran daging yang berserakan di halaman rumahnya sambil menggeleng kepala berulang kali. Dia tidak menyangka Liong-ing-hong bakal tertimpa bencana tragis semacam ini. 0oo0.
Bab 5. Ong Sam-kongcu bergelar bangsawan.
Dalam pada itu Cau-ji bersama Siang Ci-ing sembari berbincang berjalan menuju ke dalam kamar, baru saja membuka pintu kamar, ia sudah mendengar suara dua orang yang sedang mandi sambil tertawa cekikikan. Belum sempat mereka buka suara, segera terdengarlah suara Suto Si berseru merdu, “Adik Cau, ayo cepat ikut mandi!” Mendengar itu merah padam wajah Siang Ci-ing, cepat dia mengunci pintu kamar. Ketika masuk ke dalam kamar mandi, ia saksikan di tengah uap panas yang memenuhi ruangan, tampak tiga sosok tubuh bugil sedang berjalan menghampirinya, kontan napsu birahinya menggelora. Ketika ketiga nona itu menyaksikan Siang Ci-ing ikut berada dalam ruangan, kontan mereka jadi jengah. Sambil tertawa tergelak Cau-ji pun berseru, “Bagus, bagus sekali, Siaute memang merasa badan serasa lengket semua, paling enak memang mandi!” Sembari berkata dia pun mulai melucuti pakaian sendiri. Agak tersipu-sipu Siau-hong segera maju menghampiri dan membantunya melepaskan pakaian. Sementara itu Suto Bun telah menghampiri Siang Ci-ing dan membisikkan sesuatu ke telinganya. Tak lama kemudian Siang Ci-ing telah membalikkan badan, lalu dengan kepala tertunduk mulai melepaskan semua pakaian yang dikenakan. Cau-ji malas ikut mengurus bisikan apa yang mereka katakan, sambil meletakkan tangannya di punggung Siau-hong, katanya sambil tertawa, “Siau-hong, kau amat cantik!” Sembari berkata, diawasinya wajah gadis itu lekat-lekat. Kontan Siau-hong merasakan jantungnya berdebar keras, dengan tangan gemetar, sahutnya, “Kongcu, terima kasih atas pujianmu, budak tak lebih hanya seorang perempuan kotor yang sudah sering dinodai orang, bagaimana bisa dibandingkan dengan beberapa nona itu?” Tiba-tiba Cau-ji maju memelukkan, kemudian dengan mesra dan hangat diciumnya nona itu, sementara sepasang tangannya mulai jahil dan menggerayangi seluruh bagian tubuhnya yang paling terlarang.
Ciuman dan gerayangan ini kontan membuat tubuh Siau-hong terasa lemas tak bertenaga, hampir saja ia tak sanggup berdiri tegak. Beberapa saat kemudian Cau-ji baru mengendorkan pelukannya sambil berkata dengan wajah sungguh-sungguh, “Enci Hong, dalam pandangan Siaute, kau tak jauh berbeda seperti enci Ing, enci Si serta enci Bun!” “Kongcu..” saking terharunya Siau-hong mendesis.
“Eeei, enci Hong, kenapa kau tidak mengganti panggilan terhadapku?” tukas Cau-ji cepat. “Kongcu …
ah bukan … adik … adik Cau, aku ….” Belum selesai berkata, dia sudah menangis tersedu-sedu.
Dengan penuh rasa sayang, sekali lagi Cau-ji memeluk tubuhnya dan berkata lembut, “Enci Hong, kegelapan sudah lewat, mulai sekarang kau hanya ada kegembiraan, tak ada air mata, mengerti?” “Terima kasih adik Cau!” buru-buru Siau-hong membesut air matanya. Siapa tahu makin diseka, air mata makin deras meleleh, tentu saja air mata itu air mata terharu.
68 Dengan penuh kasih sayang Cau-ji menjilat air mata nona itu, menjilat sambil meraba bagian sensitif nona itu. Girang bercampur malu buru-buru Siau Hong menyeka air matanya sambil melepaskan diri dari pelukan. Dalam pada itu Suto Si telah selesai melucuti semua pakaian yang dikenakan Cau-ji, katanya lembut, “Adik Cau, kau memang luar biasa, membuat perasaan orang jadi tenteram dan bahagia, kau memang Pousat penebar kenikmatan!” “Omitohud, ucapan Li-sicu kelewat serius, mana berani Siauceng jadi Pousat, mungkin lebih tepat kalau hidup dalam neraka yang penuh kenikmatan duniawi” Kontan para nona tertawa cekikikan. Sambil tertawa para nona pun mulai berebut menyabuni seluruh badan Cau-ji, kemudian menggosoknya dengan handuk basah. Berhadapan dengan empat nona telanjang bulat, kontan napsu birahi Cau-ji bangkit, tanpa sadar tombaknya mulai berdiri tegak, serunya, “Hei nona-nona cantik, apakah kalian sudah membersihkan sayur hijau milik kalian?” “Tidak bisa begitu,” seru Suto Bun cepat, “tubuhmu masih kotor oleh darah dan hancuran daging, harus dicuci dulu sampai bersih, kalau tidak, bagaimana mungkin bau anyir darah bisa hilang?” Mendadak Cau-ji menyambar tubuh gadis itu, memeluknya kemudian tubuh bagian bawahnya menohok ke depan kuat-kuat. “Cluppp …!”, tak ampun tombaknya langsung menembus gua nirwana, sambil memeluk badannya kuat-kuat dia pun mulai menusuknya berulang kali. Suto Bun malu bercampur kegirangan, teriaknya, “Adik Cau, mana boleh kau main serobot?” “Kenapa tak boleh?” sahut Cau-ji sambil memperkuat tusukannya, “peraturan negara nomor berapa yang melarang aku berbuat begini? Enci Si, kalian mandi dulu sampai bersih!” Sambil berkata dia menusukkan tombaknya semakin gencar dan kuat. Menghadapi gempuran daging lawan daging semacam ini, Suto Bun seketika merasakan dasar lubangnya jadi linu, geli dan nikmatnya luar biasa, apalagi setiap kali ujung tombak menghentak dasar lubangnya, seluruh tubuhnya gemetar keras.
Mimpi pun ketiga nona lainnya tak menyangka kalau Cau-ji dapat merancang permainan semacam ini, sembari menggosok tubuhnya, mereka menonton jalannya pertempuran itu. Suto Bun yang ditonton jadi malu setengah mati, protesnya, “Cici, kalian mandilah dulu, tolong jangan menonton saja “Tidak bisa!” sela Cau-ji cepat, “seluruh badan Siaute kotor oleh darah dan daging, harus dibersihkan lebih dulu, kalau tidak, mana mungkin bau amisnya darah bisa hilang?” Suto Bun yang sudah ditusuk berulang kali oleh bocah muda itu segera berusaha meronta untuk berdiri. Tapi dengan cepat Cau-ji menariknya, lalu mulai menghisap puting susu sebelah kirinya. “Aduh … aduh …
adik Cau … jangan begitu..” “Kalau kau bersikap lebih alim, Siaute pun akan lebih alim lagi!” kata Cau-ji sambil melepaskan hisapannya dan tertawa. Merah padam wajah Suto Bun saking malunya, dia pejamkan mata dan tak berani banyak bicara lagi. Terdengar Suto Si berkata sambil tertawa, “Adik Cau, istirahatlah sejenak! Kalau ingin main lagi, tunggu sajalah setelah mencuci bersih badanmu!” Setelah usil beberapa saat, Cau-ji sendiri pun merasakan tubuhnya jauh lebih nyaman dan segar, maka sambil melepaskan pelukannya pada tubuh Suto Bun, ujarnya sambil tertawa, “Enci Bun, maaf!” Merah padam wajah Suto Bun lantaran jengah, cepat dia beranjak pergi untuk membersihkan badan. Ketiga gadis itu segera turun tangan membersihkan tubuh Cau-ji dan menyisir rambutnya. Selesai mandi, kembali Cau-ji melirik sekejap Suto Bun yang masih berdiri di samping dengan malu-malu, mendadak dia sambar lagi tubuh gadis itu lalu membopongnya naik ke atas pembaringan.
69 Terdengar Suto Bun berseru tertahan, dengan wajah jengah cepat dia memejamkan matanya.
Setelah berada di atas ranjang, Cau-ji langsung menindih tubuh gadis itu dan siap menusukkan tombaknya, cepat Suto Bun berbisik, “Adik Cau, biar Cici duluan, hari ini kau bakal amat sibuk!” Selesai bicara dia pun membalikkan badannya dan naik ke atas badan pemuda itu, setelah mengincar tepat sasarannya, dia tekan lubangnya persis di ujung tombak lawan. Kontan tombak panjang itu tertelan bulat-bulat, maka setelah mengambil posisi duduk, dia pun mulai bergoyang ke atas dan ke bawah secara beraturan. Cau-ji mencoba setengah bangkit, tangannya mulai meremas payudara sang nona, sedang mulutnya menghisap puting susu yang lain, hal ini membuat Suto Bun gemetaran saking nikmatnya. “Adik Cau,” teriaknya lirih, “jangan … jangan begitu … Cici takut geli… ah …
aduh..” Terendus bau harum semerbak, ternyata Suto Si telah duduk di samping pembaringan dengan senyum di kulum, katanya lembut, “Adik Cau, jangan permainkan adik Bun!” Seraya berkata dia tekan kembali tubuh Cau-ji hingga berbaring di atas pembaringan. Sambil tertawa Cau-ji segera berseru, “Enci Ing, kemarilah, kau bertugas menghisap puting susunya, sedang enci Hong, kau menjilati punggung!” “Jangan … jangan begitu” teriak Suto Bun cemas, “kalau begitu caranya, aku bisa mati kegelian!” “Kalau ingin mati, marilah kita mati bersama!” tukas Cau-ji sambil tergelak.
Begitu selesai berkata dia langsung memeluk tubuh Suto Si dan mulai menciuminya dengan penuh gairah, sementara tangan kanannya mulai jahil dan menggerayangi seluruh tubuhnya. Sambil tertawa Siang Ci-ing menurut seperti apa yang diperintahkan, dia mulai menghisap dan menggigit puting susu Suto Bun. Sementara Siau Hong pun mulai menjilati punggungnya. Menghadapi serangan gencar dari tiga penjuru, Suto Bun merasakan sekujur badannya linu, kaku dan geli, pelbagai perasaan bercampur aduk, lama-kelamaan dia tak tahan hingga mulai mendesis dan merintih, goyangan tubuhnya pun semakin kencang dan cepat. Dengusan napas makin kencang … rintihan makin keras …. Tak sampai setengah jam kemudian Suto Bun hanya bisa mengertak gigi sambil gemetaran tiada hentinya. Tapi dia pantang menyerah, tubuhnya masih bergoyang terus mati-matian…. Apa daya, pertahanan sekokoh apa pun, serangan musuh jauh lebih hebat, terdengar dia mendesah lirih dan tak kuasa menahan diri lagi. Seketika itu juga Cau-ji merasakan liang surganya gemetar sangat kuat, dia segera tahu kalau gadis itu sudah mencapai puncaknya, maka sambil tertawa serunya, “Enci Ing, sekarang giliranmu!” “Biar adik Si duluan!” sahut Siang Ci-ing malu-malu. Suto Si mencoba melirik sekejap tempat yang diduduki gadis itu, melihat seprei sudah basah kuyup, maka katanya sambil tersenyum, “Enci Ing, kita semua adalah saudara sendiri, tidak masalah siapa duluan.” Habis berkata, dia pun membopong tubuh Suto Bun dan dibaringkan di samping. Dengan wajah tersipu malu Siang Ci-ing pun merangkak naik ke atas tubuh Cau-ji. Siau Hong yang berada di sampingnya segera membantu pemuda itu dengan mengarahkan tombaknya persis ke arah lubang kecil milik Siang Ci-ing, kemudian seninya sambil tertawa, “Sudah pas sekarang, nah bisa dimulai!” Dengan wajah tersipu-sipu malu Siang Ci-ing pun perlahan-lahan menekan tubuhnya ke bawah. Seketika itu juga Cau-ji merasakan mulut guanya begitu kencang menghimpit tombaknya, satu perasaan nikmat yang tak terkirakan pun seketika menyusup ke dalam hatinya. “Enci Hong,” ujarnya kemudian sambil tertawa, “kau hisap teteknya dan enci Si, kau jilati punggungnya!” “Aku … mungkin aku bisa tak tahan” buru-buru Siang Ci-ing berseru dengan wajah memerah. “Tak usah kuatir, bukankah enci Bun pun tidak masalah?” sahut Cau-ji sambil tertawa, “coba lihat, dia malah keenakan setengah mati!” 70 Waktu itu Suto Bun dengan mata terpejam dan senyum di kulum sedang membayangkan kembali masa puncak yang baru dialaminya, ketika mendengar perkataan Cau-ji itu, segera ujarnya sambil tertawa, “Enci Ing, nikmati saja permainan gila itu satu kali, wah … selain tegang, terasa nikmatnya luar biasa.” Cau-ji tertawa terbahak-bahak, sambil menekan badannya lebih keras, serunya, “Ayo, kita mulai!” Siang Ci-ing segera merasakan liang surganya jadi linu dan gatal, tak tahan ia berseru tertahan dan betul saja badannya mulai bergoyang. Dari caranya bergoyang, Suto Si tahu gadis itu masih awam terhadap permainan semacam ini, maka dia pun mulai memegangi pinggangnya dan mengajarnya bagaimana menggoyangkan pinggulnya ke depan, belakang, kiri dan kanan, lalu membantunya pula melakukan gerakan melingkar dan memutar. Dasarnya Siang Ci-ing memang seorang gadis pintar, begitu diberi petunjuk, sesaat kemudian ia sudah dapat melakukan gerakan itu sendiri. Menyaksikan hal ini, Suto Si pun menjadi lega, dia mulai menjilati punggungnya. Siang Ci-ing merasakan seluruh jalan darah di punggungnya terjilat secara merata, hal itu mendatangkan perasaan lega luar biasa. Tanpa disadari gerakan pinggulnya jadi semakin cepat. Waktu itu Siau-hong sedang duduk di tepi pembaringan sambil menghisap puting susu Siang Ci-ing, Cau-ji yang menyaksikan hal itu kontan merangkul pinggangnya dan menariknya ke atas dada sendiri.
Dengan tangan kanan dia mulai menggerayangi sekeliling mulut gua, sedangkan tangan kirinya meremas sepasang payudaranya, hal ini membuat gadis itu menggeliat tiada hentinya. Cau-ji merasakan tombak miliknya dijepit begitu kencang oleh liang milik Siang Ci-ing, bukan saja terjepit kencang, bahkan terasa seperti dihisap kuat-kuat, semua ini membuat tusukannya semakin menggila. Tapi liang kecil itu memang kelewat sempit, semakin dia bergerak cepat, jepitan liang itu semakin mengencang, betul-betul suatu kenikmatan yang tak terbayangkan. Tak kuasa lagi dia masukkan jari kelingkingnya ke dalam liang surga milik Siau-hong. Begitu liang kecilnya tersentuh jari tangan Cau-ji, sebagaimana kebiasaan Siau-hong, segera merasakan ketegangan yang luar biasa, secara otomatis liang miliknya ikut menyusut kencang. Melihat itu buru-buru Cau-ji memindahkan jari tangannya ke tempat lain. Suto Bun yang menyaksikan hal ini segera bangun duduk, dengan lembut dibelainya tubuh Siau-hong, sementara dengan bibirnya yang kecil dia hisap sekujur badannya. Kini Cau-ji tak berani menyentuh Siau-hong lagi, maka konsentrasinya pun dipusatkan untuk mengimbangi goyangan pinggul Siang Ci-ing. Beberapa saat kemudian, Siang Ci-ing merasakan bulu kuduknya berdiri, tanpa sadar dia pun mulai merintih dan mendesis.
Sebagaimana diketahui, perempuan ini memiliki potongan tubuh yang sangat indah, jangan dilihat dia selalu tampil suci dan anggun, tapi begitu naik ranjang, perempuan yang anggun inipun berubah seperti wanita jalang. Coba kalau di sampingnya tidak hadir tiga gadis lain, mungkin sejak tadi dia sudah menjerit keras melampiaskan seluruh birahinya. Kini dia mengubah seluruh birahinya menjadi kekuatan, sekuat tenaga menggoyang pinggulnya mengimbangi tusukan lawan. Dalam keadaan seperti ini, Siau-hong maupun Suto Si sudah tak dapat menjilat dan menghisap pusing susunya lagi, maka mereka bertiga pun sambil tersenyum berdiri di depan pembaringan, menyaksikan pertarungan seru yang sedang terjadi di antara kedua orang ini. Sambil menarik tangan Siau-hong, hibur Suto Bun dengan lembut, “Enci Hong, kau tak usah tegang! Sekalipun senjata milik adik Cau besar, panjang dan kasar, coba kau lihat, bukankah enci Ing pun bisa melayani dengan leluasa?” “Aku tahu!” jawab Siau-hong sambil tertawa getir, “tapi aku tak mampu mengendalikan diri!” Sementara itu Suto Si juga ikut menarik tangannya sambil menghibur, “Enci Hong, tak usah kuatir! Siaumoay pasti akan membantumu!” 71 Mendadak terjadi perubahan besar di atas pembaringan, ternyata sepasang sejoli itu sudah bertukar posisi, kini Cau-ji gantian berada di atas, dia segera menggerakkan tombaknya dan mulai melancarkan tusukan bertubi-tubi. “Plak … plak” bunyi aneh pun berkumandang tiada putusnya dalam ruangan. Siang Ci-ing merasakan tubuhnya mulai melayang di udara, tak tahan lagi dia pun merintih, “Aduuuuh … aduuuh..” Cau-ji merasakan liang gadis itu mulai gemetar keras dan menyusut kencang, tahu kalau lawannya sudah hampir mencapai puncak, dia pun menarik napas dan mulai melancarkan gempuran lagi secara bertubi-tubi. Lima puluh tusukan kemudian, akhirnya Siang Ci-ing menyerah kalah, dia pun tergeletak lemas di atas ranjang. Cau-ji tidak berhenti begitu saja, kembali dia melancarkan lima jurus serangan berantai yang menempel lekat-lekat di dasar liangnya. Segera dirasakan liang gadis itu sebentar mengendor sebentar mengencang, rasanya bagaikan dihisap kuat-kuat, tak terkirakan rasa nikmatnya. “Ooh … nikmat benar!” keluh Siang Ci-ing sambil menghela napas panjang. Selesai berkata, dia secara otomatis menghadiahkan sebuah kecupan mesra di bibir pemuda itu. Tertegun Siau-hong menyaksikan semua adegan syur ini. Sesaat kemudian Siang Ci-ing baru mendorong tubuh Cau-ji agar turun dari atas tubuhnya, lalu katanya, “Adik Cau, adik Hong sedang menunggumu!” Cau-ji tertawa ringan, dia pun merangkak turun dari atas tubuhnya. “Plook!”, tombaknya langsung dicabut, air lendir pun tampak meleleh keluar dari lubang Siang Ci-ing yang membuat seprei di atas pembaringan langsung basah kuyup. Ketiga gadis itu segera saling bertukar pandang dengan tertegun. Mereka tak menyangka gadis itu bakal mengeluarkan cairan begitu banyak, helaan napas bergema. Cau-ji melompat turun dari atas pembaringan, dipeluknya tubuh Siau-hong, lalu dibaringkan ke atas ranjang. Begitu pemuda itu mulai melebarkan pahanya, Suto bersaudara langsung mengangkat kaki Siau-hong tinggi-tinggi. Merasa amat malu Siau-hong segera memejamkan mata dan tak berani memandang siapa pun. Cau-ji segera menyiapkan tombaknya dan langsung ditusukkan ke dalam lubang kecilnya, seakan dia membersihkan selokan air itu. Dia merasakan liang surga gadis itu mulai mengejang keras, tahu kalau begini terus tak bakal berkesudahan, dia pun jadi nekat, dengan maksud racun lawan racun, dia malah menusukkan tombaknya semakin kencang dan ganas. Menusuknya hingga mencapai dasar, menusuk dengan berat dan ganas. Sesaat kemudian dia mulai memutar tombaknya dan tiada hentinya menggesek dinding dasar lubang gadis itu. Permainan semacam ini sangat melelahkan dan menguras banyak tenaga, coba kalau dia bukan jagoan lihai yang berpengalaman di bidang ini, mungkin sejak tadi dia sudah mencapai puncaknya. Biarpun begitu, ketika dia sudah menggesek hampir tujuh-delapan puluh kali, terasalah otot yang semula mengejang makin lama semakin mengendor. Untung Siau-hong sendiri pun sudah mulai merasakan kenikmatan, kini bukan saja dia tidak tegang lagi, bahkan mulai mendesah lirih, “Aduuuh … nikmat… ah … nikmat… aduh … koko,… aduh sayang..” Melihat si nona sudah mulai mendesah, diam-diam Cau-ji dan dua bersaudara Suto menghembuskan napas lega.
Bagaimana pun ilmu silat yang dimiliki Siau-hong masih ketinggalan jauh, dia tak kuasa menahan gempuran Cau-ji yang menusuknya ratusan kali, akhirnya sambil menjerit keras nona itu pun mencapai pada puncaknya. Dia seperti terserang penyakit ayan, tubuhnya gemetar tiada hentinya sementara liang surganya mengejang berulang kali, seakan dia hendak menggigit tombak itu kencang-kencang.
72 Cau-ji membiarkan tombaknya dihisap berulang kali oleh kekejangan otot lawan, setelah menikmati beberapa saat, akhirnya dia pun mencabut keluar tombaknya. Tapi berbareng dicabutnya sang tombak, tiba-tiba saja pemuda itu menjerit tertahan sambil mundur. Suto bersaudara menyangka telah terjadi sesuatu, cepat mereka berpaling, tapi begitu melihat ada cairan yang sedang menyembur keluar dari liang surga milik Siau-hong, mereka pun tertawa geli. Dengan wajah tersipu malu Siau-hong segera berlari menuju ke kamar mandi. Cau-ji masih berbaring di atas ranjang, Suto Si segera memahami keinginannya, maka dia pun berbaring di atas tubuhnya dan menelan tombak milik pemuda itu, kemudian sambil menggoyang dengan lembut, tanyanya lirih, “Adik Cau, kau tidak lelah?” “Lelah? Tidaklah, cuma aku merasa tegang sekali!” Suto Si segera tertawa. “Enci Hong sudah pulih kesegarannya, sebentar lagi kau tak bakal merasa tegang!” Dengan lembut Cau-ji membelai sepasang payudara Siang Ci-ing yang berbaring di samping tubuhnya, bisiknya lembut, “Pusaka milik enci Ing jauh berbeda dengan milik orang lain, milikmu membuat Siaute selain tegang, juga merasakan sukma serasa terenggut dari rongga badan.” Siang Ci-ing jadi semakin malu, untuk sesaat dia tak sanggup berkata-kata. “Enci Ing, kau jangan marah kepada Siaute karena ucapanku kelewat cabul” kata Cau-ji kemudian sambil tertawa, “dalam pikiran Siaute, suami-istri membicarakan masalah hubungan badan merupakan hal yang wajar dan bukan sesuatu yang tabu.” “Coba kau bayangkan saja enci Ing, sejak zaman kuno hingga sekarang, dan kaisar sampai pekerja kasar, bukankah setiap orang melakukan perbuatan semacam ini? Siapakah yang tidak bermain begituan di dalam kamar?” “Enci Ing, apa yang diucapkan adik Cau memang benar!” sambung Suto Si pula sambil tersenyum, “begitu suami-istri naik ke atas ranjang, maka permainan jorok seperti apa pun boleh mereka lakukan, tapi begitu meninggalkan kamar, tentu saja penampilan harus pulih menjadi normal kembali.” ”Terima kasih, aku sudah tahu sekarang,” jawab Siang Ci-ing malu-malu. “Enci Si, ayo mulai menggila!” seru Cau-ji kemudian sambil tertawa. Sambil tersenyum Suto Si mulai menggoyang pinggulnya mengimbangi tusukan lawannya yang tertubi-tubi. Ucapan tadi nampaknya memompa semangat Siang Ci-ing, agak malu-malu dia mulai menciumi sekujur badan Cau-ji. Dengan lembut dan penuh kasih-sayang Cau-ji meraba pula seluruh badannya. Kurang lebih setengah jam kemudian tiba-tiba Cau-ji mendorong tubuh Siang Ci-ing, kemudian memeluk badan Suto Si, tiba-tiba ia membalikkan badannya dan kini kedua orang itu berganti posisi. “Plook … plookkk … creeep …
creeep” suara aneh mulai bergema dalam ruangan. Setengah jam kemudian di tengah rintihan dan desahan Suto Si, Cau-ji mengejang berulang kali dan melepaskan tembakan secara gencar…. Waktu itu Siang Ci-ing, Suto Bun serta Siau-hong telah selesai membersihkan tubuh dan berpakaian, melihat kedua orang itu masih saling berpelukan dengan kencangnya, diam-diam mereka ikut girang.
“Beristirahatlah dahulu kalian,” kata Siang Ci-ing kemudian, “aku akan keluar mencari makanan.” 0oo0 Keesokan harinya Cau-ji menyamar menjadi seorang lelaki berbaju hijau, diantar oleh kawanan gadis cantik itu, berangkatlah dia menuju ke rumah makan Jit-seng-ciu-lau. Sepanjang perjalanan, secara diam-diam ia mencoba mengawasi situasi sekelilingnya, benar saja, ia jumpai kawanan jago dari kalangan hitam sedang berbincang masalah dukungan mereka terhadap Jit-seng-kau, hal ini membuat pemuda itu semakin bertekad ingin menawan pentolannya 73 lebih dulu sebelum membasmi kawanan bandit, dia bertekad akan melenyapkan Su Kiau-kiau dari muka bumi. Oleh karena itu pada hari kelima dia pun menyaru kembali menjadi Hek Hau-wan dan mulai melanjutkan perjalanan. Hari ini menjelang siang, tibalah dia seorang diri di rumah makan Ui-hok-lau. Dia jadi teringat pengalamannya beberapa hari berselang, gara-gara gelak tertawanya yang nyaring akibatnya memancing kedatangan orang-orang Jit-seng-kau serta jagoan lainnya hingga terjadi pertempuran sengit melawan Lokyang Cap-ji Eng. Kini noda darah yang membekas di permukaan tanah belum lenyap, beberapa bagian tempat yang rusak akibat pertempuran pun belum diperbaiki, Cau-ji jadi teringat kembali akan betapa sengitnya pertempuran yang terjadi saat itu.
Tanpa terasa dia pun berdiri terkesima di tempat. Entah berapa lama sudah lewat, tiba-tiba dari belakang tubuhnya terdengar seseorang membentak nyaring, “Hey, setan tua, mengganggu perjalanan orang saja, cepat menggelinding ke samping!” Begitu tersadar dari lamunan dan mendengar perkataan lawan yang begitu tak sopan, berkobar hawa amarah Cau-ji. Perlahan-lahan dia membalikkan badan, lalu menegur dengan suara berat, “Anjing busuk dari mana yang sedang menggonggong di sini?” Terlihat ada tiga lelaki berbaju hitam yang berwajah bengis dan berusia empat puluh tahunan berdiri lebih kurang beberapa tombak di hadapannya. Salah seorang lelaki di tengah yang mendengar jawaban yang begitu tak sopan itu langsung meraung gusar dan menerjang maju. Belum lagi tubuhnya tiba, angin pukulan berhawa dingin telah menyambar tiba lebih dulu, sadar musuhnya berilmu tinggi, Cau-ji malah tertawa dingin, dia balas mengayunkan tangan kanannya membabat tubuh orang itu. Ketika lelaki itu melihat pihak lawan ternyata berani melancarkan serangan balasan, maka tenaga pukulannya segera ditambah lagi sepuluh persen.
“Blam …!”, lelaki itu datang begitu cepat tapi pergi pun sangat cepat, tahu-tahu badannya sudah mencelat sejauh tiga tombak lebih, begitu jatuh ke tanah tampak dia menggeliat beberapa saat, setelah itu merenggang nyawa. Inipun dia lakukan karena tak ingin membocorkan identitasnya sehingga tenaga pukulan yang digunakan hanya lima bagian, kalau tidak, niscaya tubuhnya bakal remuk berantakan. Dua lelaki yang lain jadi amat terkesiap sesudah menyaksikan kehebatan tenaga dalam musuhnya, tanpa sadar mereka mundur satu langkah. Cau-ji tak ingin mencari masalah, karena itu setelah tertawa seram dia pun bersiap meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba terdengar lelaki yang di sebelah kiri membentak nyaring, “Setan tua, besar amat nyalimu, setelah melukai anggota Jit-seng-kau, kau ingin kabur begitu saja?” Cau-ji memang sedang risau karena tak berhasil menemukan anggota Jit-seng-kau, dia jadi kegirangan setelah mendengar ucapan itu, sahutnya sambil tertawa seram, “Hehehe, bagus, bagus sekali! Jadi kalian tidak mengenali Lohu?” “Siapa yang kenal setan tua macam kau?” hardik lelaki yang ada di sebelah kanan. “Kurang-ajar, kalian berasal dari ruang apa?” bentak Cau-ji dengan suara menyeramkan. Begitu mendengar teguran itu, kedua lelaki tadi segera sadar kalau gelagat tidak beres, buru- buru sahutnya dengan nada yang lebih lunak, “Pek-hou-tong!” Begitu tahu kedua orang ini ternyata merupakan anak buah Hek Hau-wan yang digunakan identitasnya sekarang, Cau-ji merasa teramat bangga, tegurnya lagi sambil tertawa seram, “Tahukah kau siapa Lohu?” “Harap Cianpwe maafkan Wanpwe yang punya mata tak berbiji” buru-buru kata orang di sebelah kanan agak gemetar. “Hehehe, kau panggil Lohu sebagai Cianpwe? Cepat panggil kepala regumu, suruh dia menghadap Lohu!” Tergopoh-gopoh orang itu mengiakan dan segera berlalu dari sana.
74 Sepeminuman teh kemudian terlihat seorang kakek berbaju hitam berusia enam puluh tahunan yang bertubuh tegap, dengan membawa dua puluhan lelaki kekar berbaju hitam menyusul datang dengan langkah cepat. Pada jarak belasan tombak, orang itu segera mengenali Cau-ji, tampak dia menghentikan langkah, menjatuhkan diri berlutut dan teriaknya lantang, “Hamba Che Toa-jong menjumpai Tongcu, harap maafkan hamba yang telah terlambat datang menyambut!” Lelaki berbaju hitam yang berdiri di hadapan Cau-ji nyaris jatuh semaput begitu tahu orang itu adalah atasannya, cepat dia menyembah ke tanah sambil berseru minta ampun. Cau-ji tertawa seram, tanpa bicara sepatah kata pun dia membalikkan badan memandang ke arah rumah makan Ui-hok-lau. Para pelancong di atas rumah makan yang menyaksikan kejadian ini jadi ketakutan, buru-buru mereka menyembunyikan diri. Sementara Cau-ji masih mengeluh karena kegarangan pengaruh Jit-seng-kau, mendadak dari belakang tubuhnya terdengar dua kali jeritan ngeri yang menyayat hati, menyusul kemudian terdengar Che Toa-jong berkata dengan penuh rasa takut, “Tongcu, maafkan hamba yang tak becus mendidik anak buahku!” Menunggu Cau-ji membalikkan badan lagi, tampak kedua orang itu sudah terkapar bersimbah darah di atas tanah, maka kepada kedua puluh orang yang masih berlutut di tanah, serunya, “Kalian bangun semua, kita bicarakan lagi setelah pulang nanti!” “Terima kasih Tongcu!” 0oo0 Untuk sementara waktu baiklah kita tinggalkan dulu Cau-ji yang mendapat tahu dari mulut Che Toa-jong kalau Su Kiau-kiau sedang dalam perjalanan menuju ke rumah makan Jit-seng-ciu-lau, sehingga dia pun langsung menuju ke arah Tiang-sah. Dalam pada itu menjelang pagi hari di bawah bukit Lian-hong-san tiba-tiba muncul empat puluh satu orang, mereka mengenakan jubah panjang berwarna kuning emas dan menunggang kuda jempolan. Setiap kuda yang ditumpangi tampak mengeluarkan asap putih dari mulutnya dengan bulu basah kuyup, hal ini membuktikan rombongan itu baru saja menempuh perjalanan jauh. Setelah terdengar ringkikan kuda yang memanjang, tiba-tiba keempat puluh satu orang itu menghentikan perjalanannya. Terdengar seorang berkata dengan suara nyaring, “Leng tua, jalan perbukitan di depan sana amat sulit untuk ditempuh dengan menunggang kuda, lebih baik kita lanjutkan pendakian dengan berjalan kaki!” “Baik!” Setelah semua orang melompat turun dari kuda, terlihat ada tiga lelaki kekar berusia empat puluh tahunan yang tetap tinggal di tempat untuk mengurus kawanan kuda itu, sementara ketiga puluh delapan orang lainnya segera melanjutkan perjalanan dengan kecepatan tinggi. Tiga orang yang berada paling depan tak lain adalah Cu bersaudara yang mengenakan jubah kuning dan berdandan anggun, sejak meninggalkan Liong-ing-hong, mereka langsung kembali ke kota raja.
Setelah pulang ke istana, Cu Bi-ih bertiga langsung mohon menghadap ibu suri dan menceritakan kisah yang mereka alami serta membeberkan semua kejahatan yang telah dilakukan orang-orang Jit-seng-kau. Tong-kiong Nio-nio yang mendapat laporan itu jadi gusar, ia menerima usulan dari ketiga gadis itu dan mengirim laporan kepada Baginda raja. Dari laporan para menterinya, Baginda raja sudah mengetahui tentang lotere Tay-ke-lok yang menyengsarakan rakyat banyak, maka setelah menerima tambahan laporan dari putri kesayangannya, raja pun tahu kalau Jit-seng-kau tidak dilenyapkan maka undian lotere Tay-ke-lok tak bakal bisa ditumpas. Namun Sri Baginda merasa kesulitan untuk mengambil keputusan ketika putri kesayangannya mengusulkan untuk menganugerahkan gelar An-lok-ong kepada Ong Sam-kongcu, karena masalah ini sudah menyangkut tata-cara protokol kerajaan.
75 Tong-kiong Nio-nio cukup memahami kesulitan Sri Baginda, maka dia pun mengusulkan untuk menanyakan pendapat kedua perdana menteri serta panglima perang. Begitu Sri Baginda memberikan persetujuannya, maka tak sampai setengah jam kemudian sudah ada enam menteri kerajaan yang datang menghadap. Secara ringkas Cu Bi-ih pun menceritakan kembali semua kejadian yang dialaminya, sekalian menerangkan pula posisi Ong Sam-kongcu serta kakeknya yang pernah memimpin umat persilatan membasmi kekejian perkumpulan Jit-seng-kau. Terdengar Yu Siang-kong berkata, “Lapor Baginda, hamba pernah bertemu muka satu kali dengan Ong Sam-kongcu dari kota Kim-leng, orang ini memang setia pada negara dan melindungi kepentingan rakyat banyak.” “Waktu itu hamba berniat mengajaknya berbakti kepada kerajaan, sayang dia hambar terhadap nama dan kedudukan, bahkan menyatakan rela hidup mengasingkan diri di tempat terpencil.” “Kalau memang sembilan partai besar berniat mengangkat Ong Sam-kongcu sebagai pemimpin mereka, apabila Baginda menganugerahkan gelar An-lok-ong kepadanya, mungkin hal ini akan semakin membantu orang persilatan untuk mendukungnya!” Kelima pembesar lain pun menyatakan persetujuannya.
Mendengar pendapat para pembantunya, kaisar pun segera menurunkan titah untuk memenuhi permintaan itu. Maka keesokan harinya tiga bersaudara keluarga Cu dengan membawa Thian-te-sian-lu dan tiga puluh enam jagoan berilmu tinggi berangkat menuju ke Liong-ing-hong.
Kemudian setelah melalui perundingan yang matang, mereka putuskan minta pihak biara Siau- lim yang tampil mengumpulkan seluruh kekuatan partai besar untuk berkumpul di Tiang-sah, bersamaan waktu mereka pun menantang pihak Jit-seng-kau untuk berduel di Gak-lek-san di luar kota Tiang-sah sebulan kemudian. Tanpa membuang waktu, keempat puluh satu orang itupun melakukan perjalanan siang malam tanpa berhenti, langsung menuju gunung Lian-hong-san. 0oo0 Sementara itu, Cu Bi-ih sekalian melakukan perjalanan tiada hentinya, setelah berlarian hampir setengah jam lamanya, tibalah mereka di depan perkampungan Hay-thian-it-si. Dari kejauhan tiba-tiba mereka mendengar suara auman binatang buas yang menyeramkan, tanpa sadar rombongan pun memperlambat larinya.
Ketika tiba di tembok luar perkampungan Hay-thian-it-si, terlihat ada dua puluhan muda-mudi sedang bermain dengan aneka binatang buas seperti singa, harimau, beruang, macan tutul, gorila, monyet, kijang …. Pemandangan semacam ini kontan membuat semua orang tertegun. Yang membuat mereka tertegun adalah di antara jenis binatang buas yang berada di sana, ada sementara hewan yang bermusuhan turun-temurun, tapi kini justru bermain dengan muda-mudi itu tanpa ada sikap bermusuhan, selain jinak juga sangat menarik, betul-betul satu kejadian yang aneh. Ketika memperhatikan kawanan muda-mudi itu, terlihat bukan saja mereka berwajah bersih, bahkan lincah, cekatan, dan jelas memiliki ilmu silat tangguh. Ketika menengok lagi ke arah lain, maka terlihatlah seorang sastrawan berwajah tampan yang mengenakan baju putih sedang berbincang dengan tiga belas wanita cantik. Saat itulah seorang lelaki kekar berusia empat puluh tahunan berjalan mendekat sambil berbisik, “Lapor Kongcu, sastrawan berbaju putih itu tak lain adalah Ong Sam-kongcu Ong It-huan dari kota Kim-leng!” “Ehm, seorang lelaki tampan yang luar biasa,” Cu Bi-ih segera tersenyum sambil manggut- manggut. Tiba-tiba dari dalam ruangan gedung terdengar seseorang berkata sambil tertawa nyaring, “Sobat-sobat kecil, sudah puas kalian bermain?” Kemudian terlihatlah si Raja hewan Oh It-siau muncul dengan wajah berseri. Bwe Bu-jin (kini Ong Bu-jin telah berganti memakai nama marga ayahnya) ikut muncul pula dengan wajah tersenyum.
76 Sepeninggal kawanan hewan itu digiring pergi oleh raja hewan, terlihat Ong Sam-kongcu bangkit berdiri secara tiba-tiba dan berkata dengan suara nyaring, “Ah, gara-gara menyaksikan putra-putriku bermain dengan hewan mengakibatkan tamu jauh harus menunggu lama, sungguh hal ini membuat Ong It-huan merasa sungkan. Lo-ong, cepat sambut kedatangan tamu-tamu kita!” Habis berkata dia pun memimpin semua orang untuk menyambut di depan pintu gerbang. Leng Bang segera tampil ke depan dan menyahut sambil tertawa tergelak, “Sudah lama kami dengar Ong Sam-kongcu adalah seorang yang Bun-bu-siang-cuan (menguasai ilmu silat maupun ilmu sastra), setelah berjumpa hari ini, terbukti nama besarmu memang bukan nama kosong, hahaha” Selesai berkata, bersama Chin Tong dan semua jago bergerak mendekati pintu gerbang. Waktu itu si Raja hewan telah menghimpun tenaga dalamnya siap melakukan pertempuran, tapi sewaktu pandangan matanya melintas di wajah Thian-te-sian-lu, mendadak jeritnya tertahan, “Lo-sinsian (dewa tua)!” Selesai bicara, dia pun menjatuhkan diri berlutut. Sambil tertawa terbahak-bahak Leng Bang maju sambil membangunkannya, serunya, “Oh kecil, jangan banyak adat!” Raja hewan Oh It-siau sama sekali tak menyangka setelah berpisah puluhan tahun, akhirnya pada hari ini dia dapat bersua kembali dengan tuan penolong yang pernah menyelamatkan jiwanya di masa lalu, tak heran saking terharunya dia segera berlutut. Seusai berdiri, dengan hormat Raja hewan bertanya, “Lo-sinsian, ada kepentingan apa kalian berkunjung kemari?” Leng Bang tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, sudah cukup lama Lohu mendengar tempat tinggal Ong Sam-kongcu indah dan megah bagaikan nirwana, ternyata apa yang dikatakan orang memang tidak salah, hahaha” Dalam pada itu Ong Sam-kongcu pun telah mengenali Thian-te-sian-lu, cepat katanya dengan hormat, “Sungguh suatu kebanggaan bagiku dapat bersua dengan Sin-heng serta teman-teman sekalian, silakan masuk ke dalam dan minum teh!” “Kongcu, terima firman kaisar!” mendadak Leng Bang berkata dengan nada serius. “Firman? Firman apa?” tanya Ong Sam-kongcu tercengang. “Tentu saja firman dari Sri Baginda!” Ong Sam-kongcu segera berpaling dan memberi tanda kepada semua penghuni perkampungan Hay-thian-it-si, serentak semua orang menjatuhkan diri berlutut. Perlahan Cu Bi-ih tampil ke depan, setelah melihat semua orang berlutut, dari sakunya dia mengeluarkan sebuah gulungan kain, merentangkannya dan mulai membaca isi firman. Untuk beberapa saat lamanya Ong Sam-kongcu tertegun dan tak sanggup berkata-kata, dia tak menyangka kalau Baginda telah menganugerahkan gelar An-lok-ong kepadanya, bahkan memerintahkan dirinya untuk memimpin para jago menumpas perkumpulan Jit-seng-kau.
Sebagaimana diketahui, sejak dulu pihak kerajaan boleh dibilang jarang sekali berhubungan dengan orang persilatan, dia sama sekali tak menyangka kalau hari ini Baginda telah mengutus tuan putri untuk menyampaikan firman kepadanya. Selain itu, kecuali keturunan keluarga Cu, pada hakikatnya belum pernah ada orang luar yang diberi gelar raja muda, apalagi untuk Ong Sam-kongcu yang belum pernah berhubungan dengan pihak kerajaan. Tak heran bila ia terperangah dibuatnya. Leng Bang yang berlutut lebih kurang tiga kaki di samping kanannya, secara diam-diam mengamati terus perubahan wajahnya, begitu melihat rekannya terperangah, maka dengan ilmu menyampaikan suara ia berbisik, “Terima dulu firman Baginda!” Mendengar itu, Ong Sam-kongcu segera maju dan menerima firman. “Kionghi Ongya!” seru Cu Bi-ih kemudian dengan suara nyaring. “Terima kasih atas pujian tuan putri!” sahut Ong Sam-kongcu tersipu-sipu. Maka semua orang pun maju untuk memberi selamat. Dua belas tusuk konde emas sendiri meski tak mengerti apa sebabnya Sri Baginda mengutus orang menganugerahkan gelar kehormatan, tak urung mereka ikut bergembira juga atas kejadian yang tak terduga ini.
77 Ong Sam-kongcu mempersilakan para tamunya masuk ke dalam ruang utama, baru saja Go Hoa-ti dan dua belas tusuk konde emas siap mengundurkan diri, sambil tertawa tergelak Leng Bang telah mencegah. Terdengar orang tua itu berkata sambil tertawa terbahak-bahak, “Ongya, tolong tanya apakah kau mempunyai seorang Kongcu yang bernama Ong Bu-cau?” “Ada! Jangan-jangan dia telah menyalahi kalian?” “Hahaha, Ongya tak periu kuatir, bukan saja putramu tidak membuat keonaran, malahan dia telah menyelamatkan ketiga tuan putri serta menolong biara Siau-lim dari bencana” Maka secara ringkas dia pun menceritakan semua kehebatan serta keberanian yang telah dilakukan Cau-ji. Betapa gembira dan bersyukurnya Ong Sam-kongcu sekalian setelah mendengar kabar itu.
Sedangkan para jago pihak kerajaan diam-diam merasa terkejut juga akan kehebatan ilmu silat pemuda itu. Melihat ketidak percayaan kawanan jago itu, sambil tersenyum Ong Sam-kongcu pun segera menceritakan kisah pengalaman yang pernah dialami Cau-ji di masa lalu. Cerita ini segera mengundang decak kagum banyak orang, khususnya tiga bersaudara keluarga Cu. Dari perubahan mimik muka ketiga tuan putri itu, dua belas tusuk konde emas segera tahu kalau gadis-gadis cantik itu sudah jatuh hati kepada Cau-ji, serta-merta mereka pun jadi mengerti apa sebabnya pihak kerajaan menganugerahkan gelar kehormatan kepada keluarga mereka. Sementara itu meja perjamuan telah dipersiapkan, Ong Sam-kongcu pun mengundang semua orang untuk bersantap di ruang Ti-wan. Hari ini Ong Sam-kongcu kelihatan amat gembira, sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya untuk menjadi seorang raja muda dengan gelar An-lok-ong. Perjamuan kali ini berlangsung hampir satu setengah jam lamanya. Dalam keadaan setengah mabuk, Ong Sam-kongcu mempersilakan para tamunya untuk beristirahat di kamar tamu, kemudian ia sendiri bersama Go Hoa-ti ibu beranak dan dua belas tusuk konde emas kembali ke ruang utama untuk minum teh seraya berbincang-bincang. Terdengar Go Hoa-ti berkata, “Engkoh Huan, kionghi kau memperoleh anugerah ini, terlepas apakah punya kekuasaan atau tidak, yang pasti kau telah menjadi orang pertama dari dunia persilatan yang mendapat kehormatan semacam ini!” Ong Sam-kongcu tertawa terbahak-bahak. “Hahaha, mana, mana, semua ini berkat kehebatan Cau-ji!” “Sungguh tak kusangka ilmu silat yang dimiliki Cau-ji telah mencapai tingkatan yang begitu hebat, kelihatannya sulit untuk menemukan orang yang sanggup mengalahkan dirinya lagi!” “Hahaha, jago Jit-seng-kau sangat banyak dan tangguh, bukan saja cara kerja mereka kejam, siasatnya pun licik dan busuk, sekalipun Cau-ji hebat namun setiap saat dia berada dalam ancaman mara bahaya.” Go Hoa-ti manggut-manggut, sahutnya, “Memang apa yang kau ucapkan merupakan kenyataan, hanya saja kalau memang pihak kerajaan dan berbagai partai besar bersedia tampil, aku rasa saat musnahnya Jit-seng-kau sudah tinggal waktu saja.” “Betul!” Ong Sam-kongcu tertawa, “jangankan ilmu silat yang dimiliki Thian-te-sian-lu luar biasa hebatnya, bahkan kungfu si Pena emas Sin Goan pun tidak berada di bawah kemampuanku.” “Jangan dilihat mereka hanya terdiri dari tiga puluhan orang, padahal kekuatannya paling tidak sanggup menghadapi serbuan tiga ratusan jago kelas satu! Sungguh tak disangka pihak kerajaan telah membina begitu banyak jago lihai!” “Di mulut pihak kerajaan menyatakan kalau tak berhubungan dengan umat persilatan, tapi secara diam-diam telah membina begitu banyak jago tangguh, rasanya kejadian ini agak sedikit tak masuk akal.” “Inilah yang dinamakan ‘Menggunakan cara Kangouw untuk mengatasi orang Kangouw”, bahkan aku pun merasa bahwa penganugerahan gelar untukku kali inipun mengandung maksud semacam ini.” Go Hoa-ti manggut-manggut dan tidak bicara lagi.
78 Si Ciu-ing yang selama ini hanya berdiam diri tiba-tiba menyela sambil tertawa, “Engkoh Huan, kau jangan marah, menurut dugaanku, pemberian anugerah gelar kali ini bisa jadi dikarenakan ketiga tuan putri berniat mengikat tali hubungan dengan keluarga kita.” “Hahaha, kenapa aku mesti marah?” Ong Sam-kongcu tertawa tergelak, “masa aku harus minum cuka gara-gara Cau-ji? Sejak tadi aku telah merasa kalau ketiga tuan putri itu menaruh hati kepada Cau-ji!” Semua orang manggut-manggut setelah mendengar perkataan ini. Sambil tertawa, kembali Si Ciu-ing berkata, “Engkoh Huan, enci Ti, adik-adik semua, menurut apa yang kuketahui, pihak kerajaan telah memutuskan untuk tidak berhubungan dengan umat persilatan, jadi tak mungkin si tuan putri akan menikah dengan anggota persilatan.” “Padahal ketiga tuan putri menaruh hati kepada Cau-ji, jadi satu-satunya cara untuk menanggulangi masalah ini adalah mengangkat engkoh Huan jadi pejabat negara … aku yakin pangkatmu makin hari akan semakin tinggi” Mendengar perkataan itu, kontan Ong Sam-kongcu tertawa terbahak-bahak. Membayangkan bagaimana keluarga Ong akan punya menantu tuan putri, semua orang ikut bergembira atas peristiwa ini. Belum berhenti Ong Sam-kongcu tertawa, mendadak terdengar seseorang tertawa tergelak. Menyusul kemudian terlihat sepasang dewa langit dan bumi memasuki ruangan. Sambil tertawa, ujar Leng Bang, “Ongya, barusan aku sempat mendengar apa yang dibicarakan Hujin, untuk itu perlu kusampaikan sepatah-dua patah kata.” “Benar, seperti apa yang diduga Hujin tadi, kali ini ketiga tuan putri memang telah mengeluarkan begitu banyak tenaga dan pikiran untuk mendapatkan gelar kehormatan itu bagi Ongya, semua ini tak lain karena menyangkut masa depan mereka bertiga.” “Dalam hal ini, Cau-ji masih belum tahu karena menurut pengamatan Lohu, Cau-ji sengaja menjaga jarak dengan ketiga tuan putri karena dia tak ingin terjadi kemelut yang bakal menyusahkan kedua belah pihak.” “Benar,” kata Ong Sam-kongcu sambil tertawa, “aku memang sudah menjodohkan Cau-ji dengan seseorang, sebelum mendapat ijin dariku, tak nanti Cau-ji berani menerima nona lain sebagai bininya.” Sebetulnya Leng Bang ingin menyinggung juga masalah dua bersaudara Suto dan Siang Ci-ing yang bergaul mesra dengan Cau-ji, tapi dia segera mengurungkan niatnya setelah mendengar perkataan itu. Terdengar ia berkata sambil tertawa tergelak, “Ongya, mengenai perkawinan antara putramu dengan ketiga tuan putri, Lohu suami-istri ingin menawarkan diri menjadi mak comblang.” “Terima kasih banyak atas maksud baik Cianpwe, hal semacam ini merupakan kebanggaan keluarga Ong kami, hanya saja Wanpwe perlu menanyakan maksud hati Cau-ji terlebih dulu sebelum mengambil keputusan. Begitu mendengar persetujuan pihak lawan, Leng Bang jadi kegirangan setengah mati, sahutnya cepat, “Sudah seharusnya begitu!” Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Ongya, Kongcu telah meminta pihak biara Siau- lim untuk tampil mengundang para partai besar dan minta mereka untuk berkumpul di bukit Gak- li-san di luar kota Tiang-sah pada awal bulan depan, bahkan telah menulis surat tantangan kepada pihak Jit-seng-kau!” “Bagus, mau hidup atau mati, kita tentukan dalam pertempuran ini!” Ong Sam-kongcu manggut-manggut tanda setuju. “Engkoh Huan, bagaimana dengan kami kakak beradik..”tanya Si Ciu-ing lembut. “Adik Ing, adik-adik semua, lebih baik kalian melindungi markas besar kita! Soal permainan besar ini, biar peran penting kita letakkan pada pundak Cau-ji!” Para perempuan itupun menurut dan manggut-manggut. Karena urusan penting telah usai dibicarakan, maka para wanita itupun menanyakan keadaan Cau-ji. Leng Bang tidak langsung menjawab, dia hanya termenung. Jelas orang tua ini sedang mempertimbangkan perlu tidak membicarakan hubungan Cau-ji dengan tiga gadis lain. Melihat keraguan orang, sambil tertawa Ong Sam-kongcu berkata, “Cianpwe, tahun ini Cau-ji baru berusia empat belas tahun, kecerdasan otaknya tak bisa dibandingkan dengan kemampuan 79 ilmu silatnya, jadi tak mungkiri dia bisa lolos dari segala kesalahan, silakan saja dikatakan secara terus terang.” Sambil tertawa getir, ujar Leng Bang, “Sungguh tak nyana aku Leng Bang setelah malang melintang di dunia persilatan selama puluhan tahun, akhirnya harus bersikap penuh keraguan hanya dikarenakan masalah tuan putri dengan Cau-ji. Kalau memang Ongya sudah berkata begitu, baiklah, Lohu akan bicara terus terang!” Maka dia pun membeberkan semua yang diketahui tentang hubungan Cau-ji dengan dua bersaudara Suto serta Siang Ci-ing, bahkan dia menambahkan, “Ongya, Lohu berani jamin, Cau-ji tidak berniat jahat!” Ong Sam-kongcu segera menarik wajah dan terbungkam tanpa bicara. Si Ciu-ing juga terbungkam dalam seribu bahasa setelah melirik Go Hoa-ti sekejap. Diam-diam mereka kuatir bila Go Hoa-ti merasa tak puas karena ulah Cau-ji, khususnya terhadap putri Bwe Bu-jin, karena itu semua orang menutup rapat mulutnya. Siapa tahu Go Hoa-ti sama sekali tidak marah, setelah melirik mereka sekejap, katanya, “Cianpwe, dengan nama besar keluarga Suto di dunia persilatan, keluarga Ong merasa sangat berterima kasih sekali bila bisa peroleh menantu hebat semacam ini.” “Sedang nona Siang dari Liong-ing-hong juga tersohor sebagai wanita suci, dengan kekayaan, kedudukan, serta nama besar keluarga Siang, aku rasa nona inipun pantas menjadi menantu keluarga Ong.” “Apalagi bukankah engkoh Huan pun mempunyai dua belas orang Cici sebagai istri, berada dalam keadaan seperti ini, apa salahnya bila Cau-ji pun memiliki banyak istri!” Selesai berkata, kembali dia tertawa. Semua orang pun merasa lega setelah mendengar penjelasan ini. Dengan perasaan haru, kata Si Ciu-ing, “Enci Ti, terima kasih banyak. Siaumoay hanya merasa bersalah terhadap Jin-ji!” “Enci Ing, kalau orang bertambah banyak, hokki pun akan bertambah banyak pula, apalagi Cau-ji begitu kuat, rasanya Jin-ji seorang tak akan sanggup melayaninya, selama mereka semua bisa hidup rukun, tambah banyak pun tak ada masalah!” Begitu ganjalan terurai, pembicaraan pun berlangsung lebih lancar dan santai. Leng Bang pun bercerita lagi akan sepak-terjang Cau-ji sewaktu melawan serbuan para jago Jit- seng-kau di biara Siau-lim, secara terperinci dia pun menceritakan kehebatan jurus pedang serta kesempurnaan tenaga dalamnya.
Terkejut bercampur girang semua orang ketika mengetahui Cau-ji telah memperoleh Pedang pembunuh naga serta jurus pedangnya, bahkan sekali gebrakan mampu melukai lima orang sekaligus. Malam itu tiga bersaudara keluarga Cu bersama Bwe Bu-jin bercerita penuh kehangatan dalam kamar, dalam waktu singkat mereka dapat bergaul dengan begitu akrabnya hingga menjelang fajar mereka baru naik pembaringan untuk beristirahat. Menjelang senja, Ong Sam-kongcu mengantar para tamunya hingga keluar pintu gerbang, dia baru kembali ke dalam gedung tatkala para jago sudah lenyap dari pandangan mata. 0oo0 Matahari tepat di tengah angkasa, rumah makan Jit-seng-lau sudah dipenuhi orang yang bersantap, namun di antara sekian banyak tamu, sebagian besar merupakan orang-orang daerah yang khusus datang untuk mengikuti lotere Tay-ke-lok, sambil menunggu dibukanya undian, mereka menikmati santapan siang. Begitu tahu dari mulut Che Toa-jong kalau Su Kiau-kiau sedang dalam perjalanan menuju rumah makan Jit-seng-lau, Cau-ji segera minta seekor kuda jempolan dan segera melakukan perjalanan cepat. Begitu masuk pintu gerbang, pelayan yang mengenali Tongcunya segera mengantarnya masuk ke dalam kamar belakang. Baru saja Cau-ji mengambil tempat duduk, Im Jit-koh secepat kilat telah menyusup masuk, bahkan dengan ilmu menyampaikan suara berbisik, “Tongcu, sungguh kebetulan kepulanganmu, bagus sekali!” 80 Begitu melihat ia berbicara dengan menggunakan ilmu menyampaikan suara, Cau-ji segera sadar kalau ada sesuatu yang tak beres, maka sahutnya pula dengan ilmu menyampaikan suara, “Jit-koh, setelah bertemu Siau-hong, aku segera pulang kemari, bagaimana keadaan saudaraku?” “Ilmu silat Tongcu telah ditotok oleh Hu-kaucu bahkan dia diawasi siang malam, hanya hamba seorang yang boleh masuk ke dalam kamarnya, namun dilarang mengajak bicara!” “Besar amat nyali Ni Ceng-hiang, hm! Berani betul menganiaya saudaraku. Jit-koh, apakah saat ini Kaucu berada di rumah makan?” “Kaucu hanya berdiam selama tiga jam di sini, begitu mendapat tahu kalau berbagai partai besar telah menantang partai kita untuk berduel habis-habisan awal bulan depan, dia segera berangkat meninggalkan tempat ini!” “Hehehe, tak disangka bangsat itu berani datang untuk mengantar kematian! Ah, benar, Jit- koh, tahukah kau Kaucu telah pergi kemana?” “Entahlah, menurut dugaan hamba, setelah kematian dua ratusan jago di tangan Manusia pelumat mayat, besar kemungkinan Kaucu sedang mencari bala bantuan.” Diam-diam Cau-ji tertawa dingin, tapi di luar tanyanya lagi, “Jit-koh, apakah saat ini kakakku berada di dalam kamar?” “Benar.” “Bagus, Lohu akan langsung mencari Hu-kaucu untuk menanyakan masalah ini, kau berlagaklah seakan tidak mengetahui kejadian ini.” “Baik Tongcu, kau harus berhati-hati, hamba segera akan pergi mengontrol lapangan pacuan kuda!” “Baiklah!” Sepeninggal Im Jit-koh, Cau-ji mengatur napas, sesaat kemudian baru berjalan menuju ke kamar Bwe Si-jin dan mengetuk pintu tiga kali. Begitu kamar dibuka, terlihat Bwe Si-jin berdiri di depan pintu. Betapa terkejut dan girangnya lelaki ini setelah melihat kemunculan Cau-ji, untuk beberapa saat dia sampai tak sanggup mengucapkan sepatah kata pun. “Lotoa, apakah Hu-kaucu ada di sini?” sengaja berat nada suara tanya Cau-ji. Belum sempat Bwe Si-jin menjawab, terdengar Ni Ceng-hiang berseru, “Hek tua, ada urusan apa kau mencari aku?” Seusai mengunci pintu kamar, Cau-ji segera mengawasi sekejap Ni Ceng-hiang yang masih berbaring di atas ranjang, tegurnya berat, “Hu-kaucu, dosa kesalahan apa yang telah dilanggar saudaraku?” “Hahaha, Hek tua, siapa yang memberitahu kejadian ini kepadamu?” tanya Ni Ceng-hiang sambil tertawa terkekeh.
“Hu-kaucu, kau tak usah tahu. Aku ingin kau jawab, kenapa ilmu silat saudaraku kau kendalikan?” Ni Ceng-hiang tidak menjawab, dia hanya tertawa terkekeh. Bwe Si-jin sendiri telah menyingkir ke samping, menuang secawan teh dan duduk sambil termenung. Cau-ji segera menghimpun tenaga dalamnya sambil bersiap sedia. Sesaat kemudian Ni Ceng-hiang baru berhenti tertawa, sambil menarik wajah, bentaknya, “Orang she Hek, besar amat nyalimu, berani amat kau bersikap kurang-ajar kepadaku.” “Memangnya ada yang perlu kuhormati terhadap dirimu?” Cau-ji balas bertanya. “Kau … kau benar-benar sudah tak ingin hidup?” “Hehehe, siapa yang bakal mampus pun belum tahu, buat apa kau bersikap begitu galak?” “Hehehe, orang she Hek, jangan lupa di saat racunmu mulai kambuh, kau masih butuh obat penawar dariku.” Begitu mendengar perkataan itu, Cau-ji segera tahu kalau Hek Hau-wan pun telah diracuni pihak Jit-seng-kau, maka segera serunya dengan suara menyeramkan, “Perempuan sundal, hari ini juga Lohu akan membinasakan dirimu!” Dengan geram Ni Ceng-hiang bangkit, bentaknya, “Orang she Hek, besar amat nyalimu!” Cau-ji sama sekali tak acuh, kembali ejeknya, 81 “Keadaan yang memojokkan Lohu, jadi jangan salahkan bila aku bersikap kasar, kecuali kau bersedia membebaskan saudaraku!” “Hehehe, orang she Hek, kenapa tidak kau pertimbangkan dulu kemampuan yang kau miliki, berani betul main ancam. Baik! Asal kau bisa menundukkan aku, pasti akan kukabulkan keinginanmu itu!” “Apa yang harus kuperbuat untuk bisa membuat kau takluk?” “Hehehe, lebih baik kita coba dulu kehebatan silat masing-masing!” Habis berkata, dia pun berdiri sambil menggendong tangan. “Ayo, turun tangan!” seru Cau-ji. “Hehehe, kau tak lebih hanya panglima perang yang pernah keok di tanganku, kalau memang pemberani, lancarkan saja seranganmu!” Cau-ji tertawa seram, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya segera ditegakkan bagaikan pedang, dengan jurus Pedang pembunuh naga ia ciptakan selapis jaring hawa yang makin lama berkembang makin melebar. Ni Ceng-hiang mendengus dingin, sepasang tangannya melancarkan pukulan berulang kali, segulung tenaga dingin seketika meluncur ke depan. Tapi begitu tenaga bacokannya menyentuh di atas jaring hawa mumi tadi, tenaga serangannya hilang lenyap seketika, sementara jaring tenaga justru makin berkembang dan akhirnya menghimpit jalan darah penting di depan dadanya. Bagaimana pun dia mencoba menghindarkan diri atau melawan, ternyata gagal juga meloloskan diri. Beberapa saat kemudian tiba-tiba ia menghampiri Bwe Si-jin, lalu menggunakan tubuhnya sebagai tameng. Cau-ji sama sekati tak menyangka kalau perempuan itu bakal berbuat serendah ini, sodokan jarinya langsung dihantamkan ke atas meja yang terbuat dari batu kali hingga hancur jadi abu. Bwe Si-jin tidak menyangka kalau ilmu silat yang dimiliki Cau-ji telah mengalami sedemikian majunya, untuk sesaat ia jadi tertegun dibuatnya. “Manusia pelumat mayat!” jerit Ni Ceng-hiang kaget. Cau-ji tertawa terkekeh, sembari melepaskan penyaruannya dia mengejek, “Mau takluk tidak?” Begitu melihat kegantengan wajah Cau-ji, napsu birahi Ni Ceng-hiang langsung saja berkobar, timbul niat jahatnya untuk menghisap tenaga dalam lawan dengan ilmu Im-kang miliknya. Karena itu dia tertawa terkekeh tiada hentinya. Dengan perasaan cemas, buru-buru Bwe Si-jin berseru, “Cau-ji, jangan pedulikan aku, cepat bunuh dia!” Sambil tertawa Cau-ji menggeleng, katanya, “Toasiok, Cau-ji tak tega menghancurkan seorang wanita cantik bak bunga yang sedang mekar, bak arak yang memabukkan dan bak parfum wanginya “Hahaha, saudara cilik, tak nyana kau begitu menyayangi kaum wanita, bagaimana kalau kita berunding?” ujar Ni Ceng-hiang sambil tertawa jalang. “Hahaha, katakan saja.” “Saudara cilik, temani Cici bermain satu babak, asal kau bisa membuat Cici merasakan kenikmatan, biar harus mati pun Cici akan menuruti semua perintahmu, bagaimana?” “Hahaha, bagus, kita pegang janji ini!” Bwe Si-jin tahu kalau Cau-ji dilindungi Kui-goan-sinkang yang secara kebetulan merupakan ilmu tandingan im-kang milik perempuan itu, diam-diam ia kegirangan. Tapi dalam penampilan dia berlagak cemas, jeritnya, “Anak cau, jangan kau kabulkan permintaannya!” Ni Ceng-hiang tertawa jalang, dia segera menotok jalan darah kakunya, kemudian berkata, “Engkoh Jin, kau tak usah makan cuka! Siaumoay hanya akan melayaninya satu babak!” Habis berkata dia pun meletakkan tubuh Bwe Si-jin ke atas bangku. Cau-ji tertawa terbahak-bahak, dia mulai melepas seluruh pakaian yang dikenakan. Tatkala Ni Ceng-hiang melihat Pedang pembunuh naga itu, sinar matanya segera berkilat, tapi hanya sejenak kemudian sudah lenyap kembali, diiringi tertawa jalang, dengan cepat dia melepaskan juga seluruh pakaian yang dikenakan.
82 Setelah melirik sekejap ke arah tombak milik Cau-ji yang sudah berdiri kaku, kembali perempuan itu berseru sambil tertawa terkekeh, “Wah, barang langka! Semoga saja ilmu ranjangmu tidak lebih lemah daripada ilmu silatmu!” Habis berkata dia langsung berbaring di atas ranjang sambil membuka sepasang pahanya lebar-lebar. “Hahaha, tanggung kau pasti akan puas!” jawab Cau-ji sambil tertawa tergelak. Habis berkata dia pun naik ke atas ranjang dan menindih di atas badannya. “Serangan yang hebat!” teriak Ni Ceng-hiang sambil menggoyang pinggulnya keras-keras. Bwe Si-jin kuatir Cau-ji kelewat memandang enteng musuhnya, cepat dia berseru lagi, “Cau-ji, dia bernama Ni Ceng-hiang, bisa mencapai puncak sepuluh kali lebih, kau mesti melayaninya dengan baik!” “Hahaha, Toasiok, jangan kuatir, Cau-ji pasti akan membuatnya keenakan!” Sambil berkata dia pun mulai mengembangkan serangan dengan gencar. Ni Ceng-hiang merasakan tusukan pemuda itu penuh dengan tenaga hidup, setiap tusukan dan cabutannya cepat, kuat dan mantap, sadar kalau lawannya merupakan jagoan berpengalaman, dia pun segera menghimpun tenaga untuk melayani pertarungan dengan penuh tenaga. “Plookkkk … plook” di antara suara aneh yang bergema, waktu berjalan sangat cepat. “Criiippp … crreeet” makin kencang gesekan yang terjadi, makin keras desahan perempuan itu. Entah berapa kali sudah dia mencapai puncaknya. Bwe Si-jin mencoba memeriksa waktu, dia tahu kedua orang itu sudah bertempur hampir dua jam lebih, selain menguatirkan kehebatan ilmu im-kang Ni Ceng-hiang, dia pun merasa kagum pada ketangguhan anak muda itu.
Mendadak terdengar Cau-ji tertawa nyaring, sepasang tangannya bergerak cepat mengangkat tinggi kedua pahanya, kemudian melancarkan tusukan berantai. Di tengah tusukan yang semakin gencar, dia sertakan juga gesekan keras di dasar liang perempuan itu, gesekan demi gesekan yang kencang membuat Ni Ceng-hiang menjerit makin keras, akhirnya teriihat tubuhnya gemetar keras, cairan pun mulai meleleh keluar membasahi permukaan ranjang. Tergopoh-gopoh perempuan itu menarik napas membiarkan dasar liangnya melengkung lebih ke dalam, dia mencoba menghindarkan diri dari serangan frontal. Cau-ji sama sekali tak ambil peduli jurus kembangan macam apa yang akan dia gunakan, bagi pemuda ini, dia hanya tahu menggempur! Gempur! Dan gempur terus! Prinsipnya dia menggunakan tenaga dalam tingkat tinggi untuk melakukan tusukan itu. Sekilas pandang orang akan mengira sepasang laki-perempuan itu sedang melakukan adegan syuur yang membetot sukma, padahal kenyataan permainan itu dipenuhi hawa napsu membunuh yang luar biasa, sedikit saja kurang berhati-hati, bisa jadi ada ancaman jiwa raga. Dengan tegang Bwe Si-jin mengawasi pertempuran yang sedang berlangsung antara kedua orang itu. 0oo0.
Bab 6. Kaum sesat musnah, dunia aman.
Begitu melihat Ni Ceng-hiang yang semula merintih tiada hentinya dengan wajah merah padam mendadak mulai mengatur pemapasan, dia tahu kalau perempuan itu segera akan menggunakan ilmu im-kang untuk menghisap hawa kelakian lawan. Karena itu segera bentaknya, “Hati-hati!” Ni Ceng-hiang tertawa dingin, dia seolah sedang mengejek, “Sudah terlambat!” Tiba-tiba Cau-ji merasakan liang perempuan itu mulai menyusut kencang, seolah-olah seluruh kepala tombaknya terbungkus oleh dasar liang dan mulai menghisapnya kuat-kuat, begitu nikmatnya hisapan demi hisapan yang muncul membuat anak muda itu merasa sangat nikmat sehingga beberapa kali nyaris melepaskan tembakan. Cepat dia menarik napas panjang, lalu dengan menggunakan tehnik “menghisap” dari kui-goan- sin-kang dia balas menghisap liang musuh,. Begitulah, untuk beberapa saat kedua orang itu saling bertahan tanpa seorang pun yang bergerak.
83 Bwe Si-jin merasa sangat tegang, saking paniknya nyaris dia jatuh pingsan. Lebih kurang setengah jam kemudian terlihat sekujur tubuh Ni Ceng-hiang mulai gemetar keras, tiba-tiba jeritnya kaget, “Kau…” Seketika itu juga paras mukanya berubah jadi pucat-pias bagaikan mayat, sekujur badannya gemetar makin keras. Dari getaran yang muncul pada dasar liangnya, Cau-ji tahu kalau perempuan itu sudah mendekati puncaknya, tanyanya sambil tertawa, “Menyerah tidak?” Ni Ceng-hiang sama sekali tak menyangka kalau pihak lawan meski masih muda usia namun sanggup mengendalikan dirinya. Merasa nyawanya berada di ujung tanduk, buru-buru serunya dengan gemetar, “Menyerah! Menyerah! Siauhiap, ampuni jiwaku!” “Hahaha, kalau begitu pulihkan dulu ilmu silat Bwe-toasiok.” Dalam keadaan begini, tentu saja Ni Ceng-hiang tak berani membangkang, telapak tangan kanannya diayunkan berulang kali di udara dan membebaskan jalan darah kaku di tubuh Bwe Si- jin, kemudian serunya, “Engkoh Jin, tolong mendekatlah ke tepi pembaringan!” Bwe Si-jin menurut dan segera mendekati pembaringan. Ni Ceng-hiang segera mengayunkan telapak tangan kanannya, dalam waktu singkat ilmu silat yang dimiliki Bwe Si-jin telah pulih kembali. Sambil tertawa Bwe Si-jin manggut-manggut, ia segera duduk bersila sambil mengatur pemapasan. Begitu melihat pamannya telah pulih kembali, dengan perasaan lega Cau-ji pun melanjutkan kembali tusukannya. “Plook …
plokkkk ….” ternyata Ni Ceng-hiang mengimbangi tusukan itu dengan goyangan pinggulnya. Desahan napas, rintihan nikmat pun berkumandang memenuhi ruangan. Perempuan itu sadar, walaupun untuk sementara dia berhasil lolos dari bencana kematian, tapi setiap saat kemungkinan besar goan-im hawa perempuan miliknya bisa tersedot habis, oleh karena itulah dia berusaha keras mengambil hati anak muda itu. Sementara Cau-ji sendiri pun sudah mempunyai dua cara untuk menyelesaikan masalah ini, asal Bwe-toasioknya telah sadar, maka keputusan pun bisa diambil, sebab itulah dia tidak bertindak banyak. Sepeminuman teh kemudian Bwe Si-jin telah berdiri lagi dengan tubuh segar. Sambil menghentikan tusukannya, Cau-ji sambil tertawa, “Toa-siok, bagaimana kita selesaikan perempuan ini?” Menyaksikan sorot mata minta ampun yang terpancar dari mata Ni Ceng-hiang, Bwe Si-jin segera menghela napas, katanya, “Siau-hiang, bukalah suara!” “Engkoh Jin, tolong berilah satu kesempatan kepada Siaumoay untuk hidup baru!” pinta Ni Ceng-hiang dengan suara gemetar. Kembali Bwe Si-jin menghela napas panjang. “Siau-hiang” katanya, “tentunya kau masih ingat bukan ketika kita sedang belajar silat kepada Suhu, coba kalau bukan dirusak Su Kiau-kiau secara diam-diam, mungkin waktu itu aku sudah meminangmu!” Pandangan mata Ni Cing-hiang terlihat kabur, dia seolah sedang mengenang kembali kejadian di masa silam. Kembali Bwe Si-jin berkata dengan lembut, “Siau-hiang, tentunya kau masih teringat dengan kejadian di malam Tiong-ciu waktu itu bukan? Tatkala kita sedang asyik berhubungan badan, Su Kiau-kiau telah menyingkirkan kau dengan siasat!” “Tentu saja masih ingat,” jawab Ni Ceng-hiang gemas, “sebetulnya malam itu dialah yang mendapat tugas untuk menyerahkan kegadisannya, tapi dengan siasat dia justru menyuruh akulah yang pergi menggantikan dirinya, sementara dia justru menikmati kehangatan tubuhmu!” Perbincangan kedua orang ini seketika membuat mereka berdua terjerumus dalam kenangan lama. Secara diam-diam Cau-ji meninggalkan tubuhnya, kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan badan.
84 Tatkala dia balik kembali ke dalam kamar untuk berpakaian, kedua orang itu masih berbincang dengan suara lirih. Cau-ji segera mengenakan kembali pakaiannya dan mengambil Pedang pembunuh naga, baru saja akan beranjak pergi, mendadak terdengar Bwe Si-jin berbisik, “Cau-ji, tetaplah tinggal di sini menjadi saksi!” “Toasiok, Cau-ji harus menjadi saksi apa?” tanya pemuda itu tercengang. Sembari memeluk tubuh Ni Ceng-hiang yang tertunduk malu, dengan wajah bersungguhsungguh ujar Bwe Si-jin, “Cau-ji, Toasiok berniat mengambil seorang istri lagi, tolong kau bisa menjelaskan nanti bila bertemu adikTi!” Cau-ji sadar, pamannya demi menyelamatkan keadaan sengaja mengawini Ni Ceng-hiang, agar perempuan sesat ini dapat kembali ke jalan benar, karena itulah dengan sikap amat hormat dia menyembah tiga kali di depan ranjang. “Toasiok, Toacim, semua masalah serahkan saja kepada keponakan!” Saking terharunya, air mata jatuh bercucuran membasahi wajah Ni Ceng-hiang, untuk beberapa saat dia tak mampu mengucapkan sepatah kata pun. Seusai berpakaian dan menyaru muka, Cau-ji pun beranjak pergi meninggalkan ruangan. Baru keluar dari pintu, dia segera menyaksikan Im Jit-koh sedang bersembunyi di belakang pintu sambil menggapai ke arahnya. Dengan seksama anak muda itu memeriksa dulu sekeliling tempat itu, kemudian secepat kilat menyelinap masuk ke dalam kamarnya. “Tongcu, bagaimana masalahnya?” tanya Im Jit-koh dengan ilmu menyampaikan suara. “Semuanya sudah beres,” jawab Cau-ji sambil tertawa, “bukan saja ilmu silat kakakku sudah pulih kembali, bahkan mereka berdua telah melupakan semua kejadian masa lampau, seterusnya tak bakal ada masalah lagi.” “Ah, bagus sekali,” Im Jit-koh menghembuskan napas lega, “ulah Hu-kaucu selama ini cukup membuat hamba ketakutan setengah mati.” “Jit-koh, menyusahkan kau saja.” “Mana, Tongcu begitu baik kepada hamba, sudah sepantasnya bila aku pun berbuat untuknya!” “Jit-koh, apakah sudah mendapat kabar tentang partai-partai besar?” “Menurut laporan yang masuk, sepuluh tetua Bu-tong-pay sore nanti akan mengerahkan tiga- empat ratusan tukang kayu untuk mulai mendirikan barak di punggung bukit Gak-li-san, tampaknya barak itu disiapkan untuk tempat menerima tamu!” Cau-ji sama sekali tidak menyangka kalau Bu-tong-sip-lo yang punya kedudukan begitu terhormat ternyata bersedia menyandang gelar sebagai mandor tukang kayu, maka kembali tanyanya, “Apakah mereka telah melakukan sesuatu gerakan?” ‘Tidak, mereka hanya melakukan pengamatan secara diam-diam, oleh karena Kaucu telah menurunkan instruksi bahwa sebelum terjadinya pertarungan habis-habisan awal bulan depan, semua orang dianjurkan sebisa mungkin menghindari bentrokan, daripada kerugian akan bertambah besar.” “Ehm, masuk akal, kalau begitu perintahkan orang untuk menyiapkan hidangan dan arak di dalam kamarku, aku bermaksud merayakan hari keberhasilan-ku ini.” Diloloh berulang kali oleh Cau-ji dan Bwe Si-jin, akhirnya Ni Ceng-hiang mabuk berat. Setelah menidurkan perempuan itu di atas ranjang dan menutupinya dengan selimut, Bwe Si-jin balik kembali ke tempat duduknya dan berkata sambil tertawa, “Cau-ji, tak kusangka kau berhasil menyelesaikan semua persoalan di sini dengan lancar, terima kasih banyak!” “Toasiok, di antara kita berdua kenapa mesti sungkan? Tapi … benarkah Toasiok bermaksud mengawininya?’ “Benar, jangankan di masa lalu Toasiok pernah berpacaran dengannya, ditambah lagi perangai perempuan ini sebetulnya cukup baik, tentu saja Toasiok tak ingin dia terjerumus makin dalam kejalan yang sesat.” “Toasiok, mungkin tidak dia mengacau secara diam-diam?” “Seharusnya tidak, semisal dia menyesal, aku tetap masih bisa mengirimnya ke liang kubur. Cau-ji, tempat ini serahkan saja kepadaku, sementara kau sendiri tak ada salahnya menciptakan suasana teror dengan identitasmu sebagai Manusia pelumat mayat!” 85 “Bagus sekali!” seru Cau-ji kegirangan, “Toasiok, sebetulnya aku pun berniat melemahkan semangat juang para cecunguk Jit-seng-kau dengan melakukan berbagai teror, hanya saja aku tidak tahu di manakah mereka tinggal?” “Ayo jalan, kita cari Jit-koh, dialah yang menyambut dan mengatur tempat tinggal orang-orang itu.” Ketika kedua orang itu sudah meninggalkan ruangan, Ni Ceng-hiang yang pura-pura tidur di atas ranjang segera menangis dengan sedihnya. “Ternyata Suheng benar-benar bersikap baik kepadaku,” gumamnya, “padahal aku adalah perempuan kotor dan hina, pantaskah aku mendampinginya?” Berpikir sampai di situ, air mata yang meleleh keluar bertambah deras. Tengah malam telah menjelang tiba, di luar kota Tiang-sah, di dalam gedung milik Liu-wangwe. Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan hitam meluncur masuk dari luar dinding pagar sebelah kiri dengan kecepatan bagaikan kilat, tak lama kemudian bayangan hitam itu sudah selesai mengelilingi wilayah seluas tiga li itu. Bayangan hitam itu tak lain adalah Cau-ji yang bersiap menebar teror. Terlihat dia melayang turun di atas sebatang pohon yang rindang di tengah halaman, ia sedang berpikir bagaimana cara untuk turun tangan. Mendadak terdengar seseorang berkata, “Hei, Lo-ong, rupanya kau mengantuk, kalau sampai tertangkap Hiocu baru tahu rasa kau!” “Aduh, Lo-kiu, kenapa kau mesti berteriak keras, saat ini Hiocu sedang bermain cinta dengan Siau Tho-ang, tak mungkin dia keluar kamar untuk inspeksi, tolong bantulah aku mengawasi sekitar sini, aai … aku merasa mengantuk sekali.” “Maknya, dasar mata keranjang, begitu melihat nona kau langsung seperti orang kehilangan sukma, aku bilang, kalau kau tidak bisa mengendalikan diri, cepat atau lambat kau bakal mampus di bawah selangkangan wanita.” “Cuhhh, cuuuh … Lo-kiu, kau jangan bicara sembarangan, siapa suruh kau berlatih ilmu Kun- goan-khi-kang hingga tak berani menyentuh wanita.” “Hehehe, tahukah kau nona yang berada di Giok-hong-tong begitu menawan, bukan saja orangnya cantik, kungfunya juga hebat, apalagi ilmu ranjangnya ….” “Maknya, kalau ingin tidur cepatlah tidur, buat apa ngaco-belo tak keruan..” Lelaki di sebelah kanan tertawa ringan, lalu bersiap tidur. Mendadak terasa angin dingin berhembus, tahu-tahu Cau-ji dengan senyum dikulum telah muncul di hadapannya. Terdengar pemuda itu berkata, “Hehehe, kalau ingin tidur, tidur saja selamanya.” Secepat kilat tangan kanannya melancarkan sebuah bacokan ke depan. “Blamm!”, seketika itu juga orang itu sudah terhajar hancur. Saking takutnya, sekujur badan Lo-kiu gemetar keras, ia merasakan seluruh tubuhnya lemas dan tak mampu berkutik. Melihat orang itu ketakutan sampai terkencing-kencing, Cau-ji segera menegur sambil tertawa seram, “Lo-kiu, kau kemanakan ilmu Kun-goan-khi-kang?” Ejekan itu seketika menyadarkan Lo-kiu dari rasa takutnya, cepat dia menjatuhkan diri bertutut dan mohonnya, “Manusia pelumat mayat Cianpwe, hamba tidak melakukan kesalahan apa-apa terhadapmu, mohon ampunilah nyawaku.” “Hehehe, siapa suruh kau bergabung dengan Jit-seng-kau?” “Baik, baik, hamba segera akan keluar dari perkumpulan.” “Hehehe, mengingat kau tidak suka main perempuan, kali ini aku hanya minta telingamu saja sebagai peringatan, cepat enyah dari sini.” “Baik, baik!” Terdengar suara dengusan tertahan, tahu-tahu Lo-kiu sudah merobek sepasang telinganya dan terhuyung-huyung kabur dari tempat itu. Cau-ji sama sekali tak menyangka kalau julukannya sebagai Manusia pelumat mayat dapat mendatangkan teror dan horor yang begitu dahsyat terhadap musuh-musuhnya. Waktu itu di tengah ruang utama tampak ada dua-tiga puluhan orang sedang bersenda-gurau.
86 Ketika mendengar jeritan ngeri Lo-ong tadi, serentak kawanan jago itu bermunculan dari dalam ruangan, betapa gusarnya orang-orang itu ketika melihat ada seorang pemuda tampan sedang tertawa mengejek di depan pintu. Tatkala mereka semakin dekat dan melihat tubuh Lo-ong yang hancur berantakan, kawanan jago itu baru menjerit kaget, “Manusia pelumat mayat!” Tanpa diperintah pun serentak orang-orang itu melompat mundur. Cau-ji berhenti tertawa, perlahan-lahan dia mencabut Pedang pembunuh naganya, lalu mengejek, “Ingat baik-baik, dalam penitisan mendatang janganlah melakukan kejahatan.” Habis berkata, pedangnya segera diayun dan menerjang ke arah kerumunan manusia itu. Menghadapi datangnya ancaman, terpaksa kawanan jago itu menggigit bibir, melolos senjata dan melakukan pengepungan. Di antara kilatan cahaya tajam, jeritan ngeri berkumandang silih berganti. Di mana jaring pedang menyapu lewat, hancuran tubuh beterbangan ke empat penjuru. Tidak sampai tiga gebrakan, sudah ada dua puluhan manusia yang kehilangan nyawa. Melihat begitu ganas dan buasnya sepak-terjang Manusia pelumat mayat, lima-enam puluhan jago yang menyusul datang kemudian serentak mengambil Am-gi dan menimpuknya dengan gencar bagaikan hujan deras. Dengan tangan kanan memegang pedang, tangan kiri melancarkan pukulan, Cau-ji merangsek maju, begitu lolos dari timpukan senjata rahasia, dia terjang kerumunan orang banyak itu dan mulai melakukan pembantaian secara besar-besaran.
Dalam waktu singkat bangunan megah yang indah dan mewah itupun berubah jadi neraka dunia, jaring pedang yang menyebar di udara seolah utusan setan pencabut nyawa, dalam waktu singkat kembali tiga puluhan nyawa melayang. Sedang asyik-asyiknya Cau-ji membantai kawanan jago yang sedang melarikan diri terbirit-birit, mendadak terdengar suara derap kaki kuda yang santar berkumandang dari kejauhan, dia tahu bala bantuan musuh telah datang, segera pemuda itu memperdengarkan suara pekikan yang menusuk telinga. Permainan pedangnya semakin diperketat, pembantaian pun berlangsung makin mengerikan. Dalam keadaan seperti ini, kawanan jago itu hanya bisa menyesal mengapa orang tuanya hanya memberikan sepasang kaki untuk mereka, sekalipun sekuat tenaga orang-orang itu melarikan diri, namun korban yang berjatuhan di ujung pedang Cau-ji tetap banyak jumlahnya. Selesai melakukan pembantaian, Cau-ji berdiri menanti di tengah halaman gedung, diawasinya lelaki berbaju hitam yang baru melompat turun dari kudanya itu. Ternyata jumlah mereka mencapai tiga puluh enam orang dan masing-masing memegang golok panjang di tangan kanan dan tameng di tangan kiri. Setelah memasuki halaman gedung, orang-orang itu melirik sekejap hancuran tubuh yang berserakan di mana-mana, kemudian secepat kilat mengepung Cau-ji dari empat penjuru. “Hehehe,” Cau-ji tertawa seram, “besar juga nyali kalian, berani mengantar kematian di tempat ini!” Seorang lelaki berbaju hitam yang berada di posisi tengah segera membentak keras, “Manusia pelumat mayat, kau jangan merasa bangga dulu, coba buktikan dulu apakah hari ini kau bisa lolos dari tangan Sah-cap-lak-thi-wi (tiga puluh enam pengawal baja)!” “Hehehe, pengawal baja? Akan kulihat seberapa kerasnya tubuh kalian, ayo maju!” “Serang!” mendadak orang itu membentak keras. Serentak ketiga puluh enam orang itu bergerak maju melancarkan serangan bersama ke arah Cau-ji. Diam-diam Cau-ji menghimpun tenaga dalamnya dengan mengalihkan perhatiannya ke ujung pedang, dia sama sekali tak pandang sebelah mata pun terhadap orang-orang itu. Di sinilah letak kepintaran bocah muda ini, sebab gerakan cepat barisan lawan gampang menggoyahkan pikiran orang, semakin kau perhatikan maka kepalamu akan semakin pening, pandangan matamu akan semakin berkunang. Mendadak terdengar kawanan jago itu membentak nyaring, segera terlihat ada enam orang bergulingan di atas tanah, dengan tameng melindungi badan, golok panjangnya dipakai untuk membabat kaki Cau-ji.
87 Bersamaan itu ada enam orang lain melambung ke udara dan mengancam dari atas kepalanya.
Sementara enam orang lagi menyerang masuk dari samping mengancam jalan darah penting di dada dan punggung lawan. Cau-ji berpekik nyaring, tubuhnya melambung ke udara dan melesat sejauh lima tombak dari posisi semula, begitu lolos dari kepungan kedelapan belas orang itu, dia lepaskan satu tusukan ke dada seorang lelaki kekar. Merasakan datangnya cahaya tajam, lelaki itu segera menyongsong dengan tamengnya, sementara golok panjang di tangan kanannya menyapu ke iga kanan lawan. “Bluuukkk …!”, disusul jerit kesakitan yang memilukan. Lelaki itu berikut tamengnya tercabik-cabik oleh jaring pedang yang mengurungnya. “Criiing …!”, tersisa golok panjangnya yang segera jatuh ke lantai. Para jago lainnya sama-sama menjerit kaget begitu melihat tameng pelindung badan mereka ternyata ibarat kayu lapuk yang sama sekali tak ada gunanya, kontan barisan pun jadi kalut. Menggunakan kesempatan yang sangat baik inilah Cau-ji segera mengembangkan serangan pedang maupun pukulannya. Jeritan ngeri pun bergema silih berganti. Hancuran badan, ceceran darah berhamburan mengotori seluruh permukaan tanah. Dua puluhan gadis Giok-hong-tong yang semula berniat membantu rekan-rekannya yang sedang bertempur jadi ketakutan setengah mati setelah menyaksikan kehebatan ilmu silat Cau-ji, bukannya maju membantu, perempuan-perempuan itu justru bersembunyi di dalam kamar karena ketakutan. Setengah jam kemudian jago-jago yang tersisa pun semakin tercecar hebat, tak lama kemudian mereka ikut punah dengan badan hancur-lebur. Cau-ji tertawa seram, dengan gerakan cepat dia menerobos masuk ke dalam ruangan, kemudian dengan kejinya dia menghabisi semua perempuan anggota Giok-hong-tong yang berada di situ. Menjelang pagi hari terlihat api berkobar dengan ganasnya membakar bangunan gedung yang megah dan mewah itu. Dalam waktu singkat lautan api yang membara telah menyelimuti seluruh udara. Diiringi tertawa seram, Cau-ji pergi meninggalkan tempat itu. 0oo0 Selama beberapa hari berikutnya, secara beruntun Cau-ji menyatroni gedung yang digunakan Jit-seng-kau untuk menampung anggotanya, baik fajar atau malam, pembunuhan berdarah terjadi di mana-mana. Setiap kali habis melakukan pembunuhan, Cau-ji pun lenyap jejaknya. Begitulah, dalam waktu singkat ada tujuh-defapan ratus orang anggota Jit-seng-kau yang menemui ajalnya. Sebagian anggota jit-seng-kau yang melihat gelagat tidak menguntungkan, secara diam-diam kabur meninggalkan induknya. Tengah hari itu, Su Kiau-kiau bersama Ngo-hong-tong Tongcu si dewi burung hong dengan mengajak tiga orang kakek berusia delapan puluh tahunan yang berdandan aneh tiba di rumah makan Jit-seng-ciu-lau. Bwe Si-jin segera menemani Ni Ceng-hiang dan Im Jit-koh menyambut kedatangan kelima orang itu masuk ke dalam ruang rahasia. Tatkala Su Kiau-kiau memperkenalkan ketiga rekan yang dibawanya, diam-diam Bwe Si-jin merasa terperanjat sekali. Dia sama sekali tak menyangka kalau tiga siluman dari wilayah Biau ternyata masih hidup, dia lebih kuatir lagi ketika mengetahui bahwa ketiga jago itu merupakan jago yang lihai dalam menggunakan racun. Ketika Su Kiau-kiau mendapat tahu kalau Manusia pelumat mayat telah melakukan pembunuhan secara besar-besaran, bahkan telah memusnahkan ratusan jagonya, dalam terkejut dan ngerinya dia pun segera memohon bantuan dari tiga manusia siluman itu.
88 Setelah tertawa seram berulang kali, terdengar siluman pertama berkata, “Kaucu, tak ada salahnya kita gunakan cara yang sama untuk membalas mereka, bagaimana kalau kita habisi dulu para jago dari partai besar?” “Hebat!” sahut Su Kiau-kiau gembira, “kalau begitu aku serahkan semua masalah ini kepada kalian bertiga dewa hidup!” Siluman pertama tertawa terkekeh, sambil memeluk tubuh Su Kiau-kiau, katanya lagi, “Sayang, besok pagi aku akan mulai turun tangan terhadap mereka.” Sembari berkata, sepasang tangannya mulai menggerayang badan perempuan itu. Siluman kedua segera melirik sekejap ke arah Ni Ceng-hiang, lalu sambil tertawa dia menggapai ke arahnya. Biarpun merasa muak dalam hati, Ni Ceng-hiang berlagak seolah-olah tidak mengerti. “Sumoay,” seru Su Kiau-kiau kemudian tertawa jalang, “Lo-sinsian ingin menyayangimu, hehehe” Baru saja Ni Ceng-hiang hendak menampik dengan alasan badannya tak sehat, tahu-tahu siluman kedua telah menggapaikan tangan kanannya, tak tahan lagi tubuhnya terhisap sehingga maju selangkah ke depan. Menghadapi kejadian seperti ini, diam-diam dia pun menghela napas panjang, kemudian berjalan mendekat. Bwe Si-jin yang menyaksikan kejadian itu merasa amat gusar, namun dia tak berani mengumbar hawa amarahnya, terpaksa sambil menahan rasa mendongkol dia pun mengundurkan diri dari kamar. Berhubung Su Kiau-kiau telah balik, walaupun Bwe Si-jin masih melakukan kontak dengan Cau- ji, namun dia tak berani bertindak sembarangan. Dari mana dia tahu kalau saat itu Cau-ji sedang menyamar menjadi seorang sastrawan berusia pertengahan dan duduk di atas loteng Jit-seng-ciu-lau sambil meneguk arak? Ketika melihat kemunculan tiga siluman dari wilayah Biau, dia seketika tertarik perhatiannya oleh dandanan serta gerak-gerik ketiga orang itu, saat itu dia sedang berusaha mendekati orang- orang itu. Berhubung identitasnya sebagai Hek Hau-wan telah disiarkan sebagai jelmaan dari Manusia pelumat mayat, saat ini dia pun kehabisan akal untuk mencari peluang itu. Sementara dia masih pusing tujuh keliling, mendadak terlihat Im Jit-koh sedang berjalan menuju ke meja kasir, dengan perasaan girang segera bisiknya dengan ilmu menyampaikan suara, “Jit-koh, aku berada di atas loteng!” Habis berkata, dia pun berteriak keras, “Pelayan, siapkan sepoci arak lagi!” Im Jit-koh segera menyahut, sambil membawa sepoci arak ia berjalan menghampirinya. Sambil tersenyum Cau-ji manggut-manggut, tiba-tiba ia saksikan Im Jit-koh menjatuhkan segulung kertas ketika sedang mengambilkan mangkok baginya, kemudian menindih gulungan kertas itu dengan poci arak. “Apakah tuan masih menghendaki sesuatu?” tanyanya nyaring. “Cukup, kalau perlu aku akan memanggil lagi.” Menggunakan kesempatan ketika orang tidak menaruh perhatian, diam-diam Cau-ji membuka gulungan kertas itu dan membaca isinya: “Besok pagi Jit-seng-kau akan mulai menyerang partai-partai besar!” Diam-diam Cau-ji terkesiap, cepat dia simpan kertas itu dalam saku, lalu sambil meneguk arak dia mulai putar otak mencari akal.
Akhirnya cepat dia membayar rekening, kemudian berangkat menuju ke bukit Gak-li-san. Gunung Gak-li-san terletak di samping sungai Leng-kang, bukan saja pemandangan sangat indah, bahkan bisa ditempuh baik lewat jalan darat maupun jalan air. Setelah menyeberangi sungai, Cau-ji segera menelusuri jalan perbukitan dan menuju ke puncak gunung. Sepanjang jalan seringkali ia mendengar suara kicauan burung dari balik pepohonan, Cau-ji tahu kalau suara itu bukan kicauan burung melainkan kode rahasia petugas yang berjaga di sana, karenanya sambil tersenyum kembali ia melanjutkan perjalanan.
89 Ketika tiba di punggung bukit, segera terlihatlah pagar kayu yang tinggi menghadang perjalanan selanjutnya, di antara pagar kayu itu terdapat sebuah pintu, di atas pintu tergantung papan nama yang berbunyi, “Khe-sim-jut-mo” (bersatu-padu membasmi iblis). Baru saja dia akan melangkah masuk ke pintu pagar itu, tampak seorang Tosu dan seorang Hwesio muncul menghadang jalan perginya. Tampak Hwesio berusia tiga puluh tahunan itu menegur, “Omitohud, boleh tahu siapa nama Sicu? Ada urusan apa datang kemari?” “Aku dari marga Ong dengan julukan Manusia pelumat mayat, khusus datang kemari untuk turut serta membasmi kaum iblis!” Begitu mendengar gelar itu, kedua orang itu nampak sangat terperanjat, dengan mata terbelalak lebar jeritnya, “Manusia pelumat mayat?” “Benar, tolong tanya apakah It-ci Lo-siansu dan Goan-tong Ciangbunjin berada di sini juga?” Mendengar pertanyaan ini, Hwesio itu segera tahu kalau orang ini tak lain adalah Ong-kongcu yang pernah menyelamatkan biara mereka dari bencana. Sahutnya cepat dengan sikap hormat, “Silakan Sicu mengikuti Pinceng!” Cau-ji diajak menelusuri bangunan rumah yang berderet-deret sepanjang jalan sebelum akhirnya tiba di sebuah bangunan yang luas. Tampak Hwesio itu melanjutkan perjalanan ke dalam ruangan, tampaknya dia sedang memberi laporan. Tak lama kemudian terdengar sorak-sorai bergema dari balik ruangan diikuti munculnya segerombol manusia. Begitu dilihat, Cau-ji merasa amat terperanjat, ternyata orang yang berjalan paling muka tak lain adalah ayahnya, Ong Sam-kongcu. Sesudah tertegun sejenak, akhirnya cepat dia hapus penyaruannya dan berlutut sambil memanggil, “Ayah!” Dengan wajah berseri Ong Sam-kongcu membangunkan putranya. “Cau-ji” katanya, “mari kukenalkan beberapa orang Cianpwe!” Di depan pintu ruangan tampak ada puluhan orang sedang berdiri di sana sambil mengawasi ke arahnya dengan senyum dikulum, biar dia bernyali besar pun tak urung terkesiap juga dibuatnya. Oleh Ong Sam-kongcu, dia diperkenalkan kepada Ciangbunjin sembilan partai besar, ketua Kay- pang, serta kawanan jago lainnya, ketika melihat tiga bersaudara Cu serta Thian-te-sian-lu pun berada di sana, Cau-ji sempat tertegun karena kaget. Dengan wajah memerah karena malu, Cu Bi-ih menegur sambil tersenyum, “Kongcu, mari kuperkenalkan dirimu dengan tiga puluh enam pengawal pribadi ayahku.” “Cau-ji,” sambung Ong Sam-kongcu cepat, “para Cianpwe ini dulunya adalah para Enghiong Hohan kenamaan, kau tak boleh lupa adat!” Begitulah satu per satu Cu Bi-ih memperkenalkan pengawalnya kepada Cau-ji. Ketika melihat Suto bersaudara, Siang bersaudara serta Siau-hong pun hadir di sana, pemuda itu segera menyapa, “Baik-baikkah kalian.” “Saudara-saudara sekalian,” terdengar Ong Sam-kongcu berkata lagi sambil tersenyum, “kedatangan putraku hari ini pasti ada urusan penting yang hendak disampaikan kepada kalian, mari kita berbicara di dalam ruangan saja.” Semua orang mengangguk tanda setuju, maka Ong Sam-kongcu dengan memimpin para jago masuk ke dalam ruangan. Cu bersaudara dengan statusnya sebagai tuan putri sebetulnya duduk di sisi kanan Ong Sam- kongcu, kini secara otomatis bergeser ke samping berhubung It-ci Taysu telah memaksa Cau-ji untuk duduk di posisi Cu Bi-ih itu. Jelas para jago pun tahu kalau ketiga tuan putri itu telah dijodohkan kepada Cau-ji. Terdengar Ong Sam-kongcu bertanya dengan lantang, “Cau-ji, selama beberapa hari ini ada beratus orang anggota Jit-seng-kau yang mati terbunuh, apakah semua pembantaian itu merupakan hasil karyamu?” “Benar, mohon maafkan tindakan ananda!” “Hahaha, membasmi kejahatan sesungguhnya merupakan suatu perbuatan mulia, hanya saja caramu turun tangan kelewat telengas dan kejam!” 90 “Soal ini..” “Omitohud!” sela It-ci Taysu tiba-tiba, “Ongya, Jit-seng-kau sudah kelewat jahat dan kejam, apabila putramu tidak bertindak telengas, mungkin mereka tak akan keder.” Tertegun Cau-ji mendengar pendeta itu menyebut ayahnya sebagai Ongya. Melihat itu Ong Sam-kongcu segera berlagak pilon, tampaknya dia masih ingin merahasiakan masalah ini, maka tanyanya sambil tersenyum, “Cau-ji, secara tiba-tiba kau menyusul kemari, apakah ada urusan penting yang harus dilaporkan? Bagaimana keadaan Bwe-toasiok?” “Ayah, saat ini Bwe-toasiok masih menyusup di rumah makan Jit-seng-ciu-lau, tengah hari tadi ketua Jit-seng-kau tiba-tiba balik ke rumah makan dengan membawa tiga orang kakek berdandan aneh, menurut laporan, besok siang mereka akan melancarkan serangan ke tempat ini!” Mendengar laporan ini, semua orang jadi terperanjat. “Cau-ji” kata Ong Sam-kongcu kemudian, “tahukah kau akan asal-usul dari ketiga orang kakek itu?” Cau-ji menggeleng. “Ananda tidak tahu, tapi ananda masih ingat bagaimana wajah serta dandanan mereka.” Bicara sampai di situ, dia pun segera menjelaskan secara terperinci. Begitu mendengar penuturan bocah itu, Leng Bang segera berteriak keras, “Ah, rupanya Tiga siluman dari wilayah Biau, tak disangka mereka masih hidup di dunia ini!” Sebagian besar jago yang hadir di tempat itu belum pernah berjumpa dengan Tiga siluman dari wilayah Biau, namun sudah sering mendengar sepak terjang serta perbuatan busuk yang mereka lakukan, ketika melihat Leng Bang menunjukkan mimik muka begitu kaget, paras muka mereka pun ikut berubah. Terdengar Leng Bang berkata dengan serius, “Sebelum Lohu suami-istri bergabung dengan istana, suatu ketika pernah bertempur sengit melawan mereka bertiga, gara-gara pertarungan itu nyaris kami berdua kehilangan nyawa.” “Berbicara soal ilmu silatnya,” sambung Chin Tong, “sekalipun termasuk aliran sesat dan aneh, kemampuan kita semua masih sanggup menghadapinya, yang dikuatirkan justru ilmu racunnya.” Bagi kawanan jago dunia persilatan, “racun” merupakan musuh yang paling ditakuti, tak heran kalau hati semua orang bergetar keras mendengar ucapan itu. Tiba-tiba Cu Bi-ih bertanya, “Congkoan, apakah pil Cay-seng-wan mampu mencegah bekerjanya pengaruh racun?” “Bisa,” jawab Chin Tong cepat, “hanya saja bukankah pil itu merupakan obat mestika miliki nona bertiga.” “Demi kepentingan umum, ambil dan cairkan ke dalam air, kemudian bagikan kepada para Cianpwe.” Betapa terharu dan terima kasihnya kawanan jago itu mendengar perkataan ini. Setelah Thian-te-sian-lu memberi penjelasan tentang ilmu silat yang dimiliki ketiga siluman dari wilayah Biau, Ong Sam-kongcu mulai mengajak para jago memikirkan cara terbaik untuk menghadapinya, sementara Chin Tong bersama para nona pergi menyiapkan air yang telah dicampuri pil Cay-seng-wan. Selesai bersantap malam dan minum air yang bercampur pil Cay-seng-wan, para jago pun kembali ke kamar masing-masing untuk mengatur pemapasan. Dengan susah-payah Cau-ji menunggu hingga semua orang sudah meninggalkan ruang pertemuan, ketika sekelilingnya tinggal Siang Ci-ing, Suto bersaudara serta Siau-hong, dia baru bertanya kepada ayahnya mengapa bisa menjadi Ongya. Sambil tertawa terbahak-bahak sahut Ong Sam-kongcu, “Cau-ji, ayahmu bisa terhormat gara- gara dirimu.” “Ayah, ananda.tidak paham maksud perkataanmu itu.” “Hahaha, Cau-ji, seandainya kau tidak menolong biara Siau-lim serta menyelamatkan nyawa nona-nona dari keluarga Cu, mana mungkin mereka bisa memperjuangkan gelar kehormatan serta posisi tertinggi dalam sejarah dunia persilatan bagiku?” Cau-ji semakin tercengang dibuatnya, buru-buru dia melirik sekejap ke arah para gadis, kemudian tanyanya, “Ayah, apakah kau mengetahui asal-usul para nona keluarga Cu?” 91 “Tentu saja tahu! Sungguh tak kusangka meski merupakan keturunan kaum ningrat, namun mereka sama sekali tidak memperlihatkan kesombongan, bahkan pandangannya jauh ke depan. Cau-ji, mungkin ini memang merupakan rejekimu, baik-baiklah memanfaatkan kesempatan!” “Ayah, aku dengar ada peraturan dari kerajaan yang melarang tuan putri menikah dengan rakyat biasa, khususnya orang-orang persilatan, aku rasa hal ini kurang begitu cocok!” “Hahaha, berkat kemurahan hati Baginda raja, ditambah lagi ketajaman mata ketiga tuan putri, begitu perkumpulan Jit-seng-kau berhasil dimusnahkan, kami keluarga Ong segera akan menyelenggarakan pesta perkawinan. Hahaha” Merah padam wajah Cau-ji mendengar perkataan itu, begitu pula dengan Suto bersaudara sekalian berempat. Sambil tersenyum, kembali Ong Sam-kongcu bertanya, “Cau-ji, selain anak Ing, anak Si, anak Bun serta anak Hong, apakah di luaran kau masih mempunyai nona lainnya?” Dari sebutan yang digunakan ayahnya, Cau-ji tahu kalau nona-nona itu sudah diterima secara resmi, dengan hati gembira buru-buru sahutnya, “Ayah, mana berani ananda mencari nona lain lagi?” “Cau-ji, baru keluar rumah beberapa hari, kau sudah mendapat tujuh orang nona, bila tidak sedikit dikendalikan, kemungkinan besar kau bisa mengalahkan rekor ayahmu.” “Ananda tidak berani, karena dipaksa keadaan ananda mendapatkan nona-nona itu, tentang keadaan yang sesungguhnya biar Bwe-toasiok yang menjelaskan kepadamu, terutama menghadapi ketiga tuan putri, ananda selalu berusaha menjaga jarak!” Tiba-tiba Ong Sam-kongcu berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Cau-ji, kau memang hebat sekali, apa yang telah kau lakukan hingga ketiga tuan putri mengejar dirimu?” Habis berkata ia segera mendongakkan kepala dan tertawa terbahak-bahak. Keempat nona itu menyangka Ong Sam-kongcu sedang menertawakan mereka, hal ini membuat mereka semakin jengah. Cau-ji sendiri hanya termenung sambil tertawa bodoh.
Tiba-tiba tampak Leng Bang muncul dari dalam ruangan. Ong Sam-kongcu segera menghentikan tawanya seraya bertanya, “Leng tua, kau belum beristirahat?” “Ongya,” sahut Leng Bang sambil tersenyum, “bolehkah putramu berbincang sebentar dengan ketiga tuan putri kami?” “Hahaha, Leng tua, itu kan urusan muda-mudi, aku tidak ikut campur.” Sekalipun berkata begitu, namun dia manggut-manggut juga ke arah Cau-ji tanda setuju. Cau-ji segera mengalihkan pandangan matanya ke wajah keempat gadis itu, melihat Siang Ci- ing maupun Suto bersaudara mengangguk sambil tersenyum, hatinya jadi lega, dia pun segera beranjak pergi mengikut di belakang Leng Bang.
Setelah keluar dari ruangan, mereka berdua menuju ke sebuah bilik di sisi kanan, setelah mengangguk kepada dua orang pengawal, mereka pun melangkah masuk ke dalam ruangan. Chin Tong serta tiga bersaudara Cu segera bangkit menyambut. Dengan wajah merah padam Cau-ji mengambil tempat duduk, untuk sesaat dia tak tahu bagaimana harus buka suara. “Huma (menantu raja)!” kata Leng Bang sambil tertawa tergelak, “apakah kau yakin menghadapi pertempuran esok hari?” “Cianpwe,” sela Cau-ji dengan wajah semu merah, “kenapa kau panggil aku dengan sebutan itu?” “Hahaha, Baginda telah menganugerahkan gelar Ongya kepada ayahmu, berarti rintangan di hadapan kalian pun sudah disingkirkan, begitu Jit-seng-kau dilenyapkan, bukankah kalian segera akan menikah di kota raja.” “Terima kasih atas bantuan Cianpwe.” “Lohu tidak berani merebut jasa ini, semuanya berjalan lancar berkat bantuan ketiga tuan putri serta permaisuri, sudah, kalian boleh berbincang-bincang, sudah menjadi orang sendiri, tak perlu sungkan.” Habis berkata, bersama Chin Tong segera ia mengundurkan diri dari ruangan.
92 Kini tinggal empat orang yang masih berada dalam ruangan, namun mereka semua tenggelam dalam rasa malu hingga tak seorang pun yang buka suara. Lama kemudian akhirnya Cau-ji memberanikan diri buka suara, tiba-tiba dilihatnya Cu Bi-ih pun sedang bersiap bicara, maka buru-buru serunya, “Tuan putri, silakan bicara dulu.” “Kongcu, silakan kau dulu,” jawab Cu Bi-ih jengah. Cau-ji menarik napas panjang, setelah menenangkan hati ia berkata sambil tersenyum, “Tuan putri, terima kasih banyak karena kalian telah mengangkat derajat keluarga Ong.” “Kongcu, sepak terjang Jit-seng-kau sudah sangat meresahkan kehidupan rakyat banyak, bagaimana pun sudah sewajarnya bila Ongya menerima gelar ini atas jasa-jasanya.” “Kongcu, bukannya aku sedang mencari simpatik darimu, sejujurnya masalah gelar bukanlah sesuatu yang gampang diperoleh, karena sebelum kejadian ini memang tak pernah ada peristiwa semacam ini. “Untuk menghindari perdebatan di antara para menteri, sebelum mengambil keputusan soal gelar, kami telah membicarakan dulu dengan para perdana menteri. “Sejujurnya, apa yang kami lakukan selama ini tak lepas dari kepentingan kami sendiri, karena itu kami berharap Kongcu bisa menerima kehadiran kami bertiga” Luar biasa, ungkapan perasaan secara blak-blakan! “Cici,” seru Cau-ji serius, “padahal Siaute tak mempunyai kemampuan apa-apa, tak disangka kalian bertiga bisa begitu menyayangi aku. Siapa bilang menolak? Untuk merasa senang pun Siaute tak sempat.” “Hanya saja Siaute perlu kemukakan terlebih dulu, dalam pandangan Siaute Cici bertiga sama seperti kelima Cici lainnya, Siaute tak akan bersikap lebih hormat hanya dikarenakan status Cici bertiga adalah tuan putri.” “Tidak berani!” buru-buru ketiga nona itu menyahut. Dengan perasaan amat girang Cau-ji segera menggenggam tangan ketiga nona itu sambil berseru lembut, “Cici, terima kasih banyak!” Ketiga nona itu tertegun begitu tangannya dipegang Cau-ji, mereka merasakan pergolakan perasaan yang aneh. Cau-ji tidak tinggal diam, cepat dia peluk Cu Bi-ih dan langsung mencium bibirnya. Ternyata Cu Bi-ih menyambut ciuman itu dengan pasrah, bahkan sambil memejamkan mata dia balas mencium pemuda itu. Begitulah secara bergantian Cau-ji menciumi ketiga gadis itu…. Entah beberapa saat sudah lewat, tiba-tiba mereka dikejutkan oleh suara pertarungan yang berkumandang datang dari arah lapangan. Buru-buru mereka berempat keluar dari kamar dan menyusul ke tempat kejadian. Tampak ratusan orang berbaju hitam sedang terlibat dalam pertarungan sengit melawan para jago. Begitu Ong Sam-kongcu melihat kemunculan Cau-ji, ia segera berseru dengan ilmu menyampaikan suara, “Cau-ji, kau jangan turun tangan dulu!” Melihat Suto bersaudara berempat berdiri di samping Ong Sam-kongcu, Cau-ji segera mengajak tiga orang bersaudara Cu menyusul ke sana, tanyanya, “Ayah, kenapa ananda tak boleh turun tangan?” “Cau-ji, kedatangan orang-orang itu hanya ingin menyelidiki kekuatan kita, jadi cukup diladeni para jago saja. Coba lihat, betapa kosennya ketiga puluh enam pengawal itu!” Ketika semua orang mengalihkan pandangan mata ke tengah arena, terlihatlah ketiga puluh enam jago lihai dari istana itu, di bawah petunjuk Thian-te-sian-lu telah membentuk sebuah barisan untuk membendung datangnya serangan musuh. Berhubung mereka merupakan jago-jago berilmu tinggi, ditambah pula ilmu barisan yang digunakan pun sangat hebat, tak sampai beberapa saat kemudian ketiga puluhan jago Jit-seng- kau berhasil ditumpas. Melihat serangan musuh begitu tangguh, mendadak salah satu dari manusia berbaju hitam itu berseru, “Mundur!” Kemudian bagaikan air bah segera mengundurkan diri dari sana.
93 Ketiga puluh enam jago keraton itu segera membentak nyaring, barisan mereka dibentangkan makin lebar, dalam waktu sekejap ada dua puluhan orang yang kurang cepat larinya seketika terkurung dan tak mampu melarikan diri. Selang beberapa saat kemudian di tengah jerit kesakitan yang menyayat hati, dua puluhan jago Jit-seng-kau berhasil dimusnahkan. Dengan buyarnya serangan musuh, ketiga puluh enam pengawal istana pun ikut mundur dari arena pertarungan, sementara Leng Bang dan istrinya berjalan mendekat sambil tertawa tergelak. “Cianpwe, hebat sekali ilmu barisanmu!” seru Ong Sam-kongcu sambil menyongsong kedatangannya. “Hahaha, Ongya kelewat memuji, semuanya ini merupakan hasil didikan Toakongcu!” ujar Leng Bang sambil tertawa. “Ooh, benarkah itu anak Ih?” tanya Ong Sam-kongcu sambil berpaling ke arah Cu Bi-ih. Tak terlukiskan rasa girang Cu Bi-ih setelah mendengar panggilan itu, buru-buru sahutnya dengan hormat, “Ayah, ananda senang mengatur barisan, hanya permainan kecil!” “Bagus, bagus sekali,” kata Ong Sam-kongcu, kemudian dia pun mengajak para jago menjenguk korban terluka. Sementara Cu Bi-ih pun berbisik, “Adik Cau, Cici semua, mari ikut aku.” Setelah berada dalam ruangan, Cu Bi-ih kembali berkata, “Adik Cau, Cici semua, setelah menyaksikan pertarungan tadi, timbul keinginanku untuk menciptakan sebuah ilmu barisan baru, mari kita rundingkan bersama.” Habis berkata, dia pun membuat gambar barisan delapan dewa dan mulai menjelaskan seluk- beluknya. Semua orang memperhatikan dengan seksama, setengah jam kemudian semua orang sudah mengerti, maka dilakukan pembagian tugas, Cau-ji yang berilmu paling tinggi bertugas menjadi ujung tombak, sementara Siau-hong yang kungfunya paling cetek bertugas membantu mana yang perlu. Selesai pembagian tugas, mereka berdelapan pun mulai melakukan latihan. Setelah berlatih hampir satu setengah jam lamanya, barisan itu mulai dapat berjalan dengan lancar. Baru saja mereka hendak berhenti berlatih, mendadak terdengar Leng Bang berseru sambil tertawa, “Lihat serangan!” Ternyata dia bersama Chin Tong dan sepuluh jago istana melancarkan serangan dari empat penjuru. Barisan delapan dewa ternyata memang sangat luar biasa, serangan demi serangan yang dilancarkan seolah membentuk selapis dinding hawa murni yang tak berwujud, bukan saja gagal menyarangkan pukulannya, bahkan timbul tenaga pantulan yang membuat mereka kelabakan. Dalam keadaan begini, terpaksa para jago harus berkelit kian kemari. “Berbalik!” tiba-tiba Cau-ji membentak keras. Di antara berkelebatnya bayangan manusia, dalam waktu singkat Leng Bang berdua belas orang malah terkepung rapat di tengah barisan. Leng Bang sekalian segera merasakan tubuh mereka seolah diombang-ambingkan di tengah gelombang dahsyat, dari empat penjuru seakan timbul tenaga pukulan yang dahsyat, hal ini membuat kawanan jago itu kelimpungan. Mereka merasa tenaga yang menekan datang semakin menghimpit, napas pun makin berat dan tersengal. Cau-ji melirik sekejap ke arah para jago yang waktu itu berkumpul di sana makin banyak, serunya, “Mohon petunjuk dari Cianpwe sekalian!” Sambil tersenyum Ong Sam-kongcu segera memberi tanda, ketua Kay-pang, Ciangbunjin dari sembilan partai serta belasan jago serentak membentak nyaring dan menerjang dalam barisan. Dua puluhan jago itu terhitung tokoh kelas satu dalam dunia persilatan saat ini, tentu saja kekuatan mereka luar biasa hebatnya. Dihimpit oleh kekuatan yang datang dari luar dan dalam, barisan delapan dewa mulai menunjukkan kekalutan.
94 Untung ilmu silat yang dimiliki Cau-ji sangat hebat, dengan menggunakan jari tangan sebagai pengganti Pedang pembunuh naga, dia mulai melawan dengan ilmu pedang andalannya itu, sepeminuman teh kemudian keadaan barisan itu makin stabil. Menyusul kemudian daya kekuatannya pun mulai tampak. Setengah jam berikutnya keadaan para jago mulai tercecar, dengus napas mereka pun terdengar makin berat. “Hati-hati para Cianpwe!” tiba-tiba Cau-ji tertawa nyaring, “bubar!” Barisan itupun segera ditarik kembali, sementara kedelapan muda-mudi itu hanya berdiri dengan tersenyum. Sambil menjura kepada para jago, Cau-ji pun berkata, “Terima kasih banyak atas petunjuk para Cianpwe” “Hebat, mengagumkan!” sahut para jago sambil menjura. “Hahaha, malam sudah kelam, mari kita pergi beristirahat,” sela Ong Sam-kongcu kemudian sambil tertawa tergelak.
0oo0 Tengah hari telah menjelang, angin utara berhembus kencang, awan tebal pun menyelimuti angkasa, membuat langit terasa gelap gulita. Para jago sarapan lebih awal, kemudian mereka pun bersemedi sambil menghimpun kekuatan. Suasana di tanah perbukitan terasa hening sekali, kecuali deru angin utara, nyaris tak terdengar suara apa pun. Tiba-tiba terdengar suara tertawa seram berkumandang dari kejauhan. Dengan wajah serius para jago serentak berlari menuju ke tengah lapangan, tampak Ong Sam- kongcu berdiri di posisi tengah dan dikelilingi oleh Cau-ji, ketujuh gadis serta Ciangbunjin dari partai-partai besar. Di sayap kiri berdiri dua ratusan jago dari berbagai aliran, sementara di sayap kanan berjajar Thian-te-sian-lu serta tiga puluh enam jago istana. Suara pekikan makin lama semakin nyaring, sepeminuman teh kemudian terdengar suara benturan keras memekakkan telinga, tahu-tahu papan nama yang tergantung di depan pagar kayu telah hancur dan berhamburan ke mana-mana. “Sreeeet…!”, enam sosok lelaki berdandan aneh, berwajah menyeramkan tahu-tahu sudah memasuki lapangan dengan langkah lebar, mereka berhenti lebih kurang lima tombak di hadapan para jago. Suara pekikan makin lama makin bertambah nyaring, terlihat tiga buah tandu mewah muncul dari balik reruntuhan pagar kayu. Kemudian terlihat ratusan lelaki berdandan aneh menyebar di belakang ketiga tandu itu dengan membuat posisi kipas, sedang lima ratusan lelaki berbaju hitam lainnya tersebar di kedua sisi mereka. Bwe Si-jin dengan pakaian serba hitam serta Im Jit-koh segera tampil membuka tirai yang menutupi ketiga tandu mewah tadi, terlihat tiga siluman dari wilayah Biau sambil memeluk tubuh Su Kiau-kiau, Ni Ceng-hiang dan Un Bun melompat keluar dari balik tandu. Ternyata mereka memang tak malu disebut siluman, biarpun sedang maju perang, tidak lupa tetap memeluk wanita cantik. Dengan langkah genit Su Kiau-kiau segera tampil ke depan, setelah memandang sekejap kawanan jago itu, serunya, “Aduh mak, ternyata semua jago telah berkumpul di sini, hebat, hebat sekali.” “Su-kaucu” ujar Ong Sam-kongcu lantang, “dulu mengingat kau adalah seorang wanita, umat persilatan pernah mengampuni jiwamu satu kali, seharusnya kau manfaatkan kesempatan itu untuk memperbaiki diri, kenapa malah menggerakkan pasukan lagi untuk membuat keonaran?” Su Kiau-kiau tertawa seram. “Mengampuni nyawaku? Hehehe, pembantaian berdarah yang pernah kau lakukan di masa lampau serta siksaan batin yang kualami selama puluhan tahun, membuat hatiku benar-benar amat mendendam. Hari ini, aku akan menuntut balas terhadap kalian!” 95 “Dasar perempuan tak tahu diri,” Ong Sam-kongcu menghela napas panjang, “terpaksa kita harus menyelesaikan semua masalah dengan kekerasan.” Mendengar perkataan itu, serentak para jago melolos senjata. Siluman pertama berpekik nyaring, kawanan siluman yang berada di belakangnya serentak melolos senjata gada gigi serigala, kemudian di bawah pimpinan keenam manusia raksasa itu, mereka menyerbu dari tiga arah. Cau-ji berdelapan dengan barisan delapan dewanya segera mengurung ketat ketiga manusia raksasa itu, pertempuran pun berlangsung amat seru, sementara tiga puluh lelaki berbaju hitam mengepung dari luar. Melihat itu, tiga puluh enam jago istana serentak maju mengepung orang-orang itu dari lapisan paling luar. Di antara kilatan cahaya senjata, pertempuran sengit pun seketika berlangsung. Meskipun jumlah orang tidak berimbang, namun para jago dari kalangan putih bertarung dengan gagah berani, mereka sudah melupakan keselamatan sendiri. Jerit kesakitan, teriakan gusar, desingan angin tajam bergema silih berganti. Cau-ji dengan mengandalkan pedang di tangan kanan dan pukulan di tangan kiri bertekad menyelesaikan pertarungan secepat mungkin, dia menyerang tanpa belas kasihan, tak sampai sepuluh gebrakan ketiga raksasa itu sudah dibabat kutung jadi tiga bagian. Tiba-tiba dia mulai bersin berulang kali, sadar pihak lawan mulai menggunakan racun, segera teriaknya, “Hati-hati ada racun!” Hawa napsu membunuhnya makin berkobar, jaring pedang pun semakin melebar. Tak sampai setengah jam kemudian beberapa ratus orang itu secara beruntun menemui ajalnya, yang aneh tiga siluman dari wilayah Biau itu hanya tertawa seram dan sama sekali tidak mengirim orang untuk membantu.
Melihat sikap yang sangat aneh itu Ong Sam-kongcu merasa keheranan, tapi begitu mendengar teriakan Cau-ji, dia segera mengerti, rupanya pihak lawan sedang menunggu hingga lawannya mulai keracunan baru turun tangan, maka bentaknya, “Maju!” Jauh sebelum Ong Sam-kongcu menurunkan perintah, Cau-ji sudah mendengar bisikan dari Bwe Si-jin, “Cau-ji, kau serang siluman ketiga dengan kecepatan tinggi, mari kita bekerja sama dengan Toasiok untuk melenyapkan iblis-iblis itu!” Maka begitu mendengar perintah Ong Sam-kongcu, segera bentaknya, “Serbu!” Dengan memimpin tujuh gadis, dia langsung menyerang tiga siluman dari wilayah Biau. Bentakan ini disertai tenaga dalam yang amat sempurna, akibatnya kendatipun ketiga siluman tua dari wilayah Biau itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna, tak urung tergetar juga hatinya. Pada saat itulah mendadak Ni Ceng-hiang mencabut pisau belati dari dalam sakunya, lalu ditusukkan langsung ke jalan darah Bing-bun-hiat di tubuh siluman kedua. Peristiwa ini terjadi sangat mendadak dan di luar dugaan, apalagi saat itu perhatian siluman kedua sedang terbelah, mimpi pun dia tak menyangka kalau Ni Ceng-hiang yang begitu binal dan menuruti semua kemauannya bisa turun tangan membokongnya.
Tak ampun lagi tusukan itu seketika bersarang telak. Baru saja dia menjerit kesakitan, secepat kilat Ni Ceng-hiang menghadiahkan sebuah pukulan lagi ke tubuhnya. “Kau..” baru saja ia berteriak keras, tahu-tahu napasnya sudah putus. Pada saat itulah siluman pertama dan siluman ketiga meraung gusar, serentak mereka melancarkan pukulan dahsyat ke tubuh Ni Ceng-hiang. Su Kiau-kiau dan Un Bun tak tinggal diam, mereka ikut mengembut juga. Sejak memberi kisikan kepada Cau-ji, secara diam-diam Bwe Si-jin dan Im Jit-koh telah bergeser ke samping tubuh siluman ketiga, begitu melihat ada peluang, serentak mereka berdua mencabut pisau belati dan ditusukkan ke pinggul siluman ketiga. Mendadak terdengar Ni Ceng-hiang mendengus tertahan, tubuhnya mundur dengan sempoyongan. Siluman ketiga meraung keras, cepat tubuhnya menggelinding ke samping.
Menggunakan kesempatan itu Bwe Si-jin dan Im Jit-koh menerjang Su Kiau-kiau.
96 Waktu itu sebetulnya siluman pertama, Su Kiau-kiau dan Un Bun sedang mengejar Ni Ceng- hiang, begitu melihat Bwe Si-jin dan Im Jit-koh membokong siluman ketiga hingga terluka, mereka berdiri tertegun. Pada saat itulah Cau-ji membentak nyaring, lalu menyerang ke depan. Di pihak lain, kawanan jago pun sambil berusaha mengendalikan gejolak hawa murni di tubuhnya, mereka menyongsong datangnya kelima ratusan orang berbaju hitam. Ni Ceng-hiang meski sudah terluka parah karena gencetan keempat jago lihai itu, dia tetap melanjutkan terkamannya ke arah tandu siluman pertama. Menyaksikan hal ini, Un Bun membentak keras, satu pukulan dihantamkan ke muka. Merasa tak mungkin menghindar lagi, sambil mengertak gigi Ni Ceng-hiang menyambut datangnya pukulan itu dengan punggungnya, menggunakan kesempatan itu dia meluncur masuk ke dalam tandu dan berusaha menemukan obat penawar racun. Sesaat kemudian ia berhasil menemukan buli-buli berisi obat penawar racun, cepat dia menggelinding keluar dari tandu, lalu sambil mengangkat tinggi buli-buli besi itu, serunya lemah, “Obat penawar racun” Dalam keadaan tegang, Cau-ji berdelapan telah mengurung siluman pertama, Su Kiau-kiau, Bwe Si-jin, Im Jit-koh dan Un Bun di tengah arena, tapi untuk sesaat mereka tak tahu bagaimana harus bertindak. Cau-ji mengalihkan pandangan matanya ke atas buli-buli besi itu, tiba-tiba tubuhnya menerjang ke sana.
Melihat itu, siluman pertama membentak gusar, dia siap menyusul ke tempat itu. Sambil menggigit bibir Im Jit-koh menerkam juga ke depan, lalu menarik kaki kirinya dan sampai mati pun tak dilepas.
Siluman pertama meraung marah, satu pukulan langsung dibacokkan ke tubuhnya. “Aduuuh, …!” diiringi jerit kesakitan, Im Jit-koh tewas seketika itu juga, namun jenazahnya masih tetap memegangi kaki kiri siluman pertama, membuat gembong iblis ini tidak leluasa bergerak menghalangi Cau-ji.
Dengan satu gerakan cepat Cau-ji menyambar buli-buli besi itu, melihat siluman pertama berniat memotong sepasang lengan mayat Im Jit-koh, ia pun membentak nyaring, “Tahan!” satu tusukan kilat dilontarkan ke depan. Sementara itu Suto bersaudara yang berhasil mencabut nyawa siluman ketiga segera menubruk ke arah siluman pertama. Waktu itu sebetulnya kelima gadis lainnya ingin bersama-sama mengembut Su Kiau-kiau, siapa tahu Bwe Si-jin dengan tongkat berkepala ularnya sedang bertarung sengit melawan perempuan siluman itu, terpaksa mereka pun menyerang Un Bun secara bersama-sama. Dengan kepandaian silat yang dimiliki kelima gadis itu, sesungguhnya mereka dapat mengatasi Un Bun secara mudah, namun berhubung racun yang menyerang tubuh tiga bersaudara Cu dan Siau-hong mulai bekerja, tenaga dalam mereka berkurang separoh bagian, sehingga untuk sementara waktu sukar untuk menangkan pertarungan ini. Sambil melancarkan serangan ke arah siluman pertama, diam-diam Cau-ji memperhatikan juga keadaan di sekelilingnya.
Tampak ketiga puluh enam jago dari istana serta Thian-te-sian-lu meski berhasil melukai ratusan orang, namun karena keadaan luka yang semakin bekerja, mereka dipaksa untuk menahan diri. Ong Sam-kongcu serta para ketua partai besar yang menyaksikan kondisi para jago makin melamban, sadarlah mereka kalau racun dalam tubuh kawanan jago itu mulai bekerja, serentak mereka pun menerjang masuk ke dalam arena. Biarpun begitu, korban yang berjatuhan pun semakin meningkat.
Cau-ji jadi sangat gelisah, dia membentak berulang kali, serangannya terhadap siluman pertama pun semakin gencar. Apa daya tenaga dalam yang dimiliki siluman pertama kelewat hebat, gerakan tubuhnya pun ringan dan cekatan, untuk beberapa saat dia tak mampu berbuat banyak. Untung saja pada saat itu Cu Bi-ih berhasil menghabisi nyawa Un Bun, segera teriaknya, “Adik Cau, lemparkan obat penawar racun itu kemari!” 97 Sambil berkata, dia menubruk ke depan. Diam-diam Cau-ji menyumpahi kebodohan sendiri, cepat dia lemparkan buli-buli itu ke arah Cu Bi-ih. Begitu melihat obat penawar sudah berada di tangan Cu Bi-ih, Bwe Si-jin segera berteriak, “Cairkan dengan air, lalu diminum!” Merasa lega dengan keadaan para jago yang keracunan, semangat Cau-ji bangkit kembali, ia segera memberi tanda, lalu bersama Siang Ci-ing sekalian melancarkan serangan kilat ke arah siluman pertama. Dalam pada itu siluman pertama telah berhasil lolos dari cengkeraman Im Jit-koh, sepasang tangannya segera melancarkan pukulan berulang kali, angin pukulan bagaikan amukan gelombang samudra disertai percikan bubuk beracun segera menyergap tubuh keempat orang itu. Melihat kehebatan lawan, cepat tiga bersaudara Cu serta Siau-hong mundur ke arah ruang tengah. “Halangi mereka!” bentak siluman pertama berulang kali. Tapi sayang kawanan iblis itu mendapat perlawanan yang begitu gigih dari para jago sehingga terpaksa hanya bisa membiarkan para gadis mundur masuk ke dalam ruangan. Di pihak Su Kiau-kiau, meskipun dia berhasil berada di posisi di atas angin, tapi berhubung Bwe Si-jin sangat menguasai aliran ilmu silatnya, maka untuk sesaat pun dia tak sanggup meloloskan diri. Pertarungan berjalan makin sengit, Cau-ji dengan mengandalkan Pedang pembunuh naga dan pukulan dahsyatnya, dibantu tiga gadis yang bertarung gigih mencecar siluman pertama makin gencar. Dalam keadaan begini, biar tenaga dalam yang dimiliki siluman pertama sangat lihai pun setelah bertarung ratusan gebrakan kemudian, lengan kirinya berhasil dihajar. Tiga puluh jurus kemudian terdengar siluman pertama menjerit ngeri, tubuhnya hancur terhajar serangan Cau-ji hingga mampus seketika.
Tak terlukiskan rasa kaget Su Kiau-kiau mengetahui kejadian ini, sedikit gerakan tangannya melambat, seketika Bwe Si-jin berhasil melepaskan diri dari kuningannya. Terdengar lelaki itu segera berteriak keras, “Cau-ji, aku serahkan perempuan ini kepada kalian!” Habis berkata dia langsung menggabungkan diri dengan kawanan jago lainnya. Pada saat itulah tampak Cu Bi-ih berempat dengan masing-masing menggotong segentong air berlarian mendekat. Bwe Si-jin segera berseru, “Lindungi gentong air, secara bergilir ambil air pemunah racun itu!” Keempat gadis itu mengangguk dan meletakkan keempat gentong air itu jadi satu, kemudian mereka berbalik menyongsong datangnya kawanan manusia berbaju hitam yang sedang menerjang tiba. Buru-buru para ketua partai berhamburan datang, mereka membentuk satu pagar betis untuk melindungi air berisi obat pemunah racun itu. Begitulah secara bergilir para jago dari berbagai partai mengambil air pemunah untuk membebaskan diri dari pengaruh racun, begitu segar kembali, mereka pun segera terjun kembali ke arena pertarungan. Pada saat itulah terdengar Su Kiau-kiau menjerit ngeri dan tewas seketika.
Sementara para iblis masih terkejut bercampur ketakutan, tiba-tiba terlihat sekilas cahaya tajam berkelebat. Ternyata Cau-ji dengan kecepatan luar biasa telah mengejar ke arah kawanan iblis, jaring pedang yang terbentuk dari pedang pembunuh naganya menyambar kian kemari, dalam waktu singkat belasan orang kembali jadi korban. Sebetulnya kawanan iblis itu ingin memanfaatkan kesempatan baik ini untuk menghabisi para jago, siapa tahu mereka bertemu dengan lawan tanding yang menakutkan, selang beberapa saat kemudian kembali puluhan orang jadi korban. Tak sampai setengah jam kemudian tampak mayat berserakan di mana-mana, genangan darah pun menganak sungai.
98 Tujuh-delapan puluh orang iblis yang merasa tak sanggup melakukan perlawanan lagi segera mundur, entah siapa yang berteriak duluan, mendadak semuanya kabur terbirit-birit meninggalkan tempat itu. Sebenarnya Cau-ji ingin mengejar, tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berseru, “Lepaskan mereka!” Waktu itu para jago sehabis minum obat penawar telah pulih kembali kesehatannya,. Sedang Bwe Si-jin tampak sedang memeluk jenazah Ni Ceng-hiang dan Im Jit-koh sambil menangis sesenggukan. Cau-ji segera berjalan menghampiri, katanya, “Coba kalau tak ada kedua orang ini yang membantu, belum tentu dalam pertempuran hari ini kita bisa memperoleh kemenangan seperti ini.” “Cau-ji,” ujar Bwe Si-jin dengan suara parau, “bolehkah Toasiok mengubur mereka berdua secara baik-baik?” “Toasiok, Cau-ji yakin semua orang pasti akan menyetujui permintaanmu itu.” Setelah memandang sekejap tumpukan mayat yang berserakan memenuhi lapangan, sambil menghela napas kata Ong Sam-kongcu, “Aai … tidak sampai empat jam ratusan nyawa telah hilang, latihan selama puluhan tahun pun menguap begitu saja … ai, apa gunanya?” “Omitohud!” sela It-ci Taysu, “Ongya berhati mulia dan bijaksana, bila setiap orang dapat meniru suri teladanmu, dunia persilatan pasti akan aman tenteram” Tiba-tiba terdengar Leng Bang berkata dengan nada hormat, “Ongya, boleh tahu perkawinan dari tuan putri akan diselenggarakan di mana?” “Urusan ini biar Baginda saja yang memutuskan,” sahut Ong Sam-kongcu cepat, “tentu saja aku tak akan berebut dengan kaisar untuk menyelenggarakan pesta perkawinan ini di Perkampungan Hay-thian-it-si. Haha, aku harap sampai waktunya nanti kalian ikut menghadirinya.” Para jago serentak mengangguk sambil tersenyum. “Ayah” seru Cu Bi-ih malu-malu, “sewaktu meninggalkan kota raja, ayah Baginda telah memberi pernyataan, katanya sudah banyak tahun dia tak pernah mendatangi tembok besar, karena itu menggunakan kesempatan saat diselenggarakannya perkawinan Ih-ji sekalian, beliau berniat pesiar ke tembok besar!” Begitu para jago mendengar Kaisar akan memimpin sendiri upacara perkawinan di perkampungan Hay-thian-it-si, kontan semua maju memberi selamat. Dengan penuh kegembiraan Ong Sam-kongcu tertawa terbahak-bahak.
TAMAT

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: