Pendidikan seorang ibu.

Bab VI. Pendidikan seorang ibu.
Bukit Wu-san, puncak Sin-li-hong, di tengah hutan pohon siong yang amat
lebat pada lima belas tahun berselang berdiri sebuah bangunan rumah yang
besar, gedung itu adalah pesanggrahan milik si raja penyayat kulit dari propinsi
Sichuan.
Suatu hari Su Kiau-kiau muncul di tempat itu, karena merasa gedung itu
sangat cocok untuk dijadikan markas besar perkumpulan Jit-seng-kau, maka
dia gunakan Bi-jin-ki (siasat wanita cantik) untuk menjebak si raja penyayat
kulit, bukan saja ia berhasil menguasai seluruh keluarga besar si raja penyayat
kulit, bahkan bisa menggunakan seluruh harta kekayaannya untuk membangun
perguruannya.
Tiga tahun berselang, si raja penyayat kulit satu keluarga besar yang terdiri
dari puluhan orang, tiba-tiba terjangkit penyakit aneh hingga secara beruntun
meninggal dunia, bukan saja Su Kiau-kiau berhasil mewarisi seluruh harta
kekayaan tersebut bahkan menjadi pemilik tunggal tempat itu.
Siang itu, baru saja Su Kiau-kiau berjalan masuk ke ruang utama, tongcu dari
ruang burung hong, si dewi burung hong Un Bun telah datang menghampiri
sembari berseru: “Lapor ketua!”
“Ada apa Un-tongcu,” tegur Su Kiau-kiau sambil tersenyum, “kenapa kau
tergopoh-gopoh? Apa semalam kelewat panas sehingga hari ini datang minta
obat kepadaku?”
Merah jengah selebar wajah Un Bun sehabis mendengar ucapan itu, sahutnya:
“Ketua, berkat ilmu sakti ajaranmu, hamba masih sanggup menghadapi orangorang
itu, yang menjadi masalah adalah hingga kini kabar berita tuan putri
beserta kedua belas kim-tonggiok-li masih merupakan tanda tanya besar dan
penuh diliputi misteri.”
“Semalam mereka pergi kemana?” tanya Su Kiau-kiau dengan wajah berubah
hebat.
“Konon mereka membakar daging di tepi telaga kekasih!”
“Ehmm, selama ini Gi-gi tidak pernah menginap di luar, sudah utus orang
untuk mencari?”
“Sudah, menurut laporan, semalam terjadi bencana alam di telaga kekasih,
bukit karang yang semula berdiri tegak di sisi telaga kini telah berubah jadi
sebuah padang tanah luas, di sekeliling tempat itu sama sekali tak ditemukan
jejak mereka.”
“Oooh … tak aneh kalau semalam terdengar suara gempa dan pekikan aneh,
jangan-jangan ada makhluk asing yang muncul di situ?”
“Kaucu, bagaimana kalau kita libatkan orang-orang dari ruang Cing-liong-tong
dan Pek-hau-tong untuk ikut melakukan pencarian?”

Mendengar putri kesayangannya belum pulang, Su Kiau-kiau segera
mengeluarkan sebuah batu kemala dan diserahkan pada Un Bun sambil
perintahnya: “Gerakkan semua kekuatan yang ada, geledah seluruh bukit Wusan!”
“Baik!”
Mereka mana tahu kalau di saat seluruh kekuatan Jit-seng-kau sedang
menggeledah seluruh bukit Wu-san untuk mencari jejak Su Gi-gi, justru pada
saat yang bersamaan Su Gi-gi sedang “memperkosa” Cau-ji.
0oo0
Di kala Cau-ji sedang duduk termangu-mangu, tiba-tiba ia mendengar ada
suara perempuan sedang memanggil: “Tuan putri, tuan putri … kau ada di mana
….?”
Teriakan itu segera membuatnya sadar dari lamunan.
Kembali terdengar suara seorang berteriak dengan penuh tenaga: “Tuan putri
… tuan putri … kau ada dimana”
Jelas tenaga dalam yang dimiliki orang itu sangat hebat, sehingga suara yang
bergaung hingga ke telinga Cau-ji pun kedengaran lebih jelas.
Mengikuti sumber datangnya suara panggilan itu Cau-ji menelusuri beberapa
buah lorong, setelah berjalan berapa tikungan akhirnya dari dinding sebelah
kanan ia jumpai ada sebuah celah yang cukup besar, bukan saja aliran udara
muncul dari situ, suara panggilan pun berasal dari sana.
Sementara itu suara panggilan yang bergema tadi sudah kian menjauh,
kembali Cau-ji berpikir “Tuan putri? Jangan-jangan nona tadi adalah tuan putri
dari kerajaan?”
Berpikir sampai di situ, berubah hebat paras mukanya.
Tapi dia segera membantah sendiri jalan pikiran tersebut, kembali pikirnya:
“Tidak mungkin dia adalah tuan putri dari kerajaan, semisalnya benar pun dia
pasti diiringi banyak pengawal. Apalagi tak mungkin seorang tuan putri mau
berbuat semena-mena terhadap orang lain, sampai kencing pun sengaja
dikencingkan ke tubuh orang….”
Dia mencoba menghampiri dinding karang dan menempelkan telinganya di
situ, terdengar seseorang sedang berkata: “Lotoa, hari sudah malam, lebih baik
kita pulang saja!”
“Maknya, siapa tahu tuan putri sedang bersenang-senang dengan cowok lain,
kita yang bawahan jadi susah, nyaris kakiku patah karena kelelahan.”
“Sttt. Jangan berisik, ayo kita pulang saja.”
Mengetahui kalau hari sudah senja, satu ingatan melintas dalam benak Cauji,
pikirnya: “Tak disangka hari hampir gelap, lebih baik aku tinggalkan gua ini
terlebih dulu kemudian baru mencari kesempatan untuk kabur.”
Maka dia pun segera balik ke sisi jenazah Su Gi-gi, setelah menjura tiga kali,
dia pun berbisik: “Nona, maafkan kesalahanku, sejak hari ini aku tak akan
berani menyentuh kaum wanita lagi.”
Habis berkata dia menghampiri batu yang besar itu, menghimpun segenap
tenaga dalamnya dan sebuah pukulan dilontarkan ke arah batu tadi.
Apa yang terjadi membuat Cau-ji tertegun.
Dia masih ingat tadi bersama gadis itu mereka sudah mencoba untuk
mendorong batu itu beberapa kali, jangan lagi bergeser, bergeming pun tidak,
kenapa pukulan yang dilontarkan sekarang dapat menghancurkan batu itu
hingga berkeping keping?
Mana dia tahu kalau kesemuanya ini hasil dari kekuatan Im-yang-kang-khi
miliknya?

Mendadak terdengar seseorang berseru: “Saudara Sin, aneh sekali, kenapa di
sini bisa muncul segumpal hancuran batu?”
“Kalau begitu pasti ada sesuatu yang tak beres, mari kita periksa.”
Mendengar tanya jawab itu Cau-ji jadi kaget, pikirnya: “Jika mereka sampai
masuk kemari dan menemukan jenazah gadis itu, aku pasti akan dituduh
sebagai pembunuhnya….”
Karena tak ingin dibebani urusan yang rumit buru-buru pemuda itu kabur
meninggalkan tempat itu.
Lorong gua itu semakin ke depan semakin bertambah lebar, ternyata mulut
gua tersembunyi di balik semak belukar yang rimbun, diam-diam Cau-ji
menyelinap keluar dari gua tersebut.
Dari kejauhan ia saksikan ada dua sosok bayangan manusia sedang bergerak
mendekati mulut gua itu.
Walaupun hari sudah gelap namun Cau-ji dapat melihat dengan jelas, kedua
orang itu adalah kakek berusia lima puluh tahunan yang berwajah bengis.
Orang pertama bermata segitiga dengan wajah separuh hitam sepatuh putih,
sedang orang kedua berwajah pucat pias bagai mayat yang sudah mati berapa
hari, jenggot kuning terurai dari janggutnya.
Mereka berdua mengenakan baju terbuat dari kain belaco putih, sepatunya
terbuat dari tali jerami.
Cau-ji segera merasakan hawa dingin yang menyeramkan memancar keluar
dari tubuh kedua orang itu, diam-diam ia bergidik juga dibuatnya.
Ditinjau dari gerakan tubuh mereka berdua, Cau-ji tahu bila kepandaiannya
hebat dan ia masih bukan tandingannya, maka diam-diam ia menggeser
badannya ke samping dan menyembunyikan diri di balik semak.
Kedua orang itu memang merupakan jagoan paling tangguh dari kalangan
hitam, Hek-pek-bu-siang (si setan gantung hitam dan putih) Sin Sik serta Cho
Huan, sudah tiga tahun lama mereka bergabung dengan perkumpulan Jit-sengpang,
saat ini jabatan mereka adalah pengurus ruang Cing-liong-tong.
Terdengar Sin Sik yang berada di depan berbisik lirih: “Lotoa, kelihatannya di
atas sana ada sebuah gua!”
“Loji, kalau dilihat bekas semak yang terpatah-patah, isi gua tersebut kalau
bukan manusia tentu binatang buas, kau mesti berhati-hati….”
“Hehehe … lotoa, kenapa nyalimu tambah hari tambah kecil?” sambil berkata
ia meluncur ke depan dan menghampiri mulut gua.
Dalam pada itu Cau-ji sudah mengerahkan tenaga murninya bersiap sedia.
Tidak menunggu lawan berdiri, dengan jurus Tui-sim-ci-huk (mendorong hati
membalik lambung) dia lepaskan sebuah dorongan ke depan.
Waktu itu Sin Sik sedang gembira karena berhasil menemukan mulut gua,
merasakan datangnya serangan, ia segera menghardik: “Lotoa, hati-hati, dalam
gua ada orangnya!”
Sambil membentak dia lancarkan juga sebuah pukulan.
Cho Huan kuatir saudaranya ketimba musibah, buru-buru dia lompat
menghampiri sambil bersiap sedia. “Aduuuh…!”
Dua kali jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu tubuh Sin
Sik dan Cho huan sudah mencelat keluar dari gua dalam keadaan hancur
berkeping-keping, tubuh mereka terhajar telak pukulan Im-yang-kang-khi yang
dikerahkan hingga mencapai sepuluh bagian.
Mimpi pun Cau-ji tidak menyangka kalau tenaga dalamnya begitu sempurna,
sementara dia masih tertegun, dari kejauhan kembali berkumandang tiba suara
suitan panjang yang memekikkan telinga.

Dalam posisi begini Cau-ji tak bisa membuang waktu lagi, cepat-cepat dia
menyingkirkan semak belukar kemudian melompat turun ke bawah.
Sementara itu suara suitan panjang yang amat nyaring itu sudah semakin
mendekat, dari kejauhan tampak dua sosok bayangan manusia bergerak
mendekat.
Baru saja kedua orang itu tertegun karena melihat munculnya seorang
pemuda telanjang secara tiba-tiba, mendadak Cau-ji dengan jurus Heng-kangcay-
to (menyeberang sungai sambil bersalto) sudah melepaskan sebuah pukulan
ke depan.
Orang itu beranggapan kepandaian yang dimilikinya sangat hebat, dia segera
mengayunkan pula telapak tangan kanannya sambil membentak: “Manusia tak
tahu diri….”
Belum habis bicara terdengar suara benturan dahsyat bergema di udara,
dengan tubuh hancur lebur orang itu tewas seketika.
Orang yang baru datang segera menyerbu masuk, sebuah pukulan
dilontarkan.
Cau-ji menggertak gigi, kembali dia ayunkan tangan menyongsong datangnya
ancaman itu.
Jeritan ngeri kembali bergema memecahkan keheningan, orang itu terkapar di
tanah dalam keadaan tewas.
Mendengar dari kejauhan kembali berkumandang suara siulan panjang, buruburu
Cau-ji berputar badan dan kabur dengan mengambil arah yang
berlawanan.
Tak lama kemudian di arena pertarungan telah muncul dua orang lelaki
kekar, tapi begitu melihat mayat bergelimpangan, buru-buru mereka
mengeluarkan sumpritan bambu dan ditiup bertubi-tubi.
Tak sampai setengah jam kemudian Su Kiau-kiau beserta segenap kekuatan
partainya tiba di arena kejadian, perempuan iblis itu nyaris pingsan ketika
akhirnya jenazah Su Gi-gi ditemukan tergeletak di dalam gua.
Keesokan harinya dia pun kerahkan empat ratus orang anggota perguruannya
untuk turun gunung dan melacak jejak si pembunuh putrinya itu.
Sementara itu, Cau-ji dengan tergopoh gopoh melarikan diri turun dari bukit
itu, lebih kurang dua jam kemudian ia sudah tiba di kaki bukit Wu-san.
Sambil berpaling memandang bukit Wu-san yang berdiri menjulang di
belakang tubuhnya, Cau-ji menghembuskan napas lega sembari berpikir “Masih
untung tak ada yang hidup, asal di kemudian hari aku tidak mengakui kejadian
ini, siapa yang tahu kalau akulah pelakunya?”
Begitu perasaan hatinya lega, perutnya yang sudah lama kelaparan pun mulai
berbunyi lagi.
Sudah dua hari ini Cau-ji belum makan apa-apa, bukan saja waktu itu ia
merasa kelaparan, di bawah hembusan angin malam, ia baru sadar bila dirinya
waktu itu berada dalam keadaan bugil.
Sambil berjalan menelusuri jalan setapak Cau-ji menuju ke tepi sebuah
sungai, dia bermaksud membersihkan badan lebih dulu.
Pada saat itulah tiba-tiba dari kejauhan terdengar seseorang membentak
nyaring: “Perempuan cantik, jangan lari cepat… tunggu aku…”
Tertegun Cau-ji mendengar teriakan itu, buru-buru dia menyelam ke dalam
sungai dan bersembunyi di balik sebuah batu besar.
Kini di hadapannya berdiri seorang gadis muda berbaju hijau yang usianya
sekitar dua puluh tahunan, wajahnya cantik, pinggangnya ramping dan dadanya

montok, persis di hadapan gadis itu berdiri seorang kakek berambut panjang
yang berusia sekitar lima puluh tahunan.
Terdengar gadis itu dengan suara berat sedang menegur: “Yu Yong, kenapa sih
kau menguntit nonamu terus menerus, sebetulnya apa maumu?”
“Hehehe … lohu jatuh cinta padamu!” jawab kakek itu sambil tertawa seram.
“Yu Yong, bedebah tak tahu malu, seandainya tidak mengingat kau pernah
menolong mendiang ayahku di masa lalu, nona takkan sungkan-sungkan
terhadapmu!”
“Hahahaha … nona cantik, pujaan hatiku, coba lihatlah suasana di sini, bila
kau bersedia menemani lohu bermain cinta, lohu jamin kau akan merasakan
kenikmatan yang luar biasa….”
“Tutup mulut anjingmu! Sungguh tak kusangka ternyata kau adalah seorang
bandot tua yang tak tahu malu, manusia cabul, manusia bejat, manusia tak
tahu malu macam kau sudah sepatutnya dibasmi dari muka bumi, kalau tidak,
entah berapa banyak gadis baik yang ternoda di tanganmu.”
Sembari mengumpat dia segera menerjang maju ke depan, sepasang
tangannya menyerang berbareng, ke atas mengancam sepasang matanya, ke
tengah mengancam ulu hatinya, di antara angin pukulan yang menderu-deru,
gerak serangannya boleh dibilang cepat sekali.
Diam-diam Cau-ji bersorak memuji, sejak salah bunuh Su Gi-gi, Cau-ji sudah
berjanji tak ingin mendekati kaum wanita, sebetulnya dia ingin menggunakan
kesempatan itu menyingkir dari arena.
Tapi begitu melihat gadis itu mulai keteter hebat dia segera urungkan niatnya
untuk berlalu.
Terdengar Yu Yong tertawa nyaring, sambil pentangkan tangan kanannya
mengancam urat nadi pada pergelangan tangan si nona, tangan yang lain
membabat ke bawah mengancam lengan kiri gadis itu.
Buru-buru nona berbaju hijau itu memutar badannya sembari berganti jurus
serangan, telapak tangan kirinya dengan jurus Yao-ti-to-tho (di bawah dedaunan
mencuri bua tho) menotok jalan darah Ji-ti-hiat di sikut kanan lawan.
Sementara tangan kanannya merendah ke bawah lalu dengan jurus Pek-hokliang-
ci (bangau putih pentang sayap) berbalik memotong lengan kiri musuh.
Yu Yong tidak menyangka gadis itu bisa berubah jurus begitu cepatnya, nyaris
jalan darahnya tertotok, buru-buru dia lancarkan pukulan berantai, dalam
waktu singkat dia sudah melepaskan delapan jurus serangan.
Nona berbaju hijau itu jadi gelagapan, beruntun dia mundur berapa langkah
dari posisi semula.
Menanti jurus serangan musuh sudah lewat, dia baru mengayunkan kembali
tangan dan kakinya melancarkan serangan balasan dengan sepenuh tenaga.
Menyaksikan kedelapan buah serangannya gagal menundukkan gadis itu,
diam-diam Yu Yong terperanjat juga, ia tak lagi berani gegabah, sambil mainkan
jurus serangan dia hadapi gadis itu dengan tersungguh hati.
Suatu pertempuran sengit pun segera berkobar, untuk sesaat kekuatan
mereka tampak berimbang.
Semenjak meninggalkan pesanggrahan Hay-thian-it-si, Cau-ji belum pernah
menyaksikan pertempuran sehebat itu, kini seluruh perhatiannya sudah
dicurahkan ke tengah arena.
Tampak gadis berbaju hijau itu telah mengeluarkan semua jurus
simpanannya untuk menyerang musuh, baik menusuk, memotong, menotok,
membacok, menyodok, semua serangan dilakukan sangat cepat dan tepat pada
sasaran.

Sepasang telapak tangannya menari-nari bagai sepasang kupu-kupu, semakin
bertarung gerak serangannya semakin cepat.
Dalam sekejap mata kembali lima enam puluh gebrakan telah berlalu, namun
menang kalah masih sukar ditentukan.
Kalau si nona berbaju hijau itu unggul dalam ilmu meringankan tubuh serta
kecepatan perubahan jurus serangan, maka Yu Yong lebih unggul dalam ilmu
tenaga dalam, untuk sesaat kedua belah pihak sama-sama bertahan dalam
posisi yang seimbang.
Sambil bertarung diam-diam Yu Yong mulai berpikir “Sungguh tak kusangka
kemampuan budak ini luar biasa hebatnya, bila aku gagal membekuknya hari
ini, jika berita ini sampai tersiar keluar, akan kutaruh dimana wajahku ini?”
Tiba-tiba gerak jurus serangannya berubah, kalau tadi dia menggunakan
cepat melawan cepat maka jurus serangannya saat ini sangat lamban dan berat
tapi setiap pukulan, setiap tendangan, hampir semuanya mengandung tenaga
serangan yang dahsyat
Jurus serangan yang disertai tenaga dalam yang hebat semacam ini tak bisa
dianggap enteng, setiap angin pukulan yang menderu-deru seketika membuat
nona itu mulai terdesak.
Walaupun dalam kelincahan nona berbaju hijau itu jauh lebih unggul, tapi
begitu pertarungan berubah jadi pertarungan tenaga dalam, posisinya segera
terdesak hingga berada di bawah angin, belum lagi sepuluh jurus, peluh sudah
bercucuran membasahi jidatnya.
Cau-ji yang mengikuti jalannya pertarungan itu mulai merasa ikut panik, dia
tahu bila keadaan semacam ini dibiarkan berlangsung lebih jauh, dapat
dipastikan nona itu bakal kalah.
Tiba-tiba nona berbaju hijau itu membentak nyaring, permainan jurusnya
segera berubah, kini dia gunakan taktik keras melawan keras untuk menghadapi
lawannya, dia sudah ambil keputusan untuk beradu nyawa.
Yu Yong sangat girang melihat perubahan itu, pukulan demi pukulan
dilontarkan bertubi-tubi, sambil menyerang dia mendesak maju terus.
Sementara nona berbaju hijau itu semakin terdesak, bukan saja dia harus
mundur berulang kali, keadaannya sangat mengenaskan.
Diam-diam Cau-ji amat gelisah, coba kalau tidak berada dalam keadaan bugil,
mungkin dia sudah tampil ke depan untuk melakukan pembelaan.
Tiba-tiba matanya terbentur dengan sebuah batu yang berada di sisinya, satu
ingatan melintas hebat, buru-buru dia gunakan ilmu menghisap untuk
menyedot batu itu dari sisi sungai.
Dalam pada itu nona berbaju hijau itu sudah roboh terkapar di tanah,
sementara Yu Yong sambil tertawa seram sedang menubruk ke depan berusaha
menindihi badannya, melihat itu Cau-ji segera menyentilkan batu itu ke
arahnya.
Tiba-tiba terdengar jeritan ngeri bergema memecahkan keheningan, tahu-tahu
jalan darah tay-yang-hiat di jidat kanan Yu Yong sudah termakan sambitan
hingga hancur berantakan, tentu saja selembar jiwanya ikut melayang.
Padahal waktu itu si nona berbaju hijau itu sudah bersiap-siap bunuh diri,
perubahan yang sama sekali tak terduga itu disambut amat gembira, serunya
lantang: “Cianpwe darimana yang telah menolong diriku?”
Cau-ji gelagapan, dia tak mengira nona itu akan mengajukan pertanyaan
begini, dalam gugupnya dia segera menyahut: “Aku adalah Bwe Si-jin!”
Tampaknya nona berbaju hijau itu tidak mengira kalau orang yang
menyelamatkan jiwanya tak lain adalah Bwe si-jin yang sudah lenyap sejak

sepuluh tahun berselang, rasa terkejut bercampur girang segera menyelimuti
perasaan hatinya.
Perlu diketahui, meskipun Bwe Si-jin sudah banyak bermain perempuan
namun selama ini tak seorang pun di antara mereka yang menuduhnya cabul
dan setan hidung belang, sebaliknya orang selalu memuji dan menyanjungnya
sebagai seorang pendekar sejati.
Tentu saja hal ini disebabkan kemampuannya bermain cinta memang sangat
hebat dan tiada keduanya di kolong langit.
Sejak masih muda dulu, tampaknya nona berbaju hijau itu sudah menaruh
kesan yang sangat baik terhadap Bwe Si-jin, hanya sayang selama ini belum ada
kesempatan untuk saling berjumpa.
Tak disangka justru pada malam yang naas ini dia diselamatkan oleh lelaki
pujaan hatinya, bisa dibayangkan betapa terharu, gembira dan berbunganya
perasaan hatinya.
Dengan suara agak gemetar iapun berseru: “Siaumoay Siang Ci-ing sudah
lama mengagumi nama tay-hiap, terima kasih banyak atas pertolongan anda.”
“Sudah menjadi kewajiban setiap pendekar yang berkelana dalam dunia
persilatan untuk saling membantu serta menegakkan kebenaran,” seru Cau-ji
dengan suara lantang, “jadi nona tak perlu memasukkan hal ini ke dalam hati,
sekarang hari sudah malam, silahkan nona pulang untuk beristirahat.”
Biarpun Siang Ci-ing merasa agak kecewa dengan perkataan itu. namun
sahutnya juga: “Siaumoay tinggal di jalan raya timur kota Lokyang, jika
kebetulan Bwe-tayhiap sedang melewati kota kami, jangan lupa mampir di
pesanggrahan Liong-ingl”
“Hahaha … pasti, pasti, ada waktu luang aku pasti akan mampir.”
Siang Ci-ing tahu kalau Bwe Si-jin adalah orang yang pegang janji, maka
setelah mengucapkan terima kasih, dia pun berlalu dari situ.
Memandang bayangan tubuh yang menjauh, diam-diam Cau-ji mulai berpikir
“Kira-kira tindakanku ini betul atau tidak?”
Rupanya terlintas satu ingatan dalam benak Cau-ji, dia ingin melakukan
banyak perbuatan baik dalam dunia persilatan atas nama Bwe Si-jin, dengan
berbuat begitu, pertama bisa merahasiakan identitas sendiri, ke dua dia pun
berusaha menghilangkan perasaan salah paham si raja hewan atas tingkah laku
paman Bwe.
Cau-ji tahu Siang Ci-ing adalah murid kesayangan ketua Go-bi-pay saat ini
Teng-in Suthay, juga merupakan pemilik toko perhiasan Liong-ing-hong yang
tersohor dalam dunia persilatan, dengan melakukan tindakan terpuji itu, sedikit
banyak nama baik Bwe Si-jin ikut terehabilitasi.
Menanti bayangan tubuh nona itu sudah lenyap dari pandangan mata, Cau-ji
segera melucuti pakaian Yu Yong dan ia kenakan, kemudian menyembunyikan
jenazah itu ke balik batu besar.
Tak lama kemudian tibalah Cau-ji di dalam kota, bau harum daging dan
bakpao segera membuat bocah itu harus menelan air liur, ketika dia mencoba
merogoh ke dalam saku, segera ditemukan beberapa lembar uang kertas serta
beberapa keping uang perak.
Tidak membuang waktu lagi dia menuju ke depan rumah makan dan serunya
kepada lelaki penjual bakpao itu: “Paman, aku mau beli berapa biji bakpao.”
Dengan berbekal beberapa biji bakpao dan setelah bertanya arah jalan, maka
berangkatlah Cau-ji menuju ke pesanggrahan Hay-thian-it-si, dia ingin cepatcepat
pulang ke rumah, selain bisa membuat lega orang rumah, dia pun ingin
menjelaskan masalah Bwe Si-jin.

Sementara itu Bwe Si-jin yang meninggalkan si raja hewan dan Cau-ji dalam
keadaan gusar segera menuruni bukit Wu-san dan langsung menuju ke sebuah
rumah penginapan.
Mula-mula dia mencukur habis rambut panjang serta cambangnya, kemudian
setelah mandi dengan air panas hingga seluruh tubuhnya bersih, dia pun duduk
termenung sambil berpikir langkah selanjutnya.
Dia putuskan akan mendukung Cau-ji menjadi ketua Jit-seng-kau dan
menggiring perguruannya itu menuju ke jalan yang benar, dengan sepak terjang
yang bersih dan lurus, dia percaya kesalah pahamannya dengan Oh-loko suatu
hari nanti pasti dapat dijernihkan.
Untuk mencegah gangguan yang datang dari anggota Jit-seng-kau serta si raja
hewan, dia putuskan untuk menyaru dan menyembunyikan identitas
sebenarnya.
Dia pun mengambil keputusan untuk berkunjung dulu ke pesanggrahan Haythian-
it-si, kecuali bisa menyelidiki tindakan apa yang akan diambil Ong Samkongcu
terhadapnya, yang lebih penting lagi dia ingin mengintip bagaimana
keadaan Go Hoa-ti, kekasih hatinya.
Setelah mengambil keputusan, dia pun menggunakan uang yang sudah
disiapkan si raja hewan di dalam baju barunya untuk membeli seekor kuda, dua
stel pakaian baru serta bahan untuk menyaru muka.
Di tengah cuaca dingin yang menusuk tulang serta hembusan angin yang
kencang, akhirnya tibalah Bwe Si-jin di kota karesidenan Thio-gi.
Selesai bersantap, senja itu dia tinggalkan rumah penginapan dan mengikuti
arah jalan yang pernah didengar dari Cau-ji, berangkatlah dia menuju ke
pesanggrahan Hay-thian-it-si.
Balik pada Cau-ji, hari itu, tak lama setelah naik ke bukit, tiba-tiba dari
kejauhan sana dia saksikan ada sesosok bayangan manusia sedang bergerak
dengan kecepatan tinggi.
Setelah diamati secara diam-diam, akhirnya ia ketahui bahwa orang yang
berada di depan sana tak lain adalah Bwe Si-jin, dalam girangnya pemuda
itupun mulai berpikir: “Aneh, kenapa paman Bwe tidak merasa kalau dirinya
sedang aku ikuti? Masa dia tidak merasakan kehadiranku?”
Rupanya tenaga dalam yang dimiliki Cau-ji waktu itu sudah jauh
meninggalkan kemampuan Bwe Si-jin, selain itu deruan angin utara yang
kencang juga membuat suara langkah bocah itu terendam, yang lebih parah lagi
Bwe Si-jin sedang berada dalam kondisi murung dan perang batin, dengan
sendirinya konsentrasinya terpecah.
Waktu itu Bwe Si-jin kuatir Go Hoa-ti belum pulang, dia pun kuatir jejaknya
ketahuan orang banyak, bila sampai terjadi hal begini, apa yang akan
dilakukannya saat itu?
Akhirnya tibalah Bwe Si-jin di depan pesanggrahan
Hay-thian-it-si, ia menghentikan langkahnya di tempat kejauhan lalu mulai
mengawasi gedurg itu penuh keraguan.
Sementara dia masih bimbang, nenoadak terasa ada segulung angin tajam
berhembus lewat dari sisi tubuhnya, baru saja dia akan menghindar, tahu-tahu
jalan darahnya sudah ditotok orang, hal ini membuat hatinya terkesiap.
Belum hilang rasa kaget itu, terdengar Cau-ji sudah berbisik: “Maaf paman,
aku adalah Cau-ji!”
“Cau-ji, sungguh kamu?” tegur Bwe Si-jin terkejut bercampur girang, dia tak
menyangka pemuda yang berperawakan tinggi besar itu tak lain adalah Cau-ji si
bocah cilik.

“Betul paman, sstt! Jangan berisik, urusan tentang Cau-ji dibicarakan lain
waktu saja, ayo kita masuk!”
“Tapi… bagaimana dengan Oh-loko….”
“Cau-ji percaya Oh-loko hanya salah paham saja terhadapmu, dan lagi dia
pun berada di sini sekarang, lebih baik kita menyelinap ke pesanggrahan Ti-wan
lebih dahulu.”
“Baik Cau-ji, sekarang bebaskan totokan jalan darahku.”
“Paman, kau harus berjanji tak boleh kabur.”
“Tentu saja tidak, paman ingin buru-buru bertemu dengan adik Ti!”
“Baiklah!”
Setelah membebaskan jalan darah Bwe Si-jin, berangkatlah Cau-ji berdua
menuju ke sisi kiri halaman, kemudian menyelinap ke belakang ruang utama.
Mereka saksikan Ong Sam-kongcu dan dua belas tusuk konde emas sedang
menemani si raja hewan berbincang-bincang di situ, hampir semuanya hadir
termasuk bocah-bocah kecil, anehnya hanya Go Hoa-ti seorang yang tidak
nampak batang hidungnya.
Bwe Si-jin segera merasakan hatinya seakan tenggelam.
Cau-ji melirik sekejap ke arah pesanggrahan Ti-wan di kejauhan sana, melihat
cahaya lampu memancar keluar dari tempat itu, dengan hati girang segera
bisiknya: “Paman, kelihatannya di pesanggrahan Ti-wan ada orang.”
Dengan perasaan harap-harap cemas, berangkatlah kedua orang itu menuju
ke pesanggrahan Ti-wan.
Tak lama kemudian Bwe Si-jin dapat melihat Go Hoa-ti sedang duduk
termenung di ruang tengah, kontan badannya gemetar keras sementara air mata
berlinang membasahi pipinya.
Cau-ji melirik ke arahnya sekejap sambil menuding ke arah ruang dalam,
maksudnya minta Bwe Si-jin segera masuk ke dalam, sementara dia sendiri
berjaga-jaga di luar pintu.
Setelah gagal menemukan Bwe Si-jin dan Cau-ji, dengan perasaan kalut dan
bingung Go Hoa-ti pulang kembali ke pesanggrahan Hay-thian-it-si.
Dia baru merasa lega setelah mengetahui Cau-ji gara-gara bencana malah
mendapat keberuntungan dan sedang belajar ilmu.
Dia pun ambil keputusan untuk tetap tinggal di pesanggrahan Ti-wan sambil
menunggu nasib.
Siapa sangka tiga hari berselang tiba-tiba si raja hewan muncul lagi di situ,
waktu itu dengan penuh kegusaran raja hewan mewartakan akan munculnya
kembali Bwe Si-jin, bahkan mengungkap pula masalah asusila yang telah
diperbuat anggota Jit-seng-kau selama ini.
Go Hoa-ti serasa hatinya terpukul setelah mendengar kabar berita itu hingga
badannya gemetar keras.
Si Ciu-ing yang menyaksikan hal itu segera menegur dengan perasaan kuatir:
“Cici Ti, ada apa kau?”
“Ooh, tidak apa-apa … hanya secara tiba-tiba badanku terasa kurang sehat
Ong Sam-kongcu tahu perampuan itu pasti terpukul hatinya gara-gara berita
miring mengenai Bwe Si-jin, sementara dia pun tak ingin orang lain mengetahui
hubungan khususnya dengan lelaki itu sehingga memperlihatkan reaksi
semacam itu.
Maka buru-buru dia berseru dengan lembut: “Adik Ti, lebih baik kau baliklah
dulu ke kamar untuk beristirahat.”
Sekembali ke pesanggrahan Ti-wan, Go Hoa-ti segera melampiaskan rasa
sedihnya dengan menangis tersedu.

Dia gembira karena akhirnya mendapat tahu kabar berita tentang Bwe Si-jin,
tapi dia pun sedih mengapa engkoh Jinnya terlibat dalam tindak asusila
perkumpulan Jit-seng-kau?
Selama tiga hari terakhir hampir boleh dibilang dia tak pernah keluar dari
kamarnya barang selangkah pun.
Waktu itu, dia sedang mengenang kembali peristiwa yang telah menimpa
dirinya selama ini, dia pun percaya walaupun Bwe Si-jin adalah anggota Jitseng-
kau, namun dia bukan manusia busuk, dia percaya kekasihnya dikurung
lantaran membangkang perintah sucinya, Su Kiau-kiau.
Dia pun yakin Bwe Si-jin bukan lelaki maniak yang gemar bermain seks dan
melakukan tindak asusila seperti apa yang dituduhkan si raja hewan.
Berpikir sampai di situ tak tahan lagi ia bergumam: ‘Engkoh Jin, adik Ti
percaya kau bukan orang jahat, tahukah kau betapa menderita dan tersiksanya
perasaan hatiku karena gagal menemukan jejakmu?”
Mendengar sampai di sini, Bwe Si-jin tak bisa menahan diri lagi, dia segera
menerjang masuk ke dalam ruangan sambil teriaknya: “Adik Ti!”
Go Hoa-ti tertegun, tapi sesaat kemudian dengan tubuh gemetar karena
terkejut bercampur gembira serunya: “Engkoh Jin, betulkah kau?”
“Benar,” sahut Bwe Si-jin sembari menghapus penyaruannya, “aku benarbenar
adalah Bwe Si-jin yang telah bertindak kejam kepadamu.”
Dengan air mata bercucuran Go Hoa-ti segera menubruk ke dalam
pelukannya, serunya lirih: “Engkoh Jin, aku tahu kau tidak bersalah, selama ini
kau justru telah dicelakai orang….”
Bwe Si-jin seperti mau mengucapkan sesuatu lagi, tapi Go Hoa-ti telah
menciumnya, mencium dengan penuh napsu.
Kedua orang itupun saling berpelukan, saling berciuman dengan penuh
kehangatan dan napsu.
Cau-ji bersembunyi di belakang pintu, dengan perasaan keheranan dia
saksikan kedua orang itu saling berciuman.
Tampaknya kedua orang itu sudah lupa diri, sambil berciuman pelan-pelan
mereka bergeser menuju ke kamar.
Dengan perasaan keheranan dan ingin tahu diam-diam Cau-ji ikut masuk ke
dalam ruangan dan mengintip dari luar pintu kamar.
la saksikan kedua orang itu saling melucuti pakaian masing-masing hingga
bugil, lalu tubuh Go Hoa h yang lemas tak bertenaga berada dalam keadaan
telanjang bulat digendong Bwe Si-jin menuju ke atas ranjang,
Tak lama kemudian Bwe Si-jin mulai menindih badan Go Hoa-ti dan mereka
berdua pun mulai menggiatkan tubuh masing-masing, sebentar naik turun
sebentar lagi berputar ke kiri kanan, gerakan tubuh mereka sangat cepat, penuh
tenaga dan penuh bemapsu ….
Ketika masih berada dalam gua tempo hari, beberapa kali Cau-ji pernah
mengamati barang milik paman Bwenya yang “panjang, panjang sekali”
bergelantungan di antara kedua pahanya, waktu itu dia sudah merasa kagum
sekali dengan “barang” milik pamannya itu.
Dan kini, dia merasa semakin kagum lagi setelah melihat “barang” milik
pamannya berdiri begitu tegak, kencang dan mengeras bagai sebuah tongkat
besi, ia merasa “benda” tersebut begitu gagah, begitu perkasa dan luar biasa
hebatnya.
Ternyata bibinya juga tak kalah gagah dan beraninya, bukan saja bibinya
berani memberikan perlawanan, suatu ketika bahkan berani memberikan
serangan balasan.

Tak selang berapa saat kemudian, Go Hoa-ti dari posisi “tamu berubah jadi
tuan rumah”, kali ini dia yang menindih tubuh paman Bwenya, bahkan mulai
menggerakkan badannya dengan penuh tenaga ….
Cau-ji merasakan hatinya berdebar keras, apalagi setelah menyaksikan
sepasang payudara bibinya yang menggeletar mengikuti gerakan tubuhnya yang
semakin menggila.
“Oooh rupanya” begitu pekiknya di dalam hati, “jadi gerak gerik yang
dilakukan si nona terhadapku dalam gua tempo hari melambangkan perbuatan
ini… jadi mereka sedang melakukan hubungan badan ….”
Semakin membayangkan perasaan hatinya semakin bertambah kalut, tak
lama kemudian ia merasa tubuhnya kesemutan, sadarlah bocah itu, gara-gara
perhatiannya terpecah, jalan darahnya sudah ditotok orang, dia ingin bersuara
tapi jalan darah gagunya ikut tertotok.
Terasa badannya jadi ringan, tahu-tahu dia sudah ditarik masuk ke dalam
ruangan.
Terdengar seseorang membentak nyaring: “Besar amat nyalimu, berani betul
mengintip di sini, rasain hukuman dari nonamu!”
Cau-ji tahu jalan darahnya telah ditotok oleh Ong Bu-jin, melihat gadis itu
membawanya masuk ke dalam kamar, ia jadi panik, sayang jalan darah gagunya
tertotok sehingga tak sanggup menghalangi kepergian nona itu.
Tiba-tiba terdengar gadis itu menjerit sedih: “Ibu, kau….”
Menyusul kemudian sambil menutupi wajahnya dan menangis dia lari keluar
dari dalam kamar.
Sewaktu lewat di hadnpan Cau-ji, dengan perasaan mendongkol dia hajar
dada pemuda itu sembari mengumpat: “Mampus kamu!”
Dalam pada itu Bwe Si-jin telah menyusul keluar, melihat pukulan tersebut
teriaknya dengan perasaan terkejut: “Tahan!”
Bukannya menarik kembali serangannya, sambil menggertak gigi Ong Bu-jin
malah menambahi pukulannya dengan satu bagian tenaga.
“Blaaammmm!” diiringi suara benturan keras tubuh Cau-ji mencelat keluar
dan roboh tak sadarkan diri, sementara Ong Bu-jin sendiri menjerit kesakitan
sambil muntah darah segar.
Buru-buru Bwe Si-jin menyambar tubuhnya, namun gadis tersebut sudah
roboh tak sadarkan diri
Kegaduhan tersebut segera memancing perhatian orang, terdengar Ong Samkongcu
sambil membentak gusar berlarian mendekat.
Waktu itu Go Hoa-ti sudah mengenakan kembali pakaiannya, sambil keluar
dari kamar serunya cemas; “Engkoh Jin, cepat berpakaian dulu.”
Sembari berkata dia ganti membopong tubuh Owi Bu-jin.
Tak lama kemudian Ong Sam-kongcu, raja hewan serta dua belas tusuk konde
emas telah berdatangan di tempat itu.
Ong Sam-kongcu melirik sekejap pemuda yang tergeletak di lantai, ketika
melihat Ong Bu-jin pingsan dalam pelukan Go Hoa-ti, buru-buru tegurnya
dengan perasaan cemas: “Adik Ti, apa yang terjadi dengan anak Jin?”
Belum sempat Go Hoa-ti menjawab, Bwe Si-jin sudah muncul dari balik pintu
sambil menyapa: “Ong-heng, apa kabar?” bayangan berkelebat, tahu-tahu Bwe
Si-jin sudah muncul di hadapan orang banyak.
Betapa gusarnya si raja hewan setelah melihat kemunculan orang itu,
hardiknya: “Hei, orang she Bwe, berani amat kau datang kemari?” sambil
menghardik dia siap melancarkan serangan.

“Jangan terburu napsu cianpwe,” buru-buru Ong Sam-kongcu mencegah, “ada
baiknya kita selidiki dulu masalah ini hingga jelas.”
Sambil mendengus dingin raja hewan mundur kembali ke posisi semula.
“Ong-heng,” seru Bwe Si-jin kemudian, “mari kita periksa dulu keadaan luka
Cau-ji dan Jin-ji!” sambil berkata dia menuding pemuda yang tergeletak di lantai.
“Apa? Dia adalah Cau-ji?” serentak semua orang menjerit kaget.
Si Ciu-Ing segera menghampiri Cau-ji dan mengamati wajahnya sekejap, tapi
ia segera menggeleng sambil bangkit berdiri.
“Orang she Bwe, permainan busuk apa lagi yang sedang kau rencanakan?”
hardik raja hewan gusar.
Bwe Si-jin melirik Cau-ji sekejap, melihat kelopak mata kirinya sedang
bergerak, ia pun segera berteriak keras: “Cau-ji, bila kau tidak segera bangun,
pamanmu bakal mati konyol.”
Mendengar itu Cau-ji segera melompat bangun, sambil berlutut di hadapan
Ong Sam-kongcu serunya gemetar: “Ayah, maafkan Cau-ji, lain kali Cau-ji tidak
berani lagi!”
Ditinjau dari perawakan tubuhnya, suaranya serta raut mukanya, jelas
pemuda ini bukan Cau-ji, mengapa orang itu mengaku diri sebagai anak Cau?
Tiba-tiba Bwe Si-jin teringat akan sesuatu, katanya kemudian sambil tertawa:
“Cau-ji, lepaskan dulu topeng kulit manusia yang kau kenakan!”
“Baik!” sahut Cau-ji sambil melepaskan topengnya
“Angkat wajahmu …” bentak Ong Sam-kongcu.
Begitu Cau-ji mengangkat wajahnya, Si Ciu-ing segera berteriak keras: “Anak
Cau … kau memang anak Cau!” sambil berkata dia segera ikut berlutut di
sampingnya.
“Adik Ing, apa-apaan kau .. ?” tegur Ong Sam-kongcu.
“Kongcu,” ujar Si Ciu-ing dengan air mata berlinang, “anak salah berarti
ibunya ikut salah mendidik, aku siap menerima hukuman.”
“Adik Ing, persoalan ini tak ada sangkut pautnya dengan kau.”
Dalam pada itu Go Hoa-ti sambil membopong tubuh Jin-ji ikut berlutut pula
sambil berkata: “ln-)in, semua peristiwa yang terjadi hari ini bermula dari
persoalanku, kejadian ini tak ada sangkut pautnya dengan Cau-ji”
Buru-buru Ong Sam-kongcu berkelit ke samping, sahutnya: “Enso, cepat
bangun, lebih baik persoalan ini tak usah dibicarakan dulu, yang penting kita
periksa dulu keadaan luka yang diderita Jin-ji.”
“Terima kasih saudara Ong!” Bwe Si-jin menjura dalam-dalam, lalu
membangunkan Go Hoa-ti.
Ong Sam-kongcu segera melototi Cau-ji sekejap bentaknya: “Anak kurang ajar,
ayo cepat bangun ”
Raja hewan sama sekali tidak mengetahui hubungan antara Bwe Si-jin dengan
Go Hoa-ti, tampaknya dia dibuat kebingungan oleh kejadian yang baru saja
berlangsung.
Melihat Cau-ji sudah bangkit berdiri, dia pun segera bertanya: “Cau-ji,
sebenarnya apa yang telah terjadi?”
Waktu itu Ong Sam-kongcu sekalian sudah balik ke ruang tengah hingga di
depan pesanggrahan Ti-wan tinggal mereka berdua, Cau-ji segera menjawab
lirih: “Yaya, tadi enci Jin menotok jalan darahku kemudian menghajarku, tapi
akibatnya dia yang berubah jadi begitu.”
“Anak Cau, kenapa Jin-ji berbuat begitu kepadamu?”
“Aku….”

Melihat bocah itu ragu-ragu untuk menjawab, si raja hewan sebetulnya ingin
mendesak lebih jauh, saat itulah tiba-tiba terdengar Ong Sam-kongcu berbisik
dengan ilmu coan-im-jit-pit “Cianpwe, Bwe Si-jin adalah kekasih Go Hoa-ti, Jin-ji
adalah putri mereka!”
“Haha….” raja hewan segera menjerit kaget.
Cau-ji mengira kakek itu tidak senang hati, baru saja dia akan membeberkan
semua kejadian yang dialaminya tadi, terdengar raja hewan menukas dengan
suara lirih: “Tak usah banyak bicara lagi, yaya sudah tahu sekarang.”
“Yaya, kau benar-benar sudah tahu?” Cau-ji keheranan.
Raja hewan manggut-manggut.
“Sekarang kita tak usah membicarakan persoalan ini lagi, Jin-ji bisa terluka
pasti karena kena getaran pelindung badanmu, ayo kita selamatkan dulu cicimu
itu.”
“Yaya, Cau-ji benar-benar bisa menolong enci Jin?” sambil berjalan Cau-ji
bertanya.
Raja hewan mengangguk tanpa menjawab.
Padahal dia sendiripun tidak yakin akan hal itu.
Ketika mereka berdua masuk ke dalam ruangan, terdengar Si Ciu-ing sedang
berkata sambil terisak: “Maafkan aku enci Ti!”
Rupanya Ong Sam-kongcu dan Bwe Si-jin secara bergantian telah memeriksa
denyut nadi anak Jin, tapi hasilnya sama saja, napasnya lemah dan peredaran
darahnya tersumbat.
Sambil berusaha mengendalikan rasa sedih di hatinya, Go Hoa-ti berkata:
“Enci Ing tak usah sedih, selama Jin-ji masih bernapas, berarti masih ada
peluang untuk menyembuhkan.”
Ketika melihat Cau-ji muncul dalam ruangan, Ong Sam-kongcu segera
menghardik dengan suara berat “Cau-ji, kemari, ayo berlutut di hadapan paman
Bwe.”
“Saudara Ong, kau tak usah menyiksa Cau-ji lagi,” cegah Bwe SHin.
Dengan serius Ong Sam-kongcu menggeleng, kepada putranya kembali ia
berkata: “Cau-ji, mulai hari ini kau dan anak Jin adalah suami istri, mengerti?”
Cau-ji merasa seperti mengerti, seperti juga tidak, tapi ia tak berani
membantah perintah bapaknya, maka sambil mengangguk ujarnya: “Ayah, Cau ji
masih belum mengerti, tapi Cau-ji akan mentaati perintah ayah.”
Maka sesuai dengan petunjuk Ong Sam-kongcu, Cau-ji pun segera
menjalankan penghormatan besar di hadapan Bwe Si-jin serta Go Hoa-ti.
Mendadak terdengar Bwe Si-jin berseru sambil tertawa tergelak: “Hahaha …
saudara Ong, ada tidak mertua yang menghantar menantunya masuk kamar
pengantin?”
Jangankan Ong Sam-kongcu tidak paham, orang yang hadir di situ pun tak
ada yang mengerti maksud perkataan itu.
Sambil membopong Jin-ji dari atas meja, kembali Bwe Si-jin berseru:
“Pengantin lelaki, ayo ikuti mertuamu masuk kamar.”
Habis berkata sambil tertawa terbahak-bahak dia berjalan menuju
pesanggrahan Ti-wan.
Dengan kepala tertunduk dan tanpa mengucapkan sepatah kata pun Cau-ji
mengintil di belakangnya.
Semua orang yang hadir dalam ruangan cuma bisa saling berpandangan, tak
seorangpun yang tahu apa gerangan yang terjadi.
Sementara itu dari dalam kamar pesanggrahan Ti-wan terdengar Bwe Si-jin
berseru lagi: “Pengantin pria, ayo cepatan sedikit, jangan malu-malu.”

Ketika Cau-ji masuk ke dalam kamar, ia saksikan Bwe Si-jin telah melucuti
pakaian yang dikenakan Jin-ji hingga tinggal kutangnya yang berwarna biru,
tampak gadis itu berbaring tenang di atas ranjang.
Melihat keadaan tersebut, Cau-ji segera terbayang kembali adegan syurnya
dengan Su Gi-gi tempo hari, berubah hebat paras mukanya bahkan badannya
ikut gemetar keras.
Bwe Si-jin melirik pemuda itu sekejap, kemudian katanya lagi: “Cau-ji, masih
ingat ilmu Kui-goan-sinkang yang pernah paman ajarkan kepadamu?”
Cau-ji mengangguk.
“Kalau begitu coba berlatihlah satu kali di hadapan paman.”
Cau-ji segera duduk bersila dan mulai mengatur pernapasan, tak lama
kemudian tampak sebuah lapisan cahaya kuning menyelimuti seluruh
tubuhnya.
Bwe Si-jin tertegun setelah menyaksikan kejadian itu, pikirnya: “Tak aneh
kalau Jin-ji terluka parah meski jalan darahnya tertotok, kelihatannya dia
mengalami kemajuan yang luar biasa pesatnya dalam beberapa hari terakhir….”
Bwe Si-jin berpikir sejenak, kemudian dia keluar dari kamar dan kembali
dengan membawa dua batang pohon yang panjangnya berapa depa.
Terdengar Bwe Si-jin berkata lagi: “Cau-ji, coba perhatikan dua batang ranting
pohon ini, nanti gunakanlah ranting itu untuk menotok jalan darah Pek-hwehiat
dan Tan-tiam di tubuh Jin-ji.
“Anak Cau, asal kau salurkan tenaga dalammu ke jalan darah Pek-hwe-hiat di
tubuh Jin-ji. lalu menggunakan Kui-goan-sinkang mengalirkan kembali tenaga
Jin-ji yang ada di Tan-tiam balik ke tubuhmu, maka dua belas putaran
kemudian dia akan segar kembali”
Mendengar itu Cau-ji segera menghembuskan napas lega.
la terima ranting pohon itu, duduk di tepi ranjang, menutul jalan darah Pekhwe-
hiat dan Tan-tiam di tubuh Jin-ji, kemudian mulai menyalurkan hawa
murninya.
“Cau-ji, dorong secara perlahan-lahan, yang penting harus beraturan dan
tidak putus,” perintah Bwe Si-jin.
Cau-ji manggut-manggut, dia mulai mengerahkan tenaga dalamnya ke dalam
lengan kiri.
Dengan cepat ia temukan jalan darah Pek hwe-hiat di tubuh enci Jinnya
seperti tersumbat oleh sesuatu, apa mau dikata pamannya berpesan agar dia
tidak terburu napsu, maka sambil menahan sabar pelan-pelan ia dorong tenaga
dalamnya ke tubuh gadis itu.
Dua jam telah berlalu tanpa terasa, di bawah pengawasan Ong Sam-kongcu
sekalian akhirnya Cau ji dapat menyalurkan tenaga murninya ke dalam tubuh
gadis itu.
Ong Bu-jin yang selama ini jatuh pingsan akhirnya dapat menghembuskan
napas panjang dan membuka matanya kembali.
Semua orang menyambut keberhasilan ini dengan riang gembira.
“Anak Jin, jangan bicara dulu,” bisik Si Ciu-ing lembut.
“Bibi, mana adik Cau?” tanya Ong Bu-jin lirih.
“Coba lihat sendiri, siapa yang telah selamatkan jiwamu?”
Jin-ji menoleh ke samping, melihat adik Cau nya sedang mengobati lukanya,
dengan lemah bisiknya lagi: “Adik Cau, cici telah bersalah kepadamu…”
Belum habis berkata, napasnya sudah tersengal-sengal.
Cau-ji jadi gugup, ia segera membuang ranting pohon itu, memeluknya dan
mencium bibirnya sembari menyalurkan tenaga dalam.

Siapa sangka lantaran kelewat emosi, tenaga dalamnya sama sekali tak
tersalurkan keluar, dalam gugup bercampur panik Cau-ji segera menarik lepas
kutang yang dikenakan gadis itu.
Sepasang payudaranya yang putih dan montok segera muncul di hadapan
orang banyak, suasana pun jadi gaduh.
“Cau-ji, kau…”hardik Ong Sam-kongcu.
Tapi sebelum ia lanjutkan bentakannya, dengan wajah serius Bwe Si-jin telah
menimpali:
“Jangan emosi dulu Ong-heng, tadi Jin-ji kelewat banyak bicara ditambah lagi
emosinya labil, sekarang keadaannya sangat berbahaya.”
“Aku rasa tindakan yang akan dilakukan Cau-ji saat ini adalah menggunakan
ilmu pengobatan Im-yang-ho-hap-tok-ki-liau-hoat (perpaduan positip dan
negatip), sistim pengobatan ini sangat berbahaya, salah-salah bisa mencabut
nyawa Jin-ji. jadi aku harap semua orang mau bertindak sebagai pelindung”
Bicara sampai di situ ia segera maju mendekat dengan wajah serius.
Ong Sam-kongcu segera berpaling ke arah Si Ciu-ing, katanya serius: “Adik
Ing, keluarga Ong mempunyai tiga belas orang putra, tapi Bwe-heng dan adik Ti
cuma memiliki Jin-ji seorang, kau mesti membantunya dengan bersungguhsungguh.”
Habis berkata bersama si raja hewan segera keluar dari ruangan.
Dengan air mata berlinang dan tangan gemetar Si Ciu-ing serta Go Hoa-ti
segera membantu Cau-ji dan Jin-ji melucuti semua pakaian yang mereka
kenakan
Go Hoa-ti mengambil sebuah bantal dan diletakkan di bawah pinggul Jin-ji,
lalu pelan-pelan dia pentang lebar sepasang pahanya membiarkan “lubang singa”
dengan bulu hitamnya yang masih sedikit itu terbentang lebar.
“Enci Ti, kali ini Jin-ji harus menderita,” bisik Si Ciu-ing lirih.
“Kita tak perlu merisaukan persoalan ini,” tukas Go Hoa-ti serius, “bagaimana
pun mereka sudah menjadi suami istri, siapa tahu selewatnya kejadian ini
hubungan mereka malah bertambah mesra.”
Dengan penuh rasa terima kasih Si Ciu-ing mengangguk, katanya kemudian:
“Cau-ji, ayo naik!”
Tadi Cau-ji mengambil keputusan untuk menggunakan cara tersebut, karena
secara tiba-tiba teringat olehnya kalau tenaga dalam yang dimilikinya bertambah
pesat setelah Su Gi-gi “kencing” di atas barang miliknya.
Oleh sebab itu dia putuskan untuk mencoba dengan cara yang sama.
Dalam waktu singkat Cau-ji sudah menindih di atas badan Jin-ji, karena
punya hasrat ke situ. otomatis si “ular berbulu”nya dengan cepat
menggelembung besar dan tegak lurus, tak lama kemudian barangnya jadi
tegang sekali dan mencapai kepanjangan delapan inci dan besar satu inci.
Go Hoa-ti tidak menyangka Cau-ji yang masih berusia tiga belas tahun
ternyata memiliki “barang” yang besarnya sudah mencapai setengah dari milik
Bwe Si jin, bila barang itu berkembang terus mengikuti perkembangan
tubuhnya, entah akhirnya bisa mencapai berapa besar?
Dua belas tusuk konde emas yang menyaksikan adegan itu ikut berdebar
debar hatinya, mereka pun sangat kagum dengan ukuran barang milik Cau-ji
yang luar biasa itu.
“Waah, besar amat barangnya,” demikian mereka berpikir, “milik bapaknya
saja tidak segede itu, di kemudian hari entah berapa banyak gadis yang bakal
keranjingan dengan barang miliknya”

Go Hoa-ti cukup berpengalaman dengan sosis ukuran “king size”, jadi dia pun
tahu bagaimana harus menghadapinya, dengan suara lirih bisiknya: “Cici
sekalian, tolong dibantu melumuri barang milik Cau-ji dengan air liur, agar
sewaktu masuk nanti barangnya lebih licin!”
Sembari berkata, dia pun menggunakan air liur sendiri membasahi sekitar
lubang surga milik Jin-ji dengan sangat berhati-hati.
Ketika barang ukuran “king size” milik Cau-ji sudah basah dilumuri air liur, Si
Ciu-ing pun memberi perintah: “Ayo dimulai Cau-ji, tapi harus perlahan”
Cau-ji menurut, pelan-pelan dia masukkan barangnya ke dalam lubang surga
milik gadis itu.
Ketika dilihatnya tangan Jin-ji mulai gemetar keras seperti menahan rasa
sakit, kembali Si Ciu-ing berbisik: “Perlahan … perlahan lagi, yang halus, yang
pelan … nah, sekarang masukkan sedikit demi sedikit… yaa … jangan
dipaksakan, perlahan saja ….”
Sembari menciumi bibir Jin-ji, pelan-pelan Cau-ji masukkan barang miliknya
ke dalam lubang surga milik Jin-ji, karena mesti berhati-hati maka tak lama
kemudian dia sudah bermandikan keringat.
Tapi untung semuanya berjalan lancar, tak selang berapa saat kemudian
seluruh barang milik Cau-ji yang berukuran besar itu sudah terbenam di dalam
liang surga gadis itu.
Melihat semuanya berjalan lancar, para orang dewasa pun menghembuskan
napas lega
Pendidikan yang diberikan sang ibu memang luar biasa sekali!
Cau-ji sendiripun merasa lega, dia menarik napas dan bermaksud “kencing”,
tapi dia pun tak tahu bagai mana caranya melakukan hal tersebut, kalau harus
“kencing”, apa yang mesti dilakukan?
Karena kuatir kembali dia ciumi gadis itu bertubi-tubi.
Melihat putranya panik, Si Ciu-ing segera mengerti apa yang telah terjadi,
maka dia pun berbisik: “Cau ji agar berhasil kencing, kau mesti mulai
menggoyangkan badanmu!”
Tiba-tiba Cau-ji terbayang kembali dengan gerakan aneh yang dilakukan Su
Gi-gi sebelum akhimya bisa “kencing”, dalam girangnya dia pun mulai
menggoyangkan badannya….
Saking kerasnya goyangan itu, Jin-ji kontan kesakitan setengah mati, bukan
saja badannya gemetar keras, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi
wajahnya.
“Cau-ji, cepat berhenti!” bentak Si Ciu-ing, sambil berkata dia segera
memegang pinggul bocah itu dan menahannya.
“Ibu, kenapa Cau-ji mesti berhenti?” tanya pemuda itu keheranan.
“Cau-ji, kau tak boleh ngawur, coba lihat, Jin-ji jadi sangat tersiksa, kalau
mau bergoyang, kau mesti bergoyang secara lembut dan perlahan, ayo sekarang
di mulai… ikuti petunjukku ….”
Melihat gadis itu pucat pias sambil melelehkan air mata, Cau-ji tahu, nona itu
pasti kesakitan, bisiknya ke mudian: “Cici, aku….”
Setelah berhenti sejenak, rasa sakit yang dialami Jin-ji sudah banyak
berkurang, dia segera pejamkan matanya dan menjawab malu: “Adik Cau, aku
tidak apa-apa….”
Begitulah, di bawah bimbingan Si Ciu-ing yang memberi komando, Cau-ji
mulai naik turunkan badannya dengan penuh kelembutan….
Percikan darah perawan mulai meleleh keluar dan membasahi seprei
pembaringan.

Tak lama kemudian napas Jin-ji mulai tersengal-sengkal, badannya juga
mulai ikut bergoyang mengikuti gerakan tubuh pemuda itu.
Si Ciu-ing tahu, kedua orang bocah itu sudah mendekati puncak kenikmatan,
maka kembali perintahnya: “Cau-ji, percepat gerakanmu, yaa… makin cepat…
makin cepat lagi
Waktu itu Cau-ji sudah merasakan barang miliknya makin geli dan gatal,
semakin cepat gerakan dilakukan, ia merasa barang miliknya semakin enak dan
nikmat sekali, maka dia pun percepat gerak naik turunnya.
Jin-ji jauh lebih matang dari saudara lainnya, dia tentu saja tahu apa yang
sedang mereka lakukan sekarang di hadapan orang banyak, sekalipun mereka
adalah orang tua sendiri, tak urung rasa malu tetap menyelimuti perasaan
hatinya, maka walaupun sudah terangsang hebat ia berusaha untuk
menahannya.
Go Hoa-ti cukup berpengalaman dalam masalah ini, tentu saja dia pun
mengerti jalan pikiran putrinya, diam-diam ia totok jalan darah tertawa di tubuh
gadis itu kemudian memberi tanda kepada rekan-rekannya.
Tak lama kemudian terdengarlah suara tertawa serta rintihan dari Jin-ji yang
membuat suasana semakin terangsang….
Cau-ji mengira cicinya sangat senang dengan gerak cepatnya, maka dia pun
mempercepat gerakan tubuhnya.
Setengah perminuman teh kemudian tampak bulu kuduk Jin-ji pada bangun
berdiri, tubuhnya mulai gemetar keras.
Berubah hebat paras muka Go Hoa-ti, buru-buru dia tepuk bebas jalan darah
tertawanya.
Cau-ji tidak tahu adanya perubahan itu, dia masih melanjutkan genjotan
badannya….
“Cau-ji, sudah keluar belum?” tanya Si Ciu-ing tiba-tiba.
“Ibu, Cau Ji tak bisa kencing, bagaimana ini?”
Si Ciu-ing termenung berpikir sejenak, dia tahu bila Cau-ji dibiarkan
menerjang terus lama kelamaan Jin-ji bakal mati, maka diapun berkata “Cau-ji,
cepat dikencingkan, asal kau sudah kencing, Jin ji pasti akan sehat kembali.”
“Ya betul, asal dia tidur sejenak maka semuanya akan beres.”
“Cau-ji, jangan salahkan ibu.” Tiba-tiba Si Ciu-ing berbisik dengan air mata
berlinang, tiba-tiba secepat kilat dia totok jalan darah Ciok-cing hiat di tubuh
Ciau Ji, jalan darah ini mengendalikan saluran cairan mani di tubuh kaum
lelaki.
“Jangan!” pekik Go Hoa-ti sambil mencengkram pergelangan tangannya.
Pek Lan-hoa ikut bergerak, secepat kilat ia totok jalan darah kaku di
tubuhnya.
“Enci Ing, kau tak boleh berbuat begitu,” seru Goa Hoa-ti dengan air mata
berlinang.
“Enci Ti, kau sudah mendengar perintah dari engkoh Huan bukan,” kata Si
Ciu-ing tegas, “kita masih punya dua belas orang anak lelaki.”
Sambil berkata ia tepuk jalan darah Ciok-cing hiat di tubuh bocah itu.
Cau-ji segera mendengus tertahan, badannya gemetar keras, cairan mani
segera menyembur keluar berulang kali, dengan lemas tubuhnya segera
tergeletak di atas badan Jin-ji.
“Cau-ji!” seru Si Ciu-ing sedih, dia segera membopong tubuh putranya.
“Enci Ing, kami terlalu banyak berhutang kepada kalian,” keluh Go Hoa-ti
sembari memeluknya.

“Maaf cici Ti, aku harus pergi duluan,” kata Si Ciu-ing, dengan langkah
sempoyongan dia segera menerjang keluar dari ruangan.
“Cau-ji….” kembali pekiknya keras.
Pekikan keras yang menyayat hati itu kontan membelah keheningan fajar yang
baru menyingsing.
Ong Sam-kongcu yang mendengar teriakan itu tersentak kaget, paras
mukanya pucat pias bagai mayat, untuk sesaat dia tertegun dan tak mampu
berbuat apa-apa.
Sebelas orang tusuk konde lainnya ikut melelehkan air mata, melihat cairan
mani masih saja menyembur keluar dari barang milik Cau-ji, mereka serentak
berlarian mengikuti di belakangnya.
Tak sampai setengah jam kemudian, berita duka ini sudah menyebar ke
seluruh pesanggrahan, semua orang tenggelam dalam kesedihan yang luar biasa.
Benarkah Cau-ji, si pendekar muda kita tewas karena cairan maninya
menyembur keluar terus menerus?
Jika Cau-ji tewas dalam usia muda, siapa yang akan meneruskan kariernya,?
Siapa pula yang akan menjayakan nama besar pesanggrahan Hay-thian-it-si?
Untuk mengetahui kisah selanjutnya dari pendekar muda kita Ong Bu-cau,
nantikan cerita selanjutnya dalam sambungan Pendekar Naga Emas Jilid 2

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: