Pertarungan naga sakti versus elang sakti.

Bab III. Pertarungan naga sakti versus elang sakti.
Telaga Toa-beng-ou di wilayah Chi-lam.
Pemandangan alam di wilayah Chi-lam memang luar biasa indahnya, ada
mata air, ada telaga juga ada bukit, mata air adalah Ya-tok-swan, telaga adalah
Tay-beng-ouw sedang bukit adalah Jian-hud-san
Telaga Tay-beng-ouw terletak di sebelah barat-laut kota Chi-lam, luasnya
belasan li dan menduduki sepertiga dari luas seluruh kota.
Batas telaga berada di timur, utara dan barat kota, bila fajar baru menyingsing
atau senja menjelang tiba, pemandangan alam di sekeliling tempat itu indah menawan.
Dari jembatan Ing-hoa-kiau menuju ke arah barat-laut telaga, tampak
pepohonan yang-liu tumbuh sepanjang pesisir, gelagah tumbuh subur di
permukaan telaga, khususnya di musim panas atau musim gugur, bunga teratai
mekar semerbak membuat pemandangan di sekitar sana tampak semakin indah
menawan.
Senja itu, matahari memancarkan sinar kemerah-merahan menyelimuti
angkasa, kabut tipis kelihatan mengambang di atas permukaan air telaga.
Saat itulah, di sebuah rumah makan di tepi telaga, tampak seorang pemuda
berwajah tampan didampingi seorang bocah beralis tebal bermata besar dan bertubuh
kekar sedang duduk di tepi jendela menikmati keindahan alam telaga.
Mereka berdua tak lain adalah Go Hoa-ti dan Ong Bu-cau.

“Anak Cau, bagaimana dengan pemandangan alam di sini?” bisik Go Hoa-ti
dengan suara lirih.
“Sangat indah, kalau bisa berpesiar dengan perahu tentu lebih nikmat,” sahut
anak Cau kegirangan.
Ucapan yang diutarakan dengan suara lantang seketika memancing perhatian
banyak orang yang memandang ke arahnya dengan sinar mata keheranan.
Belum sempat Go Hoa-ti berbicara, Ong Bu-cau sudah bangkit berdiri dan
berseru kepada semua yang hadir sambil menjura: “Paman dan empek sekalian,
maaf!”
“Bocah cilik, berani berbuat berani tanggung jawab, kau memang hebat,” dari
sudut ruangan terdengar seseorang berseru dengan suara keras.
Ketika berpaling, anak Cau melihat orang itu adalah seorang kakek berusia
enam puluh tahunan yang bertubuh kekar, bermata besar dan bermulut lebar.
Melihat pihak lawan memujinya, Cau-ji membalas dengan senyuman simpatik
lalu balik kembali ke tempat duduknya.
Sebaliknya Go Hoa-ti segera berubah wajahnya setelah melihat wajah orang
itu, buru-buru bisiknya: “Cau-ji, mari kita balik dulu ke rumah penginapan, kita
naik perahu besok pagi saja.”
Belum sempat kedua orang itu berlalu, tiba-tiba terdengar seseorang berseru:
“Aaah, siau-hui-hiap telah datang!”
“Sungguh? Cepat tanyakan soal lencana Beng-pay…”
Menyusul perkataan itu berduyun-duyun orang berlarian meninggalkan ruang
rumah makan, tak selang berapa saat kemudian di situ tinggal Go Hoa-ti, Cau-ji
serta kakek kekar itu.
Cau-ji sangat heran melihat tingkah polah orang-orang itu, tak kuasa ia pun
bertanya: “Paman, siapa sih siau-hui-hiap yang mereka maksud dan apa pula
lencana Beng-pay?”
Go Hoa-ti segera menuding ke arah seorang bocah berusia enam tujuh
tahunan yang berada di kejauhan sana dan mengenakan baju mewah dengan
cahaya mutiara yang gemerlapan seraya berkata: “Itu dia si pendekar terbang
Siau-hui-hiap!”
“Mana mungkin?” Cau-ji tidak yakin, “kalau ditinjau dari namanya, si
pendekar terbang mestinya bisa bergerak secepat terbang, punya kepintaran dan
keberanian, tidak macam orang tolol begitu.”
“Cau-ji, cepat amat kau belajar kata-kata nakal macam begitu,” tegur Go Hoati
sambil tertawa.
“Tapi kita kan mesti bilang putih kalau putih dan bilang hitam kalau hitam?”
Go Hoa-ti melirik ke arah kakek kekar itu sekejap, melihat orang itu
mengawasi terus Cau-ji, ia segera tingkatkan kewaspadaannya, bisiknya segera:
“Cau-ji, kau jangan lihat bocah itu macam orang bloon, dia bisa beritahu kepada
orang lain nomor berapa yang baka! keluar dalam pacuan kuda malam nanti!”
“Nomor yang keluar dalam pacuan kuda? Maksud paman nomor yang akan
keluar pada Tay-ka-lok?”
“Benar, nomor ciaji itulah yang disebut beng-pay. Kelihatannya bocah itu
sudah sering memberi ciaji sehingga banyak orang menang lotere, coba lihat
begitu banyak perhiasan yang menghiasi tubuhnya.”
“Paman, kenapa siau-hui-hiap bisa memberi ciaji?”
“Soal ini… aku sendiri juga kurang paham.”
“Saudara cilik, lohu tahu!” mendadak kakek itu berseru lantang.
Berubah hebat paras muka Go Hoa-ti, buru-buru dia tarik tangan Cau-ji siap
kabur dari situ.

Siapa tahu pada saat itulah terasa angin tajam menderu lewat, tahu-tahu
kakek itu sudah berdiri persis di hadapan mereka berdua.
Melihat usahanya menghindar tidak berhasil, Go Hoa-ti segera menghentikan
langkahnya sambil menegur “Oh-cianpwe, apa maksudmu menghalangi
perjalanan boanpwe?”
“Nona, rupanya kau kenal lohu? Luar biasa, luar biasa, sudah belasan tahun
lohu tak pernah berkelana dalam dunia persilatan, boleh tahu siapa nama
nona?”
Kakek itu dari marga Oh bernama It-siau, orang menyebutnya siu-ong atau
raja hewan, bukan saja dia pandai menjinakkan pelbagai binatang, ilmu silatnya
termasuk luar biasa, sepak terjangnya pun antara lurus dan sesat
Anehnya orang ini justru merupakan sahabat karib Bwe Si-jin, Go Hoa-ti
pernah bertemu Oh It-siau satu kali ketika berada di kota Kim-leng dua belas
tahun berselang, tentu saja kakek itu tidak mengenalinya karena ia sedang
menyaru sebagai seorang pria.
Tergerak hati Go Hoa-ti setelah mendengar si raja hewan menanyakan
namanya, baru saja dia hendak memberitahu nama aslinya, mendadak
terdengar Cau-ji menghardik keras: “Kau tak boleh sembarangan menanyakan
nama ibuku!”
Si raja hewan tidak menyangka seorang bocah berani begitu kurangajar
terhadapnya, baru saja dia akan memberi pelajaran, tiba-tiba dilihatnya bocah
itu sangat keren hingga niat tersebut akhirnya diurungkan kembali.
Melihat lawannya tidak menjawab, Cau-ji mengira kakek itu sudah keder,
kembali bentaknya: “Minggirt”
“Bocah kecil, kau memang kelewat tak tahu sopan santuni” umpat si raja
hewan marah.
‘Kau sendiri yang tidak sopan duluan, itu namanya pembalasan!” jawab Cau-ji
tak mau kalah.
Si raja hewan tertawa tergelak, suaranya nyaring bagai geledek.
Buru-buru Go Hoa-ti melindungi diri dengan hawa murninya, sementara
sepasang tangannya dipakai untuk menutupi telinga Cau-ji, setelah itu
diawasinya gerak gerik kakek itu penuh waspada.
Tampaknya gelak tertawa yang amat nyaring itu membuat si bocah yang
disebut siau-hui-hiap terperanjat, sambil menjerit kaget bocah itu lari terbiritbirit
sambil menangis keras.
Padahal waktu itu para pecandu Tay-ka-lok sedang menunggu Siau-hui-hiap
memberikan ciajinya, melihat bocah itu kabur sambil menangis gara-gara gelak
tertawa si raja hewan, serentak mereka jadi marah, dua puluhan orang serentak
datang mendekat dengan penuh amarah.
Melihat kawanan orang itu akan mencari gara-gara dengan si raja hewan, Go
Hoa-ti kegirangan, dia berusaha menggunakan kesempatan itu untuk melarikan
diri, sayang belum sempat ia melakukan satu tindakan, segulung angin tajam
telah menyerang tiba.
Baru saja hendak menghindar, tapi lantaran sepasang tangannya harus
menutupi telinga Cau-ji, akibatnya gerak-gerik tubuhnya kurang lincah, sedikit
terlambat tahu-tahu jalan darah kakunya sudah tertotok.
”Anak Cau, cepat kabur” teriaknya.
Raja hewan menghentikan gelak tertawanya, ia melangkah maju lalu berusaha
menangkap Cau-ji.
“Lihat serangan!” hardik Cau-ji lantang.

Dengan jurus yu-liong-tam-jiau (naga sakti pentang cakar) dia cengkeram
lambung lawan.
Mimpipun raja hewan tak mengira kalau bocah itu mengerti silat bahkan
serangannya secepat sambaran petir, tak ampun lambungnya kena serangan
dengan telak, coba kalau tenaga dalamnya tidak sempurna, mungkin lambung
itu sudah robek dan isi perutnya berentakan.
Biar begitu, lamat-lamat bekas cengkeraman itu terasa sakit bagaikan disayat
dengan pisau.
Berhasil dengan serangan pertama tapi gagal melukai musuhnya, kembali
Cau-ji membentak nyaring, kali ini dia bacok dengan telapak tangan kirinya.
Setelah merasakan serangan pertama musuhnya, tentu saja raja hewan tidak
membiarkan lawan menyerang untuk kedua kalinya, dengan satu gerakan cepat
dia cengkeram urat nadi pergelangan tangan kiri Cau-ji, kemudian menotok
jalan darah kaku dan bisunya.
Dalam pada itu, dua puluhan orang sudah menyerbu masuk ke dalam rumah
makan, melihat si raja hewan menculik Cau-ji, serentak mereka membentak
nyaring.
“Bajingan tengik, berani amat menculik orang, cepat lepaskan!”
Ada lima orang langsung menerjang ke depan.
Raja hewan mendengus dingin, sembari melanjutkan langkahnya tiba-tiba ia
sentil tangan kanannya berulang kali.
“Aduuuh ….” di tengah jerit kesakitan, dua puluhan orang itu roboh terkapar
di tanah.
Dengan penuh rasa bangga raja hewan tertawa nyaring, sekali berkelebat dia
sudah berada jauh di depan sana.
Sebenarnya Go Hoa-ti ingin melaporkan nama sendiri, tapi melihat lawan
sudah pergi jauh, sementara dia sendiripun tertotok, dia kuatir menggunakan
kesempatan itu ada orang akan memperkosanya. maka dia urungkan niatnya.
Dengan menghimpun segenap kekuatan yang dimiliki ia berusaha melepaskan
diri dari pengaruh totokan.
Tak sampai setengah jam kemudian, akhirnya jalan darah kaku di tubuhnya
berhasil dibebaskan.
Sayang malam hari sudah menjelang tiba, kegelapan malam yang mencekam
membuat ia tak nampak sesosok bayangan manusia pun, dalam keadaan begini
terpaksa ia mengejar ke arah dimana raja hewan pergi.
Dalam pada itu si raja hewan dengan mengempit tubuh Cau-ji sudah berada
tak jauh dari kota, begitu tiba di tempat yang sepi, ia segera berpekik nyaring,
suara pekikan itu aneh sekali.
Menyusul suara pekikan aneh itu, dari kejauhan segera bergema dua kali
suara pekikan yang tak kalah anehnya, begitu aneh dan kerasnya suara pekikan
itu membuat Cau-ji merasa hatinya berdebar keras, coba kalau jalan darah
kakunya tidak tertotok, mungkin dia sudah mendongakkan kepala untuk
mengawasi makhluk aneh apakah itu.
Tak lama kemudian terasa ada segulung angin tajam menyambar lewat, Cau-ji
segera menemukan di atas permukaan tanah telah berdiri seekor burung elang
yang aneh sekali bentuknya.
Elang aneh itu paling tidak mempunyai tinggi badan dua-tiga kaki, seluruh
badannya berwarna coklat tua dengan bulu sayap yang berkilauan, jenggernya
merah menyala dan sepasang matanya terang bercahaya.

Dalam posisi tertotok, sebetulnya Cau-ji hanya bisa melihat sepasang kaki
serta perutnya, tapi lantaran burung itu sedang menjulurkan kepalanya
menghampiri si raja hewan, maka ia dapat melihat jelas bentuk unggas tersebut.
Rasa keheranan, ingin tahu bercampur takut bercampur aduk di dalam
benaknya.
Melihat itu, si raja hewan tertawa terbahak-bahak, serunya: “Hahaha…
monyet kecil, anggap saja kau memang beruntung, masih kecil sudah bisa
merasakan terbang di angkasa …”
Sambil berkata, ia jepit tubuh Cau-ji lalu menunggang di punggung burung
aneh itu.
“Terbang!” diiringi bentakan nyaring, burung aneh itu pentangkan sayap dan
mulai terbang ke angkasa.
Setelah berada di udara, si raja hewan baru meletakkan tubuh Cau-ji di
sampingnya sekalian menotok bebas jalan darahnya.
Cau-ji merasa angin tajam menerpa di atas wajahnya, begitu kencang
hembusan angin membuat sepasang matanya sulit dipentang lebar, terpaksa ia
pejamkan matanya rapat-rapat
Tak lama kemudian burung aneh itu terbang dengan tenang dan stabilnya di
angkasa, sementara Cau-ji pun tak kuasa menahan rasa kantuknya, ia segera
tertidur pulas.
Ketika mendusin kembali, ia jumpai tubuhnya sudah berbaring dalam sebuah
ruang batu, baru saja ia goyangkan badan, terdengar suara desisan aneh
bergema dari sisi badannya.
Selama ini Cau-ji selalu berdiam dalam pesanggrahan Hay-thian-it-si, tentu
saja ia belum pernah melihat bentuk ular, ketika merasa ada benda sedang
bergerak di bawah bantalnya, buru-buru dia melompat bangun sambil
menengok.
“Aaah!” apa yang terlihat membuat ia menjerit kaget
Tampak sesosok makhluk yang besarnya seperti gentong air berwarna putih
bercampur hitam sedang menggeliat di tengah ruangan, ia tak bisa membedakan
mana kepalanya dan mana ekornya karena belum pernah melihat makhluk
semacam itu sehingga bocah ini tak bisa mengatakan binatang apakah itu.
Dengan mata melotot besar penuh keheranan Cau-ji mengawasi makhluk itu
tanpa berkedip.
Tiba-tiba terdengar suara gelak tertawa bergema memecahkan keheningan,
tampak si raja hewan muncul sambil membawa secawan arak dan menginjak di
atas punggung ular sanca itu.
Melihat mimik muka Cau-ji, serunya sambil tertawa: “Tampaknya kau
memang bocah bernyali!”
Maka dia pun segera berpekik aneh.
Cau-ji melihat makhluk itu menggeliat tiada hentinya, tak lama kemudian
tampak sebuah kepala berbentuk segitiga dengan sepasang mata yang besar
mencorong muncul di hadapannya, yang aneh, dari mulut makhluk itu menjulur
keluar lidah yang bercabang.
Cau-ji segera teringat dengan pelajaran yang pernah diterima dari ibunya
dulu, konon begitulah bentuk muka makhluk yang disebut “ular”, tak kuasa
jantungnya berdebar keras.
Kembali si raja hewan tertawa tergelak. “Hahaha … munyuk, jangan takut,
anak Cing sudah puluhan tahun menjaga gua ini, asal kau tidak mengusiknya,
dia pun tak akan mengganggu dirimu!”
Sementara ia berbicara, ular itu sudah merayap keluar dari dalam gua.

Melihat kakek itu begitu santai membicarakan soal ular tanpa perdulikan
masalah yang lain, timbul perasaan antipati dalam hati Cau-ji, apalagi bila
teringat bagaimana orang itu telah menotok jalan darah bibinya, tak kuasa hawa
amarah membara dalam dadanya.
“Hey, jangan seenaknya memanggil munyuk kepadaku,” teriaknya lantang,
“jika kau berani memanggil sekali lagi, jangan salahkan kalau aku pun akan memanggil
kau sebagai setan tua ular busuk. Hey setan tua ular busuk, kenapa
kau menculik aku?”
Raja hewan tidak menyangka kalau monyet kecil yang masih bau susu ibu
berani bersikap kurangajar kepadanya, ia mendengus dingin.
“Kalau lohu lagi suka begitu, mau apa kamu?” Cau-ji tak mau kalah, dia balas
mendengus. “Siauya tidak suka hati!”
“Ooh, sangat menarik, sangat menarik, monyet kecil, lohu dari marga Oh
bernama It-siau, orang memanggilku raja hewan. Siapa namamu?”
“Raja hewan? Hehehe … kau memang mirip hewan,” Cau-ji balas mengejek,
“berarti kau memang mirip harimau, si raja hutan. Jangan kau kira lantaran
bermarga Oh lantas mengaku sebagai raja hewan”
Dalam hati kecilnya raja hewan merasa amat mendongkol, tapi dia coba
menahan diri, kembali ujarnya sambil tertawa: “Monyet kecil, kau memang
punya mata tak berbiji, kalau aku bukan raja dari segala hewan, masa Cing-ji si
ular sanca itu bisa menurut perintahku?”
“Itu mah gampang sekali, asal kau sering memberi makan ke binatang itu,
otomatis dia akan menuruti perintahmu.”
“Kurangajar, kalau aku tak hebat, memangnya kau bisa paksa burung aneh
yang kemarin itu membawamu terbang ke angkasa?”
“Hmmm, lebih baik jangan mengibul, bukankah teorinya juga sama?”
“Hmm, kau memang menjengkelkan sekali, ayo jalan, lohu akan buktikan
kepadamu.”
Seraya berkata ia comot tangan Cau-ji dan menyeretnya keluar.
Sementara itu, Cau-ji berani bicara dengan nada mengejek karena sejak awal
dia sudah membuat persiapan, maka begitu tangannya dicomot, ia segera
menjejakkan badannya mengegos ke samping sambil melayangkan sebuah
tendangan kilat ke tubuh lawan.
Raja hewan mendengus, menyambut datangnya tendangan itu, otomatis dia
ayunkan tangannya melepaskan sebuah bacokan.
Cau-jl sama sekali tak gentar, dia ayunkan sepasang tangannya menyongsong
datangnya serangan itu.
Setelah melepaskan pukulan tadi, sesungguhnya si raja hewan sudah merasa
amat menyesal, ia semakin terkejut melihat bocah itu berani menyambut
kedatangan serangannya, buru-buru teriaknya: “Cepat mundurl”
“Blaaamm!” benturan nyaring bergema di udara, Cau-ji mendengus tertahan,
badannya langsung terlontar keluar dari dalam gua.
Si raja hewan terkesiap, sambil berpekik nyaring buru-buru dia melesat keluar
dari gua.
Dalam pada itu Cau-ji merasakan sepasang tangannya seperti mau patah,
disusul kemudian dadanya sakit sekali, tak kuasa dia muntah darah segar.
Pada mulanya dia mengira tempat di luar gua adalah tanah datar, jika
badannya sampai terpental maka dia akan gunakan kesempatan itu untuk
melarikan diri.

Siapa tahu begitu buka mata, ia segera menjerit kaget, nyaris bocah itu jatuh
semaput saking terkejutnya, ternyata di luar gua adalah sebuah jurang yang
dalamnya puluhan kaki.
la merasa badannya meluncur ke bawah dengan kecepatan luar biasa, bila
terbentur permukaan tanah, niscaya badannya bakal hancur berantakan.
Di saat yang kritis itulah tiba-tiba ia merasa bajunya mengencang, tahu-tahu
burung aneh itu dengan menggunakan paruhnya telah menggigit ujung bajunya
kuat-kuat ….
“Turun!” hardik si raja hewan. Burung aneh itu sangat menurut, tak berapa
saat kemudian ia sudah letakkan tubuh Cau-ji di atas tanah.
“Hei, monyet kecil, kau tidak apa-apa bukan?” tegur raja hewan dengan penuh
rasa kuatir.
“Setan tua ular busuk, kau tak usah berlagak sok perhatian,” umpat Cau-ji
muak, selesai berkata kembali dia berusaha minggat dari situ.
Melihat bocah itu menuju ke arah telaga yang dalam, dengan penuh rasa
kuatir raja hewan berteriak: “Hei monyet kecil, jangan ke situ!”
Bukannya berhenti, Cau-ji malah mempercepat larinya.
“Berhenti!” kembali si raja hewan menghardik seraya menerkam ke depan.
Merasa datangnya terkaman itu, buru-buru Cau-ji menggunakan jurus Toubo-
siang-wi” (lepas jubah menyingkir ke samping) dia menggelinding ke muka
dan berhasil lolos dari cengkeraman lawan.
Sayang ia tak sadar, begitu ia menggelinding, tubuhnya langsung
menggelinding ke arah tengah telaga.
“Monyet kecil, jangan ke situ!” kembali si raja hewan berteriak.
Cau-ji memang bocah bengal yang tak tahu diri, bukannya menurut, dia
malah menceburkan diri ke dalam telaga.
Tingkah laku yang dilakukan bocah itu membuat raja hewan mencak-mencak,
bukan gusar sebaliknya justru panik dan ketakutan.
Sesaat kemudian, ketika melihat bocah itu sudah munculkan diri dari
permukaan telaga, kembali teriaknya lantang: “Hei monyet kecil, dalam telaga itu
ada naga raksasa, cepat naik ke daratan!”
“Setan tua, kau tak usah berbohong, naga itu binatang langka yang sudah
lama punah, kau kira aku masih kecil lantas gampang dibohongi?”
Seraya berkata kembali ia berenang di atas permukaan telaga dengan gaya
yang lincah.
Melihat kemampuan berenang yang begitu hebat dari si bocah, si raja hewan
merasa semakin sayang, kembali teriaknya: “Monyet kecil, apa yang mesti lohu
lakukan hingga kau mau percaya?”
“Hahaha … itu mah urusanmu, tak ada sangkut pautnya dengan aku!”
Melihat bocah itu keras kepala dan tak menurut, lama kelamaan si raja hewan
jadi jengkel sendiri, tiba-tiba ia berpekik nyaring.
Burung elang aneh itu segera pentang sayapnya terbang ke udara kemudian
langsung menerkam ke tubuh Cau-ji yang berada di permukaan telaga.
Begitu mendengar raja hewan berpekik nyaring,
Cau-ji sudah membuat persiapan yang matang, maka sewaktu burung elang
itu menukik ke arahnya, buru-buru dia menyelam ke dalam telaga.
Selang beberapa saat kemudian, ia sudah muncul kembali di permukaan
telaga tapi sudah sepuluh kaki jauhnya dari posisi semula.
Burung elang itu kembali berpekik sambil menyambar ke arahnya.
Begitulah, terjadi kejar mengejar antara bocah itu dengan burung elang di
seputar telaga.

“Monyet kecil?” teriak si Raja hewan kemudian, “kalau tidak menyerah, akan
kubuat kau mati kelelahan!”
Setelah terhajar oleh pukulan kakek itu, sesungguhnya Cau-ji sudah
menderita luka dalam, apalagi sekarang dia mesti berenang berulang kali,
dadanya kontan terasa sakit sekali, hal ini membuat hatinya sangat terkejut
“Jangan mimpi setan tua…” jeritnya kemudian.
Mendengar umpatan tersebut, si raja hewan semakin gusar, dia melompat
bangun lalu berpekik beberapa kali dengan suara yang aneh.
Tak selang berapa saat kemudian, terasa bumi bergoncang bagai dilanda
gempa dahsyat, dari balik hutan bermunculan aneka ragam binatang buas, ada
singa, harimau, monyet, gajah, beruang, macan tutul dan lain lainnya.
Sementara di tengah udara kembali muncul empat ekor burung elang raksasa.
Biarpun bentuk keempat ekor burung elang ini tidak sebesar dan seganas
burung aneh tadi, namun tampilannya cukup menggetarkan sukma.
Di bawah perintah si raja hewan, ratusan ekor binatang buas itu mulai
mengepung sekeliling telaga, bahkan mulai mengeluarkan suara pekikan yang
menyeramkan ke arah Cau-ji yang berada di tengah telaga.
Keempat ekor burung elang pun menyebar ke empat penjuru dan menyerang
dari tengah udara.
Betapapun besarnya nyali Cau-ji, mengkerut juga nyalinya sesudah
menyaksikan situasi semacam ini, dalam ngeri bercampur takutnya, terpaksa ia
berenang kembali ke tengah telaga.
Dia mencoba menyelam sejauh sepuluh kaki lebih, tiba-tiba terasa pusaran air
yang kuat muncul dari dasar telaga, dalam kagetnya tergopoh-gopoh dia muncul
kembali ke atas permukaan.
Golakan dan pusaran air dari dasar telaga makin lama semakin besar dan
dahsyat, bukan saja Cau-ji tak sanggup menerima tenaga tekanan yang begitu
dahsyat, bahkan kecepatan berenangnya pun makin lama semakin melambat
Sambil menggertak gigi sekuat tenaga dia berenang terus ke atas permukaan
telaga.
Begitu melihat timbulnya pusaran air yang besar dan kuat di tengah telaga, si
raja hewan segera tahu kalau ular raksasa penghuni telaga telah muncul, buruburu
dia berpekik nyaring lagi, burung aneh beserta ke empat ekor elang raksasa
itu serentak terbang balik ke tengah telaga.
Baru saja Cau-ji muncul di atas permukaan, seekor burung elang raksasa
segera menyambar bajunya dan membawanya terbang ke udara.
Raja hewan berpekik sekali lagi, burung aneh itu berputar balik menyambar
tubuh Cau-ji dan membawanya terbang ke tengah angkasa.
Pada saat itulah dari dasar telaga memancar keluar segulung panah air yang
luar biasa dahsyatnya, semburan itu mencapai ketinggian belasan kaki, disusul
kemudian munculnya kepala seekor makhluk aneh seperti naga yang amat
menyeramkan.
Tampak naga raksasa itu pentangkan cakar tajamnya ke arah kawanan
binatang buas yang sedang melarikan diri ke empat penjuru, seketika belasan
ekor binatang buas itu terhisap masuk ke dalam mulut makhluk aneh itu dan
lenyap tak berbekas.
Dalam pada itu Cau-ji sudah balik kembali ke gua tempat kediaman si raja
hewan, dengan perasaan ingin tahu ia mengintip semua adegan menyeramkan
itu, ia saksikan makhluk aneh itu sehabis menghisap kawanan binatang buas,
segera membuat satu pusaran air yang dahsyat lagi di tengah telaga, kemudian
baru menyelam kembali ke dasar.

Akhirnya suasana di permukaan telaga menjadi hening kembali.
Cau-ji menghembuskan napas lega, baru saja dia hendak merangkak bangun,
tiba-tiba ia mendengus tertahan dan roboh kembali.
Rupanya rasa tegang sewaktu menyaksikan betapa garangnya naga sakti itu
menelan kawanan binatang buas membuat Cau-ji lupa akan kondisi badan
sendiri, tapi begitu semuanya telah usai dan semangatnya mengendor kembali,
ia mulai merasakan sekujur badannya jadi linu sekali.
Melihat itu sambil tertawa tergelak si raja hewan berseru: “Hei monyet
tidurlah!”
Sambil berkata, ia totok jalan darah hek-tiam-hiat nya.
Si raja hewan membaringkan tubuh Cau-ji di atas ranjang batu, setelah
meraba sekujur badannya sambil periksa bentuk tulangnya, ia tertawa tergelak
seraya berseru. “Bakat alam, benar-benar bakat alam!”
la berjalan keluar dari gua, belum lagi kakinya menempel tanah, kembali
pekikan panjang bergema memecahkan keheningan.
Tak lama kemudian dari tebing karang sebelah kanan gua muncul seekor ular
sanca yang amat besar.
Dengan wajah serius Raja hewan berkata: “Cing-ji, demi tujuan kita
melenyapkan Su Kiau-kiau, terpaksa aku harus mengorbankan dirimu!”
Sambil berkata ia keluarkan sebutir mutiara kuning dari sakunya lalu
disambitkan ke atas kepala ular raksasa itu.
Begitu melihat mutiara kuning itu, si ular tampak ketakutan setengah mati,
belum sempat menghindar, mutiara itu sudah menghantam persis di kepalanya
membuat ular itu roboh tak berkutik.
Setelah mengejang keras beberapa saat, raja hewan menjejalkan mutiara
kuning itu ke dalam mulut sang ular, lalu dengan menggunakan sebilah pisau
belati dia belah perut ular dan mengeluarkan sebuah empedu sebesar kepalan
tangan.
Sekali lagi raja hewan berpekik nyaring, tiba-tiba burung aneh itu muncul dari
balik lembah dan menukik turun. Kembali si raja hewan berpekik beberapa kali,
sementara jari tangannya menuding ke arah ular sanca.
Dengan kukunya yang tajam, burung elang aneh itu mencengkeram tubuh
ular sebesar gentong air itu, lalu sambil pentang sayap terbang menuju ke
tengah telaga.
“Blaaamm …!” diiringi percikan air yang memancar keempat penjuru, burung
aneh itu membuang bangkai ular raksasa itu ke tengah telaga.
Sekali lagi si raja hewan berpekik nyaring, burung aneh itu segera terbang
kembali ke sisinya.
Raja hewan menarik napas panjang, ia melompat naik ke punggung burung
aneh itu dan memerintahkan sang burung untuk terbang masuk ke dalam gua.
Sewaktu tiba di sisi Cau-ji, ia bangunkan bocah itu, membuka mulutnya dan
pelan-pelan meloloh cairan empedu ular sanca raksasa itu ke dalam mulutnya.
Selesai meloloh cairan empedu, kembali raja hewan merogoh keluar sebutir pil
yang terbungkus dalam lilin sebesar buah pear, membuka kulit lilin dan
mengorek keluar sebutir pil yang menyiarkan bau harum semerbak.
“Bocah monyet,” gumam raja hewan, “besar benar rejekimu, pil sakti Tayhuan-
wan yang tinggal sisa sebutir akhirnya kau yang telan!”
Seraya berkata, ia jejalkan pil itu ke dalam mulutnya.
Dalam pada itu dari luar gua bergema suara gelegar yang sangat memekikkan
telinga, dia tahu naga sakti yang hidup di dasar telaga itu pasti sudah terpancing

oleh bau anyir darah dari bangkai ular raksasa sehingga melakukan gerakan
yang dahsyat.
Buru-buru dia membaringkan Cau-ji ke atas lantai, kemudian melompat ke
mulut gua dan menengok keluar.
Terlihat naga sakti itu sudah mulai melahap bangkai ular sanca sebesar
gentong air itu, wajahnya nampak menyeramkan sekali.
Melihat itu, pelan-pelan si raja hewan keluar dari gua dan menyelinap turun
ke bawah.
Waktu itu, seluruh perhatian naga sakti tersebut sedang tertuju untuk
menelan bangkai ular sanca, sehingga dia tak merasa kalau raja hewan telah
menyusup hingga tiba di tepi telaga.
Pelan-pelan raja hewan mencabut keluar pisau belatinya, kemudian
menunggu kesempatan untuk turun tangan.
Sembari membolak-balikkan badannya, naga sakti itu menelan bangkai ular
sanca itu pelan-pelan, tampaknya hewan itu gembira sekali, ketika sebagian
bangkai sudah masuk ke dalam perutnya, perut naga itu nampak
menggelembung besar sekali.
Tak selang berapa saat kemudian, seluruh tubuhnya sudah tampil di atas
permukaan telaga.
“Sungguh menyeramkan bentuknya,” pikir raja hewan dengan perasaan
terkejut, “kalau hewan ini dibiarkan hidup terus, berapa tahun lagi tubuhnya
pasti akan berkembang tambah besar, entah berapa banyak orang yang akan
jadi korbannya, ehmm, hari ini aku harus membasminya!”
Sejak dua belas tahun berselang, raja hewan sudah senang sekali menjelajah
daerah yang masih perawan, sejak menemukan lembah ini, secara tak sengaja ia
menemukan sebuah gejala yang sangat mengerikan.
Setiap tengah malam tiba, dari dasar telaga selalu muncul pusaran arus yang
besar dan kuat, disusul kemudian munculnya seekor naga yang berwajah
mengerikan.
Tiap kali naga seram itu membuka mulutnya, sebuah bola api yang
memancarkan cahaya api selalu muncul dan mengembang di tengah udara,
seakan-akan sedang menghisap inti rembulan.
Keadaan seperti ini biasanya akan berlangsung selama satu dua jam, sebelum
akhirnya bola api itu ditelan kembali dan sang naga menyelam ke dasar telaga.
Dalam terkejut bercampur ngeri, raja hewan bersumpah akan membasmi
makhluk itu agar tidak sampai mencelakai banyak orang.
Sayang dia hanya seorang diri, kemampuannya sangat terbatas, ditambah lagi
dia tak pandai ilmu berenang, dalam keadaan begini terpaksa ia balik kembali ke
dunia persilatan, ia punya rencana akan mencari seorang pemuda yang berbakat
agar bisa dididik untuk menjadi pembantunya.
Ketika akhirnya ia menemukan Cau-ji dan melihat bocah itu memiliki bakat
alam, tanpa ragu lagi dia culik bocah itu dan dibawa pulang.
Mula-mula raja hewan bermaksud melatih Cau-ji dengan ilmu berenang, agar
di kemudian hari ia punya kemampuan untuk bertarung di dalam air, siapa
sangka ternyata Cau-ji sangat mahir dalam ilmu berenang.
Maka dia pun putuskan untuk menggunakan empedu ular sanca ditambah
khasiat pil Tay-huan-wan untuk memupuk dahulu dasar kekuatan tubuh si
bocah, agar di kemudian hari bocah itu memiliki kekuatan yang dahsyat untuk
membunuh naga sakti itu.
Waktu itu matahari senja telah bersembunyi di balik bukit, suasana di dalam
lembah diliputi kegelapan yang luar biasa.

Tanpa berkedip raja hewan mengawasi terus gerak gerik naga tersebut, tibatiba
ia saksikan tubuh sang naga yang berwarna hijau tua dengan lingkaran
cahaya putih di sekelilingnya mulai muncul dari permukaan air, diam-diam ia
merasa sangat kegirangan.
Rupanya tubuh bagian itulah merupakan titik kelemahan dari naga sakti
tersebut, justru karena selama ini sangat sulit untuk memancing si naga agar
memperlihatkan bagian tubuhnya yang paling lemah, maka selama ini sama
sekali tak ada kesempatan untuk membasminya.
Sambil menahan rasa girang yang luar biasa, si raja hewan mengawasi terus
lingkaran putih di tubuh naga yang makin lama membengkak semakin besar
lantaran melalap bangkai ular sanca, pisau belatinya segera digenggam semakin
kencang.
Mendadak ia membentak keras, pergelangan tangan kanannya segera
diayunkan ke muka … “Sreeet!” diiringi kilatan cahaya tajam yang menyilaukan
mata, pisau belati itu langsung menghajar tepat di sasaran.
Terluka oleh serangan maut itu, rupanya si naga sakti kesakitan setengah
mati, tubuhnya bergulingan di atas permukaan hingga menimbulkan gelombang
arus yang luar biasa kerasnya, sementara bangkai ular sanca masih ada lima
enam kaki panjangnya yang belum sempat tertelan segera diobat-abitkan
keempat penjuru.
Secara beruntun raja hewan melepaskan dua bilah pisau belati lagi, sayang
waktu itu si naga sudah menyelam kembali ke dasar telaga.
“Criiing, criiinggl* dua dentingan nyaring diiringi percikan bunga api menyebar
ke udara, kedua belah pisau belati itu menghajar telak di atas sisik tubuhnya
yang tebal dan mencelat ke arah lain.
Agaknya naga sakti itu sudah menemukan tempat persembunyian si raja
hewan, mendadak dia goyangkan kepalanya ke belakang, ekor bangkai ular
sanca yang belum tertelan itu secepat petir langsung menyambar tiba.
Dalam waktu singkat raja hewan merasa datangnya tenaga himpitan sebesar
tindihan gunung Thay-san yang menghantam tiba, terkejut bercampur seram
buru-buru kakek itu melompat ke belakang untuk meloloskan diri.
Walaupun ia berhasil menghindari sapuan maut itu, tak urung tubuhnya
mundur juga beberapa langkah dengan sempoyongan karena terhajar sisa
tenaga sapuan binatang itu.
Gagal dengan serangannya yang pertama, naga sakti itu tampak tidak puas,
lagi-lagi dia goyangkan kepalanya melakukan sebuah sapuan lagi.
Mimpi pun si raja hewan tidak menyangka kalau binatang tersebut masih
memiliki tenaga serangan yang begitu dahsyat kendati tubuhnya sudah terluka
parah, buru-buru dia berkelit lagi ke belakang.
Naga sakti yang sudah bangkit amarahnya menyerang semakin membabi
buta, tanpa perdulikan luka parah yang diderita serta ganjalan bangkai ular
yang masih belum sempat tertelan semua, dia melancarkan sapuan maut
berulang kali.
Gelombang arus yang maha dahsyat segera menggelora di permukaan telaga,
keadaannya mengerikan sekali.
Si raja hewan segera menjumpai permukaan tanah yang semula kering, saat
ini sudah tiga puluh persen terendam air, keadaan tersebut bukan saja
menambah dahsyatnya kekuatan daya serangan dari si naga, bahkan membuat
gerak gerik sendiri semakin tak leluasa
Setengah jam kemudian, permukaan air sudah naik setinggi lutut, si raja
hewan yang tak pandai ilmu berenang mulai panik dan ketakutan.

Sekalipun sapuan maut yang dilancarkan naga sakti itu berhasil dihindari
semua, tapi pukulan gelombang air yang menghajar tubuhnya membuat sekujur
badannya kesakitan, gerak geriknya semakin lamban, terhambat dan tidak
leluasa.
Sementara situasi bertambah kritis, mendadak terdengar suara pekikan aneh
berkumandang dari balik lembah.
Raja hewan kegirangan, buru-buru dia bersiul mengeluarkan suara pekikan
yang nyaring.
Tiba-tiba burung aneh raksasa itu muncul dari balik lembah, kemudian
sambil berpekik keras, ia menukik ke bawah dan menyambar kepala naga sakti
itu.
Si naga segera mengegos ke samping, bukan saja lolos dari gigitan si burung,
malahan dengan menggunakan ekor bangkai ular sanca, ia balas melancarkan
serangan.
Pertempuran sengit antara burung elang raksasa melawan naga sakti pun
segera berlangsung dengan hebatnya.
Waktu itu kondisi badan si raja hewan sudah kelelahan, bukan saja rasa
kaget dan ngerinya belum hilang, hawa murninya juga terkuras banyak, buruburu
dia menelusuri dinding tebing dan kabur masuk ke dalam gua.
Lebih kurang setengah jam kemudian, dengan susah payah akhirnya dia
berhasil merangkak balik ke dalam gua, sambil menghembus napas panjang, ia
segera merebahkan diri ke lantai.
Tiba-tiba terdengar pekikan aneh bergema lagi dari arena pertarungan.
“Aduh celaka!” pekik si raja hewan, tergesa-gesa dia merangkak keluar dari
gua untuk memeriksa keadaan, tampak sayap kanan burung elang raksasanya
telah patah, saat itu burung itu sedang terhempas ke sisi dinding tebing.
Melihat musuhnya terluka, naga sakti itu segera menyusul tiba, kembali dia
menyerang dengan menggunakan bangkai ular sanca.
Burung elang raksasa itu nyata memang burung sakti, tiba-tiba ia kebaskan
sayap kirinya sementara kakinya menjejak di atas permukaan air.
Begitu tiba di samping kepala naga itu, tiba-tiba ia mematuk mata kiri
musuhnya.
Pekikan keras kembali bergema di udara, mata kiri naga sakti itu terpatok
telak, dalam sakitnya naga itu menggelengkan kepalanya menyambar ke tubuh
lawan, burung raksasa itu segera terhajar telak.
“Byuuurrr…!” tak ampun burung raksasa itu tenggelam ke dalam telaga,
setelah meronta beberapa kali akhirnya tubuhnya berdiam kaku.
“Hui-ji!” pekik raja hewan amat sedih, tubuhnya gemetar keras saking
tergoncangnya perasaan hatinya.
Burung raksasa itu berhasil ia jinakkan pada dua puluh tahun berselang di
tengah gurun pasir, selama ini binatang itu selalu menyertainya berkelana dan
mengembara ke seluruh penjuru dunia, hubungan batin antara mereka berdua
boleh dibilang sangat mendalam.
Sungguh tak nyana gara-gara ingin menyelamatkan jiwanya, burung tersebut
harus mengorbankan jiwanya.
Dalam pada itu si naga sakti itu sudah menyelam balik ke dasar telaga dengan
kecepatan luar biasa, rupanya ia kuatir akan bertemu lagi dengan musuh
tangguh, suasana di telaga itupun pelan-pelan pulih kembali dalam keheningan.
Dengan perasaan berat sekali lagi si raja hewan mengamati bangkai burung
raksasa itu, kemudian dengan sempoyongan ia balik ke dalam ruangan, selesai
minum obat, dia pun mulai bersemedi mengatur pemapasan.

Lebih kurang dua jam kemudian, ketika ia membuka matanya kembali,
tampak Cau-ji entah sejak kapan sudah mendusin, saat itu sedang mengawasi
ke arahnya dengan pandangan keheranan. Tak tahan ia segera tersenyum. Cauji
balas senyuman itu dengan senyuman penuh persahabatan, kemudian
tegurnya. “Hei setan ular tua, kenapa keadaanmu begitu mengenaskan? Kenapa
burung aneh itu bisa mati?”
Raja hewan tidak mengira kalau cairan empedu ular sanca ditambah pil Tayhuan-
wan yang dicekokkan ke tubuh Cau-ji bisa mendatangkan reaksi begitu
luar biasa, sehingga totokan jalan darah pada hek-tiam-hiatnya bisa dibebaskan
sendiri, tak tahan ia tertawa tergelak.
“Aneh benar orang ini,” pikir Cau-ji di dalam hati, “lagi sedih kok malahan
tertawa, jangan-jangan dia sudah gila lantaran kelewat sedih?”
Belum habis ingatan itu melintas lewat, terdengar si raja hewan kembali
sudah menegur: “Hey monyet, sekarang sudah jam berapa?”
“Kalau dilihat keadaan langit, semestinya menjelang fajar, mungkin sekarang
sudah jam 4 pagi!”
“Hahaha … cepat amat waktu berlalu, padahal ketika bertarung melawan naga
tadi waktu masih tengah malam….”
“Apa? Kau berani berkelahi dengan makhluk ganas itu?”
“Hahaha … apanya yang menakutkan? Hanya mengandalkan sebilah pisau
belati, lohu telah bertarung habis-habisan melawan binatang itu, coba aku bisa
berenang, sudah sedari tadi aku habisi nyawanya!”
“Tapi makhluk itu kan berdiam diri di dasar telaga, kenapa kau pingin
membunuhnya?”
“Monyet cilik, hingga kini si naga sakti itu belum mencapai puncak
kedewasaan, kalau dibiarkan hidup berapa tahun lagi, dia pasti akan
mendatangkan banyak kerugian bagi umat manusia, paling tidak bisa
menimbulkan banjir bandang!”
“Betul juga ucapanmu setan ular tua, kemarin aku sempat melihat betapa
dahsyatnya gelombang air yang ditimbulkan sewaktu binatang itu muncul. O ya
… apa yang terjadi dengan burung raksasamu? Kenapa bisa mati?”
“Burung itu mati gara-gara menolongku sewaktu nyawaku terancam, setelah
bertempur satu jam lebih, walaupun Hui-ji berhasil mematuk mata lawannya
sampai buta, sayang dia sendiripun tewasl”
Bergolak darah panas dalam tubuh Cau-ji. sambil menggertak gigi serunya:
“Makhluk itu benar-benar bedebah, kalau ada kesempatan, aku bersumpah
akan membasminya.”
Diam-diam raja Hewan merasa kagum sekali dengan semangat jantan bocah
itu, katanya sambil tertawa: “Hey monyet cilik, lambung makhluk aneh itu sudah
termakan sebuah tusukanku, sampai waktunya, asal kau cabut keluar pisau
belati itu maka dia pasti akan segera mampus!”
Mendengar ucapan tersebut Cau-ji kegirangan, ia segera melompat bangun
dan siap keluar dari dalam gua.
“Hey, mau apa kamu?” si raja hewan segera menegur.
“Terjun ke telaga dan membunuh makhluk aneh itul”
“Tidak bocah, sekarang arus bawah telaga sangat deras dan kacau,.
Sementara kekuatanmu belum mencapai pada puncaknya, kepergianmu bisa
mendatangkan celaka buat diri sendiri.”
“Tapi… jika makhluk itu sanggup menghilangkan pisau belati yang menancap
di lambungnya, bukankah keenakan baginya?”

“Hahaha … belati itu menghujam tepat di titik kelemahannya, lohu jamin
mulai sekarang dia tak berani sembarangan bergerak lagi, hanya saja, bila belati
itu mulai berkarat dan akhirnya patah, maka saat itulah dia bakal munculkan
diri kembali.”
“Butuh waktu berapa lama pisau belati itu menjadi berkarat dan akhirnya
patah?”
“Hahaha … tak usah panik, paling tidak butuh waktu selama sepuluh
tahunan!”
“Hmm, sekarang aku baru berusia sebelas tahun, sepuluh tahun kemudian
aku pasti telah berhasil memiliki kungfu yang hebat, sampai waktunya aku pasti
akan membasmi makhluk itu dari muka bumi.”
“Punya semangat!” puji si raja hewan nyaring, “hahaha … jangan kuatir, lohu
jamin dalam lima tahun mendatang kau pasti sudah mampu terjun ke dalam
telaga dan membantai binatang itu”
“Sungguh?”
“Hahaha … lohu tak pernah bohong, ayo kita turun dan mengubur bangkai
Hui-ji!”
Cau-ji ikut berjalan keluar gua, tapi ketika melihat selisih jarak antara
permukaan telaga dan permukaan gua mencapai puluhan kaki tingginya, dia
jadi sangsi.
“Hey monyet, kenapa berhenti?” raja hewan segera menegur.
“Aku … jaraknya begitu tinggi, jika melompat turun, bukankah badanku bakal
hancur berkeping?”
“Hahaha … monyet cilik, coba periksa sekarang sudah jam berapa?”
Cau-ji mendongakkan kepalanya memeriksa letak bintang di langit, kemudian
sahutnya: “Sekitar jam empat pagi.”
“Hahaha … jam empat pagi mestinya merupakan saat yang paling gelap,
kenapa kau bisa melihat bangkai Hui-ji dengan sangat jelas?”
“Aaah benar, kenapa aku tidak perhatikan hal ini? Tapi… sebenarnya apa
yang telah terjadi?”
“Hahaha … kau masih ingat dengan ranjang batu yang kau gunakan untuk
tidur? Sebetulnya ranjang itu merupakan sebuah benda mestika dari dunia
persilatan, bukan saja dapat menyembuhkan pelbagai luka, juga bisa menambah
tenaga dalam seseorang.”
“Oooh, rupanya ranjang itu barang mestika, aku masih mengira ibu
membohongi aku.”
Raja hewan tahu kalau bocah ini rasa ingin tahunya sangat besar, maka dia
sengaja mengarang sebuah cerita tentang ranjang batu untuk membohonginya,
tentu saja dia tak tahu kalau dalam kenyataannya, bocah itu memang benarbenar
memiliki sebuah ranjang batu di rumahnya.
Maka sambil tertawa kembali ujarnya: “Hey monyet cilik, sudah melihat
dengan jelas?”
Sambil berkata ia segera melompat turun ke bawah tebing.
Cau-ji tidak menyangka orang itu langsung berangkat begitu selesai bicara,
buru-buru dia melongok ke bawah.
Tampak tubuh si raja hewan meluncur turun dengan cepatnya, tapi setiap
berapa kaki dia selalu melepaskan sebuah pukulan ke dinding untuk
menghambat gerak laju tubuhnya yang meluncur, setelah melepaskan pukulan
yang kesekian kalinya, kekuatan tubuhnya yang meluncur ke bawah semakin
perlahan dan lambat.

Menjelang tiba di permukaan tanah, sekali lagi dia lepaskan sebuah pukulan
ke atas tanah, begitu serangan dilepas, tubuhnya melayang turun semakin
lambat sehingga dia bisa hinggap di bawah dengan santainya.
Cau-ji merasa sangat kagum dengan kemampuan kakek itu, sementara dia
masih melamun, tiba-tiba terdengar si raja hewan membentak nyaring: “Hey
monyet cilik, ayo cepat turun!”
Memandang bayangan tubuhnya yang kelihatan kecil di dasar tebing itu, tibatiba
Cau-ji merasa hawa dingin merasuk ke dalam tubuhnya, tanpa sadar ia
tarik mundur badannya.
“Kenapa monyet? Kau ketakutan?” ejek si raja hewan.
Dirangsang dengan ucapan yang bernada ejekan itu, Cau-ji merasa hawa
panas membara di rongga dadanya, sambil menggertak gigi ia segera melompat
ke bawah.
Terdengar desiran angin tajam menderu di sisi telinganya, begitu tajam
suaranya membuat ia merasa kendang telinganya amat sakit
“Hey monyet, cepat lancarkan pukulan ke dinding tebing!” kembali si raja
hewan berteriak.
“Aaah, betul” batin Cau-ji, “bagaimana sih aku ini? Kenapa lupa memukul ke
dinding?”
Dalam gugupnya buru-buru dia hajar tebing karang itu kuat-kuat
“Blaaammm!” diiringi suara benturan dahsyat, tebing karang yang kuat lagi
keras itu segera terhajar hingga muncul sebuah liang yang amat dalam, percikan
batu dan pasir memancar hingga kejauhan berapa kaki.
Cau-ji sama sekali tidak menyangka kalau dia memiliki kemampuan
sedahsyat itu, untuk berapa saat bocah itu jadi tertegun.
Selama ini dia hanya tahu kalau kekuatan tenaga pukulannya hanya mampu
menghancurkan sebutir batu kecil, tapi mengapa secara tiba-tiba kekuatan
badannya bisa bertambah beratus kali lipat lebih dahsyat.
Sementara dia masih termenung, tubuhnya telah meluncur ke bawah dengan
kecepatan tinggi.
“Hey monyet, kau bosan hidup? Cepat lancarkan pukulan lagi!”
Dalam kagetnya sekali lagi Cau-ji melepaskan pukulan, tapi ia segera
menjumpai badannya berada di sebuah tebing sempit yang dijepit dua tebing
tinggi, untuk sesaat ia jadi bingung harus melepaskan pukulan ke arah tebing
yang mana.
“Hey monyet, cepat lompat ke air!”
Ketika menengok ke bawah, Cau-ji menjumpai tubuhnya sedang meluncur ke
atas permukaan telaga, dalam kagetnya ia berjumpalitan beberapa kali di udara
kemudian mendayung ke samping dan melontarkan badannya ke arah
permukaan air.
“Bruuurr …!” diiringi percikan air, Cau-ji tercebur ke dalam telaga, buru-buru
dia berenang naik ke atas permukaan.
Menanti hingga bocah itu sudah menongolkan kepalanya dari permukaan air,
raja hewan baru bisa menghembuskan napas lega sambil tertawa terbahakbahak.
Menggunakan kesempatan itu Cau-ji berenang menuju ke sisi bangkai burung
elang raksasa, kemudian sambil memegangi bangkai tersebut, ia berenang balik
ke tepi telaga.
Raja hewan segera membuat sebuah liang besar untuk mengubur bangkai
burung kesayangannya, ketika semuanya telah selesai, ia baru berkata: “Hey

monyet, kau membuat aku jantungan, untung tidak mampus gara-gara
menguatirkan keselamatanmu.”
“Aku sendin juga kurang tahu kalau kekuatanku mendadak bisa bertambah
hebat….” sahut Cau-ji dengan wajah bersemu merah.
“Hahaha … bukankah lohu sudah bilang, kesemuanya ini berkat jasa dari
ranjang batu?”
“Tapi … kenapa kau sendiri tidak bisa memukul tebing karang itu hingga
hancur seperti pukulanku?”
“Tentu saja berbeda, aku memukul dinding batu karang hanya bertujuan
menghambat laju kecepatan daya luncur tubuhku, seperti orang lagi makan
bubur, tenaganya pasti berbeda ketika makan nasi, dan lagi aku toh tak pandai
berenang, coba kalau aku yang tercebur … mungkin sudah mati tenggelam
sedari tadi….”
Merah padam selembar wajah Cau-ji, dia melengak dan untuk sesaat tak tahu
bagaimana harus menjawab.
“Hahaha … padahal kau tak bisa disalahkan,” kembali raja hewan berkata,
“bagaimanapun juga kau tak lebih hanya seorang bocah berusia sepuluh tahun.
Makanya lain kali kau mesti belajar bagaimana mengendalikan tenaga pukulan,
mengerti?”
“Mengerti, akan kuingat terus!”
“Hey monyet,” tiba-tiba si raja hewan berkata lagi sambil tertawa, “coba lihat,
bukankah naga sakti itu tak berani keluar lagi?”
“Ya, benar, tampaknya binatang itu terluka parah. Ah betul, bukankah kau
akan mengajari aku bagaimana cara menuruni dasar telaga dengan arus yang
deras itu untuk membunuh naga tersebut?”
“Tidak usah terburu napsu, ayo duduk, kita bicara dulu.”
“Baik, aku akan bicara duluan, tapi nanti kau mesti cerita juga siapa dirimu
yang sebenarnya.”
“Hahaha … bukankah lohu sudah memperkenalkan diri?”
Tidak bisa, kau hanya menyebut nama serta julukanmu, paling tidak kau
mesti jelaskan kenapa menangkap aku dan membawanya kemari, kau harus
jelaskan alasannya agar aku tak jadi orang yang kebingungan.”
“Baik, baik, sekarang kau bicara dulu.”
Maka secara ringkas Cau-ji menceritakan asal-usulnya serta bagaimana dia
mengikuti bibinya Go Hoa-ti berkelana dalam dunia persilatan untuk mencari
pengalaman.
Dia memberi penjelasan secara terperinci, tanpa terasa ketika selesai bicara,
fajar telah menyingsing.
“Oooh … rupanya kau adalah keturunan dari Ong Kim-seng, Ong-locianpwe,”
gumam si raja hewan kemudian.
Begitu tahu kalau kakek tersebut kenal dengan kakeknya, Cau-ji jadi
kegirangan setengah mati, serunya tak tahan: “Silu … ooh, locianpwe, ternyata
kau kenal dengan Ong-yayaku?”
“Hahahaha … Ong-locianpwe sangat termashur dalam dunia persilatan, baik
ilmu silatnya maupun watak dan sepak terjangnya, mana berani lohu
melupakan kebaikan budinya? Aah benar, tadi kau menyinggung soal bibimu Go
Hoa-ti, apakah dia memiliki julukan sebagai Kim-leng kim-hiap, Pendekar emas
dari kota Kim-leng?”
“Soal ini… Cau-ji kurang jelas.”

“Aaah masa iya? Bukankah bibimu sengaja mengajakmu berkelana untuk
mencari pengalaman, masa … Aduh, jangan-jangan dia adalah perempuan yang
kutotok jalan darahnya kemarin?”
“Benar Mungkin tidak dia ditangkap orang jahat?”
“Soal ini… aaah, semuanya kesalahan lohu kenapa kelewat berangasan dan
gegabah.”
“Locianpwe, bagaimana kalau kita pergi mencarinya sekarang?”
“Cau-ji, kau anggap tempat ini berada di luar kota Chi-lam? Terus terang, kita
berada di gunung Wu-san, gunung Wu-san itu terletak di selat Sam-shia di
sungai Tiangkang, paling tidak selirih jarak ribuan li dari kota Chi-lam.”
“Aaah, mana mungkin? Masa dalam semalaman kita bisa berada di tempat
yang begitu jauh?”
“Hahaha … Hui-ji adalah seekor burung sakti, apa anehnya dalam semalaman
terbang sejauh ribuan li?”
“Waah, sekarang Hui-ji sudah mati, berarti kita tak mungkin bisa balik ke
sana secepatnya?”
“Yaa, kita hanya bisa berharap dia tidak menjumpai peristiwa yang jelek.”
“Locianpwe,” tiba-tiba Cau-ji berseru sambil melotot, “sekali lagi ingin
kukatakan, bila bibiku sampai terkena musibah, maka kau harus bertanggung
jawab.”
“Baik, aku akan bertanggung jawab,” sahut raja hewan cepat
Kemudian setelah berhenti sejenak, lanjutnya: “Cau-ji, lohu akan mengajak
kau menuju ke sebuah tempat berlatih silat sementara kau berlatih untuk
menguasai ilmu yang tinggi, lohu akan berkunjung ke rumahmu.”
“Bagus sekali, tolong sampaikan kepada orang rumah, katakan jika aku
berhasil membunuh binatang tersebut, aku pasti akan pulang ke rumah.”
“Hahahaha … pasti akan kusampaikan, ayo kita segera berangkat!”
Selesai bicara, dia segera bergerak menuju ke arah hutan.
Melihat itu buru-buru Cau-ji mempercepat langkahnya mengintil di belakang
kakek itu.
Siapa tahu begitu dia kerahkan tenaganya, gerakan tubuhnya jadi cepat
sekali, malahan berhasil melampaui si raja hewan yang telah berangkat duluan,
sekali lagi dia tertegun dibuatnya.
“Jangan kaget berkat ranjang batu!” bisik raja hewan sambil tertawa.
Cau-ji manggut-manggut, dia mengira keberhasilannya benar-benar berkat
khasiat ranjang batu, maka dia pun mengatur napas dan berusaha mengintil di
belakang raja hewan dengan satu jarak tertentu.
Sesudah melewati sebuah celah bukit yang sangat landai, lambat laun
permukaan tanah makin tinggi dan semakin curam.
Sesaat kemudian tibalah mereka di depan sebuah tebing bukit yang sangat
tinggi.
Tebing itu dipenuhi pohon siong serta beberapa air terjun yang sangat tinggi,
selain indah pemandangan alamnya, udara pun terasa amat segar.
Raja hewan berhenti di tepi kolam, diteguknya air jernih itu satu tegukan, lalu
ujarnya sambil tertawa: “Cau-ji, minumlah satu tegukan, airnya segar dan manis”
Setelah melalui perjalanan sekian waktu, sebenarnya Cau-ji mulai merasa
kehausan, maka tanpa banyak buang waktu dia segera meneguk air itu berapa
tegukan, benar juga, air itu terasa segar dan manis.
Dalam pada itu si raja hewan sedang mengamati air terjun di hadapannya
dengan termangu.

Melihat keadaan kakek itu, dengan keheranan Cau-ji segera menegur
“Locianpwe, apa yang sedang kau pikirkan?”
Seperti baru sadar akan sikapnya, buru-buru si raja hewan berkata sambil
tertawa: “Cau-ji, di belakang air terjun itu terdapat sebuah gua, gua itulah
tempat yang cocok bagimu untuk belajar ilmu, kau takut dingin tidak?”
“Takut? Sewaktu masih berada di pesanggrahan Hay-thian-it-si, biar di musim
dingin yang membeku pun saban hari Cau-ji tetap pergi berenang.”
“Bagus, jadi kau tidak takut menderita?”
“Cau-ji bertekad ingin belajar ilmu kungfu yang hebat biar mesti lebih
menderita pun aku tidak takut!”
“Bagus sekali, bawalah serta dua botol obat ini, bila kau merasa lapar atau
kedinginan, makanlah satu butir!”
Sambil berkata ia keluarkan dua buah botol obat dan diserahkan ke tangan
Cau-ji.
Cau-ji segera menerima botol obat itu dan dimasukkan ke dalam saku,
kemudian ujarnya: “Locianpwe, setelah berada dalam gua, apa yang mesti Cau-ji
latih? Apakah kau akan menyerahkan kitab pusaka ilmu silat kepadaku?”
“Hahaha … kau boleh berlatih apa saja yang ingin kau latih.”
“Aaah, mana ada cara berlatih ilmu silat macam begini?”
“Hahaha … sesudah berada dalam gua, kau akan tahu dengan sendirinya, jika
suatu ketika kau merasa sudah tak ada yang bisa dilatih, keluarlah dari gua
tersebut. Mengerti? Nah, sekarang bersiaplah untuk masuk ke dalam gua.”
“Locianpwe, jadi kau belum pernah masuk ke dalam gua itu?” tanya Cau-ji
keheranan.
“Belum pernah! Aku hanya pernah sampai di mulut gua, tapi begitu terkena
hembusan angin kuat serta aliran hawa dingin yang muncul dari balik gua, aku
segera lari ketakutan.”
“Kau … kau bukan lagi bergurau dengan Cau-ji bukan? Dengan ilmu silatmu
yang begitu hebatpun tak berani masuk, apalagi aku?”
“Hahaha … anak muda, tubuhmu ibarat segumpal api, sementara aku si tua
bangka ibarat api yang hampir padam, jangan kuatir, tak nanti lohu
mencelakaimu.”
“Locianpwe, biarpun kau belum pernah bercerita tentang dirimu, tapi Cau-ji
percaya kau bukan orang jahat, selamat tinggal!”
Begitu selesai berkata, ia segera melompat ke atas batu cadas yang amat besar
itu.
Sementara si raja hewan mengawasi terus hingga bayangan tubuh bocah itu
lenyap dari pandangan, kemudian ia bersila dan mulai mengatur pernapasan.
Tampaknya dia pingin membuktikan apakah Cau-ji akan mengundurkan diri
dari tantangan itu atau tidak.
Sementara itu Cau-ji sudah tiba di belakang air terjun itu, sekarang dia baru
dapat melihat dengan jelas bahwa tebing tersebut punya lekukan yang cukup
dalam di bagian punggungnya, sementara puncak tebing menjorok keluar maka
bagian bawahnya justru menjorok jauh ke dalam.
Pelan-pelan ia berjalan menuju ke dasar tebing, suasana di situ kelihatan
sangat redup karena minimnya cahaya, rotan dan duri tumbuh melingkari batu
cadas, lumut hijau terhampar bagaikan sebuah karpet raksasa, begitu licinnya
tempat itu, orang bisa tergelincir jika berjalan kurang hati-hati.
Cau-ji berjalan menuju ke sisi tebing, dengan berpegangan pada rotan yang
tumbuh di sekelilingnya ia mulai menelusuri tempat itu.

Tiba-tiba dari sisi sebelah kiri ditemukan sebuah celah retakan tebing, dari
balik celah itu memancar keluar sinar terang, maka Cau-ji pun segera mengikuti
arah datangnya cahaya itu dan masuk ke dalam celah.
Ternyata celah gua itu lebarnya tak sampai empat lima depa dengan
kedalaman dua kaki, terlihat setitik cahaya terang memancar keluar dari balik
celah itu.
Cau-ji pun meneruskan rambatannya menuruni celah tadi. baru tiba di dasar
celah, tiba-tiba kaki kanannya menginjak tempat kosong, nyaris dia tergelincir
ke bawah.
Ketika bocah itu dapat menguasai diri dan melongok ke bawah, terlihatlah
sebuah mulut gua yang gelap gulita muncul dari sisi kanannya.
Gua itu tidak diketahui seberapa dalamnya, tapi dipandang dari kejauhan
secara lamat-lamat ia dapat menangkap segumpal cahaya berbentuk bulat
muncul dari balik kegelapan gua itu.
Terdorong oleh rasa ingin tahunya yang besar, Cau-ji menerobos masuk ke
dalam gua itu melalui celah yang sempit, ketika kakinya menginjak di dasar gua,
segera bergema suara gemersik hingga ke seluruh gua.
Semakin menerobos masuk ke balik celah sempit itu, kedengaran suara
gemericik air yang makin lama semakin bertambah jelas.
Cau-ji mulai merasa kesulitan untuk melanjutkan rambatannya memasuki
celah tersebut, sementara suasana dalam lorong pun makin lama makin
bertambah gelap, permukaan jalan yang tak merata semakin memperberat
medan yang harus dilalui, bila kurang hati-hati berjalan, bisa jadi bocah itu
akan terjungkal balik.
Mendadak bergema suara gemerisik yang sangat keras dari balik gua, disusul
kemudian terdengar suara cicitan yang aneh, bau amis yang amat menyesakkan
napas tiba-tiba menyembur datang dari arah depan.
Cau-ji terkejut sekali, dia tak tahu makhluk aneh apa yang datang menyerang,
untuk menjaga diri, buru-buru dia lontarkan sebuah pukulan dengan tangan
kanannya.
“Ciit …ciit …ciit” diiringi suara mendekat yang ramai, rupanya ada satu
rombongan kelelawar yang terbang melintas lantaran merasa terusik.
Setelah tahu jika cuma rombongan kelelawar, Cau-ji menghembuskan napas
lega, tak urung kejadian tadi meningkatkan kewaspadaannya, siapa tahu di
belakang rombongan kelelawar masih akan muncul makhluk lainnya yang lebih
menyeramkan?
Semakin berjalan ke dalam, semakin banyak rombongan kelelawar yang
bersampokan dengan tubuhnya, lama kelamaan jengkel juga hati Cau-ji,
pikirnya: “Tempat apaan ini? Bukan saja permukaan jalan tidak rata, bahkan
hawanya dingin dan kelelawarnya begitu banyak”
Pada saat itulah secara lamat-lamat ia mendengar suara guntur yang bergema
dari balik gua, mula pertama suara itu rendah dan dalam, tapi lama kelamaan
suaranya makin nyaring dan keras, malah disertai juga hembusan angin yang
kencang.
Semakin nyaring suara guruh itu bergema, makin bergetar suasana di tempat
tersebut, bahkan dinding karang pun seakan ikut bergoyang.
Tak terlukiskan rasa kaget Cau-ji menghadapi situasi seperti ini, untuk sesaat
dia tak tahu apa yang mesti diperbuat, ia merasa deruan angin yang berhembus
makin lama semakin bertambah besar, malahan disertai pula dengan hawa
dingin yang merasuk tulang.

Dalam posisi seperti ini, secepat kilat Cau-ji tempelkan badannya di atas
dinding tebing, dia berusaha menempel sangat rapat agar tak tersapu hembusan
angin tajam itu.
Siapa tahu hembusan angin dingin yang semula menerjang langsung dari
muka, tiba-tiba berubah arah, diiringi suara menggelagar yang memekikkan
telinga, angin dingin itu mulai berputar dan makin kencang putarannya sehingga
akhirnya berubah jadi hembusan angin puting.
Pusaran angin berputar itu bukan saja mengangkat permukaan air di dalam
gua, bahkan disertai juga dengan pusaran pasir, debu serta batu kerikil yang
berputar di seluruh rongga gua.
Buru-buru Cau-ji berpegangan di atas dinding gua, sayang dinding karang
sangat licin, lama kelamaan ia tak sanggup menahan diri dari gulungan angin
itu dan akhirnya ia merasa badannya seakan-akan tergulung dalam pusaran
angin berpusing itu.
Tak selang berapa saat kemudian seluruh badannya sudah terangkat dan
tertelan di balik pusaran angin berpusing yang maha dahsyat itu, tubuhnya yang
berulang kali membentur di dinding karang, bukan saja membuat tubuhnya
terluka, pakaian yang dikenakan pun mulai tercabik-cabik.
Keadaannya saat itu tak ubahnya seperti pakaian dalam mesin cuci, semakin
berputar makin bertambah cepat, nyaris ia tak bisa bernapas.
Masih untung Cau-ji bukan anak bodoh, sadar kalau kondisinya gawat, cepat
dia menarik napas panjang dan melindungi jantungnya dengan hawa murni,
coba tidak bertindak begitu, mungkin dia sudah pingsan sejak tadi.
Rupanya pusaran angin berpusing itu merupakan hembusan angin puyuh
yang sangat alami, angin macam begini hampir setiap hari dua kali melanda di
dalam gua.
Biasanya bila angin puyuh mulai berputar maka satu jam kemudian pengaruh
angin itu akan lenyap dengan sendirinya.
Jika orang biasa yang tersapu angin berpusing ini, dapat dipastikan orang itu
akan segera mati tercincang.
Masih untung Cau-ji masih perjaka, selain itu baru saja menelan empedu ular
sanca dan menelan pil Tay-huan-wan yang mujarab dari Siau-lim-si, tak heran
jika tubuhnya sama sekali tidak terluka.
Begitulah, Cau-ji yang tertelan gulungan angin puyuh segera merasakan isi
perutnya seakan dikocok keras, ia merasa tubuhnya bergetar keras, diiringi
jeritan keras pingsannya anak itu.
Entah berapa lama sudah lewat … ketika sadar kembali dari pingsannya, Cauji
merasakan seluruh kulit tubuhnya sakit, tapi ketika ia coba menggerakkan
badannya, ternyata tulang belulangnya tetap utuh, malah rasanya segar sekali.
Dalam girangnya ia segera melompat bangun.
“Blaaam …I” tiba-tiba kepalanya membentur langit-langit gua.
Benturan itu sangat keras dan kuat, membuat Cau-ji menjerit kesakitan,
sambil meraba kepala sendiri, serunya: “Waah… untung kepalaku tidak keluar
darah.”
Ketika dia mencoba untuk mengawasi langit-langit gua, dijumpainya bekas
benturan itu sudah muncul sebuah liang dalam bekas kepalanya.
“Heran, apa yang telah terjadi?” kembali dia berpikir, “memangnya aku sudah
berubah jadi si hwesio kepala baja?”
Sementara dia masih termenung, tiba-tiba telinganya mendengar suara orang
merintih, ketika diamati lebih seksama, ia mendengar suara itu seperti sedang
memanggilnya: “Sau… saudara… ci… cilik..”

Cau-ji tersentak kaget dalam keadaan begini, berdiri juga bulu kuduknya, dia
mengira ada setan gentayangan yang sedang memanggil namanya.
“Sau… saudara… ci… cilik….”
“Kau… siapa kau…? Ma… manusia atau setan?”
“Aku… aku manusia….”
Cau-ji menghembuskan napas lega, pelan-pelan dia mulai memeriksa keadaan
sekelilingnya sembari mencari sumber datangnya suara panggilan itu.
“Hey, kau berada dimana?”
“Di… di sini …”
Sekali lagi Cau-ji mencari dengan teliti, akhirnya ia jumpai adanya sebuah
celah bulat selebar dua depa yang berada di atas dinding sebelah kiri, dengan
rasa gembira ia dekati lubang itu dan melongok ke dalam.
“Haha… setan!” jeritnya kemudian.
Ternyata di balik lubang itu tidak nampak apa-apa, yang terlihat cuma sebuah
raut muka yang ditutupi rambut kusut
Setelah mendengar jeritan kaget dari Cau-ji, orang yang berada dalam gua itu
buru-buru membenahi rambutnya sehingga Cau-ji dapat melihat sebuah raut
muka yang dekil.
Biarpun rambutnya kusut lagi kotor, orang itu mempunyai panca indera yang
sempurna dan jelas, terutama model hidung dan bibirnya, membuat siapapun
yang melihat segera timbul perasaan simpatik.
“Siapa kau?” kembali Cau-ji menegur.
Tampaknya orang itupun baru saja tersiksa oleh pusaran angin berpusing
yang dingin lagi kuat itu, kini dia sedang mengatur napas untuk mengembalikan
kondisinya, setelah agak pulih orang itu baru tertawa seram.
Suara tertawanya sangat mengerikan, di balik seram terselip perasaan sedih,
pedih, marah dan rasa dendam yang luar biasa.
Jangan dilihat usia Cau-ji masih sangat muda, namun dia pun dapat
menangkap perasaan sedih dan pedih yang luar biasa di balik tertawa orang itu,
ia tahu orang tersebut tentu sudah menderita luka dalam yang amat parah.
Diam-diam ia periksa sakunya, lalu pikirnya dengan perasaan girang: “Aaah,
untung kedua botol obat pemberian raja hewan masih utuh!”
Maka diambilnya sebuah botol obat itu lalu tanpa banyak bicara dilontarkan
ke arah orang tersebut.
Baru saja orang itu selesai tertawa ketika tiba-tiba melihat ada sebuah botol
kecil dilontarkan ke arahnya, buru-buru dia sambar botol tersebut, dibuka
penutupnya dan dibau isinya, setelah itu serunya: “Aaah, pil ini adalah pil
seratus hewan Pek-siu-wan milik Oh Lo-koko, kau kenal dengan si raja hewan?”
“Benar,” ia mengangguk, “dia memanggilku Cau-ji!”
“Ya, kalau toh kita adalah orang sendiri, biarlah kuterima pemberianmu ini,”
gumam orang tersebut kemudian, “tampaknya Thian maha agung, beliau telah
meluluskan permohonanku.”
Sekaligus dia telan tiga butir Pak-siu-wan. kemudian baru menyodorkan
kembali botol obat itu ke tangan Cau-ji.
“Aku masih punya sebotol lagi, simpanlah botol itu untukmu” seru Cau-ji
sambil menunjukkan botol obat kedua.
Setelah menelan pil Pek-siu-wan, orang itu merasa semangatnya menjadi
segar kembali, dia segera tertawa tergelak.
“Terima kasih banyak saudara cilik, dua jam lagi pusaran angin berpusing
kembali akan menyerang, sambil menunggu mari kita berbincang-bincang.”

“Apa?” teriak Cau-ji kaget setelah mendengar perkataan itu, “angin berpusing
itu bakal menyerang lagi?”
“Benar, tiap tengah malam dan tengah hari angin berpusing itu akan
menyerang selama satu jam lebih, saudara cilik, gunakan kesempatan ini untuk
mengatur pernapasan!”
Selesai bicara, ia segera pejamkan mata, duduk bersila dan mulai mengatur
pernapasan.
Mimpi pun Cau-ji tidak menyangka kalau angin puyuh berpusing itu bakal
menyerang setiap hari dua kati, membayangkan betapa tersiksanya dia sewaktu
menerima gempuran tadi, diam-diam hatinya bergidik.
Dia mencoba memeriksa keadaan sekililing gua, tapi mana jalan masuk dan
mana jalan keluar sudah tak nampak jelas, dia coba termenung sebentar, lalu
setelah memastikan arah yang dituju, dia pun mulai berjalan kembali.
Bocah itu sama sekali tak tahu kalau perawakan tubuhnya saat ini sudah
membesar berapa kali lipat akibat pengaruh obat empedu ular serta Tay-huanwan
yang diminumnya, ditambah dengan pusingan angin puyuh tadi.
Dengan susah payah akhirnya sampai juga Cau-ji di mulut gua yang sempit
lagi kecil itu, tapi ketika ia mencoba untuk menerobos masuk, hatinya langsung
tertegun, ia temukan badannya sudah menjadi bongsor sehingga tidak muat lagi
untuk masuk ke dalam celah sempit itu.

bersambung kisah-romantis-yang-membawa-bencana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: