Memori sungai Han

“Aarrrggghhhh….!!! hiks.. hiks..”

Beberapa orang yang sedang berada di sekitar sungai Han refleks menoleh saat mendengar seorang gadis berteriak. Mereka menatap gadis itu dengan berbagai macam ekspresi, ada yang merasa heran, terganggu, dan ada juga yang merasa kasihan ketika melihat gadis itu menangis setelah berteriak.

Sedangkan gadis itu nampak tidak peduli dengan keadaan di sekitarnya, ia terus meluapkan emosinya yang telah ia pendam sejak beberapa jam yang lalu. Nafasnya tidak beraturan karena dadanya terasa sesak mengetahui beban yang harus di tanggungnya. Lelah berteriak gadis itu mulai menyeret kakinya ke arah kursi taman yang berada tak jauh dari posisi berdirinya saat ini. Ia hempaskan tubuhnya di kursi itu, gadis itu duduk sembari menekuk lututnya dan menyembunyikan wajahnya disana.

Dadanya kembali terasa sesak saat mengingat beban berat yang harus ditanggungnya, sempat terlintas di pikirannya untuk bunuh diri saja dari pada rasa sesak itu terus melanda dadanya. Namun ia segera membuang pikiran itu jauh-jauh saat mengingat apa yang akan terjadi pada keluarganya apabila ia memutuskan untuk bunuh diri. Akhirnya gadis itu hanya bisa menangis dalam diam.

Hatinya yang membeku membuat tubuhnya seakan mati rasa, hawa dingin yang menusuk sama sekali tak mengusiknya walaupun saat itu ia hanya mengenakan dress putih tanpa hoddie yang bisa melindunginya di saat udara dingin menusuk seperti saat ini.

Seorang gadis nampak tengah asik bergelung di atas tempat tidurnya saat tiba-tiba seseorang menggedor-gedor pintu kamarnya. Gadis itu mengerang pelan namun ia menutup kepalanya dengan bantal dan kembali melanjutkan tidurnya yang sempat terganggu. Namun roommate gadis itu nampaknya tidak putus asa, ia semakin bersemangat menggedor pintu kamar hingga ia mendengar jeritan frustasi dari dalam kamar.

“Ya…!! hentikan Jihye…!! BERISIK…!!”

Gadis yang ternyata bernama Jihye itu hanya terkikik geli saat roommatenya menjerit frustasi dari dalam. Ia kemudian berkata “Cepat bangun Hyesu… jam 09.00 kita ada janji dengan Marco di Le Square Cafe”

Mendengar hal itu Hyesu yang tadinya masih belum sepenuhnya sadar langsung tersadar seketika. Ia bergegas bangun dari tempat tidur dan hendak berlari ke kamar mandi yang terletak di sudut kamarnya. Saking terburu-burunya ia tidak sadar kakinya terlilit oleh selimut yang tadi dia kenakan hingga

Bruuuk…!!

“Akh… Appo(sakit)”

Sedangkan Jihye yang ternyata masih berdiri di hadapan kamar Hyesu hanya bisa menahan tawanya saat mendengar keributan yang terjadi di dalam kamar apalagi saat ia mendengar Hyesu memekik sesaat setelah terdengar suara sesuatu terjatuh.

Empat puluh menit kemudian Hyesu keluar dari kamar dengan dress putih tanpa lengan yang panjangnya sejengkal di atas lutut, sedangkan di tangannya ia memegang bolero hitam dan tas tangan sewarna dengan boleronya. Sedangkan Jihye sendiri mengenakan sack dress pink dengan motif bunga-bunga.

Mereka berjalan beriringan membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka yang nampak sederhana namun tetap terlihat elegan. Mereka berjalan kaki menuju Le Square Cafe yang kebetulan letaknya tidak terlalu jauh dari apartemen tempat mereka tinggal selama di Perancis. Sesampainya di cafe seorang namja (laki-laki) tampan nampak melambaikan tangannya dan memanggil mereka berdua.

“Hyesu… Jihye…!! come here…!!”

Beberapa orang gadis yang sedari tadi memperhatikan laki-laki itu refleks menoleh dan memandang Hyesu dan Jihye dengan tatapan tidak suka.

“Marco” ucap mereka serempak sembari membalas senyumnya. Lalu Hyesu dan Jihye menarik kursi yang tepat berada di hadapan  Marco.

“Kau sudah pesan makanan, Marco..?” tanya Hyesu.

“Belum… aku masih menunggu temanku, tak apa kan dia ikut bergabung bersama kita?” tanya Marco.

“oh… it’s okay” ucap Hyesu dan Jihye serempak

Sembari menunggu teman dari Marco datang mereka saling berbagi cerita, sesekali mereka melihat kearah luar dari jendela kaca besar yang membatasi cafe dengan jalanan. Cukup lama mereka menunggu, namun hingga saat ini teman dari Marco itu belum juga datang.

“Marco… temanmu itu seperti apa? dia tampan tidak?” tanya Jihye

“Ah iya aku lupa menceritakannya. Dia salah seorang temanku dari Korea, dia datang ke Perancis untuk mencari calon tunangannya yang tinggal disini. Mungkin kalian mengenalnya temanku itu pewaris dari Hyundai Corp namanya Choi Siwon” ucap Marco membuat Hyesu tersedak minuman yang sedang dia minum. Hal itu membuat Jihye memandang Hyesu curiga.

“Kau kenal dengannya Hyesu?” tanya Jihye

“Mwo…?? Ani, aku memang pernah satu sekolah dengannya dulu, tapi aku tak mengenalnya” elak Hyesu.

“Ah… itu dia…!!” ucap Marco tiba-tiba. Jihye melongok ke belakang mengikuti arah pandang Marco sedangkan Hyesu hanya duduk diam di kurisnya. “Hey dia tampan sekali” ucap Jihye. Sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat ke arah mereka, yang kemudian berhenti tepat di hadapan meja mereka.

“Ya Siwon kenalkan ini sahabat-sahabatku Jihye dan Hyesu, mereka juga dari Korea sepertimu.” ucap Marco memperkenalkan Hyesu dan Jihye pada Siwon.

Namja itu menjulurkan tangannya yang langsung di jabat oleh Jihye “annyeong, Cho Jihye imnida” ucap Jihye sembari tersenyum “annyeong Jihye-ssi” balas namja itu. Sesaat kemudian tangannya beralih kearah Hyesu begitu pula dengan tatapan matanya. Ia terkejut saat melihat gadis yang ada dihadapannya itu, Siwon ingin menyapanya namun Hyesu berpura-pura tidak mengenalnya dan langsung menjabat tangan Siwon seraya memperkenalkan dirinya “annyeonghaseo, Lee Hyesu imnida, pangapsumnida” ucap Hyesu seraya tersenyum tipis ke arah Siwon “an..annyeong Hyesu-ssi” balas Siwon gugup menerima reaksi dari Hyesu.

Sekitar tiga jam mereka duduk bersama dan saling bercerita, selama itu pula Hyesu berusaha menahan emosinya yang mulai merambat naik. Dia terus berpura-pura baru mengenal Siwon, sedangkan Siwon terlihat beberapa kali memperhatikannya. Hyesu tak mengerti apa maksud dari tatapannya itu, yang jelas hal itu membuat Hyesu merasa risih.

saat pulang Siwon bermaksud hendak mengantar Hyesu dan Jihye namun dengan halus di tolak oleh Hyesu. Gadis itu sudah memutuskan untuk tidak lagi terlibat dengan segala hal yang berhubungan dengan namja itu. Karena itu akan membangkitkan kenangan pahit yang telah ia kubur jauh didalam sudut hatinya.

Hyesu tak pernah menyadari bahwa benang takdir telah mengikatnya dengan namja itu. Membuatnya tak bisa lagi melarikan diri atau bersembunyi dari masa lalunya.

 ***************

Semenjak pertemuan di cafe itu, Hyesu tak lagi bisa tidur dengan tenang. Ingatan itu kembali datang, ingatan nya terhadap saat-saat terakhir sahabatnya sejak kecil, Jung Sora. sesuatu yang berusaha ia kubur jauh di dalam lubuk hatinya.

Oleh karena itu saat ini Hyesu berusaha menghindar dari kedua sahabatnya, ia tak ingin kedua sahabatnya melihat keadaannya yang kacau balau. Dan ini merupakan hari kelima dia menghindar, namun rencananya gagal saat kedua sahabatnya itu saat ini tengah berdiri dihadapannya dan menyaksikan keadaan dirinya.

Kini tiga sahabat itu tengah duduk saling berhadapan, Jihye dan Marco tengah menunggu penjelasan Hyesu mengapa selama ini menghindar, dan mengapa penampilannya menjadi acak kadut seperti saat ini. Sedangkan Hyesu sendiri hanya menunduk dlam-dalam.

Melihat Hyesu bakal susah membuka mulutnya, Jihye memutuskan untuk berbicara terlebih dahulu.

“Kau kenapa Hyesu…?? apa ini semua ada hubungannya dengan Choi Siwon-ssi?” tanya Jihye membuat wajah Hyesu memucat seketika, apalagi tiba-tiba bayangan Sora yang berlumuran darah terlitas di pikirannya.

Jihye dan Marco tersentak saat melihat Hyesu tiba-tiba menggigil apalagi saat melihat setetes air mata mengalir dari sudut matanya. Jihye langsung menarik Hyesu kedalam pelukannya saat melihat gadis yang selama ini selalu terlihat kuat dan tegar tiba-tiba menangis. Dan melalui tatapan matanya Jihye menyuruh Marco untuk pergi, dan berjanji akan menceritakan semuanya nanti.

“Menangislah, jika itu bisa membuatmu lega” ucap Jihye seraya membelai rambut coklat Hyesu.

Lelah menangis membuat Hyesu tertidur dengan sendirinya. Saat Hyesu tertidur, Jihye memmutuskan untuk keluar dari kamar dan memasakkan bubur untuk sahabatnya nanti. sembari memasak ia berpikir apa yang telah membuat Hyesu menjadi rapuh seperti ini, padahal selama 5 tahun mereka berteman ia tak pernah melihat Hyesu menangis sekalipun. selesai memasak Jihye mengabiskan waktunya dengan melihat koleksi album-album foto Hyesu.

Dan ada sebuah album yang membuatnya sangat tertarik karena letaknya yang tersembunyi, seperti memang disengaja untuk disembunyikan. Album itu memiliki judul ‘OUR MEMMORIES’

Jihye tersenyum saat meliahat foto-foto itu, banyak sekali foto-foto konyol Hyesu bersama seorang gadis bernama Sora, sejak mereka masih kecil hingga mereka mengenakan seragam SMA. Namun senyum Jihye lenyap saat melihat foto-foto di halaman selanjutnya, foto-foto itu masih tetap berisi gambar Hyesu dan gadis yang bernama Sora namun diantara foto-foto itu ada seorang namja.

Jihye semakin bingung memikirkan ada hubungan apa antara Hyesu dengan Choi Siwon, karena sosok namja yang ada di foto-foto itu adalah sosok Choi Siwon saat masih muda. Jihye masih sibuk berfikir ketika tiba-tiba ia mendengar jeritan Hyesu dari kamar.

“AARRGGGHHHH….”

Jihye terkejut saat melihat Hyesu tengah meringkuk di teri tempat tidur, ia bergegas menghampiri Hyesu dan memeluknya sambil berkata “berceritalah Hyesu… jangan kau pendam sendiri, kita sahabat bukan?!”

Mendengar ucapan dari Jihye, Hyesu akhirnya menceritakan semua yang selama ia pendam didalam hatinya, dan alasan mengapa ia pindah ke Prancis saat ia kelas dua SMA. dan semua itu ada hubungannya dengan Choi Siwon yang ia anggap sebagai penyebab bunuh dirinya Sora sahabatnya sejak kecil.

Selepas bercerita Hyesu merasa sebagian bebannya terangkat. Namun masih ada satu hal yang ia pusingkan, yaitu eommanya ingin ia kembali dan menetap di Korea dan membantu perusahaan keluarganya yang saat ini sedang dalam masa sulit.

************

Hyesu menarik nafasnya dalam-dalam saat ia menginjakkan kakinya di Incheon, tujuh tahun sudah ia meninggalkan Korea. Akhirnya setelah mendapat dukungan penuh dari kedua sahabatnya ia memutuskan untuk kembali ke Korea, tempat yang dipenuhi oleh segala kenangan akan masa-masa saat Sora masih ada di sisinya.

Dari pintu kedatangan ia bisa melihat oppanya Lee Donghae tengah melambai ke arahnya diantara orang-orang yang juga tengah menunggu kerabat atau kenalannya.

“oppa…!!” ucapku seraya berlari dan memeluknya

“aigo… yeodongsaengku…!!” ucap oppa sembari mulai menangis

“YA…!! OPPA…!! uljima (jangan menangis). Incheon bisa banjir nanti, kkkk” ucapku sembari tertawa

PLETAAAAK

“appo.. ya..!!” erangku saat oppa menjitak kepalaku

“ya sudah ayo kita pulang, omma, dan Donghwa Hyung sudah menunggu” ucap Donghae oppa.

“ne… kajja” balasku

Selama dalam perjalanan kami benar-benar tak kehabisan cerita, oppa bercerita berbagai macam hal yang terjadi disini saat aku tak ada, begitupun dengan ku. Sekitar setengah jam kemudian mobil oppa berbelok ke area perumahan tempat kami tinggal. Jauh didepan sana dapat kulihat rumah kami masih berdiri dengan indahnya, ah aku rindu sekali dengan rumah kami, kira-kira ayunan di samping rumah masih ada kah?

Saat mobil memasuki halaman rumah, kulihat eomma berlari keluar menyambutku sedangkan Donghwa oppa berjalan dibelakang.

“EOMMAAAAA” jeritku saat turun dari mobil dan berlari kearahnya sedangkan eomma nampak merentangkan tangannya bersiap untuk memeluk tubuhku. Aah… aku benar-benar merindukan kehangatan pelukan eomma ini.

“ehem… kau tak ingin memelukku Hyesu” celetuk seseorang di belakang omma

“oppaaaa….” kini aku berganti memeluk oppa tertuaku itu.

“sudah-sudah ayo masuk dulu, dilanjut nanti lagi kangen-kangennnya” ucap omma sambil menggandengku masuk.

Kini kami berempat tengah duduk bersama di ruang keluarga, seperti biasa kami bercerita banyak. Namun entah mengapa aku merasa mereka menutupi sesuatu padaku, tapi aku tak peduli. Bagiku saat ini yang terpenting aku bisa berkumpul kembali dengan keluargaku. Aku sungguh merasa beruntung memiliki keluarga seperti mereka. Setalah cukup puas melepas rindu omma menyuruhku untuk beristirahat setelah perjalanan jauh dari Perancis ke Korea.

Aku terharu saat memasuki kamarku, tidak ada yang berubah dikamar ku yang didominasi oleh tiga warna kesukaanku, hitam, merah dan putih. Aku benar-benar berterimakasih omma tak mengganti suasana kamarku yang sama sekali tak terlihat seperti kamar gadis pada umumnya. Setelah mengganti pakaianku ku hempaskan tubuhku ke atas tempat tidur, tak lama setelah itu aku mulai terlarut dalam mimpi.

Aku terbangun dari tidurku saat eomma mengguncang bahuku pelan “sudah sore sayang, cepat mandi dan turun eomma dan oppadeul tunggu di meja makan” ucap omma sembari mencium keningku.

Setelah omma pergi aku bergegas masuk ke kamar mandi, tiga puluh menit kemudian aku keluar dari kamar dan menuju meja makan. Kulihat semua sudah duduk manis di depan meja makan

“annyeong eomma, oppa” ucapku seraya menarik kursi disebalah Donghae oppa.

Selama empat puluh lima menit kemudian yang terdengar diantara kami hanyalah dentingan sendok yang bersentuhan dengan piring. Sudah menjadi kebiasaan di keluarga kami makan dalam diam. Tak boleh ada suara di antara kami jika sedang berada di hadapan meja makan.

Setelah itu kami berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi, kami kembali bercerita mengenai berbagai pengalaman saat kami tak bersama. Sesekali kami tertawa apabila ada cerita yang lucu dan konyol namun entah mengapa aku merasa tawa omma dan kedua oppaku nampak sedikit dipaksakan, apa yang mereka sembunyikan dariku? Karena penasaran akupun bertanya

“eomma, ada apa…? dari tadi kalian seperti menyembunyikan sesuatu”

Eomma memandangku dengan tatapan yang entahlah aku tak bisa mengartikannya tapi sepertinya itu berita buruk bagiku. Kulihat eomma menarik nafas berat setelah menatap kedua oppaku, kemudian ia kembali menatapku dan mulai bercerita.

“Hyesu kau tahukan alasan eomma menyuruhmu segera pulang..??”

“ne eomma”

“Begini sayang perusahaan kita saat ini sangat membutuhkan dukungan finansial dan beberapa bulan yang lalu ada perusahaan yang bersedia membantu segi finansial untuk perusaan kita namun mereka mengajukan syarat….” ucap omma terputus

“syarat apa omma?”

omma nampak mau melanjutkan perkataannya namun langsung dipotong oleh Donghwa oppa. “Biar aku saja yang melanjutkannya omma, Hyesu semua ini tergantung dirimu dan kami tak akan memaksakan kehendak, karena kami tau pasti ini sangat berat untukmu.”

Mendengar perkataan oppa aku semakin penasaran, memang apa hubungannya dengan aku? kenapa semua tergantung aku?

“orang itu ingin kau menikah dengan putranya, Hyesu-ah” perkataan oppa tadi langsung mengembalikan ku ke alam nyata.

“MWO….??”

“ne Hyesu mereka menginginkanmu untuk menjadi bagian dari keluarganya” kali ini Donghae oppa yang menjawab.

“dan yang akan menikah denganmu nantinya adalah…. pewaris dari…” ucap Donghwa oppa terputus.

“Hyundai corp, Choi Siwon” lanjut omma

Aku benar-benar terkejut saat mendengar nama itu, pikiranku kembali ke saat aku bertemu dengannya di Perancis. Berarti saat itu calon tunangan yang dicarinya adalah aku? setelah berkutat dengan pikiranku sendiri aku beranikan diriku bertanya mengenai satu hal terpenting yang perlu ku ketahui.

“jika aku menolak… apa yang akan terjadi dengan kita?”

Eomma dan oppa hanya tersenyum mendengar pertanyaanku, mereka tak menjawabnya. Namun aku mengerti apa yang akan terjadi jika aku menolak, kami akan kehilangan segalanya, segala yang berhubungan dengan almarhum appa.

Setelah cukup lama kami terdiam, aku bangun dari dudukku dan menuju kamarku. Cukup lama aku termenung dikamar, kepalaku serasa mau pecah saja jika memikirkan semua ini. Sesaat kemudian aku keluar dari kamar dan berjalan keluar rumah, aku butuh udara segar saat ini. Melihatku yang berjalan keluar rumah eomma berdiri dan hendak menghampiriku tapi aku langsung menenangkannya

“eomma tenang saja, aku hanya butuh udara segar. aku janji akan segera pulang”

Mendengarnya omma kembali duduk, ia sadar aku butuh waktu untuk berfikir sendiri. Omma hanya mengingatkanku untuk berhati-hati. Dan ia tak akan memaksaku karena keluargaku sangat memahami bahwa aku begitu membenci namja yang bernama Choi SIwon itu.

“aku pergi dulu eomma, oppa. Annyeong”

“hati-hati” ucap mereka kompak.

Dan disinilah aku sekarang, di hadapan sungai Han. Tempat favoritku dan Sora melepas segala beban di hati. Tujuh tahun sudah sejak kematian Sora, tempat ini tak berubah semuanya masih tetap sama, hanya saja kali ini aku sendiri tanpa Sora disampingku. Tanpa seorang sahabat yang mengerti aku melebihi diriku sendiri. Aku merindukannya, aku merindukan sosok itu kembali.

Akh…. dadaku sesak menghadapi semua ini, apa yang harus kulakukan…?? jika aku menolak keluargaku dalam bahaya, tapi jika aku menerimanya bagaimana denganku…??

***** ******

Sumber:

2 Responses to “Memori sungai Han”

  1. Ariya Vanna Says:

    ADA SAMBUNGANNYA GAK!? omong2 kok pake nama suju nih

  2. Cloudsalltheway Says:

    Mana next nya? 😦

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: