MATAHARI CINTAKU

MATAHARI CINTAKU

“Mama…. Ian mau nyanyi buat Mama. Dengerin ya?”

“Nyanyi apa? Memang Ian bisa nyanyi?”

“Bisa! Tadi Bu Guru baru ajarin di sekolah. Judulnya, ‘Kasih Ibu’….”

“Coba Mama denger…?”

“Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia…”

“….”

“Mama kok nangis?Lagunya bikin Mama sedih?”

“Mama seneng denger Ian nyanyi buat Mama….”

“Kalau Mama seneng, Mama nggak boleh nangis. Ian bakal nyanyiin lagu ini buat Mama tiap hari. Biar Mama selalu seneng.”

***

Taman di hadapanku itu sangat luas. Indah mempesona dengan tatanan aneka tanaman yang ditata dengan luar biasa apik. Tepat di tengah taman itu, ada sebuah kolam yang tampak amat megah. Bunga-bunga yang berwarna-warni mekar di bawah siraman sinar mentari pagi, tertiup angin nakal, kemudian menebarkan harumnya yang mendamaikan.

Aku menghela nafas berat dan menghembuskannya dengan kasar seraya merapikan dasiku. Pemandangan indah di depanku sama sekali tidak menenangkan kekesalanku. Kemudian kumasukkan kedua telapak tanganku ke dalam saku celana panjangku dan berdiri dengan separuh hati. Di samping kananku, Mama sedang duduk di atas kursi roda yang telah menemaninya hampir sepuluh tahun setelah penyakit jantung yang dideritanya merenggut sebagian kemampuan tubuhnya untuk bergerak.

“Itu apa, Ian?” tanya Mama seraya menggerakkan telunjuk kanannya yang gemetar ke arah sekumpulan merpati yang sedang hinggap di tepi kolam.

“Merpati, Ma.”

Mama diam sebentar. Kemudian matanya mengikuti seekor merpati yang terbang meninggalkan kawanannya dan hinggap di sebuah ranting di pohon akasia yang tumbuh tepat di samping kolam.

“Kalau itu apa, Ian?”

“Merpati, Ma!” sahutku jemu.

Jeda sesaat. Lalu ketika Mama melihat sekumpulan merpati di tepi kolam itu mengepakkan sayapnya bersama-sama, meninggalkan kolam, dan melintasi langit, dia kembali bertanya,

“Itu semua apa, Ian?”

“Sudah seribu kali Mama bertanya, sudah seribu kali juga aku menjawab. ITU MERPATI, MA. Butuh berapa kali aku menjawab supaya Mama berhenti bertanya?!””

Usai berkata demikian, aku membalikkan tubuhku dengan geram. Kulangkahkan kakiku lebar-lebar, membanting daun pintu dengan sekuat tenaga, dan masuk tanpa sudi menoleh lagi.

***

“Aku tak tahan lagi!” Kuteguk secangkir kopi hitam di hadapanku dengan tak sabar.

“Soal Mama lagi?” Tangan Maria yang sedang sibuk mengoleskan selai coklat pada roti tawarnya berhenti seketika. Dia mengalihkan pandangannya dan menatapku.

“Mama sudah seperti orang pikun. Dalam sehari, dia bisa menanyakan hal yang sama berulang-ulang. Kemarin dia bertanya soal mobil, hari ini soal burung. Entah besok soal apa lagi. Jangan-jangan dia bakal bertanya, siapa aku?!”

“Kau tidak boleh berkata begitu.” Maria menggeleng dan mengernyitkan keningnya. “Bagaimanapun juga dia mamamu. Wanita yang telah melahirkanmu. Mana boleh kau berkata begitu soal dia?”

“Sudah hampir sepuluh tahun dia tidak sembuh dari stroke-nya, Mar. Dia cuma bisa terduduk di sana karena separuh tubuhnya yang lumpuh, merepotkan seisi rumah dengan rengekkannya. Minta disuapi makan, minta dibersihkan wajahnya, minta ditemani melihat taman, dan entah apa lagi. Aku sudah mengusulkan untuk memberikan seorang suster yang merawatnya, tapi dia tak pernah mau. Lantas apa maunya?”

“Mama mungkin hanya ingin kau menemaninya di hari tua, Rian.”

“Aku harus bekerja. Tapi setiap pagi dia selalu memintaku untuk menemaninya melihat taman. Entah apa yang dilihatnya di sana. Bukankah setiap pagi taman selalu tampak sama? Cuma terkadang basah tersiram hujan, terkadang kering karena cuaca cerah. Kalau aku tidak mau menemaninya, dia akan menangis, lalu memaksaku menyeka air matanya. Apa yang sebenarnya dia inginkan?!”

“Lebih pentingkah perusahaanmu dibanding mengurus ibumu sendiri?”

Aku menggigit ujung roti tawarku dengan kesal, kataku,

“Kalau aku tidak bekerja, apa bisa dia hidup di rumah semewah ini? Kalau aku tidak bekerja, apa dia pikir dia bisa mendapatkan apa yang dia mau selama ini?”

“Memangnya apa yang Mama inginkan? Apa kau benar-benar tahu?”

“Kehidupan mewah seperti ini, siapa di dunia ini yang tidak menginginkannya? Dari kecil setelah Papa meninggal, hidupku dan Mama selalu kesulitan. Aku berjanji pada diriku sendiri. Aku harus sukses dan aku membuktikannya. Aku bisa memberikan kehidupan yang berlimpah pada Mama sekarang. Lantas apa lagi yang diinginkannya?”

Maria mengendikkan bahunya.

“Kau harus bertanya padanya langsung, Rian. Tanya pada Mama, apa yang paling diinginkannya?”

“Mama sudah seperti orang linglung sekarang. Mana mungkin dia bisa menjawabku?”

“Kau belum mencobanya.”

“Aku tak mau mencobanya.” Aku mendengus tak senang. “Sudah sekian lama ini aku terpikir sesuatu. Sesuatu yang kurasa akan lebih baik untuk Mama.”

“Oh ya? Apa itu?” Senyum Maria terkembang.

“Aku berencana memasukkan Mama ke panti jompo.”

“Kau sudah sinting!” pekik Maria tak percaya.

“Aku tidak sinting.” jawabku tenang. “Di panti jompo, Mama akan menemukan orang-orang sebayanya. Dia bisa berteman dengan mereka. Bisa dirawat oleh suster-suster di sana. Dia tidak akan kesepian. Akan ada orang yang menyuapinya, menyeka air matanya, mengganti pakaiannya, dan salah satu dari mereka akan menemaninya melihat taman dan langit setiap pagi. Seperti yang selalu diinginkanya. Aku akan memasukkannya ke panti jompo terbaik dan termahal yang ada di Jakarta.”

“Rian, pernahkah kau pikirkan bagaimana perasaan Mama kalau mendengar keputusanmu ini?” Maria meletakkan rotinya ke atas piring dan melipat kedua tangannya. “Ada banyak hal di dunia ini yang tidak bisa dibeli dan diselesaikan dengan uang. Sesuatu yang bernama perhatian.”

“Dia akan mendapatkan yang terbaik.” Aku bangkit dari dudukku. Gerak tubuhku jelas menyatakan aku ingin menyudahi percakapan ini. “Sekarang juga aku akan pergi mencarikan panti jompo terbaik untuknya.”

***

Dua bulir air mata bergulir jatuh menuruni pipi Nana saat dia melihat neneknya digiring dua orang berpakaian serba putih. Salah satunya mendorong kursi rodanya dan seorang lagi menenteng sebuah koper besar di tangan kanannya. Nenek masuk ke dalam mobil, menatap dengan pandangan nanar padanya lalu tanpa berkata apa-apa, pintu mobil itu tertutup dan bergerak menjauh.

“Mama, Nenek dibawa ke mana?” Nana menggelayut di kaki kanan Maria.

“Nenek pergi ke tempat temannya.” sahut Maria sambil membelai kepala putrinya.

“Tempat teman Nenek di mana? Nana mau ikut. Nana mau temenin Nenek. Nenek sering bilang dia kesepian.”

“Nenek bilang dia kesepian?”

Nana mengangguk lemah.

“Nenek kapan pulang, Ma? Kalau Nenek ketemu temennya nanti, dia masih inget Nana nggak? Nana belum beliin kursi baru buat Nenek….”

“Kursi baru?” Maria tersentak. Kemudian dia berjongkok menyetarakan tingginya dengan putrinya. “Kursi apa maksud Nana?”

“Nenek bilang, kursinya udah lama nggak pernah diganti. Roda-rodanya udah susah diputer, Ma. Apalagi kan Nenek puternya cuma pake sebelah tangan….”

“Jadi Nana mau beliin kursi yang baru buat Nenek?”

“Iya.” Nana mengangguk tulus. “Nana mau Nenek ada di sini. Sama Nana liatin taman waktu malem. Nenek duduk di kursinya, Nana duduk di kursi Nana. Temenin Nana kalau Nana lagi sedih karena diomelin sama Papa. Nenek bilang Papa baik. Dulu, Papa sering temenin Nenek kalau Nenek lagi sendirian dan Papa paling sedih kalau liat Nenek nangis….”

Maria membuang pandangannya. Dirasakannya matanya mulai terasa panas tergenang air mata.

“Sekarang Nenek sakit.” Telapak tangan Nana menyentuh pipi Maria dengan lembut. “Nenek sering nangis di kamar malem-malem. Waktu Nana diam-diam ke kamar Nenek, Nenek bilang ke Nana jangan kasih tau Papa sama Mama….

“Kalau Nenek sakit, Nana kasi segelas air hangat buat Nenek. Kalau Nenek kedinginan, Nana yang selimutin Nenek. Kalau Papa lupa kasih Nenek minum obat, Nana yang kasih Nenek obatnya. Tapi udah seminggu ini Nenek nggak pernah mau minum obat lagi. Semaleman Nenek cuma nonton tv.”

“Nenek nonton tv?” Maria menyatukan kedua alisnya dan mencoba mengingat-ingat sejak kapan mertuanya itu suka menonton televisi.

“Iya, tv, Ma. Nana yang nyalain buat Nenek. Film yang sama, Ma. Film yang Nenek tonton sampai pagi. Film waktu dia masih muda dulu. Waktu Papa masih kecil dulu.”

“Coba Mama lihat.” Maria menggendong putri kecilnya dan melangkah tergesa-gesa ke dalam kamar mertuanya yang sudah sekian lama tidak pernah dimasukinya.

Kamar itu masih sama dengan sepuluh tahun yang lalu ketika terakhir kali mertuanya itu mengalami kelumpuhan separuh dari tubuhnya dan menolak siapapun masuk ke dalam kamarnya, kecuali Bi Ima, seorang pembantu tua yang telah mengabdi pada keluarga mereka sejak awal mereka pindah ke rumah yang sebesar istana ini.

Pada Bi Ima pun, Maria tahu kalau mertuanya tidak pernah mau merepotkannya. Bi Ima hanya masuk ke dalam kamarnya untuk sekedar menyapu dan mengepel, memberi obat apabila Rian sedang sibuk bekerja -yang selalu ditolaknya-, dan memindahkan tubuhnya dari ranjang ke kursi roda atau dari kursi roda ke atas ranjang setiap pagi dan malam.

Di sudut salah satu meja, Maria menangkap sebuah pigura yang berisi foto hitam putih yang sudah usang. Di foto itu, dia melihat mertuanya tengah menggendong Rian dan menunjuk ke arah sekumpulan burung di sebuah kolam entah di mana. Wajahnya bahagia. Lebih cerah dari sinar matahari di musim semi sekalipun. Maria bahkan berani bertaruh, mertuanya itu rela menukarkan apa saja yang dimilikinya hanya untuk mendapatkan masa-masa itu kembali.

“Mama, ini filmnya.” Suara Nana membuat Maria menoleh.

Maria menelengkan kepalanya, melihat putrinya yang pintar itu memasukkan sekeping CD dengan cekatan dan menanti film apa yang akan muncul di layarnya. Dan saat mata Maria merangkum rangkaian episode-episode kehidupan yang terpampang di depannya, tanpa sadar air matanya meleleh.

***

“Mama mencintaimu, Rian. Lebih dari apapun yang ada di dunia ini.” Maria menatapku dengan sendu. “Kebahagiannya memilikimu, tidak bisa tergantikan dengan apapun juga. Dengan tumpukan harta dan rumah mewah sekalipun. Yang dia mau, cuma kamu. Putranya satu-satunya.”

Sempat kulihat Maria membalikkan tubuhnya, keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.

***

Badai itu tiba-tiba menerjang. Menggulungku dalam ombak raksasa yang membuatku tersengal kehabisan nafas. Kutebah dadaku yang terasa nyeri. Jelas sekali merasakan ada belati tak kasat mata yang mengoyak batinku tanpa ampun.

Tubuhku menegang. Mataku menatap hampa pada layar televisi di hadapanku kini. Di layar itu, ada dua tokoh yang sedang memainkan drama kehidupan. Tokoh yang aku tahu pasti siapa pemainnya.

“Ma, itu apa?” Telunjuk kecil tangan salah satu tokoh itu bergerak-gerak menunjuk sekumpulan merpati yang tengah bercengkrama di sebuah kolam.

“Itu merpati….”

“Kalau yang itu?” tanyanya lagi sambil menunjuk salah satu yang sedang bertengger di dahan sebuah pohon di tepi kolam.

“Itu juga merpati.”

“Yang itu?”

“Merpati, Ian….”

“Itu?”

“Merpati juga….”

“Banyak merpati.” Tangan kecil itu bertepuk kegirangan.“Itu juga merpati, Ma?”

“Merpati juga, Ian….” Wanita berambut ikal dalam layar televisi itu mengecup kening putranya dengan penuh cinta.

“Ian, jangan bertanya hal yang sama pada mamamu lebih dari tiga kali.” Suara seseorang tiba-tiba terdengar. Meskipun tidak ada sosok yang muncul di layar, aku tahu pasti siapa pemilik suara itu. Itu suara Papa. Suara Papa yang teramat sangat kurindukan sebelum dia meninggalkan kami selama-lamanya.

“Tidak apa-apa.” Wanita berambut ikal itu menoleh dan tersenyum manis. “Berapa kalipun akan aku jawab.”

Berapa kalipun akan kujawab.

Berapa kalipun.

Akan kujawab.

Aku menggerung menahan sakit. Memoriku terlempar begitu saja pada beberapa hari silam ketika Mama menanyakan hal yang serupa padaku. Pertanyaan yang sama. Dengan jawaban yang berbeda. Karena aku telah membentaknya dan dengan sadis mengusungnya ke panti jompo beberapa hari sesudahnya.

Padahal dulu aku pernah melakukannya. Aku pernah mengajukan pertanyaan yang sama tiga kali untuk mendapatkan jawaban yang sama pula. Tidak. Ralat. Aku bertanya lebih dari tiga kali. Sepuluh kali. Bahkan mungkin seratus kali. Tapi jangankan membentak, Mama bahkan hanya tersenyum lembut. Senyuman yang berlumur dengan ketulusan dan cinta kasih.

“Jangan menangis. Sini Mama suapin.” Wanita di dalam layar kembali bersuara. Kali ini latarnya berada di sebuah kamar. Kamar yang juga kukenal betul. Kamarku lebih dari tiga puluh tahun yang lalu.

“Gigi Ian sakit, Ma.” Bocah dalam layar itu menangis.

“Pelan-pelan makannya.” Wanita itu menyendok sesendok bubur dan mendekatkannya ke mulut putranya. “Buburnya lembut, Ian.” Kemudian disekanya air mata putranya dengan berlumur kasih sayang. “Kalau Ian nggak makan, nanti nggak sembuh-sembuh….”

Kapan terakhir Mama memintaku menyuapi dan menyeka air matanya dan kulakukan?

Rasanya belum sempat aku memaksa agar paru-paruku menarik nafas, sebuah tamparan baru melesat ke wajahku. Memberikan rasa perih yang luar biasa menyakitkan.

Perlahan. Alunan lagu yang lembut itu merambat perlahan ke telingaku. Lagu yang sangat kukenal. Lirik yang sangat kuhafal. Lagu yang sewaktu kecil dulu selalu kudendangkan untuk Mama sepulang sekolah. Lagu yang pernah membuatnya menangis sekaligus tersenyum begitu bahagia.

“Mama…. Ian mau nyanyi buat Mama. Dengerin ya?” Bocah itu memeluk wanita berambut ikal itu dengan manja.

“Nyanyi apa? Memang Ian bisa nyanyi?”

“Bisa! Tadi Bu Guru baru ajarin di sekolah. Judulnya, ‘Kasih Ibu’….”

“Coba Mama denger…?”

“Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia…”

“….”

“Mama kok nangis? Lagunya bikin Mama sedih?”

“Mama seneng denger Ian nyanyi buat Mama….”

“Kalau Mama seneng, Mama nggak boleh nangis. Ian bakal nyanyiin lagu ini buat Mama tiap hari. Biar Mama selalu seneng.”

Pantas saja setiap beberapa bulan sekali, Mama selalu memintaku memindahkan sebuah CD ke CD-ku yang baru. Tapi aku tidak pernah sekalipun melirik isinya. Aku tidak tertarik. Aku malah mendumal dan meng-copy-nya dengan berat hati.

Tapi sekarang aku menyesal. Sangat menyesal.

Kalau baru sekarang Ian mau membahagiakan Mama, masih sempatkah?

***

Bagaikan harimau luka, aku menyeruak masuk ke dalam sebuah kamar bercat putih bersih itu dan tidak mendapati siapapun di sana.

“Bapak Rian Tanoto?” Seorang suster muncul di ambang pintu dengan wajah yang tak kalah panik.

“Ibu Manna sedang koma di rumah sakit. Bisakah sekarang juga kita berangkat ke sana?”

***

Dokter Lukas menggelengkan kepalanya dengan bijaksana.

“Hanya keajaiban yang bisa menolong Ibu Anda.” katanya dengan suara berat. “Jantungnya sudah sangat lemah. Keadaan fisiknya pun menurun drastis.”

Tubuhku terhuyung mundur. Aku hampir rebah, kalau saja bukan tangan Maria yang memapahku. Telingaku berdenging menyiksaku. Mataku serasa sulit kukedipkan. Rasanya aku kehilangan separuh rohku yang melompat keluar dari tubuhku dan tersesat entah di mana.

Dengan gontai, aku menyeret langkahku dan mendudukkan tubuhku di kursi di samping pembaringan Mama.

Lama. Lama sekali kupandangi wajah Mama dalam kebisuan. Matanya sudah dipenuhi kerutan. Wajahnya terlihat lelah sekali. Aku tak pernah menyadari, sejak kapan kecantikkan Mama yang begitu mempesona terampas oleh waktu.

Air mata memburamkan pandangan di kedua bola mataku.

“Ma, maafin Ian…” desahku di telinganya. Masa bodoh Mama bisa mendengarku atau tidak. “Mama bangun, Ma. Ian janji nggak akan ninggalin Mama kesepian lagi. Ian janji nggak akan marah lagi kalau Mama minta Ian temenin Mama liat taman setiap pagi. Nggak akan menolak lagi untuk nyuapin dan menyeka air mata Mama. Asalkan Mama bangun dan buka mata Mama….”

Kusentuh pungguh tangan Mama yang masih juga tak bergeming. Aku memilih Mama berdiri di depanku dan memecutku sampai kesakitan dari pada harus melihatnya hanya diam tanpa kata seperti saat ini. Ini menyiksaku. Menyeretku masuk ke dalam liang penyesalan yang luar biasa mengerikan.

“Ma, buka mata Mama….” Kuremas tangannya dengan segunung perasaan menyesal. “Kalau Ian nyanyi buat Mama, Mama bangun ya?”

Kunanti jawaban Mama dalam sunyi.

“Ian mau nyanyi buat Mama…. Judulnya ‘Kasih Ibu’. Mama masih ingat lagu ini kan?”

Kuanggap kesunyian itu sebagai tanda persetujuan dari Mama.

“Kasih Ibu kepada Beta
Tak terhingga sepanjang masa
Hanya memberi, tak harap kembali
Bagai Sang Surya menyinari dunia….”

Kuulang. Kuulang. Dan kuulang lagi lagu itu. Meski aku tahu suaraku pasti terdengar jelek sekali. Aku tak peduli. Aku akan terus bernyanyi. Sampai suaraku serak. Sampai Mama sudi memaafkanku.

Mama pasti mendengar nyanyianku. Dulu, dia pernah sangat bahagia mendengarku menyanyikannya. Karena itu, aku akan terus bernyanyi.

Sampai dia membuka matanya dan memintaku diam.

Lapat-lapat, kulihat dua bulir air mata mendesak keluar dari celah-celah bulu matanya. Aku masih belum berhenti bernyanyi. Kugenggam jemari Mama kian erat.

Tapi harapanku tak kunjung tiba. Mama tak juga membuka matanya dan memarahiku. Atau membentakku untuk diam. Dia tak pernah melakukannya.

***

Belakangan ini aku baru sadar, kalau ternyata pada saat seseorang hampir merasakan apa itu kehilangan, dia baru akan menyadari betapa besar dan tak tenilai harga dari sesuatu yang selama ini dikiranya tak berarti. Dan aku bersyukur, setidaknya sedetik sebelum aku tersuruk dalam lumpur dosa, Tuhan masih berkenan mengutus malaikat-Nya dan memberikan kesempatan terakhir itu bagiku.

Aku melayangkan pandanganku ke arah taman di depan rumahku yang sengaja kubuat seindah mungkin itu. Maria berdiri di sampingku, merangkul pinggangku sambil sesekali tersenyum kecil mendengar celotehan Nana.

“Nenek, kursi barunya enak nggak?” tanya Nana. “Nana suruh Papa beliin dulu buat Nenek. Nanti baru Nana bayar pake uang jajan Nana tiap hari. Nana rela nggak jajan deh. Asalkan Nenek dapet kursi baru.” celotehnya sambil menggigit roti selai coklat kesukaannya. “Nek, liat deh burung merpati itu. Kita sekarang kayak di foto yang di kamar Nenek ya? Duduk berdua di taman yang ada kolamnya. Tapi Nana yang nunjuk ke arah merpatinya. Nenek yang duduk diam sambil tersenyum. Merpati itu indah ya, Nek. Suatu hari nanti, kita pasti bisa terbang kayak burung merpati itu kan, Nek? Nenek temenin Nana ya? Makanya Nenek harus cepet sembuh.” Nana berdiri dari kursi kecilnya dan mengecup pipi neneknya dengan ceria. “Nana yakin Nenek pasti sembuh.”

Aku membalas rangkulan Maria dan menatap wajahnya dengan penuh kebahagiaan.

“Ini mukjizat.” kata Dokter Lukas saat itu. “Ibu Anda menunjukkan tanda-tanda membaik. Mungkin kemampuan bicaranya akan menghilang. Tapi kalau keadaannya terus membaik, bukan mustahil dia akan sembuh dari stroke-nya. Jantungnya terlihat sehat.”

Saat aku melihat air mata menitik dari kedua sudut mata Mama di pembaringannya saat itu, aku hanya berharap dia membuka matanya, memakiku agar aku diam dan menghentikan nyanyianku. Tapi harapanku tak kunjung tiba. Mama tak juga membuka matanya dan memarahiku. Atau membentakku untuk diam. Dia tak pernah melakukannya. Dia memang tidak akan pernah melakukannya.

Karena dari dulu pun Mama tak pernah marah padaku. Tak pernah membentakku. Kasihnya sebagai seorang ibu lebih mulia dari kasih apapun yang pernah kutemui di dunia ini. Dia mencintaiku, tanpa pamrih. Sekalipun aku pernah menorehkan luka yang begitu dalam di hatinya.

Sejurus kemudian, Mama hanya balas menggenggam tanganku kala itu. Cukup bagiku untuk menyadari, kalau Tuhan telah menitipkannya sesaat lagi padaku.

Aku menunggu saat-saat yang dikatakan Dokter Lukas. Bukan mustahil Mama akan sembuh dan memelukku seperti dulu. Ketika aku menyanyikan lagu kesukaannya sambil berjanji tidak akan pernah lagi melihatnya bersedih.

Sekarang aku tahu pasti, bukan uang semata yang bisa membahagiakan hidup seseorang. Melainkan hanya segenggam perhatian dan sebongkah kasih sayang tulus dari orang-orang yang paling dicintai.

Aku melirik ke angkasa biru yang mewarnai langit dan melihat Sang Surya bersinar terang dari balik gumpalan awan di kejauhan. Kemudian senyum penuh kelegaan teruntai di bibirku. Matahari cinta akan senantiasa bersinar. Menjagaku dan menghujaniku dengan kehangatannya yang tanpa menuntut balasan. Seperti halnya cinta seorang ibu yang tidak akan pernah usai di sepanjang jalan dan masa….

Ma, Ian sayang Mama….

Sumber ??

One Response to “MATAHARI CINTAKU”

  1. Ariya Vanna Says:

    hiks….mengharukan banget T_T good story 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: