Menggapai Pelangi

Judul asli : Finding The Rainbow
@Dinni83

Pelangi, keindahan alam dalam warna warni. Ariana, gadis tomboi ini selalu menunggu datangnya keindahan itu bahkan dalam mimpi. Tapi satu yang dia lupa, untuk menemukan pelangi, gadis itu harus menghadapi hujan yang selimuti awan gelap.

Bagian 1
Gemuruh angin menyapu dedaunan di halaman yang baru saja kubersihkan. Langit terlihat semakin gelap walau waktu masih menunjukan pukul dua belas siang. Hujan besar sepertinya akan segera datang.
“Ariana,” teguran lembut dari arah belakang membuyarkan lamunan.
Wajah yang masih terlihat cantik walau di penuhi keriput tersenyum ke arahku. Sosok yang menjagaku sejak masih bayi dan sangat kusayangi. Tidak terukur rasa terima kasihku terutama sudah bertahan dengan sikapku yang sering membuat masalah.
“Iya nek, ada apa?” Tubuhku berbalik ke arahnya.
“Tidak baik anak gadis sering melamun. Kita makan dulu, sudah waktunya makan siang.” Nenek meraih jemariku, mengajakku pergi ke ruangan lain.
Rumah yang aku tempati bersama nenek dan kakek cukup besar. Di saat malam menjelang, keadaaannya agak sedikit menyeramkan. Kami tinggal di rumah ini sejak ku masih kecil untuk mampu mengingat.
Kedua orang tuaku sudah meninggal karena kecelakaan. Tidak ada foto keduanya, hanya foto ibu saat muda yang tersisa. Nenek pernah cerita, rumah kami sebelumnya mengalami kebakaran. Hampit semua barang termasuk foto hangus terbakar.
Kakek akhirnya memilih sebuah rumah dengan model lama di sebuah kota kecil. Jauh dari hingar bingar dan gemerlap layaknya kota-kota besar. Di tempat ini semua hampir saling mengenal. Udara dan pemandangannya masih bersih dari polusi.
“Kakek kemana nek?” Bola mataku berputar, mencari sosok laki-laki yang sudah kuanggap sebagai ayah sendiri.
Nenek memintaku duduk di meja makan. Berbagai aneka makanan terhidang, cukup banyak untuk di makan oleh kami bertiga. Mbak Ratmi, pembantuku sekaligus pengasuhku datang membawakan peralatan makan.
“Kakekmu ada keperluan. Kamu makan saja, tidak perlu menunggunya,” jawab nenek lalu menyodorkan piring ke arahku.
Aku segera makan walau masih kebingungan dengan keberadaan kakek. Setiap menjelang makan siang, sosoknya selalu menghilang dan muncul dengan pakaian yang terlihat kotor. Setiap pertanyaan selalu di jawab dengan dengan jawaban aku tidak perlu tau.
Lima menit kemudian kakek muncul dari ruangan lain. Pakaiannya tampak kotor oleh debu bahkan ada noda darah yang sempat mataku lihat. Nenek menyeret kursi yang didudukinya kebelakang. “Seleseikan makanmu, nenek mau menemui kakekmu dulu.”
Kepalaku menganggu, sudah terbiasa dengan kebiasaan nenek. Suasana kembali hening, menyisakan diriku di ruangan sebesar ini. Aku mulai bosan dengan ketenangan seperti ini, jiwa pemberontak meminta keberanianku untuk pergi dari rumah.
Sejak kecil duniaku tidak jauh dari rumah dan kota ini. Kakek terutama nenek sangat melarang diriku untuk pergi jauh. Niatku selalu menciut saat keduanya beralasan hanya tinggal diriku seorang harapan mereka sepeninggal ibuku. Tidak tega juga meninggalkan keduanya yang sudah tulus merawatku.
Kakek dan nenek muncul selang beberapa menit. Baju yang di pakai kakek sudah berganti. Keduanya duduk dengan saling diam. Raut wajah nenek seperti orang yang habis menangis.
“Kek, boleh tidak Ariana kerja di luar kota?” tanyaku, mengulang kata-kata itu kesekian kali.
Nenek menoleh dengan pandangan tidak suka sementara kakek hanya diam. “Kamu belum menyerah?”
“Belum,” tegasku dengan kepala terangkat. Berbeda dengan gadis-gadis seusiaku disini yang cenderung manis dan pendiam, sikapku lebih berani dan tomboi.
“Tidak perlu membahas soal itu lagi. Tempatmu disini, di luar sana banyak orang jahat Ari.” Panggilanku sejak kecil sering membuat orang salah paham dengan sosokku.
Kuhela nafas, mencari kata-kata yang bisa melunakan kekerasan hati orang tua di depanku. “Orang jahat bisa berada dimana saja termasuk di kota ini. Ariana butuh pengalaman hidup selagi masih muda. Nenek tidak perlu khawatir, Ariana tidak bodoh untuk terjerumus pergaulan bebas. Jaraknya juga tidak jauh, setiap weekend Ariana pasti pulang.”
Nenek berdiri, menatapku dengan amarah lalu pergi. “Sekali tidak boleh tetap tidak boleh!”
“Kita bicarakan lagi nanti, biar kakek yang bicara pada nenekmu. Lanjutkan makanmu.” Perasaanku menjadi tidak enak melihat dua sosok yang kusayang menghilang dari pandangan.
Nafsu makanku pergi entah kemana. Kulangkahkan kakiku menuju ruang tamu yang cukup luas. Menyingkap tirai, mengintip dari balik jendela keadaan di luar.
“Mau kemana non?” tegur mbak Ratmi saat tanganku membuka pintu.
“Mau keluar, cuma di halaman.” gerutuku agak ketus. Terpaksa aku bersikap seperti itu jika tidak mau diikuti terus.
Pembantuku itu mengangguk. “Ya sudah hati-hati non, sepertinya mau hujan.”
Aku segera melangkah keluar, mencari udara segar. Langit sepertinya siap memuntahkan isinya, memberi kehidupan pada bumi yang kutinggali. Udara yang semakin dingin belum mampu membawaku kembali ke rumah.
Tanganku meraih payung yang sengaja kubawa, membukanya lalu pergi melalui pagar belakang. Jarak antar rumah di daerah yang kutinggali cukup jauh. Bangunannya besar-besar dan mewah, mungkin hanya rumahku yang terlihat kuno.
Sebagian besar penghuninya hanya menjadikan bangunan itu sebagai villa. Itu artinya pada saat hari biasa, hampir semua bangunan itu sepi. Hanya ada pembantu dan penjaga rumah yang terlihat. Begitupun dengan hari ini, jalanan yang kulalui sepi sekali.
Langkahku tiba-tiba terhenti, sebuah mobil mewah berwarna silver berhenti tidak jauh dari tempatku berdiri. Seorang perempuan keluar dengan sikap penuh amarah. Tangannya membanting pintu dan pergi ke sisi jalan.
Sesosok laki-laki muda keluar dari pintu pengemudi. Dia berjalan ke arah wanita itu. Entah apa yang keduanya perdebatkan. Sialnya seperti terhipnotis, kakiku sulit untuk kugerakan. Biasanya aku tidak suka ikut campur dan memilih pergi jika ada kejadian seperti ini.
Dua buah mobil muncul dan ikut berhenti dibelakang mobil pertama. Beberapa laki-laki keluar, menghampiri pasangan yang bertengkar itu. Lagi-lagi aku hanya bisa jadi penonton.
Kuhela nafas panjang, untuk melanjutkan perjalanan sepertinya sudah tidak mungkin. Sebaiknya, aku kembali saja ke rumah sebelum mereka menyadari kehadiranku.
“Sudah selesai menonton film gratisnya?” Sesosok laki-laki tampan berdiri tepat saat tubuhku berbalik. Pemandangan tadi membuatku tidak sadar kalau ada mobil yang berhenti disampingku.
Dia menatapku dari ujung rambut hingga kaki dengan pandangan menyelidik. Begitu juga dengan diriku, menilai secara fisik laki-laki didepanku. Umurnya sepertinya sekitar tiga puluhan lebih. Bola matanya hitam lengkap dengan sorot mata tajamnya. Hidungnya mancung dengan rahang kokoh membingkai wajah tampannya. Kaca mata yang di pakainya membuatnya terkesan dewasa. Badannya juga bagus, terlihat pandai menjaga diri. Tidak buruk juga.
“Apa yang saya lihat bukan urusan anda,” balasku mengambil langkah ke sampingnya.
Seorang wanita berpakaian super sexy keluar, seperti halnya laki-laki didepanku. Matanya menatapku dengan cara dan pandangan yang sama, merendahkan nilai diriku. Hal seperti ini sudah sering kualami sejak kecil. Hidup tanpa kehadiran orang tua sering membuatku menjadi bahan ejekan anak-anak lain. Di tambah dengan warna kulit yang cenderung pucat dan wajah indo yang kumiliki sempat membuatku lebih suka mengurung diri di rumah.
Nenek memang sempat cerita kalau ayahku bukan berasal dari negara ini. Keberadaan keluarga dari ayahku tidak diketahui karena saat menikahi ibuku, ayah tidak mendapat restu dari keluarganya. Silsilah keluarga dari pihak ayah, menguap begitu saja semenjak ayahku meninggal karena kecelakaan.
“Sayang, siapa anak ini?” wanita itu bergelayut mesra di lengan laki-laki disampingnya. Anak? setinggi ini di bilang anak-anak. Dasar tante-tante genit.
“Bukan siapa-siapa cuma orang biasa. Ayo kita pergi, kamu tidak suka kalau kehujanan bukan.” Melihat gara merayu laki-laki ini membuatku perutku mual.
Aku masih belum beranjak, menyabarkan diri supaya tidak terbawa emosi. Laki-laki dan wanita menyebalkan itu bersiap masuk ke mobil. “Hei, ngapain kamu berdiri disitu, merusak pemandangan saja.”
“Ini juga mau pergi tante,” balasku dengan senyum puas. Bagaimana tidak ucapanku berhasil membuat raut wajah wanita itu memerah menahan marah.
Hujan turun cukup lebat setelah aku tiba di rumah. Kepergianku tadi menjadi bahan omelan saat menonton televisi di ruang tengah. Nenek sepertinya semakin berat melepasku, belum satu jam aku pergi ributnya seperti sudah hilang berminggu-minggu.
“Sudahlah sayang tidak perlu memarahinya, itu hanya akan membuatnya semakin tidak betah berada disini. Sebaiknya kita bersiap, kamu tidak lupa kalau malam ini kita akan kedatangan tamu istimewa?” Kakek berusaha menengahi.
“Benar juga, aku sampai lupa. Ariana jaga sikapku saat tamu kita datang nanti.” Nenek bangkit dan menghilang ke arah dapur.
Bola mataku perputar ke arah kakek. “Siapa tamunya kek? seistimewa apa?” Selama ini kami jarang sekali kedatangan tamu. Orang tua ibuku ini bisa dibilang cukup tertutup dengan warga sekitar.
“Teman kakek dulu saat sekolah. Dia kebetulan membeli rumah di daerah ini dan rencananya malam ini akan datang bersama anaknya. Kamu tidak perlu heran kalau melihat usia anaknya, teman kakek itu bisa dibilang cukup sulit mempunyai anak. Usia anaknya mungkin lebih cocok dibilang cucu. Pokoknya tidak perlu membicarakan atau bertanya soal itu.” Pesan kakek terdengar seperti ancaman serius.
Tepat jam tujuh malam, tamu yang di maksud datang. Suasana rumah yang biasanya sepi kini terdengar lebih ramai, apalagi kalau bukan nenek yang menjadi seksi repot. Aku sendiri, memilih duduk santai menikmati acara drama korea yang memang kutunggu-tunggu. Untuk membuatku betah, kakek akan melakukan apa saja termasuk dengan memasang tivi kabel.
Jeweran di kuping memaksaku berdiri. “Ariana, tamunya sudah datang. Ayo temui dulu.” Nenek sudah berdiri dengan mata melotot. Kakiku menghentak karena gusar harus melewatkan acara yang kusuka. Seistimewa apa sih tamu ini, sampai kakek dan nenek yang biasanya tenang menjadi super sibuk.
Mataku menyipit saat melihat seseorang yang yang sedang duduk di antara kakek dan laki-laki seumuran dengan kakekku. Tidak salah nih tamu istimewanya orang seperti dia?
“Ah kenalkan ini cucuku satu-satunya, Ariana Malika Prashanty.” Kakek memperkenalkanku pada dua laki-laki didepannya.
“Cucumu cantik sekali,” puji teman kakekku yang bernama Dirga Pramana. Dia memintaku di panggil om saat melihatku bingung harus memanggilnya dengan sebutan apa.
Aku duduk disamping kakek setelah menyalami keduanya. Sikapku biasa saja walau sebenarnya ingin segera pergi dari ruangan ini.
“Ariana, ini putra tunggal teman kakek, namanya Galang Adhipramana. Dia kebetulan sedang berlibur di sini.” Kepalaku manggut-manggut, pura-pura belum pernah melihatnya.
Laki-laki didepanku bersikap sama, dia terlihat seolah ini pertemuan pertama kami. Om Dirga tersenyum ke arahku yang sedikit-sedikit melirik ke arah ruang tengah. Episode malam ini sedang seru-serunya hingga terbawa mimpi.
“Kenapa? ada sesuatu?” tanya om Dirga menghentikan pembicaraannya dengan kakekku.
“Lagi nonton drama korea om…” cubitan nenek di lenganku berhasil membuatku diam.
Om Dirga tertawa renyah. “Tidak apa, pembicaraan kita mungkin membosankan untuk anak muda. Kenapa kalian berdua tidak menonton saja?”
“Tidak pah, bukannya tidak sopan pergi disaat tamu masih belum pulang.” Senyumku hilang saat mendengar penolakan laki-laki menyebalkan ini.
“Kamu kenapa bicara seperti itu? ” tegur om Dirga agak kesal.
“Tidak apa om, acaranya memang untuk orang biasa” sindirku yang di balas dengan delikan mata.
Galang bangkit. “Baiklah, Galang akan menemaninya menonton.” Jujur saja moodku sudah menghilang saat mendengar jawabannya tadi. Laki-laki itu tampak tidak peduli dengan perubahan rauit wajahku yang tidak bisa kusembunyikan. Dengan langkah santai, dia mengikutiku ke ruang tengah.
Keheningan menyelimuti kami berdua selain suara dari televisi. Mataku kembali fokus pada layar televisi, mengindahkan laki-laki menyebalkan ini yang mulai terlihat bosan. Sesekali dia menggerakan badannya dan menatap sekeliling ruangan.
“Kamu tidak punya pacar?”
“Penting untuk aku jawab,” balasku dengan mata masih tertuju pada layar televisi.
Senyumnya terlihat mengejek. “Kalau sudah punya pacar, tidak mungkin malam minggu begini diisi dengan menonton drama romantis sendirian.” Kata terakhir di ucapkannya dengan penekanan.
Kesabaranku mulai menipis. “Kamu sendiri sudah punya pacar?”
Matanya menyipit. “Memangnya kamu tidak lihat wanita yang bersamaku tadi atau pura-pura buta. Seribu wanita seperti itu bisa kudapatkan dengan mudah. Kalau saja bukan karena permintaan ayahku, saat ini aku sedang bersenang-senang dengan pacar dan teman-temanku.” Benar-benar deh, jika tidak ingat dia tamu di rumah ini, sudah kulempar wajahnya dengan bakiak milik mbak Ratmi yang super tebal.
Bola mataku berputar ke arahnya. “Anda tau tuan Galang yang terhormat, seharusnya laki-laki seumurmu sudah mulai untuk berpikir menata masa depan. Sayang sekali, disaat laki-laki lain bahagia dengan anak dan istrinya, anda masih kesulitan mencari pendamping hidup. Kenapa saya bisa bilang begitu? seperti yang anda bilang tadi, diantara seribu wanita yang anda bisa dapatkan dengan mudah, tidak ada satupun yang akhirnya anda pilih untuk menghabiskan hidup bersama bukan. Jadi sebelum menyindir orang lain, lihat dulu diri sendiri.” Sengaja kugunakan kata anda untuk menyindirnya.
Galang menggeram, ocehanku sepertinya menyinggung perasaannya tapi aku tidak peduli. “Kamu…” Kedua tangannya mengepal.
“Kenapa harus marah? bukannya anda yang memulainya lebih dulu. Saya tidak akan munafik, penampilan anda memang menarik tapi tetap saja itu tidak mempermudah anda mencari pendamping hidup. Mau bersenang-senang sampai kapan kalau usia dan fisik semakin berubah seiring waktu,” lanjutku tetap tenang. Masa bodoh dia semakin marah atau tidak.
Laki-laki itu bertepuk tangan dengan pelan. “Jadi aku harus peduli dengan kata-katamu? anak baru kemarin sore.”
Bahuku terangkat. “Tidak. Apa yang saya katakan tadi hanya membalas ucapan anda. Mau didengar atau tidak, bukan urusan saya. ”
Laki-laki itu kembali terdiam, dia memilih memainkan ponselnya. Entah menyerah atau memang berusaha menahan diri. Bagus deh, setidaknya telingaku tidak lagi tercemar polusi pendengaran. Sekilas kulirik laki-laki yang masih memasang raut marah itu, kenapa perasaanku mengatakan sepertinya masalahku dengan dia tidak akan berakhir hanya sampai malam ini ya. Kuharap tidak perlu lagi melihat sosoknya setelah minggu ini selesai.
==========
Bagian 2
Semalaman nenek menasehati sikapku yang dianggapnya tidak sopan. Nenek memang sangat memperhatikan yang hal yang berkaitan dengan tata krama. Kedua tanganku memeluk bantal, memandang tanpa semangat. Nasehat yang sudah sering kudengar semenjak aku mulai bisa berpikir bahkan sudah hafal di luar kepala.
“Biarkan Ariana mencari pengalaman hidup nek, siapa tau setelah kembali sikap ada perubahan.”
“Tidak! untuk berubah, kamu tidak perlu sampai meninggalkan kota ini,” tegas nenek dengan wajah serius.
Kuletakan bantal tadi di sofa. “Iya, nenek sudah mengatakannya ribuan kali. Ariana mau tidur, capek.” Kakiku segera melangkah, meninggalkan nenek dan kakek yang menggelengkan kepala melihat kekerasan hatiku.
Sebenarnya tanpa sepengetahuan nenek, aku sudah mengirimkan beberapa lamaran pekerjaan di kota lain. Dengan usia yang menurutku masih muda, ada banyak impian yang ingin aku raih. Tinggal selamanya di kota ini sama sekali tidak terlintas di kepalaku.
Bosan, kata yang hampir membunuhku di setiap hari. Terkurung dalam aturan yang akhirnya malah mengeluarkan jiwa pemberontak dalam diriku. Kenakalan demi kenakalan sering kulakukan dari mulai hal kecil hingga sebesar ini. Bersama partner in crimeku, dua sahabat paling dekat sejak kecil. Reno dan Mia, keduanya selalu menjadi pendukung sekaligus pengikut disetiap aksiku.
“Butuh bantuan nih, please.” Bunyi pesan terdengar.
Dengan cepat tanganku mengetik balasan. “Bantuan apa malam-malam begini?”
“Seperti biasa, jadi pengawas.” Kepalaku menggeleng pelan melihat balasan di layar.
Reno dan Mia belum lama ini mengikrarkan hubungan lebih dari teman. Kebersamaan yang terjalin sejak kecil membuahkan rasa diantara keduanya. Sayangnya, orang tua Mia kurang setuju dengan pilihan putrinya. Reno di anggap kurang cocok untuk bersanding dengan Mia. Sejak itu hubungan keduanya di lakukan sembunyi-sembunyi dan menjadikanku sebagai tameng.
“Tidak salah? Diluar hujan masih turun.”
“I miss Reno, sudah satu minggu aku tidak bertemu dengannya.” Hm..alasan bagus untuk meminta bantuan.
“OK, di tempat biasa ya? aku pergi sekarang nih.” Mau tidak mau, kuseret tubuhku dari ranjang.
Hujan masih belum menunjukan akan berhenti. Demi keduanya, aku harus mengabaikan dingin dan kemungkinan bajuku akan basah nanti. Sweater tebal sudah melapisi t-shirt yang melekat di tubuhku, bersiap untuk pergi. Taksi yang kupesan juga sepertinya sudah datang. Nenek memandangku dengan ekspresi tidak suka saat mengantarku ke teras.
“Ariana janji sudah kembali sebelum larut malam. Bukankah lebih baik Ariana pamit dan meminta izin daripada pergi sembunyi-sembunyikan nek” Kedua tanganku sibuk mengikat tali sepatu sambil duduk di kursi teras.
“Tapi ini sudah malam dan juga hujan. Seba…”
Aku menghela nafas. “Tolong deh nek, Ariana bisa menjaga diri sendiri. Bukan anak kecil yang harus diikuti kemanapun mau pergi. Nenek masih ingin melihat Ariana tinggal disini bukan?”
Nenek berdecak. “Terserah kamu tapi ingat, sebelum jam sepuluh harus sudah pulang. Kalau tidak..”
“Selama seminggu tidak boleh keluar rumah, begitukan?” ucapku memotong perkataan nenek. Sosok itu tidak lama menghilang di balik pintu.
Aku tidak bermaksud kasar hanya saja kondisiku benar-benar jenuh. Bertemu dengan teman-temanku adalah hal yang sedikit banyak membuatku terhibur. Kedua temanku itu cukup mengerti keadaanku.
Sepanjang jalan, mataku menatap ke arah lampu-lampu yang menghias kota. Dalam kegelapan dan derasnya hujan, cahaya temaram itu terlihat indah. Kota kecil ini terlihat sepi walaupun saat akhir minggu. Kebanyakan warga lebih memilih diam dirumah bersama keluarga apalagi hujan seperti ini.
Dulu saat masih kecil, aku suka bermain di tengah hujan walau sering berakhir dengan demam. Omelan nenek tidak kupedulikan dan memilih menari-nari di genangan air. Hal yang paling kusukai adalah kemunculan bayangan warna-warni di langit setelah hujan mereda. Kenangan yang selalu membuatku tersenyum sendiri.
Tubuhku segera menerobos hujan setelah membayar ongkos taksi. Sebuah cafe kecil jadi tujuanku, tempat biasanya aku dan kedua temanku menghabiskan waktu.
“Sorry ya ganggu waktu lo, soalnya males ribut kalau ketahuan gue jalan bareng sama Reno.”
“Kenapa tidak jujur saja. Kalian tidak capek main kucing-kucingan terus?”.
Mia merengut. “Kalau semudah itu, kita tidak akan repot seperti sekarang. Lo belum pernah suka sama seseorang sih.”
Bahuku terangkat. “Nggak deh untuk sekarang. Jangankan pacaran, keluar dari rumah saja sudah di tanya macam-macam. Lagipula masih banyak mimpi yang ingin gue capai dan punya pacar jadi nomor paling akhir di list gue.”
Mia tersenyum ke arahku. “Seperti kata lo tadi, kenapa tidak jujur saja. Gadis-gadis yang seusia kita setidaknya pernah pacaran walaupun baru satu kali. Berhubungan dengan seseorangkan tidak selalu identik dengan hal negatif. Bisa jadi pemicu kita untuk lebih baik juga.”
Kepalaku menggeleng. “Memang tapi sampai saat ini, perasaan gue belum tergerak untuk laki-laki manapun. Yang orang bilang ada getaran listrik atau apapun sebutannya, belum pernah kurasakan tuh.”
Reno hanya tersenyum masam. “Perasaan atau cinta tidak selalu datang disaat pertama kali melihat, dengan berlalunya waktu kebersamaan bisa menumbuhkan hal itu. Artinya walaupun lo tidak ada perasaan pada laki-laki yang baru lo kenal, tidak ada jaminan dikemudian hari perasaan lo tidak tergerak.” Tubuhku merinding saat bayangan laki-laki menyebalkan itu bekelebat. Asal bukan dia, laki-laki manapun boleh.
Kedua tanganku menutup telinga. “Sebaiknya lo berdua mengganti topik pembicaraan atau aku benar-benar akan pergi.”
Mia mendekat, menggelitiku pingangku. “Oh marah? gadis keras kepala ini bisa marah juga ya,” ejeknya.
“Kamu terlalu nyaman dengan duniamu yang sekarang. Ada hal yang harus lo ingat, dunia ini tidak seindah penampilan luarnya.”
Perkataan Reno masih terngiang sampai aku kembali ke rumah. Selama ini hidupku mungkin terlalu santai dengan kemanjaan yang diberikan kakek dan nenek. Aku tidak menutup mata juga telinga, kehidupan itu memang banyak lika-likunya. Itu sebabnya keinginanku untuk mencari pengalaman semakin besar. Tidak mungkin selamanya hidupku bergantung pada dua sosok yang sudah berusia senja.
Kepalaku berputar ke sekeliling ruang tengah yang tampak sepi. Kakek dan nenek sepertinya sudah tidur. Malam seperti ini, selalu memberiku ketidaknyamanan saat harus berada di luar kamar sendirian. Perasaan aneh yang memintaku untuk segera kembali ke balik selimut.
Pendengaranku menangkap suara-suara tidak jelas. Penasaran, kakiku terus melangkah hingga akhirnya tiba di gudang. Ruangan yang berada dibagian belakang rumahku ini jarang kulewati.
Kutempelkan telingaku pada pintu, rasanya suara-suara itu berasal dari dalam. “Non lagi apa malam-malam begini?”
“Aduh mbak, buat kaget saja. Ada suara dari dalam deh mbak.”
“Mungkin cuma tikus non. Sudah malam, sebaiknya non istirahat., ” sahut mbak Ratmi sambil tersenyum.
Benar juga sih, mahluk pengerat itu memang suka membuat suara-suara aneh terutama di dalam gudang. Mbak Ratmi masih berdiri di tempatnya saat aku melewatinya. Sempat kulihat matanya melirik ke arah gudang.
Hari berlalu berganti bulan demi bulan tanpa terasa, semua kembali normal terutama setelah keluarga Pramana pergi dari kota ini. Aku sendiri belum menyerah, mencari cara untuk melunakan perasaan nenek.
“Kamu yakin tidak mau ikut?” tanya kakek padaku yang berbaring di sofa ruang tengah. Kedua orang yang kusayangi ini bersiap untuk pergi ke luar kota pagi ini untuk menghadiri acara pertunangan anak teman kakek
Menurut cerita yang kudapat dari kakek, Galang, laki-laki menyebalkan itu akhirnya akan bertunangan. Om Dirga yang memilihkan calon pasangannya karena sudah lelah melihat putra satu-satunya main-main terus. Terlebih om Dirga ingin cepat-cepat mempunyai cucu.
“Ariana di rumah saja, tidak enak badan nih,” jawabku, memasang tampang orang yang sakit.
“Ingat ya, sakit bukan berarti kamu bisa seenaknya pergi keluar…” Kakek segera membawa nenek pergi, memotong ceramahnya yang ditujukan padaku.
Aku hanya tersenyum geli lalu kembali menikmati waktu bersantai. Keadaan rumah semakin sepi sepeninggal keduanya. Berjalan-jalan diluar juga malas, kondisi tubuhku memang kurang sehat.
Suara-suara yang pernah kudengar beberapa waktu lalu terdengar kembali. Samar sih tapi aku yakin tidak ada yang salah dengan pendengaranku. Mbak Ratmi hanya menjawab kalau mungkin itu hanya suara tikus.
Sebagian besar waktu bersama dengan kedua temanku atau menonton film. Mbak Ratmi sudah berjanji tidak akan melaporkanku selama aku pulang sebelum malam. Kesempatan seperti ini jarang terjadi, kapan lagi bisa pergi tanpa harus mendengar omelan dari nenek.
Kakek dan nenek pulang saat larut malam. Raut wajah keduanya tampak lelah, sepertinya perjalanan jauh tidak cocok untuk keduanya. Aku melirik mbak Ratmi yang menyodorkan minuman di meja.
“Gimana acaranya nek? meriah ga?” Setauku keluarga om Dirga cukup tersohor. Pesta yang di buatnya tidak mungkin biasa saja apalagi Galang putra satu-satunya.
Nenek duduk didepanku dengan kepala menggeleng. “Meriah darimana, acaranya gagal total. Teman kakekmu itu malah harus dilarikan ke rumah sakit.”
Posisiku berubah menjadi duduk. “Gagal bagaimana nek? Maksudnya om Dirga masuk rumah sakit?” tanyaku penasaran.
Kakek mulai bercerita tentang acara yang seharusnya dihadirinya. Singkat cerita, Galang tidak hadir di acara pada waktu yang telah di tentukan. Padahal Galang dan keluarga om Dirga sengaja menyewa kamar di hotel yang sama dengan tempat acara untuk menghindari kejadian seperti ini.
Galang tidak ditemukan di kamarnya, petugas hotel sempat melihat dia keluar bersama seorang wanita. Marah dan malu pada tamu, keluarga besar dan keluarga calon besan membuat tekanan darahnya naik dan pingsan. Kakek dan nenek sempat membesuk tapi tidak lama. Kabarnya, kondisi om Dirga sudah membaik.
Aku mencibir. “Tuh benarkan nek, tidak salah Ariana bersikap seperti waktu malam itu pada Galang. Umur saja sudah tua tapi sikap seperti anak kecil saja,” gerutuku, kasihan pada om Dirga.
“Mungkin Galang tidak menyukai calon pasangannya walaupun cara yang diambilnya keliru. Sudahlah tidak perlu membicarakan soal orang lain.” Kakek bangkit diikuti nenek menuju kamar.
“Oh ya kek, kita butuh pembasmi tikus sepertinya. ariana sering mendengar suara-suara dari gudang. sayangkan kalau barang-barang disana rusak karena digerogoti oleh tikus.” Langkah keduanya terhenti dan saling pandang dengan raut kaget.
Nenek menoleh kearahku. “Kamu tidak perlu mendekati ruangan itu, biar kakekmu saja yang mengurusnya.” Keduanya lalu melanjutkan langkah, meninggalkanku sendiri. Kenapa kakek dan nenek terlihat kaget saat aku mengatakan soal suara di gudang? kurasa bukan hal yang aneh jika di ruang tertutup itu di huni oleh mahluk seperti tikus.
Sejak kejadian itu, beberapa kali kakek dan nenek menengok keadaan om Dirga. Seperti biasa, aku memilih tinggal di rumah hingga pagi ini. Nenek memaksaku ikut dengan alasan tidak enak pada om Dirga mengingat aku sama sekali belum pernah menjenguknya. Hal itu pula yang mau tidak mau membuatku ikut dengan keduanya.
Menjelang siang, kami baru tiba di rumah sakit. Di salah satu kamar vvip, om Dirga dirawat. Sosoknya yang terbaring lemah membuatku kasihan, membayangkan kakek berada di posisinya saat ini. Selang infus membelit tangannya yang tidak lagi muda.
“Ah Ariana datang ya,”ucap om Dirga saat melihatku memasuki kamarnya. Aku hanya membalas dengan senyuman, tidak tau harus bersikap seperti apa.
Galang, laki-laki menyebalkan itu berada di ruangan yang sama. Dia meletakan majalah yang di bacanya lalu berdiri, menghampiri dan menyalami kakek juga nenek. Laki-laki itu berhenti sejenak di hadapanku, memandangku sinis lalu menyodorkan punggung tangannya.
keningku berkerut. “Apa nih?”
“Salam, seperti katamu tempo hari, usiaku lebih tua darimu jadi kamu harus mencium tanganku.” jawabnya dingin.
Kutepis tangannya dari hadapanku. “Ogah.” Adu mulut terjadi diantara kami berdua. Kenapa setiap pertemuan kami, dia harus bersikap menyebalkan dan seolah menumpahkan kekesalannya padaku.
Om Dirga terkekeh, mungkin dia merasa pertengkarang kami menarik. Kakek dan nenek hanya diam saja walau sempat kulihat raut gusar di wajah nenek. “Kalian berdua sepertinya cocok ya. Kita jodohkan saja keduanya.” Celetukan om Dirga berhasil membuat perdebatan kami berhenti.
“Tidak mau!” jawab kami berdua bersamaan lalu saling memandang dengan saling melotot.
“Tidak lucu ayah, anak kecil seperti dia tau apa soal pernikahan.”
Kesal, kuinjak kakinya hingga Galang meringis kesakitan. “Hell-lo, lo tuh yang udah om-om tapi sikap sama kelakuan seperti anak kecil. Bisa rugi tujuh turunan gue nikah sama lo.” Nenek melotot ke arahku saat mendengar panggilanku ke Galang tadi.
“Sudah Galang, perkataan Ariana ada benarnya. Sikapmu memang belum dewasa Galang. Sebaiknya kamu mulai mencari pendamping hidup, ayah sudah lelah dengan sikapmu. Kamu mau ayah meninggalkan dunia ini sebelum melihatmu menikah? Kamu ingin menyuruh ayah menunggu berapa lama lagi.” Teguran om Dirga membuat kami berdua terdiam. Aku merasa tidak enak juga pada laki-laki disampingku.
Galang menghela nafas, pamit lalu memilih pergi keluar. Dia mungkin merasa kesal dengan permintaan ayahnya di saat masih ada tamu yang datang.
“Katanya gampang cari pacar, disuruh pilih satu saja susah banget,” sindirku dengan suara pelan saat melewatiku.
Galang menoleh sekilas, memberikan tatapan tajamnya dan kubalas dengan senyuman sinis. Suruh siapa jadi orang menyebalkan seperti itu. Aku segera menghampiri om Dirga, mendengarkan pembicaraan ketiganya.
“Maaf ya om, kalau kata-kata Ariana tidak sopan sama mas Galang,” ucapku pelan, mencoba bersikap sopan.
Om Dirga tersenyum. “Tidak apa, dia memang terlalu di manja. Anaknya agak sulit menerima penolakan dan kritikan dari orang lain terutama sepeninggal ibunya.”
Nenek menjewer kupingku. “Makanya kalau bicara sama yang lebih tua itu di pikir dulu, jangan asal ceplas-ceplos.”
“Jangan di marahi mbak, biar saja. Jarang-jarang saya melihat Galang bersikap seperti tadi.” Om Dirga menepuk jemariku.
Aku duduk di sofa sementara kakek dan nenek masih mengobrol dengan om Dirga. Beberapa menit kemudian pintu terbuka, Galang muncul dengan wanita yang kulihat waktu itu bersamanya. Pakaian wanita itu terlihat lebih sopan walau make up yang dipakainya tebal sekali seperti orang mau ke pesta.
Dalam hitungan detik, raut om Dirga berubah, ketidaksukaannya terlihat jelas. Wanita itu tampak tidak peduli, dia merasa Galang akan berada disisinya walau om Dirga tidak setuju. Tubuhku hanya bisa membeku melihat pertengkaran antara ayah dan anak terjadi didepan mata.
Kakek dan nenek berusaha untuk menengahi, menenangkan suasana yang semakin tidak nyaman. “Ayah sendiri yang minta aku untuk mencari pasangan hidup. Kenapa sekarang tiba-tiba bersikap seperti ini? Tidak bisakah ayah menerima wanita yang pilihanku?” Galang memeluk wanita disampingnya yang mulai menangis. Menenangkan dan entah berbisik apa di telinganya.
“Wanita macam apa yang kamu bawa. Calon istri seperti ini, wanita yang suka hura-hura, berpakaian minim dan suka keluyuran setiap malam. Memangnya ayah tidak tau apa yang kamu dan teman-temanmu kerjakan!” bentakan om Dirga semakin memanaskan suasana.
Kepanikan datang saat tiba-tiba om Dirga memegang dadanya dengan kesakitan. Dokter juga suster segera datang dan menyuruh kami keluar dari ruangan. Galang membawa wanita itu pergi setelah kakek bicara dengan keduanya.
Aku hanya duduk dan menunggu bersama nenek. Seberapa susah sih memilih wanita baik-baik untuk membahagiakan orang tua sendiri, gerutuku dalam hati.
Dokter keluar dari kamar, memberitau kalau kondisi om Dirga baik-baik saja. Kami di perbolehkan masuk tetapi disarankan untuk tidak banyak mengajaknya bicara. “Andai wanita pilihan Galang seperti dirimu,” ucap om Dirga saat aku menghampirinya.
“Jangan deh om, nanti om sama mas Galang nyesel sudah milih Ariana,” candaku yang di balas tawa renyah. Pernikahan memang bukan jadi prioritasku saat ini.
Nenek mendelik. “Mengurus diri sendiri saja belum bisa, bisa repot nanti kalau harus ngurus suami.” Ish nenek senang sekali mengeluarkan kata-kata pedas sih.
Aku pamit pada ketiganya dan pergi ke kantin, perutku sudah berterik minta diisi. Mataku melihat sosok yang sedang duduk saat akan menuju kantin. Galang agak membungkuk, menatap taman didepannya dengan pandangan kosong.
“Hei, ayahmu sudah selesai diperiksa tuh. Sebaiknya temui dia dan minta maaf padanya,” ucapku setelah berada tidak jauh darinya.
Dia menoleh sekilas lalu kembali menatap ke arah taman. “Tidak perlu ikut campur, kamu bahkan bukan keluargaku.”
“Aku hanya memberitaumu. Setidaknya pikirkan perasaan ayahmu, orang tua kandungmu. Pengalaman hidupku memang belum sebanyak dirimu tapi ketahuilah tidak semua anak seberuntung dirimu. Aku bahkan tidak sempat merasakan kasih sayang kedua orang tuaku, mengingat wajahnya saja tidak bisa. Laki-laki dewasa sepertimu pasti bisa berpikir dengan baik bukan?” Kuteruskan perjalananku, melewatinya yang masih terdiam.
“Kamu mencoba menarik simpatiku dengan masalahmu,” ucapan sinisnya menghentikan langkahku.
Kuhela nafas panjang, susah bicara dengan manisa kepala batu.. “Menarik simpati dirimu? Sayang sekali, aku tidak memiliki perasaan hingga harus berusaha menarik simpatimu. Aku hanya tau, kebaikan yang keluar dari mulut seorang anak kecil sekalipun layak untuk didengar.”
Galang tidak membalas dan akupun tidak peduli. Hidupnya bukan urusanku begitu juga sebaliknya. Apa yang kukatakan tadi hanya karena kasihan melihat sosok lemah om Dirga.
Aroma dan pemandangan rumah sakit tidak pernah membuatku betah. Sebenarnya sudah sejak tadi, aku ingin mengajak kakek dan nenek pulang tapi tidak enak pada om Dirga. Keluarga besarnya berada di kota yang berbeda sementara istrinya sudah lama meninggal. Kehadiran sahabat tentu cukup membuatnya bahagia. Mataku berhenti berkeliling, dengan cepat menghabiskan roti dan air mineral yang kubeli dari salah satu kios.
Keheningan menyambut saat aku kembali dari kantin. Galang berdiri disamping ayahnya, begitu juga kakek dan nenek. Tatapan serempak mereka ke arahku yang baru saja memasuki ruangan membuahkan pertanyaan dikepalaku.
“Ariana kemari sayang,” panggil om Dirga dengan suara lemah.
“Ya om. Ada apa?”
Jemariku di raihnya dengan lembut. Perasaan tidak enak muncul begitu saja. Di tambah dengan sikap nenek dan kakek yang sejak tadi menatapku terus. Apa yang akan kudengar mungkin bukan hal yang kuinginkan.
“Kamu mau jadi pacar Gilang?”
Aku tersedak mendengar pertanyaan laki-laki yang terbaring lemah disampingku. “Bercandanya tidak lucu om. Mas Galangkan teman wanitanya banyak, cantik-cantik lagi. Ariana sepertinya tidak cocok deh”
“Galang yang minta kok, dia bilang akan menerima pilihan om jika orangnya adalah kamu. Kakek dan nenekmu juga setuju.”
Kepalaku menoleh ke arah Galang. Dia menatapku dengan kedua tangan bersilang didadanya. Senyum sinisnya seolah mengejek keberanianku. Laki-laki ini mau membalas kata-kataku tadi dengan memanfaatkan rasa kasihanku pada om Dirga sepertinya.
“Kamu maukan, om tidak memintamu untuk cepat-cepat menikah. Kalian bisa memulainya dengan menjalin hubungan dulu, kalau tidak cocok, om tidak akan memaksakan kalian untuk menikah. Bagaimana? Kamu mau ya,” pinta om Dirga dengan sorot penuh harap.
Oh Tuhan, harusnya tadi aku menolak ajakan nenek datang ke sini. Menjalin hubungan dengan laki-laki ini sama sekali di luar dugaanku. Bagaimana mungkin aku bisa menjalin hubungan dengan laki-laki yang sama sekali tidak kusukai. Tampan sih tapi sifat playboy dan menyabalkannya sudah tidak tertolong.
“Ariana?” tegur om Dirga, mengingatkan kembali pertanyaannya.
Galang berjalan memutar hingga berada tepat disampingku. “Kenapa tidak menjawab, kamu tega menolak permintaan ayahku yang sedang sakit,” bisiknya. Sial, laki-laki ini sepertinya memang ingin menyiksaku.
“Ariana?” tegur om Dirga, mengingatkan kembali diriku pada pertanyaannya. Sikapku yang kebingungan membuat senyum di wajah Galang tidak menghilang.
Perasaanku tidak menentu, apapun pilihanku akan berpengaruh pada hidupku kelak. Berpikirlah baik-baik Ariana jangan salah pilih, gumanku dalam hati. Aduh bagaimana ini?
“Om…mm..Ariana terima tapi kalau tidak cocok dan kami memilih berpisah, tidak apa-apakan om?” Ingin sekali kupukul laki-laki yang sudah membuatku susah seperti ini.
Senyuman menyungging di wajah om Dirga. “Iya tidak apa, jalani saja. Kita lihat saja nanti kedepannya.”
Diluar dugaanku, nenek yang biasanya sinis jika ada laki-laki yang mendekatiku tampak senang. Begitupula dengan kakek, terlihat sekali kalau keduanya memang bahagia dengan keputusanku. Lalu aku? terpaksa sementara ini harus bersandiwara.
“Selamat datang di neraka,” ucap Galang dengan senyum puas saat dia mengajakku bicara di luar, menjauh dari ketiga orang yang masih asik membicarakan soal rencana hubungan kami berdua.
Aku mendelik sebal. “Ya, neraka yang kamu ciptakan akan membakar dirimu sendiri. Ingat itu!”
“Permintaanku untuk memilihmu hanya karena ingin membuat ayahku senang. Jangan berpikir semua ini kulakukan karena aku mempunyai rasa padamu.”
Kepalaku menggeleng, sayang sekali penampilan fisik dan sifatnya berbanding terbalik. “Siapa yang senang, tidak usak sok kecakepan deh. Bagiku kamu tidak lebih istimewa di banding laki-laki yang hanya kebetulan lewat dijalan. Dan tentu saja kamu tidak diperbolehkan mempunyai rasa padaku karena aku tidak berniat menjalin hubungan ini dalam jangka waktu lama.”
Galang menggeram dengan mata melotot. “Kamu…!”
Badanku berbalik kembali menuju kamar om Dirga tanpa memperdulikannya. Berbicara dengan laki-laki ini lebih lama hanya akan menyulut emosiku. Mimpi buruk apa aku semalam hingga harus menghadapi kejadian seperti ini. Neraka yang sepertinya akan segera dimulai. Argh…
============
Bagian 3
Om Dirga menawarkan kami menginap di salah satu aparteman miliknya keluarganya. Dengan kondisi kakek dan kemampuan menyetirku yang tidak bisa di andalkan, terpaksa kuikuti permintaan nenek dan kakek. Awalnya aku menolak, tidak ingin terkesan memanfaatkan kebaikan teman kakek ini.
Galang mengantar hingga kami tiba sebuah ruangan besar dengan dua kamar terpisah, sikapnya dangat sopan berbeda jika hanya berdua saja denganku. Dengan mudah, dia berhasil menarik simpati nenek. Aku tidak menyukainya, hal ini bisa akan mempersulit di saat nanti kami harus berpisah. Lagipula tidak ada rasa di antara kami.
“Selamat istirahat nek, kek, kalau ada apa-apa, telepon saja.” Laki-laki sombong itu menaruh sebuah kartu nama di meja.
Nenek menepuk lembut bahu Galang. “Terima kasih ya nak. Jaga ayahmu, jangan suka bertengkar. Bagaimanapun kerasnya, dia sangat menyayangimu.”
Kepalanya mengangguk. “Terima kasih nek, Galang pulang dulu,” ucapnya bersiap pergi. Dia sama sekali tidak menolehku saat membalikan badan.
Aku duduk disofa, tidak tertarik untuk melihat seisi ruangan. Menekan tombol remote tanpa tau harus menonton acara apa. Pikiranku tidak berada disini.
“Kenapa cemberut terus? Galang itu anak baik, latar belakang keluarganya juga jelas. Banyak gadis diluar sana yang mengharapkan bisa bersanding dengannya.”
“Tapi Ariana tidak cinta sama dia nek. Lagipula umurnya juga terlalu jauh, serasa punya pacar om-om.”
“Cinta akan datang sendiri nanti, kakek sama nenek juga dulu di jodohkan dan bisa bertahan sampai sekarang. Umur bukan masalah, nenek rasa dia bisa membimbingmu.”
Tubuhku bangkit, tidak ingin memperpanjang perdebatan. “Ini bukan jaman siti nurbaya lagi nek. Kakek sih baik, nah Galang, sombongnya amit-amit, belum lagi dia kan punya juga sudah punya pacar.”
“Berhenti mengeluh dan terima saja dia. Jangan mengulang kesalahan i…” kalimat nenek tiba-tiba berhenti. Bola matanya berputar ke arah laki-laki disampingnya.
Kakek tersenyum, berdiri lalu menghampiriku yang masih menunggu kalimat nenek. “Tidak perlu dibahas lagi ya. Kamu pasti sudah lelah, istirahatlah. Besok kita harus pulang pagi.” Kepalaku hanya bisa mengangguk walau masih penasaran kenapa nenek tidak menyeleseikan perkataannya.
Kamar yang kutempati sangat nyaman dan terlihat mewah. Ranjang yang super duper empuk menjadi pelabuhan terakhirku sebelum memasuki dunia mimpi. Tidak butuh waktu lama bagiku untuk segera tertidur.
Alunan nada dering dari ponselku memaksa mataku terbuka. Setengah sadar, tanganku meraih tas dan mengeluarkan ponsel. “Hallo..,” sapaku dengan suara serak pada si penelepon.
“Kamu tidur ya? Pantas dari tadi tidak keluar. Sekarang bangun dan buka pintu, aku sudah menunggu sejak setengah jam lalu disini!”
Tanganku yang bebas menggosok mata, mengedarkan pandangan. “Ini siapa sih, ngomel-ngomel tidak jelas.”
“Gue Galang, pacar kamu! Cepat buka pintunya.” Ku jauhkan ponsel dari telingaku.
Aku segera keluar dari kamar dan mendapati note yang memberitau kalau kakek dan nenek sedang pergi keluar. Pantas tidak ada yang membukakan pintu, tapi untuk apa laki-laki ini datang lagi. Belum cukup dia membuatku susah dengan permintaannya.
Sosok tinggi dan tampan itu berdiri menatapku yang masih berantakan. Dia menatapku dari ujung kaki sampai rambut. “Ada apa, bangunin orang malam-malam?”
Galang melewatiku tanpa meminta izin. Kantong plastik yang di bawanya di taruh di meja. “Ayah memintaku membawakan kalian makanan. Kakek dan nenekmu memberitau kalau sedang keluar dan hanya ada dirimu.”
“Sudah selesai urusannya? Pulang deh, aku mau melanjutkan tidur.”
Alih-alih menurut laki-laki itu sengaja duduk disofa. “Kamu juga duduk, kita bicara selagi tidak ada orang.” Selama itu bisa mempercepat kepergiannya, apapun aku turuti deh.
“Mau bicara apa lagi?” Pikiranku masih belum sepenuhnya sadar.
Raut wajahnya berubah serius. Tatapannya seperti menusukku dengan bola matanya yang kecoklatan. Sorot lampu yang temaram membuatnya terlihat lebih…menarik, aku harus mengakuinya. “Untuk kamu ketahui, dengan mengiyakan permintaan ayahku di rumah sakit tadi. Itu artinya kamu siap dengan semua resikonya. Ayahku pasti akan memberitau hubungan kita pada rekan kerja atau keluarga besar kami. Untuk itu kita beri batasan pada hubungan ini, pacaran atau apapun sebutannya hanya berlaku jika berada di lingkungan keluarga kita. Itu artinya saat kita diluar itu, kehidupan kita tidak ada yang berubah. Aku bebas dengan duniaku begitupun sebaliknya. Tidak ada larangan atau protes darimu kalau aku berkencan dengan wanita manapun. Dan satu lagi, panggil mulai sekarang hentikan kebiasaanmu memanggiku dengan aku atau lo.”
Kepalaku mengangguk. “Setuju, sebaiknya kita tidak saling menganggu privasi masing-masing. Mas Galang tidak berniat meneruskan hubungan ini lebih lama bukan? maksudku apa tidak sebaiknya mas Galang mencari pendamping yang cocok.” Panggilanku padanya resmi berubah dan harus membiasakan diri.
“Memangnya kenapa? ada laki-laki yang kamu sukai? sementara ini mas belum terpikir ke arah sana, terikat pada satu wanita bukan pilihan saat ini. ” ucapnya dengan tenang.
“Sekarang sih belum ada, tapi kalau suatu saat nanti Ariana menyukai seseorang maka hubungan ini tidak bisa diteruskan. Mas setujukan?”
Dia menatapku dalam diam. “Kita lihat saja nanti.” Seharusnya aku sudah bisa menebak kalau dia akan menjawab seperti itu.
“Sebaiknya kamu tidak memakai pakaian seperti ini kalau ada ayah atau laki-laki lain,”
Bola mataku berputar ke arahnya.” Bukannya tadi mas bilang untuk tidak saling melarang. Jangan bilang kalau mas Galang belum pernah melihat tubuh polos wanita,” balasku yang berhasil membuatnya diam. Sebenarnya aku sendiri tidak sadar menemuinya dengan hanya mengenakan balutan tanktop dan celana pendek tipis. Sudah terlanjur, kubuang malu dan gengsiku, bersikap senormal mungkin.
“Terserah, selama tidak mempermalukan nama baik keluarmu dan keluargaku.” Cih, bukannya kamu yang selama ini mempermalukan nama keluarga.
Aku bangkit. “Sudah itu saja?” usirku secara halus.
Galang tidak bergeming, tetap duduk dengan tenang. “Nenekmu memintaku untuk menjagamu sampai dia datang.”
Kuhempaskan kembali tubuhku, memandanginya dengan gusar. “Ariana bukan anak kecil yang harus ditunggui, memangnya mas Galang tidak ada urusan lain apa.”
Bahunya terangkat. “Sebenarnya mas juga malas tapi terlanjur berjanji pada nenekmu dan tidak sopan rasanya kalau melanggarnya.” Senyum terlihat mengejek.
“Huh, tunggu saja kalau begitu. Ariana mau ke kamar saja.” Tubuhku bersiap berdiri kembali.
“Enak saja, mas bukan penunggu rumah. Temani mas sampai kakek dan nenekmu pulang.” Perintahnya untuk mengurungkan niat pergi, memaksaku berada satu ruangan dengan laki-laki ini.
“Nih aki-aki banyak maunya sih,” gerutuku dengan suara sangat pelan. Beruntung dia tidak mendengarnya, matanya masih menatap serius ke arah layar yang sedang menampilkan model-model cantik.
Suasana kembali hening, hanya suara dari televisi yang terdengar. Rasanya sangat tidak nyaman hanya berdua seperti ini, kuharap kakek dan nenek cepat kembali sebelum laki-laki ini membuatku lebih susah.
“Ambilkan minum. Air mineral yang ada di meja dekat lemari.” Tuh benarkan yang kuperkirakan, mulai berani perintah-perintah sekarang.
Mulutku berdecak. “Punya kaki sama tangankan? mas saja ambil sendiri .”
“Mas adalah tamu dan kamu tuan rumahnya. Menurutmu siapa yang harus mengambilkan minuman?” Dia bahkan tidak menoleh ke arahku, model-model cantik itu menyita perhatiannya.
Kepalanya mendongkak ke arahku saat dengan sengaja aku menendang kakinya saat melewatinya sementara aku memasang raut polos. Tanganku meraih air mineral yang ditunjuknya lalu menaruhnya di samping laki-laki yang tampak masih kesal.
“Mas, pacar mas gimana? Dia tau soal hal ini?” Sengaja aku mengalihkan topik pembicaraan.
“Kita sudah sepakat untuk tidak saling ikut campur urusan pribadi. Jadi berhenti memikirkan apa yang bukan urusanmu.”
“Ariana cuma tanya karena tidak mau di anggap jadi orang ketiga dalam hubungan mas, kecuali mas sudah menjelaskan padanya kalau tidak ada perasaan di antara kita berdua,” balasku membela diri.
Galang meletakan ponselnya, tatapannya terlihat semakin tajam. “Tutup mulutmu dan duduklah dengan manis.”
Bibirku merengut. “Terserah kalau mas tidak mau jawab tapi cepatlah cari pendamping dan bawa pada om. Ariana tidak mungkin bisa menyukai seseorang sebelum hubungan kita berakhir.”
“Kenapa harus begitu? Mas tidak melarangmu berpacaran dengan laki-laki lain.”
“Memang tapi itu sama saja menyakiti perasaan pasangan Ariana nanti. Tidak ada laki-laki yang bisa menerima pasangannya terikat dengan orang lain apapun statusnya. Laki-laki juga manusia, punya hati juga.”
Dia terdiam dengan ekspresi yang tidak bisa kubaca. “Itu masalahmu! asal kamu tau, mas tidak berniat mengakhiri hal ini dalam waktu dekat, kamu mau seperti apa dan bagaimana, itu bukan urusan mas,” jawabnya dingin.
“Semoga mas tidak terlambat menemukannya.” Suaraku mendesis.
“Maksudmu?” Wajahnya semakin tegang.
“Ya, semoga disaat mas menemukan seseorang yang tepat, orang itu tidak pergi meninggalkan mas karena sikap mas yang seperti ini. Sudah ah, capek bicara dengan mas.” Aku bangkit meraih plastik berisi makanan yang dia bawa.
Perutku tidak terlalu lapar tapi ini lebih baik daripada melanjutkan perdebatan kami. Ku pikir dia akan lebih dewasa dengan umur yang bisa dibilang cukup matang. Pemikiran seseorang memang tidak bisa dipaksakan tetapi sepertinya bicara dengan dia selalu membuat urat di kepalaku muncul.
Sengaja aku menekan perasaan kesal dan sebal pada sosok yang saat ini masih memandangiku dengan sorot dingin. Bukan karena mulai menyukainya tapi memang tidak ingin membuat kebencianku berubah jadi suka, sayang atau cinta. Menjaga perasaan ini pada posisi yang semestinya, tidak lebih.
“Jadi perempuan jorok sekali sih, makan kok berantakan begitu,” sindirnya dengan kepala menggeleng.
Mataku tetap pada layar televisi dengan kedua tangan belepotan saos. “Tidak ada yang memaksa mas Galang untuk melihat. Tuh pintunya disana kalau ingin keluar.” Galang kembali terdiam. Maaf ya, aku bukan tipe wanita yang bisa dia intimidasi seenaknya.
Beberapa menit kemudian nenek dan kakek muncul. Sikap galang berubah drastis, gaya bahasanya menjadi sangat sopan. Dia bahkan membelaku saat nenek mengomeli cara makanku.
“Tidak apa nek, tidak perlu di marahi.”
Nenek masih berkacak pinggang, menatapku yang masih asik makan. “Dasar anak bandel.” Bola matanya berputar ke arah Galang.
” Maaf ya nak, sudah merepotkanmu,” lanjut nenek. Galang hanya tersenyum lalu tidak berapa lama pamit.
Dengan cepat, tanganku merapikan plastik berisi makanan tadi. Mengucapkan selamat malam lalu bergegas menuju kamar sebelum omelan nenek berlanjut. Kedua orang yang merawatku hanya menggelengkan kepala melihat sikapku.
Keesokan harinya, kami berangkat pagi sekali. Galang, dia ikut mengantar walau terlihat lelah. Dari cekungan hitam di bawah bola matanya, sepertinya dia tidak tidur semalaman. Tidak salah, dia pasti pergi bersenang-senang.
Hujan menyambut kepulangan kami. Berada di rumah sendiri setelah bepergian beberapa hari menciptakan kenyamanan tersendiri. Tidak kusangka, aku akan merindukan ruangan kecil tempatku selama ini tinggal. Tubuhku bergelung di tempat tidur, saat paling menyenangkan disaat hujan seperti sekarang.
Argh siapa yang menelepon sih, gerutuku dalam hati. Deringan ponsel dari dalam tas tidak berhenti dari tadi.
“Hallo,” sapaku ketus.
“Biasakkan menyapa dengan nada sopan. Biasakan dirimu, saat ini statusmu adalah kekasihku.” Hm…laki-laki ini lagi, tidak ada bosannya dia mengangguku bahkan disaat kami tidak satu kota.
“Bawel. Status kita tidak nyata jadi tidak perlu bersikap layaknya pasangan. Sekarang katakan apa yang ka eh mas Galang inginkan?”
“Besok ayahku akan datang ke kotamu. Dokter menyuruhnya untuk beristirahat dan kota tempat tinggalmu cukup tenang selama ayah dalam masa pemulihan. Mas Galang mungkin tidak bisa menemaninya jadi mas mengandalkanmu untuk menjaganya.”
“Heh, apa maksud dengan mengandalkan Ariana?”
“Bodoh, kamukan kekasih mas.”
Aku tersenyum sendiri. “Kekasih? kekasih yang tidak di anggap maksudnya. Ariana akan jaga om sebisanya tapi mas harus ingat, hubungan kita tidak boleh terdengar keluar dari rumah.”
“Kenapa? suka-suka mas dong.”
“Itu namanya egois, kalau mas bilang pada orang-orang. Ariana akan pergi dari kota ini.”
“Kamu berani mengancam mas? memangnya kami mau pergi kemana?” sindirnya dengan tawa mengejek.
“Mau kemana bukan urusan mas. Ariana memang tidak berniat selamanya tinggal di kota ini. Ah pokoknya jangan bilang pada siapa-siapa!”
Tawa sinisnya terdengar. “Berteriaklah sesukamu. Kamu tidak bisa menyuruh atau mengancam sekalipun.”
“Terserah, jika tersebar Ariana benar-benar akam pergi.” Aku segera menekan tombol merah. Deringan ponsel darinya tidak kuangkat, marahpun aku tidak peduli.
Seperti biasa, tengah malam aku terjaga. Semalam, aku tertidur hingga melewatkan makan malam. Perutku sudah berbunyi minta segera di isi.
Suara-suara itu kembali terdengar, kali ini cukup jelas. Penasaran, kakiku berjalan menyusuri setiap ruangan dan berhenti di depan gudang. Aku sangat yakin suara yang kudengar berasal dari dalam. Tikus? mungkin tapi untuk membuktikannya, aku harus masuk.
Tanganku memegang pegangan pintu dan terdengar suara terbuka. Ternyata pintu tidak dalam keadaan terkunci, tumben ruangan ini tidak dikunci.
“Non Ariana,” pekikan dari arah samping hampir membuatku berteriak.
Mbak Ratmi lagi-lagi mengejutkanku, apalagi suaranya terdengar seperti teriakan. Rautnya tampak cemas saat berjalan cepat ke arahku.
“Pintunya jangan di buka. Tuan baru saja menaruh perangkap tikus. Bisa gawat kalau tikusnya keluar.” Ah pantas pintunya tidak terkunci, mungkin kakek lupa menguncinya.
“Non kenapa bangun semalam ini?” Mbak Ratmi menoleh kearahku setelah mengunci pintu.
“Lapar mbak tadi tidak makan malam soalnya.”
“Ya sudah, nanti mbak buatkan nasi goreng. Non tunggu saja di dalam.”
Kepalaku mengangguk, berjalan menuju ruang makan. Menunggu nasi gorengku selesai, tanganku mengotak-atik ponsel. Bermain game untuk mengusir suasana sepi.
“Mbak Ratmikan sudah lama kerja sama nenek. Ibunya Ariana seperti apa sih mbak?” tantaku saat bosan dengan permainan di ponsel.
Mbak Ratmi yang sedang memasak sempat kulihat terdiam sesaat. “Kenapa tidak tanya sama nyonya?”
“Mbak tau sendiri, setiap membicarakan ibu, nenek pasti menangis.”
“Ibunya non orangnya cantik, baik dan sopan.” Jawaban singkatnya membuatku tidak puas.
“Kalau ayah seperti apa?” Pertanyaan ini paling membuatku penasaran, terutama fisikku yang setengah keturunan asing.
Deheman terdengar, kakek sudah berdiri di dekat meja makan. “Ini sudah malam, kamu cepat tidur. Besok om Dirga tiba pagi sekali.” tegur kakek.
Mbak Ratmi menyodorkan sepiring nasi goreng di depanku. Sosoknya kembali berlalu ke dapur.
“Kakek benar-benar serius menjodohkan Ariana dan mas Galang?”
“Om Dirga ya meminta, dia bilang mau mengadakan pesta untuk kalian berdua.”
Aku hampir tersedak mendengarnya. “Pesta? Ariana mengiyakan bukan berarti setuju untuk tunangan.”
“Bukan tunangan, om Dirga tidak menyukai ada pertunangan.”
“Jadi pesta apa? Pernikahan?”
Kepala kakek mengangguk. “Umur dan kondisi om Dirga sudah tidak muda lagi. Dia ingin melihat putra satu-satunya menikah selagi bisa. Setelah menikah kamu bisa keluar dari kota ini seperti keinginanmu.” Benar juga sih tapi bukan seperti ini caranya.
“Ariana tidak setuju kek. Hubungan Ariana dan mas Galang belum genap satu minggu. Terlalu cepat memutuskan ke arah pernikahan. Mas Galang juga pasti menolak,” sahutku membayangkan reaksi laki-laki sombong itu.
Senyuman terlihat di wajah kakek. “Dia setuju kok, lebih cepat lebih baik katanya. Sudah selesaikan makanmu, besok kita bicarakan lagi.”
Ada apa dengan kepala laki-laki itu. Kemarin dia bilang tidak ingin terikat lalu kenapa pikirannya berubah. Menikah? pacaran saja belum pernah apalagi membayangkan pernikahan. Aku masih bisa menerimanya jika pasanganku itu memang kusuka, nah ini playboy cap hiu.
“Bangun, Ariana bangun.” suara memanggilku terdengar.
“Lima menit lagi,” ucapku sambil menarik selimut.
“Sudah pagi, mau tidur sampai kapan.”
“Ngg…nenek cerewet sekali sih. Lima menit lagi..”
“Ya sudah, temani kamu tidur saja ya.”
“Terserah..” Mataku masih terpejam. Tidak berapa lama kurasakan pelukan dari arah belakang. Aneh, nenek belum pernah bersikap seperti ini sebelumnya.
Tubuhku meriding saat merasakan hembusan nafas di leherku. Tubuhku berbalik ke arahnya dengan mata terpejam. Loh sejak kapan nenek punya jenggot, pikirku saat jemariku menyentuh wajah di depanku.
Tubuhku mundur kebelakang. Mataku terbelalak melihat sosok yang sedang menyeringai licik di depanku. “Wajahmu saat tidur ternyata cukup menggemaskan, mas hampir hilang kendali.”
“Kenapa masuk kamar orang tanpa izin!”
“Siapa bilang, nenekmu sendiri yang menyuruh. Salah sendiri tidak mengunci pintu,” Senyum liciknya masih terlihat.
Kedua tanganku menutup telinga. “Berisik, cepat keluar. Aku mau mandi.”
Galang bangkit dari tempat tidurku, tangannya merapikan kemejanya yang agak kusut. “Satu lagi, terima kasih untuk pemandangan indahnya.”
Keningku berkerut. “Pemandangan indah apa?”
“Kamu tidur tanpa menggunakan pakaian dalam bukan.”
Sontak tanganku meraih bantal untuk menutupi bagian dadaku. Melotot sebal ke arah laki-laki yang sedang menertawakanku. “Tidak usah malu, sebentar lagi kita akan menikah.” Dia berlalu, meninggalkanku yang masih berusaha mengusir rasa malu. Tuhan, aku tidak mau menikah dengan dia. Hiks.
Sosok Galang tidak kutemukan saat rutinitas pagiku selesai. Dia sudah kembali ke villa keluarganya. Kedatangannya ke rumah, membawakan makanan untuk keluargaku. Om Dirga ingin Galang yang mengantarnya langsung bukan melalui orang suruhannya.
“Duh, pakai baju yang bagus dong Ri, masa cuma pakai kaos sama celana jeans.”
“Ah nenek, yang penting masih sopankan,” balasku saat kakek mengajak menemui om Dirga.
Omelan nenek kuanggap angin lalu, terlalu sering aku mendengarnya sampai bosan. Villa keluarga om Dirga lebih ramai dari biasanya saat kami tiba disana. Om Dirga sepertinya tidak mengindahkan nasehat dokter untuk tidak banyak bergerak. Raut wajahnya tampak bahagia, tidak terlihat seperti orang sakit.
Kakek dan nenek menghampiri om Dirga yang sedang mengobrol dengan orang-orang. Kulirik ke arah taman, laki-laki menyebalkan itu tampak asik berkumpul dengan teman-temannya. Lalu aku? apalagi kalau bukan bersenang-senang dengan aneka makanan yang dihidangkan. Kebetulan tadi tidak sempat sarapan.
“Jadi kamu calonnya Galang?” Seorang wanita cantik menghampiriku.
“Ada apa memangnya?” tanyaku tanpa menjawab.
“Ternyata orangnya biasa saja. Kupikir…”
Mataku menatap wanita di depanku. ” Tidak perlu repot memikirkan, kalau mau protes, bicara saja dengan dia,” balasku memotong ucapannya.
Wanita itu tampak kesal, dia pergi ke arah Galang. Dari tempatku berdiri, bahasa tubuh wanita itu seperti sedang mengadu. Galang tiba-tiba berdiri, menghampiriku dengan gusar. Sorot wanita itu terlihat mengejek.
Galang menarik tanganku menuju ruangan lain yang lebih sepi. Melihat ekspresi wajahnya menunjukan kemarahan yang tidak di buat-buat.
“Kamu mengatakan apa pada temanku?”
Kepalaku menggeleng. “Bukan apa-apa. Aku hanya bilang, tanya saja padamu alasan memilihku. Cuma itu kok.”
Galang mendorongku kebelakang hingga tubuhku menempel ke dinding. “Harusnya kamu bisa bicara dengan lebih baik. Orang yang menyakiti temanku sama saja dengan menyakitiku! termasuk teman wanitaku. Kamu mengerti!”
“Aku harus bilang apa?” ucapku membela diri bersiap pergi.
“Orang tuamu tidak pernah mengajarimu sopan santun hah!” bentaknya sambil menahan langkahku dengan kasar.
Ponsel yang berada di tanganku terlepas. Hancur saat jatuh ke lantai. Tanganku meraih ponsel yang sudah cukup lama kumiliki. Dia masih mematung dengan kemarahan yang terlihat di bola matanya.
“Mas memang benar, orang tuaku memang tidak mengajariku sopan santun. Keduanya tidak mempunyai kesempatan itu, Tuhan memanggil mereka sejak aku bayi. Wajahnya saja sudah tidak ingat. Mas sudah puas dengan jawaban Ariana atau masih kurang?”
Kulangkahkan kakiku, menjauhinya. Kedua tanganku mengepal, menahan sesak yang menusuk dadaku. Air mataku tiba-tiba menyeruak. Kenapa harus sakit? pertanyaan itu sudah sering kudengar sejak kecil. Aku terbiasa dan berjanji pada diri sendiri untuk tidak menangis lagi, karena tidak akan ada yang bisa menjagaku selain diri sendiri. Kakek dan nenek terlalu tua untuk ku repotkan. Aku benci dia!
=========
Bagian 4
Tubuhku masih terpaku di halaman depan. Pembicaraan dengan Galang tadi sempat membuatku ingin segera pergi dari tempat ini. Setelah beberapa saat menenangkan diri, aku memilih mengurungkan niatku. Laki-laki itu atau siapapun tidak akan membuatku kalah dan menangis, setidaknya di depan kakek dan nenek.
Aku tidak terbiasa menjadi anak manja, menggunakan status wanita untuk berlindung di balik sosok laki-laki. Dua puluh tahun lebih diriku mampu menjaga dan membela diri sendiri. Ucapan laki-laki tadi memang menyakitkan tapi hanya itu saja. Dia tidak bisa menghancurkan harga diriku dengan mudah.
“Kamu sedang apa disini? Acaranya sudah di mulai. Om Dirga sejak tadi mencarimu. Loh kenapa ponselmu?” Tegur kakek, menepuk bahuku dari belakang.
Mataku melirik ponselku yang kini terlihat menyedihkan. “Oh ini tadi jatuh kek, sepertinya sudah tidak bisa di pakai.”
Kakek melihatku dengan sorot kasihan. “Uang kakek tidak banyak tapi untuk membeli sebuah ponsel, kakek masih sanggup.”
Kepalaku menggeleng. “Tidak perlu kek, Ariana masih punya tabungan kok.” Tidak enak rasanya selalu merepotkan laki-laki yang menggantikan peran ayah dalam hidupku.
“Kamu tidak perlu menolak. Sudah lama kamu tidak pernah minta di belikan sesuatu. Lagipula kakek sudah tua, punya uang banyak juga untuk apa. Sekarang kita masuk dulu, semua orang sudah menunggu.” Aku menurut saat kakek mengajakku masuk.
Sudah lama aku memang tidak pernah meminta apapun. Diriku menyadari keuangan kami biasa saja, hidup dari uang pensiunan yang jumlahnya tidak banyak. Ponselku juga keluaran lama, tidak sanggup kalau harus ganti ponsel setiap muncul iklan terbaru. Selama masih bisa digunakan, walau modelnya kuno tetap akan kupakai.
Galang tampak tenang, seolah tidak ada hal buruk yang terjadi di antara kami. Dia juga tidak kesulitan berakting seolah aku ini kekasihnya. Aku beri dia nilai delapan dari sepuluh untuk aksinya. Tanpa canggung tangannya melingkar di pingangku. Teman-temannya bersikap biasa saja, mungkin mereka sudah tau keadaan yang sebenarnya. Kami memang sedang bersandiwara untuk menyenangkan hati keluarga.
Om Dirga mengadakan acara ramah tamah ini selain untuk memperkenalkan diri pada warga, juga untuk memberitau rencana pernikahan putranya dan diriku. Beberapa warga tampak berbisik, aku sudah terbiasa menjadi bahan pembicaraan. Di sebut anak haram, sengaja di tinggalkan orang tua bahkan sebutan anak adopsipun sudah pernah kudengar sejak kecil, bukan hal baru lagi untukku.
Hidup itu memang tidak mudah, aku membiasakan diri dengan kalimat itu. Berharap menjadi sosok yang tidak cengeng, untuk kakek dan nenek, keluargaku yang masih tersisa. Seberat apapun cemoohan orang di luar sana tidak sebanding dengan senyuman dan kehangatan yang kudapatkan.
“Soal ponselmu yang rusak, mas akan menggantinya.” Suara laki-laki itu kembali terdengar. Galang menghampiriku yang bersiap pulang. Acara utama memang sudah selesai dan aku meminta izin pulang lebih awal.
“Tidak perlu, uang Ariana memang tidak sebanyak mas Galang tapi kalau hanya sekedar ponsel, Ariana masih sanggup membelinya,” balasku sambil membetulkan tali sepatu.
Decakan terdengar. “Tidak perlu sok jual mahal. Kamu sengaja membuat mas merasa bersalah ?”
Wajahku menoleh ke arahnya. “Tidak usah banyak basa-basi, kalau berniat memperbaiki keadaan, rubah saja sifat mas atau mas Galang memang terbiasa bersikap kasar pada wanita.”
Perubahan ekspresinya menunjukan ketidaksukaan. Kata-kataku tadi mungkin terlalu berani. “Mas Galang begitu karena sikapmu yang tidak sopan!”
Tanganku menunjuk ke arah cermin besar. “Tuh ada cermin, berkacalah. Ariana yakin mas masih punya hati untuk berpikir, apakah sikap mas Galang tadi sopan atau tidak. Mas menuntut maaf dari Ariana tapi mas sendiri buta dengan sikap mas, berdalih dengan mengganti ponsel bisa menyeleseikan masalah. Ponselnya memang baru tapi hatinya masih yang sama.”
Matanya menyipit. “Hebat. Kamu pintar bermain kata-kata. Soal ponsel saja bicaranya berputar-putar” sinisnya dengan delikan tajam.
Aku mendengus. “Memangnya kenapa, mas berharap Ariana akan berubah sikap menjadi manja seperti teman-teman wanita mas. Maaf saja, hal itu tidak akan pernah terjadi. Setidaknya tidak akan Ariana perlihatkan pada laki-laki seperti mas.”
Galang semakin geram, dia menahan tanganku. “Maksudmu mas tidak pantas untuk wanita sepertimu?” Cih, kenapa laki-laki ini tidak pernah mengatakan hal yang bagus sih.
“Bukan tidak pantas tapi mas sama sekali bukan tipe Ariana. Tidak cukup jelas? aku tidak suka sama mas. Titik.” Kulepaskan tangannya lalu berjalan meninggalkannya.
Kakiku menyusuri jalanan, tidak peduli dengan tatapan heran yang tertuju padaku. Orang-orang mungkin akan berpikir kami sedang bertengkar. Masa bodoh, kesabaranku bisa habis jika semakin lama berada di sana.
Sebuah mobil tiba-tiba berhenti di sampingku. “Masuklah” perintah Galang saat membuka jendela.
“Tidak perlu. Jalan kaki saja,”
Dia mendelik. “Percayalah, mas juga sebenarnya tidak mau mengantarmu tapi tidak enak pada kakek dan nenekmu. Belum lagi ayah cerewetnya minta ampun. Sudahlah tidak perlu membuat drama, masuk saja!”
Kakiku menendang pintu mobil. “Mas Galang sendiri yang memposisikan diri hingga keadaannya seperti sekarang. Tidak usah sok merasa jadi korban deh.”
Kemarahan terlihat dari wajah calon suamiku itu saat dia keluar dari mobil. Galang membanting pintu mobil dengan cukup keras. “Bisa tidak kamu bersikap seperti wanita lain, tidak ada manis-manisnya sama sekali.”
“Terserah Ariana dong mau bersikap seperti apa. Kenapa mas Galang jadi mengatur begini sih. Kembali lagi saja sana sama teman-teman mas, Ariana tetap mau jalan kaki!”
“Kamu…” Tubuhku tersentak saat tangan Galang agak terangkat seperti akan melayang ke arah pipiku.
Laki-laki di depanku juga terlihat agak kaget walau sorot matanya masih menunjukan emosi. Dia menurunkan tangannya setelah beberapa saat. “Huh jangan bilang mas tidak menawarimu.” Galang kembali bergegas ke mobilnya.
Aku masih terdiam di posisiku, tidak sadar kalau tubuhku bergetar. Selama ini aku sudah mengalami banyak hal, ribut atau bertengkar baik dengan wanita atau laki-laki tapi kejadian seperti tadi baru pertama kualami.
Kakiku kembali melangkah, setengah berlari hingga tiba di rumah. Kamar menjadi tempat pelarianku. Setelah melepas sepatu, aku pergi ke kamar mandi. Mengisi air di bathub, tubuhku meluruh, terduduk di lantai. Tangisku pecah, ketegaranku terkuras habis. Air yang mengalir menyamarkan suara tangisku. Perasaanku sakit, menyadari tidak ada yang bisa kuandalkan untuk menjagaku.
Dan untuk kesekian kali, aku harus menahan diri seolah apa yang terjadi tadi siang tidak cukup. Nenek mengomeliku sepanjang makan malam karena aku pulang lebih cepat. Galang juga ikut makan bersama kami dengan ajakan nenek. Aku tidak mengerti dengan cara berpikirnya, sikapnya tidak menunjukan penyesalan atau merasa bersalah. Sesekali dia menoleh ke arahku, memberiku tatapan tanpa ekspresi.
Nenek memaksaku untuk mengantar Galang setelah kami menyeleseikan makan malam. Terpaksa kuturuti daripada mendengarnya mengomel terus. Laki-laki itu dengan tenang berjalan ke arah mobilnya.
“Besok mas akan menjemputmu. Kita pergi mencari pakaian untuk pernikahan nanti.”
Keningku berkerut. “Pernikahan?”
Galang memberi tatapan tajam. “Ya, kita akan menikah dalam waktu dekat. Tepatnya sebelum operasi yang akan ayah lakukan. Hm..kira-kira satu bulan lagi.”
“Gila. Mas Galang tidak bisa seenaknya memutuskan hal sepenting ini. Ariana bahkan belum memikirkan akan menikah secepat itu,” protesku tidak setuju.
Galang berbalik menghadapku. Kedua tangannya menyilang di dada, menatapku dengan raut datar. “Nenekmu sudah mewakilimu, dia sama sekali tidak keberatan. Kita buat semua lebih mudah toh pernikahan ini sama-sama menguntungkan kita.”
Aku mendesis tidak setuju. “Menguntungkan apanya? Kita sama-sama terikat tanpa rasa. Belum lagi karakter kita yang sama-sama keras. Untungnya di sebelah mana ?”
“Kamu tidak tau kalau kakekmu sedang sakit. Dia membutuhkan uang cukup besar untuk mengobati sakitnya. Saat menikah nanti, kamu tidak perlu memikirkan semua itu. Aku akan menjamin kehidupanmu dan keluargamu.”
“Lalu untungnya untuk mas? tidak mungkin mas Galang melakukan ini dengan cuma-cuma.”
“Mas hanya butuh status, supaya ayah tidak lagi menanyai mas tentang kehidupan pribadi,” jawabnya enteng, seolah pernikahan kami tidak lebih penting dari selembar kertas.
“Cari orang lain saja? Soal kakek itu bukan urusan mas Galang. Ariana masih muda dan bisa mencari uang sendiri.” Aku tidak bisa menyetujui alasan laki-laki ini.
Laki-laki tampan itu mendekat, sangat dekat hingga kami hampir tidak berjarak. “Mas memilihmu karena kita sama-sama tidak memiliki rasa, hanya kebutuhan karena keadaan.”
Pandangan kami beradu. Tidak ada yang perlu di ragukan dengan penampilan fisik laki-laki di depanku. Dari jarak sedekat ini, dia terlihat benar-benar tampan. Di antara semua kelebiham fisiknya, bola mata coklatnya yang paling menarik perhatianku.
“Baik tapi ada satu syarat,” pintaku tanpa memutus pandangan padanya.
“Katakan, apapun syaratnya mas akan penuhi. Uang, mobil atau rumah? ketiganyapun bukan masalah.”
Kepalaku menggeleng. “Bukan itu, Arian minta tidak ada hubungan intim di antara kita. Mas tidak boleh menyentuh Ariana apapun alasannya.”
Galang terdiam, terlihat kurang setuju. “Kamu tidak berpikir kalau ayah mas pasti menginginkan seorang cucu?”
Aku tersenyum kecut. “Cucu? Mas Galang yakin menginginkan makhluk mungil di antara kita. Perpisahan kita akan memberi dampak buruk pada anak kita kelak, jadi sebaiknya kita urungkan hal itu. Lagipula mas Galang masih mau main-mainkan.”
“Tidak, mas sungguh-sungguh. Mas tidak pernah bilang akan menceraikanmu bukan? memangnya kamu tidak kasihan dengan ayah, dia meminta hal itu sebagai wasiat.”
Kepalaku semakin pusing. “Kenapa pikiran mas berubah secepat ini sih?”
“Bukan urusanmu, kamu hanya harus menerima pernikahan kita dan bersiap menjadi seorang ibu. Mas mungkin laki-laki brengsek yang pernah kamu kenal tapi bukan berarti mas tidak bertanggung jawab pada orang tua dan keluarga. Jadi tenanglah mas tidak akan membiarkan anak itu tanpa ayah,” nada suaranya mulai meninggi.
Mataku masih menatapnya, mencari sesuatu untuk aku percayai. “Bagaimana jika di tengah perjalanan, Ariana jatuh cinta pada laki-kaki lain? apa….”
Galang terdengar menggeram. “Itu memang hak mu tapi jika kamu masih ingin hidup nyaman, berpikirlah berulang kali sebelum melakukannya.” Laki-laki ini sepertinya sulit menerima penolakan.
“Yeah dan kakak bebas berbuat sesukanya, berganti-ganti pacar, kencan dengan wanita-wanita. Tidak, Ariana tidak mau memberikan harta berharga terakhir untuk laki-laki seperti itu,” tegasku lalu membalikan badan.
Sebuah tangan menahan langkahku. “Dengarkan baik-baik, mas tidak akan mengulangnya untuk kedua kali. Mas akan ikuti keinginanmu, mulai detik ini mas tidak akan mengencani wanita manapun kecuali dirimu. Sebaiknya kamu melakukan hal yang sama tapi ingat satu hal, jangan berharap lebih kalau mas akan mencintaimu. Semua ini mas lakukan hanya karena permintaan ayah bukan karena ada rasa padamu.”
Dia beranjak pergi, meninggalkanku yang masih terdiam. Mungkin dia memang mencoba berbakti pada ayahnya tapi kenapa dia harus bersikeras memilihku, wanita yang sama sekali tidak di cintainya. Laki-laki tampan dan mapan sepertinya tidak akan kesulitan mencari calon istri. Jika melihat arah yang mudah kenapa harus memilih jalan yang lebih sulit. Aneh.
“Apa yang mas akan lakukan jika Ariana meminta berpisah?” tanyaku tepat sebelum dia memasuki mobilnya.
Galang menghentikan langkahnya yang bersiap menaiki kendaraan mewah miliknya. “Percayalah, kamu tidak akan mampu membandingkan mimpi terburukmu dengan apa yang sanggup mas lakukan untuk menghancurkanmu.”
Haruskah aku takut? sudah seharusnya, dengan kekuasaan yang dimiliki keluarganya, menyakitiku bukan sesuatu yang sulit untuknya. Hal yang membuatku cemas tidak lain karena kakek dan nenek, Galang sepertinya bisa membacanya. Itu sebabnya dia mendekati keluargaku untuk mengikatku termasuk ponsel pemberiannya. Pintar, dia memberikannya lewat nenek. Laki-laki itu pasti tau aku akan menolaknya jika dia memberinya secara langsung.
Sejak itu, kegiatanku sedikit lebih sibuk. Mencoba ini itu karena hari pernikahan yang semakin dekat. Di banding gadis lain, aku merasa tidak bersemangat. Pilihan baju atau warna semua keserahkan pada nenek termasuk saat akan memesan cincin. Benda kecil berkilau yang akan jadi simbol ikatan di antara laki-laki itu dan diriku sama sekali tidak menarik perhatianku.
Hari ini, hari terakhir sebelum menyambut tahun yang baru. Keluarga om Dirga mendanai acara bazar dan kembang api yang akan di adakan seharian sampai tengah malam nanti. Warga sangat antusias mengingat jarang sekali ada orang yang mau jadi donatur tunggal. Dalam sekejap keluarga om Dirga menjadi buah bibir. Sosok Galang malah jadi bahan rebutan gadis-gadis saat tau pernikahannya denganku karena perjodohan.
“Tidak salah dia disana dan lo lebih memilih berada jauh dari dia?” Mia melirik ke arahku yang sibuk makan.
Sejak sore, kami berkeliling bazar sambil menunggu pergantian tahun yang bertempat di alun-alun kota. Sepasang kekasih di sampingku hanya bisa menggelengkan kepala melihatku tidak berhenti makan. Calon suami yang tidak kusukai itu memang sedang berkumpul dengan teman-temannya dan beberapa gadis yang kukenal, teman satu sekolah dulu.
“Hei, bisa bicara sebentar?” Kami bertiga menoleh ke sumber suara. Sesosok laki-laki manis berdiri menatapku.
Senyumku mengembang. “Ziko,” pekikku sambil memeluk salah satu sahabatku yang memutuskan merantau di kota lain.
Reno dan Mia ikut mendekati. “Kapan datang?”
“Siang tadi, gue dengar ada bazar jadi gue pikir bisa menemukan kalian. Terutama nona ini suka sekali dengan makanan.” Ziko mencubit pipiku.
“Pipi gue makin lebar nanti kalau lo cubit terus,” gerutuku, mengelus pipiku yang di cubitnya.
Kami tertawa, bercanda membicarakan masa lalu. Ziko mungkin satu-satunya laki-laki yang cukup dekat denganku. Aku sudah menganggapnya seperti sodara sendiri. Dia dan kedua temanku yang selalu menguatkan diriku dan rasanya cukup sedih saat dia memutuskan untuk pergi.
“Ariana, ayah memanggilmu.” Lagi-lagi suara ini.
Galang sudah berdiri di depan kami. Sikapnya tenang tanpa ekspresi. Dia hanya menatap sekilas ke arah Ziko.
“Tunggu ya, jangan pulang duluan,” pintaku lalu berjalan menjauh. Galang menjajari langkahku, dia terlihat gusar.
“Siapa dia?”
“Teman Ariana,” jawabku mempercepat langkah. Gelagat tidak beres, kucium dari laki-laki ini.
“Jangan berbuat yang aneh. Orang-orang disini sudah tau kalau kita akan menikah. Mas tidak mau kalau ayah jadi berpikir yang aneh-aneh jika mendengar selentingan buruk tentangmu.”
Kedua alisku bertaut. “Huh mas terlalu berlebihan, Ziko sahabat Ariana sejak kecil, orang-orang juga sudah tau. Mas Galang sendiri juga dikelilingi gadis-gadis padahal sudah punya calon istri. Selama kita belum menikah, tidak perlu membuat masalah baru deh. Mas jalani hidup mas, begitu juga sebaliknya.”
Galang tiba-tiba menggenggam jemariku. “Oh begitu ya, kalau begitu bersiap-siaplah. Kita akan bersikap seperti seorang kekasih.”
“Apa? Tidak mau!” Aku berusaha menarik tanganku.
“Tersenyumlah, ayah dan kakek juga nenekmu sedang melihat ke arah kita.” Bisik Galang semakin mempererat genggamannya.
Ketiga orang yang sudah berumur itu memang sedang menatap ke arah kami. Terpaksa aku memasang wajah bahagia, tidak ingin membuat ketiganya khawatir. Semua ini kulakukan memang untuk mereka, orang-orang yang menpunyai harapan besar pada kami berdua.
“Begitu dong, kalau kalian seperti ini enakkan dilihatnya. Kalian berdua harus membiasakan diri dan cinta akan tumbuh dengan seiringnya kebersamaan.” Om Dirga tersenyum bahagia.
Galang melepas genggamannya, beralih merangkul bahuku. “Tentu saja yah, benar begitukan sayang.” Mataku mendelik ke arahnya, menyungging senyum sebal.
Selanjutnya aku hanya bisa terdiam, tersenyum dan mengangguk. Om Dirga memberiku nasehat-nasehat saat aku dan putranya menikah. Perkataannya sama seperti saat di acara pesta waktu itu. Aku cukup mengerti kadang dengan berjalannya umur terkadang sering mengatakan kata-kata yang pernah di ucapkan.
Aku akhirnya bisa melepaskan diri setelah setengah memohon untuk diperbolehkan kembali pada teman-temanku. Tatapan tajam Galang mengikutiku saat aku kembali pada ketiga temanku. Dia sendiri kembali berkumpul dengan teman-temannya.
“Di jodohkan?” Pertanyaan Ziko menyambutku.
Kupasang wajah cemberut. “Berisik.”
Reno terkekeh geli. “Sepertinya calonmu cemburu, dari tadi melihat ke arah sini.”
Galang memang sedang memperhatikanku. Ingatanku kembali pada pembicaraan kami waktu itu, dia tidak akan mentolelir jika aku dekat dengan laki-laki lain. Kadang perkataan laki-laki itu membuatku bingung, ucapannya sering berubah. Bilang tidak mau terikat tapi malah mau menikah. Tidak akan melanggar privasi, sekarang semakin berani mengatur. Terakhir, dia bilang tidak akan menceraikanku padahal awalnya pernikahan ini tidak untuk dalam jangka waktu lama.
Ziko menarik tanganku, menjauhi keramaian menuju salah satu stand makanan. Aku menurut diikuti kedua temanku dari belakang. Malam itu semua kesedihanku seolah menghilang berganti kegembiraan. Kehadiran teman-temanku menghapus pikiran buruk yang sempat muncul terutama karena Galang, laki-laki sombong itu sudah mengisi hari-hariku dengan sikap menyebalkannya.
Nenek tiba-tiba menghampiriku. Matanya sekilas mendelik ke arah Ziko dengan pandangan kurang suka “Ariana, ikut nenek sebentar.”
Aku pamit pada teman-temanku lalu mengikuti nenek menuju ke tempat yang lebih tenang. “Ariana, tolong pulang ke rumah dan ambilkan obat kakek yang tertinggal di kotak obat. Mbak Ratmi tadi pamit pergi menjenguk keluarganya jadi tidak bisa mengantar. Kamu pergi dengan Galang, dia sudah bilang bersedia mengantarmu.”
“Huh, Ariana bisa pergi sendiri.”
Nenek mencubit lenganku. “Tidak boleh, apa jadinya nanti jika orang-orang melihat. Kamu mau jadi bahan gosip warga di sini. Bersikaplah lebih dewasa, jangan membuat khawatir om Dirga. Sekarang pergi ke tempat parkir, Galang sudah menunggu disana.”
Mau tidak mau, aku menuruti perintah nenek. Galang sudah berdiri di depan mobil miliknya. Dia tampak sibuk dengan ponsel di tangannya. Langkahku melambat, tidak ingin terburu-buru berhadapan dengan laki-laki ini.
“Masuk,” perintahnya tanpa menoleh. Dia berjalan, memutar ke arah bagian pengemudi.
Kuhela nafas panjang, menyiapkan diri jika pertengkaran nanti akan mewarnai perjalanan kami. Di luar dugaan, Galang sama sekali tidak mengeluarkan sepatah katapun. Pandangannya fokus pada jalanan yang sepi. Aku memilih meraih ponsel, mencari kesibukan untuk mengusir bosan.
“Di pakai juga,” ucapan bernada sindirian menampar harga diriku. Gara-gara desakan nenek, terpaksa ponsel pemberian laki-laki ini kuterima.
“Tidak ada pilihan, salah mas sendiri menyerahkannya pada nenek,” jawabku setelah berpikir beberapa saat.
Dia mendelik, seolah menunggu sesuatu keluar dari mulutku. “Lalu?”
Pertanyaannya membuatku menoleh. Keningku berkerut karena bingung. “Lalu apa?”
“Hm…mana ucapanmu setelah mendapat pemberian dari seseorang.”
Ide jahil muncul dikepalaku, ingin tau seperti apa reaksinya. Galang memundurkan tubuhnya kebelakang saat melihat aksiku. Matanya berusaha membagi konsentrasi pada jalanan. Reaksinya semakin membuatku ingin menggodanya.
Dia menepikan mobil saat tanpa aba-aba aku sekilas mencium pipinya. Wajahnya memerah entah karena marah atau malu, walau untuk alasan kedua sepertinya mustahil. Dia pasti sudah sering mendapatkan ciuman pipi dari wanita cantik.
“Apa tadi?” geramnya.
Sikapku tetap tenang. “Mas minta balasan karena sudah memberikan ponsel inikan, itu balasannya.”
“Kamu cukup mengatakan terima kasih.”
“Mm..kenapa memangnya? Kitakan sebentar lagi akan menikah. Ariana bukan wanita pertama yang mencium pipi mas Galang bukan?”
Kepalanya menggeleng frustasi. ” Kamu terbiasa memberikan balasan terimakasih dengan mencium pipi hah?”
“Tidak, baru sama mas Galang.”
Laki-laki di sampingku mendadak terdiam, sorot tajamnya kembali normal. Pandangannya beralih pada jalanan, menyalakan mobil tanpa mengeluarkan protes lagi.
“Sudah marahnya? cuma mau nanya itu saja? tidak ada pertanyaan lain lagi?” sindirku melihat kediamannya.
Galang tidak menjawab tapi aku bisa menangkap mulutnya mengucapkan kata bawel untukku. Dia masih fokus pada jalanan yang gelap di depan kami. Hampir sebagian besar warga berkumpul di alun-alun. Keheningan kembali menyelimuti kami hingga tiba di rumah.
Tempat yang kutinggali terlihat gelap gulita. Mbak Ratmi sepertinya lupa menyalakan lampu sebelum pergi. Galang mengikutiku dari belakang sebelum aki memintanya. Pandangannya menyusuri setiap sisi halaman depan.
“Mana kuncinya? biar mas yang buka.”
Kusodorkan kunci rumah padanya tanpa membantah. Sejak kecil, aku memang kurang nyaman jika rumah dalam keadaan gelap. Kakek bahkan membiarkan lampu di beberapa ruangan menyala, berjaga-jaga jika aku ingin pergi ke dapur saat tengah malam. Sebesar inipun, aku tetap tidak terbiasa dengan rumah ini.
Galang menunggu di ruang tamu saat lampu mulai kunyalakan satu persatu. Kakiku bergegas menuju kamar kakek untuk mengambil obat kemudian keluar. Tenggorokan yang terasa kering, mengalihkan langkahku menuju dapur sebelum kembali menemui Galang.
Suara benda jatuh terdengar dari balik pintu dapur yang menghubungkan menuju ruangan penyimpanan makanan kaleng. Kakek terinspirasi membuatnya saat melihat salah satu tayangan rumah di luar negeri. Selama ini aku belum pernah memasukinya, tidak tertarik pada ruangan di lantai bawah itu.
Tanganku menaruh gelas berisi air mineral yang ku ambil dari kulkas. “Mbak Ratmi sudah pulang?” tanyaku saat membuka pintu ruang penyimpanan. Tidak ada jawaban yang terdengar.
Gerakan tanganku berhenti saat akan menutup pintu itu. Telingaku mendengar dengan jelas saat terdengar suara tangga kayu berderit. Bunyi yang di timbulkan saat seseorang menaiki anak tangga itu. Seekor tikus tidak akan bisa menciptakan suara seperti ini.
Aku menelan ludah, menatap kegelapan di depanku dengan was-was. Pikiranku seperti terhipnotis untuk tidak segera menutup pintu. Tubuhku membeku bahkan untuk bersuarapun sepertinya tidak mampu. Suara-suara itu semakin terdengar jelas, mendekat ke arahku. Dari kegelapan, mataku menangkap sesosok bayangan.
Sesuatu itu bergerak perlahan seperti merayap. Pikiranku terbayang pada film-film horor dari jepang. Sekuat tenaga, aku menutup pintu dan menguncinya sebelum bayangan itu mendekat. Kakiku mundur selangkah, menatap tidak percaya pada pintu di depanku. Bisa kudengar dengan jelas, suara cakaran di balik pintu. Menyeramkan.
“Lama sekali! Kamu sedang apa sih? urusan mas bukan hanya mengantarmu, ” Untuk pertama kalinya, aku merasa lega mendengar suara ini.
Tanganku menunjuk ke arah pintu. “Di sana ada sesuatu mas.”
Galang mendekat ke arah pintu, membuka pintu dan memperlihatkannya padaku. “Sesuatu apa? kamu terlalu banyak menonton film horor jadi pikiranmu seperti ini,” gerutunya dengan wajah masam.
Lorong di depanku memang kosong, tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya kegelapan yang terlihat. Pendengaran dan penglihatanku rasanya tidak bermasalah. Aku masih bisa membedakan kenyataan dan khayalan.
Galang menarik tanganku dengan tidak sabar. “Cepat jalan, sudah hampir jam dua belas. Acara puncak sebentar lagi di mulai. Mas tidak ingin melewatkannya karena kamu.” Mataku masih menatap ke arah pintu yang kembali tertutup saat Galang menyeretku.
Ada apa dengan rumah ini sebenarnya? bayangan apa yang kulihat tadi. Benarkah suara-suara di gudang itu berasal dari tikus? Kenapa mbak Ratmi seolah ketakutan saat aku akan memasukinya, kecemasan yang berlebihan untuk sekedar masalah tikus.
===========
Bagian 5
Malam semakin larut, laki-laki di sampingku memacu kendaraannya tanpa menghiraukan ketakutanku. Diriku hanya bisa terdiam, bukan karena ocehan yang keluar dari mulut Galang. Kejadian tadi masih menyita perhatianku. Bayangan gelap yang merayap tadi muncul dalam adegan lambat di pikiranku seperti dalam film horror.
“Mas Galang benar tidak melihat apapun?” ulangku untuk kesekian kalinya.
“Kamu terlalu banyak menonton film horor. Imajinasimu terlalu tinggi,”sahutnya tak acuh. Beberapa kali dia melirik jam tangannya.
“Ariana sedang tidak berimajinasi mas. Penglihatan juga masih normal. Di ruangan itu tadi seperti ada sesuatu, bayangan yang belum pernah Ariana lihat.”
Galang menjitak kepalaku. “Tidak ada ya tidak ada. Kamu sendiri juga tadi melihatnya bukan. Sudahlah jangan beritau kakek dan nenekmu soal imajinasimu ini. Kasihan mereka jika harus memikirkan hal itu.”
Selama aku tinggal disana memang belum pernah ada kejadian aneh. Rumah yang kutinggali memang cukup tua dan besar tapi tidak pernah ada hal yang menganggu. Tikus memang sering terdengar dari gudang tapi tidak untuk hal yang berbau supernatural. Pikiranku mungkin terlalu banyak menonton film-film horor hingga tidak bisa membedakan khayalan dan kenyataan.
Tanganku meraba ke bawah kursi tempatku duduk, mencari tuas untuk menarik kursi kebelakang, mencari posisi yang nyaman untuk bersandar. Sebuah foto wanita cantik sedang tersenyum kutemukan di bawah kursi saat menarik tanganku.
“Cantik sekali,” pujiku tulus. Seorang wanita cantik tergambar dalam foto di tanganku. Rambutnya hitam legam dengan gelombang yang terkesan anggun. Senyumnya ramah dengan kulit yang mulus tanpa noda. Wanita tercantik yang pernah kulihat.
Galang dengan cepat menyambar foto di tanganku. Raut wajahnya memerah dan menegang, kentara sekali kalau dia tidak suka melihatku memegang foto itu. Bisa kudengar gemeretak giginya yang beradu. Pandangannya padaku saat ini seolah sedang melihat orang yang di bencinya. Nyaliku serasa menciut, baru kali ini kulihat ekspresi wajahnya seperti sekarang.
“Itu foto pacar mas Galang?” tebakku tetap tenang, menatap bola matanya tanpa ragu.
“Diam dan tutup mulutmu!” geramnya dengan mata melotot. Dia memacu kendaraan lebih cepat tanpa memperdulikan aku yang mulai ketakutan dengan laju mobilnya. Kalau sebegitu pentingnya wanita di foto itu, kenapa tidak menikahinya saja?
Setibanya di tempat acara, Galang masih terlihat marah padaku. Dia memang tidak mengatakannya secara langsung tapi bahasa tubuhnya menunjukan hal itu. Tidak ada yang bisa kuperbuat saat laki-laki itu berlalu begitu saja begitu kami keluar dari mobil. Wanita di foto itu sepertinya mempunyai arti penting jika tidak, laki-laki playboy itu tidak akan menunjukan emosi seperti tadi. Raut wajahnya yang menunjukan emosi masih terbayang. Menakutkan.
“Lo yakin mau menikah dengan dia? laki-laki yang sama sekali tidak menunjukan respek padamu.” Tegur Zikko kami berjalan menuju tempat parkir sepeninggal kedua temanku yang memilih mencari makanan.
Bibirku mencibir. “Ganti topik lain saja. Gue sedang tidak mood membahas masalah pribadi.” Kakiku melangkah lebih cepat.
Zikko mendelik dengan tatapan tidak percaya. “Benarkah atau karena laki-laki itu mempunyai semua yang di idam-idamkan wanita? tampan, pintar dan kaya tentunya.”
Mataku menatap sebal ke arahnya. “Jadi itu yang lo pikir tentang gue? karena tiga hal yang lo sebut tadi.”
Ziko terdiam, memperhatikan perubahan rautku. Hari ini sudah cukup aku menahan sabar. “Sorry, gue tidak bermaksud menyinggung perasaan lo.”
“Tidak apa. Soal rencana yang lo bilang tadi, gue absen deh. Nenek tidak akan mungkin memberi izin. Tanya Reno dan Mia saja, mungkin mereka mau ikut. ” Sebelum berpencar, Ziko berniat mengajak kami pergi setelah acara tahun baru.
“Sejak kapan lo jadi anak penurut,” sinisnya kembali memancing emosiku.
“Lo tidak cukup mengenal gue. Terserah apa mau lo, yang jelas gue tidak ikut. Titik.” Tubuhku berbalik memilih pergi, percakapan kami sudah tidak sehat.
Ziko menahan tangan kananku. “Ternyata waktu membuat lo banyak berubah.”
“Dan waktu gue untuk lo sudah berhenti berdetak sejak lama,” balasku tidak kalah sengit.
Beberapa tahun silam, hatiku pernah tertambat pada laki-laki ini. Hubungan pertemanan kami yang berubah dengan hasrat asmara seperti halnya Reno dan Mia. Hanya saja Ziko tidak setangguh Reno, dia bahkan sama sekali tidak memposisikan diriku sebagai sahabatnya saat diriku terpojok. Perkataan keluarganya yang merendahkanku, mengusik asal-usul dan perbedaan kelas cukup menyadarkan dimana posisiku saat itu. Aku tidak ingin lagi melihat raut sedih nenek dan kakek karena ulahku.
“Jadi kamu memilih bersama laki-laki yang tidak mencintai lo?” seruannya menghentikan langkahku. Dia menghampiri dan menarik tanganku, memaksa tubuhku untuk berbalik ke arahnya.
Kuhela nafas, mengatur emosi yang semakin memuncak. “Cinta? bahkan cinta tidak membuat lo menghargai keberadaan gue. Lo sendiri yang mengatakan hubungan kita hanya sahabat tidak lebih. Gue menerimanya dan menghapus apapun yang pernah terjadi. Tolonglah hargai sikap gue seperti halnya gue menghargai keputusan lo untuk pergi.”
Ziko tiba-tiba mendelik ke arah belakangku. Gerakan matanya berhenti, seolah sedang melihat seseorang yang tidak disukainya. Dia masih mengenggam tanganku walau kucoba beberapa kali untuk menepisnya.
“Lepaskan, kamu tidak lihat dia tidak menyukai sikapmu. Wanita ini bukan milikmu.” Galang menghampiri kami. Untuk apalagi laki-laki ini datang.
“Dia juga bukan sepenuhnya milikmu. Ikatan antara kalian berdua tidak lebih dari keterpaksaan. Kamu sendiri lebih memilih bersama teman-temanmu di bandingkan menghabiskan waktu dengannya. Sesuatu yang aneh mengingat sebentar lagi kalian akan menikah.”
Calon suamiku tampak tenang, tidak terpengaruh ucapan Ziko. “Terpaksa atau tidak, Ariana sudah memilih untuk menikah denganku. Aku memang sengaja membiarkannya menikmati pergantian tahun bersama teman-temannya. Toh setelah menikah, kami mempunyai waktu berdua yang tak terbatas. Ada yang salah dengan itu?”
Ziko mendesis. “Tentu saja, seharusnya kamu membawanya. Mengenalkan dia pada teman-temanmu bukannya sibuk bersenang-senang sendiri terutama dengan wanita.”
“Membawanya atau tidak, teman-temanku sudah tau bahwa dia calon istriku. Akupun tidak melakukan hal-hal aneh dengan mereka. Tidak ada seorangpun disini yang berani menganggunya kecuali dirimu.” Balasan Galang masih terdengar tenang, lebih tenang dibanding saat berdebat denganku.
Mataku menatap dua laki-laki disampingku bergantian. “Sudahlah, hentikan semua ini. Zik, gue tidak bisa ikut sama lo. Nenek tidak akan mengizinkan gue pergi, lo tau sendiri sikap nenek bukan. Pergilah, temui saja Reno dan Mia.”
Ziko bergeming, pandangannya masih tertuju pada Galang. “Kita pergi minta izin pada nenek kalau begitu. Gue akan minta maaf soal kejadian waktu itu.”
“Ziko..,” pekikku mulai putus asa melihat kenekatannya.
Perperawakan tinggi Galang menghalangi langkahnya. Tubuhnya lebih besar jika di bandingkan dengan laki-laki di depannya. Pandangannya menyiratkan agar Ziko pergi dari hadapannya. “Aku tidak peduli dengan masa lalu kalian tapi saat ini status Ariana adalah calon istriku. Menganggunya sama saja dengan mengangguku dan aku jamin kamu tidak akan menyukai apa yang akan kulakukan.”
Ziko melepaskan tanganku, dia menatapku dengan rasa bersalah. Dengan terburu-buru, sahabatku itu kembali menaiki motornya, menyalakan dan memacu dengan kecepatan penuh. Dia masih orang yang sama, memilih pergi dibanding mempertahankan rasa yang dimilikinya. Aku hanya bisa menghela nafas, rencana dan takdir tidak selalu berjalan beriringan.
Bola mataku kembali berputar pada laki-laki didepanku. Perasaanku masih kesal karena kemarahannya tadi. “Mas mau apa kemari? Tidak perlu jadi pahlawan kesiangan deh.”
Matanya mendelik lengkap dengan kerutan di keningnya. “Pahlawan kesiangan? kamu terlalu percaya diri nona. Kedatangan mas karena permintaan nenekmu, tidak lebih. Lagipula tidak ada untungnya juga mas sampai harus ribut karenamu.” Selalu saja nenek yang jadi alasan.
Sikapnya memang sudah bisa kutebak tapi ucapannya terkadang bisa menyakitkan. Sejelek-jeleknya diriku, bukankah tetap ciptaan tuhan yang berhak dihargai walaupun jauh dari kata sempurna. Semakin lama mengenal dia, perasaanku menjadi ragu untuk melangsungkan pernikahan dengan dirinya.
Galang mengajakku kembali ketempat acara. Sepanjang jalan dia masih saja mengomel, menggerutu dengan sikap Ziko tadi. “Mas Galang berisik. Tadi marah sekarang sok peduli. Tidak konsisten sekali sih jadi orang,” ucapku memotong omelannya. Delikan tajamnya tidak kupedulikan.
Sesuatu di jalanan menarik perhatianku. Mataku melirik ke arah Galang yang pandangannya tertuju ke arah teman-temannya. Sesekali dia masih terus mengomeli tepat di saat aku akan membuka mulut untuk memberitaunya tentang sesuatu.
“Ngapain bengong, cepat jalan,” ucapnya tidak sabar.
“Hm..bau apa ini, tidak enak sekali?” Hidungnya tiba-tiba mengedus-endus di sekitar tempatnya berdiri.
Aku tersenyum puas. Tanganku menunjuk ke arah sepatunya. “Tuh lihat sendiri.”
Matanya terbelalak saat melihat apa yang menempel di alas sepatunya. Dia menginjak kotoran kucing saat berjalan. “Argh kenapa kamu tidak bilang dari tadi! Mau balas dendam ya.”
“Tidak, mas Galang sendiri yang bawel. Setiap Ariana mau bicara pasti di potong. Coba tadi diam sebentar.” Sekuat tenaga kutahan keinginan untuk tertawa. Rasain, suruh siapa jadi orang menyebalkan.
Sosoknya yang berkerut dengan tatapan pasrah ke arah sepatunya menggelitik perutku. Aku masih berdiri disampingnya yang berusaha membersihkan kotoran kucing yang diijaknya tadi dengan daun kering. Galang masih saja mengomeliku yang menurutnya sengaja tidak memberitaunya.
“Waw cantik sekali,” ucapku ke arah berlawanan.
Kepalanya menoleh ke arah yang ku sebut. “Siapa?” Tanpa pikir panjang, aku segera pergi di saat laki-laki itu lengah. Kepalanya hanya menggeleng sebal, menyadari kebohonganku. Sifat playernya sudah tidak bisa tertolong sepertinya.
Reno dan Mia menatapku dengan sorot bingung melihatku tertawa sendiri saat kami berkumpul kembali. Kejadian yang menimpa Galang masih terbayang di ingatanku. Hal yang membuat senyum tidak menghilang dari wajahku.
“Ziko sudah pulang?” tanya Reno, pandangannya berkeliling.
“Iya tadi dia mengajak gue pergi ke suatu tempat tapi gue tolak.”
Mia tersenyum kecut. “Bagus deh, gue masih sebal jika ingat kejadian dulu antara kalian berdua. Biar saja dia menyesal sudah menyia-nyiakan lo.”
“Sudahlah tidak perlu mengingat kenangan pahit. Acara sudah hampir di mulai,” Reno mengusap lembut rambut kekasihnya.
“Benar,ah haus nih. Gue beli minum dulu ya,” kakiku segera berjalan meninggalkan pasangan kekasih ini. Perasaanku masih risih jika melihat keduanya bermesraan. Satu per satu kuperhatikan setiap stand, memilih minuman yang ingin kulewati.
Beberapa wanita yang tadi kulihat bersama dengan Galang menghampiriku. Kebetulan arah yang kulalui tidak terlalu di penuhi orang-orang.
“Kami tidak perlu sok ya. Galang memilihmu bukan berarti dia menyukaimu. Tidak perlu bermimpi bisa di cintai olehnya. Lihat dirimu, wanita sepertimu tidak pantas bersamanya. Di banding Quinna, kamu tidak ada apa-apanya mendekatipun tidak.” Quinna? siapa dia, kekasihnya Galangkah.
“Maksud kalian mengatakan ini apa? mencoba membuatku sakit hati. Sepertinya kalian yang sakit hati karena tidak di pilih oleh Galang. Kalau mau protes, bilang saja pada orangnya langsung. Mengatakannya padaku tidak akan berpengaruh apa-apa,” jawabku tenang.
“Dia menikahimu hanya karena perjodohan saja sombongnya minta ampun. Kami memang tidak dipilih olehnya tapi hubungan kami lebih dekat di banding dirimu. Status kami jelas teman baik sedang dirimu? calon istri dalam sepotong kertas. Ingat satu hal, dia hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya. Dia bahkan pernah berkata tidak mungkin menyukaimu, kamu sama sekali bukan tipenya.” Salah satu dari mereka menatapku sinis.
“Memang tapi sebagai teman baikpun, Galang tetap tidak memilih kalian . Dia malah memilihku yang kalian sebut tadi bukan tipenya,” balasku datar tanpa ekspresi.
Mereka segera pergi melihatku tidak memberikan reaksi seperti yang diharapkan. Dalam hati sebenarnya aku sudah mulai jengkel. Kenyataannya Galang memang tidak menyukaiku tapi rasanya menyebalkan saat diingatkan soal itu. Tanpa mereka bilangpun, aku tau dimana tempatku.
Perasaan Galang terlihat jelas seolah aku sedang memegang sesuatu yang berharga miliknya. Sikapnya berubah menjadi diam dengan sorot tidak bersahabat. Bukankah seharusnya dia berterima kasih padaku karena sudah menemukan foto itu. Ah kenapa juga aku harus merasa terganggu seperti ini?
“Mukanya di tekuk terus, ada sesuatu yang terjadi tadi?” Mia menarikku ke arah bangku kosong di sebelahnya saat kembali menemuinya.
“Masa sih? kalau sekarang bagaimana?” Aku tersenyum padanya.
Mia mencubit pipiku. “Senyumnya maksa tau. Ada masalah apa?”
Kepalaku menggeleng. “Tidak, gue cuma agak tidak enak badan sepertinya.” Aku sendiri tidak tau apa yang terjadi pada diriku. Reno menepuk bahu kami berdua, memberi isyarat kalau kembang api segera di mulai.
Acara puncak dengan kemeriahan kembang api menghias langit malam. Semua orang larut dalam kegembiraan tanpa kecuali. Akupun merasakan hal yang sama walau sedikit iri saat melihat keakraban keluarga yang kulihat di sepanjang acara. Perasaan yang tidak akan pernah kudapatkan seumur hidupku. Membayangkan wajah orang tuaku saja tidak ingat.
“Kamu kenapa? cemberut terus dari tadi, tidak enak dilihatnya. Pasang senyummu, nanti orang-orang mengira kita sedang bertengkar.” Pesan masuk dari Galang kembali mengobarkan kekesalan yang sempat kuredam.
“Tidak usah dilihat kalau begitu, repot amat sih. Kita berjauhan tapi masih dalam satu tempat saja pasti jadi bahan gossip. Tidak perlu hiperbola deh.” balasku dengan cepat.
“Kok jadi kamu yang marah? mas cuma mau mengingatkan saja.”
Mataku mendongkak, mencari orang yang mengirim pesan.”Biar saja, suka-suka aku. Mas diam saja deh, berisik tau tung tang ting tung terus dari tadi.”
“Eh ini anak. Selesai acara kamu diam disitu, mas nanti yang antar kamu pulang.”
“Nggak! Ariana pulang sama nenek saja.”
“Nenekmu tadi bilang ada perlu sama ayah. Pulangnya agak telat jadi minta tolong mas antar kamu pulang.” Tuhkan, pasti deh nama nenek di bawa-bawa.
“Ya sudah tapi mas pulangnya setelah nenek datang.”
“Tidak bisa, mas harus segera kembali ke hotel. Teman-teman mas tidak menginap di villa, ada acara setelah tahun baru. Mas tidak enak dengan mereka kalau tidak datang.” Huh alasan, bilang saja tidak mau gertuku dalam hati.
Aku terdiam, memikirkan berada di rumah sendirian bukan hal yang kuinginkan saat ini. Kejadian tadi masih membekas dalam ingatan. Khawatir kalau hal serupa akan terjadi lagi.
Mia mengedipkan mata padaku saat melihat Galang berjalan ke arah kami seusai acara. Penampilannya agak berantakan tapi tidak membuat pandangan yang tertuju padanya memudar. Di luar dugaan, dia memperlihatkan sikap ramah pada dua temanku. Kesan canggung atau sejenisnya juga tidak ada.
“Kamu tadi marah kenapa?” Galang membuka mulut lebih dulu.
“Tidak apa-apa,” jawabku ketus, kepalaku masih berkutat dengan bayangan didapur. Harusnya tadi aku minta izin pada nenek untuk menginap di rumah Mia.
Galang memberikan wajah tidak puas. “Kalau tidak apa-apa kenapa balasan pesannya seperti tadi.”
Kedua tanganku melipat didada. “Suka-suka Ariana dong mau balas apa. Lagipula kenapa mas Galang jadi bawel sih, dari tadi tanya ini itu. Ariana capek dengarnya, seperti anak kecil saja.”
Galang menghela nafas. “Tadi teman mas bilang apa sama kamu?” tanyanya, mengganti subjek pertanyaan. Rupanya dia melihat kejadian tadi.
“Mas sendiri pasti bisa menebaknya tanpa Ariana harus beritau.”
Matanya melirik sekilas. “Tidak perlu di ambil hati. Perkataan dan sikap mereka kadang suka seenaknya tapi kalau sudah kenal sebenarnya baik.”
“Terserah mas, tidak perlu dibahas lagi kalau begitu. Antar Ariana pulang saja,” pintaku dengan suara bergetar. Perkataan Ziko mungkin benar, diriku sudah bodoh jika mengharapkan laki-laki ini terketuk hatinya untuk diriku. Apapun yang kualami, dia tidak akan berada dipihakku.
Sepanjang sisa perjalanan kami terdiam. Entah apa yang ada di pikiran laki-laki ini. Aku sendiri kebingungan, padahal biasanya diriku mampu mengontrol emosi dalam kondisi semarah apapun. Terbiasa dengan penolakan dan hal tidak mengenakan selama hidup.
Kepalaku menoleh ke arah laki-laki yang sedang mengendarai mobil disampingku. Rumahku sudah terlewat dan tidak ada tanda dia akan memutar. Mobil baru berhenti saat tiba di halaman villa milik keluarganya.
“Malam ini kamu menginap saja disini. Mas nanti yang minta izin sama nenekmu. Kalau butuh apa-apa bilang saja pada pembantu,” jelasnya sebelum aku bertanya.
“Tidak usah, merepotkan.”
“Oh kamu mau tinggal sendirian di rumahmu? bagaimana kalo tiba-tiba mati lampu.” Pintar sekali dia menakut-nakutiku. Tidak ada pilihan, aku sedang tidak ingin berada di rumah sendirian.
Galang tersenyum puas melihatku menyerah. Dia membawaku menuju villa keluarganya dan menempatkanku di sebuah kamar yang letaknya agak jauh dari kamar miliknya. Dimanapun tidak ada masalah selama tidak sendirian.
“Hei Lang.” Seorang laki-laki seusia dengan Galang tiba-tiba menghampiri kami. Dia membawa sebuah tas berukuran besar ditangannya.
Calon suamiku memberi tatapan sebal pada sosok itu. “Kenapa kesini? yang lain sudah menunggu di hotel”
Laki-laki itu tersenyum. “Hotelnya penuh, telat booking nih jadi malam ini aku menginap di sini saja ya.”
“Dasar. Kamar ada di ujung lorong. Pintunya yang berwarna putih.”
Pandangan laki-laki itu beralih padaku. “Ini calon istrimu? cantik sekali. Pantas kamu akhirnya mengakhiri masa lajang. Namamu siapa sayang?” Punggung tanganku diciumnya sebelum aku tersadar.
Galang melotot ke arahnya. “Deo! jaga sikapmu.”
Deo tergelak seolah Galang melakukan sesuatu yang lucu. Bola matanya berputar ke arahku, memberikan kedipan genit. “Tumben, biasanya juga tidak peduli aku mau berbuat apa pada pacarmu. Oh iya, bilang sama anak-anak, aku tidak ikut ke pesta. Salam saja buat mereka. Siapa namamu cantik?”
“Eh Ariana..”
Geraman Galang semakin menjadi saat sahabatnya tanpa ragu merangkul bahuku. “Nama yang bagus. Panggil aku Deo. Kamu ikut ke acara pesta?”
Kepalaku menggeleng, hal itu tidak mungkin akan terjadi. “Tidak, mas Galang pergi sendiri. Ariana menginap malam ini disini. Tuh kamarnya sebelahan dengan kamar mas Deo.”
Rangkulannya semakin erat. “Bagus, kita mengobrol sebentar ya mumpung calon suamimu tidak ada. Mas Deo ingin tau seperti apa calon istri sahabat mas ini.” goda laki-laki bertubuh tinggi besar didepanku.
Mataku melirik sekilas ke arah Galang yang wajahnya sudah memerah. “Boleh, Ariana belum mengantuk kok.”
Galang memukul tembok di sebelahnya, suaranya cukup keras. Aroma kemarahan terlihat dari sorot matanya. Deo melepas rangkulannya, sikapnya menjadi lebih hati-hati. Suasana menjadi kurang nyaman dengan perubahan sikap calon suamiku. Heran, apa salahku hingga dia semarah itu.
Aku memberanikan diri mendekati Galang. “Kenapa sok pakai pukul tembok sih. Marah-marah tidak jelas, tidak enakkan sama tamu. Mas Galangkan ada acara, pergi sana gih nanti terlambat.”
Matanya mendelik dengan senyuman sinis. “Tidak jadi! kamu tidur di kamar mas saja. Biar mas yang tidur di kamar itu.”
Deo mendekat dengan kening berkerut. “Cemburu? sejak kapan tuan Galang, player kelas dewa bisa cemburu,” suaranya terdengar tidak percaya.
Kepalaku menoleh ke arah Galang. “Berisik! Deo pergi ke kamarmu.”
“Ada yang aneh mas Deo?” tanyaku masih bingung.
Dia tertawa sambil mengangguk. “Bukan aneh tapi tidak biasa. Calon suamimu bukan…” Kalimatnya menggantung saat terdengar deheman dari laki-laki yang saat ini sedang menyilangkan kedua tangan di dada.
“Bukan apa mas Deo?” tuntutku semakin merasa penasaran.
Galang menarik tanganku. “Ariana cepat masuk kamar atau kamu lebih suka tinggal di rumahmu sendirian!” serunya dengan nada semakin meninggi.
Bibirku mengkerut. “Mas Deo dilanjut besok ya ngobrolnya.” Deo tersenyum, mengangguk lalu memandangi sahabatnya yang membawaku paksa menuju kamar.
“Awas Lang, dibelakang lo ada kecoa tuh.”
Galang tiba-tiba melompat ke arahku. Tubuhku yang lebih pendek dan kurus darinya tidak mampu menahan berat badan laki-laki ini. Kami berdua terjatuh dengan kepala saling beradu.
“Deo brengsek lo!” umpat Galang sambil mencoba duduk. Deo hanya tertawa lalu pergi menuju kamarnya tanpa merasa bersalah.
Aku mengusap kepalaku yang terbentur, mengingat-ingat apa yang terjadi tadi. “Mas Galang takut sama kecoa? di rumah Ariana ada banyak loh,” godaku.
Galang menjewer kupingku. “Anak nakal, cepat berdiri dan masuk kamar.”
undefined
“Tidak perlu malu mas, banyak kok laki-laki yang takut sama kecoa.”
Dia melotot. “Bawel. Tidak perlu di bahas lagi. Berhenti tertawa, tidak ada yang lucu”
Kamar Galang tidak di penuhi oleh barang-barang. Dia memang belum lama pindah. Hanya ada tempat tidur, rak buku, lemari dan meja kerja. Dia menyodorkan sebuah kemeja dari lemarinya. Aku memang tidak mungkin tidur dengan pakaian yang kukenakan.
Tanganku menahan ujung kaosnya saat dia bersiap pergi. Keningnya berkerut. “Ada apa lagi?”
Aku melepas ujung kaosnya, tersadar sudah melakukan hal aneh. “Eh..cuma mau bilang selamat malam.”
Galang menjitak kepalaku pelan. “Kamu memang tidak cocok bersikap manis. Jangan bersikap seperti tadi di depan laki-laki lain jika tidak ingin di bilang aneh. Mengerti?”
Kepalaku mengangguk walau tidak mengerti dengan maksud ucapannya. Hari ini aku sudah banyak bersikap aneh, seperti bukan diriku saja. Seharusnya kuabaikan saja kata-kata atau sikapnya yang menyebalkan seperti biasa.
Malam semakin larut tapi mataku belum juga mengantuk. Perlahan aku keluar dari kamar, berjalan menuju dapur untuk mengambil air. Sepanjang jalan aku mengingat-ingat arah.
“Belum tidur nona cantik?” Sapaan dari arah belakang hampir membuatku menjerit.
“Mas Deo buat kaget saja,” gerutuku lalu bergegas ke dapur.
Deo mengikutiku tujuannya sama denganku, haus. Dia meraih dua gelas berisi air minum dan membawanya ke meja makan. “Duduklah, kita bicara sebentar sebelum dirimu mengantuk.”
Kepalaku mengangguk, ini kesempatanku untuk mencari informasi tentang laki-laku yang akan jadi suamiku. Deo duduk di depanku, memberiku pandangan cukup serius. Kepalanya menoleh ke berbagai arah, memastikan sosok itu tidak muncul.
“Kamu serius melanjutkan rencana pernikahan ini?”
Pertanyaannya membuatku terdiam. “Memangnya kenapa mas?”
Laki-laki didepanku memberiku senyuman getir. “Saat mas tau Galang memutuskan untuk menikah, mas tidak berniat ikut campur. Mas juga tau alasan dia sampai melakukan hal yang sebelumnya tidak pernah terpikir. Hanya saja kamu terlalu polos berbeda dengan bayangan yang ada di kepala mas.”
Keningku berkerut, berusaha mencerna kata-kata Deo. “Ariana tidak mengerti maksud mas Deo?”
Helaan nafas terdengar, laki-laki itu tampak seperti memikirkan sesuatu. “Galang bukan orang yang mudah untuk didekati. Berada bersamanya hanya akan menyakitimu, terlepas dengan seperti apa perasaanmu padanya saat ini. Cinta yang dimilikinya hanya untuk wanita yang tidak akan pernah dia dapatkan. Mas Deo khawatir suatu saat nanti hatimu tergerak dan terluka.”
“Siapa wanita itu?” tanyaku mengabaikan ucapannya yang lain.
“Namanya Quinna. Dia kekasih Galang sejak akhir smp. Beberapa tahun lalu Quinna berpulang karena kangker otak yang dideritanya. Sejak itu Galang bersumpah untuk tidak mencintai wanita lain. Dia membuktikannya kata-katanya. Berganti pacar seperti mengganti pakaian. Kamu masuk disaat yang tidak tepat. Mas bukan ingin menganggumu tapi Galang berbeda dengan laki-laki kebanyakan. Di saat dia sudah berjanji, seberat apapun akan dipenuhinya seperti janji untuk tidak mencintai siapapun setelah kepergian Quinna. Kamu sanggup bersama dengan laki-laki seperti itu?”
Kerongkonganku terasa tercekat, tidak menyangka kalau laki-laki sombong itu bisa mempunyai rasa sedalam itu. Dadaku seperti tergores, sakit dan tidak nyaman. “Quinna itu seperti apa? mas Galang belum pernah bilang soalnya.”
“Dia cantik seperti kebanyakan wanita yang berada disekeliling calon suamimu. Sifatnya yang lebih dewasa mampu menggoyahkan ego Galang yang memang merindukan sosok ibu. Quinna mampu meredam setiap emosi Galang dengan kesabarannya. Kesehatan Quinna yang lemah sejak lahir membuat Galang merasa di butuhkan untuk menjaganya. Mas mengatakan ini bukan untuk menganggumu tapi supaya kamu tau seperti apa kehidupan pernikahanmu kelak. Tidak jatuh cinta padanya mungkin akan lebih baik.”
Kami berdua terdiam. Perasaanku semakin cemas, seperti ucapan laki-laki ini. Bagaimana jika suatu saat aku tersadar mencintai Galang? berharap pada sesuatu yang tidak mungkin bisa kuraih. Ugh hanya memikirkannya saja sudah membuatku benar-benar sakit.
“Kalian berdua cari mati ya?” Kami berdua serentak menoleh ke sumber suara.
Galang berdiri dengan berkacak pinggang. Sorotnya menunjukan ketidaksukaan. Padahal aku merasa tidak melakukan kesalahan. Tempat dudukku dan Deo juga terpisah, kurasa tidak ada hal yang harus dipermasalahkan.
Dia berjalan hingga berada tepat disampingku. “Siapa yang menyuruhmu keluar dari kamar.”
Mataku masih menatapnya. “Ariana tadi haus dan kebetulan bertemu dengan mas Deo. Kenapa mas Galang jadi sewot sih. Arianakan bicara dengan sahabat mas sendiri. Ada yang salah dengan itu?”
Dengan gusar, Galang menghempaskan tubuhnya disampingku. “Ini sudah malam, bicaranya bisa besok saja. Lagipula apa yang mau kamu tanyakan sama dia? masa lalu mas?” tebaknya, seolah bisa membaca isi kepalaku.
Aku bangkit. “Terserah Ariana dong mau nanya apa. Sudah ah mau tidur, capek.”
Galang menarik tanganku hingga tubuhku kembali duduk disampingnya. “Siapa yang menyuruhmu pergi?”
Tanganku menyikut lengannya. “Mas sendiri yang tadi nyuruh tidur, gimana sih.”
Calon suamiku menghentakan kakinya ke lantai. Dia semakin gusar melihatku yang terus melawannya. “Ya sudah tidurlah, awas kalau keluar lagi.”
Bibirku mencibir lalu menoleh ke arah Deo yang sejak tadip tersenyum melihat kami berdua. “Mas Deo, Ariana tidur duluan ya.”
“Bagus sekali. Orang lain disalami tapi calon suami malah di acuhkan,” sindir Galang. Kakiku meneruskan langkah, meninggalkan ruangan yang menyisakan sesak.
Belum sempat membaringkan tubuh di ranjang, ketukan dipintu terdengar tidak sabar. Mataku menyipit saat melihat sosok yang menganggu waktu istirahatku. Galang menerobos dengan bersiul-siul. Aku hanya bisa menatapnya, menunggunya selesai mengambil barang.
” Kamu sedang apaberdiri disitu, bukannya tadi bilang mau tidur?” Eh tunggu, dia tidak berencana pergi dari kamar ini maksudnya.
Galang sibuk di meja kerjanya, menatap lembaran kertas yang menumpuk. Tidak ada tanda dia akan cepat pergi tapi ini memang kamarnya. Sosoknya terlihat berbeda, lebih tenang dan…tampan. Argh mataku.., mataku sudah terkontaminasi.
Malas berdebat, tanganku meraih kemeja yang sempat dia berikan tadi lalu pergi ke kamar mandi. Galang mendongkak, menatapku yang keluar dari kamar mandi dengan sikap cuek. Kemeja kebesaran yang kupakai mungkin menarik perhatiannya. Biarlah, kurasa dia juga sudah sering melihat tubuh wanita.
“Kamu…” ucapnya tertahan.
Wajahku merengut, mataku semakin berat. Kutarik selimut hingga perut saat berbaring. “Mas Galang sendiri yang pilih kemejanya, kenapa baru protes. Ariana capek, ngantuk, ” ucapku dengan suara lirih.
Pandangannya beralih pada tumpukan kertas didepannya. “Tidurlah tapi jangan keluar hanya dengan memakai kemeja itu. Di rumah ini bukan hanya ada kita.” Suaranya mulai melunak.
Mataku mulai tertutup. “Iya..iya..”
Memulai pernikahan tanpa proses pacaran tidak pernah terpikir sebelumnya akan kualami. Satu hal lagi yang membuatku takut, jatuh cinta pada laki-laki sombong, menyebalkan itu. Memendam rasa sebelah pihak tanpa batas waktu dalam ikatan semu. Sejujurnya diriku mulai takut jika hal itu terjadi. Sanggupkah atau sebaiknya aku mundur sebelum semua terlambat? tapi bagaimana reaksi kakek dan nenek juga om Dirga. Pilihan apa lagi yang aku punya…
============
Bagian 6
Hari sudah berganti saat mataku terjaga. Tekadku sudah bulat, pernikahan ini tidak boleh di lanjutkan. Semalam tidurku tidak nyenyak karena memikirkan hal ini. Menikah dengan Galang akan menutup semua pintu yang bernama kebebasan. Suka tidak suka, dia pasti memberi aturan dan larangan yang harus kupatuhi. Tidak sulit membaca karakternya yang dominan.
Semua itu akan lebih mudah tapi kami memiliki rasa yang sama, ya sama-sama tidak suka satu sama lain. Setiap bicara dengannya tidak jauh dari kata emosi, capek yang ada. Belum pernah kutemukan jenis laki-laki seperti dirinya.
“Kenapa tidak dimakan sarapannya? tidak suka?” tegur om Dirga saat kami berkumpul di meja makan.
Kepalaku menggeleng. “Kurang enak badan om,” balasku terpaksa berbohong.
Galang dan Deo hanya memperhatikan sambil meneruskan sarapan. Sorot lembut laki-laki yang seusia dengan kakek membuatku tidak berdaya. Kepalaku tiba-tiba kosong, bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Membicarakan pembatalan pernikahan mungkin akan berakibat buruk pada kesehatannya.
“Om sudah bicara dengan kakek dan nenekmu. Setelah menikah nanti, kamu akan ikut bersama om. Awalnya mungkin tidak nyaman tapi nanti juga terbiasa dengan kehidupan barumu.”
Galang menaruh surat kabar yang dibacanya. “Sebaiknya dia tidak tinggal di apartemanku,”
“Kenapa? toh setelah menikah dia akan tinggal bersama suaminya,” Mertuaku memberi pandangan kurang menyenangkan pada putranya.
“Galang akan membeli rumah yang baru setelah menikah. Ayah sudah berjanji untuk tidak mengusik apartemen milik Galang jika pernikahan ini terjadi,” Deo menepuk bahu sahabatnya. Menyuruhnya untuk tenang.
Emosi om Dirga terpancing dengan sikap putranya. “Kamu masih saja berkutat dengan memori masa lalu dan melupakan yang masih hidup.”
“Ayah!” Seru Galang dengan wajah memerah.
Aku tersenyum. Suasana menjadi semakin tidak nyaman. “Sudah om, Ariana tidak masalah mau tinggal dimana juga kok. Tidak perlu diperpanjang. Mas Galang mungkin punya alasan sendiri. Menikah dengan wanita yang baru di kenalnya juga bukan hal mudah.”
Ucapanku sepertinya tidak berpengaruh banyak, ditambah Galang yang tiba-tiba bangkit dengan sikap dingin. Deo mengikutinya sebelum menyeleseikan sarapan. Mataku melirik ke arah om Dirga, kesedihan bergelayut di wajah tuanya. Niatku untuk membatalkan pernikahan kuurungkan, semua demi laki-laki paruh baya yang baik hati ini. Kucoba sebisanya untuk mengerti khawatirannya, diusia yang semakin senja putranya bahkan tidak tergerak untuk berumah tangga.
Dia mencoba bersabar tapi tidak ada perubahan. Galang semakin sibuk dengan dunianya sendiri dan melupakan orang terdekatnya yang membutuhkan perhatiannya. Laki-laki itu seharusnya beruntung setidaknya dia masih mempunyai orang tua yang mengkhawatirkannya.
Aku segera pamit setelah menyeleseikan sarapan. Tawaran om Dirga untuk mengantar kutolak dengan halus. Tidak enak merepotkan sahabat kakekku ini terus. Jarak rumahku juga tidak terlalu jauh, bisa di tempuh dengan berjalan kaki. Kebetulan sudah lama aku tidak berjalan-jalan disekitar daerah ini.
Sikapku tak acuh, pura-pura tidak melihat dua laki-laki yang sedang mengobrol di taman depan. “Tunggu!”
Kakiku berhenti, berbalik kearah sosok yang berjalan ke arahku. “Ada apa mas?” jawabku datar.
Galang benar-benar menakutkan pagi ini. “Soal yang ayah katakan tadi. Kamu akan tinggal bersama ayah setelah kita menikah nanti. Selangkahpun kakimu tidak boleh menginjak apartemenku atau kamu tau apa akibatnya.” Deo terdiam, dia mencoba memberi isyarat agar aku pergi.
Kepalaku mengangguk, ingin segera pergi dari hadapannya. “Terserah apa mau mas, Ariana tidak peduli. Om Dirga adalah satu-satunya alasan Ariana menyetujui pernikahan ini. Sedikitpun tidak ada rasa di hati ini untuk mas Galang. Jangan salah artikan sikap Ariana selama ini. Kita terikat hanya dalam selembar kertas jadi soal hati biar Ariana yang memilih sendiri begitu juga dengan mas Galang. Selebihnya soal dimana kita akan tinggal atau apapun itu, Ariana ikut saja.”
Deo menarik lengan sahabatnya agar menjauh dariku. “Tenang dulu Lang, dia perempuan jangan bertindak kasar padanya. Lagipula inikan yang lo rencanakan, ide Ariana tidak buruk dengan begitu tidak ada yang merasa di rugikan. Dia juga sudah bersedia tinggal di rumah ayahmu. Tahan emosimu.”
Kepalaku mengangguk pelan. “Benar kata mas Deo. Setelah menikah, Ariana akan tetap bersikap layaknya istri. Hanya satu hal yang aku minta, mas Galang tidak berhak melarang Ariana menyukai laki-laki lain begitu juga sebaliknya.”
Galang menepis lengan sahabatnya. Dengan kasar menarik tanganku mendekat, sakit sebenarnya tapi aku tidak bisa memperlihatkannya. “Kamu pikir bisa menyuruhku sesukamu?!”
Kepalaku terangkat, tidak takut dengan gertakannya. “Siapa yang menyuruh? tadi itu tawaran yang sama-sama menguntungkan. Kenyataannya mas Galang memang tidak menyukai Ariana bukan? atau mas Galang mulai suka denganku.”
Dia melepas genggamannya tapi tidak menyurutkan kemarahan di wajahnya. “Jangan pernah berharap rasa itu akan datang! kamu tidak akan pernah mendapatkan hal itu walau hanya bagian kecil. Pernikahan ini terjadi karena kebaikan ayahku bukan karena dirimu pantas bersanding dengan mas…”
Deo memperingatkan sahabatnya. “Lang berhenti. Lo sudah keterlaluan.”
Mulut memang tidak bertulang tapi kata-kata yang menyakitkan itu tidak bisa ditarik lagi. Untuk kesekian kalinya hal seperti ini terjadi lagi padaku. ” Ya, Ariana tau itu. Terima kasih sudah mengingatkan.” Aku bergegas pergi sebelum laki-laki egois itu melihat pertahananku hancur.
Setiap langkah memberiku kekuatan untuk menerima keadaan. Sekeras apapun aku menolak pernikahan ini jika sudah menjadi takdir, apalagi yang bisa kuperbuat selain menjalaninya. Tuhan tau yang terbaik untukku, sepahit apapun akan kuterima. Hujan tidak akan selamanya turun, ada pelangi yang akan menyambutku.
Semenjak pertengkaran terakhir itu, sosok laki-laki yang akan menikahiku tidak terlihat. Urusan kantor ataupun apapun itu tidak kupedulikan. Menikmati waktu bersama orang-orang yang menyayangiku lebih berharga di banding memikirkan dia yang melihatku sebagai musuh.
Hari-hariku kembali disibukan dengan persiapan pernikahan yang sama sekali tidak kunikmati. Baju pengantin bahkan sampai cincinpun hanya bisa kuturuti. Tidak ada gambaran sama sekali dalam kepalaku untuk membuat hari bersejarah itu seperti mimpiku. Pernikahan kami dibuat sederhana sedangkan resepsinya entah kapan dilaksanakan. Melihat kebahagiaan di wajah kakek dan nenek selalu membuatku urung untuk membicarakan pembatalan pernikahan ini.
Waktu berlalu dengan cepat hingga menyisakan satu hari sebelum tanggal pernikahan. Keadaan rumah yang biasanya sepi mendadak ramai. Nenek tampak sangat bahagia. Dia juga lebih terbuka dan banyak bicara dengan tetangga yang membantu acara ini. Aku sendiri tidak antusias. Pernikahan ini tidak ubahnya seperti keluar dari mulut buaya, masuk ke mulut harimau.
Statusku tidak akan pernah sama lagi termasuk jika suatu saat nanti kami bercerai. Rasanya sangat iri melihat raut bahagia Mia yang hubungannya direstui. Meskipun begitu aku ikut senang perjuangan keduanya membuahkan hasil.
Mia mengusap rambutku saat kami mengobrol di kamarku. “Kenapa lo terlihat tidak lebih bahagia dari gue yang sama sekali belum terpikir ke arah pernikahan?”
Tanganku menggenggam jemarinya. “Terkadang hidup tidak selalu sesuai dengan rencana.”
“Ini belum terlambat, mundurlah jika perasaanmu tidak yakin.”
Kepalaku menggeleng. “Melakukannya hanya akan membuat banyak hati terluka, pernikahan ini bukan hanya tentang gue.”
Mia menarikku dalam pelukannya. “Tapi lo yang akan menjalankannya. Bagaimana gue bisa bahagia jika sahabat gue sendiri tidak bisa merasakannya. Apa mau gue bantu bicara sama nenek?”
Tanganku membalas pelukannya. “Tidak perlu. Gue tidak ingin melibatkan siapapun. Doakan saja supaya ada akhir yang membahagiakan untuk sahabat lo ini.”
“Pasti. Gue pasti mendoakan supaya lo bahagia.” Kami menangis tanpa suara dengan saling berpelukan. Dukungannya memberikan secercah harapan untuk melewati hari esok yang tidak pasti.
Mia sengaja menginap di rumahku, menemaniku melewati hari yang paling tidak ingin kulalui. Sebisanya dia mencoba memberiku semangat untuk tetap berpikiran positif. Kami baru terlelap saat menjelang tengah malam setelah lelah dengan semua cerita dan tawa. Seandainya saja besok ada badai yang bisa menunda acara ini.
Menjelang dini hari, nenek membangunkan kami. Menyuruhku bersiap-siap untuk segera di rias. Mia tersenyum lirih, melihatku seperti raga tanpa nyawa. Polesan demi polesan mulai terlukis di wajahku tapi sedikitpun tidak ada rasa penasaran untuk melihat di cermin. Semua yang kupakai di acara ini memang pilihan orang disekitarku. Aku hanya menurut karena tidak ada perasaan yang ikut didalamnya.
Nenek menepuk bahuku yang masih duduk melamun. Membawaku ke ruang tengah, tempat acara ijab qabul dilaksanakan. Ruangan yang cukup besar itu dipenuhi oleh orang-orang, wajah-wajah yang tidak kukenal.
“Tersenyumlah, ini pernikahanmu bukan acara duka cita,” bisik nenek sebelum melepasku untuk duduk disamping calon suamiku. Ya tapi ini memang acara duka cita bagiku.
Kakek yang menjadi wali menatapku dengan sorot meredup. Aku tersenyum, tidak ingin membuat laki-laki pengganti sosok ayah khawatir. Selebihnya, semua samar bahkan suara Galang yang mengucapkan ijaq qabul terasa jauh. Acara di akhiri dengan bersalaman dengan undangan yang datang.
Keberadaan Mia membantuku yang lebih banyak diam. Mataku melirik ke arah laki-laki yang sudah sah menjadi suamiku. Dia terlihat tanpa beban, tertawa dan mengobrol dengan teman-temannya seolah ini hari yang membahagiakannya. Sementara aku, duduk dipelaminan yang dibuat sederhana bersama sahabatku.
“Selamat ya nyonya Galang.” Sapaan terdengar.
Kepalaku terangkat, Deo dan dua orang temannya berdiri. “Ariana kenalkan ini Putri dan Fahri, keduanya sahabat Galang sejak kecil.” Deo memperkenalkan dua orang disampingnya.
Aku segera berdiri, membalas uluran tangan keduanya. Putri melirik ke arah Galang. “Galang parah banget sih. Masa istrinya dibiarkan sendiri.”
“Tidak apa-apa kak, mungkin mas Galang bosan duduk disini terus.”
Ketiga sahabat suamiku tersenyum, mereka pasti sudah bisa menebak perasaanku. “Kalau ada apa-apa, jangan sungkan untuk menghubungi kami ya. Biar kami tegur suamimu.” Fahri mengedipkan mata mencandaiku. Perasaanku sedikit lega, menyadari tidak semua sahabat suamiku sikapnya menyebalkan.
Menjelang sore setelah seharian diisi dengan kegiatan yang melelahkan, acarapun berakhir juga. Raut bahagia om Dirga menjadi obat yang menenangkan untukku. Satu persatu tamupun pulang, menyisakan keluarga inti saja. Aku setengah merajuk pada om Dirga, meminta untuk tinggal malam ini bersama kakek dan nenek.
Galang dan om Dirga tidak keberatan mengingat besok aku harus ikut dengan suamiku. Dengan alasan lelah, aku bergegas kembali ke kamar. Kebaya pengantin kini berganti kaos dan celana piyama. Tubuhku berbaring di tempat tidur setelah membersihkan make up yang cukup tebal.
Ketukan di pintu kamar memaksaku untuk bangkit kembali. Suamiku sudah berdiri dengan menenteng tas cukup besar. Dia menerobos masuk sebelum suaraku keluar. Dengan tenang seolah tanpa dosa, Galang menaruh tas miliknya di bawah meja belajarku. Menyingkirkan barang-barangku dari atas meja dan menaruh laptop juga berkas-berkas miliknya disana.
Malas berdebat, aku memilih kembali berbaring dan menutup mata. Terserah dia mau melakukan apa selain menyentuh tubuhku. Kuharap ini hanya mimpi buruk dan terbangun dengan kenyataan yang lebih baik.
Pagi menyambut hari, mimpi buruk kemarin adalah kenyataan yang harus kuhadapi saat ini. Galang sudah terbangun saat mataku terbuka. Dia tampak sudah rapih dan tampak sibuk dengan laptop.
“Bersiap-siaplah, kita akan pergi setelah sarapan.”
“Harus pagi ini juga?” tatapku masih dari tempat tidur.
“Ya. Mas sudah memberimu toleransi. Ada banyak pekerjaan yang harus diseleseikan, tidak mungkin bisa berlama-lama disini,” jawabnya tanpa menoleh.
Tubuhku beranjak dari tempatku, meraih handuk dari lemari lalu pergi ke kamar mandi. Tidak ada senyum bahagia layaknya pengantin baru yang melewati malam pertama. Aku malah berharap tidak perlu melaui hal itu mengingat hubungan kami. Kubasuh wajahku beberapa kali, mengusir lelah yang belum hilang dari wajah.
Laki-laki itu sudah tidak terlihat saat aku keluar dari kamar mandi. Dengan cepat, tanganku meraih pakaian yang pertama kali kulihat. Terserah dia suka atau tidak dengan penampilanku. Masa bodoh.
Suasana ruang makan terdengar ramai begitu aku tiba disana. Galang dan ketiga temannya yang dikenalkan Deo ikut sarapan dengan kakek juga nenek. Kertiganya menginap di villa keluarga Galang dan rencananya ikut pulang bersama kami. Putri melambai ke arahku, menyeret kursi disebelahnya yang bersebelahan dengan tempat duduk suamiku.
“Pengantin barunya kok lesu, capek karena semalam ya?” Wajahku merona mendengar godaan Fahri. Semua orang tersenyum kecuali Galang. Dia sama sekali tidak terusik dengan ucapan sahabatnya. Tidak ada yang perlu di rayakan karena tidak terjadi apa-apa di antara kami.
Pandanganku beralih pada nenek dan kakek, dua sosok yang akan kutinggalkan. Di saat seperti ini, aku malah enggan untuk pergi. Sekeras-kerasnya sikap mereka, semua karena rasa sayang yang tulus padaku.
Kakek dan nenek mengantar kami setelah menyeseleseikan sarapan. Nenek tidak berhenti memberi aku dan Galang nasehat. Matanya berkaca-kaca, terlihat sangat berat melepasku pergi.
“Galang, nenek titip Ariana. Tolong kamu jaga dia dan perlakukan dengan baik. Nenek harap kehadiranmu bisa menggantikan sosok ayah yang tidak pernah di milikinya. Jangan menggunakan kekerasan jika ada masalah, tegurlah dengan kata-kata yang baik. Bilang pada nenek kalau ada sifat dan sikap Ariana yang kurang baik, jangan gunakan tamganmu untuk menyeleseikannya.”
Galang mengangguk. “Mudah-mudahan Galang bisa menjadi imam yang baik untuk cucu nenek.” Cih, bisa-bisanya mengatakan hal yang tidak akan mungkin dia dilakukan.
Pandangan nenek beralih padaku, tangannya yang keriput menyeka butiran air yang keluar. “Dan kamu, sadarilah statusmu saat ini. Tidak boleh lagi memberontak dan bersikap sesukamu. Hargai dan jalankan kewajibanmu sebagai istri. Berusahalah lebih dewasa lagi.” Kami berpelukan sebelum waktu memaksaku untuk melepasnya. Kubalas lambaian tangan kakek dan nenek sebelum jarak memisahkan.
Ketiga teman Galang ikut bersama dengan mobil milik suamiku. Om Dirga sudah pulang lebih dulu karena ada urusan mendadak. Suasana di mobil sedikit mengalihkan pikiranku karena harus meninggalkan kota ini. Celetukan Fahri mampu membuat keadaan menjadi lebih ceria setidaknya bagiku. Galang sih diam saja, ah dasar mr. Grumpy.
Pemandangan di luar jendela sebagai penanda hari baru untukku. Meninggalkan kota yang memberi berjuta kenangan dan kesedihan. Dadaku sesak membayangkan senyuman sahabat-sahabat yang tidak akan kutemukan dalam waktu lama. Tidak kusangka, prosesnya akan seberat ini.
Beberapa jam duduk, akhirnya kami tiba di sebuah rumah mewah berukuran besar setelah mengantar ketiga teman suamiku kerumahnya masing-masing. Disinilah diriku akan memulai hari dengan status baru sebagai nyonya Galang. Rumah ini milik om Dirga karena suamiku bersikeras untuk tidak membawaku tinggal di apartemennya. Candaan Putri tentang hal itu ditanggapi dingin oleh suamiku. Aku tidak mempermasalahkannya, lagipula disini ada om Dirga yang bisa kuajak bicara.
Om Dirga menyambutku setelah meminta pembantu membawakan tas dan bawaanku ke kamar putranya yang berada di lantai dua. Aku di ajak berkeliling sekaligus memperkenalkanku pada pengurus rumah.
“Istirahat dulu saja ya. Om kebetulan ada perlu dulu, nanti kita bicara lagi.”
Kepalaku mengangguk, kembali berjalan menuju kamar Galang sesuai petunjuk mertuaku. Suamiku sedang membereskan sesuatu di meja kerjanya begutu aku membuka pintu. Senyum masam melihat tempat tidur yang di tata apik dengan taburan kelopak bunga mawar merah. Pemandangan romantis yang seolah menyindirku.
Sebuah kotak besar dengan aksen pita berwarna merah muda menarik perhatianku. Yap isinya tidak lain sebuah lingerie dengan pototongan yang sangat sexy dengan renda transparan. Jenis pakaian yang kuhindari saat ini apapun temanya. Mataku beralih ke sisi tempat tidur setelah meletakan pakaian itu pada tempatnya.
Sejumlah kotak dengan berbagai ukuran diletakan di lantai. Entah berapa jumlah totalnya karena begitu banyak. “Buka saja, itu pemberian kerabat dan klien yang tidak bisa menghadiri pernikahan kita,” ucap Galang melirik ke arahku yang masih menatap kado-kado itu dengan takjub.
Berhubung tidak ada yang bisa kukerjakan, membuka kado-kado itu sepertinya tidak ada salahnya. “Kamu belum pernah mendapatkan kado ulang tahun ya? seperti anak kecil saja.” Sindiran laki-laki itu tepat sasaran.
“Ariana memang tidak pernah merayakan ulang tahun,” jawabku tanpa menghentikan kegiatan tanganku.
Alis Galang terangkat sebelah. “Sekalipun?” kenapa nadanya selalu terdengar seperti merendahkanku sih.
Kepalaku mengingat lagi masa kecil yang tidak menyenangkan. “Hm..pernah sih satu kali saat umur lima tahun tapi tidak ada yang datang jadi anggap saja tidak pernah ada. Orang-orang di sana tidak mengizinkan anak mereka bergaul dengan anak yang tidak jelas asal usulnya. Di jelaskanpun pendapat mereka tidak berubah. Tidak apa, Ariana sudah kebal termasuk pada apa yang mas Galang katakan tempo hari.”
Galang terdiam, mungkin merasa tersindir walau nada bicaraku biasa saja. “Sebaiknya kamu tidak perlu mengingat hal buruk di hari pertama setelah pernikahan kita. Jangan tunjukan wajah sedihmu itu didepan ayah, mas tidak mau kesehatannya menurun karena memikirkanmu.”
Dia beranjak dari tempatnya, meninggalkanku dengan bungkusan kado yang belum kubuka. Perasaanku hampa, barang-barang mewah yang menjadi milikku bahkan tidak mampu mengisi kekosongan hatiku. Suamiku berpenampilan menarik, pintar juga mapan secara materi tapi aku tidak memiliki hatinya, tidak akan pernah bisa.
Berulang kali aku menghela nafas pendek. Mengusir sesak dan air mata yang mencoba keluar. Sejak dulu, diriku memang ingin mandiri. Keluar dari kota kecil itu dan mencari pengalaman hidup. Disaat itu menjadi nyata, rasanya malah tidak bahagia.
Tanganku meletakan kado-kado yang belum sempat kubuka. Perlahan kakiku bergerak ke arah jendela, mencari ketenangan diluar sana. Sejauh mata memandang hanya ada rumah-rumah mewah dan besar. Hal yang sama dengan tempat tinggalku hanya langit yang berwarna biru. Ugh baru beberapa jam saja, aku sudah merindukan kakek, nenek, kedua sahabatku juga kota kecil itu.
Pintu kamar terdengar diketuk beberapa kali. Mbak Inah, pembantu yang membawakan tasku tadi tersenyum dengan agak sedikit membungkuk. “Maaf menganggu, non diminta menemui tuan besar di ruang kerja.”
Kubalas senyumannya dan meminta ditemani karena belum tau dimana letak ruangan itu. Rumah ini sangat besar untuk dihuni tiga orang termasuk diriku. Jumlah kamarnya cukup banyak tapi yang terisi hanya dua, kamar om Dirga dilantai bawah dan suamiku di atas. Para pembantu dan supir yang berjumlah lima orang tinggal di paviliun.
Mbak Inah segera pergi saat tanganku mengetuk pintu ruangan kerja mertuaku. Panggilan dari arah dalam akhirnya memberikanku keberanian untuk masuk. Kebaikan om Dirga tidak lantas membuatku bisa bersikap seenaknya.
Om Dirga duduk di meja kerjanya. Dia tidak sendiri, putra semata wayangnya sudah berada bersamanya. Galang tampak santai duduk di sofa panjang dari kulit. Matanya sibuk membaca majalah tentang bisnis.
“Om panggil Ariana?” tanyaku saat duduk didepannya.
Kepala mertuaku mengangguk. “Benar tapi bukan soal yang berat. Mulai besok, kemanapun kamu pergi ada supir yang mengantar. Soal keuangan tidak perlu khawatir, kamu bisa menggunakan kartu debit dan kredit ini sesukamu. Suamimu juga akan memberikanmu uang setiap bulannya.”
Mataku menatap ke arah mertuaku. “Tidak perlu om, rasanya terlalu berlebihan.”
Laki-laki paruh baya didepanku masih tersenyum. “Tidak apa, terimalah. Setelah menikah, kamu juga menjadi bagian dari keluarga ini. Pasti berat untukmu meninggalkan keluarga, beradaptasi dan mengubah kebiasaan-kebiasaan dirimu sebelumnya. Om juga minta maaf karena secara sepihak memintamu menikahi putra om tanpa ada perasaan padanya. Uang yang om beri tidak sebanding dengan pengorbananmu.”
Aku masih ragu. “Tapi om…”
“Om hanya ingin kamu bahagia, tidak tertekan dengan keadaan yang baru. Belilah barang yang kamu inginkan, setiap bulan om akan mengisinya jadi tidak perlu khawatir akan habis. Selama kamu bahagia, om juga bahagia.”
Dengan enggan, tanganku meraih kedua kartu didepanku. Benda kecil yang bisa membuat kebanyakan wanita menjerit karena gembira.
“Satu lagi, jangan panggil om lagi mulai sekarang. Biasakan dirimu memanggil Ayah. Kalau Galang berbuat atau mengatakan hal-hal yang menyakitimu, tidak perlu ragu untuk bilang sama ayah. Biar ayah yang akan menegurnya, jangan memendamnya sendirian.”
Bulir disudut mataku keluar tanpa terasa. Perasaan haru membuncah melebihi arti dari dua kartu itu. Pertama kalinya aku merasa mempunyai seseorang laki-laki bernama ayah. Bukan karena materi yang diberikan tapi keberadaannya membuatku nyaman dan tenang walau hanya dengan ucapannya.
Om Dirga menepuk jemariku dengan lembut. “Kamu merindukan ayahmu?”
Pertanyaannya membuat dadaku sesak. Tidak bisa kupungkiri, aku rindu dengan sosok yang bahkan belum pernah kulihat. Sebenarnya aku tidak ingin menangis tapi tidak bisa menahan rasa yang membuncah. “Anggaplah ayah sebagai ayah kandungmu. Ayah memang tidak muda lagi tapi masih bisa kamu andalkan untuk menjagamu terutama dari suamimu. Tersenyumlah, kamu pantas untuk bahagia.”
Decakan dari arah suamiku menghentikan tangisku. Baru tersadar kalau sikapku tadi jadi tontonan menarik untuknya. “Sudah selesai acara reuni keluarganya? Galang mau keluar dulu yah, ada perlu.”
“Kamu bagaimana sih, kenapa tidak mengajak istrimu sekalian pergi berjalan-jalan? bukannya pergi menemui teman-temanmu dan bersenang-senang sendiri,” tegur om Dirga sambil menggelengkan kepala.
Bahu suamiku terangkat, menatap datar ke arahku. “Pernikahan inikan atas permintaan ayah bukan karena keinginanku. Sekarang Galang sudah melakukannya jadi semua sudah bereskan.” Dia berlalu tanpa memperdulikan raut kecewa di wajah ayahnya.
“Biar saja yah, Ariana bisa jalan sendiri kalau mau. Hari ini Ariana dirumah saja.”
Om Dirga mengajakku berdiri. “Sudah lupakan saja dulu suamimu. Kita jalan-jalan saja ya, ayah sudah lama tidak lama melakukannya sejak ibunya Galang pergi.”
Permintaannya kusambut dengan anggukan. Membiarkan laki-laki ini pergi sendiran membuatku jauh lebih khawatir. Sepanjang sore, om Dirga membawaku berkeliling kota. Keluar masuk dari satu toko ke toko yang lain. Sesekali kami beristirahat, dengan kondisi om Dirga, memutari satu lantai saja bisa sangat melelahkan.
“Hallo om, Ariana,” sapaan bernada ramah terdengar.
Kami berdua menoleh ke arah samping. Deo berdiri dengan menyungging senyum di wajah tampannya. “Lagi jalan-jalan om? Galangnya kemana?”
“Sahabatmu itu ada urusan lain jadi om yang menemani Ariana. Kamu sendiri sedang apa?”
“Keliling saja om, lagi suntuk dirumah. Deo temani tidak apa-apa om?”
“Ya sudah ikut saja, kasihan Ariana kalau hanya berjalan sama om nanti dikira pacar om lagi,” canda om Dirga sambil melirikku yang diam saja sejak tadi.
Deo menganggukan kepalanya. “Deo panggil Galang kemari saja ya om?”
Om Dirga menepuk bahuku. “Tidak usah, anak itu akan memberi seribu alasan untuk menolak. Kamu ikut saja, temani menantu om ini.”
Kami bertiga kembali melanjutkan perjalanan. Di pandangan orang-orang, kami mungkin terlihat seperti sebuah keluarga. Sayang, laki-laki tampan disebelahku bukan suamiku. Aku cukup lega, om Dirga bisa sejenak melupakan ketidakhadiran putranya dengan keberadaan sahabat suamiku ini. Ah andai saja, Galang memiliki sedikit saja keramahan Deo.
“Maafkan kata-kata mas Deo malam itu ya. Seharusnya mas tidak mencampuri urusan kalian. Kamu memiliki mertua yang baik jadi tetap semangat. Ini kartu nama mas, kalau ada apa-apa dan Galang tidak bisa diandalkan, jangan ragu untuk menelepon. Selagi mas bisa, pasti di bantu,” ucapnya sambil mengusap rambutku sebelum kami berpisah. Beruntung sekali wanita yang jadi pasangannya kelak.
Hari telah beranjak malam dan om Dirga sudah tampak kelelahan. Meneruskan perjalanan bisa berakibat buruk. Kami segera pulang dan memilih makan malam di rumah.
Galang belum juga pulang saat kami tiba dirumah. Om Dirga mencoba meneleponnya berkali-kali tapi tidak tersambung. Hanya ada kami berdua di meja makan dengan beraneka macam makanan. Mata dan perutku memang senang melihat hidangan didepanku tapi semua teralihkan saat melihat sorot mertuaku. Dia pasti sangat berharap putranya berada di meja makan ini.
Om Dirga tersenyum lirih. “Maafkan sikap suamimu ya sayang. Galang sepertinya belum bisa melupakan kemarahannya pada om.”
Bola mataku berputar. “Marah kenapa yah? karena ayah meminta mas Galang menikah dengan Ariana.”
“Kita bicarakan itu lain kali saja, sekarang teruskan makanmu. Ayah tidak mungkin menghabiskan semua makanan ini,” ucapnya kembali menyuap. Dari bahasa tubuhnya kurasa masalahnya sudah ada sebelum pernikahan ini.
Mengusir ketidaknyamanan, kucoba mencari topik pembicaraan lain. Mengalihkan perhatian mertuaku dengan candaan yang entah lucu atau tidak. “Oh iya, ayah bersahabat dengan kakek dan nenek sudah lama bukan?”
“Iya, cukup lama dari kami masih sangat muda.”
“Kalau begitu, ayah pasti mengenal orang tua Ariana. Nenek tidak selalu menangis jika Ariana bertanya soal ibu. Orang tua Ariana seperti apa ayah?” tanyaku setelah menyeruput habis air di gelas.
Mata itu kembali meredup, terlihat mengasihaniku. “Ayah tidak begitu mengenal ayah kandungmu, hanya saja ibumu adalah wanita yang cantik dan pintar. Dia anak yang baik.”
“Mm…ayah tau darimana asal ayah kandung Ariana?” Penampilan fisikku dan perawakanku tidak seperti orang asli negara ini. Sejak kecil aku malah terbiasa di panggil bule.
Belum sempat terjawab, derap langkah terdengar melewati ruang makan. Galang terlihat cuek dan tidak memperdulikan panggilan ayahnya. Dengan gusar, mertuaku segera bangkit dan menghampiri putranya. Aku hanya bisa terdiam saat mendengar pertengkaran dari ruangan lain. Selera makanku hilang, menunggu laki-laki paruh baya itu dengan cemas.
“Sayang, kamu makan sendiri dulu ya. Ayah mau ke kamar dulu.” Om Dirga segera pergi menuju kamarnya.
Suamiku itu tidak pernah bisa memberikan ketenangan. Kutinggalkan makanan lezat di piringku, bergegas menyusul laki-laki yang baru menikahiku. Galang sedang mengganti pakaiannya saat aku masuk ke kamar. Suasana hatinya sedang tidak baik sepertinya.
Kucoba untuk menahan ego. “Mas Galang tidak kasihan sama ayah. Sejak tadi, ayah menunggu mas untuk makan bersama.”
“Berhentilah merajuk, sudah ada dirimu yang menemaninya. Mau makan ya tinggal makan, untuk apa menunggu mas pulang,” jawabnya enteng.
Ingin rasanya kulempar laki-laki ini dengan alas kakiku. “Bukan merajuk tapi meluangkan waktu walau hanya untuk sekedar makan bersama tidak ada salahnya. Mas Galang akan menyesal jika suatu saat nanti tersadar dan tidak bisa melakukannya.”
“Kamu mengancam mas?” Sikap dinginnya muncul lagi.
“Ah sudahlah, susah bicara dengan orang yang pikirannya negatif terus. Mas Galang sudah dewasa, bisa menentukan mana yang salah dan benar. Ariana hanya mengingatkan, mau didengar atau tidak terserah.” Aku segera berbalik keluar dari kamar.
Taman belakang jadi pilihanku untuk menenangkan pikiran. Banyak nyamuk sih tapi setidaknya aku tidak perlu melihat sosok suamiku. Melihat caranya memperlakukan om Dirga membuatku berpikir apakah laki-laki seperti ini yang kuinginkan untuk menjadi ayah dari anak-anakku kelak. Laki-laki yang tidak bisa menghargai ayahnya sendiri.
Selama ini aku mengikuti hidupku seperti air, tidak terlalu muluk-muluk termasuk soal pendamping hidup. Selama dia bertanggung jawab, setia dan sayang pada keluarga sudah cukup. Soal materi atau sejenisnya tidak terlalu menjadi hal yang kuutamakan. Harta yang hilang masih bisa dicari tapi tanpa kebaikan, sama saja hidup dalam neraka.
Kepalaku menoleh ke arah lantai dua. Kamarku dapat terlihat dari tempatku saat ini. Kata-kataku tadi mungkin hanya di anggap angin lalu oleh suamiku. Statusku memang istrinya tapi itu tidak membuatnya akan mendengarkanku. Hari pertama saja sudah seperti ini, apa kabar hari-hariku selanjutnya. Bye bye deh.
“Non, ayo masuk. Tidak bagus diluar malam-malam.” Mbak Inah menghampiriku yang masih asik duduk di bangku taman.
“Tidak apa-apa mbak, di dalam sumpek,”
Mbak Inah tersenyum. “Sabar ya non. Mas Galang memang begitu sifatnya, terlalu di manja sama nyonya besar. Sejak dulu memang suka ribut dengan tuan besar tapi orangnya baik kok. Mbak senang akhirnya mas Galang mau menikah, apalagi istrinya secantik non.”
Mendengar pujiannya membuatku malu. Jarang sekali dapat pujia soalnya. “Oh ya, mbak Inah tau pacar mas Galang yang namanya Quinna?”
Dia mencoba mengingat-ingat. “Tau non, dulu sih sering di bawa kesini. Kalau mbak tidak salah ingat, orangnya cantik tapi sering sakit-sakitan. Mas Galang sering mengantar dia bolak-balik ke rumah sakit, malah pernah menginap disini supaya gampang kalau ada apa-apa katanya. ” ucap pembantu didepanku dengan polos.
Sikapnya tiba-tiba mendadak seperti orang yang salah bicara. “Aduh maaf ya non. Mbak tidak bermaksud memanasi..”
Senyumku mengembang. “Tenang saja mbak. Saya sudah tau kok.”
Pembantuku itu kembali agak membungkukan kepalanya. “Kalau begitu, mbak masuk dulu ya non, takutnya tuan besar nanti manggil.”
Kepalaku mengangguk, membiarkan wanita paruh baya itu berlalu dari hadapanku. Bosan duduk, kakiku beranjak menuju kolam renang. Saat kecil aku bercita-cita mempunyai rumah dengan kolam renang. Tubuhku duduk di pinggiran kolam, bermain air dengan kaki. Perlahan kubaringkan tubuh dipinggiran kolam dengan kaki tetap berada di dalam air.
Langit malam ini berhias bintang-bintang. . Tanganku terulur mencoba meraih salah satunya yang bersinar paling terang. Hubunganku dengan Galang mirip seperti yang kulakukan. Tanganku seolah bisa meraih bintang itu tapi kenyataannya hal itu tidak mungkin bisa kudapatkan. Pernikahan kamipun seperti itu, terikat dalam suatu hubungan tetapi perasaan kami tidak terhubung. Ada jarak yang terbentang dan sulit untuk dilewati. Tinggal menunggu waktu hingga berapa lama bisa bertahan.
“Masa kecilmu kurang bahagia?” Suara ini lagi, gerutuku dalam hati. Pestanya bubar sodara-sodara.
Aku segera bangkit. “Sudah tau, ngapain nanya. Ada apa lagi? senang sekali sih buat orang kesal.”
Matanya menyipit. “Sudah malam, cepat tidur. Mas tidak ingin mendengar keluhan ayah kalau kamu sampai sakit.”
“Alasan, mau ditemani ya?” Kakiku berlari meninggalkannya sebelum dia menjawab sindiranku tadi.
Keadaan kamar tampak lebih rapih saat kumasuki. Kado-kado yang tadi kulihat sudah tidak berada ditempatnya. Tempat tidur juga sudah bersih dari hiasan-hiasan ala pengantin baru.
“Barang-barangmu ada di kamar sebelah. Mas tidak suka kamar yang berantakan.” Laki-laki itu sudah muncul saja.
Aku segera pergi ke kamar sebelah untuk berganti pakaian. Ruangannya tidak kalah luas dengan kamar suamiku. Terbersit ide untuk pura-pura tertidur disini. “Jangan mencoba berpikir untuk tidur disana!” Teriakan Galang cukup keras walau dari kamar yang berbeda.
Pandangannya masih tajam saat melihatku kembali masuk. Pandanganku hanya menatap ke arah tempat tidur. Tidak sabar untuk segera merebahkan diri dalam balutan selimut yang hangat. Perasaanku rasanya jauh lebih baik, lebih bisa mengontrol emosi. Menutup pintu hati untuk laki-laki ini memang cara bertahan hidup paling baik yang harus kupegang teguh.
Bunyi pesan terdengar dari ponsel yang kusimpan di nakas. “Selamat malam, suamimu sudah pulang?” Dari Deo ternyata.
“Sudah, nih orangnya lagi marah-marah.”
“Syukurlah kalau begitu, mas hubungi dia daritadi tidak masuk soalnya. Ya sudah sabar ya, jangan di masukan dalam hati.” Balasannya cukup cepat.
Senyumku masih tersisa saat mengetik balasan untuknya.”Iya di masukinnya dalam got biar tidak kepikiran terus.”
“Bisa saja. Tidak boleh gitu, dia hanya perlu waktu untuk berubah. Sudah dulu kalau gitu, selamat beristirahat.”
“Pesan dari siapa sampai kamu senyum-senyum tidak jelas.” Laki-laki yang sedang duduk di meja kerjanya itu terusik dengan sikapku.
“Mas Deo, dia tanya mas sudah pulang atau belum. Dari tadi ditelepon tidak masuk. Sudah ah, kapan Ariana bisa tidur kalau mas nanya terus,” gerutuku sambil menutup mata.
Sebenarnya aku tidak ingin membuat kesalahpahaman, raut wajah suamiku langsung berubah saat kusebut nama sahabatnya. Deo memang baik tapi aku masih tau diri untuk tidak menyimpan rasa pada sahabat suamiku sendiri. Terlepas tidak adanya cinta di antara aku dan mas Galang, kupikir menyukai orang diluar lingkungan kami akan lebih baik. Daripada menanggapi semua omelannya lebih baik pura-pura tidur saja.
Keesokan harinya semua berjalan normal. Galang ikut sarapan walau tidak banyak bicara. “Nanti siang ada orang yang akan mengantar tempat tidur.”
“Mas beli tempat tidur yang baru?”
Matanya masih menatap ke arah surat kabar yang dibacanya. “Ya, ukuran paling besar.”
“Untuk apa? yang lamakan masih layak pakai.”
Tubuhnya bangkit setelah menghabiskan air minumnya. “Tidurmu berantakan sekali. Berapa kali mas terjatuh karena tendanganmu, itupun hanya menyisakan seperempat bagian.” Separah itukah gaya tidurku? atau hanya akal-akalan laki-laki ini untuk mempermalukanku didepan om Dirga.
Om Dirga yang sejak tadi diam hanya tersenyum. “Tidak apa, selama ini kamu terbiasa tidur sendiri. Nanti juga bisa berubah.”
“Berubah dengan cara apa yah?” tanyaku sambil minum teh.
“Punya bayi”. Tenggorokanku tersedak, hampir saja teh yang tadi kuminum kukeluarkan lagi, sementara itu Galang sudah menghilang dari pandangan.
Itu bukan hal yang kupikirkan saat ini. Memikiliki keturunan memang dambaan setiap pasangan tapi tidak untuk diriku setidaknya saat ini. Hubungan kami terlalu rumit, aku tidak ingin keadaan ini mengorbankan kehidupan berharga lainnya.
Rumah ini kembali sepi sepeninggal dua penghuninya. Om Dirga tidak terbiasa berdiam di rumah walaupun di usianya sekarang seharusnya menikmati masa tua. Tinggalan diriku sendiri, berkeliling rumah hingga bosan. Tidak ada teman yang bisa kuajak bicara selain pembantu.
Kamar menjadi tempatku kembali setelah merasa tidak ada yang bisa kulakukan di luar. Kakiku mengelilingi ruangan, melihat-lihat barang milik suamiku. Tidak terlalu banyak hanya benda-benda biasa. Mbak Inah sempat mengatakan kalau Galang memang jarang pulang dan lebih banyak tinggal di apartemennya.
“Mas Galang susah tidur kalau tinggal disini.” Begitu ucapan mbak Inah saat kutanya apa alasan suamiku tidak betah tinggal bersama ayahnya.
Pencarianku terganggu saat kiriman tempat tidur baru akhirnya datang. Ukurannya besar sekali dibanding tempat tidur yang lama. Aku hanya bisa tersenyum kecut saat beberapa pembantu menggoda dengan besarnya ukuran tempat tidur kami. Bagiku semakin besar, semakin jauh jarak di antara aku dan Galang.
Hari tidak terasa beranjak malam, mertuaku pulang dengan membawakanku makanan. Suamiku? tidak perlu menanyakan dia, mengusiknya hanya akan membuat perselisihan. Kehidupan pernikahanku mungkin semu tapi setidaknya aku tidak ingin melewatinya dengan pertengkaran yang terus menerus.
Jam menunjukan hampir tengah malam dan Galang tidak juga menunjukan batang hidungnya. Beberapa kali mataku menatap ponsel, berpikir untuk mencari tau keberadaannya.
Belum sempat memikirkan hal lain, sosok itu akhirnya muncul. Kondisinya dalam keadaan mabuk berat. Tubuhnya di bopong oleh Deo dan seorang wanita yang sempat bersitegang denganku di acara tahun baru.
Senyumannya sinis seolah berhasil mengalahkanku, menempatkan diriku beberapa langkah di bawahnya saat mendengar gumaman yang keluar dari mulut laki-laki yang menikahiku. Galang berulang kali menyebut nama kekasihnya, Quinna. Memanggil dan mengatakan betapa rindunya dia pada wanita itu. Memintanya untuk tidak pergi.
“Jangan terlalu dipikirkan, dia hanya sedang mabuk.” Deo berusaha menenangkanku sementara wanita itu semakin senang melihatku tidak bisa apa-apa. Keduanya lalu pergi, meninggalkanku dengan laki-laki ini.
Aku duduk di sofa, memandangi Galang yang sudah tertidur pulas. Setauku disaat mabuk, orang biasanya berkata jujur. Perasaannya pada Quinna pasti sangat dalam hingga kematian tidak menghapus kesetiaan yang dimilikinya.
Dengan hati-hati, tubuhku segera bangkit. Membuka sepatu dan kaos kaki milik suamiku. Galang tiba-tiba menarik tanganku dengan mata yang masih terpejam. Dipeluknya tubuhku hingga sulit untuk menggerakan tangan.
“Mas Galang jangan, hentikan..” sekuat tenaga kucoba melepaskan diri. Galang mulai menciumi leher dan wajahku.
Suaraku hampir hilang saat tubuhnya mulai menindihku. Bau alkohol tercium dari nafasnya. Air mataku mulai keluar, tidak menginginkan hal ini terjadi. Tangan dan kakiku masih terus mencoba berontak. Hal ini akan mengubah semua. Aku tidak akan pernah bisa memandangnya dengan cara yang sama.
“Quinna sayangku..” ucap laki-laki itu dengan suara lirih. Tubuhku bergetar saat kaos yang kupakai di sobek paksa.
“Mas Galang bangun. Aku bukan Quinna!” Pekikku dengan suara tercekat.
Tidak. Jangan lakukan hal ini mas, mengambil milikku yang paling berharga di saat dirimu tidak sadar. Menyakiti tubuhku dengan membayangkan wanita lain. Kumohon….
==========
Bagian 7
Malam itu, aku memilih berbaring di sofa. Dengan tenaga sisa, kakiku tadi berhasil menendang selangkangannya. Pelukannya memang terlepas tapi hebatnya dia hanya meringis sekejap lalu tertidur lagi. Laki-laki itu sudah kembali terlelap dan sesekali memanggil nama kekasihnya. Ah menyedihkan sekali hidupmu Ariana.
“Hei, kenapa kamu tidur di sofa. Tempat tidurnya tidak nyaman?”
Mataku menyipit lalu mengubah posisi menjadi duduk dengan gerakan lambat. Mataku baru bisa terpejam menjelang dini hari gara-gara kejadian semalam. “Mas sudah sadar?” suaraku serak khas bangun tidur.
Laki-laki itu beranjak menuju cermin, merapikan kemejanya. “Sadar? mas bangun lebih pagi darimu.”
Tanganku merapikan rambut yang menutupi mata. “Begitu ya, lain kali kalau mabuk, pulang saja ke apartemen mas.”
Dia terdiam lalu berbalik ke arahku, menatapku yang mulai bangkit. Kurasa Galang sudah bisa menebak apa yang terjadi padaku. Pandangannya tertuju pada kaos yang semalam kupakai belum sempat kuganti. Bentuknya sudah tidak beraturan, sobek disana sinu. Bercak-bercak merah juga terlihat di beberapa bagian tubuhku.
“Tenang saja, mas belum sempat melakukan hal mengerikan itu. Ariana tidak minta macam-macam. Kita sama-sama menjalani hal ini karena terpaksa jadi jangan ambil satu-satunya hal yang paling berharga untuk Ariana, terlebih dalam keadaan tidak sadar dan membayangkan wanita lain.”
Laki-laki itu masih terpaku di tempatnya, entah apa yang ada dipikirannya saat ini. Kakiku terus berjalan menuju kamar mandi. Berendam di air hangat sedikit mengurangi pegal tubuhku. Memar di pergelangan tanganku masih terlihat jelas. Di luar itu semua, aku bersyukur terhindar dari kejadian yang akan membuatku membenci laki-laki itu tanpa sisa.
Ruangan didepanku kembali sepi saat keluar dari kamar mandi. Setelah memastikan pintu terkunci, dengan cepat tanganku meraih pakaian yang sebagian sudah kusimpan dalam lemari milik Galang. Pilihanku kaos lengan panjang untuk menutupi bercak-bercak kemerahan di tubuhku.
Sosok wanita berwajah pucat terpantul di cermin. Terlihat lelah dan tanpa aura kebahagiaan. Kuhela nafas, menepuk pipiku beberapa kali. Semangat Ariana, jalan hidupmu masih panjang. Jangan menyerah hanya karena keadaan tidak mendukungmu.
Senyuman om Dirga menyambutku saat akhirnya bisa menguasai perasaanku. Galang duduk didepannya dengan kebiasaannya membaca surat kabar. Laki-laki itu menyeret kursi disampingnya saat kakiku akan memutar untuk duduk disamping mertuaku. Sikapnya memaksaku untuk mengalahkan ego, menuruti permintaannya tanpa membuat drama dipagi hari.
“Bagaimana tidurmu semalam? tempat tidurnya nyaman.”
Mataku melirik sekilas ke arah suamiku yang tidak bereaksi. Pandangannya masih tertuju pada surat kabar di tangannya. “Cukup nyaman yah walau agak berat,” jawabku sambil meraih selembar roti.
Om Dirga tampak bingung. “Berat?”
“Tolong buatkan mas roti isi coklat.” Permintaan Galang mengalihkan perhatian mertuaku.
Suamiku meletakan surat kabar lalu menatapku yang masih terdiam. “Kenapa diam? sudah seharusnya seorang istri melayani suaminya.”
Tanganku kembali meraih beberapa lembar roti, membuat seperti yang diinginkan oleh laki-laki disampingku. Roti isi yang kusodorkan, dia raih dan memakannya hingga habis.
“Sejak kapan kamu suka roti isi? biasanya kamu memilih sarapan dengan nasi goreng.” Mertuaku memberi pandangan yang sama denganku pada putranya.
Galang tiba-tiba bangkit. “Galang pergi dulu yah.” Laki-laki itu berlalu tanpa memperdulikan kebingungan kami. Salah makan kali ya.
Langkah laki-laki itu tiba-tiba terhenti, menoleh ke arahku dengan tatapan kesal. “Ambilkan tas kerja mas lalu bawa kemari.”
Om Dirga tampak menikmati keanehan putranya. Mau tidak mau, tanganku meraih tas milik suamiku yang ditaruh tepat di samping kursi laki-laki itu. Huh merepotkan saja, kenapa dia tidak mengambilnya tadi atau memang sengaja supaya bisa menyuruhku ini itu.
“Ini, lain kali jangan lupa sama tas sendiri,” gerutuku dengan wajah merengut.
“Kamu lupa dengan statusmu. Membawakan tas suami adalah bukan hal yang berat termasuk mengantarnya sampai depan rumah,” serunya saat meraih tas dari tanganku.
Kedua tanganku menyilang didada, merasa ada yang aneh dengan sikap suamiku pagi ini. “Tumben mas bersikap seperti ini, apa karena kejadian semalam? mas tidak perlu merasa bersalah. Lagipula memang tidak terjadi apa-apa.”
Helaan nafas terdengar. “Ini tidak ada hubungannya dengan kejadian semalam. Mas hanya menegaskan kewajiban kita berdua dalam pernikahan ini. Suka tidak suka, kamu dan mas harus menjalaninya layaknya suami istri lainnya. Cepat atau lambat, kita akan melakukannya juga.”
Kepalaku menggeleng, membayangkan hal itu membuatku merinding. “Tidak mas, Ariana tidak berpikir sejauh itu. Hubungan kita juga tidak tau akan bertahan berapa lama. Mas lupa dengan kata-kata mas sendiri.”
“Kamu istri mas sekarang, sudah seharusnya kita melakukan hal-hal yang umumnya dilakukan pasangan lain. Apa kamu mau membiarkan mas bergelimang dosa karena penolakanmu?” Halah…laki-laki ini memang pintar bersilat lidah kalau sudah ada maunya.
Kepalaku semakin pusing dengan sikap Galang yang berubah-ubah. Diibaratkan cuaca, dia memiliki seribu musim. Setiap hari berganti sesukanya sesuai perubahan hatinya. Tanganku menggacak-acak rambut, permintaanya sulit kupenuhi walau wajar dia memintanya.
“Tunggu Ariana pakai kb dulu,” jawabku setelah beberapa saat.
Kedua alisnya bertaut. “Kb? maksudmu alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan. Kamu tidak bosan mendengar ayah berbicara tentang cucu terus-terusan”
“Iya, memang itu fungsinya. Hubungan kita terlalu rumit, lahirnya mahluk mungil hanya akan membuatnya menderita.”
Galang menendang pot bunga berukuran sedang hingga pecah. “Kamu pikir mas monster yang tidak bisa melindungi darah dagingnya sendiri?”
“Ariana tidak meragukan itu, tapi mempunyai anak tidak semudah membalik telapak tangan. Melahirkan anak disaat keadaan kita seperti ini bukan hal yang Ariana inginkan. Apa mas mau dia tumbuh dengan melihat kita bertengkar setiap hari. Soal Ayah, biar Ariana yang akan coba mengulur waktu. Mengalihkan perhatiannya pada hal lain.”
Galang membuka pintu mobil dan melempar tas miliknya dengan kesal. “Kamu tidak tau bagaimana ayah jika sedang menginginkan sesuatu. Kita tidak akan berada disini jika bukan karena paksaan ayah.”
Bahuku terangkat. “Mungkin Ariana tidak tau banyak soal ayah tapi bukan hal yang sulit untuk melihat kesedihan di bola matanya. Kerinduan pada putra kesayangannya yang hampir tidak mempunyai waktu untuk bersamanya. Andai mas bisa melihat itu mungkin kita tidak akan terjebak pada kondisi ini. Sekarang semua sudah terjadi, memutar waktu juga tidak mungkin. Ariana harus menerima kalau mas Galang adalah jodoh yang tidak diinginkan.”
Dia mendesis. “Jodoh yang tidak diinginkan? bahasa apa itu.”
“Bahasa suka-suka Ariana yang cantik jelita. Sekarang pergilah, mas Galang sudah membuat kepala Ariana pecah pagi-pagi,” pekikku mulai gusar dengan pertanyaan-pertanyaannya.
Kutinggalkan laki-laki itu sebelum dia protes, kembali memasang senyum pada mertuaku yang masih meneruskan sarapannya. Kuharap pembicaraan kami tadi tidak terdengar. Sebenarnya tidak tega juga menolak permintaan ayah tapi memiliki bayi butuh kesiapan. Mengurus diri sendiri saja belum beres apalagi mahluk lucu yang masih rentan.
“Ayah pergi kerja dulu ya. Kalau bosan, jalan-jalan saja. Galang biasanya pulang diatas jam lima sore.”
Ide mertuaku dengan senang hati kuturuti. Berpetualang seharian sambil menunggu suami dan mertuaku pulang. Hitung-hitung sebagai pengganti honey moon yang kurasa tidak akan pernah terlaksana.
Pak Anto, supir pribadiku mengantarku menuju sebuah mall terbesar di kota ini. Deringan ponsel terdengar saat mataku asik menikmati pemandangan diluar jendela.
“Hallo,” sapaku tanpa melihat layar.
“Hallo, Ariana ini kak Putri. Suamimu meminta kakak menemanimu berjalan-jalan. Kamu dimana sekarang?”
Kepalaku teringat dengan wanita cantik yang datang di hari pernikahan. “Oh kak Putri. Tidak perlu repot kak, Ariana bisa jalan sendiri.”
“Sudah tidak apa-apa. Kakak juga sekalian ingin lebih mengenalmu.”
Aku menyerah pada bujukannya dan menyebut nama mall yang akan kudatangi. Sahabat suamiku itu akan segera menyusulku ke sana. Dia memintaku menunggunya di sebuah cafe yang letaknya tidak jauh dari pintu masuk.
Kesan pertama, rasanya seperti anak hilang saat menginjakan kaki di tempat ini. Mall terbesar dan termewah yang pernah kudatangi. Pakaian orang-orang yang kulihat tampak modern sementara diriku terlihat sangat biasa. Begitu juga dengan toko-toko yang berderet. Dari kejauhan saja bisa kutebak kalau harganya pasti mahal-mahal.
“Sudah lama?” sapa Putri saat menghampiriku.
Kepalaku menggeleng. “Baru beberapa menit.”
Putri mengamit tanganku. “Minumnya sambil jalan saja. Suamimu berpesan untuk membantumu membeli barang-barang yang kamu inginkan. Dia bilang, tidak perlu menahan diri. Beli saja kalau ada yang disuka.”
Ada apa ini, kenapa Galang mendadak berubah lagi. Mungkinkah karena kejadian semalam atau dia merancanakan hal lain, seperti bayi? Ah tidak boleh, hal itu tidak boleh terjadi.
Putri mengantarku berkeliling, memasuki toko demi toko dan keluar dengan kantong belanjaan. Aku hanya bisa mendesah, menatap bingung pada angka-angka yang tertera pada kertas pembayaran. Putri tersenyum ke arahku, menyuruhku untuk memilih-milih tanpa memikirkan berapa yang harus kukeluarkan.
Wanita cantik itu membawaku kesebuah salon. Meminta penata rambut yang terkenal di salon itu mengubah penampilanku. Awalnya aku menolak tapi setelah dijelaskan kalau rambutku akan tetap dibiarkan panjang akhirnya kuterima walau masih ragu dengan hasilnya.
Seharian itu sangat melelahkan, Putri memberiku penampilan baru dari atas rambut hingga kaki. Tidak terlalu berubah drastis, semua yang kupakai hanya yang membuatku nyaman tetapi tidak mengubah siapa diriku sebelumnya.
Di penghujung hari, ponselku kembali berdering. Galang memintaku datang ke rumah sakit. Mertuaku masuk rumah sakit setelah terjatuh di kantor. Aku segera pergi menuju rumah sakit ditemani Putri dengan perasaan tidak menentu.
Wanita cantik itu memintaku tetap tenang saat bahasa tubuhku memperlihatkan kegelisahan. Menyusuri koridor dengan pemandangan orang sakit bukan hal yang membuatku nyaman. Perasaanku semakin tidak menentu saat tiba di salah satu ruangan vvip.
“Maaf sudah membuatmu cemas. Ayah tidak apa-apa kok. Galang terlalu berlebihan sampai memberitaumu,” ucap ayah saat kuhampiri dirinya.
Bola mataku berputar ke arah suamiku, laki-laki yang tampak tidak peduli dengan hal selain dirinya sendiri. Haha..ternyata dia perhatian juga pada ayahnya. Dasar licik.
Putri pamit pulang setelah beberapa lama mengobrol dengan mertuaku. Galang ikut mengantarnya, meninggalkanku dengan om Dirga yang mulai mengantuk. Dokter memang menyarankannya untuk lebih banyak beristirahat.
Jemariku di usapnya dengan lembut. “Dengar Ariana, ayah tidak ingin memaksamu. Membebanimu dengan keinginan ayah. Hanya saja ayah punya satu permintaan, permintaan terakhir seumur hidup ayah.”
“Katakan ayah? permintaan apa itu.” tanyaku walau sudah bisa menebaknya.
“Kesehatan dan tubuh ayah sudah menua. Entah berapa lama lagi Tuhan memberi waktu. Mungkin permintaan terlalu egois tapi ayah tidak punya keinginan selain bisa melihat cucu sendiri.”
“Makanya ayah harus tetap sehat supaya bisa melihat cucu ayah lahir nanti,” ucapku menyemangatinya. Suasana sedih seperti sekarang membuatku tidak tahan.
Om Dirga tampak sangat bahagia. “Terima kasih. Ayah berdoa semoga saat itu tidak lama lagi.”
Senyumku tampak getir. Berdoa tidak akan cukup ayah. Hal itu tidak akan terjadi jika prosesnya saja tidak kami lakukan. Ah kepalaku pusing, sepusing-pusingnya.
Kuhempaskan tubuhku di sofa. Ruangan vvip ini memang tidak hanya nyaman untuk pasien tapi juga untuk keluarga pasien. Penataannya seperti berada di kamar sendiri sedang fasilitas cukup lengkap.
Galang muncul dari balik pintu. Dia seolah menghindari tatapanku. “Pulanglah, biar mas yang temani ayah.”
“Baiklah, besok Ariana datang lagi untuk menengok.”
Kuhampiri mertuaku yang sedang terlelap. Dengan hati-hati kucium tangan om Dirga sebelum bersiap pergi dari ruangan itu. Semoga laki-laki baik ini tidak perlu berlama-lama tinggal di rumah sakit. Rumah akan semakin sepi jika hanya di huni olehku dan putranya.
“Kenapa senyum-senyum sama orang tidak dikenal. Mau tebar pesona karena penampilanmu sudah berubah?” tegurnya saat mengantarku menuju tempat parkir.
“Siapa yang tebar pesona. Orangnya yang senyum duluan, ramah sama orang lainkan tidak ada salahnya.” Jawabku membela diri.
“Iya tapi kebanyakan yang ngajak kamu senyum itu laki-laki.” Tangannya membukakan pintu mobil untukku.
Galang mengulurkan tangannya. ” Cium tangan dulu sebelum pulang, istri yang lain juga begitu”. Bibirku merengut walau akhirnya kulakukan juga permintaannya. Biarlah yang penting malam ini aku bisa tidur tanpa gangguan.
Semua barang belanjaan kutaruh di kamar yang sama dengan tempat menyimpan kado-kado. Sebagian besar masih terbungkus rapih. Galang tidak menyukai kalau kamarnya berantakan. Kebetulan lemari yang dimilikinya susah sesak dengan pakaian dan benda miliknya. Hanya beberapa potong pakaian yang bisa kuselipkan, sisanya masih tersimpan dalam tas.
Tempat tidur baru ini ternyata empuk sekali. Dengan bantal, guling dan selimut tebal yang hangat, tidak butuh waktu lama bagiku untuk terbang ke alam mimpi. Seharian berjalan kesana kemari dan diakhiri dengan kecemasan pada kondisi om Dirga sudah cukup melelahkan. Suamiku juga tidak memberiku kata-kata yang memancing emosiku. Semoga besok, perjalananku lebih mudah lagi.
Sinar matahari masuk melalui sela-sela tirai. Mengusik mataku agar segera terbuka. “Cepat bangun, kamu bukan putri tidur yang harus diberi ciuman untuk terjaga.” Ugh lagi-lagi suara ini.
Kurengangkan otot-otot tangan yang kaku sambil duduk di tepi tempat tidur. “Bagaimana keadaan ayah?”
Suamiku tampak mengerjakan sesuatu di meja kerjanya. “Sudah membaik. Ayah bersikeras untuk pulang pagi-pagi sekali. Khawatir dengan menantu kesayangannya. Dia sekarang sedang istirahat dikamarnya.”
“Bagus kalau begitu. Setelah mandi, Ariana akan menemuinya.”
Galang memutar kursi ke arahku. “Ayah bisa menunggu. Cepat mandi dan pergi ke ruang makan. Kewajibanmu adalah melayani suamimu.”
“Oh ya sudah nanti Ariana menyusul tapi kalau terlalu lama sebaiknya mas Galang pergi saja daripada telat,” ucapku masih duduk di tepi tempat tidur.
“Tentu saja lama kalau dirimu tidak bergerak satu sentipun. Cepat mandi atau mas yang memandikanmu. Mas beri waktu lima belas menit!”
Air hangat dan busa memberiku kenyamanan. Kutatap langit-langit yang di dilukis seperti pemandangan di luar jendela pagi ini. Memikirkan jejak hidupku hingga terdampar dalam ikatan tidak jelas.
Siapa yang menyangka gadis dari kota kecil tanpa orang tua akan berada di posisiku sekarang. Menikahi laki-laki yang baru dikenal dengan karakter yang sangat berbeda dengan pangeran dalam mimpiku. Galang memiliki banyak kelebihan yang mampu memikat banyak wanita. Tidak salah jika Deo menyebutnya dengan playboy kelas dewa.
Terlepas dengan semua daya tariknya, akupun memiliki banyak alasan untuk menjauh darinya. Hidup dengan laki-laki yang tidak mencintaimu pasti berat dan akan lebih berat dengan kenyataan dia mencintai wanita lain. Apa bedanya menikah dengan robot, hanya saja robot tidak akan menyakiti perasaan kita.
Belum lagi masalah dia dengan ayahnya. Seburuk-buruknya seorang ayah, dia tetap orang tua yang harus di hormati. Tidak ada manusia yang tidak pernah berbuat salah. Kuharap laki-laki itu menyadarinya sebelum pintu maaf itu tertutup.
Ketukan di pintu terdengar beberapa kali. “Lama sekali sih. Kamu tidur atau mandi.” Galang sepertinya senang sekali membuatku kesal sepanjang hari.
“Iya, dua menit lagi selesai. Mas pergi ke ruang makan duluan saja.” Teriakku sengaja agar terdengar olehnya.
Setengah terburu-buru, aku segera menyeleseikan acara mandiku. Memakai dress yang kubeli kemarin lalu bergegas menuju ruang makan. Kekesalan terbayang di wajahnya saat aku duduk disampingnya. Nasi goreng di piringnya masih utuh.
“Buatkan mas Roti.” Tanganku bergerak cepat membuatkan pesanannya.
Mataku melirik ke arah jam dinding. “Mas sudah telat tuh.”
“Gara-gara kamu mandinya terlalu lama,” gerutunya sambil melahap roti pemberianku.
Pipiku mengembung. “Loh kok jadi Ariana yang salahkan? tadikan sudah dibilang pergi saja kalau Ariana belum selesai.”
Galang tidak membalas, mulutnya sibuk mengunyah roti isi buatanku. Sikapnya memang masih sulit kutebak, seperti remaja yang masih labil. Usia memang tidak bisa menentukan kedewasaan seseorang walaupun sikapku juga kadang masih seperti anak kecil.
“Mas Galang..”
“Apa lagi..,” jawab laki-laki itu sambil terus mengunyah sisa rotinya.
Mataku menatap manik indah milik suamiku. ” Ayahkan sedang sakit dan membutuhkan suasana yang tenang. Ariana pikir, akan lebih baik kita melakukan gencatan senjata. Kita bisa bersikap seperti sahabat daripada musuh.”
Dia menyeret kursi lalu berdiri. “Sudahlah tidak perlu meminta yang aneh-aneh. Mas pergi dulu, jangan lupa bawakan tas kerja.”
Salah besar aku mengatakan hal tadi. Jujur saja, hidup seperti ini membuatku tidak nyaman. Siapa yang akan tahan di bentak atau di marahi setiap hari. Dia mungkin lupa, keberadaanku disini juga karena terpaksa.
“Kenapa melihatnya seperti itu? marah karena kata-kata mas tadi.” Galang membuka pintu mobil bagian belakang.
Kepalaku menggeleng. ” Tidak, cuma sedang berpikir. Dosa apa Ariana punya suami seperti mas Galang.”
Matanya melotot, reaksi yang sudah kuperkirakan. “Tenang saja nyonya, kamu akan terus bersama suamimu yang tampan ini seumur hidup.”
Ayah tiba-tiba muncul dengan membawa tongkat. “Ada apa ini, pagi-pagi kok sudah ribut?”
Aku bergegas menghampiri mertuaku. “Ini yah, mas Galang bilang akan terus bersama Ariana seumur hidup. Mas Galang bisa romantis juga ternyata.”
Sebelah tanganku menutup mulut, menahan tawa melihat ekspresi wajah suamiku. Dengan gusar, Galang segera pergi meninggalkanku dan om Dirga. Mulutnya masih komat-kamit, menggerutu karena celetukanku tadi. Mertuaku tampak kebingungan sekaligus senang. Dia mungkin berpikir kalau putranya sudah berubah.
Hari itu, aku lebih banyak mengganggu pembantu-pembantu di dapur. Om Dirga kembali ke kamar setelah kupaksa untuk berisitirahat. Pengetahuanku soal masak-memasak memang masih belum banyak jadi sudah waktunya bagiku untuk mencari ilmu. Di tengah kegiatan baru, Galang mengirim pesan tidak akan pulang malam ini. Mengingat besok hari libur, kemungkinan dia akan bersenang-senang dengan teman-temannya.
“Nilaimu aman untuk pemula,” sahut mertuaku saat mencicipi masakan buatanku.
“Aman itu berapa nilainya yah?”
Om Dirga menyipitkan mata. “Enam sampai enam setengah,” candanya di iringi tawa.
Suara pintu di banting terdengar hingga kami berdua menghentikan acara makan siang. Galang memasuki ruangan dengan wajah memerah. Sekali melihat saja, orang pasti tau kalau suamiku sedang emosi. Bukannya tadi dia bilang tidak akan pulang?
“Biar Ariana yang bicara dengan mas Galang. Ayah tunggu disini saja ya.” Tubuhku lebih dulu berdiri saat memperhatikan om Dirga tidak suka dengan sikap putranya. Secepat kilat kakiku berjalan menuju kamar.
Kuhela nafas panjang sebelum menemui sosok yang sebenarnya tidak ingin kulihat. Tanganku mengetuk pintu beberapa kali lalu perlahan masuk. Galang tampak berdiri dengan tangan yang sedang melepas dasi. Sambutan dingin tidak kupedulikan, seperti inilah resiko hidup dengan laki-laki ini.
“Ada apa? mas tidak lapar,” ucapnya acuh.
“Ariana datang untuk menanyakan ada apa dengan mas?” Lirikan tajam suamiku memberiku jawaban atas keberanianku tadi.
Aku masih berdiri didekat pintu, mencoba untuk menjaga jarak. “Kenapa? sesuatu yang wajar jika seorang istri menanyakan keadaan suaminya.”
“Mas baik-baik saja. Sekarang pergilah, mas sedang ingin sendiri.” Dia beranjak menuju meja kerjanya.
Sifat keras kepala memaksaku untuk bertahan. “Kalau baik-baik, mas tidak akan bersikap seperti ini jadi jangan salahkan Ariana kalau tidak percaya dengan ucapan mas.”
Galang menghentikan langkahnya, berbalik dan menghampiriku. Pandangannya hampir saja membuatku ingin pergi dari kamar ini. Dia berhenti setelah jarak kami hanya beberapa centi. “Kamu tidak dengar perintah mas?” kali ini nada semakin meninggi.
Mataku tidak lepas dari menatapnya. Wajahku agak kumajukan. “Terus mas mau apa? nih pukul saja kalau mau tapi bilang dulu ada apa.”
Kedua alisnya bertaut, tidak menyangka aku akan seberani ini. Tangannya terangkat dan sedetik kemudian, dia menjentikan jemarinya dikeningku. Aku meringis, jentikannya memang tidak keras tapi rasanya sakit sekali. Kuusap-usappun tidak menghilangkan perihnya.
“Kamu sendiri yang menyodorkan wajahmu.”
“Iya.., Ariana tidak menyalahkan mas kok.” ucapku masih terus mengusap keningku.
Laki-laki itu beranjak kembali menuju meja kerjanya. “Di kantor ada sedikit masalah. Sudah puaskan? sekarang kembalilah ke ruang makan.”
Tanganku perlahan menarik kenop pintu. Entah dengan cara apalagi aku bisa mendekatinya. Berpikir untuk dia mencintaiku sih tidak mungkin tapi setidaknya bisa dekat seperti sahabat.
“Tunggu dulu, duduk di tempat tidur.” Perintahnya sebelum keluar dari kamar.
Aku mengikuti perintahnya walau masih bingung. Galang duduk disampingku setelah mengambil sebuah tube kecil dari lemari kecil dekat cermin. Rasanya dingin saat dia mengolesnya ke keningku.
“Kamu menyesal sudah menikah dengan mas?”
Aku diam sesaat. “Tidak juga. Menikah dengan mas membuat Ariana bisa merasakan kehangatan seorang ayah.”
“Jadi benar-benar demi ayah.”
Bahuku terangkat. “Apalagi selain itu, mas juga demikian bukan. Menikahi wanita yang sama sekali tidak dicintai pasti berat. Tidak sebanding dengan posisi mas saat ini. Kalau suatu saat mas menemukan kebahagiaan lain, Ariana rela untuk bercerai.”
Pandangan tajam itu kembali muncul. “Kamu mau membuat mas merasa bersalah karena sudah membawamu ke dalam pernikahan ini?”
Aku tersenyum. “Sikap mas sekarang terlihat tidak bahagia. Kehadiran Ariana juga semakin memperburuk suasana hati mas. Ariana tidak tega sama mas jadi kalau suatu saat nanti mas Galang menemukan wanita yang bisa menghadirkan kebahagiaan, Ariana iklas untuk meninggalkan ikatan ini.”
“Kamu ingin harta gono gini untuk kompensasinya?” Pertanyaannya membuatku kesal.
Tubuhku bangkit. “Tidak, tanpa di beri uang sepeserpun tidak apa. Ariana akan tulis di atas materai kalau mas tidak percaya. Sudah dulu ya, kasihan ayah makan sendiri.”
Galang ikut berdiri. “Tunggu sebentar, mas juga mau makan siang.”
Sikap laki-laki tampan ini benar-benar tidak bisa ditebak. Cepat sekali berubahnya. Wajahku menunduk ke arah lantai saat suamiku mendekati lemari pakaian. Tanpa canggung, dia berganti pakaian termasuk celana kantornya didepanku.
“Kenapa wajahmu merah, kamu belum pernah melihat laki-laki buka pakaian? jangan-jangan kamu belum pernah pacaran,” ledeknya saat kami keluar dari kamar.
Bibirku mengkerut. “Memangnya kenapa?”
Galang melirik ke arahku. “Jangan dulu besar kepala. Wajahmu tidak jelek-jelek amat, ya setidaknya kamu bisa pacaran dua atau tiga kali.”
“Tapi masalahnya mana ada orang tua yang ingin anaknya berhubungan dengan gadis seperti Ariana,” gumanku.
Laki-laki itu terdiam sesaat. “Memangnya kamu tidak bilang orang tuamu sudah meninggal? tidak ada yang salah dengan hal itu bukan.”
“Kalau semudah itu, hidup Ariana tidak akan sulit. Masalahnya orang lebih senang mendengar sesuatu yang buruk daripada yang baik. Ditambah dengan fisik Ariana yang campuran, semakin menjadi saja berita di luar.”
Raut ayah tampak senang saat kami berdua memasuki ruang makan. Menyeret laki-laki ini memang bukan pekerjaan mudah. Tanganku menyodorkan piring berisi makanan hasil karyaku.
“Mas tidak suka sayur.” Tolaknya dengan pandangan tidak suka.
Kuletakan kembali piring tadi didepanku. “Ya sudah deh. Ariana nanti kasih sama supir saja,”
“Makanan pembantu dan supirkan sama saja dengan yang kita makan?” Di rumah ini, makanan yang dibuat cukup banyak. Om Dirga menyuruh pekerja dirumahnya menyisihkan sebagian makanan-makanan itu untuk mereka.
“Ini Ariana yang buat sendiri. Ayah sudah makan tadi,” jelasku pelan.
Dia meraih piring yang kusodorkan tadi. “Sudah mas makan saja, anggap saja bayaran untuk memar di keningmu.” Senyumku mengembang, apapun alasannya setidaknya makananku tidak terbuang percuma.
Deheman ayah mengejutkanku, tidak sadar kalau mertuaku masih berada di meja yang sama. “Ayah senang hubungan kalian semakin baik.”
Galang mengalihkan topik dengan membicarakan soal pekerjaan yang tidak kumengerti. Ketenangan yang pertama kali kurasakan setelah datang ke rumah ini. Keduanya mengobrol cukup panjang dan baru terhenti saat ayah harus kembali ke kamar untuk beristirahat.
“Mm…kenapa mas pulang ke rumah bukannya tadi mengirim pesan malam ini tidak akan pulang?” tanyaku saat menyeret kursi untuk berdiri.
“Memang, nanti malam mas pergi lagi. Kenapa?”
“Tidak apa.” Berlebihan rasanya jika berpikir dia akan membatalkalkan kepergiannya hanya karena hubungan kami sedikit membaik. Melihat dan berada di antara wanita-wanita cantik diluar sana tentu lebih menyenangkan daripada bersamaku.
Galang kembali ke kamar setelah menyeleseikan makanannya. Aku sendiri memilih berkeliling rumah dan berakhir di taman yang menghadap ke arah kolam renang. Semua keindahan ini mulai membosankan seperti ada yang kurang didalamnya.
“Mas tidak akan pulang hari ini,” ucapnya sambil merapikan blajer yang dipakainya. Penampilannya tampak maskulin dan berkelas, sayang aku hanya bisa menatapnya.
Laki-laki itu meninggalkan aroma wangi setelah dia pergi. Kutepuk kembali wajahku, menyadarkan diriku untuk tidak hanyut dengan perasaan. Malam ini tidak ada bedanya dengan malam-malam sebelumnya, sendiri menikmati sisa hari.
Dvd milik suamiku menjadi alat pengusir kejenuhan. Kepala dan mataku hampir pusing karena berganti dari satu film ke film lainnya tanpa jeda.
“Non, ada tamu.” Suara mbak Inah terdengar dari balik pintu. Tamu untukku?
“Ya mbak. Nanti saya kesana,” balasku setelah mematikan tombol power.
Deo dan Putri, dua sahabat suamiku tersenyum saat kakiku memasuk ruang tamu. Mataku melihat om Dirga ada di antara keduanya.
“Ariana, pergilah bersama kedua sahabat suamimu ini. Nikmati malammu asal jangan pulang terlalu larut. Soal suamiku biar ayah nanti yang bicara padanya.” Desakan dan bujukan ayah juga kedua temanku akhirnya meruntuhkan pendirianku. Mbak Inah dan pembantu yang lain kuingatkan untuk segera menghubungiku jika terjadi sesuatu pada ayah.
Kedua sahabat suamiku membawaku menuju sebuah tempat yang membuatku sangat enggan memasukinya. Sebuah cafe yang tampak lumayan penuh. Tempatnya sebenarnya nyaman tapi suasananya tidak jauh seperti tempat hiburan malam.
Pandangan mata yang tertuju padaku membuatku sangat risih. Putri mendadaniku sebelum pergi dengan blouse dan rok pendek yang kami beli waktu itu. Stoking hitam yang kupakai memang mengaburkan warna kulitku tapi rasanya masih belum terbiasa.
“Kamu cantik walau dandananmu tidak se wah wanita-wanita disini, jadi jangan heran dengan pandangan yang teruju padamu. Percaya dirilah.” bisik Putri saat menggandengan tanganku.
Kami akhirnya duduk disebuah meja paling pojok. Jaraknya agak jauh dari panggung tempat live musik, hingga suasananya agak tenang. Mataku berkeliling memperhatikan orang-orang. Semua tampak menikmati malam mereka dengan tawa.
Pandanganku berhenti pada sebuah meja di yang dipenuhi sekumpulan laki-laki. Usia mereka sepertinya seumuran dengan suamiku. Penampilan yang menarik dan berkelas mampu mencuri perhatian para wanita di sekitar cafe.
Kualihkan wajahku saat pandanganku bertemu dengan sosok yang menurutku paling tampan diantara mereka. Sosoknya sekilas mirip dengan suamiku, bukan dari segi wajahnya tapi ada sesuatu yang membuat keduanya terlihat sama.
“Tenang saja, hari ini suamimu tidak ada jadwal disini,” Putri mengira aku khawatir jika tiba-tiba suamiku muncul.
Kami segera memesan makanan saat seorang pelayan datang. Aku memesan spagethi dan lemon tea. Menunggu makanan datang, Putri mengajakku bicara sementara Deo pergi ke toilet. Sikap wanita cantik didepanku terlihat agak gelisah, tatapannya tertuju ke arah kumpulan orang-orang di meja yang kulihat tadi.
“Ngapain sih Deo harus kesana segala,” gumannya sambil berdecak. Penasaran, kepalaku berputar ke arah yang dibicarakan wanita didepanku ini.
Keningku berkerut saat melihat sosok yang sedang bicara dengan Deo. Laki-laki yang kulihat tadi tampak cukup akrab dengan sahabat suamiku seolah keduanya sudah mengenal cukup lama. pandanganku kembali berputar ke arah Putri. Raut wajahnya menunjukan berubah menjadi lebih serius. “Dengar Ariana, diantara semua laki-laki yang ada disini. Kakak tidak ingin kamu dekat-dekat dengan laki-laki yang sedang bicara dengan Deo. Pokoknya tidak boleh.”
“Memangnya kenapa kak?” tanyaku dengan penasaran yang semakin menjadi.
“Kakak jelaskan nanti, orangnya datang.” Benar saja, Deo kembali bersama laki-laki itu. Senyumnya tampak ramah, terlihat seperti orang baik tapi Putri malah terlihat geram padanya.
Deo memperkenalkanku pada laki-laki itu, namanya Rahardian Anggara. Dia ternyata sahabat dekat suamiku, keduanya bahkan sempat sekolah ditempat yang sama. Ardi nama panggilan laki-laki itu, dia baru pulang dari luar negeri. Teman-temannya yang juga teman-teman suamiku kebetulan sedang berkumpul di tempat ini. Pantas Deo terlihat seperti sudah lama saling kenal.
“Yang ini sudah jadi hak milik Galang, lo dilarang colak-colek,” ucap Deo setengah bercanda saat memperkenalkan kami.
Ardi menatapku dengan pandangan tidak percaya. ” Dia istri Galang? Galang Adhipramana?”
Deo mengangguk. “Benar. Mereka menikah memang belum lama, yang diundang juga hanya sodara dekat.”
“Galangnya kemana? kenapa dia tidak ikut bersama kalian?”
Wanita didepanku mendelik kesal. “Dia ada keperluan, jadi kami yang diminta menemaninya.”
Kepala Ardi manggut-manggut. ” Hm kalau begitu bagaimana kalau dia kita kenalkan pada teman-teman yang lain. Memberitau mereka soal kabar bahagia ini bukan hal yang buruk bukan?”
Mataku melirik ke arah Deo dan Putri, sejujurnya aku merasa enggan. Bukannya tidak ingin mengenal sahabat suamiku tetapi ketidakberadaan suamiku membuatku tidak nyaman. Di sisi lain, aku khawatir di cap sombong jika menolak permintaannya. Ah bagaimana ini, apalagi hampir semua teman-temannya laki-laki lagi.
Putri bangkit, dia cukup mengerti kekhawatiranku. “Baiklah tapi tidak lama.”
Ardi tampak senang. “Tenang saja, lima menit juga cukup kok.”
Aku ditemani Putri dan Deo akhirnya menghampiri meja yang dipenuhi oleh kaum adam itu. Pembicaraan dan tawa mereka serentak berhenti dan menatap ke arah kami dengan pandangan bingung. Ardi menjelaskan alasanku mendatangi mereka. Hampir semua awalnya tidak percaya hingga Putri gusar sendiri. Menurut mereka, kejadian seperti ini pernah terjadi. Beberapa wanita yang pernah menjalin hubungan dengan Galang, mengaku-ngaku sudah menikah dengan laki-laki itu. Terlebih keadaannya juga sama, pengakuan mereka tepat disaat sedang tidak bersama suamiku.
“Huh merepotkan, kalau tidak percaya ya sudah. Tanya saja langsung pada orangnya,” gerutu Putri yang di sambut candaan para laki-laki itu. Dia mengamit tanganku, membawaku kembali ke meja kami sementara Deo masih melanjutkan obrolan dengan mereka.
Sikapnya semakin membuat bertanya-tanya, terlihat jelas kalau dia tidak menyukai Ardi dan teman-temannya. Makanan kami akhirnya datang, menghentikan sejenak keinginanku untuk bertanya soal alasan ketidaksukaan wanita ini. Deo lebih memilih makan bersama teman-temannya. Aku segera menyantap makananku, mengisi perutku yang mulai terasa lapar. Dari meja laki-laki itu terdengar agak riuh tapi aku malas untuk melirik. Pertanyaan-pertanyaan mereka yang seolah meragukan kebenaran ceritaku membuatku kesal.
Mataku tidak tahan untuk menatap ke arah keriuhan itu karena penasaran. Eh sejak kapan laki-laki itu sudah berada disana. Galang ternyata sudah berada di meja yang tadi sempat kudatangi, dia duduk disebelah Ardi dan Deo. Jantungku berdebar kencang saat pandangan kami bertemu. Jarang sekali aku melihatnya tertawa sesantai saat ini. Dia lebih sering menunjukan wajah angkuh dengan sikap menyebalkan. Sepertinya dia memang merasa lebih nyaman bersama teman-temannya dibanding diriku.
Kupalingkan wajahku, kembali menyuap sisa makanan yang hampir habis. Suara kursi diseret terdengar. Pandanganku berputar ke arah samping. Galang sudah duduk dengan tatapan tajamnya. Sebal, kenapa dia harus setampan ini.
Suamiku mendekat dan tanpa kusadari, dia menjilat sudut bibirku. “Cara makanmu tidak rapih. Mas hanya membersihkan sisa makanan di bibirmu,” ucapnya tenang.
Wajahku memerah karena malu dan kesal. “Itu namanya pelecehan.”
Dia tertawa pelan. “Sejak kapan seorang suami membersihkan sisa makanan istrinya disebut pelecehan.”
Mataku memperhatikan dirinya yang masih mengenakan pakaian kantor. “Mas Galang baru dari kantor?”
“Iya, ada pekerjaan yang harus diseleseikan jadi tadi pergi ke kantor lagi.” Kupikir sedang bersenang-senang dengan teman-temannya ternyata sibuk dikantor.
“Besokan libur, mas masih bisa mengerjakannya nanti?” tanyaku sambil menyeruput minuman.
Tubuhnya bersandar kebelakang. “Besok kita pergi mengunjungi nenekmu. Kebetulan ayah ingin istirahat sementara waktu di villa.”
Mataku berbinar mendengarnya. “Benar besok kita pulang kesana?”
“Benar, sebagai balasannya cium disini ya,” pintanya sambil menaruh telunjuk di bibirnya.
Laki-laki ini benar-benar aneh. Sikapnya berubah seratus delapan puluh derajat. ” Mas Galang kok jadi mesum sih.”
Putri tertawa ke arah kami, aku baru sadar dengan kehadiran wanita cantik ini. “Lo parah banget sih Lang.”
Suamiku hanya tersenyum tanpa merasa malu. Dia kembali mendekatkan wajahnya. “Kamu cantik sekali malam ini,” bisiknya yang diakhiri dengan mencium pipiku. Tubuhku hanya bisa mematung dengan sikapnya yang tidak terduga.
Dia bangkit lalu mengusap rambutku dengan lembut. “Kamu sama Putri saja ya, mas mau ke teman-teman dulu.”
Mataku terus mengikuti suamiku hingga dia kembali bersama teman-temannya. Beberapa dari mereka seperti mencandai sikapnya padaku tadi. Ardi juga bersikap sama seperti teman-temannya yang lain. Di antara mereka memang baru suamiku yang melepas masa lajang.
“Sikap Galang padamu tadi untuk menunjukan bahwa kamu adalah miliknya,” ucap Putri saat pandanganku beralih padanya.
“Menunjukan pada siapa?” tanyaku bingung.
Putri melirik sekilas ke arah Galang dan teman-temannya. “Pada teman-temannya dan para laki-laki yang sejak tadi memperhatikanmu. Sejak suamimu datang, matanya tidak berhenti menatapmu, seperti elang yang melihat buruannya. Dia memang pencemburu.”
Kepalaku menggeleng. “Cemburu? itu tidak mungkin. Mas Galang sendiri yang bilang kalau di pikirannya hanya ada Quinna.”
Senyuman Putri saat mendengar ucapanku tidak bisa kutebak. Rautnya kembali serius. “Ariana, kak Putri akan mengatakan sesuatu tentang pembicaraan kita yang sempat terpotong tadi. Sebelum itu kamu harus berjanji untuk tidak mengatakan hal ini pada siapapun termasuk suamimu.”
“Memangnya kenapa kak?”
Dia menghela nafas panjang. “Ini berkaitan dengan masa lalu Galang. Rahasia yang hanya di ketahui oleh beberapa orang, bahkan Deo sekalipun tidak tau soal ini. Kakak tidak bisa membayangkan apa yang akan terjadi jika dia tau,” suaranya berubah lirih.
Rahasia? aku paling penasaran dengan yang namanya rahasia. Terlebih ini menyangkut laki-laki itu. Dengan masa lalunya yang tidak kuketahui. Mataku menatap wanita didepanku, menunggunya bercerita dengan tidak sabar.
============
Bagian 8
Pembicaraan kami kembali menggantung ketika Galang tiba-tiba datang dan meminta kami ikut bergabung dengan teman-temannya. Mataku melirik ke arah keramaian di meja itu. Hal yang membuatku enggan beranjak selain karena ingin segera mendengar rahasia dari mulut Putri.
“Di sana terlalu ramai. Ariana disini saja ya?” pintaku dengan sorot memohon.
Pandagan laki-laki itu berputar ke sekeliling cafe. “Tidak boleh. Kuping mas sudah panas mendengar laki-laki disini membicarakanmu seolah kamu masih single. Putri juga ikut jadi kamu tidak perlu khawatir. Teman-teman mas juga tidak akan berani macam-macam padamu.” Wanita disebelahku sepertinya tidak menyukai ide laki-laki ini.
Tanganku terulur, meraih jemarinya. Tidak ada pilihan, Galang tidak akan pergi sebelum permintaannya kupenuhi. Putri ikut bangkit, mengikuti kami menuju teman-teman suamiku. Kurasa dia juga segan untuk menolak keinginan sahabatnya. Hilang sudah kesempatanku untuk mendengar rahasia itu.
Kami berdua duduk disamping suamiku. Kehadiranku menjadi sasaran godaan tapi tidak kupedulikan. Galang tiba-tiba menaruh tangan kanannya di pangkuanku. Sikapnya yang mendadak protektif benar-benar tidak kumengerti. Dia pernah bersikap seperti ini sebelumnya, berakting layaknya kami sepasang kekasih tapi kali ini rasanya berbeda.
Dia terlihat terlalu menghayati bahkan sorot matanya berubah lembut. Benarkah ini sosok Galang yang kukenal atau dia hanya mencoba menutupi keadaan kami yang sebenarnya. Bosan dengan keadaan, aku dan Putri lebih memilih bermain ponsel. Kuperhatikan Wanita disebelahku bersikap cuek pada teman-temannya.
“Bosan ya? mau ice cream tidak?” tanya suamiku mendekatkan wajahnya ke arahku.
Tubuhku tersentak saat jarak kami hanya tinggal beberapa centi. “Mas yang bayar ya.” Dia mencium bibirku sekilas. Pipiku merona, kaget dengan sikapnya.
Tanganku mencubit lengannya. “Mas apa-apaan sih. Banyak orangkan disini,” gerutuku dengan bibir mengkerut. Dia mulai semakin berani saja.
“Soalnya kamu menggemaskan sekali sih,” ucapnya lalu mencium pipiku.
“Hm…mentang-mentang pengantin baru. Dunia serasa milik berdua ya, yang lain cuma numpang,” goda salah satu teman Galang yang sukses membuatku semakin malu.
Suamiku hanya terkekeh, seolah mengiyakan godaan temannya itu. Jangankan orang lain, aku sendiri sebagai istrinya saja bingung. Galang memang suka berubah setiap detik tapi perubahannya kali ini berhasil membuatku salah tingkah.
Acarapun selesai, Ardi mengajak kami berempat pergi melanjutkan pertemuan di tempat lain. Galang dengan tegas menolak dengan alasan harus berangkat pagi sekali. Sahabatnya tampak kecewa tapi tidak bisa berbuat apa-apa dengan pendirian suamiku.
Putri menepuk bahuku. “Ceritanya nanti saja ya. Sekarang sebaiknya kamu pulang bersama suamimu.” Kepalaku mengangguk walau masih penasaran, kulambaikan tangan padanya sebelum berpisah.
Malam semakin larut saat mobil yang dikendarai Galang menembus jalanan. Menyusuri setiap sudut kota yang masih di huni sekumpulan anak muda. Mataku asik menatap keluar jendela, menikmati kelap-kelip lampu jalanan.
Sentuhan di jemariku mengejutkanku. “Kamu tunggu disini sebentar ya. Ada sesuatu yang harus mas ambil.”
Kepalaku berkeliling setelah kepergiannya. Mataku mendongkak mencari tau sedang berada dimana. Aku tersenyum miris, sepertinya ini aparteman suamiku. Pantas saja dia memintaku menunggu di mobil. Tempat ini sangat berharga untuknya, memiliki banyak kenangan dan tentu saja diriku tidak diizinkan menginjakan kaki disana.
Perubahan sikapnya mungkin hanya ingin suasana yang lebih baik, setidaknya di depan teman-temanku. Sebaiknya diriku tidak terlalu banyak berharap jika tidak ingin terperosok semakin dalam. Selama hubungan kami baik, om Dirga juga senang, kurasa aku tidak boleh meminta lebih.
Tanganku menepuk pipi. Sadar Ariana, kamu tidak akan pernah bisa bersaing dengan kekasihnya. Buka mata dan ditelingamu, jangan larut dalam kebahagiaan semu. Kebaikan laki-laki itu hanya karena terpaksa oleh keadaan. Ah kenapa rasa sakit ini muncul lagi..
Ponselku tiba-tiba berdering, Galang memintaku membawakan amplop coklat di dasboard. Keraguan menyeruak saat akan melangkahkan kaki menuju lobbi apartemen. Seorang satpam membawaku menuju kamar milik suamiku setelah aku bicara dengannya.
Perlahan aku membunyikan bel. Galang muncul dari balik pintu dengan raut datar. “Masuklah,” ucapnya memberiku jalan.
Jantungku berdebar, pikiran takut melakukan kesalahan di tempat ini membuatku lebih nyaman duduk di sofa. Mataku berkeliling menyapu kesemua penjuru. Ruangannya cukup luas dengan dominasi warna hangat. Disinilah suamiku lebih banyak menghabiskan waktu.
Aku menelan ludah, melihat begitu banyak foto-foto yang terpasang. Quinna, wanita itu ternyata jauh lebih cantik dari foto yang kutemukam sebelumnya. Dia terlihat seperti bidadari, pantas kalau Galang tergila-gila padanya. Kepalaku berpaling ke arah lantai saat mataku sempat tertuju pada sebuah foto berbingkai putih.
Gambaran didalamnya menunjukan keromantisan sepasangan kekasih. Quinna tampak tersenyum dengan binar bahagia saat kekasihnya mencium pipinya dengan lembut. Pemandangan yang menghadirkan gurat kesedihan yang seharusnya tidak boleh kurasakan.
Sialnya, gugup membuatku memecahkan gelas minum tanpa sengaja. Hal kecil sebenarnya jika saja gelas itu bukan benda kesayangan milik kekasih laki-laki yang saat ini berusaha menahan emosi saat menatapku. Salahku juga sih, tidak bertanya dulu saat dia menyuruhku mengambil minum sendiri.
“Biasakan bertanya dan berhati-hati saat berada di tempat orang lain.” suara dinginnya terdengar saat aku membersihkan pecahan gelas di lantai.
Mulutku terkunci rapat saat duduk kembali. Kupandangi jari manisku yang tergores, lukanya kecil tapi perihnya masih tersisa. Dari ruangan lain, aku mendengar Galang seperti sedang bicara dengan seseorang ditelepon. Nada bicaranya menunjukan emosi dan kemarahan yang belum pernah kudengar sebelumnya. Aku sadar dia sedang melampiaskan kemarahannya karena diriku pada orang lain.
Dadaku kembali sesak, benar-benar sakit hingga beberapa kali diriku harus mengatur nafas. Keringat dingin menambah ketidaknyamananku. Aku terus berdoa semoga bisa cepat pergi dari tempat ini.
Galang muncul dengan sikap tidak bersahabat. “Ayo pulang,” ucapnya dengan tak acuh.
Aku hanya bisa menurut, dengan langkah cepat bergegas meninggalkan ruangan itu. Pandanganku terus memperhatikan caranya saat memandangi ruangan didepannya sebelum menutup pintu. Mataku pasti sudah buta jika tidak bisa melihat betapa laki-laki ini begitu merindukan sosok kekasihnya. Galang melirikku sekilas setelah mengunci pintu, memintaku untuk segera pergi.
Suasana menjadi canggung saat kami berada di dalam lift, keberanian yang selama ini kupertahankan entah sedang bersembunyi dimana. Sosok laki-laki didepanku seakan sulit tersentuh. Mataku melirik ke arah sepasang kekasih yang berdiri disudut berlawanan. Keduanya tampak bahagia dan tidak memperdulikan keadaan sekitar. Seperti itukah rasanya di cintai seseorang…
Kendaraan yang kutumpangi kembali menembus jalanan. Suamiku menatap lurus ke arah depan, dia seperti kembali ke sikap awalnya. Tanganku meraih ponsel dan memakai headset di telingaku. Mataku mencari deretan lagu yang ingin kudengar, menemani suasana yang terlalu sunyi. Kuarahkan pandanganku keluar jendela saat lagu pilihanku terdengar. Lagu milik Chritina Perri yang tanpa sadar mengalunkan dari mulutku.
I can hold my breath ,I can bite my tongue
I can stay awake for days, If thats what you want
Be your number one
I can fake a smile, I can force a laugh
I can dance and play the part, If that’s what you ask
Give you all i’m
I can do it, i can do it, I can do it
But i’m only human, And i bleed when i fall down
I’m only human, And crash and i break down
Your word in my head, knife in my heart
You build me up and then i fall apart
‘Couse i’m only human
Sudut mataku mulai berair, tidak mampu meneruskan lirik lagu yang masih terdengar ditelingaku. Semua yang kurasakan seperti tergambar dalam lagu itu. Tamparan yang menyadarkanku bahwa aku hanya manusia biasa. Sekuat apapun bertahan, ada sisi kosong yang masih bisa tertembus.
Sentuhan hangat jemari terasa mengusap air mataku. Kepalaku menoleh dan menepis lengan itu agar menjauh. “Tidak usah dipedulikan, tadi terlalu terbawa perasaan.”
Laki-laki itu tampak kecewa dengan penolakanku. Aku memang harus mengembalikan posisiku ke tempat semula. Seperti yang pernah Deo ucapkan tempo hari, semua akan lebih baik jika diriku tidak melibatkan perasaan dalam hubungan ini.
Galang berjalan dibelakangku setibanya di rumah. Wajahku memasang senyum saat melihat ayah menyambut kami. Dengan alasan mengantuk, aku pamit pada mertuaku yang masih mengobrol dengan suamiku. Menjaga jarak dari laki-laki itu mungkin bisa membantuku sadar diri.
“Sudah mau tidur?” tanya Galang saat membuka pintu kamar.
“Ya, Ariana tidur duluan mas.” Tanganku meraih selimut dan masuk kedalamnya. Mataku terpejam walau belum sepenuhnya mengantuk. Sebelum mimpi menyambutku, sentuhan hangat itu kembali kurasakan di keningku.
Keesokan harinya, perjalanan kami di tunda karena ayah ternyata harus memeriksakan kondisinya sebelum bepergian jarak jauh. Sejak itupula, sedikit demi sedikit aku menghindar dari suamiku. Bangun lebih pagi dan tidur sebelum dia pulang kantor.
Dua minggu berlalu, keadaan kami masih sama hanya saja belakangan ini sosok Galang semakin jarang terlihat di rumah. Dia lebih banyak pulang ke apartemennya dengan beralasan jaraknya lebih dekat dengan kantor. Om Dirga memang sempat bilang kalau pekerjaan di kantor sedang sibuk-sibuknya.
Perasaanku terasa hampa, sepi disetiap hari yang terlewati. Hanya dengan mengingat laki-laki itu sanggup membuatku jantungku berdebar. Parahnya, aku kadang merindukan kemarahannya. Bodoh, bukankah biasanya aku memang tidak ingin bertemu dengannya..
Putri mengajakku kembali pergi saat malam minggu kembali menyapa. Om Dirga memberiku izin asal aku pulang tidak terlalu malam. Sebenarnya aku tidak terlalu ingin pergi tapi berada di rumah terus-menerus juga membosankan.
“Hei, kalian berdua sedang bertengkar ya?”
“Kak Putri tau darimana?”
Wanita cantik disampingku tersenyum lalu kembali fokus ke arah jalan. “Menebak saja, Deo bilang suamimu belakangan ini seperti anak yang kehilangan mainan. Emosinya turun naik tidak jelas, buat kesal orang disekelilingnya. Galang sudah lama tidak menunjukan hal seperti ini.”
Aku mengigit bibirku. “Entahlah kak, Ariana juga bingung.”
Jemariku ditepuknya pelan. “Sudah daripada memikirkan suamimu, kita pergi menyegarkan pikiran.”
Kami meneruskan perjalanan ke pusat kota hingga berhenti ditempat yang membuatku sulit untuk melangkah. Mataku menatap ke sekeliling, ragu untuk memasuki tempat didepanku. Putri mengarik tanganku, setengah memaksaku untuk mengikutinya.
“Kak, inikan tempat hiburan malam. Ariana tidak berani ah, mas Galang pasti ngomel kalau sampai tau.”
“Tenang saja. Sekali ini saja kok. Galang juga kadang suka kemari.”
Kakiku terus melangkah, menjajari wanita cantik itu hingga menemukan tempat yang masih kosong. Tempat hiburan malam seperti ini hanya kulihat dari layar kaca. Tidak jauh berbeda dengan bayanganku. Suara musik yang sangat keras, membuat telingaku berdengung karena tidak terbiasa.
Aroma rokok dan alkohol cukup menusuk hidungku. Rasanya tidak nyaman dan risih dengan pandangan laki-laki yang tersenyum genit. Padahal pakaianku hanya kaos dan jeans, lebih tertutup di banding dengan wanita-wanita berpakaian sexy yang sedang menari.
Pandanganku berkeliling, menatap orang-orang yang menikmati malam dengan kegiatannya masing-masing. Seorang laki-laki yang sepertinya pernah kulihat menghampiri meja kami. Dia mengerutkan keningnya ke arahku.
“Loh, kalian kok ada disini? tidak mau gabung. Galang ada disana tuh.” Fahri, salah satu teman suamiku yang datang saat pernikshan menunjuk ke sebuah meja meja, letaknya berlawanan dengan tempat kami duduk.
Putri segera berdiri, menarik dan menutup mulut laki-laki itu. “Ingat ya. Hapus dari ingatan lo kalau kita bertemu disini. Anggap saja kalau lo sedang mimpi. Awas kalau bilang sama yang lain.”
“Ugh gue kan jujur orangnya,” gerutunya saat duduk di sampingku.
“Iya, kali ini saja. Nggak usah bawel.” suara Putri terdengar mengancam.
Fahri bangkit kembali. “Ok. Kali ini saja ya tapi kalian hati-hati jangan sampai ketahuan. Galang dari tadi moodnya tidak jelas, ngomel-ngomel terus. Bahaya kalau sampai dia melihat kalian berdua ada disini.”
“Ok. Bos,” ucap wanita disebelahku sebelum laki-laki berwajah imut itu pergi.
Aku melirik Putri. “Kak, kita pergi saja ya. Cari tempat lain saja.” Perasanku diselimuti kecemasan.
“Tunggu satu lagu saja. Ada tempat yang mau kamu datangi?”
“Yang banyak cowok cakepnya,” candaku tanpa berpikir sambil tersenyum.
Raut Putri tiba-tiba berubah, dia menatap ke arah belakangku. Penasaran, tubuhku berbalik mengikuti pandangan wanita didepanku. Jantungku berdetak kencang saat melihat sosok laki-laki yang sedang melipatkan kedua tangannya didada. Wajahnya memerah dengan kedua tangan mengepal.
“Bagus. Mau ke tempat yang banyak cowok cakepnya ya,” ucapnya, mengulang kata-kataku dengan emosi.
Jemariku meraih lengannya, tidak ingin ada lagi salah paham yang akan menambah kusutnya hubungan kami. “Tadi hanya bercanda. Bisakah kita bicara sebentar. Please..”
Galang menghempaskan tubuhnya disampingku. Kemarahan belum memudar dari bahasa tubuhnya. Mataku masih memperhatikan reaksi laki-laki ini. Aku sudah gila karena melanggar aturan sendiri dengan merindukan laki-laki ini.
“Mas Galang pulang hari ini?” tanyaku tetap tenang.
Matanya terpejam lalu terbuka dan bangkit. “Tidak, ada acara sama anak-anak. Terserah kalau kamu juga ada acara. Masih ada yang mau kamu katakan?”
Kuhela nafas, menatapnya dalam-dalam. “Kangen…” Mulutku rasanya ngilu setelah mengatakan hal tadi.
“Kamu berharap mas menjawab apa?” balasnya dengan nada dingin lalu beranjak pergi.
Putri meminta maaf, merasa bersalah karena membawaku ke tempat ini. Aku melarangnya untuk mendatangi suamiku. Emosi tidak akan membiarkan penjelasan apapun masuk ke telinganya.
Kamipun bersiap pergi, berada di tempat ini semakin membuatku tidak nyaman. Baru berjalan beberapa langkah, dari arah meja teman-teman suamiku terdengar keributan. Orang-orang mulai menghindar, memberikan jalan saat Ardi dan beberapa temannya membawa dua orang laki-laki keluar dari tempat ini.
Putri menarik tanganku menuju tempat parkir. Kebetulan sekali, keributan itu kembali terjadi disamping mobil milik wanita cantik ini. Seolah terhipnotis, kami berdiri didekat mobil dan memandangi pemandangan mengerikan itu.
Fahri berjalan ke arah kami. Dia menyilangkan kedua tangannya didada. “Pulang sana, ini bukan tontonan.”
Wanita disebelahku memiringkan kepala saat sahabatnya menghalangi pandangan. “Kenapa dua laki-laki itu sampai di pukuli? apa salah keduanya?”
“Dua orang itu berusaha mengganggu dan hampir melakukan pelecehan pada Gia dan Rere, beruntung ada yang lihat dan jadinya seperti itu deh.”
Bola mataku berputar ke arah beberapa wanita yang berada berdiri di belakang Galang. Salah seorang dari mereka malah memegang ujung kaos suamiku. Bersikap dengan bahasa tubuh ketakutan. Seperti yang sudah aku tau bahwa sahabat-sahabatnya mempunyai arti penting dalam hidupnya. Mengingatkanku pada kejadian di pesta waktu itu.
Pandangan Fahri beralih padaku. “Ardi dan yang lain sudah tau tentang alasan Galang menikahimu. Mereka sepertinya tidak terlalu menyukai hal itu. Sebagian malah berpikir kalau kamu hanya memanfaatkan kekayaan suamimu. Sebaiknya kamu jangan ikut campur, kondisi Galang sedang tidak baik.”
“Mas Galang….,” pekikku saat laki-laki itu seperti berniat kembali memukul laki-laki yang sudah tersungkur. Teman-teman wanitanya menatap tidak suka ke arahku seolah aku menghentikan apa yang mereka tunggu.
Perkawinan kami mungkin karena perjodohan atau apapun namanya tapi satu hal yang pasti, status dan posisiku adalah istri sah. Aku berhak atas dirinya seperti halnya dia selalu mengatakan memintaku melakukan kewajiban sebagai istri.
Dia menghentikan gerakan tangannya, mengatur nafas beberapa kali. Kedua tangannya masih terkepal, menyisakan emosi yang belum sempat dikeluarkan. Ardi menghampirinya, menepuk bahunya sambil tersenyum. Kedua laki-laki itu akhirnya di biarkan pergi.
Merasa tidak puas, salah seorang dari wanita itu menghampiriku. Putri menahan pergelangan tangannya yang hampir menamparku. “Apa-apaan sih lo Gi,” ucapnya sambil mendorong wanita itu hingga terjatuh.
Yap, keributan sesi keduapun dimulai tapi kali ini yang wanita yang saling adu mulut. Para laki-laki mencoba memisahkan sebelum kejadian ini jadi tontonan orang-orang. Putri lebih banyak membalas ucapan-ucapan mereka. Aku memang lebih memilih diam daripada memanasi keadaan.
“Sudah, hentikan pertengkaran kalian. Putri, bawa Ariana pulang,” teriak suamiku yang membuat semua terdiam.
“Lang kenapa sih lo masih membela wanita ini. Dia menikah sama lo cuma karena harta dan status. Kenapa lo ngak tinggalin dia saja sih. Masih banyak wanita lain yang lebih pantas dari orang kampung seperti dia!”
Suamiku menghela nafas panjang. Menatap ke arah wanita itu dengan senyuman.” Berhentilah mengatakan hal buruk tentang dia. Pernikahan ini terjadi karena keinginan gue tidak ingin dia di miliki laki-laki lain. Hargailah pilihan gue dan jangan ikut campur urusan rumah tangga gue lagi.”
Wanita itu kembali pada teman-temannya yang masih terkejut dengan ucapan suamiku. Begitupun dengan diriku, tidak kusangka laki-laki yang sering menyakitiku dengan kata-katanya mampu bersikap seperti itu di depan teman-temannya.
Suamiku berjalan meninggalkan parkiran diikuti teman-temannya. Ardi menjajari langkahnya, merangkul bahu suamiku sambil mengatakan sesuatu. Begitupun dengan wanita-wanita itu, mereka masih sempat memberiku senyuman sinis.
Deo dan Fahri masih berada bersama kami. “Pulanglah, biar mas Deo yang menjaga suamimu. Tenang saja, dia sudah berjanji untuk tidak minum-minum lagi. Satu lagi, tidak perlu memikirkan kata-kata Gia. Dia hanya kesal karena Galang banyak berubah setelah menikahimu.”
Sepanjang perjalanan, aku lebih banyak diam. Jantungku seperti diremas, merasakan sakit yang harus kuredam. Kata-kata yang keluar dari mulut wanita itu lebih menyakitkan dari sebuah tamparan. Dia memang menamparku dengan kenyataan yang tidak bisa kupungkiri.
Putri meminggirkan mobilnya disebuah kios nasi goreng. “Kita makan dulu ya sebelum pulang. Kamu tunggu disini, biar kakak pesan dulu.”
Kugigit bibirku, menahan sekuat mungkin tangis yang mulai membayang. Menguatkan diri dengan semua hal buruk yang pernah kualami sejak kecil. Aku kuat, jangan menangis, gumanku dalam hati.
Wanita itu kembali dengan membawa dua piring nasi goreng di tangannya. Aku meraih piring yang disodorkan padaku. Dia tersenyum lirih sambil mengusap kepalaku. “Kamu harus kuat demi suamimu. Kakak akan menceritakan rahasia itu sambil kita makan.”
Putri mulai bercerita hal yang membuatku tidak bisa mempercayainya. Galang, Quinna dan Ardi juga Deo berteman sejak masih sekolah dasar. Pertemanan mereka semakin dekat setelah memasuki smp yang sama. Seperti remaja pada umumnya, Galang mulai menyukai sahabat masa kecilnya. Quinna, gadis yang mempunyai sifat lebih dewasa dari umurnya. Dengan latar belakang dari keluarga yang kurang harmonis dan kesehatan yang mudah sakit, Galang semakin menunjukan kecintaannya yang teramat besar.
Hubungan dan persahabatan itu berlanjut hingga masa perkuliahan. Putri mulai mengenal mereka sejak masa ospek. Hubungan mereka semakin kuat dengan banyaknya orang-orang baru dalam lingkaran pertemanan. Banyak yang iri melihat kekompakan mereka. Galang sangat loyal dan royal, tidak pernah sungkan atau ragu untuk membela teman-temannya.
Semua tampak sempurna hingga suatu hari, Putri tidak sengaja melihat Quinna dan Ardi keluar dari hotel. Sikap mereka tampak hati-hati bahkan terkesan berjarak. Awalnya wanita itu hanya menganggap keduanya kebetulan bertemu dan tidak berpikir macam-macam hingga akhirnya Quinna bercerita padanya.
Sebuah foto hasil usg menjadi bukti apa yang selama ini Putri khawatirkan. Dengan menangis, Quinna mengatakan kalau itu buah hubungan terlarangnya dengan Ardi. Galang sama sekali tidak pernah menyentuhnya bahkan jika Quinna memberinya izin sekalipun .
Panik, Ardi meminta Quinna untuk mengugurkan kandungan. Merasa tidak ada pilihan, dia menerima permintaan Ardi. Sejak itu sikap Quinna menjadi berubah. Dia lebih protektif pada Galang, seolah tidak ingin kehilangan laki-laki itu. Segala cara bahkan dengan cara kotor sekalipun. Quinna berhasil membuat kekasihnya menyentuhnya. Dengan sifat Galang, tanpa diminta dia memutuskan untuk bertanggung jawab.
Menjelang akhir semester, Ardi tiba-tiba pindah ke luar negeri. Dia beralasan ayahnya yang memintanya. Baik Quinna atau Ardi memilih menyimpan rahasia itu sendiri. Galang berniat menikahi kekasihnya setelah lulus. Tanpa merasa bersalah, Quinna dan teman-temannya dengan antusias merancang hari besar itu.
Kesehatan Quinna yang memburuk membuat rencana itu terpaksa tertunda. Putri meminta sahabatnya itu untuk jujur tapi Quinna menolak. Dia tidak ingin kehilangan kebaikan dan perhatian laki-laki yang mencintainya sejak mereka masih hijau.
“Siapa saja yang tau soal ini?” tanyaku setelah menenangkan keterkejutanku.
“Hanya kakak, Fahri dan mertuamu. Perselingkuhan keduanya sangat rapih. Siapapun tidak akan percaya meskipun kak Putri menceritakan hal ini. Terlebih Ardi mempunyai kesan positif di depan orang-orang.”
“Tunggu dulu, maksud kak Putri, ayah tau perselingkuhan itu?”
Putri menganggukan kepala. “Mertuamu punya banyak mata di mana-mana. Sebagai orang tua, dia mungkin merasa ada yang tidak beres. Hanya saja mertuamu tidak tau kalau Quinna sampai hamil. Wanita itu bersikeras bahwa dia tidak berselingkuh saat mertuamu menemuinya suatu hari. Entah apa yang telah dikatakan Quinna hingga hubungan Galang dan ayahnya semakin tegang . Untuk itu, mertuamu akhirnya memilih menyimpan rahasia ini meskipun perasaannya pasti tersakiti. Kamipun memilih begitu, kenyataan pasti akan menghancurkan suamimu.”
Kusandarkan kepalaku, tidak berniat meneruskan makanku. Cerita ini membuatku pusing tujuh keliling. “Dengar Ariana, kamu sudah tau kenyataannya sekarang. Bersabarlah menghadapi suamimu dan menjaulah dari Ardi. Kakak khawatir dia akan mengulangi hal itu, soeot matanya saat pertama kali melihatmu terlihat seperti ingin memilikimu.” pesannya sebelum kami melanjutkan perjalanan pulang.
Tiga mobil yang salah satunya milik suamiku terparkir di halaman. Rumah ini bisa menampung sampai lima mobil. “Ada tamu pak?” tanyaku saat satpam membukakan pagar.
“Iya. Tuan Galang baru saja datang sama teman-temannya non.”
Aku meneruskan langkahku menyusuri halaman yang sangat luas. Suara-suara orang mengobrol terdengar dari ruangan tengah. Galang dan beberapa temannya termasuk dua wanita yang salah satunya memaki-makiku tadi terlihat disana. Berani sekali dia datang setelah memaki-makiku tadi. Niatku untuk langsung menuju kamar terhenti saat melihat ayah ada di antara mereka.
Malas sebenarnya untuk bergabung tapi aku tidak ingin membuat ayah khawatir. Om Dirga tersenyum ke arahku. “Itu orangnya sudah datang. Ayo kita makan sekarang,” ucapnya bangkit lalu diikuti yang lain.
Galang menghampiriku, ada kemarahan dalam sorot matanya tapi aku tidak peduli. “Kemana saja? harusnya kamu pulang lebih cepat.”
Hari ini terlalu banyak kejutan. Memulai pertengkaran dengan suamiku tidak berada dalam daftar. Tubuhku sudah teramat lelah dan ingin segera berbaring. Perlahan, kuberanikan diri mendekatinya.
Galang tertegun saat melihatku memeluknya. Jujur saja butuh keberanian yang besar untukku melakukan hal ini tapi saat ini pikiranku teramat lelah. Di saat normal, diriku tidak akan seberani ini. Mungkin sebagian dari diriku ingin menunjukan pada teman-teman Galang, ada sesuatu di antara kami.
“Jangan marah, Ariana sudah cukup lelah malam ini. Kak Putri mengajak Ariana makan sebelum pulang,” desahku pelan.
Dia membalas pelukanku, mencium kepalaku. “Mas memang sangat marah padamu. Kamu berbuat sesukamu, menghindar dan pergi ke tempat hiburan malam tanpa izin. Kamu mengatakan ingin pergi ke tempat banyak laki-laki tampan lalu dengan mudahnya kamu mengatakan kangen. Sekarang kamu sudah berani memeluk. Terbuat dari apa sih hatimu?”
Aku melepas pelukannya, merasa pertanyaan itu seharusnya ditujukan untuknya. “Bukannya mas yang harus dipertanyakan. Setiap hari selalu marah, tawaran gencatan sejata juga di tolak. Setelah itu berubah lagi, bilang sok kewajiban suami. Bersikap hangat padahal tidak pernah ada rasa bahkan berani mencium Ariana di depan orang-orang. Ariana bukan mainan mas Galang!”
Suamiku merangkul bahuku. “Mas rasa kita punya banyak hal untuk di bahas tapi sekarang kita temui mereka dulu.”
Mataku meredup, mencari alasan untuk menghindar “Haruskah? Ariana bukan malaikat. Mas berharap Ariana akan melupakannya kejadian tadi semudah itu.”
“Mereka datang untuk minta maaf. Kamu tidak perlu memberi jawaban, cukup tersenyum saja. Mas pastikan tidak akan ada yang berani menganggumu lagi.” Aku tidak yakin dengan kalimat terkahir.
“Ariana mengerti bagaimanapun mereka teman-teman mas. Apapun yang mereka katakan, mas Galang tidak akan membela Ariana bukan.”
Galang kembali mencium kepalaku. “Kamu mengatakannya seolah mas suami tidak bertanggung jawab. Posisimu di atas mereka, kamu istri mas. Jika mereka tidak berniat minta maaf, mas tidak akan izinkan mereka datang. ” Ugh untuk kesekian kali, aku harus berdamai dengan keadaan.
Kami segera pergi ke ruang makan dengan semua pandangan tertuju ke arahku. Galang menyeret kursi di samping om Dirga untukku. Kedua wanita itu sepertinya puas melihat kami duduk terpisah. Hal ini sudah kuduga, niat mereka untuk meminta maaf sepertinya hanya untuk menarik simpati suamiku saja. Tapi aku tidak akan kalah dengan intimidasi keduanya, terlebih di rumahku sendiri. Jangan harap!
Galang duduk didepanku, di apit Deo dan Ardi. Cerita Putri tadi kembali membayang, bagaimana mungkin Ardi bisa bersikap seolah tidak ada yang terjadi. Mataku melirik ke arah mertuaku, tidak bisa kubayangkan perasaannya saat ini. Putranya sedang duduk bersama laki-laki yang sudah mencuri kebahagiaannya.
Galang dan teman-temannya membawakan aneka seafood cukup banyak. Aromanya cukup menggoda tapi perutku masih terasa kenyang. Aku pura-pura menutup mulut karena menguap, berada di sini hanya membuatku kesal. Om Dirga pamit meninggalkan kami setelah menyeleseikan makanannya.
Ardi meminta maaf atas sikap mereka yang menyinggung perasaanku. Aku tidak punya pilihan selain menerima permintaan maaf walau masih kesal terutama pada dua wanita itu. Emosi hanya akan mempermalukan diriku sendiri.
“Kamu tidak tinggal di apartemen suamimu?” Benarkan, wanita itu sepertinya gatal untuk tidak memancing emosiku.
Wajahku memasang senyum, melirik ke arah Galang memberinya agar isyarat agar tidak ikut campur. “Disini ada mertua yang harus kutemani. Galang juga tinggal disini jadi tinggal dimanapun bukan masalah.”
Gia menatap kesekeliling. “Selain foto pernikahanmu, disini tidak ada fotomu ya, berbeda dengan apartemen Galang.”
“Hanya sekedar foto sih tinggal datang ke studio foto saja lalu hasilnya tinggal pasang di dinding.” jawabku enteng.
Wanita di sebelah Gia menyikut lengan sahabatnya itu. “Kamu tidak cemburu pada masa lalu suamimu?”
“Pernikahan kami memang melalui perjodohan tapi kami punya cara tersendiri untuk menikmatinya. Soal masa lalu, apapun yang terjadi dulu itu adalah bagian dari kehidupannya yang harus kuterima begitupun sebaliknya. Aku menghargai hal itu karena kami punya masa depan sendiri jika tidak, Tuhan tidak akan mempersatukan kami dalam ikatan pernikahan.” Bukan hanya Gia, semua terdiam menatapku.
“Seribu pertanyaanmu tidak akan mengubah kenyataan kalau akulah yang dipilih suamiku. Salah besar jika kamu menumpahkan kekesalanmu padaku, tanyakan langsung padanya kenapa dia tidak memilihmu atau wanita lain. Pertanyaanmu hanya menunjukan perasaanmu yang sebenarnya. Aku menahan diri untuk tidak membalas semua ucapanmu di tempat tadi tapi tolong jangan lakukan hal serupa di rumahku. Kamu memang sahabatnya, wanita yang lebih dulu mengenalnya tapi diriku adalah istrinya, wanita yang harus dia jaga dan lindungi seperti yang diikrarkannya saat ijab qabul. Aku tidak ingin membuatnya berada di antara pilihan harus membelamu atau berada di pihakku. Satu hal lagi, sebelum berbuat sesuatu cobalah untuk menempatkanmu pada posisi orang itu. Apa yang akan kamu lakukan saat sahabat suamimu mengatakan hal yang sama seperti yang kamu katakan padaku tadi? ” lanjutku sambil menyeret kursi.
Tubuhku bangkit dengan suasana masih hening. “Sepertinya aku mulai mengantuk, lanjutkan saja acara kalian tanpa diriku.”
Aku berputar ke arah Galang. Berdiri di sampingnya lalu mencium pipinya. “Selamat malam,” bisikku.
Galang menahan lenganku. “Gia, minta maaflah. Aku mengizinkan kamu datang bukan untuk kembali mengusik pernikahan kami.”
Wanita itu menatap dengan sinis. “Kamu lupa dengan janjimu sendiri Galang, bahwa tidak akan mencintai wanita selain Quinna.” Bahasa tubuh suamiku mulai menunjukan kemarahan.
Tanganku menepuk bahu Galang. “Suamiku memang tidak pernah mengatakan cinta padaku. Kamu sudah puas nona. Aku tidur dulu, lanjutkan acara kalian,” jawabku enteng. Perdebatan ini tidak akan ada habisnya jika aku terus bertahan disini.
Perasaanku lebih tenang, bersyukur bisa menghadapi wanita tadi tanpa emosi. Penolakan, kata-kata yang menyakitkan bahkan pukulan pernah kualami di sepanjang hidupku. Hal sekecil itu hanya kerikil kecil, otakku selalu berpikir aku mampu menghadapi seberat apapun cobaan.
“Ariana, tunggu..”
Keningku berkerut saat melihat Ardi setengah berlari ke arahku. “Ada apa?”
Laki-laki setinggi suamiku menatapku dengan sorot bersalah. “Maafkan sikap Gia tadi, aku tidak ingin kamu dan Galang bertengkar karena hal ini.”
Senyumku menyungging. “Sudah kumaafkan sejak awal. Tenang saja, aku tidak marah pada siapapun.”
Ardi masih berdiri didepanku, menatapku dengan raut yang tidak bisa kutebak. Terlepas dari cerita Putri, laki-laki ini memang terlihat berbeda di banding teman-teman suamiku yang lain. Hal yang mengganjal di pikiranku sejak pertama kali melihatnya. Entah apa itu.
“Kalian sedang apa disitu?” suara Galang mengejutkanku.
“Mas Ardi minta maaf soal kejadian tadi. Dia khawatir kita bertengkar karenanya,” jawabku jujur.
Kedua alis Ardi terangkat. “Mas?”
“Kenapa? Ariana terbiasa memanggil teman laki-laki mas Galang dengan panggilan itu. Mas Ardi tidak suka?”
Kepalanya menggeleng. “Ah bukan itu, hanya tidak terbiasa mendengarnya. Kamu boleh memanggil sebutan apa saja.”
Laki-laki itu meminta maaf kembali padaku dan Galang lalu pamit. Mataku melirik ke arah suamiku yang masih menatap sosok yang baru berlalu. Sorotnya tidak bisa kutebak. “Ada apa?”tegurku, mengalihkan perhatiannya.
Pandangannya beralih padaku. “Kamu tidak perlu menjawab pertanyaan Gia tadi. Ucapanmu membuat mas seperti membawa selingkuhan ke rumah. Mas yang seharusnya menyeleseikan masalah itu. Dia sudah pergi setelah mas marahi, mas tidak ingin melihat wajahnya lagi.” Emosinya masih terlihat.
Aku tertawa geli. “Selingkuhan? Ariana memang tidak ingin membuat posisi mas susah dengan harus memilih berpihak pada siapa. Sudahlah, Ariana tidak apa-apa kok. Kembalilah kesana, nanti teman-teman mas berpikir macam-macam lagi.”
Galang menarik tanganku ke dinding hingga tidak berjarak dengan tubuhnya. Kepalanya agak menunduk, mendekati wajahku yang mendongkak ke arahnya. Bulu kudukku merinding saat ibu jarinya mengusap bibirku. Pandanganku seolah terhipnotis pada manik berwarna hitam legam yang menatapku tajam. Aku menelan ludah, mengangumi keindahan ciptaan Tuhan didepanku.
Jantungku berdebar kencang. Perutku terasa mulas dan geli bersamaan. Jemarinya beralih mengusap wajahku, menciptakan sensasi panas yang muncul di tubuhku. Tubuhku bergetar pelan saat merasakan bibir kami bersentuhan. Laki-laki ini memciumku dengan sangat lembut. Tidak terburu-buru ataupun bernafsu.
Aku larut dalam permainannya, membalas ciumannya yang menciptakan aliran listrik dengan desir yang baru pertama kali kurasakan. Dia melepas ciumannya, menahan tubuhku yang mendadak lemas.
Pipiku mengembung melihat senyum geli di wajah tampan itu. “Ciuman mas memabukan?” godanya sambil mengedipkan mata.
“Huh, itu pelecehan namanya” balasku dengan kedua tangan menyilang didada.
Suamiku tertawa pelan. “Pelecehan? bukannya kamu juga menikmatinya. Wanita memang suka berkata tidak pada hal yang disukainya. Tenang saja, mas juga sepertinya mulai kecanduan atau kamu mau mas melakukannya pada wanita lain?”
Tanganku mencubit pingangnya. “Tidak usah pulang sekalian.”
Galang mencium keningku. “Mas pasti pulang soalnya tadi ada yang bilang kangen sih.”
Dia mengusap kepalaku sebelum melangkah meninggalkanku. “I miss you too..” ucapnya tanpa membalikan badan.
Aku masih terpaku hingga sosoknya menghilang di ujung koridor. Debaran jantungku masih tidak beraturan. Kuusap bibirku, ciuman laki-laki itu masih terasa. Kejadian tadi masih terasa seperti mimpi.
Mataku tidak bisa terpejam saat berbaring di tempat tidur. Pandanganku masih tertuju pada pintu, berharap orang yang ada di pikiranku muncul. Waktu berlalu tapi tidak ada tanda-tanda dia akan datang.
Tanganku menarik selimut, Galang pasti kembali pergi keluar bersama teman-temannya. Dia memang teman yang baik dan pantas mendapatkan perlakuan serupa dari teman-temannya. Mengingat cerita Putri membuatku jadi kasihan pada laki-laki itu. Aku sendiri tidak tega menghancurkan bayangannya tentang kekasih dan sahabatnya.
“Belum tidur?” jantungku berdebar saat mendengar suara berat yang baru memasuki kamar.
Kepalaku memalingkan wajah saat laki-laki itu bersiap untuk mengganti pakaian. “Belum.”
Galang berbaring dengan tubuh dimiringkan menghadapku. Jemarinya merapikan rambutku. “Tadi mas keluar dulu, mengantar anak-anak pulang.”
Kucoba bersikap sewajar, berusaha mengendalikan diri. Tangannya meraih daguku, seolah tau aku menghindar dari tatapannya. Ah pertahananku seketika luluh hanya dengan melihat bola matanya dari jarak sedekat ini.
“Berjanjilah pada mas?”
“Berjanji untuk apa?” tanyaku bingung.
Dia tersenyum. “Dengan karaktermu, mas yakin kamu pasti mudah mendapatkan izin dari ayah tapi mas suamimu jadi kamu tetap harus minta izin pada mas setiap akan keluar.”
Kepalaku mengangguk. ” Itu saja?”
Raut wajahnya menegang. “Mas tidak suka kamu terlalu dekat dengan laki-laki manapun tanpa kecuali.”
Mataku menyipit. “Termasuk dengan teman-teman mas? Ariana tidak ada perasaan apa-apa dengan mereka.”
“Tidak perlu membantah, berjanji saja kamu tidak akan melakukannya,” sekilas nadanya terdengar meninggi.
Aku menghela nafas, tidak ingin membuat suasananya menjadi suram. “Ya, Ariana janji. Sekarang jawab pertanyaan Ariana, kenapa mas tiba-tiba bersikap seperti ini?”
Dia mengubah posisinya menjadi terlentang. ” Entahlah mas sendiri tidak punya jawabannya. Kamu tidak suka?”
Tubuhku berbalik memunggunginya. Jawabannya menggoreskan ketidakpuasaan di hatiku. Ucapan Gia yang mengingatkanku kalau galang sudah berjanji untuk tidak akan mencintai wanita lain kembali melintas. “Tidak apa-apa.”
“Dengar dulu. Semuanya serba cepat dalam hubungan kita. Mas tidak ingin memaksakan semua pada dirimu. Kamu perlu tau apa yang mas lakukan padamu, itu bukan main-main atau kesenangan sesaat. Mas tidak ingin melepasmu. Kita nikmati proses ini secara perlahan dan jika semuanya sudah jelas, mas akan menerima semua resiko atas janji mas dulu. Sekarang berbaliklah, kamu tau seorang istri tidak boleh tidur dengan memunggungi suaminya.”
Mau tidak mau kubalikan tubuhku menghadapnya. Galang menarikku dalam pelukannya. “Jangan cemberut, kamu tidak tau perasaan mas padamu saat ini. Melihatmu bersama laki-laki lain saja bisa membuat mas naik darah. Sekarang tidurlah, besok kita pergi mengunjungi nenekmu.”
Kepalaku mendongkak. “Benar? nanti gagal lagi seperti dulu.”
“Ya, kesehatan ayah sudah membaik. Kebetulan juga ada urusan disana tapi ingat kamu tidak boleh macam-macam termasuk pada laki-laki tempo hari.”
Senyumku kembali mengembang. “Siap bos.”
Galang meraih wajahku. “Mas serius Ariana. Berani macam-macam, mas akan mengurungmu di kamar,” ancamannya terdengar bukan gurauan.
“Maksudnya di kamar berdua dengan mas gitu ya,” candaku sambil mencibir.
Dia mencium pipiku dengan gemas. “Jangan membantah.”
Pandangan kami bertemu dan tanpa tau siapa yang lebih dulu memulai, kami bercumbu. Perasaan geli itu muncul kembali di saat aku menikmati ciumannya.
“Tidur dan mimpi indahlah. Selamat malam,” bisik suamiku setelah melepas ciumannya lalu kembali mencium pipiku. Kusandarkan kepalaku di dadanya yang bidang, menghirup aroma tubuhnya.
Mataku mulai terpejam dalam pelukan hangat laki-laki disampingku. Ketenangan yang belum pernah kurasakan seumur hidupku. Belaian di rambutku masih terasa, pertanda laki-laki ini masih terbangun.
“Tidak kali ini, tidak akan bisa…”gumaman Galang terdengar samar. Kantuk mengunci mulutku yang tidak mengerti maksud ucapannya.
Keesokan harinya aku terbangun dengan perasaan gugup. Apa yang terjadi di antara kami semalam, berputar dikepalaku. Tidak pernah terbersit bahwa aku akan seberani itu sampai berciuman dengan laki-laki yang sekarang sedang memasukan barang-barangnya ke dalam tas.
“Kenapa diam saja? cepat siap-siap, kamu sudah menyiapkan barang bawaanmu?”
Aku bangkit dengan kepala menunduk, bergegas ke kamar mandi. Debaran jantungku masih membuatku tidak bisa berpikir jernih. Kutepuk kedua pipiku, mengingatkan agar tetap tenang.
Galang masih tampak sibuk saat aku keluar dari kamar mandi. Dia mendongkak, menatapku dari ujung kaki sampai rambut. “Tidak boleh yang itu, ganti baju lagi. Biasanya juga kamu pakai kaos dan celana jeans.”
Aku berdecak. “Ah malas. Dressnya juga tidak terlalu pendek. Ariana juga belum beres-beres.”
Tangannya menahanku yang akan beranjak menuju kamar sebelah. “Sekali ganti ya ganti. Itu roknya terlalu pendek,” gerutunya kembali memandangi kakiku.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. “Kalian lama sekali. Kita bisa kena macet kalau terlalu siang, kalian lupa ini hari minggu.”
Aku berlari menuju mertuaku yang berdiri didepan pintu. “Mas Galang yah, masa Ariana harus ganti baju lagi katanya,”
Om Dirga menatap putranya sambil menggeleng. “Galang biar saja istrimu memakai yang dia suka. Ayah lihat bajunya juga masih sopan.”
Galang kembali melanjutkan kegiatannya. “Ah ayah selalu saja membela dia.”
Mertuaku akhirnya segera berlalu setelah mengingatkan kami agar segera bersiap. Akupun segera membereskan barang yang akan kubawa. Suamiku hanya menghela nafas, menungguku yang ribut sendiri karena bingung mau membawa apa saja.
“Argh pusing…”
Dia menghampiriku, membantuku memilah-milah. “Kita hanya pergi tiga hari dua malam. Bawa saja bajumu secukupnya. Kamu masih punya bajukan disana?”
Aku nyengir. “Iya ya, lupa.” Galang menjitak kepalaku pelan sambil melotot.
Persiapanpun selesai tapi tetap belum bisa berangkat. Barang yang di bawa mertuaku sangat banyak. Suamiku sampai menggelengkan kepala melihat bagian belakang mobil tidak ubahnya seperti orang yang akan mudik. Om Dirga membelikan barang-barang untuk kakek dan nenek.
Kami akhirnya berangkat dengan mengorbankan setengah kursi bagian tengah. Ayah duduk di depan dengan supir sementara aku dan Galang harus puas membagi tempat duduk. Tubuhnya agak besar sehingga terpaksa aku duduk dipangkuannya. Laki-laki itu memberikan jaketnya untuk menutupi kakiku.
“Ayah senang belakangan ini kalian rukun. Sepertinya tidak lama lagi akan ada bayi nih.” Aku tersenyum masam mendengar ucapan ayah.
Galang membelai rambutku. “Kamu dengar ayah bilang apa tadi,” godanya.
Kutatap dia dengan wajah polos. “Hm..bilang apa ya? Ariana tidak dengar apa-apa tuh.”
“Dasar,” gerutunya lalu memalingkan wajah keluar jendela.
Perjalananpun akhirnya terbayar memasuki kota tempat tinggalku. Galang melotot saat sepanjang jalan aku bersikeras untuk berhenti di rumah nenek. Om Dirga yang memperbolehkanku pergi sendiri semakin membuatnya senewen.
“Ayah jangan terlalu memanjakan Ariana dong. Dia jadi membantah Galang terus. Anak ini keras kepala sekali sih.” protesan suamiku tidak kudengar.
“Sudah biarkan saja. Istrimu sudah lama tidak bertemu dengan kakek neneknya. Lagipula nanti kita juga kesana setelah membereskan barang-barang.” bela mertuaku.
Kucium pipinya dengan malu-malu, sepertinya pikiranku sudah terkontaminasi. “Sekali ini saja. Please..” ucapku merajuk.
Dia berdecak frustasi. “Baiklah sekali ini saja nona,” balasnya sambil merangkul pinggangku.
Satu jam berlalu, kami tiba di depan rumah masa kecilku. Galang keluar terlebih dahulu, merapikan pakaianku. “Jangan berlebihan, sikap mas Galang seperti orang tua saja sampai baju juga diperiksa,” sindirku mulai jengah dengan perlakuannya.
“Apapun sebutanmu saat ini mas mempunyai hak atas dirimu. Ingat jalan yang benar, tidak perlu berlari.”
Kuhela nafas. “Memang kenapa kalau berlari? lebih cepat sampai bukan.”
Sorotnya semakin tajam. “Ya dan rokmu akan tersingkap hingga orang-orang bisa melihat keindahan kakimu.”
Aku tertawa geli, mengiyakan permintaannya daripada harus berdebat panjang lebar. Dia terus memperhatikanku yang mulai berjalan menuju rumah. Kerinduanku membuncah, rumah yang membosankan ini justru selalu kuingat.
Keningku berkerut saat melihat pintu tidak tertutup rapat. Tanganku membuka kenop pintu dan mendapati beberapa gelas tamu masih berada di meja. Mungkin tadi ada tamu, pikirku. Kakiku terus melangkah berniat mengejutkan keluargaku.
“Bagaimana ini kek, kita harus bagaimana?” suara nenek terdengar dari arah dapur.
“Sabarlah. Kita pikirkan semua dengan kepala dingin. Ada Ariana yang harus kita jaga, dia tidak boleh sampai tau.”
“Tapi kita harus tetap mengambilnya kembali…” Nenek mulai terisak.
“Apa yang kakek dan nenek katakan tadi. Apa yang diambil? kenapa Ariana tidak boleh tau.” kehadiranku mengejutkan kedua sosok yang kusayangi.
Raut nenek semakin pucat dan sembab. Mataku sempat berkeliling, keadaan di dapur terlihat agak berantakan, beberapa barang tampak seperti telah bergeser dari tempatnya. Kakek yang biasanya tenang, menatapku lirih. Sorot yang menyembunyikan sesuatu dariku.
===========
Bagian 9
Sejak tadi dahiku terus berkerut, memikirkan penjelasan kakek yang membuat darahku mendidih. Kedua orang yang sangat kusayang ini tidak memberitauku kalau mempunyai hutang pada salah satu teman kakek. Mereka baru saja datang dan mengambil beberapa barang berharga milik nenek sebagai pembayaran.
“Kenapa tidak bilang sama Ariana sih nek? berapa uang yang nenek pinjam, biar Ariana yang melunasinya,” ucapku dengan berapi-api. Memikirkan dua orang yang sudah sepuh di perlakukan tidak pantas tidak bisa kuterima, apapun alasannya.
Kakek mengusap kepalaku. Sorotnya lembut penuh kasih sayang. “Kamu tidak perlu melakukannya, apa yang dia ambil sudah melunasi pinjaman kami.”
Pandanganku masih tertuju pada wajah sembab nenek. Perkataan kakek tidak selaras dengan raut istrinya yang masih menunjukan ketidakrelaan. “Bukannya nenek ingin mengambil kembali barang yang tadi di ambil? biar Ariana yang datang padanya, mengembalikan pinjaman kakek sekaligus mengambil barang yang di ambil,” ulangku tetap bersikeras.
Wanita paruh baya didepanku bangkit dari kursi. Dia menghela nafas tanpa menoleh ke arahku. “Sudahlah, nenek tidak ingin membahasnya lagi. Nenek mau istirahat dulu.”
“Memangnya barang apa saja yang di ambil? Ariana nanti belikan yang baru,” seruku pada nenek yang terus berjalan, entah dia mendengarnya atau tidak.
Raut wajah yang di penuhi keriput didepanku membalas kemarahanku dengan senyuman. ” Jangan itu tidak perlu. Kakek tidak ingin orang-orang beranggapan kamu menikah karena harta.”
“Sejak kapan kakek mengkhawatirkan anggapan orang. Biarkan saja mereka bicara sesukanya toh kita tidak bergantung hidup pada mereka,” keluhku masih dengan menahan emosi.
Senyuman itu berubah lirih. “Memang memang benar, tapi jika itu menyangkut kehidupanmu, kakek tidak bisa menutup mata dan telinga. Sekarang pulanglah, kakek mau menemani nenekmu dulu. Kamu bisa kembali lagi nanti.”
“Kenapa harus pulang, memang Ariana tidak boleh tidur disini?” protesku, bersikeras tetap tinggal di rumah ini.
Kakek dengan sabar melayani ketidakpuasanku dengan senyuman. “Bukan begitu. Kamu mempunyai suami yang harus kamu perhatikan. Itu sudah menjadi tanggung jawabmu.”
Aku berdiri dengan malas. Bicara panjang lebarpun sepertinya tidak akan membuahkan hasil. “Baiklah tapi kakek tidak perlu mengantar. Ariana bisa jalan sendiri, jarak villanya juga dekat.” Sosok kakek akhirnya menghilang di balik koridor menuju kamarnya.
Kuhela nafas panjang, berusaha menenangkan perasaan sendiri. Kejadian ini bukanlah sesuatu yang ingin kutemukan pada saat pulang. Harusnya aku berada di sini saat hal itu terjadi, membela kedua orang yang kusayangi.
Kakiku melangkah menuju kamar, berniat mengambil beberapa baju untuk kubawa sebelum pergi. Pandanganku tiba-tiba terhenti pada gudang yang kulewati. Pintunya yang terbuka lebar membuatku penasaran. Kudekati ruangan itu setelah memastikan keadaan aman.
Tidak ada yang istimewa setelah kakiku memasuki ruangan itu. Isinya mungkin sama dengan gudang yang dimiliki orang lain. Barang-barang yang tidak terpakai, debu dan tentu saja sarang laba-laba. Mataku menemukan sesuatu yang menarik di sudut ruangan. Sebuah pintu yang tampak samar. Tumpukan dus berukuran besar hampir membuatnya tidak terlihat.
Aku diam sesaat, memikirkan apakah punya cukup nyali untuk memasuki ruangan di balik pintu itu. Film-film yang kutonton sebagian besar berjenis horor atau misteri tapi dalam dunia nyata, hal-hal menakutkan tidak masuk dalam daftar sesuatu yang ingin kulihat. Tapi rasa ingin tau semakin menggelitik, sudah sejak lama ruangan itu membuatku penasaran.
Keringat dingin dan adrenalin mulai memacu saat tanganku dengan hati-hati membuka kenop pintu. Dengan aplikasi penerangan di ponsel, sedikit banyak membantu untuk melihat. Kakiku mulai menuruni anak tangga. Sebelah tanganku yang bebas meraba-raba dinding, berharap menemukan tombol lampu. Kubuka mata lebar-lebar, mengedarkan pandangan kesekeliling. Hal tersulit tidak lain mengusir imajinasi yang terbentuk dari ketakutanku.
Sebuah ruangan cukup besar mengakhiri perjalananku. Keadaan disini lebih terang walau temaram. Udara agak pengap, satu-satunya ventilasi hanya jendela berukuran kecil di bagian atas. Itupun
Tangan kananku menggosok mata beberapa kali, meyakinkan diri yang kulihat adalah manusia. Seseorang yang sangat kukenal sedang berjongkok, membereskan sesuatu yang berserakan. “Mbak Ratmi sedang apa?”
Pembantuku itu menoleh dengan ekspresi terkejut. Wajahnya mendadak pucat, dia seperti menyembunyikan seseuatu dibalik badan. “Non Ariana?” suaranya terdengar ketakutan.
“Iya. Mbak sedang apa disini?” ulangku sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mengamati seluruh sudut ruangan.
Ruangan tempatku berada terlihat seperti sebuah kamar. Perabotannya tidak jauh seperti yang mengisi kamar tidur pada umumnya. Ranjang, lemari dan sebuah meja kecil untuk belajar. Bola mataku kembali beralih pada pembantuku yang sepertinya sudah menyeleseikan pekerjaannya.
“Ini ruangan apa?” tanyaku tidak bisa menyembunyikan penasaran.
Bahasa tubuh mbak Ratmi tampak gugup. “Ini cuma tempat buat istirahat. Kadang mbak suka capek dan disini rasanya lebih tenang. Tapi kalau tidur tetap di kamar atas. Non Ariana sedang apa disini?”
“Tadi kebetulan masuk soalnya pintu gudang tidak terkunci. Lalu itu pintu menuju kemana?” Tanganku menunjuk ke arah pintu yang berlawanan denganku.
Mbak Ratmi bangkit. “Oh itu menuju tempat penyimpanan makanan.”
Kepalaku manggut-manggut, baru mengerti kalau gudang dan tempat penyimpanan barang ternyata saling terhubung. Tapi saat tahun baru, mbak Ratmi sedang pergi ke rumah sodaranya. Jika bayangan itu bukan pembantuku lalu siapa?
“Non, ayo kita keluar. Mbak mau kunci pintu, soalnya banyak tikus.” Mbak Ratmi menegurku, mengingatkanku pada makhluk pengerat yang membuatku merinding.
Kami keluar melalui pintu penyimpanan barang. Pembantuku memintaku untuk tidak memberitau kakek dan nenek kalau aku sempat masuk ke dalam ruangan itu. Dia bisa diomeli kalau tau aksiku tadi.
“Oh ya mbak, tadi siapa yang datang? laki-laki atau perempuan?” Gambaran di kepalaku terbayang laki-laki berwajah sangar dengan perawakan besar seperti dalam sinetron.
Pembantuku itu memasukan plastik yang di bawanya tadi kedalam tempat sampah. “Laki-laki tapi mbak tidak tau jumlah pastinya. Permisi non, mbak masih harus beres-beres.”
Mataku memandangi kepergian mbak Ratmi. Dia seperti enggan menanggapi pertanyaan-pertanyaanku. Kuteruskan langkahku menuju kamar untuk beristirahat. Sebuah tempat untuk istirahat dengan ventilasi seadanya. Hm..ada yang aneh.
Kamarku tampak seperti saat sebelum kutinggalkan. Semua barang masih berada pada tempatnya. Tempat paforitku di rumah ini, dimana sebagian besar waktu kuhabiskan disini. Ponselku berdering tepat setelah kuhempaskan tubuh pada ranjang. Setengah bangkit, tanganku meraih tas yang keletakan di nakas.
“Hallo mas, ada apa?”
“Kenapa tidak memberi kabar? bagaimana keadaan kakek dan nenekmu. Mas belum bisa kesana, ayah ingin beristirahat sebentar.”
“Keduanya baik-baik kok. Biarkan saja ayah istirahat dulu. Ariana juga mau tidur.”
“Baik, istirahatlah. ” Teleponku di putus sepihak. Kutaruh ponselku sembarang. Meletakan kepala di bantal dengan posisi tubuh miring. Semilir angin yang berhembus dari balik jendela, menggoda mata untuk terpejam.
Rengkuhan tangan terasa di perutku. “Ng…..,” gumamku, melirik ke arah belakang dengan mata setengah terbuka.
Galang, laki-laki itu sedang menatapku dengan kepala yang bersandar pada tumpukan bantal. “Kapan mas datang?” suara serak khas bangun tidur meluncur dari mulutku, kembali memunggunginya.
Tubuhku bergetar pelan saat dia mencium lekukan leherku. “Satu jam yang lalu. Kamu sudah tidur saat mas datang.”
Pelukannya semakin erat, menarikku ke dadanya. Tangan kirinya kini beralih menjadi sandaran kepalaku sementara tangannya yang bebas menggenggam jemariku. Desiran hangat mengaliri tubuhku. Perutku terasa geli, seolah ada ribuan kupu-kupu didalamnya.
Tubuhku berbalik ke arah laki-laki yang masih menatapku dengan seringainya. Jemariku terulur, membelai bekas cukuran janggutnya yang kasar. Dia tersenyum geli melihatku meringis saat dengan sengaja mengigit jemariku yang mengusap bibirnya.
“Tidak ada yang lucu.”
Matanya mengedip. “Siapa yang bilang lucu.”
Galang meraih daguku, mengangkat ke arahnya yang semakin mendekat. Hembusan nafas terdengar memburu dan sedetik kemudian, bibir kami sudah bersentuhan. Jantungku berdebar saat merasakan setiap sentuhannya. Tanpa sadar tanganku melingkar di lehernya. Ciuman kami berganti cumbuan yang memanaskan suasana. Kepalaku kosong tidak bisa memikirkan hal selain gelora.
“Non, non Ariana…” ketukan terdengar dari balik pintu.
Mataku terbuka, mendapati diriku sendirian dalam kamar. Kedua tanganku mengusap wajah, tidak percaya kalau bayangan tadi hanya mimpi. Ingin tertawa rasanya, keberadaan laki-laki itu sudah membuatku berpikiran aneh.
“Ya mbak, ada apa?” balasku setelah sepenuhnya terjaga.
“Suami dan mertua non sudah datang. Non diminta datang.”
Aku segera bangkit, bergegas menuju kamar mandi. “Iya mbak, bilang saya sebentar lagi kesana.”
Tanganku mengusap cermin yang berembun. Bayangan seorang gadis yang terpantul terlihat pucat. Gen yang di wariskan dari garis ayah, setidaknya begitu menurut nenek. Setengah terburu-buru kuabaikan sosok itu, memilih membasuh wajah dan merapikan rambut agar tidak terlihat berantakan.
Barang-barang yang di bawa mertuaku kini sudah memenuhi ruang tamu. Senyum nenek menyungging, terlihat senang walau belum menghapus kesedihan di wajahnya. Hanya kakek yang terlihat tenang, bersikap wajar seolah tidak pernah terjadi apa-apa.
Galang mendekatiku, jemarinya merapikan rambutku yang panjang kebelakang. Dia tidak bereaksi saat kuberi tatapan bingung. Hubungan kami memang membaik tapi perubahannya kadang menyisakan pertanyaan di kepalaku. Apakah dia mulai membuka hatinya?
“Tidurmu nyenyak?”
“Eh oh ya begitulah.” Pertanyaannya membuatku teringat mimpi tadi.
Lengannya merangkul bahuku, menarikku hingga tidak berjarak. Kubiarkan sikapnya yang seakan menunjukan kepemilikan atas diriku. Kelegaan menjawab semua kehawatiranku, nenek dan kakek tampak bahagia melihat kedekatan kami. Kuharap keadaan kami bisa menghapus kejadian buruk tadi.
Galang mencium keningku saat kuberanikan diri melingkarkan lenganku di pingangnya. Sikapnya bukan lagi akting untuk membuat semua mata percaya. Perasaan bahagia meluap, ada setitik harapan kalau hubungan kami akan naik satu tahap.
Kupandangi kedua sosok pengganti orang tuaku. “Bagaimana kakek dan nenek suka? ayah sudah susah payah memilih dan membelikan barang-barang ini.”
Kakek mengangguk, jemarinya mengusap lengan istrinya yang sedang melamun. “Kakek dan nenek berterima kasih dengan pemberian mertuamu. Tapi hal yang paling membahagiakan kami adalah melihatmu dan suamimu seperti sekarang.”
Mertuaku tertawa renyah. “Lebih bagus lagi kalau ada bayi,” godaan om Dirga mengulas senyum masam di wajahku. Galang hanya mengusap rambutku tanpa ikut menggoda.
Kebahagiaan di hari itu tidak sepenuhnya membuatku tenang. Sesekali nenek masih saja terlihat memandang ke arah dapur dengan tatapan kosong. Aku sangat mengenal karakternya dan ini pertama kalinya diriku melihatnya seperti sekarang. Seolah sebagian jiwanya terengut dari hidupnya.
Kunjungan mertuaku tidak terlalu lama. Kesehatannya menuntut untuk lebih banyak istirahat. Kedatangannya ke tempat ini memang untuk memulihkan tubuhnya. Permintaan kakek supaya hal tadi tidak terdengar ke telinga mertuakupun kuturuti, tidak ingin memberi beban lagi pada laki-laki itu.
Aku memilih tinggal sebentar saat Galang mengajakku pulang. Masalah ini masih mengganjal menyisakan perasaan tidak enak. Kepulanganku ke kota ini juga tidak akan lama jadi setidaknya semua harus kupastikan benar-benar dalam kondisi baik disaat aku tidak ada. Suamiku tidak keberatan selama aku terus mengabarinya.
“Ariana pulanglah, temani suamimu. Kami bisa menjaga diri.” Tegur nenek saat melihatku sudah duduk manis di meja makan.
“Mas Galang sudah memberi izin kok. Lagi pula kepulangan Ariana tidak lama. Mm..siapa nama renternir yang nenek pinjam uangnya?” balasku dengan mengulang pertanyaan yang sama seperti tadi pagi.
Kedua sosok paruh baya didepanku terdiam. Aku tidak peduli jika nenek marah dengan sikapku selama nama itu keluar dari mulutnya. “Sudahlah tidak perlu di perpanjang. Nenek juga sudah ikhlas dengan apa yang dia ambil. Kamu tidak perlu memikirkan hal itu, lupakanlah.”
Mbak Ratmi tiba-tiba muncul dengan setengah berlari. Tangannya bergetar dan tampak sangat gugup. Dia mendekati nenek lalu berbisik seperti tidak ingin terdengar olehku. Perubahan raut wajah nenek membuatku bingung. Kemarahan dan ketakutannya terpancar saat tidak sengaja menatap ke arahku.
Kakek bangkit dari kursinya. “Mbak siapkan makanan untuk Ariana, kasihan dia belum makan dari siang.” Pembantuku menurut, dia bergegas menuju dapur dan menyiapkan makanan.
Pandangan kakek beralih padaku. “Kakek pergi dulu ya, ada yang harus dibeli. Kamu makan yang banyak ya sayang.”
“Mau Ariana temani kek,” tawarku sambil berbalik ke arahnya.
“Tidak perlu.” Aku terdiam saat merasa nada bicara kakek terdengar meninggi. Pembantuku ikut menoleh dengan pandangan bingung.
“Tidak perlu sayang. Maafkan kakek ya, hari ini sangat melelahkan. Setelah makan, pulanglah. Tidak ada tawar menawar lagi.” Ulang kakek sebelum akhirnya menghilang dari pandanganku.
Hari ini tidak berjalan seperti perkiraanku. Ada hal yang tidak bisa kulakukan selain mengikuti perintah kakek. Berharap ada cara untuk mengembalikan kebahagiaan di raut wajah nenek. Terkadang sebal juga mendengar omelan dan larangannya tapi tidak sekalipun kuragukan kecintaannya padaku.
Mbak Ratmi mengantar sampai pagar setelah aku selesai makan. Kakiku terus melangkah menyusuri jalanan menuju villa milik mertuaku. Suasananya sangat sepi dan tenang. Aku tersenyum sendiri saat melewati tempat yang mengingatkan pertemuan pertama dengan Galang. Keangkuhan dan sikap menyebalkannya masih menempel dalam ingatan.
Menjadi bagian dari keluarga om Dirga kadang seperti mimpi. Pernikahan ini merubah hidupku termasuk cerita didalamnya. Semuanya seperti berjalan di lorong gelap dengan ditemani lilin kecil.
Para pekerja di villa tersenyum dan menyapaku dengan sikap sangat sopan saat aku melewati mereka. Bangunan ini sangat besar hingga membutuhkan pekerja agak banyak di banding rumah biasa. Kuteruskan langkahku menuju kamar suamiku. Salah satu pembantu mengatakan kalau barang miliku di bawa kesana.
Galang melirik ke arahku yang membuka pintu. “Ya, biar nanti mas yang urus semua.”
“………….”
“Hari ini mas pulang, kamu tidak usah khawatir.”
“………….”
“Ya, tenang saja. Sudah dulu ya, mas ada siap-siap dulu.”
Pembicaraan Galang dengan seseorang di telepon tidak bisa kuabaikan. Suara dan cara menjawabnya terdengar lembut, seperti sedang mengobrol dengan seorang wanita.
“Bicara dengan siapa mas?” tanyaku penasaran.
Suamiku bangkit, melewatiku lalu meraih tas yang di bawanya. “Bukan siapa-siapa. Mas harus pergi lagi sore ini. Kamu disini saja temani ayah.”
Tubuhku berbalik ke arahnya. Firasatku sebagai wanita merasa ada yang disembunyikannya. Ribuan pertanyaan menunggu keluar dari mulutku. “Hari ini juga? ada masalah?”
Dia melangkah menuju cermin, merapikan pakaiannya yang agak kusut. “Masalah kantor,” jawaban singkatnya tetap tidak memuaskanku.
“Yakin? bukan masalah wanita.”
Galang tersenyum kecil. ” Kamu cemburu? karyawan di kantor mas bukan hanya laki-laki,” jelasnya berusaha meyakinkanku.
Aku menghela nafas, mencoba menenangkan kegelisahan yang mendadak muncul. “Sejak kapan mas Galang di panggil mas oleh karyawan kantor?
“Mas tidak ingin memperpanjang pembicaraan ini. Sejak menikah, mas tidak berhubungan dengan wanita manapun sampai sekarang. Membangun perasaan pada seseorang itu tidak mudah, kamu tau konsidi mas saat ini. Jangan mempersulitnya dengan pikiran negatifmu,” ucapnya sebelum menutup pintu.
Mataku mengerjap beberapa kali, menahan sesak dan bulir yang siap meluncur. Kugigit bibirku sangat kuat saat air mata tidak mampu lagi kubendung. Tidak ada suara yang keluar dari bibirku. Kuseka berulang kali mataku yang semakin berair, melangkah menuju jendela. Sosok Galang tampak sedang pamit pada mertuaku, dia menoleh sekilas ke arahku. Rautnya yang datar tanpa ekspresi segera memasuki mobil. Kendaraan yang di tumpanginya bergerak meninggalkan villa, menjauh dan perlahan menghilang dari pandangan.
Aku tidak ingin egois, sadar kalau ada sosok yang lebih dulu mengisi hatinya. Wanita yang hingga detik ini masih sangat di cintainya. Mungkin seharusnya aku lebih bisa menahan diri, tidak terlalu menunjukan perasaan yang sebenarnya. Sepertinya aku yang terlalu naif, berharap semua akan berjalan baik-baik saja.
Dengan langkah gontai, kuseret kaki menuju kamar mandi. Membasuh wajah yang sembab karena tangisan. “Ariana kamu kuat. Harus!” ucapku pada bayangan dicermin.
Sisa hari kuhabisakan di kamar, mencari kegiatan yang tidak membuatku cepat bosan. Telepon dan pesan dari Galang sengaja kuabaikan. Aku tidak ingin emosi membuat hubungan kami semakin memanas dan kembali seperti dulu.
Deringan yang kembali berbunyi untuk kesekian kalinya memaksaku untuk menjawabnya. Pesan terakhir yang dia kirim menunjukan Galang mulai tidak sabar dengan penolakanku. “Hallo..”
Helaan nafas terdengar. ” Beginikah caramu kalau sedang marah?”
“Marah? Ariana tidur tadi jadi telepon dari mas tidak terdengar,” balasku berbohong.
“Tidur? sebaiknya kamu cari alasan yang lebih baik. Dengar, mas tidak ingin membuat masalah kita semakin besar. Setelah kamu pulang, kita pergi ke tempat yang kamu inginkan. Tapi lupakan pikiran burukmu tentang apa yang mas lakukan disini,” bujuknya dengan nada rendah.
“Terserah,” balasku singkat.
“Ah kenapa wanita senang sekali mengucapkan kata terserah sih. Kita akan bicarakan lagi hal ini, lusa setelah kamu pulang,” ucapnya agak gusar.
“Hm..”
“Mas anggap kamu setuju ya. Selamat malam, miss you. Bye.”
Perasaanku sedikit membaik, setidaknya Galang tidak mengomel atau memarahiku seperti dulu. Usahanya untuk tidak menyerah menghubungiku juga harus kuhargai. Tidak ada yang bisa kulakukan selain mempercayai perkataannya.
Keesokan harinya setelah menemani ayah sarapan, aku pamit untuk menengok kakek dan nenek. Besok aku harus sudah kembali jadi hari ini akan kuhabiskan sebagaian waktuku bersama keduanya. Semoga saja kejadian kemarin tidak berlarut-larut.
Mataku berkeliling ruangan, rumah yang kudatangi tampal sepi. “Mbak, kakek dan nenek kemana?”
Pembantuku itu tersenyum. “Barusan saja pergi non. Mbak tidak tau mau pergi kemananya.”
“Oh ya sudah deh. Ariana mau disini sebentar.”
Mbak Ratmi pamit untuk mengerjakan hal lain. Rencanaku untuk mengajak keduanya berjalan-jalan sepertinya harus ditunda. Langkahku terhenti saat melihat pintu kamar nenek terbuka. Kudekati ruangan itu, berniat menutupnya hingga sesuatu menarik perhatianku.
Sebuah foto dalam bingkai berukuran kecil. Seorang wanita muda dan cantik tengah tersenyum ke arah kamera. Tanganku meraih foto itu, mengusap wajah yang berada di balik kaca. Ini pasti ibu pikirku dalam hati. Mungkin ini satu-satunya foto yang bisa diselamatkan dari kebakaran.
Aku kembali berkeliling setelah meletakan foto itu. Mataku memperhatikan kertas-kertas di nakas, mencari sesuatu di laci. Sebuah kertas yang berisi alamat rumah kami yang kebakaran kutemukan. Dengan cepat, alamat tadi segera kufoto dengan menggunakan ponsel.
Pembantuku tidak mengetahui aksiku, dia terlalu sibuk mengurus tanaman nenek di halaman belakang. Mungkin yang kulakukan salah tapi rasa ingin tau tentang siapa orang tuaku kadang menyiksaku. Selama ini informasi dari nenek atau kakek sama sekali tidak membuatku puas.
Hari kepulanganku tiba, Galang mengirim kembali sopir untuk menjemputku. Aku merasa sedikit kecewa melihat suamiku ikut tidak datang. Dia mungkin sibuk atau terlalu capek untuk datang menemuiku.
“Hallo..” sapaku pada orang yang kuhubungi. Tanganku gatal ingin mendengar alasan ketidakhadirannya.
“Hallo.., kamu masih di villa?” Dari suaranya Galang terdengar seperti baru bangun tidur.
“Iya, mas baru bangun?”
“He-em…, semalam ada acara ulang tahun teman. Baru selesai sekitar jam dua pagi.”
“Oh..” jawabku menggantung.
“Kenapa? ada yang mau kamu katakan,” tebaknya.
“Tidak, Ariana pikir mas ikut menjemput pagi ini,” suaraku semakin lirih.
“Maaf, mas tidak bisa sayang. Tapi kita tetap akan bertemu juga bukan.”
Kuhela nafas, menutupi rasa kecewa. ” Memang tapi tidak ada salahnya seorang suami menjemput istrinya pulang. Mas pasti pernah melakukan hal yang sama pada pacar-pacar mas dulu.”
“Maaf, mas seharusnya memberitaumu dari semalam kalau tidak bisa menjemput. Mas pikir dengan di antar supir sudah cukup. Jangan marah ya, mas tidak pintar membaca keinginanmu. Kalau ada yang kamu inginkan, katakan saja supaya hal seperti ini tidak terjadi lagi. Begini saja, bagaimana kalau kamu tunggu mas. Nanti kita pulang sama-sama.”
“Tidak usah, sudah telat. Ariana mau berangkat sekarang saja. Sekalian mau jalan-jalan, jadi hari ini pak Ican tugasnya mengantar Ariana saja.”
“Kamu mau jalan-jalan kemana?” nadanya terdengar kurang suka.
“Kemana saja, pokoknya jalan-jalan.”
“Mas boleh ikut?”
“Tidak, Ariana mau jalan sendiri,” tegasku tanpa bisa di tawar lagi.
“Baiklah tapi hati-hati. Angkat telepon dari mas apapun keadaannya. Satu hal lagi, jangan melakukan sesuatu yang membuat mas marah.” Aku yakin dia sedang menahan emosi saat ini.
“Mm..sudah dulu ya. Baterainya hampir habis.”
“Ariana..kamu..” Kumatikan ponselku sebelum Galang menyeleseikan ucapannya. Terserah dia mau menganggapku seperti anak kecil. Selama semua perasaanku keluar dan membuat lega apapun resikonya akan kuterima.
Pak Ican, sopir yang mengantar kuminta membawaku mencari alamat rumahku yang dulu. Kakek dan nenek sudah lama pindah tapi mungkin masih ada beberapa tetangga yang ingat dengan keluargaku. Tempatnya agak jauh, berada di pinggiran kota.
Setelah berkeliling, bertanya pada orang-orang, akhirnya kutemukan juga jalan menuju alamat yang di cari. Pak Ican menunggu di pinggir jalan karena jalan masuknya cukup sempit, hanya bisa di lalui satu mobil.
Mataku memperhatikan setiap nomor rumah yang kulalui. Aku berhenti disebuah warung kecil, membeli minukan dingin sekalian bertanya. “Maaf bu, saya mau tanya apa ibu ingat dengan keluarga Wiratama yang pernah tinggal di rumah nomor dua puluh. Rumahnya pernah terbakar dulu.”
Wanita paruh baya yang sedang menjaga warung mengerutkan dahinya. Dia tampak sedang mengingat sesuatu. “Oh iya ibu ingat. Memangnya adek siapa?”
“Nenek saya salah satu sahabat keluarga itu. Rencananya nenek saya mau mengadakan reuni jadi saya di minta untuk mencari teman-temannya.”
Kepalanya manggut-manggut, percaya dengan perkataanku. “Seingat ibu setelah kebakaran, keluarga itu pindah ke luar kota. Ibu tidak tau alamatnya yang sekarang.”
“Oh gitu ya bu. Kalau soal putri keluarga itu apa ibu tau soal suaminya, mungkin pernah dengar dia kerja dimana supaya saya bisa menghubungi.”
Pemilik warung itu terlihat kebingungan. “Menikah atau tidaknya ibu tidak tau. Kabar yang ibu dengar, putri pak Hasan, Amira mengalami perkosaan hingga hamil. Kebakaran itu katanya akibat ulah putrinya yang mengalami gangguan jiwa setelah kejadian itu. Dulu sempat ada kejadian kalau Amira hampir saja membunuh bayinya. Dia meninggal saat kebakaran sementara keadaan putrinya tidak diketahui. Kasihan sekali.”
Tanganku bertumpu pada etalase saat mendengar kabar yang mengejutkan. “Di perkosa? ibu yakin dengan berita ini?”
Dia mengangguk. “Ya, hampir semua warga disini mengetahuinya. Kasihan keluarga itu harus mengalami kejadian itu, padahal keluarga pak Hasan baik sekali termasuk putrinya.”
Kutenangkan perasaanku yang semakin tidak menentu. “Apa pelakunya tertangkap?”
“Soal itu tidak ada yang tau. Ada banyak gosip tapi yang paling sering didengar, pelakunya atasan di tempat putri pak Hasan bekerja. Anak itu memang kuliah sambil bekerja. Bule kata orang-orang sih.”
“Makasih bu, saya permisi dulu,” ucapku setelah membayar minuman yang kubeli.
Langkahku terasa berat, kabar yang kudengar sama sekali tidak pernah terbayangkan. Ejekan dan anggapan orang-orang selama ini tidak salah. Asal usulku memang tidak jelas bahkan aku lahir tanpa diinginkan. Aku berusaha tidak menyalahkan kakek dan nenek, membesarkan dan menjagaku pasti bukan hal yang mudah.
“Pak, kita pulang saja,” pintaku saat masuk ke dalam mobil. Mood untuk berjalan-jalan menguap entah kemana.
Supir pribadi suamiku menoleh kebelakang. Dia tampak kebingungan. “Maaf non, den Galang minta non di antar ke tempat lain.”
“Tempat lain?”
“Iya non. Restoran mungkin, bapak kurang hafal juga. Den Galang cuma minta non tidak boleh menolak.” Kepalaku mengangguk, mengiyakan permintaannya dengan senyum getir.
Kusandarkan tubuhku kebelakang dan memejamkan mata. Perkataan ibu penjaga warung berputar kembali di kepalaku. Diantara cerita yang masih kabar burung, hal yang pasti adalah aku hasil dari perbuatan tidak beradab laki-laki yang menodai ibuku. Ingin menangis rasanya hanya dengan memikirkan kehadiranku di dunia menjadi salah satu penyebab ketidakbahagiaan ibu kandungku sendiri. Sementara semua harus kutahan sendiri sampai kutemukan siapa ayahku.
==========
Bagian 10
Di luar jendela, langit semakin gelap dengan gelegar petir yang sesekali menampakan diri. Hujan sepertinya tidak lama lagi akan turun. Membasahi kehidupan yang membutuhkannya untuk bernafas. Andai perasaanku bisa semudah itu, mengeluarkan tangis yang sejak tadi kutahan. Tapi keadaan memaksaku untuk diam, memilih mengubur semua beban dan tidak membiarkan orang lain melihatnya. Kabar yang barusan kudengar bukanlah hal yang menggembirakan.
“Non, sudah sampai.” Teguran pak Ican membuyarkan lamunan.
“Bapak pulang saja. Tas saya nanti tolong di taruh di kamar,” pesanku sebelum keluar dari mobil.
Mataku memandangi restoran yang di minta Galang untuk kudatangi. Tempatnya cukup besar dan terlihat berkelas. Bukan tempat kesukaanku tapi tetap harus kumasuki. Sebaiknya aku menghubungi Galang dulu pikirku sambil meraih ponsel dari dalam tas.
“Hallo..” sapaku setelah mendengar panggilanku di angkat.
“Hallo, ada apa?” Balasan Galang terdengar datar dan malas-malasan.
“Kok ada apa, pak Ican bilang Ariana harus menemui mas Galang. Ariana sudah ada di parkiran nih. Mas Galang masih disana?”
Helaan nafas terdengar. “Mas tidak pernah menyuruhmu datang. Mungkin kerjaan teman yang iseng. Kamu pulang saja, tunggu mas di rumah.”
“Baik kalau begitu. Bye,” balasku sambil mematikan ponsel.
Suasana hatinya sedang buruk, mungkin karena pembicaraan kami tadi pagi. Tapi kepalaku juga sedang tidak bisa di ajak bekerja sama. Memaksakan diri untuk bertemu kurasa bukan tindakan yang bagus. Aku sendiri membutuhkan ketenangan.
Gerimis yang mulai turun memaksaku berlari menuju halte terdekat. Beberapa orang juga berteduh, sama dengan diriku. Menunggu kendaraan dan pulang menemui keluarga sementara diriku hanya akan menemui ruangan yang sepi. Hanya pekerja rumah yang akan menyambutku dan itupun karena pekerjaan.
Menjelang malam, aku baru tiba di rumah. Galang sedang memasukan beberapa baju ke dalam tas saat tanganku membuka pintu kamar. Tidak kusangka dia sudah lebih dulu datang. Dia hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan kegiatannya.
“Mas mau kemana?”
“Keluar kota selama beberapa hari.”
Emosi mulai menggelitik. “Bukannya mas bilang mau ajak Ariana pergi setelah pulang dari villa. Memangnya mas mau pergi kemana? dengan siapa?”
“Kita bicarakan hal itu setelah mas pulang. Mas pergi untuk urusan kantor, tidak lama hanya beberapa hari,” balasnya tanpa menoleh ke arahku. Sikapnya membuatku tambah kesal.
Aku duduk di tepi ranjang, mengamatinya yang masih menyibukan diri. “Mas Galang marah sama Ariana ya?” tebakku, bosan dengan ketidakpeduliannya.
Dia menoleh ke arahku lalu menggelengkan kepala. “Apa mas terlihat sedang mengomelimu? Maaf mas tidak bermaksud mengabaikanmu. Ada masalah di kantor yang harus mas selesaikan. Mas janji kita akan liburan setelah urusan mas selesai.”
Sikapnya yang menjadi lebih pendiam membuatku kebingungan. Sorot mata dan pandangannya terlihat memendam sesuatu. “Berapa hari perginya?” Ucapku memecah kebisuan.
“Tiga atau empat hari. Mas nanti sering-sering mengabarimu.” Aku mengigit bibir, tidak berdaya untuk mencegahnya pergi.
Galang mengusap punggungku sebelum pergi. Di ciumnya kepalaku, menenangkan kegelisahan. “Mas tidak lama sayang.”
“Hm..kalau begitu Ariana boleh pulang lagi. Rumah ini terlalu besar dan sepi.”
Dia menatapku dengan raut serius. Ekspresi di saat ada sesuatu yang tidak disukainya muncul. Kami memang belum lama berhubungan tapi perubahan wajahnya yang seperti sekarang sangat kukenal.
“Baiklah, kamu boleh tinggal disana selama tidak macam-macam. Ponselmu harus tetap aktif. Ok.”
Aku tersenyum, sikap protektifnya kali ini membuatku nyaman. “Mas sendiri tidak boleh nakal atau Ariana tidak akan mau di ajak pulang.”
Galang tertawa pelan lalu mengangkat jari manisnya. Cincin pernikahan kami masih melingkar disana. Diraihnya tubuhku dalam pelukannya. ” Apapun yang terjadi percayalah pada mas,” bisiknya ditelingaku.
“Kenapa mas tiba-tiba bilang begitu?”
Wajahnya mendekat dan mencium bibirku beberapa detik. “Tidak ada maksud apa-apa. Hubungan kita baru saja membaik tapi masalah akan selalu ada. Kepercayaan itu penting walau jarak kita berjauhan.”
Tanganku mempererat rangkulan di pinggangnya. “Mas sedang tidak berbohong apapun pada Arianakan?”
“Kita bicara lagi nanti ya. Mas pergi dulu.” Dengan berat hati kulepas rangkulanku. Menatap Galang yang membawa kendaraannya menghilang dari pandangan.
Tinggalah aku sendiri di bangunan besar ini. Suasana sangat sepi nyaris tanpa suara penghuninya. Hanya derap langkahku yang terdengar, itupun sengaja kuhentak agar menimbulkan bunyi saat berjalan. Kepalaku memandang ke sekeliling ruangan lalu pergi menuju kamar dan berusaha untuk tidur, mengabaikan sejenak masalah hari ini.
Sejak pagi aku sudah bersiap-siap untuk segera kembali ke kotaku. Selain merindukan ketiga sosok yang kusayang disana, ada hal lain yang ingin kupastikan. Pertanyaan yang berputar-putar menunggu waktu yang tepat untuk keluar. Aku harus mendengar sendiri kebenaran kabar itu dari kakek.
Tidak banyak yang kubawa, hanya tas berisi pakaian yang belum aku sentuh semenjak kembali. Pak Ican kembali yang akan menemaniku karena Galang membawa mobilnya sendiri. Sejujurnya perasaanku memburuk, tiba-tiba saja merasa takut dan cemas saat memikirkan laki-laki itu. Perkataannya sebelum pergi meninggalkan tanda tanya besar dikepalaku.
Hidup itu memang butuh perjuangan, aku sering mendengar kalimat itu. Sejak kecil, setiap hari adalah perjuangan bagiku. Tapi kali ini semua terasa sangat berat. Begitu menyiksa hingga kadang terpikir untuk menyerah menjalani hidup. Bodoh memang tapi aku hanya manusia biasa.
Dengan malas, kuraih ponsel yang berbunyi dari dalam tas. Pesan dari nomor yang tidak kukenal. Aku tersentak melihat gambar yang dikirim seseorang terlihat di layar. Marah dan sedih bercampur menjadi satu. Suamiku sedang berfoto dengan teman-temannya dengan latar pantai. Ada Deo di sana, suasananya tidak seperti sedang ada urusan pekerjaan. Dadaku terasa perih, tidak menyangka kalau Galang berbohong dengan alasan kepergiannya.
Jemariku bergetar saat mencoba menelepon suamiku. Menenangkan perasaan yang terbakar amarah. “Hallo..” Eh kenapa suara wanita yang menjawab.
“Hallo, bisa bicara dengan Galang?” tanyaku berusaha tetap tenang.
“Mas Galangnya lagi berenang. Ini dari siapa ya?” balasannya terdengar ketus.
“Saya Ariana, bisa panggilkan dia. Agak penting soalnya.”
“Tidak bisa, mas Galangnya tidak bisa di ganggu. Nanti saja telepon lagi.” Nadanya terdengar meninggi.
Darahku semakin mendidih mendengar bunyi telepon di putus sepihak. Dengan tidak sabar, aku menelepon kembali suamiku. Berharap kali ini orang yang bersangkutan yang mengangkat.
“Aduh apaan sih nelepon terus! mas Galangnya tidak bisa di ganggu.”
Tanpa sadar aku menggeram. “Saya istrinya, berikan ponselnya pada suami saya!” bentakku dengan kesal.
Beberapa menit kemudian suara yang kutunggu terdengar tapi tidak seperti yang huharapkan. ” Kenapa kamu tidak bisa bicara baik-baik, tidak perlu memarahi orang lain.”
” Semua tidak akan terjadi kalau mas jujur sejak awal. Tidak perlu berbohong dengan mengatakan pergi untuk urusan kerja. Ariana tau mas sedang liburan di pantai bukan?” Emosiku meluap bersamaan dengan tangis.
“Apa maksudmu dengan tau mas sedang liburan?”
Aku mendesis. “Tidak perlu berbohong lagi. Seseorang mengirim foto mas. Sudahlah, lanjutkan acara senang-senang mas. Ariana akan pulang dan membawa surat nikah kita.” Kalimat terakhir kuucapkan dengan setengah mengancam.
“Jangan pernah berpikir ke arah sana. Mas tidak mengizinkannya Ariana!”
“Kenapa? bukannya mas bilang hubungan kita hanya berdasar keterpaksaan. Mas malu mempunyai istri seperti Ariana hingga harus menutupinya dengan kebohongan. Ariana benci sama mas Galang, benci!” kutekan tombol end call dengan tangisan yang semakin menjadi. Tubuhku meluruh di lantai, merasakan perasaan yang hancur. Sesak dan perih.
Sepanjang perjalanan aku memilih diam dan memandang keluar jendela. Ponsel sengaja kumatikan, tidak ingin mendapat gangguan dari siapapun. Beberapa kali pak Ican menoleh ke arahku, memberi isyarat kalau tuannya menelepon. Aku menggeleng, memintanya memberi alasan yang bisa menghindariku untuk menjawab deringan telepon miliknya.
“Den Galang sepertinya marah besar karena non tidak mau menjawab teleponnya,” ucap supirku dengan raut takut.
“Biarkan saja, pak Ican tidak perlu khawatir. Dia tidak akan berani memecat bapak hanya karena masalah ini.” Supirku akhirnya kembali fokus pada jalanan.
Aku sudah memperkirakan kalau Galang pasti marah. Emosiku tadi pasti memancing kemarahannya. Sesuatu yang tidak pernah kulihat seiring membaiknya hubungan kami. Sikap Galang tidak ubahnya seperti menyiram minyak pada api yang masih menyala.
Kelelahan setelah duduk selama berjam-jam terganti begitu melihat laki-laki yang tengah berjalan ke arahku. Wajah bahagia dan terlihat sehat. Perasaanku agak merasa bersalah, mengingat baru kemarin aku pulang.
Pandangan mertuaku berputar ke arah mobil yang kutumpangi. “Kenapa datang sendiri? bertengkar dengan suamimu? kamukan baru saja pulangkan.”
Tubuhku berdiri tegak, memamerkan ketenangan yang sudah kusiapkan sejak memasuki kota ini. “Mas Galang sedang ada acara di kantornya. Ariana kesepian disana dan memilih pulang menemui ayah lagi. Ayah tidak perlu cemas, Ariana sudah minta izin kok. Lagi pula di sinikan ada ayah.”
“Syukurlah kalau begitu. Seharusnya kamu ikut saja dengan suamimu jika waktunya agak lama. Kamu bisa mencari kesibukan sendiri selama suamimu bekerja.”
Tangan kiriku meraih pergelangan om Dirga. Mengajaknya memasuk bangunan paling megah di daerah ini. “Tidak apa yah, mungkin nanti mas Galang juga datang menjemput.” Kami mengobrol tentang banyak hal, sebagian besar kualihkan topik tentang kesehatan mertuaku.
Laki-laki itu mungkin akan datang ke villa, memarahiku dengan semua sikapku tadi. Bagiku menghadapi kemarahannya bukan sesuatu yang menakutkan, dia sudah cukup sering melakukannya.
Kami mengobrol tentang banyak hal, sebagian besar kualihkan topik tentang kesehatan mertuaku. Beruntung ayah tidak banyak bertanya tentang hubungan kami.
Setelah selesai makan siang, aku meminta izin pada ayah untuk pergi keluar sebentar. Alasan terbesar kedatanganku ke kota ini tidak lain untuk menemui keluargaku. Memastikan kebenaran dari cerita yang kudengar. Sepahit apapun masa lalu, aku merasa berhak untuk mengetahui asal usulku.
Berada di depan pintu rumah tidak semudah biasanya. Rasanya teganh sekali, seperti akan menghadap dosen. Kepalaku sibuk merangkai kata, mencari cara agar penyampaianku nanti tidak menyinggung perasaan orang-orang yang kusayang. Mbak Inah membukakan pintu dengan ekspresi terkejut. Dia sepertinya bingung dengan kedatanganku yang tiba-tiba.
Kakiku melangkah masuk saat pembantuku memberiku jalan. “Kakek sama nenek ada mbak?”
“Ada di ruang tengah.”
Jantungku berdegup tidak teratur. Perasaanku semakin gelisah saat mendekati ruangan tempat kakek dan nenek biasa menonton televisi. Dari kejauhan keduanya tampak sedang mengobrol.
“Loh kenapa kamu ada disini?” tanya kakek saat melihat kedatanganku.
Aku memasang senyum untuk menutupi kegugupan. “Kebetulan mas Galang sedang ada acara di kantornya. Mm..kakek, ada yang ingin Ariana tanyakan.”
Kakek dan nenek memandangiku dengan bingung. Aku segera mengambil tempat di sofa untuk satu orang. Keadaan ini semakin tidak mudah dan tidak menyenangkan. ” Begini, Ariana belum lama ini mendatangi alamat rumah kita yang dulu. Salah seorang tetangga menceritakan tentang kejadian yang menimpa ibu. Apa semua cerita itu benar? Ariana adalah anak yang tidak diinginkan,” tanyaku dengan hati-hati.
Keduanya terdiam dengan raut terkejut. Nenek menyentuh dadanya dan tampak kesakitan. Di tengah kepanikan, pembantuku datang dengan terburu-buru. Dia membawakan plastik berisi obat-obatan yang di minta oleh kakek.
“Kakek sudah bilang untuk tidak membahas soal ini Ariana. Kamu tidak lihat akibat pertanyaanmu pada nenek.” Nada bicara kakek semakin meninggi.
“Ariana tidak menginginkan hal ini kek. Apa salah Ariana ingin mengetahui asal usul diri sendiri. Toh selama ini Ariana mampu mengontrol perasaan, tidak pernah berbuat di luar batas kewajaran,” jawabku membela diri.
Nenek berusaha meraih jemari suaminya yang berdiri menghadapku. Kelembutan dan tatapan penuh kasih sayang yang sering kulihat di wajah kakek menghilang. Tidak perlu bertanyapun aku sadar kalau dia sedang marah. Sikap yang belum pernah di tunjukan padaku sebelumnya.
“Kami berusaha melindungimu selama ini. Pindah ke tempat kota inipun demi kebaikanmu. Tapi sepertinya kamu lebih suka hidup dengan melihat masa lalu. Padahal kamu bisa hidup dengan tenang. Semua yang kamu dengar itu benar. Ayahmu sudah menghancurkan satu-satunya permata berharga. Kami harus melihatnya menderita dan depresi dengan kehadiranmu. Merawatmu bukan hal yang mudah terlebih raut wajahmu mengingatkan kami pada laki-laki brengsek itu.”
Penjelasan kakek seperti hunusan pedang. Kebencian terlihat begitu nyata saat memandangiku. Aku termangu, lidahku mendadak kelu. “Kenapa Ariana tidak dititipkan di panti asuhan saja?”
“Itu hal pertama yang kakek pikirkan saat kalian lahir. Tapi kami masih punya hati nurani.”
Keningku berkerut, merasa mendengar sesuatu yang janggal. “Kalian? Ariana punya sodara kembar?”
Nenek menatap suaminya dengan berurai air mata. “Sudah cukup, tidak perlu di lanjutkan. Kamu tidak mempunyai sodara kembar.”
Laki-laki paruh baya itu kembali duduk di samping istrinya. Membalas tatapannya dengan wajah sendu. “Semua seharusnya baik-baik saja jika ibumu tidak hamil. Kamu sudah mendengar semuanya, sekarang pergilah kakek tidak ingin melihat wajahmu lagi!” Di tahannya tubuh nenek yang ingin mendekatiku.
Tubuhku terasa lemas, kepalaku terasa kosong untuk membalas ucapan kakek. Langkahku gontai, tidak bertenaga saat meninggalkan rumah yang sebenarnya kurindukan. Beginikah rasanya tidak diinginkan siapa-siapa, bahkan kehadiranku menjadi penderitaan orang-orang yang kusayang.
Mertuaku tidak terlihat saat aku kembali ke villa. Para pekerja rumah memberikanku tatapan kasihan saat aku berniat kembali ke kamar. Kepalaku masih pusing dengan pembicaraan tadi untuk sekedar bertanya tentang sikap mereka. Rupanya jawabannya kutemukan begitu membuka pintu kamar.
Galang duduk di tepi ranjang yang menghadap ke arah pintu, tepat dihadapanku. Tubuhnya membungkuk,sorotnya tajam dengan kedua tangan mengepal kuat. Kulirik keadaan kamar yang berantakan. Semua benda tidak lagi berada pada tempatnya. Pakaian yang kubawapun berserakan di ranjang.
“Mana buku pernikahan kita. Dimana kamu menyimpannya!” bentak suamiku sambil berdiri.
Rahangnya mengeras dan tegang. Dia tidak sedang main-main. Kemarahan yang di tunjukannya seolah mampu melakukan hal paling kasar sekalipun. Dengan perbedaan fisik kami, aku bukanlah lawan yang sulit untuk di kalahkan.
“Dimana!” ulangnya dengan berteriak.
Aku menghela nafas panjang. “Di rumah, di laci lemari pakaian.”
“Kamu tidak bohong?” suaranya mulai melunak meski emosinya belum menghilang.
Kepalaku menggeleng, berjalan ke arahnya dan memberanikan diri memeluk suamiku. “Minta pembantu memeriksanya kalau mas tidak percaya.”
Dia melepas pelukanku, memberiku sorot dingin dan tidak bersahabat. “Mas sedang tidak ingin bermesraan denganmu.”
“Maksudnya mas tidak ingin bermesraan selamanya.”
Galang mengacak-acak rambutnya dengan gemas. “Jangan mengambil kesimpulan sendiri. Kita akan bicarakan ini setelah mas memastikan ucapanmu tadi.”
Tubuhku berbalik menuju pintu. Menghalangi jalannya yang berniat keluar dari kamar. Masa bodoh mau terlihat seperti anak kecil sekalipun. “Kenapa tidak boleh? jadi hanya mas dan orang-orang yang boleh marah, bisa bersikap seenaknya. Berbuat ini dan itu sementara Ariana hanya bisa diam, menuruti tanpa punya hak untuk bertanya!”
“Bukan begitu tapi mas tidak suka saat kamu mulai menggunakan status pernikahan kita untuk mengancam. Bagaimana mas bisa menjelaskan semuanya kalau kamu menolak bicara.” suaranya semakin rendah.
Air mata tidak lagi bisa kubendung. Semua sesak yang kutahan meluap dalam tangis. Perkataan kakek kembali terngiang membuat tangisanku semakin menjadi. Galang menghampiriku, meraihku dalam pelukannya. Dia kebingungan melihat tangisku semakin menjadi. “Sttt sudah, mas sudah tidak marah lagi. Kamu ada masalah dengan keluargamu? nenekmu tadi menelepon, dia mencemaskan keadaanmu.”
Belum sempat membuka mulut, deringan ponsel milik suamiku terdengar. Galang meraih ponsel di meja kerjanya dan kembali ke sisiku. Mataku memperhatikan gerak-geriknya yang terkesan malas mengangkat.
Dia menghela nafas. “Hallo…”
“……..”
“Tidak bisa, kalian lanjutkan saja acaranya. Semua biaya mas serahkan pada Deo, bilang saja padanya kalau ada apa-apa.”
“……..”
“Mas tidak bisa meninggalkan istri. Dia yang harus mas jaga sekarang, tanggung jawab mas.”
“……..”
“Kamu menangis atau marah sekalipun tidak akan berpengaruh apa-apa sekarang. Tidak ada yang lebih penting dari istri mas sekarang. Jadi terimalah, sepupumu sudah tenang di alam sana. Kita sudah sama-sama tau kenyataannya seperti apa.”
“……..”
“Merengeklah pada pacarmu bukan sama mas. Sudah dulu ya, nikmati liburanmu.” Suamiku mematikan teleponnya walau sempat kudengar masih ada balasan. Suara wanita yang sedang memohon sambil menangis.
Kepalaku terangkat dengan raut bingung. “Siapa yang menelepon tadi?”
Galang mencium keningku. Jemarinya mengusap lembut pipiku. “Itu hal yang ingin mas bicarakan denganmu, alasan mas tidak bisa membawamu pergi kemarin.”
=========
Bagian 11
Pandanganku masih tertuju pada laki-laki di sampingku. Kami duduk di tepi ranjang tanpa suara. Deringan ponselnya terus berbunyi dari sejak Galang menutupnya tadi. Bunyinya semakin lama membuatku gerah sendiri. Suamiku memilih mengabaikannya tanpa menunjukan sikap terganggu.
“Kenapa tidak di angkat? berisik bunyinya,” protesku sambil menutup kedua telinga.
Galang meraih ponsel miliknya lalu menyodorkannya padaku. “Ya sudah kalau terganggu, kamu saja yang jawab,” balasnya enteng.
Keningku berkerut. “Tidak mau ah. Ariana harus bilang apa?” tanyaku kebingungan.
Bahunya terangkat dengan senyuman. “Terserah kamu tapi jangan mengatakan kata-kata kasar.”
Aku mengigit bibir, meraih ponsel didepanku. “Hallo..” sapaku ragu.
“Hallo, mas Galang mana. Aku mau bicara?” suaranya mengingatkanku pada wanita yang menjawab telepon Galang sebelumnya. Nadanya tidak sopan.
Bola mataku berputar ke arah Galang yang sedang membereskan meja kerjanya. Bahasa tubuhnya menunjukan penolakan saat pandangan kami bertemu. “Mas Galang sedang tidak bisa di ganggu. Ada pesan, nanti saya sampaikan?”
“Panggilkan dia sekarang!” Teriakan si pemilik suara membuatku terkejut.
Galang kini sudah duduk di meja kerja. Tubuhnya bersandar ke belakang kursi tanpa ekspresi. Dia terlihat sangat serius memperhatikanku, seolah sedang menonton film.
“Maaf saya ralat. Mas Galang tidak saya izinkan menerima telepon darimu. Telepon lagi saja nanti.” Aku masih berbaik hati untuk tidak membalas ketidaksopanan wanita ini.
Tawa mengejek terdengar cukup keras dari seberang. “Huh sok tidak memberi izin. Kamu memang istrinya tapi pernikahan kalian hanya berdasar paksaan, bukan cinta. Galang hanya mencintai satu wanita dalam hidupnya dan jelas itu bukan dirimu!”
Aku tersenyum kecut, merasa tertampar. Sikap wanita ini mengingatkanku pada Gia. “Ucapan kamu tidak sepenuhnya salah tapi buktinya saat ini dia lebih memilih bersama saya. Lagi pula kenapa kamu harus marah? memangnya kamu siapanya mas galang?” nadaku masih datar.
“Brengsek! Aku menelepon bukan untuk mendengar ceramah darimu. Cepat berikan teleponnya pada Galang!” bentaknya kasar.
Bibirku merengut saat menghampiri suamiku. Aku menyerah, emosi mulai meletup di kepalaku. Ponsel kututup dengan tangan agar suaraku tidak terdengar oleh wanita itu. “Mas Galang yang jawab saja daripada Ariana makin emosi mendengar ucapannya.”
Galang meraih ponselnya dariku sementara dengan malas. Aku memilih membereskan barang-barang yang berantakan. Tapi pendengaran semakin kupertajam, penasaran dengan apa yang akan di katakan Galang pada wanita yang meneleponnya. Dia sengaja meletakan ponselnya dan menekan tombol loudspeaker.
“Ya, hallo ada apa?”
“Mas Galang kapan kembali. Acaranya tidak seru kalau mas Galang tidak ada.” Keningku berkerut mendengar wanita itu mengubah suaranya. Terkesan sok imut dan polos, berbeda dengan saat berbicara denganku tadi.
“Kamu tidak dengar istriku bilang apa. Mas sudah menyempatkan datang ke acara dan sekarang waktu mas bersama dia. Mas tidak bilang akan terus berada di sana.”
“Kok gitu sih. Memangnya apa yang mau mas lakukan bersama dia? lebih rame disini. Teman-teman mas juga sudah datang semua.” Rengekannya membuatku ingin muntah.
Galang masih tak acuh, matanya berpaling ke arah laptop. “Kami pengantin baru, menurutmu apa yang akan mas lakukan bersamanya. Kamu sudah dewasa untuk bisa menjawabnya tanpa mas harus jelaskan. Tidak ada tempat yang ingin mas datangi selain tempat dimana istri mas berada. Mengertilah.”
“Wanita murahan, dia tidak lebih buruk dari wanita-wanita yang mendekati mas Galang selama ini. Mengandalkan penampilan fisik saja.”
Emosi mulai naik ke ubun-ubun. Galang memberi isyarat agar aku tenang saat mataku mendelik ke arahnya. “Jangan pernah menyebutnya dengan kata-kata tidak yang pantas. Dia berbeda dengan wanita-wanita yang mas kenal termasuk dirimu. Sebelum mas mengatakan hal yang membuatmu sakit hati, berhenti menganggu dan nikmati saja liburannya.”
“Mas Galang kok jadi lebih membela dia? mas sendiri yang bilang kalau pernikahan dengan wanita itu hanya karena permintaan orang tua.” Kedua tanganku mengepal, wanita itu benar-benar tidak punya rasa malu. Apa wanita disekeliling suamiku semuanya bersikap seperti ini?
“Cukup Dev. Kamu sudah terlalu jauh mengusik ketenangan mas. Sekali lagi menelepon, mas akan anggap tidak pernah mengenalmu. Bye.”
Aku terkejut saat Galang melempar ponselnya ke dinding setelah menutup telepon. Benda yang harganya cukup mahal itu jatuh ke lantai dalam keadaan rusak. Dia menggeram dengan suara yang sangat pelan. Kegiatanku terhenti lalu melirik ke arah benda yang kini tidak bisa lagi di gunakan di lantai.
Dia menyeret kursinya kebelakang, menepuk pahanya sambil tersenyum seolah tidak ada apa-apa. “Maaf sudah membuatmu takut. Duduk disini, nanti mas jelaskan semuanya.” Perintahnya dengan suara kembali normal. Tidak ada penyesalan sudah merusak benda pipih yang belum lama dibelinya.
Dengan malu-malu dan agak ragu aku duduk di pangkuan suamiku. Jantungku berdebar kencang saat melihatnya menatapku dengan intens. Kepalaku menunduk, memilih bersandar pada dadanya. “Ceritakan semuanya sekarang,” tuntutku tidak sabar.
Kemarin adalah hari lahir kekasihnya. Setiap tahun Galang terbiasa merayakannya bersama sahabat-sahabatnya. Tapi tahun ini berbeda dan penyebabnya adalah status yang disandangnya saat ini. Untuk menjaga perasaan semua orang termasuk keluarga Quinna, Galang tidak mungkin membawaku. Dia juga tidak ingin keadaan disana menjadi tidak nyaman bagiku.
“Mas tidak bisa berhenti memikirkanmu saat berada disana. Rasanya seperti sedang bermain api di belakangmu. Kedepannya mas tidak akan lagi menghadiri acara itu. Sekarang apa pendapatmu?”
Kugigit ibu jariku tanpa berani menatapnya langsung. Kesal sih, cemburu lebih tepatnya tapi Galang sudah berusaha menjaga perasaanku. “Mm..mungkin kalau mas jujur, Ariana akan mengizinkan,” jawabku bohong.
Galang merangkul dan menciumi pipiku dengan gemas. Kedua alisnya terangkat dan memberi tatapan mengejek. “Biasanya wanita selalu memberikan arti yang terbalik dari jawaban yang dia berikan.”
“Maksudnya?”
Jemarinya menangkup wajahku. Menghadapkan kepalaku ke arahnya. “Mas tau dalam hatimu pasti kamu tidak ingin mas pergi meskipun mas minta izin. Bilang tidak apa-apa padahal cemburu. Terserah tapi wajahnya marah. Benar begitu bukan?”
“Huh, sok tau,” gerutuku berusaha melepas wajahku. Dengan pengalamannya, dia pasti sudah cukup mengenal karakter wanita pada umumnya.
Galang tertawa melihat reaksiku, entah apa yang lucu. Dia semakin mendekat, memiringkan wajahnya dan tiba-tiba mencium bibirku dengan kasar. Cumbuannya tidak bisa kutolak, toh kami memang suami istri jadi tidak masalah pikirku.
Pagutan demi pagutan kami berdua memanaskan suasana. Begitupun dengan tubuhku yang mendadak terasa panas. Aku mengerang pelan saat tangannya menyelinap masuk ke balik kaos. Mengusap lembut punggungku. Reaksiku di manfaatkannya untuk melakukan french kiss.
Galang melepas ciumannya, memberiku ruang untuk bernafas. Di raihnya kembali tubuhku dalam pelukannya. Aku sendiri masih mengatur nafas dengan wajah yang masih merona. Suamiku hanya tersenyum simpul, menikmati sikapku yang seperti anak kecil di hadapannya.
“Siapa yang menelepon tadi?” tanyaku saat teringat wanita yang menyebutku brengsek.
“Dia Devi, sepupu Quinna. Dulu kami suka pergi bersama, hubungannya dengan Quinna sangat dekat dibanding sepupunya yang lain. Mungkin orang-orang disekitar mas masih belum bisa menerima kehadiranmu. Ini memang salah, tidak mengenalkanmu dengan baik hingga menyulitkan posisimu. Tapi kamu tidak perlu khawatir, mulai sekarang mas akan berada disisimu. Sesulit apapun jalan kita nanti, kamu hanya perlu mempercayai mas.” Galang mengakhiri penjelasannya dengan ciuman di kepala.
Tidak bisa kupungkiri, reaksi sebagian besar teman suamiku terkesan tidak bersahabat. Hanya beberapa yang memperlakukanku dengan baik. Pernikahan kami memang karena keadaan, untuk membahagian keluarga masing-masing. Latar belakangku yang bukan dari kalangan berada mungkin menambah sisi minus diriku di pandangan mereka.
“Hei, kenapa diam saja.” Tegur Galang meraih daguku.
“Aku harus jawab apa,” balasku lirih.
“Kamu tidak perlu memikirkan sikap atau tanggapan orang-orang. Mas tidak akan memaksakan kamu dekat dengan teman-teman mas. Pilihlah orang yang memberimu rasa nyaman, Putri misalnya. Seburuk apapun ucapan orang tentangmu, mas tidak akan meragukanmu.”
Bibirku mencibir. “Bagaimana mungkin mas bisa lebih percaya pada Ariana yang belum lama kenal dibanding teman-teman mas.”
Galang mengacak-acak rambutku. “Insting, lagi pula teman itu tidak selalu berarti teman.”
Dia tiba-tiba berdiri dan dengan mudahnya membopongku menuju ranjang. Tubuhku di baringkan perlahan lalu ikut berbaring di sebelahku. “Kenapa wajahmu memerah, tenang saja bagian itu mas simpan untuk bulan madu kita.”
Kucubit lengan Galang hingga dia meringis. Menutupi pikiran yang mulai tidak beres saat berada didekatnya. “Mas yang mesum tuh.”
Laki-laki disampingku tertawa lalu membalikan badannya ke arahku. “Sekarang giliranmu, ceritakan apa yang terjadi padamu? nenekmu tadi terdengar sangat mencemaskanmu. Kalian bertengkar?”
Aku mengubah posisiku menjadi duduk. Membicarakan masalah ini membuat perasaanku tidak nyaman. Membayangkan reaksi Galang nanti saat mengetahui asal usulku yang tidak jelas menguras pikiranku. Bagaimana jika dia tidak menerimanya dan melihatku dengan jijik?
Galang bangkit lalu duduk disampingku. Dia memiringkan kepalanya agar bisa melihat wajahku yang menunduk. “Kenapa diam? apa yang kamu takutkan.”
Jemariku memainkan seprai dengan gelisah. “Reaksi mas setelah mendengar cerita Ariana,” balasku sangat pelan, hampir tidak terdengar.
Dia terdiam dengan kerutan di keningnya. “Mas sudah terlanjur sayang padamu, kabar seburuk apapun tidak akan mengubahnya. Sekarang ceritakan sebelum mas mati karena penasaran.”
Bola mataku berputar ke arahnya. Kegelisahan tidak sepenuhnya hilang meskipun Galang berusaha meyakinkanku. Tapi tidak ada celah bagiku untuk sembunyi. Dia berhak tau bagaimana sebenarnya latar belakangku. Dari mana aku berasal termasuk peristiwa yang menimpa ibu kandungku.
Galang mendengarkanku dengan serius sejak aku memulai bercerita. Perhatiannya tidak beralih dariku. Tidak ada yang kututupi satupun. Kabar yang kudengar dari tetangga rumah tempat tinggalku dulu hingga pertengkaran yang berujung pada kemarahan kakek.
Aku mengigit bibir, menunggu reaksi Galang dengan cemas. Keringat dingin membasahi telapak tangan. “Mas jijik pada Ariana?” tanyaku setelah beberapa menit dia hanya terdiam.
Kepalanya menggeleng. Kepalaku di usap dengan lembut. “Kenapa harus jijik? kamu hanya seorang anak yang tidak tau apa-apa. Mas justru kagum dengan caramu menghadapi kabar ini. Kamu terlihat baik-baik saja dan itu membuat mas merasa bersalah.”
“Merasa bersalah?”
“Benar, seharusnya mas bisa melihat kesedihanmu. Tidak bertindak egois tanpa memikirkan perasaanmu. Mas juga malu, kamu bisa setegar ini sementara mas yang keadaannya lebih baik justru terpuruk sangat lama.”
Kupandangi kembali sosok didepanku. Memastikan pendengaranku tidak salah. “Benar mas tidak berubah pikiran tentang Ariana? bukan karena iba? tidak salah teman-teman mas beranggapan buruk. Kehadiran Ariana bahkan tidak diinginkan.”
Galang mendekatkan tubuhnya ke arahku. Jemariku yang dingin di genggam dengan sangat erat. ” Mas tidak peduli apapun yang orang katakan tentangmu. Meskipun hubungan kita awalnya kurang baik tapi mas bersyukur menikahimu.”
“Tapi kita belum lama kenal. Mas belum tau semua sifat dan sikap Ariana.”
“Sebentar atau lama tidak menjamin kebaikan dan keburukan seseorang. Mas tidak akan menikahi denganmu jika merasa kamu tidak baik. Kamu tidak perlu khawatir, menjagamu adalah bagian dari kewajiban mas sebagai suami. Sekarang kamu tunggu disini, biar mas yang bicara dengan kakekmu.”
Kepalaku menggeleng, menahan tubuhnya yang siap bangkit. “Jangan. Keadaannya masih panas, Ariana tidak ingin mas terkena imbasnya. Maukah mas menemani Ariana disini sebentar?”
Kami kembali berbaring, Galang meraih tubuhku yang mulai bergetar. Tangisku pecah dalam pelukannya hangatnya. Aku tidak pernah menduga akan merasa sebahagia ini pada laki-laki yang dulu begitu kubenci. Setidaknya sekarang ada seseorang yang bisa berbagi cerita.
Mataku terpejam, merasakan kantuk yang mulai menyerang. Lelah dan usapan lembut di kepala membuaiku hingga alam mimpi menyambut. Tertidur dengan perasaan yang sangat nyaman.
Aku terbangun dan tidak menemukan Galang dimanapun. Setelah kesadaran mulai pulih, kakiku mulai melangkah. Sepertinya aku tertidur cukup lama, langit mulai tampak gelap saat tanganku menyibak tirai. Perlahan langkahku menyusuri lorong, meninggalkan kamar dan mencari sosok yang tiba-tiba kurindukan.
Galang dan mertuaku kutemukan sedang berbicara di ruang tengah. Keduanya tampak serius seperti sedang membicarakan masalah penting. Pembicaraan keduanya terhenti saat aku mendekat dan duduk di samping suamiku.
Mertuku memberiku senyuman hangat seperti biasa. “Kebetulan kamu sudah bangun. Ayah tadi bicara dengan suamimu, dia harus masuk kantor, ada rapat penting besok pagi. Sebaiknya kamu pulang bersamanya, kasihan suamimu.”
Kepalaku menoleh ke arah Galang. Tatapannya datar tapi sepertinya setuju dengan permintaan ayah. “Kapan? hari ini juga?”
“Iya, setelah makan malam kita pulang.”
Keraguan masih menganggu, sebenarnya aku ingin semua pertanyaan dan hubunganku dengan kakek membaik sebelum pulang. Meskipun begitu meninggalkan Galang sendirian juga bukan pilihan, ada banyak wanita yang siap masuk di celah kecil yang terbuka.
Galang meraih dan meremas jemariku. Dia cukup mengerti arti diamku. “Masalah kakekmu biar mas yang bicara tapi tidak sekarang. Biarkan semua tenang dulu.”
Setelah menimbang, memikirkan semua baik dan buruk, aku menyerah dan akan pulang bersama Galang malam ini. Aku kembali ke kamar, membereskan barang-barang untuk pulang.
“Sudah selesai?” Tegur Galang yang sudah berada di depan pintu.
“Sebentar lagi.”
Galang menghampiriku, duduk dengan menatapku yang masih sibuk memasukan beberapa baju kedalam tas. Pandangannya membuatku risih. “Ada yang aneh dengan?”
Dia menghempaskan tubuhnya di ranjang. Aku mencoba tidak berpaling ke arahnya. Galang seperti model yang sedang berpose untuk pemotretan. Six pack di perutnya terlihat jelas meski tertutupi kaos. “Kamu pasti dulu sering menyumpahi mas ya.”
Kepalaku teringat dengan sikap kasar dan kata-katanya yang menyakitkan. “Mungkin. Sudahlah Ariana tidak mau membahasnya sekarang.”
Galang kembali bangkit, dia tampak tidak puas. “Kalau begitu cepat selesaikan pekerjaanmu. Kita makan malam dulu baru pergi.”
Aku menghentikan gerakan tanganku. “Mas Galang yakin masih mau menerima Ariana? anak hasil perkosaan. Apakah Ayah juga tau soal ini?”
Laki-laki tampan disampingku tersenyum. Dia melangkah dan membalikan tubuhku ke arahnya. Sedikit kesal karena aku terkesan meragukan ucapannya. “Seburuk apapun masa lalumu tidak akan mengubah kenyataan saat ini. Mas tau kamu mungkin berpikir ini tidak adil tapi belajarlah untuk menerima semua. Mas janji tidak akan mengungkit dari mana asal usulmu. Dan tidak perlu melibatkan ayah, meskipun dia tau, dia tidak punya posisi untuk menjelaskan hal ini padamu. Kamu mengerti?”
Aku memandangi bola matanya, mencari kejujuran. Kusandarkan kepalaku didadanya. Galang membalas pelukan, mengusap punggungku dengan lembut. “Dunia itu tidak selamanya manis. Sering kali kita harus keluar dari zona nyaman dan menghadapi kenyataan pahit. Kamu hanya perlu berjalan tanpa ragu, mas akan berada disampingmu jika suatu saat kamu terjatuh atau membutuhkan bahu untuk bersandar.”
Senyum tidak bisa kusembunyikan. Rasanya masih aneh mendengar kalimat bijak dari seseorang yang sebelumnya hanya bisa memupuk emosi. Galang mencium keningku. “Waktumu tinggal lima menit nona. Aku tunggu di meja makan.”
Mataku memperhatikan sosoknya yang menghilang dari balik pintu. Rasanya masih belum sepenuhnya percaya dengan semua yang terjadi di antara kami. Galang menjadi sosok yang bisa kuandalkan di saat mimpi buruk menghampiriku. Laki-laki yang sebelumnya kupikir hanya akan membawaku dalam penderitaan.
Ayah tersenyum lebar saat aku memasuki ruang makan. Salah satu pembantu sudah membawakan tas milikku ke mobil. Ada sorot pilu di bola mata mertuaku. Sebagai sahabat lama kakek dan nenek, kemungkinan besar om Dirga tau dengan latar belakang hidupku. Aku memilih untuk tidak mengungkitnya, tidak ada alasan bagiku untuk marah sekalipun mertuaku tau yang sebenarnya. Tidak banyak orang tua yang akan mengizinkan putranya menikahi wanita dengan latar belakang sepertiku.
Perbicaraan dimeja makan hanya berputar pada masalah kantor. Ayah sama sekali tidak menyinggung tentang kakek dan nenek. Aku bereaksi sewajar mungkin. Raut kakek yang marah besar padaku belum bisa sepenuhnya menghilang dari ingatan. Galang memang mengatakan ini bukan salahku tapi aku cukup sadar dengan posisiku. Tidak mudah bagi kakek dan nenek untuk membesarkan seseorang yang mengingatkannya pada laki-laki yang menghancurkan hidup putri mereka.
“Kalian baik-baik ya. Setiap pasangan pasti pernah bertengkar tapi selesaikan baik-baik dengan kepala dingin. Dan ayah tetap menunggu kabar baik.” Tawa ayah membuat wajahku merona. Galang hanya tersenyum meski sempat kulihat seringainya.
Tepat pukul tujuh malam, kami meninggalkan bangunan paling besar didaerah ini. Galang tiba-tiba menepikan mobilnya tidak jauh dari rumah masa kecilku. “Kenapa berhenti?”
“Sementara waktu kamu sebaiknya tidak menginjakan kaki di rumah itu. Pandangi sepuasnya sebelum mas melanjutkan perjalanan.”
Kepalaku menoleh ke arah luar jendela lalu kembali menatap kedepan. “Kita pergi saja dan tidak perlu membahas ini lagi.”
Galang mengusap kepalaku. “Ini hanya sementara, mas tidak ingin pertemuan kalian hanya akan saling menyakiti. Bagaimanapun kakek dan nenekmu adalah orang yang harus kita hormati. Setidaknya mas harus berterima kasih pada keduanya yang sudah membesarkanmu.” Aku tau itu, semarah apapun kakek, sayangku padanya tidak pernah berubah.
Mobil kembali berjalan, meninggalkan tempat yang akan sangat kurindukan. Tanpa sadar tubuhku bergetar menahan sesak. Galang meraih bahuku, menyandarkan kepalaku di dadanya. Aku terisak pelan dalam pelukannya. Tidak ada kata tanya yang terucap dari mulutnya, hanya kecupan di kening dan kepala tapi bagiku itu lebih dari cukup.
“Semua akan baik-baik saja,” bisiknya ditelingaku. Lenganku semakin erat memeluk pingangnya. Semoga saja.
Kami baru tiba tengah malam. Galang tampak cukup lelah, dia sudah tertidur tanpa membersihkan tubuhnya saat aku keluar dari kamar mandi. Wajah saat tidur tampak polos meski tidak mengurangi ketampanannya. Tanganku menarik selimut, menutup tubuhnya hingga sebatas bahu. Memberinya ciuman di kepala sebelum menutup pintu.
Mataku masih terjaga, belum bisa tertidur meski hari sudah berganti. Menonton film jadi pilihan meski kantuk tidak kunjung datang. Keributan dari luar rumah terdengar jelas, teriakan seorang wanita mengejutkanku. Aku segera bangkit, penasaran dengan apa yang terjadi.
Sebuah tamparan melayang ke wajahku tidak lama setelah membuka pintu. Salah satu pembantuku yang sudah berada disana menahan tubuhku yang terhuyung kebelakang.
“Minggir, mana Galang!” Jerit wanita yang baru saja menamparku. Mata dan wajahnya memerah, kemarahan terlihat jelas. Aku mengusap pipiku yang perih.
Beberapa orang yang kukenal sebagai sahabat Galang berusaha menahan tubuh wanita itu. “Hentikan Dev, ini sudah malam. Kita pulang saja.” Ardi menarik wanita itu dalam pelukannya.
Mataku memperhatikan wanita yang tengah berontak dalam pelukan Ardi. Dia meraung sambil terus menyebutku wanita murahan. Aku merasa seperti tokoh jahat dalam adegan sinetron. Wanita yang merebut suami orang lain. Jadi ini yang namanya Devi, pikirku dalam hati.
“Galang sedang tidur. Telepon saja besok.” Nadaku datar tanpa emosi.
“AKU MAU BERTEMU DIA SEKARANG!” pekiknya dengan berapi-api. Beruntung halaman rumah ini cukup luas. Tidak enak jika keributan ini terdengar oleh tetangga.
Pengalamanku soal lawan jenis memang tidak banyak tapi cukup jelas bagiku untuk menilai tindakan Devi. Dia dan Gia memiliki persamaan, menyukai laki-laki yang sama dan keduanya mempunyai kedekatan dengan Quinna. Ironis. Galang memang benar, dunia tidak seindah yang terlihat.
“Ada ribut apa ini?” Galang tiba-tiba sudah berada di belakangku.
Devi mendorong tubuh Ardi dan menghambur dalam pelukan Galang. Teman-temannya hanya mematung, bingung melihat Devi menangis sambil memeluk erat suamiku. Aku sendiri hanya melihat, menahan sabar agar tidak terlihat lebih kekanakan dari pada Devi.
Galang melepas paksa pelukan Devi, wajahnya datar dan masih terlihat lelah karena perjalanan tadi. “Pulanglah. Ini sudah malam. Ar tolong bawa pulang Devi.”
Devi merengut dengan menyisakan kebencian saat menoleh ke arahku. “Kamu sudah lupa pada janji pada Quinna. Wanita yang sangat kamu cintai?”
Lucu, dia menggunakan nama Quinna untuk kepentingannya sendiri disaat terdesak. Memanfaatkan rasa bersalah Galang atas kecintaannya pada kekasihnya. Aku yakin jika Galang masuk dalam permainannya, Devi tidak akan pernah mengungkit nama sepupunya itu. Dasar rubah betina.
Galang tidak bereaksi, dia meraih jemariku. “Aku tidak sedang mood membahas soal itu. Menganggu waktu orang istirahat saja.”
“Oh tentu saja. Kamupun tidak berbeda dengan laki-laki lain. Dengan penampilan dan kekayaan yang kamu miliki, mudah saja bagimu untuk mendapatkan wanita yang kamu inginkan. Quinna pasti sedih jika melihat sikapmu seperti ini, melupakannya begitu cepat.” Desis Devi yang tidak suka dengan reaksi Galang.
Galang menatap Devi dan teman-temannya dengan pandangan nanar. Dia berusaha keras untuk meredam emosi yang kurasakan dalam genggaman tangannya.
“Aku memang laki-laki brengsek. Kalian tau sendiri berapa wanita yang pernah kupacari. Bukan juga orang suci tapi setidaknya aku tidak munafik pada orang-orang.”
Wajah-wajah didepanku tampak tegang hanya Ardi yang tidak terpengaruh. Devi mengangkat wajahnya. Tanpa terduga, Devi kembali berjalan dan memukuli dada Galang tanpa henti. Suamiku tetap diam, kekuatan wanita itu tidak menggoyahkan tubuhnya.
Aku menahan lengan Devi yang bersiap memukul lalu mendorongnya menjauh dari Galang. Kesabaranku sudah berada di ujung tanduk. Ketenangan Galang justru membuatku menjadi defensif. “Dengar nona, aku tidak peduli dengan siapapun kamu. Ini rumahku dan dia suamiku. Bersikaplah layaknya tamu jika masih ingin di hargai sebelum aku minta satpam mengusirmu!” geramku.
Mataku melotot ke arah Galang saat dia meraih jemariku. “Kamu diam saja, ini urusan wanita.” Galang hanya tersenyum melihat reaksiku, menyilangkan kedua tangan didada dengan bahu bersandar pada pintu.
Kepalaku kembali berpaling pada Devi. Emosiku masih terasa di ubun-ubun. “Tidak perlu membawa nama sepupumu. Aku tidak bodoh untuk bisa melihat kecemburuan di matamu. Kamu hanya memanfaatkan nama Quinna agar Galang tidak menjauh darimu. Jadi berhenti mengatakan hal buruk tentang suamiku seolah dirimu bersih tanpa noda.”
Devi terbelalak melihat keberanianku. “Kamu….”
“Aku mencintai istriku. Menganggunya sama dengan menganguku. Aku masih menghargai kalian sebagai sahabat, jadi pergilah sebelum kesabaranku habis.” Suara berat Galang mengejutkan kami termasuk diriku.
Devi tampak gontai saat Ardi membawanya masuk ke dalam mobil sport merah miliknya. Dia sempat meminta maaf atas gangguan yang di lakukan Devi. Teman-temannya yang lain melalukan hal serupa, meminta maaf lalu pergi.
Aku terdiam, menepis kemungkin kalau Galang memang sudah mulai mencintaiku. Dia mungkin mengatakan itu hanya agar Devi dan teman-temannya segera pergi.
Galang mencubit hidungku. “Kenapa melamun. Ayo masuk, di luar dingin. Pipimu masih sakit?”
Kepalaku menggeleng. “Sakit sih tidak cuma masih sebal. Mas tidak boleh bertemu dengan dia tanpa izin dariku.”
Dia tertawa pelan dan menciumi pipiku. “Siap nyonya.”
Kami segera masuk dan kembali ke kamar. Perasaanku cukup lelah untuk membahas kejadian tadi. Setelah sikap menyebalkan Gia, aku tidak aneh lagi jika suatu saat ada wanita yang bersikap seperti Devi. Kepergian Quinna mungkin menjadi alasan bagi wanita-wanita untuk mencoba mendekati Galang. Meskipun aku masih bingung dengan sikap teman-teman Galang yang seakan membiarkan Devi mengamuk di rumah sahabatnya sendiri.
“Sudah tidur?” tanya Galang saat kami berbaring di tempat tidur. Aku sengaja membelakanginya, debaran jantungku tidak beraturan hanya dengan mengingat apa yang suamiku katakan tadi.
Tangannya yang besar merangkul pingangku dari belakang. “Kamu tidak perlu membuka matamu tapi dengarlah apa yang akan aku katakan. Aku akan mengakui sesuatu. Maaf jika selama ini banyak ucapanku yang menyakiti perasaanmu. Sejak melihatmu pertama lali, kamu membuatku tidak nyaman. Perasaanku gelisah hanya dengan mendengar suaramu.”
Bulu romaku merinding merasakan helaan nafas di leherku. Perutku terasa sangat geli, tidak sabar mendengar kelanjutan ucapan Galang. “Sekuat apapun aku bertahan, semudah itu dirimu menghancurkannya. Aku tidak lagi bisa memyembunyikannya lebih lama. Aku cinta padamu, i love you Ariana.”
Perlahan aku berbalik, mengumpulkan keberanian untuk menatap mata laki-laki tampan didepanku. Gugup menjalar diseluruh tubuhku. Dia berusaha untuk tidak menertawakan sikapku yang salah tingkah. Entah semerah apa warna pipiku.
“Mas mau Ariana jawab apa?”
“Apapun selain penolakan,” balasnya terkesan memaksa dengan pelukan yang semakin erat.
Aku menghirup aroma tubuhnya, parfum kesukaannya masih tercium. “Kalau begitu tidak perlu dijawab. Mas pasti sudah tau jawabannya.”
Galang menggelitiki pingangku sebagai bentuk protes. Aku tergelak, berusaha menghindar meski tidak mungkin mengalahkan kekuatannya. “Iya, I love you too,” pekikku menahan geli.
“Mas tidak akan pernah melepasmu, kamu dengar itu. Tidak akan pernah,” bisiknya sebelum mencium bibirku.
Perasaan bahagiaku membuncah, semua kepedihan seolah terhapus oleh kalimat sakti itu. Kami larut dalam gelora yang memanaskan suasana. Galang mencumbuku hingga bernafaspun sulit. Aku mendorong tubuh tegapnya, memaksanya melepaskan bibirku. Mataku mendelik dan menghirup udara sepuasnya. Galang hanya tersenyum, menikmati kekesalanku dengan jemari yang asik memilin ujung rambutku.
Deringan ponsel milikku terdengar, aku terpaksa bangun khawatir jika itu panggilan penting. “Hallo Ariana, apa Galang belum tidur?”
“Hm…sebentar.”
Tanganku menyodorkan ponsel ke arah Galang. “Mas Deo.”
Laki-laki itu bangkit dengan enggan. “Hallo ada apa?”
“…………..”
“Kapan?”
“………….”
“Baiklah, gue kesana sekarang. Bilang pada yang lain tidak perlu menganggu Ariana lagi.”
“………….”
Galang mengusap kepalaku lalu berdiri. Mataku memperhatikannya yang membuka lemari, mengambil sebuah jaket kulit. “Mas pergi dulu ya. Tidak perlu menunggu, kamu tidur saja duluan.”
“Memangnya mas mau kemana?”
“Ardi kecelakaan. Mobilnya menabrak pembatas jalan. Devi juga terluka jadi mas diminta datang karena dia teriak-teriak terus. Tapi kamu tidak perlu khawatir, mas kesana hanya untuk menghargai keluarganya.”
Andai Quinna masih hidup, dia benar-benar akan menangis sedih jika tau sepupunya bersikap seperti ini. Tidak dewasa sama sekali.
Kepalaku mengangguk pelan. “Ariana percaya. Tapi bagaimana cara Ariana kalau mau menghubungi mas?” Ingatanku tertuju pada ponsel suamiku yang hancur.
Galang mengeluarkan sebuah ponsel berlogo apel di gigit. Entah kapan dia mengganti ponselnya. “Nomornya masih sama. Telepon saja kalau ada apa-apa. Mas pergi dulu sayang.” Galang pergi setelah mencium kepalaku.
Aku memilih berbaring, mencoba tidur dan tidak berpikiran buruk. Hubungan kami mungkin sulit diterima oleh sahabat Galang yang terbiasa melihat kebersamaan laki-laki itu dan Quinna. Di tambah pernikahan ini terjadi karena campur tangan keluarga. Wajar saja kalau mereka berpikiran buruk tentang diriku. Hanya kadang kesal sendiri jika ingat dengan cara mereka menutupi kebohongan didepan Galang. Teman macam apa itu, ingin rasanya memaki mereka tapi aku tidak bisa ikut campur begitu saja.
Di sisi lain, masalahku masih menggantung. Ada banyak pertanyaan yang menganggu termasuk keberadaan ayahku. Siapa dia, masih hidup atau tidak hingga, apa pekerjaannya atau apakah dia tau dengan keberadaanku sebagai putrinya. Kepalaku mengingat kembali ucapan penjaga warung yang kutanyai, dia tidak menyebut sama sekali soal polisi. Kalau memang ibuku di perkosa, kenapa kakek tidak melaporkannya? takut atau apa ada alasan lain.
Kupaksakan memejamkan mata, kepalaku terasa mau pecah dengan semua ini. Aku hanya perlu menenangkan diri, mencari informasi dengan perlahan. Cepat atau lambat semua akan terjawab, pertanyaannya apakah aku siap menghadapinya.
“Non maaf ganggu.” suara pembantu terdengar bersamaan dengan ketukan di pintu kamar.
Tubuhku menggeliat, membuka mata lalu menatap jam di nakas. Hampir subuh dan Galang belum pulang, gumanku saat menoleh ke arah ranjang. Aku segera berdiri walau masih sangat mengantuk.
“Maaf non, anu di bawah ada den Deo. Tadi den Galang di antar sama den Deo. Den Galang sedang tidur di kamar tamu dan minta mbak tidak membangunkan non. Tapi den Deo belum pulang, ingin bicara sebentar sama non katanya.”
“Ya sudah, kasih minum dulu mbak. Sebentar lagi saya turun.” Pembantuku mengangguk dan bergegas pergi.
Aku kembali masuk ke dalam kamar, meraih cardigan lalu pergi menemui Deo. Semua kulakukan dengan sangat hati-hati, khawatir jika aksiku sampai diketahui Galang.
Deo menungguku di ruang tamu. Ada luka lebam di lengan dan keningnya. Dia tampak gelisah dan lelah. “Mas Deo kenapa?” tanyaku begitu duduk di sofa untuk satu orang.
Deo menatap kepenjuru ruangan sebelum akhirnya bercerita. Galang dan beberapa teman mereka sempat terlibat adu mulut saat di rumah sakit. Awalnya Galang tidak memperdulikan sindiran yang di tujukan padanya. Semenjak menikah Galang memang tidak lagi sering berkumpul dengan teman-temannya. Mereka mungkin merasa kehilangan sahabat sekaligus sedikit kesal dengan sikapku. Tepat saat Galang dan Deo akan pulang, salah satu temannya masih saja menyindir hingga menjelek-jelekan namaku. Emosi Galang memuncak hingga perkelahian tidak terhindarkan.
Keluarga Devi yang juga masih terikat persodaraan dengan Quinna ikut memanasi suasana. Mereka mungkin belum bisa menerima kalau Galang yang biasanya royal dan perhatian kini di miliki wanita lain. Mereka seperti berharap Galang bisa menjalin hubungan dengan Devi. Galang memilih pergi, bukan karena takut atau merasa kalah tapi tidak ingin amarah menutup akal sehatnya.
“Hubungan kalian mengalami kemajuan pesat ya,” goda Deo dengan senyuman mesum.
Senyumku masam. “Apa hubungannya dengan hal ini?”
“Suamimu sangat menakutkan tadi. Mendengar namamu di bawa-bawa menciptakan aura membunuh disekitarnya. Dia bereaksi seperti itu hanya untuk orang yang dicintainya dan itupun amat sangat jarang terjadi. Meskipun terkesan galak, Galang bukan pemarah. Dia pintar mengendalikan diri kecuali jika itu mengenai dirimu.”
Kepalaku hanya manggut-manggut, walaupun senang di bela seperti itu, aku tidak ingin suamiku terluka atau masuk penjara karena melakukan kekerasan.”Sebelum itu, apa yang dilakukan Galang disana?”
Deo memberiku tatapan jahil. Aku tidak bisa menyembunyikan rasa ingin tau. “Devi senang sekali dijenguk oleh Galang. Dia pura-pura kesakitan hanya untuk menahan suamimu agar tidak pergi. Keluarga Quinna yang kebetulan datang malah mencoba menjodohkan keduanya. Suamimu dengan gayanya yang cool dengan tegas mengatakan tidak tertarik. Mereka tidak bisa berbuat apa-apa saat Galang meninggalkan ruangan. Mas masih ingat raut kecewa di wajah mereka, menggelikan.”
Wajah Deo berubah tegang, pandangan matanya tertuju ke arah belakangku. Aku sudah bisa menebak apa yang akan terjadi. “Kalian berdua sudah bosan hidup ya heh.”
Kepalaku menoleh ke arah laki-laki yang sedang berkacak pinggang. Beberapa lebam terlihat di tubuhnya yang terbuka seperti Deo. “Sudah bangun mas?” sapaku sambil nyengir.
Galang menjitak kepalaku pelan. “Tidak perlu basa-basi, kamu cepat kembali ke kamar. Lo juga Deo, ngapain subuh-subuh nongkrong di rumah orang. Lo sudah gue suruh pulang dari tadi.”
Aku segera bangkit. “Mas Deo menginap di sini saja, besok saja pulangnya. Kasihan.” Deo tersenyum puas melihat wajah sahabatnya tertekuk.
Reaksi Galang membuatku tidak bisa berhenti tersenyum. Dia terlihat seperti anak kecil yang takut mainannya di ambil anak lain. Terlebih dengan lebam dan luka di tubuhnya yang membuatnya kesulitan bergerak tanpa merasa sakit. Galang terlalu gengsi meski hanya untuk sekedar meringis didepanku.
Keesokan harinya, dia bangun agak siang. Usahaku untuk memintanya istirahat tidak digubris. Galang berpendapat kalau sakit tidak perlu di manja apalagi hanya lebam bekas pukulan. Ini bukan pertama kalinya dia mengalami hal ini.
Tanganku menepuk perutnya cukup keras. “Yakin tidak sakit?”
Matanya mendelik kesal. Aku tertawa geli melihatnya menahan sakit. Jika tidak malu, dia mungkin sudah menangis. “Jangan lakukan lagi, mas ada rapat penting pagi ini.”
“Rapatkan bisa di undur atau di wakilkan pada orang kantor. Istirahat saja satu hari biar cepat sembuh,” bujukku.
“Mas baik-baik saja sayang,” balasnya tidak sabar ingin segera pergi.
“Mas tidak mau punya bayi ya?”
Galang tersedak,dia berpaling padaku dengan wajah bodoh. Sempat kulihat jemarinya bergetar. “Bayi? kamu ingin bayi?”
Kepalaku mengangguk. “Tapi dengan kondisi mas sekarang sepertinya mustahil. Kita tunda saja sampai mas benar-benar sembuh atau sebelum aku berubah pikiran.”
Galang tiba-tiba berjalan menuju lemari. Dalam sekejap jas dan kemeja sudah berganti dengan pakaian rumah. Tubuhnya menyusup dalam selimut setelah menelepon sekretarisnya, memberitau dia tidak bisa masuk hari ini. Kucium kepalanya. “Istirahat ya bayi besar,” godaku yang disambut senyum masam.
Tatapan Galang semakin serius. “Jangan lupa bayi kecilnya.”
“Iya, sembuh dulu makanya,” ucapku sambil menarik selimut menutupi wajahnya.
Tidak ingin menganggunya, aku memilih keluar dan menghabiskan waktu di ruang tengah. Suara bel terdengar beberapa kali, terpaksa aku bangun setelah beberapa saat tidak ada yang membukakan pintu. Setiap pagi memang waktu paling menyibukan di rumah ini.
Dua orang laki-laki berdiri didepan pintu. Bola mataku berputar ke arah laki-laki paruh baya yang berdiri di belakang laki-laki yang lebih muda. Sikap keduanya menunjukan hubungan atasan dan bawahan. Tentu saja laki-laki berwajah bule itu terlihat seperti seorang bos.
Pandangan kami bertemu saat laki-laki paruh baya itu mengalihkan pandangannya padaku. Aneh tapi mm..sepertinya matanya agak mirip denganku ya?
===========
Bagian 12
Tayangan acara gossip di televisi sama sekali tidak menarik perhatianku. Pendengaran dan konsentrasiku lebih fokus pada suara-suara dari ruang tamu. Galang memang terpaksa kubangunkan, aku khawatir jika kedatangan kedua orang tadi cukup penting. Tapi yang lebih membuatku penasaran, laki-laki berwajah asing dan bermata biru yang menemuinya. Ada sesuatu yang berbeda saat melihatnya, bukan ketertarikan pada lawan jenis tapi lebih dalam dari itu.
Usianya mungkin sekitar lima puluhan mungkin, aku tidak pintar menebak umur seseorang. Senyum yang di perlihatkannya terkesan hangat. Sorot matanya lembut berbanding terbalik dengan fisiknya yang tinggi besar dan raut wajah tegas. Kesimpulannya laki-laki murah senyum itu sepertinya orang baik.
“Sayang, tamu mas mau pulang,” Galang muncul tiba-tiba, mengejutkanku yang masih asik melamun.
Aku segera bangkit, mengikuti langkah suamiku menuju ruang tamu. Kedua laki-laki yang kutemui tadi berdiri menghadap kami.
“Selamat atas pernikahannya bu. Maaf kalau tadi sikap saya kurang sopan. Pak Galang tidak memberitau sebelumnya kalau sudah mempunyai istri, cantik lagi.” Wajahku merona mendengar pujian laki-laki yang lebih muda.
Galang merangkul bahuku, tanpa ragu mencium puncak kepalaku. “Pak Tio bisa saja, yang satu ini udah habis stoknya. Cuma ada satu,” godaan suamiku disambut derai tawa. Wajahku merengut, menyikut pinggang Galang yang sama sekali tidak bergeming.
Laki-laki berwajah asing yang sejak tadi memperhatikan kami ikut tersenyum. “Maaf sudah menganggu istirahatnya. Semoga pernikahannya langgeng, kadonya nanti menyusul,” ucapnya tulus.
Keduanya pergi setelah berbasa-basi dengan suamiku. Kami mengantarnya hingga pintu mobil. Galang melirik tajam, mencubit pipiku hingga aku menjerit setelah kepergian mereka. “Aduh, mas Galang kenapa sih?” gerutuku sambil mengikutinya yang berjalan lebih dulu.
“Jaga matamu. Kamu pikir mas buta, pandanganmu tertuju sejak tadi hanya tertuju pada pak Peter. Belum pernah lihat bule ganteng ya?”
Senyumku mengembang, raut Galang yang cemburu terlihat lucu. Aku tidak mengetahui kalau dia memperhatikan sikapku. “Mas Galang jauh lebih muda dan tampan, kenapa harus cemburu padanya?” tanyaku menahan tawa.
Galang menghempaskan tubuhnya di sofa, menarik paksa tanganku untuk duduk disampingnya. Aku menurut, selain tenagaku kalah kuat, menghindarinya hanya akan membuatnya semakin emosi. “Mas tidak suka dengan caramu memperhatikan pak Peter. Huh apa dia setampan itu hingga matamu tidak berkedip sedikitpun.”
Tubuhku berbalik ke arahnya, menopang dagu di bahunya. Galang menatap lurus ke arah televisi dengan umpatan seperti anak kecil. Kedua tanganku melingkar di pingangnya. “Aku tidak mempunyai perasaan apa-apa padanya. Mas Galang seribu kali lebih tampan.”
Galang mendesis, meremehkan jawaban yang kuberikan. “Menyebalkan.”
“Apa yang menyebalkan Lang?” Sosok Deo sudah berada di dekat kami.
Aku bersiap bangkit tapi Galang menahanku. Heran dengan cemburunya yang terlalu berlebihan. “Mas Deo mau pulang? makan dulu ya, nanti Ariana siapkan”
Deo mengedipkan matanya ke arah sahabatnya. Laki-laki itu bisa membaca raut kesal sahabatnya. “Makasih tapi tidak usah deh. Mas ada perlu jadi harus buru-buru pulang. Lagian tuh, bodyguard kamu tampangnya udah serem gitu.”
Ada hal yang menarik dengan Galang belakangan ini. Dia sangat sensitif, cemburunya yang tidak pada tempatnya terutama saat aku dekat dengan teman laki-lakinya. Deo, sahabat yang selalu bersamanya saja dicemburui seperti sekarang. Galang seperti bermasalah dengan kepercayaan mungkin termasuk pada diriku.
Deo pamit dan berlalu, Galang mengantarnya sementara aku memilih pergi ke ruang makan. Perutku memang belum terisi dan spiring spagethi cukup untuk menahan lapar hingga jam makan siang.
Sebuah tangan mendongkakan kepalaku. Galang menyeringai saat pandangan kami bertemu. Dia mencium bibirku dengan kasar tidak peduli dengan dua pembantunya yang bergegas pergi karena malu.
“Lapar, buatkan mas roti,” ucapnya setelah melepas bibirku. Dia menyeret kursi disebelahku, tidak peduli dengan caraku memandanginya.
Galang fokus pada surat kabar di tangannya. Dia meraih roti yang kubuatkan tanpa menoleh. Entah kenapa raut laki-laki ini saat sedang serius terlihat lebih menarik. Ekspresi marahnya memang menakutkan tapi sekaligus menggoda. Menggelikan harusnya aku menghindar bukannya menganggap dia seperti itu.
“Kenapa senyam-senyum tidak jelas? ada yang lucu.”
Kepalaku menggeleng, meneruskan kembali menyuap sisa makanan. “Tidak apa-apa. Hari ini mas tidak kerja?”
Galang masih menatap berita tentang ekonomi kesukaannya. “Tidak perlu basa-basi, kamu sendiri yang meminta mas tidak bekerja. Katakan saja apa permintaanmu?”
Aku tersenyum kecut, laki-laki ini mulai pintar membaca pikiranku. Hal yang tidak buruk jika saja dia mengucapkannya dengan nada yang lebih baik. “Kita pergi kencan, seperti pasangan lain. Selama ini kita tidak pernah melakukan hal itu,” pintaku dengan penuh harap.
Koran yang di bacanya kini terlipat, diletakan di sisi piringku yang sudah kosong. Galang beranjak dari kursi, mengusap rambutnya yang berantakan. “Kamu lupa dengan permintaanmu yang menyuruh mas istirahat hari ini. Badan mas masih sakit. Tunggu weekend saja.”
Sikap Galang memang seperti nano-nano, manis, asam dan asin tapi khusus untuknya ditambah rasa pahit sepet. Memang aku yang memintanya untuk istirahat tapi setidaknya dia bisa membalas dengan ucapan yang lebih romantis. membaiknya hubungan kami ternyata tidak serta merta merubah sikapnya.
Tangannya menjitak kepalaku pelan. “Berhenti mengomel, mas mau ke kamar dulu. Bilang pada pembantu jangan ganggu mas sampai waktu makan siang,” ucapnya sambil berlalu pergi. Dasar tidak peka.
Sejenak aku terdiam, memikirkan menghabiskan sisa hari yang membosankan. Aku berusaha menyibukan diri jika tidak ingin teringat pada pertengkaran dengan kakek. Mengingat kejadian itu masih menyisakan perih. Terlebih saat tersadar dengan siapa diriku sebenarnya.
Galang berada di balik selimut, matanya terpejam tapi aku yakin dia belum sepenuhnya tertidur. Perlahan aku menutup pintu, mencoba untuk tidak membangunkannya. Setengah berjinjit kakiku melangkah menuju lemari, berharap pintu kayu yang kubuka tidak berderit.
Mataku melirik sekilas ke arah Galang, syukurlah dia tampak tidak terganggu. Dengan cepat tanganku meraih salah satu baju yang menggantung diantara deretan pakaian milik suamiku. Dress selutut berwarna peach dengan aksen renda di pinggang. Pilihan Putri yang kebanyakan terkesan feminim.
Aku tersenyum geli saat melihat bayangan sendiri di cermin. Polesan warna pastel di wajahku tidak terlalu mencolok. Sesekali berdandan seperti anak perempuan menyenangkan juga pikirku sambil menyisir rambut panjangku.
“Mau kemana?”
Sisir ditanganku hampir jatuh mendengar suara berat dari arah belakang. “Hm..jalan-jalan. Berhubung mas Galang tidak mau pergi, aku mau pergi sendiri saja.”
“Oh jadi kamu mau meninggalkan suamimu yang sedang sakit dan pergi bersenang-senang sendirian,” sindiran Galang membuat keningku berkerut. Laki-laki ini tidak bisa ditebak apa maunya.
Kupandangi Galang dari pantulan sosoknya di cermin. Dia tampak duduk dan bersandar di kepala ranjang. Kedua tangannya menyilang, memberiku tatapan kesal. Kekanakan sekali. “Ariana hanya ingin melupakan masalah kemarin sebentar. Tidak lama, sebelum sore sudah pulang kok. Mas Galang sendirikan yang tidak ingin terganggu.”
Pandangannya menyelidik dress yang kupalai. “Biasanya kamu selalu memakai t-shirt dan jeans. Tumben pakai dress sefeminim ini.”
Kepalaku menoleh ke arahnya, tidak bisa menyembunyikan senyuman. “Huh bilang cantik saja susah. Sayang bajunya sudah di beli tapi tidak pernah di pakai. Daripada cuma memenuhi lemari pakaian, tidak ada salahnya sesekali di pakai. Bahannya tidak menerawang dan cukup sopan.”
“Ganti!” perintahnya dengan nada tinggi.
“Kenapa? malas ah repot.” Emosiku mulai terpancing.
Galang melotot, tubuhnya bangkit dan melempar selimut kesembarang tempat. Mataku melirik laki-laki yang sedang membuka lemari pakaian dengan gusar. Dia meraih polo shirt dan celana jeans kesayangannya.
Aku perlahan bangkit, menghampirinya yang tengah mengganti pakaian. Galang akhirnya memilih menemaniku meski dengan raut kesal.”Mau kemana?” sindirku menatap dadanya yang polos. Garis tubuhnya sangat menggoda.
“Permisi nyonya, bisa singkirkan tangannya?”
Jemariku ternyata sudah berada di dada Galang. Mengusap otot hasil selama olah raganya selama ini. Beberapa lebamnya masih terlihat tapi tetap saja terlihat sexy. Galang memakai bajunya setelah jemariku menjauh. Seringai liciknya muncul dan menarik pinggangku dalam pelukannya.
Kusandarkan kepalaku di bahunya tanpa peduli dengan decakannya. Jemariku kembali terangkat, mengusap pipinya yang kasar bekas cukuran tadi pagi. Galang agak menunduk. “Kamu masih berniat pergi?” bisiknya di telingaku.
“Sebentar saja, mas Galang wangi sih.” Suaraku berubah serak.
Galang tertawa melihat reaksiku. “Dasar bandel.” Kepalanya semakin menunduk hingga bibir kami saling bersentuhan. Mataku terpejam merasakan kelembutan dalam ciumannya.
“Kita jadi pergi,” godanya melihatku yang belum rela mengakhiri ciuman kami.
“Jadi,” balasku sambil mengigit bibir.
Tawa Galang semakin membuatku jengkel. Reaksiku tadi menjadi bahan godaan sekaligus ejekan. Hal-hal romantis terjadi karena suasana yang ikut mendukung bukan. Padahal tadi dia sendiri yang menurut seperti anak kecil saat aku bilang akhirnya mau kehadiran seorang bayi.
Tanganku mendorong tubuhnya, kesal dengan tawanya yang masih belum berhenti. Galang mengikutiku yang lebih dulu keluar dari kamar setelah meraih tas. Kakinya yang panjang dengan cepat menjajari langkahku.
“Jalannya pelan dong, mas mau bilang sesuatu.” Tangannya meraih bahu, memaksaku untuk mengurangi kecepatan.
“Apa?” ucapku ketus.
Galang tersenyum lalu mencium pipiku. “I love you cantik.” Wajahku merona mendengar bisikannya. Pinggangnya kusikut sambil terus berjalan, berharap debaran jantungku tidak bisa didengarnya. Laki-laki ini memang tidak bisa ditebak sama sekali.
Kencan hari itu berjalan lancar kecuali sikap posesif Galang yang membuatku agak risih. Dia tidak pernah memberiku kesempatan lepas dari rangkulan atau genggaman tangannya. Kadang menyebalkan jika mulutnya mulai mengomel saat ada laki-laki yang memperhatikanku. Mendelik dan memasang raut galak hingga orang tampak segan. Tapi aku menahan diri untuk mengomentari sikapnya. Malas saja jika acara jalan-jalan yang langka berakhir dengan pertengkaran tidak penting.
Sikap Galang semakin menjadi setelah itu, kemanapun dan apa kegiatanku harus dalam pengawasannya. Semakin lama perlakuannya membuatku jengkel. Kutanya apa penyebabnyapun dia hanya menjawab setengah hati dan berputar-putar. Untuk menutup mulutku, Galang menggunakan posisinya sebagai suami, beralasan semua yang di lakukannya hanya untuk menjagaku.
Beberapa minggu berlalu dan keadaan kami masih sama. Liburan yang kami siapkanpun tertunda karena kesibukan Galang di kantor. Mertuaku masih berada di villa dan selama itu pula semua pekerjaan menjadi tanggung jawab suamiku. Aku tidak akan mengeluh jika saja suamiku memperbolehkanku pergi keluar rumah tanpa harus ditemani olehnya. Jalan dengan Putri saja harus dengan seizinnya. Satu-satunya teman wanita Galang yang dekat denganku itupun bingung dan setengah tidak percaya saat kuceritakan perubahan sikap suamiku.
Mataku menatap ke arah luar jendela lalu berputar pada laki-laki tampan yang sedang merapikan kemejanya. Pemandangan yang berbanding terbalik denganku. Aku masih asik berbaring di ranjang, berselimut hingga pinggang. Ini hari sabtu, di kalender juga tanggal merah tapi Galang tetap pergi ke kantor. “Mas..bosan..,” keluhku.
“Mas ada rapat penting. Tunggu beberapa hari lagi, kita akan pergi liburan sekalian honey moon.”
Aku berdecak, entah untuk keberapa kali Galang berjanji mengajakku liburan. Kenyataannya pekerjaan semakin menyita waktunya. Dia memang kadang menemaniku saat menghabiskan waktu di akhir pekan tapi tidak hanya kami berdua, beberapa temannya ikut menemani.
“Tidak perlu, Ariana sudah malas,” balasku merajuk.
Galang membalikan tubuhnya, berjalan perlahan lalu duduk di sampingku. “Bersabarlah sayang, mas harus menyeleseikan semua pekerjaan jika ingin liburan kita nanti berjalan dengan tenang. ”
“Tapi diam di rumah terus juga membosankan. Mas Galang tidak bisa ya mengizinkan aku pergi seorang diri, kan ada supir yang mengantar. Kak Putri sedang sibuk dan minta tolong mas Deo tentu tidak mungkin. Please…,” pintaku dengan penuh harap.
Dia mencium puncak kepala dan keningku dan berdiri. “Kamu diam di rumah saja, mas usahakan hari ini pulang cepat. Kita akan pergi kemana saja kamu mau.”
Wajahku merengut tapi tetap tidak membuat Galang mengubah keputusannya. Bisa saja aku pergi tanpa sepengetahuannya tapi kasihan dengan supir dan pembantu yang akan kena imbasnya. Aku sama sekali tidak mengerti dengan sikapnya yang seolah mengurungku tanpa alasan jelas.
Seharian aku memilih berada di kamar, berbaring malas-malasan di ranjang. Semua hal yang sekiranya bisa membuatku semangat sudah kulakukan dan berakhir dengan kebosanan. Pikiranku selalu teringat pada kakek dan nenek disaat diam tanpa kegiatan seperti sekarang. Semua garis nasib sudah kuterima dengan baik, apapun yang terjadi di masa lalu memang tidak mungkin bisa terulang kembali. Bagiku yang terpenting adalah orang-orang yang menyayangiku, meski harus bersujud aku akan melakukannya. Soal siapa ayah kandungku, biarlah waktu yang menjawabnya. Aku tidak ingin membuat luka baru pada keluargaku.
“Non, ada tamu.” Panggilan pembantuku terdengar dari balik pintu.
Setengah meloncat, tubuhku bangkit dan berjalan menuju pintu. “Siapa mbak?”
Pembantuku menggelengkan kepala. “Kurang tau ya non, temannya den Galang sepertinya. Tapi pas mbak bilang den Galang di kantor, dia bilang mau ketemu sama non Ariana.”
“Ya sudah, kasih minum saja dulu. Nanti saya temui tamunya.”
Aku bergegas merapikan rambut yang berantakan, tidak ingin membuat nama suamiku buruk karena istrinya berpenampilan seenaknya. Setelah merasa lebih rapih, kakiku segera berjalan menuju ruang tamu. Langkahku terhenti beberapa detik saat mengetahui siapa yang datang. Pak Peter, laki-laki yang kehadirannya sempat membuatku aneh sendiri. Laki-laki itu tampak duduk sambil melamun.
Kepalanya mendongkak saat kehadiranku mengusik kediamannya. Senyuman di wajahnya mengembang, menambah daya tarik di wajahnya meski usianya tidak lagi muda. Dia memang terlihat lebih pantas menjadi ayahku.
“Maaf pak, mas Galangnya masih di kantor. Bapak sudah menghubunginya?”tanyaku mengambil tempat di kursi untuk satu orang.
“Tidak apa-apa. Pak Galang sedang sibuk sepertinya. Kedatangan saya juga bukan untuk urusan kantor. Ini ada kado pernikahan untuk ibu dan bapak.” Laki-laki itu menyodorkan sebuah kotak dengan aksen pita kecil berukuran sedang di meja.
“seharusnya bapak tidak perlu repot. Nanti saya beritau mas Galang kalau dia sudah pulang,” balasku dengan sikap sopan.
Senyumannya masih belum hilang. Keramahan yang di perlihatkannya membuatku nyaman. “Sama sekali tidak repot, pak Galang adalah partner kerja yang hebat. Saya yang seharusnya berterima kasih pada suami ibu. Oh ya, boleh saya tau nama ibu anda? saya tidak bermaksud kurang sopan tapi wajah ibu mengingatkan saya pada seorang teman lama.”
Aku tersenyum kecut, baru teringat hanya mengetahui nama depan ibu kandungku saja. “Amira.”
Pak Peter tiba-tiba terdiam, dia hampir tersedak meski tidak sedang minum. “Bapak baik-baik saja?” tanyaku khawatir.
Kepalanya menggeleng pelan. “Tidak apa-apa. Ibu mempunyai sodara kembar atau sodara kandung?”
“Tidak, kebetulan saya anak tunggal. Bapak sendiri mempunyai putra atau putri?”
“Ya, dua orang perempuan,” balasnya dengan nada rendah. Kabut sedih terlihat di bola matanya.
Dia menepuk lututnya lalu berdiri. “Kalau begitu terima kasih atas waktunya. Saya masih ada perlu lain jadi tidak bisa berlama-lama.”
“Oh hati-hati di jalan dan terima kasih atas kadonya.”
Aku mengantar laki-laki itu sampai pintu depan. Aneh, perasaanku selalu tidak jelas jika bertemu dengan pak Peter. Awalnya kupikir hanya gugup tapi di pertemuan keduapun rasa itu tidak hilang juga.
Hadiah pemberian pak Peter kubawa ke kamar dan menaruhnya di meja kerja suamiku. Sisa hari kuhabiskan dengan menonton dvd sambil menunggu Galang pulang. Aku tidak terlalu berharap dia akan pulang cepat seperti janjinya. Ini bukan pertama kalinya dia mengatakan hal itu dan dengan mudah melanggarnya dengan enteng.
Langit mulai gelap saat pintu kamar tiba-tiba terbuka. Mataku terpaku pada Galang yang muncul dengan pakaian yang agak berantakan. Aku tidak bodoh untuk menyadari kalau dia habis berkelahi. Kedua tangannya terluka dan beradarah meski sepertinya tidak parah. Ini kedua kalinya aku melihatnya dalam keadaan seperti sekarang. Galang memang mudah terpancing emosi belakangan ini dan yang menyedihkan, aku tidak mengetahui penyebabnya.
Sikap dingin Galang membuatku harus berhati-hati. Dia melempar tas miliknya ke ranjang lalu berjalan menuju meja kerjanya. Tubuhnya menghempas kursi dengan kasar sementara tangannya meraih kotak obat di laci meja.
Bunyi pesan di ponselku terdengar, memecah keheningan di antara kami. Perlahan kuraih benda kecil di nakas. Putri ternyata mengirimkan pesan.
“Ariana, ada hal penting yang kamu harus tau. Deo baru saja memberitau kakak kalau suamimu sudah mengetahui perselingkuhan Quinna. Dia tidak sengaja mendengar pembicaraan beberapa temannya di restoran saat makan siang tadi. Suamimu sepertinya memang sudah curiga tapi pembicaraan teman-temannya semakin menguatkan pikiran buruknya selama ini. Galang belum mengetahui siapa orang yang menikamnya dari belakang tapi perbuatan Quinna sudah terbongkar. Dia marah besar dan sempat membuat keributan disana. Kakak tidak ingin kamu terkena imbasnya jadi bersikaplah sewajar mungkin, seolah kamu tidak tau hal ini. Dia mengatakan tidak akan pernah memaafkan orang-orang yang membohonginya, menutupi kebusukan dengan bersikap seolah semua baik-baik saja. Sebaiknya kamu hapus pesan ini setelah membacanya.”
“Pesan dari siapa? wajah kamu jadi pucat begitu.” Bulu romaku berdiri saat suara berat terdengar tepat disampingku.
“Eh..apa?”
=========
Bagian 13
Galang melingkarkan tangannya di bahuku begitupula diriku yang merangkul pinggangnya dengan erat. Berakting layaknya orang sakit dengan mengeluh kepala yang tiba-tiba pusing. Suamiku tidak begitu saja percaya tapi tidak bisa bergerak saat kepalaku bersandar di bahunya. Tubuhku berada di pangkuannya dengan posisi menghadap padanya. Jemariku dengan cepat mengotak-atik layar, menghapus bukti yang bisa menjadi sumber pertengkaran kami.
“Kamu benar-benar sakit atau sedang menyembunyikan sesuatu?”
Aku menarik diri dari pangkuannya meski hanya mampu menggeser tubuhku sedikit menjauh dari dadanya. Tanpa kekuatan penuh, genggaman tangannya berhasil mengunci gerakanku. “Harus ya aku muntah atau panas dulu baru mas percaya kalau wanita yang ada di hadapan ini memang sakit?” gerutuku dengan suara di buat agak serak.
Galang mengangkat kedua alisnya. Wajahku membayang di bola matanya dengan sorot yang menyiratkan kekecewaan. Tanpa pesan dari Putripun, aku pasti akan mengetahuinya. Laki-laki ini mencoba membungkus kesedihannya sewajar mungkin tapi sayang sikapnya justru menunjukan hal sebaliknya. Dia melampiaskannya padaku, aku tau itu.
“Soalnya pagi tadi keadaanmu masih baik-baik saja. Memangnya kamu sakit apa?”
Bibirku mengkerucut, berbohong bukan hal yang kusukai tapi untuk sementara ini yang terbaik. Tidak bisa kubayangkan emosi Galang jika tau kalau putri dan ayah sebenarnya tau masalah Quinna sejak lama. Ada dua hal yang kutakutkan, kemarahan Galang memuncak dan tidak terima atau sebaliknya, merasa sangat bersalah dengan semua sikap dinginnya. Aku membutuhkan keadaan yang tenang, waktu dan saat yang tepat untuk mengatakannya.
Kepalaku miring hingga menempel ke bahuku sementara kedua tangan kini melingkar di lehernya. Memasang ekspresi mengiba seperti yang pernah kulakukan saat kecil jika ingin meminta sesuatu. “Rindu,” jawabku lirih.
Senyuman Galang membuatku luar biasa lega. Bukan hanya karena lolos dari kecurigaannya tapi tidak ada yang lebih membahagiakan saat melihat orang yang kita sayangi tersenyum. “Really? mas jadi ingin memakanmu.”
“Not here…,” ucapku kembali merajuk.
Laki-laki didepanku tertawa masam. Dia tau aku akan mengulur waktu. “Baiklah nyonya tapi saat waktunya tiba, jangan harap mas mau mendengar keluhanmu.”
Pandanganku beralih pada tangan kanannya. “Tangan mas kenapa? siapa lagi yang jadi korbannya?”
Wajahnya berpaling pada jendela yang tirainya masih terbuka. Sudut bibirnya sedikit terangkat, membentuk senyuman sinis. “Korban? entah siapa yang sebenarnya yang jadi korban.”
Suaraku tidak bisa keluar, emosi Galang yang naik turun kadang harus membuatku berhati-hati menghadapinya. Begitupun dengan dirinya saat ini, ada rasa takut yang tidak bisa kuhindari. “Aku mengerti setiap orang pasti mempunyai masalah. Mas Galang juga pasti begitu tapi bisakah semua diseleseikan dengan kepala dingin. Tidak harus selalu mengikuti emosi dan mengakhirinya dengan adu fisik.”
Galang melepas rangkulanku di lehernya. Dengan mudah dia mengangkat tubuhku dan memindahkannya ke tepi ranjang. Ucapanku tadi rupanya mengusik egonya, raut wajahnya menunjukan ketidaksukaan. “Belajarlah untuk menerima mas apa adanya. Mas tidak akan melakukan hal yang kamu sebutkan jika tidak terpaksa. Ini bukan soal adu kuat tapi untuk membela diri.”
Aku memang tidak mengetahui seperti apa kejadian yang dialaminya tapi bagiku keselamatan suamiku lebih penting. Melihatnya pulang dengan penuh luka bukan hal yang mudah untuk kuhadapi. Terlebih sebagai manusia biasa, terkadang merasa lelah memikirkan cara untuk menghindar dari hal yang bisa membuat tensi darahnya naik.
“Aku tidak akan ikut campur, mas pasti lebih tau apa yang harus dan tidak untuk dilakukan. Hubungan kita bukan hanya tentang dua pribadi yang berbeda karakter tapi campuran keduanya. Bisakah mas mengerti kekhawatiranku, membayangkan mas berkelahi bukan hal yang mudah. Aku hanya minta mas lebih bisa mengontrol emosi, sedikit saja,” pintaku penuh harap.
Helaan nafas terdengar beberapa kali. Galang berdiri membelakangiku, kedua tangannya bertumpu pada pinggiran meja kerjanya. “Pembicaraan ini selesai sampai disini. Kamu tidak perlu menunggu mas pulang, malam ini mas tidur di apartemen.”
Aku kehilangan kata-kata saat sosok laki-laki itu menghilang dari hadapan. Selalu seperti ini, Galang memilih menghindar daripada membicarakan hal yang menyangkut masalahnya. Entah dia lupa atau pura-pura lupa dengan perkataannya sendiri pada saat kami berdua jujur dengan perasaan masing-masing. Kami berdua memang sama-sama terluka dengan masa lalu tapi jika seperti ini terus hubungan kami akan menemui jalan buntu.
Malam itu Galang tidak pulang, begitu pula dengan malam-malam selanjutnya. Aku tidak pernah berhenti mencoba menghubunginya, membuang ego meski sambutannya tidak seperti yang kuharapkan. Suamiku memilih membenamkan diri dengan tumpukan pekerjaan. Meluangkan waktu bersama rekan-rekan kerjanya yang tidak kukenal.
Foto dan kabar dari Deo jadi satu-satunya hal yang kutunggu. Dadaku terasa perih setiap sahabat suamiku mengirimkan kabar tentang suamiku. Menyedihkan bukan, aku istrinya tapi statusku tidak membantu apa-apa bahkan hanya sekedar mengetahui dimana keberadaan suamiku.
Aku pernah nekat pergi ke kantornya, rindu yang tidak bisa terbendung memaksaku melupakan resiko yang akan kuhadapi. Dugaanku benar, Galang mengabaikan kehadiranku. Dia meminta sekretarisnya untuk menyuruhku pulang. Hal yang semakin membuatku sakit, di balik jendela mobil, aku melihat sosoknya yang tertawa lepas bersama beberapa orang keluar dari kantor. Mereka pergi dengan menggunakan mobil suamiku menuju sebuah restoran. Raut dua orang wanita yang ikut bersamanya tampak bahagia.
Supir menatapku dari balik spion, tersenyum getir saat menungguku yang tidak bergeming. Dia cukup mengerti dengan apa yang kurasakan begitu kuminta kembali ke rumah.
Aku tidak lagi menghitung hari karena menunggunya sama saja dengan berharap bisa mengenggam angin. Kabar dari Deo yang mengatakan suamiku kemungkinan akan pergi keluar kota dalam waktu dekat ini semakin menambah kepedihanku.
Putri mendatangiku beberapa waktu lalu. Dia cukup paham dengan apa yang kualami. “Bersabarlah, Galang memang egois. Dia tidak menyadari kekecewaan yang di alaminya justru membuatmu ikut terluka. Tapi kamu tidak perlu khawatir dengan keadaannya.”
Aku hanya tersenyum masam. Pikiran tentang Galang memang menyita sebagian besar waktuku, melebihi masalahku yang lain. “Apa dia baik-baik saja?”
Wanita cantik disampingku mengusap bahuku. Menyemangatiku dengan senyuman tulusnya. “Keadaannya baik-baik saja. Kakak dan Deo akan terus mencoba menasehatinya. Selama ini dia memang menyibukan diri dengan pekerjaan dan mengacuhkan setiap wanita yang berusaha mendekat. Kakak sendiri tidak menyangka jika efek dari terbongkarnya perselikuhan Quinna akan membuat Galang seperti ini. Dia mencintaimu tapi egonya terlalu tinggi untuk menyadari kesalahannya. Entah apa yang akan terjadi jika dia tau kalau Ardi yang menusuknya dari belakang. Sampai keadaan membaik, simpan dulu rahasia ini.”
Tidak ada kata yang keluar dari mulutku. Mendengar apa yang dikatakan Putri sedikit mengurangi kegelisahanku. Aku sadar akan ada orang-orang yang mengambil kesempatan dari rengangnya hubungan kami. Tapi syukurlah jika dia bisa menjaga diri meskipun keadaan ini menyiksaku.
“Mbak, saya mau istirahat di kamar. Tolong jangan di ganggu ya,” pintaku setelah bosan berkeliling rumah.
Pembantuku memandangiku dengan raut cemas. “Non tidak makan siang dulu? tadi pagi non belum sarapan. Kemarin-kemarin juga non tidak mau makan.”
Aku tersenyum. “Nanti saja sekalian makan malam. Saya masih kenyang.”
Wanita paruh baya itu tidak membantah lagi. Dia membiarkan aku kembali ke tempat paling nyaman.
Siang ini hujan turun cukup deras. Warna abu menghias langit sejauh mata memandang. Pintu dorong yang menuju balkon perlahan kututup. Angin yang masuk terlalu kencang, beberapa hiasan kamar bahkan hampir terjatuh dari tempatnya.
Setan dalam kepalaku tiba-tiba membisikan ide gila yang tidak pernah sekalipun terlintas. Keadaan fisik dan jiwaku yang rapuh membuat akal sehat melayang entah kemana. Rindu, marah dan sedih melemahkan pendirianku. Tubuhku duduk di meja kerja Galang, mencari keberadaan dirinya yang tertinggal, pelipur pilu setelah sekian lama tidak menjumpainya. Pandanganku terhenti pada laci paling atas, tempat Galang biasa menaruh alat-alat tulisnya.
Sebuah benda berukuran sedang dengan mata pisau yang tajam beralih dalam genggamanku. Bagaikan raga tanpa jiwa, kakiku beranjak menuju pintu dorong yang terbuat dari kaca. Tubuhku terduduk, menyandarkan bahu pada pembatas antara dinding dan kaca.
Mataku menatap ke arah langit, berharap hujan yang semakin deras segera mereda. Menunggu munculnya pelangi yang membiaskan warnanya yang indah. Di sisi lain, pedih yang kurasakan menggerogoti rapuhnya harapanku.
Sejak dulu, disaat diriku mulai mengerti arti kehidupan, aku membiasakan diri berdamai dengan keadaan. Menyadari kalau ini memang takdir yang harus kujalani. Kebencian, kemarahan, hinaan bahkan pandang merendahkan dari orang-orang disekitarpun kutelan mentah-mentah. Keadaan dan kenyataan tidak pernah mudah tapi tidak ada pilihan bagiku selain menerimanya. Memikirkan ada orang yang lebih menderita dariku membuatku mampu menjalani seburuk apapun hariku.
Sekarang, detik ini perasaanku seperti berada di lubang tidak berujung. Dulu ada kakek dan nenek yang menjadi sandaran hidupku. Penyemangat di saat semua tidak berjalan dengan baik. Hangatnya pelukan keduanya menjadi obat yang tidak ternilai. Kini semua menghilang dan hubunganku yang semakin rumit dengan Galang membuatku frustasi. Satu-satunya orang yang kupikir akan bersamaku menghadapi masa depan ternyata semakin menjauh. Sendirian bukan hal yang menyenangkan tapi merasa tidak di butuhkan bagiku itu sangat menyakitkan.
Deringan ponsel membuyarkan lamunanku. Benda kecil yang kuletakan di lantai terus menerus berbunyi. Mataku melirik sekilas nama di layar. Perasaan rindu membuncah hanya dengan membaca nama itu.
“Hallo….,” sapaku pada seseorang yang kurindukan di seberang sana.
“Pembantu bilang kamu tidak mau makan. Makanlah, mas akan pulang sebelum pergi keluar kota.” Suara Galang begitu dingin dan bukan sesuatu yang kuharapkan.
Suaraku tercekat di tenggorokan. Ada banyak hal yang ingin kukatakan tapi tidak bisa kuucapkan. Hanya isakan, tangisan yang menjawab semua kepedihanku.
Helaan nafas terdengar, berat dan datar. “Berhentilah menangis, mas sudah bilang akan menemuimu sebelum pergi keluar kota besok pagi. Mas memang salah jadi tunggu mas, kita akan bicarakan ini.”
Kuusap air mata yang terus mengalir. “Tidak perlu, aku sudah bosan dengan semua janjimu. Abaikan saja diriku dan teruslah bersikap seenaknya. Pergilah kemanapun kamu suka, aku tidak akan pernah mengharapkanmu pulang lagi. ” Jemariku menekan tombol end call, memutuskan telepon dengan sepihak.
Deringan yang kembali berbunyi kuabaikan. Aku tidak berminat mengetahui siapa yang meneleponku. Amarah sudah membutakan mata hatiku. Entah berapa menit bahkan jam yang kuhabiskan dalam diam, menimbang apa yang akan kulalukan.
Setan mulai tertawa penuh kemenangan melihat keadaanku. Tindakan pengecut yang dipenuhi keputusasan. Hal yang tidak patut ditiru dan seharusnya tidak pernah kulakukan. Cater di tangan kananku tergeletak dengan sisi tajamnya berlumuran cairan berwarna merah.
Darah segar keluar dari pergelangan tanganku. Kusandarkan kepalaku di dinding, kembali menatap ke arah langit. Berharap pelangi akan muncul sebelum kegelapan merenggut kehidupanku. Andai bisa, aku ingin bertemu dengan ibuku. Meminta maaf karena kehadiranku sudah menghancurkan mimpinya. Seandainya aku tidak ada, semua pasti berbeda. Seandainya….
“Ariana buka pintunya. Kita harus bicara.” Samar suara Galang terdengar dari balik pintu.
Mataku mengerjap, menahan lelah dan berpikir itu hanya imajinasiku. Khayalan yang sering berujung pada kekecewaan. Laki-laki itu tidak mungkin berada disini, dia mempunyai dunianya sendiri diluar sana.
Namaku kembali di panggil berulang-ulang kali ini dengan gedoran di pintu yang semakin keras. Benturan keras terdengar bersamaan dengan pintu yang tiba-tiba terbuka.
Derap langkah gusar menghampiriku. “Beraninya kamu melakukan ini padaku hah,” geraman seseorang terdengar ditelingaku.
Mataku terbuka, menatap seseorang yang tengah sibuk melilit pergelangan tanganku. Galang berada di hadapanku, beberapa kali mataku mengerjap sosoknya tidak hilang. Ini bukan mimpi.
Kepalanya mendongkak, menatapku dengan matanya yang memerah. Pandangan tajamnya berkabut luka. “Kamu sudah salah besar sudah melakukan ini nyonya. Aku tidak mengizinkanmu pergi, kamu harus tetap bersamaku!”
Di tengah kesadaran yang semakin menurun, aku masih bisa tersenyum lirih. Galang meraih tubuhku dalam gendongannya. Berjalan cepat dan setengah terburu-buru dengan teriakan pada pada supir untuk membawaku ke rumah sakit. Suana rumah menjadi riuh, para pebantu tampak terkejut melihat keadaanku. Beberapa tampak menangis dan rasa bersalah kembali muncul. Keputusan bodohku mungkin akan berimbas pada orang-orang disekeliling.
Galang berdecak, menatap keluar jendela mobil dengan raut tegang. “Tapi mas lupa, aku bukan milik mas sepenuhnya. Tuhan bisa memanggilku kapan saja tanpa perlu izin dari mas. Bukankah dengan ketidakhadiranku, mas bisa hidup bebas.” Susah payah kukeluarkan kata yang tercekat di tenggorokan.
Laki-laki itu terdiam, rahangnya mengeras. Rangkulan di bahuku semakin erat tapi tanpa mau menoleh ke arahku. Dia pasti sedang menyalahkan dirinya dengan tindakan bodohku. “Simpan tenagamu, kamu bisa bicara semaumu setelah sembuh.”
Mataku terpejam, perlahan kegelapan mengisi penglihatanku. “Aku..ingin..melihat..pelangi….,” suaraku mulai terbata-bata dan nyaris tidak terdengar.
Kecupan hangat di keningku masih bisa kurasakan. “Kamu akan melihatnya, tidak hanya satu tapi ribuan pelangi jadi bertahanlah. Tetaplah hidup agar kamu bisa menyumpahi mas semaumu,” bisikan Galang bergetar, menahan tangis.
“Maaf….maaf…,”balasku di saat tetesan air matanya membasahi pipiku. Menutup kesadaranku yang tidak lagi mampu bertahan.
============
Bagian 14
Sinar matahari menyusup dari balik tirai. Mataku menyipit sebelum akhirnya terbuka. Suasana dan bau khas rumah sakit yang tercium menyadarkanku sepenuhnya. Tuhan ternyata memberi kesempatan untuk kembali, menyadarkanku dari perbuatan bodoh yang tidak pantas di contoh.
Senyuman wanita paruh baya di sampingku menyiratkan kelegaan. Mbak Inah menyentuh jemariku dengan pandangan haru. Bola mataku berputar kesekeliling dan tidak menemukan sosok yang kucari.
“Mas Galang tidak berada disini non.” Mbak Inah menatapku dalam, sejak awal dia tau siapa yang kucari.
Mataku menyipit, berusaha menangkap maksud ucapan pembantuku. Kepalaku masih sedikit pusing tapi tidak berpengaruh pada pendengaranku. Semua pertanyaan terpaksa kusimpan ketika dokter dan suster tiba-tiba masuk.
Aku hanya bisa menurut saat dokter memintaku melakukan apa yang di perintahkan. Luka di pergelangan tanganku sudah di obati, selain masih lemah tidak ada yang perlu di khawatirkan kecuali psikisku. Ingin rasanya mencabut selang di tanganku dan pergi mencari suamiku.
“Sebaiknya ibu tidak memikirkan hal berat dulu ya. Pulihkan dulu kesehatan ibu.” Laki-laki berumur empat puluhan itu rupanya menyadari gerak-gerikku. Senyumku masam, perasaanku memang belum tenang jika sosok Galang tidak kutemukan.
Sepeninggal dua orang yang sudah memeriksa kondisiku, pandanganku beralih pada mbak Inah yang kembali mendekat. Dia tampak enggan dan ragu ketika pertanyaan tentang Galang meluncur dari mulutku. Seingatku dia yang membawaku ke rumah sakit.
“Pas non belum sadar, tuan besar datang dan marah sekali sama den Galang. Tuan besar menyalahkan keadaan non bahkan sampai mukul tapi den Galangnya cuma diam saja. Kalau suster tidak masuk, den Galang mungkin bisa ikut di rawat.” Mimik wajah mbak Inah terlihat ketakutan.
Aku mencoba bergerak, sangat khawatir dengan keadaan suamiku. Terlebih kerinduan untuk melihatnya semakin lama tidak tertahankan. Tubuhku yang masih terasa lemas membuatku mulai frustasi. Menyalahkan diri sendiri hingga hubungan kami menjadi rumit.
“Mbak, mas Galang sekarang dimana?” tanyaku hampir menyerah.
“Mbak juga kurang tau, tuan besar cuma minta mbak ngelarang den Galang ketemu sama non Ariana.”
Semua salahku hingga keadaan menjadi semakin rumit. Sikap pengecutku yang memilih jalan pintas tanpa memikirkan akibatnya. Seharusnya aku bisa lebih tegar meskipun harus mengiba agar Galang mau bicara denganku. Penyesalan tidak lagi berguna, sekarang aku harus memikirkan menyeleseikan masalah ini.
Pintu kamar terbuka, laki-laki paruh baya yang mirip dengan Galang tersenyum ke arahku. Mbak Inah bangkit dengan sikap sopan lalu beranjak duduk di sofa panjang.
“Syukurlah kamu sudah siuman. Bagaimana keadaanmu?” Ayah duduk di tempat pembantuku tadi.
Aku mencoba tersenyum, menyembunyikan rasa malu dengan tindakan bodoh yang membuatku harus di rawat. “Sedikit lebih baik yah. Mm..benarkah tadi ayah bertengkar dengan mas Galang?” Suaraku mengiba dan serak.
Om Dirga mengusap rambutku, sikap dan tatapan lembutnya mengingatkanku pada sosok seorang ayah pada umumnya. Hal yang tidak pernah kurasakan sejak kecil. “Kamu tidak perlu khawatir, setiap orang tua pasti pernah bertengkar dengan anaknya. Kami hanya berbeda pendapat saja.”
“Tapi…”Kalimatku menggantung, aku tidak ingin pertanyaanku malah membuat masalah baru. Kondisi mertuaku belum sepenuhnya pulih.
“Ayah mengerti kecemasanmu tapi saat ini kesehatanmu jauh lebih penting. Suamimu sudah biasa berkelahi sejak remaja, apa yang ayah lakukan hanya pembelajaran agar dia mengerti kesalahannya.”
Bayangan Galang yang terluka berkelebat di kepalaku. Kenyataan pahit yang harus kuhadapi di saat baru membuka mata. “Mas Galang tidak sepenuhnya salah ayah. Tindakan Ariana juga kesalahan besar. Ariana sudah memaafkan dia. Biarkan Ariana bertemu dengan mas Galang,” pintaku merajuk, memanfaatkan kondisiku yang masih lemah.
Mertuaku menggeleng pelan tapi tegas. Rautnya menunjukan ucapannya tidak bisa di tawar lagi. “Suami macam apa yang meninggalkan istrinya karena masalah yang ditimbulkan mantan kekasihnya. Kamu seperti ini karena ketidakmampuannya menjagamu sebagai laki-laki dewasa. Sekarang gunakan waktu kalian untuk berpikir dengan perpisahan sementara ini. Ayah melarang Galang dan kamu bertemu dalam waktu dekat. Kamu tidak perlu mengharapkan kehadirannya, dia sudah menyanggupi untuk tidak bertemu denganmu.”
Wajahku memucat, baru pertama kali kulihat ayah bertindak seperti ini. “Memangnya apa yang ayah katakan pada mas Galang jika dia berani menemui Ariana?”
“Ayah akan memintanya untuk menceraikanmu jika dia berani melanggar janjinya untuk tidak menemuimu. Kamu jangan salah paham dengan keputusan ayah. Anak itu sesekali harus di beri pelajaran supaya bisa menghargai perasaan orang lain.”
Kata cerai hampir membuatku pingsan jika tidak bisa mengendalikan diri. Tindakan ayah melampaui bayangan perjalanan hubungan kami yang naik turun. Suaraku tertahan di tenggorokan, mengomel atau mempertanyakan tindakan mertuaku tidak akan mengubah keadaan. Ini adalah resiko terberat yang harus kujalani.
Mbak Inah tampaknya mengerti kesedihanku. Dia sempat keluar kamar seentar, memastikan tidak ada yang akan masuk. Wanita berwajah ramah itu mengeluarkan sebuah kertas kecil. “Mbak tunggu diluar ya non, siapa tau tuan besar datang lagi,” ucapnya lalu meninggalkanku.
Kubuka kertas kecil yang terlipat di tanganku. Tulisannya buram seperti terkena air membuatku tertegun.
Maaf tidak bisa menjadi orang yang pertama kamu lihat disaat matamu terbuka.
Maaf sudah membuatmu kesepian hingga memilih menyerah karena keangkuhan dan egoku.
Maaf dengan berat hati sementara waktu tidak bisa menatap mata cantikmu.
Seribu maaf akan kuucapkan berharap dirimu tidak kehilangan harapan untuk bersamaku.
Dan maaf untuk semua cinta tulusmu yang kubalas dengan luka. I miss you so bad.
Kugigit bibir sangat keras, mengusap air mata yang hampir jatuh. Galang mungkin menulisnya sambil menangis. Beberapa kata hampir tidak terbaca karena basah oleh air. Aku menyesali kebodohan yang berujung pada perpisahan sementara ini. Kertas tadi kulipat kembali dan dengan cepat menyimpannya di bawah bantal. Kututup matau dengan tangan, menahan rindu yang semakin menyiksa. “I miss you too…i’m sorry..”
Hari-hari berlalu tanpa kesan. Kebahagiaan dan semangatku seperti terenggut. Om Dirga tetap tidak mengubah keputusannya. Dia mengatakan itu sebagai hukuman untuk putranya tapi dirikupun ikut merasakan dampaknya. Komunikasi kami terputus, ayah tidak main-main dengan ucapannya. Seorang laki-laki berwajah sangar bahkan di sewanya untuk mengawasiku.
Setelah diperbolehkan keluar rumah sakit, sosok Galang tidak juga kutemukan. Rindu dan rasa bersalah membuat nafsu makanku hilang. Setiap malam, aku memakai kemejanya agar bisa tertidur. Aroma tubuhnya seperti masih menempel dan membuatku merasa seperti berada dalam pelukannya.
Semua pekerja di rumah tidak satupun yang mengetahui keberadaan suamiku. Pernah suatu hari aku nekat mendatangi apartemennya tapi penjaga keamanan mengatakan Galang sudah lama tidak pulang ke tempat itu. Deo dan Putri yang sempat menengokpun tidak tau dimana suamiku tinggal. Galang memang sempat bilang akan cuti dan menyuruh wakilnya di kantor mengurus soal pekerjaan selama dia pergi. Kemana dia?
Ayah masih saja keras kepala, beranggapan kalau Galang bukan lagi anak kecil yang tidak bisa mandiri. Aku tau itu, menyadari dengan uang yang di miliknya, Galang bisa tinggal dimanapun. Tapi sebagai istri, tetap saja tidak bisa menyingkirkan kekhawatiran apalagi membayangkan sosoknya yang mampu menarik perhatian wanita. Bisa saja lubang di hatinya saat ini di manfaatkan oleh wanita lain. Aku tidak bisa membayangkan jika hal itu benar-benar terjadi.
Kasihan melihatku yang sering melamun, mertuaku menyuruhku berlibur ke sebuah resort di luar kota. Tempatnya tepat menghadap laut. Pasir putih menjadi pemandangan yang seharusnya bisa kunikmati. Mbak Inah ikut menemani, menghiburku jika aku mulai menangis seperti anak kecil karena begitu merindukan Galang.
Sore hari setelah terbangun dari tidur siang, aku beranjak menuju pantai. Tidak kupedulikan rambut yang berantakan karena tiupan angin. Wajahku sembab dan kusut. Beberapa orang yang melewatiku mungkin berpikir aku sudah gila. Berjongkok sendirian dengan menggunaan kemeja kebesaran dan legging selutut sambil mengukir namaku dan Galang di pasir sambil berbicara sendiri.
Langit mulai gelap dengan angin laut bertiup semakin kencang. Tapi aku masih belum ingin beranjak. Tempat yang jauh dari keramaian ini membuatku bebas menumpahkan kegelisahan yang menghantuiku.
Mbak Inah hanya bisa mengelus dada melihatku masih asik bermain pasir saat gerimis mulai turun. Semua permintaannya agar aku kembali ke kamar bagai angin lalu di telingaku. Dia khawatir jika masalah yang kuhadapi perlahan melemahkan imanku. Mungkin mengurus anak kecil lebih mudah daripada menjagaku yang keras kepala.
“Nyonya Galang? Apa yang sedang anda lakukan di sini?” Suara laki-laki di sampingku terdengar heran.
Kepalaku mendongkak, menatap bola mata yang mirip denganku. Pak Peter menatapku dengan raut bingung. Tangannya menggenggam payung yang dia alihkan padaku, melindungiku dari hujan.
“Anda baik-baik saja?” tanyanya melihatku bangkit tanpa suara. Kmai menepi menuju sebuah kios makanan yang sudah tutup.
“Iya,” balasku sambil membersihkan pasir yang menempel di tangan dan kaki.
Bola mataku berputar ke arah belakang Pak Peter. Seorang wanita memakai topi tampak berlindung di balik punggungnya. Sejak tadi dia mengikuti langkah laki-laki paruh baya di depannya. Wajahnya tidak terlihat karena kepalanya selalu menunduk. Tingginya kurang lebih sama denganku. Rambutnya yang panjang tergerai menutupi sebagian wajahnya. Terbersit bayangan wanita di film horror jepang di kepalaku.
“Dia putri anda?” tanyaku mencoba tersenyum pada wanita yang mulai berani menampakan diri meski hanya sebelah matanya yang bisa kulihat.
Pak Peter mengangguk, penampilan wanita yang tampak aneh itu tidak membuatnya malu. Jemarinya mengusap punggung tangan wanita yang tengah memegang erat ujung kaosnya. “Benar, masalah keluarga memaksa kami berpisah cukup lama. Saya harap anda tidak takut, dia memang tidak terbiasa dengan kehadiran orang asing. Kebetulan sekali kita bisa menginap di tempat yang sama.”
Kepalaku manggut-manggut, setiap keluarga mempunyai masalahnya sendiri. Masa lalukupun jauh dari kata bahagia dan mencampuri urusan orang lain bukan hakku. “Siapa namanya cantik?” Rasa penasaran muncul pada sosok yang terlihat lugu.
“A..A..Arianda.” Pak Peter terkejut mendengar jawaban putrinya. Suara wanita muda itu memang pelan tapi telingaku masih bisa menangkapnya dengan jelas. laki-laki paruh baya itu tampak bingung seolah ini pertama kalinya dia mendengar putrinya bicara.
Kuulurkan tanganku pada Arianda, wanita yang menatapku dengan malu-malu. “Nama kita mirip ya, saya Ariana.”
Arianda hanya menempelkan tangannya sekilas lalu menariknya dengan cepat. Tubuhnya kembali berlindung di balik sosok tegap ayahnya. Ada rasa iri melihat perhatian yang di tujukan pak Peter pada putrinya. Laki-laki itu tampak sabar meskipun putrinya bersikap tidak sesuai dengan umurnya.
“Iya, kebetulan dia masih ada pekerjaan, nanti menyusul.” Terpaksa aku berbohong, tidak enak jika orang lain tau apa yang terjadi pada kami.
Pak Peter terdiam, sesaat rautnya menegang. Tanganku dengan cepat merapikan ujung kemeja yang memperlihatkan bekas luka akibat perbuatan bodohku. Laki-laki itu sempat melihatnya meski tidak mepertanyakan apa yang terjadi. Kuharap dia tidak mencampuri masalahku seperti halnya diriku tidak mempertanyakan masalah keluarganya.
Hujan turun semakin deras, Pak Peter meminjamkan satu payungnya untukku. Dia dan putrinya berjalan menjauh. Kuperhatikan Arianda sesekali berhenti dan menoleh ke arahku. Hm…Arianda, nama yang bagus, sayang wajahnya tidak terlihat jelas.
Sosok mbak Inah tidak terlihat ketika kakiku memasuki ruangan yang beberapa hari ini kutinggali. Di panggil beberapa kalipun tidak ada jawaban padahal biasanya dia sangat sigap. Kamarnya kosong dan rapih sementara koper kecil miliknya masih tersimpan di dekat ranjang. Mungkin pembantuku itu sedang keluar pikirku sebelum akhirnya kembali ke kamar.
Keningku berkerut, bingung mendengar suara shower dari arah kamar mandi. Tubuhku masih terpaku hingga beberapa saat suara itu menghilang. Apa mbak Inah mandi di kamarku ya? Tapi dia bukan orang yang suka memasuki kamarku tanpa izin.
Penasaran, aku meneruskan langkah menuju kamar mandi. Pintunya tidak terkunci, sedikit terbuka hingga suara orang yang sedang berpakaian terdengar.
“Mbak Inah lagi mandi ya?” tanyaku menahan diri untuk tidak masuk. Tidak ada balasan dari arah dalam.
“Mbak?” Perasaanku menjadi tidak enak.
Pintu kamar mandi perlahan terbuka dari dalam. Sesosok laki-laki tampan muncul. Senyum yang kurindukan itu kini terlihat begitu nyata. Kedua tangannya merentang, bersiap menyambutku dalam dadanya yang bidang.
“Maaf, non tadi panggil mbak?” Suara pembantuku mengejutkanku. Mbak Inah berdiri di dekat pintu kamarnya yang terbuka.
Sosok tadi menghilang, rupanya yang kulihat hanya khayalan. Belakangan ini aku sering sulit membedakan imajinasi dan kenyataan. Separah inikah kerinduanku padanya.
Tubuhku berbalik. “Iya, tadi aku kira mbak lagi di luar.”
“Tadi mbak memang keluar sebentar. Non perlu sesuatu?”
Kepalaku menggeleng. “Tidak ada, mbak istirahat saja. Saya mau mandi dulu.”
Aku menghela nafas setelah kepergian wanita yang banyak bersabar menghadapiku. Sampai kapan aku akan terus terombang-ambing perasaan sendiri. Mertuaku benar-benar menutup semua pintu yang menghubungkanku dengan putranya. Sikapnya lebih menunjukan kalau aku putri kandungnya di banding pada galang. Ah hanya menyebut nama itu mampu membuat debaran jantungku berdebar tidak beraturan. Where are you now…
Ketukan terdengar, pintu kamar memang belum sempat kututup. “Ada apa mbak?” tanyaku tanpa menoleh. tanganku masih sibuk membuka koper, memilih baju yang akan kupakai.
Aku menghela nafas saat tidak mendengar jawaban. Mungkin tadi telingaku salah mendengar gumanku dalam hati.
Pandanganku tiba-tiba gelap. Tangan seseorang menutup mataku . Reflek aku berusaha menepis agar bisa melihat siapa yang melakuakn hal ini. Mbak Inah tidak masuk dalam daftarku, dia tidak akan seberani ini. Apa jangan-jangan aku sedang berhalusinasi lagi?
Aku berbalik ketika kedua tangan yang menutup mataku terlepas. Sontak tubuhku menatap tidak percaya pada sosok yang tengah berdiri di depanku. Laki-laki itu terlihat lebih tampan dan dewasa. Janggutnya di biarkan tumbuh dengan rapih. Tapi sorot dan senyumnya tidak berubah, menatapku dengan kerinduan seperti hanya diriku.
Tanpa perlu menunggu lama, tubuhku menghambur dalam pangkuannya. Galang terkekeh, menciumi pipiku dengan gemas sementara aku memilih menyembunyikan wajah di lekukan lehernya. Tangisku pecah tanpa melepas rangkulan tanganku, ini bukan mimpi. Layaknya seorang ayah, Galang menenangkan tangisku, membawaku berjalan kesana-kemari seolah tubuhku seringan kapas.
“Kenapa baru datang?” Suaraku masih bergetar.
Galang perlahan duduk di sofa tanpa melepaskanku dari pangkuannya. Jemarinya yang besar mengusap air mataku. “Ada hal yang harus mas kerjakan. Kamu pasti sudah mendengar hal itu dari ayah. Tidak bisa melihatmu adalah hukuman terberat.”
Pipiku merona saat memberanikan diri menatap laki-laki tampan didepanku. Senyumannya berhasil membuat ribuan kupu-kupu berterbangan di perutku. Galang menahanku yang akan bangkit dari pangkuannya.
“Tenang saja, mbak Inah sudah mas suruh pulang dengan supir tadi. Ayah juga sudah memberi izin jadi kamu tidak perlu cemas. Sekarang hanya ada kita berdua di sini,” jelas laki-laki yang tanpa canggung mencium bibirku. Naluri menuntunku untuk menerima dan membalas semua yang di berikan Galang.
Kasih sayangnya berpedar melalui kelembutannya saat menyentuh kulitku. Begitu hati-hati sekan terbuat dari kaca yang rapuh. Tubuhku bergetar, merasakan sensasi yang mulai menggelora.
Galang tersenyum melihatku tersipu malu setelah ciuman terakhir kami berakhir. Aku bahkan tidak berani mengangkat wajahku. Jemarinya menyentuh daguku, mengusapnya perlahan lalu mengangkatnya hingga padangan kami bertemu.
Tidak ada kata yang mampu menggambarkan perasaanku saat ini. Tanpa sadar jemariku mengusap janggutnya yang mulai tumbuh. Kehadirannya seperti mimpi yang menjadi nyata. Galang memperhatikan setiap gerakanku dengan senyuman. Dia sama sekali tidak berniat mengusik apa yang kulakukan. Aku mengigit bibir, merasakan getaran ketika Galang mengedipkan mata, memberiku senyuman menggoda.
Kepalaku kembali bersembunyi di lehernya, tidak mampu menahan malu dengan tatapan matanya yang intens. galang tertawa pelan, menggoda sikapku yang tidak ubahnya seperti remaja yang tengah di mabuk asmara. Jemariku asik memainkan ujung rambutnya di saat laki-laki itu dengan gemas menciumi pipi dan sudut bibirku. “Miss you,” bisiku lirih.
“Hm..i know,” balasnya semakin mempererat pelukan kami. “Kita mandi dulu ya, mas gerah nih,” lanjutnya yang hampir membuatku terbatuk. Belum sempat bereaksi, Galang sudah bangkit dan membawa tubuhku ke dalam akamr mandi.
Dia sama sekali tidak memperdulikan kegugupan yang menyerangku. sikapku semakin gelisah ketika memperhatikannya yang tengah membuka kaos dan jaketnya. Pandanganku terkunci pada pemandangan indah di depan. Galang tampak tak acuh hanya dengan hanya mengenakan celana jeans.
Aku menelan ludah ketika dia memberi isyarat dengan jarinya agar akumendekat. Perlahan kuhampiri laki-laki yang selesai membuka jam tangannya. Dengan mudah tiba-tiba Galang mengangkat tubuhku duduk di wastafel. Kepalaku masih harus mendongkak karena kalah tinggi. Bagiku melihat matanya lebih mudah daripada harus terpaku pada dadanya yang tanpa sehelai benangpun.
Galang meraih saku jaketnya, mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru. “Menikah denganmu bukan hal yang perah mas bayangkan. Wanita keras kepala dan menyebalkan yang mas kenal sepanjang hidup. Tapi ketegaran dan kesederhanaanmu mengubah dunia mas, kamu mampu menghancurkan ego yang mas pendam. Kehilanganmu adalah momen terburuk, menyakitkan dan tidak ingin terulang lagi. Untuk itu mas ingin memulai kembali ke titik awal.”
Laki-laki yang terlihat sexy di mataku menahan nafas, tampak gugup dan mendekatkan wajahnya hingga hembusan nafasnya terasa sementara aku hanya bisa terdiam saat benda kecil berkilau sudah melingkat di jari. “Ariana, aku mencintaimu. Aku tau hubungan kita sudah terikat tapi izinkan aku menanyakan satu hal. Cintaku, sayangku, rinduku, maukah kamu menikah denganku?”
Kuremas jemari yang bergetar, seumur hidup tidak pernah terbayang akan ada yang mengatakan kalimat itu. Menikah dengan Galang semakin memupus impian semu itu. Aku hampir menganggap ini imajinasi belaka tapi semua memang nyata, senyata sosoknya yang menunggu jawabanku.
Galang mengusap air mataku, alih-alih bicara tangisku kembali pecah. Hanya dengan berada dalam pelukannya, diriku merasa menjadi wanita paling bahagia. “Ariana mau tapi jangan abaikan aku lagi, rasanya tidak enak,” ucapku di sela isak tangis.
“Tentu saja tapi mas cuma manusia biasa, tolong ingatkan jika mas melakukannya lagi. Sekarang kita pindah ke sesi selanjutnya.” Dia melepas pelukannya, menatapku dengan senyuman mesum.
“Sesi selanjutnya? sesi apaan?” tanyaku tidak mengerti.
Galang tidak menjawab, dia melangkah menuju pintu dan menguncinya. “Kamu tidak bisa bayangkan penderitaan mas setelah berpisah denganmu. Hanya mampu membayangkan dirimu di setiap malam. Agar ayah tidak marah lagi, sebaiknya kita memperinya kebahagiaan supaya perhatiannya teralih.”
Kuseka sisa air mataku, memikirkan ucapan suamiku dengan kening berkerut. “Contohnya?”
Laki-laki itu kembali mendekat, mencium keningku dengan lembut. Senyumannya berubah dan aku menyadari apa yang dia inginkan. “Cucu?” tebakku.
Galang mengangguk senang. “Hidup malam pertama,” ucapnya sambil bersorak.
Kepalaku hanya menggeleng, tersenyum masam melihat sikapnya yang seperti anak kecil. Sepertinya bukan hanya aku yang terganggu karena perpisahan kami. Sigh.
=========
Bagian 15
Sinar matahari bersinar malu-malu di balik tirai. Mataku terbuka perlahan dengan tangan meraba-raba nakas, mencari ponsel pemberian Galang. Hari ternyata sudah beranjak menjelang makan siang gumanku.
Lengan Galang yang merangkul kuat di pingangku membutku sulit bergerak. Rasa nyeri di bagian bawah tubuh menyadarkanku dengan apa yang terjadi semalam. Kewajiban suami istri yang pertama kali kami lakukan setelah menikah.
“Sudah bangun sayang,” suara serak Galang membuatku merinding. Wajahku merona mengingat tubuhku tidak mengenakan sehelai benangpun.
“Baru saja. Mas Galang mandi duluan gih, sudah siang. Aku lapar,” jawabku tanpa membalikan badan. Tidak ingin menunjukan wajah yang sedang memerah ini. Kecupan lembut terasa di pipiku. “Ya sduah mas mandi duluan ya.” Galang menyibak selimut yang menutupi tubuhnya. Tanganku reflek menutup mata, malu melihat laki-laki yang melewatiku berjalan santai tanpa pakaian. Dasar.
Menunggu Galang selesai mandi, kakiku beranjak menuju jendela. Selimut masih melilit di tubuh dengan ujung yang kupegang kuat agar tidak melorot. Di luar, langit tampak cerah dengan udara yang cukup panas.
Kuhela nafas pendek, kejadian semalam masih membayang. Ciuman, sentuhan dan sensasi gairah yang memabukan tidak bisa kulupakan begitu saja. Kutepuk pipiku cukup keras, menghentikan pikiranku yang mulai aneh.
“Lagi ngelamunin apa? Dari tadi di panggil diam saja?” Galang tiba-tiba memelukku dari belakang. Sudut mataku melihat dia masih mengenakan handuk sebatas pinggang. Kulitnya yang polos bersentuhan langsung dengan tubuhku yang tidak tertutupi selimut. Percikan dan getaran yang terasa seperti semalam kembali hadir.
“Bukan apa-apa, aku mau mandi dulu.” Tanganku berusaha membuka ikatan tangannya di perut.
Galang membalikan tubuhku dengan satu kali gerakan. Kedua alisnya terangkat dengan sorot meredup. “Masih sakit?”
Kepalaku mengangguk pelan, mengerti arti pandangannya. Binar gelora membias di matanya. “Tunggu dulu ya, mm..b..berapa hari lagi m..mungkin,” balasku malu-malu. Ergh rasanya seperti bukan diriku saja.
“Tidak perlu dipaksa. Hubungan suami istri itu harus keduanya yang menikmati bukan hanya satu pihak. Sekarang mas minta cium saja.” Galang memajukan bibirnya.
Tubuhku menjauh, menutup bibirnya dengan jariku. “Nanti saja. Aku belum gosok gigi.”
Jemariku di lepas dari bibirnya. “Tidak apa, ini pertama kali mas terbangun dalam keadaan sudah sah lahir batin memilikimu. Memandangmu sebagai layaknya seorang istri.”
Aku tidak bisa bergerak ketika bibirnya menciumku. Sikapku mendadak canggung ketika menatap sorot mata di depanku. “Sekarang mandilah sebelum mas berubah pikiran.”
Kakiku bergegas menuju kamar mandi. Rasanya sangat malu hingga bercerminpun tidak sanggup melihat kondisi tubuhku. Galang menyisakan beberapa tanda di dadaku. Semua terasa baru bagiku tapi aku tidak menyesalinya. Kami melakukannya di saat perasaan yang sempat menjauh itu terikat.
Galang tampak sedang membaca suarat kabar, sesekali dia menyeruput kopi yang di buatnya saat aku selesai mandi dan berpakaian. Jantungku berdebar, masih saja gugup meski sudah berusaha bersikap sewajar mungkin. Suamiku terlihat lebih tampan dari biasanya, entahlah mungkin aku yang terlalu terlena dengan aksinya semalam.
Kepalanya mendongkak, menyadari diriku yang tinggal beberapa langkah darinya. Senyumnya mengembang, menarik kursi disebelahnya untuk kududuki. Aku menurut tanpa bicara sepatah katapun. isi kepalaku mendadak kosong, tidak tau harus memulai pembicaraan dengan topik apa.
Pipiku kembali menjadi sasaran ciuman gemasnya. “Kita sarapan di sini saja ya. Tidak perlu keluar kamar.”
Perhatianku beralih pada daftar menu yang Galang sodorkan. Beberapa kali kusikut lengan dan wajahnya yang mencoba menciumku. Dia hanya tertawa geli melihatku merengut yang tidak bisa konsentrasi karena gangguannya.
“Mas kemarin aku bertemu sama pak Peter. Dia menginap di resort ini juga sama putrinya,” ucapku setelah menyebut makanan yang ingin kupesan. Daftar menu kuletakan kembali di meja.
Galang menutup telepon setelah memesan makanan kami berdua. “Pak Peter? Dengan putrinya?” Kerutan di kening suamiku memberi tanda dia tidak mengetahui soal putri salah satu rekan kerjanya.
“Iya. Kenapa mas mukanya begitu?” Kuperhatikan raut wahag suamiku yang kebingungan.
Dia beranjak kembali ke kursinya. Matanya menatap langit-langit, seperti sedang mengingat sesuatu. “Setau mas hingga usianya yang tidak lagi muda, dia belum pernah menikah. Wanita yang dekat dengannya memang banyak tapi tidak satupun dari mereka yang di bawanya kepelaminan. Kabarnya dia masih belum bisa melupakan wanita yang pernah di cintainya di masa lalu.”
Sudut bibirku terangkat. “Nyindir diri sendiri ya.”
Galang mencubit hidungku dan melepasnya setelah melihatku kehabisan nafas. “Semua orang punya masa lalu tapi masa depan jauh lebih penting untuk kita hadapi. Jadi berhenti mengungkit hal itu karena bisa merusak hubungan yang sudah membaik ini. Kamu masih mau bukti lagi?|
“Bukti apa?”
Tubuhku di tarik dan mendarat di pangkaun suamiku. “Lanjutan yang semalam,” balasnya dengan seringai mesum.
Kucubiti pipinya sampai puas dan berakhir dengan menyandarkan kepalaku di lekukan leher suamiku. Tenagaku sudah habis karena belum terisi makanan. Galang kembali meneruskan membaca suarat kabar dengan sebelah tangan merangkul pinggangku. Mataku terpejam mencium aroma tubuhnya dan berdoa pesanan makanan kami cepat datang.
Tidak berapa lama makanan yang kami pesanpun akhirnya datang. Aku kembali duduk di kursi yang kutempati tadi. Kami menikmati sarapan sambil mengobrol. Membahas hal ringan seputar hubungan kami. Rencana masa depan termasuk soal memiliki bayi.
“Hm mas, aku sudah lama tidak dengar kabar kakek dan nenek. Bisa tidak mas mencari tau keadaan keduanya?” pintaku di sela-sela menyuap makanan.
Rambutku di belainya dengan sayang. “Tentu, nanti mas coba menghubungi kakek dan nenekmu. Mas mengerti kekhawatiranmu tapi cobalah bersabar sedikit lagi. Jangan bertindak gegabah yang membuat hubungan kalian semakin memburuk.” Aku paham maksud suamiku adalah untuk tidak menemui keluargaku dalam waktu dekat ini.
“lagi pula saat ini kita sedang memulihkan perasaan masing-masing. Mas tidak bilang kita bisa liburan lagi tapi nikmatilah waktu yang ada.” Lanjut Galang dengan senyum tulus.
Kerinduan pada dua sosok yang menjadi pengganti orang tuaku memang sering muncul. Semua perkataan kakek sudah kulupakan. Bagaimanapun aku mengerti arti kehilangan seseorang yang di cintai. Tapi rasa itu harus kutahan untuk sementara waktu.
Kami menghabiskan sisa waktu di liburan yang tidak direncanakan ini dengan menghabiskan waktu berdua. Tidak selalu berakhir di ranjang meskipun Galang selalu bersikap seperti anak kecil agar aku menuruti permintaannya. Mengobrol menjadi kebiasaan baru sebelum tidur.
“Mas Galang!” pekikku kesal. Laki-laki yang memelukku dari belakang tidak menunjukan tanda-tanda akan melepaskan rangkulannya di perutku.
Dia terkekeh, menikmati dan meneruskan ciuman kecil di leher juga bahuku. Kegiatanku membereskan barang ke dalam tas menjadi terganggu, beberapa jam lagi kami harus segera chek out. Geli dan sensasi panas muncul bagai percikan di setiap sentuhanya. Aku menyerah saat Galang membalikan tubuhku. Mencumbu bibirku tanpa aba-aba.
Suara ketukan di pintu memaksa suamiku meredam gairahnya. “Siapa lagi sekarang,” gerutunya sambil beranjak menuju pintu masuk.
Aku menghala nafas lega dan kembali melanjutkan membereskan barang-barang. Badanku masih pegal dengan kegiatan semalam. “Sayang, ada ayah.”
Mertuaku tengah duduk di sofa saat aku keluar dari kamar. Galang menemaninya mengobrol. Keduanya tampak santai, tidak menunjukan pernah terjadi pertengkaran hebat. Sikap Galang yang semakin pintar mengatur emosi membuatku bahagia. Selama aku mengenalnya, mungkin ini pertama kali melihat ayah dan anak itu bisa tersenyum lepas.
“Pagi ayah,” sapaku sambil mencium punggung tangan laki-laki yang sudah kuanggap seperti ayah sendiri.
Laki-laki paruh baya itu mengusap kepalaku. “Pagi Ariana. Bagaimana keadaanmu?” tanya ayah setelah aku duduk disamping putranya.
Senyumku menyungging. “Sudah lebih baik. terima kasih ayah sudah mau memaafkan kesalahan kami berdua.”
Om Dirga membalas senyumanku, rautnya tampak bahagia. “Sebagai orang tua, ayah hanya ingin melihat kalian rukun. Ambil pelajaran dari kejadian yang sudah terjadi. Jangan lupa untuk saling menghargai perasaan masing-masing. Kamu Galang, tunjukan pada ayah kalau kamu bisa membuktikan mampu menjaga Ariana.”
Galang yang sejak tadi merangkul bahuku mengangguk. “tentu saja ayah. Galang tidak akan mengulang kejadian tempo hari.”
Pembicaraan keduanya terus berlanjut setelah aku pamit untuk kembali membereskan pakaian. Perasaanku sedikit lebih tenang dan lega, seperti menemukan kembali sinar dalam kegelapan. Kehidupanku mulai terarah dengan semakin membaiknya hubungan kami berdua.
Galang kembali menemuiku ke kamar. Jemarinya mengusap kepalaku tanpa mengusik apa yang sedang kulakukan. “Ariana, mas mendapat kabar kurang enak. Kakekmu jatuh sakit dan saat ini sedang di rawat di rumah sakit. Mas sebenarnya ingin menemanimu tapi ada beberapa hal yang harus di bereskan lebih dulu di kantor. Bagaimana kamu mau menemui kakek dan nenekmu atau tidak? Kalau masih belum siap, tunggu sampai pekerjaan mas selesai saja. nanti kita pergi menemui mereka bersama-sama.”
Tubuhku terpaku, membayangkan sosok kakek yang semakin ringkih. Gurat kesedihan di wajah nenek membuatku tidak bisa tenang. “Aku pergi sendiri saja. Mas menyusul saka nanti kalau urusan di kantor sudah selesai.”
“Yakin? Tidak mau pergi bersama mas?” galang masih tampak ragu membiarkanku pergi sendiri.
Kepalaku mengangguk, siap menanggung apapun resikonya. “Aku hanya berharap kedatanganku tidak semakin membuat kondisi kakek memburuk. Jika kakek ternyata masih marah, itu bukan masalah.”
Kecupan hangat terasa menyentuh keningku. Sorot mata laki-laki di sampingku meredup. “Mas lupa dengan keberanianmu. Apapun yang terjadi, baik atau buruk, kamu harus tetap mengabari mas. Secepatnya mas akan segera menemuimu.”
Ada secercah harapan semua perlahan akan membaik. Fokusku kini beralih pada kakek dan nenek. Menyeleseikan semua masalah di antara kami seperti dulu. Kebahagiaan yang kurasakan sekarang tidak lagi bisa membuatku terganggu dengan memikirkan siapa diriku. Keluarga dan orang-orang yang mencintaiku lebih berharga daripada laki-laki yang telah menghancurkan perasaan banyak orang. Seorang ayah yang bahkan mungkin tidak menganggap keberadaanku itu penting.
Aku pergi di antar supir yang membawa mertuaku. galang dan Om Dirga baru akan pergi setelah chek out. Kupandangi langit di luar jendela, tidak sabar ingin segera tiba di kota tempat aku di besarkan. Pikiran buruk tentang kesehatan kakek masih mencemaskanku meskipun galang meminta untuk tetap tenang. Dia sudah meminta pihak rumah sakit untuk memberikan perawatan yang terbaik untuk kakek. laki-laki yang dulu kuanggap sebagai musibah, sekarang menjadi anugerah terindah yang Tuhan Berikan.
kan.
Sekitar pukul sebelas siang, mobil yang kutumpangi tiba di sebuah rumah sakit terbesar di kota ini. kakiku segera melangkah cepat mencari kamar tempat kakek di rawat. Setelah bertanya pada beberapa suster, akhirnya aku tiba di sebuah kamar VVIP. Jantungku berdegub kencang, takut dan cemas bercampur menjadi satu. bagaimana kalau kakek ternyata masih marah?
Tubuhku berbalik, mengurungkan niatku dan menjauh dari kamar yang seharusnya kudatangi. Perasaanku masih bingung hingga akhirnya memilih pergi ke kantin untuk menenangkan diri sebentar. Mataku menangkapsesosok wanita yang sudah lama tidak kutemui. Wanita paruh baya itu tengah menikmati makanan di kantin dengan raut lelah.
“Ne…,”suaraku menghilang ketika melihat seseorang yang menghampiri nenek. Perlahan aku bersembunyi di balik tembok yang memisahkan kantin dan taman. Berbagai macam pertanyaan berputar-putar di kepalaku. Apakah dunia sesempit ini hingga nenek terlihat sangat mengenali laki-laki yang sedang berbicara dengannya.
Penasaran dengan apa yang terjadi, mataku melirik dari balik jendela. Kerutan di keningku semakin terlihat saat wajah pak Peter tampak sangat marah. Nenek hanya bisa terdiam dengan mata berkaca-kaca. Tidak ingin hanya menonton, aku segera keluar dari persembunyian.
“Kenapa ibu tega sekali membohongi saya untuk kesekian kali. Menyembunyikan keberadaannya selama bertahun-tahun bahkan megatakan dia sudah tiasa. Saya memang bukan orabf tanpa dosa tapi dia tetap putri saya, darah saya mengalir di tubuhnya!”
Langkah terhenti , memandangi kedua sosok didepanku bergantian. “Siapa yang anda maksud pak Peter? Dia itu siapa nek.”
=============
Bagian 16
Nenek terdiam sudah sejak lima belas menit sepeninggal pak Peter. Laki-laki rekan kerja suamiku itu mengatakan aku hanya salah dengar. Tidak ada yang di bohongi atau membohongi. Dia juga terkejut mengetahui aku adalah cucu salah satu kenalan keluarganya yaitu nenekku. Kami hanya bicara sebentar karena pak Peter ada urusan penting lainnya. Pertanyaanku mengenai keperluan dia menemui nenekpun tidak sempat di jawabnya.
“Bagaimana keadaanmu? apa suamimu memperlakukanmu dengan baik?” Tatapan nenek masih menyisakan sedih.
Kepalaku mengangguk dengan senyuman. Keadaan rumah tangga kami memang semakin membaik. “Kami baik-baik saja nek. Bagaimana keadaan kakek?”
“Dokter bilang bukan masalah serius. Di usia sekarang, penyakit itu bukan lagi hal aneh.”
Kedua tanganku meraih jemari nenek yang keriput. Tangan inilah yang mengajariku banyak hal. Bayangan kenakalan yang pernah aku lakukan membuatku merasa berdosa. Tidak mudah pasti bagi kakek dan nenek untuk membesarkanku yang lahir tanpa ayah. Ah selama ini aku terlalu banyak memikirkan diri sendiri dan melupakan betapa sulitnya beban yang harus di tanggung kedua orang yang kusayang ini.
“Nenek jangan bilang begitu. Ariana ingin kakek dan nenek bisa berumur panjang dan terus di beri kesehatan.”
Kedua tanganku diremas dengan sangat erat. Kepedihan itu begitu nyata di sorot matanya yang meredup. “Maafkan nenek yang tidak pandai mengerti dirimu. Tapi syukurlah kamu terlihat jauh lebih bahagia. Sekarang pulanglah dulu, datanglah lagi setelah kakekmu bangun. Nenek akan memberitaumu lagi.”
Aku menghela nafas, pertemuan terakhir dengan kakek tidak berakhir baik. “Kakek masih marah sama Ariana ya nek?”
Rambutku di usap dengan penuh sayang. Semua kekesalan yang kurasakan karena sikap nenek yang selama ini memberi banyak batasan menghilang. “Kami tidak pernah sedikitpun membencimu. Kamu adalah anugerah yang tidak ternilai. Kakekmupun merasa sedih telah mengucapkan kata-kata itu. Dia sering memikirkanmu hingga lupa dengan kesehatannya sendiri.”
Semua masalah pasti ada jalan keluarnya, aku harus bersabar tanpa membuat kekacauan baru. “Baiklah kalau begitu. Ariana pulang dulu ke villa, kalau terjadi sesuatu segera hubungi Ariana ya nek,”pintaku yang di berbalas anggukan.
Nenek mengantarku hingga pintu masuk rumah sakit. Pertanyaanku mengenai kedatangan pak Peter di jawab dengan terburu-buru. Kesedihan dan kemarahan itu bercampur menjadi satu. Mulut bisa berbohong tapi mata tidak bisa menyembunyikannya. Tapi semua hal yang membuatku penasaran terpaksa kupedam, masalahku dengan kakek jauh lebih penting.
Villa yang kutinggali terasa sepi. Rumah ini terlalu besar untuk di huni seorang diri. Aku memilih pergi ke kamar, beristirahat sambil menunggu kedatangan Galang. Kubenamkan wajahku di bantal saat tidak sengaja membayangkan apa yang kami lakukan selama di resort.
“Mas Galang dimana?” tanyaku begitu sambungan telepon tersambung.
Helaan nafas terdengar berat. “Masih di kantor sayang. Mas sepertinya tidak bisa datang cepat. Bagaimana keadaan kakek?”
Perasaan kecewa menyelimutiku, rindu yang hadir begitu menyiksa. “Oh begitu ya. Aku belum bertemu dengan kakek tapi nenek bilang kesehatannya sudah membaik. Jadi kapan kira-kira mas datang?”
“Belum bisa di pastikan, mungkin lusa kalau semua sudah beres.” Suara Galang terdengar tanpa semangat.
“Ya sudah kalau begitu. Sampai bertemu lagi.” Aku segera menutup telepon tanpa mendengarkan ucapannya yang belum selesai.
Lima belas menit berlalu dengan deringan yang terus terdengar dari ponselku. Ingatan bagaimana seringnya dulu Galang membatalkan setiap pertemuan kami masih menyisakan kekesalan. Rasa rindu ini begitu menyiksa.
Suara ketukan pintu mengalihkan perhatianku. Tubuhku malas bergerak meski hanya untuk membuka pintu. “Masuk saja mbak, nggak di kunci kok,” ucapku dengan posisi masih tertelungkup.
Pintu kamar terbuka tanpa ada balasan dari pembantuku. Ciuman tiba-tiba terasa di puncak kepalaku. “Suami pulang kok tidak disambut.”
Tubuhku sontak berbalik menghadap sumber suara. Galang tersenyum geli melihat wajahku yang terkejut dengan kedatangannya. Aku memasang raut cemberut. “Kenapa tadi bilang tidak bisa datang?”
“Salah siapa coba? kenapa tadi kamu putusin teleponnya sebelum mas selesai bicara. Di telepon lagi juga tidak di angkat-angkat,” balasnya sambil ikut berbaring di sebelahku. Sekilas aku merasa ada yang aneh dengan sikapnya.
Kupandangi pemilik wajah tampan disampingku. Diapun melakukan hal yang sama, membuat pipiku merona hanya karena tatapannya. Jemariku bermain-main di sekitar pipinya yang mulai di tumbuhi janggut meski baru di cukur. Otot perutku terasa tegang, di penuhi kebahagiaan. Suatu anugerah bisa di cintai oleh orang yang kita cintai.
Galang perlahan mendekat, nafasnya menggetarkan tubuhku. Aku mengigit bibir setelah menangkap apa yang diinginkannya. “Merindukanmu adalah hal paling menyiksa, kamu tau itu,” bisiknya dengan suaranya yang mulai serak.
Aku bergerak dalam pelukannya hangatnya. Mencium bibirnya dengan penuh sayang. Rindu yang kupendam jauh lebih besar dari yang bisa kuucapkan dengan kata-kata. “Kangen….,” ucapku lirih setelah melepas ciumanku.
“Aku tau sayang.” Galang kembali mencium bibirku.
Keadaan menjadi memanas hingga sesuatu tiba-tiba melayang melewati kami. Galang merangkul bahuku dengan gerakan tiba-tiba hingga kami berdua berguling dan jatuh dari ranjang.
“Mas Galang!” seruku tertahan meski sebenarnya tubuhku jatuh di menimpanya.
Dia tidak menjawab, rautnya tegang dan bergegas memindahkanku dari tubuhnya. Mataku memperhatikannya yang tampak panik saat meraih alat berbentuk raket untuk mengusir nyamuk di dekat rak buku.
Makhluk yang berada di atas televisi menyadarkanku akan sikap aneh Galang. Aku berusaha untuk tidak tertawa melihat laki-laki bertubuh tegap itu tampak waspada. Pandangannya tidak teralihkan dengan menggenggam erat raket di tangannya.
Dengan sigap dan sekali lemparan sandalku, kecoa yang bisa terbang itu terjatuh di lantai. “Istriku memang hebat. Coba kamu cek dulu, kecoanya masih hidup atau belum?” Entah kenapa pujiannya tidak membuatku bangga.
Aku berjalan lalu meraih kaki kecoa tadi dengan ujung jari. Meskipun tidak takut tetap saja binatang ini membuatku geli jika menyentuhnya langsung. “Mati sepertinya,” ucapku sambil memperhatikan kecoa itu.
Kecoa yang masih kupegang tiba-tiba bergerak. Tanpa sadar aku melemparnya ke arah Galang yang berdiri tidak jauh dariku karena kaget. “Ariana!” Teriak Galang dengan wajah pucat.
Semua pekerja di villa ini sibuk membersihkan rumah tanpa kecuali mencari sisa keluarga kecoa tadi yang mungkin masih berada di sekitar rumah. Galang sendiri memilih berada di teras depan. Dia masih tampak kesal karena kecoa yang terlempar tadi mendarat tepat di wajahnya.
Aku memeluknya dari belakang dengan tawa tertahan. “Jangan marah lagi ya. Akukan tadi tidak sengaja.”
Galang masih terdiam, memberiku delikan tajam. Kakiku berjinjit agar bisa sejajar dengan telinganya. “Malam nanti kita main ya.”
Dia tetap tidak bergeming. Rangkulan tangan aku lepas. “Ya sudah main sama yang lain saja deh.”
Laki-laki itu berbalik sambil melotot. Pipiku di cubitnya dengan gemas. “Awas saja kalau berani. Lihat saja mas tidak akan membiarkanmu tidur cepat nanti malam.”
“Sebelum itu, aku minta mas jenguk kakek ya. Nenek bilang akan mengabari kalau kakek sudah bangun tapi sampai sekarang belum ada kabar. Mau ya?” Mataku mengerjap, menatap dengan bibir merengut manja.
Galang tertawa kecil, kedua tangannya menekan pipiku hingga menggembung. Di kecupnya bibirku beberapa detik. “Anything you want babe.”
Getaran terasa di tubuhku ketika pandangan kami bertemu. Kebahagiaan membuncah dalam dada, memberiku kehangatan kata yang bernama cinta. Kusandarkan kepalaku di dadanya, menghirup aroma tubuh laki-laki yang tengah memelukku.
Dapur menjadi arena bermain baruku sepeninggal Galang yang pergi menjenguk kakek. Tidak banyak yang bisa kulakukan selama ini ayah terlalu memanjakanku. Aku memperhatikan dan mencatat apa yang di ajarkan pekerja rumah yang sibuk memasak. Sesuatu yang awalnya enggan kulakukan sekarang terasa ringan.
Galang pulang menjelang makan malam. Dia terlihat lelah, sejak datang suamiku memang belum sempat beristirahat. “Kamu masak ya? Baunya enak.” Hidungnya mengendus rambutku.
Bibirku mencibir lalu menyandarkan kepalaku di bahunya sambil terus berjalan. “Tadi belajar masak.”
“Mas senang tapi kamu tidak perlu memaksa diri jika itu membebanimu. Lakukan semua dengan hati termasuk hal yang berkaitan dengan suamimu.” Galang mempererat rangkulan di pinggangku.
Kami melanjutkan pembicaraan di meja makan. Nenek berpesan agar aku datang beberapa hari lagi. Memberi waktu pada wanita yang selama ini merawatku membujuk kakek agar mau melepas egonya.
“Jangan sedih, mas yakin semua akan kembali seperti semula. Ada darah yang mengikat kalian berdua. Kenangan yang di wariskan ibumu dalam wajahmu. Mas yakin kakekmu menyadari itu.” Hibur Galang setelah menyeleseikan makan malamnya.
Kepalaku di angkatnya menghadap wajahnya. Matanya terpejam sesaat dan kembali terbuka dengan pandangan meredup. Tatapan yang membuatku hilang kendali dan menghambur dalam pelukannya.
Galang bangkit dengan tubuhku dalam pangkuannya. Di ciumnya pipiku ketika wajahku berlindung di lekukan lehernya. Dia membawaku menyusuri koridor rumah yang sepi menuju kamar kami.
“Mas sayang padamu jadi biarkan malam ini mas membuktikan semuanya, berikan mas kesempatan memberikanmu kebahagiaan yang tidak akan pernah kamu bisa lupakan,” bisik Galang menyentuhkan hidung kami berdua.
Rona merah mewarnai pipiku. Perlakuannya membuatku salah tingkah. “Tapi lakukan dengan lembut,” ucapku malu-malu. Galang mengedipkan mata dan membuka pintu kamar dengan hati-hati.
Semenjak hari itu, Galang menjadi lebih protektif. Kemanapun aku pergi harus dengan sepengetahuannya. Dia memilih menyeleseikan pekerjaan dari rumah dan menemaniku hingga masalahku dengan kakek selesai.
Beberapa hari menunggu, nenek akhirnya memberi kabar baik. Galang hanya tersenyum kecil melihatku yang tidak sabar untuk segera pergi ke rumah sakit. Menunggu memang bukan sesuatu yang kusuka meski akhirnya semua jalan kembali terbuka.
Kami berdua terdiam sepanjang perjalanan. Galang memilih menyibukan diri dengan laptop kesayangannya sementara tangan kirinya melingkar di bahuku. Aku sendiri bergelut dengan kebingungan merangkai kata, mencari kalimat yang sekiranya tidak menyinggung perasaan kakek nanti. Kedua tanganku meremas jemari suamiku yang menggantung di dadaku. Galang sepertinya cukup mengerti, dia memberikan ciuman di pipi untuk meredakan kecemasanku.
“Ayo sayang, semua akan baik-baik saja,” bujuknya melihat langkahku terhenti di dekat mobilnya saat tiba di rumah sakit.
“Bagaimana kalau kakek masih marah? Lalu kesehatannya semakin menurun.” Pikiran buruk mulai menyerangku.
Galang menarik tanganku, memaksaku berjalan menjajarinya. “Semua masalah tidak akan selesai jika kamu melarikan diri. Mas pernah mengalaminya dan itu hanya semakin memperburuk keadaan. Jangan khawatir, mas akan terus mendukungmu.”
Kata-kata itu membungkam mulutku. Semua keraguan dan ketakutan perlahan surut. Kakiku melangkah lebih tenang, keberadaan Galang memang memberiku kekuatan lebih. Setidaknya aku tidak merasa harus menanggung beban ini sendiri lagi.
Semua kata yang ada di kepala hilang berganti haru ketika akhirnya bertemu dengan kakek. Laki-laki yang menjadi pengganti ayahku memelukku dengan sangat erat. “Maafkan kata-kata kakek. Tidak seharusnya kakek mengatakan hal yang menyakitkanmu. Maafkan kakek sayang.”
Kuseka butiran air mata yang mengalir di pipi. “Tidak ada yang perlu di maafkan. Ariana justru harus berterima kasih atas semua pengorbanan yang sudah kakek dan nenek beri. Maaf kalau selama ini aku sudah egois dan merepotkan.”
Kakek menepuk punggungku dengan lembut. “Tidak sayang, kamu memang berhak mengetahui siapa dirimu. Kakek yang terlalu egois karena takut kehilangan dirimu.”
Galang memperhatikan kami dengan serius di sofa panjang. Sikapnya sedikit gelisah saat tanpa sengaja pandangan kami bertemu.
“Benar apa yang kakekmu bilang. Itu sebabnya, nenek pikir sudah waktunya kamu untuk tau yang sebenarnya tentang asal usulmu.” Nenek sudah berada di sampingku dengan senyum lirih.
Kupandangi kakek dan nenek bergantian dengan raut bingung. Pikiranku masih belum bisa mencerna apa yang di katakan keduanya. “Apa maksud nenek? Hal apalagi yang belum aku tau.”
Nenek membalikan tubuhku menghadap pintu masuk. “Ceritanya panjang untuk selesai hanya dalam satu hari. Tapi intinya ayahmu masih hidup, dia menemui kami untuk bertemu denganmu.”
“Tidak perlu memaksakan hal ini nek. Biarkan Ariana menerimanya dengan perlahan.” Nada bicara Galang terdengar tidak menyukai arah pembicaraan kami. Dia bangkit lalu menghampiriku yang semakin bingung.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka. Seorang laki-laki yang cukup kukenal muncul. Galang meraih jemariku dan meremasnya. Nenek dan kakek terdiam, memandangiku dengan perasaan bersalah.
“Itu ayah kandungmu sayang.”
============
Bagian 17
Galang berulang kali mengusap punggungku, menenangkan emosi yang tumpah menjadi tangis. Darah memang lebih kuat dari apapun, harusnya aku menyadari hal itu saat merasa ada sesuatu yang menarik perhatianku ketika pertama kali bertemu ayah kandungku.
“Sejak kapan mas Galang tau tentang hal ini?” desahku lirih. Tangisku masih menyisakan perih.
“Belum terlalu lama. Nenekmu menceritakan hal yang sebenarnya saat mas datang untuk menengok.” Galang menarik wajahku ke arahnya. Jemarinya mengusap butiran bening yang masih tersisa di sudut mataku.
Pelukanku di pinggangnya melonggar. Terlalu banyak kebohongan membuatku tidak yakin harus mempercayai siapa. Hidupku sudah cukup sulit tanpa harus di bebani dengan kenyataan yang kini berada di hadapanku.
“Dengar Ariana. Mas juga memiliki masa sulit, begitu juga dengan semua orang di dunia ini. Tidak semua hal baik berawal dari sesuatu yang mudah.”
Aku berdecak, kepalaku terlalu pusing untuk mendengar sebuah nasihat. Kudorong tubuhnya menjauh, mengalihkan pandangan ke arah taman yang serba hijau. “Ceramahnya lain kali saja.”
Galang membalas sikapku dengan senyuman. Dia kembali mendekat, tidak peduli dengan aura negatif yang kuperlihatkan. Tubuhnya bersandar kebelakang kursi kayu dengan kedua tangan melipat di dada.
“Menyalahkan masa lalu sama saja dengan tidak menerima takdir Tuhan. Manusia lebih banyak mempertanyakan apa yang menjadi rasa sakitnya tanpa memperdulikan pelajaran yang ada di dalamnya. Tanpa kita sadari sebenarnya Tuhan menyayangi kita dengan ujiannya. Di saat keadaan memaksa kita melepaskan sesuatu paling berharga tapi sebenarnya Tuhan sudah menyiapkan penggantinya yang jauh lebih baik. Hanya saja ego membuat kita merasa paling benar sendiri.”
Perasaanku seperti tertampar mendengar ucapan Galang. Tidak kupungkiri sering kali marah dengan semua yang terjadi pada hidupku. Iri dan benci membayangi duniaku ketika mendapati kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Galang mengusap rambutku dengan sayang. “Dulu mas juga bersikap defensif sepertimu. Menyalahkan keadaan di saat ibu dan Quinna pergi. Kenapa harus begini, kenapa jadi seperti itu dan kenapa semua harus terjadi, pertanyaan itu tidak pernah lepas dari kepala. Semua berubah ketika waktu mempertemukan kita. Awalnya mas merasa kita bertemu di saat yang tidak tepat tapi sekarang mas sadar, kamu adalah anugerah terindah hanya saja saat itu mas terlalu sibuk menyalahkan orang lain untuk bisa melihatnya.”
Mataku semakin panas, merasa malu pada Sang Pencipta. Di luar sana masih banyak yang lebih susah. Keangkuhan membuatku merasa seperti orang yang paling layak di kasihani. Nenek dan kakek juga sedih kehilangan putrinya.Sepanjang hidupnya Om Dirga pasti terbebani dengan hubungan yang semakin memburuk dengan putranya sepeninggal istri yang di cintainya. Galangpun harus bergelung dengan luka karena masa lalu kekasihnya. Semua orang mempunyai masalah bukan hanya aku.
Kedua tanganku menutup mata, terisak dalam tangis yang kembali pecah. Galang meraih tubuhku yang bergetar hebat dalam pelukannya. “Menangislah, tumpahkan semua perasaanmu. Anggap saja hari ini kamu terjebak dalam derasnya hujan badai tapi ingatlah pelangi yang muncul saat hujan mereda. Sesuatu yang indah dan layak untuk di perjuangkan setelah menghadapi ujian berat. Masalah akan terus datang hingga kita menutup usia tapi kali ini kita akan menghadapinya bersama.”
“Te..terima..ka..kasih un..untuk semuanya,” balasku tergagap. Tidak ada cukup kata yang mampu melukiskan perasaanku saat ini.
Kecupan hangat terasa di dahiku. “Berterima kasihlah pada Tuhan yang sudah mempertemukan kita pada takdir. Mas tidak lebih dari seseorang yang beruntung untuk menjagamu.”
Aku tidak bisa menahan senyum dengan tangis yang mulai reda. “Sejak kapan mas jadi puitis seperti ini?”
Galang ikut tersenyum, tatapannya mencairkan semua benteng pertahanan yang sengaja kubangun. “Terdengar seperti itu ya? Saat kamu melakukan tindakan bodoh itu, itu momen paling menakutkan sepanjang mas hidup. Ketika kesombongan mas justru mendorong dirimu berdiri di tepi jurang keputusasaan.” Kami berdua terdiam, kenangan itu bukan hal yang menyenangkan untuk diingat kembali.
“Sekarang kita temui keluargamu. Kasihan mereka khawatir melihatmu pergi begitu saja,” ajakan Galang tidak mungkin ku tolak. Kakek dan nenek pasti sedih melihat keadaanku.
Sepanjang jalan Galang mencoba mencari topik pembicaraan yang terdengar lucu meski lebih sering berakhir sebaliknya. Dia melirik tajam melihatku memandanginya dengan tatapan aneh setiap kali dia memulai cerita baru. Sikapnya justru yang membuatku bisa tertawa.
Kakiku berhenti melangkah ketika melihat seorang laki-laki paruh baya bersandar di samping pintu kamar kakek. Tatapannya tampak hampa, menyiratkan kesedihan yang begitu dalam. Galang meremas jemariku. “Cobalah untuk berdamai dengan hatimu. Sebesar apapun kemarahanmu yang kamu rasakan, ingatlah bahwa laki-laki itu ayahmu. Berikan dia kesempatan untuk menjelaskan situasi yang di alaminya.”
Aku menelan ludah, tidak mudah menghadapi kenyataan jika sosok yang selama ini kuanggap tiada kini berdiri di hadapanku dalam keadaan sehat. Kepalaku mengangguk pelan, memberi isyarat agar Galang tidak perlu mengkhawatirkanku. Dia mencium keningku sebelum melangkah menuju kamar kakek.
Pak Peter, laki-laki yang kupikir adalah rekan kerja suamiku menoleh ke arah kami. Dia mengurungkan langkahnya yang ingin menghampiriku. Kudekati laki-laki itu dengan seribu pertanyaan di kepala. Kedua tanganku mengepal, membayangkan pedihnya masa kecilku.
“Bisakah kita bicara di tempat lain pak?” Sapaku dengan canggung.
“Ah iya, baiklah. Kamu mau kemana?” Binar bahagia itu terpancar dari matanya.
“Di kantin saja, saya tidak bisa pergi jauh dari rumah sakit.” Sikapku masih terkesan formal.
Pak Peter yang tidak lain adalah ayahku menyanggupi. Kami pergi menuju kantin yang jaraknya tidak terlalu jauh dari ruangan tempat kakek di rawat. Kemarahan yang sempat kurasakan mulai mencair. Laki-laki ini berusaha keras untuk memulai pembicaraan meski jawabanku selalu singkat.
Aku menarik nafas danmembuangnya perlahan ketika Pak Peter memintaku menunggu sementara dia pergi untuk memesan minuman untuk kami. Perasaanku seperti benang wol yang saling bergulung, sedih, marah dan bahagia tercampur jadi satu. Tidak pernah terbayangkan akan menemui hari seperti ini.
“Minumlah.” Satu botol minuman dingin di sodorkan padaku.
“Terima kasih,” balasku pelan. Pak Peter tersenyum melihat isi botol minumanku tinggal setengah hanya dalam waktu singkat. Menangis membuat tenggorokanku kering.
“Ini, minumlah.” Aku terdiam saat dia menyodorkan minumannya ke arahku.
“Tidak perlu, saya bisa membelinya sendiri. Bapak minum saja.”
Kepalanya menggeleng dengan senyuman di wajahnya. Ketampanannya masih terlihat meski gurat usia mulai muncul. “Tidak apa, saya tidak haus. Lagi pula ini hanya hal kecil yang bisa saya lakukan sebagai….ayah.”
Kata itu menyentak dadaku. Kata yang sejak kecil begitu kuidam-idamkan untuk kumiliki. Om Dirga sudah kuanggap sebagai ayah sendiri tapi laki-laki ini memang terikat darah denganku. Mataku terpejam, mencoba berpikir dewasa dan menggunakan akal sehat bukan emosi.
“Ah maaf seharusnya saya….”
“Tidak apa. Kenyataannya kita memang ayah dan anak.” Kami berdua terdiam, suasana memang menjadi semakin canggung.
Kutatap laki-laki yang tengah menatap kosong ke arah meja. “Bisakah bapak jelaskan apa yang sebenarnya terjadi dengan ibu dan alasan kita tidak bisa berkumpul seperti keluarga pada umumnya?” Sorot mata itu meredup. Menatapku dengan perasaan bersalah.
Kedua orang tuaku terlibat asmara dalam satu kantor meskipun usia ibu terpaut jauh. Keduanya menikah secara siri Hubungan keduanya terganjal restu ibu dari ayah, saat itu ayah memang akan di jodohkan dengan salah satu kerabatnya. Sejak kabar itu muncul, ibu tiba-tiba memutuskan hubungan dengan ayah sekaligus resign dari kantor yang di pimpin ayah. Komunikasi keduanya terputus karena ibu menutup diri dari ayah.
Rencana pertunanganpun gagal dan ayah memilih hidup sendiri meskipun keluarganya terus mendesaknya untuk menikah. Beberapa bulan yang lalu, tanpa sengaja ayahku bertemu dengan salah satu teman dekat ibu di yang sudah keluar. Dari dialah ayah tau kalau ibu ternyata hamil saat bercerai.
Ayah mencari informasi hingga akhirnya menemukan keberadaan kakek dan nenek. Dia menemui nenek untuk meminta penjelasan. Nenek dan Kakek memiliki alasan sendiri untuk menghindar dan menutupi hal ini dari ayah.
“Alasan? apa alasannya?” Tanyaku penasaran. Untuk bisa menerima semua ini, aku harus objektif dalam memandang permasalahan.
Ayahku terdiam seolah apa yang akan dikatakannya cukup berat. “Nenekmu dari ayah meminta ibumu untuk mengugurkan kandungannya tanpa sepengetahuan ayah. Untuk melindungi kalian berdua, kakek dan nenekmu memilih tinggal di kota kecil ini.”
Kepalaku semakin pusing, penjelasan ayah kandungku sama sekali tidak kumengerti. Hidupku ternyata di penuhi drama. “Kalian berdua? Apa wanita yang aku lihat itu sodaraku?”
“Sodara kembar tepatnya. Ayah tidak berhak menjelaskannya padamu tapi nenek dan kakekmu punya alasan sendiri untuk menyembunyikannya dari dunia luar termasuk dirimu.”
Kupijit keningku, mengingat hal-hal yang mungkin terlewat. Sekarang aku mengerti fungsi ruangan bawah tanah yang terhubung dari gudang. Sepertinya itu menjadi tempat untuk menyembunyikan keberadaan sodara kembarku. Tapi bagaimana mungkin selama ini aku tidak mengetahuinya.
“Ayah mencoba mengerti penjelasan nenekmu tapi demi kebaikan sodaramu, ayah mengambilnya untuk agar mendapat perawatan yang lebih layak,” lanjut laki-laki berperawakan tinggi yang memperhatikanku dengan serius.
Mataku terpejam sesaat, semua kejutan ini benar-benar tidak terduga. Kemunculan ayah kandungku dan kini ternyata selama ini aku mempunyai sodara kembar.
“Hidupmu pasti berat. Ayah tidak akan memaksamu untuk menerima semua ini. Tapi setidaknya biarkan ayah bisa melihatmu meski kamu tidak ingin bicara. Maaf memang tidak akan menghapus kemarahanmu, ayah mengerti itu. Bagaimanapun ayah harus tetap minta maaf atas semua penderitaan yang kamu alami.” Nadanya terdengar tulus.
Aku menghela nafas pendek. Menyingkirkan emosi bukanlah yang hal mudah untuk dilakukan. Terlebih kenangan pahit selama masa kecil tidak bisa begitu saja terlupakan. Meskipun begitu hati kecilku tidak bisa membohongi diri, ada perasaan bahagia bisa bertemu dengan ayah kandungku. Hal yang kuanggap mustahil selama ini.
Kami akhirnya kembali ke ruangan kakek setelah menghabiskan beberapa menit dengan saling diam. Memaafkan dan melupakan tidak selalu bisa berjalan bersama. Setelah sekian lama berjuang melewati cemoohan dan akhirnya menemukan kebenaran tentang jati diriku rasanya masih menyakitkan.
Ayah pamit pada nenek dan kakek. Sikap ketiganya sepertinya sudah saling memaafkan. Galang duduk di sofa, tersenyum puas melihat keadaanku yang bisa mengendalikan emosi.
“Tunggu..,” panggilku pada laki-laki yang baru saja keluar dari pintu kamar.
Ayah berbalik, menatapku dengan sorot lembut. Pandangan yang tidak pernah terpikir akan mendapatkannya kembali. “Ada apa Ariana? Kamu tidak perlu merasa terbebani. Ayah akan menunggu hingga kamu bisa menerima keadaan ini.”
“Semua ini terlalu tiba-tiba dan melupakan kenangan tidak menyenangkan bukan hal yang mudah. Berikan aku waktu untuk menerima keadaan yang baru tetapi berjanjilah kali ini kita akan bertemu lagi..a..ayah,” lidahku masih terasa kaku. Jemariku saling meremas menutupi kegugupan.
Ayah berjalan mendekat, mengusap rambutku tanpa ragu. “Tentu saja. Bertemu denganmu adalah hal terbaik yang pernah ada. Ayah akan menemuimu lagi setelah kamu siap.”
Setelah ayah pergi, aku kembali ke kamar. Kakek dan nenek meminta maaf karena menyembunyikan hal ini dariku termasuk keberadaan sodara kembarku. Kebakaran yang terjadi menyisakan luka bakar di pipi kanan, dia juga mengalami keterbelakangan mental sejak kecil. Pikirannya masih seperti anak kecil meski tubuhnya tumbuh normal. Nenek sengaja menjauhkannya dari dunia luar karena khawatir.
Galang mengakhiri kunjungan kami setelah melihatku diam saja. Penjelasan nenek memang mengejutkan tapi untuk marah pada keduanya aku tidak sampai hati. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, gumanku menghibur diri sendiri.
Sepanjang jalan pulang Galang mengajak bicara tentang banyak hal. Kami sempat mampir ke sebuah restoran untuk mengisi perut. Tidak sekalipun dia membahas soal yang berkaitan dengan masa lalu. Aku mencoba tersenyum, bersikap normal untuk menghargai usahanya. Bagaimanapun sosok Galang menjadi penyanggaku di saat jatuh.
Suamiku tertidur lebih dulu setelah kami tiba di villa. Sengaja aku tidak membangunkannya yang tampak sangat kelelahan. Perlahan kututupi tubuhnya dengan selimut. Mengusap lembut rambutnya dan mencium singkat kening juga bibirnya. “Love you,” bisikku sangat pelan.
Mataku sendiri belum bisa terpejam dan memilih pergi menuju ruang tengah. Sepi dan sunyi tapi mungkin keadaan seperti ini yang kubutuhkan sekarang. Di pertengah film yang sedang kutonton, salah satu pembantuku dan seorang laki-laki. Deo menyusulnya dengan langkah tergesa-gesa.
“Mana Galang! Panggilkan dia.” Teriakan Ardi membuatku bingung. Aku memberi isyarat pada pembantuku untuk pergi.
Deo menahan tubuh Ardi yang akan mendekatiku. “Pulang Ar. Berhenti membuat kekacauan.”
Ardi mengacak-acak rambutnya dengan frustasi. “Kekacauan? Justru gue sedang meluruskan semuanya. Dia tidak bisa seenaknya menghancurkan usaha keluargaku!” Dia mendorong tubuh Deo hingga tersungkur.
“Kamu mau apa sih Ar? Soal perselingkuhanmu dengan Quinna?” Aku berusaha melepas genggaman Ardi.
Laki-laki yang tengah di liputi emosi itu menatapku tajam. “Jadi selama ini kamu sudah tau rupanya. Apa jangan-jangan kamu yang memperalatnya untuk membalas dendam,” ucapnya mempererat genggamannya hingga aku meringis kesakitan.
“Lepaskan dia. Gue yang lo cari bukan dia.” Suara berat dan tenang terdengar dari seseorang yang berjalan menuju kami.

Bagian 18
Tanganku saling meremas, cemas memikirkan cara Galang menyikapi kebenaran yang selama ini ditutupi sahabat dekatnya. Laki-laki yang belum lama kunikahi itu memang tampak tenang, bahkan tidak ada gurat emosi di wajahnya. Ah tapi siapa yang bisa menebak hati seseorang.
Menunggu tidak pernah jadi bagian yang kusukai. Sisi hatiku memintaku melanggar permintaan Galang untuk tetap menunggu di kamar. Tidak bisa kupungkiri, kepalaku sekarang di penuhi pikiran buruk tentang apa yang sedang terjadi. Satu hal yang terlupa, bagaimana reaksinya saat tau kalau akupun mengetahui kabar perselingkuhan Ardi dan Quinna.
Waktu terasa berjalan begitu lambat. Detik demi detik begitu menyiksa hingga membuat kesal sendiri. Kuhempaskan tubuhku ke ranjang, memejamkan mata untuk menghilangkan kebosanan.
“Kamu tidur?” Suara Galang yang terdengar bersamaan dengan pintu yang terbuka membuatku setengah melompat dari ranjang.
Galang tertawa geli, tangannya mencubit pipiku dengan gemas. Mataku terus memperhatikannya, menilai setiap reaksi yang di tunjukan laki-laki ini. Dia berjalan tenang menuju meja kerjanya. “Apa yang ingin kamu tanyakan?” Tepukan di pahanya jadi isyarat dimana aku harus duduk.
Aku menghampirinya dengan kikuk. Keintiman yang terjadi beberapa waktu lalu tidak mengubah sikapku yang masih malu-malu. “Jangan mengejek, mas Galang pasti sudah tau apa isi kepalaku,” gerutuku pura-pura kesal.
Senyumanya masih tersungging, pipiku bahkan menjadi sasarannya saat tubuhku sudah duduk manis di pangkuannya. “Semua sudah selesai. Kamu tidak perlu mencemaskan apapun.”
Kedua tanganku melingkar di lehernya untuk mengusir rasa gugup. Mengalihkan pandangan ke jendela. “Terlalu singkat.”
Galang menarik tubuhku semakin mendekat, tidak memberi jarak hingga dada kami saling bersentuhan. “Ardi sudah mengakui semuanya. Mas tidak bisa berbuat apa-apa selain memaafkannya. Semua yang sudah terjadi adalah takdir. Kemarahan tidak bisa mengubah masa lalu. Manusia tempatnya salah tapi biarlah Tuhan yang membalas semua perbuatan mereka.”
Jemariku memainkan rambut Galang di balik lehernya. Laki-laki ini terlihat lebih dewasa dari sebelumnya. “Lalu apa mas marah padaku?”
“Marah? Kenapa? Karena kamu mengetahui apa yang di lakukan Ardi pada mas,” tebaknya yang kubalas anggukan ragu.
Galang menghela nafas lalu mencium keningku. “Kamu pasti punya alasan sendiri untuk tidak mengatakannya. Terlepas baik atau buruk, saat ini hal itu tidak lagi menjadi sesuatu yang harus di permasalahkan. Sekarang mas mempunyai keluarga sendiri dan itu lebih penting daripada meributkan hal yang sudah berlalu.”
Aku tidak bisa menyembunyikan senyumku. Dulu Galang mungkin akan bersikap sebaliknya, menomorsatukan ego dan kekuatan fisik. Kusandarkan kepalaku di lehernya, menghirup sisa aroma parfum favoritnya. “Aku sayang padamu,” ucapku dengan mempererat rangkulan di lehernya.
“Tentu saja harus, kamulah duniaku.”
Kami berdua tertawa geli. Permasalah yang datang tidak selalu berdampak buruk. Hubungan kami justru semakin erat di saat badai tidak berhenti menerpa. Perasaanku sedikit lega, tidak ada yang perlu kukhawatirkan dengan sikap Galang.
Beberapa hari setelah kejadian itu, Deo dan Putri datang ke villa. Keduanya cukup takjub melihat sikap Galang yang lebih bijak. Deo sempat mengatakan kalau suamiku tidak membalas pukulan yang sempat di arahkan Ardi. Sebenarnya pada awalnya Ardi tidak berniat menghancurkan hubungan Galang dan Quinna. Seiring berjalannya waktu, kecemburuan dengan semua keberhasilan yang di raih sahabatnya menimbulkan rasa iri. Rencananya semakin sempurna saat Quinna berpaling padanya karena bosan dengan Galang.
Dengan tangan terbuka, tanpa dendam Galang memaafkan semua perbuatan sahabatnya. Hal ini membuat Ardi malu sendiri dan pergi tanpa pamit. Deo dan Putri heran melihat perubahan sikap Galang, laki-laki yang selama ini lebih mengutamakan otot daripada otak.

bersambung ke bagian 19

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: