Perjuangan sang bunga matahari 2

Putri Ting Ting dan pangeran Tahu part 21
Thai Yang mengetuk pintu rumah Xio Yu. Dia menunggu dengan tidak sabar. Beberapa jam yang lalu dia telah berbicara dengan Ta Niu. Dia memerintahkan Ta Niu untuk mengurus semua persiapan yang telah dia rencanakan. Dan ada satu hal lagi yang penting untuk dilakukannya. Satu tokoh utama yang diperlukan untuk menentukan keberhasilan rencanya.
Pintu besar itu terbuka dan pelayan segera mempersilahkan masuk ketika Thai Yang menyebutkan nama dan jabatannya. Dia dibawa menuju sebuah ruangan besar dengan nuansa hijau. Gerbang Hijau, itu adalah nama bagian timur dari rumah ini.
Xio Yu menatap Thai Yang dengan tidak percaya. Apa yang membuat musuhnya datang ke rumahnya. Apakah dia ingin mengadu pedang dengannya. Jangan mengira dia akan mundur. Xio Yu yakin dia pasti bisa mengalahkan Thai Yang.
“Xio Yu, kau harus membantuku,” ucap Thai Yang tanpa basa basi.
“Heh! Membantumu? Jangan bermimpi,” ucap Xio Yu ketus.
“Apakah kau sudah mendengar berita tentang Raja yang ingin mengambil selir ke seratus?” tanya Thai Yang tanpa memperdulikan tatapan mencemooh Xio Yu.
“Langsung ke pokok permasalahan. Aku tidak pandai bermain menebak maksud,” kembali Xio Yu berkata dengan dingin.
Mei Li yang penasaran setelah mendengar para pelayan mengomel karena subuh hari sudah ada tamu yang datang berkunjung, menyelinap mengikuti Xio Yu dengan perlahan. Dia berusaha bersembunyi dan mencari tempat yang pas untuk menguping dan mengintip.
Telinga dan matanya tidak dapat percaya. Di hadapan Xio Yu adalah Thai Yang. Dan Thai Yang meminta bantuan Xio Yu. Ada masalah apa? Ataukah Xio Yu telah melancarkan serangan balas dendamnya?
“Sang Raja menginginkan Ting Ting sebagai selir,” ucap Thai Yang yang disambut dengan tinju dari Xio Yu.
“Jadi kau memberikan Ting Ting kepada Raja yang senang mengoleksi selir itu?” Thai Yang tidak berusaha membalas. Dia menahan tangan Xio Yu sebelum pukulan ke-dua mendarat di wajahnya.
“Aku ingin kau membantuku, bawa dia pergi dari ibu kota. Pergi ke daerah yang terpencil, menyamarlah. Aku telah mempersiapkan kapal dan segala kebutuhan kalian beserta awak kepercayaanku,” ucap Thai Yang.
“Aku?” Xio Yu tidak percaya apa yang dikatakan oleh Thai Yang.
“Mengapa tidak kau saja yang membawanya pergi?” teriak Mei Li. Kedua pria itu menatap Mei Li dengan tatapan ‘Jangan ikut campur’
“Kau menguping!” ucap Xio Yu kesal.
“Aku masih memiliki telinga,” sahut Mei Li.
“Bukankah kuperintahkan kamu tidak boleh keluar dari gerbang biru?” Xio Yu semakin kesal.
“Mengapa tidak kamu saja yang pergi bersamanya Thai Ke?” tanya Mei Li tanpa mempedulikan Xio Yu, suaminya.
“Karena aku harus mengulur waktu hingga kapal yang kalian tumpangi cukup jauh dan aman,” ucap Thai Yang.
“Kaliian? Aku juga termasuk?” tanya Mei Li.
“Tentu saja Xio Yu harus membawa dirimu. Kamu adalah istrinya yang sah. Aku mohon tolonglah Ting Ting,” Thai Yang menundukkan kepala memohon kepada Xio Yu. Xio Yu berdiri terdiam.
Dia tidak menyangka akan datang hari seperti ini. Sudah lama dia mengingkan Ting Ting kembali ke sisinya, tapi bagaimana dengan Mei Li? “Xio Yu, bantulah mereka. Lupakan dendammu sementara. Bukankah masih ada tersisa cinta yang begitu dalam untuk Ting Ce,” Mei Li menarik tangan suaminya. Xio Yu menahan kepalan tangannya. Dia mencoba menelaah situasi.
“Kita harus bergerak cepat. Esok siang rombongan pelamar akan menuju ke rumahku,” ucap Thai Yang dengan cemas.
Xio Yu kembali masuk ke dalam dunianya sendiri. Dia berpikir dan berpikir. “Apakah Ting Ting menyetujui rencana ini? Maksudku, apakah dia ingin menjadi selir?” tanya Xio Yu.
“Tidak, dia menolak menjadi selir,” sahut Thai Yang.
“Kau merelakan dirimu kehilangan Ting Ting? Melepasnya untukku?” tanya Xio Yu bimbang, mengapa ada perasaan bimbang saat dia menatap mata sendu Mei Li?
“Sejak awal aku hanya pengacau dalam hubungan cinta kalian. Dia lebih baik bersamamu,” sahut Thai Yang sedih.
“Baiklah, demi Ting Ting,” Mei Li tersenyum lega, begitu pula Thai Yang saat Xio Yu menyetujui rencana mereka.
“Maaf, aku telah membuatmu menjadi buronan nantinya,” Thai Yang menepuk pundak Xio Yu.
“Aku tidak peduli. Sejak dulu, aku tidak ingin menjadi pejabat. Karena Ting Ting lah aku melakukan semua ini,” ucap Xio Yu.
=====
“Aku tidak akan pergi ke mana pun!” teriakan Ting Ting diredam dengan tangan Thai Yang. Thai yang memeluk Ting Ting dengan kerinduan yang sangat mendalam. Cintanya telah mencelakakan istrinya.
“Aku tidak ingin kamu menjadi selir bila bukan kemauanmu sendiri,” ucap Thai Yang.
“Aku hanya ingin kamu mendapatkan cintamu kembali,” Thai Yang menarik istirnya. Mengelus rambut dan pipi Ting Ting.
“Aku harap kamu dan Xio Yu serta Mei Li dapat hidup bahagia dan damai. Pergilah ke bagian selatan desa Hun Nan, dari sana masuklah ke perbatasan. Di sana terdapat perkampungan pengelana padang, bergabunglah dengan mereka. Suku pengelana padang, suku yang baik hati dan membenci Raja Qin. Aku yakin kalian pasti bisa melalui semua ini. Ingat semua ucapanku ini, kalian harus,” Ting Ting memberikan sebuah kecupan ringan di bibir suaminya, menghentikan semua penjelasan Thai yang.
Thai Yang merasa pertahanannya jebol. Dia menarik kepala Ting Ting mendekat, mendaratkan ciuman-ciuman keras dan menuntut di bibir istrinya. Sesekali Thai Yang menunggu Ting Ting untuk mendorongnya pergi. Menampar atau mengusirnya, tapi mereka terlalu hanyut dalam pikiran masing-masing.
Mei Li yang hendak memberitahukan bahwa kapal telah siap berangkat menatap mereka dari celah pintu kamar. Mei Li merasa cemburu, sedih dan begitu menderita. Ternyata Thai Yang dan Ting Ting telah memiliki ikatan yang cukup dalam. Dan bukankah sebuah kejahatan memaksakan kehendak dan mengambil cinta yang baru tumbuh itu dari mereka.
Saat Mei Li membalikkan badan, dia melihat Xio Yu menatap Ting Ting dengan perasaan tidak percaya. Mei Li menarik tangan Xio Yu dan membawanya pergi ke ruangan lain. “Beri mereka sedikit waktu untuk berpamitan,” ucap Mei Li.
Mei Li menatap suaminya, suami yang dijebaknya dalam sebuah ikatan pernikahan. Suami yang tidak akan pernah mencintainya seperti cinta Thai Yang kepada Ting Ting. “Tegakah dirimu memisahkan mereka? Thai Yang harus ikut dengan kalian,” ucap Mei Li.
Xio Yu menatap istrinya, pandangannya terasa pedih. “Dia telah melupakan diriku dan menyerahkan dirinya kepada Thai Yang,”
“Menyayangi suaminya adalah hal yang pantas dan itu bukan pengkhianatan terhadap dirimu,” sahut Mei Li.
“Apakah kau juga sama?” tanya Xio Yu.
Mei Li diam sejenak, “bagaimana menurut denganmu?” tanyanya kembali.
===
“Kau harus ikut dengan kami,” ucap Xio Yu. Thai Yang berdiri tegak tak tergoyahkan, dia menatap Ting Ting dengan pandangan penuh cinta.
“Siapa yang akan menghalangi pasukan sang Raja?” ucap Thai Yang.
“Lagipula aku telah berjanji pada sang Raja, dia akan mendapatkan nyawaku,” Ting Ting mendaratkan sebuah tamparan di pipi suaminya. Suatu hal yang sangat tidak dapat diterima oleh suami manapun, tapi tidak bagi Thai Yang. Tamparan itu baginya adalah bentuk perhatian dari Ting Ting.
“Aku membencimu! Kau, ya kau!” teriak Ting Ting frustasi pada suaminya.
“Kau membuatku harus menikah denganmu, mencurahkan seluruh perhatian sehingga membuatku nyaman. Dan sekarang kau menyiksaku dengan perasaan bersalah karena menyebabkan dirimu harus mati di tangan Raja pengoleksi selir itu,”
Thai Yang mendekati istrinya, memeluk dan mencoba menangkan Ting Ting, “maafkan aku. Aku juga tidak rela berpisah denganmu. Tapi aku juga tidak akan pernah menyerahkanmu pada Raja. Lagipula kau berada di tangan yang tepat sekarang,” Thai Yang menyerahkan tangan Ting Ting kepada Xio Yu.
Xio Yu menatap Mei Li, “Thai Yang, sudah kuputuskan! Kita akan pergi bersama,” ucap Xio Yu.
“Tapi,” sebelum Thai Yang mengatakan apapun lagi Xio Yu telah menyeretnya naik ke kapal. Sementara Mei Li menuntun Ting Ting sambil tersenyum puas. Dia tahu suaminya akan melakukan yang terbaik.
Saatnya dia melakukan hal terbaik untuk mereka juga.
===============
Putri Ting Ting dan pangeran Tahu Part 22 (Arti Pengorbanan)
Arti pengorbanan
=================
Mei Li menarik napas dalam-dalam, menatap air yang tenang mulai membentuk alur. Sauh telah diangkat, kapal mulai bergerak dan layar telah dikembangkan. Mei Li mengukur jarak pandang antara dermaga dengan kapal. Rasanya jaraknya telah sesuai dengan yang dia inginkan.
Mei Li berdiri di tepi geladak kapal. Dia mengumpulkan keberanian dan melompat ke air. Ting Ting terkejut dan berteriak histeris. “Mei Li!”
Setiap pasang mata yang berada di Kapal segera menatap Ting Ting dan Mei Li secara bergantian. “Apakah kalian bodoh? Cepat selamatkan dia!” teriak Ting Ting. Seorang pelayan bertubuh kecil menarik Ting Ting yang hendak menolong.
“Maaf, tapi Nona Mei Li bukan terjatuh. Dia sengaja terjun, dia meminta saya untuk menghalangi kalian menolong dia,” ucap pelayan pribadi Mei Li.
Ting Ting menatap pelayan itu dengan kesal, “dan kau tidak mencegah dia melakukan tindakan bodoh itu?”
“Saya sebelumnya telah dibuat bersumpah untuk melakukan apapun perintah Nona Mei Li. Bila tidak dia akan bunuh diri saat itu juga. Bagaimana mungkin aku rela melihat Nona Mei Li mati,” ucanya lagi.
Xio Yu mengambil tali dan mendekati tepian kapal. “Cepat lemparkan tali untuknya. Bantu dia naik,” Thai Yang menginstruksikan kepada anak buahnya. Mereka melihat Mei Li berenang semakin menjauh. Ting Ting tahu kalau Mei Li adalah perenang yang handal. Mereka selalu berlomba dan Mei Li selalu menang.
“Nona Mei Li mengatakan bahwa dia akan menyamar menjadi pengantin wanita untuk mengulur waktu. Lagipula menurut Nona, bentuk dan ukuran tubuhnya sama seperti Nona Ting Ting,” pelayan itu berusaha memberitahu rencana nona-nya.
“Apa? Apakah dia sudah gila?” teriak Xio Yu.
“Dia bisa terbunuh!” Thai Yang seakan tidak percaya dengan kebodohan Mei Li.
“Dia akan dijatuhi hukuman berat oleh Raja,” perkataan Ting Ting menyadarkan Xio Yu resiko besar yang akan ditempuh Mei Li, istrinya.
Pelayan itu kembali menyeka airmatanya. “Saya sudah memohon pada Nona Mei Li, tapi dia berkata ini adalah jalan yang dia pilih. Dia harus menebus kesalahannya pada Tuan Xio yu dan Nona Ting Ting,” Xio Yu terkejut dengan perkataan pelayan itu.
“Tuan Xio Yu, saya melihat Nona sebenarnya terlihat sedang mengandung. Walau dia tidak menyadarinya,” ucap pelayan itu. Dan tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut Xio Yu pun ikut terjun dan mengejar Mei Li.
“Pergi! Aku akan mencari cara, sekarang selamatkan dulu Ting Ting,” teriak Xio Yu. Thai Yang tidak dapat berbalik lagi, layar dan angin membawa kapal melaju cukup cepat.
“Cari kakakku, selir ke lima. Dia akan membantu kalian,” teriak Thai Yang sekuat tenaga, sementara Ting Ting menangis dalam pelukan suaminya.
===
Mei Li mencapai dermaga dengan susah payah. Badannya bergetar hebat setelah mengerahkan seluruh tenaganya untuk melawan arus air, bibirnya kebas dan matanya pedih. Dia mencoba menarik sepasang kaki yang sudah tidak mau sejalan dengan otaknya. Belum lima langkah dia berjalan, tubuhnya telah ditarik oleh sepasang tangan yang kokoh.
“Kau sudah gila!” teriak Xio Yu. Betapa Mei Li begitu gembira mendengar suara menyebalkan itu lagi. Hanya saja saat dia sadar, dia mengetahui bahwa suara itu bukan halusinasinya. Xio Yu berada di dekatnya dan itu artinya suaminya tidak berada di dalam kapal yang akan pergi. Dengan kata lain Xio Yu akan mengalami masalah besar.
“Mengapa kau berada di sini? Seharusnya kau sedang dalam perjalanan ke,” Xio Yu mendekap tubuh Mei Li yang basah kuyub, menghentikan ucapan Mei Li.
“Kau terlalu bodoh. Bagaimana mungkin rencanamu bisa berhasil, sementara otakmu tidak bisa bekerja dengan benar,” ucap Xio Yu.
“Aku tidak sebodoh yang kau kira!” Mei Li berusaha berteriak, namun suaranya telah habis.
“Kita akan pergi secepatnya,” ucap Xio Yu tanpa memberi Mei Li kesempatan berbicara.
“Aku akan mencari kapal, kita akan menyusul mereka secepatnya. Berjanjilah padaku kau akan menunggu dengan tenang di sini,” Xio Yu menuntun Mei Li ke pondok penambat perahu yang kosong. Dia mendapatkan sebuah kain penutup perahu yang sudah lusuh namun masih kering. Dibungkusnya tubuh Mei Li sebelum dia meninggalkan untuk mencari kapal.
Mei Li menatap Xio Yu dengan tidak percaya. Suaminya, pria yang dijebaknya dan tidak pernah menunjukkan perhatian padanya tiba-tiba berubah. Ada apa gerangan? Dia tidak bisa melibatkan Xio Yu dalam rencana gilanya. Dia harus memastikan Xio Yu pergi sejauh mungkin, agar tidak dianggap melawan perintah Raja. Dia terlalu perduli dengan keadaan dan masa depan Xio Yu. Perasaan dan kegembiraan Xio Yu telah menjadi hal yang utama saat ini, entah mengapa.
Mei Li mendapatkan tenaga lagi setelah duduk dan dihangatkan tubuhnya tadi. Dia kemudian mengambil sebatang kayu seukuran lengannya, lalu berjalan perlahan mengikuti Xio Yu yang sibuk mencari kapal yang berlabuh. Mei Li menghantamkan kayu tepat di kepala Xio Yu. Tubuh Xio Yu jatuh di tumpukkan tanah. Setelah yakin keadaan suaminya hanya mengalami luka kecil, Mei Li berlari dan mendapatkan seorang tukang perahu yang baru saja merapat. Setelah mencapai kesepakatan mengenai harga, dia dan tukang perahu tersebut membawa tubuh Xio Yu ke dalam perahu.
Mei Li menyerahkan dua buah gelang giok, sekantung uang dan kalung emas miliknya kepada tukang perahu. “Bawa pria ini sejauh mungkin. Antarkan ke perbatasan desa Hun Nan. Di sana temui pria bernama Thai Yang. Ingat jangan pernah kembali lagi ke sini. Bawa dia secepatnya,” Mei Li menatap perahu yang mulai mengembangkan layarnya. Kali ini dia telah melakukan yang terbaik.
===
Mei Li memasuki kediaman keluarga Chen. Seorang pelayan menyambutnya dengan bingung. Dia meminta bertemu dengan Tuan Besar Chen dan Nyonya besar. Di ruangan besar itu Mei Li semakin kedinginan walaupun matahari mulai bersinar terang. Dia mengingat aroma dan hangatnya tubuh Xio yu tadi. Semoga Xio yu selamat hingga ke perbatasan
Tuan besar memandang Mei Li dengan bingung, “siapa dirimu? Mengapa kau mengenakan pakaian basah?” Nyonya besar yang menatap Mei Li tidak kalah bingung dengan suaminya. “Jawab pertanyaan dari Tuan besar, Nona. Apakah kamu dirampok?” Nyonya besar Chen melihat Mei Li tidak mengenakan perhiasan, namun dari pakaiannya jelas-jelas gadis ini termasuk golongan berada.
“Saya tidak bisa menjelaskannya terlalu lama, karena rombongan Raja akan segera tiba. Saya juga tidak tahu harus memulai dari mana,” Mei Li mengambil nafas, kemudian menceritakan semuanya dari awal hingga kedatangannya di kediaman Chen itu.
Tuan besar melemparkan tubuhnya ke kursi kayu, sementara Nyonya besar terkulai lemas di lengan kursi. “Bagaimana mungkin tragedi ini terjadi dua kali di dalam keluarga kita?” ucap Nyonya besar lirih.
“Aku sudah cukup sedih saat melihat menantuku harus berakhir di pedang para pengawal sang Raja. Saat ini anak laki-lakiku harus berhadapan dengan Raja juga. Oh… Tuhanku,”Nyonya besar benar-benar terpukul.
“Mengapa aku sama sekali tidak mendengar berita itu?” Tuan Besar seakan-akan menyalahkan dirinya.
“Semuanya terjadi begitu cepat,” sahut Mei Li, sebisa mungkin meyakinkan kedua orang tua Thai Yang.
“Putraku, putraku akan mati di tangan menantuku. Apa salahku, ya Tuhanku?” teriak Nyonya Besar dengan kalap.
“Thai Yang tidak akan mati Nyonya. Bukankah sudah kukatakan kalau mereka telah melarikan diri. Saat ini aku harus mengulur waktu agar mereka dapat pergi sejauh mungkin sehingga tidak terkejar oleh para pengawal Raja,” Mei Li kembali menyesap teh panas yang dibawakan pelayan tadi untuk menghilangkan rasa dingin di tubuhnya.
“Kau sudah gila! Untuk apa mengorbankan dirimu, apalagi kau telah bersuami? Apakah kau ingin menjadi selir?” Mei Li tersedak mendengar tuduhan dari Tuan besar.
“Saya tidak pernah berpikir untuk menjadi selir. Semua ini kulakukan karena aku berhutang begitu banyak kepada Ting Ting, Xio Yu dan aku terlalu mencintai anak anda Tuan,” jawaban berani dari Mei Li membuat Tuan besar terkejut.
“Besar juga nyalimu, Nona. Dan terimalah hormatku ini. Kau telah menyelamatkan penerus keluarga Chen, aku tidak tahu harus bagaimana membalas kebaikanmu,” Tuan dan Nyonya besar berlutut memberi hormat kepada Mei Li.
“Tidak perlu,” Mei Li menuntun mereka naik. Dan saat itulah Nyonya besar sadar bahwa Mei Li masih memakai pakaian basah. Dia segera memerintahkan pelayan untuk membawa Mei Li ke kamar Ting Ting, mengenakan pakaian bersih dan sarapan.
=====
Tak berapa lama setelah kedatangan Mei Li, saat matahari bersinar tepat di atas kepala tabuhan musik iringan pengantin terdengar meriah. Selir Cin Zhu tiba di halaman depan kediaman Chen beserta rombongan pelamar. Para tetangga dan penduduk yang berhenti untuk melihat keramaian merasa aneh. Bukankah sudah tidak ada anak gadis yang memasuki usia menikah di kediaman itu. Mengapa ada tandu pernikahan serta di pasang kain merah?
Cin Zhu merasakan wajahnya menegang, air mata terus berusaha menjebol bendungan pertahanannya. Di sana dia harus memakaikan gaun merah pengantin pada adik iparnya. Dan dia juga harus menatap adik laki-lakinya tersayang akan berakhir sama seperti King-nya.
Cin Zhu menatap mata orang tuanya yang terlihat gelisah dan sedih. Sudah sewajarnya mereka sedih, anak laki-laki penerus garis keturunan keluarga akan diambil secara paksa dari mereka. Mereka juga harus menanggung malu, bagaimana mungkin menantu keluarga Chen diambil menjadi selir. Sementara semua orang telah mengetahui jabatan penting ayahnya, jabatan adiknya dan kedudukannya sebagai selir utama. Dia akan merasa sangat bersalah kepada kedua orang tuanya dan para leluhur keluarga Chen.
Cin Zhu membuka pintu kamar Ting Ting. Dia mendapati adik iparnya sedang menatap lukisan wajahnya sendiri. Cin Zhu mendekati dan menyerahkan sebuah nampan berisi pakaian pengantin sialan itu. Saat Ting Ting membalikkan badan, Cin Zhu menyadari dia bukan adik iparnya. “Siapa kau?”
“Aku adalah Mei Li, dan aku akan mengantikan Ting Ting,” Mei Li bercerita sambil mengenakan pakaian pengantin. Seorang pelayan kepercayaan keluarga Chen membantu dia mengenakan hiasan burung Hong dan memoles wajahnya secantik mungkin.
“Gila!” teriak Cin Zhu yang langsung di redam dengan tangan Mei Li.
“Anda sudah bisa tenang? Bila tidak, saya tidak akan melepaskan tanganku dari mulut anda,” Mei Li melihat anggukan kepala Cin Zhu.
“Kau tidak akan lolos, kau akan di pancung!” ucap Cin Zhu setengah berbisik.
“Aku sudah siap!” ucap Mei Li tegas.
“Bagaimana dengan kami?” tanya Cin Zhu.
“Katakan saja kau dan keluarga besar Chen tidak tahu muslihat ini. Aku akan menanggung semua akibat perbuatanku,” Mei Li mengenakan cadar dan berjalan menuju Cin Zhu sambil dibantu pelayan.
“Kau akan berpura-pura tidak tahu. Aku memaksamu meninggalkan nampan pakaian di depan pintu dan diriku berpakaian sendiri,” ucap Mei Li lagi.
“Dan katakan pada Raja, aku tidak ingin keluar untuk menghadiri perjamuan yang dia adakan. Karena seorang pengantin wanita tidak boleh bertemu para tamu sebelum suaminya membuka cadar,” Mei Li menjelaskan rencananya.
“Sekarang saatnya,” Mei Li berjalan dengan langkah yang anggun dan berani. Dia terlihat tegar dan tidak takut sama sekali. Tapi kenyataan tersembunyi di dalam hatinya. Ketakutan itu telah menjadi cambuk agar dia melakukan dengan sempurna.
Di dalam tandu Mei Li terus berdoa dan berdoa. Cin Zhu menarik tangan Mei Li, “Aku akan pikirkan cara untuk menyelamatkan dirimu,” ucap Cin Zhu.
====
Putri Ting Ting dan pangeran Tahu part 23 (Pertarungan)
Setelah serangkaian upacara Mei Li di bawa ke kamar pengantin. Dia duduk menunggu sang Raja dengan perasaan cemas dan muak. Saat ini Sang Raja pasti sedang menikmati pertunjukkan musik dan bergelas-gelas arak perayaan. Mei Li berdiri dan menatap ke sekeliling kamar. Mencoba mencari-cari cara dan celah. Mei Li menepuk lengan bajunya, dia mengantongi sebuah pisau kecil bersarung kulit lembu putih di bagian dalam lengan bajunya, pemberian Selir Cin Zhu.
“Lukai saja dia bila terjadi hal yang tidak kau inginkan,” ucap Cin Zhu.
“Aku akan memikirkan cara terbaik untukmu. Aku berjanji, nyawaku ini pengikatnya,” Cin Zhu melepas Mei Li saat pelayan menuntunnya menuju kamar pengantin.
“Raja memerintahkan agar kalian semua menjauhi Paviliun Mutiara,” Cin Zhu memberi perintah kepada pelayan dan para pengawal. Dan mereka sudah mengetahui kebiasaan Raja ketika mendapatkan mainan baru. Mereka mulai bergerak menjauh. Para Pelayan dan pengawal, menunggu di depan gerbang Paviliun Mutiara.
==
Sekali lagi Mei Li duduk di dalam kamar pengantin. Dan kali ini dia kembali menjebak dan memasang tipu muslihat untuk pria yang menikah dengannya. Kali ini dia lebih cemas lagi. Haruskah dia membunuh Raja pengoleksi selir itu? Atau mengebirinya? Keduanya sama-sama membuatnya menghadapi tiang gantungan. Namun dia akan lebih puas bila melihat Sang Raja menderita karena tidak dapat menikmati kegiatan bersenang-senangnya lagi, kemudian mati secara perlahan-lahan.
Sang Raja memasuki kamar, dia menatap pengantinnya dengan senyum ceria. Langkahnya perlahan, sementara nafas Mei Li tertahan. “Tidak kau tuangkan secangkir arak pengantin untukku?” Mei Li hanya diam, enggan menjawab pertanyaan Sang Raja. Dia takut bila dia bersuara maka penyamaran akan terbongkar.
“Kau membenciku karena telah merebut dirimu dari Thai Yang? Kau akan berterima kasih karena telah kuberikan tempat kehormatan ini. Aku akan memberikan posisi permaisuri kepadamu, dengan catatan kau harus melahirkan putra mahkota untukku,” Raja mengelus tangan Mei Li.
“Aku cukup terkejut para pengawalku tidak mengalami kesulitan dalam membawamu. Padahal Thai Yang telah mengatakan maksudnya untuk melawan perintahku. Ternyata otaknya telah beres setelah berpikir kembali. Tidak ada gunanya melawan aku yang berkuasa penuh atas semua daratan. Aku berjanji akan memberikan dia jabatan yang lebih tinggi lagi,” ucapnya sambil perlahan-lahan membuka cadar, menikmati tiap centi bagian wajah selir barunya.
“Kau! Siapa kau?” teriak Sang Raja saat cadar terbuka sepenuhnya. Raja melemparkan cadar yang sedang dipegangnya.
“Yang mulia, anda adalah orang ke empat yang bertanya siapa aku,” ucap Mei Li berani. Dia sudah yakin kepalanya akan lepas dari lehernya sesaat lagi, jadi untuk apa menjaga mulutnya yang sudah sangat gatal ingin mencaci maki dan berteriak.
“Bukan kau pengantinku. Kamu bukanlah selir ke seratus,” teriakan Raja membuat Mei Li tertawa.
“Aku memang bukanlah Ting Ting. Dia tidak akan pernah menjadi selirmu. Dia lebih memilih mati bersama Thai Yang daripada menjadi selirmu,” ucap Mei Li lagi.
“Dan kau sangat berminat menjadi selirku, sehingga kau menyamar menjadi Ting Ting,” Raja tersenyum mengejek.
“Tidak. Tapi aku berminat mengakhiri kegilaanmu terhadap wanita. Bukankah 99 wanita sudah cukup bagimu? Bahkan kau melupakan sebagian besar dari mereka. Mereka yang seharusnya bahagia bersama pria yang benar-benar mencintainya,”
“Omong kosong! Mereka gembira menjadi selirku. Mendapatkan kemewahan yang sangat berlimpah,” ucap Raja dengan sombong.
“Aku percaya mereka akan menyetujui rencana rahasiaku,” Mei Li tertawa.
“Apa rencanamu pelacur murahan?” bentak Raja.
“Bukan rahasia namanya kalau aku membocorkannya,” Mei Li tersenyum geli.
Raja menatap Mei Li lagi, wajahnya tersenyum cerah. “Kau tidak begitu buruk. Bahkan sama cantiknya dengan Ting Ting. Bukankah hal yang bodoh bila aku tidak mencobamu dahulu sebelum memancung kepalamu,” tawa menjijikkan keluar dari mulutnya. Dan Mei Li sudah menduga pikiran mesum di dalam otak Raja.
“Silahkan, lagipula bukankah aku adalah pelacur murahan?” Mei Li menawarkan tubuhnya kepada Raja dengan gerakan yang mengoda. Raja tidak dapat menahan nafsunya, dia mulai merobek-robek pakaian merah yang membungkus tubuh Mei Li. Dan sekali lagi Mei Li harus merasakan pakaian pernikahannya dirobek dengan kejam, sekali lagi juga dia merasakan harga diri dan perasaannya tercabik-cabik.
Raja mulai melancarkan ciuman yang menuntut. Tangannya menjelajahi setiap jengkal tubuh Mei Li. Mei Li terus berbaring dalam diam. Saat Raja mulai terlena dalam penaklukannya, Mei Li menarik pisau kecil dari balik bantal yang telah disembunyikannya tadi. Mei Li menusuk tepat di dada. Hanya saja dia tidak menyadari betapa besar kekuatan pria dibanding dengan dirinya.
“Pengawal! Tangkap pelacur ini,”
Terdengar pintu kamar dibuka dengan keras, Mei Li terkejut. Apakah dia akan segera menghadapi ajal sebelum sempat mengebiri Raja? Pria itu bertubuh tinggi dan tidak terlalu berotot. Mei Li yakin dia mengenal mata di balik topeng tersebut. Pria bertopeng itu menarik Mei Li, membelalakkan mata saat menyadari tubuh Mei Li tanpa selembar benangpun.
“Kau? Siapa?” tanya Raja sambil memicingkan mata. Pandangannya mulai kabur. Pria itu menarik tangan Raja. Namun dengan tenaga yang masih tersisa Sang Raja melepaskan diri. Terlihat sekali pria itu tidak terlalu menguasai gerakan silat. Mei Li membantu pria yang sepertinya adalah suruhan Selir Cin Zhu.
Mei Li menendang kaki Sang Raja, namun gerakannya kalah cepat dengan keluwesan tangan Raja. Raja menghantamkan tinju di dada Mei Li. Seketika Mei Li terjatuh. Pria bertopeng mencoba menyelamatkan Mei Li. Dia segera membantu Mei Li berdiri. Tanpa mereka sadari, Raja telah mendapatkan sebuah pedang. Pedang yang awalnya diperuntukkan menjadi hiasan di salah satu dinding ruangan tersebut.
Raja mengarahkan mata pedang ke arah keduanya. Pria bertopeng lebih dahulu menyadari datangnya bahaya. Dia mendorong Mei Li menjauh. Tubuhnya tidak dapat berkelit lagi, mata pedang mengenai bahu atas. Sang Raja mencabut pedang dan melancarkan serangan lagi. Kali ini pria bertopeng berhasil menghindari mata pedang. Namun darah segar terus mengucur dari luka yang mengangga di bahunya.
Mei Li mengambil kursi dan melempar ke arah Raja. Dengan refleks Raja mengunakan pedang untuk menangkis kursi yang mengarah ke wajahnya. Raja berhasil menghindar namun pedangnya terjatuh. Sang Raja bangkit dalam sekejap. Mengetahui lawan yang satunya telah terluka dan tidak terlalu berbahaya, Raja mengarahkan tenaga yang tersisa untuk serangan pada Mei Li.
Raja menyudutkan Mei Li,menjambak rambut Mei Li. Menghantamkan pada tiang tempat tidur. Pria bertopeng berusaha berdiri dengan bersusah payah. Dia mencari senjata untuk melawan namun tak ada. Yang terdekat hanyalah sebuah pispot, dia meraih pispot yang terletak di bawah tempat tidur dan memukulkan bagian atas pispot ke kepala Raja. Darah yang mengucur dari dada dan hantaman serta luka di kepala akhirnya membuat sang Raja lemah . Cengkraman tangannya mengendur. Pria bertopeng segera menarik Mei Li ke dalam dekapannya. Sang raja terlihat mulai kehabisan tenaga dan pingsan.
Selir ke Lima yang sejak tadi menunggu tak jauh dari pintu kamar menghambur masuk. Dia menatap Mei Li yang tak mengenakan apapun, Cin Zhu melemparkan sebuah pakaian pelayan dapur istana. “Pergilah ke dapur paviliunku. Di sana Ta Niu akan membawa kalian pergi,” ucap Cin Zhu dengan berbisik.
Cin Zhu menatap Sang Raja yang terkulai tak berdaya. Matanya terlihat menyiratkan kepedihan dan duka yang tak dapat terungkapkan.
Mei Li menatap Cin Zhu dengan pandangan penuh pertanyaan. “Dia kembali lagi untukmu,” jawab Cin Zhu. Mei Li kembali meminta penjelasan. “Suamimu dan Ta Niu datang kepadaku sesaat setelah kau masuk ke kamar pengantin.
“Xio Yu? Kaukah itu?” Mei Li seakan tak percaya. Pria di balik topeng emas itu adalah Xio Yu, suaminya.
“Aku akan membereskan semua kekacauan ini,” Cin Zhu menjawab, seakan tahu apa yang akan ditanyakan Mei Li.
“Bawa nampan arak ini agar kamu tidak dicurigai. Sebelah kanan dari paviliun Mutiara dan di gerbangnya terdapat lambang teratai putih. Dan kau Xio Yu, ikat lukamu dahulu agar darahnya tidak terus mengalir. Pakailah jubah ini untuk menutupinya,” ucap Cin Zhu lagi sambil memberikan sebuah jubah berwarna hijau gelap.
Mei Li melangkah keluar dari kamar dan berjalan dengan perasaan was-was. Dia berdoa semoga Selir Cin Zhu tidak mendapatkan masalah karena mereka. Kali ini dia berdoa dengan tulus semoga Raja berengsek itu tidak mati.
Xio Yu menepuk pundak Mei Li memberi isyarat agar mereka segera mempercepat langkah. Keduanya saling menatap sesaat, ada begitu banyak cerita yang ingin mereka bagi, nanti.
=============
Putri Ting Ting dan Pangeran Tahu part 24 (Akhirnya aku menyadari)
Akhirnya aku menyadari
======================
Cin Zhu menatap suaminya. Dia terlalu bingung untuk berpikir. Mulutnya terus menghitung, sudah hitungan ke dua ratus. Semoga Mei Li dan Xio Yu sedah berhasil bertemu Ta Niu dan lolos dari penjagaan.
Cin Zhu menyeka keringat yang ada di dahinya, sesekali dia menatap ke arah pintu kamar, berdoa semoga tidak ada yang mengetahui perbuatannya. “Kau pantas mendapatkan hukuman ini,” ucap Cin Zhu sambil terus menerus mengetukkan jari, untuk menghitung.
“Apakah aku harus membiarkan kau mati?” tanya Cin Zhu pelan.
“Aku membohongi diriku, aku telah mencintaimu. Terlalu besar. Tapi perasaan ini membuatku seperti mengkhianati pengorbanan King,” Cin Zhu menatap suaminya.
“Pelayan! Pengawal!” teriak selir Cin Zhu.
“Kau berhak hidup.” Cin Zhu berdiri. Dia mengoreskan pisau di beberapa bagian tangannya. Mengacak-acak rambut dan pakaian, berharap mendapatkan kesan perkelahian.
“Pengawal!” teriak Cin Zhu histeris, dia berusaha menampilkan akting terbaiknya. Namun di luar dugaan, yang menghambur masuk setelah berkali-kali cin Zhu berteriak adalah Selir ke 99, Hwa Fung. Cin Zhu yang dalam posisi memangku Raja dan tubuh yang telah dia lukai sendiri tidak dapat berbuat banyak ketika Hwa Fung menutup kembali pintu kamar tersebut.
Hwa Fung menatap Cin Zhu dengan sinis, “Ah, ternyata terjadi kekacauan di sini!” matanya menatap ke sekeliling kamar. “Seseorang telah menculik selir baru. Dia mengantikan Ting-Ting dan berpura-pura menjadi pengantin Raja. Segera panggilkan tabib serta pengawal. Kejar mereka,” ucap Cin Zhu sesuai yang telah mereka sepakati.
“Kita harus segera menolong Raja,” Cin Zhu menunjuk tubuh Raja yang terkulai lemas.
“Yah, aku pasti menolong Raja. Tapi ada urusan penting yang harus kita selesaikan dahulu,” ucap Hwa Fung. Dia mengeluarkan sebuah pisau kecil. “Awalnya aku hanya ingin membunuh Selir ke seratus, tapi nasibku begitu mujur. Aku tidak menyangka jika ada penyusup yang berencana membunuh Raja kita tersayang. Akhirnya aku mendapatkan keuntungan ganda, selir ke seratus yang hilang serta selir utama yang mati terbunuh oleh para penyusup tersebut. Tidak sia-sia aku menyelinap ke paviliun ini,” Hwa Fung mendekati Cin Zhu perlahan. Matanya menatap dengan kecemburuan yang sangat besar.
“Kau akan menjadi pahlawan besar Selir manis. Tenang saja, karena aku akan berkata bahwa kau menitipkan putra mahkota dalam pengawasanku sebelum kau meregang nyawa,” Hwa Fung tertawa penuh kemenangan.
==
Sementara itu Ta Niu telah membawa Xio Yu dan Mei Li dari dapur paviliun selir menuju gerbang belakang yang ditutupi dengan deretan rumpun bambu yang lebat. Hanya Ta Niu dan beberapa orang kepercayaan Cin Zhu yang mengetahui jalan rahasia tersebut. Di balik pintu belakang paviliun, sebuah kereta kuda pedagang telah menunggu
“Ta Niu ikutlah dengan kami,” ucap Xio Yu. Ta Niu mengeleng, dia menyerahkan buntelan berisi emas dan perhiasan kepada Mei Li. “Selir Cin Zhu membutuhkanku,” ucapnya tegas.
“Semua kebutuhan anda berdua telah tersedia di kapal. Dan ini adalah titipan dari Selir Cin Zhu, dia berharap semua ini bisa berguna bagi anda berdua,” Ta Niu berhenti sejenak. Dia memberikan arahan kepada kusir kereta kuda sebelum kembali menatap Xio Yu dan Mei Li.
“Segeralah berangkat, saya takut para pengawal telah mencium keributan tadi. Saya berharap para pengawal tidak dapat mengejar kapal Tuan dan Nyonya. Saat ini kalian adalah buronan, jadi bersembunyilah dahulu. Bila keadaan sudah aman, aku akan mengirim orang kepercayaanku untuk mengabarkan. Semoga Tuan dan Nyonya selamat sampai tujuan. Sampaikan salamku pada Tuan Thai Yang dan Nyonya,” Ta Niu menghaturkan hormat dan segera pergi. Dia terlihat terburu-buru.
“Dia mencintai Cin Zhu,” ucap Mei Li. Yang disetujui oleh XioYu.
“Kasihan Ta Niu, cintanya tidak mungkin terbalaskan,” ucap Mei Li lagi.
Xio Yu hanya tersenyum sedih, “ Semoga mereka berdua tidak mengalami bencana karena kita,”
Kereta kuda mereka segera bergerak dengan cepat menuju dermaga. Di dalam kereta kuda Mei Li merasa salah tingkah dengan tatapan Xio Yu. “Ada yang aneh pada wajahku?” tanya Mei Li.
“Ternyata aku begitu bodoh,” Mei Li merasa bingung dengan perkataan Xio Yu.
“Aku baru menyadari bahwa istriku sangat cantik,” Mei Li tersipu saat mendengar ucapan Xio Yu, dia menepuk bahu Xio Yu sambil tersenyum malu.
“Aw! Sakit!” teriak Xio Yu. “Dan ternyata istriku sangat kasar,” goda Xio Yu. Mei Li terlihat cemas dan merasa bersalah.
Dia menatap luka di bahu Xio Yu, “Maafkan aku,” ucap Mei Li tulus.
“Ini adalah tanda pejuang cinta,” ucap Xio Yu dan Mei Li kembali tertunduk malu. Lalu keduanya kembali terdiam. Sebuah pelukan hangat dari Xio Yu ternyata dapat membuat jantung Mei Li terus bernyanyi riang.
==
Thai Yang memperhatikan Ting Ting termenung di pinggir kapal. “Kita seharusnya ikut ke dalam istana menyelamatkan mereka,” ucap Ting Ting lirih.
“Yakinlah, Ta Niu dan Xio Yu pasti bisa menyelamatkan dan mengatasi masalah itu. Lagipula ada kakak dan keluargaku yang akan membantu mereka,” ucap Thai Yang mencoba menenangkan, walau perasaannya sendiri takut. Takut, karena yang mereka hadapi adalah penguasa negeri ini.
“Aku berjanji padamu kita akan mendapatkan berita baik keesokan hari,” Thai Yang bedoa semoga janji yang diucapkannya dapat dia tepati.
“Kita akan bertemu mereka di perkampungan suku Pengelana Padang,” tambah Thai Yang lagi. Thai Yang menuntun Ting Ting menuju kamar mereka, karena angin laut bertiup kencang.
Kapal mereka kembali berlayar setelah mengantarkan Ta Niu dan Xio Yu kembali ke daratan. Awalnya Thai Yang ingin ikut serta membebaskan Mei Li, namun Xio Yu merasa itu adalah tanggung jawabnya sebagai suami. Dan menurut Ta Niu, bila terlalu banyak yang turut serta malah akan menyulitkan pada saat mereka melarikan diri.
Akhirnya Thai Yang menyetujui pengaturan yang dibuat oleh Ta Niu. Mereka akan berlayar kembali setelah Ta Niu mendapatkan kapal lain untuk membawa Mei Li dan Xio Yu. Thai Yang yakin Ta Niu tidak akan ikut dalam pelarian ini. Dia akan kembali kepada Cin Zhu. Cin Zhu yang selamanya akan menjadi istri adiknya, King. Cin Zhu juga adalah wanita yang dia cintai.
Dengan kecepatan angin saat ini, maka kemungkinan besar kapal Mei Li dan Xio Yu dapat mengejar mereka. Thai Yang telah memerintahkan kepada anak buahnya untuk menurunkan kecepatan kapal, sambil menunggu kapal Xio Yu.
Thai Yang menghentikan lamunannya dan kembali menatap istrinya. Dia ingin menikmati saat-saat indah bersama Ting Ting, setiap detiknya. Entah mengapa dia masih tidak percaya Ting Ting memilihnya dibanding Xio Yu.
Thai Yang mendekati istrinya yang sedang duduk di kursi panjang. Dia duduk disamping Ting Ting, mengenggam tangan istrinya dengan lembut. Tanpa dia duga Ting Ting merapat ke dalam pelukannya. Mencari ketenangan dan kehangatan. Tangan Thai Yang membelai lembaran rambut Ting Ting dengan lembut. “Bersediakah kau terus menjadi istriku? Saat ini aku bukanlah Thai Yang. Pejabat Thai Yang telah hilang,” ucap Thai Yang.
“Aku lebih menyukai Thai Yang, bukan si pejabat itu,” sahut Ting Ting dengan bersungguh-sungguh.
“Aku akan menjadi istrimu seutuhnya. Bukan hanya karena status yang telah kusandang. Karena ada perasaan yang tidak dapat ku pungkiri. Rasa itu menumpuk sedikit demi sedikit, dan menjalar naik tanpa dapat kucegah,” Thai Yang tersenyum mendengar penjelasan istrinya.
“Apakah jika aku menciummu atau menatapmu seperti ini rasa itu akan menjalar naik?” goda Thai Yang.
“Ah, aku .. yah,” jawab Ting Ting canggung.
“Bagaimana dengan ini?” tangan Thai Yang mengelus telinga Ting Ting dan memberikan kecupan nakal di sana.
“Kita belum menuntaskan malam pengantin kita, apakah kau masih ingat?” tanya Thai Yang lagi.
“Apakah,” belum selesai pertanyaan Thai Yang, Ting Ting telah mengangguk memberi jawaban.
“Jadikan aku istrimu seutuhnya,” ucap Ting Ting menegaskan.
====
Putri Ting Ting dan Pangeran Tahu part 25 (Apakah kita akan bertemu lagi?)
Apakah kita akan bertemu lagi?
=========================
Kereta kuda mereka telah sampai di dermaga. Xio Yu menuntun istrinya menuju kapal. Sauh diangkat, layar terkembang dan kapal melaju perlahan menuju ke tengah. “Jangan mencoba untuk terjun lagi Nona sok tahu,” uap Xio Yu.
“Jadi sekarang aku adalah Nona sok tahu, sedangkan dirimu?” Mei Li menatap Xio Yu kesal.
“Bukankah sudah kuperintahkan agar kamu pergi jauh dari tempat ini. Kemana perginya tukang perahu yang membawamu?” Mei Li bertanya. Keduanya kembali terlibat adu mulut.
“Dia kuikat di kapalnya karena terlalu berisik. Perahu kami ternyata bertemu dengan kapal Thai Yang yang berputar haluan kembali ke daratan. Ta Niu membebaskan dan membantuku untuk menolongmu,” Xio Yu menarik tangan Mei Li.
Tiba-tiba saja Mei Li berubah sendu. “Bagaimana kabar mereka yah?” Mei Li menatap jauh ke langit biru.
“Aku yakin mereka sudah tiba di perbatasan. Mereka pasti sedang cemas menunggu kedatangan kita,” ucap Xio Yu.
“Satu lagi, jangan bersikap sok pahlawan lagi dan tidak boleh lagi ada perasaan bersalah atas semua kejadian yang lalu. Aku yang terlalu kekanakan, maafkan aku,” ucap Xio Yu. Mei Li memandangnya dengan takjub, tidak percaya akan perubahan itu.
“Kau adalah calon ibu, jadi keselamatanmu adalah yang terpenting,” Mei Li melepaskan tangannya dari Xio Yu saat mendengar ucapan Xio Yu.
“Jadi ini semua demi anakmu. Tidak pernah ada aku? Bagaimana bila tidak pernah ada anak?” tanya Mei Li.
“Yang jelas aku akan terus berusaha belajar mencintaimu,” ucap Xio Yu jujur. Mei Li hanya dapat menahan airmata, harapannya sirna seketika. Tapi dia berharap anaknya akan mendapatkan cinta sepenuhnya dari Xio Yu, ayahnya. Dia tidak ingin bila dia memiliki anak nanti, akan mengalami perasaan tidak diinginkan sepertinya.
Mei Li menatap lautan yang menyambut mereka. Dia berusaha berhenti mencemaskan perasaan Xio Yu padanya. “Kita adalah pelarian, buronan,” ucap Mei Li.
“Yah, tapi yakinlah kita tidak akan berakhir sia-sia. Aku akan menjagamu dan anak kita. Aku berjanji, nyawa ini pengikatnya,” ucap Xio Yu. Mei Li mengangguk dan menatap Xio Yu dengan kerinduan akan kasih sayang.
“Peluk aku,” ucapnya perlahan. Xio Yu terkejut dengan permintaan Mei Li. Dengan lembut Xio Yu melingkarkan tangan dan memeluk Mei Li dengan erat.
Kapal mereka bergerak semakin cepat. Xio Yu dan Mei Li kembali dalam kesunyian masing-masing.
==
Ta Niu berlari sekuat tenaga menuju Paviliun selir ke seratus. Dia mendobrak pintu ketika mendengar teriakan Cin Zhu. Cin Zhu menahan pisau yang di pegang oleh Selir Hwa Fung dengan telapak tangannya. Darah mulai menetes dari telapak tangannya. Tanpa menunggu penjelasan, Ta Niu segera menerjang Selir ke 99 tersebut. Dia mengangkat Selir Hwa Fung dan menghantamkan tinju ke perut wanita itu.
Ta Niu tidak pernah sekalipun memukul wanita, namun kali ini dia harus melakukannya. Nyawa Cin Zhu sedang dalam bahaya. Ta Niu kembali menghantamkan kepalan tangannya ke wajah Hwa Fung dan wanita itu terkapar tidak sadarkan diri.
Ta Niu mendekati Cin Zhu, dia berteriak memanggil pengawal. “Semuanya sudah berakhir. Mereka selamat sampai di dermaga,” ucap Ta Niu sebelum Cin Zhu membuka mulut untuk bertanya.
“Aku seharusnya datang lebih cepat untuk membantumu, maafkan aku Cin Zhu. Aku selalu saja datang terlambat. Jika saja dulu aku datang lebih cepat, King tidak mungkin mati. Jika saja saat ini aku selangkah lebih cepat, maka kau tidak akan terluka,” Ta Niu terus meminta maaf. Cin Zhu hanya menangis dalam pelukan Ta Niu. Sementara itu Sang Raja masih terbaring tak berdaya.
“Pengawal! Di mana semua pengawal brengsek itu saat sedang diperlukan?” teriak Ta Niu penuh amarah.
Para pengawal yang mendengar teriakan Ta Niu berlari mendekati kamar pengantin. Mereka terkejut saat melihat kekacauan yang terjadi. “Panggil tabib sekarang juga! Raja dan Selir kelima telah diserang,” teriak Ta Niu lagi. Terjadi kekacauan di Istana setelah tersiar kabar bahwa Raja dan Selir telah diserang. Berpuluh-puluh tabib datang untuk memeriksa keadaan Raja. Mereka memberikan obat dan mencoba menganalisa keadaan Sang Raja yang hingga kini belum lagi sadar.
“Kita hanya bisa berharap yang terbaik bagi Yang Mulia,” ucap Tabib istana.
Cin Zhu menatap suaminya, memegang tangan dan mengelus rambutnya dengan penuh kasih. Sementara itu putranya yang berumur sepuluh tahun terus menerus menangis, berharap ayahnya segera siuman.
“Apa yang harus kita lakukan Selir ke Lima?” tanya Kasim Bing.
“Apakah pelakunya adalah selir ke seratus?” tanya Penasehat Chen, yang merupakan ayahnya sendiri. Penasehat Chen berusaha terlihat tak mengetahui masalah. Dia menanyakan permasalahan sesuai yang seharusnya dia lakukan.
“Dia bukan Ting Ting, tadi aku sempat bertarung dengannya. Ternyata selir palsu dan kelompoknya telah menawan adikku dan istrinya. Kemudian mereka merencanakan semua ini dengan matang dengan dibantu oleh Selir Hwa Fung. Pantas saja, sejak pagi tidak ada satu orang pun yang boleh memasuki kamar Ting Ting. Dia bahkan tidak mau dibantu saat mengenakan pakaian pengantin. Aku .. aku hanya mengira dia malu atau sedih,” Cin Zhu melakukan akting dengan sempurna. Lengannya yang penuh dengan goresan dan darah, serta tubuh Selir Hwa Fung yang mereka temukan beserta sebuah pisau ditangan selir ke 99 itu membuat Kasim Bing dan pejabat lain percaya pada penjelasan Cin Zhu.
“Selir ke Lima, Anda juga harus mendapatkan perawatan,” Cin Zhu mengeleng saat mendengar ucapan Kasim Bing.
“Mohon Selir memperhatikan kesehatan. Anda adalah calon ibu Suri,” ucap Kasim Bing lagi. Akhirnya Cin Zhu mengijinkan tabib merawatnya. Sementara Ta Niu yang berdiri di dekat Penasehat Chen menghela nafas lega.
“Aku telah memerintahkan Ta Niu menangkap mereka,” ucap Cin Zhu.
“Ta Niu harus mendapatkan balas jasa serta kenaikan pangkat yang sepantasnya dia terima. Dia telah menyelamatkan aku dan Sang Raja,” Cin Zhu menatap Ta Niu penuh hormat. Saat ini Cin Zhu mengetahui ternyata Ta Niu menaruh perasaan padanya, dan hal tersebut membuatnya semakin bimbang.
“Kita akan segera menghukum Selir Hwa Fung segera,” ucap Cin Zhu dengan tegas. Saat ini ketika Raja sedang dalam keadaan sakit, maka dialah yang berhak maju dan menentukan keputusan. Dia adalah ibu dari putra mahkota.
Thai Yang, semoga kalian semua selamat. Aku akan mengabari secepatnya, ucap Cin Zhu di dalam hati.
====
Cuaca hari ini sangat tidak bersahabat. Dari tadi terdengat petir bersahut-sahutan, kilat pun ikut meramaikan langit. Para anak buah kapal terlihat sibuk mengamankan kapal. “Akan terjadi badai besar. Sebaiknya Tuan dan Nyonya beristirahat di kabin saja,” ucap Nahkoda saat Thai Yang menawarkan bantuan.
Thai Yang terus memperhatikan Ting Ting yang mulai ketakutan. “Semuanya akan baik-baik saja,” Thai Yang membesarkan hati istrinya.
Namun Thai Yang merasa kehilangan harapan ketika kapal mereka berguncang hebat, ombak besar datang bertubi-tubi disertai angin kencang dan hujan yang deras. Kapal yang mereka tumpangi mulai dipermainkan ombak. Nahkoda dan anak buah kapal berusaha melakukan yang terbaik, namun gagal.
Thai Yang memeluk Ting Ting erat. “Aku tidak ingin berpisah denganmu. Tidak sekarang, maupun selamanya,” ucap Thai Yang sambil mengecup kening istrinya.
“Aku berjanji akan terus bersamamu, bawa aku kemanapun kau pergi Thai Yang,” Ting Ting melihat Thai Yang mengambil kain panjang. Thai Yang mengikatkan tali itu ke sekeliling pinggang Ting Ting. Kemudian ujung lainnya diikatkan pada dirinya.
“Aku akan memastikan kau selamat,” ucap Thai Yang.
“Aku tidak ingin selamat, aku hanya ingin terus bersamamu!” Ting Ting memeluk Thai Yang.
“Aku berjanji, kita akan terus bersama. Bila di kehidupan ini kita terpisah, maka aku akan mengetuk pintu langit untuk bertemu denganmu lagi,” Thai Yang menelusuri wajah istrinya dengan penuh cinta.
Sebuah ombak besar kembali menyapu kapal. Tiang layar telah patah dan menghantam kayu-kayu yang menyatukan bagian-bagian kapal. Angin juga ingin turut serta dalam peperangan tersebut. Angin turut serta mempermainkan kapal. Ketika sebuah ombak setinggi 10 kaki menghantam. Kapal tersebut terbalik, terhempas dan terbelah dua.. Thai Yang terus berusaha mencari cara untuk menyelamatkan Ting Ting.
Tiba-tiba saja ketika mereka berusaha mengapai sebuah tong kayu, ombak melemparkan keduanya dan menelan mereka.
==
Kapal yang ditumpangi Xio Yu dan Mei Li menurunkan kecepatannya kemarin. Nahkoda kapal mereka dapat membaca arah cuaca melalui awan-awan yang bercerita. Menurut sang Nahkoda, akan terjadi badai besar kemarin. Sehingga mereka memilih merapat dan menunggu, kemudian mencari jalan memutar.
Dalam perjalanan menuju tempat tujuan anak buah kapal yang ditumpangi Xo Yu melihat puing-puing kapal yang terhempas ombak dan badai. “Ternyata perkiraan Nahkoda itu sangat akurat,” gumam Xio Yu.
“Bendera itu!” teriak salah satu anak buah kapal.
“Ada apa?” ucap Xio Yu sambil menatap sebuah kain yang terapung-apung.
“Itu adalah bendera yang sama dengan milik kapal Tuan Thai Yang,” ucap anak buah kapal itu lagi.
Xio Yu dan Mei Li mendadak merasakan sekujur tubuhnya lemas. “Tidak mungkin! Seharusnya mereka sudah tiba di perbatasan kemarin,” ucap Xio Yu tak percaya.
“Cepat cari! Temukan mereka!” teriak Mei Li kalap.
Mei Li mendekati haluan dan menatap lautan lepas. Dia melihat sebuah kain berwarna hijau, seperti baju milik Ting Ting, ketika Mei Li hendak melompat Xio Yu segera menahan istrinya.
“Jangan bodoh!” bentak Xio Yu. Dia segera memerintahkan anak buah kapal untuk menarik kain yang membuat Mei Li hendak terjun.
“Aku sangat jago berenang!” ucap Mei Li kesal.
“Aku tidak peduli! Yang jelas aku tidak mau kehilangan dirimu. Aku tidak mau merasakan kegilaan akibat memikirkan keadaanmu lagi. Aku kehilangan semangat hidupku bila tidak ada dirimu!” teriak Xio Yu.
“Kau?” tanya Mei Li terheran-heran.
“Yah, aku tidak mengerti. Aku tahu kalau semua perasaanmu hanya untuk Thai Yang. Tapi aku akan menunggu dan membuktikan bahwa aku dapat menjadi pria sehebat Thai Yang,” Xio Yu memeluk Mei Li erat.
“Kau tidak perlu menjadi siapapun. Karena bagiku Xio Yu adalah tetap adalah Pangeran Tahu yang membuatku sadar akan pengorbanan cinta. Aku tidak percaya, diriku dapat mengeser Ting Ting dari hatimu,” Mei Li kemudian teringat pada Ting Ting lagi.
“Sudah kalian dapatkan?” teriak Mei Li ketika melihat dua orang anak buah kapal menaiki tangga tali.
“Hanya pakaian,” ucap mereka.
“Kemungkinan besar sudah tidak ada lagi yang tersisa. Mereka pasti telah disapu ombak dan ditelan badai,” sang Nahkoda menyadarkan mereka dari harapan semu.
“Tidak!” teriak Mei Li.
“Mereka masih ada di sana, cari dan temukan mereka!” Mei Li terlihat semakin kalap. Dia meronta-ronta di dalam pelukkan Xio Yu.
“Tenanglah Mei Li, semua adalah takdir Tuhan. Mereka akhirnya bersatu selamanya. Hingga maut memisahkan,” Xio Yu meneteskan airmata. Dia juga merasakan kesedihan yang sama. Dua sahabatnya meninggal.
“Ting Ting, jangan tinggalkan aku sendirian! Kau berjanji akan menemaniku selalu. Bermain dan tertawa bersamaku. Berbagi cerita dan segala rahasia. Ting ce kau membohongiku!” Mei Li terisak.
“Ting Ting, kau dengar aku? Jawab aku!” air mata tidak dapat lagi Mei Li bendung.
“Kau tidak suka dengan lautan. Menurutmu lautan terlalu dingin dan tidak bersahabat. Dan lautan juga yang memisahkan kita,” Mei Li terus meratapi kepergian Ting Ting.
“Aku belum sempat meminta maaf darimu. Aku yang bersalah, mengapa tidak kau ambil saja aku Tuhanku?” Mei Li berteriak pada langit, mencaci maki para Dewa yang tidak membantu Ting Ting.
“Jawab aku, Ting Ting. Aku ingin membuat kue kacang lagi bersamamu,” lutut Mei Li lemas, dia terjatuh ke lantai geladak kapal.
“Kau masih memiliki aku. Kita harus meneruskan hidup ini. Aku berjanji, aku akan selalu melindungimu. Aku menyayangimu Mei Li. Tegakah kau meninggalkan aku juga?” Xio Yu memeluk istrinya dengan erat.
“Jangan pernah pergi dari sisiku, aku mohon. Aku juga membutuhkan dirimu,” tangis Mei Li meledak dan mereka terus berpelukan hingga puing-puing kapal tersebut hilang dari pandangan.
Perjalanan ke perbatasan membutuhkan waktu dua hari, dan di sanalah mereka saat ini. Mereka berjalan dalam kesedihan yang begitu dalam. Suku pengelana padang menerima mereka dengan tangan terbuka. Xio Yu membohongi para penduduk pengelana padang dengan mengatakan bahwa mereka adalah pasangan yang ditentang pernikahannya oleh kedua orang tua mereka.
Mereka disambut dengan hangat, bahkan diberikan lahan kecil untuk tempat tinggal. Mereka selamat dan tiba di tanah baru. Namun hati mereka tetap tertinggal di lautan bersama kenangan dua sahabat mereka.
=============
Putri Ting Ting dan Pangeran Tahu part 26 – Akhir (Menata Impian)
Menata impian.
Xio Yu dan Mei Li membuat papan nama untuk Thai Yang dan Ting Ting. Setiap hari selama lima bulan ini Mei Li tidak pernah berhenti memanjatkan doa serta membakarkan kertas dan dupa. “Ting ce, terimalah hormatku. Ingatlah, aku selalu menyayangimu. Thai Yang, jaga Ting Ting untukku, kau harus berjanji,” ucap Mei Li.
Xio Yu ingin menghapus rona kesedihan di wajah Mei Li. Gadis nakal dan cerita itu tidak lagi terlihat. Sejak mereka tiba di desa pengelana padang, Mei Li lebih banyak diam dan melamun.
==
“Kita harus menlanjutkan hidup. Tidak boleh terus terpuruk dalam kesedihan. Ada begitu banyak hal yang harus kita pikirkan. Terutama bayi di dalam perutmu itu,” Xio Yu membantu Mei Li duduk.
“Aku tidak yakin sedang berbadan dua,” sahut Mei Li.
“Bukankah kemarin tabib Bing telah menyatakan kamu sedang mengandung,” Mei Li tidak suka sikap Xio Yu yang terlalu mengekang geraknya.
“Tapi bukan berarti aku harus terus berbaring di tempat tidur bukan?” omel Mei Li.
“Aku ingin memiliki empat anak laki-laki dan dua anak perempuan,” Xio Yu tidak mempedulikan wajah kesal Mei Li. Xio Yu sengaja mengoda Mei Li, berharap Mei Li dapat tersenyum, walau hanya sedikit.
“Kalau aku tidak mau?” tantang Mei Li.
“Hem .. mencari istri baru .. rencana yang menarik juga,” goda Xio Yu.
“Jangan pernah berpikir!” ancam Mei Li.
Xio Yu merangkul Mei Li, mendaratkan berpuluh-puluh ciuman mesra. “Tidak pernah ada yang lain. Kau adalah satu-satunya. Aku tidak berkata bohong. Satu istri saja sudah membuat jantungku berhenti berdetak,” Mei Li mendaratkan ciuman di bibir Xio Yu untuk menutup mulut suaminya itu.
Mereka tenggelam dalam kebahagiaan.
“Berjanjilah kau akan kembali ceria,” Xio Yu menuntun istrinya menuju mimpi yang indah.
==
“Di sini rumah Tuan Xio Yu,” ucap seorang pemuda kepada Ta Niu. Ta Niu menatap rumah yang terbuat dari susunan bambu serta beratap jerami itu. Kesan mewah dari kediaman pejabat dapur utama tidak ada lagi. Memang saat ini Xio Yu bukan lagi pejabat istana. Dia dan Thai Yang sudah menjadi buronan selama beberapa bulan ini.
Ta Niu merasa cemas, mengapa saat dia menanyakan mengenai Thai Yang, para penduduk tidak ada yang tahu. Namun ketika dia menyebutkan Xio Yu dan Mei Li, semuanya segera menunjukkan rumah ini dan menceritakan tentang kedatangan mereka.
Ta Niu melihat Mei Li yang sedang membersihkan meja kedai tahu. “Ternyata Tuan Xio Yu kembali berjualan kembang tahu,” ucap Ta Niu pelan.
“Selamat pagi Nyonya Mei Li,” Ta Niu memberi hormat. Mei Li terkejut dengan kedatangan Ta Niu.
“Ta Niu! Xio Yu, lihat siapa yang datang!” teriak Mei Li riang.
==
Mereka mulai bercerita kepada Ta Niu. Mulai dari perjalanan dengan kereta pedagang, dilanjutkan dengan kapal kecil melalui sungai kuning dan terakhir menaiki kapal besar yang telah di siapkan untuk mengarungi lautan menuju perbatasan.
Ta Niu tidak percaya saat mendengar bahwa kapal yang ditumpangi Thai Yang dan Ting Ting ditelan badai. “Mereka hilang?” Ta Niu merasakan lututnya melemas dan semua keceriaan yang dia bawa lenyap. Apa yang harus dia sampaikan pada Cin Zhu nanti?
“Bagaimana keadaan Selir Cin Zhu?” tanya Mei Li khawatir.
“Ta Niu, apakah Sang Raja selamat?” tanya Xio Yu juga.
Ta Niu mengatur nafas, “Aku sengaja datang khusus mengabarkan berita ini kepada kalian. Selir Cin Zhu tidak bisa mempercayai orang lain untuk mengirimkan pesannya,”
Xio Yu dan Mei Li menatap Ta Niu penuh kecemasan. “Jadi?” tanya Xio Yu lagi.
“Semuanya sudah tenang. Kami mendapatkan keuntungan dari tindakan selir Hwa Fung. Dia berusaha membunuh selir keseratus dan Selir Cin Zhu,” Ta Niu diam sejenak.
Kemudian Ta Niu menceritakan mengenai kejadian setelah Xio Yu dan Mei Li pergi dari istana, hingga keputusan hukuman pengasingan yang diterima Selir Hwa Fung.
“Jadi saat ini Sang Raja sama sekali tidak mempermasalahkan kejadian pertukaran Selir itu?” Mei Li seakan tidak percaya.
“Tidak, Raja terlalu sibuk menghadapi pemberontakan-pemberontakan yang dipimpin oleh Pejabat Ow, ayah dari Selir Hwa Fung,” ucap Ta Niu.
“Keadaan kalian sudah aman. Raja menerima alasan kepergian kalian adalah untuk menolong sahabat kalian, Thai Yang dan Ting Ting. Selir Cin Zhu juga mengabarkan kalau kalian berempat telah hilang di lautan lepas. Dan ..,” Ta Niu tertunduk menahan pilu.
“Aku tidak menyangka kalau alasan itu ternyata benar-benar terjadi. Thai Yang dan Ting Ting ditelan badai. Mereka … telah meninggal,” ketiganya kembali larut dalam kesedihan.
“Andai ada cara, andai aku dapat menukar nyawaku untuk mereka,” Mei Li kembali menyalahkan dirinya. Xio Yu segera memeluk istrinya, “Semua sudah terjadi, kita telah berusaha melakukan yang terbaik,” Xio Yu terus mengelus rambut panjang berombak milik Mei Li.
“Kalian telah berbuat banyak untuk Thai Yang, terimalah rasa hormatku!” Ta Niu menjura hormat dan bersujud di hadapan Xio Yu dan Mei Li.
“Tidak perlu seperti itu. Mereka adalah sahabat terbaikku. Lagipula Ting Ting sudah bagaikan saudariku sendiri,” Mei Li mengusap air matanya.
“Bila keadaan sudah benar-benar aman, aku akan kembali mengabari kalian. Sebaiknya kalian menganti nama,” Ta Niu menghabiskan teh yang dituangkan oleh Xio Yu tadi.
Setelah menyelesaikan tugasnya Ta Niu berpamitan. Dia harus segera kembali ke ibu kota untuk mendampingi Putra Mahkota dan Selir Cin Zhu.
==
Mei Li menatap Xio Yu yang berwajah sendu. Berkali-kali Xio Yu menatap papan nama Ting Ting. Mei Li merasakan ketakutan akan perasaan Xio Yu. Apakah suaminya belum mencintainya sepenuhnya? Apakah semua yang ditunjukkan oleh Xio Yu hanyalah sebuah sandiwara?
“Kau akan terus bersamaku bukan?” tanya Mei Li pada Xio Yu.
“Aku tidak akan pernah pergi dari sisimu. Walau kau mengusirku sekalipun aku akan tetap berada di sampingmu. Bahkan aku akan mengemis meminta cintamu bila perlu,” sahut Xio Yu dengan lembut. Matanya menatap Mei Li dengan penuh cinta.
“Masih adakah Ting Ting di hatimu?” tanya Mei Li.
“Ting Ting selalu ada di hatiku. Tapi bukan menempati sebagai pujaan hatiku lagi. Dia lebih sebagai sahabat dan adik yang pernah mengajariku tentang kasih sayang,” jawab Xio Yu.
Mei Li berusaha tidak cemburu. “Tapi darimu, aku belajar cinta dan pengorbanan. Aku belajar untuk menghargai dan berbagi. Dan hanya dirimu yang membuatku merasakan pedihnya ketakutan akan kehilangan cinta. Bukan Ting Ting, tapi hanya dirimu,” Xio Yu mendekap Mei Li dan memberikan kecupan cinta yang tulus.
==
Thai Yang terbangun dengan kepala yang masih berdenyut hebat. Dia menatap ke sekeliling. Sebuah pondok kayu sederhana, tirai yang terbuat dari kain berwarna cerah. Dan dia saat ini sedang berbaring di atas tikar yang entah terbuat dari daun wangi, yang tidak dia ketahui jenisnya. Thai Yang mencoba duduk dengan sisa tenaga yang masih ada. Dia mencoba mengingat kejadian yang menimpanya. “Ting Ting!” teriaknya histeris.
Thai Yang seakan mendapat kembali kekuatannya. Dia berdiri dan mencari ke seisi kamar. Thai Yang menyibak tirai dan mendapati beberapa orang sedang duduk bersama di depan sebuah perapian sambil menunggu air yang mereka masak matang. “Siapa kalian?” teriak Thai Yang.
“Di mana Ting Ting?” bentaknya lagi. Dia kehilangan keinginan untuk bersopan santun, Ting Ting lebih penting.
Telinganya menangkap bunyi yang tidak pernah dia dengar keluar dari mulut-mulut tersebut. Seorang Pria tua yang tampaknya menjadi kepala keluarga tersebut menepuk pundak Thai Yang. Dia menuntun Thai Yang menuju kamar dengan tirai untaian manik-manik merah muda. Ketika tirai disibak, Thai Yang melihat istrinya sedang duduk merapikan rambut. “Ting Ting! Syukurlah kau selamat,” semua kecemasannya sirna berganti tawa penuh suka cita.
“Siapa mereka?” tanya Thai Yang. Ting Ting berbicara sepatah dua patah kata yang sulit Thai Yang mengerti kepada Pria tua itu. Dan Pria tua tersebut meninggalkan mereka berdua di dalam bilik.
“Mereka yang menyelamatkan kita. Saat kapal kita terserang badai. Kapal kita hancur berkeping-keping, tidak ada yang selamat. Kita terombang ambing di lautan dengan sebuah gentong kayu. Kapal perdagangan milik Pak Ulin dalam perjalanan kembali dari Sungai Kuning menuju tempat mereka. Kapal mereka melewati perairan tempat kita terserang badai. Dan mereka jugalah yang mengobati kita. Aku tidak mengalami luka parah, tapi kau yang terlalu berusaha melindungiku dari hantaman pecahan kapal, mengalami luka berat. Akibat luka tersebut kau pingsan selama seratus delapan puluh hari,” Thai Yang tidak percaya dengan penjelasan Ting Ting.
“Seratus delapan puluh hari?” ucap Thai Yang.
“Yah, aku terus menghitung setiap harinya. Setiap hari aku melipat sepasang angsa kain. Berharap dan berdoa kita tidak akan terpisah,” Ting Ting memperlihatkan angsa-angsa kain berukuran kecil yang memenuhi setiap sudut kamar itu.
“Mereka tidak yakin kau akan kembali siuman. Tapi aku percaya pada janjimu, kau akan kembali menemaniku hingga maut menjemput kita berdua, bersama-sama,” Ting Ting menaruh sepasang angsa berwarna putih yang baru dia selesaikan pagi tadi di atas telapak tangan Thai Yang.
“Aku tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku berjanji!” Thai Yang menatap sepasang angsa tersebut.
Ting Ting berdiri dan berjalan menuju meja kayu yang terisi penuh dengan berbagai kendi. Dia menuangkan cairan hitam lalu memberikannya kepada Thai Yang.
“Hem .. apa ini?” tanya Thai Yang.
“Ramuan agar kau segera sehat seperti sedia kala,” ucap Ting Ting. Ting Ting merapikan rambut suaminya yang sedikit berantakan. “Aku terus menunggumu,” ucap Ting Ting.
“Maafkan aku. Aku telah menyusahkanmu,” Thai Yang mengecup jemari istrinya yang terlihat kasar dan hitam.
“Apakah mereka menyiksamu?” tanya Thai Yang.
“Tidak, tentu tidak. Mereka orang yang baik. Di sini, di desa ‘Seberuang’ aku belajar berladang, mendalami ilmu pengobatan dan aku mengajari mereka sulaman yang indah dari tempat kita dulu,” ucap Ting Ting menerawang.
“Kau ingin kembali ke tempat asal kita?’ tanya Thai Yang.
“Aku suka dengan masyarakat di sini. Begitu bersahabat. Apakah kau ingin kembali ke sana? Jika memang kau ingin kembali ke tanah kelahiran kita, aku akan ikut denganmu,” Ting Ting balik bertanya. Thai Yang mengeleng, “Di mana kau berada di sanalah hatiku kucurahkan. Aku berasal dari dirimu, bukan dari tanahku terdahulu,” Ting Ting tersenyum gembira mendengar jawaban suaminya.
Namun tak berapa saat senyum itu hilang digantikan dengan gurat-gurat kecemasan. “Lalu mengapa kau terlihat begitu sedih?” tanya Thai Yang lagi.
“Apakah Mei Li sekarang sudah hidup bahagia?” tanya Ting Ting pelan.
“Mereka pasti berbahagia. Mereka pasti mampu melalui semua masalah, sama seperti kita. Mereka memiliki satu sama lain, dan itulah kekuatan yang tak ternilai. Kekuatan itu bernama cinta,” Thai Yang melepas rindu dengan terus menatap wajah istrinya.
“JIka bukan karena dirimu, aku sudah enggan berjalan menuju titik cahaya. Aku terus mendengar suaramu menuntunku, dan di sinilah aku. Aku kembali dari kematian untuk menemanimu dan membahagiakanmu,” ucap Thai Yang, sebuah pelukan hangat diberikan Ting Ting kepada Thai Yang. “Sekarang kita juga harus menlanjutkan hidup kita, kita harus menata hidup lagi. Maukah kau membantuku menjalani hari? Mengisi kehidupanku lagi dengan senyum dan kasih sayangmu?” Thai Yang mengecup pipi istrinya yang bersemu merah.
“Aku selalu ada untukmu,” ucap Ting Ting.
Takdir kadang mempermainkan anak manusia. Namun dengan tekad dan upaya, anak manusia berusaha mendobrak takdir.
Keempat sahabat bertemu dan menuliskan cerita masing-masing dalam kitab sejarah hidup mereka. Ada cinta dan benci yang saling berpadu. Ada kepercayaan dan pengkhianatan yang sangat membekas. Namun selalu ada harapan di atas semua itu.
Terdengar alunan nyanyian dari luar bilik diiringi dengan petikan dawai Sampe.
Percayalah selalu ada harapan di atas semua. Bermimpilah dan tersenyumlah hadapi hidup.
Siapa yang tahu, mungkin takdir kembali meramu pertemuan.
==

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: