Sorga cewek di Pesanggrahan Hay thian

Bab I.Sorga cewek di Pesanggrahan Hay-thian.

Lian-hong-san disebut juga gunung Lian-bong-san, mempunyai ketinggian empat ratus kaki dari permukaan laut, jauh memandang ke depan terlihat samudra luas terbentang hingga kaki langit, memandang ke arah barat terlihat rentetan pegunungan saling sambung.

Bila memandang ke arah timur, terlihat pulau Chin-huang (Chin-huang-to) berada nun jauh di sana.

Di atas pintu gerbang sebuah gedung yang sangat megah dan indah, terpampang sebuah papan nama bertuliskan “Hay-thian-itsi” (samudra dan langit satu pandangan), penulisnya tercatat: Ong Sam-kongcu.

Di balik halaman gedung yang luas, banyak ditumbuhi pohon siong yang lebat dan kekar, aneka bunga tumbuh mengelilingi sebuah taman dengan jembatan batu yang indah, di sana tampak juga sebuah kebun menjangan serta tugu peringatan.

Di halaman bagian belakang tampak sebuah kolam mandi yang amat lebar, kolam itu beralaskan batu hijau yang lebar, air kolam berasal dari sebuah mata air yang memancarkan air dengan deras, kolam itu cukup dalam tapi terawat bersih, sebuah ukiran nama terpampang di atas sebuah batu besar Ti-sim (pusat mandi).

Bulan tiga, udara di wilayah Kanglam amat sejuk dan nyaman, rumput tumbuh amat subur, burung beterbangan sambil menyanyikan lagu yang indah, tapi suasana di dalam gedung Hay-thian-it-si milik Ong Sam-kongcu masih nampak bersih bagai sedia kala, hanya tampak asap mengepul dari arah dapur.

Pada saat itulah tampak seorang pemuda berusia dua puluh tahunan berperawakan tinggi tapi kekar, berwajah tampan, dengan bertelanjang dada dan mengenakan celana pendek sedang berenang dalam kolam.

Selain pemuda itu, tampak juga dua belas gadis muda belia yang rata-rata berwajah cantik berkumpul di situ, kawanan gadis itu terbagi dalam tiga kelompok, kelompok pertama mengenakan kutang berwarna merah, kelompok kedua memakai kutang berwarna putih dan kelompok ketiga mengenakan kutang berwarna kuning.

Saat itu mereka sedang bermsin kejar-kejaran dengan pemuda tampan itu di dalam kolam, suara tertawa cekikikan meramaikan suasana.

Pemuda tampan itu adalah Ong Sam-kongcu (tuan muda ketiga dari keluarga Ong) Ong it-huan, seorang jago silat termashur dalam dunia persilatan sebagai “cepat serangannya bagai petir, kuat pukulannya bagai bukit karang, memandang uang bagai tanah dan menyayangi perempuan bagai bunga”.

Sementara kedua belas gadis cantik bertubuh seksi itu tak lain adalah dua belas tusuk konde emas, pengawal pribadi Ong Sam-kongcu.

Bicara soal Ong Sam-kongcu, dia benar-benar termasuk seorang aneh.

Ditinjau dari ilmu silat yang dimiliki, perawakan. tubuh serta wajahnya yang menawan, ditambah kekayaan keluarganya yang berlimpah, boleh dibilang dia merupakan idaman setiap gadis dan pendekar wanita, tapi anehnya dia tak pernah tertarik dengan gadis mana pun, entah sudah berapa banyak gadis yang menitikkan air mata kekecewaan.

Sementara kedua belas tusuk konde itu terhitung gadis-gadis berperangai lembut, hangat dan setia, bukan saja mereka bergabung tanpa imbalan, bahkan mereka rela melayani semua keperluan Ong Sam-kongcu tanpa berkeluh kesah.

Pada mulanya, Ong Sam-kongcu pernah mengemukakan perasaan hatinya kepada kedua belas gadis itu, apa mau dikata kedua belas gadis itu tetap bersikeras untuk melayani keperluannya, kata mereka, asal tiap hari dapat memandang wajahnya, mesti berkorban pun mereka rela.

Menghadapi desakan ini, terpaksa Ong Sam-kongcu menerimanya sambil tertawa getir.

Karena gagal membujuk mereka mengurungkan niatnya, Ong Sam-kongcu pun memberi kebebasan seluas-luasnya kepada para gadis itu untuk berbuat sekehendak mereka, toh resiko ditanggung penumpang.

Kedua belas gadis itu berasal dari latar belakang keluarga yang berbeda, namun tujuan kedatangan mereka rata-rata hampir sama.

Mereka sepakat untuk berjuang hingga titik darah penghabisan, batu cadas yang amat keras pun akhirnya akan berlubang bila tiap hari terkena air, apalagi perasaan cinta seseorang, toh pepatah bilang: Cinta itu datang bila sering bertemu.

Mereka semua berjanji, bila tuan muda tidak mendahului melakukan reaksi, siapa pun dilarang memikat atau merangsang majikannya dengan cara yang licik.

Selama dua tahun kedua belas tusuk konde emas selalu memerankan posisi sebagai seorang “dayang”, jika Ong Sam-kongcu tidak memanggil, siapa pun takberani mendekat atau mengiringinya.

Perasaan manusia memang tak sekeras baja, siapa bilang napsu dan cinta bisa dibendung? Apalagi satu-satunya perempuan yang dicintai secara diamdiam tak pernah memberi tanggapan, dia selalu bertepuk sebelah tangan, lama kelamaan jalan pikiran Ong Sam-kongcu pun mulai berubah.

la mulai mengajak bicara kedua belas tusuk kondenya, mulai bergurau dan menggoda.

Akhirnya dia putuskan untuk pergi meninggalkan kota Kim-ling, kota penuh kesedihan itu dan mendirikan pesanggrahan megah Hay-thian-it-si di atas bukit.

Setiap pagi jam 6, ia selalu bertelanjang dada menceburkan diri ke dalam kolam yang amat dingin itu untuk membenamkan diri, dia ingin menggunakan hawa dingin yang menusuk tulang untuk mengusir rasa rindunya terhadap kekasih hati.

Orang bilang, jika kau patah hati, makanlah kulit pisang yang dibubuhi abu gosok. Tapi Ong Sam-kongcu lebih suka memakai “ilmu membeku” untuk menghadapi perasaan patah hatinya, dia ingin mendinginkan gejolak hawa panas yang membara dalam dadanya.

Untuk mengimbangi kemauan tuannya, setiap kali Ong Sam-kongcu terjun ke kolam maka dua belas tusuk konde pun ikut terjun ke kolam menemani, tak heran kalau tak sampai sepuluh hari, ilmu berenang yang dikuasai kedua belas orang gadis itu sudah sangat hebat.

Di luar kebiasaan, semalam Ong Sam-kongcu mengundang mereka berdua belas untuk berenang bersama pagi ini.

Undangan itu membuat mereka terkejut bercampur girang, saking tegangnya, nyaris semalaman tak bisa tidur. Belum lagi jam menunjukkan pukul 4 fajar, Mereka sudah tiba di tepi kolam untuk melakukan pemanasan badan.

Begitu tiba di tepi kolam, Ong Sam-kongcu segera mengejek sambil tertawa: “Hahaha … mana ada orang melakukan pemanasan dengan mengenakan pakaian setebal itu!”

Sambil berkata ia lepaskan jubah luarnya dan bertelanjang dada.

Berdebar keras hati kawanan gadis itu setelah melihat kulit tubuhnya yang putih bersih tapi kekar berotot, tersipu-sipu mereka menundukkan kepala dengan wajah bersemu merah.

Menghadap datangnya sang fajar Ong Sam-kongcu menarik napas panjang sambil mengatur hawa murninya, lalu diiringi pekikan nyaring mulai memainkan ilmu pukulan Pat-kwa naga sakti Yu-liong-pat-kwa-ciang.

Terlihat bayangan manusia berkelewat ringan bagaikan asap, deru angin pukulan menggelegar bagai guntur, begitu dahsyat ilmu pukulan itu membuat kedua belas tusuk konde terbelalak kagum.

Tiba-tiba Ong Sam-kongcu berpekik panjang, tubuhnya melambung setinggi tiga kaki, sambil menekuk tubuh, sepasang tangannya diluruskan ke muka, dan …”Byruuuur….!” diiringi percikan air, ia terjun ke dalam kolam.

“Ilmu gerakan tubuh yang indah!” puji kedua belas tusuk konde serentak.

Buru-buru mereka melucuti pakaian sendiri dan beruntun menceburkan diri ke dalam kolam.

Pages: 1 2 3 4 5 6 7 8 9

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: